<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Daun Muda</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-daun-muda/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Aku Tak Tahu Siapa Ayah Anakku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 09:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku hidup dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat otoriter. Ayahku seorang perwira menengah kepolisian, sehingga beliau mendidik anak-anaknya dengan sangat tegas dank keras. Beliau juga berharap bila kami sudah besar nanti, kami bisa menjadi abdi Negara seperti didirnya. Namun sayang Tuhan lebih dulu memanggilnya saat aku masih berumur tujuh tahun. Sejak ditinggal ayah, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hidup dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat otoriter. Ayahku seorang perwira menengah kepolisian, sehingga beliau mendidik anak-anaknya dengan sangat tegas dank keras. Beliau juga berharap bila kami sudah besar nanti, kami bisa menjadi abdi Negara seperti didirnya. Namun sayang Tuhan lebih dulu memanggilnya saat aku masih berumur tujuh tahun.</p>
<p>Sejak ditinggal ayah, aku besar dan tumbuh dalam didikan ibu. Terus terang saja diantara anak-anaknya yang lain aku paling dimanja, mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya yang dimiliki ibu. Di rumah aku dikenal sangat pendiam, terlihat alim dan tidak suka berbuat yang aneh-aneh, sehingga ibu tidak banyak memproteksi kegiatan-kegiatanku. Padahal, di luar rumah, aku sama seperti anak-anak lain.</p>
<p>Saat puber dan mulai jatuh cinta, aku juga berkencan dengan pria idamanku. Tapi untuk menjaga citraku yang baik dihadapan ibu, aku tumbuh dalam sikap kepura-puraan. Didepan kakak-kakakku, aku selalu bersikap seolah aku anti pacaran, padahal kenyataan sesungguhnya aku gemar sekali berganti-ganti pasangan.</p>
<p>Entah mengapa, aku lebih menyukai sosok pria yang usianya jauh lebih tua dariku. mungkin karena aku merindukan fgur ayah yang tak lagi kumiliki sejak aku masih kecil, karena beberapa kali dekat dengan pria yang sudah matang, akupun jadi lebih cepat dewasa. Apalagi tubuhku yang bongsor membuat orang mengira aku berumur jauh lebih dewasa.</p>
<p>Suatu hari, ketika aku dan ibu mengantar makanan untuk kakakku yang sedang menjalani pendidikan polisi, aku berkenalan dengan komandannya. Karena seringnya mengunjungi kakak, akupun jadi dekat dengan komandan kakakku itu.</p>
<p>Sebut jaja namannya Hari, sosoknya penuh kharisma dan tampan. Sejak awal bertemu aku sudah jatuh cinta padanya. Sampai-sampai aku tidak memperdulikan statusnya yang telah beristri. Apalagi Hari bercerita bahwa ia ingin beristri lagi, karena sampai saat ini ia tidak memiliki anak dari pernikahannya.</p>
<p>Aku merasa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, dan aku punya harapan besar padanya, karena dia menginginkan anak dariku dan hubungan kamipun semakin dekat. Tentu saja kami harus mencari seribu alasan pada keluarga kami masing-masing agar kami bisa lebih sering berdua. Karena perasaanku yang begitu dalam, aku tak berpikir panjang lagi ketika Hari mencumbuku dan membawaku pada puncak kenikmatan duniawi, apalagi Hari berjanji padaku bahwa saat aku hamil ia akan menikahiku.</p>
<p>Setelah berkali-kali berhubungan badan dan berbulan-bulan menanti, aku tak kunjung hamil. Perasaanku mulai cemas, terlebih ketika Hari mulai menjauhiku. Diam-diam aku mendatangi kantor Hari. Ternyata hal itu membuatnya marah besar. Hari lalu memintaku untuk tidak lagi menemuinya lagi, dan sejak saat itu aku tak pernah bertemu ia lagi. Kudengar dari temannya, Hari meminta dipindah tugaskan kekota lain.</p>
<p>Sejak perpisahan yang menyakitkan itu, aku benar-benar merasa sangat kehilangan semangat hidup. Dan saat itu timbul rasa dendamku terhadap semua laki-laki dan aku berniat menghancurkan kehidupan mereka. Dengan menjadi perempuan panggilan mungkin dendamku terhadap laki-laki akan terbalaskan.</p>
<p>Setelah sekian bulan menjadi perempuan panggilan, akhirnya aku merasa ada yang berubah dengan tubuhku, hampir tiga bulan aku tak mendapat tamu bulanan. Aku sedikit takut karena aku memang tak selalu menggunakan alat kontrasepsi saat aku berhubungan badan dan untuk menghlangkan keraguan, aku melakukan tes dengan alat deteksi kehamilan dan ternyata aku memang benar-benar hamil. Seketika itu juga tubuhku lemas tak berdaya. Aku tak tahu harus kepada siapa aku meminta pertanggung jawaban atas kehamilan ini, karena begitu banyak laki-laki yang pernah bersetubuh denganku.</p>
<p>Sejak hamil, aku tak berani keluar rumah, sehingga tak satupun teman dan tetangga yang mengetahui keadaanku. Kakak-kakakku yang selama ini menganggapku sebagai anak yang baik, penurut dan alim, sangat kecewa padaku. Dan ibu, meski tak memperlihatkannya, ia pasti sangat kecewa dan terpukul.</p>
<p>Aku yakin siapapun yang mengetahuiku kisahku ini pasti akan mengutukku. Saat ini yang membuatku kuat hanyalah anakku. Singakt cerita anakku lahir dengan selamat, tubuhnya montok, kulitnya putih sepertiku. Dia sangat tampan, yang menjadi pikiranku saat ini adalah bagaimana aku bisa menghidupinya. Setelah sadar dengan apa yang kulakukan selama ini, aku justru kesulitan dalam mencari pekerjaan.</p>
<p>Usiaku saat ini hampir mencapai 30 tahun, untuk berkerja dipabrik aku sudah terlalu tua. Apalagi aku tidak punya keterampilan apapun. Aku berharap ada yang mau menolongku atau paling tidak memberiku saran. Aku tahu masa laluku hitam, namun aku masih berharap ada sekelumit harap untukku dan anakku ………</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>alex, burung mudaku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/alex-burung-mudaku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/alex-burung-mudaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 00:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2297</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat menyakiti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat menyakiti isteri sahnya, jika ia mengetahui. Suamiku adalah seorang perwira yang mempunyai kedudukan penting di sebuah propinsi (tidak kusebut tempatnya). Usianya sudah mencapai 55 tahun dan aku sendiri baru mencapai 27 tahun. Fasilitas yang diberikan dan ketakutanku lah yang membuatku sangat tak berdaya untuk menentang keberadaanku. Aku dibelikan sebuah villa yang sangat mewah yang terletak tidak begitu jauh dari kota tempat suamiku bertugas. Semua fasilitas yang diberikan kepadaku sangatlah mewah bagiku, aku mendapatkan sebuah mobil pribadi, telepon genggam dan perangkat entertainment di rumah. Namun ini semua ternyata masih kurang, aku ingin punya momongan, aku ingin dicintai dan disayangi. Kenyataannya aku hanya tempat persinggahan saja. Belakangan kudengar bahwa suamiku juga punya WIL lain selain aku, malahan kadang ia juga jajan kalau sedang keluar kota, kabar ini kudapatkan dari isteri ajudannya sambil wanti-wanti agar aku tutup mulut. Aku sendiri memang sudah kenal dekat dengan keluarga ajudan suamiku, namun demikian sampai saat ini rahasia ini masih tersimpan cukup rapi. Bagaimanapun juga aku kesal dan sedih dengan kondisi seperti ini, sehingga timbul niatku untuk berperilaku serupa.</p>
<p>Pada suatu hari suamiku bertindak ceroboh dengan menitipkan anak bungsunya kepadaku, beliau memperkenalkanku sebagai ipar ajudannya. Anak itu memanggilku Mbak maklum dia masih SMP dan usinya pun masih 14 tahun. Wajahnya, perilakunya persis bapaknya, nilai kesopanannya agak kurang bila dibanding dengan anak-anak di kampungku. Maklumlah ia adalah anak pejabat tinggi. Jam 21.00 bapaknya telepon, meminta Alex (sebut saja nama anak itu begitu) untuk tidur di rumah karena bapak ada urusan. Aku jadi curiga pasti dia ada kencan dengan orang lain. Alex pun belum tidur, ia lagi asyik nonton televisi di ruang keluarga. Akhirnya timbul niat burukku untuk memperdaya Alex, namun bagaimana caranya? aku dihadapkan pada jalan buntu. Akhirnya spontan kumasukkan VCD-VCD porno ke dalam player untuk saya hidangkan kepada Alex. Aku hidupkan oven selama 3 menit yang kebetulan isinya adalah daging yang sudah masak sejak siang tadi. Langsung saja kurayu dia untuk menyantapnya sehingga kami pun menyantap daging panggang dan sambal kecap bersama-sama. Sambil basa-basi kutanyakan sekolahnya, tampaknya kemampuannya di sekolah biasa-biasa saja, terbukti dengan kekurang antusiasannnya bicara tentang sekolah. Ia lebih suka bicara tentang video game dan balap motor.</p>
<p>Kupegang tengkuknya dan kupijit sambil kukatakan, “Kamu pasti capek, sini Mbak pijitin…” Dia pun diam saja, maklum dia adalah anak yang manja. Kuraih remote control dan kutekan play untuk CD yang pertama, film-filmnya adalah jenis vivid dengan tema seks yang cukup halus. Tampaknya Alex sangat menyukainya, ah pucuk di cinta ulam pun tiba. Sambil kupijit sekujur tubuhnya, kuamati roman mukanya. Kukatakan tidak usah malu, karena itu hanya film saja (tidak sungguhan). Muka Alex tegang, setiap ada adegan orang berpelukan (cuma berpelukan) aku suruh dia telentang untuk pijatan bagian depan. Sambil telentang Alex tetap memperhatikan film yang tampaknya mulai disukainya itu. Kini acara di film mulai ke adegan yang cukup panas, seorang wanita melepas pakaiannya sehingga tinggal pakai celana dan BH dalam saja. Alex semakin tegang dan agak kupercepat tanganku mengarah ke pangkal pahanya. Pura-pura kupijit pahanya dengan menyentuh kemaluannya, dia terkejut ketika kemaluannya yang tegang kesentuh tanganku. Pucat pasi mukanya, namun kunetralisir dengan mengatakan “Tenang Alex, semua orang sama, adalah hal yang sangat wajar bila seseorang terangsang. Karena semua orang mempunyai nafsu.” “Malu Mbak”, jawab Alex. Kalau orang banyak malu, tapi Alex kan sendirian cuma sama Mbak. Mbak nggak malu kok. Dengan berkata demikian kubuka bajuku sehingga aku hanya pakai BH saja. Akupun heran juga kagum, anak seumur dia juga bisa tegang dan tampak tidak berdaya, jauh dari sikap sehari-hari yang agak arogan. Namun aku mulai menyukainya tanpa memikir yang jauh ke depan mengingat bapaknya sendiri juga berbuat serupa terhadap saya. Film terus berputar, tubuh Alex terasa hangat malah aku khawatir kalau dia sakit, dia tampak pucat entah takut apa bagaimana, aku tidak tahu.</p>
<p>Alex hanya melirik buah dadaku tanpa berani menatap langsung, dia tetap memperhatikan film dengan seksama. Saat kupegang lagi kemaluannya dia hanya diam saja, tak kusia-siakan kesempatan ini kuremas kemaluan yang berukuran agak kecil itu. Akupun sudah tidak memperhatikan film lagi, kubuka celana Alex dan kuperhatikan kemaluannya. Tampak bersih dan mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, aku semakin bernafsu melihatnya. Langsung kuterkam dengan mulutku dan kumulai menjilatnya, Alex hanya terdiam sambil kadang pinggulnya bergerak menikmatinya. Kuhisap kemaluannya dan dia pun teriak Uh.. Mbak.. kubiarkan anak kecil itu menggelinjang, kubimbing tangannya ke payudaraku. Ah, dia malah meremas kuat sekali. Kumaklumi dia sangat lugu dalam hal ini, aku tidak menyesal malah menyukainya. Aku hisap terus, dia pun semakin bergerak tidak karuan sambil teriak-teriak ah, uh, ah, uh. Kemudian dia teriak keras sambil tubuhnya gemetar disusul oleh cairan hangat dari kemaluannya. Aku telan cairan asin dan pekat ini tanpa rasa jijik sedikit pun, dan dia pun diam lemas terkulai. Kupeluk dia, dan kubisikkan kata-kata, “Enakkan”, sambil aku tersenyum, dia balas pelukanku dan hanya bicara “Mbak..” Aku bimbing dia ke kamar mandi dan kumandikan dengan air hangat, burung kecilku masih tidur dan aku yakin nanti akan bangun lagi.</p>
<p>Kemudian kami pun tidur bersama di depan televisi di atas karpet, dia tampak kelelahan dan tidur pulas. Aku pun puas meski tidak sampai coitus. Menjelang subuh aku bangun, dan kulihat dengan seksama tubuh Alex yang sedang tidur telanjang. Nafsuku bangkit lagi dan kucoba membangunkan burung kecil itu, ternyata berhasil dan kuulangi lagi perbuatan tadi malam dengan pertambahan Alex meningkatkan variasi permainan. Tampaknya Alex mulai mengikuti naruninya sebagai makhluk bernafsu, ia mungkin meniru adegan film tadi malam. BH-ku dibuka dan dijilati, aku pun merasakan kenikmatan dari anak bau kencur, kubayangkan anak dan bapaknya mengerjaiku seperti sekarang, ah tak mungkin. Aku tuntun tangan Alex ke kemaluanku yang sejak tadi malam belum tersentuh sama sekali. Kubimbing tangannya menggesek-gesek kemaluannya dan ia pun memahami keinginanku. Gerakan-gerakan Alex dan servicenya kepadaku masih sangat kaku, mungkin perlu beberapa kali aku melatihnya. Tiba-tiba ia menarik paksa celana dalamku dan BH-ku pun dilucuti. Kubiarkan dia berkreasi sendiri, tampak wajahnya masih tegang tapi tidak setegang tadi malam dan ia pun mulai tidak sopan kepadaku, ah biarlah. Aku didorong hingga telentang, dan ia pun langsung menindihku. Dicobanya memasukkan burung kecil itu ke dalam kemaluanku, namun berkali-kali ia tidak berhasil. Ia pun semakin penasaran, ah suami kecilku ini mesti banyak belajar dariku.</p>
<p>Kubimbing kemaluannya memasuki kemaluanku dan ia pun menggesek-gesekkannya. Terasa nafsuku merasuk ke sekujur tubuhku, kini penantianku tadi malam hampir tercapai dan ah nikmat sekali, suami kecilku bisa memuaskanku kali ini. Dengan cepat aku bangun dan kuhampiri burung kecil yang masih menantang itu, kuhisap dalam-dalam, dia pun mengerang kenikmatan dan terus menerus kuhisap hingga badannya bergetar dan lagi-lagi air liur burung kecil yang hangat itu menjadi bagian dari dagingku. Hari sudah terang, dan segera kami mandi air hangat bersama-sama. Aku merasa puas dan Alex hanya diam saja, entah apa yang dipikirkan. Menyesalkah? aku tidak tanya. Kenyataannya kisah ini masih berlangsung, sekarang Alex sudah SMA dan masih tetap dalam bimbinganku.</p>
<p>Pagi harinya bapaknya Alex (yang juga suamiku) datang dan dengan tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan burung muda.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/alex-burung-mudaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Diperkosa Tiga Orang Gadis</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-diperkosa-tiga-orang-gadis.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-diperkosa-tiga-orang-gadis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2361</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki, sudah punya pacar. Bahkan sudah ada yang beberapa kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya keinginan untuk pacaran. Walau sebenarnya banyak juga gadis-gadis yang mau jadi pacarku.</p>
<p>Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.</p>
<p>Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.</p>
<p>Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan, ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.<br />
“Lagi ada yang ditunggu?”, tegurnya tiba-tiba.<br />
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat aku menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.<br />
“Tidak…, Eh, kamu sendiri..?”,aku balik bertanya.<br />
“Sama, aku juga sendirian”, jawabnya singkat.</p>
<p>Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apalagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan wanita sampai sejauh itu.<br />
“Jalan-jalan yuk…”, ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.<br />
“Kemana?”, tanyaku ikut berdiri.<br />
“Kemana saja, dari pada bengong di sini”, sahutnya.</p>
<p>Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.</p>
<p>Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.<br />
“Eh, nama kamu siapa…?”, tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.<br />
“Angga”, sahutku.<br />
“Akh.., kayak nama perempuan”, celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.<br />
“Kalau aku sih biasa dipanggil Ria”, katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.<br />
“Nama kamu bagus”, aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.<br />
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua dariku”,· katanya meminta.</p>
<p>Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa bulan. Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil mencari kenalan baru.<br />
“Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak…?”, ujarnya menawarkan, sambil menunjuk gerobak tukang bubur ayam.<br />
“Boleh”, sahutku.</p>
<p>Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Ria memang pandai membuat suasana jadi akrab.</p>
<p>Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Ria yang mengajak pulang lebih dulu.<br />
“Mobilku di parkir disana…”, katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.<br />
“Kamu bawa mobil…?”, tanyaku heran.<br />
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum”, katanya beralasan.<br />
“Kamu sendiri…?”<br />
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.<br />
“Ikut aku yuk…”, ajaknya langsung.</p>
<p>Belum juga aku menjawab, Ria sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Ria malah meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Ria menahan dan memaksaku untuk singgah.</p>
<p>“Ayo..”, Sambil menarik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.<br />
“Tunggu sebentar ya…”, kata Ria setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.</p>
<p>Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Ria. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.</p>
<p>Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.</p>
<p>“Aku dulu…, Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini”, kata Ria tiba-tiba sambil melepaskan baju kaosnya.</p>
<p>Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Ria mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali.. Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulu-bulu vaginanya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Ria menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak berdaya. Bukan hanya Ria yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.<br />
“Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian…?”, aku membentak kaget.</p>
<p>Tapi tidak ada yang menjawab. Ria sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Ria saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.</p>
<p>Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika merasakan jari-jari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Ria. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat.</p>
<p>Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku.</p>
<p>Aku benar-benar tidak berdaya ketika Ria duduk di atas perutku, dan menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku. Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.</p>
<p>Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadis-gadis ini bukan hanya menderita penyakit hiperseks, tapi juga biseks. Mereka bisa melakukan dan mencapai kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga menggunakan alat-alat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut membayangkannya.</p>
<p>Sementara itu Ria semakin asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah, Riapun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi aku berteriak tertahan. Ria yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Ria terus mengocok-ngocok penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.</p>
<p>Tetapi Ria rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi dipaksa untuk tetap keras dan upaya Ria sekarang benar-benar berhasil. Penisku tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Ria kembali memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Ria menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.</p>
<p>Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Ria memperkosaku, tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan Ria tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku bisa merasakan vagina Ria berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot penisku, hingga akhirnya Ria melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya. Aku merasakan vagina Ria tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Ria. Saat Ria mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di batangan penisku..</p>
<p>Setelah Ria Baru saja mendapatkan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Ria. Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.</p>
<p>Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkm aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini…?</p>
<p>Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskan aku sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.</p>
<p>Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa. Bahkan mereka menggunakan obat-obatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.</p>
<p>Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan terbelenggu seperti ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta untuk dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macam-macam. Aku membayangkan kalau orang tua dan saudara-saudara serta semua temanku pasti kebingungan mencariku.</p>
<p>Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadis-gadis binal dan liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus. Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa melayani nafsu birahinya. Aku benar-benar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga batinku benar-benar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman gadis-gadis binal itu.</p>
<p>Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku benar-benar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena belum diisi makanan. Aku benar-benar tersiksa lahir dan batin.</p>
<p>Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah benar-benar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya.<br />
“Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan”, katanya sambil berlalu meninggalkan kamar ini.</p>
<p>Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.<br />
“Bapak ini siapa?”, tanyaku<br />
“Saya pengurus rumah ini”, sahutnya.<br />
“Lalu, ketiga gadis itu..”, tanyaku lagi.<br />
“hh…, Mereka memang anak-anak nakal. Maafkan mereka, Nak…”, katanya dengan nada sedih.<br />
“Bapak kenal dengan mereka?”, tanyaku.<br />
“Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudah-mudahan saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi”, katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.</p>
<p>Aku juga tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih, aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan pintu. Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.</p>
<p>Aku benar-benar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakan-akan semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian itu tidak sampai menimpa orang lain. Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu terjadi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-diperkosa-tiga-orang-gadis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pengalaman tak terlupakan sewaktu SMP</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2354</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama, Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh, usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap, dengan dada yang bidang.</p>
<p>Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma, atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.</p>
<p>Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”.<br />
Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.<br />
“Ayoo…”, sambutku dengan polos tampa curiga.<br />
Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.<br />
“Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.<br />
Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.<br />
“Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.<br />
Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.., biar Om gampang meriksanya”.<br />
Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.<br />
“Wah…, kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu.<br />
Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.</p>
<p>Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.<br />
“Waah… kulit kamu halus ya, Rin… Kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu.</p>
<p>Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih…, baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira… yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.<br />
“Nah.., sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.<br />
“Ih…, Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup.<br />
“Lho…, khan mau diperiksa.., pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii…, aku jadi merinding rasanya.<br />
“Ooomm…”, suaraku lirih.<br />
“Tenang sayang.., pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil tersenyum.<br />
Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya.</p>
<p>Kemudian, dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.<br />
“aahh…, Oooomm…”, jeritku lirih.<br />
“Sssstt…, hmm…, nikmat.., kan…?”, katanya.<br />
Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat ke sana-ke mari.<br />
“Ssstthh…, aahh…, Ooomm…, aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.</p>
<p>Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya, Hiii…, rasanya jadi makin geli…, apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.</p>
<p>Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannnya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh…, gila…, tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap di antara kedua kakiku yang otomatis terkangkang, kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.</p>
<p>“aa…, Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannua itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait ke sana-ke mari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.</p>
<p>“aahh…, Ooomm…, jaangan…, jaanggann…, teeerruskaan…, ituu…, aa…, aaku…, nndaak…, maauu.., geellii…, stooopp…, tahaann…, aahh!”.<br />
Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat ke sana-ke mari antara mau dan tidak biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli, bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat ke sana-ke mari, namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya, hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.</p>
<p>Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu di sorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya clitorisku.<br />
“aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.<br />
“aa…, Ooomm…, aauuhh…, aahh!”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.<br />
“Ooomm…, aa!”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.</p>
<p>Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mecuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.</p>
<p>Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada di antara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang di mana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.</p>
<p>Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yan sedang dilakukan oleh Om Bayu.</p>
<p>Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke kesuluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung, aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.<br />
“Gimana Rin…, nikmat khan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.</p>
<p>Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku, hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku, aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.</p>
<p>Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku, gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokkan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit, seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi, perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar, tampa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, aahh. ooohh…, Ooomm…, Ooomm…, eennaak…, eennaak! Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.</p>
<p>“aadduuhh…, saakkiiitt…, Ooomm…, sttooopp…, sttooopp…, jaangaan…, diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku, tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku, maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.</p>
<p>“Om…, kenapa dimasukkan semua, kan…, janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.<br />
Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu, terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, ooohh…, ooohh”, dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku, bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku, sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku, seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat, tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak bedaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.</p>
<p>Melihat keadaanku Om Bayu makin terangsang, sehingga dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat, sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya, dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan, “Ooohh…, Riiinn…, Riiinnn…, aakkuu…, maau…, keluar!.., Ooohh…, aahh…, hhmm…, ooouuhh!”.</p>
<p>Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian, “Ccret…, crett…, crett”, spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.</p>
<p>“aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.<br />
“Terima kasih, sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.</p>
<p>Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol ke sana-ke mari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bocah Imut</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html</guid>
		<description><![CDATA[Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. “Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?”, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa.</p>
<p>“Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?”, Datang seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan.<br />
“Eh, Tante Tika. Mama belum pulang tuh!” jawab Tommy sambil menyembunyikan novel yang dibacanya ke belakang tubuhnya. Tante Tika, adik ayah Tommy, baru saja bercerai dengan suaminya.<br />
“Eh, Tommy baca apa sih? Kok pake di umpet-umpetin segala? Tante boleh lihat nggak?” Setelah dibujuk-bujuk, Tommu mau menyerahkan novel itu kepada Tante Tika.</p>
<p>“Astaga, Tommy. Masih kecil bacaannya ginian!”, seru Tante Tika setelah melihat sampul buku yang bergambarkan seorang gadis muda dengan busana yang sangat minim dan pose yang menggiurkan. Tante Tika lalu membolak-balik halaman novel itu. Saat membaca bagian di mana terdapat adegan yang merangsang dalam buku itu, sekilas terjadi perubahan pada wajahnya.<br />
“Tom, daripada kamu sendirian di sini, lebih baik ke rumah Tante yuk!”, ajak Tante Tika.<br />
“Tapi, Tante, Tonny disuruh Mama jaga rumah”.<br />
“Alaa, tinggal kunci pintu saja sudah”, kata Tante Tika sambil mengunci pintu rumah lalu ia menarik tangan Tommu ke mobilnya.</p>
<p>Mobil Tante Tika sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah Tommy yang duduk di sampingnya.<br />
“Masih kecil sudah ganteng begini”, gumam Tante Tika dalam hati. Ia menggerakkan tangannya meremas-remas kemaluan bocah yang masih hijau itu.<br />
“Aduh, Tante. Geli ah”, kata Tommy. Tante Tika tersenyum penuh arti. Ia menarik tangannya ketika mobil sudah tiba di depan rumahnya yang megah bak istana di seberang danau Sunter.</p>
<p>Tante Tika usianya sudah mencapai tiga puluh dua tahun, tapi penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan berkat giatnya ia mengikuti senam aerobik di sebuah klub kebugaran beken di Jakarta. Wajahnya yang cantik ditambah dengan tubuhnya yang bahenol serta seksi. Payudaranya yang besar memang amat menawan, apalagi dia sekarang seorang janda. Sudah banyak lelaki yang mencoba merebut hatinya, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Menurutnya mereka hanya menginginkan hartanya saja. Tante Tika memang kaya raya, mobil mewahnya ada beberapa buah dari model yang mutakhir lagi. Rumahnya mentereng, di kawasan perumahan elite lagi. Itu semua berkat kerja kerasnya sebagai direktris sebuah perusahaan asuransi papan atas.</p>
<p>Oh ya, Tante Tika mempunyai seorang anak gadis bernama Andriana, putri satu-satunya, tapi biasa dipanggil Andri saja. Gadis manis ini duduk di kelas dua sebuah SMP swasta top di daerah Kelapa Gading. Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun ini, tubuh Andri sedang mekar-mekarnya. Payudara remajanya sudah ranum sekali, berukuran lebih besar daripada gadis-gadis sebayanya, laksana payudara gadis berusia tujuh belas tahun. Mungkin kemontokannya ini warisan dari ibunya. Tapi Andri memang anak yang agak kurang pergaulan alias kuper karena kebebasannya dibatasi dengan ketat oleh ibunya, yang kuatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan kemolekan tubuh anaknya tersebut. Sama sekali Andri belum pernah merasakan apa artinya itu cinta. Padahal banyak sudah cowok yang naksir dia. Namun Andri belum sadar akan cinta.</p>
<p>“Tom, badan Tante pegal nih. Tolong pijatin ya”, kata Tante Tika sambil mengajak Tommy ke kamar tidurnya. Tante Tika membuka busananya. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang telanjang bulat tengkurap di ranjang. Tommy masih lugu sekali. Ia belum tahu apa-apa tentang keindahan tubuh wanita.</p>
<p>“Tante kok buka baju? Kepanasan ya?”, tanya Tommy dengan polosnya. Tante Tika mengangguk. Lalu Tommy memijati tubuh Tante Tika. Mula-mula punggungnya. Lalu turun ke bawah. Tante Tika mendesah sewaktu tangan mungil Tommy memijati gumpalan pantatnya yang montok.</p>
<p>“Tante, kenapa? Sakit ya?”, tanya Tommy lugu. Mula Tante Tika memerah. Dia duduk di atas ranjang. Tangannya menarik tangan Tommy ke payudaranya.<br />
“Tante, ini apaan? Kok empuk amat sih?”, tanya Tommy ketika tangannya menjamah payudara tantenya. Tante Tika mulai bangkit nafsu birahinya.<br />
“Ini namanya payudara, Tom”.<br />
“Kok Tante punya sih? Tommy nggak ada?”.<br />
“Tommy, Tommy. Kamu bukan cewek. Semua cewek kalau udah gede pasti akan punya payudara. Payudara adalah lambang keindahan tubuh wanita”, Tante Tika menjelaskan dengan bahasa yang terlalu tinggi bagi anak seusia Tommy.<br />
“Lalu pentilan ini apa namanya?”, tanya Tommy sambil memijit puting susu tantenya. Tante Tika sedikit menggelinjang terangsang.<br />
“Ah…, Ini namanya puting susu. Semua wanita juga mempunyai puting susu. Mamamu juga punya. Dulu waktu kamu masih bayi, kamu minum susu dari sini”.<br />
“Masa sih Tante. Biasanya kan susu dari sapi?”<br />
“Mau nyobain nih kalo kamu nggak percaya. Sini deh kamu isap puting susu Tante!”.</p>
<p>Tommy kecil mendekatkan mulutnya pada payudara Tante Tika lalu diisapnya puting susunya.<br />
“Ih, Tante bohong. Kok nggak keluar apa-apa?”, kata Tommy sambil terus menyedoti puting susu Tante Tika yang tinggi menegang itu. Tapi tantenya nampaknya tidak mempedulikan perkataan keponakannya itu.<br />
“Teruskan…, Tom…, Sedot terus…, Ouuuhh..”, kata Tante Tika bernafsu. Karena merasa mendapat mainan baru, Tommypun menurut. Dengan ganasnya ia menyedot-nyedot puting susunya. Tante Tika menggerinjal-gerinjal. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja di dekatnya, sehingga isinya tumpah membasahi bahu dan celana pendek Tommy.<br />
“Ya, Tante. Pakaian Tommy basah deh!”, kata Tommy sambil melepaskan isapannya pada puting susu Tante Tika.<br />
“Ya, Tommy. Kamu buka baju dulu deh. Nanti Tante ambilkan baju ganti. Siapa tahu ada yang pas buat kamu”, kata Tante Tika sambil beranjak ke luar kamar tidur. Sempat dilihatnya tubuh telanjang Tommy. Dikenalkannya pakaiannya lagi. Tante Tika pergi ke kamar anaknya, Andri, yang baru saja pulang dari sekolah.</p>
<p>“Dri”.<br />
“Apa, Ma?”, tanya Andri yang masih memakai baju seragam. Blus putih dan rok berwarna biru.<br />
“Kamu punya baju yang sudah nggak kamu pakai lagi nggak?”.<br />
“Nggg…, Ada Ma. Tunggu sebentar”, Andri mengeluarkan daster yang sudah kekecilan buat tubuhnya dari dalam lemari pakaiannya.<br />
“Buat apa sih, Ma?”, kata Andri seraya menyerahkan dasternya kepada ibunya.<br />
“Itu, buat si Tommy. Tadi pakaiannya basah ketumpahan air minum”.<br />
“Tommy datang ke sini, Ma? Sekarang dia di mana?”.<br />
“Sudah! Kamu belajar dulu. Nanti Tommy akan Mama suruh ke sini!”.<br />
“Ya…, Mama!” Gerutu Andri kesal. Ibunya tak mengindahkannya. Andri senang pada Tommy karena ia sering saling menukar permainan komputer dengannya. Tapi Andri keras kepala. Setelah jarak ibunya cukup jauh, diam-diam ia membuntuti dari belakang tanpa ketahuan. Sampai di depan kamar ibunya, Andri mengintip ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ibunya sedang berbicara dengan Tommy.</p>
<p>“Tommy, coba kamu pake baju ini dulu. Bajunya Andri, sambil nunggu pakaian kamu kering”, kata Tante Tika sambil memberikan daster milik Andri kepada Tommy.<br />
“Ya, Tante. Tommy nggak mau pake baju ini. Ini kan baju perempuan! Nanti Tommy jadi punya payudara kayak perempuan. Tommy nggak mau!”.<br />
“Nggak mau ya sudah!”, kata Tante Tika sambil tersenyum penuh arti. Kebetulan, batinnya. Kemudian ia menanggalkan busananya kembali.<br />
“Kalo yang ini apa namanya, Tom?”, tanya Tante Tika sambil menunjuk batang kemaluan Tommy yang masih kecil.<br />
“Kata Papa, ini namanya burung”, jawab Tommy polos.<br />
“Tommy tahu nggak, burung Tommy itu gunanya buat apa?”.<br />
“Buat pipis, Tante”.<br />
“Bener, tapi bukan buat itu aja. Kamu bisa menggunakannya untuk yang lain lagi. Tapi itu nanti kalo kamu sudah gede”.</p>
<p>Andri heran melihat ibunya telanjang bulat di depan Tommy. Semakin heran lagi melihat mulut ibunya mengulum batang kemaluannya. Rasanya dulu ibunya pernah melakukan hal yang sama pada kemaluan ayahnya. Semua itu dilihatnya ketika kebetulan ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar ibunya. Kenapa ya burung si Tommy itu, pikir Andri.<br />
“Enak kan, Tom, begini?”, tanya Tante Tika sembari menjilati ujung batang kemaluan Tommy.<br />
“Enak, Tante, tapi geli!”, jawab Tommy meringis kegelian.<br />
“Kamu mau yang lebih nikmat nggak?”.<br />
“Mau! Mau, Tante!”.<br />
“Kalau mau, ini di pantat Tante ada gua. Coba kamu masukkan burung kamu ke dalamnya. Terus sodok keras-keras. Pasti nikmat deh”, kata Tante Tika menunjuk selangkangannya.</p>
<p>“Cobain dong, Tante”, Tante Tika menyodokkan pantatnya ke depan Tommy. Tommy dengan takut-takut memasukkan “burung”nya ke dalam liang vagina Tante Tika. Kemudian disodoknya dengan keras. Tante Tika menjerit kecil ketika dinding “gua”nya bergesekkan dengan “burung” Tommy. Andri yang masih mengintip bertambah heran. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya sampai menjerit begitu. Tapi Andri segera berlari kembali ke kamarnya ketika ia melihat ibunya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Tommy yang hanya memakai celana dalam ibunya. Sampai di kamarnya, Andri berbaring di ranjang membaca buku fisikanya. Tommy muncul di pintu kamar.</p>
<p>“Mbak Andri. Kata Tante tadi Mbak mau cari Tommy ya?”.<br />
“Iya, kamu bawa game baru nggak?”, tanya Andri. Tommy menggeleng.<br />
“Eh, Tom. Ngomong-ngomong tadi kamu ngapain sama mamaku?”.<br />
“Nah ya, Mbak tadi ngintip ya? Pokoknya tadi nikmat deh, Mbak!”, kata Tommy berapi-api sambil mengacungkan jempolnya.<br />
“Enak gimana?”, Andri bertanya penasaran.<br />
“Mbak mau ngerasain?”.<br />
“Mau, Tom”.<br />
“Kalo begitu, Mbak buka baju juga kayak Tante tadi”, kata Tommy.<br />
“Buka baju?”, tanya Andri, “Malu dong!”.</p>
<p>Akhirnya dengan malu-malu, gadis manis itu mau membuka blus, rok, BH, dan celana dalamnya hingga telanjang bulat. Tommy tidak terangsang melihat tubuh mulus yang membentang di depannya. Payudara ranum yang putih dan masih kencang dengan puting susu kemerahan, paha yang putih dan mulut, pantat yang montok. Masih kecil sih Tommy!</p>
<p>“Bener kata Tante. Mbak Andri juga punya payudara. Tapi punyanya Tante lebih gede dari punya Mbak. Pentilnya Mbak juga nggak tinggi kayak Tante”, Tommy menyamakan payudara dan puting susu Andri dengan milik ibunya.<br />
“Pentil Mbak keluar susu, nggak?”.<br />
“Nggak tahu tuh, Tom. Nggak pernah ngerasain sih!”, kata Andri lugu.<br />
“Pentilnya Tante nggak bisa ngeluarin apa-apa, payah!”.<br />
“Masak sih bisa keluar susu dari pentilku?”, kata Andri tidak percaya sambil memandangi puting susunya yang sudah meninggi meskipun belum setinggi milik ibunya.<br />
“Mbak nggak percaya? Mau dibuktiin?”.<br />
“Boleh!”, kata Andri sambil menyodorkan payudaranya yang ranum.</p>
<p>Mulut Tommy langsung menyambarnya. Diisap-isapnya puting susu Andri, membuat gadis itu menggerinjal-gerinjal kegelian.<br />
“Ya, kok nggak ada susunya sih, Mbak?”.<br />
“Coba kamu isap lebih keras lagi!”, kata Andri. Tommy segera menyedoti puting susu Andri. Tapi lagi-lagi ia kecewa karena puting susu itu tidak mengeluarkan air susu. Tapi Tommy belum puas. Diisapnya puting susu Andri semakin keras, membuat gadis manis itu membelalak menahan geli.<br />
“Nggak keluar juga ya, Tom”, tanya Andri penasaran.<br />
“Kali kayak sapi. Harus diperas dulu baru bisa keluar susunya”, kata Tommy.<br />
“Mungkin juga. Ayo deh coba!”, kata Andri seraya meremas-remas payudaranya sendiri seperti orang sedang memerah susu sapi. Sementara itu Tommy masih terus mengisapi puting susunya. Akhirnya mereka berdua putus asa.</p>
<p>“Kok nggak bisa keluar sih. Coba yang lain aja yuk!”, kata Tommy membuka celana dalamnya.<br />
“Apaan tuh yang nonjol-nonjol, Tom?”, tanya Andri ingin tahu.<br />
“Kata Papa, itu namanya burung. Cuma laki-laki yang punya. Tapi kata Tante namanya kemaluan. Tau yang bener yang mana!”.<br />
“Aku nggak punya kok, Tom?”, kata Andri sambil memperhatikan daerah di bawah pusarnya. Tidak ada tonjolan apa-apa”.<br />
“Mbak kan perempuan, jadi nggak punya. Kata Tante, anak perempuan punya…, apa tuh namanya…, va…, vagina. Katanya di pantat tempatnya.<br />
“Di pantat? Yang mana? Yang ini? Ini kan tempat ‘eek, Tom?!”, kata Andri sambil menunjuk duburnya.<br />
“Bukan, lubang di sebelahnya”, kata Tommy yakin.<br />
“Yang ini?”, tanya Andri sembari membuka bibir liang vaginanya.<br />
“Kali!”.<br />
“Jadi ini namanya vagina. Namanya kayak nama mamanya Hanny ya?”, kata Andri. Ia menyamakan kata vagina dengan Tante Gina, ibuku.<br />
“Tadi mamaku ngisep-ngisep burung kamu. Emangnya kenapa sih?”, lanjut Andri.<br />
“Tommy juga nggak tahu, Mbak”.<br />
“Enak kali ya?”.<br />
“Kali, tapi Tommy sih keenakan tadi”.</p>
<p>Tanpa rasa risih, Andri memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutnya, lalu diisap-isapnya.<br />
“Ah, nggak enak kok Tom. Bau!”, kata Andri sambil meludah.<br />
“Tapi kok kudengar mamaku menjerit-jerit. Ada apaan?”, tanya Andri kemudian.<br />
“Gara-gara Tommy masukin burung Tommy ke dalam guanya. Nggak tahu tuh, kok tahu-tahu Tante menjerit”.<br />
“Gua yang mana?”, Andri penasaran.<br />
“Yang tadi tuh, Mbak. Yang namanya vagina”.<br />
“Apa nggak sakit tuh, Tom?”.<br />
“Sakit sih sedikit. Tapi nikmat kok. Mbak!”.<br />
“Bener nih?”.<br />
“Bener, Mbak Andri. Tommy berani sumpah deh!”.<br />
“Coba deh”, Andri akhirnya percaya juga.</p>
<p>Tommy memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vagina Andri yang masih sempit. Andri menyeringai.<br />
“Sakit dikit, Tom”.<br />
Tommy menyodok-nyodokkan “burung”nya berulang kali dengan keras ke “gua” Andri. Andri mulai menjerit-jerit kesakitan. Tapi Tommy tidak peduli karena merasa nikmat. Andri tambah menjerit dengan keras. Mendengar lengkingan Andri, Tante Tika berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya itu.<br />
“Dri, Andri. Kenapa kami?”, tanya Tante Tika. Ia terkejut melihat Andri yang meronta-ronta kesakitan disetubuhi oleh Tommy kecil.<br />
“Ya ampun, Tommy! Berhenti! Gila kamu!” teriaknya naik darah. Apalagi setelah ia melihat darah yang mengalir dari selangkangan Andri melalui pahanya yang mulus.</p>
<p>Astaga! Andri telah ternoda oleh anak kecil berusia sepuluh tahun, sepupunya lagi?! Putrinya yang baru berumur empat belas tahun itu sudah tidak perawan lagi?!<br />
“Nanti aja, Tante! Enak!”.<br />
“Anak jahanam!”, teriak Tante Tika marah. Ia menempeleng Tommy, sehingga bocah itu hampir mental. Sementara itu, Andri langsung ambruk tak sadarkan diri.<br />
Sejak kejadian itu hubungan keluarga Tommy dengan Tante Tika menjadi tegang.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Pemilu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2346</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu 7 Juni 1999, yang baru saja lewat bagi sebagian orang kesannya penuh nuansa politis. Tetapi bagi saya, kesan sangat jauh berbeda, bahkan tidak akan pernah terbayangkan akan bermakna demikian dalam bagi saya pribadi. Kesan yang penuh sensualitas dan menggairahkan. Saat itu, 7 Juni, rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu 7 Juni 1999, yang baru saja lewat bagi sebagian orang kesannya penuh nuansa politis. Tetapi bagi saya, kesan sangat jauh berbeda, bahkan tidak akan pernah terbayangkan akan bermakna demikian dalam bagi saya pribadi. Kesan yang penuh sensualitas dan menggairahkan.</p>
<p>Saat itu, 7 Juni, rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu rumah dihuni tujuh orang, ayah, ibu, kakak laki-laki saya yang masih kuliah, saya sendiri SMA kelas tiga, baru saja selesai Ebtanas dan lulus. Kemudian adik perempuan saya kelas lima SD, lalu sepupu laki-laki saya kelas dua SMP dan pembantu satu orang. Oh iya, panggil saja saya Yuli, asli Tolaki.</p>
<p>Jadi pada saat pemilu rumah yang berada di kawasan Perumahan Pemda Kampung Kemah Raya, Kendari jadi sepi sekali. Ayah ke Kolaka, mengurus pemilu di sana, kebetulan juga beliau caleg Golkar untuk daerah tersebut. Kakak saya jadi pengawas pemilu untuk UNFREL Kendari, ibu saya jadi panitia pemilu lokal kawasan Kemah Raya. Pembantu dan adik, disuruh bantuin ibu mengurus konsumsi. Praktis yang jaga rumah, saya dengan sepupu saya yang bernama, Ical. Saya belum ikut memilih, belum cukup umur, baru 16 tahun lebih dua bulan. Saya dengan Ical sangat akrab, habisnya dia ikut dengan keluarga saya sejak masih kelas satu SD, dan selalu menjadi teman main saya.</p>
<p>Senin itu, 7 Juni 1999, badan saya pegal sekali, selesai ngepel dan membersihkan rumah. Dan seperti biasa saya kepingin dipijitin. Biasanya sih oleh ibu, dan Ical juga, habis dari kecil saya sudah biasa menyuruh dia. Karena agak pegal, saya panggil saja Ical untuk mijitin, Ical nurut saja. Saya langsung berbaring telungkup di karpet depan TV, dan Ical mulai memijit tubuhku. Asyik juga dipijit oleh Ical, tangannya keras sekali, punggungku jadi fresh lagi.<br />
“Duh, Cal…, mijitnya yang lurus dong, jangan miring kiri miring kanan..”, kataku.<br />
“Abis, posisinya nggak bagus kak”, jawabnya.<br />
“Kamu dudukin aja paha Kak Yuli, seperti biasa…”.<br />
“Tapi…, kak..”.<br />
“Alah.., nggak usah tapi…, biasanya kan juga begitu…, ayo..”, Saya tarik tangan Ical memaksanya untuk duduk di pahaku, seperti kalau dia memijit saya pada waktu-waktu kemarin.</p>
<p>Ical akhirnya mau, duduk dan menjadikan kedua pahaku dekat pantat sebagai bangkunya, dan mulai lagi ia memijit sekujur punggungku. Tapi, pijitan agak lain, makin lama makin saya rasakan tangannya agak gemetaran dan nafasnya agak ngos-ngosan.<br />
“Kamu kenapa Cal, capek atau sakit..?”, tanyaku.<br />
“Tidak, tidak apa-apa kak”, jawabnya. Akan tetapi duduknya mulai tidak karuan, geser kiri dan kanan, sementara pantatnya seperti tidak mau dirapatkan di pahaku, agak terangkat.</p>
<p>Akhirnya, saya menyuruhnya pindah, dan saya bangun, lalu duduk mendekati, biasa bermaksud menggoda.<br />
“Ayo.., kamu kenapa, ini pantatmu, selalu diangkat.., tidak biasanya”, sambil tanganku bermaksud mencubit pantatnya.<br />
“Tidak, tidak apa-apa kak..”, jawabnya sambil menghindari cubitanku, malah tanganku tersenggol celana bagian selangkangannya yang seperti agak tertarik kain celananya dan agak menonjol, melihat itu timbul rasa isengku, karena memang saya dan Ical kalau main seperti anak-anak yang masih TK, asal ngawur saja.</p>
<p>“Loh.., itu apa di celanamu Cal, kok nonjol begitu..” Mendengar itu Ical merah padam mukanya, lalu ia berdiri ingin lari menghindar dari saya, tapi segera kutarik tangannya untuk duduk, dan tanganku yang satu menggerayangi celananya memegangi dan meraba benjolan tersebut.<br />
“Jangan kak Yuli, Ical malu..”, katanya. Dasar saya yang nakal, saya pelototin matanya, Ical langsung diam, dan tanganku leluasa memegang barang tersebut.</p>
<p>Penasaran, saya buka resliting celananya dan menarik keluar barangnya yang mengeras tersebut, dan astaga, ternyata penis Ical sudah menegang. Baru kali ini saya melihat penis milik orang yang bukan anak-anak dan sudah disunat yang tegang dan keras serta panjang seprti itu. Sementara Ical diam saja, kepalanya hanya menunduk, mungkin malu atau bagaimana saya tidak tahu.</p>
<p>Saya acuh saja, perlahan-lahan, kuelus-elus penis Ical, semakin mengeras penisnya hingga urat-uratnya seperti mau keluar. Kudengar Ical mendesah tertahan. Lalu kuurut-urut sambil kupijit kepala penisnya yang merah itu, Ical makin mendesah, “Ah.., ah..”</p>
<p>Kugenggam erat penis Ical dan kukocok-kocok dengan perlahan, semakin lama semakin kencang. Badan Ical ikut menegang, sambil kepalanya terangkat ke atas menatap langit, mulutnya terbuka, dia mulai agak mengerang, “Achh..”.</p>
<p>Semakin kencang penis Ical kukocok, semakin menggeliat badan Ical membuat saya tersenyum geli melihatnya. Sampai erangan Ical makin mengeras, “Ach.., achh..”. Dan badannya makin menggeliat, hingga mungkin tidak tahan…, ia lalu memelukku erat. Mulanya saya kaget akan reaksinya, tapi saya biarkan saja, karena keasyikan mengocok penis Ical. Rupanya Ical sudah semakin menggeliat, hingga tangannya entah sadar atau tidak ikut menggeliat juga, meraba badanku dan payudaraku.</p>
<p>“He Ical…, kenapa..” tegurku, sambil tetap mengocok penis Ical, “Achh…, achh..” Hanya itu yang Ical bilang, sementara tangannya meremas-remas payudaraku, dan remasannya yang kuat membuatku merasakan sesuatu yang lain, hingga saya biarkan saja Ical meremas payudaraku, dan Ical lalu menyingkap baju kaos yang kupakai, hingga kelihatan BH-ku dan meremas payudaraku lagi hingga keluar dari BH-ku.</p>
<p>“Acchh…, accchh” erang Ical, saya mulai merasakan kenikmatan tersendiri pada saat payudaraku tidak terbungkus BH diremas oleh tangan Ical dengan kuat, sedangkan penisnya tetap saja kukocok-kocok. Dan entah naluri apa yang ada pada Ical, hingga dia nekat menyosor payudaraku dan mengisap putingnya seperti anak bayi yang sedang menyusu.<br />
“Aduh…, Ical…, aduhh” Hanya itu yang mampu kuucapkan, payudaraku mulai mengeras, keduanya diisap secara bergantian oleh Ical.</p>
<p>Saya juga mulai menggeliat, kutarik kepala Ical dari payudaraku, lalu kudekatkan ke wajahku, kucium bibirnya dengan nafsu yang muncul secara tiba-tiba, Ical balas mencium, bibir kami berdua saling memagut, lidah bertemu lidah saling mengadu dan menjilati satu sama lain.</p>
<p>Tangan Ical menggerayangi badanku, melepaskan baju dan BH-ku, hingga aku bugil sebatas dada. Kulepaskan juga baju yang dipakai Ical, dan kupelorotkan celananya, hingga Ical bugil tanpa sehelai benangpun, dan kembali kukocok penisnya, sedangkan Ical kembali menyosor payudaraku yang sudah keras membukit.</p>
<p>Perlahan tangan Ical menelusuri rokku lalu menyelusup masuk ke dalam rokku, “Acchh…, Accchh”, Saya dan Ical terus mengerang dan menggelinjang. Tangan Ical menyelusup ke dalam CD-ku, lalu mengusap-ngusap vaginaku.<br />
“Aduuuhh…, Ical..” erangku, sementara jarinya mulai ia masukkan ke dalam vaginaku yang mulai kurasakan basah, dan Ical mempermainkan jarinya di dalam vaginaku.<br />
“Accchh…, aduuuhh…, acccchh..”. Tak tahan lagi, Ical menarik lepas rok dan celana dalamku, hingga akhirnya saya kini telanjang bulat. Kemudian Ical mencium bibirku dan saya tetap mengocok penisnya, sedangkan jarinya bermain dalam vaginaku.</p>
<p>“Accchh..” Hanya erangan tertahan karena tersumbat bibir Ical yang keluar dari mulutku. Kemudian Ical berhenti menciumku, lalu ia mengambil posisi menindih badanku, saya membiarkan saja apa yang akan Ical lakukan, karena kenikmatan itu sudah mulai terasa mengaliri pembuluh darahku. Dan, tiba-tiba saya rasakan sakit yang teramat sangat di selangkanganku.</p>
<p>“aaccccchh, Ical.., apa yang kau lakukan..”, tanyaku. Tapi terlambat, rupanya Ical sudah memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku, dan seperti tidak mendengarkan pertanyaanku, Ical mulai mengoyang batang penisnya naik turun dalam vaginaku yang semakin berlendir dan mulai terasa basah oleh aliran darah perawanku yang mengalir membasahi vaginaku.<br />
“Accchh…, Ical…, aduuhh Ical..”, erangku.<br />
Badanku semakin menggelinjang, kujepit badan Ical dengan kedua kakiku sementara tanganku memeluk erat dan menggoreskan kukuku di punggung Ical. Semakin kencang goyangan penis Ical dan semakin keras pula erangan kami berdua.<br />
“Accch…, aduhh..” Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat nikmat yang terdorong dari dalam…, dan erangan panjang saya dan Ical, “aahh”. Bersamaan semprotan mani Ical dalam vaginaku dan semburan maniku yang menciptakan kenikmatan yang tak pernah kurasakan dan kubayangkan sebelumnya.</p>
<p>Ical menarik keluar penisnya, lalu berbaring di sampingku. Kami berdua saling bertatapan, seperti ada penyesalan tentang apa yang telah terjadi, akan tetapi rupanya nafsu kami berdua lebih kuat lagi. Kuraih kembali dan kudekatkan wajahku ke wajah Ical, kami lalu berciuman lagi dan saling melumat, kemudian kupegang erat penis Ical, sehingga kembali menegang dan kembali lagi kami melakukan hubungan badan tersebut hingga beberapa kali.</p>
<p>Hingga hari ini saya dan Ical, bila ada kesempatan masih mencuri waktu dan tempat untuk melakukan hubungan badan, karena mengejar kenikmatan yang tiada taranya, kadang di kamarku, di kamar Ical, ataupun di dalam kamar mandi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawanku, Oh Perawanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa saja sesukaku.</p>
<p>Namun, ketika krismon tiba, musibah itupun tidak bisa dipungkiri oleh keluarga kami. Kami jatuh bangkrut. Itupun kami memiliki hutang pajak yang tertunggak. Sudah seminggu lamanya, tukang pajak menyatroni rumah kami dan menghutang segala berkas berkas perusahaan ayahku. Ketika aku dipanggil masuk, petugas pajak dan ayahku sedang duduk di ruang kerja. Petugas pajak itu sudah cukup tua. Kira-kira seumur ayahku, tapi matanya dengan nanar memandangi tubuhku yang termasuk bongsor. Dia tersenyum memandangku, wajahku memang termasuk lumayan, maklum dengan tampang orientalku yang klasik, banyak yang mengincarku. Termasuk petugas pajak bernama Pak Amir yang duduk di hadapanku. Ayahku secara panjang lebar menceritakan kesulitannya yang dihadapinya dan bagaimana Pak Amir menawarkan bantuannya untuk mengurangi hutang pajak yang tertunggak kepadanya. Tapi untuk itu ada harga yang sangat mahal. Masalahnya, ayahku sedang tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan bila hutang pajak itu tidak diselesaikan, ayahku akan dimasukkan ke penjara. Pak Amir berkata, bisa dibayar asal aku mau memberikan keperawananku kepadanya. Ayahku hanya tertunduk saja. Aku sangat kaget karena mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.</p>
<p>Setelah dijelaskan secara panjang lebar, akupun menuruti perintah ayah. Secara gontai, dia meninggalkan kami berdua keluar dari kamar kerja. Saat itu, aku mengenakan t-shirt dan rok mini. Pak Amir secara perlahan mulai mengelus tanganku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Dia mulai berani dan mengelus rambutku, tiba-tiba aku mencium bau rokok, ternyata Pak Amir mulai menciumi bibirku. Aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang besar telah menimpa tubuhku yang kecil. Ciumanpun turun ke dadaku yang membusung. Tangannya secara perlahan meraba betis dan naik ke pahaku.</p>
<p>Secara perlahan, rokku di kibaskan dan aku merasa kemaluanku dipermainkan oleh jarinya. Aku hanya bisa berteriak kecil ketika jarinya menusuk alat kemaluanku dan tak lama kemudian alat kemaluankupun menjadi basah. Tiba-tiba Pak Amir berdiri dan membuka celananya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia memaksa memasukkan alat kemaluannya ke mulutku. Aku mencoba berontak, tapi apa daya? Bau sekali penisnya tapi aku teringat akan nasib ayahku yang saat ini sedang berada di tanganku, mengingat hal itu, aku mencoba merubah sikapku dari pasif menjadi aktif. Aku tidak ragu lagi melahap penis Pak Amir yang besar itu dengan mulutku. Kukulum dan kuhisap seperti orang ahli. Dia memegang kepalaku seakan tidak mau penisnya keluar dari mulutku.</p>
<p>Setelah puas, dia memaksaku membuka celana dalamku. Akupun hanya bisa telentang ketika lidahnya memainkan clitorisku. Aku hanya bisa merem-melek keasyikan, baru kali ini rasanya aku merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat. Tak lama kemudian, tak hanya lidah saja yang berbicara.</p>
<p>Rupanya Pak Amir tidak sabar lagi untuk mencoba vaginaku yang masih perawan. Aku menjerit kecil ketika aku merasakan penisnya yang besar memasuki vaginaku untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan ketika dia dengan ganasnya melahap keperawananku. Setelah bosan dengan posisi itu, dia memaksaku dengan posisi menungging dan dia menghantamku dari belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata antara menikmati dan kesakitan. Diapun berganti posisi dan duduk di bangku dan aku disuruhnya untuk duduk di atasnya, dengan posisi duduk, aku memiliki kendali atas dirinya dan entah kenapa aku telah lepas kendali, sehingga aku menggoyangkan penisnya dengan cepat sekali, dia tidak tahan lagi dan akupun dipaksa untuk menjilati air maninya, rasanya aneh. Tapi karena aku disuruh telan, akupun tanpa pikir panjang menelannya.</p>
<p>Selesai tugasku untuk membantu ayahku dan selesai pula pengalaman seks pertamaku dengan seorang petugas pajak yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku. Apa mau dikata. Akupun tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian tersebut. Rasanya aku jadi ketagihan juga sih.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajie… Tante Puas Atas Layananmu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/ajie%e2%80%a6-tante-puas-atas-layananmu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/ajie%e2%80%a6-tante-puas-atas-layananmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/ajie%e2%80%a6-tante-puas-atas-layananmu.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang wanita karir yang cukup mapan, boleh dibilang karirku sudah mencapai tingkat tertinggi dari yang pernah kuimpikan. Tahun lalu aku memutuskan keluar dari pekerjaanku yang sangat baik itu, aku ingin memperbaiki rumah tanggaku yang berantakan karena selama 5 tahun ini aku dan suami tidak pernah berkomunikasi dengan baik sehingga kami masing-masing memiliki kegiatan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku seorang wanita karir yang cukup mapan, boleh dibilang karirku sudah mencapai tingkat tertinggi dari yang pernah kuimpikan. Tahun lalu aku memutuskan keluar dari pekerjaanku yang sangat baik itu, aku ingin memperbaiki rumah tanggaku yang berantakan karena selama 5 tahun ini aku dan suami tidak pernah berkomunikasi dengan baik sehingga kami masing-masing memiliki kegiatan di luar rumah sendiri-sendiri. Anak kami satu-satunya sekolah di luar negeri, kesempatan untuk berkomunikasi makin sedikit sampai akhirnya kuputuskan untuk memulai lagi hubungan dengan suamiku dari bawah. Tapi apa boleh buat semua malah berantakan, suamiku memilih cerai ketika aku sudah keluar dari karirku selama 3 bulan. Aku tak dapat menyalahkannya karena akupun tidak begitu antusias lagi setelah mengetahui dia mempunyai wanita simpanan, dan itu juga bukan salahnya maupun salahku. Kupikir itu adalah takdir yang harus kujalani.</p>
<p>Sekarang usiaku sudah 39 tahun dan aku tidak pernah bermimpi untuk menikah lagi, sehari-hari aku lebih banyak berjalan-jalan dengan teman, kadang-kadamg kami traveling untuk membunuh waktu belaka. Sejak 3 bulan yang lalu aku membiarkan salah seorang keponakanku untuk tinggal di rumahku, aku tergerak menolong orang tuanya yang mempunyai ekonomi pas-pasan sehingga untuk kost tentu memerlukan biaya yang mahal, sedangkan untuk bayar kuliah saja mereka sudah bekerja mati-matian. Keponakanku bernama Ajie, usianya sekitar 22 tahun, kubiarkan ia tinggal di salah satu kamar di lantai 2. Ajie sangat sopan dan tahu diri, jadi kupikir sangat menguntungkan ada seseorang yang dapat menjaga rumahku sewaktu aku dan teman-teman traveling. Tapi ternyata Ajie membawa berkah yang lain.</p>
<p>Pagi itu aku segan sekali bangun dari ranjang, baru kemarin malam aku kembali dari Thailand dan kebetulan hari itu adalah hari minggu, sehingga aku memutuskan akan tidur sepuas mungkin, semua pembatu libur pada hari minggu, mereka boleh kemana saja, aku tidak peduli asal jangan menganggu tidurku. Aku tergolek saja di ranjang, baju tidurku terbuat dari sutera tipis berwarna putih, kupandangi tubuhku yang mulai gempal, kupikir aku harus mulai senam lagi. Kulihat jam menunjukkan angka 10. Ah biarlah aku ingin tidur lagi, jadi aku mulai terkantuk-kantuk lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki di depan pintu, lalu terdengar ketukan, aku diam saja, mungkin salah seorang pembantu ingin mengacau tidurku.<br />
“Tante…, Tante…”, ooh ternyata suara Ajie. Mau apa dia? Aku masih diam tak menjawab, kubalikkan badanku sehingga aku tidur telentang, kupejamkan mataku, kedua tangan kumasukkan ke bawah bantal. Ketukan di pintu berulang lagi disertai panggilan.<br />
“Persetan!”, pikirku sambil terus memejamkan mata. Tak lama kemudian aku kaget sendiri mendengar pegangan pintu diputar, kulirik sedikit melalui sudut mataku, kulihat pintu bergerak membuka pelan, lalu muncul kepala Ajie memandang ke arahku, aku pura-pura tidur, aku tak mau diganggu.<br />
“Tante…?”, Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat.</p>
<p>Beberapa saat aku tidak mendengar apapun, tapi tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mata, astaga ternyata Ajie sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaun tidurku, aku lupa sedang mengenakan baju tidur yang tipis apalagi dengan tidur telentang pula. Hatiku jadi berdebar-debar, kulihat Ajie menelan ludah, pelan-pelan tangannya menyingkap gaunku, hatiku makin berdebar tak karuan. Mau apa dia? Tapi aku terus pura-pura tidur.<br />
“Tante…”, Suara Ajie terdengar keras, kupikir ia sedang ingin memastikan apakah tidurku betul-betul nyenyak atau tidak. Kuputuskan untuk terus pura-pura tidur. Kemudian kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai leher, lalu kurasakan tangan Ajie mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tenang agar pemuda itu tidak curiga.</p>
<p>Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tangan kumasukkan bawah bantal jadi otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi…, buseet wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin dia masih belum tahu aku pura-pura tidur, kuatur napas selembut mungkin. Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemudian kurasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu kurasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada yg sedang bergolak di dalam tubuhku, sudah lama aku tidak merasakan sentuhan laki-laki. Sekarang aku sangat merindukan kekasaran seorang pria, aku memutuskan terus diam sampai saatnya tiba.</p>
<p>Sekarang tangan Ajie sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti malah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar ketika memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Ajie mendekatkan wajahnya kearah buah dadaku, lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah berkilat oleh air liurnya, perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali. Mulutnya terus menyedot puting susuku disertai dengan gigitan-gigitan kecil, tangan kanan Ajie mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yg masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah atau belum, yang jelas jari-jari Ajie menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku, jantungku berdebar keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Ajie sedang berusaha memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.</p>
<p>“Ajie!!! Ngapain kamu?”, Aku berusaha bangun duduk, tapi kedua tangan Ajie menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Ajie mencium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapi Ajie makin keras menekan pundakku, malah pemuda itu sekarang menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, aku pura-pura menolak.<br />
“Tante…, maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya tante” Ajie melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.<br />
“Kamu kan bisa dengan teman-teman kamu yang masih muda. Tante kan sudah tua” Ujarku lembut.<br />
“Tapi saya sudah tergila-gila dengan tante…, saya akan memuaskan tante sepuas-puasnya”, Jawab Ajie.<br />
“Ah kamu…, ya sudahlah terserah kamu sajalah”, Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tak tahan ingin dijamah olehnya. Kemudian Ajie melepaskan gaun tidurku, sehingga aku cuma memakai celana dalam saja. Lalu Ajie melepaskan pakaiannya, sehingga aku bisa melihat penisnya yang besar sekali, penis itu sudah menegang keras. Ajie mendekat ke arahku.<br />
“Tante diam saja ya”, Kata Ajie. Aku diam sambil berbaring telentang, kemudian Ajie mulai menciumi wajahku, telingaku dijilatinya, aku mengerang-erang, kemudian leherku dijilat juga, sementara tangannya meremas buah dadaku dengan lembut. Tak lama kemudian Ajie merenggangkan kedua pahaku, lalu kepalanya menyusup ke selangkanganku. vaginaku yang masih tertutup CD dijilat dan dihisap-hisapnya, aku menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang luar biasa. Lalu Ajie menarik CD-ku sampai copot, kedua kakiku diangkatnya sampai pinggulku juga terangkat, sehingga tubuhku menekuk, kulihat vaginaku yang berbulu sangat lebat itu mengarah ke wajahku, punggungku agak sakit, tapi kutahan, aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Kemudian Ajie mulai menjilati vaginaku, kulihat lidahnya terjulur menyibak bulu vaginaku, lalu menyusup ke belahan bibir vaginaku, aku merintih keras, nikmat sekali, clitorisku dihisap-hisapnya, kurasakan lidahnya menjulur masuk ke dalam lubang vaginaku, mulutnya sudah bergelimang lendirku, aku terangsang sekali melihat kelahapan pemuda itu menikmati vaginaku, padahal kupikir vaginaku sudah tidak menarik lagi.<br />
“Enak Ajie? Bau kan?”, Bisikku sambil terus melihatnya melahap lubangku.<br />
“Enak sekali tante, saya suka sekali baunya”, Jawab Ajie, aku makin terangsang. Tak lama aku merasakan puncaknya ketika Ajie makin dalam memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku.<br />
“Ajiee…, aa…, enaakk” Kurasakan tubuhku ngilu semua ketika mencapai orgasme, Ajie terus menyusupkan lidahnya keluar masuk vaginaku. Kuremas-remas dan kugaruk-garuk rambut Ajie. Kemudian kulihat Ajie mulai menjilat lubang pantatku, aku kegelian, tapi Ajie tidak peduli, ia berusaha membuka lubang pantatku, aku mengerahkan tenaga seperti sedang buang air sehingga kulihat lidah Ajie berhasil menyusup kesela lubang pantatku, aku mulai merasakan kenikmatan bercampur geli.<br />
“Terus Jie…, aduh nikmat banget, geli…, teruss…, hh…”, Aku mengerang-erang, Ajie terus menusukkan lidahnya ke dalam lubang pantatku, kadang-kadang jarinya dimasukkan ke dalam lalu dikeluarkan lagi untuk dijilat sambil memandangku.<br />
“Enak? Jorok kan?”.<br />
“Enak tante…, nikmat kok”, Jawab Ajie, tak lama kemudian aku kembali orgasme, aku tahu lendir vaginaku sudah membanjir. Kucoba meraih penis Ajie, tapi sulit sekali. Aku merasa kebelet ingin pipis, tiba-tiba tanpa dapat kutahan air kencingku memancar sedikit, aku mencoba menahannya.<br />
“Aduh sorry Jie…, nggak tahan mau pipis dulu” Aku ingin bangun tapi kulihat Ajie langsung menjilat air kencingku yang berwarna agak kuning. Gila! Aku berusaha menghindar, tapi ia malah menyurukkan seluruh mulutnya ke dalam vaginaku.<br />
“aa…, jangan Ajie…, jangan dijilat, itu kan pipis Tante”, Aku bangun berjalan ke kamar mandi, kulihat Ajie mengikutiku.<br />
“Tante pipis dulu, Ajie jangan ikut ah…, malu”, Kataku sambil menutup pintu kamar mandi, tapi Ajie menahan dan ikut masuk.<br />
“Saya ingin lihat Tante”.<br />
“Terserah deh”.<br />
“Saya ingin merasakan air pipis tante”, Aku tersentak.<br />
“Gila kamu? Masak air pipis mau…”, Belum habis ucapanku, Ajie sudah telentang di atas lantai kamar mandiku.<br />
“Please tante…”, Hatiku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaimana mengencingi orang, siapa yang mau? Eh sekarang ada yang memohon untuk dikencingi. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba.<br />
“Terserah deh…” Jawabku, lalu aku berdiri diantara kepalanya, kemudian pelan-pelan aku jongkok di atas wajahnya, kurasakan vaginaku menyentuh hidungnya. Ajie menekan pinggulku sehingga hidungnya amblas ke dalam vaginaku, aku tak peduli, kugosok-gosok vaginaku di sana, dan sensasinya luar biasa, kemudian lidahnya mulai menjulur lalu menjilati lubang pantatku lagi, sementara aku sudah tidak tahan.<br />
“Awas…, mau keluar” Ajie memejamkan matanya. Kuarahkan lubang vaginaku ke mulutnya, kukuakkan bibir vaginaku supaya air kencingku tidak memencar, kulihat Ajie menjulurkan lidahnya menjilati bibir vaginaku, lalu memancarlah air kencingku dengan sangat deras, semuanya masuk ke dalam mulut Ajie, sebagian besar keluar lagi.</p>
<p>Tiba-tiba Ajie menusuk vaginaku dengan jarinya sehingga kencingku tertahan seketika, kenikmatan yang luar biasa kurasakan ketika kencingku tertahan, lalu vaginaku ditusuk terus keluar masuk dengan jarinya. Kira-kira 1 menit kurasakan kencingku kembali memancar dashyat, sambil pipis sambil kugosok-gosokkan vaginaku ke seluruh wajah Ajie. Pemuda itu masih memejamkan matanya. Akhirnya kulihat kencingku habis, yang keluar cuma tetes tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk ke dalam mulut pemuda itu, dan Ajie menjilat serta menghisap habis. Aku juga tak tahan, kucium mulut Ajie dengan lahap, kurasakan lendirku sedikit asin, kuraih penis Ajie, kukocok-kocok, kemudian kuselomoti penis yang besar itu. Kusuruh Ajie nungging diatas wajahku, lalu kusedot penisnya yang sudah basah sekali oleh lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang kencingnya. Ajie mulai memompa penisnya di dalam mulutku, keluar masuk seolah-olah mulutku adalah vagina, aku tidak peduli, kurasakan Ajie sedang mencelucupi vaginaku sambil mengocok lubang pantatku.</p>
<p>Kuberanikan mencoba menjilat lubang pantat Ajie yang sedikit berbulu dan berwarna kehitam-hitaman. Tidak ada rasanya, kuteruskan menjilat lubang pantatnya, kadang-kadang kusedot bijinya, kadang-kadang penisnya kembali masuk ke mulutku. Tak lama kemudian kurasakan tubuh Ajie menegang lalu ia menjerit keras. penisnya menyemburkan air mani panas yang banyak sekali di dalam mulutku. Kuhisap terus, kucoba untuk menelan semua air mani yang rada asin itu, sebagian menyembur ke wajahku, ku kocok penisnya, Ajie seperti meregang nyawa, tubuhnya berliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah beberapa lama, akhirnya penis itu agak melemas, tapi terus kuhisap.<br />
“Tante mau coba pipis Ajie nggak?” Aku ingin menolak, tapi kupikir itu tidak fair.<br />
“Ya deh… Tapi sedikit aja” Jawabku. Kemudian Ajie berlutut di atas wajahku, lalu kedua tangannya mengangkat kepalaku sehingga penisnya tepat mengarah kemulutku. Kujilat-jilat kepala penisnya yang masih berlendir. Tak lama kemudian air pipis Ajie menyembur masuk ke dalam mulutku, terasa panas dan asin, sedikit pahit. Kupejamkan mataku, yang kurasakan kemudian air pipis Ajie terus menyembur ke seluruh wajahku, sebagian kuminum. Ajie memukul-mukulkan penisnya ke wajah dan mulutku. Setelah habis kencingnya, aku kembali menyedot penisnya sambil mengocok juga. Kira-kira 2 menit penis Ajie mulai tegang kembali, keras seperti kayu. Ajie lalu mengarahkan penisnya ke vaginaku, kutuntun penis itu masuk ke dalam vaginaku. Kemudian pemuda itu mulai memompa penis besarnya ke dalam vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang bukan main setiap penis itu dicabut lalu ditusuk lagi. Kadang Ajie mencabut penisnya lalu memasukkannya ke dalam mulutku, kemudian kurasakan pemuda itu berusaha menusuk masuk ke dalam lubang pantatku.</p>
<p>“Pelan-pelan…, sakit” Kataku, kemudian kurasakan penis itu menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatku, sakit sekali, tapi diantara rasa sakit itu ada rasa nikmatnya. Kucoba menikmati, lama-lama aku yang keenakan, sudah 3 kali aku mencapai orgasme, sedangkan Ajie masih terus bergantian menusuk vagina atau pantatku. Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air pipis, kulihat lantai kamar mandiku yang tadinya kering, sekarang basah semua.<br />
“aakkhh…, tante, tante…, aa” Ajie merengek-rengek sambil memompa terus penisnya di dalam lubang pantatku. Dengan sigap aku bangun lalu secepat kilat kumasukkan penisnya ke dalam mulutku, kuselomoti penis itu sampai akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penis Ajie disertai jeritan panjang, untung tidak ada orang dirumah. Air maninya menyembur banyak sekali, sebagian kutelan sebagian lagi kuarahkan ke wajahku sehingga seluruh wajahku berlumuran air mani pemuda itu.</p>
<p>Kemudian Ajie menggosok penisnya ke seluruh wajahku, lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai kamar mandi. Kepuasan yang kudapat hari itu benar-benar sangat berarti. Aku makin sayang dengan Ajie. Ada saja sensasi dan cara baru setiap kali kami bercinta.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/ajie%e2%80%a6-tante-puas-atas-layananmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adik Angkatanku, Pacarku, Selingkuhanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/adik-angkatanku-pacarku-selingkuhanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/adik-angkatanku-pacarku-selingkuhanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2393</guid>
		<description><![CDATA[Sy kuliah di salah satu PTN di Makassar. Sy termasuk mahasiswa angk.2000 yg pendiam &#038; gak gaul. Tp semua berubah sejak sy masuk organisasi sekaligus panitia Ospek untuk maba angk.2002. Wanita..yah wanita..disinilah awal petualangan sexku dengan wanita. Hubungan dengtan pacar 1ku (angk.2002) di kampus gak sukses, hanya 2 bulan hubungan kami bertahan (biasa..naluri lelaki,hehe..). Hilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sy kuliah di salah satu PTN di Makassar. Sy termasuk mahasiswa angk.2000 yg pendiam &#038; gak gaul. Tp semua berubah sejak sy masuk organisasi sekaligus panitia Ospek untuk maba angk.2002.</p>
<p>Wanita..yah wanita..disinilah awal petualangan sexku dengan wanita. Hubungan dengtan pacar 1ku (angk.2002) di kampus gak sukses, hanya 2 bulan hubungan kami bertahan (biasa..naluri lelaki,hehe..). Hilang 1 tumbuh 1000, beberapa wanita mencoba pdkt dengan sy baik dari angkatanku maupun angkatan yg lain. Lucunya sy pacaran lagi dengan angk.2002 yg ternyata teman segang pacar 1ku di kampus! but so far so good, gak ada masalah antara mereka berdua. Hubungan sy kali ini lebih berkesan daripada yg pertama, tp lagi2 karena keegoisan masing2 hubungan ini hanya bertahan 6 bulan.</p>
<p>Dalam kondisi sy sering labil seperti inilah sy selalu dapat motivasi dari adik angkatanku yg lain (lagi2 teman segang pacar 1 &#038; 2ku di kampus). Sebutlah namanya Lina, dialah yg selalu dengan tulus jadi sandaran ketika sy lelah, jadi “t4 sampah” ketika sy curhat &#038; banyak lagi pengobanannya untuk sy (anaknya ber******, item manis, cuby2 gitu deh &#038; bodynya itu..wuih..!!). Kami sepakat untuk tetap jadi saudara apapun yg terjadi nantinya. Hingga akhirnya karena saling ketergantungan kami berdua gak dapat membohongi perasaan masing2. Kami sepakat pacaran walau resikonya sangat besar, terutama untuk dia (statusnya lagi tunangan sama pilihan ortunya, citra yg buruk di kampus sebagai wanit gampangan &#038; kebetulan lagi “jalan” sama teman satu organisasiku).</p>
<p>1 Minggu hubungan kami berjalan, sebelum ke kampus sy biasa ajak dia kerumahku terlebih dahulu. Saat itu kami lagi nyantai nonton TV, tiduran sambil pelukan. Sy suruh dia buka ******nya agar gak kepanasan. Selang beberapa menit dia tertidur, sambil mukanya mengarah ke sy. Krn belum pengalaman, sy gak tau klo itu kode dari dia. Sepertinya dia mau dicium. Dengan deg2an sy coba cium dahinya dulu, keningnya, pipinya, hidungnya sampe akhirnya ke bibirnya”..cup..cup..”Setelah dua kali sy cium dia bereaksi membalas ciumanku. Sy gemetar, bingung, nafsu jadi satu. Tp te..te..p lan..jut! awalnya cuma ciuman biasa lama2 lidah kami mulai bermain. Sy isap lidahnya sruu..p..Muchh..Muach..dalam hati sy rasakan sensasi yg pertama kali sy rasakan krn cinta yg begitu membara sampai membuat kami berdua “terbakar”. Dengan posisi miring &#038; kepala setengah terangkat untuk cium dia, sy mulai lingkarkan tangan &#038; mengelus2 perutnya. Entah kenapa sy makin nekat meraba &#038; mencium lehernya untuk merangsang dia seperti yg sy liat di film bokep”..ouh..sshhh…yach…”dia mendesis menerima rangsangan dari kakaknya yg paling dia sayang.</p>
<p>Saat sy rasa dia cukup terangsang, sambil tetap cium dia sy mulai buka kancing kemejanya satu per satu. Sampai akhirnya tangan ini cukup meraih payudaranya yg…alamak…kenceng &#038; kenyal banget bro! tanpa ba bi bu lagi langsung aja sy terkam payudaranya sedang yg satunya sy remas2. “Ach..oouuhh…”lagi2 dia mendesah sambil gemetaran. Sekitar 5 menit cium &#038; remasan itu berlangsung, dia sempat tersadar untuk gak melanjutkan hal itu denga berbagai alasan, walau akhirnya eh..malah dia mancing2 sy lagi dengan mencium leher sy berkali-kali “..cup…cup…cup…” sy tergoda &#038; kembali pagutan bibir itu terjadi dan kali ini dia sendiri yg membuka bajunya sendiri. Kayaknya dia gak perduli lagi krn kepercayaannya yg tinggi dengan sy. “Much…ssshh..Ach..Kak…” suara2 kami mulai gak karuan. Yg bikin tambah horny krn kami lakukan itu di ruang keluarga rumahku. Tangan sy kembali bergerilya di leher &#038; payudaranya, malah sy kemudian sy susupkan ke dalam celananya,”muuh..he..eh…dia menggigil merasakan mem*knya digerayangi. Apalagi saat sy mempermainkan klitorisnya,”ha..ah…ah…ah…” dia berasa di awang2. Pakaian kami satu per satu juga sudah lepas semua. Di saat dia sudah gak tahan dia menarikku untuk menindihnya, sambil membuka pahanya mempersilahkan “jagoanku” masuk ke lubang kewanitaannya. Tp entah kenapa (Malaikat sedang lewat kali ye!) sy kok gak tega meneruskannya, sy turun dari badannya sambil kami berpakaian kembali. Lalu kami berdiri, berpelukan, berciuman kembali &#038; bersiap-siap ke kampus.</p>
<p>Malamnya sy susah tidur teringat terus kejadian pagi tadi hingga ada niat untuk mengulang kembali. Besoknya sy ajak dia lagi ke rumah, kembali di t4 &#038; dengan cara yg sama, tp kali ini dia mulai berani memegang “jagoanku” juga dari luar Jeansku, dia mulai buka resletingnya &#038; langsung mengocoknya “..slep…slep…slep…ouch..Lin..trus de…”, sembari trus mencium &#038; tangan sy juga trus mempermainkan me**knya. Yah….saling peting gitu deh! Kami seperti berlomba untuk saling memuaskan. “Ke kamar yuk Kak” Lina mengingatkan, kami lalu pindah ke kamar &#038; melanjutkan permainan tanganku di me**knya. “Humph..humph….nafasnya makin memburu, pinggulnya naik turun mencoba mengimbangi kocokan tanganku “ach..Kak…yach…yach…hu..uh..uh…” &#038; pada akhirnya dia orgasme pertama kalinya. Sy lalu naik menindih badannya dan mulai menggenjotnya perlahan. Walau sudah gak perawan (dia pernah ML sama tunangannya), tp tetap saja rasanya sempit &#038; seret banget waktu “jagoanku” sy masukin. Dasar sudah nafsu dia gak perduli walau sy tahu dia merasa sakit sedikit. Dia sendiri yg memaksakan agar “jagoanku” bisa masuk sedalam2nya. “Ugh..ugh…ho..oh…”dia trus mencoba sampai akhirnya “bless…sshhh…ha..ah…goyang donk kak!” aduh..Lin…ough…genjotanku makin kencang, begitupun goyangan pinggulnya. Walau posisinya di bawah tp dia gak mau pasif aja. Gak lama kemudian sy keluar (tp gak kasi keluar di dalam). Dia agak kecewa “kok cepet banget kak?” ujar Lina. Jujur, sy kurang rileks ML sama dia krn kepikiran banyak hal. Kata para pakar seks saat sedang ML harus dinikmati betul, jangan sampai ada beban pikiran &#038; itulah yg menyebabkan sy cepat keluar. Tp untuk hari2 selanjutnya sy sudah mulai rileks &#038; waktunyapun lebih lama saat ML.</p>
<p>Pernah waktu selesai ML, dia membersihkan badannya di kamar mandi. Sy pikir boleh juga nih lanjut di kamar mandi. Sy ketuk pintunya “Lin, buka donk mandi sama2 yu..k”. “Gak mau” jawab Lina, “ayolah KK mau masuk nih!”. Gak lama kemudian dia buka juga pintunya. Sy kembali buka baju &#038; ikut menyabuni badannya. Sy lalu ke belakangnya sambil meremas payudaranya, “oh..yes..nikmat banget toketnya, diapun menikmati rangsanganku. Dia juga gak sadar lagi dengan perlakuanku, dia berbalik melingkarkan kedua tangannya ke atas punggunggku sambil mendorongku rapat ke dinding. Kembali kami berpagutan liar. Toketnya itu lho! seolah tangan ini gak pernah melewatkan 1 detik saja tanpa meremasnya. Kenceng, Kenyal, bulat bais, pokoke perfect deh bro!! Sedang tangan yg satu trus aja mengucek2 me**knya. “Muach..humpf…humpf…ouch…aow..Kak..trus Kak…hu..uh..uh…yach…!” gak tahan dengan suaranya, sekarang gantian dia yg sy balik badannya merapat ke dinding. Sy angkat satu kakinya untuk menopang di sisi dinding kamar mandi yg satu &#038; satu tangannya juga menopang di sisi dinding yg lain. Sy coba tancapkan kon**ku kembali &#038; kali ini mulus banget ya masuknya! Lancar abis &#038; anget kali pas kon**ku sudah di dalam tem**knya. Serasa gak mau dilepasin selamanya krn terasa ada yg mijit dari dalam. Jadi sambil berdiri kami ML, sy maju mundur dia naik turun “..ough…hu..uh..” surga dunia bro! “eh..he..eh..yach..yach..ouh Lin”. “Kak..uh..enak sekali kak..hu..uh..yes…jangan berhenti dulu ya”. Sekitar 15 menit kami sama2 diujung kenikmatan. “Ach…sy mau keluar kak”, “iya kita sama2 ya kak! Yach…yach…yaa……..ch!! dengan erangan panjang kami sama2 oprgasme untuk yg kesekian kalinya.</p>
<p>selam 2 Minggu berturut2 tiada hari tanpa ML &#038; semuanya dilakukan di rumahku saat ortuku lagi ke kantor dari Pagi ampe Siang. Bahkan tangan ini gak pernah lepas dari payudaranya saat makan siang bareng, nonton TV bareng, becanda bareng, nikmat banget deh toketnya itu!!</p>
<p>Tp harapan untuk bisa terus pacaran dan menikmati toketnya tinggal kenangan. Resiko yg sedari awal sy katakan tadi mulai menuntut pertanggung jawaban. Mulai dari tunangannya, ortunya, pacarnya (teman organisasiku) &#038; lingkungan seolah gak merestui &#038; menghalangi hubungan kami. Sy sich siap bertanggung jawab &#038; berani menghadapi itu semua, tp kayaknya dia yg gak siap kehilangan banyak hal klo kami teruskan hubungan ini. Dengan segala pertimbangan hubungan kami berakhir dengan gak baik. Kami saling menyalahkan &#038; dan membenci. Kami juga mulai merasakan hukum karma atas perbuatan “kotor” kami. Kuliah mulai ancur2an walau tetap kelar, keluarga jadi ribut trus, pertunangannya batal, dll. Dunia seperti menghukum perjalanan hidup kami masing2. Sampai tiba saatnya kami menyadari kesalahan kami &#038; mulai saling memaafkan serta bisa menerima keadaan dengan ikhlas.</p>
<p>Sekarang hubungan kami jauh lebih baik dari sebelumnya, sy &#038; dia emang lebih cocok jadi saudara. Kami jadi lebih kuat &#038; lebih bisa berpikir positif dalam jalani hidup ke depan. Yg jelas pengalaman sex kami tak akan pernah terlupakan walau sudah beranak cucu nanti. Krn kami lakukan semuanya dengan cinta yg terselip diantara gundukan nafsu. Itu yg membuat semuanya jadi berkesan samapi kapanpun. Itu saja…….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/adik-angkatanku-pacarku-selingkuhanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kenikmatan gadis belia</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-gadis-belia.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-gadis-belia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/kenikmatan-gadis-belia.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun 1994 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3. Ketika kami saling menjabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 1994 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3.</p>
<p>Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L—- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah…, jalan terus dong.</p>
<p>Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L—-muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.<br />
Saya tanya, “Mana ortu kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.<br />
“Oohh jawab saya,” saya tanya lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).</p>
<p>Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang.<br />
Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang”. Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang “Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.<br />
“oohh…”, jawab saya.<br />
Saya tanya lagi, “jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?”, dia jawab iya.<br />
“Terus Papa kamu yang bukain siapa…”<br />
“saya…” jawabnya.<br />
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam 24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)<br />
Saya tanya lagi “Kamu memang mau jadi pacar saya…”.<br />
Dia bilang “Iya…”.<br />
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini dong dekat-dekat saya…”, belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh “Ohh.., oohh sakit”. katanya.</p>
<p>Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…”, dia cuma mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, “Uuhh…, nikmat sayang”, kata saya.<br />
“Teruss…”, dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”. Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. “Aahh…, sakkiitt…”, tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.</p>
<p>Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, “Ahh…, aahh…”, kemudian saya tarik payudaranya dekat ke wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.</p>
<p>Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh… ohh…, nikmat sekali…”, dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).<br />
Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…, lagii..”.</p>
<p>Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan. Dengan terburu-buru saya pun melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.</p>
<p>Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, “Aakkhh…, aakkhh…”, sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya. “aakk…, akk…, nikmat sayyaangg…”. Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya. Saya langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, “Aahh…, aahh…, aahh…, aahh”, sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.</p>
<p>Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan saya siapkan penis saya. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan-pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,. ssaayaangg…, kaammuu…”, sayapun terus menyodok dari belakang. Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada kepala penissaya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan-pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh…, aahh…”, saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…”. Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata “Tahann.. sayang… cuman sebentar kok…”</p>
<p>Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, “Ahh…, aahh…, ahh…, kamu sayang sama lakukan?” dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang penuh pengharapan. Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. “Enak sayang?”, kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…” lalu saya mulai bekerja, saya tarik pelan-pelan penis saya lalu saya majukan lagi tarik lagi majukan lagi dia pun makin keras mendesis, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…” akhirnya ketika saya rasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat dia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak “Sayaa mauu keeluuarr…”.<br />
Sayapun berkata “aahhkkssaayyaanggkkuu…”, saya langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai-sampai saya rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, “Ahh…, aahh…, ahh…, akkhh…, akkhh…, truss” langsung dia bilang “Sayyaa kkeelluuaarr…, akkhh…, akhh…”, tiba-tiba dia mau jatuh tapi saya tahan dengan tangan saya. Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan saya sambil saya kocok penis saya lebih cepat lagi, “Akkhh…, akkhh…, ssaayyaa mauu…, kkeelluuaarr…, akkhh…”, pegangan saya di pinggulnya saya lepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.</p>
<p>Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott…, croott.., ccrroott…, akkhh…, akkhh…”, saya melihat air mani saya membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…”, sambil berjongkok saya cium pipinya sambil saya suruh jilat lagi penisku. Diapun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.</p>
<p>Setelah kami berdua selesai saya mengecup bibirnya sambil berkata, “Saya pulang dulu yah sampai besok sayang…!”. Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin nyesal tidak tahu ahh. Saya lihat jam saya sudah menunjukkan jam 23.35, saya pulang dengan sejuta kenikmatan.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-gadis-belia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya mulut Sari!!</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/nikmatnya-mulut-sari.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/nikmatnya-mulut-sari.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2373</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun lalu ketika perusahaan tempat aku bekerja mendapatkan kontrak suatu proyek pada sebuah BUMN besar di Bandung, selama setahun aku ngantor di gedung megah kantor pusat BUMN itu. Fasilitas di gedung kantor ini lengkap. Ada beberapa bank, kantor pas dan kantin. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun lalu ketika perusahaan tempat aku bekerja mendapatkan<br />
kontrak suatu proyek pada sebuah BUMN besar di Bandung, selama setahun aku<br />
ngantor di gedung megah kantor pusat BUMN itu. Fasilitas di gedung<br />
kantor ini lengkap. Ada beberapa bank, kantor pas dan kantin. Kantorku di<br />
lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik koperasi<br />
pegawai BUMN ini yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan<br />
kecil. Ada 3 orang pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2<br />
diantaranya cewe. Seorang sudah berkeluarga, satu lagi single, 22<br />
tahun, lumayan cantik, putih dan mulus, mungil, sebut saja Sari<br />
namanya.<br />
Awalnya, aku tak ada niat mengganggu Sari, aku ke toko ini karena<br />
memang butuh makanan kecil dan rokok. Sari menarik perhatianku karena<br />
paha mulusnya diobral. Roknya selalu model mini dan cara duduknya<br />
sembarangan. CDnya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan<br />
yang terletak di bagian bawah rak kaca etalase. Aku jadi punya niat<br />
mengganggunya (dan tentu saja ingin menyetubuhinya) setelah tahu bahwa<br />
Sari ternyata genit dan omongannya nyrempet-nyrempetdan agak kekanakan.<br />
Niatku makin menggebu setelah Sari tak menunjukkan kemarahan ketika<br />
beberapa kali aku menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali aku pernah<br />
meremas buah dadanya. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil<br />
matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Tentu ini ada<br />
ongkosnya, yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.<br />
Agar bisa bebas menjamah, aku pilih waktu yang tepat jika ingin membeli<br />
sesuatu. Ternyata pada pagi hari ketika toko baru buka atau sore hari<br />
menjelang tutup adalah waktu-waktu aman untuk mengganggunya.<br />
Kenakalanku makin meningkat. Mulanya hanya mengelus-elus paha, kemudian<br />
meremas buah dada (masih dari luar), terus menyusupkan tangan ke BH<br />
(kenyal, tak begitu besar sesuai dengan tubuhnya yang sedang), lalu<br />
menekan-nekan kontolku yang sudah tegang ke sepasang bulatan pantatnya<br />
yang padat. Bahkan Sari sudah berani meremasi kontolku walau dari luar.<br />
Entah kenapa Sari mau saja kuganggu. Mungkin karena aku pakai dasi<br />
sehingga aku dikiranya manager di BUMN ini, padahal aku hanya staf biasa<br />
di perusahaanku. Aturan perusahaan memang mengharuskan aku pakai dasi<br />
jika kerja di kantor klien.<br />
Aku makin penasaran. Aku harus bisa membawanya, menggeluti tubuhnya yang<br />
padat mulus, lalu merasakan vaginanya ! Mulailah aku menyusun rencana.<br />
Singkatnya, Sari bersedia kuajak jalan-jalan setelah jam kerjanya,<br />
pukul 5 sore. Tentang waktu ini mendjadi masalah. Walaupun jam kerja<br />
resmiku sampai pukul 17, tapi aku jarang bisa pulang tepat waktu.<br />
Seringnya sampai jam 19 atau 20. Aku coba menawar jamnya agak maleman<br />
saja. Tak bisa, terlalu malam kena marah mamanya, katanya. Okelah,<br />
nanti cari akal mencuri waktu. Pada hari yang telah disepakati, Sari akan<br />
menunggu di jalan pukul 17.10. Dari kantor ke jalan memang makan<br />
waktu 10 menit jalan kaki.<br />
Pukul lima seperempat aku sudah sampai di jalan D. Kulihat Sari berdiri<br />
di tepi jalan, tapi tak sendirian. Bu Maya (sebut saja begitu) kawan<br />
sekerjanya yang telah berkeluarga ada di sampingnya. Celaka. Tadi Sari<br />
bilang sendirian. Kalau bawa orang lain bisa terbongkar belangku oleh<br />
kawan kantor. Hal ini sangat kuhindari.<br />
Bu Maya cuma mau nebeng sampai halte kata Sari seolah mengetahui<br />
kekhawatiranku. Syukurlah. Tapi, peristiwa ini harusnya tak seorangpun<br />
boleh tahu.<br />
Tenang aja Mas. rahasia dijamin, ya Sarikata Bu Maya sambil mengedip<br />
penuh arti.<br />
Setelah menurunkan bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setiabudi.<br />
Kalau sudah ada cewe duduk disampingku, seperti biasa mobilku langsung<br />
cari hotel, wisma, guest-house, atau apapun namanya yang bertebaran di<br />
daerah Setiabudi. Daerah yang sudah beken di antara para peselingkuh,<br />
sebab sebagian besar tempat-tempat tadi menyediakan tarif khusus, tarif<br />
istirahat antar 3sampai6 jam, 75 % dari room-rate.<br />
Sari membiarkan tanganku mengelus-elus pahanya yang makin terbuka ketika<br />
duduk di mobil. Penisku mulai bangun membayangkan sebentar lagi aku<br />
bakal menggeluti tubuh mulus padat ini.<br />
Kemana Mas tanya Sari ketika aku menghidupkan lampu sein ke kanan mau<br />
masuk ke Hotel GE.<br />
Kita cari tempat santai jawabku.<br />
Jangan ah. Lurus aja<br />
Kemana aku balik bertanya.<br />
Kata Mas tadi mau jalan-jalan ke Lembang<br />
Aku jadi ragu. Selama ini Sari memberi sinyal bisa dibawa, tapi<br />
sekarang ia menolak masuk hotel. Tanganku kembali ke pahanya, bahkan<br />
terus ke atas merabai CD nya.<br />
Ihmasdilihat orang sergahnya menepis tanganku. Memang pada waktu yang<br />
bersamaan aku menyalip motor dan si pembonceng sempat melihat kelakuan<br />
tanganku.<br />
Kami sampai di Lembang. Aku bingung. Tadi sewaktu aku mau belok kiri ke<br />
Hotel lagi-lagi Sari menolak. Mau ngapain di Lembang ? Ke Maribaya<br />
? Ah, itu tempat wisata, susah untuk begituan. Lebih baik mampir<br />
dulu buat minum sambil atur taktik.<br />
Kita minum dulu ke sini, ya..? ajakku untuk mampir di tempat minum susu<br />
segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda.<br />
Mau minum susu ? Enggaah. Mendingan minum susu Sari aja Aku tak<br />
heran, bicaranya memang suka nyrempet<br />
Bolehkataku sambil memindahkan tanganku dari paha ke belahan<br />
kemejanya, menyusup ke balik BH-nya, meremas. Tak ada penolakan. Daging<br />
bulat yang mengkal. Tak begitu besar tapi padat. Puting yang hampir<br />
tak terasa, karena kecil. Celanaku terasa sesak. Sampai di perempatan<br />
aku harus ambil keputusan mau kemana ?<br />
Lurus ke Maribaya. Kanan kembali ke Setiabudi. Kiri ke arah<br />
Tangkubanperahu. Kulepas tanganku dari susu segar Sari, aku belok<br />
kiri. Tangan Sari kuraih kuletakkan di selangkanganku, lalu tanganku<br />
kembali ke susu-segar. Tangannya memijit-mijit penisku (dari luar).<br />
Berbahaya sebenarnya. Kondisi jalan yang penuh tikungan dan tanjakan<br />
sementara konsentrasi tak penuh.<br />
Hari mulai gelap, aku belum menemukan solusi masalahku, di mana aku akan<br />
menggumuli Sari ? Di tepi kanan jalan ke arah Tangkubanperahu itu banyak<br />
terdapat kedai-kedai jagung bakar. Kubelokkan mobilku ke situ, tapi cari<br />
tempat parkir yang mojok dan gelap.<br />
Mau makan jagung ? tanyanya.<br />
Iya jawabku. Makan jagungmu.<br />
Kuperiksa keadaan sekeliling mobil. Gelap dan sepi. Segera kurebahkan<br />
jok Sari sampai rata, kuserbu bibirnya. Sari menyambut dengan permainan<br />
lidahnya. Tanganku kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil<br />
secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. Sari melepaskan ciuman,<br />
bangkit, memeriksa sekeliling.<br />
Jangan khawatir.aman kataku.<br />
Mau minum susu tawarnya. Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu<br />
jelas. Sari menarik sendiri sepasang cupnya ke atas sehingga sepasang<br />
bukit putih itu samar-samar tampak. Dengan gemas kulumat habis-habisan<br />
buah dadanya. Sekarang tonjolan putingnya lebih jelas, karena mengeras.<br />
Tanganku menyusup ke balik CD-nya. Rambut kelaminnya yang tak begitu<br />
lebat itu kuusap-usap. Sementara ujung telunjukku memencet kelentitnya.<br />
Aaaahhhhhdesahnya.<br />
Tangannya kutuntun ke selangkanganku. Ia meremas.<br />
Buka kancingnya Sar. Sari menurut, dengan agak susah ia membuka<br />
kancing, menarik resleting celanaku dan mengambil kontolku yang telah<br />
keras tegang.<br />
Beberapa menit kami bergumul dengan cara begini. Sampai ketika ujung<br />
jariku mulai masuk ke pintu vaginanya, Sari berontak, bangkit,<br />
lagi-lagi mencek keadaan. Di depan terlihat 2 orang pejalan-kaki menuju<br />
ke arah kami. Sari cepat-cepat mengancing kemejanya, kutangnya belum<br />
sempat dibereskan. Sementara aku kembali ke tempatku. Kontolku masih<br />
kubiarkan terbuka berdiri tegak. Toh engga kelihatan. Kami berlagak alim<br />
sampai kedua orang itu lewat.<br />
Kembali kami bergumul. Keteganganku yang tadi sempat turun oleh<br />
gangguan orang lewat, kini naik lagi. Pintu vagina Saripun sudah<br />
basah. Saatnya untuk mulai. Kupelorotkan CD Sari. Tapi, masa kutembak<br />
di mobil ? Rupanya Sari berpikiran sama.<br />
Jangan Mas banyak orang..<br />
Makanya kita cari tempat, ya..<br />
Sari berberes sementara aku menstart mobil. Aku menyetir dengan posisi<br />
kontolku tetap terbuka tegang.<br />
Si joni udah engga tahan ya. goda Sari.<br />
Iyyaaa. sini. kuraih tangannya menuju ke kontolku. Dielus-elus.<br />
Tempat terdekat yang sudah kukenal adalah Hotel Kh, sedikit di bawah<br />
Lembang. Dari jalan raya kubelokkan mobilku masuk ke lorong jalan khusus<br />
ke hotel Kh.<br />
Heeeee. stop stop Mas. serunya.<br />
Lho kita kan cari tempataku menginjak rem berhenti.<br />
Sari diam saja.<br />
Di sini aman, deh Sar<br />
Udah malem.. Mas. Lain kali aja ya ? Aku mulai jengkel. Si Joni mana<br />
mau mengerti lain kali !<br />
Ayolah Sar, sebentar aja, sekali aja<br />
Maaf Mas, lain kali saya mau dehbener. Sekarang udah kemaleman.<br />
Saya takut dimarahin mama Aku diam saja, jengkel.<br />
Bener.Mas. lain kali saya mau.. katanya lagi meyakinkanku.<br />
Aku mengalah, toh masih banyak kesempatan. Aku kembali menuju Bandung.<br />
Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Sari untuk<br />
mampir. Lagi-lagi Sari menolak sambil sedikit ngambek. Aku terus tak<br />
jadi mampir.<br />
Sampai di jalan lurus menjelang terminal Ledeng, macet sekitar seratusan<br />
meter. Tempat ini memang biasa macet. Selain keluar/masuknya angkot,<br />
juga ada pertigaan jalan Sersan Bajuri. Iseng mengantre, kuambil tangan<br />
Sari ke kontolku yang masih belum kusimpan, Sari menggosoknya. Lepas<br />
dari kemacetan tiba-tiba Sari memberi tawaran nikmat.<br />
Mau dicium?<br />
Dengan senang hati<br />
Segera saja Sari membungkuk melahap kontolku yang sudah ngaceng lagi.<br />
Kepalanya naik turun di pangkuanku. Nikmatnya..Baru kali ini aku<br />
menyetir sambil dikulum. Aku memperlambat jalan mobilku, menikmati<br />
kulumannya sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain. Sementara rasa<br />
nikmat menyelimuti bawah badanku, deg-degan juga dengan kondisi yang<br />
aneh ini. Sampai di pertigaan jalan Panorama macet lagi. Situasi<br />
ramai. Kuminta Sari melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang.<br />
Lepas dari kemacetan kembali Sari memainkan lidahnya di leher penisku.<br />
Ada untungnya juga jalanan macet. Aku punya waktu untuk menurunkan tensi<br />
sehingga bisa bertahan lama. Oohhhhhh.sedapnya lidah itu mengkilik-kilik<br />
leher dan kepala kelaminku. Nikmatnya bibir itu turun naik menelusuri<br />
seluruh batang penisku Sayangnya, aku harus membagi konsentrasiku ke<br />
jalan.<br />
Menjelang pertigaan Cihampelas Sari melepas jilatannya, bangkit melihat<br />
sekeliling.<br />
Sampai dimana nih? tanyanya terengah.<br />
Hampir Cihampelas jawabku.<br />
Mampir ke Sultan Plaza..ya Mas<br />
Mau ngapain ?<br />
Mama tadi pesan. Okey, mendadak aku ada ide untuk melepaskan<br />
ketegangan selepas-lepasnya tanpa terpecah konsentrasi.<br />
Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan.<br />
Sengaja kupilih tempat yang gelap. Kucegah Sari membuka pintu hendak<br />
turun.<br />
Ohya.sini Sari rapiin<br />
Kutari kepala Sari begitu ia membungkuk akan merapikan celanaku.<br />
Terusin.Sar… perintahku.<br />
Sari bangkit lagi. Kukira ia mau menolak, tahunya hanya melihat<br />
sekeliling. Aman. Kembali kepala Sari turun-naik mengemoti kontolku.<br />
Kini aku bisa konsentrasi ke rasa nikmat di ujung penis. Sedaaaapp..!<br />
Sari memang pintar berimprovisasi. Kelihatannya ia sudah biasa<br />
ber-oral-sex. Lidahnya tak melewatkan seincipun batang kemaluanku.<br />
Kadang ditelusuri dari ujung ke pangkal, kadang berhenti agak lama di<br />
leher. Kadang bibirnya berperan sebagai bibir bawahnya, menjepit<br />
sambil naik-turun. Terkadang nakal dengan sedikit menggigit ! Aku<br />
bebas saja mendesah, melenguh, atau bahkan menjerit kecil, tempat<br />
parkir yang luas itu memang sepi. Ketika mulutnya mulai melakukan gerakan<br />
hubungan-kelamin, perlahan aku mulai naik, rasa geli-geli di ujung<br />
sana semakin memuncak. Saatnya segera tiba.<br />
Dicepetin.. Sar..<br />
Sari bukannya mempercepat, malah melepas.<br />
Uh. pegel mulut saya.<br />
Sebentar lagi. Sar<br />
Kembali ia melahap. Kali ini gerakan kepalanya memang cepat. Aku menuju<br />
puncak. Sari makin cepat. Sebentar lagi. hampir..! Sari mempercepat<br />
lagi, sampai bunyi. Hampirhampir..dan srooottt.Kusemprotkan maniku<br />
ke dalam mulut Sari. Aku melayang.<br />
Uuhhhh Sari melepaskan kulumannya, srot kedua dan seterusnya ke celana<br />
dan perutku.<br />
Iihhh.engga bilang mau keluarjijik katanya sambil mencari-cari tissu.<br />
Aku rebah terkulai. Sementara Sari membersihkan mulutnya dengan tissu..!<br />
Beberapa saat kemudian.<br />
Yukmasturun<br />
Entar dong Aku bersih-bersih diri. Celaka, noda yang di celana tak<br />
bisa hilang.<br />
Kamu sendiri deh<br />
Sama Mas dong<br />
Ini..engga bisa ilang kataku sambil menunjuk noda itu.<br />
Bajunya engga usah dimasukin sarannya. Betul juga.<br />
Akhirnya aku membayar belanjaan Sari. Aku diminta ikut belanja karena<br />
maksudnya memang itu. Aku juga memberinya uang dengan harapan agar lain<br />
kali bisa kusetubuhi.<br />
Esoknya ketika aku membeli rokok, Sari kelihatan biasa saja tak berubah.<br />
Masih genit dan kekanakan. Peristiwa semalam tak mengubah prilakunya.<br />
Aku yang makin penasaran ingin menidurinya. Pernah suatu pagi sekali<br />
tokonya belum buka tapi Sari sudah datang sendirian sedang merapikan<br />
barang-barang, kukeluarkan penisku yang sudah tegang karena sebelumnya<br />
meremas dadanya. Kuminta Sari mengulumnya di situ.<br />
Gila..! entar ada orang<br />
Belum ada.ayo sebentar aja<br />
Diapun mengulum sambil was-was. Matakupun jelalatan memperhatikan<br />
sekeliling. Kuluman sebentar, tapi membuatku excited !<br />
Setiap ada kesempatan untuk pulang jam 5, aku selalu mengajak Sari.<br />
Beberapa kali ia menolak. Macam-macam alasannya. Sedang mens, mau<br />
ngantar adik, ditunggu mamanya. Sayang sekali, sampai Sari pindah kerja<br />
aku tak berhasil menidurinya!<br />
Tapi kemarin, setelah hampir 2 tahun, aku ketemu Sari di BIP berdua sama<br />
teman cewe. Dia rupanya sudah tak kerja di toko koperasi itu lagi,<br />
sekarang kerja di Bagian Administrasi di sebuah Guest House. Jelas aku<br />
mencatat nomor teleponnya. Letak tempat kerjanya tak jauh dari kantor itu.<br />
Hanya, kemungkinan ketemu kecil, sebab proyekku di kantor itu telah<br />
selesai. Aku penasaran !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/nikmatnya-mulut-sari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adik iparku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/adik-iparku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/adik-iparku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2367</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih ingat pada waktu itu tanggal 2 Maret 1998, aku mengantarkan adik iparku mengikuti test di sebuah perusahaan di Surabaya. Pada saat adik iparku sebut saja Novi memasuki ruangan test di perusahaan tersebut, aku dengan setia menunggu di ruang lobi perusahaan tersebut. Satu setengah jam sudah aku menunggu selesainya Novi mengerjakan test tersebut hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih ingat pada waktu itu tanggal 2 Maret 1998, aku mengantarkan adik iparku mengikuti test di sebuah perusahaan di Surabaya. Pada saat adik iparku sebut saja Novi memasuki ruangan test di perusahaan tersebut, aku dengan setia menunggu di ruang lobi perusahaan tersebut. Satu setengah jam sudah aku menunggu selesainya Novi mengerjakan test tersebut hingga jam menunjukkan pukul 11 siang, Novi mulai keluar dari ruangan dan menuju lobi. Aku tanya apakah Novi bisa menjawab semua pertanyaan, dia menjawab, “Bisa Mas…”</p>
<p>“Kalau begitu mari kita pulang” pintaku. “E… sebelum pulang kita makan dulu, kamu kan lapar Novi.” Kemudian Novi menggangguk. Setelah beberapa saat Novi merasa badannya agak lemas, dia bilang, “Mas mungkin aku masuk angin nich, habis aku kecapekan belajar sih tadi malam.” Aku bingung harus berbuat apa, lantas aku tanya biasanya diapakan atau minum obat apa, lantas dia bilang, “Biasanya dikerokin Mas…” “Wah… gimana yach…” kataku. “Oke kalau begitu sekarang kita cari losmen yach untuk ngerokin kamu…” Novi hanya mengangguk saja.</p>
<p>Lantas aku dan Novi mencari losmen sambil membeli minyak kayu putih untuk kerokan. Kebetulan ada losmen sederhana, itulah yang kupilih. Setelah pesan kamar, aku dan Novi masuk ke kamar 11 di ruang atas. “Terus gimana cara Mas untuk ngerokin kamu Nov”, tanyaku. Tanpa malu-malu dia lantas tiduran di kasur, sebab si Novi sudah menganggapku seperti kakak kandungnya. Aku pun segera menghampirinya. “Sini dong, Mas kerokin…” Dan astaga si Novi buka bajunya, yang kelihatan BH-nya saja, jelas kelihatan putih dan payudaranya padat berisi. Lantas si Novi tengkurap dan aku mulai untuk menggosokkan minyak kayu puih ke punggungnya dan mulai mengeroki punggungnya.</p>
<p>Hanya beberapa kerokan saja… Novi bilang, “Entar Mas… BH-ku aku lepas sekalian yach… entar mengganggu Mas ngerokin aku.” Dan aku terbelalak… betapa besar payudaranya dan putingnya masih memerah, sebab dia kan masih perawan. Tanpa malu-malu aku lanjutkan untuk mengeroki punggungnya. Setelah selesai semua aku bilang, “Sudah Nov… sudah selesai.” Tanpa kusadari Novi membalikkan badannya dengan telentang. “Sekarang bagian dadaku Mas tolong dikerik sekalian.” Aku senang bukan main. Jelas buah dadanya yang ranum padat itu tersentuh tanganku. Aku berkali-kali berkata, “Maaf dik yach… aku nggak sengaja kok…” “Nggak apa-apa Mas… teruskan saja.”</p>
<p>Hampir selesai kerokan dadanya, aku sudah kehilangan akal sehatku. Aku pegang payudaranya, aku elus-elus. Si Novi hanya diam dan memejamkan matanya… lantas aku ciumi buah dadanya dan kumainkan pentilnya. Novi mendesis, “Mas… Mas… ahh…, ah ah ahh…” Terus aku kulum putingnya, tanganku pun nggak mau ketinggalan bergerilnya di vaginanya. Pertama dia mengibaskan tanganku dia bilang, “Jangan Mas… jangan Mas…” Tapi aku nggak peduli… terus saja aku masukkan tanganku ke CD-nya, ternyata vaginanya sudah basah sekali. Lantas tanpa diperintah oleh Novi aku buka rok dan CD-nya, dia hanya memejamkan matanya dan berkata pelan, “Yach Mas…” Kini Novi sudah telanjang bulat tak pakai apa-apa lagi, wah… putih mulus, bulunya masih jarang maklum dia baru umur 20 tahun tamat SMA. Lantas aku mulai menciumi vaginanya yang basah dan menjilati vaginanya sampai aku mainkan kelentitnya, dia mengerang keenakan, “Mas… ahh… uaa… uaa… Mas…”</p>
<p>Dan mendesis-desis kegirangan, tangan Novi sudah gatal ingin pegang penisku saja. Lantas aku berdiri, kubuka baju dan celanaku kemudian langsung saja Novi memegang penisku dan mengocok penisku. Aku suruh dia untuk mengulum, dia nggak mau, “Nggak Mas jijik… tuh, nggak ah… Novi nggak mau.” Lantas kupegang dan kuarahkan penisku ke mulutnya. “Jilatin saja coba…” pintaku. Lantas Novi menjilati penisku, lama-kelamaan dia mau untuk mengulum penisku, tapi pas pertama dia kulum penisku, dia mau muntah “Huk.. huk… aku mau muntah Mas, habis penisnya besar dan panjang… nggak muat tuh mulutku.” katanya. “Isep lagi saja Nov…” Lantas dia mulai mengulum lagi dan aku menggerayangi vaginanya yang basah. Lantas aku rentangkan badan Novi.</p>
<p>Rasanya penisku sudah nggak tahan ingin merenggut keperawanan Novi. “Novi… Mas masukkan yah.. penis Mas ke vaginamu”, kataku. Novi bilang, “Jangan Mas… aku kan masih perawan.” katanya. Aku turuti saja kemauannya, aku tidurin dia dan kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Dia merasakan ada benda tumpul menempel di vaginanya, “Mas… Mas… jangan…” Aku nggak peduli, terus kugesekkan penisku ke vaginanya, lama-kelamaan aku mencoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Slep… Novi menjerit, “Ahk… Mas… jangan…”</p>
<p>Aku tetap saja meneruskan makin kusodok dan slep… bles… Novi menggeliat-geliat dan meringis menahan sakitnya, “Mas… Mas… sakit tuh… Mas… jangan…” Lalu Novi menangis, “Mas… jangan dong…” Aku sudah nggak mempedulikan lagi, sudah telanjur masuk penisku itu.</p>
<p>Lantas aku mulai menggerakkan penisku maju mundur. “Ah… Mas… ah.. Mas…” Rupanya Novi sudah merasakan nikmat dan meringis-ringis kesenangan. “Mas…” Aku terus dengan cepatnya menggenjot penisku maju mundur. “Mas.. Mas…” Dan aku merasakan vagina Novi mengeluarkan cairan. Rupanya dia sudah klimaks, tapi aku belum. Aku mempercepat genjotanku. “Terus Mas… terus Mas… lebih cepat lagi…” pinta Novi. Tak lama aku merasakan penisku hampir mengeluarkan mani, aku cabut penisku (takut hamil sih) dan aku suruh untuk Novi mengisapnya. Novi mengulum lagi dan terus mengulum ke atas ke bawah. “Hem… hem… nikmat… Mas…” Aku bilang, “Terus Nov… aku mau keluar nich…” Novi mempercepat kulumnya dan… cret… cret… maniku muncrat ke mulut Novi. Novi segera mencabut penisku dari mulutnya dan maniku menyemprot ke pipi dan rambutnya. “Ah… ah… Novi… maafkan Mas… yach… aku khilaf Nov… maaf… yach!” “Nggak apa-apa Mas… semuanya sudah telanjur kok Mas…” Lantas Novi bersandar di pangkuanku. Kuciumi lagi Novi dengan penuh kesayangan hingga akhirnya aku dan Novi pulang dan setelah itu aku pun masih menanam cinta diam-diam dengan Novi kalau istriku pas tidak ada di rumah.</p>
<p>Novi… Novi… Novi sayangku, terima kasih.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/adik-iparku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Two In One</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/two-in-one.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/two-in-one.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=829</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Helen membuka sesuatu dalam pikiranku. Ternyata, orang yang nampak lugu, sama sekali tidak sepolos kelihatannya. Helen bercerita dengan gaya &#8216;lembut&#8217;nya seperti biasa, tapi tak urung aku bertanya-tanya, sebenarnya seliar apakah dia dan Leo di ranjang. Helen menceritakan kisahnya padaku karena aku sudah lebih dahulu bercerita bagaimana aku berhubungan seks. Ku kira, Helen hanya menunggu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Helen membuka sesuatu dalam pikiranku. Ternyata, orang yang nampak lugu, sama sekali tidak sepolos kelihatannya. Helen bercerita dengan gaya &#8216;lembut&#8217;nya seperti biasa, tapi tak urung aku bertanya-tanya, sebenarnya seliar apakah dia dan Leo di ranjang. Helen menceritakan kisahnya padaku karena aku sudah lebih dahulu bercerita bagaimana aku berhubungan seks. Ku kira, Helen hanya menunggu orang yang tepat untuk menuturkan pengalamannya.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Mimi? Bagaimana dengan Indra? Kami berempat selalu bermain dan bercanda bersama-sama, tetapi sisi-sisi kami adalah sesuatu yang sudah dipoles, dibuat untuk dilihat. Dibuat nampak lebih &#8216;sopan&#8217; dari biasanya. Pada kenyataannya?</p>
<p>Ada satu fakta yang menarik. Kalau Helen dan Mimi bisa bersahabat baik, itu adalah karena Leo dan Roger merupakan teman akrab sejak kecil. Leo pacaran dengan Helen, dan Roger dengan Mimi. Kami sering tertawa karena kombinasi ini: Mimi Roger, adalah nama artis barat yang lumayan terkenal. Nah, aku jadi berpikir: kalau Helen sudah digarap dari kecil, sampai dia berlama-lama jadi mahasiswi yang nggak lulus-lulus ini, bagaimana dengan Mimi?</p>
<p>Lagipula, dalam hal rencana pernikahan, Mimi Roger sudah lebih maju daripada Helen Leo. Roger sudah melamar Mimi, resmi kepada orang tuanya. Ah, apakah Mimi malah sudahâ€¦ hamil duluan?</p>
<p>Ternyata belum. Mimi benar-benar masih perawan, yang manis dan putih dan sintalâ€¦.sexy. Apa yang bisa dikatakan dari Mimi adalah, tubuhnya serba bulat: pipi yang bulat, mata yang bulat, dada yang bulat, pantat yang bulatâ€¦ tapi dengan proporsi yang enak dipandang, tidak gemuk apalagi gendut. Pas. Roger memang beruntung!</p>
<p>Nah, karena kami bersahabat, akhirnya Helen mengaku juga kepada Mimi tentang petualangan seksnya. Gadis ini (akhirnya, hanya dia yang bisa dipanggil &#8216;gadis&#8217; diantara kami) membelalakkan matanya yang bulat itu. &#8220;Apa? Beneran? Wuah? Udah selama itu ngeseks ama Leo?&#8221; &#8211; lantas dia minta penjelasan yang lebih lengkap. Dasar Helen, dia kembali dengan gayanya yang malu-malu dan serba softcore itu.</p>
<p>Tapi gara-gara cerita itu, Mimi jadi gelisah sendiri. Dia penasaran sampai ke ubun-ubun! &#8220;Helen, gue pengen tahu dongâ€¦. Gimana sih ngeseks ituâ€¦&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah, entar elu minta aja ama Roger. Kan nanti elu juga ngalamin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Justru itu Len, gue takuuuttâ€¦ Pengin lihat elu begitu, boleh nggak?&#8221;</p>
<p>Singkat cerita, akhirnya Helen bersedia dilihat, dengan catatan kami harus diam-diam saja di dalam lemarinya, yang dicat warna pink, tinggi besar dua pintu yang berlubang-lubang di bagian atasnya. Cocok buat mengintai, karena dari situ kami bisa melihat semua dengan jelas. Melihat Helen dengan kaos Tshirt putih besarnya saja, tanpa celana. Tanpa BH. Duduk menanti di ranjang.</p>
<p>Dan kemudian, Leo datang. Melepas jaket kulitnya. Menaruh tasnya. Terbelalak melihat Helen.</p>
<p>&#8220;Wow, sayangâ€¦.&#8221; Leo tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Helen merangkulkan tangan memeluk pria tampan itu, mencium bibirnya. Mereka berpagutan cepat beberapa saat, mengadu bibir dan lidah. Kemudian, Leo meluncur ke bawah, mencium leher Helen yang jenjang dan putih itu.</p>
<p>&#8220;Ooohhâ€¦. Sayangâ€¦.. Aku kangenâ€¦.&#8221; rintih Helen. Aku melirik Mimi yang tidak berkedip di sebelahku. Apakah memeknya sudah mulai basah seperti milikku sendiri?</p>
<p>Leo menundukkan kepala, mencium puting Helen yang tegak mengeras dari balik Tshirtnya. Helen menarik bajunya keatas, dalam satu gerakan melepaskan kaos itu melalui kepala. Ia kini hanya ditutup oleh celana dalam berenda, yang tidak kuasa menutupi memeknya dengan bulu yang dicukur rapi. Leo meneruskan dengan tetek Helen, sementara mulutnya menghisap yang kiri, tangannya memilin puting yang kanan.</p>
<p>&#8220;Duhhâ€¦. Enak Leoâ€¦. Isep yang kerasâ€¦. Yahâ€¦ betulâ€¦. Dijilatâ€¦. Muterâ€¦. Muter lagiâ€¦. &#8221; Aku bisa membayangkan Leo sedang melingkarkan lidahnya mengelilingi ujung tetek yang mengeras itu. Aku bisa merasakan kegeliannya, sekaligus kenikmatannya.</p>
<p>Tapi, rupanya Helen memilih untuk mengambil inisiatif lain. Ia mendorong Leo, supaya bisa berjongkok di depan selangkangan laki-laki itu. Dengan sigap dan cekatan Helen membuka ikat pinggang, lalu kancing, terus resleting. Celana kerja Leo terus jatuh ke lantai. Helen juga memelorotkan celana dalam hitam itu, membebaskan penis yang besar, merah muda. Helen tersenyum.</p>
<p>&#8220;Sini sayangâ€¦.&#8221; desah Helen. Ia sangat bernafsu, terus memasukkan penis Leo ke dalam mulutnya. Maju mundur. &#8220;Mmmmâ€¦. Asinâ€¦ enakâ€¦&#8221; Lidahnya menyapu kepala penis yang mengeras itu. Leo memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang sangat. Mimi menganga melihat aksi Helen yang hebat itu, yang masih berjongkok dan memundur majukan bibirnya yang merah muda tak berlipstik itu, seperti sebuah vagina yang sedang menerima batang kemaluan lelaki yang keras berurat.</p>
<p>&#8220;Helenâ€¦. Aku juga mau, sayangâ€¦.&#8221; bisik Leo. Helen melepaskan penis itu dari mulutnya, lalu tersenyum manis sekali, naik ke atas ranjang. Dengan satu gerakan yang seksi, Helen melepaskan celana dalamnya. Memeknya kelihatan sudah basah, sudah merekah. Ah, rupanya memang Helen sudah sangat sering berhubungan sampai memeknya merekah seperti itu.</p>
<p>Leo naik ke atas Helen, tetapi dengan posisi 69. Ia menempatkan wajahnya di hadapan memek yang basah itu, sementara Helen langsung menyambar penis di depannya dan meneruskan isapan dan jilatan. Laki-laki itu juga langsung bekerja, ia mula-mula menyapu bibir memek Helen dengan lidah, kemudian mencari kelentitnya. Uh, aku tahu itu bagian yang sangat nikmat kalau dihisap.</p>
<p>Helen terdengar merintih ketika Leo mulai mengulum kelentitnya yang semakin besar, semakin keras. Rintihan sahabat cewekku terdengar dari mulut yang masih tersumpal kemaluan yang mengeras. Leo beraksi lebih jauh dengan memakai jarinya, jari tengah dan telunjuk yang menerobos dan mencari titik g-spot di dalam, sambil terus mengulum kelentit. Leo dengan ahli menemukan titik itu, kemudian mulai menggosoknya dengan lembut.</p>
<p>Akibatnya, Helen seperti bergoyang oleh gempa bumi. Temanku ini bahkan sudah tidak lagi bisa menghisap penis itu, yang terpantul-pantul di pipinya setiap kali Helen menggelengkan kepala. &#8220;Aahhhhâ€¦ ouhâ€¦ ouhhâ€¦. Yahâ€¦ Yaah Yaaaaahhhhhhhh!!!&#8221; Aku kira, Helen orgasme. Satu kali. Eksplosif, meledak-ledak. Kakinya yang mengangkang menendang-nendang di udara. Kedua tangan Helen berpegangan kuat-kuat pada pantat Leo yang padat.</p>
<p>Leo sendiri belum apa-apa. Ia bangkit dari atas tubuh Helen yang nampak basah berkeringat. Begitu Leo bangkit, Helen merangkak di atas kaki dan tangannya. Ia menghadapkan pantatnya ke arah kami yang masih bersembunyi di dalam lemari. Leo terus mengambil tempat di belakang Helen. Aku bisa membayangkan, penis yang besar itu sekarang sedang ditempatkan di muka bibir memeknya. Lalu, mulai menerobos masuk.</p>
<p>&#8220;Aaahhhhhhhâ€¦.. Ouhhhâ€¦. Enak Leoooâ€¦. Yang dalemmmmâ€¦..&#8221;</p>
<p>Leo menyorongkan pantatnya yang kekar ke depan. Aku seperti bisa merasakan, penis itu menyeruak masuk, merekahkan vagina yang sempit tapi sangat licin. Leo dan Helen tidak berkata-kata lagi, hanya terdengar mendesah-desah dan merintih-rintih, ketika Leo mulai bergerak maju mundur semakin lama semakin cepat. Helen kalau sedang ngeseks, rupanya tidak menutupi lagi, nyata asli keliarannya yang tersembunyi. Ia hampir menjerit kecil setiap kali Leo menusukkan kemaluannya dari belakang.</p>
<p>&#8220;oohhâ€¦. Leoâ€¦. Sini gue naikinâ€¦.&#8221;</p>
<p>Leo rupanya capek juga, terus mencabut penisnya. Helen dengan tergesa-gesa turun dari ranjang, supaya suaminya ini bisa berbaring telentang. Batang kemaluan yang merah basah mengkilat itu tegak mengacung ke atas. Helen mengambil posisi di atas, ia mengarahkan penis Leo kembali ke memeknya. Setelah pas, Helen menurunkan pantatnya. Blessâ€¦ aku dan Mimi melihat penis itu memasuki liang memek Helen. Masuk semua, hingga bola pelir Leo saja yang tersisa di luar.</p>
<p>Untuk sementara, Helen terdiam. Rupanya ia masih ingin merasakan bagaimana penis itu memenuhi memeknya. Kemudian, temanku ini mulai bergerak, sambil merintih, sambil menggoyangkan kepalanya. Ia hampir sampai sekali lagi. Helen menggerakkan seluruh otot paha dan pantatnya kuat-kuat, penis itu dijepitnya dengan segenap kekuatan, masuk dan keluar. Sampai Helen menjerit agak panjang, rupanya kembali mengalami orgasmenya. Dua kali berturut-turut.</p>
<p>Dan terjadilah, jeritan itu rupanya membuat Mimi kehilangan keseimbangan, sehingga ia jatuh ke depan.</p>
<p>BRAAAKKK!</p>
<p>Leo melotot melihat Mimi tersungkur di depan ranjang, matanya tepat sedang melotot melihat penis yang masuk ke vagina, terbenam semuanya. Karena Mimi keluar, aku juga keluar. Tapi aku sudah pusing karena birahiku sudah naik tinggi sekali oleh pertunjukkan mereka berdua. Aku mendekat dan berbisik pada Helen.</p>
<p>&#8220;Lenâ€¦ aku boleh nggak berbagi?&#8221; &#8212; Permintaan yang gila. Tetapi gilanya pula, Helen mengangguk!</p>
<p>Leo yang bingung tertegun saja melihat aku dengan cepat melepaskan semua baju dan pakaian dalam, hanya dalam waktu hitungan detik. Kemaluanku sudah sangat basah. Helen kemudian bangkit dari laki-lakinya ini, sementara penis itu masih tegak mengacung. Aku mengambil alih posisi Helen, mendekatkan memekku sendiri yang sudah basah.</p>
<p>Oh, inilah lagi saatnya, sudah berbulan-bulan sejak terakhir Bob menaruh penisnya di situ. Dan aku menekan ke bawah. Bless! Aku tidak bisa menahan tidak menjerit. Kemaluan Leo rupanya memang berurat dan gemuk, walaupun tidak panjang sekali, sehingga aku merasakan uratnya menggaruk dinding sebelah dalam. Lagipula, entah bagaimana Leo lebih terangsang lagi, sepertinya penisnya menjadi lebih keras, lebih kuat.</p>
<p>Helen tidak mau tinggal diam, dia terus naik juga ke atas Leo, menaruh memeknya tepat di atas mulut Leo. Lelaki ini kemudian kembali mulai mengulum kelentitnya, membuat Helen mengeluh lagi. Aku sendiri masih asyik menggerakkan pantat naik turun, menikmati kemaluan lelaki menggaruk-garuk rasa gatal yang semakin lama semakin mendesak untuk dituntaskan.</p>
<p>Semakin lama, rupanya jepitan memekku juga jadi semakin kuat &#8212; tidak seperti Helen yang sudah rutin ngeseks. Ini membuat Leo menjadi tidak tahan lagi. Ia memegang pinggangku lalu menggerakkan aku naik turun lebih kuat, lebih cepat, lebih menghujam. Penisnya terasa seperti satu senti lebih panjang masuk menusuk.</p>
<p>Sampai tibalah saatnya, aku membenamkan penis itu dalam-dalam karena aku orgasme. Di saat itu, jepitan memekku mencapai klimaksnya, sehingga Leo juga ejakulasi dengan kuat &#8212; aku merasakan semprotannya di dalam berkali-kali.</p>
<p>Ini benar-benar permainan gila, tapi aku puas sekali. Aku mencium Helen yang berada tepat di depanku, dengan tubuh bugilnya yang molek, sementara Leo juga membuat Helen orgasme untuk ketiga kalinya. Benar, kondisi kami sungguh penuh birahi. Semoga tidak menjadi sesuatu yang mengganjal di masa depan.</p>
<p>Begitulah, Mimi menyaksikan sendiri bagaimana hari itu menjadi acara threesome yang tidak direncanakan. Apakah Mimi lantas menjadi bingung dengan posisi ini, karena penis Leo masih menancap di dalam memekku, sedang memek Helen dioral oleh Leo? Yang pasti, antara aku dan Leo selama ini tidak pernah ada hubungan.</p>
<p>Mulai sekarang, kami sudah berhubungan sangat intim. Tapi, aku sebenarnya sedikit menyesal, dan aku sejujurnya tidak mau mengganggu perjalanan Leo dan Helen. Ini semua adalah kesalahan.</p>
<p>Setelah hubungan yang seru ini berakhir dan Leo kembali menjadi lemas, Helen dan aku bergantian menceritakan rencana kami untuk memberi tahu Mimi tentang bagaimana orang berhubungan seks. Tetapi aku terus meminta maaf karena tidak bisa menahan diri &#8212; siapa yang tahan? &#8212; sampai terlibat dalam adegan yang sama.</p>
<p>Belakangan, aku baru tahu ternyata Helen ingin melihat bagaimana reaksi Leo atas &#8216;perselingkuhan&#8217; yang disetujuinya. Bagi Helen, lebih baik kalau Leo &#8216;berselingkuh&#8217; dengan aku, sahabatnya. Baiknya, Leo sendiri juga menyatakan menyesal dengan sungguh-sungguh, dan minta maaf juga pada Helen karena membiarkan aku menikmati kemaluannya. Ia berjanji, bahwa ini adalah yang pertama dan terakhir kali, saat penisnya masuk ke dalam memek perempuan lain.</p>
<p>Leo memenuhi janjinya, karena seminggu setelah peristiwa heboh itu, ia juga melamar Helen secara resmi. Hal yang mudah, karena orang tua keduanya memang sudah berteman sejak lama. Ah, bagaimanapun juga aku senang. Sahabatku, yang kini menjadi lebih dekat dan intim denganku, kini bisa dengan mantap merencanakan masa depannya, sebagai istri dan ibuâ€¦.</p>
<p>Yah, rupanya Helen sengaja tidak lagi memakan pil kbnya dua bulan sebelum hari pernikahan. Tapi ia tidak bilang apa-apa pada Leo. Alhasil, ketika hari pernikahan mereka dilangsungkan, Helen sudah hamil 5 minggu, setelah satu hubungan yang panas membara, saat penis yang indah itu masuk semua dan memuntahkan benihnya, yang sekarang menjadi manusia di rahim Helen.</p>
<p>Aku mengelus perutku sendiri. Kapankah rahim ini akan menampung kehidupan baru di dalamnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/two-in-one.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Take And Give</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/take-and-give.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/take-and-give.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Begitu memasuki kamar tidur, segera kutelanjangi dia dan merebahkannya ke atas ranjang. Dia dalam keadaan setengah mabuk, tapi masih tetap dapat menjaga kesadarannya. â€œSayang, aku akan melakukan sesuatu yang sedikit berbeda malam ini. Apa kamu bersedia?â€ tanyaku begitu berada di atas ranjang. â€œAku bersediaâ€ jawabnya segera. ***** Shinta istriku, mempunyai tinggi dan berat badan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu memasuki kamar tidur, segera kutelanjangi dia dan merebahkannya ke atas ranjang. Dia dalam keadaan setengah mabuk, tapi masih tetap dapat menjaga kesadarannya.</p>
<p>â€œSayang, aku akan melakukan sesuatu yang sedikit berbeda malam ini. Apa kamu bersedia?â€ tanyaku begitu berada di atas ranjang.<br />
â€œAku bersediaâ€ jawabnya segera.</p>
<p>*****</p>
<p>Shinta istriku, mempunyai tinggi dan berat badan yang sedang-sedang saja. Payudaranya tak bisa dikatakan besar tapi putingnya adalah sebuah puting susu terbesar dari semua wanita yang pernah kukenal saat dia sedang bergairah. Shinta seorang wanita yang pemalu, kecuali jika sedang berada di dalam kamar cinta kami.</p>
<p>Setelah lebih dari setahun dalam kehidupan seksual kami, aku sering berbisik di telinganya ditengah percintaan kami sambil kumainkan kelentitnya, dan mengatakan padanya tentang keinginanku untuk melihat seorang lelaki lain yang â€˜bermainâ€™ dengan tubuhnya. Dan Tuhan, ternyata hal ini membuat nafsunya semakin liar. Dan untuk beberapa bulan terakhir, aku mulai mengarang sebuah cerita dan menceritakan kisah fantasiku tersebut kepadanya saat kami sedang bercinta.</p>
<p>Hingga sampailah pada saat yang paling membuat jantungku berdebarâ€¦ untuk menanyakan kepadanya apakah dia mau membuat semua fantasi itu menjadi nyata. Tentu saja kutanyakan hal ini saat kami sedang bercinta, dan dia menjawab ya dalam erangannya. Akhirnya minggu kemarin itu semua menjadi kenyataan.</p>
<p>Setelah pencarian dalam beberapa minggu dalam dunia maya, akhirnya kudapatkan seorang lelaki yang kuanggap memenuhi semua persyaratanku, kubuat janji untuk bertemu langsung dengannya di salah satu cafÃ© di kotaku. Aku langsung merasa cocok dengan pilihanku begitu pertama kali melihatnya, setelah sedikit basa-basi dengannya, kami langsung ke pokok permasalahan, istriku.</p>
<p>Aku tawarkan tentang rencanaku untuk mengajak istriku keluar untuk dinner dan akan membuatnya mabuk duluâ€¦</p>
<p>Rencananya adalah membuatnya mabuk, tapi tidak terlalu mabuk. Sebab saat istriku mengkonsumsi alkohol, bisaanya libidonya jadi melonjak tinggi. Kami mengatur dimana lelaki ini harus berada, namanya Yudi, bersembunyi di dapur. Sepulangnya aku dan istriku dari dinner, kami berdua berendam dulu dengan air hangat baru setelahnya naik ke atas ranjang.</p>
<p>*****</p>
<p>Kemudian aku memakaikan penutup mata padanya agar dia tak dapat melihat.<br />
Dan lalu kuikatkan kedua tangannya pada tiang tempat tidur. Tak usah dikatakan lagi, sebuah lenguhan lirih langsung terdengar dari mulutnya. Tapi dia tak tahu apa yang akan kulakukan terhadapnya.</p>
<p>â€Aku akan memijatmu dengan baby oilâ€ Shinta selalu menyukainya. â€œAku akan mengambil baby oilnya dulu di kamar mandiâ€.</p>
<p>Aku keluar dari kamar tidur dan langsung pergi ke basement menghampiri Yudi. Yudi dapat melihat kalau aku sudah sangat terangsang. Kami berdua kembali ke kamar setelah sebelumnya mengambil baby oilnya dulu. Yudi terkejut saat dia melihat istriku terikat pada ranjang dengan kedua matanya terrikat kain penutup.</p>
<p>Aku dan Yudi sudah sepakat kalau dia tidak akan bicara sebelum kuperintahkan. â€œSayang, apa kamu juga mau memakai pelicin?â€ tanyaku.<br />
â€œOh, ya. Boleh jugaâ€ bisiknya pelan.</p>
<p>Dan aku membuat Yudi terkejut saat kusodorkan pelicin itu kepadanya. Kuberi dia isyarat agar melumurkannya pada payudara Shinta. Aku tak perlu memerintahkannya dua kali. Dituangkannya pelicin itu di seluruh gundukan daging payudara istriku dengan kedua tangannya dengan penuh perasaan. Segera saja puting payudara Shinta mengeras.</p>
<p>Dia mulai mengerang hebat â€œSentuh vaginakuâ€ perintahnya.</p>
<p>Yudi menatapku dan aku megisyaratkan padanya agar dia melakukan apa yang diinginkan oleh istriku. Dituangkannya banyak pelicin pada vagina istriku. Saat Yudi melakukan hal itua, istriku melenguh hebat. Yudi mulai menyentuh kelentitnya dan suara erangan istriku semakin bertambah keras saja. Aku berdiri tepat di tepi ranjang dan dapat kusaksikan semua yang dilakukan Yudi terhadap istriku. Dan kemudian hal itu terjadi. Yudi menusukkan jari tengahnya masuk ke dalam vagina Shinta yang basah. Kulihat punggung Shinta terangkat dari atas kasur dan erangannya semakin keras terdengarâ€¦</p>
<p>Setelah sepuluh menit, dia melenguh keras â€œJilat vaginaku sayangâ€.<br />
Kembali Yudi menatapku. Kuisyaratkan padanya agar dia mengerjakan apapun yang dikehendaki istriku lagiâ€¦ Yudi tak menyia-nyiakan waktu. Dia menurunkan wajahnya tepat ke vaginanya. Pelicin itu dengan rasa strawberry. Tentu saja dia jadi menjilati kelentit Shinyta seperti orang gila saja.</p>
<p>Dan kemudian hal itu memukulku. Yudi tidak punya kumis seperti aku. Yang dapat kuperbuat hanya mengharapkan agar Shinta tak menyadari hal tersebut. Erangan dan lenguhan Shinta semakin bertambah keras dan keras. Tak dapat kupercaya betapa terangsangnya dia. Punggung Shinta melengkung ke atas seakan dia berada di surga. Yudi berhenti beberapa saat untuk mengambil nafas.</p>
<p>â€œKamu menikmatinya sayang? Apa kamu ingin mendengar cerita yang lainnya lagi?â€ tanyaku.<br />
â€œYa sayangâ€.</p>
<p>Yudi tahu apa rencanaku. Dimasukkannya dua jari besarnya itu ke dalam vaginanya yang basah. Begitu dia melakukan hal itu, punggung Shinta melengkung ke atas lagi. Aku jadi semakin berani.</p>
<p>â€œApa kamu ingin agar aku bermain dengan putingmu, sayang?â€ kembali Shinta mengiyakan. Maka saat Yudi sedang memainkan vaginanya, kucengkeram payudaranya dan menjepit putingnya dengan keras.</p>
<p>â€œApa kamu ingin seseorang menjilati vaginamu, sayangâ€ dia melenguh lagi.<br />
Aku jadi semakin berani â€œ Jika ada seorang lelaki lain di sini, sekarang ini, apakah kamu akan mengijinkan dia melakukannya padamu?â€.<br />
Erangannya semakin keras â€œYa. Aku pasti akan suka ituâ€¦â€.<br />
â€œApa kamu akan membiarkan jarinya bermain di vaginamu, sayang?â€.<br />
â€œYaâ€.<br />
â€œApa kamu akan menghisap penisnya?â€.<br />
â€œYa. Pastiâ€.<br />
â€œMaukah kamu mencobanya sekarang? Aku akan memakai sebuah dildo baru d vaginamu dan kamu bisa menghisap penisku. Bayangkan saja kalau ini adalah batang penis lelaki lainâ€.<br />
Ya, ya, yaâ€ sebuah erangan keras terlepas dari bibirnya.</p>
<p>Tak mau membuang kesempatan itu, kuturunkan penisku ke mulutnya. Shinta membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menelan selurh batang penisku ke dalam mulutnya. Kurasa aku pasti akan langsung keluar. Ada seorang lelaki lain yang sedang bermain dengan vaginanya, saat istriku menghisap batang penisku yang sangat keras.<br />
â€œAku akan melepaskan ikatanmu sekarang dan menarik tubuhmu ke tepi ranjang, tapi kamu tidak boleh melepaskan penutup matamu dengan alas an apapun jugaâ€ aku tetap berbicara dengannya.</p>
<p>Dengan cepat kulepaskan ikatannya dan menariknya ke tepi ranjang hingga pahanya menjuntai di lantai. Dia tetap memaki penutup matanya seperti seorang istri yang baik. Kemudian aku rebah di atas ranjang dan mendekatkan penisku ke wajah istriku lagi. Shinta menggenggamnya dan membawanya masuk ke dalam mulutnya. Aku melihat ke arah Yudi. Dia sudah melucuti pakaiannya dan berdiri di tepi ranjang.</p>
<p>â€Sayang, apa kamu sudah siap dengan dildo yang baru?â€ tanyaku padanya.<br />
â€œTuhan, ya. Setubuhi aku dengan itu sayangâ€ dia mengerang.</p>
<p>Yudi semakin bergerak mendekat padanya tanpa menyentuh atau naik ke atas ranjang. Aku dapat melihat semuanya. Dengan perlahan digenggamnya batang penisnya sendiri dan menggerakkannya kedepan mengarah ke vagina Shinta. Aku terhenti karena terkejut lagi. Ini adalah pertama kalinya aku melihat batang penisnya. Jauh lebih besar dan panjang darikuâ€¦</p>
<p>Ini membuatku takut. Aku yakin kalau Shinta akan segera tahu. Tapi sebelum aku merubah pikiranku, Yudi sudah mendorong masuk ke dalam tubuh Shinta.</p>
<p>Baru beberapa centi saja Shinta sudah mengerang sangat keras. Yudi mengambil hal itu sebagi perintah dan segera melesakkan seluruh batang penisnya ke dalam vagina istriku. Shinta menjadi tak terkendaliâ€¦ tapi kemudian dia menyadari apa yang tengah berlangsungâ€¦ dia berhenti menghisapku dan mulai bergerak untuk meraih penutup matanya. Aku mengentikan tangannya tepat pada waktunya.</p>
<p>â€œAda apa ini?â€ erangnya pelan.<br />
â€œKamu suka?â€ tanyaku tanpa mempedulikan pertanyaannya.<br />
Dia diam beberapa saat lalu menjawab â€œYa, tapi siapa yang berada di antara pahaku?â€</p>
<p>Yudi terus menyetubuhinya. Dia tak pernah berhentiâ€¦</p>
<p>â€œSayang, apa kamu ingin kuhentikan ini semua?â€ tanyaku.<br />
Lagi-lagi, setelah beberapa detik dia baru menjawab â€œTidak. Jangan!â€<br />
â€œApa kamu ingin dia menyetubuhimu dengan keras?â€ tanyaku lagi.<br />
â€œTuhan, ya. Tentu saja. Dan aku ingin menghisap batang penismu jugaâ€ jawabnya.</p>
<p>Yudi seakan disulut. Dia mengayun semakin keras dan keras. Seluruh batang penisnya tenggelam dalam tubuh istriku. Paha Shinta mengait erat tubuh Yudi lebih merapat. Dia menggenggam batang penisku dan mulai menghisapnya dengan rakus. Dia seperti seorang wanita gila yang menjadi liar.</p>
<p>Dapat kurasakan spermaku akan meledak dengan hebat â€œAku hampir keluarâ€ kataku pada Shinta.</p>
<p>Dia melenguh dan mulai menghisap lebih cepat lagi. Tak beberapa lama kemudian kusemburkan spermaku dalam mulut Shinta dan dia menelannya secepat yang dia bisa. Kemudian kulihat ke atas dan dapat kusaksikan kalau Yudi juga sudah hampir keluar. Ini adalah saat mengambil keputusan bagiku. Apakah aku akan membiarkan orang lain menumpahkan spermanya dalam vagina istriku atau tidak.</p>
<p>Kupikir ini adalah hak Shinta untuk memilih â€œShinta, apa kamu mau dia keluar di dalam atau kamu mau dia keluar di atas perutmu?â€<br />
Dikeluarkannya batang penisku dari dalam hisapan mulutnya dan mengejutkanku dengan jawaban yang dia berikan â€œAku mau dia keluar di dalamâ€ erangnya.</p>
<p>Dan akibat ucapan itu, wajah Yudi jadi memerah dan dia mengayun semakin keras. Kemudian tiba-tiba saja dia berhenti dan tak bergerak sama sekali. Aku tahu kemudian kalau dia orgasme. Geraman hebat keluar dari mulutnya. Shinta meraih tubuhnya dan menariknya jatuh menindih tubuhnya sendiri. Begitu bibir Shinta menemukan bibir Yudi, dia langsung saja melumatnya dengan liar. Aku duduk dan menyaksikan lidah Shinta merangsak masuk jauh ke dalam mulut Yudi. Shinta sangat terbakar.</p>
<p>Lalu sebelah tangan Shinta bergerak ke atas dan melepaskan penutup matanya. Aku tak dapat menebak apa yang akan dilakukannya kemudian. Apakah dia tak suka dengan lelaki yang kubawa ini. Aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan jawabannya. Shinta menatapnya dan menciumnya kembali. Saat dia sedang menciumnya, diraihnya batang penisku dan membuatnya keras lagi. Shinta benar-benar sedang terbakar hebat. Dia menghentikan ciumannya dan mencoba mengatur nafasnya yang tersengal.<br />
â€œAku ingin penisnya dalam mulutku dan aku mau kamu menyetubuhiku dari belakang jauh lebih keras darinyaâ€ katanya.</p>
<p>Aku terkejut , tapi tanpa menunggu lagi, Yudi dan aku mengambil tempat. Shinta sangat menginginkan batang penisnya. Dalam genggamannya, batang penis itu dia arahkan masuk seluruhnya kedalam mulutnya yang mendambakan. Aku berada diantara pahanya dan melesakkan penisku yang keras ke dalam lubang vaginanya yang terisi sperma.</p>
<p>Tak bisa kupercaya betapa panas dan basahnya vagina Shintaâ€¦ Dalam setiap dorongan, dapat kudengar sperma Yudi dipaksa keluar dari dalam vagina Shinta. Aku menyetubuhi istriku sambil melihatnya menghisap batang penis Yudi. Dia terus mengerang bagaikan seorang wanita gila. Dan kemudian tanpa memberi peringatan, dia menghentikan hisapannya pada penis Yudi lalu menatapku.<br />
â€Aku mau penisnya dalam anuskuâ€ ucapnya tegas.</p>
<p>Ini benar-benar membuatku sangat terkejut. Aku hanya pernah melakukan anal seks dengan istriku tiga kali dan selalu saja baru sebentar dia merasan kesakitan. Dan ukuran batang penisku lebih kecil dari Yudi. Sambil memeluk istriku, aku berguling ke samping dengan penisku masih terbenam dalam tubuhnya. Yudi mengambil pelicin dan mengoleskannya ke pantatnya. Dengan jari tengahnya dia mulai memasuki lubang anus istriku. Aku sangat yakin kalau istriku akan menjerit. Tapi kupikir Shinta pengaruh alkohol yang diminumnya, Shinta dapat kurasakan dia malah mendorong pantatnya ke belakang berlawanan arah dengan gerak laju jari Yudi agar jarinya semakin masuk lebih ke dalam.</p>
<p>Setelah kurang lebih 3 menitan, Yudi mengeluarkan jarinya dan merebahkan diri di belakang istriku. Istriku menggenggam batang penisnya dan menuntunnya tepat menuju ke lubang anusnya. Sedikit demi sedikit mulai masuk. Istriku meraih kepalaku dan menempelkan bibirku dengan bibirnya, dia menciumku seakan dia belum pernah melakukannya denganku. Yudi dan aku menyelaraskan ayunan kami. Shinta mengerang seakan gila. Pengaruh dari sebuah batang penis milik lelaki lain pernah memasuki vagina istriku dan sekarang berada di dalam lubang anusnya, sudah lebih dari cukup buatku. Aku mulai menyemburkan spermaku jauh di dalam vagina Shinta Dia tahu aku sudah keluar dan dihentikannya ciumannya terhadapku.</p>
<p>Yudi juga sudah berada di batas akhirnyaâ€¦<br />
â€œKamu mau aku keluar di dalam?â€ teriaknya keras.<br />
â€œYa, ya, lakukan, keluarlah di dalam anuskuâ€</p>
<p>Sekali lagi aku dikejutkan, Shinta istriku tak pernah mengijinkanku keluar dalam lubang anusnya. Beberapa detik kemudian aku menyaksikan Yudi berejakulasi di dalam lubang anusnya. Aku sudah merasa kelelahan. Kuraih selimut dan menariknya menutupi tubuh kami semua. Shinta berbaring dan memandangku</p>
<p>â€œOh Tuhan, aku tak pernah membayangkan kalau kamu akan melakukan ini padakuâ€.</p>
<p>Dia menghabiskan malam bersama kami. Batang penisku masih tenggelam di dalam vaginanya dan penis Yudi berada dalam lubang anusnya. Kukatakan pada Yudi kalau sudah cukup untuk malam ini, dia tersenyum dan menyarankan agar beristirahat untuk beberapa menit. Setelah beberapa menit kukeluarkan penisku dari dalam vagina istriku dan Yudi juga mengeluarkan penisnya dari lubang anusnya. Shinta berbalik dan mengucapakan terimakasih padanya. Beberapa waktu kemudian akhirnya kami semua jatuh tertidur.</p>
<p>*****</p>
<p>Seusai sesi dari seks yang dahsyat, aku langsung jatuh terlelap. Shinta berada diantara aku dan Yudi. Pastinya ini sudah beberap jam ketika kupikir aku sedang bermimpi. Mataku tetap terpejam, tapi aku yakin kalau aku merasakan ranjang bergerak.</p>
<p>Aku terjaga sekarang, kucermati suara yang terdengar. Dapat kudengar suara bibir yang saling melumat dan lenguhan pelan dari Shinta. Lalu dapat kurasakan berguling dan pantatnya menekan salah satu pahaku. Aku pura-pura tak merasakannya, tapi dengan hati-hati kutengokkan kepalaku sedikit dan mengintip apa yang tengah terjadi.</p>
<p>Pastilah sudah kalau Shinta sudah beraksi kembali. Dengan bantuan sinar lampu yang redup, dapat kusaksikan kepala Shinta bergerak naik turun pada batang penis Yudi yang keras. Tuhan, dia sangat menyukai benda tersebut. Ditelannya keseluruhan batang itu dan terus melenguh seakan tidak akan ada lagi hari esok. Yudi hanya terbaring di sana dengan mata terpejam. Dapat kulihat kalau dia sangat menikmati apa yang dilakukan istriku terhadapnya.</p>
<p>Keduanya tak tahu kalau aku menyaksikan mereka. Aku hanya berbaring dan melihat. Setelah beberapa saat lamanya, lalu Yudi memegang kepala Shinta, menjauhkannya dari batang penisnya dan mendekatkannya ke arah mulutnya. Aku belum pernah merasakan ciuman seperti cara istriku mencium Yudi. Kedua lidah mereka saling masuk sedalamnya dalam rongga mulut yang lainnya. Dengan sebuah gerakan cepat, istriku telah berada di atas tubuh Yudi.</p>
<p>Shinta menggenggam batang penis Yudi dan menuntunnya masuk ke dalam tubuhnya. Dalam setiap dorongan yang teramat pelan, batang penis Yudi semakin masuk ke dalam dan lebih ke dalam lagi sampai akhirnya Shinta mendapatkan keseluruhan batang penis itu dalam tubuhnya. Sekarang pelan-pelan Shinta bergerak naik turun pada batang itu dan Yudi menjepit kedua putting payudara Shinta semakin keras dalam setiap ayunan tubuh Shinta. Shinta sangat senang jika putingnya di beri perhatian&#8230;</p>
<p>Tak dapat kupercaya istriku menyetubuhi lelaki ini lagi. Dan kali ini Shinta pikir kalau aku masih tertidur. Awalnya aku ingin menyentuhnya agar dia tahu kalau aku menyaksikan mereka. Tapi aku tak melakukannya. Aku tetap diam tak bersuara dan melihat. Sekarang Shinta menunggangi penisnya dengan keras dan cepat. Dia benar-benar sedang terbakar. Dengan sebelah tangannya istriku mulai memainkan kelentitnya sendiri. Hal ini memberitahukanku kalau dia ingin meraih orgasmenya, orgasme dengan segera. Jari lentiknya bergerak dengan gila di kelentitnya. Dan hal ini kelihatannya membuat Yudi semakin terangsang. Dia mulai bergerak mendorong keatas untuk menjemput setiap hentakan kebawah yang dilakukan Shinta.</p>
<p>Seakan berjam-jam rasanya Shinta menunggangi batang penis Yudi yang keras. Paling tidak sedikitnya dia mendapatkan orgasme lebih dari tiga kali. Dan kemudian kudengar suara erangan Yudi.</p>
<p>â€œAku hampir keluar Shintaâ€ katanya dengan suara yang bergetar.<br />
â€œKeluarkan Yud, keluarkan dalam vaginaku, berikan padaku sekarangâ€ sekarang Shinta memohon padanya.</p>
<p>Dan tiba-tiba Yudi mendorong ke atas dengan sangat keras dan menahan tubuhnya dalam posisi tersebut untuk beberapa menit. Aku tahu kalau dia sedang orgasme dengan hebat sekarang. Shinta juga menahan gerakannya dan sebuah senyuman lebar terkembang di wajahnya. Kembali dia mendekatkan wajahnya dan mencium Yudi dengan liar dan penuh gairah.</p>
<p>Ketika meraka berhenti berciuman, Shinta berkata pada Yudi dengan suara pelan â€œKita harus berhati-hati agar tak membangunkan suamikuâ€. Yudi hanya tersenyum saja dan menganggukkan kepalanya.</p>
<p>Perlahan Shinta bangkit dari batang penis Yudi dan sperma lelaki itu meleleh keluar dari vaginanya yang basah. Yudi memberinya sebuah ciuman singkat dan turun dari ranjang. Dia mengenakan pakaiannya dan kenudia dia keluar dari kamar. Kupikir dia pergi meninggalkan rumahku. Shinta memelukku dan aku masih tetap diam, berharap kalau dia tak merasakan ereksiku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/take-and-give.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Event Organizer</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/event-organizer.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/event-organizer.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[Aku bekerja di sebuah perusahaan Event Orgenizer yang cukup terkenal di Jakarta. Disana aku bekerja sebagai Senior Account Executive. Klien terbesarku adalah Ur. Aku telah banyak menggoalkan proposal event yang kukerjakan bersama teamku, namun pada saat presentasi biasanya aku sendirian atau berdua dengan staffku seorang junior account executive atau salah seorang dari team kreatif. O [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku bekerja di sebuah perusahaan Event Orgenizer yang cukup terkenal di Jakarta. Disana aku bekerja sebagai Senior Account Executive. Klien terbesarku adalah Ur. Aku telah banyak menggoalkan proposal event yang kukerjakan bersama teamku, namun pada saat presentasi biasanya aku sendirian atau berdua dengan staffku seorang junior account executive atau salah seorang dari team kreatif.</p>
<p>O ya, namaku Aryo, biasa dipanggi Ari. Usiaku 29 tahun belum menikah, belum punya pacar, saat ini. Asli Bandung namun aku mengontrak rumah kecil, dekat yang dengan kantorku di bilangan Gatot Subroto. Penghasilanku lumayan, hasil tabunganku 4 tahun bekerja di 3 perusahaan periklanan, dapat membeli mobil yang kuidamkan, sebuah Mercy Tiger tahun 1986, warna hitam dan gaya custom pelek lebar 18 inch, body ceper gaul, dan audio dengan sound quality yang memanjakan telinga. Cukup cocok mendukung pekerjaan dan penampilanku. Setidaknya orang dapat menilaiku seorang eksekutif menengah di sebuah perusahaan.</p>
<p>Senin pagi itu aku ada janji bertemu dengan Brand Manager Ur, untuk produk shampo terkenal, berkaitan dengan pitching event shampo tersebut yang cukup menyita waktu istirahatku. Berangkat pagi pulang subuh, selama dua minggu walau diselingi dugem di HR atau di daerah Kemang sebagai pelepas penat.</p>
<p>&#8220;Selamat siang, ada yang bisa dibantu?&#8221; gadis manis receptionist menyapa dengan senyum ramah di wajahnya.<br />
Lumayan, agak menurunkan tensi, karena terus terang hari itu aku merasa tegang sekali berkaitan dengan proposal event yang sempat aku presentasikan seminggu yang lalu.</p>
<p>&#8220;Bisa bertemu dengan Ibu Silvy? Saya ada janji bertemu dengan beliau, Saya Ari, dari I*****&#8221;, sambil menunjukkan name tag-ku.<br />
&#8220;Mohon ditunggu sebentar, Ibu Silvy sedang ada tamu&#8221;, sambil mempersilahkan duduk, Cinthya tersenyum kembali.<br />
Kutahu namanya dari name tag-nya.<br />
&#8220;Revi kemana Mbak?&#8221; tanyaku menanyakan receptionist yang pernah kutemui saat aku presentasi.<br />
&#8220;Dia sudah resign, persis satu minggu yang lalu&#8221;.<br />
Ooo.. berarti ketika aku presentasi, hari itu adalah hari terakhirnya Revi.</p>
<p>Imut sekali. Lebih cantik dari Revi Tidak terlalu tinggi, tapi terlihat manis dengan blazer coklat, blouse krem dan rok sepaha, yang cukup lumayan tinggi, hingga kulit pahanya yang mulus terlihat dengan jelas. Sepatu hak tinggi menambah seksi kaki mungil cinthya. Usianya kira-kira 24 atau 25 tahun. Ah,.. sudahlah, setidaknya dengan melihat Cinthya pikiran ku agak sedikit rileks, berhubung minggu lalu aku dibantai habis-habisan oleh Ibu Silvy, mulai dari konsep event hingga budget yang kuajukan. Berbeda dengan brand manager produk lainnya, Ibu Silvy agak sedikit dingin namun kritis sekali dalam menilai sebuah proposal. Pertanyaan yang bertubi-tubi pada saat presentasi menandakan beliau sangat berpengalaman sekalidalam menghandle produk. Saat fantasiku melayang memikirkan Cinthya dengan lingeries (dasar cowok), tiba-tiba suara Cinthya memecah konsentrasiku..</p>
<p>&#8220;Pak Ari, silakan, ditunggu di ruang kerja Ibu Silvy&#8221;, sambil berdiri dekatku yang duduk di sofa ruang tunggu.<br />
Bau Cool Water women tercium harum sekali menambah tajamnya fantasiku tentang Cinthya, yang kusimpan dulu sementara untuk dilanjutkan setelah bertemu Ibu Silvy. Cinthya jalan didepan mengantarku menuju raung kerja Ibu Silvy. Roknya cukup ketat, hingga menampilkan garis CD yang tidak biasanya ku lihat.. G-String! Woow.. Kalau aku Ryo Saeba (City Hunter) tentunya aku telah dibuatnya mimisan. Tamu Ibu Silvy terlihat keluar dari ruangan Ibu Silvy. Sososk yang tidak mungkin kulupakan, Hendra! bajingan itu mencuri konsepku dua tahun yang lalu ketika sama-sama kerja di B**O. Kurang ajar.. ngapain dia ketemu Ibu Silvy? Apakah dia mengerjakan proyek yang sama seperti aku tangani sekarang? Diakah musuh pitchingku? Who cares! Ketika saling papasan kami hanya saling pandang sebentar dan berlalu begitu saja..</p>
<p>&#8220;Ibu, pak Ari dari I*****&#8221;, Cinthya memberitahu Ibu Silvy yang sedang duduk menghadap jendela kaca.<br />
Begitu membalik, Ibu Silvy sedang memegang proposalku dan melemparnya ke meja dihadapan beliau. Glek!.. This could be the end of the world.. Perasaanku semakin tidak enak, karena pengalamanku selama mengerjakan 19 proposal proyek event atuapun Integrated Marketing Communication, hanya 2 yang ditolak, itupun kalah pithcing denga agensi lain. Berarti ini yang ketiga dari 20.. que sera sera.. what ever will be, will be.</p>
<p>&#8220;Duduk Ri,..&#8221; seiring pintu ditutup Cintya dari luar.</p>
<p>Kira-kira 3 menit ruangan itu hening. Terus terang aku semakin grogi dibuatnya. Tidak terpikirkan satu katapun untuk diluncurkan membuka kebekuan ini. Ibu Silvy melihat proposalku sambil sesekali melirik padaku. Gilaa.. Aku semakin salah tingkah dibuatnya.. tidak pernah sebelunya aku merasa setegang ini dan menjadi tidak pede.</p>
<p>&#8220;Ha.. ha.. ha.. ha.. nggak usah tegang gitu deh Ri!&#8221; sambil berdiri dan berjalan ke lemari es kecil di samping sofa di ruangannya.<br />
&#8220;Mau minum apa Ri..?&#8221; sambil membuka lemari beliau berkata.<br />
Puihh.. tensiku sedikit menurun.<br />
&#8220;Ehm.. anything you drink.. same as you I guess&#8221;, masih beku lidahku, walaupun di lemari es itu kulihat Vodka Cruiser, minuman kegemaranku.<br />
Beliau mengambil 2 Coke kaleng dingin. Satu ditaruhya di depanku setelah sebelumnya beliau buka.<br />
&#8220;Honestly.. I do like your proposal.. very much!&#8221; sambil kemudian meneguk Coke dari kalengnya.<br />
Sedikit mengibaskan rambutnya sebelum minum, leher jenjangnya terlihat putih, sangat seksi..<br />
Hampir loncat dari kursi aku mendengarnya dan berteriak hore.. Namun tidak kulakukan.. Jaim.. jaim Ri..<br />
&#8220;O ya..? How could you posibbly like my proposal? Perasaan aku bikinnya nggak begitu pede bu,&#8221; kataku merendah, sambil kumundurkan badanku menyentuh sandaran, hingga merasa rileks.<br />
&#8220;Oo.. jadi kalo pede, mungkin lebih bagus lagi yaa..? Ah, lu bisa aja deh Ri&#8221;, sambil sedikit tertawa.<br />
Hari itu Ibu Silvy yang kukenal ketika pertama kali presentasi sangat berbeda. Imageku tentang Bu Silvy langsung berubah 180 derajat. She&#8217;s so lovely today.<br />
&#8220;Mmm, sini deh Ri..!&#8221; kembali berdiri dan berjalan menuju sofa.<br />
Sedari tadi baru sekarang aku penampilan Ibu Silvy yang begitu menggairahkan, karena konsentrasiku masih tertuju pada proposal. Blouse putih, tipis ketat, menampilkan garis bra hitam yang begitu menggoda. Rok tinggi hitam dan stocking hitam tipis membungkus kakinya, ditambah sepatu hak tinggi bergaya stilletto semakin menambah beliau seksi.</p>
<p>Aku berjalan mengikuti beliau duduk di sofa. Beliau duduk di one piece sofa sedangkan aku duduk di sofa besarnya. Aku duduk agak di tengahnya dan beliau duduk di sofa sebelah sofaku dan membentuk sudut 90 derajat kira-kira.</p>
<p>&#8220;I like the idea about hair test.., hal itu dapat membangkitkan ketergantungan konsumen pada produk S*****k. I mean, we can find the reason why people must use certain variances..&#8221;, kulihat semangat di matanya, pertanda proposalku diterima. Bahasanya campur aduk Inggris-Indonesia, lu gue, dan segala kosa kata yang masih kumengerti.<br />
Percakapan itu semakin hangat. Gestur Ibu silvy semakin santai dengan bermacam posisi. Sekali-kali bersandar, kemudian maju lagi. Seringkali menyilangkan kakinya bolak-balik, membuat aku sedikit melirik ke arah pahanya dan memikirkan apa yang ada di balik roknya, membuatku semakin tidak enak duduk, karena burungku sudah ingin lepas dari sangkarnya. Apalagi beliau sering sekali menepuk pahaku, walaupun aku sudah berusaha untuk menjauh sedikit, karena ingin menjaga imageku. Hingga akhirnya dudukku semakin ketengah sofa, yang otomatis membuat jarak duduk cukup satu orang di sampingku. Konsentrasiku semakin terpecah, ya mendengarkan Ibu Silvy, sambil sesekali membalas percakapan, dan melihat beberpa bagian tubuh Ibu Silvy, muali dari kancing atas blousnya yang tidak tertutup, yang dengan jelas memperlihatkan dua bukit tertutup bra berlace hitam, dan ke arah bagian paha hingga dalamnya rok atasnya.</p>
<p>&#8220;But, before I accept this proposal, ada beberapa hal yang pengen gue omongin sama elu&#8221;, sambil menarik badannya bersandar pada sofa.<br />
Jarak duduk dia yang agak jauh dengan senderan sofa, membuat dia agak sedikit berbaring. Kedua pahanya terbuka, membuat aku semakin penasaran daerah yang tadinya gelap. Tanggannya menarik sedikit roknya ke atas. Jantungku sedikit berdegup keras, sambil menelan ludah mataku terkonsentrasi pada daerah tadi.<br />
&#8220;Gue dari tadi merhatiin elu liatin badan gue.., lu suka khan..?&#8221; sambil senyum sedikit menggoda.<br />
&#8220;Eehhm.. mm.. mmaksud Ibu..?&#8221; tergagap aku mendengar pertanyaan itu.<br />
&#8220;Gak usah panggil gue Ibu, panggil gue Silvy&#8221;, sambil berpindah posisi duduknya di sebelahku.<br />
Gila.. mau ngapain nih si Ibu? Pikirku dalam hati. Terus terang, hasrat kelelakianku makin kuat.<br />
&#8220;Don&#8217;t be so naive.. Ini khan yang lu tunggu..?&#8221; bibirnya mendekati mukaku.</p>
<p>Kontan aku menyambutnya. Hilang sudah perasaan sungkanku pada beliau. Yang ada hanya nafsu yang ingin kupuaskan, setelah 2 minggu puasa kebutuhan biologis, mengerjakan proposal proyek ini. Bibir kami bersatu, lidah kami saling menyeruak masuk ke dalam rongga mulut. Sambil mendorong badanku hingga akhirnya tiduran di sofa panjang itu, Silvy, begitulah kupanggil namanya sekarang tanpa atribut Ibu, semakin agresif meraba burung yang masih dalam sangkar namun sudah berdiri tegak. Rasa pegal di burung akhirnya hilang ketika kusadari Silvy telah membuka celanaku, dan mengeluarkan penis yang berdiri tegak, mencari sangkar hangat.</p>
<p>&#8220;Jika lu mau proyek ini goal, puasin gue sekarang.. ngerti? Gue gak ragu-ragu untuk menunda atau menolak porposal lu, kalo lu gak puasin gue hari ini..&#8221;, ancaman itu terdengar menantang sekaligus anugrah yang tak terkira.<br />
Kemejaku telah terbuka, Silvy menjilati dan mencium leherku, kemudian turun menjalar ke bawah, centi demi centi dadaku, hingga akhirnya menjilati dan menciumi putingku. Putingku digigitnya, menimbulkan sensasi luarbiasa. Aku berusaha melepas baju yang dipakai Silvy, hingga akhirnya kulempar entah kemana. Tinggallah silvy hanya menggunakan bra hitam seksi, sambil masih menjilati tiap centi dadaku.</p>
<p>&#8220;Oooh.. Sil.. god.. mmh&#8221; aku meracau menikmati permainan lidahnya.<br />
Silvy begitu buas menjilati dadaku yang ditumbuhi sedikit bulu. Tanganku meraih pengait bra, dan terlepas. Kulepaskan dan kulempar lagi entah kemana. Kini dua daging kembar itu menyentuh perutku. Semakin Silvy bergerak kebawah, terasa gumpalan daging itu memijat penisku dan semakin memberikan sensasi luar biasa. Tiba-tiba, Silvy menghentikan kegiatannya, dan berdiri.</p>
<p>&#8220;Tunggu, gue punya kejutan tambahan buat lo..&#8221;, sambil berjalan menuju telepon.<br />
&#8220;Cin, ke ruangan ku sebentar,.. gantiin tugas mu sama Marini. Minta sama dia, Gue gak mau terima telepon, gue gak terima tamu hari ini sampe jam 5. Is that clear?&#8221; jawaban Cinthya di speaker phone mengakhiri permintaan Silvy.<br />
Aku kaget setengah mati, dan buru-buru mengancingkan kemejaku dan berusaha merapikan celanaku.</p>
<p>&#8220;Ri, nggak perlu deh lu rapiin, .. ..&#8221;, ujar Silvy, seraya pintu dibuka oleh Cinthya.<br />
Cinthya tersenyum ke arahku, sambil mengunci pintu dari dalam dan lalu menghampiri Silvy yang masih berdiri dekat meja. Kekagetanku bertambah, ketika mereka berpelukan dan saling cium ala french kiss. Cinthya meremas payudara Silvy, sambil berciuman.</p>
<p>&#8220;Cin, mau kan nemenin aku muasin diriku bareng Ari?&#8221; tiba-tiba Silvy berubah jadi romantis.<br />
Cinthya mengangguk tanda setuju dan tersenyum ke arahku. Fantasiku jadi kenyataan, akhirnya aku dapat menikmati tubuh Cinthya.</p>
<p>Mereka berdua menghampiriku. Silvy kembali menciumku, bibir kami saling berpagut. Sementara Cinthya mengeluarkan batang penisku, yang kemudian dihisapnya. Woow sensasi luar biasa.</p>
<p>Gantian kuhisap payudara Silvy, dan dia pun melenguh.<br />
&#8220;Eughh.. hmm.. Ari.. ahh..&#8221;, ceracau Silvy, sambil kuremas pantatnya.<br />
Kusingkapkan roknya, dan ternyata Silvy memakai pantyhose, stocking celana. G-String hitam membayang menambah gairah. Sementara Cinthya masih sibuk dengan penisku. Hisapan sangat enak, pertanda dia pun pengalaman. Sambil membuka satu-persatu pakaiannya, Cinthya menjilati zakarku, ujung penisku pun tak luput dibikin geli olehnya, hingga akhirnya tinggal g-stringnya yang masih menempel.</p>
<p>Aku akhirnya berbaring di sofa panjang, gantian Silvy menjilat dan menghisap penisku, sementara vagina Cinthya berada di atas mukaku. Kujilati vagina yang sudah mulai becek dari sela g-string yang masih menempel.</p>
<p>&#8220;Ahh, .. Ehm.. nikmath sekalihh.. uhh..&#8221;, lidahku menari di vagina Cinthya.<br />
Cinthya membungkuk hingga akhirnya kami membentuk posisi 69, bergabung dengan Silvy yang tengah menghisap penisku. Bergantian mereka menjilat dan menghisap penisku, dan kadang mereka saling menjilat lidah masing-masing, ataupun berciuman.<br />
&#8220;Slurp.. Slurp.. mmcup.. ahh.. slurp..&#8221;, bunyi hisapan bercampur air liur mereka yang membasahi penisku.<br />
&#8220;Aaach.. Arii.. ohchh.. aahh&#8221;, Cinthya berteriak, tanda orgasme.<br />
Mulutku pun belepotan oleh cairan vagina Cinthya. Cinthya beranjak dari mukaku dan duduk di sofa satunya lagi.</p>
<p>&#8220;Sekarang giliranmu Sil&#8221;, kataku mulai berani untuk mengimbangi permainannya.<br />
Rasa sungkan itu hilang seiring munculnya nafsu menggebu untuk turut menikmati vagina Silvy. Silvy berbaring di sofa panjang. Terlihat noda basah di sekitar pantyhose yang menutupi g-string dan vaginanya.</p>
<p>Kujilati perlahan pantyhosenya, menambah lebarnya noda basah tersebut. Kuakui, akhirnya aku menyukai wanita dengan pantyhose terpasang seperti Silvy. Silvy menggelinjang keenakan. Kugigit hingga sobek pantyhosenya, hingga membuat lubang dan dengan jelas menampakkan CD hitam seksinya. Kusingkapkan ke pinggir, hingga celah vagina Silvy terlihat. Peduli amat aku harus ganti atau tidak pantyhosenya. Seribu pantyhose pun yang dia minta pasti kuganti.. mercy aja aku bisa beli apalagi yang begituan.</p>
<p>Penetrasi lidahku semakin buas, membuat Silvy mengerang kenikmatan, dan sesekali berteriak. Kutahu pasti ruangan itu kedap suara, karena pintunya pun sangat tebal, duakali tebal pintu biasa kali. Sementara itu Cinthya yang masih kelelahan, memainkan vaginanya dengan jari, sambil menikmati permainanku dengan Silvy.<br />
Erangan kuat Silvy menandai dia telah mencapai puncaknya, semakin besar pula lah, noda basah di pantyhose sekitar vaginanya.</p>
<p>&#8220;Ari.. aku puas banget, Ri sungguh..&#8221;, Silvy memuji permainan lidahku.<br />
&#8220;Just wait ladies, you haven&#8217;t seen it all..&#8221;, kataku sambil melepaskan kemeja yang sudah terlepas kancingnya.<br />
Kuturunkan juga celana lea permanent pressku dan cdnya.</p>
<p>Perlahan ku hampiri Silvy yang masih terbaring. Kuraih kaki indah yang masih terbungkus pantyhose hitam. Kujilati ujung kakinya, sambil sesekali kukgigit perlahan, menimbulkan rasa geli yang tak dapat ditahan Silvy, hingga tubuh indah Silvy bergerak ke kanan dan ke kiri. Kaki Silvy menimbulkan bau harum khas yang menambah naiknya libidoku ke ubun-ubun. Ku sususri betis hingga paha dengan lidahku, hingga akhirnya sampai pada vagina basahnya. Sekitar lima menit kujilati, lalu aku berdiri tegak. Bagai pedang terhunus, ku dekatkan penis tegak ini ke vagina Silvy. Lewat lubang pantyhose yang kubuat dan celah g-string yang tersingkap, ku mainkan penisku, mengusap labia mayora Silvy yang sudah becek.</p>
<p>&#8220;Masukin.. Ri.. Ayoo.. Masukin sayang, aku udah nggak tahan.. jangan sikhsa akuhh Rii.. Ingat proposalmu sayang.. ohh..&#8221; dalam keadaan terangsangpun Silvy masih bisa mengancam.<br />
&#8220;Siap ya sayang..,&#8221; dan perlahan centi-demi centi batang penisku amblas di vagina hangat dan sempit ini.<br />
Bless.. seluruh batangku dilahap vagina Silvy. Rasa hangat dan geli semakin terasa. Apalagi vagina Silvy seperti memijat penisku. Perlahan kucabut dan kumasukkan kembali dengan tempo yang semakin cepat. Tangan Silvy merangkul leherku. Gerakan pantatku maju mundur dengan irama yang makin cepat.</p>
<p>&#8220;Oh.. Oh.. Oh.. Good.. ah.. aa.. aahh&#8221; kata-kata itu muncul seirama dengan keluar masuknya penisku di vagina Silvy.<br />
Smentara itu Cinthya yang sedari tadi memainkan vaginanya, menghampiri Silvy. Bibir mereka saling berpagut, kemudian lidah Cinthya menjalar ke leher hingga payudara Silvy. Dihisapnya puting Silvy sambil sesekali digigitnya.</p>
<p>&#8220;Damn it, You fuck me ghhoodd.. occhh.. .Shit!&#8221; Silvy kembali meracau.<br />
&#8220;I wanna cum.. I wanna cumm.. AAHH.. Shit.. You&#8217;re really good honey..&#8221;.<br />
Tidak percuma aku merawat tubuhku di Gym hotel Mulia Senayan. In fact, aku juga punya langganan tetap penyaluran hasratku di sana. Seorang Instruktur aerobic cewek.</p>
<p>Kucabut perlahan penisku dari vagina Silvy. Aku menghampiri pantat Cinthya yang masih sibuk menjilat puting payudara Silvy. Kuturunkan CD-nya, dan kulepas dari kakinya. Kuciumi sebentar, dan aromanya membuat libidoku semakin meledak. Kugigit g-string warna krem tadi sambil kuarahkan penisku, mencari lubang anus Cinthya. Kubasahi penisku dengan ludahku sendiri. Cinthya tampak agak keberatan karena pantatnya bergerak-gerak terus kiri kanan. Namun sekali kesempatan kupegangi kuat-kuat pantanya. Kumasukkan perlahan. Cinthya menjerit. Pertama akupun merasa perih, namun lama-lama, seiring dengan banyaknya ludah kuoleskan di penis, semain licin pula jalan masuk. Cinthya pun merasa keenakan, mendapat sensasi baru ini.</p>
<p>&#8220;Ari.. Achh.. Nikmat sekali.. aduuhh.. Ari.. cepetin dong.. achh&#8221; racau Cinthya.<br />
&#8220;Yes, fuck her in the ass baby!&#8221;, seru Silvy sambil mengubah posisi dengan vagina menghadap muka Cinthya.<br />
Cinthya tidak melepaskan kesempatan untuk menjilat vagina Silvy. Permainan tetap berjalan bertiga. Sesekali kutampar pantat Cinthya, membuat Cinthya melenguh kesakitan, namun suaranya menambah sensasi.</p>
<p>Geli di ujung penisku semakin kuat. Tak berapa lama ku cabut batang penisku. Cinthya membalik menghadap penisku sambil duduk di sofa. Begitu pula Silvy. Kukocok cepat penisku, sementara mulut mereka telah siap menerima spermaku.</p>
<p>&#8220;Give it to me darling.. yes.. shake it..! seru Silvy menyemangati kocokanku.<br />
&#8220;Ayo Ri.. aku udah lama nggak minum sperma.. c&#8217;mon Ri&#8221;, Cinthya pun turut menyemangati pula bersahut-sahutan dengan Silvy.<br />
&#8220;I&#8217;m Cumming.. oh.. oh.. oh.. AARGHH..!&#8221;, teriakku, seiring dengan keluarnya sperma, menyemprot muka mereka berdua silih berganti.<br />
Cinthya dan Silvy menjilati leleran spermaku di mukanya, sesekali mereka juga saling menjilat. Oooh, pengalaman pertama orgyku yang hebat.</p>
<p>Aku terduduk lemas, mereka menghampiriku sambil kemudian menjilati batang penis yang masih penuh dengan sisa-sisa sperma. Tentunya perbuatan mereka membuatku menggelinjang.</p>
<p>&#8220;Ok, Ri, .. you&#8217;re the best fucker I&#8217;ve ever know.. and proposal lu juga gue terima&#8221;, kata Silvy sambil duduk di samping kananku.<br />
Sementara Cinthya berada di samping kiriku. Kenikmatan ganda yang tiada duanya.<br />
&#8220;Ri, thank you very much&#8221;, ujar Cinthya sambil kemudian melumat bibirku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/event-organizer.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persekongkolan Demi Seorang Teman</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/persekongkolan-demi-seorang-teman.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/persekongkolan-demi-seorang-teman.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini merupakan kelanjutan dari &#8220;Permohonan Seorang Teman dan Suaminya&#8221; ***** Kisahku dengan Anna dan suaminya masih berlanjut. Sekali-sekali aku masih main ke rumah mereka dan melayani permintaan mereka untuk melakukan threesome. Suatu sore, Anna meneleponku meminta datang ke rumah mereka, sebab ada Henny, teman kuliahnya dulu di Australia. Aku ke sana dengan pakaian santai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini merupakan kelanjutan dari &#8220;Permohonan Seorang Teman dan Suaminya&#8221;</p>
<p>*****</p>
<p>Kisahku dengan Anna dan suaminya masih berlanjut. Sekali-sekali aku masih main ke rumah mereka dan melayani permintaan mereka untuk melakukan threesome.</p>
<p>Suatu sore, Anna meneleponku meminta datang ke rumah mereka, sebab ada Henny, teman kuliahnya dulu di Australia.</p>
<p>Aku ke sana dengan pakaian santai, hanya mengenakan kaus ringkas dan celana panjang.</p>
<p>Aku dikenalkan dengan Henny, perempuan Sunda. Lebih pendek daripada Anna, tapi orangnya manis. Kulitnya putih, bersih, hidungnya agak mancung, rambutnya panjang sebahu, lebih panjang daripada Anna yang potongan rambutnya pendek. Kami makan malam berempat dengan diterangi cahaya lilin.</p>
<p>&#8221;Agar romantis&#8221; kata Anna.<br />
&#8221;Ini untuk merayakan ulang tahun perkawinanku dengan Dicky&#8221; tambahnya.</p>
<p>Usai makan malam, kami duduk di teras belakang rumah Anna dan Dicky. Ada taman kecil di situ. Cahaya lampu taman yang redup memberikan nuansa romantis. Kami duduk sambil menikmati white wine, kesukaan Henny.</p>
<p>&#8221;Untuk menghormati sahabat lama&#8221; kata Anna sambil menuangkan white wine ke gelas kami masing-masing.</p>
<p>Kami minum setelah bersulang.</p>
<p>Dicky dan Anna saling memberi selamat sambil berpagutan bibir disaksikan olehku dan Henny.</p>
<p>Lama mereka berciuman barulah Henny memberi selamat kepada mereka. Henny menyalam Dicky dan menyalami Anna.</p>
<p>Waktu mereka bersalaman dan berciuman, aku sempat terkejut sebab ternyata mereka tidak berciuman pipi, melainkan berciuman bibir.</p>
<p>Kupikir Dicky tidak melihat hal itu, tetapi ia justru tersenyum menyaksikan mereka dan menatapku seolah-olah berkata tidak ada masalah dengan itu.</p>
<p>Aku menyalami Dicky dan Anna.</p>
<p>Waktu menyalam Anna, ia tidak mau hanya kusalam, ditariknya tubuhku rapat-rapat ke tubuhnya dan mencium bibirku.</p>
<p>&#8221;Cium dong, koq malu-malu gitu sih, Gus?&#8221; pintanya.<br />
Kurasakan wajahku memerah diperlakukan begitu di depan Henny.<br />
&#8221;Nggak apa-apa koq, Henny bukan orang lain&#8221; jelas Anna.</p>
<p>Kembali kami berempat duduk sambil bercakap-cakap. Mula-mula tentang hal-hal yang dialami Anna dan Henny waktu sekolah di Australia. Kemudian merembet ke masalah perkawinan. Henny bercerita bahwa suaminya seorang pengusaha setengah baya, yang sudah menikah dan menjadikan dirinya istri muda. Ia mengaku terjebak oleh ulah si pengusaha, tetapi demi kebutuhan ekonomi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya, ia terpaksa melakukan itu. Ia justru bersyukur tidak hamil hingga kini.</p>
<p>&#8221;Aku pernah minta cerai, tapi suamiku tidak mengijinkan&#8221; katanya iba.<br />
&#8221;Tapi aku juga mikir, kalau menjanda, apa ada jejaka yang masih mau padaku?&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Aku menatap jauh ke depan.</p>
<p>&#8221;Macam-macam saja kehidupan manusia ini. Ada yang sudah nikah, tidak bisa hamil oleh suaminya lalu aku yang jadi semacam pejantannya. Ini ada lagi yang jadi istri muda, mau cerai tapi tidak bisa dan hanya bermimpi bisa punya suami baik kelak&#8221; pikirku.</p>
<p>&#8221;Gus, jangan ngelamun gitu dong!&#8221; kata Anna sambil mencubit tanganku.<br />
&#8221;Tuh, Henny nanya kamu!&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Aku gelagapan, &#8221;Eh, maaf, nanya apa tadi Hen?&#8221;</p>
<p>&#8221;Waduh, payah deh ada orang bisa ngelamun di keramaian&#8221; goda Henny, kemudian sambungnya, &#8221;Tadi aku nanya kamu, koq belum kawin juga?&#8221;<br />
&#8221;Dia mach sudah sering kawin, nikah yang belum&#8221; sambut Anna menambah risih perasaanku.<br />
&#8221;Ya deh, aku ngerti koq&#8221; kata Henny.<br />
&#8221;Banyak lelaki suka mikir-mikir cari jodoh, apalagi jika ketemu wanita sepertiku, takut terjerat ntar&#8221; katanya seakan menyesali nasib.<br />
&#8221;Jangan bicara gitu Hen. Masih ada laki-laki yang baik. Kalau suatu ketika kamu dapat lepas dari suamimu sekarang dan dipertemukan dengan pria demikian, pasti kamu bahagia&#8221; kataku menghibur, walaupun tidak tahu arah kata-kataku.<br />
&#8221;Daripada ngobrol tak tentu, kita ke dalam aja yuk!&#8221; ajak Anna.</p>
<p>Kami masuk dan duduk di karpet sambil main kartu.</p>
<p>Mula-mula hanya iseng, tetapi kemudian Anna mempunyai ide aneh, siapa yang kalah wajib membuka bajunya sedikit demi sedikit.</p>
<p>Aku kaget dengan ide gilanya, tetapi suaminya dan Henny malah sebaliknya, mereka menyambut gembira usul tersebut.</p>
<p>Aku tak bisa berkutik, sebab kartu sudah dibagi.</p>
<p>Pertama-tama Anna kalah. Ia membuka baju bagian atasnya hingga kelihatan BH-nya yang berwarna merah marun.</p>
<p>Pada permainan berikut, suaminya Dicky kalah hingga membuka kausnya.</p>
<p>Selanjutnya aku yang kalah dan membuka kausku.</p>
<p>Henny masih beruntung belum kalah.</p>
<p>Kali berikut Dicky kalah lagi dan membuka celana panjangnya.<br />
Ia kini bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek.<br />
Berikutnya ia kalah lagi dan membuka celana pendeknya hingga hanya bercelana dalam.</p>
<p>Setelah itu barulah Henny kalah dan membuka gaunnya sebab ia mengenakan pakaian terusan.</p>
<p>Aku melihat sekilas ke arah tubuhnya.</p>
<p>Ia masih mengenakan pakaian dalam menutupi kutang dan celana dalamnya yang terlihat membayang di baliknya.</p>
<p>Berikutnya Anna kalah lagi dan membuka roknya.</p>
<p>Ia kini hanya mengenakan BH dan celana dalam berwarna merah marun.</p>
<p>Kali berikut Henny kembali kalah dan terpaksa membuka pakaian dalamnya yang berwarna kuning gading.</p>
<p>Sekarang Dicky yang hanya bercelana dalam ditemani dua perempuan yang sama-sama hanya berkutang dan bercelana dalam, sedangkan aku masih mengenakan celana panjang.</p>
<p>Kali berikut Anna kalah lagi dan melepaskan tali BH-nya, terlihatlah payudaranya yang indah.</p>
<p>&#8221;Wuihh, payudaramu masih cantik seperti dulu, An&#8221; puji Henny sambil mengelus lembut payudara Anna.</p>
<p>Anna hanya tersenyum mendapat pujian dan perlakuan begitu dari temannya.</p>
<p>Kulirik Dicky, ia hanya menatap ke kartu yang dipegangnya sambil senyum-senyum.</p>
<p>Aku tidak beruntung, sehingga kalah dan terpaksa membuka celanaku.</p>
<p>Kini aku hanya bercelana dalam.</p>
<p>Anna menatapku sambil tertawa-tawa, &#8221;Hitam nich yee&#8221; godanya sambil menyebut warna celana dalamku.</p>
<p>Kali berikut Dicky kalah dan terpaksa membuka celana dalam putihnya. Ia duduk bertelanjang, tetapi tak risih ada Henny.<br />
Aku heran juga, sebab kalau kami bertiga, sudah biasa kami main bertiga, tentu tak malu lagi, tetapi kini ada Henny, koq ia tidak malu.</p>
<p>Belakangan aku tahu bahwa Henny sudah sering menginap di rumah mereka dan tidur bertiga. Dari cerita Anna beberapa hari kemudian, kuketahui bahwa baik Anna maupun Henny adalah biseks. Memang mereka bulan lesbian murni, tetap menghendaki lelaki dalam hidup mereka, tetapi tak mampu melupakan teman intimnya dulu. Rupanya waktu di Australia mereka tinggal bersama di apartemen.</p>
<p>Giliran berikut Henny kalah dan membuka celana dalamnya.</p>
<p>Ia duduk dengan hanya mengenakan BH kuning gading, sedangkan celana dalamnya dilemparkan begitu saja entah kemana.</p>
<p>&#8221;Lho, koq itu dulu yang dibuka?&#8221; tanya Anna.<br />
&#8221;Biarin. Ntar kamu balas dendam megangin susuku&#8221; katanya sambil membagi kartu.</p>
<p>Dicky dan Anna tertawa mendengar jawaban Henny, aku hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah paha Henny yang putih bersih, agaknya bulu-bulu kemaluannya dicukur bersih. Penasaran juga ingin tahu bagaimana bentuknya, apakah seindah vagina Anna, tapi walaupun penisku makin tegang melihat payudara Anna dan paha Henny, aku tak berani berharap macam-macam.</p>
<p>&#8221;Jangan bermimpi, ini kan hanya sebatas permainan kartu&#8221; pikirku.</p>
<p>Aku tidak tahu bahwa diam-diam permainan ini sudah dirancang mereka bertiga secara cerdik untuk mengajakku masuk dalam permainan erotis berempat.</p>
<p>Kami kembali main kartu.</p>
<p>Di akhir permainan, Henny kembali kalah dan terpaksa membuka kutangnya.</p>
<p>&#8221;Horeee, kelihatan deh harta karunnya!&#8221; sorak Anna seperti anak-anak mendapatkan hadiah dan mencubit puting payudara Henny.<br />
&#8221;Nah, betul kataku, kan? Kamu emang usil deh, suka balas dendam&#8221; kata Henny menjauhkan tubuhnya dari gangguan temannya.</p>
<p>Henny membagi kartu.</p>
<p>Kulirik ke arah tubuhnya.</p>
<p>Payudaranya lebih besar kurasa daripada Anna, kutaksir ukurannya 34 C, bentuknya masih seperti payudara gadis, dengan puting yang agak kehitaman, beda dengan Anna yang putingnya lebih coklat.</p>
<p>Kuamati lagi sekilas sekujur tubuh Henny, seakan memberi penilaian.</p>
<p>Henny menatapku sambil tersenyum penuh arti. Entah disengaja atau tidak ia memperbaiki letak duduknya, dan kini duduk bersila hingga sekilas nampak belahan vaginanya mengintip memperlihatkan labianya.</p>
<p>Penisku semakin tegang, sedangkan penis Dicky kulihat sudah sejak tadi tegang tanpa dapat dicegah.</p>
<p>Di akhir permainan, Anna kalah dan harus membuka celana dalamnya.</p>
<p>Kini mereka bertiga benar-benar telanjang bulat, tinggal aku yang masih mengenakan celana dalam.</p>
<p>&#8221;Wah, jagoan kita ini hebat benar, masih menguasai permainan dan jadi pemenang&#8221; kata Henny memuji sambil melirik ke arah celana dalamku.</p>
<p>Pada permainan ini, kembali Henny kalah, hingga Anna berteriak, &#8221;Wah, kamu tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibuka. Kita apain Henny, hai kaum Adam?&#8221;</p>
<p>Dicky memberi usul, &#8221;Kalau gitu, ia harus mencium orang yang ia inginkan sebagai hukuman.&#8221;</p>
<p>&#8221;Baiklah, para juri sekalian, aku siap menjalani hukuman paduka&#8221; guraunya sambil bangkit dari duduknya dan berdiri.<br />
Tiba-tiba kedua tangannya memegang pipiku dan memagut bibirku tanpa kuduga.</p>
<p>Aku megap-megap diserang tiba-tiba.</p>
<p>Apalagi ciumannya begitu lama dan lidahnya masuk ke dalam rongga mulutku menggelitik langit-langit mulutku.</p>
<p>Darahku semakin terpompa ke ubun-ubun mendapat ciuman demikian.</p>
<p>Kubalas ciumannya dan lidah kami berpilinan.</p>
<p>&#8221;Udah, udah, jangan lama-lama, ntar ada yang cemburu tuh!&#8221; kata Anna sambil menarik tubuh Henny duduk kembali ke tempatnya.</p>
<p>Henny membagi kartu lagi. Kali ini Anna yang kalah. Seperti yang terjadi pada Henny, ia diminta mencium orang yang ia sukai.</p>
<p>Tadinya kupikir ia akan mencium Dicky atau aku, ternyata dugaanku meleset.</p>
<p>Ia bangkit dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas tetek Henny.</p>
<p>Henny membalas ciuman Anna sambil tangannya bermain di sela-sela paha Anna.</p>
<p>Desahan mereka berdua terdengar di sela-sela ciuman terlarang yang mereka lakukan.</p>
<p>Dicky dan aku hanya dapat menonton perbuatan mereka.</p>
<p>Beberapa saat kemudian mereka kembali duduk dan Anna membagi kartu.</p>
<p>Giliran berikutnya suaminya Dicky kalah.</p>
<p>Dicky memilih Anna untuk dicium dan meremas tetek Anna, tapi herannya tangannya bermain di kedua tetek Henny.</p>
<p>Henny hanya tersenyum menatapku yang keheranan, bahkan tangan kirinya meraba-raba punggung dan pantat Dicky sedangkan tangan kanannya mengikuti tangan Dicky meremas tetek Anna. Setelah itu, mereka bertiga kembali duduk dan Dicky membagi kartu.<br />
Kali ini aku yang apes, hingga harus mengikuti mereka bertiga, bertelanjang bulat! Wajahku agak memerah waktu kulepaskan celana dalam hitamku.</p>
<p>&#8221;Wow, indah nian. Benda apakah gerangan itu?&#8221; Anna berkomentar, diikuti oleh Henny, &#8221;Ah, betapa beruntungnya wanita yang berkesempatan berkenalan dengan benda itu?&#8221;</p>
<p>Aku hanya tersipu-sipu digoda kedua perempuan itu dan membagi kartu dengan tangan agak gemetar.</p>
<p>Rupaya Henny memperhatikan tanganku, ia pegangi tanganku sambil mengelus lembut punggung tanganku.</p>
<p>&#8221;Tenang aja Gus! Kamu ada di tengah para sahabat koq&#8221; guraunya.</p>
<p>Kali berikut Anna kalah lagi.</p>
<p>Kini ia memilih aku untuk dicium. Namun entah meniru suaminya, sambil menciumi aku, tangannya bermain di tetek Henny, meremas dan memainkan pentilnya.</p>
<p>Henny mendesah mendapat serangan Anna.</p>
<p>Dicky mengelus-elus punggung Anna sambil ikutan meremas tetek Henny.</p>
<p>Aku melepaskan diri dari ciuman Anna.</p>
<p>Anna kembali duduk diikuti oleh Dicky dan Henny.</p>
<p>Permainan berikut Dicky kalah lagi dan kini ia memilih Henny untuk dicium, tetapi sebelah tangannya menarik tangan istrinya ikut mengambil peran mengeroyok Henny.</p>
<p>Henny membalas ciuman Dicky diikuti oleh ciuman Anna. Ketiganya terlibat dalam ciuman panas bertiga. Kulihat bagaimana lidah mereka saling bertemu dan melumat.</p>
<p>Kali berikut Henny kalah, tapi sebelum ia memilih orang yang disukainya untuk dicium, Anna berkata, &#8221;Sekarang yang kalah harus mau diperlakukan apa saja, OK tuan-tuan?&#8221;</p>
<p>&#8221;Ya, ya, betul&#8221; kata suaminya, sambil bertanya padaku, &#8221;Gimana Gus, setuju?&#8221;<br />
&#8221;Aku ngikut aja dech&#8221; kataku sambil berharap akan sesuatu yang lebih erotis.</p>
<p>Henny kelihatan merengut, tapi tidak membantah.</p>
<p>&#8221;OK silakan, aku mau diapain nich?&#8221; katanya pasrah.</p>
<p>Anna menarik kedua tangan Henny dan membaringkan tubuh Henny di karpet. Lalu ia mencium bibir Henny sambil meminta suaminya mengerjai bagian bawah tubuh Henny dengan isyarat tangan.<br />
Suaminya memegangi kedua belah paha Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu mencium torok Henny yang bersih tanpa ditutupi rambut-rambut kemaluan itu.</p>
<p>Henny mengerang diperlakukan begitu oleh suami istri tersebut.<br />
Aku hanya memandangi mereka.</p>
<p>Tak lama kemudian kudengar Anna berkata, &#8221;Gus, kamu tidak ingin ikut menjatuhkan hukuman pada penjahat ini?&#8221;</p>
<p>Aku diam saja sambil menggelengkan kepala.</p>
<p>Anna kembali menciumi bibir Henny sambil meremas-remas tetek Henny, sedangkan Dicky sambil menciumi torok Henny, tangannya mencari tetek Henny yang sebelah lagi. Habislah Henny diserang oleh kedua orang itu. Lebih lama daripada yang tadi-tadi, ketiganya seakan tidak peduli atas kehadiranku, mereka terpaku pada apa yang ada di hadapannya.</p>
<p>Apalagi kulihat Anna sudah berganti posisi dengan suaminya, dan gilirannya mengerjai torok Henny, sedangkan suaminya kini menciumi tetek Henny, pentilnya dilumat hingga Henny semakin kuat merintih. Kedua tangan Anna kulihat memegang labia Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu dengan suatu gerakan lembut ia menjulurkan lidahnya menusuk liang torok Henny.</p>
<p>Henny merintih, &#8221;Oooouhhhh Annnnn, terusin&#8230; yang dalam sayang!!!! Yahh gitu sayangggg&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Remasan tangan Dicky pada tetek Henny berganti-ganti dengan gigitan lembut, membuat Henny semakin mengawang-awang menggapai kenikmatan.</p>
<p>Anna mendukung aksi suaminya dengan menjilati dan mengisap itil Henny.</p>
<p>Pantat Henny sesekali terangkat dan pinggulnya menggeliat-geliat diserang Anna.</p>
<p>Aku hanya melihat mereka sambil sesekali menelan ludah.</p>
<p>Anna menatapku dan menarik tanganku mendekati mereka. Ia mencium bibirku.</p>
<p>Kurasa aroma khas torok Henny pada ciuman Anna.</p>
<p>Kami berpagutan dengan erat.</p>
<p>Dicky masih terus mencium dan meremas tetek Henny.</p>
<p>Anna mengajakku bersama-sama mencium torok Henny.</p>
<p>Kuikuti ajakannya.</p>
<p>Tiba-tiba Henny berkata, &#8221;Udah dulu dong! Masak aku diserang tiga orang sekaligus?&#8221;</p>
<p>Kami tertawa-tawa.</p>
<p>Anna kemudian berkata, &#8221;Kita ke kamar aja yuk biar lebih enak pada permainan sesungguhnya?&#8221;</p>
<p>Dicky tidak menjawab, tapi mengikuti ucapannya.</p>
<p>Henny masih terbaring dengan napas tersengal-sengal menahan nafsu yang mendekati puncak.</p>
<p>Aku berdiri bergandengan dengan Anna mengikuti Dicky, tapi kutahan langkahku melihat Henny masih terbaring di karpet.<br />
&#8221;Kenapa Gus? Yah udah, kalau kamu kasihan pada Henny, gendong aja dia, udah lemes tuh!&#8221; katanya melepaskan tanganku.</p>
<p>Aku berlutut di samping Henny, kuletakkan tangan kiriku di bawah lehernya dan tangan kananku di bawah lututnya. Lalu tanpa meminta ijinnya, kugendong dia.</p>
<p>Kedua tangan Henny memeluk leherku seakan-akan takut jatuh.<br />
Sambil menggendongnya kulangkahkan kaki ke kamar tidur Dicky dan Anna.</p>
<p>Henny sesekali mengangkat lehernya dan mencuri cium bibirku.<br />
Aku membalas sambil membawa tubuhnya yang indah dan ketika tiba di kamar, tubuhnya kubaringkan di ranjang.</p>
<p>Anna sudah membaringkan tubuhnya lebih dulu di situ.</p>
<p>Begitu tubuh Henny terlentang di ranjang, Anna langsung memagut bibir Henny sambil jari-jarinya mengelus-elus sekujur tubuh Henny.</p>
<p>Dicky melihat mereka berdua sambil memberi isyarat padaku untuk menonton adegan yang dipertontonkan kedua perempuan itu.<br />
Henny membalas ciuman Anna dan balas menciumi bibir Anna dan dengan ganas turun ke leher dan dada Anna.</p>
<p>Anna kini ada di bagian bawah, dengan Henny di atas tubuhnya menciumi leher, tetek, perut dan kini mengarah ke paha Anna. Ciuman Henny berhenti di paha Anna dan kedua tangannya menguakkan labia torok Anna serta mencari itil dan menjilati torok Anna.</p>
<p>Anna tidak mau tinggal diam diperlakukan seperti itu, pantat Henny ia tarik dan ia tempatkan paha Henny tepat di atas wajahnya, lalu ia melakukan hal yang serupa terhadap Henny. Kedua perempuan itu kini berada dalam posisi 69. Saling mencium, menjilat, sambil mendesah, mengerang dan merintih. Rintihan mereka semakin memuncak ketika keduanya kami perhatikan menusukkan jari ke dalam torok yang lain sambil menciumi torok dan itil. Dengan suatu jeritan panjang, keduanya mengalami orgasme bersama-sama. Lalu keduanya saling berciuman bibir, bersama-sama berbagi lendir birahi yang diperoleh. Keduanya berpelukan di ranjang.</p>
<p>Sedangkan aku dan Dicky mendekati mereka berdua. Ranjang itu kini dimuati empat orang dewasa sekaligus. Anna ada di dekatku, sedangkan Henny ada di dekat suaminya.</p>
<p>&#8221;Gus, Henny pengen sekali kenalan dengan penismu&#8221; bisik Anna lembut di telingaku sambil menciumi dagu dan bibirku.<br />
&#8221;Hmmm, makin gila aja kita ini&#8221; kataku sambil membalas ciumannya.</p>
<p>Kulirik Dicky juga sedang berciuman dengan Henny.</p>
<p>Dicky semakin ganas menciumi bibir, leher dan dada Henny.<br />
Mungkin ia masih terpengaruh oleh adegan lesbian tadi yang ditampilkan kedua perempuan itu.</p>
<p>Aku sendiri merasa hampir orgasme tadi, tetapi kutahan dengan mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain.</p>
<p>Dicky menciumi setiap liku-liku tubuh Henny hingga kembali Henny mendesah dan mengerang.</p>
<p>Anna menciumi tubuhku hingga kontolku mencapai ketegangan puncak.</p>
<p>Saat akan kumasukkan kontolku ke dalam torok Anna, ia justru menolak tubuhku, &#8221;Ntar Gus, giliran Henny dulu. Sudah lama ia berharap.&#8221;</p>
<p>&#8221;Lho, dia kan sedang main dengan suamimu?&#8221; protesku.<br />
&#8221;Nggak apa-apa, kalian berdua kerjai dia dulu. Ntar baru giliranku. Sudah lama ia tidak dikunjungi suaminya. Haus banget tuh!&#8221; katanya menjawab protesku.</p>
<p>Kulihat Henny mendesah-desah diciumi toroknya oleh Dicky. Kedua tangannya meremas-remas teteknya.</p>
<p>Anna mendekati mereka berdua dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas tetek Henny.</p>
<p>Kedua tangan Henny kini mengelus punggung Anna sambil sesekali meremas tetek temannya.</p>
<p>Anna memainkan lidahnya dan menggelitik leher Henny.</p>
<p>Henny menggelinjang.</p>
<p>Tanganku ditarik oleh Anna mendekat, sehingga aku kini ikut ke dalam kancah pertempuran. Pantatku ditarik oleh Anna mendekati wajah Henny hingga kontolku tepat berada di atas mulutnya.<br />
Lidahnya mulai menjulur keluar dan menjilati kepala kontolku. Lalu ia mengangkat lehernya dan dengan bantuan tangan kirinya, dipegangnya kontolku memasuki mulutnya. Tak kalah dengan permainan lidah dan mulut Anna, Henny pun memainkan kontolku dengan hebatnya.</p>
<p>Aku merasakan darahku mengalir deras memasuki setiap sel di kontolku dan gelora birahi mencapai ubun-ubunku hingga rasanya sudah ingin mencapai orgasme. Tapi kutahan gelora tersebut.<br />
Kudengar Anna berkata pada suaminya, &#8221;Mas, kasih kesempatan pada Agus dong, biar mereka dulu yang main sayang!&#8221;</p>
<p>Suaminya bangkit dan memberi kesempatan padaku untuk mendekati bagian torok Henny.</p>
<p>Aku tidak lagi menciumi toroknya, kuatir pejuku muncrat. Kugesekkan kontol pada itilnya dan kemudian ke celah-celah toroknya.</p>
<p>Henny mengerang sambil menarik pantatku agar semakin dalam memasukkan kontol ke dalam toroknya.</p>
<p>Aku menancapkan kontol ke dalam toroknya dengan irama pelan namun teratur.</p>
<p>Henny semakin meracau mendapat perlakuan demikian, &#8221;Gus, yang dalam dong. Cepetan, aku sudah nggak kuat nich?&#8221; pintanya.</p>
<p>&#8221;Nggak ku ku nich yeee?&#8221; goda Anna dan ditimpali suaminya dengan ucapan, &#8221;Iya tuh Gus, masak tidak kasihan pada kaum yang lemah sich?&#8221;</p>
<p>Kupercepat gerakan pantatku menekan sambil melempar senyum pada Anna dan Dicky. Sambil memaju-mundurkan pantatku, dalam hati aku berterima kasih pada kedua suami istri ini, sebab mereka membuatku dapat merasakan torok perempuan Sunda seperti Henny.</p>
<p>Agak beda dengan Anna. Di bagian dalam toroknya seakan-akan ada mpot ayamnya.</p>
<p>Tak ingin menyerah padanya, kutarik kontolku keluar toroknya dan kupegang kontolku pada pangkalnya dengan tangan kananku lalu kugesek-gesekkan kembali pada itilnya.</p>
<p>Henny mendesah dan merintih semakin lirih, &#8221;Gussss, ayooooo masukin lagi sayang! Aku mau sampai nich&#8230; Oooouggghhhh enak banget siccchhhh?&#8221;</p>
<p>Geliat pinggulnya semakin cepat.</p>
<p>Teteknya diciumi dan diremas oleh Dicky sedangkan bibirnya dilumat lagi oleh Anna.</p>
<p>Diserang bertiga begitu, tentu saja ia blingsatan.</p>
<p>Kembali kontol kumasukkan sedalam-dalamnya ke toroknya.</p>
<p>&#8221;Ahhhhhh, nikmaattttnya Gusss!!!&#8221; rintihnya.</p>
<p>Gerakanku kini semakin kencang mengimbangi geliat tubuhnya, apalagi ketika pantatnya terangkat-angkat seakan-akan menginginkan kontolku masuk lebih dalam lagi. Kuletakkan kedua tanganku di bawah pinggulnya dan agak kuangkat pantatnya hingga hunjaman kontolku semakin dalam.</p>
<p>Kedua pahanya melingkari pinggulku dengan ketat.</p>
<p>&#8221;Kuat benar perempuan Sunda ini, jepitannya maut&#8221; batinku.<br />
&#8221;Ahhhh, Guss&#8230; Aku dapat&#8230;&#8230; oooooouuugghhhh&#8230; sshshhhhh&#8221; jeritnya sambil menyorongkan pantat dan pinggulnya ke arah pahaku sehingga kedua kemaluan kami begitu rapat menyatu, seakan tak dapat dipisahkan lagi.<br />
&#8221;Ya sayang, sama-sama, aku juga dapet niccchhh&#8230; Akkkkhhhh&#8230;&#8221; geramku sambil menancapkan kontol hingga ke pangkalnya.</p>
<p>Kurasakan mpot-mpot ayam di dalam toroknya meremas-remas kepala kontol dan denyutan dinding toroknya begitu hebat menjepit kulit batang kontolku.</p>
<p>Kuhentakkan beberapa kali kontol sedalam-dalamnya ke dalam torok Henny.</p>
<p>Dicky meremas dan menggigit mesra tetek Henny bergantian kiri dan kanan, sedangkan Anna tak melepaskan bibir Henny dari pagutan mautnya.</p>
<p>Henny masih terengah-engah waktu kucabut kontolku.</p>
<p>Dicky yang melihat Henny terbaring mencoba mengarahkan kontolnya ke dalam torok Henny, tapi Henny menolak, &#8221;Jangan dulu Dick, masih lemas nich! Kamu dengan Anna dulu dech!&#8221;<br />
Dicky tampak agak kecewa, tapi Anna mencium bibir Dicky sambil menghibur, &#8221;Benar sayang, kenapa kamu tidak denganku saja dulu, ntar kalau Henny sudah segar lagi, baru kau kerjai dia.&#8221;</p>
<p>Dicky tak menjawab. Setelah membalas ciuman Anna, ia menyuruh istrinya nungging dan menempatkan diri di belakang istrinya. Entah ia dendam atas kata-kata istrinya, ia tidak pakai aba-aba lagi, bukannya memasukkan kontolnya ke dalam torok, malah ia langsung mengarahkan kontolnya ke dubur Anna.</p>
<p>Anna yang juga sudah naik birahi melihatku main dengan Henny, menerima saja perlakuan suaminya. Namun ia menempatkan wajahnya di antara kedua pahaku yang berbaring di samping Henny. Sambil menikmati hunjaman kontol suaminya, ia mencium dan menjilati kontolku yang masih belepotan dengan lendir kawin temannya dan pejuku. Tanpa merasa jijik sedikit pun, ia melakukan hal itu, sambil menggenggam kontolku yang kembali tegang diperlakukan seperti itu.</p>
<p>Henny tersenyum melihat mereka dan melabuhkan ciumannya pada bibirku.</p>
<p>Aku meraba tetek Henny sambil menikmati kuluman bibir dan jilatan lidah Anna pada kontolku.</p>
<p>Henny kembali terangsang kuremas dan kurabai teteknya.</p>
<p>Tapi aku tidak memberikan peluang untuknya lagi, sebab sudah punya rencana sendiri. Kuangkat wajah Anna dari celah-celah pahaku dan kupindahkan ke torok Henny.</p>
<p>Semula Anna mau protes, tetapi ia mungkin belum mengerti apa yang akan kulakukan.</p>
<p>Aku bangkit dari posisi berbaring dan kutarik tubuh Anna agar berada pada posisi berlutut. Sambil tetap dikerjai suaminya dari belakang, aku ciumi bibir Anna dan kutempatkan tubuhku tepat di bawah tubuhnya. Kini toroknya tepat berada di atas kontolku. Kuarahkan kontolku ke toroknya sambil terus menciumi bibirnya.</p>
<p>Anna tersenyum, sekarang baru ia mengerti mengapa aku menaruh wajahnya tadi pada torok temannya.</p>
<p>Kini kontolku berada di dalam torok Anna, sedangkan kontol suaminya menancap di dubur Anna. Mulutku kuarahkan pada tetek Anna agar ia kembali dapat mencium dan menjilati torok temannya.</p>
<p>Henny kembali diserang oleh Anna yang mendapat keroyokan suaminya dan aku.</p>
<p>Anna semakin mendesah dan rintihannya seperti biasanya, yang cenderung ke arah jeritan, membahana ketika kontol suaminya semakin cepat masuk keluar duburnya, sedangkan kontolku masuk keluar ketika ia memaju-mundurkan tubuhnya di atasku.</p>
<p>&#8221;Aaaauuuuhhhhh, enakknnyaaa&#8230; Aduuuhhhh&#8230; nikmat !!!â€ keluar dari dalam mulutnya.</p>
<p>Suaminya memegang kedua pinggulnya sambil menghentakkan kontol sedalam-dalamnya sambil bertanya, â€œMana yang paling enak, sayang? Punyaku di pantatmu atau punya Agus di torokmu?â€</p>
<p>Anna menjawab di sela-sela rintihannya, â€œSsshshh, aaaahhhhh&#8230; punyamu enak banget sayang, besar dan panjang, tapi jangan terlalu kuat, ntar pecah ususku, sayang! Ooouggghhhh, punyamu juga enak Gus, tidak terlalu besar, eeehhhsss, tapi mainnya lincah banget sichhhhh? Ohhhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Dicky memperlambat laju pantatnya maju mundur di belakang pantat Anna.</p>
<p>Henny kudengar merintih makin kuat, mungkin sebentar lagi ia akan orgasme pula.</p>
<p>Dicky mengerang dan memeluk tubuh istrinya kuat-kuat dari belakang.</p>
<p>Ia rupanya sudah orgasme.</p>
<p>Anna, entah karena sudah sering kami kerjai berdua, semakin kuat melawan, agak lama baru orgasme.</p>
<p>Pada puncak orgasmenya, ia menggeram kuat-kuat dan memeluk punggungku dengan kuatnya sambil mencium bibirku dan menggigit lidahku, sementara teteknya diremas kuat-kuat oleh tangan suaminya dari belakang. Bersamaan dengan itu, jari-jarinya menekan itil dan torok Henny, dan kudengar Henny juga menjerit, &#8221;Annnn, aduuhhhh aku dapet lagi sayang!!!!&#8221;</p>
<p>Aku sendiri, karena baru orgasme waktu dengan Henny, belum keluar lagi.</p>
<p>Dengan kontol yang mulai layu, Dicky menarik tubuhnya dari belakang tubuh istrinya.</p>
<p>Istrinya masih berbaring menelungkup di atas tubuhku sambil menikmati kontolku yang masih tegang dalam toroknya.</p>
<p>Dicky beringsut ke dekat Henny dan berciuman sambil berpelukan dengan Henny sambil menyaksikan istrinya masih menindih tubuhku di bagian bawah mereka</p>
<p>Torok Anna masih berdenyut-denyut menjepit kontolku. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuhnya dari atasku dan menarik diriku berbaring di dekat suaminya dan Henny. Kami berempat berbaring bersisian sambil sesekali berciuman atau mengusap lembut tubuh yang lain.</p>
<p>Setengah jam kemudian Henny bangkit menarik tanganku dan Dicky dan mengajak kami berdua main lagi dengannya.</p>
<p>Rupanya ia penasaran melihat temannya kami serang berdua tadi.<br />
Dicky tidak menolak. Ia berciuman dengan Henny sambil mengusap-usap tetek Henny dan merabai toroknya.</p>
<p>Aku masih berbaring menatap mereka berdua sambil mengelus-elus tetek Anna.</p>
<p>Kutoleh ke arah Anna seolah meminta persetujuan, Anna seakan mengerti maksud tatapanku, berkata, &#8221;Ayo Gus, kamu ladeni lagi Henny. Ia juga kuat koq, jangan kuatir ia bakal pingsan ntar. Kamu udah tahu kehebatan memeknya tadi, kan?&#8221;</p>
<p>&#8221;Iya tuh, kayak ada cincin baja aja dalam memeknya, penisku hampir tak bisa bernafas dibuatnya&#8221; kataku bercanda.<br />
&#8221;Emangnya aku tukang besi, sampe memasukkan cincin baja ke dalam memekku?&#8221; bantah Henny di sela-sela ciuman bibirnya dengan Dicky.</p>
<p>Kami berempat tertawa.</p>
<p>Aku masih berbaring ketika Dicky menempatkan tubuh Henny di atas tubuhku. Rupanya Dicky ingin aku mengerjai dubur Henny sambil ia memasukkan kontolnya ke dalam torok Henny.</p>
<p>Henny berjongkok di atas pinggangku, membelakangi wajahku dan perlahan-lahan menaruh kontolku tepat di atas duburnya.</p>
<p>Kurasa ia agak mengalami kesulitan, sebab agak lama barulah kontolku dapat memasuki duburnya.</p>
<p>&#8221;Aaauuuhhh, koq agak sakit An? Waktu kamu masukkan penis buatan koq tidak sesakit ini?&#8221; tanyanya pada Anna.<br />
&#8221;Penis buatan kan lebih kecil daripada kontol Agus, sayang! Coba kamu nikmati, ntar lagi bakalan enak deh, dijamin halal&#8221; katanya.</p>
<p>Henny tidak menjawab, desah kesakitan yang keluar dari mulutnya berganti dengan rintihan nikmat, agaknya ia mulai merasakan kenikmatan akibat masuknya kontolku ke dalam duburnya. Sejenak kami berdua merasakan posisi tersebut.</p>
<p>Anna kulihat berlutut di sebelah kiri kepalaku, meremas-remas tetek Henny sambil memberikan toroknya kukerjai.</p>
<p>Dicky mendekati Henny dan menempatkan kontolnya ke torok Henny. Maka mulailah episode baru seperti yang dialami Anna tadi, dengan pemain utama yang berbeda, yaitu Henny.</p>
<p>Henny melenguh pelan waktu kontol Dicky yang agak besar melesak ke dalam toroknya.</p>
<p>&#8221;Ehssshhhh, pelan-pelan Dick, penismu jumbo sich!&#8221; desisnya disertai tawa ringan Anna mendengar gurauan temannya terhadap kontol suaminya, &#8221;Emangnya ikan lele, Hen?&#8221;</p>
<p>Desahan nikmat Henny bercampur erangan Dicky dan aku.</p>
<p>Anna belum terdengar mengerang, mungkin karena toroknya belum tuntas kukerjai.</p>
<p>Kedua tangan Henny bertumpu ke belakang menahan tubuhnya, sedangkan Dicky terus memasuk-keluarkan kontolnya ke dalam toroknya, sementara kontolku dari bawah berada pada posisi pasif bergantung pada kehendak Henny menaik-turunkan pantatnya agar duburnya masuk keluar menikmati hunjaman kontolku.</p>
<p>Kugeser letak kedua paha Anna agar berpindah tempat hingga kini posisinya berlutut tepat di atas wajahku, tubuhnya tepat berada di belakang Henny, menyangga tubuh Henny yang melengkung ke belakang di atas tubuhku.</p>
<p>Kulihat dari bawah, kedua tangan Anna meremas-remas tetek Henny.</p>
<p>Terangsang melihat ulahnya, kuarahkan kedua tanganku meremas-remas kedua tetek Anna.</p>
<p>Dicky kudengar semakin kuat menggeram, mungkin ia semakin dekat ke puncak kenikmatannya. Laju kontolnya kurasa semakin cepat di atas tubuhku, masuk keluar torok Henny. Desahan kami berempat bercampur, tetapi rintihan kedua perempuan itu mengalahkan suara Dicky dan aku.</p>
<p>Lendir kawin Anna semakin deras menetes ke dalam mulutku.<br />
Apalagi sewaktu kujulurkan lidahku dalam-dalam ke liang toroknya atau ketika itilnya kuisap kuat-kuat.</p>
<p>&#8221;Sssshh, terusin Gus, yah, yahhhhh gitu sayang! Enakkkkhhh tuuuuhhh, ooouggghhh&#8230;&#8221; rintihnya sambil meliuk-liukkan tubuh di atas wajahku.</p>
<p>Kupercepat isapan pada itilnya sambil memberi variasi dengan menjilat dan mengisap kedua labia toroknya bergantian, kiri kanan.</p>
<p>&#8221;Henn, aku mau keluar nih&#8230; Kamu sambut ya sayang?&#8221; kudengar suara Dicky dan tiba-tiba ia mencabut kontolnya dan mengarahkannya ke mulut Henny.</p>
<p>Henny menyambut gembira kontol Dicky. Digenggamnya dengan tangan kanan batang kontol Dicky sedang tangan kirinya mengusap lembut buah pelir Dicky. Beberapa isapan mulutnya membuat Dicky tak kuasa lagi menahan semprotan pejunya dan ia mendorong kontolnya ke dalam mulut Henny.</p>
<p>Anna kulihat semakin kuat menggeliat dan mengerang.</p>
<p>Agaknya ia pun bakal menyusul suaminya.</p>
<p>&#8221;Ooohhh, Gus, aku orgasme sayang!&#8221; erangnya sambil menggesek-gesekkan labianya ke wajahku.</p>
<p>Habislah wajahku dipenuhi oleh memeknya yang basah dengan sedikit rambut-rambut jembut halusnya. Kedua suami istri itu kemudian saling berpelukan dan berciuman sambil melihat kami berdua, Henny dan aku masih dalam posisi semula.</p>
<p>&#8221;Tukar posisi dulu Hen, biar kamu cepet sampai!&#8221; saran Anna.</p>
<p>Henny bangkit berdiri hingga kontolku keluar dari dalam duburnya. Lalu ia menungging membelakangiku, berharap aku mengerjainya dengan doggy style.</p>
<p>Aku berdiri di belakang tubuhnya, mengusap-usap pahanya yang putih mulus dan dengan perlahan-lahan memegang kedua pangkal pahanya dengan kedua tanganku.</p>
<p>&#8221;Lho, mau pakai gaya apa Gus?&#8221; tanyanya penasaran.<br />
&#8221;Tenang saja, sayang, pokoknya nikmati saja!&#8221; kataku sambil mengangkat kedua belah pahanya mendekati pinggangku dan kuarahkan kontolku ke dalam toroknya.</p>
<p>Diperlakukan begitu olehku, kedua tangannya hampir tak kuat menahan tubuhnya, ia menahan tubuh bagian atasnya dengan kedua siku tangannya sedangkan toroknya mulai disusupi oleh kontolku.</p>
<p>Dengan doggy style yang divariasi begini, membuat tusukan kontolku pada itil dan liang kawinnya semakin maksimal, dan desahan Henny berganti menjadi jeritan-jeritan kecil penuh kenikmatan, &#8221;Ahhh, nikmat sekali An! Pinter banget temanmu ini memberi kenikmatan padaku?&#8221;</p>
<p>Anna hanya tersenyum memandangi Henny.</p>
<p>Suaminya Dicky duduk bersandar di punggung ranjang menatap kelakuan kami.</p>
<p>kontolku masuk keluar torok Henny semakin kuat. Kedua belah pahanya kutarik dan kudorong makin cepat hingga kontolku mendapat tekanan yang hebat ketika kutarik kedua pahanya, tetapi ketika kudorong ke depan, denyutan toroknya seolah-olah tak rela ditinggalkan kontolku. Dengan beberapa kali hentakan, kuhantarkan Henny ke puncak kenikmatan birahinya.<br />
Teriakan panjangnya terdengar, tetapi dengan cepat mulutnya disumpal oleh mulut Anna yang begitu lincah memagut, &#8221;Auuuggghhhh, mmmppppfff&#8230; Aaahhh.&#8221;</p>
<p>Kami berempat berbaring sambil meredakan nafas yang terengah-engah.</p>
<p>Aku masih belum orgasme lagi sementara mereka bertiga sudah mendapatkan orgasme barusan.</p>
<p>Rasa kurang puasku agaknya dipahami Anna yang tahu bagaimana daya tahanku, sebab ia selama ini sangat tahu bagaimana cara memuaskanku.</p>
<p>&#8221;Kalian berdua di sini dulu, ya? Aku mau berduaan dengan Agus dulu&#8221; katanya sambil menarik tanganku dan turun dari ranjang.<br />
&#8221;Wah, ada rahasia apa nih Dick, koq kita berdua tidak diajak ya?&#8221; goda Henny sambil melihat ke arah Dicky.</p>
<p>Dicky hanya mengangkat bahu sambil menarik tangan Henny agar mendekati dia. Dicky memeluk tubuh Henny sambil mencium bibirnya dengan lembut.</p>
<p>Henny membalas dan mereka kembali terlibat dalam ciuman yang memabukkan, tak peduli lagi terhadap Anna dan aku.</p>
<p>Dengan bertelanjang, Anna menarik tanganku. Kami berdua melangkah ke ruang tengah. Anna mengajakku ke arah sofa, tapi tidak untuk duduk, melainkan menempatkan tubuhnya di atas sandaran sofa dengan kaki kanannya naik mengangkangi sandaran sofa, sedangkan kaki kirinya menapak ke lantai.</p>
<p>Ini salah satu variasi dari doggy style yang juga merupakan salah satu posisi favoritnya.</p>
<p>Perlahan-lahan kugesekkan kontolku ke toroknya dari belakang.<br />
Masih lembab kurasakan toroknya.</p>
<p>&#8221;Masukin Gus, ayo!&#8221; pintanya.</p>
<p>Kumasukkan kontolku makin dalam ke toroknya. Beberapa tusukan yang kulakukan membuat Anna merintih, tidak hanya mendesah. Itu akibat tekanan kontolku pada itil dan dinding toroknya.</p>
<p>&#8221;Lebih cepat lagi, sayang!!!&#8221; rengeknya manja.</p>
<p>Kuikuti permintaannya dengan semakin mempercepat laju pantatku maju mundur, sehingga penisku makin cepat masuk keluar toroknya. Kedua tanganku kujulurkan ke depan merabai kedua teteknya, yang kiri berada di sebelah kiri sandaran sofa sedang tetek kanannya berada di sebelah kanan sandaran sofa. Remasan tanganku pada kedua teteknya ditambah tusukan kontolku membuatnya makin terangsang hebat. Apalagi ketika tubuhku kutempatkan tepat di atas punggungnya sambil meremas dan menusuk, kujilati punggungnya dan sesekali menggigit lembut pundaknya.</p>
<p>Rintihan Anna semakin menaik dan geliat pinggulnya semakin kuat, &#8221;Guuusss&#8230; aaaahhhhh&#8230; enaknyaaa&#8230; Aku dapat lagiiiii sayangggg&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku ingin bersamaan mencapai puncak persetubuhan, sehingga berusaha mengejar dirinya dengan semakin kuat menggerakkan kontolku di dalam toroknya yang semakin kuat menyedot kontolku. Denyutan dinding toroknya membuat kontolku sampai pada puncak aksinya dan dengan suatu erangan kenikmatan, kutusukkan kontolku sedalam-dalamnya sambil memeluk tubuh Anna dan meremas teteknya.</p>
<p>kontolku merasakan kenikmatan yang hebat sewaktu kepala kontolku kubenamkan dalam dan membiarkannya di dalam toroknya.<br />
Kedutan-kedutan halus kurasakan pada kepala kontolku, hingga rasanya aku tak lagi menjejak bumi.</p>
<p>&#8221;Plok, plok, plok, plok&#8221; kudengar suara tepukan dua pasang tangan.</p>
<p>Rupanya Dicky dan Henny sudah berdiri tinggal beberapa meter dari kami dan melihat kami berdua main.</p>
<p>&#8221;Ada acara nambah nich yee?&#8221; gurau Henny sambil mendekati kami dan bersama-sama Dicky duduk di sofa dekat kami.</p>
<p>Aku tersenyum mendengar kata-kata Henny. Beberapa saat kemudian kucabut kontolku dan berdiri lalu mengambil tempat duduk di dekat mereka.</p>
<p>Anna lalu menyusul hingga kami berempat duduk di sofa dalam keadaan masih bertelanjang bulat.</p>
<p>&#8221;Aku jadi pengen lagi nih Dick. Gimana, bisa bantu aku nggak?&#8221; tanya Henny pada Dicky.<br />
&#8221;Sepanjang bisa kulakukan, silakan tuan putri&#8221; sambut Dicky dengan gaya seorang hamba terhadap tuan putrinya.</p>
<p>Henny lalu berdiri dan mengalungkan kedua lengannya ke leher Dicky, sambil mencium bibir Dicky ia berbisik pelan tanpa dapat aku dan Anna dengar apa yang ia bisikkan.</p>
<p>Kami hanya tersenyum melihat ulah Henny.</p>
<p>Setelah beberapa saat mereka berciuman sambil berpelukan dalam keadaan berdiri, tiba-tiba kami amati Dicky berjongkok dan memegang pergelangan kaki Henny lalu membalikkan tubuh Henny hingga kini kedua tangan Henny bertumpu ke lantai sedangkan kedua kakinya berada di atas dipegangi oleh kedua tangan Dicky pada bagian pergelangan kakinya.</p>
<p>&#8221;Posisi 69 dimodifikasi&#8221; bisik Anna perlahan.<br />
&#8221;Asyik juga tuch. Kapan-kapan kita coba ya, Gus?&#8221; sambungnya.</p>
<p>Aku mengangguk sambil menatap lekat-lekat pada Dicky dan Henny.</p>
<p>Sambil bertumpu pada kedua tangannya yang ada di lantai, kepala Henny bergerak-gerak mendekati pangkal paha Dicky mencari kontolnya. Lalu lidahnya mencium dan menjilati kontol Dicky.</p>
<p>Dicky sendiri tidak tinggal diam, diperlakukan demikian, ia tak kalah ganasnya, lidahnya terjulur ke torok Henny yang ada tepat di depan wajahnya. Keduanya saling mencium, menjilat dan mengisap kemaluan yang lain dalam posisi enam sembilan, namun dalam posisi si pria berdiri, sedangkan si perempuan berada pada posisi terbalik dengan kedua tangannya bertumpu di lantai.</p>
<p>Anna bangkit berdiri mendekati mereka berdua. Ia mendekati belakang tubuh Henny dan menciumi pantat Henny. Kadang-kadang mulutnya bertemu dengan mulut suaminya. Mereka berciuman dan sesekali sama-sama menjilat torok Henny. Lubang dubur Henny tak luput dari jilatan lidah mereka berdua. Henny benar-benar dikerjai habis-habisan oleh kedua suami istri itu. Rintihan Henny tak membuat mereka menghentikan aksinya, bahkan semakin liar mencium, menjilat dan jari-jari Anna turut bekerja masuk keluar torok dan dubur Henny, hingga tak kuasa lagi Henny pun meraung mencapai titik kenikmatan birahi tertinggi.</p>
<p>Entah bagaimana cara mereka mengerjai Henny, tapi aku terkejut juga sewaktu melihat Henny menjerit, sebab dari toroknya kulihat cairan muncrat beberapa kali.</p>
<p>&#8221;Mungkin karena ia benar-benar sampai kepada kenikmatan birahi yang tak terkira hingga air seninya turut keluar bersamaan dengan cairan kawinnya&#8221; pikirku.</p>
<p>Dan kuingat kejadian yang suka dialami Anna kalau main sampai begitu hebatnya denganku.</p>
<p>Dicky mengangkat dan meletakkan tubuh Henny di sofa panjang tepat di samping kiriku.</p>
<p>Anna mengambil tempat di sebelah kananku, sedangkan Dicky duduk di sebelah kiri Henny. Beberapa ciuman didaratkan Dicky pada bibir Henny. Anna tak kalah buas dengan suaminya, memagut bibirku dengan lahapnya sambil jari-jarinya mengelus-elus dadaku.</p>
<p>Henny sendiri mengelus-elus kontolku sambil terus berciuman dengan Dicky.</p>
<p>Aku melirik ke jam dinding, menunjukkan pukul 02.30.</p>
<p>Tiga jam sudah kami berempat melakukan hubungan seks gila-gilaan sejak main kartu tadi.</p>
<p>Setelah mengaso beberapa saat, Dicky kembali terangsang sebab elusan jari-jari Henny pada kontolnya membuat kontolnya kembali tegang.</p>
<p>Bertelekan pada sofa kecil tanpa sandaran, dengan sebelah kaki menekuk, Henny dihajar dari belakang oleh Dicky.</p>
<p>Melihat mereka, Anna tak mau ketinggalan. Ia memintaku melakukan hal yang sama dalam arah yang berlawanan, sedemikian rupa hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Henny.</p>
<p>Aku menyetubuhi Anna dari belakang, sedang suaminya, Dicky, menancapkan kontolnya ke torok temannya, Henny.</p>
<p>Dicky dan aku makin terangsang dan mempercepat laju permainan kami manakala melihat Henny dan Anna berciuman dengan mesranya sambil tangan mereka bermain meremas-remas tetek satu sama lain.</p>
<p>Dicky tak lama kemudian orgasme dan menarik diri dari arena pertempuran, namun kedua perempuan itu belum mencapai puncak kenikmatan persenggamaan lagi.</p>
<p>Kubaringkan tubuhku di karpet dan meraih tubuh Henny agar menindih tubuhku.</p>
<p>Dengan posisi menduduki perutku berhadapan denganku, Henny memasukkan kontolku ke dalam toroknya lalu mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku.</p>
<p>Anna yang melihat permainan kami berlutut di samping kami berdua.</p>
<p>Kuraih pahanya agar mendekatiku, dan kutempatkan toroknya tepat di atas wajahku.</p>
<p>Dengan aku berbaring di bawah tubuh mereka berdua, kontolku menancap dengan mantapnya di dalam torok Henny, sedangkan torok Anna kucium dan jilat semakin gencar.</p>
<p>Permainan bertiga kami semakin hangat ketika kedua perempuan itu saling berciuman. Sambil berciuman, Henny meremas-remas tetek Anna dan mengelus-elus pentilnya.</p>
<p>Tak mau ketinggalan aksi, Anna pun meremas-remas tetek temannya, bahkan sesekali menarik-narik pentilnya hingga mata Henny membeliak-beliak menahan nikmat.</p>
<p>Gerakan Henny semakin buas naik-turun di atas perutku.<br />
Kusambut gerakannya dengan sesekali menaik-turunkan pinggul hingga kontolku benar-benar masuk sedalam-dalamnya ke toroknya.</p>
<p>Anna membantu aksiku dengan merabai itil temannya pakai tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus meremas tetek Henny dan memilin-milin pentilnya.</p>
<p>&#8221;Uuuhh, oooohh&#8230; Sssshhhh&#8230; Gila kamu An, diapain klitorisku?&#8221; desahnya sambil terus menarik-turunkan tubuhnya dan meremas-remas tetek Anna.</p>
<p>Diserang dari dua jurusan seperti itu, membuat Henny makin kencang menggeliat-geliatkan tubuhnya dan dengan satu lengkingan kuat, ia mencapai orgasme.</p>
<p>Dengan lincahnya, Anna memagut bibir temannya kuat-kuat dan memegang kedua tetek Henny dengan remasan yang amat kuat, sehingga kedua pentilnya kulihat menyembul begitu indah dan runcing.</p>
<p>Lengkingan Henny berubah menjadi rintihan ketika Anna mencium bibirnya dan menyedot pentil teteknya secara bergantian dengan gerakan yang cepat, &#8221;Ooohhhh, ssss&#8230; Ahhhhh&#8230; ooouuggghhhhh&#8230; Annnn&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8221;Luar biasa kedua perempuan ini, tak kenal lelah. Pantas Dicky suka kewalahan melayani istrinya yang begini kuat main seks&#8221; kataku dalam hati.</p>
<p>Anna kemudian menggeser tubuh Henny agar bangkit berdiri. Anna kemudian menempatkan tubuhnya di atas perutku, seperti posisi yang barusan dilakukan temannya dan menarik tubuh Henny agar berganti dengannya.</p>
<p>Diserang dari dua jurusan seperti itu lagi, membuat kontolku terus tegang dan kembali memasuki torok yang berbeda.</p>
<p>Kini torok Anna dengan sedikit rambut-rambut jembut halusnya mendapat giliran untuk kuhantarkan ke gerbang kenikmatan birahi. Torok Henny yang masih basah kuyup dan tetesan lendir kawinnya di sela-sela pahanya, kujilati dengan lembut dan kumasukkan lidahku ke dalam toroknya, menelan seluruh lendir birahi yang masih tersisa di dalam.</p>
<p>Anna bergerak naik turun di atas perutku, tak ingin kalah aksi dengan temannya barusan, ia pun menggeliat-geliatkan tubuhnya sedemikian rupa dengan gerakan erotis, hingga kontolku kurasa mendapatkan remasan yang kuat dan denyutan yang luar biasa di dalam toroknya. Sesekali ia menghentikan gerakannya dan berkonsentrasi pada toroknya yang melakukan gerakan menyedot dan mengisap kontolku.</p>
<p>Denyutan dinding toroknya begitu nikmat membuatku seakan-akan terbang di angkasa.</p>
<p>Rupanya ia ingin menunjukkan kebolehannya dibandingkan temannya tadi.</p>
<p>Henny tersenyum melihat aksi temannya dan meremas-remas tetek Anna. Sesekali Henny menampar ringan pantat Anna, sehingga Anna memekik-mekik, &#8221;Ahhh&#8230; Ooohhh&#8230; terusin Hen&#8230;&#8230; oooohhh&#8230; ssssssshh&#8230; adddduuuhhhhh&#8230; nikmaatttt&#8230; aaahhhhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Menyaksikan perbuatan kedua perempuan di atasku, membuatku tambah bersemangat.</p>
<p>Kuhentakkan pinggul dan perutku kuat-kuat ke atas, hingga tubuh Anna tersentak ke atas, &#8221;Oooouuggghhh&#8230;&#8230; enak Gussss&#8230; Oooohhhh&#8230; sssshhh&#8230;&#8221; desisnya seperti orang kepedasan.</p>
<p>Remasan Henny pada tetek Anna membuat Anna semakin kuat menggeliat-geliatkan tubuhnya dan kembali ia menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku.</p>
<p>Sementara itu, jilatan dan isapan bibir dan lidahku semakin ganas mengerjai torok dan itil Henny. Sesekali lubang duburnya kukait-kait dengan lidahku, hingga Henny pun kembali merintih.</p>
<p>Merasakan rangsangan pada toroknya, membuat Henny kembali menciumi bibir Anna dengan kuat. Henny dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba bertahan, tetapi dengan isapan bibirku dan jilatan lidahku, membuatnya tak lama kemudian kembali orgasme.<br />
&#8221;Aaaahhhh&#8230; Gus, aku dapat lagiiiii sayangggg!&#8221; rintihnya.<br />
&#8221;Hebat juga, bisa berturutan dalam waktu berdekatan, ia capai kembali puncak kenikmatan birahi&#8221; batinku.</p>
<p>Ia mencoba menarik kedua pahanya dari serangan mulut dan lidahku, tetapi kutahan kedua pahanya dengan tanganku sambil meremas-remas teteknya.</p>
<p>Anna yang melihat temannya sudah orgasme lagi, membalas ciuman Henny dan membelai-belai punggung Henny, meremas-remas pantat dan juga tetek temannya.</p>
<p>kontolku yang dikerjai Anna semakin tak kuasa membendung aliran yang akan keluar.</p>
<p>&#8221;Ann&#8230; uuuuhhh&#8230; aku mau keluar, sayanggggg!!!&#8221; erangku sambil menggerakkan pinggulku ke kiri dan kanan.<br />
&#8221;OK sayang, kita bareng ya? Aku juga mau dapet nihhh&#8230; Ayo tancap yang kuat, oooohhhhh&#8230; uuuuhhh&#8230; mmmmfffhhhhhh&#8230;&#8230; Ooooouuugggghhhh&#8230;&#8221; rintihan Anna berubah menjadi jeritan memenuhi ruangan itu.</p>
<p>Kurasakan aliran pejuku keluar dengan derasnya ke dalam torok Anna.</p>
<p>Anna pun mencapai kenikmatan hingga tubuhnya melengkung ke belakang disertai serangan bibir dan lidah Henny pada teteknya. Agak lama Anna melakukan itu, denyutan liang kawinnya meremas-remas kontolku masih terasa begitu kuat, ketika Henny menarik dirinya dari atas wajahku dan menciumi bibir temannya. Kedua perempuan itu berciuman dengan mesra sambil mengelus-elus tubuh yang lain secara serempak. Anna mangangkat tubuhnya dan mengeluarkan kontolku dari dalam toroknya, lalu seolah-olah sudah sepakat, keduanya menundukkan muka di pangkal pahaku dan menciumi kontolku. Jilatan lidah keduanya membuat aku semakin mengawang.</p>
<p>Kedua tanganku kugunakan untuk meremas-remas tetek kedua perempuan itu.</p>
<p>Rasa geli bercampur nikmat memenuhi diriku.</p>
<p>Lidah yang satu bergantian menjilati kepala kontolku. Batang kontolku tak luput dari sasaran mereka. Bahkan buah pelirku turut dikulum dimasukkan ke dalam mulut mereka secara bergantian. Henny yang pertama-tama kulihat memasukkan kontolku ke dalam mulutnya hingga masuk sedalam-dalamnya. Sekitar tiga menit ia melakukan itu, lalu menyorongkan kontolku ke mulut Anna.</p>
<p>Anna menyambut dan menciumi kepala kontolku, lubang kencingku dijilatinya dan dengan lahapnya ditelannya kontolku hingga ke pangkalnya, persis seperti yang dilakukan temannya barusan. Setelah puas menelan kontolku secara bergantian, mereka berciuman sambil memegangi kontolku.</p>
<p>Permainan itu mengakhiri sesi kami saat itu.</p>
<p>Sebab setelah sama-sama orgasme, kedua perempuan itu mengajak kami masuk kamar lagi dan akhirnya kami berempat tidur dalam keadaan telanjang hingga pukul 9 pagi.</p>
<p>Paginya kami mandi berempat dan sempat saling berciuman di kamar mandi, tetapi tak ada permainan panas lagi di situ, sebab perut kami sudah lapar minta diisi.</p>
<p>Anna hanya memanaskan nasi dan menggoreng telur mata sapi untuk sarapan kami berempat, lalu kami berempat duduk-duduk di teras belakang membahas permainan kami semalam sambil tertawa-tawa.</p>
<p>Begitulah pengalamanku main berempat dengan Dicky, istrinya Anna dan teman istrinya, Henny.</p>
<p>Sebelum hamilnya Anna, pernah ia mengajakku menginap di rumahnya waktu suaminya bertugas ke Hong Kong selama 2 minggu.<br />
Waktu aku menginap itu, temannya Henny datang beberapa kali sehingga kami bertiga melakukan hubungan seks panas.</p>
<p>Dua hari menjelang pulangnya Dicky, Henny menginap lagi bersama kami, tetapi kali ini ia tidak sendiri, melainkan membawa seorang temannya, Arie, seorang gadis lajang peranakan Madura Ambon, orangnya tomboy, tidak cantik, tetapi dengan kulitnya yang hitam manis, dengan sedikit kumis tipis di atas bibirnya, membuat dirinya menarik, walaupun teteknya paling kecil dibandingkan Anna dan Henny.</p>
<p>Mula-mula aku tak begitu senang karena melihatnya ngomong ceplas-ceplos, tetapi begitu kenal semakin lama, enak juga ngobrol dengannya.</p>
<p>Malamnya ketika habis makan, ketiga perempuan itu mengajakku nonton film blue berempat.</p>
<p>Film yang mereka putar adalah film lesbi, tetapi menjelang akhir film tersebut, dipertunjukkan kehadiran seorang pria yang dikeroyok tiga orang perempuan.</p>
<p>&#8221;Wah, apa ini pertanda baik atau buruk?&#8221; pikirku, harap-harap cemas.</p>
<p>Pengen main dengan Henny dan Anna seperti biasanya, tetapi malu ada teman mereka.</p>
<p>Lagi-lagi hal itu merupakan bagian dari rencana Henny dan Anna untuk mengerjaiku, sebab Arie adalah teman Henny, juga bukan lesbian tulen, tetapi berulang-kali patah hati oleh perlakuan pria, hingga tak pernah berniat lagi untuk menikah. Kehadiran Arie ini membuka babak baru petualangan seksku, sebab ternyata ia sangat ahli dalam bermain seks, bahkan dengan alat bantu kontol buatan, ia mampu membuat Henny dan Anna menjerit-jerit nikmat.</p>
<p>Hebatnya lagi, mereka bertiga berhasil memperdaya diriku untuk mengajak main seks misterius, di mana kedua mataku ditutupi kain hitam, lalu kedua kaki dan kedua tanganku dipentang lebar-lebar dan diikat dengan tali ke empat sudut ranjang.</p>
<p>Aku yang memang penasaran akan pengalaman baru, mau saja diperlakukan begitu.</p>
<p>Arie dengan kontol buatannya juga mampu menyetubuhi Henny dan Anna secara bergantian sambil memintaku merojok torok dan duburnya dari belakang.</p>
<p>Sayang, ketika Dicky pulang, Arie sudah kembali ke Australia, sebab ia mendapat kesempatan untuk meneruskan ke jenjang master, sehingga hanya cerita yang ia peroleh dari kami walaupun rasa penasaran membuatnya begitu ingin bertemu dan main bersama Arie.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/persekongkolan-demi-seorang-teman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anugrah Tak Terduga</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/anugrah-tak-terduga.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/anugrah-tak-terduga.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:43:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Semasa SMU aku dikenal sebagai kutu buku yang bercita-cita tinggi, yang tak bisa memegang bola basket, minder terhadap urusan cewek dan tak punya pacar. Sehingga hampir setiap sabtu teman-teman melantunkan lagu Koes Plus untukku, "Sabtu malam kusendiri..." Namun ketika kami mengadakan reuni sepuluh tahun kemudian, ternyata teman-temanku justru terlihat seperti suami yang hidup di bawah bayang-bayang istri dan mertua, sedangkan aku justru mendapat pengalaman-pengalaman seks yang berkesan.

Tanpa sepengetahuan mereka, pengalaman pertamaku terjadi justru ketika aku masih mereka kenal sebagai kutu buku. Berawal dari kepindahan tugas ayahku ke kota lain, aku si rangking satu di sekolah diminta kepala sekolah untuk tidak ikut pindah dan menyelesaikan sekolahku di SMU itu, karena ada undangan dari Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia agar rangking pertama dari SMU-ku kuliah di sana. Demi masa depan, orang tuaku setuju dan menitipkanku di rumah temannya yang kebetulan anaknya, Budi, adalah teman sekelasku, sehingga aku menghabiskan kelas tiga SMU seribu kilometer jauhnya dari keluarga yang kucintai.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semasa SMU aku dikenal sebagai kutu buku yang bercita-cita tinggi, yang tak bisa memegang bola basket, minder terhadap urusan cewek dan tak punya pacar. Sehingga hampir setiap sabtu teman-teman melantunkan lagu Koes Plus untukku, &#8220;Sabtu malam kusendiri&#8230;&#8221; Namun ketika kami mengadakan reuni sepuluh tahun kemudian, ternyata teman-temanku justru terlihat seperti suami yang hidup di bawah bayang-bayang istri dan mertua, sedangkan aku justru mendapat pengalaman-pengalaman seks yang berkesan.</p>
<p>Tanpa sepengetahuan mereka, pengalaman pertamaku terjadi justru ketika aku masih mereka kenal sebagai kutu buku. Berawal dari kepindahan tugas ayahku ke kota lain, aku si rangking satu di sekolah diminta kepala sekolah untuk tidak ikut pindah dan menyelesaikan sekolahku di SMU itu, karena ada undangan dari Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia agar rangking pertama dari SMU-ku kuliah di sana. Demi masa depan, orang tuaku setuju dan menitipkanku di rumah temannya yang kebetulan anaknya, Budi, adalah teman sekelasku, sehingga aku menghabiskan kelas tiga SMU seribu kilometer jauhnya dari keluarga yang kucintai.</p>
<p>Kamar kost-ku tidak berada di ruang utama bangunan, tetapi cukup strategis untuk memonitor penghuni dan tamu yang keluar masuk rumah itu. Malam minggu itu seluruh keluarga temanku menghadiri pesta pernikahan sepupunya, meninggalkan aku si kutu buku asyik belajar sendiri. Untuk menghilangkan kantuk, aku menuju dapur di bangunan utama bermaksud membuat secangkir kopi dan semangkok mie instan. Tiba-tiba terdengar pintu pagar terbuka, rupanya Yumul, adik Budi, pulang lebih awal ditemani pacarnya Wadi. Mereka sudah pacaran setahun lebih dan kelihatannya telah direstui oleh kedua orang tuanya, karena Wadi meskipun baru berusia 21 tahun tetapi sudah hampir menyelesaikan kuliahnya dan Yumul berusia 17 tahun menjelang kelas tiga SMU.</p>
<p>&#8220;Tuh liat, kamarnya si kutu buku lagi terang. Seperti biasa, paling-paling dia lagi asyik ngapalin rumus-rumus yang njelimet, jadi kita aman di sini,&#8221; terdengar suara Yumul. Selang beberapa menit setelah mie dan kopiku siap hidang, aku beranjak menuju kamarku, namun aku terkesima karena di ruang tamu kulihat pemandangan yang jauh berbeda dengan rumus matematika yang sedang berputar di otakku. Yumul sedang merem-melek karena buah dadanya sedang dikulum Wadi. Karena khawatir mereka tahu kehadiranku bila kuteruskan langkahku maka aku berhenti, dan dengan hati berdegup terpaksa kuikuti lakon itu. Wadi terus menghisap kedua puting dari bukit mini namun ranum langsat, sembari tangannya menyusup ke dalam gaun pesta Yumul, dan seketika membuat Yumul menggeliat lirih, &#8220;Aahh.. uhh..&#8221; Berdasarkan ilmu biologi, jari tangan Wadi menemukan klitoris sensitif Yumul.</p>
<p>Sambil mendesah, tangan Yumul mencoba melakukan serangan balasan dengan mencari persembunyian meriam Wadi, meskipun harus bersusah payah melepas ikat pinggang, membuka reitsleting, memelorotkan celana panjang dan menyusup ke dalam benteng terakhir celana dalam. Wadi yang sudah tahu arah serangan, tetap saja tersentak dan mengerang sambil menekan pantatnya ke depan. Yumul terlihat lebih cekatan, mengeluarkan meriam Wadi dan mengulumnya hingga menekan tenggorokan. Wadi yang sempat terkesima sesaat, tergopoh-gopoh menyusun posisi untuk dapat memelorotkan celana dalam Yumul dan melahap kemaluan yumul dengan rakus sambil jari tengahnya merogoh ke dalam liang kewanitaan Yumul. Sambil berbaring mereka membentuk posisi enam sembilan dan terdengar duet alunan merdu. &#8220;Mmmh.. nyam-nyam.. sluurrp.. yessshh..&#8221;</p>
<p>Setelah merasa puas tiba-tiba Wadi berdiri, dan Yumul bagai telah hapal akting selanjutnya, juga ikut berdiri. Mereka berdekapan erat, berpagutan bibir, dan menggoyangkan pantat saling bertabrakan. &#8220;Astaga, mereka bersengggama,&#8221; pikirku sambil menelan ludah dan mengusap keringat saking menghayati ketegangan adegan.</p>
<p>Entah telah berapa puluh kali mereka saling menghunjam, tiba-tiba kudenggar Yumul berkata lirih, &#8220;Mas, kali ini dimasukkin beneran yach, jangan cuma dioles-oles.&#8221;<br />
&#8220;Kamu nggak takut,&#8221; tanya Wadi dan dijawab dengan gelengan kepala Yumul.<br />
&#8220;Nanti kamu nyesel,&#8221; tanya Wadi dan sekali lagi Yumul menggeleng sambil berkata, &#8220;Khan kata Papa kita akan menikah dua tahun lagi, yang penting jangan sampai hamil dulu.&#8221;<br />
Wadi menghentikan goyangannya dan menatap Yumul dalam-dalam, &#8220;Jangan sekarang, kita beli kondom dulu.&#8221;<br />
Yumul menggelayut manja dan merengek, &#8220;Yumul nggak tahan, pinginnya sekarang, nanti maninya mas jangan dikeluarin di dalam tapi di luar saja, seperti biasa.&#8221;<br />
Meskipun adegan makin menegangkan, namun aku menghela napas lega, &#8220;Ah syukurlah, mereka belum bersenggama, tapi mereka akan&#8230; bagaimana cara mencegahnya?&#8221; Pikiranku buntu untuk bisa menghentikan mereka, karena jantungku terlalu kencang berdegup tak memberi kesempatan otakku berputar, sedangkan ujangku ikut-ikutan tegang tanda setuju adegan selanjutnya.</p>
<p>Nun jauh disana, Wadi telah menidurkan Yumul di atas karpet, Yumul membuka gerbang kangkangan kaki, dan laras torpedo Wadi mulai diarahkan, perlahan maju, mendekati liang, menempel dan.. tiba-tiba Wadi menghentikan gerakannya, menatap Yumul, sambil menelan ludah berkata, &#8220;Sebaiknya Kamu yang di atas, biar menekannya hati-hati, biar nggak terlalu sakit, soalnya kata orang hubungan yang pertama sakit buat perempuan.&#8221; Yumul yang sedari tadi memejamkan mata menghitung mundur saat terobosan pertama, kaget dan menjawab, &#8220;Yumul sudah merasakan sakitnya waktu Mas memasukkan jari ke memek Yumul.&#8221; Wadi belum mengerti maksudnya tapi kurang lebih Wadi harus tetap di atas dan menekan meriamnya ke dalam liang kewanitaan Yumul. Maka sekali lagi Wadi mengambil ancang-ancang, meluruskan, perlahan menekan dan akhirnya&#8230; &#8220;Kriingg&#8230;&#8221; suara telepon berdering, Wadi dan Yumul terkejut dan setelah sadar itu suara telepon mereka saling tersenyum, &#8220;Oo cuma telepon.. tapi bagaimana kalau si kutu buku mendengar dering telepon dan datang ke sini mau ngangkat telepon? Cepat Mas angkat dulu teleponnya biar nggak berdering terus,&#8221; Kata Yumul. Dengan mengendap Wadi mengangkat telepon, sesaat wajahnya serius, menutup telepon, sekonyong-konyong mengenakan kembali celana dan pakaiannya dan tergesa-gesa berkata, &#8220;Aku harus pergi, Mama sakit keras..&#8221; seraya menuju pintu keluar. Yumul yang berharap dapat melanjutkan adegan penerobosan pertama hanya terbengong tanpa sempat melakukan sesuatu kecuali mengucapkan, &#8220;Salam buat Mama, semoga lekas sembuh!&#8221;</p>
<p>Terkesima oleh pembatalan sepihak yang dilakukan sekejap, Yumul hanya dapat memandangi tubuhnya yang telah bugil. Perlahan tangannya membelai bibir kemaluannya seolah membujuk agar tidak sedih. Lalu Yumul memutuskan untuk menghibur diri dengan mempermainkan klitorisnya sendiri. Aku yang merasa drama telah berakhir bermaksud menyelinap ke kamarku, namun Yumul menangkap ada gerakan di dekat dapur. Sambil menutup tubuh seadanya ia menghampiri dapur dan memergokiku berdiri di sana. Yumul kaget dan terpaku, akupun gemetar tak mampu mengucap maaf. Antara malu, menangis, marah dan tertawa Yumul berkata, &#8220;Bang Obi dari tadi melihat kami?&#8221; Aku menunduk, tak berani menatap dan berkata lirih, &#8220;Maaf&#8230;&#8221; Sejenak hening, lalu tiba-tiba Yumul tesenyum simpul, &#8220;Hi, ada burung apa di celana Bang Obi..&#8221; Rupanya meriamku belum turun dan menyembul diantara celana hawaiku, karena memang kebetulan aku tidak pernah memakai celana dalam bila menjelang tidur. Belum hilang kagetku, tiba-tiba Yumul maju menangkap burungku dan mengelus, sementara aku tak bisa mundur meskipun ingin, karena kakiku terlalu gemetar.</p>
<p>Melihat aku tak berdaya bagai patung, Yumul memelorotkan celanaku sehingga burungku tak bersangkar lagi, dan seperti telah kulihat sebelumnya, Yumul mulai menjilati dan mengulum batang kejantananku. Aku semakin gemetar dan gagu serta tak mampu menghindar dari wanita birahi yang belum sempat terlampiaskan dengan Wadi. Yumul menarik pundakku turun lalu mendorong untuk merebahkanku. Di hadapanku terpampang gadis manis berambut ikal yang selama ini hanya kukenal keayuan wajahnya, kini memamerkan kemulusan tubuhnya. Lehernya yang jenjang menyatu dengan pundaknya yang lebar. Sembulan dua gunung kecil dengan puting centil merah muda, padat menantang selaras lekukan pinggul. Bulu-bulu halus di selangkangannya tak mampu menyembunyikan bibir tebal liang kewanitaannya dan mancungnya klitoris yang masih sedikit memerah akibat gesekan meriam dan jari Wadi.<br />
Bidadari 17 tahun itu melangkahkan kaki jenjangnya berdiri mengangkangiku dan perlahan turun. Sambil memegang batang kejantananku Yumul meluruskan liang kewanitaannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Yumul langsung menekan.., &#8220;Blesss&#8230;&#8221; mulai terjadi penetrasi, aku merasakan sempit dan seretnya. &#8220;Yumul..&#8221; hanya itu yang keluar dari mulutku tak tahu apa lanjutan kalimatnya. Yumul berhenti sejenak, mengatupkan mulutnya rapat-rapat, sedikit menutup matanya. Antara nikmat dan sakit, perlahan Yumul menekan lebih dalam&#8230;, &#8220;Blesss&#8230;&#8221; aku merasakan batang kejantananku didekap dan diremas hangat oleh liang kewanitaannya. Yumul berhenti lagi sejenak, menengadahkan wajahnya sambil menggigit bibirnya sendiri dan memejamkan mata. Lalu kembali perlahan Yumul menekan&#8230;, &#8220;Blesss&#8230;&#8221; terus menekan perlahan hingga selangkangan kami beradu, Yumul menghentikan tekanannya. Ah, burungku telah bersangkar di dalam liang kewanitaan Yumul dan merasakan pijatan dinding kewanitaannya. Yumul menatapku sambil tersenyum, akupun berusaha tersenyum sementara detak jantungku sudah tak beraturan dan keringatku mengalir dimana-mana.</p>
<p>Yumul menggoyangkan pantatnya kekiri kekanan dan berputar, stress-ku mulai mengendur dan mulai merasakan nikmatnya pijatan nikmat terhadap batang kejantananku. Lalu perlahan Yumul menaikkan dan menurunkan kembali pantatnya, semakin lama semakin cepat. Berulang naik turun, kiri kanan, berputar. Ketika melihat senyumnya yang menandakan kepuasannya, tanpa sadar akupun ikut menaikturunkan pantatku seirama dengan gerakannya. &#8220;Uhhh, mentok Bang.. enaak.&#8221; Karena batang kejantananku memang sudah tegang lama, maka tak lama kemudian kurasakan sesuatu mendesak untuk dimuncratkan. &#8220;Uhh.. aku mau keluar Yumul, uhh..&#8221; kataku tak jelas. &#8220;Iya.. hh.. tapi.. hh.. jangan dulu Bang, hh.. tunggu Yumul, hh.. nanti dikeluarinnya Bang.. hhh diluar saja..&#8221; kata Yumul sambil mempercepat goyangannya. Aku tak tahu bagaimana cara menahan pancaran yang siap mendesak keluar, hingga akhirnya, &#8220;Aaahh&#8230;&#8221; dan &#8220;Crottt.. crottt..&#8221; aku mengeluarkan maniku di dalam liang kewanitaan Yumul. Meskipun tahu aku sudah ejakulasi, Yumul terus bergoyang, seolah tak peduli atau mungkin karena iapun sedang menuju puncak. Tiba-tiba Yumul berteriak panjang dan keras sekali, &#8220;Aaahhhww&#8230;&#8221; dan terkulai lemas di atasku. &#8220;Sssttt..&#8221; kataku, karena takut terdengar entah oleh siapa.</p>
<p>Tanganku yang sedari tadi berperan sebagai penonton, memberanikan diri mendekapnya dan beberapa saat kami berpelukan erat. Aku penasaran dan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraba buah dadanya, dan Yumul sedikit mengangkat badannya memberi kesempatan dan ruang gerak bagi tanganku agar leluasa meremas dan bahkan mempermainkan putingnya. Dan mulutku tak mau ketinggalan jatah, ikut mencium, mengulum dan mengisap puting yang baru mekar di bukit yang kenyal. Sementara dibagian bawah, batang kejantananku terus bersangkar di dalam liang kewanitaan Yumul, namun semakin lama semakin lunglai dan akhirnya keluar dari lubangnya, &#8220;Plup..&#8221;</p>
<p>Yumul menatapku dan berkata, &#8220;Bang Obi, tadi ngeluarinnya di dalam yaa..&#8221;<br />
Aku mengangguk pelan.<br />
&#8220;Bagaimana kalau Yumul hamil, Bang?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Yumul tetap dalam posisi tegak atau di atas, dan biarkan maniku mengalir keluar kemaluanmu sesuai gravitasi bumi,&#8221; entah teori apa yang kukatakan tapi Yumul menurut.<br />
Setelah Yumul yakin bahwa maniku telah keluar semua ia beranjak dan berkata, &#8220;Kalau Bang Obi melaporkan hubunganku dengan Mas Wadi yang sudah cukup jauh, Yumul juga akan laporkan pada orang tua Bang Obi dan Guru bahwa Bang Obi telah menggauli Yumul, dan masa depan kita sama-sama hilang,&#8221; Yumul setengah mengancam dan segera beranjak dari tubuhku.</p>
<p>Yumul memperhatikan betapa banyak semprotan yang keluar dari liang kewanitaannya dan betapa banyak maniku yang mengalir kembali keluar dari liang kewanitaannya dan membasahi batang kejantananku. Selintas Yumul tersenyum namun tiba-tiba ia terkejut karena di batang kejantananku ada darah merah cukup banyak. &#8220;A..Aku masih <span>perawan</span>?!, oh.. kukira aku sudah tidak <span>perawan</span> karena tusukan jari Mas Wadi.&#8221; ia tampak menyesal dan segera meraih gaun pesta, celana dalam dan bra-nya serta berlari menuju kamarnya. Sayup-sayup terdengar gemercik air siraman mandi Yumul, lalu senyap.</p>
<p>Ketika keluarganya pulang dari undangan, aku sedang membersihkan keringat, bercak-bercak mani dan darah yang berserakan di lantai. Kukatakan bahwa mie instanku tertumpah. &#8220;Yumul sudah tidur, tadi pulang diantar Mas Wadi,&#8221; kataku ketika mereka menanyakan Yumul.</p>
<p>Keesokan harinya kudengar Yumul seharian mengurung diri di kamarnya dan hanya sesekali keluar untuk makan. Karena aku memang jarang ngomong sama Yumul tak ada yang curiga kalau Yumul sama sekali enggan ngomong denganku. Aku menyesal telah membuat Yumul menjadi pendiam dan aku berdoa agar dia dapat ceria kembali. Rupanya doaku terkabul. Tiga minggu kemudian kulihat ia sangat ceria, dan pada suatu kesempatan ia menghampiriku. &#8220;Maafkan Yumul ya Bang dan Bang Obi juga sudah Yumul maafka,&#8221; bisiknya mesra. &#8220;Koq?&#8221; aku tulalit. Seolah mengerti maksud pertanyaanku, Yumul menjawab, &#8220;Aku telah bersetubuh dengan Mas Wadi, dan dia yakin bahwa perawanku telah hilang saat dia masukkan jarinya padaku, dan keluargaku yakin murungku selama ini adalah karena mamanya mas Wadi diopname, jadi masa depanku cerah lagi.&#8221; Hanya itu yang dikatakan dan ia berlalu dengan ceria, gaya manja khas belia 17 tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/anugrah-tak-terduga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rena,adik temanku yang imut dan cantik</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/renaadik-temanku-yang-imut-dan-cantik.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/renaadik-temanku-yang-imut-dan-cantik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan,namaku Irwan,seorang pelajar kelas 3 SMA,aku mempunyai satu teman akrab yang kuanggap saudara sendiri,aku juga sering menginap di rumahnya,Budi namanya,Budi mempunyai adik bernama Rena,dulu kami sering bermain bersama,sayang Rena pergi ke Jakarta untuk belajar di sana,kira &#8211; kira dia kelas 1 SMA sekarang. Di sekolah Budi mengajakku untuk menginap di sekolah. &#8220;Eh,Wan,hari ini kamu menginap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Perkenalkan,namaku Irwan,seorang pelajar kelas 3 SMA,aku mempunyai satu teman akrab yang kuanggap saudara sendiri,aku juga sering menginap di rumahnya,Budi namanya,Budi mempunyai adik bernama Rena,dulu kami sering bermain bersama,sayang Rena pergi ke Jakarta untuk belajar di sana,kira &#8211; kira dia kelas 1 SMA sekarang.</p>
<p>Di sekolah Budi mengajakku untuk menginap di sekolah.<br />
&#8220;Eh,Wan,hari ini kamu menginap di rumahku,ya?&#8221;<br />
&#8220;Ehhhhm,makasih deh,Bud,tapi hari ini aku agak malas,besok aja,ya?&#8221;Balasku<br />
&#8220;Yah,kamu,padahal hari ini Rena pulang ke sini,loh,dia akan sekolah di sini,kamu udah rindu ama Rena,kan?&#8221;<br />
&#8220;Hah,yang benar kamu?&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8221;Jawab Budi singkat disertai anggukan.<br />
Akupun setuju ketika mendengar Rena akan pulang,aku sudah agak rindu padanya,aku penasaran bagaimana tampang Rena saat ini,saat bel tanda pulang sudah berbunyi,aku langsung naik ke motorku,lalu kukendarai ke rumahku,setelah mandi lalu beristirahat sebentar,aku mengurusi barang yang akan kubawa,lalu setelah pamit pada ibuku,kukendarai sepeda motorku ke rumah Budi yang tergolong besar,maklum orang tua Budi pengusaha yang sukses sehingga mereka jarang berada di rumah,bahkan kadang tidak pulang di rumah.</p>
<p>Stelah memencet bel,Budi membukakan pintu<br />
&#8220;Hai,Wan&#8221;<br />
&#8220;Hai,Bud,mana pembantu kamu,ada 2 kan?&#8221;<br />
&#8220;Iya,mereka lagi pulang kampung dengan urusan berbeda&#8221;<br />
&#8220;Orang tua kamu?&#8221;<br />
&#8220;Mereka gak pulang malam ini,ada urusan mendadak di luar negeri&#8221;<br />
&#8220;Wah,parah,nih,makanya kamu panggil aku?&#8221;<br />
&#8220;Iya,ayo masuk dulu&#8221;<br />
Akupun masuk,lalu kuletakkan tasku di ruang kamar yang khusus disediakan untukku,orang tua Budi sangat senang jika aku datang menemani anak mereka.Akupun masuk ke kamar Budi,dan kami bermain P.S 2,lalu Budi mengajakku menjemput Rena,dia mengeluarkan Honda Jazz berwarna hitamnya,akupun naik,dan kami ke bandara.</p>
<p>Sekitar 30 menit aku berbincang &#8211; bincang dengan Budi,tak lama kemudian muncullah gadis yang semula tak kukenal.<br />
&#8220;Rena?&#8221;Tanya Budi dengan ragu -ragu<br />
Gadis itu mengangguk,mereka berpelukan selama 1 menit sambil tersenyum,sedangkan aku terpesona dengan Rena,wajahnya sangat cantik,kulit putih,tubuh mungil,payudara yang tak terlalu besar,pantat berisi dan rambut panjang.1 menit aku terpesona padanya,Rena memandangiku,aku terbuyar dari keterpesonaanku,lalu kucoba menyapanya.<br />
&#8220;Hai,Ren,lama tak bertemu kamu makin cantik aja,yah?&#8221;<br />
&#8220;Ahh,Kak Irwan bisa aja,deh,Kak Irwan juga makin ganteng,kok&#8221;<br />
Wajah cantiknya yang tersenyum bagaikan membuatku beku,keringatku keluar pertanda aku gugup pada Rena,sementara *****ku berdiri keras melihat Rena dengan wajah cantiknya dan tubuh indahnya.Kami naik ke mobil,aku duduk di belakang sedangkan Rena bersama Budi di depan,selama perjalanan,aku hanya diam memandangi payudara montoknya,nafsuku sangat memuncak,tapi kucoba sesekali mengeluarkan lelucon yang kumiliki agar tak dicurigai.</p>
<p>Seperti dulu,Rena sering manja padaku,dia sering mencubit tanganku dengan lembut,tapi itu malah semakin membuat *****ku mengacung dengan keras,saat sampai di rumah,Budi mengangkat telepon yang berbunyi,dia tergesa &#8211; gesa berlari ke arahku yang berada di samping Rena.<br />
&#8220;Rena,aku disuruh ibu untuk pergi menjenguk Bibi Ira,dia lagi sakit,kamu dan Irwan tolong jaga rumah,ya?Tadi ibu suruh ada yang jaga rumah,soalnya sekarang banyak pencopet&#8221;.Aku mengangguk dengan cepat,begitu pula dengan Rena,nafsuku naik,aku bersama gadis cantik bertubuh indah ini di rumah sendiri?Tapi kucoba tahan karena dia adik temanku.</p>
<p>Aku diajak Rena ke kamarnya,sementara dia mandi,sayang tak ada celah untuk mengintip,akupun membuka TV,*****ku ini tak bisa berhenti berdiri membayangkan tubuh indah Rena,20 menit kemudian Rena keluar,yang membuatku kaget,tubuhnya yang indah itu masih dililit oleh handuk.<br />
&#8220;Sori,ya,Kak,Rena lupa ambil baju&#8221;<br />
Aku hanya mengangguk pelan,pikiranku dipenuhi pikiran kotor,Rena ke lemari yang berada pas di belakang TV,sengaja kumatikan TV agar bisa kulihat tubuh Rena lewat pantulan<br />
&#8220;Kakak jangan ngintip,ya?&#8221;<br />
&#8220;Iya,mana mungkin,sih?&#8221;<br />
Benar saja,lewat pantulan layar TV,aku bisa melihat tubuhnya,namun sayang dia menghadap ke lemari,aku yang tak bisa menahan nafsu ini pelan &#8211; pelan ke arahnya yang telanjang,dan dia tak melihatnya karena sibuk mencari baju,tanpa sadar,tanganku mengarah ke payudaranya,kuremas lembut payudaranya sambil mulutku mencium dan menjilat leher belakangnya,tentu saja Rena terkejut,dan di berusaha memberontak<br />
&#8220;Jangan,Kak,apa yang kakak lakukan?&#8221;<br />
&#8220;Rena,aku sayang sama kamu&#8221;<br />
&#8220;Aku juga sayang kakak,tapi jangan lakukan itu,Kak.&#8221;<br />
Kata &#8211; katanya itu tak kudengar,tangan kananku meremas dan meraba payudaranya sementara tangan kiriku turun ke arah vaginanya.kuraba vaginanya yang sudah basah,entah kenapa Rena hanya mendesah kecil,tapi rontakannya berkurang,mungkin dia sudah nafsu,kubalikkan tubuhnya ke arahku,dapat kulihat payudaranya yang agak montok dan vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan berwarna kemerahan.<br />
&#8220;Jangan,Kak,aku masih <span>perawan</span>&#8221;<br />
&#8220;Gak pa-pa Ren,nanti kamu akan merasakan kenikmatan,kakak minta tolong,ya?Udah lama kakak gak merasakan sensasi begini,Ren&#8221;<br />
Entah karena nafsu atau kasihan padaku,Rena mengangguk kecil.Aku tak membuang &#8211; buang kesempatan,langsung saja kusuruh agar dia menunduk dan membukakan celanaku,terpampanglah *****ku yang berukuran besar dan membuat Rena kaget dan jijik.<br />
&#8220;Ayo,dong,Ren,dihisap,tolong,Ren&#8221;Kataku meyakinkan<br />
Pertama Rena menyentuhnya dengan satu jarinya,lalu dia mengocok &#8211; ngocokkan *****ku itu,lalu diapun memasukkan *****ku dalam mulutnya yang mungil,pertama agak kaku,tapi setelah dia terbiasa,terasa sangat enak dan nikmat.</p>
<p>Setelah puas dengan permainan mulutnya,kuangkat tubuhnya sejajar denganku,kukulum bibirnya yang seksi itu sambil tangan kananku meraba payudaranya dan tangan kiriku meraba dan menusuk vagina Rena yang masih <span>perawan</span>,semakin lama,kurasakan vagina Rena semakin basah,dia hanya memejamkan mata menikmati permainan tanganku dan mulutku.</p>
<p>Kini kuangkat tubuh Rena berbaring di ranjang<br />
&#8220;Ayo,Ren,buka lebar kakimu&#8221;<br />
Seperti yang kuperintahkan,dia membuka kakinya lebar,membuatku dapat melihat seluk beluk vaginanya yang merah,kini aku bersiap &#8211; siap menusukkan *****ku pada vaginanya,sementara dia sudah sangat bernafsu dan tak bisa menolak apa yang akan kulakukan padanya,aku mulai menusukkan *****ku secara perlahan,agak susah masuk karena vaginanya sangat sempit,baru 1/3 *****ku masuk,Rena menjerit kesakitan,setelah lima menit berusaha,akhirnya amblaslah semua *****ku dalam vaginanya,kini Rena merasakan kenikmatan,kurasakan vaginanya yang masih sempit itu serasa memijit *****ku,kini karena Rena sudah menikmatinya,aku menambah kecepatan tusukanku,<br />
&#8220;Akkkkkkh,Ahhhh,Ehhhhm,pelan &#8211; pelan,Kak&#8221;<br />
Aku memainkan *****ku dalam vaginanya dengan cepat membuat dia mendesah kenikmatan dengan keras dan matanya dipejamkan,lama aku menusuk vaginanya sementara kakinya dilingkarkan padaku,wajahnya yang basah oleh keringat trlihat sangat cantik olehku,begitu pula dengan tubuhnya yang dipenuhi keringat,sangat indah,kulihat Rena mengeluarkan air matanya.</p>
<p>Setelah 20 menit,vagina Rena mengeluarkan cairan hangat yang membasahi *****ku,tapi tak kupedulikan dan aku terus lanjut menusuk vaginanya,sampai sekitar 5 menit kurasakan *****ku akan segera mengeluarkan sperma,jadi kucabut *****ku dan kukocokkan secara cepat ke mukanya,pertama dia agak jijik dengan sperma itu,tapi akhirnya dia meminumnya.<br />
&#8220;Akkhh,sudah,ya,Kak,Rena udah capek banget,nih&#8221;<br />
&#8220;Hmmm,kakak masih nafsu,nih&#8221;<br />
Kini kuangkat tubuhnya dan tanganku menahan pantatnya<br />
&#8220;Hmmm,boleh,deh,Kak,lanjut aja,Rena juga masih ingin kenikmatan itu&#8221;<br />
Kuarahkan *****ku ke vaginanya,kembali vaginanya yang sempit itu memijat *****ku dengan lembut,kumajumundurkan dengan cepat yang membuat Rena kembali memejamkan mata menahan kelelahan dan kenikmatan,kumajukan kepalaku dan menyiumnya ala french kiss sementara *****ku masih bermain di vaginanya yang sempit,kurasakan sensasi luar biasa,beginikah rasanya vagina yang sempit?</p>
<p>Sekitar 30 menit aku menggenjot tubuh indah Rena,ia hanya mendesah kecil karena mulutnya dicium oleh mulutku,<br />
&#8220;Ahhhhhh,Akhhhh,Ehhhm,Ssssst&#8221;<br />
Kini vaginanya kembali mengeluarkan cairan hangat,kutaruh tubuhnya yang sudah kelelahan di ranjang,lalu kukeluarkan spermaku di mukanya.Kurasakan *****ku agak capek sehabis menyetubuhi vagina yang agak sempit,tapi aku sangat senang bisa merasakan sensasi luar biasa itu,kulihat Rena kelelahan dengan wajah puas,mungkin dia akan ketagihan.</p>
<p>Aku segera memakai bajuku,lalu kubersihkan bekas darah <span>perawan</span> Rena,akupun bertanya padanya<br />
&#8220;Ren,maaf,ya,kakak udah merenggut keperawanan kamu&#8221;<br />
&#8220;Nggak apa &#8211; apa,kok,Kak,Rena puas dengan kenikmatan yang diberikan kakak,baru kali ini Rena merasakan kenikmatan ini&#8221;<br />
Aku senang mendengarnya,kupeluk tubuhnya itu.Budi pun pulang,kami bertingkah seperti biasa,dan Budi tak tahu apa -apa,sejak peristiwa itu,Rena semakin sayang padaku,dan kami masih sering bersetubuh,hingga aku menembak Rena dan dia menerimanya.<br />
Tamat</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/renaadik-temanku-yang-imut-dan-cantik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>nakalnya anak sma</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/nakalnya-anak-sma.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/nakalnya-anak-sma.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh. Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh.</p>
<p>Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 bulan yang lalu. Tepatnya hari itu hari Selasa kira-kira jam 14:12, aku sendiri bingung hari itu beda sekali, karena hari itu terlihat mendung tapi tidak hujan-hujan. Teman satu kostan-ku mengatakan kepadaku bahwa nanti temanya anak SMU akan datang ke kost ini, kebetulan temanku itu anak sekolahan juga dan hanya dia yang anak SMU di kost tersebut.</p>
<p>Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga, kemudian temanku langsung mengajaknya ke tempat kamarku yang berada di lantai atas. Akhirnya aku dikenali sama perempuan tersebut, sebut saja namanya Ria. Lama-lama kami ngobrol akhirnya baru aku sadari bahwahari menjelang sore. Kami bertiga bersama dengan temanku nonton TV yang ada di kamarku. Lama-lama kemudian temanku pamitan mau pergi ke tempat temannya, katanya sih ada tugas.</p>
<p>Akhirnya singkat cerita kami berdua di tinggal berdua dengan Ria. Aku memang tergolong cowok yang keren, Tinggi 175 cm, dengan berat badan 62 kg, rambut gelombang tampang yang benar-benar cute, kata teman-teman sih. Ria hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia memberanikan diri untuk menggelitikku dan aku tidak tahu darimana dia mengetahui kelemahanku yang sangatvital itu kontan saja aku langsung kaget dan balik membalas serangan Ria yang terus menerus menggelitikiku. Lama kami bercanda-canda dan sambil tertawa, dan kemudian diam sejenak seperti ada yang lewat kami saling berpandang, kemudian tanpa kusadari Ria mencium bibirku dan aku hanya diam kaget bercampur bingung.</p>
<p>Akhirnya dilepaskannya lagi ciumannya yang ada di bibirku, aku pun heran kenapa sih nih anak? pikirku dalam hati. Ria pun kembali tidur-tiduran di kasur dan sambil menatapku dengan mata yang uih&#8230; entah aku tidak tahu mata itu seolah-olah ingin menerkamku. Akhirnya dia melumat kembali bibirku dan kali ini kubalas lumatan bibirnya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir bawah dan atasnya. Lama kami berciuman dan terus tanpa kusadari pintu kamar belum tertutup, Ria pun memintaku agar menutup pintu kamarku, entah angin apa aku hanya nurut saja tanpa banyak protes untuk membantah kata-katanya.</p>
<p>Setelah aku menutup pintu kamar kost-ku Ria langsung memelukku dari belakang dan mencumbuku habis-habisan. Kemudian kurebahkan Ria di kasur dan kami saling berciuman mesra, aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya Ria yang kira-kira berukuran berapa ya&#8230;? 34 kali, aku tidak tahu jelas tapi sepertinya begitu deh, karena baru kali ini aku menuruni BH cewek. Dia mengenakan tengtop dan memakai sweater kecil berwarna hitam. Aku menurunkan tengtop-nya tanpa membuka kutangnya. Kulihat buah dada tersebut&#8230; uih sepertinya empuk benar, biasanya aku paling-paling lihat di BF dan sekarang itu benar-benar terjadi di depan mataku saat ini.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, kusedot saja buah dada Ria yang kanan dan yang kirinya aku pelintir-pelintir seperti mencari gelombang radio. Ria hanya mendesah, &#8220;Aaahhh&#8230; aaahhh&#8230; uuhhh&#8230;&#8221;Aku tidak menghiraukan gelagat Ria yang sepertinya benar-benar sedang bernafsu tinggi. Kemudian aku pun kepingin membuka tali BH tengtop-nya. Kusuruh Ria untuk jongkok dan kemudian baru aku melihat ke belakang Ria, untuk mencari resliting kutangnya. Akhirnya ketemu juga dan gundukan payudara tersebut lebih mencuat lagi karena Ria yang baru duduk di bangku SMU kelas 2 dengan paras yang aduhai sehingga pergumulan ini bisa terjadi. Dengan rakusnya kembali kulumat dada Ria yang tampak kembali mengeras, perlahan-lahan ciumanku pun turun ke bawah ke perut Ria dan aku melihat celana hitam Ria yang belum terbuka dan dia hanya telanjang dada.</p>
<p>Aku memberanikan diri untuk menurunkan celana panjang Ria, dan Ria pun membantu dengan mengangkat kedua pinggulnya. Ria pun tertawa dan berkata, &#8220;Hayo tidak bisa dibuka, soalnya Ria mempunyai celana pendek yang berwarna hitam satu lagi&#8230;&#8221; ejek Ria sambil tersenyum girang.Aku pun dengan cueknya menurunkanya kembali celana tersebut, dan kali ini barulah kelihatan celana dalam yang berwarna cream dan dipinggir-pinggirnya seperti ada motif bunga-bunga, aku pun menurunkanya kembali celana dalam milik Ria dan tampaklah kali ini Ria dalam keadaanbugil tanpa mengenakan apapun. Barulah aku melihat pemandangan yang benar-benar terjadi karena selama ini aku hanya berani berilusi dan nonton tidak pernah berbuat yang sebenarnya.</p>
<p>Aku pandangi dengan seksama kemaluan Ria dengan seksama yang sudah ditumbuhi bebuluan yang kira-kira panjangnya hanya 2 cm tapi sedikit, ingin rasanya mencium dan mengetahui aroma kemaluan Ria. Aku pun mencoba mencium perut Ria dan pusarnya perlahan tapi pasti, ketika hampir mengenai sasaran kemaluannya Ria pun menghindari dan mengatakan, &#8220;Jangan dicium memeknya akh.. geliii&#8230;&#8221; Ria mengatakan sambil menutup rapat kedua selangkangannya.</p>
<p>Yah, mau bagaimana lagi, langsung saja kutindih Ria, kucium-cium sambil tangan kiriku memegang kemaluan Ria dan berusaha memasukkanya ke dalam selangkangan Ria. Eh, Ria berontak iiihhh&#8230; ge.. li..&#8221; ujar Ria. Tahu-tahu Ria mendorong badanku dan terbaliklah keadaan sekarang, aku yang tadinya berada di atas kini berubah dan berganti aku yang berada di bawah, kuat sekali dorongan perempuan yang berbobot kira-kira 45 kg dengan tinggi 160 cm ini, pikirku dalam hati. &#8220;Eh&#8230; buka dong bajunya! masak sih Ria doang yang bugil Andinya tidak&#8230;?&#8221; ujar Ria sambil mencopotkanbaju kaos yang kukenakan dan aku lagi-lagi hanya diam dan menuruti apa yang Ria inginkan.</p>
<p>Setelah membuka baju kaosku, tangan kanan Ria masuk ke dalam celana pendekku dan bibirnya sambil melumat bibirku. Gila pikirku dalam hati, nih cewek kayaknya sdah berpengalaman dan dia lebih berpengalaman dariku. Perlahan-lahan Ria mulai menurunkan celana pendekku dan muncullah kemaluanku yang besarnya minta ampun (kira-kira 22 cm). Dan Ria berdecak kagum dengan kejantananku, tanpa basa-basi Ria memegangnya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya Ria, langsung saja kutepis dan tidak jadi barang tersebut masuk ke lubang kemaluan Ria. &#8220;Eh, jangan dong kalau buat yang satu ini, soalnya gue belum pernah ngelakuinnya&#8230;&#8221; ujarku polos. &#8220;Ngapain kita udah bugil gini kalau kita tidak ngapa-ngapain, mendingan tadi kita tidak usah buka pakaian segala,&#8221; ujar Ria dengan nada tinggi.</p>
<p>Akhirnya aku diam dan aku hanya menempelkan kemaluanku di permukaan kemaluan Ria tanpa memasukkanya. &#8220;Begini aja ya&#8230;?&#8221; ujarku dengan nada polos. Ria hanya mengangguk dan begitu terasanya kemaluanku bergesek di bibir kemaluan Ria tanpa dimasukkan ke dalam lubang vaginanya milik Ria, aku hanya memegang kedua buah pantat Ria yang montok dan secara sembunyi-sembunyiaku menyentuh bibir kemaluan Ria, lama kami hanya bergesekan dan tanpa kusadari akhirnya kemaluanku masuk di dalam kemaluan Ria dan Ria terus-terusan menggoyang pantatnya naik-turun.Aku kaget dan bercampur dengan ketakutan yang luar bisa, karena keperawanan dalam hal ML yang aku jaga selama ini akhirnya hilang gara-gara anak SMU. Padahal sebelum-sebelumnya sudah ada yang mau menawari juga dan dia masih <span>perawan</span> lebih cantik lagi aku tolak dan sekarang hanya dengan anak SMU perjakaku hilang.</p>
<p>Lama aku berpikir dan sedangkan Ria hanya naik-turun menggoyangkan pentatnya semenjak aku melamun tadi, mungkin dia tersenyum puas melihat apa yang baru dia lakukan terhadapku. Yach, kepalang tanggung sudah masuk, lagi nasi sudah jadi bubur akhirnya kugenjot juga pantatku naik-turun secara berlawanan dengan yang dilakukan Ria, dan bunyilah suara yang memecahkan keheningan, &#8220;Cplok.. cplok&#8230; cplok&#8230;&#8221; Ria mendesah kenikmatan karena kocokanku yang kuat dilubang vaginanya. Lama kami berada di posisi tersebut, yaitu aku di bawah dan dia di atas.akhirnya aku mencoba mendesak Ria agar dia mau mengganti posisi, tapi dorongan tangannya yang kuat membatalkan niatku, tapi masa sih aku kalah sama cewek, pikirku. Kudorong ia dengan sekuat tenagaku dan akhirnya kami berada di posisi duduk dan kemaluanku tetap berdiri kokoh tanpa dilepas. Ria tanpa diperintah menggerakkan sendiri pantatnya, dan memang enak yah gituan, pikirku dalam hati. Tapi sayang tidak <span>perawan</span>.</p>
<p>Akhirnya kudorong lagi Ria agar dia tiduran telentang dan aku ingin sekali melihat kemaluanku yang besar membelah selangkangan kemaluan Ria, makanya aku sambil memegang batang kemaluanku menempelkannya di lubang kemaluan Ria dan &#8220;Bless&#8230;&#8221; amblaslah semuanya. Kutekan dengan semangat &#8220;45&#8243; tentunya karena nasi sudah hancur. Kepalang tanggung biarlah kuterima dosa ini, pikirku. Dengan ganasnya dan cepat kuhentakkan kemaluanku keras-keras di lubang kemaluan Ria dan kembali bunyi itu menerawang di ruangan tersebut karena ternyata lubang kemaluan Ria telah banjir dengan air pelumasnya disana, aku tidak tahu pasti apakah itu spermanya Ria, apakah hanya pelumasnya saja? dan Ria berkata,<br />
&#8220;Loe.. udah keluar ya&#8230;?&#8221; ujarnya.<br />
&#8220;Sembarangan gue belom keluar dari tadi..?&#8221; ujarku dengan nada ketus.<br />
Karena kupikir dia mengejekku karena mentang-mentang aku baru pertama kali beginian seenaknya saja dia menyangka aku keluar duluan. Akhirnya lama aku mencumbui Ria dan aku ingin segera mencapai puncaknya.</p>
<p>Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kukeluarkan spermaku yang ada diperutnya Ria, karena aku takut kalau aku keluarkan di dalam vaginanya aku pikir dia akan hamil,kan berabe. Aku baru sekali gituan sama orang yang yang tidak <span>perawan</span> malah disuruh tanggung jawab lagi. Gimana kuliahku! Ria tersenyum dengan puas atas kemenangannya menggodaku untuk berbuat tidak senonoh terhadapnya. Huu, dasar nasib, dan semenjak saat itu aku sudah mulai menghilangkan kebiasaaan burukku yaitu onani, dan aku tidak mau lagi mengulang perbuatan tersebut karena sebenarnya aku hanya mau menyerahkannya untuk istriku seorang. Aku baru berusia 21 tahun saat ini. Aku nantikan keritik dan saran dengan apa yang terjadi denganku saat inidan itu membuatku shock</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/nakalnya-anak-sma.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>masa-masa indah di sma</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/masa-masa-indah-di-sma.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/masa-masa-indah-di-sma.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Anton. Hari itu aku mendapatkan tugas dari guru yang begitu banyak. Di sekolah, aku menghabiskan jam istirahat untuk duduk-duduk di kelas dan menyicil tugas yang diberikan guruku. Tiba-tiba pulpenku jatuh, dan akupun langsung memungutnya. Saat aku memungut pulpenku aku melihat rok temenku yang membuka lebar. Pikiran-pikiran aneh muncul begitu saja di benakku. Aku terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Anton. Hari itu aku mendapatkan tugas dari guru yang begitu banyak. Di sekolah, aku menghabiskan jam istirahat untuk duduk-duduk di kelas dan menyicil tugas yang diberikan guruku. Tiba-tiba pulpenku jatuh, dan akupun langsung memungutnya. Saat aku memungut pulpenku aku melihat rok temenku yang membuka lebar. Pikiran-pikiran aneh muncul begitu saja di benakku. Aku terus memandangnya tanpa henti. Cd&#8230;nya yang putih agak transparan sedikit menyembunyikan memeknya yang indah&#8230;<br />
Bell pulang sekolah berbunyi dan aku langsung bergegas pulang. Di tengah perjalanan seorang cewek memanggilku dari kejauhan. Oh..ternyata dia shely cewek yang tadi sempat aku intip.<br />
&#8220;ton, kamu udah ngerjain tugas dari pak fajar?&#8221; tanya shely kepadaku.<br />
&#8220;belum, aku juga pusing nih mikirin tugas.&#8221;jawabku<br />
&#8220;gimana kalo ntar sore kamu kerumah aku. Kita ngerjain bareng.&#8221;kata shely.<br />
&#8220;Gimana ya&#8230;..?? ok dech ntar sore aku bisa ke rumahmu.&#8221;jawabku dan terlintas pikiran-pikiran nakal karena biasanya orang tua shely pergi keluar kota. Soalnya bulan kemarin saat aku ngerjaiin tugas bareng dia ngajakin nonton film porno.<br />
Pukul 15.30 aku udah sampai di rumah shely. Aku ketuk pintu 3 kali dan munculah gadis seksi dengan pakaian mini. memang shely terlihat sexsi kalo ga pake seragam, apalagi kalo ga pake apa-apa&#8230;. wahhh bisa kubayangkan walaupun belum pernah liat.<br />
Sudah 2 jam kami ngerjain tugas akhirnya selesai juga. Dengan perasaan yang agak nakal ini aku akhirnya keceplosan bilang &#8220;shel, kamu ada kaset bokep apa ga?&#8221;<br />
&#8220;Aku punya baru nihh mo nyetel?&#8221; ajak shely.<br />
kami pun menonton film bokep dan aku membayangkan yang di film adegan antara aku dan shely. Dengan hati-hati aku bertanya. &#8220;shel, cewe kalo terangsang gimana sich?&#8221;<br />
&#8220;aku kalo terangsang merasakan ada yang aneh di vaginaku. tapi kalo nonton kayak gini aku ga terangang sedikitpun.&#8221; jawab shely.<br />
&#8220;kok kamu mau kuajak nonton film bokep?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;aku cuma ingin tau bagian tubuh lai-laki.&#8221;jawab shely dengan datar.<br />
&#8220;shel, gimana kalo kita bertaruh?&#8221; ajak aku ke shely.<br />
&#8220;bertaruh apa?&#8221; tanya shely.<br />
&#8220;ohh ga&#8217; jadi dech.&#8221;jawabku seperti orang baru kesurupan. aku takut kalo shely marah jadi aku ga nerusin.<br />
&#8220;ton, kamu pernah merasakan tubuh wanitas?&#8221;tanya shely.<br />
&#8220;aku&#8230;.ee&#8230;belum pernah sama sekali.&#8221;jawabku agak gugup.<br />
&#8220;ohh belum ya&#8230;&#8221; kata shely menandakan mengerti.<br />
adegan demi adegan panas di film berlalu. Aku pun berpamitan pulang. Tapi sebelum aku sampai di pintu. Tangan ku ditarik oleh shely. dan dia berkata &#8220;ton, aku ingin kau merasakan tubuhku, karena kaulah yang aku inginkan.&#8221;<br />
kami berpelukan dan kuciumi bibirnya yang seksi. Setelah kami asik berciuman, sheli membawaku ke kamarnya dan kami melanjutkan berciuman. dan terus ku ciumi bibir dan lehernya. Kami kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh ke kasur yang empuk. Ku buka kaosnya dan kuremas remas dadanya yang terbungkus oleh bra..nya. Dan kulanjutkan dengan membuka celana pendeknya. Kulihat pemandangn yang sama seperti tadi pagi. kuremas-remas dadanya yang sekarang masih terbungkus oleh bra..nya. Dan kulepaskan bra dan cd..nya dan kuciumi dadanya yang mulus. ku hisap putingnya yang berwarna merah muda. Kuteruskan dengan menciumi vaginanya dan ia mengeliat ku jilat, ku hisap mekinya yang masih <span>perawan</span>. Dan dia berkata &#8221; ton, aku udah ga kuat nih rasanya semua cairan mo keluar dari dari memeku.&#8221;<br />
aku tak menghiraukannya. dan sesaat kemudian cairan hangat keluar dari vaginanya. tapi aku belum cuup puas dan ku ciumi lagi mekinya sampai dia menggeliat lebih kencang lagi dari sebelumnya dan cairan tadi keluar lagi dari dalam vaginanya. &#8220;ton, aku udah ga tahan lagi nihh.. cepetan donk masukin itunya.&#8221; perintah shely yang sedang horny tingkat tinggi. tak lama keudian akhirnya aku masukan penisku ke lubang vaginanya. aku ga langsung masukin ****** ku ke lubang vaginanya. tapi secara perlahan. kepalanya kumasukan sedikit demi sedikit. akhirnya srreet&#8230;.sreeet ****** ku masuk seluruhnyake lubang vaginanya. awanya kugenjot perlahan karena kulihat shely meringis. lalu ku genjot dengan cepat. ahh&#8230;.ahh&#8230;shh&#8230;ssshhh. suara itu terdengar dari mulut shely. setelah lima belas menit aku merasakan spermaku mengalir di vaginanya&#8230;<br />
Setelah itu aku Dan dia berciuman dan berbaring di kasurnya yang empuk. setelah beberapa menit aku beranjak dari tempat tidur dan pulang.<br />
Sejak saat itu kai selalu membuat acara seperti tadi di rumahnya yang sepi&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/masa-masa-indah-di-sma.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eksibisi Pertamaku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/eksibisi-pertamaku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/eksibisi-pertamaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 00:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=338</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan namaku Mevy, umurku 23 tahun. Saat ini aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di kota Pontianak semester 7. Sebagai gambaran, aku berkulit kuning langsat (masih keturunan tionghoa), tinggiku 164 cm dan berat 63 kg dengan ukuran bra 34B. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adikku cewek masih duduk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post_message_8958">Perkenalkan namaku Mevy, umurku 23 tahun. Saat ini aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di kota Pontianak semester 7. Sebagai gambaran, aku berkulit kuning langsat (masih keturunan tionghoa), tinggiku 164 cm dan berat 63 kg dengan ukuran bra 34B. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adikku cewek masih duduk di bangku kuliah semester 3. Selain itu aku juga punya lesung pipit di kedua belah pipiku, dengan rambutku yang sebahu. Saat ini aku masih sendiri setelah hampir 1 tahun putus dengan pacarku.</p>
<p>Aku ingin menceritakan pengalaman &#8220;gila&#8221;ku, yang sudah lama aku simpan. Sudah lama aku ingin berbagi ceritaku ini, sampai akhirnya aku mengetahui Situs ini. Aku harap ada yang mao share sama aku setelah membaca kisahku ini.</p>
<p>Sejujurnya aku akui kalau aku mempunyai sifat aneh yang mungkin jarang dimiliki wanita yang seusia denganku. Yah boleh dibilang aku &#8220;beda&#8221; dengan perempuan kebanyakan. Aku mempunyai sifat suka mempertunjukkan bagian-bagian tubuhku kepada orang lain, khususnya laki-laki. Hal ini sudah kualami sejak aku berumur 17 tahun, waktu itu aku masih duduk di bangku SMU kelas 2. Ceritanya aku baru pulang dari sekolah, hari itu aku capek sekali karena tadi pagi habis mengikuti pelajaran olah raga, kemudian siangnya aku mengikuti latihan Paskibra sehingga begitu pulang tanpa membuka pakaian sekolahku, aku langsung tertidur di kamarku.</p>
<p>Sialnya aku lupa menutup pintu, mungkin karena badan ini sudah begitu lelah sampai-sampai hal sekecil itu tak terpikirkan olehku. Berhubung aku masih memakai pakaian sekolah, otomatis rok sekolahku masih belum kubuka. Sehingga mungkin tanpa sadar aku telah tidur dengan posisi yang sangat menantang buat laki-laki yang melihatku. Saat itu aku lupa kalau dirumah adikku sedang kerja kelompok dengan teman-teman sekolahnya. Sekilas waktu aku datang dari sekolah tadi cukup ramai juga, kebanyakan dari teman-teman adikku yang datang adalah cewek, cowoknya hanya ada 2 orang, dan itupun aku tak mengenalnya. Berhubung kamarku berada di depan ruang tamu tempat adikku dan temannya mengerjakan tugas kelompok, sehingga akan kelihatan tempat tidurku. Entah berapa lama aku tertidur, begitu terbangun dari tidurku tanpa sengaja mataku melihat teman adikku yang cowok sedang melihat ke kamarku, atau tepatnya kearah bawah tubuhku. Barulah aku tersadar kalau rokku telah tersingkap hingga hampir ke pangkal pahaku sehingga dengan jelas teman adikku itu bisa melihat dengan bagian rahasiaku.</p>
<p>Saat itu aku baru tersadar kalau aku masih mengenakan pakaian seragam sekolahku, mungkin teman adikku itu sedang memperhatikan gundukkan daging yang masih tertutup dengan celana dalam berwarna biru yang kukenakan. Entah mengapa aku tiba-tiba punya ide gila untuk membiarkan kejadian itu terus berlangsung. Bahkan dengan santainya aku membuka kedua pahaku dan berlaku seolah-olah aku masih tidur. Enyah mengapa kurasakan jantung ini berdegup dengan kencang, sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan dengan mengintip dari balik bantalku, kulihat teman adikku itu masih melihat kearahku. Kulihat mukanya merah sambil sesekali menelan air ludah. Hal itu kusadari dengan melihat jakunnya yang naik turun dari tadi sejak melihatku.</p>
<p>Kemudian aku pura-pura mengubah posisiku, jikalau tadi ia bisa melihat dengan jelas bagian depan kemaluanku yang masih tertutup celana dalam itu, kini aku ingin menunjukkan bagian pantatku yang kata teman-teman sekolahku aku memiliki pantat yang lumayan aduhai. Walaupun aku tidak bisa melihat reaksi teman cowok adikku itu tapi dapat kubayangkan bagaimana wajahnya setelah kuperlihatkan bagian pantatku itu. Bahkan dengan pura-pura tertidur pulas sengaja aku naikkan rok ku agar ia bisa melihat dengan jelas seluruh bagian pantatku. Tapi entah mengapa tak lama kemudian aku mendengar tawa keras dari teman-teman adikku itu, seolah menertawakan sesuatu yang sangat lucu.</p>
<p>Barulah kusadari kalau mereka itu menertawakan aku setelah adikku masuk ke kamarku dan membangunkan aku yang pura-pura tertidur dan mengatakan bahwa rokku tersingkap. Aku cuek saja pura-pura tidak tahu akan hal itu, lalu setelah adikku keluar dari kamarku, aku tiba-tiba tertawa walaupun dengan perlahan dan mengatakan pada diriku sendiri dalam hatiku kalau &#8220;aku sudah gila&#8221;. Kemudian aku keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil, saat aku keluar kulihat teman adikku yang tadi mengintipku tanpa sengaja mataku dan mata cowok teman adikku itu bertemu pandang, aku tersenyum dan dibalasnya setelah itu ia menunduk dan kulihat sekilas wajahnya memerah. Melihat itu kembali aku tersenyum dan melanjutkan langkahku menuju kamar mandi.</p>
<p>Sesampainya di kamar mandi sebelum aku pipis kuraba vaginaku dan aku terkejut karena ternyata vaginaku telah basah dengan cairan yang saat itu aku masih belum mengerti cairan apa itu. Semula ku beranggapan kalau cairan itu adalah keputihan, namun setelah kuperhatikan celana dalamku cairan itu lumayan banyak dan tidak berbau seperti layaknya keputihan. Akhirnya lama kelamaan baru aku sadari kalau itu adalah orgasme pertama yang kualami dalam hidupku. Mungkin cairan itu keluar saat aku merasakan nikmatnya ketika aku mempertontonkan bagian rahasiaku kepada teman adikku tadi. Pikirku saat itu, ternyata begini rasa nikmat saat orgasme. Tiba-tiba aku punya ide gila yang selama ini tak pernah terlintas di otakku. Aku ingin menunjukkan seluruh bagian tubuhku tanpa sehelai benangpun kepada laki-laki. Namun aku tak tahu bagaimana caranya.</p>
<p>Akhirnya setelah sekian lama menunggu, hampir setengah tahun, akhirnya saat itu datang juga. Walaupun itu boleh dibilang bukan suatu kesengajaan, tapi aku bersyukur.</p>
<p>Saat itu rumahku kedatangan tamu, dia adalah sepupuku dari keluarga mamaku. Namanya Ivan, ia seumur denganku saat itu dan sama-sama masih duduk dibangku SMA kelas 2. Menurut penilaianku Ivan adalah seorang cowok yang humoris, ia sering membuatku tertawa dengan joke-jokenya yang spontan, menurutku walaupun tampangnya tidak terlalu ganteng namun aku cukup terpesona melihatnya karena ia memiliki sesuatu yang sangat aku sukai dari kaum lelaki yaitu dagunya yang berbelah. Saat itu Ivan sedang berlibur di rumahku, karena kami sedang libur kenaikan kelas.</p>
<p>Otomatis selama hampir sebulan Ivan akan menginap di rumahku. Saat itu juga aku baru teringat akan &#8220;rencanaku&#8221; untuk mengulangi kegilaanku dulu. Akhirnya saat yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari itu hari minggu. Dirumah saat itu hanya tinggal aku, adikku, dan ivan. Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi, aku baru bangun tidur saat kulihat Ivan dan adikku sedang nonton TV di ruang tamu. Saat melihatku, Ivan tersenyum dan berkata,</p>
<p>&#8220;Yee.. Anak <span>perawan</span> kok bangun siang?!!&#8221;</p>
<p>Aku hanya tersenyum mendengarnya, tak lama kemudian aku kembali ke kamarku mengambil handukku untuk mandi, saat aku melintas kulihat hanya Ivan sendiri yang sedang menonton.</p>
<p>&#8220;Lho, Nita mana?? Kok sendiri aja nontonnya??&#8221;<br />
&#8220;Nita ada temannya datang, tuh didepan&#8221; Jawab Ivan.<br />
&#8220;Oo.. Ya udah. Eh &#8216;Van, kamu udah mandi belum??&#8221;<br />
&#8220;Mandi, aku mah udah dari tadi mandinya. Kamu tuh baru bangun, sana mandi.. Bau tau&#8221;.<br />
&#8220;Biarin bau.. Tapi tetep cakep. Kirain kamu belum mandi. Kalo belum sih..&#8221; Ucapku menggantung.<br />
&#8220;Kenapa?? Mo ngajak mandi bareng??&#8221; Tanya Ivan spontan.</p>
<p>Aku cukup terkejut juga mendengarnya, tapi dengan santai aku menjawab,</p>
<p>&#8220;Maunya sih, kalo situ nggak keberatan&#8221;</p>
<p>Ivan hanya terdiam mendengar jawabanku. Lalu dengan santai aku melangkah menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Kurasakan seolah-olah Ivan sedang menatapku dari belakang. Setelah masuk ke kamar mandi, sengaja tidak kututup rapat pintu kamar mandi. Aku berharap Ivan mengetahui kesengajaanku ini, aku ingin merasakan bagaimana nikmatnya mandi sambil diintip laki-laki. Setelah menanggalkan seluruh pakain yang melekat ditubuhku, sambil bernyanyi kecil aku membasahi tubuhku dengan air yang keluar dari shower. Sekitar 10 menit kemudian, kudengar bunyi langkah menuju arah dapur. Lewat sela-sela pintu yang sengaja tidak &#8216;ku tutup tadi, aku lihat Ivan sedang mengambil air minum.</p></div>
<p>Sekilas kulihat arah matanya sedang menatap pintu kamar mandiku dan aku yakin ia melihat tubuhku walaupun tidak seluruhnya terlihat. Lalu aku pura membungkuk untuk membersihkan kakiku, sengaja kuarahkan pantatku ke sela-sela pintu agar Ivan dapat dengan leluasa melihat bagian yang kuanggap paling seksi dari seluruh tubuhku itu. Sekitar lima menit kemudian aku mengubah posisiku, kali ini aku berdiri menyamping, sekilas kulirik kalau Ivan masih berdiri ditempatnya, kuusap-usap payudaraku yang berukuran 34B itu. Kupastikan agar Ivan bisa melihat gerakanku itu walaupun dari samping. Aku merasakan sensasi yang luar biasa dahsyat saat aku mengelus-elus pentil susuku.</p>
<p>Badanku bregetar hebat menahan gairah yang seakan-akan mau meledak. Ah, aku berkhayal, seandainya Ivan menerobos masuk dan mencumbuku tentu tidak akan kutolak. Kini tanganku turun untuk mengelus vaginaku. Kumain-mainkan clitorisku, ach.. Ingin rasanya aku berteriak &#8220;Ivan.. Apa yang kau tunggu lagi!! Cumbu aku, puaskan aku!!&#8221;</p>
<p>Aku seolah tak perduli lagi. Tak lama kemudian aku merasakan ada suatu yang akan keluar dan dapat aku pastikan kalau aku akan orgasme. Kupercepat elusan tanganku di clitorisku, dan tak lama kemudian..</p>
<p>&#8220;Akhh.. Eesstt..&#8221;</p>
<p>Tanpa kusadari aku mengerang menahan kenikmatan yang sedang aku rasakan dan aku yakin Ivan pasti mendengarnya. Barulah setelah itu aku membersihkan badanku. Setelah mengeringkan badanku, aku keluar dari kamar mandi dan kulihat Ivan sudah tidak ada lagi di tempatnya semula berdiri. Saat aku melewati ruang tamu. Kulihat ia sedang nonton TV sambil berbaring.</p>
<p>&#8220;Wah, lama amat mandinya. Jangan-jangan udah habis tuh airnya, hampir aja aku mo&#8217; numpang kencing di rumah tetangga kalo&#8217; kamu nggak keluar-keluar. Tidur yah..??&#8221; Ledek Ivan</p>
<p>Aku hanya menjulurkan lidahku mendengar ucapannya, sekilas saat aku akan masuk ke kamarku, kulihat bagian bawah pusar Ivan tampak menonjol. Aku yakin ia pasti horny, karena dari tadi mengintip aku mandi.</p>
<p>Setelah masuk ke kamarku, sengaja tidak kututup pintu kamarku, sehingga kamarku hanya ditutupi kain korden. Sehingga apabila tertiup angin, kupastikan kain itu akan tersibak. Setelah membuka lilitan handuk yang menutupi tubuhku, aku mengeringkan sisa-sisa air dari tubuhku sambil sesekali melirik Ivan yang ada tepat di depan kamarku, kuharap ia sadar kalau aku ingin mengulangi kejadian di kamar mandi, kini di kamarku. Sambil bernyanyi-nyanyi aku mengambil BH, CD dan daster dari dalam lemari bajuku. Aku ingin terlihat seksi saat Ivan melihatku memakai daster didepannya, karena aku yakin pasti ia tidak pernah melihat seorang gadis sepertiku memakai daster. Kemudian terlintas di pikiranku seandainya aku tidak memakai bra, pasti akan terlihat dengan jelas lekuk-lekuk payudaraku.</p>
<p>Kemudian kutaruh kembali BH yang tadi kuambil. Lalu aku mulai memakai celana dalamku saat tiba-tiba angin bertiup kencang hingga menyingkap kain penutup kamarku sehingga terlihat dengan jelas posisiku yang sedang memasukkan kaki kananku ke dalam segitiga pengaman wanita itu. Dan tanpa sengaja mataku bertatapan dengan mata Ivan yang sedang tercengang melihat pemandangan indah itu. Tapi aku cuek saja dan tetap meneruskan kegiatanku memakai celana dalam. Aku tersenyum mengingat raut wajah Ivan saat melihatku bugil tadi. Setelah lengkap berpakaian, aku keluar dan kulihat Ivan tidak ada ditempatnya semula. Lalu kudengar bunyi pintu kamar mandi yang barusan ditutup. Oh, mungkin ia sedang buang air kecil, pikirku.</p>
<p>Tak lama kemudian Ivan keluar dari WC dan menuju kearahku. Kulihat wajahnya memerah, tapi aku tak tahu karena apa. Sambil nonton TV, aku dan Ivan berbincang-bincang sambil sesekali aku tertawa dibuatnya dengan cerita-cerita lucunya. Saat aku tertawa itu ku rasakan payudaraku yang tanpa BH itu berguncang-guncang. Aku lihat Ivan sesekali melirik ke arah gunung kembarku itu, dan aku yakin ia pasti tahu kalau aku tidak memakai BH. Tanpa kusadari ternyata tonjolan putingku itu nampak jelas tercetak dari balik dasterku.</p>
<p>&#8220;Ah, udahan ah &#8216;Van. Cerita lo&#8217; bikin aku sakit perut nahan pipis. Dari tadi ketawa melulu&#8221;. Ucapku.<br />
&#8220;Lha pipis di tahan-tahan, ntar jadi penyakit baru tahu.&#8221; Jawab Ivan.<br />
&#8220;Ya udah aku pipis dulu nih..&#8221;</p>
<p>Lalu aku beranjak menuju ke kamar mandi untuk pipis. Setelah buang air kecil, saat aku akan keluar kulihat pakaian dalamku sebelum aku mandi tadi masih menggantung di belakang pintu. Lalu aku mengambilnya dengan maksud akan kurendam di ember, tanpa sengaja saat aku memegang celana dalamku kurasakan ada banyak lendir tepat dibagian penutup vaginaku. Saat aku perhatikan, ada banyak lendir berwarna putih kental disitu. Aku bertanya-tanya apakah ini cairanku, tapi setahuku tadi saat aku mo&#8217; mandi, aku ingat kalau celana dalamku tadi masih kering karena saat ini aku masih dalam masa subur. Pun aku yakin kalau itu bukan cairan keputihan, karena cairan yang ini banyak sekali seperti lendir. Saat kusentuh cairan itu terasa hangat dan melekat, baunya pun persis dengan bau pemutih pakaian.</p>
<p>Kulihat di BHku juga ada cairan lendir itu walaupun tidak banyak. Aku berpikir, apakah ini cairan milik Ivan, karena aku pernah membaca suatu artikel kalau cowok itu senang sekali onani bahkan aku juga pernah membaca di *******.com kalau ada sifat cowok yang suka mengoleksi pakaian dalam cewek bekas pake&#8217;, kalo ngga salah namanya Fetish.</p>
<p>Kini aku yakin ini pasti sperma milik Ivan, mungkin ia tidak bisa menahan nafsunya sehingga dilampiaskan melalui pakaian dalamku ini. Aku tidak menyangka ternyata Ivan yang kuanggap &#8220;alim&#8221; itu bisa melakukan onani, dan pakaian dalamku yang menjadi korbannya. Tapi aku tidak marah, malah aku ingin merasakan bagaimana rasanya air mani Ivan ini. Kemudian aku keluar dari kamar mandi, dan masuk ke kamarku. Saat aku melewati ruang tamu, kulihat tidak ada siapa-siapa. Mungkin Ivan ada dikamarnya di lantai dua.</p>
<p>Begitu sampai ke kamarku, kukunci pintu kamarku dan kembali ku buka lipatan celana dalamku yang terdapat sisa-sisa air mani Ivan tadi. Dengan perlahan, kuhirup aroma sperma milik Ivan itu. Mungkin kalau ada orang yang melihatku pasti akan jijik dan mengatakan aku jorok. Tapi aku tak perduli dan tetap ku hirup aroma nikmat itu. Kurasakan panas yang keluar dari tubuhku walaupun di kamarku telah terpasang AC. Kubuka daster yang kukenakan dan juga celana dalamku hingga aku telanjang bulat. Kemudian aku berbaring di atas tempat tidurku, sambil tetap mencium bau khas lendir milik laki-laki yang bernama Ivan itu.</p>
<p>Karena penasaran, kumainkan lendir itu dengan jari telunjukku. Timbul rasa penasaran ingin &#8220;mencicipi&#8221; sperma Ivan ini, tapi aku takut hamil. Tapi karena rasa penasaranku begitu kuat, kubuang jauh-jauh rasa takutku itu dan tanpa rasa jijik sedikitpun kujilat sedikit air mani Ivan itu. Kurasakan rasa asin dan entah rasa apa lagi, tak bisa kujelaskan. Karena penasaran, kujilat lagi sedikit sperma Ivan yang ada di celana dalam ku itu, hingga tanpa sadar akhirnya kujilat dan kutelan seluruh air mani Ivan itu hingga celana dalamku yang tadi belepotan dengan air mani Ivan itu menjadi basah oleh air liurku karena bekas menjilatinya tadi. Entah mengapa aku jadi ketagihan, rasa asin tadi seolah berubah menjadi suatu rasa nikmat yang memabukkanku. Akhirnya karena terangsang hebat, ku mainkan klentitku, aku pun mendesah hebat menahan getaran kenikmatan hingga akhirnya aku orgasme.</p>
<p>&#8220;Aahh.. Esstt..&#8221;</p>
<p>Sesaat aku terkulai lemas, dan tanpa sadar aku akhirnya tertidur dengan tubuh telanjang. Saat aku bangun kulihat jam ternyata aku tertidur hampir 1 jam. Cepat-cepat aku memakai bajuku kembali dan keluar untuk mencuci pakaian dalamku tadi. Setelah mencuci, tiba-tiba kurasakan kalau rumahku sepertinya sepi tidak ada orang. Lalu aku membuka kamar adikku, ternyata dia tidak ada. Akhirnya aku baru teringat akan Ivan, aku lupa menyuruhnya makan. Kulangkahkan kakiku menuju lantai dua, menuju kamar Ivan. Kulihat pintunya terbuka sedikit, pikirku apakah Ivan sedang tidur. Saat tanganku akan membuka pintu kamarnya, aku dikejutkan dengan pemandangan yang membuatku surprise. Aku lihat Ivan sedang berbaring telanjang diatas tempat tidurnya, kelihatannya ia sedang horny berat karena kulihat ia sedang mengelus-elus penisnya. Untuk pertama kalinya aku baru melihat bentuk penis laki-laki.</p>
<p>Lumayan besar juga milik Ivan. Yang makin membuatku surprise adalah ternyata Ivan sedang memegang celana dalam berwarna merah. Aku yakin itu pasti milik adikku karena aku tidak mempunyai celana dalam berwarna merah. Kulihat Ivan sedang mencium-cium celana dalam adikku itu tepat di bagian tengah-tengahnya. Lalu ia mulai mengocok penisnya sambil tetap mencium CD adikku itu. Aku yang melihat itu kembali menjadi terangsang. Kuremas-remas payudara sebelah kananku sambil melihat Ivan. Ah, kalau aku tidak dapat mengendalikan diriku mungkin sudah dari tadi aku masuk kekamar Ivan. Aku membayangkan seandainya penis Ivan itu menusuk-nusuk memekku, ah pasti nikmat sekali. Tak lama setelah itu aku lihat wajah Ivan tiba-tiba memerah dan tubuhnya menegang, dan kulihat ia meletakkan celana dalam adikku itu tepat di diujung penisnya dan kudengar ia mendesis pelan menyebut nama adikku.</p>
<p>&#8220;Achh.. Fitri.. Enak sekali sayang!!&#8221;</p>
<p>Oh, mungkin ia sedang membayangkan begituan dengan adikku. Sialan, makiku dalam hati kenapa ia malah memilih Fitri untuk menjadi bahan onaninya. Kenapa tidak aku, tiba-tiba saja aku menjadi cemburu. Padahal aku lebih cantik dibandingkan adikku itu.</p>
<p>Tak lama setelah itu, kulihat Ivan mengangkat celana dalam yang tadi ditutupkannya di atas penisnya saat onani. Kulihat celana dalam adikku itu basah dibagian tengahnya. Dan kulihat juga di ujung penis Ivan itu ada sedikit cairan putih, sama seperti yang terdapat di celana dalamku tadi. Ternyata dugaanku tidak meleset, lendir yang tadi ada di celana dalamku itu adalah kepunyaan Ivan. Ternyata ia juga ingin membaginya dengan celana dalam adikku.</p>
<p>Kemudian aku turun dan pura-pura sedang nonton TV, semoga saja Ivan tidak mengetahui kalau aku tadi mengintipnya sedang onani. Itulah sedikit pengalamanku yang bisa kuceritakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/eksibisi-pertamaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sehabis pertandingan sepak bola&#8230;</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/sehabis-pertandingan-sepak-bola.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/sehabis-pertandingan-sepak-bola.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 00:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[hi guys.. perkenalkan, namaku luis, 21 tahun, mahasiswa Indonesia di salah satu perguruan tinggi di Singapura. Kejadian ini aku alami minggu lalu tepatnya sehabis pertandingan sepak bola antara tim IFC (International Football Club) dimana aku salah satu winger terbaiknya lawan tim orang2 lokal. aku bermain full 90 menit di pertandingan itu (kebayang kan, gimana capeknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hi guys.. perkenalkan, namaku luis, 21 tahun, mahasiswa Indonesia di salah satu perguruan tinggi di Singapura. Kejadian ini aku alami minggu lalu tepatnya sehabis pertandingan sepak bola antara tim IFC (International Football Club) dimana aku salah satu winger terbaiknya lawan tim orang2 lokal. aku bermain full 90 menit di pertandingan itu (kebayang kan, gimana capeknya seorang winger yg maen full 90 menit). Setelah pertandingan melelahkan yg dimenangkan oleh IFC dengan skor 6-4 (aku cetak 1 gol), aku memutuskan untuk langsung pulang. langsung saja aku stop taksi yang lewat (hari itu lagi males bawa mobil) n bilang ke supirnya untuk diantar ke Toa Payoh, daerah dimana aku tinggal. setelah sampai di kondominium sekitar jam 8 malam, langsung aku taruh barang2 di tempat cuci dan langsung beranjak ke kamar untuk rebahan sebentar. saat kubuka pintu, ternyata di kamarku sudah ada agnes, cwku tercinta. dia lagi maenin laptopku. (dia punya kunci cadangan buat masuk ke apartemenku). pas masuk ke kamar, aku cuma kasi dia ciuman ringan di kening dan dia bertanya &#8220;gimana tandingnya? menang?&#8221; Karena capeknya, aku hanya membalas &#8220;iya, menang. nyetak gol 1&#8243;.</p>
<p>sepertinya dia menyadari kalau saat itu aku udah ga ada tenaga lagi buat ngapa-ngapain. langsung dia bangkit dari tempat duduk, pergi keluar, bikinin segelas milo hangat. &#8220;habisin milonya trus mandi sana. air hangat dah siap tuh&#8221;. segera saja kuhabisin minumannya dan bergegas mandi.</p>
<p>waktu lagi menikmati siraman shower air hangat, tiba2 pintu kamar mandi dibuka. agnes berdiri di depan pintu, sambil senyum manis melihat ke arahku. &#8220;sini aku sabunin&#8221;. katanya sambil langsung mengambil sabun dan mulai menyabuni.<br />
saat itu, aku sedang lemes-lemesnya, sampe ga kepikiran buat &#8220;maen&#8221; ama agnes. tapi agnes dengan gigihnya memberi rangsangan. ga ada satupun bagian dari badan yg luput dari usapannya. saat tangannya yang halus mulai menyabuni si kecil, aku tersentak. &#8220;eh, mau ngapain?&#8221; tanyaku. dengan santainya dia menjawab, &#8220;mau bangunin ade kecilmu&#8221;. terus saja dia memainkan ade kecilku, mengusap, mengelus, mengocok sedikit. tapi tetap saja ade kecilku ga mau bangun. mungkin karena terlalu lelah sehabis pertandingan tadi.</p>
<p>Agnes tidak putus asa, dia lalu membuka pakaiannya hingga tersisa bra dan CDnya, lalu menyalakan shower dan membasuh tubuhku yang penuh sabun. kemudian dia memegang tanganku, membimbingnya ke arah dadanya yang padat berisi dan mulai diremasnya dadanya. kali ini usahanya berhasil. sang ade kecil mulai memberi reaksi. dia mulai menegang. langsung saja kulepas bra yang menempel, membuat dadanya yang putih mulus dan padat menyembul keluar. tanpa pikir panjang, kulumat habis dadanya. kuremas, jilat dan hisap putingnya dan menggigit kecil. kegiatanku tadi sontak bikin agnes mendesah ringan sambil berkata &#8220;sshhh.. luiss.. jangan berhenti&#8230;&#8221;<br />
kata katanya bikin aku yg tadinya ga ada semangat, langsung horny abis. setelah puas memainkan dadanya, kubuka CDnya. kusap2 me**knya sambil melumat habis bibirnya dibawah shower air hangat yang bikin makin nafsu. lama juga kumainkan me**knya sampai akhirnya agnes mengejang n berteriak tertahan &#8220;luuiisss&#8230; akkhhh.. keluar nihh..&#8221;</p>
<p>setelah agnes bisa menenangkan dirinya setelah orgasme, segera kuambil handuk, keringin badan dan rambut masing masing dan melanjutkan permainan kita di kamar. ternyata lampu kamar sudah diganti pakai lampu tidur yang redup, ditambah lilin aromaterapi wangi bunga mawar. ternyata semuanya sudah disiapkan. sambil senyum menggoda, agnes bilang &#8220;sekarang uda ga cape lagi kan&#8221;.</p>
<p>tanpa pikir panjang, langsung kugendong dia ke tempat tidur dan memulai lagi permainan yang tertunda tadi. kucium bibirnya dengan penuh nafsu, dia membalasnya dengan tidak kalah semangatnya, lidah kita saling mencari, menjelajah setiap rongga mulut kita sambil tanganku memainkan clitorisnya. tangan dia pun tidak tinggal diam. dengan lincahnya, tangannya meremas, mengocok kecil dan mengelus ko***lku yg udah menegang. tak cukup samapi disitu, kakinya kubuka lebar, dan mulai kujilati me**knya yg udah basah. &#8220;ssshh&#8230; ahh.. luis&#8230;&#8221; cuma kata2 itu yang keluar dari bibirnya. kulumat habis me**knya dengan jilatan, kecupan, hisapan, gigitan nakal di clitorisnya tak lupa jg lidahku menjelajah ke dalam me**knya. cukup lama aku bermain di daerah sensitifnya sampai akhirnya tangannya menjambak rambutku n dia berteriak kecil.. &#8220;aaarhhh.. sshhh.. agnes nyampe lagii niihh..&#8221; setelah puas, gantian dia yang bekerja. aku tiduran di kasur dan dia mulai menjilati ko***lku yg sudah pada tegangan tertinggi. dijilatinya ko***lku dengan penuh nafsu. dikulum, sambil kepalanya bergerak laik turun. &#8220;sshhh.. ahh. mmphh. enak banget ness..&#8221; cuma itu yang bisa aku bilang saat itu sambil terus mendesah nikmat.</p>
<p>setelah puas, agnes langsung menaikiku. mengarahkan ko***lku masuk ke lubang me**knya. hangat dan sempit.. dia langsung bergoyang naik turun, aku imbangin dengan gerakan pantat naik turun. cuma suara desah kenikmatan yang terdengar saat itu. setelah beberapa lama, agnes tampaknya sudah mau mencapai orgasme lagi. &#8220;luisss&#8230; aarggghh..&#8221; dia mengejang sambil menegadah ke atas, memejamkan matanya, menikmati setiap momen orgasmenya. setelah reda, dia cium bibirku mesra.</p>
<p>kali ini, aku merubah posisinya. dia tiduran di kasur dan membuka lebar kakinya.. terlihat jelas me**knya yang merah muda merekah.. &#8220;masukin sayang&#8230;&#8221; katanya sambil senyum nakal. langsung kutusukkan ko***lku ke me**knya. dia menjerit kecil, karena memang me**nya masih sempit meski sudah tidak <span>perawan</span>. aku mulai menggenjot, memaju-mundurkan pantatku untuk mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya. hanya suara desahan menggemaskan yang keluar dari mulut agnes, menikmati setiap genjotanku. sampai akhirnya, aku sudah tak tahan lagi, merasakan akan segera orgasme. &#8220;ness&#8230; mau keluarr niihh&#8230; sshh.. ahh.&#8221; &#8220;sama sama ya sayang.. agness&#8230; jg mauu&#8230;&#8221; kupercepat genjotanku, dan akhirnya&#8230; Crotttt&#8230;. kusemburkan seluruh muatanku kedalam me**knya.. bersamaan dengan itu, agnes juga mendapatkan orgasmenya lagi.. &#8220;terima kasih sayang..&#8221; kataku sambil mengecup bibirnya. &#8220;sama-sama luisku sayang.. aku puas banget malam ini&#8221;. balasnya mesra.</p>
<p>sehabis itu, segera kita bersihkan badan, lalu turun ke basement dan mengambil mobil, lalu kita pergi makan malam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/sehabis-pertandingan-sepak-bola.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ressy, mahasiswi</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/ressy-mahasiswi.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/ressy-mahasiswi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=330</guid>
		<description><![CDATA[Waktu perkuliahan pun terus berjalan, dan setelah 3 bulan lebih saya mulai akrab dengan Ressy ini dan mulai sering ngobrol (sebelumnya hanya kenal senyum saja, ataupun hanya menanyakan tugas mata kuliah). Dan ternyata Dia ini lagi cuti kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta hukum terkenal di Bandung, tapi saya lupa waktu itu dia semester [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="post_message_536750"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman;">Waktu perkuliahan pun terus berjalan, dan setelah 3 bulan lebih saya mulai akrab dengan Ressy ini dan mulai sering ngobrol (sebelumnya hanya kenal senyum saja, ataupun hanya menanyakan tugas mata kuliah). Dan ternyata Dia ini lagi cuti kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta hukum terkenal di Bandung, tapi saya lupa waktu itu dia semester berapa, yang saya ingat waktu itu saya berumur 19 tahun dan dia berumur 22 tahun. Dan ternyata dia sudah punya pacar. Waduh hatiku lemas, walaupun sudah jarang ketemu tetapi statusnya masih resmi pacaran.<br />
</span></span></span><br />
<span style="font-family: Times New Roman;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">Saat kami berdua ngobrol, dia suka <em>curhat</em> tetapi saya suka mencuri pandangan ke arah buah dadanya yang indah menawan itu. Waduh pokoknya bulat tegap dan sedikit runcing, begitu juga kulitnya tidak satupun bekas goresan luka, hanya putih mulus dan pantatnya bulat menantang. Kalau dilihat dari belakang, waduh.. membuat kemaluan saya berdiri tegap dan ingin kuremas-remas dan ditancap dari belakang. Bayangkan kalau berjalan dia berlenggang-lenggok. Dia memiliki rambut yang indah, hitam dan panjang, berhidung mancung, berbibir tipis, alis dan bulu mata yang lentik (tapi seperti cewek bule). Dan memang cewek ini anak seorang yang kaya raya. Dan kami pun menjadi dekat dan akrab, tapi tidak tahu dia itu sukanya bareng dan jalan sama saya saja. Padahal kan banyak teman cewek di kampus itu ataupun cowok yang lain. Yaa.. tapi saya pun sangat senang sekali bisa jalan bareng sama Ressy, Dia pun sering mengajak saya main ke rumahnya. Namun itu tidak pernah terjadi, mungkin saya tidak biasa main ke rumah cewek. Dan akhirnya dia ingin main ke rumah saya, waduh saya juga bingung karena saya juga belum pernah kedatangan teman cewek apalagi seperti dia, tapi dia terus memaksa saya.</p>
<p>Suatu hari di kampus, mata kuliah satu sudah selesai dan harus masuk lagi untuk mata kuliah yang kedua, tapi waktunya sore hari, dan ketika sudah selesai mata kuliah satu, kami pun merasa <strong>BT</strong> kalau di kampus saja, dan Ani memaksa saya untuk main ke rumah saya, katanya ingin tahu tempat tinggal saya dan sekaligus ingin <em>curhat</em>. Ya untungnya rumah saya itu hanya ada saudara saya (karena saya tidak tinggal bersama orang tua) dan rumah itu milik nenek saya. Oleh karena itu kehidupan saya bebas dan saling cuek sama anggota keluarga lainnya di rumah itu. Tidak ada saling curiga atau hal apapun, yang penting tidak saling merugikan satu sama lain.</p>
<p>Kami pun berdua pergi ke rumah saya. Siang bolong, ketika sudah sampai di rumah, Ressy saya persilakan masuk ke kamar saya dan ternyata saya tidak grogi atas kedatangan cewek cantik ini. Dan ketika baru mengobrol sebentar lalu dia bicara, &#8220;Ted panas yaah hawa di Bandung sekarang ini.&#8221;<br />
&#8220;Iya nih!&#8221; sambil kubawakan minuman dingin yang sangat sejuk sekali.<br />
&#8220;Ted&#8230; boleh nggak saya buka baju, kamu jangan malu Ted, saya masih pake pakaian dalam kok, habis panasss siiihh&#8230;&#8221;<br />
Waduh memang saya merasa malu waktu itu dan sedikit deg-degan jantungku.<br />
&#8220;Aduuh gimana kamu ini, emang kamu nggak malu sama aku?&#8221; bantahku.</p>
<p>Tapi kan dia sudah ngomong kalau dia masih memakai pakaian dalam. Kemudian saya keluar kamar sebentar untuk mengambil makanan ringan di lemari es, dan ketika saya memasuki kamar lagi, ya ampun.. pakaian dalam sih pakaian dalam tapi kalau ternyata kalau itu BH yang super tipis dan kelihatan puting susunya. Waduh, saya sangat grogi waktu itu dan saya pun sering memalingkan wajah, tapi tidak dapat dipungkiri, kemaluan saya pun berereksi dan aliran darah saya pun mengalir tidak karuan, apalagi hawa sedang panas-panasnya.<br />
&#8220;Ayo sekarang kamu mau curhat lagi?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Nggak sih Ted, saya udah minta putus sama dia (pacarnya-red) dan dia setuju untuk resmi putus.&#8221;<br />
&#8220;Ya udah&#8230; abis gimana lagi&#8221;, katanya.</p>
<p>Dalam hatiku, asyik dia sudah putus, dan saya pun berpura-pura bersedih, karena memang kasihan melihat wajahnya sedikit pucat dan sedikit menangis. Dia memelukku sambil sedikit bicara kepadaku, tapi itu lho anuku tidak bisa diam dan semakin panas saja suhu tubuhku. Ketika kuelus rambut dan punggungnya, eh dia menciumku dan kubalas ciumannya dan dia membalas lagi, semakin lama kami berciuman dan dia memasukkan lidahnya ke mulutku. Waduh, ini benar-benar mengasyikan dan terus terang ini adalah pertama kali bagiku. Dan dia pun mengeluarkan suara desahan yang sangat lembut dan sensual, dan dituntunnya tanganku ke buah dadanya, langsung saja kuremas-remas dan BH-nya pun kubuka. Wow, buah dada yang sangat indah, putih, bulat berisi dan mancung serta puting yang bagus, sedikit warna merah di seputar putingnya dan berwarna coklat di puncaknya, sekali-kali kupelentir putingnya dan dia pun mendesah kuat, &#8220;Ssstthhh ha.. hah.. aahh.. okhs Ted, bagus Ted, eeenakk&#8221;, suaranya yang kecil dan merdu. Dia membuka bajuku dan aku kini dibuatnya telanjang, tapi aku hanya pasrah saja, tidak ada rasa malu lagi.<br />
</span></span></span><br />
<span style="font-family: Times New Roman;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">&#8220;Apa kamu sering melakukan ini sama pacar kamu?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya Ted, tapi nggak sering.. aaksshhh&#8230;&#8221; kata dia sambil mendesah, tanganku diarahkannya ke liang kemaluannya, dan langsung kuelus-elus sambil lidahku menjilat putingnya yang indah itu. Sedikit-sedikit kuselingi dengan gigitan ringan tepat di puncaknya, dan dia menggeliat keenakan. Dan kemaluannya pun basah. Kubuka celananya dan celana dalamnya secara perlahan.</p>
<p>Oh iya, kami melakukannya di sofa kamarku tepat di depan TV dan stereo-set. Dan kami lagi sedang mendengarkan lagu-lagu rock barat tahun 70-an, ketika kubuka CD-nya, yes.. dia memiliki kemaluan yang bagus, bulu sedikit, dan memang dia masih <span>perawan</span>, dengan pacarnya juga hanya melakukan oral sex. Tetapi saya belum berani untuk menjilat kemaluannya, saya hanya mengesekkan tangan saya ke bibir kemaluannya. Eh ternyata dia turun dari sofa dan menghisap batang kemaluanku, &#8220;Aaakshh&#8230; hsstt oks!&#8221; dia menjilati biji pelerku dan dia mengisap kemaluanku lagi sambil dipegang dan dikocoknya. &#8220;Waduuhhh&#8230; enak sekalii akkhhss&#8230;&#8221; aliran-aliran darahku mengalir dengan serentak dan ingin kumasukkan kemaluanku ke liang kemaluannya, tapi apa dia mau? Beberapa menit kemudian.. &#8220;Ted, kamu punya barang gede enggak, kecil enggak, panjang enggak and pendek enggak, tapi bener Ted, saya sangat suka kamu punya barang&#8221;, katanya sambil berdiri dan lubang kemaluannya dihadapkannya ke wajahku aku semakin tidak kuat saja.<br />
</span></span></span><br />
<span style="font-family: Times New Roman;"><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;">Langsung saja kujilat liang kemaluannya. Wah agak bau juga nih, tapi bau yang enak. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil, &#8220;Uwuuhh ooo&#8230; sstt akhs&#8230; akhs&#8230; akhs&#8230; ooohhh aahh&#8230; sstth&#8221;, sambil tubuhnya agak bergerak nggak karuan, mungkin jilatanku belum pintar tapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku. Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Tapi saya memberanikan untuk bicara.<br />
</span></span></span><br />
<span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman;">&#8220;An, kamu masih <span>perawan</span> nggak?&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8230; aksshhh&#8230; ssstt&#8230; ssstt aakhs&#8221;, katanya. Ternyata dugaanku benar.<br />
&#8220;Tapi sama pacar kamu itu?&#8221;<br />
&#8220;Iya tapi kalau aku sama dia hanya oral aja&#8221;, kata Ani.<br />
&#8220;Tapi Ted, gimana kalau kita ini sekarang&#8230;&#8221; dia tidak melanjutkan pembicaraannya.</p>
<p>&#8220;Okh&#8230; ookh&#8230; okh&#8230; ssstt&#8230;&#8221; dia mencoba untuk memasukan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dengan bantuan tangannya. Dengan begitu, aku pun berusaha untuk memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, dan secara perlahan kugesekkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan sedikit demi sedikit kumasukkan kemaluanku, tapi ini hanya sampai kepala aja, dan&#8230; &#8220;Ooohh aaakksshh.. ahh.. ah.. aahh.. oohh&#8230; sset&#8221;, dia merintih- rintih. Aku terus menggenjot dia.<br />
&#8220;Ted, ternyata pedih juga, aahhh!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Tapi teruskan saja Ted&#8230;&#8221;.</span></span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kulihat wajahnya memang mengkhawatirkan juga, tapi yang kurasakan adalah kenikmatan, meskipun itu masih tersendat-sendat dan sedikit kehangatan, &#8220;Ookkhhss&#8230; sstt, aduh nikmatnya&#8221;, kataku. Dan memang ada sedikit darah di batang kemaluanku dan yes.. semua batang kemaluanku masuk, dan benar-benar nikmat tiada tara, dan hilanglah perawannya dan perjakaku.</p>
<p>&#8220;Sssttt.. sssttt..&#8221; desahannya yang merdu dan menggairahkan apalagi didukung oleh kecantikannya dan mulus kulitnya. Dan kami masih melakukan gaya konvensional dan terus kugenjot naik turun, naik turun dan tumben, aku masih kuat dan menahan kenikmatan ini, karena kalau aku sedang onani, tidak selama ini. Di lantai itu kami melakukannya serasa di surga. &#8220;Assh.. asshh.. aakss.. ooohh.. aksh.. sstt&#8221;, dia menjerit-jerit tapi biarlah kedengaran oleh saudaraku, yang lagi nonton TV di ruang keluarga.</span></span></span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman;">Karena pasti suara jeritan Ressy ini kedengaran. &#8220;Terus Ted, aduhh Ted kok enak sih&#8230; aaksss ssttss&#8230;&#8221; katanya sambil merem melek matanya dan bibirnya yang aduhai melongo ke langit dan langsung kujilat lidahnya. &#8220;Duuhhh aaahss sstt duh An, aku mau keluar nih!&#8221; kataku. &#8220;Uuhhsss ssttt jangan dulu dong Ted&#8230; bentar lagi aja&#8221;, katanya. Tapi memang saya waktu itu sudah nggak kuat, ehh ternyata&#8230; &#8220;Sss ooohh akkhhss&#8230; ooohh, duh Ted boleh deh sekarang, kamu dikeluarinnya di sini aja&#8221;, sambil ditunjukanya ke arah payudaranya. Dan&#8230; &#8220;Creett&#8230; cret&#8230; cret&#8230; crret&#8221; dan air maniku yang banyak itu menyemprot ke payudaranya dan sekitar lehernya. Selesailah main-main sama Ressy, dan waktu pun menunjukan arah jam 5 lebih dan memang kami sudah telat untuk pergi lagi ke kampus memasuki pelajaran Mata Kuliah kedua.</p>
<p>Kami berdua terkulai dan ketiduran di lantai itu dalam keadaan masih telanjang, dan lagu di stereo tape-ku pun sudah lama habis. Bangun-bangun sudah hampir jam 19.00, kami pun bergegas berpakaian dan aku pergi ke kamar mandi untuk mandi, sesudah saya selesai mandi dia juga mandi, dan akhirnya kami pergi jalan-jalan sekalian mencari makan. Kami pergi ke daerah Merdeka dan makan. Sesudah itu kami nonton di Bioskop. Di Bandung Indah Plaza (BIP), lupa lagi waktu itu kami nonton apa. Sesudah selesai nonton Ani tidak mau pulang dia ingin menginap di rumah saya. Waduh celaka juga nih anak, ketagihan atau dia lagi ada masalah dengan keluarga di rumahnya. Setelah kami berbincang-bincang, ternyata dia tinggal tidak bersama orang tuanya, sama seperti saya. Dia tinggal bersama bibinya, dan memang tidak ada perhatian bibinya kepada Ani. Dan kami berdua pulang ke rumah saya dengan membawa makanan ringan, minuman (beer dan Fanta). Sesampainya di rumahku, kami berdua mengobrol lagi sambil menonton TV, dan kusuruh dia tidur duluan, kamipun tidur sambil berpelukan terbuai terbawa oleh mimpi indah kami berdua.</p>
<p>sejak saat itulah kami resmi berpacaran, dengan begitu makin sering juga kami melakukan perbuatan &#8220;nikmat&#8221; seperti yang telah kami lakukan sebelumnya.</span></span></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/ressy-mahasiswi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Perdanaku &#8211; 3</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-3.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2922</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 2 Akhirnya mereka bertiga nekat pulang dengan keadaan hujan yang sangat deras sekali, aku dan Tari memandang mereka dari dalam tenda yang lama kelamaan menghilang di kejauhan. Sambil melipat kedua tanganku dan duduk dipintu tenda, aku dan Tari berbincang-bincang ringan, lalu aku merasakan seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam celana panjangku. Akupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 2</p>
<p>Akhirnya mereka bertiga nekat pulang dengan keadaan hujan yang sangat deras sekali, aku dan Tari memandang mereka dari dalam tenda yang lama kelamaan menghilang di kejauhan. Sambil melipat kedua tanganku dan duduk dipintu tenda, aku dan Tari berbincang-bincang ringan, lalu aku merasakan seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam celana panjangku.</p>
<p>Akupun spontan langsung berdiri, &#8220;Aduh.. apa ini&#8221;, kataku khawatir takut ada binatang di dalam celanaku.</p>
<p>Tanpa banyak pikir akupun spontan membuka celana panjangku yang tanpa aku sadari Tari berada di sampingku. Akupun sekarang tinggal mengenakan celana dalam.Waktu itu aku memang pakai celana dalam karena tahu mau jalan jauh. Aku kibas-kibaskan celanaku hendak menjatuhkan sesuatu apabila ada yang melekat di celanaku sambil meraba-raba seluruh bagian bawah tubuhku sampai ke ujung kaki, bahkan sempat mengintip kedalam celana dalamku mencari mungkin ada binatang yang masuk ke situ.</p>
<p>&#8220;Mari coba ku periksa&#8221;, seru Tari sambil menarik celana panjang yang aku pegang.</p>
<p>Akupun baru sadar bahwa di situ bukan aku sendiri sehingga aku sedikit malu dalam keadaan setengah bugil didepan Tari. Iapun memeriksa celana panjangku itu dan hanya mendapatkan sehelai daun dari dalamnya yang entah kenapa bisa berada di dalam celana panjangku. Mungkin waktu aku sedang bermain bola tadi yang beberapa kali terjatuh di atas rumput liar.</p>
<p>Tari lalu kembali menyodorkan celana panjang itu kepadaku yang tanpa sengaja menyentuh penisku yang setengah ereksi akibat tertiup udara dingin. Spontan penisku semakin ereksi, mungkin tersentuh oleh tangan dingin Tari. Perubahan pada penisku itu terlihat oleh Tari karena celana dalam yang aku pakai mengembang keluar seakan ada benda di dalamnya yang memaksa keluar, tetapi aku coba mengacuhkan kejadian itu sambil mengambil celana panjangku dari tangan Tari kemudian berbalik membelakanginya.</p>
<p>Saat hendak memasukkan satu kakiku kedalam lubang celana panjangku aku merasakan penisku ada yang meraba dari belakang, karena hanya bertumpu pada satu kaki saja aku terpelanting ke samping dan jatuh di atas lantai karpet di dalam tenda itu. Akupun merasakan ada sebuah tangan ikut tertindih olehku yang ternyata adalah tangan Tari. Pahakupun terasa dingin oleh karpet yang lembab akibat hawa air hujan yang merembes dari dari dalam tanah. Walaupun aku telah menindih tangan Tari dan mengira ia kesakitan yang ternyata tidak. Justru tangan halus itu bekerja meremas remas batang penisku yang semakin kuat berdiri. Detak jantung terasa makin cepat.</p>
<p>&#8220;Ah.. sst&#8221;, desahku dengan napas yang mulai tidak beraturan.<br />
&#8220;Ahh.. ayo.. dong Rur&#8221;, seru Tari yang sedang memelukku dari belakang sambil memasukan kedua tangannya ke dalam celana dalamku, kini kedua tangannya mulai beraksi satunya meremas-remas batang penisku yang satunya lagi memainkan biji penisku.<br />
&#8220;Uh.. sst.. ahh&#8221;, desisku seakan melayang-layang. Rupanya setan jahat dibukit itu mulai memasuki kami berdua yang mulai saling bergulatan di atas karpet yang dingin dalam tenda itu.<br />
&#8220;Rur.., semenjak kejadian kemarin aku ingin kamu menusukku lagi&#8221;, bisik Tari dari belakang persis dekat telingaku sambil terus memutar-mutar batang penisku. Akupun membalikkan badanku dan memposisikan diriku berada diatasnya. Kedua lututku yang berada disisi luar paha kanan dan kiri Tari menjadi tumpuan dibantu tanganku yang berada disisi kiri kanan lehernya.<br />
&#8220;Kalau kamu berdarah lagi, bagaimana?&#8221;, sambil menggosok-gosokkan penisku pada celana puntungya yang ketat persis diatas posisi pepeknya berada.<br />
&#8220;Kemarin setelah kalian pulang sst.. aku mencoba menusukkan jariku kembali kedalam pepeku uh..&#8221;, seru Tari sambil sesekali berdesis mungkin mulai terangsang oleh gesekan penisku di pepeknya yang masih tertutup oleh celana puntungnya.<br />
&#8220;Memang.. ah.. ada darah.. sst.. tapi hanya sedikit keluarnya&#8221;, sambungnya lagi.<br />
&#8220;Pokoknya kamu jangan takut&#8221;, seakan-akan coba meyakinkan aku agar mau melanjutkan permainan ini.<br />
Akupun tidak berhenti beraktivitas diatas tubuh Tari, sedikit demi sedikit aku mulai melucuti celana puntungnya.<br />
&#8220;Bajumu dibuka dong!&#8221;, seruku menyuruh Tari membuka bajunya.<br />
Sekarang Tari hanya mengenakan celana dalam saja tanpa merasakan dinginnya udara, mungkin karena pemanasan yang telah kami lakukan lebih dahulu tadi. Tanganku mulai mengelus-elus paha mulus Tari dan memainkan jari-jariku di pinggir celana dalamnya di sekitar selangkangannya.</p>
<p>&#8220;Ah.. sst.. didalam dong Rur ouh..&#8221;, memintaku memasukan tanganku di dalam celana dalamnya sambil tangannya terus mengocok penisku yang mulai basah dan licin oleh air yang keluar dari senjataku itu sendiri.<br />
Dengan sedikit permainan tanganku akhirnya celana Tari sudah terlepas meninggalkan tempatnya melekat dan sebuah bukit kecil memerah terpampang di depanku, peniskupun semakin kuat dikocoknya.<br />
&#8220;Ouh.. sst.. gelinya.. jangan digoyang terlalu cepat Tar.. sst&#8221;, sambil tanganku terus bermain dibibir luar vagina Tari.<br />
&#8220;Tusuk.. uhh.. tusukkan jarimu.. ouh.. Rur&#8221;, pinta Tari. Akupun memasukkan jari tanganku kelubang vaginanya.<br />
&#8220;Aduh.. ayo Rur ohh.. goyangin dong sst..&#8221;, pinta Tari lagi kepadaku untuk menggerakkan jariku di dalam vaginanya.<br />
&#8220;Ouh.. ayo.. lebih kencang lagi ohh.. ayo.. Rur&#8221;, kini pantat dan pinggulnya mulai ikut bergoyang seperti sedang menari mengikuti permainan jariku di dalam vaginanya.<br />
Aku kini merasakan tangannya sudah berhenti mengocok penisku namun tetap digenggammya erat-erat semakin kencang aku memainkan jariku didalam vaginanya genggamannyapun semakin kuat sambil terus merintih dan meliuk-liuk.<br />
&#8220;Sst.. oh.. woa..&#8221;, serunya semakin tidak karuan karena merasakan kenikmatan.</p>
<p>Kemudian aku mengganti posisiku pindah diantara kedua paha Tari yang sudah terbuka lebar dan bertumpu pada kedua lututku sementara dia tetap pasrah berada di bawahku. Tangannya kini sudah melepaskan penisku, dia hanya terlentang pasrah menunggu permainan dariku dan merasakan kenikmatannya. Jari tanganku terus beraksi tetapi bukan lagi bermain di dalam vagina Tari namun aku tusukkan keluar masuk ke dalam vaginanya dan sesekali memainkan clitorisnya yang sudah licin sekali.</p>
<p>&#8220;Oh.. enak Rur.. aduh.. sst..&#8221;, sambil Tari terus mendesis-desis nikmat.<br />
&#8220;Ouh.. ayo masukkan jarimu semua kalau bisa oh.. ayo Rur masukan..&#8221;, pinta Tari sedikit agak berteriak seperti orang lagi menanti sesuatu yang belum kunjung tiba. Akupun sempat was-was karena takut kedengaran oleh teman lain, untung saja hujan belum terlalu reda sehingga bisa sedikit menutup suara Tari tadi.<br />
&#8220;Ohh.. sst..&#8221;, akupun mulai mendesis melihat kenikmatan yang diekspresikan oleh Tari lalu penisku yang seperti sudah mau meledak aku masukkan kepalanya di mulut vagina Tari secara perlahan dan menggoyang-goyangkannya dengan tanganku yang sesekali memutarnya pada clitoris Tari yang sudah licin oleh campuran air punyaku dan punya Tari sendiri.<br />
&#8220;Ahh.. enak ya..&#8221;, tanyaku perlahan pada Tari.<br />
&#8220;Ouw.. sst.. enak Rur ayo masukkin dong oh..&#8221;, balas Tari dengan suara napas yang semakin memburu ditengah suara hujan yang mulai reda.</p>
<p>Kaki Tari aku rasakan mulai melingkar di pinggangku dan secara perlahan mendorong pinggulku kedepan sehingga perlahan-lahan batang penisku mulai terbenam ke dalam lubang vaginanya.<br />
&#8220;Ohh.. ayo Rur masukkan sst..&#8221;, pinta Tari untuk kesekian kalinya kepadaku.<br />
&#8220;Ahh.. aduh enaknya.. oh..&#8221;, balasku mulai merasakan setengah penisku sudah masuk ke dalam lubang kenikmatan itu.<br />
&#8220;Ayo.. goyang Rur&#8221;, seru Tari padaku,akupun mulai menaik turunkan pantatku.<br />
&#8220;Ohh.. ohh.. uh..&#8221;, desisku dengan suara napas yang semakin memburu merasakan kenikmatan yang baru aku rasakan.</p>
<p>Penisku kini sudah tenggelam semua kedalam vagina Tari akupun tak berhenti bergoyang bahkan semakin cepat seperti ada dorongan dari dalam akibat rasa geli yang semakin menggelitik. Kaki Taripun kini semakin erat terasa melingkar dipinggangku bahkan semakin kuat ketika penisku aku tekan dalam-dalam.<br />
&#8220;Ohh.. yah.. yah.. ohh..&#8221;, tiba-tiba Tari mengerang panjang sekali dan terasa penisku dihimpit keras di dalam vaginanya, kakinya kini terasa semakin erat sekali melingkar di pinggangku sehingga terasa sakit sedikit di situ.</p>
<p>Perlahan-lahan kaki Tari terjatuh lemas terlepas dari pinggangku aku yang melihat ekspresi Tari justru semakin bernafsu akupun semakin kencang menggoyangkan penisku keluar masuk dari vaginanya namun tiba-tiba pintu tenda terbuka dan aku kaget sembari cepat-cepat turun dari atas tubuh Tari yang sudah lemas dan pasrah. Ternyata yang masuk itu adalah Ana ingin menanyakan kapan kita akan pulang karena hujan telah berhenti dari tadi tanpa Aku dan Tari sadari, akupun melirik ke arlojiku yang telah menunjukkan pukul 17.15 sore.</p>
<p>Berbeda dengan aku yang sedikit agak gugup dengan kehadiran Ana dan menyaksikan perbuatan kami, Tari dengan keadaan yang sedikit lemas menjawab pertanyaan Ana.</p>
<p>&#8220;Ayo sekarang kita pulang saja&#8221;, sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.</p>
<p>Akupun sudah mengenakan pakaianku dari tadi ketika Ana membuka pintu kemah. Taripun membenahi segala peralatan yang akan dibawa pulang serta satu persatu teman-teman mengambil barangnya yang disimpan ditenda itu. Aku mendengar di luar teman-teman mulai sibuk membongkar tenda dan bersiap untuk pulang.</p>
<p>Kembali Ana masuk kedalam tenda itu dimana aku masih berada di dalamnya hendak mempersiapkan juga peralatanku untuk dibawa. Tanpa aku sadari Ana memperhatikan resleting celanaku yang lupa aku naikkan.</p>
<p>&#8220;Rur enak ya tadi&#8221;, aku kaget mendengar pertanyaan Ana itu.<br />
&#8220;An jangan bilang siapa-siapa ya&#8221;, balasku kepada Ana.<br />
&#8220;Oke! Pasti nikmat sekali ya Rur&#8221;, tanya Ana lagi kepadaku dengan santainya.<br />
&#8220;Nikmat apanya waktu kamu masuk tadi aku belum selesai&#8221;, balasku menjawab pertanyaan Ana dengan nada sedikit kecewa.<br />
&#8220;Ohh..&#8221;, seru Ana.</p>
<p>Tiba-tiba tangan Ana mengarah ke bagian penisku sambil berkata, &#8220;Itu restnya lupa dikancing&#8221;.<br />
Aku pikir ia akan membantuku mengancing restliting celanaku karena kedua tanganku sudah terlanjur penuh dengan barang-barang yang akan aku keluarkan dari tenda itu. Ternyata ia malah membuka celanaku dan memerosotkannya sampai di lututku dan mengocok penisku yang tidak tahu apa sebabnya sudah dalam keadaan ereksi. Karena memang aku masih tanggung tadi dengan Tari aku membiarkan Ana mengocok penisku sambil menurunkan kembali barang yang berada di kedua tanganku.</p>
<p>&#8220;Ayo Rur.. kasih keluar&#8221;, seru Ana.<br />
&#8220;Oh.. ya.. sst.. cepat sedikit.. An.. oh.. uh..&#8221;, menyuruh Ana mempercepat kocokannya.<br />
&#8220;Ah.. ya.. sudah geli nih..ya..sedikit lagi..&#8221;, seruku dengan napas sedikit memburu.<br />
&#8220;Oh.. ya.. enaknya.. uhh..&#8221;, air maniku muncrat sampai empat kali dan sedikit mengenai wajah Ana. Perasaanku langsung seperti melayang ke langit ketujuh dan berangsur-angsur merasa lemas dan berlutut dibawah kaki Ana.</p>
<p>Tak lama kemudian Ana menegurku sambil tersenyum, &#8220;Rur ayo pulang sudah sore nih&#8221;.<br />
Akupun tersadar dan buru-buru berdiri, menarik celanaku dan mengancingnya kembali lalu membawa barang yang tadi hendak aku bawa keluar dari tenda itu. Setelah kami sudah siap semuanya kamipun bergerak pulang kembali tepat jam di tanganku menunjukkan pukul 17.48 sore.</p>
<p>*****</p>
<p>Itulah kisahku mengenal sex pertama kali dan berawal dari situlah aku sangat doyan dengan perbuatan dan hal-hal yang berbau sex, sampai-sampai apapun yang aku lihat sering kuhubung-hubungkan dengan seputar sex.</p>
<p>E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Perdanaku &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2920</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Melihat keadaan seperti itu Ana lansung memegang penisku yang berada didalam celana dan meremas-remasnya dari luar, tidak puas dengan begitu iapun membuka celanaku dan keluarlah senjataku yang sudah berdiri tegap lalu dikocoknya penisku, aku melirik ke arah Tari yang sedang memperhatikan kami sambil senyam-senyum mengelus-elus vaginanya. Napasku semakin tidak teratur perasaanku seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Melihat keadaan seperti itu Ana lansung memegang penisku yang berada didalam celana dan meremas-remasnya dari luar, tidak puas dengan begitu iapun membuka celanaku dan keluarlah senjataku yang sudah berdiri tegap lalu dikocoknya penisku, aku melirik ke arah Tari yang sedang memperhatikan kami sambil senyam-senyum mengelus-elus vaginanya. Napasku semakin tidak teratur perasaanku seperti terlempar dan melayang keruangan yang kosong apalagi Ana mulai menarik penisku lalu mendekatkanya ke vagina Tari dan memutar-mutarkan kepala penisku di sekitar vagina Tari yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Melihat Tari menikmati adegan ini akupun mulai berani meraba-raba paha Tari yang mulus dan putih aku juga mulai mepraktekkan beberapa adegan yang tadi aku lihat di film, jari-jari tanganku mulai bermain disekitar bibir luar vagina Tari.</p>
<p>&#8220;Ah.. uh.. sst..&#8221;, Tari mulai bersuara yang sedari tadi hanya memejamkan matanya.</p>
<p>Ana mulai mundur perlahan-lahan kebelakang,sekitar setengah meter dari kami lalu duduk menghadap kami seakan-akan melihat dari jauh perbuatan aku dan Tari, aku sempat menoleh kearah Ana ternyata ia sudah tidak mengenakan rok dan celana dalam sehingga boleh dikata ia sudah dalam keadaan setengah telanjang, bagian paha dan vaginanya sudah terbuka semua, ia juga memainkan jari-jari tangan di vaginanya bahkan ada cairan yang mengalir di sekitar vaginanya itu.</p>
<p>Akupun tetap melakukan aktivitas kepada Tari, kepala penisku aku gesek-gesekan dibibir luar vagina Tari yang sudah licin oleh cairan bening yang menetes keluar dari penisku. Aku tidak pernah berpikir untuk menusukkan penisku ke lubang vagina Tari karena adegan itu tidak pernah aku lihat difilm sehingga aku hanya melakukan sebatas gerakan-gerakan meraba dan menyentuh saja. Tiba-tiba Ana berdiri dan menuju kami berdua satu tangannya membuka bibir vagina Tari dengan dua jarinya sementara tangan satunya sibuk mengocok penisku yang semakin licin bercampur cairan yang ada di tangan Ana.</p>
<p>&#8220;Auh.. geli An.. stt..&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Sebentar lagi kamu akan merasa lebih geli Rur (kependekan namaku, Rury)&#8221;, jawab Ana.</p>
<p>Lalu Ana menuntun penisku dan meggosok-gosokan kepala penisku ke clitoris Tari yang sudah licin entah kenapa.Selanjutnya dengan perlahan kepala penisku mulai aku rasakan masuk kedalam lubang vagina Tari.</p>
<p>&#8220;Ah.. sst.. pelan-pelan ya sakit nih..&#8221;, seru Tari.Aku hanya diam karena sudah tidak sanggup berbuat ataupun berbicara apa-apa lagi,sementara Ana sibuk berusaha menuntun penisku agar bisa masuk dengan aman ke vagina Tari.<br />
Aku mulai merasakan seperempat dari penisku sudah masuk kedalam vagina tari.<br />
&#8220;Aduh.. ahh.. sst.. digoyang sedikit Rur biar gampang masuknya&#8221;, ujar Tari kepadaku. Akupun mulai menekan-nekan pantatku ke bawah sehingga aku mulai merasakan penisku sudah hampir tertelan semua oleh vagina Tari.</p>
<p>Sementara itu Ana kembali ke tempatnya semula meninggalkan kami berdua yang sudah bisa mengendalikan keadaan, iapun kembali memainkan jari-jarinya ke vaginanya bahkan kali ini lebih hebat dari yang tadi;kedua jarinya ia putar-putarkan di clitorisnya sambil berdesis nikmat.</p>
<p>Di saat aku sudah mulai mempercepat goyanganku karena merasakan penisku akan masuk seluruhnya kedalam vagina Tari,iapun berteriak kesakitan, sambil menahan dadaku dengan kedua tangannya.</p>
<p>&#8220;Sedikit lagi Tar.. sst.. ahh&#8221;, kata Ana dari jauh sambil terus mengesek-gesek clitorisnya.<br />
&#8220;Kalau burung Rury sst.. sudah masuk semua auh.. sakitnya akan hilang ahh..&#8221;, sambung Ana memberikan instruksi ringan kepada kami.<br />
&#8220;Pelan-pelan ya Rur goyangnya&#8221;, kata Tari kepadaku yang aku balas hanya dengan anggukan kepala dan mulai menaik turunkan pantatku yang perlahan tapi pasti semakin cepat, tetapi tiba-tiba dorongan Ana ke dadaku dengan kedua tangannya terasa sangat kuat sekali sehingga dengan segera aku berhenti bergoyang.<br />
&#8220;Sa.. kit..&#8221;, dengan sedikit agak berteriak Ana mengeluarkan kata itu.<br />
&#8220;Sst.. aduh.. cabut dulu Rur&#8221;, sambung Ana, dengan sangat perlahan.</p>
<p>Dan dengan rasa tidak menentu aku melepaskan penisku dari vagina Tari dan akupun kaget ketika aku melihat ke penisku yang sudah keluar dari vagian Tari ada semacam darah yang melengket dibatang penisku yang kemudian aku juga melihat ke vagina Tari ada darahnya juga. Aku yang memang tidak pernah tahu mengenai hubungan sex atau bersenggama tentu menjadi panik dan heran mengalami keadaan ini otomatis penisku langsung berhenti ereksi.</p>
<p>Namun setengah meter dari kami, Ana justru sedang menikmati sekali permainannya bahkan semakin cepat menggosok-gosok vaginanya sendiri.<br />
&#8220;Ah.. uh.. sst.. enaknya&#8221;, desisnya sambil kaki Ana menjulur-julur tegang ke depan yang kemudian menusukkan jarinya kedalam lubang vaginanya dan mencabutnya serta menjilatnya sambil tersenyum kecil ke arah kami yang masih dalam kebingungan karena darah yang kami lihat. Aku menjadi berpikiran bahwa Ana sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.</p>
<p>Lalu Ana berdiri dan menuju kearah kami.<br />
&#8220;Darah itu tidak apa-apa Tar!&#8221;, kata Ana kepada Tari yang masih meringis menahan sakit.<br />
&#8220;Aku juga begitu awalnya&#8221;, aku menjadi kaget mendengar pernyataan Ana yang ternyata benar dugaanku bahwa dia telah lebih dulu melakukan hubungan sex entah dengan siapa. Lalu Ana membantu Tari bangkit dari tempatnya.<br />
&#8220;Mari aku bantu membersihkan darah itu dikamar mandi&#8221;, kata Ana dan mereka berdua berjalan kebelakang.</p>
<p>Aku melihat Tari berjalan disisi Ana sambil tertatih-tatih seperti orang baru belajar berjalan sementara akupun sibuk membersihkan penisku seadanya dari darah yang melengket dibatang senjataku itu dan mengumpulkan pakaianku yang berserakan di lantai lalu memakainya kembali.</p>
<p>Tak lama kemudian mereka keluar dari dalam rumah menemuiku yang setelah berpakaian menunggu diteras, aku melihat Tari masih menahan sakit yang mungkin masih tersisa. Lalu akupun pamit pada Tari hendak pulang yang disusul oleh Ana yang juga ikutan mau pulang, aku berjalan turun dari teras sementara Ana aku lihat masih berbincang dengan Tari yang kemudian menyusulku dari belakang. Persis ketika aku hendak menutup pintu halaman muncul Wati yang baru pulang dari ngerumpi dengan tetangga depan.</p>
<p>*****</p>
<p>Dua hari kemudian tepatnya hari Sabtu pagi dan kebetulan hari itu libur sekolah, aku lupa libur untuk apa yang jelas tanggal di kalender berwarna merah. Aku, Awal, Ana dan Nono serta beberapa teman laki-laki dan perempuan berkumpul dilapangan dekat rumah Nono sesuai dengan kesepakatan kami sehari sebelumnya.</p>
<p>Jarum jam di arlojiku sudah menunjukan pukul 09.15 pagi dan kami sudah lengkap semuanya, kurang lebih ada 11 orang termasuk aku, Awal, Ana dan Nono. Kita semua akan melakukan pendakian atau semacam kemping kecil-kecilan dibukit belakang lorong kami, kebetulan di belakng lorong kami ada sedikit bukit yang masih teduh sehingga masih enak untuk dijadikan tempat membuat kemah-kemahan. Tetapi kami tidak bermalam karena jaraknya dekat,petang hari nanti kami akan pulang juga.</p>
<p>Kamipun menuju bukit itu tetapi sambil lewat kami akan singgah dulu dirumah Tari untuk mengambil beberapa perlengkapan dan sekalian menjemput Tari dan memang jalan untuk naik ke bukit itu berada sekitar 200 meter dibelakang rumah Tari. Taripun ternyata sudah siap dihalaman rumahnya dengan memakai topi berwarna warni, baju kaos berwarna biru dan celana puntung ketat. Segala perlengkapan yang akan kami bawapun telah siap semua sehingga kami tidak berlama-lama disitu.</p>
<p>Pikiranku sempat ngeres sedikit ketika melihat Tari berpenampilan begitu setelah kejadian 2 hari yang lalu, namun ketika Ana melihat ke arahku aku tersenyum kecil dan mengalihkan perhatianku ketempat lain. Setelah berjalan satu jam setengah kamipun sampai dipuncak bukit itu dan mulai membangun beberapa buah kemah untuk dijadikan tempat beristirahat dan makan. Sementara itu teman perempuan termasuk Ana dan Tari menyiapkan bekal makanan yang memang telah dimasak dari rumah untuk makan siang kami.</p>
<p>Empat buah kemah telah kami bangun dan siap untuk dibangun. Salah satu kemah kami gunakan sebagai tempat makan dan menyimpan peralatan, tas dan segala peralatan untuk bermain serta beberapa makanan sore hari nanti sebelum kami pulang. Sambil teman-teman perempuan terus menyiapkan makanan dan menata peralatan yang disimpan di kemah itu kami yang pria bermain-main sambil menunggu pangilan untuk makan.</p>
<p>&#8220;Ayo.. makanan telah siap&#8221;, seru Ana kepada kami yang masih sedang bermain dengan nada memanggil, kamipun lalu bergabung dengan mereka di tenda tempat makanan disediakan.</p>
<p>Selesai kami santap siang bersama kamipun melanjutkan bermain-main aku bermain bola dengan beberapa orang teman, ada juga yang masuk ketenda tidur-tiduran mungkin karena kekenyangan.Awal dan Nono aku lihat asyik bermain gitar dan menyanyi-nyanyi di bawah sebuah pohon jati tua, disampingya ada Ana sedang membaca majalah. Aku tidak melihat Tari mungkin ia juga sedang beristrahat didalam salah satu tenda.</p>
<p>Rupanya cuaca kurang bersahabat pada kami hari itu,tiba tiba hujan turun dengan sangat deras padahal langit pada waktu itu terang benderang seperti pada waktu kami berangkat tadi.Kamipun berhamburan masuk ketenda-tenda untuk berteduh, aku masuk ketenda tempat penyimpanan barang. Kebetulan pada waktu hujan tadi turun aku sedang mengambil bola yang terlempar disamping tenda itu. Ternyata ditenda itu hanya ada Tari yang sedang menyiapkan makanan untuk kami makan sore nanti sebelum kami pulang, akupun membantu Tari di dalam tenda itu sambil kami berbincang-bincang ringan. Arlojiku di tanganku sudah menunjukan pukul 14.30 siang namun hujan belum reda juga bahkan langit semakin gelap.</p>
<p>Lalu aku mencoba melihat keluar tenda sambil mengamati tenda-tenda yang lain ternyata Awal dan dua orang teman perempuan nekat keluar dari tenda tempat mereka berteduh dan berlari menghampiri aku dan Tari. Rupanya mereka mau mengambil tas mereka di dalam tenda itu.</p>
<p>&#8220;Tolong dong ambilkan tas kami, nanti kalau kami yang ambil barang yang lain ikut basah&#8221;, kata Awal kepada Aku dan Tari dengan nada menyuruh.<br />
&#8220;Memangnya kalian mau kemana&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Mereka berdua ini punya acara sebentar malam&#8221;, sambil Awal memandang kedua teman perempuan kami yang sudah menggigil kedinginan.<br />
&#8220;Dan mereka memintaku untuk mengantar mereka pulang&#8221;, sambung Awal.<br />
&#8220;Apa tidak sebaiknya menunggu hujannya reda&#8221;, kataku kepada mereka bertiga.<br />
&#8220;Justru mereka khawatir hujannya terlambat berhenti,sehingga mereka bisa terlambat untuk keacara itu&#8221;, kata Awal menjelaskan.</p>
<p>Ke bagian 3</p>
<p>Oleh: lnresmob1@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Perdanaku &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2918</guid>
		<description><![CDATA[Aku membuat cerita ini sebenarnya hanyalah menceritakan diriku sendiri tetapi aku sangat berterima kasih dengan bokepzone.com dan begitu aku mengetahui langsung mencoba menulis pengalaman-pengalaman sex di dalam hidupku. ***** Waktu itu umurku 11 tahun umur yang sangat muda bahkan boleh dikatakan masih anak-anak untuk mengetahui mengenai hubungan sex atau bersenggama, mendengar kata itupun aku tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku membuat cerita ini sebenarnya hanyalah menceritakan diriku sendiri tetapi aku sangat berterima kasih dengan bokepzone.com dan begitu aku mengetahui langsung mencoba menulis pengalaman-pengalaman sex di dalam hidupku.</p>
<p>*****</p>
<p>Waktu itu umurku 11 tahun umur yang sangat muda bahkan boleh dikatakan masih anak-anak untuk mengetahui mengenai hubungan sex atau bersenggama, mendengar kata itupun aku tidak pernah dan memang sebelum kejadian itu aku tidak pernah tahu mengenai masalah sex apalagi berhubungan sex dengan lawan jenisku. Tetapi karena kejadian itulah yang menjadi awal hidupku dalam bersex, aku langsung melakukan,merasakan dan mengetahui hubungan sex dan kenikmatannya sampai sekarang.</p>
<p>Seperti hari-hari biasanya sepulang dari sekolah aku pasti langsung keluar bermain sehabis makan siangku, waktu itu aku dan dua teman laki-lakiku serta satu teman perempuan, sebut saja namanya Awal, Nono dan Ana pergi bermain ke rumah salah satu teman perempuan kami yang masih satu lorong dengan kami namanya Tari.</p>
<p>Diantara kami berlima hanya Ana yang mempunyai postur tubuh yang seperti orang dewasa, maksud saya seperti sudah berumur 16 tahun padahal umurnya baru 13 tahun, lebih tua dua tahun dari kami berempat. Rumah Tari berada paling dalam di lorong kami kira-kira 6 rumah dari rumahku. Aku, Awal, Nono dan Ana berjalan menyusuri lorong kami menuju rumah Tari yang berada paling belakang. Kamipun tiba didepan rumah Tari tetapi rumah itu kelihatan sepi tidak seperti biasanya terdengar keras suara tape yang diputar oleh ibu Tari. Akupun mulai membuka pintu halaman dan masuk ke halaman diikuti Ana, Nono dan Awal.</p>
<p>&#8220;Tari.. Tari..&#8221;, teriak Ana mencoba memanggil.<br />
&#8220;Klek.. klok&#8221;, terdengar suara kunci pintu depan dibuka dan keluarlah seorang wanita dari pintu itu.<br />
&#8220;Mari, cari dik Tari ya?&#8221;, tanya wanita itu yang ternyata adalah Wati, pembantu di rumah itu.</p>
<p>Tak lama kemudian dari belakang Wati muncul Tari sambil memegang sebuah gelas berisi air.<br />
&#8220;Ayo naik&#8221;, Tari menyuruh kami naik ke teras rumah.<br />
&#8220;Kok sepi&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Mama dan Papaku lagi ke luar kota selama 2 hari&#8221;, jawab Tari.</p>
<p>Mungkin karena udara siang itu gerah sekali maka Tari hanya memakai baju kaos kutang(mini size) dan rok pendek berwarna biru sehingga kulitnya yang putih dan mulus itu hampir kelihatan seluruhnya kalau payudaranya sih belum ada, ada sih tetapi &#8216;BaTuTe&#8217; alias &#8216;Baru Tumbuh Tete&#8217; namanya juga masih anak-anak pantas saja kalau ia berani hanya memakai pakaian seadanya itu. Tari memang mempunyai wajah dan postur tubuh yang sangat feminin dibanding dengan Ana.</p>
<p>Tari sudah tahu kami datang kerumahnya untuk bermain, Taripun masuk kedalam rumah dan kemudian keluar dengan membawa segala macam permainan yang akan kami pakai bermain. Lalu Watipun keluar membawa satu ceret berisi sirop dan lima gelas kosong dan diletakkannya diatas meja teras.</p>
<p>&#8220;Kalau ada yang haus ini minumnya aku taruh disini&#8221;, yang kemudian masuk kedalam meninggalkan kami yang sudah asyik bermain dengan permainan kami masing-masing.<br />
&#8220;Dik Tari aku ke tetangga depan dulu ya..&#8221;, kata wati yang sudah berada dibawah halaman.<br />
&#8220;Jangan lama ya kak Wati! Kalau mereka semua sudah pulang aku sendirian&#8221;, kata Tari kepada pembantunya itu, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Wati dan langsung keluar dari halaman dan menghilang.<br />
Kamipun semakin asyik dan bebas bermain dirumah yang penghuninya tinggal Tari sendiri.</p>
<p>Karena capek atau mungkin juga bosan akupun berhenti bermain dan menuju meja tempat air sirop yang disediakan Wati tadi sebelum pergi meninggalkan kami. Aku menumpahkan sirop itu kedalam gelasku dan meminumya dengan perasaan haus kemudian aku berbaring dilantai teras itu. Rupanya Tari,Ana,Awal dan Nono melihatku berhenti bermain merekapun ikut berhenti dan mengambil minum,sama seperti aku lalu beristirahat. Awal dan Nono ikut-ikutan berbaring di sampingku sementara Tari dan Ana duduk di kursi teras sambil berbincang-bincang ringan.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kita nonton video sambil beristirahat, nanti sebentar selesai nonton baru kita lanjut bermain lagi?&#8221;, kata Ana kepada kami.<br />
Ide Ana itu akhirnya kami setujui bersama, lalu kami berlima bergegas masuk kedalam rumah menuju ke ruang tengah tempat televisi berada.<br />
&#8220;Mau putar film apa ya..?&#8221;, tanya Tari kepada kami sambil membuka lemari tempat penyimpanan kaset videonya.<br />
&#8220;Film kartun ada Tar?&#8221;, tanya Nono.<br />
&#8220;Aduh baru kemarin sepupuku datang untuk meminjam film itu&#8221;, jawab Tari.<br />
&#8220;Bagaimana kalau film perang atau detektif saja&#8221;, kata Awal asal.<br />
&#8220;Oh kalau itu banyak disini, Papaku suka nonton film perang tetapi yang mana ya..?&#8221;, sambil menarik kemudian melihat satu-persatu kaset video yang ada didalam lemari itu dibantu oleh Ana.<br />
Ana memang paling suka nonton video dirumahnya jadi urusan memilih film kami serahkan pada dia.<br />
&#8220;Bagaimana kalau yang ini&#8221;, seru Ana sambil mengangkat sebuah kaset berwarna merah.<br />
Setelah aku melihatnya dari dekat kemudian membaca dan melihat gambarnya ternyata film &#8216;James Bond(007)&#8217; yang setahu aku terkenal dengan adegan-adegan adu tembaknya dan kejar-kejaran dengan mobil. Film itu juga terkenal atau lagi trend pada waktu itu.<br />
&#8220;Aku pernah nonton ini sebagian dirumahku, aku jamin pasti tegang&#8221;, kata Ana pada kami sambil menyerahkan kaset video itu kepada Tari untuk diputarkan.</p>
<p>Kamipun mencari posisi masing-masing diruangan itu untuk menonton film tersebut sementara Tari sibuk menyetel-nyetel video dan televisinya, aku melihat Awal duduk diatas sofa sambil mengangkat kakinya satu yang tanpa dia sadari penisnya keluar sedikit dari samping celananya karena hanya memakai celana pendek dan tidak mengenakan celana dalam sama seperti saya, Nono dan anak laki-laki seumur kami di daerahku, sementara Nono mengambil posisi tiarap di lantai persis di depan sofa tempat awal duduk. Taripun mundur ketika film sudah mulai bermain dan duduk bersila di sofa panjang tempat Ana sedang tiarap dengan posisi melipat kakinya kedepan sehingga roknya terangkat dan celana dalamnya dapat terlihat dengan jelas olehku karena aku duduk tepat dibelakang sofa Tari dan Ana, aku memang berada paling belakang dari mereka berempat kira-kira satu meter jaraknya dari depan televisi.</p>
<p>Adegan pertama dari film itu sudah seru sekali kami lansung tegang menyaksikannya,adegan tembak menembak dan saling kejar dengan mobil membuat kami kadang berteriak dan sesekali menahan napas,pokoknya seru sekali. Tanpa sengaja aku melihat kearah Tari yang lagi duduk bersila sambil memegang sebuah gelas panjang dan diletakkan ditengah kedua belah pahanya, apabila ada adegan yang tegang gelas itu dijepit erat sekali oleh kedua pahanya dan menekan turun gelas itu, aku jadi ketawa sendiri melihat kelakuan Tari itu, bukan karena pikiranku ngeres tapi karena aku membayangkan seandainya gelas itu tiba-tiba pecah dan dia kaget.</p>
<p>Akhirnya sampailah pada salah satu adegan yang juga tak kalah menariknya dari adegan-adegan adu tembak, ternyata film itu ada adegan ranjangnya, ditambah lagi film ini tidak memakai teks bahasa Indonesia seperti film asing lain yang telah melalui sensor sehingga adegan yang kami lihat betul-betul full sex untuk ukuran anak seusia kami. Prianya bertelanjang bulat hanya penisnya saja yang tidak kena kamera (shoot), namun wanitanya hampir kelihatan semuanya hanya vaginanya yang sesekali terhalang oleh suatu benda.</p>
<p>Keadaan diruangan itu menjadi sunyi ketika adegan panas itu berlangsung beda pada waktu adegan sebelumnya kami kadang harus mengeluarkan teriakan karena tegang. Kini kami semua terdiam hanya suara desahan dan rintihan yang terdengar dari dalam televisi serta suara napas kami yang saling memburu tidak menentu menyaksikan adegan panas di film itu.</p>
<p>Perasaanku menjadi panas dingin tak menentu,penisku mulai ereksi, beberapa kali terpaksa aku memasukan tanganku ke dalam celana untuk memperbaiki posisi penisku yang semakin kuat berereksi, lagipula akukan berada pada posisi paling belakang dari teman-temanku dan tertutup oleh sofa tempat Tari dan Ana, jadi tidak ada yang bisa melihat pikirku, justru aku yang dapat dengan leluasa mengamati mereka berempat dari belakang.</p>
<p>Aku melihat Awal sudah menurunkan kakinya satu yang tadi berada diatas sofa, kini kedua pahanya dirapatkan mungkin ia sedang menjepit juga penisnya yang sedang ereksi. Sedangkan Nono yang masih tiarap di lantai walaupun dilihat sepintas tidak melakukan aktivitas tetapi dari tempatku, aku amati dengan jelas pantatnya sesekali bergoyang-goyang kecil menekan kebawah seperti ingin menghancurkan lantai yang berada dibawahnya dan Ana kini telah berubah posisi, ia sudah tidak tiarap lagi diatas sofa tetapi berbalik dan terlentang sambil kakinya dilipatkan dan menggoyang-goyangkan kedua pahanya sehingga roknya jatuh ke belakang yang tentu saja pahanya yang sintal kelihatan olehku tetapi bukan itu saja celana dalamnya juga aku lihat dengan jelas ada semacam bukit kecil yang tersembunyi dibalik celana dalam itu setelah aku perhatikan dengan seksama apalagi ketika kedua pahanya dalam posisi terbuka. Beda dengan yang lain, Tari semakin rapat menjepit gelas ditengah pahanya sambil tersenyum kecil dengan wajah putihnya yang sudah kemerahan.</p>
<p>Akhirnya film itu selesai kami tonton,kami saling memandang dan saling melempar senyum satu sama lain sementara Tari menuju ke tempat videonya untuk mematikan televisi dan video. Aku, Nono dan Awal berjalan kembali menuju teras dengan maksudku untuk melanjutkan bermain.Tak lama kemudian Tari dan Ana juga sudah berada diteras bergabung dengan kami bertiga.</p>
<p>&#8220;Aku pulang dulu ya&#8221;, kata Nono.<br />
&#8220;Aku juga&#8221;, seru Awal kepada kami, lalu mereka turun dari teras dan pulang entah kenapa mendadak begitu.</p>
<p>Sekarang kami tinggal bertiga setelah Awal dan Nono pulang kerumahnya, sementara hari sudah semakin siang namun Wati pembantu Tari belum pulang Juga mungkin asyik ngerumpi dengan pembantu tetangga depan sehingga lupa waktu.</p>
<p>&#8220;Bisa tidak kamu meniru gerakan yang di film tadi?&#8221;<br />
&#8220;Bisalah!&#8221; jawabku membalas pertanyaan Ana.</p>
<p>Lalu aku melakukan gerakan-gerakan menembak,memukul,menendang pokoknya seluruh gerakan laga yang ada di film tadi, tetapi rupanya bukan gerakan itu semua yang diinginkan oleh Ana lalu ia berjalan menuju kearah Tari dan mengajak Tari masuk kedalam ruangan tempat kami menonton tadi akupun mengikuti mereka berdua dari belakang. Aku berpikir mungkin Ana menyuruh memutar film lagi agar aku bisa melihat gerakan laga yang ada di film. Tetapi ternyata kenyataannya lain, Tari ia baringkan di sofa panjang tempat duduk mereka berdua nonton tadi, lalu mengangkat rok Tari keatas, jelas saja Tari kaget dan menarik turun roknya kembali. Tetapi ternyata Ana tidak berhenti sampai disitu.</p>
<p>&#8220;Kamu mau nggak jadi bintang film?&#8221;, kata Ana kepada Tari.</p>
<p>Lalu Tari mengangguk pelan dan membiarkan Ana mengangkat kembali roknya ke atas sambil saling berbisik entah apa yang mereka perbincangkan. Ana tidak berhenti beraktivitas iapun membuka celana dalam Tari sehingga paha putih Tari kelihatan dengan jelas bukan hanya itu yang Ana lakukan iapun datang ke arahku yang sedang bengong bercampur heran melihat perlakuan Ana terhadap Tari. Aku yang seperti orang bodoh megikut saja ditarik oleh Ana menuju ketempat Tari yang sedang berbaring, jantungku berdegup kencang sekali ketika sudah berada dihadapan Tari bagaimana tidak aku melihat dengan sangat jelas vagina Tari yang masih tertutup rapat seperti mulut yang lagi tersenyum padaku, apalagi melihat bulu-bulu halus yang baru tumbuh di sekitar vaginanya namanya juga aku anak laki-laki yang normal penisku langsung ereksi melihat pemandangan nyata seperti itu, bukan di layar televisi yang biasanya kena sensor.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: lnresmob1@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/seks-perdanaku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Kecilku di Palembang</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/masa-kecilku-di-palembang.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/masa-kecilku-di-palembang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2896</guid>
		<description><![CDATA[Panggil saja nama saya Johan, dan saya akan menceritakan kisah nyata yang terjadi pada diri saya ketika saya masih berumur sekitar 13 tahun ketika keluarga kami tinggal di Palembang. Pada saat itulah saya pertama kali mengalami &#8220;Pengalaman&#8221; gituan dan dengan seorang perempuan yang jauh lebih tua. ***** Mungkin pada waktu seumur-umur seperti itulah memang seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Panggil saja nama saya Johan, dan saya akan menceritakan kisah nyata yang terjadi pada diri saya ketika saya masih berumur sekitar 13 tahun ketika keluarga kami tinggal di Palembang. Pada saat itulah saya pertama kali mengalami &#8220;Pengalaman&#8221; gituan dan dengan seorang perempuan yang jauh lebih tua.</p>
<p>*****</p>
<p>Mungkin pada waktu seumur-umur seperti itulah memang seorang anak laki-laki mulai mengalami masa puber, dimana saya mulai tertarik akan lawan jenis dan akan hubungan antara laki-laki dan perempuan, walaupun saya tidak banyak mengerti mengenai akan hal itu. Mungkin sudah waktunya saya harus mengalaminya dan saya tidak bisa melupakan bagaimana kami disekolah mulai membaca dan mengedarkan cerita-cerita porno yang stensilan ataupun diketik biasa dengan menggunakan kertas karbon.</p>
<p>Saya masih ingat sekali ketika saya pertama kali dipinjami satu stensilan cerita porno yang berjudul &#8220;Isteri Serdadu&#8221; dan setiap malam saya baca cerita itu sambil bermain-main dengan kemaluanku sendiri sampai suatu saat saya mengalami &#8220;Klimaks&#8221; dan kemaluanku memuncratkan cairan mani yang jernih. Pada saat itu aku perhatikan bahwa mani-ku jernih dan tidak seperti yang di blue-film yang pernah saya tonton beberapa tahun kemudian dimana mani yang dikeluarkan oleh pemain-pemain film itu selalu putih dan kental. Baru setelah kira-kira 2-3 tahun kemudian, mani yang kukeluarkan mulai menjadi kental dan keputih-putihan seperti cairan air tajin (kanji).</p>
<p>Pada waktu itu ada sepasang suami iseri yang baru kawin yang menyewa satu kamar didalam rumah kami sementara mereka mencari rumah kontrakan. Rumah kami cukup besar dan mereka memasak sendiri dengan menggunakan dapur di bagian belakang rumah. Saya sering mendengar mereka bercengkerama didalam kamar mereka dan si isteri sering ketawa cekikikan, tetapi saya belum begitu mengerti dan belum bisa membayangkan kira-kira apa sih yang mereka sedang lakukan didalam kamar. Tetapi saya mulai ingin tahu terutama setelah membaca cerita-cerita porno stensilan yang saya pinjam dari teman-teman disekolah.</p>
<p>Kamar tidurku kebetulan bersebelahan dengan kamar tidur mereka dan dibatasi oleh dinding Papan. Satu malam, ketika saya mendengar sang isteri ketawa cekikikan, saya coba mengintip dan saya menemukan celah-celah diantara Papan kayu yang membatasi kamar kami. Saya melihat dengan jelas bagaimana mereka berdua sedang duduk dipinggir tempat tidur, tubuh si isteri terbuka sampai di pinggang dan si suami sedang meremas-remas buah dada isterinya. Kemaluanku menjadi tegang sekali dan dada saya berdebar-debar dengan sangat kencang dan lututku terasa lemas.</p>
<p>Kemudian si suami mulai mengisap-isap pentil buah dada isterinya yang sangat montok dan mulus dan tanpa terasa tanganku mulai mempermainkan kemaluanku sendiri. Tidak lama kemudian mereka bangkit dari tempat tidur dan si isteri kemudian membaringkan diri ditempat tidur dengan pantatnya pas berada dipinggiran tempat tidur. Rambut kemaluannya kelihatan sangat hitam dan lebat dan membukit dan kedua kakinya terjuntai kelantai. Si suami kemudian berlutut didepan kemaluan isterinya dan si isteri mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya diatas bahu suaminya. Saya melihat si suami membenamkan wajahnya kedalam bukit hitam kemaluan isterinya dan saya hanya bisa mengira-ngira bahwa dia pasti sedang menciumi atau menjilati kemaluan isterinya. Isterinya menggeliat-geliat dan tangannya meremas-remas rambut kepala suaminya.</p>
<p>Setelah bermain seperti itu beberapa lama, si suami berdiri dan mereka kelihatan berbisik-bisik satu sama lain. Si isteri kemudian berdiri dan mengambil selimut dari tempat tidur dan mengembangkannya di lantai. Dasternya jatuh kelantai dan saya sangat terrangsang melihat tubuhnya yang telanjang bulat. Buah dadanya berayun-ayun naik turun dan saya bisa melihat celah-celah pahanya yang mengkilat karena basah. Dia kemudian membaringkan diri diatas selimut dilantai dengan kakinya mengarah ke tempat dimana saya mengintip. Ketika dia merenggangkan kakinya, saya bisa melihat bibir kemaluannya yang merah dan basah. Seakan-akan saya bisa mengulurkan tanganku dan menyentuhnya karena jaraknya hanya kira-kira dua meter dari dinding dimana saya mengintip.</p>
<p>Kemudian si suami membuka celana dalamnya dan kelihatanlah kemaluannya yang sudah berdiri tegak lurus yang panjangnya ada kira-kira 10 centimeter tetapi kelihatannya sangat besar batangnya. Dia berlutut diantara kaki isterinya dan isterinya mengangkat lututnya sehingga pahanya menjadi lebih terbuka. Saya hanya bisa melihat dari belakang ketika si suami naik menindih isterinya. Setelah dia menekan dan memasukkan kemaluannya kedalam kemaluan isterinya, kaki isterinya naik dan melingkari kedua paha suaminya dan kemudian bokong suaminya kelihatan naik turun dengan gerakan yang teratur.</p>
<p>Tanganku sendiri sudah basah oleh lendir mani dari sudah saya keluarkan dari kemaluanku dan rasanya nikmat sekali; jauh lebih nikmat daripada ketika onani dengan membayangkan adegan-adegan yang tertulis di buku stensilan &#8211; disini saya melihat sendiri dengan mata kepala saya sendiri lelaki dan perempuan yang sedang bersenggama.</p>
<p>Saya terus mengintip dan setelah si suami memompa isterinya kira-kira 5 menit, pantatnya mulai bergerak naik turun dengan sangat cepat dan saya melihat tiba-tiba otot-otot dipantatnya menjadi keras dan dia menekan dalam-dalam dan tangan isterinya merangkul kepalanya erat-erat. Saya merasa sangat iri melihat kemesraan dan kenikmatan mereka berdua dimana mereka boleh menikmati sesuatu yang menjadi rahasia buat saya pada saat itu. Mereka tergeletak diam bertindihan seperti itu beberapa menit dan kemudian si suami menggulingkan tubuhnya kesamping dan berbaring disamping isterinya. Kemaluannya kelihatan lemas dan basah dan dicelah-celah paha isterinya saya melihat cairan putih mengalir sampai jatuh keselimut tempat dia berbaring. Kemudian isterinya mengambil celana dalam suaminya yang terletak dilantai dan dengan itu dia menyeka kemaluannya sendiri dan kemudian batang kemaluan suaminya.</p>
<p>Sayapun diam-diam dan pelan-pelan kembali ke tempat tidurku dan didalam gelap saya mulai mengocok kemaluanku kembali sampai saya ejakulasi untuk kedua kalinya dan kemudian saya tertidur dengan lelap.</p>
<p>Sekolah SMP yang saya ikuti adalah sekolah sore yang mulai dari pukul 12 siang sampai pukul 4 sore. Setiap pagi saya tinggal dirumah sendirian karena orang tua saya pergi bekerja ke kantor dan saudara-saudara saya yang lain bersekolah di pagi hari. Satu hari saya sedang mengerjakan PR di meja makan ketika saya kembali mendengar suara si isteri yang sedang ketawa cekikikan di dalam kamar mereka. Saya segera meninggalkan meja makan dan masuk kedalam kamar tidurku untuk mengintip adegan yang sangat menggairahkan itu.</p>
<p>Si isteri sedang menungging di atas tempat tidur dan ketika saya menyaksikan pantatnya yang bulat dan putih mulus itu, mani saya rasanya hampir muncrat saat itu juga. Si suami berlutut dilantai dan menjilati kemaluan isterinya dari belakang. Aduh alangkah enaknya, saya berkata dalam hati. Kapan saya bisa menikmati yang seperti itu, kata saya ngiri.</p>
<p>Sedang asyik-asyiknya nonton, tiba-tiba seseorang menepuk pantatku dari belakang. Saya hampir pingsan karena terkejut karena saya mengira bahwa orang tua saya sudah pulang dan saya tertangkap basah mengintip orang bersenggama. Tetapi ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat si Ayu&#8217;, tetangga dari sebelah dan dia tersenyum dan berbisik, &#8220;Hayo, ketahuan ngintip..!&#8221;</p>
<p>Saya merasa lemas dan sangat malu dan ketakutan dan sayapun merebahkan diri diatas tempat tidur sambil tengkurap untuk menenangkan diriku. Nah, disini saya perlu menjelaskan sedikit mengenai tetangga kami, si Ayu&#8217;. Dia tinggal bersama tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil karena suaminya tinggal di Tanjung Karang dengan isteri mudanya. Suaminya sangat jarang datang mengunjungi dia. Selama 2 tahun kami bertetangga, saya mengingat bahwa suaminya hanya pernah datang dua kali.</p>
<p>Seringkali si Ayu&#8217; datang &#8220;Meminjam&#8221; beras atau uang dari Ibu saya karena suaminya terlambat mengirim uang belanja. Dia juga sering meminta kakak saya yang perempuan yang pintar menjahit untuk menjahit bajunya yang kemudian dia akan bayar apabila dia sudah menerima uang dari suaminya.</p>
<p>Kira-kira tiga bulan sebelumnya, ketika saya sedang sendirian di rumah, Ayu&#8217; datang dan katanya ingin ngepas bajunya yang sudah hampir selesai dijahit oleh kakak saya. Pada waktu itu tidak ada orang lain dirumah selain saya sendiri. Saya bawa dia masuk kedalam kamar kakak saya untuk mencoba bajunya. Ketika dia meminta saya untuk keluar karena dia harus menanggalkan pakaiannya, saya diam saja dan tidak beranjak.</p>
<p>&#8220;E-eh, kamu nggak mau keluar, iya? Mau lihat Ayu&#8217; telanjang..?&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Boleh kan..?&#8221; kata saya berharap.</p>
<p>&#8220;Budak nakal..&#8221; katanya dan dia memutar tubuhnya membelakangi saya sambil membuka pakaiannya. Oh, lututku menjadi lemas melihat badannya yang putih mulus dan pantatnya yang montok; dia ternyata tidak mengenakan celana dalam! Tanpa saya sadari saya maju dan mengelus pantatnya yang mulus. Dia berbalik dan memukul tangan saya.</p>
<p>&#8220;Heh, koq lancang!&#8221; katanya setengah marah, setengah bercanda dan mata saya melotot melihat bagian depan tubuhnya yang buat saya begitu indah dan menggiurkan. Saya terpesona melihat perutnya yang sangat mulus dan bersih dan yang paling mempesonakan adalah kemaluannya yang sangat mulus tanpa rambut sedikitpun! Hanya ada kelihatan bibirnya yang kemerah-merahan dengan sedikit warna cokelat menyembul keluar seperti senyum simpul yang agak peot.</p>
<p>&#8220;Bandel! Nanti saya bilangin mami kamu, lho!&#8221; katanya tetapi dia tidak berusaha menutupi tubuhnya dan mulai mengenakan pakaian baru yang akan dicobanya. Dia mulai mengenakan baju itu dengan menurunkannya mulai dari kepala dan ketika baju itu menutup kepalanya, saya tanpa sadar menulurkan tangan saya dan mengelus bibir kemaluannya. Dia hampir melompat karena kaget tetapi saya segera lari keluar dari kamar.</p>
<p>Nah, kembali kepada peristiwa saat ini, ketika saya tengkurap ditempat tidur, ternyata Ayu&#8217; meneruskan untuk mengintip sendiri adegan yang sedang terjadi didalam kamar tidur. Saya tidak menyadarinya tetapi tiba-tiba saya merasa tangannya mengelus punggung saya dan ketika saya berbalik, Ayu&#8217; sedang duduk dipinggir tempat tidur dan berbisik, &#8220;Mereka lagi ngentot..,&#8221; katanya dengan nafas yang agak berat.</p>
<p>Saya diam saja karena masih belum pulih dari rasa kaget dan malu, tetapi tiba-tiba Ayu&#8217; meraba kearah kemaluanku yang sudah mulai bangun lagi. Saya diam saja dan biarkan dia membuka resleting celana saya dan tangannya kemudian mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak. Dia kemudian berlutut dilantai disisi tempat tidurku dan mulai mengemut kontolku yang masih belum begitu besar. Saya merasa sangat geli dan nikmat dan tiba-tiba saya mengejang dan maniku muncrat didalam mulut Ayu&#8217;. Dia teruskan mengisap kontolku yang tetap tegang, lalu kemudian dia membuka dasternya dan naik ketempat tidur. Dia kemudian mengangkangi kepala saya dan menyodorkan kemaluannya yang mulus kewajahku.</p>
<p>Sekarang saya bisa melihat dengan jelas sekali bibir kemaluannya yang sudah basah dan saya bisa mencium sedikit bau amis bekas kencing yang sangat merangsang bagiku. Dia membuka bibir kemaluannya dengan jari2nya dan menekankan kemaluannya yang merah dan basah kewajahku. Saya hampir tidak bisa bernapas dan saya mendorongnya mundur. Oh, saya berkata dalam hati, sekarang saya tidak perlu iri lagi dengan pasangan yang sedang bermain di dalam kamar tidur sebelah. Sekarang saya bisa menikmati hal yang sama dengan Ayu&#8217; dan bukan hanya membayangkan adegan-adegan cerita porno stensilan saja.</p>
<p>Ayu&#8217; merebahkan dirinya di tempat tidurku dan membuka pahanya lebar-lebar.</p>
<p>&#8220;Ayo, masukin ke nonok Ayu&#8217;..,&#8221; katanya berbisik.</p>
<p>Saya menaiki tubuhnya dan menindih perutnya yang hangat dan mulus. Buah dadanya terasa lunak menekan wajahku yang masih basah oleh lendir dari kemaluannya dan saya mencoba untuk memasukkan kontolku kedalam celah-celan bibir kemaluannya. Ayu&#8217; menolong saya dengan menutun kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya, dan saya merasakan kenikmatan yang amat sangat ketika saya merasakan kehangatan liang kemaluannya yang mengulum batang kemaluanku yang masih remaja itu, dan secara refleks saya mulai memompa naik turun.</p>
<p>Hanya setelah kira-kira 3 menit saja, Ayu&#8217; tiba-tiba menjepit pinggangku dengan kakinya yang melingkari pinggulku dan badanya mengejang dan dia mengeluarkan suara seperti orang mengangis. Lalu dia menjadi diam dan saya merasa liang kemaluannya berdenyut-denyut dan batang kemaluanku seperti disedot-sedot. Saya juga tidak tahan lagi dan saya menyemprotkan maniku kembali untuk kedua kalinya. Ayu&#8217; merangkul kepala saya ke dadanya dengan sangat erat sampai saya merasa sulit bernapas, dan saya sangat takut jangan sampai suaranya yang seperti orang menangis itu didengar oleh pasangan yang ada didalam kamar sebelah.</p>
<p>Kami diam di dalam posisi seperti itu selama beberapa menit, lalu Ayu&#8217; melepaskan rangkulannya dan pahanya mengendor dan jatuh kesamping. Saya mendorong diriku untuk bangun dan saya melihat wajah Ayu&#8217; yang kelihatan merah dan matanya tertutup. Saya mencabut kontol saya pelan-pelan dari lubang kemaluan Ayu&#8217; yang sudah sangat becek. Gerakan ini membuat gairahku bangkit kembali dan kontolku menjadi keras kembali, dan sambil bertopang kekasur seperti seseorang yang melakukan push-up, sayapun mendorong kemaluanku keluar masuk kemaluan Ayu&#8217;. Saking beceknya saya bisa mendengar suara seperti mengocok sabun.</p>
<p>Dengan masih menutup matanya, Ayu&#8217; mengimbangi gerakanku dengan pinggulnya, naik turun dan bergoyang kekiri kekanan. Dia menggigit bibir bawahnya dan tiba-tiba dia mengangkat pinggulnya untuk mengantisipasi masuknya kontolku lalu kakinya kembali melilit pinggulku dengan erat dan tiba-tiba dia kentut dengan keras beberapa kali. Entah kenapa saya sangat dirangsang mendengar dia kentut, dan ketika saya merasa bahwa kenikmatan ejakulasi mulai datang, saya menyodok dalam-dalam dan sekali lagi saya semprotkan air maniku didalam lubang kemaluannya dan saya merasakan kembali lubang kemaluannya berdenyut-denyut.</p>
<p>Saya kemudian bangkit dan pergi mandi karena saya harus pergi ke sekolah. kira-kira dua bulan kemudian, pasangan suami isteri itu pindah kerumah kontrakan mereka yang baru. Saya tinggal sendirian dirumah dan hampir setiap hari Ayu&#8217; mengajak saya untuk bersetubuh dan kami melakukannya sepuas-puasnya, kadang-kadang bisa sampai 3 kali berturut-turut. Kadang-kadang Ayu&#8217; begitu bernafsunya sehingga walaupun dia sedang mens dia sering juga mengajak main.</p>
<p>Kami bertetangga sampai satu tahun lagi sampai keluarga saya pindah ke Jakarta, dan orang-orang tidak ada yang mencurigai perbuatan kami dimana kami melakukan persetubuhan hampir setiap hari. Saya masih begitu muda sehingga kuat melayani Ayu&#8217; yang betul-betul sangat haus akan kepuasan karena suaminya hampir tidak pernah datang mengunjungi dia.</p>
<p>Seperti saya katakan tadi diatas, Ayu&#8217; mempunyai tiga orang anak. Yang paling tua adalah seorang perempuan yang masih berumur 11 tahun bernama Efi. Saya pernah mempunyai kesempatan untuk menyetubuhi kedua Ibu dan anak sekaligus, tetapi pengalaman itu saya akan ceritakan di kesempatan yang lain.</p>
<p>Oktober 2003 &#8211; Seattle, Washington</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: orlemagne@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/masa-kecilku-di-palembang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemuas Wanita</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pemuas-wanita.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pemuas-wanita.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 04:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3066</guid>
		<description><![CDATA[Kalo mau dibilang edan, ya edan kali. Bodo ah! Soalnya, kamu yang pada baca tulisan ini juga pada edan. Iya kan? Kenapa aku bilang edan? Sebab aku merupakan salah seorang guru di sebuah sekolah swasta di bilangan Jakarta, dan aku mengajar salah satu pelajaran eksak di tingkat SLTP. Itulah perkenalanku, dan kisah yang akan aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo mau dibilang edan, ya edan kali. Bodo ah! Soalnya, kamu yang pada baca tulisan ini juga pada edan. Iya kan? Kenapa aku bilang edan? Sebab aku merupakan salah seorang guru di sebuah sekolah swasta di bilangan Jakarta, dan aku mengajar salah satu pelajaran eksak di tingkat SLTP. Itulah perkenalanku, dan kisah yang akan aku ceritakan ini adalah kisah nyata. Begini ceritanya.</p>
<p>*****</p>
<p>Kata murid-muridku aku mengajar enak sekali, sehingga apa yang ku sampaikan mereka memahaminya, oleh karena itu banyak murid-muridku yang ngefan terhadapku. Salah seorang yang ngefan banget padaku namanya Merry, luar biasa anak ini. Inginnya selalu saja ingin dekat denganku, ada saja alasannya untuk bisa berkomunikasi denganku. Sebagai seorang guru aku selalu berusaha menghindar darinya.</p>
<p>Suatu saat, akau tak dapat lagi menghindar dari Merry, karena waktu itu aku mendapat tugas dari sekolah untuk mengajar bimbel bagi siswa/i kelas tiga. Aku selalu mengoreksi hasil post tes pada hari itu juga sebab jika aku mengoreksi di rumah pasti saja terganggu oleh anak-anakku. Ketika aku sedang asyik mengoreksi seorang diri di ruang guru, aku dikejutkan oleh kedatangan seorang murid wanitaku, Kiki namanya.<br />
&#8220;Belum selesai Pak ngoreksinya?&#8221;<br />
&#8220;Eh Kiki, kamu koq belum pulang?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Mendung Pak saya takut kehujanan di jalan, dan juga nemenin Merry, katanya ada perlu sama Bapak&#8221;.<br />
&#8220;O, ya! Mana Merrynya?&#8221;.<br />
&#8220;Itu Pak, sahut Kiki&#8221;</p>
<p>Kemudian aku persilakan masuk mereka berdua keruang guru yang sepi itu, karena hujanpun turun dengan lebatnya. Kami ngobrol-ngobrol bertiga, posisi duduk Merry disebelah kananku sedang Kiki didepanku.<br />
Setelah cukup lama kami berbincang-bincang, Merry mengatakan, &#8220;Pak boleh engga saya lihat nilai saya?&#8221; seraya mendekat padaku dengan cepat.<br />
Aku katakan, &#8220;Ee jangan&#8221;, sambil aku ambil buku nilai di depanku dan ku angkat ke atas, tak disangka tak diduga Merry berusaha mengambil buku nilai itu sebisanya hingga badannya menempel ke badanku oh.. oh, aku merasakan harum tubuhnya dan kenyalnya payudara Merry yang baru tumbuh itu, wow dalam sekejap si iblis melupakanku bahwa aku seorang guru, aku mulai cari akal agar dapat dengan bebas melayani nafsu si Merry. Bagai pucuk dicinta ulam tiba. Tiba-tiba Kiki pamit keluar ruangan, karena mungkin sudah berhasil tugasnya mengantarkan Merry bertemu denganku.</p>
<p>Tinggallah kami berdua dalam ruang guru, Merry yang sedari tadi dekat denganku itu makin mendekat, tanpa kusadari penisku tegak tak terkendali. Di satu kesempatan kupeluklah Merry, dari belakang dan kukecup lehernya serta kuremas payudaranya yang baru tumbuh itu, dia menggelinjang kenikmatan, tak lama setelah itu terdengar langkah sepatu Kiki mendekat, kami pun saling melepas peluk dan menjauh, sambil kukatakan &#8220;Nanti aku telepon kamu&#8221;. Merry hanya mengangguk.</p>
<p>Malam harinya sekitar pukul 20.00 aku telepon Merry, kami berbincang-bincang, yang berakhir dengan ku tembaknya Merry, dan ternyata itulah yang diharapkannya. Giillaa, Merry mendambakanku sebagai kekasihnya. Aku coba mengajaknya jalan pada hari minggu, karena kebetulan hari minggu itu aku mendapat tugas mencari villa disekitar puncak untuk acara organisasi sekolahku, dia pun menyetujuinya.</p>
<p>Sesuai janji minggu pagi-pagi sekali aku sudah berangkat, untuk bertemu Merry disetasiun yang telah ditentukan. Kami berangkat menggunakan KA Jabotabek, ternyata Merry begitu romantis sekali sepanjang perjalanan aku dipegangi, dan jika ada kesempatan ia memelukku, aduh! aku benar-benar tidak membayangkan sebelumnya punya pacar gelap seorang ABG cantik nan sensual (Seperti Nafa Urbach). Akhirnya sampailah kami ketempat yang dituju, setelah aku membooking villa yang kumaksud maka kami pun berniat pulang.<br />
Namun kata Merry, &#8220;Pak aku capek nih, istirahat dulu dong.&#8221;<br />
&#8220;Wah dimana Mer?&#8221;<br />
&#8220;Itu ada hotel&#8221; seraya menunjukan tangannya ke seberang jalan tempat kami berada.<br />
Aku menjawab secepatnya, &#8220;OK, deh.&#8221;</p>
<p>Di dalam kamar hotel, aku sangat kikuk, tapi aku pikir ah masa kalah sama anak yang bedanya 20 tahun lebih muda dariku, aku berusah menenangkan diri, kemudian bersih-bersih badan. Merry pun begitu. Setelah itu kami ngobrol diatas tempat tidur sambil menonton televisi, seraya mulai tatap menatap, yang kemudian saling mendekat, saling membelai dan akhirnya ku kecup kening mary, selanjutnya kulumat bibirnya yang sensual itu dia pun membalasnya, ketika kurujak bibirnya tanganku bergrilya masuk kedalam kaosnya kucari puting susunya yang kecil itu kupilin perlahan-lahan teranya olehku badannya merinding sambil melenguh-lenguh suaranya.</p>
<p>Akhirnya kubuka kaosnya serta branya yang baru bernomor 34, begitu kubuka wow, pemandangan yang sangat indah, payudara kecil nan menantang dipuncaknya berwarna coklat muda dengan puting yang kecil, segera saja aku kulum puting kecil itu, rasanya akan kutelan saja payudaranya, dia menggelinjang-gelinjang kenikmatan, sejurus kemudian kubuka juga rok nya, mulai aku bergrilya kedaerah yang jauh dibawah sana, kuterobos celana dalamnya kuusap-usap bukit venusnya dengan rambut-rambut halus yang menambah betah tanganku disana. beberapa saat kemudian kucoba menguak labium mayoranya, ternyata sudah basah, kucari clitorisnya setelah ketemu kusap-usap perlahan sekali. Erangan-erangan yang tadinya halus mulai terdengar liar menambah semangat jari-jariku menari disela-sela lembah kenikmatan.<br />
&#8220;Bapak curang, buka juga dong bajunya.&#8221; katanya memecah konsentrasi.<br />
&#8220;OK, OK .&#8221; Kataku dengan semangat sambil membuka kaos dan celana panjangku.<br />
Kami berpelukan erat sekali, berciuman, berguling kekanan dan kekiri luar biasa. Akhirnya aku tidak tahan lagi, kutawarkanlah padanya untuk coitus.<br />
&#8220;Mer, kita senggama ya!&#8221;<br />
&#8220;Jangan Pak!&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kamu engga mau? Enak lho Mer&#8221;, rayuku sambil meraba-raba kemaluannya.</p>
<p>Cumbu rayu, isap menghisap, raba-meraba terus kami lakukan, yang jelas sebenarnya aku sudah nggak tahan tapi aku menahan diri. Sampailah akhirnya pada puncak cumbu rayu, ku arahkan kepalaku ke kemaluannya. Kubuka celana dalamku dan kubuka juga celana dalamnya ternyata Merry diam saja setelah itu kuisap-isap clitorisnya entah berapa kali dia orgasme, yang jelas perawan itu kenikmatan beberapa saat kemudian kuarahkan batang penisku pada liang vaginanya, ketika sudah pada sasarana yang tepat kutekan perlahan sekali, kemudian kudiamkan, vagina yang sudah basah itu seperti menarik batang kenikmatanku perlahan-lahan. Wooooow batangku masuk perlahan. Panas, licin dan terasa ada cengkraman yang kuat sekali didalam sana, aku terpejam nikmat, setelah Merry beradaptasi dengan batangku yang berada didalam baru kugerakan penisku perlahan-lahan, lagi-lagi ia mengerang hebat seraya memelukku erat sekali.<br />
&#8220;Terus Pak, terus, teruus. eehh, eehh.. oo.. hh.&#8221;<br />
Rupanya ia orgasme kembali. Kuakui nikmat sekali bersenggama dengan Merry, akhirnya akupun ingin keluar hingga kucabut batangku dari liang surga kumuntahkan spermaku diluar agar tidak hamil. Setelah puas kami pulang ke Jakarta dengan keadaan yang berbeda. Aku merasa lebih memiliki Merry dan Merry pun demikian.</p>
<p>Sejak kejadian itu kami jadi kecanduan melakukannya, pernah suatu saat rupanya Merry ingin melepas &#8220;hajat&#8221;-nya, maka janjianlah kita untuk jalan setelah Merry pulang sekolah (saat itu ia telah SMU) akhirnya kami nonton di bioskop kelas kambing dengan film mesum pada jam pertunjukan siang, agar jarang yang nonton karena memang niatnya adalah senggama, kami pilih tempat duduk di belakang, begitu pertunjukan mulai mulai juga kami lakukan Foreplay kira-kira tiga puluh menit kemudian aku gelar jaketku dibawah kursi Merry, aku pindah duduk dibawah persis menghadap kemaluan Merry, kuisap klitorisnya sampai ia puas, setelah itu aku melakukan coitus dalam keadaan Merry duduk dan aku berdiri, nikmatnya luar biasa.</p>
<p>Disaat lain aku lakukan dirumah orangtuaku kebetulan kedua orang tua ku pulang kampung dan aku disuruh menunggui rumah orangtuaku itu. sebelumnya kusiapkan VCD porno sebanyak 4 CD. Rumah orangtaku yang luas itu hanya kami berdua yang menghuninya. Aku lakukan hubungan badan sepuas-puasnya, dengan Merry sayangku.</p>
<p>Pernah juga aku melakukan hubungan intim di berbagai hotel melati di Jakarta dan Bogor, semuanya kami lakukan dengan suka sama suka selama tiga tahun total hubungan yang kami lakukan krang lebih enam puluh kali. Akhirnya kami menyadari bahwa hal ini harus berakhir, karena saya sudah punya istri dengan empat orang anak, sedangkan Merry harus meniti karir sebagai seorang sarjana teknik, sampai saat ini hubungan kami tidak ada yang mengetahui dan kabarnya Merry sudah mempunyai calon suami.</p>
<p>Aku sendiri saat ini sudah tidak menjadi guru, saat ini aku berwiraswasta. Pengalamanku bersama Merry membuat aku menjadi pecandu coitus, jika aku hubungan badan kadang-kadang aku heran sendiri karena &#8220;penisku kaga ade matinye&#8221; karena sekarang aku jadi pecandu, sedangkan aku ngga ingin ngeluarin uang maka aku kini nyambi sebagai cowok panggilan, aku jadi cowok panggilan karena yang panggil aku biasanya yang buas-buas alias hiper sex, nah aku suka itu.</p>
<p>Pernah aku dipanggil oleh seorang ibu muda beranak satu, setelah dia bertemu denganku rupanya dia meragukan kemampuanku karena usiaku yang sudah tigapuluh sembilan tahun, akhirnya aku kasih dia garansi jika aku keluar duluan aku yang menservice dia tapi nyatanya ibu muda itu ketagihan terhadapku. Aku dalam hubungan tidak mencari uang tapi yang ku cari happy aja, happy yang gratis, begitulah kira-kira.</p>
<p>Minggu depan aku sudah diwanti-wanti untuk siap-siap menservice seorang wanita setengah baya (46 tahun) istri seorang pejabat di Kalimantan yang akan ke Jakarta, Ibu ini walau umurnya sudah cukup tapi masih sangat enerjik, badannya sintal, payudaranya padat, tatapannya penuh dengan kemesuman. Beberapa hari yang lalu HP ku bunyi.<br />
Ternyata Tante S yang telepon, katanya, &#8220;Anton, minggu depan Tante mau ke Jakarta kamu harus puasin Tante, seperti yang lalu ya&#8221;.<br />
Aku jawab saja, &#8220;OK, Tante!&#8221;</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: engingengjreng@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pemuas-wanita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh, Nina</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/oh-nina.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/oh-nina.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 04:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3057</guid>
		<description><![CDATA[Sudah merupakan rutinitas jika dalam liburan panjang Aku menginap dirumah Om Bagas dan Tante Rita di Jakarta. Karena kebetulan juga, tempat kerjaku adalah di sebuah sekolah terkenal di Manado. Jadi, kalau pas liburan panjang, otomatis aku juga libur kerja. Tapi sudah sekitar 6 tahun Aku tak pernah lagi liburan ke Jakarta karena sibuk mengurusi kerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah merupakan rutinitas jika dalam liburan panjang Aku menginap dirumah Om Bagas dan Tante Rita di Jakarta. Karena kebetulan juga, tempat kerjaku adalah di sebuah sekolah terkenal di Manado. Jadi, kalau pas liburan panjang, otomatis aku juga libur kerja. Tapi sudah sekitar 6 tahun Aku tak pernah lagi liburan ke Jakarta karena sibuk mengurusi kerjaan yang menumpuk. Baru pada tahun 2002 lalu Aku bisa merasakan nikmatnya liburan panjang. Rumah Om Bagas bisa digolongkan pada rumah mewah yang besar. Walaupun begitu, rumahnya sangat nyaman. Itulah sebabnya aku senang sekali bisa liburan ke sana.</p>
<p>Aku tiba di rumah Om Bagas pada pukul 22.00. karena kelelahan aku langsung tidur pulas. Besok paginya, aku langsung disambut oleh hangatnya nasi goreng untuk sarapan pagi. Dan yang bikin aku kaget, heran bercampur kagum, ada sosok gadis yang dulunya masih kelas 4 SD, tapi kini sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik jelita. Namanya Nina. Kulitnya yang putih, matanya yang jernih, serta tubuhnya yang indah dan seksi, mengusik mataku yang nakal.</p>
<p>&#8220;Hallo Kak..! Sorry, tadi malam Nina kecapean jadi tidak menjemput kakak. Silahkan di makan nasi gorengnya, ini Nina buat khusus dan spesial buat Kakak.&#8221; Katanya sembari menebarkan senyumnya yang indah. Aku langsung terpana.</p>
<p>&#8220;Ini benar Nina yang dulu, yang masih ingusan?&#8221; Kataku sambil ngeledek.<br />
&#8220;Ia, Nina siapa lagi! Tapi udah enggak ingusan lagi, khan?&#8221; katanya sambil mencibir.</p>
<p>&#8220;Wah..! Udah lama enggak ketemu, enggak taunya udah gede. Tentu udah punya pacar, ya? sekarang kelas berapa?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Pacar? Masih belum dikasih pacaran sama Papa. Katanya masih kecil. Tapi sekarang Nina udah naik kelas dua SMA, lho! Khan udah gede?&#8221; jawabnya sambil bernada protes terhadap papanya.</p>
<p>&#8220;Emang Nina udah siap pacaran?&#8221; tanyaku.<br />
Nina menjawab dengan enteng sambil melahap nasi goreng.</p>
<p>&#8220;Belum mau sih..! Eh ngomong-ngomong nasinya dimakan, dong. Sayang, kan! Udah dibuat tapi hanya dipelototin.&#8221;<br />
Aku langsung mengambil piring dan ber-sarapan pagi dengan gadis cantik itu. Selama sarapan, mataku tak pernah lepas memandangi gadis cantik yang duduk didepanku ini.</p>
<p>&#8220;Mama dan Papa kemana? koq enggak sarapan bareng?&#8221; tanyaku sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke nanan.</p>
<p>Nina langsung menjawab, &#8220;Oh iya, hampir lupa. Tadi Mama nitip surat ini buat kakak. Katanya ada urusan mendadak&#8221;.</p>
<p>Nina langsung menyerahkan selembar kertas yang ditulis dengan tangan. Aku langsung membaca surat itu. Isi surat itu mengatakan bahwa Om Bagas dan Tante Rita ada urusan Kantor di Surabaya selama seminggu. Jadi mereka menitipkan Nina kepadaku. Dengan kata lain Aku kebagian jaga rumah dan menjaga Nina selama seminggu.</p>
<p>&#8220;Emangnya kamu udah biasa ditinggal kayak gini, Nin?&#8221; tanyaku setelah membaca surat itu.</p>
<p>&#8220;Wah, Kak! seminggu itu cepat. Pernah Nina ditinggal sebulan&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Oke deh! sekarang kakak yang jaga Nina selama seminggu. Apapun yang Nina Mau bilang saja sama kakak. Oke?&#8221; kataku.</p>
<p>&#8220;Oke, deh! sekarang tugas kakak pertama, antarkan Nina jalan-jalan ke Mall. Boleh, Kak?&#8221; Nina memohon kepadaku.</p>
<p>&#8220;Oh, boleh sekali. Sekarang aja kita berangkat!&#8221; setelah itu kami beres-beres dan langsung menuju Mall.</p>
<p>Siang itu Nina kelihatan cantik sekali dengan celana Jeans Ketat dan kaos oblong ketat berwarna merah muda. Semua serba ketat. Seakan memamerkan tubuhnya yang seksi.</p>
<p>Pulang Jalan-jalan pukul 19. 00 malam, Nina kecapean. Dia langsung pergi mandi dan bilang mau istirahat alias tidur. Aku yang biasa tidur larut pergi ke ruang TV dan menonton acara TV. Bosan menonton acara TV yang kurang menyenangkan, Aku teringat akan VCD Porno yang Aku bawa dari Manado. Sambil memastikan Nina kalau sudah tidur, Aku memutar Film Porno yang Aku bawa itu. Lumayan, bisa menghilangkan ketegangan akibat melihat bodinya Nina tadi siang.</p>
<p>Karena keasyikan nonton, Aku tak menyadari Nina udah sekitar 20 menit menyaksikan Aku Menonton Film itu.<br />
Tiba-tiba, &#8220;Akh..! Nina memekik ketika di layar TV terlihat adegan seorang laki-laki memasukkan penisnya ke vagina seorang perempuan. Tentu saja Aku pucat mendengar suara Nina dari arah belakang. Langsung aja Aku matikan VCD itu.</p>
<p>&#8220;Nin, kamu udah lama disitu?&#8221; tanyaku gugup.</p>
<p>&#8220;Kak, tadi Nina mau pipis tapi Nina dengar ada suara desahan jadi Nina kemari&#8221; jawabnya polos.</p>
<p>&#8220;Kakak ndak usah takut, Nina enggak apa-apa koq. Kebetulan Nina pernah dengar cerita dari teman kalo Film Porno itu asyik. Dan ternyata benar juga. Cuma tadi Nina kaget ada tikus lewat&#8221;. Jawab Nina. Aku langsung lega.</p>
<p>&#8220;Jadi Nina mau nonton juga?&#8221; pelan-pelan muncul juga otak terorisku.</p>
<p>&#8220;Wah, mau sekali Kak!&#8221; Langsung aja ku ajak Nina menonton film itu dari awal.</p>
<p>Selama menonton Nina terlihat meresapi setiap adegan itu. Perlahan namun pasti Aku dekati Nina dan duduk tepat disampingnya.</p>
<p>&#8220;Iseng-iseng kutanya padanya &#8220;Nina pernah melakukan adegan begituan?&#8221; Nina langsung menjawab tapi tetap matanya tertuju pada TV.</p>
<p>&#8220;Pacaran aja belum apalagi adegan begini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mau ndak kakak ajarin yang kayak begituan. Aysik, lho! Nina akan rasakan kenikmatan surga. Lihat aja cewek yang di TV itu. Dia kelihatannya sangat menikmati adegan itu. Mau ndak?&#8221; Tanyaku spontan.</p>
<p>&#8220;Emang kakak pandai dalam hal begituan?&#8221; tanya Nina menantang.</p>
<p>&#8220;Ee..! nantang, nih?&#8221; Aku langsung memeluk Nina dari samping. Eh, Nina diam aja. Terasa sekali nafasnya mulau memburu tanda Dia mulai terangsang dengan Film itu.</p>
<p>Aku tak melepaskan dekapanku dan Sayup-sayup terdengar Nina mendesah sambil membisikkan, &#8220;Kak, ajari Nina dong!&#8221;. Aku seperti disambar petir.</p>
<p>&#8220;Yang benar, nih?&#8221; tanyaku memastikan. Mendengar itu Nina langsung melumat bibirku dengan lembut. Aku membiarkan Dia memainkan bibirku. Kemudian Nina melepas lumatannya.</p>
<p>&#8220;Nina serius Kak. Nina udah terangsang banget, nih!&#8221; Mendengar itu, aku langsung tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung melumat bibir indah milik Nina. Nina menyambut dengan lumatan yang lembut.</p>
<p>Tiga menit kemudian entah siapa yag memulai, kami berdua telah melepaskan pakaian kami satu persatu sampai tak ada sehelai benangpun melilit tubuh kami. Ternyata Nina lebih cantik jika dilihat dalam kondisi telanjang bulat. Aku mengamati setiap lekuk tubuh Nina dengan mataku yang jelalatan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sempurna. Nina memiliki tubuh yang sempurna untuk gadis seumur dia. Susunya yang montok dan padat berisi, belum pernah tersentuh oleh tangan pria manapun.</p>
<p>&#8220;Koq Cuma dilihat?&#8221; Lamunanku buyar oleh kata-kata Nina itu. Merasa tertantang oleh kata-katanya, Aku langsung membaringkan Nina di Sofa dan mulai melumat bibirnya kembali sambil tanganku dengan lembutnya meremas-remas susunya Nina yang montok itu. Nina mulai mendesah-desah tak karuan.</p>
<p>Tak puas hanya meremas, semenit kemudian sambil tetap meremas-remas, Aku menghisap puting susu yang berwarna merah muda kecoklatan itu, bergantian kiri dan kanan.</p>
<p>&#8220;Oh.. Kak.. Kak..! Enak se.. ka.. li.. oh..!&#8221; desah Nina yang membakar gairahku. Jilatanku turun ke perut dan pusar, lalu turun terus sampai ke gundukan kecil milik Nina yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih sedikit.</p>
<p>&#8220;Ah.. Geli sekali, Kak.. Oh.. nikmat..!&#8221; desah Nina waktu Aku jilat Kelentitnya yang mulai mengeras karena rangsangan hebat yang aku ciptakan. Tanganku tak pernah lepas dari Susu Nina yang montok itu. Tiba-tiba, Nina memekik dan melenguh tertahan sambil mengeluarkan cairan vagina yang banyak sekali.</p>
<p>&#8220;Akh.. ah.. oh.. e.. nak.. Kak.. oh..!&#8221; Itulah orgasme pertamanya. Aku langsung menelan seluruh cairan itu. Rasanya gurih dan nikmat.</p>
<p>&#8220;Gimana Enak, Nin?&#8221; tanyaku sambil mencubit putting susunya.</p>
<p>&#8220;Wah, Kak! Nikmat sekali. Rasanya Nina terbang ke surga.&#8221; Jawabnya sambil meraih baju dalamnya. Melihat itu, Aku langsung mencegahnya.</p>
<p>&#8220;Tunggu, Masih ada yang lebih nikmat lagi.&#8221; Kataku.</p>
<p>&#8220;Sekarang kakak mau ajarin Nina yang kayak begitu&#8221; sambil menunjuk adegan di TV dimana serang perempuan yang sedang menghisap penis laki-laki.</p>
<p>&#8220;Gimana, mau?&#8221; Tanyaku menantang.</p>
<p>&#8220;Oke deh!&#8221; Nina menjawab dan langsung meraih penisku yang masih tertidur. Nina mengocok perlahan penisku itu seperti yang ada di TV. Lalu dengan malu-malu Dia memasukkannya ke mulutnya yang hangat sambil menyedot-nyedot dengan lembut. Mendapat perlakuan demikian langsung aja penis ku bangun. Terasa nikmat sekali diperlakukan demikian. Aku menahan Air maniku yang mau keluar. Karena belum saatnya. Setelah kurang lebih 15 menit diemut dan dibelai olah tangan halus Nina, penisku udah siap tempur.</p>
<p>&#8220;Nah sekarang pelajaran yang terakhir&#8221; Kataku. Nina menurut aja waktu Aku angkat Dia dan membaringkan di atas karpet. Nina juga diam waktu Aku mengesek-gesek penisku di mulut vaginanya yang masih perawan itu. Karena udah kering lagi, Aku kembali menjilat kelentit Nina sampai Vaginanya banjir lagi dengan cairan surga. Nina hanya pasrah saja ketika Aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya.</p>
<p>&#8220;Ah.. Sakit, Kak.. oh.. Kak..!&#8221; jerit Nina ketika kepala penisku menerobos masuk. Dengan lembut Aku melumat bibirnya supaya Nina tenang. Setelah itu kembali Aku menekan pinggulku.</p>
<p>&#8220;Oh.. Nina.. sempit sekali.. Kamu memang masih perawan, oh..!&#8221; Nina hanya memejamkan mata sambil menahan rasa sakit di vaginanya.</p>
<p>Setelah berjuang dengan susah payah, Bless..!<br />
&#8220;Akh.. Kak.. sakit..!&#8221; Nina memekik tertahan ketika Aku berhasil mencoblos keperawanannya dengan penisku. Terus saja Aku tekan sampai mentok, lalu Aku memeluk erat Nina dan berusaha menenangkan Dia dengan lumatan-lumatan serta remasan-remasan yang lembut di payudaranya. Setelah tenang, Aku langsung menggenjot Nina dengan seluruh kemampuanku.</p>
<p>&#8220;Oh.. e.. oo.. hh.., ss.. ah..!&#8221; Nina mendesah tanpa arti. Kepalanya kekanan-kekiri menahan nikmat. Nafasnya mulai memburu. Tanganku tak pernah lepas dari payudara yang sejak tadi keremas-remas terus. Karena masih rapat sekali, penisku terasa seperti di remas-remas oleh vaginanya Nina,</p>
<p>&#8220;Oh.. Nin, enak sekali vaginamu ini, oh..!&#8221; Aku mendesah nikmat.</p>
<p>&#8220;Gimana, enak? nikmat?&#8221; tanyaku sambil terus menggenjot Nina.</p>
<p>&#8220;enak.. sekali, Kak.. oh.. nikmat. Te.. rus.. terus, Kak.. oh..!&#8221; Desah Nina.</p>
<p>Setelah kurang lebih 25 menit Aku menggenjot Nina, tiba-tiba Nina mengejang.</p>
<p>&#8220;K.. Kak..! Nina udah enggak tahan. Nina mau pi.. piss.. oh..!&#8221; Kata Nina sambil tersengal-sengal.</p>
<p>&#8220;Sabar, Nin! Kita keluarkan Bersama-sama, yah! Satu..&#8221; Aku semakin mempercepat gerakan pinggulku.</p>
<p>&#8220;Dua.., Ti.. nggak.. oh.. yess..!&#8221; Aku Menyemburkan Spermaku, croot.. croot.. croott..! Dan bersamaan dengan itu Nina juga mengalami orgasme.</p>
<p>&#8220;Akh.. oh.. yess..!&#8221; Nina menyiram kepala penisku dengan cairan orgasmenya. Terasa hangat sekali dan nikmat. Kami saling berpelukan menikmati indahnya orgasme. Setelah penisku menciut di dalam vagina Nina, aku mencabutya. Dan langsung terbaring di samping Nina. Kulihat Nina masih tersengal-sengal. Sambil tersenyum puas, Aku mengecup dahi Nina dan berkata</p>
<p>&#8220;Thank&#8217;s Nina! Kamu telah memberikan harta berhargamu kepada kakak. Kamu menyesal?&#8221; Sambil tersenyum Nina menggelengkan kepalanya dan berkata,</p>
<p>&#8220;Kakak hebat. Nina bisa belajar banyak tentang Sex malam ini. Dan Nina Serahkan mahkota Nina karena Nina percaya kakak menyayangi Nina. Kakak tak akan ninggalin Nina. Thank&#8217;s ya Kak! Yang tadi itu nikmat sekali. Rasanya seperti di surga.&#8221;</p>
<p>Kemudian kami membenahi diri dan membersihkan darah perawan Nina yang berceceran di karpet. Masih memakai BH dan celana dalam, Nina minta Aku memandikan Dia seperti yang Aku lakukan sekitar enam tahun yang lalu. Aku menuruti kemauannya. Dan kamipun madi bareng malam itu. Sementara mandi, pikiran ngereskupun muncul lagi ketika melihat payudara Nina yang mengkilat kena air dari shower. Langsung aja kupeluk Nina dari belakang sambil kuremas payudaranya.</p>
<p>&#8220;Mau lagi nih..!&#8221; Kata Nina menggoda. Birahiku langsung naik digoda begitu.</p>
<p>&#8220;Tapi di tempat tidur aja, Kak. Nina capek berdiri&#8221; kata Nina berbisik. Aku langsung menggendong Nina ke tempat tidurnya dan menggenjot Nina di sana. Kembali kami merasakan nikmatnya surga dunia malam itu. Setelah itu kami kelelahan dan langsung tertidur pulas.</p>
<p>Pagi harinya, aku bangun dan Nina tak ada disampingku. Aku mencari-cari tak tahunya ada di dapur sedang menyiapkan sarapan pagi. Maklum tak ada pembantu. Kulihat Nina hanya memakai kaos oblong dan celana dalam saja. Pantatnya yang aduhai, sangat elok dilihat dari belakang. Aku langsung menerjang Nina dari belakang sambil mengecup leher putihnya yang indah. Nina kaget dan langsung memutar badannya. Aku langsung mengecup bibir sensualnya.</p>
<p>&#8220;Wah.. orang ini enggak ada puasnya..!&#8221; kata Nina Menggoda. Langsung saja kucumbu Nina di dapur. Kemudian Dia melorotkan celana dalamku dan mulai menghisap penisku. Wah, ada kemajuan. Hisapannya semakin sempurna dan hebat. Aku pun tak mau kalah. Kuangkat Dia keatas meja dan menarik celana dalamnya dengan gigiku sampai lepas. Tanganku menyusup ke dalam kaos oblongnya. Dan ternyata Nina tak memakai BH. Langsung aja kuremas-remas susunya sambil kujilat-jilat kelentitnya. Nina minta-minta ampun dengan perlakuanku itu dan memohon supaya Aku menuntaskan kerjaanku dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Kak.. masukin, Kak.. cepat.. oh.. Nina udah enggak tahan, nih!&#8221; Mendengar desahan itu, langsung aja kumasukkan penisku kedalam lubang surganya yang telah banjir dengan cairan pelumas. Penisku masuk dengan mulus karena Nina sudah tidak perawan lagi kayak tadi malam. Dengan leluasa Aku menggenjot Nina di atas meja makan.</p>
<p>Setelah sekitar 15 menit, Nina mengalami orgasme dan disusul dengan Aku yang menyemburkan spermaku di dalam vagina Nina.</p>
<p>&#8220;Oh.. enak.. Kak.. akh..!&#8221; desah Nina. Aku melenguh dengan keras</p>
<p>&#8220;Ah.. yes..! Nina, kamu memang hebat..&#8221;</p>
<p>Setelah itu kami sarapan dan mandi sama-sama. Lalu kami pergi ke Mall. Jalan-jalan.</p>
<p>Begitulah setiap harinya kami berdua selama seminggu. Setelah itu Om Bagas dan Tante Rita pulang tanpa curiga sedikitpun kamipun merahasiakan semuanya itu. Kalau ada kesempatan, kami sering melakukkannya di dalam kamarku selama sebulan kami membina hubungan terlarang ini. Sampai Aku harus pulang ke Manado. Nina menangis karena kepergianku. Tapi Aku berjanji akan kembali lagi dan memberikan Nina Kenikmatan yang tiada taranya.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: A_MENG_EL_013@EUDORAMAIL.COM </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/oh-nina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
