<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Gay</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-gay/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Celana Dalam Seksi</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kelas 2 SMA, aku selalu tertarik dengan celana dalam yang super seksi dan mini. Pertama kali pula aku membeli celana dalam String Bikini (yang pinggangnya hanya karet saja tetapi pantatnya masih tertutup) kelas 2 SMA. Setiap kali memakai celana dalam itu, selalu ‘anu’ ku menjadi tegang, bisa dipastikan dulu, tiap memakai celana dalam itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kelas 2 SMA, aku selalu tertarik dengan celana dalam yang super seksi dan mini. Pertama kali pula aku membeli celana dalam String Bikini (yang pinggangnya hanya karet saja tetapi pantatnya masih tertutup) kelas 2 SMA. Setiap kali memakai celana dalam itu, selalu ‘anu’ ku menjadi tegang, bisa dipastikan dulu, tiap memakai celana dalam itu, selalu masturbasi.</p>
<p>Menginjak masa kuliah, fantasiku makin berkembang dengan ingin mengetahui siapa saja yang memakai celana dalam seksi semacam yang kupakai dan bagaimana bentuk anunya. Apakah mereka (orang-orang yang pake celana dalam itu!) juga terangsang dan melakukan masturbasi setiap menggunakan celana dalam itu?</p>
<p>Aku tidak tergila-gila dengan celana dalam kotor bekas orang atau yang ada bekas air maninya. Itu jorok sekali! Tapi aku suka menggunakannya (celana dalam bersih dan seksi) dan dengan senang hati akan aku perlihatkan kepada orang-orang yang mau melihat juga.</p>
<p>Sampai sekarang, koleksiku sudah tak terhitung banyaknya. Sekarang, aku selalu menggunakan celana dalam G-string/thong, yang bagian pantatnya tali doang, dengan bahan yang tipis atau yang nerawang sekalian, jadi kesannya (dan memang!) seksi sekali. Tiap kali aku ganti pakaian seragam kerja diloker, semua rekan kerja melihat dengan takjub dan aku yakin, beberapa dari mereka juga terangsang.</p>
<p>Akhirnya semua celana dalamku termasuk celana renang, bisa dikatakan yang minim sekali. Kalo anuku tegang, pasti sudah keluar dari sarangnya. Aku selalu bertanya-tanya, siapa saja orang yang membeli celana dalam model begini, karena tiap kali ada model baru, dalam waktu sebentar semua sudah habis terjual. Begitu pula celana renang. Tiap kali ada yang baru dan seksi, dalam sekejap habis terjual. Sampai suatu hari pertanyaannya terjawab.</p>
<p>Satu hari aku pergi berenang ke salah satu kolam renang favoriteku. Kolamnya bersih dan cukup sepi pada saat-saat tertentu, sehingga kadang-kadang aku dapat melepas celana renangku dan berenang telanjang bulat, tanpa harus diketahui orang. Aku pergi pagi hari pukul 09.00. Hari itu aku memakai celana renangku yang termini dan tersexy, tali pinggangnya tidak lebih besar dari satu jari tangan, dan menggunakan karet elastis. Aku belum pernah melihat orang lain menggunakan celana renang yang sama.</p>
<p>Pagi itu kolam renang sepi, hanya aku sendiri yang berenang, dan seperti kebiasaan, aku melepas celana renang dan berenang telanjang bulat. Anuku sudah tegang dari sejak membuka celana, tapi rasanya kurang sreg kalau dilakukan di dalam kolam. Baru dua lap aku berenang, ada seorang laki-laki lain yang masuk areal kolam renang. Cepat-cepat aku berhenti dan mengenakan celana renang yang kusangkutkan pada lenganku. Aku berhenti dan memperhatikannya dari jauh. Pada saat dia membuka celana dan bajunya untuk berenang, aku melihat dengan terperanjat, karena dia menggunakan celana renang yang persis dengan celanaku hanya berbeda warna. Kemaluanku langsung tegang dan terangsang. Aku tidak berani berenang lagi dan berhenti di pinggir kolam, tidak berani untuk keluar juga.</p>
<p>Tak lama kemudian dia mulai berenang dan melihat ke arahku. Dia cukup tampan, dengan dada yang bidang dan kemaluannya cukup besar (terlihat jendolannya cukup besar!) Dia mengenakan kaca mata renang dan berenang tidak jauh dari tempat aku berdiri. Tiba-tiba, setelah berada dekat denganku, dia berhenti, dan memandangiku sambil tersenyum.<br />
“Kenapa, Mas?”, tanyaku.<br />
“Enggak, Mas pake celana renang sama dengan celana renangku!”, sahutnya.<br />
“Iya, aku juga kaget waktu ngeliat kamu pake celana renang yang sama”, Kataku lagi.<br />
“Mas lagi bangun, yah, tititnya keluar dari celana renang”, katanya tanpa malu-malu.</p>
<p>Aku sedikit kaget dan malu, langsung berusaha memasukan kembali penisku ke dalam celana (tapi tidak berhasil!).<br />
“Nggak Papa, kok, sekarang aku juga jadi bangun. Kenalin, aku Dito”, katanya lagi membuka percakapan “pegang aja, kalo nggak percaya”, sambil tangannya menuntun tanganku memegang bagian depan celana renangnya.<br />
Astaga! Terasa hangat dan berdenyut dan benar dugaanku, cukup besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku sedikit kaget (dan senang!) melihat sikap dan kelakuannya yang terus terang. Aku diamkan aku ketika tangannya memegang kemaluanku.<br />
“Punyamu besar juga, lho, sama dengan punyaku”, katanya dengan nada gembira.</p>
<p>Kami kemudian berenang bersama selama setengah jam, kemudian aku naik dari kolam renang dan menuju ke kamar bilas.<br />
“Eh, tunggu dong, saya juga sudah selesai”, kata Dito. Aku sungguh tidak mengira akan terjadi peristiwa yang menyenangkan ini, dan langsung menunggunya. Kami berdua berjalan menuju kamar bilas. Saat aku hendak berbilas, Dito mengikutiku sambil berkata, “Mandi bareng yuk!”, dengan cepat aku menganggukkan kepala. Kubuka celana renangku, dan melangkah menuju shower. Kemaluanku mulai menegang kembali.</p>
<p>Kemudian Dito, ikut bergabung di shower sebelahku, kemudian dia juga melepas celana renangnya sehingga kami berdua dalam keadaan telanjang bulat dan kemaluan keras menegang saling meberdiri. Dito mendekatkan dirinya dan penis kami saling bersentuhan, kemudian dia berjongkok dan mengulum kemaluanku beserta bijinya, aku mengerang keenakan. Dito tahu bagian mana yang nikmat dan sensitif pada penisku.</p>
<p>Setelah sepuluh menit, aku angkat dia dari jongkoknya dan giliranku sekarang berjongkok di hadapannya dan mengenyot penisnya. Giliran dia yang mengerang kenikmatan. Kurasakan pre-cumnya yang sedikit asin. Tangan kiriku berada di pangkal kemaluannya sementara mulutku mengulum kemaluannya, tangan kananku berada di pantat dia yang bulat dan jariku bermain.<br />
“Ahh…, ahh…, aku sudah dekat, nih!”, kata Dito sambil pantatnya makin cepat maju mundur. Makin aku hisap dengan kuat penisnya yang makin terasa hangat dan berdenyut, sementara tangan kananku mulai mengocok kemaluanku sendiri.<br />
“Aahh…”, Dito mengerang dan cairan hangat menyembur ke dalam kerongkonganku. Lepas sudah air mani Dito, kutelan sari laki-laki tersebut dengan hausnya, sementara tanganku makin cepat mengocok kemaluannya dan, “aahh…!”. Air maniku tumpah di lantai kamar bilas. Lepas dan nikmat sekali.<br />
“Yah, aku juga mau ngerasain punya kamu”, kata Dito sedikit kecewa.<br />
“Aku janji kamu bakal ngerasain punyaku juga”, jawabku.</p>
<p>Kemudian kami berbilas dan membersihkan diri. Untung kolam renang pagi itu dalam keadaan sepi dan tidak satupun orang masuk selam itu. Selesai berbilas, kami mengeringkan diri dan siap-siap memakai pakaian.<br />
“Kok, peler kamu masih keras dan tegang juga sih, masih mau lagi yah!”, Tanya Dito melihat kemaluanku yang belum turun.<br />
“Nanti kalo udah pake celana dalam juga turun sendiri”, sahutku. Kupakai celana dalam G-stringku yang berwarna kulit.<br />
“Hah, celana dalemnya seksi banget”, kata Dito.<br />
“Semua celana dalemku model ginian, abis nikmat sih dipakenya dan kelihatan seksi”, kataku lagi.<br />
Tiba-tiba Dito langsung mengenyot kembali penisku yang masih keras”,Dit, ntar ada orang masuk!”, kataku sedikit kaget melihat spontanitasnya.<br />
“Biarin, gue pokoknya mau ngerasain punya lu”, jawabnya.</p>
<p>Dito mengisap penisku dengan ganas sehingga aku terangsang lagi. Dia jilat seluruh kemaluanku, kadang-kadang dijilat bersama-sama dengan celana dalamku, sehingga semua menjadi basah.</p>
<p>Kemudian dengan cepat dan bernafsu dia menggerakkan kepalanya maju mundur dengan cepat dan isapannya makin kuat. Kupegang kepalanya dan aku bersandar ke dinding. Makin lama makin kuat.<br />
“aah…!”. Akhirnya semprotan maniku tumpah ke dalam mulut Dito dan lebih banyak dari yang pertama sampai membasahi celana dalamku. Semua langsung dijilat bersih oleh Dito.</p>
<p>Badanku terasa ringan sekali, dan Dito tersenyum puas melihatku. Aku pulang tidak memakai celana dalam lagi karena sudah basah, padahal aku hanya mengenakan celana pendek. Sore itu, kejadian yang sama terulang lagi, tetapi kali ini di rumah Dito.</p>
<p>Adakah yang lain yang membeli celana dalam G-string/thong? Seperti apakah bila dipakai? Pasti ada yang beli, tidak hanya aku yang beli celana-celana itu.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Acara Kemah yang Tak Terlupakan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/acara-kemah-yang-tak-terlupakan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/acara-kemah-yang-tak-terlupakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:52:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2944</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja aku Ferry. Aku seorang mahasiswa berumur 22 tahun yang tergabung dalam suatu kelompok pecinta alam, sebut saja: PX. Dari dulu aku memang menikmati petualangan outdoor. Itu sebabnya kulitku menjadi sedikit gelap terbakar matahari, dan tubuhku pun cukup kekar karena hobiku adalah panjat tebing dan tak jarang aku ke fitness centre. Suatu hari, kelompok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut saja aku Ferry. Aku seorang mahasiswa berumur 22 tahun yang tergabung dalam suatu kelompok pecinta alam, sebut saja: PX. Dari dulu aku memang menikmati petualangan outdoor. Itu sebabnya kulitku menjadi sedikit gelap terbakar matahari, dan tubuhku pun cukup kekar karena hobiku adalah panjat tebing dan tak jarang aku ke fitness centre.</p>
<p>Suatu hari, kelompok PX mengadakan acara berkemah di hutan selama tiga hari. Pesertanya selain anggota kelompok, juga klub pecinta alam di smu-smu. Tapi untuk keselamatan mereka, kondisi badan mereka juga diperiksa terlebih dulu. Selain itu, peserta dibagi dalam regu-regu yang masing-masing terdiri dari empat anggota kelompok PX dan dua orang dari smu.</p>
<p>Sebelum berangkat ke lokasi, semua peserta berkumpul di sekretariat klub kami untuk pembagian regu dan penjelasan mengenai medan yang dilalui dan tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan tiap regu. Dalam reguku, dari kelompok PX, ada Doni, Rima, Lydia, Mirna, dan aku. Di sana aku berkenalan pula dengan dua anggota reguku dari peserta smu. Laila, siswi kelas 3 yang cukup manis dan Johan, yang ternyata masih kelas 2.</p>
<p>Setelah mengepak perlengkapan dan meletakkannya ke dalam bis, kami naik dan mulai menuju lokasi yang kurang lebih 230 km dari sekeretariat kami. Johan ternyata memilih duduk disampingku. Ia tampak sangat antusias mengenai perjalanan ini, ia bertanya banyak hal dan pembicaraan itu cukup mengakrabkan kami berdua. Setelah beberapa lama, aku mulai memperhatikan bahwa Johan bisa dibilang cukup berotot dibandingkan remaja lain seusianya.</p>
<p>Wajahnya cukup tampan dan kulitnya putih. Rambutnya mengingatkan aku pada rambutku sendiri sebelum aku lulus dan kupanjangkan sampai sebahu seperti sekarang. Pakaiannya menunjukkan kalau dia anak orang yang cukup berada. Saat pandanganku mengarah pada celananya, aku cukup terkejut karena tonjolan yang ada di tengah pangkal kedua pahanya tampak lebih besar daripada punyaku sendiri. Padahal aku cukup bangga dengan ukuran &#8220;Senjata&#8221;-ku yang bisa mencapai 18 cm. Semakin lama aku semakin penasaran tentang ukuran sejatanya itu, tapi aku belum berani menanyakan kepada Johan. Tidak tahu kenapa, senjataku itu lalu pelan-pelan bangun.</p>
<p>Karena kami berangkat kira-kira jam 9.30 pagi, jadi sesampainya kami di sana sudah cukup siang. Panitia menjelaskan sekali lagi tentang tugas-tugas masing-masing regu. Selanjutnya acara pun dimulai. Setiap regu mulai menelusuri rute yang ditetapkan. Setelah hari hampir gelap dan kami telah menemukan tempat yang cukup luas, kami kemudian membangun dua tenda, satu untuk perempuan dan satu untuk laki-laki. Aku, Laila, dan temanku yang lain membuat api unggun dari kayu bakar yang sudah dibawa dari sekretariat tadi. Setelah cewek-cewek berganti baju, tugas mereka untuk memasak, sedangkan sekarang giliran kami yang cowok untuk berganti baju.</p>
<p>Saat Johan melepas bajunya, aku bertambah yakin kalau anak ini sering berlatih beban, otot-ototnya tebal dan membentuk. Aku masih mengawasinya, ia lalu melepas celananya dan.. Oh! ternyata ia tidak memakai celana dalam. Aku rasa itulah yang membuat tonjolan yang tampak lebih besar dari punyaku. Kulihat penis Johan yang sedang &#8220;Tidur&#8221;, ternyata sedikit lebih besar dari punyaku. Johan telanjang bulat sekarang, sedangkan Doni hanya menggunakan celana dalam saja. Aku sendiri sudah sering melihat tubuh Doni yang cukup seksi telanjang saat berkemah dan kami cukup akrab. Tapi tidak terjadi apa-apa, meskipun aku dengan susah apayah menahan nafsuku, setiap kali Doni memperlihatkan perutnya yang rata. Yang sangat menarik perhatianku kini adalah anak SMU ini.. Rambut hitam yang cukup tebal menghiasi sekeliling penis Johan, demikian juga di ketiaknya. Ia tidak tampak seperti bocah berusia 17 tahun, malahan.. sangat dewasa.</p>
<p>&#8220;Lho, Mas Fer, nggak ganti baju?&#8221; suara Johan mengagetkanku.<br />
&#8220;Oh, ya. Nanti saja&#8221;, ujarku sambil mencari bajuku di tas.</p>
<p>Aku baru sadar kalau belum membuka selembar pun pakaianku. Rupanya aku terlalu sibuk memperhatikan tubuh Johan. Kutunggu mereka semua keluar, dan saat mulai berganti bahu, aku sadar bahwa ereksiku sudah penuh, dan dari luar celana jeans-ku tampak tonjolan yang cukup besar. Aku jadi bertanya-tanya apakah Johan atau Doni tadi menyadari bahwa aku sedang terangsang.</p>
<p>Malam itu seperti acara perkemahan yang lain, diisi dengan main musik, menyanyi, dan ngobrol. Tapi semua tak berlangsung terlalu lama karena kami semua lelah dan ingin segera tidur. Kami dapat telentang dengan cukup leluasa, karena tenda kami hanya diisi tiga orang, sedang di tenda cewek diisi empat orang. Di sebelahku Doni yang tidur dengan cepat sekali, dan di sampingnya lagi Johan. Meskipun aku juga merasa sangat capai, tapi aku hampir tidak bisa tidur karena teringat akan tubuh Johan yang putih mulus dan berotot. Dari tempatku, aku tidak bisa melihat keadaan Johan, hal ini lalu membuatku berfantasi yang bukan-bukan. Untunglah akhirnya aku bisa juga tidur meskipun tidak begitu nyenyak.</p>
<p>Esok paginya ternyata aku dan Johan ketiduran, yang lain sudah mandi dan sedang makan. Akhirnya setelah makan, aku dan Johan bertugas untuk mencari kayu bakar, karena sudah habis untuk menghangatkan makanan kami. Teman-temanku menunjukkan jalan untuk mencapai sungai, bila kami ingin mandi.</p>
<p>Aku dan Johan kemudian pergi ke dalam hutan. Kira-kira satu jam kemudian, kami sudah masuk hutan cukup dalam dan kayu yang kami kumpulkan juga cukup untuk hari itu. Aku mengajaknya kembali ke kemah, tapi Johan rupanya ingin mandi dulu.</p>
<p>&#8220;Memangnya kamu bawa handuk?&#8221;<br />
&#8220;Iya, tadi waktu Mas Ferry ngambil parang, aku ngambil handuk. Ayolah Mas, sama-sama nanti handuknya kan bisa gantian.&#8221;<br />
&#8220;Nggak lah, aku ngasih kayu ini dulu, biar temen-temen nggak nyariin kita.&#8221;<br />
&#8220;Okelah, sampai nanti ya Mas!&#8221;</p>
<p>Kami berpisah di situ dan aku berbalik menuju kemah. Tapi setelah dua-tiga menit aku baru sadar kalau Johan anak baru, jangan-jangan dia tidak bisa kembali dan tersesat dalam hutan. Lalu aku tinggalkan kayu bakar di sana dan kembali menyusul Johan. Ia sudah tidak tampak lagi, aku langsung pergi ke sungai yang diceritakan temanku tadi.</p>
<p>Di sana, aku menjumpai Johan sedang berdiri di tepi sungai membelakangiku dan.. telanjang. Aku putuskan untuk mengamatinya dulu sebelum menyusul. Aku ingin melihat seluruh tubuh Johan yang seksi sekali lagi. Semua ingatan tentang Johan yang sedang melepas bajunya memenuhi ingatanku dan pelan-pelan penisku ereksi. Tiba-tiba aku perhatikan, tangan kanan Johan berada di depan tubuhnya sehingga tidak bisa kulihat, tapi aku yakin kalau tangan itu sedang bergerak maju dan mundur dengan pelan.. Johan sedang onani di depan mataku! Melihat pemandangan itu, aku pun tak sabar lagi. Nafsu memenuhi diriku dan aku nekad.</p>
<p>Aku berjalan menuju bocah seksi itu sambil memanggil namanya. Johan menoleh ke arahku dan tampak sangat terkejut. Aku bisa lihat kalau dia agak terengah-engah, dari dadanya yang kembang-kempis. Saat aku sudah di sampingnya, aku lihat penisnya masih tegang, bahkan pucuknya sudah berwarna merah tua. Yang mengejutkanku, ukurannya berlipat dari kemarin, melebihi ukuran penisku saat tegang, mungkin sekitar 22 cm.</p>
<p>&#8220;Eh.. e.. Mas Ferry nggak jadi kembali ya? Kenapa?&#8221; tanya Ferry dengan suara yang agak tersengal.<br />
&#8220;Iya, soalnya badan nih rasanya gerah. Kamu nggak merasa gerah?&#8221; Aku lalu mulai melucuti pakaianku sampai akhirnya bugil seperti Johan. Johan sepertinya memperhatikan tubuhku, mungkin karena ini yang pertama kalinya ia melihat aku bugil.<br />
&#8220;Johan, kok bengong? Gerah nggak?&#8221;<br />
&#8220;Oh, oh.. iya gerah.&#8221;<br />
&#8220;Ya pasti, soalnya kamu habis main sih.&#8221;<br />
&#8220;Ma.. main?&#8221;<br />
&#8220;Mas Ferry lihat kok tadi.&#8221; Aku melihat wajahnya, dia menunduk mungkin malu ketahuan.<br />
&#8220;Udah, gitu aja dipikirin. Mas Fer juga sering kok main sendiri. Tapi lebih seru kalau kita main berdua.&#8221;</p>
<p>Johan tampak terkejut dan sebelum dia mencerna lebih jauh ucapanku, aku mendekapnya dengan erat. Johan berontak, tapi aku mendekapnya lebih erat lagi. Aku merasakan penis Johan yang panas dan tegang menekan perutku.</p>
<p>&#8220;Mas Fer, lepas, Mas! Apa-apaan nih?&#8221; Johan setengah berteriak.<br />
&#8220;Sstt.. tenang aja! Kita main. Pasti seru dan enak! Aku udah nggak tahan.. kamu terlalu seksi!&#8221;<br />
&#8220;Mas, jangan!&#8221; Kini suara Johan lebih mirip erangan daripada teriakan, dan ini membuatku semakin terangsang. Kucium dan kujilati lehernya, aku ingin dia merasakan gejolak nafsu yang aku rasakan saat itu.<br />
Dia terus meronta dalam pelukanku yang kuat sambil bergumam, &#8220;Mass.., jangann.., Mass..!&#8221;</p>
<p>Erangan Johan membuatku makin ganas, selesai kujilati lehernya, aku ambil kepalanya dengan tangan kiriku sementara tangan kananku masih mendekapnya. Kudekatkan wajahnya dengan wajahku, dan kucium dia dengan penuh nafsu. Saat itu, aku sadar bahwa Johan juga menginginkan &#8220;Permainan&#8221; ini, lidahnya dengan terampil membalas ciumanku, sedang kedua tangannya membelai rambut panjangku, menekan wajahku agar bibirku tetap menempel pada bibirnya. Kuputuskan mengambil langkah lebih jauh, kupegang senjata Johan yang dari tadi tegang dan menekan-nekan pusarku. Kuelus pelan, dan kemudian aku genggam sebelum akhirnya aku kocok.</p>
<p>Johan tersentak sedikit, ia melepaskan ciumannya dan mulai mendesah, &#8220;Aduh, Mas! Ahh.. uuhh..!&#8221;<br />
&#8220;Jangan, Mas! Ini.. ini..&#8221;<br />
&#8220;Ini nikmat khan Johan? Hmm?&#8221; sambungku sambil terus memompa penis putih itu.<br />
&#8220;Ohh.. iya, Mass.. teruss.. enakk..&#8221;</p>
<p>Kulihat Johan memejamkan matanya sambil menengadah, menikmati betul-betul gesekan jariku pada senjatanya. Tampaknya kerjaku sangat baik.. Perlahan kurasakan kedua tangannya turun dari kepalaku, meyusuri punggungku dan sampai pada kedua pantatku. Johan meremas-remasnya, seirama dengan kocokan tanganku pada penisnya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, Johan menggeliat, hampir lepas dari dekapanku.<br />
&#8220;Mass.. bentar lagi nih.. aku.. nggak kuatt..!&#8221;<br />
&#8220;Agghh!&#8221;</p>
<p>Crott.. crott.. crott..! Senjata Johan memuntahkan peluru maninya, membasahi tubuhku dan tubuhnya sendiri pula, karena Johan belum lolos dari pelukanku. Air maninya yang hangat terasa sangat nyaman di dada dan perutku. Tubuh padat Johan menggelinjang, mengisyaratkan kenikmatan yang Johan rasakan. Tubuhnya yang berotot dan dibasahi keringat, menggeliat dalam pelukanku, memberiku pengalaman erotis dan membuat nafsuku bergelora, wajahku terasa panas. Aku terus memompa penis Johan, aku ingin menguras isinya. Dan satu tembakan lagi keluar.. menyentuh daguku.. Kuremas penis Johan yang mulai lemas.</p>
<p>&#8220;Mass.. ahh.. enakk.. enak bangett..!&#8221;<br />
Kulihat wajah Johan yang tersenyum puas dan merona merah. Penis Johan terus kuremas dan terasa semakin lemas..<br />
&#8220;Aduhh.. Mas! Ampun! Enak banget! Terusin..!&#8221;<br />
Kueratkan lagi remasanku pada penisnya, agar Johan benar-benar puas.<br />
&#8220;Ohh! Ampun.. ahh!&#8221; dan akhirnya Johan jatuh terduduk dihadapanku. Pasti seluruh tubuhnya lemas, sampai-sampai kakinya tak mampu menopang dirinya sendiri.</p>
<p>Johan masih tersengal-sengal, mencoba mendapatkan udara lebih banyak, menghimpun tenaganya lagi.. Tapi aku sudah tidak tahan. Penisku yang sedari tadi tegang, kuusapkan pada pipinya, dan lalu kumasukkan dalam mulutnya. Kehangatan rongga mulut Johan terasa sungguh nikmat. Johan terbelalak, nampaknya ia masih susah bernapas. Kurengkuh kepalanya, dan kugerakkan maju mundur. Johan sudah bisa beradaptasi, lidahnya ternyata juga terampil memanjakan batang kejantananku.</p>
<p>Dia terus mengulum kemaluanku, dan sekali lagi meremas pantatku. Aku memanjakan diriku sendiri dengan memencet-mencet puting susuku. Dan aku meratakan sperma Johan yang tadi membasahiku dengan tanganku yang lain. Ohh.. sungguh nikmat.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Johan.. kamu pinter bangett.. Ayo.. terusinn..!&#8221;<br />
Beberapa detik kemudian aku merasakan denyutan di zakarku.<br />
&#8220;Johann.. aku.. aku.. mau..&#8221;<br />
Johan semakin ganas dan dengan segera spermaku membanjiri mulut dan tenggorokannya.<br />
&#8220;Oohh! Yess..! Ahh..!&#8221;</p>
<p>Begitu banyak.. hingga sebagian ada yang menetes keluar dari sudut-sudut bibirnya. Aku pejamkan mata, merasakan betul kenimatan yang kurasakan, ketika Johan menjilati pusarku dan terus ke atas, menjilati sisa-sisa spermanya sendiri. Dan ketika sampai di dadaku, Johan mengulum dan menggigit puting susuku, dan saat itu satu tembakan lagi keluar dari penisku mengenai penis Johan. Kami lalu berciuman sekali lagi, merasai sperma kami yang telah bercampur.</p>
<p>Kami turun ke sungai bersama-sama, membersihkan tubuh kami yang basah oleh keringat, mani, dan air liur. Aku baru saja keluar dari sungai dan hendak mengeringkan tubuh dengan handuk Johan, ketika Johan memanggilku.</p>
<p>&#8220;Mas Fer, makasih! Main berdua emang enak banget!&#8221; kata Johan dengan senyum lebar yang bagiku sangat manis.<br />
&#8220;Suka ya? Aku mau kok kalo diajak main lagi.&#8221;<br />
&#8220;Boleh ya, Mas Fer! Tapi kalau boleh aku mau yang lain nih!&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Apaan?&#8221;</p>
<p>Johan ikut keluar dari sungai, tampak lebih seksi karena kilatan matahari yang memantul di tubuhnya yang basah. Setelah &#8220;Kerja berat&#8221; yang dilakukan penisku, kini ia mulai ereksi lagi. Johan mendekatiku, memelukku, lalu tangannya bergerak ke bawah. Kedua tangannya membelah pantatku, dan ia berbisik, &#8220;Johan mau ngerasain punya Mas Fer yang ini..&#8221;</p>
<p>Aku tersenyum, lalu kudorong dia ke sungai, dan aku ikut terjun ke dalam. Aku bersiap memulai permainan baru kami..</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: oel21@lycos.co.uk </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/acara-kemah-yang-tak-terlupakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 in 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/3-in-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/3-in-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2940</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mobil kamu mana Ric?&#8221; Tanya Doni singkat. &#8220;Tuh dipojok&#8221; Jawab Rico yang lagi asik merangkul Tanjung. &#8220;Emangnya kamu nggak bawa motor Don?&#8221; Tanjung bertanya pada Doni yang hanya dijawab dengan gelengan kepala. &#8220;Kalo gitu kita jalan bareng aja, Yuk!&#8221; Ajak Rico pada rekan se-geng nya. Mereka bertiga jalan bareng sepulang kuliah yang membosankan itu saling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mobil kamu mana Ric?&#8221; Tanya Doni singkat.<br />
&#8220;Tuh dipojok&#8221; Jawab Rico yang lagi asik merangkul Tanjung.<br />
&#8220;Emangnya kamu nggak bawa motor Don?&#8221; Tanjung bertanya pada Doni yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.<br />
&#8220;Kalo gitu kita jalan bareng aja, Yuk!&#8221; Ajak Rico pada rekan se-geng nya.</p>
<p>Mereka bertiga jalan bareng sepulang kuliah yang membosankan itu saling berangkulan menuju mobil Rico yang ada di pojok tempat parkir. Posisi Tanjung ada ditengah sedangkan yang lainnya ada samping kanan-kiri Tanjung. Mereka berjalan layaknya anak kelas 3 SD.</p>
<p>Seperti biasanya, mereka selalu bergurau dan saling meledek. Hal itulah yang menjadikan mereka jadi bahan perhatian cewek-cewek dikampusnya. Selain model guru mereka yang akrab juga face mereka yang sangat ganteng dan manis itu yang membuat cewek-cewek mabuk kepayang. Bayangkan saja, Tanjung adalah cowok manis, matanya tajam, hidung lumayan mancung, apalagi senyumnya yang menggemaskan itu. Rico, cowok manis berambut cepak, kalo lagi senyum gantengnya selangit. Belum lagi Doni, cowok macho, meski modelnya acak-acakan tapi memiliki daya tarik yang tinggi, karena facenya yang indo, rambut gondrong tubuh tinggi dan gagah. Mereka sungguh sempurna.</p>
<p>&#8220;Eh! Ric, malam ini kan malam minggu, gimana kalo kita ke villa lo aja, mumpung malam ini gua lagi bosan jalan ama cewek, gimana?&#8221; Tanya Doni dengan nada slengean.<br />
&#8220;Gimana ya, pacar gua gimana?&#8221; Jawab Rico lagi bingung.<br />
&#8220;Emangnya kamu ada janji Ric?&#8221; Tanjung bertanya.<br />
&#8220;Iya, tapi gua juga pingin ke sana?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah deh, batal&#8221; Sahut Doni kesal.<br />
&#8220;Jangan gitu Don!, bisa diatur kok, gini aja Rico jalan sama cewek dulu, Aku dan Doni nuggu kamu dulu di tempat biasa, kalo udah beres kita pergi bersama ke sana gimana? &#8221; Urai Tanjung dengan gaya bijaknya.<br />
&#8220;Oke gua setuju&#8221; Sahut Rico.<br />
&#8220;Iya deh&#8221; Doni menerima tawaran Tanjung.</p>
<p>Mereka bertiga menuju tempat biasa, sebuah cafe yang biasa mereka tongkrongin. Doni dan Tanjung masuk Cafe itu dengan kurang semangat. Sementara Rico menjemput pacarnya untuk sekedar memenuhi janjinya.</p>
<p>*****</p>
<p>&#8220;Kamu kok gitu sih Don, nggak suka kalo temennya jalan sama cewek?&#8221; Tanjung membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Nggak gitu sih, cuma..udahlah kita minum aja!&#8221;<br />
&#8220;Eh, Jung gebetan kamu yang cantik itu lagi kemana? Kok nggak keliatan sih&#8221;<br />
&#8220;Tahu tuh mungkin lagi libur&#8221;</p>
<p>Tanjung dan Doni menghabiskan waktu dengan ngobrol kesana-kemari tanpa arah. Sudah 45 menit mereka harus sabar mengunggu sahabatnya yang lagi kencan sama ceweknya. Doni dengan raut muka yang semakin kesal mulai mengalihkan kegiatan dengan menggoda cewek-cewek yang datang dengan senyumnya yang maut itu. Tanjung hanya tersenyum melihat ulah Doni yang tidak mau berubah dari dulu. Maklum tampang seperti Doni memang paling didemenin sama cewek, makanya sangat mudah baginya mencari pasangan sekerdar untuk mengisi waktu.</p>
<p>&#8220;Don, ayo kita berangkat!&#8221; Panggil Rico yang baru datang.<br />
&#8220;Oke friend&#8221; Jawab Doni sambil meninggalkan cewek yang baru saja ia ajak dance.<br />
&#8220;Udah Ric?&#8221; Tanya Tanjung sambil memberikan sejumlah uang pada pelaayan cafe.<br />
&#8220;Ayo cepet! ntar kemaleman nih?&#8221; Sahut Doni.</p>
<p>Doni, Tanjung dan Rico masuk mabil menuju sebuah vila milik Rico. Karena Doni yang lagi ngebet ke sana, maka ia yang nyetir mobinya. Selama perjalanan mereka terus bergurau tanpa henti.</p>
<p>&#8220;Don, emangnya kita mau apa sih kesana?, paling-paling seperti biasa bakar ayam, nonton film horor dan begadang sampai pagi&#8221;, Tanya Rico<br />
&#8220;Tenang aja man, malam ini special untuk kalian.&#8221;<br />
&#8220;Apaan sih? Rico penasaran.<br />
&#8220;Tahu&#8221; Tanjung menjawab sembari menggeleng dengan senyumnya yang khas.<br />
&#8220;Udahlah nanti tahu sendiri kok&#8221; Ujar Doni.</p>
<p>*****</p>
<p>Sesampai di Vila, Doni langsung menggiring kedua rekannya menuju kamar yang biasa mereka tempati bertiga. Doni langsung memutar sebuah CD yang dia dapat dari rental.<br />
&#8220;Film horor ya Don?&#8221; Tanya Rico.<br />
&#8220;Lihat aja!&#8221; Sahut Doni.</p>
<p>Selang beberapa menit Rico dan Tanjung mulai mengerti film apa yang Doni suguhkan. Ya ternya sebuah film gay yang menampilkan adegan-adegan seks sesama lelaki yang dibintangi oleh remaja-remaja eropa yang ganteng dan keren, mulai dari saling cium, meraba, oral dan anal. Doni agak gugup menikmati film itu, sementara Tanjung juga agak tersipu. Tapi mereka berdua merasa keberatan jika harus menyiakan suguhan Doni yang konyol itu. Entah Rico dan Tanjung terangsang atau tidak, tapi yang jelas mereka mulai memegang batangnya masing-masing sambil sesekali mengelusnya dengan manja.</p>
<p>&#8220;Ih.. kamu gila ya Don?, kok bawa film seperti ini.&#8221; Tanya Rico.<br />
&#8220;Tapi asyik kan!?&#8221;<br />
&#8220;Iya sih, cuma jorok aja.&#8221;<br />
&#8220;Ric! Rasanya enak nggak ya seperti itu?&#8221; Tanya Doni memancing.</p>
<p>Doni sengaja duduk agak di balakang sehingga bisa bebas memperatikan kudua sahabatnya yang kelimpungan menikmati adegan seks sejenis yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Ia sibuk sendiri di belakang. Selain mengamati rekannya, ia mulai melepas kaos oblong dan celana Jaens nya, sehingga ia hanya mengenakan CD biru tua. Kini tampaklah seorang Doni yang asli yaitu tubuh Doni yang putih mulus, gagah, dada bidang, paha putih yang dihiasi bulu hitam yang halus, serta pantat temol dengan kemaluan yang hanya dibungkus CD ketat.</p>
<p>&#8220;Ngapain kamu Don?&#8221; Tanya tanjung heran ketika Doni yang telanjang merangkulnya dari belakang sambil menciumi tengkuk dan menggerayangi Tanjung.</p>
<p>Tanjung hanya diam menikmati juluran lidah Doni yang menggelitik tengkuk dan lehernya serta remasan-remasan tangan Doni pada puting susunya. Ia hanya mengerang keenakan.Sementara Rico hanya bisa menelan ludah dan meremas-remas kontolnya yang sudah tegang dari tadi memperhatikan adegan yang diperankan Doni terhadap Tanjung.</p>
<p>Rupanya Rico semakin tidak tahan dengan adegan rekannya itu. Kini Rico tidak bisa berfikir jernih lagi, ia mulai melucuti pakaiannya. Wow.. tubuh Rico yang tidak kalah dengan Doni terlihat jelas. Dadanya bidang, kulitnya putih bersih tanpa noda sedikitpun, pahanya yang menggairahkan itu juga terlihat jelas. Tapi benda tegang di belahan pahanya masih terbungkus CD putih polos. Lalu ia ikut bergumul dengan temannya. Rico yang tadi hanya diam sekarang mulai meraba-raba pungging Doni dari belakang. Lalu ia menyibakkan rambut Doni yang gondrong sehingga terihat jelas tengkungya. Akhirnya Rico berani mengerjai tengkuk dan leher Doni yang putih sampai merah merona.</p>
<p>&#8220;Shhtt.. terus Don.. enak Doon!&#8221; Tanjung mengerang.<br />
&#8220;Oke!&#8221; Jawab Doni singkat.<br />
Tanjung semakin tak kuasa menahan nikmat yang luar biasa yang diberikan temannya. Hingga tanpa sadar, kini ia hanya mengenakan CD saja.</p>
<p>Doni menidurkan Tanjung di Sofa. Lalu ia menindihnya. Mereka mulai melakukan kuluman bibir. Sementara Rico hanya asyik menikmati tubuh Doni dari belakang. Puas dengan kuluman bibir, Doni turun dan mulai menjilati tubuh Tanjung bagian dada dan perut dan mengoral penis Tanjung sampai kuluar semua spermanya. Rico menggantikan posisi Doni yaitu menikmati bibir Tanjung. Lama sekali mreka dengan posisi seperti itu.</p>
<p>Setelah puas dengan tubuh Tanjung, kini Rico yang jadi obyek. Rico tidur terlentang dengan tangan diangkat ke atas sambil menikmati jilatan Tanjung dan Doni yang nikmat itu.<br />
&#8220;Itu Don &#8221; Ucap Rico menunjukkan batangnya yang ingin dikulum.</p>
<p>Tanpa perintah Tanjung mendahului Doni. Tanjung memelorotkan CD Rico dan mulai membelai, mengocok penisl Rico yang lumayan besar dengan bulu hitam yang halus tidak terlalu tebal disekitarnya. Mula-mula Tanjung menjilati ujung penisnya, setelah Rico kelonjotan dimasukkannya batang penis Rico pada mulut Tanjung. Tanjung mulai asyik dengan batang temannya yang putih itu. Ia kocok perlahan sesekali disedot dengan keras. Cput..cput.. begitulah kiranya bunyi ketika sedotan Tanjung terlepas. Rico yang hampir mencapai klimaks hanya bisa mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi untuk mengimbangi kenikmatan itu. Doni yang lagi asyik memerahkan paha Rico menggantikan peran Tanjung, dikulumnya penis Rico sambil dipadu dengan sedotan-sedotan maut sampai akhirnya muncratlah beberapa kali sperma Rico ke mulut Doni.<br />
&#8220;Ach.. nikmat man..&#8221; Rico mengerang, Tanjung hanya tersenyum.</p>
<p>Doni duduk di sofa agak menepi dengan kaki selojor sehingga penisnya yang tidak lagi terbungkus CD tegak bak tiang bendera. Ia memerintahkan temannya untuk mengulumnya. Tanjung dan Rico yang baru saja diberi kenikmatan oleh Doni hanya nurut saja. Mereka berdua bergantian mengulum penis Doni yang besar, paling besar diantara milik mereka berdua panjangnya sekitar 25 cm dengan diameter 3,5 cm, maklum penis indo. Tanjung dan Rico kadang sampai tersedak dengan penisnya. Ketika Tanjung mengulum penis Doni, Rico menjilati pahanya begitu pula sebaliknya. Sampai beberapa kali mereka bergantian, Doni masih saja ayik menikmati kuluman bibir rekannyan, saking capeknya Rico tidak mau lagi mengocok dengan mulutnya tapi dengan tangannya san sesekali disedot dengan agak keras belum lama perlakuan seperti itu.</p>
<p>&#8220;Ahh..nikmat..&#8221; Tiba-tiba sperma Doni muncrat ke muka Rico.<br />
Dengan senang hati Tanjung menjilatinya. Sementara Doni terkulai lemas menikmati sisa kenikmatan yang baru saja ia rasakan.<br />
&#8220;Pindah ke ranjang aja yuk&#8221; Ajak Rico.</p>
<p>Tanjung dan Doni hanya menganggukkan kepala. Mereka bertiga menuju ranjang besar yang biasa mereka termpati untuk sekedar tidur dan bergurau. Rupanya Rico dan Tanjung tersipu malu atas aktivitas mereka saat itu. Lain halnya dengan Doni yang nampak biasa seaka tidak ada apa-apa.</p>
<p>Melihat kedua rekannya yang tidak marah bahkan menikmati seks sejenis, Doni berulah lagi yaitu dengan menyuruh Rico menungging. Doni berlutut dibelakangnya sambil mengocok penisnya yang masih lemas. Setelah tegak kembali ia lumuri penisnya dengan baby oil yang ia siapkan. Rico hanya terdiam, menunggu apa yang akan dilakukan Doni. Astaga.. Doni memasukkan penis besarnya ke anus Rico yang masih virgin itu.</p>
<p>&#8220;Oh.. Sakit Don!&#8221; Jerit Rico merasakan batang Doni menusuk anusnya.<br />
&#8220;Tenang aja man sebentar lagi enak kok &#8221; Jawab Doni menenangkan Rico.</p>
<p>Selang beberapa saat sekitar lima kali hentakan Rico tidak lagi menjerit, malah erangan yang keluar dari mulutnya.<br />
&#8220;Terus Don.. enak Don.. lebih keras lagi Don..!&#8221; Pinta Rico yang mulai ketagihan dengan penis besar Doni.<br />
&#8220;Jung ole mau nyoba?&#8221; Doni menawari Tanjung.<br />
Tanjung agak grogi ketika mulai memasukkan penisnya ke anus Rico. Hanya sekali hentakan penis Tanjung ambles ke dalam anus Rico.</p>
<p>&#8220;Kocok terus Jung!&#8221; Doni mengajari Tanjung<br />
.<br />
Tanjung rupanya sangat menikmati adegan anal itu, a mulai menggigit bibir bawahnya menahat nikmat tiada tara. Sementara Doni ganti mereplay anus Tanjung dengan jilatan-jilatan. Puas dengan menjilati pantat Tanjung yang gempal. Ia memasukkan penisnya ke anus Tanjung. Tanjung kaget dengan perlakuan Doni. Sampai terlepas penisnya dari anus Rico. Melihat Tanjung yang bingung Doni melakukannya dengan hati-hati. Setelah berjalan beberapa menit Tanjung bisa menikmati kentotan Doni atas anusnya, sehingga Tanjung juga memasukkan lagi penisnya ke anus Doni yang beberapa saat menunggu kentotan Tanjung.</p>
<p>Mereka bertiga sangat menikmati perminan ini. Rico menikmati gesekan penis Tanjung yang perlahan tapi nikmat, Tanjung menikmati anus Rico yang kenyal, hangat dan menjepit, dan juga menikmati penis Doni yang besar menyodok-nydok anusnya, begitu pula Doni menikmati anus Tanjung yang virgin itu.</p>
<p>&#8220;Gila bener man, enak man..&#8221; Doni menceracau.</p>
<p>Setelah lama mengentot Rico, rupanya Tanjung sudah klimaks. Rico langsung berganti posisi, ia pindah ke belakang Doni. Awalnya ia menjilati pantat Doni yang seksi kemudian ia juga mengocok penisnya di dalam anus Doni yang merah itu.</p>
<p>Begitulah seterusnya. Mereka saling mengentot dan dikentot sampai lima kali putaran.Inilah yang disebut &#8217;3 in 1&#8242;. Tiga cowok yang ganteng-ganteng dan keren-keren bergabung jadi satu dihubungkan dengan sebuah benda yang disebut &#8216;penis&#8217;.</p>
<p>*****</p>
<p>NB: Cerita ini kupersembahkan buat cowok-cowok pengidola 3 cowok ganteng dan keren di dalam cerita ini. Apapun pendapat Anda layangkan saja email.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: pyoboy82@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/3-in-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelar Lomba Pancho</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gelar-lomba-pancho.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gelar-lomba-pancho.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2938</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali aku melihat Jack saat berenang pagi hari. Badannya begitu proporsional, tinggi 185 cm berat sekitar 80 kg. Dadanya begitu terisi, lengan bisep dan trisepnya begitu ranum segar juga enam kotak yang begitu jelas, bahkan saat dia sedang duduk. Mataku tidak lepas memandang tubuh itu sewaktu dia naik dari kolam renang dan menuju tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali aku melihat Jack saat berenang pagi hari. Badannya begitu proporsional, tinggi 185 cm berat sekitar 80 kg. Dadanya begitu terisi, lengan bisep dan trisepnya begitu ranum segar juga enam kotak yang begitu jelas, bahkan saat dia sedang duduk. Mataku tidak lepas memandang tubuh itu sewaktu dia naik dari kolam renang dan menuju tempat bilas. Kebetulan terbuka dan menghadap ke kolam renang. Aku berusaha melihat sedekat mungkin.</p>
<p>Balutan segitiga ketat itu mengingatkanku pada film Baywatch yang terkenal itu. Meskipun dia bukan bule namun hampir tiada beda dengan salah satu pemeran penjaga pantai itu. Badannya aku nilai sempurna. Sebenarnya aku malu kalau-kalau teman renang lain melihat aku sedang memelototi seorang cowok. Aku adalah pria sejati, tapi aku iri dengan badannya, aku ingin memilikinya.</p>
<p>Namaku Koko, umur 27 th, sudah memiliki seorang tunangan cewek dan tahun depan kami berencana menikah. Aku memang rutin berenang, bahkan kami memiliki semacam gang di kolam renang. Semenjak kecil aku mendambakan badan besar namun karena pekerjaan dan waktu sehingga aku belum sempat ke gym hingga saat ini. Meskipun berenang namun badanku tidak terbentuk juga. Bulan ini aku bertekad untuk rutin ke fitnes centre, seminggu dua kali.</p>
<p>*****</p>
<p>Meski aku kali ketiga ke gym DINO tapi aku belum cukup mengenal semua yang ada di situ. Gym ini memang cukup ramai baik yang baru maupun yang lama. Fasilitasnya cukup lengkap meskipun tidak bisa dibilang baru, tapi yang menarik adalah harganya yang cukup miring. Apalagi bagi pemula yang mencoba dan belum tentu serius. Ada beberapa teman yang baik mau mengajariku untuk menggunakan semua alat yang ada disitu.</p>
<p>Jantungku berdebar lebih kencang bukan karena habis melakukan treadmill tapi karena cowok yang di kolam renang itu juga ternyata fitnes di tempat ini. Ya, si Jack fitness di sini juga. Apalagi sekarang menggunakan kaus fitnes yang ketat menonjolkan otot dadanya dan memamerkan hasil angkatan barbel pada lengannya. Otot-otot itu begitu terbentuk. Itu baru atasnya belum bagian bawahnya.</p>
<p>&#8220;Baru di sini, Mas?&#8221; tanya Jack pertama kali saat kami mulai perkenalan itu.</p>
<p>Semenjak itu aku berlatih di bawah bimbingan Jack dan sebagai balasannya aku sering mentraktir dia makan bakso atau yang lain setelah latihan. Jadwalku aku rubah agar sesuai dengan jadwal Jack. Kami semakin akrab tapi yang aneh justru nafsuku sama dia agak berkurang, karena aku anggap kami bersahabat. Bahkan di luar latihan pun kami mulai sering berkunjung.</p>
<p>*****</p>
<p>Tiga bulan semenjak pertemuan pertama kami sudah benar-benar menjadi sahabat. Hobi kami hampir sama yaitu berpetualang, kapan-kapan aku akan ceritakan petualangan yang seru bersama Jack. Hanya berdua saja tersesat selama sepuluh hari. Persahabatan kami adalah seperti pada umumnya persahabatan. Bukan kekasih! Jack adalah pria normal juga, hanya saja dia agak pemalu terhadap wanita. Umurnya masih 26, satu tahun lebih muda dariku.</p>
<p>Aku berterimakasih pada Jack karena hasil kerja selama ini sudah mulai terlihat. Aku semakin PeDe saja. Aku mulai suka mengenakan kaus ketat, badanku sudah lebih besar. Di gym aku juga sudah tidak ragu lagi mengenakan kaus singlet atau celana ketat. Beratku naik dari 60 kg jadi 67 kg, meski demikian perutku tidak membesar karena semua cadangan lemak sudah diubah jadi massa otot, baik di dada, lengan maupun paha.</p>
<p>Malam ini gym kami mendapat kesempatan untuk jadi penonton di gelar lomba panco yang diadakan salah satu televisi swasta. Setelah makan malam kami sudah berkumpul di studio, padahal acaranya baru akan ditayangkan secara langsung mulai jam 23.30 WIB. Berarti tayangan bukan untuk anak-anak, seperti cerita ini juga. Malam itu mataku begitu fresh, selain melihat penyiar yang segar-segar baik cowok maupun cewek, di sekitarku juga banyak orang-orang berotot. Baik peserta maupun penonton berotot meski banyak yang pakai jaket tebal oleh dinginnya AC di studio. Terus terang beberapa kali aku konak karena melihat seksinya otot-otot orang-orang itu. Aku tidak sadar kalau Jack ternyata mengamati aku selama itu.</p>
<p>Pukul 1 dini hari kami baru kembali dari makan roti bakar di depan studio TV. Malam setelah gelar lomba panco itulah kisah ini dimulai.</p>
<p>&#8220;Ko, aku tidur tempat elo aja ya.. Aku takut ganggu orang rumah.&#8221;</p>
<p>Aku angguk setuju aja. Tapi seperti kalian juga, pikiran kotorku langsung jalan. Selama perjalanan aku kurang konsen menyetir. Aku hanya tersenyum saat Jack menawarkan untuk menyetir motor menggantikanku.</p>
<p>Sesampai di rumah aku langsung menyetandar motor dan dengan hati-hati dan hampir tanpa suara kami masuk kamar. Aku lelah dan ngantuk sekali, terus terang aku memang tidak biasa tidur malam. Lain dengan Jack yang masih terlihat segar. Aku buka jaket dan celana jinsku. Tanpa mengganti kaus atau memakai celana pendek aku langsung masuk ke tempat tidur. Pikirku, Jack kan sudah beberapa kali ke sini jadi sudah tahu WC atau tempat gelas air minum kalau memang dia memerlukannya.</p>
<p>&#8220;Jack, aku tidur duluan&#8221; kataku sambil menengkurapkan badan dan memeluk guling.</p>
<p>Sebenarnya aku mau langsung tidur tapi entah kenapa malahan di tempat tidur ini mataku sulit memejam. Padahal waktu menunggu roti tadi aku sudah berkali-kali menguap. Tapi aku malu karena sudah berpamitan dengan Jack jadi aku berpura-pura tidur saja.</p>
<p>Jack meletakkan tas dan membuka jaketnya juga. Lalu dia menyetel televisi dan memindah-mindah canel. Lalu minum dan melihat televisi lagi. Pindah-pindah canel lagi, lalu bersiap untuk tidur. Mulanya dia tidur di bawah di kasur yang tipis. Saat aku hampir terlelap aku merasa ada badan hangat di sebelahku. Aku jadi terbangun karena kaget. Mungkin Jack kedinginan juga dan ingin berbagi selimut denganku. Kuluruskan badan untuk berbagi tempat dengannya. Beberapa kali dia menghela nafas seperti orang yang gundah. Aku jadi tidak bisa nyenyak tertidur.</p>
<p>Kucoba membalikkan badan dan memperhatikannya di keremangan kamarku. Ya dia belum benar-benar tertidur. Kasur kami terasa sempit untuk badan kami yang besar-besar ini. Di gantungan baju nampak kaos dan celana panjang training yang Jack kenakan tadi, juga jaketnya. Aku jadi berdebar dan ingin tahu. Kugerakkan tanganku untuk tahu apa yang Jack kenakan di bawah selimutku. Ternyata dia hanya mengenakan celana dalam G-String aja. Debaran jantungku semakin kencang dan darahku seperti berdesir-desir.</p>
<p>Lalu aku mencoba memeluknya tepat di atas dadanya. Aku merasakan tebalnya dada yang terlatih itu. Jack diam saja, padahal aku yakin dia belum tidur. Aku ngantuk tapi dadaku berdegub kencang sekali, sampai aku takut kalau Jack mendengarnya. Pelukan kukencangkan dan sedikit kugoncang dan dia tetap tenang saja, tidak terbangun atau menunjukkan reaksi lain. Setengah bercanda kubelai dadanya lalu belaian kuturunkan ke arah perutnya. Aku kaget sekali karena sebelum aku sampai ke celana dalamnya aku sudah terantuk segumpal daging keras dan hangat. Saat terlewat, aku kembali lagi ke gumpalan itu dan aku tahu itu adalah kontol Jack yang sudah menegang dan keluar dari celana dalam. Segera kutarik tanganku karena aku begitu kaget.<br />
Aku terduduk dan aku takut kalau ini adalah mimpi. Jam masih menunjukkan jam 2 kurang. Saat aku menengok wajah Jack terlihat senyuman sedikit di wajahnya, matanya agak terbuka sedikit.</p>
<p>&#8220;Kaget ya, sukurin.. elo sih usil tangannya!&#8221; kata Jack pelan. Lalu matanya terpejam lagi.<br />
&#8220;Gila lo Jack. Elo ngerjain gua yaa.. tapi punya elo gede juga sepertinya.&#8221; Kataku untuk menangkal rasa grogiku.<br />
&#8220;Iya lah.. gue kan ada darah bulenya&#8221; aku anggap jawabannya itu adalah bercanda.</p>
<p>Sekarang aku jadi tidak bisa tidur beneran. Di samping aku ada Jack temenku yang pada mulanya aku kagumi tubuhnya.</p>
<p>&#8220;Jack kenapa elo horny begitu?&#8221; tanyaku memecah kesunyian di antara kami.<br />
&#8220;Pengen dielus lagi kali&#8221; jawabnya begitu kacau.<br />
&#8220;Elo ngebayangin apa sih?&#8221; rasa penasaranku tak bisa dibendung lagi.<br />
&#8220;Bayangin elo lagi em el ama calon elo itu&#8221;.<br />
&#8220;Kurang ajar nih anak!&#8221;, pikirku.</p>
<p>Daripada banyak bacot aku peluk lagi aja tuh anak.</p>
<p>&#8220;Tuh kan elo terangsang lagi ama gua&#8221; katanya sok tau.</p>
<p>Aku tidak peduli ucapannya lagi. Segera tanganku turun ke pahanya, terasa sangat hangat dan kuelus-elus paha yang kencang itu. Di pangkal paha kutemukan beberapa jembut kasar baru tumbuh.</p>
<p>&#8220;Uh uh uh.. &#8221; Jack mengerang, tapi aku tahu dia tidak serius sama sekali.</p>
<p>Tapi aku herankan dia membiarkan saja aku menggerayangi seluruh tubuhnya. Keberanianku jadi bertambah. Tak tahan juga segera aku menggenggam dan mengelus kontol Jack yang kudamba sejak lama.</p>
<p>&#8220;Jack, elo terangsang karena bayangan elo atau karena tanganku ini?&#8221; tanyaku saat aku menggenggam kontolnya yang lumayan besar.</p>
<p>Kalau punyaku 15 cm diameter 3 cm maka punya dia pasti sekitar 18 cm diameter 3,5 atau 4 cm. Kontol itu berdenyut di tanganku. Jack tidak menjawab pertanyaanku, malahan memasukkan tangan kanannya ke dalam celana dalamku. Ketahuan sudah, bahwa aku juga sedang tegang habis.</p>
<p>&#8220;Kalau elo kenapa, Ko?&#8221; dia bertanya balik.</p>
<p>Kontol Jack mulai kukocok pelan tanpa aku jawab pertanyaan itu. Tangan Jack pun bergerak meremas kontolku dan segera posisi tidur kami sudah berhadapan. Kali ini aku tidak ragu lagi. Kupandang wajahnya yang keenakan. Matanya setengah terbuka dan terdengar desis dan lenguhan nafasnya. Begitu seksi kelihatannya. Aku merasakan hangatnya remasan Jack di batangku yang peka itu. Kami sama-sama sunat, aku merasakan dari benjolan bekas jahitan di dekat kepala kontol Jack.</p>
<p>Tak lama kami sudah benar-benar berbugil. Kaosku, celana dalam kami dan selimut sudah tidak kupedulikan lagi. Kami sudah saling mengelus baik pipi, dada dan punggung, pantat dan bagian-bagian yang lain. Aku hanya ingin kepuasan dari tubuhnya. Jack juga demikian. Kami saling memeluk erat dan menggosok-gosokkan kontol kami satu dengan yang lain.</p>
<p>Sekarang kukulum kedua bibir Jack, uhh terasa manis. Kupegang kepalanya dan kujambak rambutnya. Lalu kuselusuri dengan bibirku dadanya yang bidang dengan otot dada yang tebal dan bigitu ketat. Sesekali kujilat putingnya, ahh dia kegelian. Aku senang lihat reaksinya.</p>
<p>Tempat favoritku adalah perutnya, begitu seksi dan kotak-kotak. Saat itu kontol Jack tentu saja terasa sangat hangat di dadaku yang berotot juga. Sesekali kugeser-geser dadaku untuk menjaga agar kontol Jack tetap mendapat sensasi enak dan tetap tegang. Belum lagi ujung hidungku melalui pusar, daguku telah terantuk benda hangat yang sedang berdenyut-denyut. Kugeserkan daguku yang berjenggot sedikit ke kanan dan kiri. Jack melenguh panjang kenikmatan. Aku jadi senang.<br />
Kulalukan sebentar porsi utama.</p>
<p>Aku beralih ke pahanya. Ah.. dia ternyata tipe cowok yang suka mencukur bulu bawahnya. Terbukti cukurannya begitu rapi dan rata. Oh ya dia kan juga sering renang ini pasti demi kesopanan. Kuhisap dan kujilat bau kejantanan yang khas di sekitar selakangannya. Bola Jack juga kupermainkan. Juga kugigit lembut memberikan kejutan baginya, terbukti dia memperhatikan apa yang kulakukan di bagian bawahnya. Aku menciumi paha Jack yang juga besar seperti pemain Sepakbola, dan kuberi tanda sebuah cupang tepat di bawah selakangannya. Tentu saja Jack keenakan seperti kena setrum he he he..</p>
<p>Jack terduduk, rupanya dia juga sudah sangat bernafsu. Sekali tarikan tangan kontolku sudah di tarik didekatkan ke bibirnya. Ahh nikmat sekali! Aku setengah berdiri dengan lututku, kepala Jack di depan perutku. Hmm aku tidak tahan untuk memegang rambut kepalanya, kuikuti gerakan kepalanya yang terkadang maju, mundur, ke kanan, ke kiri dan ke arah lain untuk memberi kenikmatan pada kontol yang sudah tegang penuh dan ingin dikulum. Jack menciumnya, menjilati dari pangkal hingga ujung kepala, hmm ahh.. enaknya hingga ke langit. Digigitnya bekas sunatku dan dikitarinya pangkal kepala kontolku, badanku bergetar tak dapat menahan gejolak yang begitu nikmat.</p>
<p>Slupp kontolku hilang dalam lubang basah mulut Jack. Lama senjataku ada di sana, tentu Jack merasakan asinnya maziku. Aku merasakan kenikmatan apalagi Jack sudah mulai menyedot hm.. nikmat sekali. Sembari memegang dua pantatku yang juga berisi dia mulai mengeluarmasukkan kontolku. Sensasinya uhh enak, getaran itu mengalir dari kontolku hingga ke ubun-ubun kepala ahh Terkadang kulihat sebagian batang kontolku yang mengkilat oleh ludah tapi tak pernah kulihat ujung ungu itu. Woow!</p>
<p>Aku mau Jack juga merasakannya. Posisi kami jadi 69. Aku merasa harus menganga penuh untuk memasukkan kontol Jack ke dalam mulutku. Aku tidak sanggup menelan semuanya. Kontol Jack begitu besar. Aku tahu sensasi paling tinggi ada di kepala kontolnya maka aku bekerja lebih banyak di daerah itu. Gerakan favorit yang disukai Jack adalah saat aku melingkarkan lidahku di kepala kontolnya. Dia sampai berhenti menghisapi kontolku untuk sekedar menikmatinya.</p>
<p>&#8220;Jack awas loh Jack, aku uhh hampir Jack.. bener uhh!&#8221; kuperingatkan Jack.</p>
<p>Sepertinya justru dia bertambah cepat untuk mengeluar masukkan kontolku dan menghisapnya. Ahh uhh uhh uhh! Aku berusaha mengimbangi apa yang Jack lakukan pada kontolku dengan menghisap kontol Jack lebih kuat lagi. Rasa dan momen itu begitu nikmat. Tiada lagi yang bisa diingat selain kenikmatan itu. Aghh!</p>
<p>Tiba-tiba terasa asin dan hangat di lidah dan tenggorokku. Ah cuek aja! Justru aku semakin kuat menghisapnya. Begitu juga Jack dan akibatnya croott maniku muncrat di mulut Jack. Dia pun menelannya juga, bahkan dihisapnya lagi sampai benar-benar bersih. Kontol Jack kembali mengkerut, demikian juga aku rasa kontolku.Kubaringkan tubuhku di samping Jack.</p>
<p>Kucium pipinya, &#8220;Thanks Jack! Elo emang sahabatku!&#8221; Dan Jack tersenyum.</p>
<p>Lalu ditariknya selimut untuk menutupi tubuh kami yang bugil. Jack memelukku dan aku membiarkannya. Dari mulutnya yang begitu dekat dengan hidungku masih tercium sisa-sisa maniku. Kukulum bibir itu sekali, tiada balasan tapi aku merasakan kontolnya yang menyentuh pahaku berdenyut lagi membesar.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: onani17kl@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gelar-lomba-pancho.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku &amp; Karyawanku &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-karyawanku-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-karyawanku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:44:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2936</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 &#8220;Ngapain lagi di sana? kalau untuk kerja, kenapa tidak di Jakarta saja, kamu bisa melanjutkan bisnis Papi di sini, kasihan kan Risdam dan anakmu ditinggalkan&#8221;, ucap Papi. Aku hanya diam, pusing juga memikirkannya, namun pikiran tersebut hilang setelah malamnya aku berpesta lagi bersama temanku, menikmati gejolak nafsu kami. Suatu saat Risdam dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>&#8220;Ngapain lagi di sana? kalau untuk kerja, kenapa tidak di Jakarta saja, kamu bisa melanjutkan bisnis Papi di sini, kasihan kan Risdam dan anakmu ditinggalkan&#8221;, ucap Papi.</p>
<p>Aku hanya diam, pusing juga memikirkannya, namun pikiran tersebut hilang setelah malamnya aku berpesta lagi bersama temanku, menikmati gejolak nafsu kami. Suatu saat Risdam dengan nekat mau menjemptku, namun aku melarangnya dengan alasan macam-macam sehingga niatnya tersebut tidak pernah dia lakukan.</p>
<p>Waktu sepertinya berlalu dengan cepat bagiku ternyata sudah 2 tahun lebih aku meninggalkan Risdam dan anakku, hingga aku mendapatkan kabar dari Mami yang aku harus benar-benar pulang hari ini juga. Di pesawat aku berniat untuk ke rumah sakit dulu menjenguk Papi yang di opname karena sakit jantungnya kambuh. Tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku menelepon Mami, namun HP-nya tidak aktif, akupun menelepon HP Risdam.</p>
<p>&#8220;Tidak usah ke rumah sakit Mas, langsung ke rumah saja, Papi sudah tidak ada&#8221;, ucap Risdam dengan suara terbata-bata dan isak tangisnya yang kudengar. Aku segera meluncur pulang ke rumah yang ternyata sudah ramai orang, aku langsung berlari menangis, memeluk jenazah Papi.</p>
<p>*****</p>
<p>Aku memohon maaf pada Mami, Mas-Masku, pada keluarga Risdam, dan terutama pada istri dan anakku yang mulai tumbuh besar, lincah, bijak dan tampan seperti papanya. Akhirnya kami kembali untuk bersatu lagi. Aku berencana membuka usaha, aku menolak saat Mami menawarkan untuk mengelola usaha Papi.</p>
<p>&#8220;Biarlah Mas Farma yang mengurusnya&#8221;, ucapku.</p>
<p>Aku anak bungsu dari 5 bersaudara yang semuanya laki-laki. Papi Risdam setuju bahkan menawarkan modal untuk usahaku, namun aku tolak dengan baik. Aku melibatkan Robert temaku untuk menanam modalnya untuk usahaku ini dengan pikiran temanku itu akan berkunjung ke Jakarta untuk melihat perkembangan modal yang dia tanam di usahaku, dengan membawa teman atau mengajak Howard yang menjadi kekasih gayku di Belanda dan tentunya kami akan berpesta sex di sini. Robert setuju, akhirnya aku membuka usaha bakery yang kupilih tersebut. Isteriku, Papi linda dan Mami banyak membantu hingga berdirilah usahaku.</p>
<p>Aku mengundang artis saat peluncuran produksi bakery kami sebagai promosi, aku juga mengiklankannya di surat kabar, majalah, televisi dan media lainnya. Bulan pertama penjualan produksi bakery kami mendapatkan keuntungan bersih 50%, aku menjadi senang, dan apalagi bulan-bulan berikutnya penjualan produksi bakery kami juga mendapatkan keuntungan.</p>
<p>Saat itulah aku mulai berani untuk mendekati salah satu karyawan laki-laki ku yang bernama Irwan, sudah lama aku tertarik pada laki-laki tampan tersebut dengan tinggi 163cm, dengan kulit yang kuning langsat, tubuhnya yang padat bulat dan lesung pipinya yang kelihatan saat dia tersenyum, laki-laki tersebut benar-benar membuatku bergairah dan bernafsu. Diam-diam aku sering memperhatikannya saat dia bekerja menyajikan bakery ke meja pembeli.</p>
<p>Jam istirahat seperti permintaanku pada Maya, sekretarisku, Irwan datang ke kantorku.</p>
<p>&#8220;Selamat siang Pak&#8221;</p>
<p>&#8220;Irwan, mari duduk&#8221;, sahutku melihat irwan masuk ke kantorku. Laki-laki tersebut duduk di depan meja kerjaku.</p>
<p>&#8220;Kamu sudah 3 bulan kerja di sini yah&#8221;, ucapku berbasa-basi membuka-buka arsip.</p>
<p>&#8220;Benar Pak&#8221;, jawab irwan mengangguk. Aku menatap Irwan, melepas kaca mata yang aku kenakan.</p>
<p>&#8220;Kamu menyukai pekerjaan kamu?&#8221;, tanyaku lagi.</p>
<p>&#8220;Iya benar Pak, Saya suka dengan pekerjaan ini&#8221;, jawab Irwan lagi.</p>
<p>&#8220;Masa percobaan kamu sudah habis, apabila saya angkat kamu menjadi karyawan tetap saya, tanggung jawab kamu kepada perusahaan ini semakin dituntut dan saya minta loyalitasmu, dan bersungguh-sungguh bekerja, menjaga segala yang menjadi rahasi perusahaan dan juga inventarisnya&#8221;. Irwan mengangguk.</p>
<p>Aku berjalan ke depan, mengunci pintu kantorku.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu bisa melaksanakannya saya tidak segan-seganmenaikan gaji kamu atau bahkan mempromosikan kamu sebagai Supervisor produksi, karena saat ini saya rasa kita membutuhkan satu orang yang dapat mengontrol produksi dan mengawasi pekerjaan karyawan-karyawan lainnya&#8221;, ucapku menjelaskan.</p>
<p>Aku mendekati Irwan, menyentuh pundaknya, memijat-mijat bahu laki-laki tersebut.</p>
<p>&#8220;Promosi jabatan ini tidak saya umumkan dengan karyawan lainnya, jika kamu mempunyai persyaratan tersebut, kamulah yang saya pilih, karena setelah saya melihat kerjamu, saya menjadi tertarik dan ingin memberikan jabatan tersebut kepada kamu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Terimakasih Pak&#8221;, sahut Irwan. Aku menarik tangan Irwan dan mengajaknya duduk di sofa.</p>
<p>&#8220;Sudah makan?&#8221;, tanyaku.</p>
<p>&#8220;Sudah Pak&#8221;, Irwan menjawab.</p>
<p>Kami duduk berdekatan di sofa. Irwan mengambil rokok yang aku tawarkan kepadanya.</p>
<p>&#8220;Santai saja yah&#8221;, ucapku.</p>
<p>Kami terus mengobrol, Irwan menjawab pertanyaan yang aku lontarkan, tentang dirinya dan keluarganya. Aku merangkul pundak Irwan, tangan kiriku mengelus-elus pipinya, aku sangat bergairah dan sangat bernafsu pada laki-laki yang sudah ada di dekatku itu. Nafsuku yang terpendam selama ini perlahan namun pasti akan tersalurkan. Irwan hanya diam saat aku mencium pipinya. Dia sedikit kaget.</p>
<p>&#8220;Pak?&#8221;, tanyanya heran. Aku hanya tersenyum.</p>
<p>&#8220;Sudah pernah ngentot?&#8221;, tanyaku.</p>
<p>Irwan dengan malu malu menjawabnya bahwa dia beberapa kali mengentot dengan pacar-pacarnya, sewaktu dia SMU dan sampai sekarang.</p>
<p>&#8220;Playboy juga kamu yah&#8221;, ucapku tersenyum menarik hidungnya. Dia hanya tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kalau Saya yang mengentot kamu, bagaimana?&#8221; tanyaku.</p>
<p>Irwan tersenyum memandangku. Aku langsung menciumi bibir Laki-laki tersebut, menciumi pipinya, hidungnya dan cumbuanku kembali mengarah kepada bibirnya, lama kau cumbui, tangankupun mulai mengarah ke kontolnya, ku remas-remas. Irwan mulai bereaksi, dia membalas cumbuanku, yang tadinya gugup, laki-laki tersebut mulai mengendalikan dirinya mengikuti permainanku, Irwan mulai agak santai dan mengikuti gerak bibirku saat melumat bibir atasnya, dia mengatup bibir bawahnya sehingga mengenai bibir bawah bibirku, kami terus saling bercumbu.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221;, desahku, menarik mulutku menjauh dari bibirnya, aku tersenyum.</p>
<p>Tanganku yang dari tadi meremas-remas kontolnya, kurasakan mulai bereaksi, aku membuka talipinggang celananya, irwan cukup membantu dengan berdiri sehingga aku dapat membuka celana dan kolornya sekaligus, melihat totongnya yang sudah membesar, panjang dan tegang aku mengocoknya menatap Irwan dan tersenyum, lalu aku langsung mamasukan totong Irwan ke dalam mulut ku dengan mahirnya aku mengocok-ngocok totong Irwan dengan mulutku. Irwan berkali-kali mendesah kenikmatan, aku mengangkat batang buah jangkar kontol Irwan dan aku jilati, aku isapi.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221;, desah Irwan lagi, aku semakin bernafsu, aku membuka kemeja, dan celana.</p>
<p>Aku menarik tangan Irwan mengarahkan ke totongku, Irwan mengikuti mengocok-ngocok kontolku, aku mengajak Irwan duduk di sofa kembali, aku meremas totongku yang besar dan panjang, hitam dan mendekatkan ke totong Irwan dan ku genggam kedua kontol tersebut, sambil ku kocok-kocok, Irwan mendesah sambil menyaksikan permainanku, yang beberapa lama, hingga laki-laki tersebut akhirnya melepaskan cairan maninya yang kental.</p>
<p>&#8220;Wah, sudah loyo yah&#8221;, ucapku tersenyum, Irwan hanya tersenyum.</p>
<p>Aku menarik tangan Irwan, menyuruhnya untuk nungging, dan dengan posisi tersebut aku langsung menyodok lobang pantat Irwan dengan totongku.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221;, desahku merasakan keperawanan lobang pantat laki-laki tersebut.</p>
<p>Irwan menggigit bibirnya, mencekram sofa dengan kedua tangannya, menahankan sakit. Aku terus menikmati lobang pantat Irwan yang terkoyak dan berdarah, terus aku sodok-sodok, pantatkupun ku buat maju-mundur, hingga beberapa menit kemudian aku mencapai klimaks, aku menghentikan gerakan goyangan pantatku, memeluk punggung Irwan.</p>
<p>Aku menggigit telinga Irwan, menit-menit kemudian aku jilati punggung Irwan, aku ciumi, aku jilati telinganya, aku mengajak Irwan duduk kembali, kami berdua tersenyum, aku meremas-remas totong laki-laki itu kembali, sambil menanyakan bagaimana keadaannya setelah aku sodomi.</p>
<p>&#8220;Sakit Pak&#8221;, ucapnya tersenyum, aku memeluknya menciuminya kembali, Irwan juga membalas cumbuan ku.</p>
<p>Kembali nafsuku bergairah lagi, aku minta Irwan untuk naik ke atas pangkuanku, dengan perlahan Irwan duduk di atas pangkuanku, batang totongku telah tenggelam ke dalam lobang pantatnya, aku menggerak-gerakan tubuh Irwan, mengangkat-ngangkatnya sedikit, Irwan menjadi mengerti, akhirnya laki-laki tersebut menggerak-gerakan tubuhnya naik turun, sesekali batang totongku tidak tepat masuk kedalam lobang pantatnya, aku memasukannya kembali, Irwan menggerakan tubuhnya kembali, aku memeluk tubuh laki-laki tersebut, memain-mainkan puting teteknya, mengocok-ngocok kontolnya, dan kembali mencumbui bibirnya, beberapa menit kemudian aku meminta posisi lain lagi, karena melihat Irwan yang sudah agak kelelahan dengan posisi tersebut. Aku membaringkan tubuh Irwan di Sofa, ku angkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas bahu ku, aku pun mulai menerobos lobang pantat Irwan dengan batang kontolku.</p>
<p>Aku mulai menyodok-nyodok lobang pantat Irwan, sesekali aku turunkan tubuhku untuk mencumbu bibirnya, Irwanpun membalas cumbuanku, lama aku lakukan dengan menyodok-nyodok lobang pantat Irwan dengan cepat, sesekali aku menarik nafas mencegah agar permainan ku tidak cepat berakhir, aku gerakan pantatku maju mundur dengan cepat lagi, hingga aku tidak mampu untuk menahan puncak kenikmatanku lagi. Nafas Irwan tersengal-sengal, sambil mengocok-ngocok kontolnya, aku mencabut batang totongku dari lobang pantat Irwan, kudekatkan mulutku ke arah totongnya, dan aku isap-isap, ku kocok-kocok dengan mulutku.</p>
<p>Irwan mendesah kenikmatan, aku terus membetot totong Irwan sampai pangkalnya, kulepaskan kemudian dan kujilati kepala totongnya yang merah tersebut, kembali kumasukan kedalam mulutku, akhirnya Irwan mengejang, aku merasakan cairan maninya moncrot di dalam mulutku, aku mengeluarkan batang totong Irwan dari mulutku perlahan, kedua bibirku terus membetot batang kontolnya yang keras, hingga sampai ujung totongnya telah keluar dari mulutku, aku menjilati kepala kontol Irwan yang besar tersebut. Dia mendesah keenakan, aku tersenyum, demikian juga Irwan. Kami menyelesaikan permainan kami, akhirnya nafsuku terpuaskan dengan Irwan.</p>
<p>*****</p>
<p>Saya akan menceritakan lebih banyak permainanku bersama Irwan lagi, bersama karyawanku yang lainnya seperti, Tony, Dani dan Edi.. so nantikan saja. Hingga saat cerita ini tertulis, istri dan keluargaku tidak mengetahui permainanku bersama karyawan-karyawanku, bahkan dengan karyawan atau sekertaris ku yang cantik yang tidak pernah aku jamah untuk kusetubuhi.</p>
<p>Terimakasihku untuk Irwan, Dani dan Edi yang sudah membahagiakanku, menghilangkan kejenuhanku selama ini.</p>
<p>Buat Tony, dimana kau sekarang..? Hubungi saya&#8230; Akhirnya terimakasih buat semuanya.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: darma_saputra@hotmail.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-karyawanku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku &amp; Karyawanku &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-karyawanku-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-karyawanku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2934</guid>
		<description><![CDATA[Tubuh Edi ku peluk dengan erat, puncak kenikmatan yang akan aku rasakan memacuku untuk melepaskannya dengan gerakan pantatku yang maju mundur semakin cepat, kontolku pun dengan tepat keluar masuk tepat di lobang pantat Edi. Ku cumbui bibir Edi yang terbuka, kulumat sambil tanganku terus memeluk badannya yang sedikit besar tersebut. Jari-jariku yang dari tadi menarik-narik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tubuh Edi ku peluk dengan erat, puncak kenikmatan yang akan aku rasakan memacuku untuk melepaskannya dengan gerakan pantatku yang maju mundur semakin cepat, kontolku pun dengan tepat keluar masuk tepat di lobang pantat Edi. Ku cumbui bibir Edi yang terbuka, kulumat sambil tanganku terus memeluk badannya yang sedikit besar tersebut. Jari-jariku yang dari tadi menarik-narik puting teteknya hingga&#8230;</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221;, desahku kuat merasakan air maniku keluar, akupun semakin erat memeluk laki-laki tersebut dan menghentikan gerakan pantatku.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221;, desahku lagi menikmati permainan sore ini.</p>
<p>&#8220;Bapak sangat puas, sangat puas&#8221;, ucapku tersenyum pada Edi dan memandangnya.</p>
<p>Ia juga tersenyum menampakkan giginya yang sedikit kuning, aku langsung menciumi bibir Edi dan melumatnya lagi.<br />
Tanganku kini beralih ke kontolnya yang mulai bereaksi, aku terus saja meremas-remas batang kontol laki-laki tersebut dan mengocok-ngocoknya.</p>
<p>&#8220;Akh&#8221;, desah Edi kegelian.</p>
<p>Tubuhku terus menempel pada tubuh Edi sambil menjilati punggungnya, lehernya, mengusap-usap bahunya dan beberapa menit kemudian aku memijit-mijit bahu laki-laki tersebut. Aku mengambil handuk dari dalam tasku dan mengelap seluruh badanku yang berkeringat, Edi juga melakukan hal yang sama.</p>
<p>Aku mendekatinya, &#8220;Besok kamu libur?&#8221;, tanyaku.</p>
<p>&#8220;Iya bos&#8221;, jawabnya sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Mau ikut dengan saya malam ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemana bos? emangnya penting dan harus saya ikut?&#8221; tanya Edi lagi.</p>
<p>&#8220;Ah,enggak, enggak penting, Saya mau mengajakmu ke hotel, tapi kalau kamu tidak bisa yah tidak apa-apa, mungkin kamu punya acara malam ini dengan teman atau pacarmu&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya bos, saya ada janji dengan si Linda&#8221;, sahut Edi tersenyum.</p>
<p>Senyumannya yang manis membuat aku bergairah, laki-laki ini begitu tampannya, apalgi saat tersenyum, bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung untuk ukuran orang kita, alisnya yang tersusun rapi, matanya yang tajam dengan bulu mata yang lentik, rambutnya yang pendek, ikal serasi dengan bentuk kepalanya yang oval. Aku mendekatinya, membantunya yang sedang memakai kemeja seragamnya. Kedua tanganku memegang pipinya, kami bertatapan.</p>
<p>&#8220;Jadi anak yang baik yah&#8221;, ucapku, dengan perlahan aku cium bibirnya.</p>
<p>&#8220;Kau jaga kesenangan Bapak ini&#8221;, kataku tersenyum sambil meremas kontolnya.</p>
<p>&#8220;Ah..ah..tentu bos, ini masa depanku jugalah&#8221;, jawab edi tersenyum lebar.</p>
<p>Aku mengeluarkan Rp.100.000 dari dompet, &#8220;Ini untuk mentraktir pacarmu&#8221;, ucapku menyerahkannya pada Edi.</p>
<p>&#8220;Terimakasih bos&#8221;, jawab Edi meraih uang tersebut</p>
<p>&#8220;E.. kapan-kapan kenalkan pacar kamu ke saya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Oke bos&#8221;</p>
<p>Aku tersenyum dan menggangguk saat Edi mohon diri, dan terus memperhatikannya hingga dia keluar dan menutup pintu kantorku.</p>
<p>&#8220;Akh, desahku menyandarkan kepala di kursi kerja, tersenyum sambil memandang langit-langit kantorku.</p>
<p>*****</p>
<p>Sebelumnya..</p>
<p>Hari ini begitu banyak kegembiraan dan kesenangan yang aku dapatkan. Aku begitu senangnya melihat neraca penjualan produksi yang sudah mendapatkan keuntunganbersih 75% padahal ini baru pertengahan bulan.</p>
<p>Sehabis jam istirahat aku menemui karyawan-karyawanku di otlet sambil tersenyum menanyakan hal-hal yang menjadi kendala bagi mereka. Menyapa beberapa pengunjung yang sedang menikmati sajian makanan kami dan menanyakan hal-hal yang kurang atas pelayanan, rasa dan kualitas produksi kami. Berbagai keritikan dan pujian aku terima sebagai bahan masukan untuk memberikan pelayanan dan memperbaiki kualitas produksi yang lebih baik lagi dikemudian hari.</p>
<p>Aku menaiki tangga menuju ruang produksi di lantai 2, menanyakan kepada karyawan yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing, kendala yang ada yang perlu diperbaiki dan tak lupa menasehati mereka agar bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh, mementingkan keselamatan, meningkatkan mutu produksi, kerja yang efesien, cepat dan tepat, yang terutama menjaga kesehatan.</p>
<p>Aku menghampiri Edi yang sedang menyusun roti.</p>
<p>&#8220;Bagaimana Edi, ada kendala?&#8221;, tanyaku berbasa-basi.</p>
<p>&#8220;Sampai sekarang masih lancar-lancar saja bos&#8221;, sahutnya.</p>
<p>&#8220;Kamu senang kerja di sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah bukan senang lagi bos, saking senangnya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata&#8221;, jawabnya lagi sambil tersenyum.</p>
<p>Aku tertawa pelan, &#8220;Sehabis jam kerja mampir dulu ke kantor saya&#8221;, bisikku sambil memegang pantat Edi.</p>
<p>&#8220;Oke bos&#8221;, jawab Edi dengan sigap.</p>
<p>Aku tersenyum meninggalkan mereka, aku ingin memuaskaan diriku, merayakan kesenangan ini dengan gejolak nafsu, aku membiarkan mereka berkomentaar apa saja karena tidak biasanya aku memperlihatkan kegembiraanku di depan mereka. Aku mengetahui dari sekertarisku bahwa mereka sering mengatakan aku bos killer, bos pemarah dan sebagainya. Namun itulah aku, aku memberikan disiplin yang sangat ketat kepada karyawanku, memaksimalkan pekerjaan mereka, namun aku memberikan hak mereka sebagai karyawan dan memberikan bonus tiap bulannya jika ada keuntungan dari penjualan produksi kami.</p>
<p>*****</p>
<p>Namaku Darma, aku mempunyai usaha ini sudah 7 tahun lebih, joint dengan temanku yang ada di Belanda. Aku memilih membuka usah Bakery di Jakarta dengan modal 50-50 bersama Robert temanku. Aku mengelola usaha bakery ini dengan baik hingga aku mampu untuk membuka sebuah otlet lagi di sebuah Mall di Jakarta. Produksi kami mulai agak terkenal di kota besar ini sehigga aku beroptimis untuk membuka otlet lagi untuk memperkenalkan produksi bakery kami ke masyarakat lebih luas lagi.</p>
<p>Begitu banyaknya usaha sejenis di Jakarta ini, sehingga Kami berusaha untuk memperbaiki kualitas, memberikan pelayanan yang maksimal, memberikan kepuasan, kenyamanan, ketenangan dan keamanan kepada pengunjung dengan memberikan musik-musik yang baik dan enak didengar dan menata toko kami seperti sebuah taman yang indah di suatu ruangan sehingga mereka seperti dimanjakan dan dijamu seperti layaknya seorang raja dan ratu. Dengan begitu mereka tidak akan mudah melupakannya dan akan kembali datang untuk menikmati bakery kami. Segala keritikan kami terima dari pengunjung sebagai bahan masukan untuk memperbaiki pelayanan dan kualitas produksi bakery kami yang lebih bagus lagi dimasa yang akan datang.</p>
<p>Sebagai seorang direktur sekaligus pemilik, aku menyeleksi karyawan yang akan bekerja di perusahaanku. Termasuk Edi, aku begitu menyukai laki-laki tampan tersebut dengan tinggi 165cm dengan berat yang sesuai dengan tingginya. Karyawanku tidak begitu banyak dengan total 42 orang. Ditoko adaa sekitar 26 orang termasuk sekertarisku, sisanya di otlet kami di sebuah mall di Jakarta.</p>
<p>Karyawanku juga didominasi dengan laki-laki, walaupun mereka tampan-tampan dan yang wanita cantik-cantik aku tidak &#8220;Melakukannya&#8221; Dengan mereka semua. Aku &#8220;Melakukannya&#8221; dengan orang yang membuatku bernafsu sekali, terutama yang ku ambil disini untuk memuaskan nafsuku adalah laki-laki muda.</p>
<p>Umur ku sudah berkepala 4 dengan mempunyai seorang istri dan 2 orang putra yang satu sudah kelas 2 SMU dan yang stu lagi baru kelas 1 SMP. Dari dulu aku menyukai laki-laki, sejak aku di Belanda. Papi ditugaskan oleh perusahaannya di sana sehingga aku meeruskan sekolah, saat itu aku baru tamat SMP.</p>
<p>Saat di Belanda aku melakukan sex sejenis dengan temanku dan aku menikmatinya. Selesai studyku dan Papi yang sudah selesai dinas sebelum studyku berakhir memintaku untuk kembali ke Jakarta. Aku mulai bergaul untuk mencari teman, karena aku orangnya supel, ramah dan mudah bergaul akhirnya aku mendapatkan teman, namun bagiku yang penting mendapatkan teman laki-laki yang bisa diajak ngesex, tetapi tidak aku dapatkan teman laki-laki itu di sini. Mereka mempunyai pacar yang tentunya wanita, selain aku malu untuk memulai, takut apabila akan diketahui keluargaku atas penyimpangan sex ku ini.</p>
<p>Aku juga pernah mengentot dengan wanita di Belanda maupun di sini, namun aku rasakan hambar berhubungan intim dengan mereka.<br />
Risdam, temanku yang dikenalkan Mami saat aku aku baru pulang kesini, begitu cantik, ramah dan menarik. Dia bekerja sebagai sekertaris di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Dari dialah aku mulai tahu seluk beluk jalan di Jakarta yang begitu banyak perubahan sejak aku tinggalkan. Kami sering jalan berdua ke mall atau nonton film. Dia juga mengenalkan aku dengan teman-temannya sehingga aku mendapat banyak teman.</p>
<p>Kami mulai dekat dan menjalin asmara, namun seperti yang aku katakan, aku begitu hambar bila mengentot dengan seorang wanita, kami pernah mengentot dan tidak sering, itu juga Risdam yang minta, dia begitu bernafsu melihat ketampanan wajahku dan tubuh atletisku, dia sering mencumbuiku dan mengajakku untuk mengentot. Perbuatan kami akhirnya membuahkan hasil, Risdam hamil!</p>
<p>Aku terpaksa menikahi Risdam dengan dorongan Mami. Keluarga Risdampun memberi lampu hijau. Akhirnya sebagai anak yang bertanggung jawab dan berbakti kepada orang tua, akupun menikahi Risdam, yang ternyata baru aku ketahui bahwa aku memang dijodohkan dengan Risdam oleh Mami kepada orang tua Risdam. Orang tua kami memang akrab. Papi Risdam teman bisnis Papi. Sekenario mereka berjalan seperti yang diinginkan (tidak termasuk kehamilan Risdam, itu karena nafsunya yang ingin bersetubuh denganku).</p>
<p>Keseharianku terasa membosankan, walau aku sudah bekerja di perusahaan Papi. Rasa nafsuku pada sejenis sejak dulu masih ada, aku selalu terangsang melihat laki-laki tampan dengan tubuh atletis, jika begini aku melampiaskannyaa dengan mengocok-ngocok kontolku sambil membayangkan laki-laki tersebut. Saat bersetubuh dengan Risdam pun aku selalu berfantasi dengan laki-laki, dengan membayangkan wajah, tubuh atau kontol mereka. Aku sering membayangkan mengentot dengan Andi, rekan kerjaku. Wajahnya yang tampan dan imut-imut membuat aku bernafsu padanya. Aku masih menjalankan tugasku sebagai seorang suami, memberikan kebutuhan biologisku kepada Risdam saat dia memintanya untuk mencumbuinya dan di entot. Akhirnya dengan alasan yang kubuat, bisa juga meyakini Risdam, orang tuanya, Mami dan Papi. Akupun berangkat ke Belanda meninggalkan Risdam dan anakku yang baru berumur dua setengah tahun.</p>
<p>Di Belanda aku menemui teman-teman ku dan pembaca bisa mengetahui apa yang aku lakukan, yah aku kembali menikmati nafsuku dengan teman-teman ku yang sejenis. Nafsu yang telah lama aku pendam selama di Jakarta, di sini aku bebas melakukannya tanpa perasaan takut, malu atau was-was apabila keluargaku mengetahui.</p>
<p>Aku seperti laki-laki lain, jantan, gagah, menyukai olah raga, senang bergaul, tidak kebanci-bancian, namun itu hanya luarnya saja bagian diriku yang terlihat oleh orang-orang di sekitarku atau bahkan orang-orang di muka bumi ini, namun sesungguhnya aku orang yang mencintai jenisku yaitu laki-laki. Aku menyukainya seperti bagaimana halnya seorang laki-laki menyukai perempuan, bagaimana halnya seorang laki-laki menyukai tubuh seorang perempuan, payudaranya atau pepeknya. Demikian juga aku, bagaimana halnya kau menyukai tubuh laki-laki, wajahnya atau kontolnya, aku memandangnya sama persis seperti laki-laki normal.</p>
<p>Aku begitu senangnya tinggal di Belanda sebagai negara keduaku, di sini aku banyak teman, untuk masalah uang tidak sulit bagiku, aku bekerja sebagai bartender di bar Robert temanku, bar para homoseksual. Di sini begitu bebasnya orang bercumbu atau mengentot, tentu saja dengan sejenis. Di bar ini sekaligus tempat laki-laki mencari pasanganyan untuk mengentot, demikian juga aku walaupun aku sudah punya kekasih laki-laki, namun aku berhak untuk mengentot dengan laki-laki yang aku sukai. Kami selalu berpesta tiap malam, menikmati nafsu birahi kami sepuasnya. (Saya akan menceritakan pengalaman saya selama tinggal di Belanda kepada para pembaca). Kadang-kadang aku juga menelepon Risdam dan Mami.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: darma_saputra@hotmail.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-karyawanku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gejolak Nafsu Anak SMU</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gejolak-nafsu-anak-smu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gejolak-nafsu-anak-smu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/gejolak-nafsu-anak-smu.html</guid>
		<description><![CDATA[Noldy, lagi-lagi cowok itu bertingkah aneh untuk menarik perhatian anak-anak kelas 3B. Namun kali ini yang dilakukannya sudah sangat kelewatan, bahkan sampai membuat semua siswi yang kebetulan sedang ada di dalam kelas pada saat jam istirahat itu berteriak histeris. &#8220;Gila kau, Dy!&#8221; gumamku ketika kusaksikan sendiri Noldy menunjukkan keberaniannya yang semula hanya kuanggap hanya sekedar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Noldy, lagi-lagi cowok itu bertingkah aneh untuk menarik perhatian anak-anak kelas 3B. Namun kali ini yang dilakukannya sudah sangat kelewatan, bahkan sampai membuat semua siswi yang kebetulan sedang ada di dalam kelas pada saat jam istirahat itu berteriak histeris.</p>
<p>&#8220;Gila kau, Dy!&#8221; gumamku ketika kusaksikan sendiri Noldy menunjukkan keberaniannya yang semula hanya kuanggap hanya sekedar main-main. Ternyata Noldy memang pantas dengan julukan &#8220;cowok nekat&#8221; yang diberikan kepadanya oleh anggota gank preman selama ini.</p>
<p>Di siang yang panasnya begitu menyengat itu, seolah tanpa rasa malu sedikit pun, sang bintang Noldy membuka restleting celana abu-abunya di atas salah satu meja sambil mengumbar sengirannya yang nakal. Tak cukup di situ saja, ia lalu memegang kemaluannya yang sudah mengeras sebesar pisang ambon itu dan kemudian mengeluarkannya dari dalam sangkarnya, sebuah celana dalam G-String berwarna putih. Dan tentu saja, tontonan gratis saat jam istirahat kedua itu langsung menyedot perhatian dan langsung membuat suasana kelas menjadi gempar seketika dengan teriakan histeris beberapa orang siswi dan teriakan &#8220;Huu..&#8221; yang menggema hampir berbarengan di seluruh ruangan kelas, ruangan kelas yang berisi sekelompok siswa yang terkenal karena &#8220;sakit mental&#8221;-nya.</p>
<p>Pertunjukan itu tak lama, cuma sekitar 3 menit. Dan saat itu, sempat kulihat Noldy mengelus-elus batang penisnya seraya cengengesan, seolah-olah ia begitu bangga sekali dengan &#8220;adik&#8221;-nya yang berwarna kemerahan itu, lebih lagi karena ia merasa sudah berhasil mengalahkan kami dalam taruhan kemarin sore. Taruhan yang dimotori oleh sebuah alasan, &#8220;mempertahankan gengsi!&#8221; apalagi Noldy selama ini memang dikenal sebagai cowok pemberani, bahkan cukup berani untuk melakukan sesuatu gila seperti yang dilakukannya siang itu.</p>
<p>Kontolnya tak kurang dari 15 cm panjangnya, dan itu cukup besar untuk ukuran anak SMU seperti kami, belum lagi diameternya yang tak kurang dari 3 cm. Kebetulan aku dapat melihatnya dengan sangat jelas karena aku duduk di dekatnya saat itu. Noldy berdiri tepat didepanku, sehingga aku bisa leluasa memandangi kontolnya itu dari bawah, Pemandangan yang sungguh luar biasa! jelas sekali punya Noldy masih lebih besar daripada punyaku, belum lagi jembut-jembutnya yang tampak lebat sehingga menambah keseksiannya. Bagaimana rasanya melumat kontol sebesar itu? pasti nikmat sekali! Pikirku saat itu. Aku benar-benar terangsang menyaksikannya saat itu, sampai-sampai &#8220;rudal&#8221;-ku pun ikut-ikutan menegang dan mengeras di balik celana dalamku yang sudah basah dengan cairan precum itu.</p>
<p>Namun sayangnya, pemandangan itu tak berlangsung lama. Barangkali, Noldy takut juga jika nantinya harus berurusan dengan pihak sekolah karena aksi pornonya itu. Sang bintang renang itu pun lalu memasukkan kembali kontolnya ke dalam sangkar dan menguncinya rapat-rapat dengan restleting.</p>
<p>&#8220;Bagaimana aksiku?&#8221; tanya Noldy setengah berbisik di dekat kupingku.</p>
<p>&#8220;Lumayan!&#8221; sahutku berpura-pura cuek.</p>
<p>&#8220;Lumayan gimana? Kau belum tentu berani melakukannya!&#8221; tegas Noldy.<br />
Aku hanya mencibir ke arahnya sekedar untuk menggodanya, namun beberapa saat kemudian aku pun tersenyum sambil menepuk pundak sahabatku itu.</p>
<p>&#8220;Oke, aku mengaku kalah. Kau bisa ke rumah jam 5 nanti untuk mengambil kasetnya!&#8221; Noldy tertawa lebar mendengarnya, apalagi sudah lama ia ingin meminjam kaset BF-ku itu sejak aku, Noldy dan beberapa teman dari gank preman menontonnya bersama-sama sebulan yang lalu ketika baru saja kubeli.</p>
<p>Noldy tampak senang sekali, mukanya berseri-seri ketika ia berdiri di depan pintu pagar depan rumahku. Ia sudah datang setengah jam sebelum jam lima, dan kebetulan saat itu tak ada seorang pun di rumahku kecuali Bi Inah yang sedang menyapu pekarangan depan dan ia jugalah yang membukakan pintu untuk Noldy.</p>
<p>Tanpa disuruh Bi Inah, Noldy pun langsung nyelonong masuk begitu saja ke kamarku di lantai atas seperti yang biasa dilakukannya. Ia pula yang kemudian membangunkan aku dari tidur siangku yang sudah rada kelewatan itu. Hari itu memang hari yang sangat melelahkan, itu yang kurasakan. Apalagi rasa capek setelah mengurus persiapan acara perpisahan tadi pagi masih belum juga hilang. Saat letih seperti itu, bagiku tak ada kegiatan yang lebih menyenangkan selain menemani bantal gulingku seharian di dalam kamar sambil menikmati buaian alam mimpi.</p>
<p>Sebuah pukulan keras diarahkan tepat mengenai pantatku, tak ayal pukulan guling itu langsung membuatku terjaga seketika. Aku coba membuka mataku yang masih terasa berat untuk melihat apa yang terjadi, kupikir atap rumahku sedang runtuh terkena torpedo dan kemudian runtuhannya jatuh menimpaku. Namun begitu kulihat sekelilingku, tak ada yang istimewa kecuali wajah Noldy yang cengengesan seperti orang gila di sampingku.</p>
<p>&#8220;Bangun, pemalas! Jam segini masih tidur!&#8221;</p>
<p>&#8220;Mau apa kau kemari?!?&#8221; tanyaku setengah sadar.</p>
<p>&#8220;Mana kasetnya? BF Gay yang waktu itu!&#8221; pinta Noldy tak sabar sambil mengguncang-guncang tubuhku supaya aku segera bangun.</p>
<p>Dengan terpaksa, aku pun bangun dan kemudian duduk di atas kasur sambil bersandar pada tembok, mataku benar-benar masih berat, &#8220;Cari saja sendiri dibawah spring bed! Pakai sapu!&#8221;</p>
<p>Noldy pun segera mencarinya di bawah spring bed sesuai komando. Memang tempat itulah yang kurasa paling aman dari sekian banyak tempat persembunyian yang ada di rumahku untuk menyimpan barang-barang rahasia semacam kaset BF. Tak lama mencari, Noldy menemukannya!</p>
<p>&#8220;Kemana ortu-mu? Kok sepi banget?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak tahu. Mungkin mereka sedang bulan madu di kutub utara!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, asyik dong! Kayaknya, orang tuamu sering bulan madu yah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya begitulah! Mereka itu nggak pernah sadar kalau sudah beranak lima!&#8221; sahutku asal.</p>
<p>Noldy terbahak-bahak mendengarnya. Ia tahu pasti kalau itu hanya lelucon sebab dia tahu kalau aku anak tunggal, satu-satunya yang dimanja oleh kedua orang tuaku.</p>
<p>Noldy masih memegang kaset bergambar pria telanjang itu, ia menimang-nimang sambil memelototinya sesekali, ia tampaknya sudah tak sabar lagi, &#8220;Fer, kasetnya aku putar di sini aja yah!&#8221; pinta Noldy kemudian.</p>
<p>&#8220;Kau suka juga kaset begituan? Kau gay yah?&#8221; tanyaku dengan ceplas ceplos seperti kebiasaanku.</p>
<p>&#8220;Gimana yah, susah jawabnya! Tapi jujur, aku penasaran! Enak nggak sih?&#8221; sahutnya ringan.</p>
<p>&#8220;Mau coba?&#8221; tantangku tanpa tedeng aling-aling. Beberapa saat Noldy hanya tercenung, ia menatapku dengan seribu satu pertanyaan di benaknya. Jelas sekali terlihat dari kerutan di dahinya bahwa ia kaget dan bingung dengan tantanganku barusan.</p>
<p>&#8220;Maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah.. kita coba saja untuk tahu enaknya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dimana?&#8221;</p>
<p>Aku pun langsung beringsut mendekati Noldy dan tanpa bicara sepatah kata lagi, aku lantas menarik tabuhnya untuk menindih tubuhku di atas kasur. Badannya lumayan berat juga, Noldy memang tidak gemuk, namun ia atletis dan badannya berisi. Tetapi aku tak peduli, kami hanya sibuk saling melumat satu sama lain sambil bergulingan di atas kasur, mengikuti irama nafsu yang makin membara yang menambah suasana di kamar pribadiku itu menjadi makin panas. Kurasakan hantaman rudalnya di bawah sana sudah mulai meledak-ledak mengikuti irama permainan kami seolah-olah siap untuk melesak keluar, begitu hangatnya bergesekan dengan rudalku sendiri.</p>
<p>Noldy tak mau melepaskan ciumannya dari bibirku sampai kurang lebih sepuluh menit berlalu, ia mendaratkan ciuman-ciuman liarnya ke bibirku sambil sesekali kami memainkan lidah kami satu sama lain. Noldy semakin buas saja, ia seperti orang kehausan yang baru saja menemukan mata air.</p>
<p>Usai kissing, kami lanjutkan dengan necking. Betapa nikmatnya, menciumi leher Noldy yang putih mulus dan seksi itu, dengan sebuah tahi lalat kecil di sebelah kanan yang menjadi ciri khasnya. Sementara itu dalam waktu yang bersamaan, tangan kami pun tak tinggal diam, kurasakan tangan Noldy begitu liarnya meraba-raba dan menjamah bergantian seputar dada dan penisku yang sudah mengeras sejak beberapa saat yang lalu, sesekali ia meremas-remasnya bak memompa agar lebih perkasa lagi.</p>
<p>Sementara itu, tanganku sendiri mulai kuselipkan masuk ke sela-sela celana jeans ketat yang dipakai Noldy setelah aku tak cukup merasa puas hanya dengan merabanya dari luar. Dengan cepat kulonggarkan sedikit sabuk besi yang dipakai Noldy, dan setelah tanganku berhasil masuk ke dalam CD Noldy, mulailah kurasakan tanganku sedang menjamah selaras kontol berukuran besar yang sedang full ereksi. Siapa yang menduga kalau kontol yang tadi siang hanya bisa kulihat dan sempat membuatku tergiur, kini sudah berada di genggamanku. Tanpa dikomando, aku pun mulai meremas-remasnya sambil sesekali mengocoknya pula.</p>
<p>&#8220;Argh!&#8221; Noldy menggeliat-geliat sambil telentang di bawahku ketika kukocok kontolnya makin lama makin cepat.<br />
Namun sesekali aku berhenti mengocok, agar spermanya tak cepat keluar sebelum kami puas menikmati permainan kami. Pada suatu kesempatan aku berhenti, kutanggalkan celana Noldy seluruhnya, bahkan T-shirt dan CD yang dipakainya sampai cowok ganteng itu telanjang bulat di depan mataku tanpa seutas benang pun yang membalut tubuhnya lagi. Noldy hanya menyeringai menyaksikan aksiku menelanjanginya, barangkali ini adalah pengalaman pertamanya ditelanjangi oleh orang lain.</p>
<p>Usai menelanjangi, kudekatkan mukaku ke seputar dada Noldy yang bidang dengan ditumbuhi sedikit bulu halus yang berbaris sampai ke seputar kemaluannya. Kemudian segera kulumat kedua puting susu Noldy yang berwarna kemerahan itu secara bergantian, setelah itu baru kujelajahi seluruh dada dan perut Noldy dengan permainan lidahku. Sesekali Noldy menggeliat sambil mengerang-erang menahan sensasi geli bercampur nikmat yang perlahan merayapi sekujur tubuhnya dan bergerak makin ke bawah.</p>
<p>Kini lidahku sudah sampai di seputar pusar, dimana sedikit saja dibawahnya sudah mulai ditumbuhi oleh jembut-jembut halus berwarna gelap yang mulai tampak lebat dan tumbuh liar mengitari batang kemaluan yang berdiri kokoh laksana tower mercusuar itu. Di bagian itu pula tampak warna kulit yang lebih putih berbentuk segitiga, sesuai dengan bentuk CD. Penampilan Noldy benar-benar seksi saat itu, dan tentu saja membangkitkan gairah birahi bagi siapa pun yang melihatnya seperti itu.</p>
<p>&#8220;Hisap lagi dong, Fer!&#8221; pinta Noldy setelah sekian lama aku hanya terbengong sendiri menyaksikan tubuhnya yang seksi itu.<br />
Aku pun lantas memasukkan kembali kontol Noldy yang sudah makin melemas itu ke dalam mulutku, kujilat dari ujung sampai ke pangkal penisnya, dan kemudian kusedot keluar masuk di dalam mulutku. Menikmatinya, sepertinya membuatku melayang ke awan-awan dan aku seolah tak ingin segera berhenti. Cukup lama aku mengoral kontol Noldy sampai kami berdua merasa puas.</p>
<p>&#8220;Argh, nikmat! Teruskan Fer! aku sudah hampir keluar!&#8221; Noldy kemudian menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang dirasakannya saat itu, sementara itu, aku secara bergantian mengocok dan mengoral kontol Noldy dengan gerakan yang makin cepat seiring dengan denyut nafasku yang makin menggelora dan tak karuan saat itu.</p>
<p>Tak lama kemudian, tiga semprotan sperma hangat menyembur di dalam liang mulutku. Saking kuatnya dan juga karena terjadinya yang begitu tiba-tiba sehingga membuatku langsung tersedak oleh sperma Noldy yang masuk ke kerongkonganku.</p>
<p>Noldy terengah-engah, ia tampak begitu lelah dan menikmati permainan ini. Sambil mengelap peluh, ia berbisik pelan di dekat telingaku, &#8220;Ini pengalaman pertamaku, you&#8217;re very great!&#8221; pujinya.</p>
<p>&#8220;I also never try it before. It&#8217;s nice to share it with you!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Noldy berbalik dan menindihku sambil mendekapku erat. Dengan suara pelan dan sedikit ragu, ia mengajukan sebuah pertanyaan sulit, &#8220;Kau mau jadi boyfriend-ku?!? I&#8217;m a gay!&#8221;</p>
<p>Sungguh pengakuan yang diluar dugaan, selama ini aku tak menyangka kalau Noldy adalah gay sebab penampilannya sama sekali tak sesuai dengan bayanganku tentang ciri-ciri gay selama ini. Pandanganku sebelumnya bahwa gay itu selalu tampil kemayu dan kewanita-wanitaan ternyata salah besar. Namun anehnya, mengapa aku bisa berpikiran seperti itu tanpa mengaca pada diriku sendiri, sebab aku pun seorang &#8220;pemburu&#8221; lelaki meski tak tampak kemayu seperti apa yang menjadi bayanganku.</p>
<p>Selama beberapa saat aku hanya terdiam, aku bingung bagaimana harus menjawabnya. Perasaan ini sebetulnya yang selama ini menjadi pergumulan beratku, aku memang cenderung untuk menutupinya dan mencoba untuk melupakannya. Namun apa lagi kini yang ada dihadapanku, tepat di depan batang hidungku. Seorang gay menawariku untuk menjadi kekasihnya?</p>
<p>Namun tiba-tiba, aku sampai pada keputusanku yang memang tak pernah kusesali sampai kini. Aku menggeleng dan melontarkan sebuah jawaban pendek, &#8220;I&#8217;m sorry!&#8221;</p>
<p>Perlahan-lahan, Noldy melepaskan pelukannya dan kemudian berbaring di sisiku. Dia hanya diam untuk beberapa saat, tampak kecewa, namun kelihatan sedang memikirkan sesuatu juga.</p>
<p>&#8220;It&#8217;s better if we be a friend or brother more than as you just spoke!&#8221; ujarku kemudian sambil menggenggam erat tangan Noldy.</p>
<p>&#8220;Ok, I think so! Never mind!&#8221; sahut Noldy sambil mencoba untuk tersenyum kembali.</p>
<p>&#8220;You know, your smile is steal!&#8221; gurauku sambil menarik hidungnya. Sore itu pun kami habiskan waktu kami lebih banyak untuk mengobrol setelah kami memutar vcd bf itu di kamarku. Pengalaman hari itu pun selesai.</p>
<p>Satu hal yang penting, tidak ada yang lebih bijaksana dalam hidup selain daripada ketika kita bisa mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat dan pada orang yang tepat, sebelum segala sesuatunya terlambat.</p>
<p>Cerita ini hanya sebagian saja dari lika-liku perjalananku yang kupersembahkan untuk para pembaca sekalian. Seperti yang sebelumnya, tentang benar atau fiktifnya cerita ini, silahkan kalian yang menilainya saja, sebab segala sesuatunya masih tetap menjadi misteri dan misteri memang masih belum terbongkar. Percayalah, masih ada begitu banyak misteri di dalam hidupku yang kurasa perlu kutuangkan dalam beberapa tulisan lagi sampai kalian benar-benar menyadari siapakah aku yang sesungguhnya. Aku tahu tak banyak dari kalian yang kukenal, tapi aku yakin hampir dari kalian semua pasti akan mengenaliku ketika misteriku berhasil terpecahkan.</p>
<p>E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gejolak-nafsu-anak-smu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Panggil Aku Selebritis</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/jangan-panggil-aku-selebritis.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/jangan-panggil-aku-selebritis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3087</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Siapa bilang jadi artis itu enak? kalau orang tak menjalaninya sendiri, tak akan pernah tahu yang sebenarnya!&#8221;. Itu kata seorang teman pada suatu waktu lewat email yang dikirimkannya padaku. Semula, aku sempat terheran-heran membacanya, kupikir dia hanya sekedar berkelakar saja. Dalam keherananku, aku pun membalasnya dengan menyelipkan sebuah pertanyaan singkat yang membutuhkan sebuah jawaban yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Siapa bilang jadi artis itu enak? kalau orang tak menjalaninya sendiri, tak akan pernah tahu yang sebenarnya!&#8221;.<br />
Itu kata seorang teman pada suatu waktu lewat email yang dikirimkannya padaku. Semula, aku sempat terheran-heran membacanya, kupikir dia hanya sekedar berkelakar saja. Dalam keherananku, aku pun membalasnya dengan menyelipkan sebuah pertanyaan singkat yang membutuhkan sebuah jawaban yang sangat panjang dan sejelas-jelasnya:&#8221;Kenapa?&#8221;</p>
<p>Tiga hari kemudian dia mengirimkan sepucuk email balasan yang membuatku terperangah di depan komputer, aku bahkan sampai tak berkedip sekalipun ketika membacanya kata per kata. Kala itu, seakan aku dapat membayangkan bahwa aku sendiri yang berada dalam cerita yang merupakan curahan hatinya itu. Aku sebenarnya ingin menangis, kalau bisa. Tapi aku coba untuk mengontrol emosiku saat itu, apalagi aku berada di warnet yang kebetulan ramai pengunjung malam itu.</p>
<p>Andy (=nama samaran) adalah seorang penpal dari Jakarta yang aku kenal lewat dunia maya, internet. Dia yang pertama kali mengirimkan sepucuk email kepadaku beberapa hari setelah salah satu ceritaku dimuat di situs ini. Kebetulan, temanku yang satu ini adalah seorang cover boy di salah satu majalah remaja Aneka, dan juga bintang iklan dan sempat bermain dalam beberapa sinetron remaja. Tampangnya pasti sudah tak asing lagi dengan wajah orientalnya yang khas dan tampak cute, apalagi di kalangan the teenagers.</p>
<p>Yang berikut ini adalah curahan hatinya sendiri, berdasarkan apa yang dapat kutangkap dari ceritanya. Ia mengijinkan aku menyusunnya menjadi sebuah tulisan di situs ini, dengan syarat tidak menyinggung sedikit pun tentang identitas dan segala sesuatu yang khas dalam dirinya yang membuat para pembaca akan langsung dapat mengenalinya. Dan, sebagai seorang sahabat yang baik, aku akan menepati janjiku untuk menjaga rahasia ini. Jadi, aku harap para pembaca tak perlu menanyakan kepadaku&#8221;,siapakah dia?&#8221; karena itu merupakan salah satu pertanyaan yang tak akan kujawab. Silahkan tebak sendiri, atau mungkin saja dia adalah orang yang duduk di dekat anda dan membaca cerita ini bersama dengan anda. Tak ada salahnya juga, sesekali curiga pada teman, iya kan? Ok, lebih baik aku ucapkan:&#8221;selamat membaca!&#8221; saja, semoga kalian suka dengan ceritanya.</p>
<p>*****</p>
<p>Langit ibukota masih tampak kemerahan saat itu, belum lagi matahari terbenam ketika aku baru keluar dari studio X untuk keperluan syuting iklan sebuah produk minuman kemasan. Senang sekali rasanya setelah sepanjang hari, aku harus beraksi di depan kamera dan menjalani syuting berulang kali yang cukup menguras tenagaku saat itu. Belum lagi, semalam aku pulang larut dan baru tidur jam 1 dini hari setelah syuting sinetron. Hampir setiap hari seperti ini, bahkan seolah sudah menjadi sebuah rutinitas harian. Di satu sisi, aku menyukai pekerjaanku ini karena inilah obsesiku sejak kecil, aku ingin menjadi seorang entertainer yang profesional. Tetapi, siapa yang mampu bertahan, kalau ternyata harus menjalaninya dengan kerja keras semacam ini, sementara anak-anak lain seusiaku bisa bersenang-senang di luar sana dan menghabiskan waktu dengan teman-teman mereka.</p>
<p>Terkadang aku berpikir kalau aku ini sebenarnya tergolong kuper alias kurang pergaulan, hanya saja tak banyak orang yang menyadarinya. Kebanyakan orang akan berpikir sebaliknya karena profesiku sebagai&#8221;selebritis&#8221;. Jujur saja, sebenarnya aku tak begitu senang diberi julukan selebritis. Bagiku, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar yang hanya akan menambah bebanku, sebab seorang selebritis, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, pasti akan menjadi seorang public figure yang menjadi sorotan banyak orang. Otomatis, seorang selebritis tak pantas untuk punya cacat cela sedikit pun dalam dirinya agar ia bisa menjadi role model yang baik bagi banyak orang. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang selebritis sejati dengan keadaanku sekarang? Aku sungguh tak pantas untuk menjadi seorang panutan.</p>
<p>Petang itu sebenarnya masih terlalu siang untuk pulang, lagi pula jarang-jarang aku pulang syuting jam segitu. Paling-paling pulang sore hanya untuk mandi, setelah itu kembali lagi ke lokasi syuting dan baru pulang larut malam. Tapi hari itu beda, malamnya aku memang tak ada jadwal syuting. Jadi, aku punya waktu untuk sekedar menyegarkan otak sambil jalan-jalan malam itu. Tapi, dengan siapa? itu yang jadi masalah berikutnya. Aku paling malas kalau jalan-jalan sendirian, paling tidak harus dengan teman-teman smu-ku dulu. Aku kangen dengan tawa mereka, setelah tak bertemu selama 2 mingguan belakangan ini.</p>
<p>Setelah pulang ke rumah dan mandi, aku pun mencoba untuk menelepon salah seorang temanku, Justin, untuk mengajaknya jalan-jalan malam itu.<br />
Lama sekali telepon tak diangkat, sehingga aku pun lantas memutuskan untuk menghubungi nomor HP-nya saja.</p>
<p>&#8220;Aku lagi di Thamrin. Ok, sebentar aku mampir ke tempatmu!&#8221; sahut Justin sebelum ia menutup teleponnya. Aku belum sempat bertanya, ia bersama siapa saat itu, tapi yang jelas ia tak sendirian karena aku mendengar suara seseorang di telepon. Paling-paling ia bersama Denny atau Ricky, pikirku.</p>
<p>Jam setengah tujuh, tiba-tiba kudengar suara klakson di depan rumahku. Sebuah sedan Jaguar hitam sudah parkir tepat di depan pagar rumahku, jelas itu bukan mobil Justin. Tak mungkin Jeep 80-an berubah menjadi Jaguar dalam dua minggu ini selama aku tak bertemu dengan Justin, pikirku iseng.</p>
<p>&#8220;Dy, kenalin, ini Boni!&#8221;</p>
<p>&#8220;Andy!&#8221; kataku sambil menjulurkan tangan.</p>
<p>&#8220;Yah, tentu saja. Bagaimana aku tak mengenalimu?&#8221; sahut Boni. Aku hanya tersenyum mendengarnya, aku tak ingin besar kepala dan merasa begitu terkenal di mata banyak orang. Tapi ternyata topi dan kacamata yang kupakai tidak bisa menyembunyikan identitasku di mata Boni, ia masih mengenali wajahku.</p>
<p>&#8220;Kita mau kemana?&#8221; tanyaku kemudian setelah mengambil tempat di jok belakang.</p>
<p>&#8220;Ke PS! Tapi, kita makan dulu. Boni mau traktir nih!&#8221; gurau Justin sambil main mata ke arah Boni. Yang bernama Boni itu sebenarnya tidak seumuran kami, usianya sudah 26 tahun, lebih tua 5 tahun dari kami. Tapi tampangnya lumayan juga, mukanya bersih dan berpostur atletis sekalipun tak seganteng Jerry Yan, but he&#8217;s good looking. Dan lebih lagi, tampak jelas kalau ia anak orang tajir.</p>
<p>Tak lama kemudian, Justin melajukan mobil Boni menuju salah satu cafe langganan Boni yang tak jauh dari Plaza Senayan. Usai ke kafe, kami masih sempat cuci mata di Plaza Senayan dan berkeliling kota. Kami bertiga menghabiskan waktu sambil jalan-jalan sampai larut malam, dan hampir jam 12 malam ketika kami memutuskan untuk pulang.</p>
<p>Namun, tiba-tiba Boni bermain mata pada Justin. Aku tak mengerti apa maksudnya, tampaknya Boni mengingatkan sesuatu pada Justin. Karena sesudah itu Justin langsung memutar balik mobilnya.</p>
<p>&#8220;Mau kemana lagi?&#8221; tanyaku tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Tenang saja. Cuma sebentar kok!&#8221; sahut Justin sambil cengar-cengir.</p>
<p>Ternyata, Justin membawa kami ke salah satu&#8221;pusat jajan&#8221; di Jakarta Pusat, tempat transaksi seks yang merupakan salah satu tempat yang masih ramai di tengah malam seperti saat itu. Tak berapa lama, mobil dihentikan di pinggir trotoar dan seorang pria berpenampilan parlente mendekati mobil kami. Aku hanya diam saja saat itu, hal begituan memang bukan bagianku, aku bahkan tak pernah mencoba-coba untuk lewat tempat ini di waktu malam sebab aku dengar tempat ini memang dipakai sebagai tempat mangkal para gigolo ibukota.</p>
<p>Tidak lama, Boni terlibat tawar menawar dengan pria itu. Karena rupanya Boni akhirnya bersedia membayar tarif 3 juta yang dipatok oleh pria itu. Dan singkat cerita, Boni&#8221;membawa&#8221; pria berusia kurang lebih 24 tahunan itu. Pria itu didudukkan di sebelahku, di jok belakang. Aku sendiri memilih untuk memojok ke dekat pintu, sambil mengalihkan pandanganku dari pria di sebelahku itu. Tapi, ternyata pria itu berkali-kali mencuri-curi pandang ke arahku seolah-olah sedang mengamatiku. Kemudian, ia memberanikan diri memegang pundakku dan bertanya&#8221;,Kamu Andy yang bintang iklan itu yah?&#8221;</p>
<p>Jantungku rasanya langsung mau copot ketika mendengar pertanyaan itu. Aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku tak mungkin berbohong. Lama aku hanya diam saja, pura-pura tak mendengar. Namun, tetap saja pria itu ngotot dengan pertanyaannya. Akhirnya, aku pun mengangguk saja. Setelah itu, kami pun berkenalan dan baru kuketahui kalau namanya Ryan. Tentang profesinya, sudah jelas tak perlu kutanyakan lagi, aku malas berbasa-basi kalau aku sudah tahu.</p>
<p>Malam itu, ternyata mereka bertiga hendak menginap di apartemen Boni. Semula, aku minta diantar pulang saja ketika mereka mengajakku menginap bareng. Tapi, Justin dan Boni malah mendesakku terus, bahkan Justin ngotot membawaku ke apartemen Boni, ia mengendarai mobilnya sama sekali tak menuju arah rumahku. Akhirnya aku pun menyerah juga, lagi pula kupikir toh besok aku mulai syuting agak siangan jadi aku bisa saja kalau menginap di rumah Boni malam ini. Tapi apa yang mereka akan lakukan dengan seorang gigolo di apartemen Boni nantinya, aku tak berani membayangkannya. Yang jelas, malam ini pastilah akan terjadi pertempuran seru di dalam kamar apartemen Boni.</p>
<p>Benar saja, sesampainya di dalam kamar apartemen Boni yang mewah. Boni langsung mengambil empat buah kondom dari laci meja di dekat ranjangnya, ia membagikannya pada kami bertiga.</p>
<p>&#8220;Tidak, Bon. Sorry, Aku tak ikut kalian!&#8221; kataku saat Boni menyodorkan kondom kepadaku.<br />
Aku mengembalikan kembali kondom itu ke tangan Boni, namun Boni malah mencengkeram tanganku dan memaksaku untuk menerimanya.</p>
<p>&#8220;Pakai saja. Kau belum pernah tau nikmatnya kan?&#8221; kata Boni sambil nyengir.<br />
Saat itu, betul-betul adalah pergumulan yang sangat berat dalam batinku. Aku pernah bersumpah untuk tak mau melakukannya lagi sejak Om James (=baca artikel: Obsesi sang model) meninggalkanku beberapa tahun silam.</p>
<p>Boni dan Justin memang tak pernah tahu perihal hubunganku dengan om James, yang mereka tahu hanyalah aku seorang model yang sukses, tanpa mengetahui siapa yang ada di balik kesuksesanku dan telah mengangkatku dari jurang kemiskinan ke suatu tempat yang menjadi impian banyak orang. Mereka menyangka kalau aku seorang anak muda yang alim dan tak banyak tingkah seperti mereka, jadi dianggapnya aku tak berpengalaman untuk urusan permainan liar itu. Syukurlah, kalau mereka menganggapku seperti itu. Namun bagiku, seolah-olah aku hidup dalam kemunafikan saja saat itu. Aku ibarat sebuah kuburan yang bercat putih di luar, namun penuh tulang belulang dan kebusukan di dalamnya.</p>
<p>Habis itu, Boni mulai melancarkan aksinya (Baru kuketahui kalau Boni ternyata seorang gay yang hiperseks), Ia menghantar Ryan menuju ranjang asmaranya. Di sanalah, Ryan ditidurkan dalam posisi terlentang dan kemudian Boni mulai mempreteli pakaian Ryan satu per satu sampai pemuda itu hanya mengenakan celana dalam birunya saja. Bagian tubuh yang pertama diserang Boni tentulah sesuatu yang kelihatan menonjol di balik CD yang sangat seksi, yaitu tak lain adalah kontol Ryan yang cukup besar itu. Boni langsung mencaploknya dengan mulutnya dan menghisapnya dari bagian luar celana dalam Ryan. Sesekali lidahnya bermain-main di seputar pusar dan kedua selangkangan Ryan yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang berwarna hitam lebat. Pemuda itu memang tergolong pria berbulu yang seksi.</p>
<p>Sementara itu, aku dan Justin yang duduk di sofa dekat jendela hanya memelototi aksi Boni dan Ryan itu tak berkedip, sebuah tontonan live yang gratis. Justin bahkan menggesek-gesekkan tangannya di kemaluannya, tak puas dari bagian luar, ia pun mulai memasukkan tangannya ke dalam sela-sela celananya. Sempat kulirik sebentar ketika Justin memasukkan tangannya itu, ia sepertinya sangat menikmati permainan solonya itu untuk merangsang libidonya sendiri.</p>
<p>Tapi tiba-tiba diluar dugaan, Justin menggenggam tanganku dan memandunya untuk ikut memegang kemaluannya yang sudah full ereksi saat itu.</p>
<p>&#8220;Buka, Dy. Aku horny banget!&#8221; pinta Justin agar aku membukakan restsleting celananya.<br />
Dengan agak gugup, aku pun menurut saja. Entah kenapa, aku jadi seperti robot saat itu, mungkin saja karena aku pun sedang terangsang sekali saat itu. Apalagi kulihat, Ryan dan Boni sudah bergulingan di atas ranjang sambil saling melumat satu sama lain tanpa berpakaian lagi, keduanya sudah telanjang bulat!</p>
<p>Aku membantu Justin membuka restsleting celananya dan juga kancing bajunya. Setelah itu kupelorotkan celananya, sehingga ia hanya mengenakan baju yang terbuka dan celana dalam saja. Kemudian tanpa terkontrol lagi, aku langsung mendaratkan ciumanku yang pertama ke bibir Justin yang seksi. Sementara itu, tanganku bergerilya di seputar dadanya dan kemaluannya secara bergantian.</p>
<p>Kuselipkan tanganku ke balik kemejanya dan kemudian kuremas-remas kedua puting susunya, sambil sesekali diiringi remasan-remasan pada bagian pinggang dan sentuhan-sentuhan maut ke seluruh bagian dadanya yang bidang itu. Sementara itu, tanganku yang satu lagi meremas-remas bagian belakang kepala Justin. Kami berdua saling menghisap, saling melumat, saling menggigit dan bermain lidah.</p>
<p>Kurasakan desahan nafas Justin yang membuatku makin terangsang untuk terus menikmati tubuhnya, ia sesekali menggeliat-geliat di atas sofa sambil mendekapku dengan erat. Justin lalu memasukkan tangannya ke dalam celanaku, ia meraba-raba kontolku yang sudah tegang dan basah oleh cairan precum saat itu. Ia lantas meremas-remasnya dengan gemas, sebelum akhirnya ia pun membuka celanaku dan membuatku panthless saat itu.</p>
<p>Setelah usai permainan lumat melumat, Justin berjongkok di depanku dan memulai lumatan yang baru yaitu melumat kontolku. Bagai diburu nafsu yang membara, Justin terus memainkan kontolku di mulutnya, ia menghisapnya keluar masuk dan menjilatinya seolah sedang menikmati es krim cone. Sesekali ia mengocoknya.</p>
<p>&#8220;Argh!&#8221; desahku ketika rasa nikmat tak kuasa lagi untuk kutahan.</p>
<p>Kurasakan kenikmatan tiada tara ketika kulit pembungkus rudalku bergesekan dengan liang mulut Justin. Apalagi ketika ia membawanya keluar masuk mulutnya. Sampai pada puncaknya ketika cairan kelelakianku mulai menyemprot dan bertumpahan memenuhi mulutnya. Aku langsung lemas saat itu seiring dengan mengendurnya urat-urat pada kontolku.</p>
<p>Sebagai seorang gigolo profesional yang sudah punya jam terbang tinggi, Ryan pun tak kalah liar dibandingkan Boni. Ia mencoba memuaskan pelanggannya itu dengan jurus-jurus mautnya. Dalam keadaan telanjang bulat di atas kasur, Ryan lantas menindih paha Boni sambil memegang secangkir lemon juice di tangannya. Setetes demi setetes, ia menumpahkannya di dada dan perut Boni, dan sesudah itu ia membungkuk dan menjilatinya dari tubuh Boni.</p>
<p>Boni pun terlihat menggelinjang-gelinjang dan mendesis tak kuasa menahan rasa geli bercampur nikmat saat itu. Ryan terus bergerilya di seputar dada dan perut Boni dengan lidahnya. Kemudian, lagi-lagi Ryan menindih tubuh Boni, mereka saling melumat lagi dengan bibir mereka, sementara kontol mereka saling digesek-gesekkan di bagian bawah sana.</p>
<p>Selanjutnya tak banyak yang bisa kuceritakan tentang malam itu, aku tak begitu ingat semuanya. Yang jelas, malam itu aku pun sempat menikmati permainan seorang gigolo, dan itu untuk yang pertama kali dan terakhir bagiku. Jujur saja, aku tak sanggup mengimbangi permainan orang-orang semacam Ryan dan Boni yang kelewat hiperseks. Tapi lain halnya dengan Justin, aku senang bermain dengannya. Karena sejak malam itu, kami masih sering mengulanginya dan menghabiskan waktu bersama.</p>
<p>Justin pun kini menjadi sudah menjadi bf-ku, dan tak ada seorang pun di sekeliling kami yang curiga ketika kami jalan bersama, karena mereka rata-rata sudah tahu kalau kami bersahabat sejak lama. Jadi mereka pikir, kami hanyalah sepasang sahabat karib, yah kuharap tetap seperti itu saja! Karena mau atau tidak, suka atau tidak, orang akan tetap memanggilku &#8220;selebritis&#8221;, jadi aku harus selalu kelihatan tampil baik di depan mata mereka. Hanya saja kalau boleh mengajukan permintaan saat ini, aku hanya ingin minta satu hal saja&#8221;,jangan panggil aku selebritis!&#8221;</p>
<p>Tujuanku mengungkapkan semua ini bukan apa-apa atau untuk mencari sensasi, sebab aku rasa aku sudah tak perlu lagi mencari popularitas dan sensasi karena semuanya sudah kudapatkan dan itu tak ada gunanya bagiku. Tetapi, aku hanya sekedar mau mengingatkan kalian bahwa jika ingin menjadi seorang selebritis, siapkanlah mental yang cukup agar tak sampai terjerumus kepada hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi, sebab kehidupan selebritis tak sekedar bicara tentang popularitas, keglamoran dan kemewahan, melainkan juga berbicara tentang sebuah tantangan yang sangat complicated yang akan membuatmu langsung diperhadapkan pada pilihan : hidup atau mati, digilas atau menggilas, dan lain sebagainya.</p>
<p>*****</p>
<p>Salamku untuk semua teman-teman di seluruh Nusantara, aku mencintai kalian semua. Salam &#8211; Andy.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: kotaro_bee@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/jangan-panggil-aku-selebritis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gejolak Cinta</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gejolak-cinta.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gejolak-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 04:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/gejolak-cinta.html</guid>
		<description><![CDATA[Yanto dengan bersemangat menuju ke kos Dani yang terletak di Jakarta Pusat. Mereka berdua berkenalan tiga bulan yang lalu dan menjalin hubungan setelah itu. Yanto berumur 29 tahun, berkulit putih dan berwajah tampan dengan lesung pipit dan bibir yang kemerahan, badannya agak langsing, namun terbilang cukup proporsional. Dani berumur 26 tahun, berbadan kekar, berkulit gelap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yanto dengan bersemangat menuju ke kos Dani yang terletak di Jakarta Pusat. Mereka berdua berkenalan tiga bulan yang lalu dan menjalin hubungan setelah itu.</p>
<p>Yanto berumur 29 tahun, berkulit putih dan berwajah tampan dengan lesung pipit dan bibir yang kemerahan, badannya agak langsing, namun terbilang cukup proporsional. Dani berumur 26 tahun, berbadan kekar, berkulit gelap dan terlihat sangat macho. Tinggi badannya yang 178 cm membuatnya terlihat lebih dewasa dari Yanto yang terkesan ABG di usianya itu. Sebenarnya Dani tidak berwajah tampan, malah beberapa orang menganggapnya sangar, tetapi Yanto menyukainya karena sikapnya yang ramah dan baik hati.</p>
<p>Setelah Yanto mengetuk beberapa kali Dani membukakan pintu. Yanto masuk dan merebahkan diri di kasur menikmati sejuknya AC dan empuknya ranjang setelah mengarungi panasnya kota Jakarta. Dani hanya tersenyum melihat tingkah Yanto yang lucu itu, kemudian mendekati Yanto dan berbaring di sampingnya lalu mengusap rambut Yanto dengan lembut dan mendaratkan kecupan di kening yang putih dan masih dihiasi butir butir kecil keringat yang bening.<br />
&#8220;Mandi dulu ya?&#8221; kata Yanto sambil bangkit menuju kamar mandi.<br />
&#8220;Nggak usah&#8221;, jawab Dani.<br />
&#8220;Mandinya nanti aja, lo siram aja badan elo biar lebih sejuk, ntar kebanyakan mandi lo jadi kayak kertas putihnya, ha ha ha. &#8221;<br />
&#8220;Dasar lo, pantes lo hitam gitu, malas mandi ya&#8221;<br />
Yanto masuk ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air shower yang sejuk menyegarkan.<br />
&#8220;Kok dia nggak nyusul masuk ya?&#8221; pikir Yanto heran, biasanya Dani tidak suka membuang waktu kalo dia sedang di kamar mandi.</p>
<p>Sesaat kemudian setelah mengeringkan badannya, dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada Yanto keluar dari kamar mandi. Ternyata Dani sudah menunggu dengan hanya bercelana dalam dan tanpa memberikan kesempatan menarik Yanto ke pelukan badannya yang kekar dan melumat habis bibir Yanto yang merah merekah.<br />
&#8220;Mmmhh, mm&#8221;, Yanto kelabakan mendapatkan serangan mendadak itu, apalagi ciuman Dani yang tidak tanggung-tanggung membuat Yanto sulit bernapas, ditambah badannya yang kekar mendekap erat badan Yanto yang bisa dibilang langsing, kecuali dadanya yang lumayan terbentuk. Dani memberikan kesempatan Yanto bernapas dan mengajaknya menuju tempat tidur. Di sini ciuman yang dahsyat itu berlanjut, namun Yanto sudah siap dan melayani dengan baik, bibir Dani yang kehitaman menghisap bibir kemerahan dan lidahnya menyapu langit-langit dan lidah Yanto yang membalas dengan hisapan yang membuat keduanya melayang dalam kenikmatan. Tangan Dani menjelajahi leher, punggung dan pinggang yang putih mulus, membuat Yanto mendesah menikmati usapan lembut dari tangan yang kekar berotot di daerah-daerah sensitifnya. Tangan yang lain meremas-remas pantat Yanto yang padat membukit, mendorongnya sehingga kemaluan Yanto menekan kemaluannya yang tegak menyembul dari balik celana dalamnya.</p>
<p>Dani melanjutkan ciumannya ke leher Yanto yang mulus, menyapukan lidahnya dengan lembut ke bagian belakang telinga Yanto dan kemudian dengan lembut menggigit dan menghisap cuping telinga Yanto.<br />
&#8220;Ssshh, ahh, aagghh..&#8221; Yanto mendesah merasakan sensasi yang sangat disukainya itu sambil melingkarkan tangannya di kepala dan leher Dani.<br />
Sementara tangan Dani menjelajah dua bukit kembar yang mempunyai puncak yang diselimuti warna coklat muda.<br />
&#8220;Auwhh..&#8221; Yanto terpekik kecil ketika tiba-tiba Dani memilin puting susunya dengan agak kuat, namun rasa terkejutnya segera hilang oleh rasa nikmat ciuman dan sapuan lidah yang hangat di pangkal lehernya, yang seakan menimbulkan aliran listrik di seluruh badannya.</p>
<p>Kemudian Dani menunduk, mengusapkan ujung lidahnya ke dada Yanto, membuat gerakan spiral melingkar yang makin mengecil sampai akhirnya mengulum dan menghisap puting susu Yanto yang tegak mengeras oleh rangsangan itu. Dani menggesekkan lidahnya ke kepala puting dan menghisapnya dengan kuat, melepaskannya lalu menghisap lagi dengan kuat dan sesekali menggigit dengan lembut puncak bukit kenikmatan Yanto itu. Yanto dibuat senewen dengan tingkah Dani itu, berbagai sensasi perasaan berkecamuk di dalam dirinya, pada saat Dani menghisap dengan kuat puting susunya, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang ikut keluar melayang, membuat Yanto tidak dapat berdiri lagi dengan baik, sehingga dirinya seolah luruh dalam dekapan Dani yang kuat. Pekikan-pekikan kecil Yanto malah membuat Dani makin terangsang dan meningkatkan serangannya ke kedua puting susu Yanto, yang memang merupakan salah satu bagian tubuh favoritnya. Dani baru menghentikan kegiatannya setelah kedua puting susu Yanto berwarna kemerahan dan agak sedikit membesar karena dihisap dengan kuat berkali-kali. Dani kembali mencium bibir Yanto yang terengah-engah oleh aksinya tadi, dan menikmati kelembutannya tanpa balasan, karena Yanto pasrah membiarkan bibirnya dikulum dan hanya mendekap erat badan Dani dan ketika Dani mengecup lehernya Yanto berbisik, &#8220;You are my man, oohh..&#8221;</p>
<p>Yanto melepaskan celananya dan celana dalam Dani, kemudian melancarkan serangan balasan ke dada Dani yang bIdang dengan kulitnya yang gelap kehitaman, memancarkan kejantanan tersendiri. Aroma badan Dani memberikan rangsangan yang tidak dapat dilukiskan dan dua bukit kembar yang dimilikinya seolah dua bukit batu yang keras dan putingnya yang berwarna hitam mengarah ke sisi bawah luar tiap bagian dadanya. Yanto mencium dan menghisap setiap bagian dada Dani dan menggigit lembut putingnya. Kemudian perlahan turun dan menjumpai kemaluan yang tegak berdiri, terlihat hitam mengkilat karena ereksi yang kuat, dengan lingkaran kemerahan di dekat kepala penisnya. Batang kejantanan itu tegak berdiri sepanjang 16 cm dan diameter kepalanya yang mencapai 8 cm membuat Yanto sangat menyukainya, apalagi bentuknya yang menyerupai ice cream cone, membuatnya semakin nikmat untuk digenggam dan dikulum. Yanto mengulum kepala penis Dani yang besar itu dan menghisap precum yang ada kemudian menyapu lubangnya dengan ujung lidahnya dan terus menyapu ujung kepala penis itu dengan lidahnya, yang membuat Dani mendesah merasakan nikmat di batang kejantanannya. Ketika Yanto memasukkan seluruh kepala kemaluan itu ke dalam mulutnya, sensasi kehangatan yang lembut menyergap Dani, yang menikmatinya dengan mata terpejam dan kedua tangannya mengusap kepala Yanto dengan lembut.</p>
<p>Setelah merasakan kenikmatan oral sex dan mencapai tingkat ereksi yang maksimum, Dani membaringkan Yanto di ranjang dan menyibakkan kakinya sehingga terlihatlah lubang kenikmatan yang sempit di depan matanya. Dani segera mendekatkan bibirnya ke lubang yang kemerahan dan mulus tanpa rambut itu lalu menjulurkan lidahnya untuk merangsangnya supaya dapat menerima batang kemaluannya yang besar. Yanto tergelinjang tiap kali lidah Dani terjulur mendesak ke dalam lubang kenikmatannya, membuat gerakan melingkar dan menembus ke dalam lubangnya. Setelah beberapa saat, Dani menuangkan gel pelicin ke lubang itu dan menusukkan jarinya ke dalam untuk membasahi bagian dalamnya.</p>
<p>Perlahan Dani mengarahkan kemaluannya ke lubang yang sudah siap menerima dan memberikan kelembutan dan kehangatannya. Kaki Yanto yang lebar mengangkang disandarkannya ke pundak dan batang kemaluan yang sudah memakai kondom itu sedikit demi sedikit mendesak dalam lubang kenikmatan yang sudah mulai berdenyut itu. Yanto meringis menahan sakit ketika kepala penis yang besar itu mendesak terus ke lubang anusnya, dan ketika seluruh kepala itu dapat masuk, keduanya merasakan jepitan otot rektum yang menutup kembali setelah bagian terbesar dari kepala penis itu melaluinya memberikan sensasi yang nikmat dan seolah lubang itu menyedot penis ke dalamnya. Tanpa membuang waktu lagi Dani menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuh Yanto, yang mengerang kecil ketika penetrasi awal itu berlangsung. Segera setelah kehangatan melingkupi seluruh batang kemaluannya, Dani menunduk dan mengulum bibir Yanto untuk mengalihkannya dari rasa sakit oleh desakan penisnya, yang walaupun sudah beberapa kali mereka lakukan, tetap saja saat awal penetrasi Yanto merasakan sakit karena memang ukuran penis yang besar dan ereksi yang kuat membuat penetrasi sangat terasa olehnya.</p>
<p>Kemudian Dani membuat gerakan maju mundur yang lembut, dan sesekali memutar pinggulnya untuk memompa Yanto yang mulai dapat menikmati kehadiran benda asing di dalam lubang kenikmatannya. Setelah beberapa saat melakukan goyangan dan memaju mundurkan penisnya, Dani menanamkan batang kemaluannya dengan kuat ke dalam lubang Yanto, mendorongnya dan memutar pinggulnya untuk mendapatkan penetrasi yang maksimal. Yanto sampai tergelinjang kuat oleh penetrasi ini.<br />
&#8220;Ahh, dalam sekali, eghh&#8221;, tangan Yanto mencengkeram lengan Dani dan kepalanya terdongak karena merasakan hangat dan mulas di perutnya.<br />
Dani melepaskan kaki Yanto dan menindih tubuh Yanto dengan badannya yang kekar, kedua tangannya melingkar di badan Yanto dan mendekapnya erat, sambil mengulum bibir yang merekah dan merangsang itu.<br />
&#8220;Mmmh, egghh, mmhh&#8221;, Yanto kewalahan melayani nafsu Dani yang sedang membara itu, kedua tangannya mencengkeram pundak Dani dan kadang kadang tanpa sadar mencakarnya karena Dani belum mengendurkan penetrasinya dan lebih kuat menggoyang pinggulnya untuk mendesak ke dalam lubangnya. Gerakan melingkar pinggul Dani itu membuat batang kemaluannya yang tegang dan kuat di dalam diri Yanto bergerak mendesak ke segala arah, dan itu membuat sensasi yang luar biasa yang membuat perasaan hangat, mulas, nikmat dan melayang yang sangat hebat dirasakan oleh Yanto.</p>
<p>Setelah Dani mengendurkan tekanannya dan menggerakkan penisnya dengan lembut, Yanto mendesah dan berbisik, &#8220;Elo luar biasa, sayang&#8221;<br />
Dani tidak menjawab, hanya mengulum lembut bibir Yanto dan menjelajahi lagi leher dan dadanya, yang memberikan rangsangan ganda kepada Yanto. Setelah itu Dani perlahan mengeluarkan penisnya, membimbing Yanto ke kamar mandi, lalu meminta Yanto membelakanginya. Penisnya pun dimasukkannya kembali dan Dani memeluk Yanto dari belakang, siap memberikan sensasi puncak kepada kekasihnya ini. Dengan rangsangan bibir dan tangan ditambah goyangan dan desakan kemaluan di lubangnya, Yanto merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang membuatnya serasa melayang di awan-awan.<br />
Dan setelah beberapa saat Yanto mendesah, &#8220;Gua mau keluar Dan..&#8221;</p>
<p>Dani kemudian menggenggam dan mengocok kemaluan Yanto, mencium dan mengulum leher dan telinga Yanto dan satu tangannya memegang pinggang Yanto untuk menahannya karena dia menggelinjang dengan kuat menggapai puncak kenikmatan birahinya. &#8220;Arrghh, hh, hh, ahh. &#8221; Yanto pun menyemburkan spermanya, sedemikian kuat sampai mencapai dinding kamar mandi, dan Dani merasakan denyutan yang sangat kuat memijat kemaluannya, dan ketika dia mencoba memaju mundurkan kemaluannya terasa sulit karena jepitan yang sangat kuat dari lubang Yanto yang sedang menggapai orgasme.</p>
<p>Denyutan itu memberikan pijatan hangat yang membuat saraf Dani tak dapat lagi menahan kenikmatan yang menjelang dan sesaat kemudian Dani memancarkan maninya dalam tubuh Yanto dan penisnya berdenyut kuat, memberikan tambahan kenikmatan bagi Yanto yang bisa merasakan dengan jelas denyutan batang kemaluan pasangannya itu. Dani mendekapnya erat, dan mereka berdua menikmati orgasme bersama-sama.</p>
<p>Setelah itu mereka berdua membersihkan diri dan mandi, membungkus kondom yang berisi sperma Dani dalam tisu, kertas dan kantong plastik, lalu membuangnya di tempat sampah.<br />
&#8220;Gua bawa pulang aja, buat kenang-kenangan&#8221; gurau Yanto.<br />
&#8220;Gila lo, ntar gua kasih lagi, nggak usah bawa yang begituan&#8221;, sergah Dani.<br />
&#8220;Ha ha, bercanda lagi&#8221;, kata Yanto.<br />
Lalu mereka berdua berbaring dan beristirahat setelah melakukan kegiatan yang sangat melelahkan namun sangat menyenangkan juga itu. Yanto terlelap di pelukan Dani yang tersenyum memandang wajah &#8220;cute&#8221; di dekapannya itu.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: thisismeinjakarta@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gejolak-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
