<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Lesbian</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-lesbian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Petualang Cinta ku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html</guid>
		<description><![CDATA[Suasana kantor pada hari Jumat jam setengah empat sore kali ini hampir tidak berbeda dengan biasanya. Dari ruang pribadiku terdengar hiruk pikuk teman-teman sekerja yang bersiap-siap pulang, canda ria yang terdengar lepas, dan tulat tulit ponsel mereka yang sudah mulai ditelepon dari rumah untuk rencana week end. Seperti biasanya juga, aku pulang agak terakhir. Bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suasana kantor pada hari Jumat jam setengah empat sore kali ini hampir tidak berbeda dengan biasanya. Dari ruang pribadiku terdengar hiruk pikuk teman-teman sekerja yang bersiap-siap pulang, canda ria yang terdengar lepas, dan tulat tulit ponsel mereka yang sudah mulai ditelepon dari rumah untuk rencana week end. Seperti biasanya juga, aku pulang agak terakhir. Bukan karena rajin, tapi karena aku malas mengemudikan Katana hijauku dalam antrian panjang berkelok-kelok yang memenuhi gedung parkir pada jam-jam segini. Aku tetap duduk di kursi kerjaku, mengerjakan beberapa hal untuk persiapan hari Senin nanti, agar hari Mingguku bisa terasa lebih bebas. Setelah aku rasa cukup, aku membuka-buka beberapa situs favoritku di internet, seperti FriendFinder, nba.com, dan lain-lainnya. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.<br />
“Yak, masuk Nov!” kataku singkat. Pintu terbuka, dan masuklah Nova, seorang teman kerja yang waktu itu baru diangkat menjadi asistenku.<br />
“Kok tahu kalau aku?” tanyanya keheranan sambil menutup pintu kembali.<br />
“Yah.. siapa lagi kalau bukan kamu?” jawabku tanpa memberitahunya kalau aku sudah hafal pola ketukannya yang agak lebih keras dibandingkan teman-teman lain.</p>
<p>Wanita itu meletakkan tas kerjanya di sofa putih di seberang ruangan lalu mendatangi meja kerjaku sambil matanya sesekali melirik kesana-kemari untuk mencari benda-benda aneh baru yang memang sering kupajang di situ. Ketika matanya menemukan sebuah album foto di meja samping, ia lalu membelokkan arahnya ke situ dan mencomotnya. Dalam hati aku tertawa geli melihat tingkahnya yang agak kekanak-kanakan meski usianya hanya beberapa tahun lebih muda dariku. Kini ia mengamati foto-foto itu dengan mimik serius, sementara aku mengamati dia.</p>
<p>Nova adalah seorang mantan atlet yang bentuk tubuhnya terpelihara dengan baik meski warna kulitnya agak kecoklatan karena dulu sering diterpa matahari. Wajahnya cukup manis menurutku, sementara pakaian-pakaian yang menempel di badannya selalu mengikuti apa yang kupakai, ia juga selalu mengikuti ke mana aku pergi, dan melakukan apa yang aku lakukan. Pendeknya, di mana ada Sari, di situ ada Nova, entah dalam bisnis atau just for fun, singkatnya, dia seorang sidekick sejati buatku. Ia adalah seorang petualang baru yang memilih menjadi petualang karena kebetulan ia sangat dekat denganku.</p>
<p>Agak merasa berdosa juga aku, jika mengingat saat pertama ia datang ke kantor memenuhi iklan lowongan koran. Waktu itu aku sendiri yang mewawancarainya, dan waktu itu ia tampak masih lugu dengan kacamata berbingkai hitam tebal dan rambut panjang sebahu serta pakaian yang… well… konvensional. Namun sekarang? Dari tempat dudukku aku bisa mengamati posturnya yang semampai (sekitar 170-an lah) dan berbahu bidang itu sedang berdiri di sisi ruangan dengan terbungkus setelan pakaian kerja Escada merah menyala yang elegan namun terkesan seksi. Kacamata berbingkai tebal juga sudah digantikan dengan contact lens coklat, sementara rambut ikalnya kini dipotong persis seperti rambutku, pendek seleher dan simpel. Untung saja rambutku lurus, hingga masih tetap ada bedanya.</p>
<p>“Ini foto waktu kapan, Mbak?” tanyanya membuyarkan lamunanku.<br />
“Oh, pas SMA”, jawabku singkat.<br />
“Kenapa emang?”<br />
“Mbak Sari yang mana?” tanyanya balik dengan tetap mengamati album foto itu dengan mimik serius.<br />
“Yang mana, hayooo?” Godaku sambil mematikan Macintosh dan beranjak berdiri dari kursi kerjaku.<br />
“Yang ini ya?” tanyanya sambil menghadapkan album foto itu padaku dan menunjuk sebuah foto.<br />
“Iya, yang itu”, jawabku sambil membenahi tas kerjaku.<br />
“Cantik ‘kan?”<br />
Kata-kata terakhir itu tadi mendapatkan jawaban berupa ekspresi mengejek dari wajahnya.<br />
“Norak, ah!” katanya sambil menutup album itu dan melemparnya kembali ke meja.<br />
“Kaki kepanjangan gitu masa pakai celana kependekan, apa nggak malah berkesan kerempeng?” lanjutnya lagi, yang kubalas dengan sebuah tinju agak keras di lengannya.</p>
<p>Kami lalu tertawa-tawa sambil menanti jam bergeser ke pukul setengah lima, supaya perjalanan mobilku lancar di gedung parkir. Nova menceritakan padaku tentang masa-masa hidupnya sebagai atlet, tentang latihan-latihan fisik yang dilakukannya, dan hal lain yang terkesan macho dan terlalu dibesar-besarkan. Sementara aku dengan tak kalah membual juga menceritakan tentang latihan yang kualami pada saat aku tergabung dalam sebuah klub basket.</p>
<p>“Eh, gimana rencana malam ini?” tanya Nova di tengah pembicaraan.<br />
“Aku belum ada rencana lebih jauh”, jawabku.<br />
“Kamu ada rencana apa?”<br />
“Yahhh…” desah Nova panjang sambil merentangkan kedua tangannya dan menggeliat malas.<br />
“Aku sih pengen jalan-jalan.”<br />
“Jalan-jalan apa jalan-jalan?” tanyaku dengan nada menggoda.<br />
“Hmm…” Nova terdiam agak lama.<br />
“Pengennya ya jalan-jalan biasa, tapi kalau nanti ada hasilnya, yah, nggak apa-apa kan?”</p>
<p>Pembicaraan terus berlanjut hingga akhirnya tiba pada topik kesenangan wanita, yaitu membicarakan orang lain. Kami membicarakan seorang kawan yang kebetulan sering bekerja sama dengan perusahaan kami.<br />
“Mbak Sari, kalau Mbak Ida itu orangnya gimana?” tanya Nova sambil mengamati pemandangan dari jendela lantai tujuh ini.<br />
“Apanya yang gimana?” tanyaku balik sambil mengenakan blazerku kembali dan bersiap-siap pulang.<br />
“Dia kan single”, jawab Nova.<br />
“Apa dia juga… hmm… seperti Mbak Sari?”<br />
“Hihihi”, aku tertawa kecil mendengar tuduhannya itu.<br />
“Not really”, lanjutku sambil mematikan lampu dan mencolek lengan Nova agar mengikutiku keluar ruang kerja.</p>
<p>Karena gedung parkir sudah lumayan kosong, Katana hijauku dengan bebasnya meninggalkan gedung kantor itu. Nova menumpang di mobilku, agar nanti bisa keluar jalan-jalan bareng, katanya. Tapi however kami masih belum punya tujuan yang jelas, hingga kami berputar-putar saja di daerah itu. Sempat terpikir untuk mampir ke Kafe Jendela tempat beberapa kawan sering nongkrong, tapi karena masih terlalu sore dan sepi, akhirnya nggak jadi. Sempat juga ada ide untuk mampir ke Colors Pub, tapi sekali lagi karena masih terlalu sore, kami mengurungkan niat itu.</p>
<p>“Nov, kamu tadi kok nanya tentang Mbak Ida kenapa?” tanyaku karena tidak ada topik yang dibicarakan.<br />
“Nggak apa-apa sih”, jawabnya sembari menggosok lensa sunglasses Gucci-nya dengan ujung baju.<br />
“Just curious.”<br />
“Dengar-dengar… dia orangnya nggak normal, yah?” tanya Nova lagi.<br />
“Maksudmu dia sinting?” tanyaku balik, menghindari membicarakan kejelekan orang dengan cara mengambil ekstrimnya.<br />
“Nggak gitu sih”, jawab Nova tetap dengan mimik serius.<br />
“Kata orang, dia nggak suka sama cowok.”<br />
“Kalo emang iya, kenapa? Dan kalo enggak, apa kamu nggak malu gosipin orang?” jawabku diplomatis.<br />
Nova tertawa kecil mendengar sindiran itu.</p>
<p>“Aku cuman pengen tahu”, jawabnya tak kalah diplomatis tapi masih amatiran.<br />
“Kalo emang ternyata iya, apa kamu lantas mau nyoba kencan sama dia?” tanyaku to the point.<br />
Wajah Nova tampak menunjukkan ekspresi aneh, perpaduan antara jijik dan mendapat inspirasi.<br />
“Gini deh, daripada kita ngomongin orang, gimana kalau kita mampir ke rumah dia”, jawabku sambil menyalakan lampu sen untuk belok kiri, karena Katana hijau kini telah sampai di depan rumah orang yang kami bicarakan.<br />
“Lho, lho, lho! Mbak! Jangan dooong!” Rengek Nova ketika Katana hijau kuparkir di depan rumah besar dengan design aneh itu. Aku tidak mempedulikan rengekannya karena setengah jengkel. Aku hanya membuka pintu dan keluar dari mobil, meski sambil merengek dan menggerutu tidak jelas, Nova ikut turun juga.</p>
<p>Sampai ketika aku memencet bel pintu, Nova masih juga tampak tidak tenang. Ia berkacak pinggang sambil melihat ke langit yang kini berwarna ungu bercampur oranye. Rumah yang kami kunjungi itu terletak di tepi sungai kecil dengan lingkungan tertutup yang dipenuhi pohon-pohon besar (Dan para pembaca yang berasal dari kota S akan berpikir-pikir, kira-kira di mana letaknya, ya kan?) sehingga suasana jadi agak remang-remang dramatis. Seorang pembantu pria berwajah Maluku berbadan tegap keluar dari balik pintu dalam dan kembali masuk setelah aku menyebutkan nama orang yang kucari. Pintu kembali terbuka, tapi bukan si pembantu yang keluar, melainkan seorang, eh seekor anjing St. Bernard, sebesar meja makan.</p>
<p>“Aduh, Mbak… ada anjingnya, pulang aja yuk!” seru Nova merasa mendapat alasan. Aku hanya memandangi wajah Nova dan wajah anjing itu bergantian, lalu menunjuk ke anjing yang kini menatap wajah Nova sambil menjulurkan lidah dan mengibas-ngibaskan ekor.<br />
“Tuh lihat!” kataku.<br />
“Dia menyukai kamu, jadi nggak ada masalah.”<br />
“Hm… masa sih?” tanya Nova sambil berlutut dan mengamati wajah anjing yang berekspresi lugu agak bodoh itu dari balik pagar. Si pembantu muncul dan membukakan gerbang pagar yang terbuat dari kayu berat berlubang-lubang di sana-sini itu. Kami melangkah masuk. Aku melangkah dengan tenang, sementara Nova melangkah agak gelisah sambil sesekali melihat ke arah anjing besar yang kini berjalan mengikutinya. Besar sekali memang, tingginya saja hampir sepinggang kami. Si pembantu lalu mempersilakan kami duduk di kursi beranda, tentu saja dengan ditemani St. Bernard besar itu, yang kini duduk bersimpuh di lantai memandangi Nova dengan ekspresi yang seperti tadi, lugu setengah bodoh.</p>
<p>Nuansa rumah itu memang agak mendirikan bulu tengkuk bagi orang yang belum pernah mengunjunginya. Pagarnya terbuat dari kayu berwarna gelap yang terkesan berat dan tertutup. Pekarangannya yang tidak terlalu luas ditutup dengan paving block yang dicat cokelat gelap, senada dengan tembok rumah yang juga berwarna maroon gelap. Bangunannya sendiri mungkin cukup bagus, bangunan tua dengan arsitektur kolonial, namun sentuhan seni kontemporer di sana-sini membuatnya tampak aneh. Bayangkan saja, lampu temaram yang menempel di dindingnya berbentuk kepala wanita yang melotot, asbak di meja beranda pun berbentuk kepala seorang bayi (atau tuyul?) yang mulutnya menganga lebar. Perpaduan yang agak aneh karena meja dan kursi berandanya berwarna hijau tua dan berbentuk ukiran Jepara klasik. Di sudut beranda juga terdapat beberapa patung kayu ukiran Bali yang menggambarkan dua orang wanita tanpa busana sedang saling mencekik.</p>
<p>“Angker ya, rumahnya?” celetuk Nova yang rupanya juga mengamati situasi.<br />
“Yah, tapi dia satu-satunya designer yang setuju dengan harga yang kamu tawarin!” jawabku mengingatkan Nova.<br />
“Hm, iya ya. Mbak Ida partner kantor kita”, gumam Nova.<br />
“Apa nggak sebaiknya nanti kita ngomongin kerjaan aja?”<br />
“Alaa, udahlah, sekarang Jumat malam”, jawabku jengkel.<br />
“Lagian kan kamu pengen kenal lebih jauh sama dia?”<br />
“Siapa yang pengen kenalan sama aku?” tanya suara berat seorang wanita yang terdengar tiba-tiba dari samping beranda.</p>
<p>Nova dan aku sempat agak terjingkat karena kaget oleh suara Mbak Ida yang memang berat itu. Wanita berusia 30-an itu telah berdiri di samping beranda dan mengelus-elus kepala anjingnya. Meski usianya agak lebih tua dariku, Mbak Ida memiliki postur tubuh yang terjaga. Tidak seperti Nova dan aku yang meski ramping tapi terkesan lebar dan bidang, postur tubuh Mbak Ida cenderung tidak nampak lebar. Tingginya kurang lebih 160-an, dengan proporsi yang lebih panjang di kaki. Kulitnya agak gelap dan bentuk tubuhnya padat tapi khas wanita dengan dada yang agak membusung. Sore itu ia mengenakan sejenis kimono berwarna coklat gelap yang belahannya agak rendah hingga kami dapat dengan jelas melihat belahan dadanya. Rambutnya yang lurus dan panjang sebahu dicat merah. Merah beneran, merah bendera, bukan merah brunette. Wajahnya cantik namun matanya terkesan misterius di bawah alis yang hampir tidak ada rambutnya.</p>
<p>“Ini, si Nova yang pengen kenalan sama Mbak Ida.”<br />
“Lho, kan udah kenal?” jawab Mbak Ida sambil menjabat tangan Nova yang malu-malu dan agak gemetar.<br />
“Ayo masuk!” seru Mbak Ida mempersilakan kami masuk.<br />
“Bas, kamu jaga di luar ya!” serunya, kali ini ditunjukkan ke si anjing.<br />
“Mbak, nama anjing kamu siapa sih?” tanyaku ingin tahu.<br />
“Lubas Herera”, jawab Ida singkat sambil membukakan pintu ke ruang tamu.<br />
Aku hanya memandangi anjing dan pemiliknya bergantian, setengah heran karena jarang ada anjing yang punya nama belakang.</p>
<p>Suasana ruang tamu yang amat luas itu berbeda 180 derajat dengan beranda dan pekarangan yang gelap dan misterius. Dinding ruang tamu berwarna putih cerah, lantainya juga terbuat dari keramik putih. Sementara perabotannya bergaya modern, terbuat dari pipa-pipa besi berlapis chrome mengkilat dengan bantalan-bantalan kursi biru cerah. Satu-satunya hiasan dinding adalah jam yang tepinya terbuat dari ban penyelamat kapal berwarna merah terang bergaris putih, dan jarum jamnya juga berwarna merah terang, kontras dengan nuansa ruangan yang biru-putih. Tidak ada coffee table (meja tamu), yang ada hanya sebuah meja makan di tengah ruangan yang kakinya terbuat dari pipa-pipa mengkilat dan mejanya sendiri dari kaca dengan bentuk yang tidak simetris, seperti sirip ikan hiu. Di sudut ruangan terdapat tiga buah komputer Macintosh yang casing dan monitornya berwarna biru transparan, semuanya masih menyala dan screen savernya berbeda-beda, di monitor paling kiri ada huruf I yang berputar-putar, di monitor tengah huruf D, dan di monitor paling kanan huruf A, ketiganya membentuk huruf nama pemiliknya, benar-benar nyentrik, pikirku.</p>
<p>Sementara dinding belakang dari ruang tamu ini bukan tembok, melainkan kaca yang menghadap ke sebuah kolam renang kecil berbentuk pisang. Yang paling aneh adalah dinding dan dasar kolam renang itu tidak polos seperti umumnya kolam renang, melainkan dipenuhi sebuah anime yang dibelit gurita. (Setelah diamati lebih jauh, ternyata bukan gurita, melainkan kejantanan pria yang jumlahnya banyak dan panjang-panjang seperti ular melilit badan wanita-wanita tanpa busana itu).</p>
<p>“Yah, ginilah rumahku”, kata Mbak Ida memecah keheningan.<br />
“Gimana?”<br />
“Hm… bagus, bagus sekali”, jawab Nova mengangguk-angguk tanpa mampu menyembunyikan ekspresi gugup setengah takut.<br />
“Berbeda sekali dengan waktu aku ke sini pertama dulu”, jawabku sambil mengamati jam dinding aneh yang kuceritakan tadi.<br />
“Iya dong Sar”, jawab Mbak Ida.<br />
“Kami kan tipe pembosan, kaya kamu!” lanjutnya penuh arti.</p>
<p>Kami duduk mengelilingi meja makan berbentuk sirip hiu itu, menghadap ke beberapa gelas sirup yang dihidangkan si pembantu yang tadi membukakan pintu. Nova tak henti-hentinya memandangi rambut Mbak Ida yang dicat merah menyala itu, sementara aku sendiri berusaha untuk tidak menunjukkan ekpresi heran, takut dia tersinggung.</p>
<p>“Nah, ada apa ini kok kemari? Ada order lagi yah?” tanya Mbak Ida mengawali pembicaraan setengah bercanda.<br />
“Ah, enggak, hanya nggak ada acara aja sore ini”, jawabku sambil menyeruput minuman di gelas berbentuk kepala Miki Tikus. Agak kaget juga aku ketika minuman di gelas itu menyembulkan sedikit aroma alkohol, aku hanya meneguk sedikit saja karena aku memang tidak suka minuman yang memabukkan. Aku melirik ke Mbak Ida sambil mengangkat alis kiriku.<br />
“Apa nih minumannya?” tanyaku dengan mata menuduh namun masih terkesan ramah.<br />
“Oh, iya!” jawab Mbak Ida dengan ekpresi datar.<br />
“Aku lupa kamu nggak minum.”<br />
Mbak Ida lalu berjalan ke dispenser di sudut ruangan dan menuangkan segelas air putih untukku. Ketika ia berjalan meninggalkan meja makan, aku melirik ke arah Nova.<br />
“Nov, kalau nggak suka nggak usah diminum, lho”, bisikku mencegahnya.<br />
“Hmm?” tanya Nova sambil melihat ke arahku dan meletakkan gelasnya yang telah kosong ke meja. Ah, ya sudahlah. Aku mengurungkan niatku mencegah Nova meminum minuman aneh itu.<br />
Kami lalu ngobrol kesana kemari diselingi joke-joke khas wanita lajang. Suasana menjadi hangat dan akrab. Tanpa terasa jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun Nova yang tadi takut-takut, kini malah tampak betah. Memang Mbak Ida, terlepas dari bagaimana bentuknya, adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Sekedar info, ia adalah seorang designer yang kerap kali bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja. Dan ia sering kami pakai karena kelebihannya itu, ia memiliki people skill yang tinggi. Tidak seperti umumnya orang seprofesi dia, yang sulit untuk memahami orang lain dan cenderung menganggap orang lain awam. Meski gayanya mendandani rumah cenderung aneh, dia sama sekali bukan tipe orang yang nyentrik atau weird dalam hubungan kerja. Ia amat profesional.</p>
<p>Pembicaraan berlanjut sampai kemudian Mbak Ida mengantar Nova berkeliling rumahnya. Aku yang dulu sudah pernah ke situ tidak ikut berkeliling, aku mengambil sebuah buku dari rak di sudut ruangan dan mulai membacanya. Sebuah buku paperback bagus, yang berjudul Rich Dad Poor Dad, oleh Robert Kiyozaki. Cukup lama aku membaca buku itu sampai kemudian Nova datang kembali ke ruang tamu menjumpaiku.<br />
“Mbak Sari, pulangnya nggak buru-buru kan?” tanyanya dengan mata kekanak-kanakan.<br />
“Oh? Nggak kok”, jawabku sambil melirik arloji.<br />
“Emang mau ngapain kamu?”<br />
“Mbak Ida ngajak aku nyobain kolam renangnya, kata dia airnya hangat”, jawab Nova lagi.<br />
“Yah, terserahlah. Tapi apa kamu bawa baju renang?” tanyaku.<br />
“Dia mau minjemin kita baju renang kok”, jawab Nova sambil menunjukkan sebuah kantong plastik yang berisi pakaian renang.<br />
“Ganti bajunya di kamar mandi situ, Nov!” kata Mbak Ida yang tiba-tiba muncul.</p>
<p>Kali ini Mbak Ida muncul dengan kimononya sudah tidak lagi diikat, dibiarkannya terbuka begitu saja, dari balik kimono tampak bikini renang berwarna merah seperti rambutnya. Hmm… kontras dan indah juga perpaduan warna itu, kulitnya yang kuning agak gelap dan bikini serta rambut merah. Dalam hati aku sempat iri dengan bentuk badan Mbak Ida yang padat dan berbentuk, sementara badanku sendiri cenderung ceking dan datar panjang-panjang.<br />
“Kamu ikutan sekalian deh, Sar!” Ajak Mbak Ida lagi.<br />
“I Promise I won’t do anything”, lanjutnya penuh arti.<br />
Aku hanya mengangkat bahu dan tidak punya pilihan lain. Apalagi Nova menarik lenganku masuk ke kamar mandi.</p>
<p>Kamar mandi rumah ini jadi terkesan aneh karena tidak ada yang aneh di dalamnya. Kamar mandi klasik berukuran besar dengan bak mandi di sudut, cermin besar di dekatnya, sebuah kloset di sampingnya, dan sebuah pintu menuju ke ruang lain. Begitu biasa jika dibandingkan dengan suasana dalam rumah. Di situ Nova tanpa malu-malu mempreteli semua yang melekat di badannya dan mengenakan bikini yang dipinjamkan Mbak Ida.</p>
<p>“Kamu kok milih yang bikini sih?” tanyaku sambil memilih-milih pakaian renang dalam kantong plastik.<br />
“Emang kenapa, Mbak?” Jawab Nova sambil melenggak-lenggok di depan cermin menatap keindahan bentuknya yang memang indah.<br />
“Kan nggak ada cowok”, lanjutnya lagi.<br />
Aku memilih pakaian renang biasa saja, Speedo berwarna biru muda. Hmm, terasa agak longgar di bagian dada dan pinggang, menunjukkan dimana perbedaan antara bentuk badanku dan badan Mbak Ida. Sempat menatap cermin, dan… yah… aku memang sama sekali tidak jelek! Pikirku sambil menatap garis tubuhku yang menurutku paling indah di seluruh dunia.</p>
<p>Tiba di pinggiran kolam renang Mbak Ida, rasa-rasanya aku malas untuk masuk ke air. Entah kenapa, tapi rasa-rasanya gambar kartun di dasar dan dinding kolam itu mengganggu pikiranku. Sementara Nova hanya mengomentari bahwa gambar kartun itu lucu. Yah, memang dia jarang memperhatikan sampai ke detail, hingga dia lantas nyemplung begitu saja bersama dengan Mbak Ida yang sudah lebih dulu masuk ke air. Dari tepi kolam aku mengamati bahwa di dinding-dinding kolam renang terdapat lampu-lampu besar, hingga dalam air dapat terlihat dengan jelas. Aku melihat tubuh lencir Nova berenang-renang dengan latar belakang gambar-gambar wanita kartun yang ketakutan karena dililit oleh ular-ular besar.</p>
<p>Hmm, pemandangan yang menarik sebenarnya, namun aku memilih untuk duduk saja di tepi kolam, membiarkan angin malam menyejukkan kulit tubuhku yang hanya tertutup pakaian renang. Karena merasa kelewat dingin, akhirnya aku membungkus badanku dengan kimono Mbak Ida yang ditinggalkannya di tepi kolam, dan berjalan mengelilingi halaman belakangnya yang lumayan besar dan bersih, mencari si pembantu tadi sekedar untuk teman ngobrol, tapi pemuda itu juga tidak ada. Dalam hati, aku merasa sedikit bersalah karena mengerti siapa Mbak Ida sebenarnya. Wanita itu tak lain adalah petualang juga, sama seperti aku sendiri. Namun yang berbeda adalah bahwa buruannya seringkali berasal dari teman sejenis, dan bukan lawan jenis. Itu sebabnya pikiranku sekarang terasa seperti membawa Nova ke mulut singa. Tapi, ah, masa bodoh! Aku kan bukan baby sitter untuk Nova. Meski keberadaannya seringkali membuatku merasa memiliki seorang adik, tapi jalan hidupnya kan bukan urusanku, itu pilihannya sendiri.</p>
<p>Dari tempatku berdiri di sudut halaman belakang, kolam renang Mbak Ida tidak terlihat karena tertutup pagar tanaman setinggi satu meteran. Tapi setelah lama, aku baru menyadari kalau aku tidak mendengar suara deburan air seperti yang kudengar tadi. Aku mulai merasa tidak enak, dan segera melangkahkan kaki ke arah kolam renang. Seperti dugaanku, Nova dan Mbak Ida sudah tidak berada di kolam renang, juga di sekitarnya, mereka mungkin sudah masuk ke dalam rumah. Aku berusaha melihat melalui dinding kaca, tidak ada siapa-siapa di ruang tamu atau ruang tengah.</p>
<p>“Di mana kedua orang itu”, pikirku. Kucoba membuka pintu kaca geser untuk masuk ke ruang tengah, ternyata terkunci. Berarti aku terpaksa harus memutar melalui pintu depan. Agak risih juga hanya mengenakan pakaian renang terbalut kimono tipis dan berjalan di antara pohon-pohon pisang di kegelapan. Akhirnya aku sampai ke garasi tempat 318i Mbak Ida teronggok congkak. Lalu membelok ke kiri, dan aku tiba di beranda yang menakutkan tadi. Tampak si Lubas Herera kini memandangi aku sambil mengibas-ngibaskan ekor. “Anjing tolol ini tentu tidak bisa ditanyai keberadaan tuannya”, pikirku. Lalu aku membuka pintu depan yang untungnya tidak terkunci, dan kembali berada di ruang tamu. Seperti yang kuduga, ruang tamu itu kosong.</p>
<p>Aku berjalan mondar-mandir di situ sambil memikirkan kira-kira ke mana kedua temanku tadi. Akhirnya aku mencoba alternatif terburuk, yaitu kamar tidur Mbak Ida. Konyolnya, aku tidak menjumpai pintu lain selain ke kamar mandi dan ke kolam renang tadi. Rumah ini memang terasa begitu besar karena tidak ada sekat-sekat ruangannya. Berarti dimana letak kamar tidurnya? Setelah berpikir beberapa menit, naluri petualangku mengatakan bahwa kamar tidur seorang pemburu umumnya tergabung dengan kamar mandi atau setidaknya memiliki akses langsung ke kamar mandi. Aku jadi teringat akan pintu di kamar mandi tadi. Segeralah aku melangkah ke kamar mandi, oops! kimono panjang ini mengganggu langkahku, jadi aku melepaskan dan menaruhnya di meja makan.</p>
<p>Setibanya aku di kamar mandi, terlihat pintu yang kumaksud terbuka sedikit. Lampu kamar mandi yang terang membuat aku tidak dapat melihat apa-apa dari celah pintu itu, tampak temaram di sana. Pelan-pelan aku melangkahkan kaki ke sana. Setelah makin dekat, terasa dinginnya hembusan hawa AC dari celah pintu yang terbuka sedikit itu, terdengar pula alunan lembut musik sound track Titanic dari Kenny G. Hmm, apakah mereka berdua ada di situ? Kalaupun iya, apa yang mereka lakukan? Bukankah Nova seorang straight? Apakah Mbak Ida mencoba menjahili Nova? Atau apakah Nova ingin mencoba petualangan baru? Berbagai pikiran jorok berkembang dalam benakku, membuat aku tidak segera memasuki ruangan di balik pintu itu. Hm… apakah aku harus langsung masuk? Atau mungkin menunggu di ruang tamu sambil pura-pura tertidur? Atau harus mengintip dulu? Uhh… bingung juga. Anyway, aku harus melakukan sesuatu, bukan?</p>
<p>Setelah memantapkan diri, aku memegang handel pintu dan dan mendorongnya hingga terbuka. Nah, tampaklah kamar tidur Mbak Ida yang ternyata tidak terlalu besar, namun dindingnya berlapis kayu jati berwarna gelap. Lampu yang kuning temaram membuat suasana terasa gelap. Dinding kayu itu polos tidak tertempeli hiasan apa-apa, karpet tebal di lantai juga polos berwarna coklat tua, tepat di tengah-tengah ruangan teronggok tempat tidur kayu besar. Nah, di atas ranjang besar itulah Nova tertelungkup dengan bikininya, sementara si pembantu pria yang tadi kucari-cari kini sedang duduk di atas pantat Nova dan memijiti punggung wanita itu.</p>
<p>Keduanya tampak agak terkejut melihat kehadiranku. “Wah, Sari! Kamu juga mau ikutan ya?” Terdengar suara Mbak Ida mengejutkanku. Wanita itu duduk di sebuah sofa di pinggir kamar. Rambutnya masih tampak basah dari kolam renang tadi, bikini merahnya yang tipis dan agak basah tidak berfungsi menyembunyikan apa-apa lagi.<br />
“Pijitan si Beni enak nggak, Nov?” cerocos Mbak Ida.<br />
“Mmm… mmm… lumayan lah, Mbak!” jawab Nova yang masih tertelungkup di ranjang, dipijit oleh si Beni yang bertelanjang dada.<br />
“Oh, well…” Aku seperti kehabisan kata-kata karena dihadapkan pada suasana yang agak tidak wajar. Aku lantas duduk di sofa di samping Mbak Ida, mengamati wajah Nova yang kini tampak terpejam-pejam karena otot kakinya sedang dipijat oleh si Beni. Dari cara memijatnya, sepertinya Beni memang orang yang ahli dalam hal tersebut, bukan hanya seorang yang asal pencet. Setelah sesaat mencoba beradaptasi, aku menengok ke Mbak Ida.</p>
<p>“Mbak Ida nggak dipijit juga?” Tanyaku.<br />
“Aku sih udah selesai”, jawabnya singkat.<br />
“Kamu mau nyoba? Enak lho, Sar.”<br />
“Iya coba aja Mbak Sari!” sahut Nova yang rupanya sudah selesai dipijit, ia kini menghampiri sofa tempat kami duduk.<br />
“Enak kok, jadi terasa lebih lentur seperti jelly!” candanya menambahkan. “Eh, Ben! Jangan kembali dulu, nih Ibu Sari juga pengen dipijit!” seru Mbak Ida pada pemuda Maluku itu.</p>
<p>Aku beranjak menuju tempat tidur besar itu. Beni tampak tersenyum manis dan mengangguk hormat padaku. “Hmm… Not bad”, pikirku. Meski amat pendek dan hanya setinggi dadaku, pemuda ini otot-ototnya lumayan jadi juga. Beni yang kulit tubuhnya hitam legam itu hanya mengenakan celana jeans pendek yang menunjukkan adanya tonjolan khas pria, baguslah, pikirku. Ia normal, pria mana yang tidak bereaksi seperti itu kalau diijinkan menyentuh badan si Nova yang memang atletis dan kesat. Nah, kita tunggu bagaimana reaksi dia setelah memijiti badan si pemburu ini. Hmm, pemuda yang beruntung, pikirku nakal.</p>
<p>“Apa perlu saya buka pakaian?” tanyaku pada Beni dengan nada serius namun bertujuan menggoda.<br />
Pemuda itu diam dan tampak bingung lalu melirik ke arah majikannya.<br />
“Hahaha!” Mbak Ida tertawa gelak.<br />
“Nggak apa-apa Ben! Ibu Sari itu badannya oke punya lhoo!” Beni tampak ragu-ragu dan menelan liur, reaksi yang aku sukai untuk digoda! Aku malah tanpa ragu-ragu menurunkan lengan pakaian renang ini ke kiri kanan dan menariknya ke bawah, hingga kini pemuda beruntung itu dapat melihat segalanya di bawah sinar lampu yang kuning temaram. Mulut Beni menganga menyaksikan semuanya. Di hadapannya berdiri si pemburu, tanpa selembar benang pun, dengan postur yang satu setengah kali lebih tinggi darinya, berwarna kuning bersih dan halus semampai. Aku menarik nafas dalam agar kedua dadaku membusung ke depan, lalu menghembuskan nafas lagi hingga kedua bukit yang tidak besar itu kembali ke posisi semula, dan bola mata Beni mengikuti gerakan kedua benda indah itu. Aku tersenyum sambil menyipitkan mata menggodanya, dan memanjat naik ke ranjang dan membaringkan badanku tertelungkup di kasur pegas empuk itu.</p>
<p>“Hey, ayo, jangan bengong, Ben!” Seru Mbak Ida sambil tertawa-tawa.<br />
“Tunjukkan pijitan terbaikmu!”<br />
“Lho, emangnya yang diberikan ke aku tadi bukan pijitan dia yang terbaik?” tanya Nova yang kini duduk di samping Mbak Ida.<br />
“Lah, kalau buat Sari ya lain dong Nov!” cerocos Mbak Ida lagi.<br />
“Untuk Sari kan harus yang… hmm… menyentuh!”</p>
<p>Nova dan Mbak Ida lalu tertawa tawa sementara kini kurasakan tangan-tangan Beni mengoleskan baby oil ke betisku dan mulai memijit. “Waaa!” Aku menjerit keras ketika kurasakan pijitan jari-jari Beni begitu keras dan menyakitkan. Kontan saja Beni menghentikan pijitannya dan memasang ekspresi penuh rasa bersalah.<br />
“Pelan-pelan aja, Mas Beni!” kataku mencoba menghiburnya, “Mulai dari punggung aja nggak apa-apa kok.”<br />
Lantas Beni mulai mengolesi punggungku dengan baby oil, dan mulai memijit pelan-pelan. Hmm… harus kuakui rasanya memang mantap dan membuat rileks. Biasanya, pria yang tahu memijit wanita adalah pria yang hebat di ranjang, tapi aku segera membuang pikiran konyol itu dan memejamkan mata menikmati pijitan-pijitannya yang melemaskan otot. Hmm, menyenangkan sekali dipijit oleh pemijit ahli, di ruangan ber-AC yang temaram, diiringi musik instrumental Kenny G.</p>
<p>Saat asyik-asyiknya memejamkan mata menikmati suasana, aku sayup-sayup mendengar erangan wanita di tengah alunan lembut saxophone itu. Apakah memang di kaset Kenny G terdapat sound effect seperti itu? Ah, aku rasa tidak. Aku membuka mata sedikit, dan menatap lurus ke arah sofa di pinggir kamar. Dan aku segera mendapat jawaban dari mana rintihan itu berasal. Di atas sofa itu, Mbak Ida juga tampak sedang memijit badan Nova dari belakang. Tepatnya, Mbak Ida sedang mengusap-usap pinggang Nova yang terbuka, sambil menciumi leher kawanku itu. Novanya tidak menunjukkan perlawanan sedikitpun, malah tangan kirinya memeluk kepala Mbak Ida yang kini mencium dan menjilati leher kirinya.</p>
<p>Pelan-pelan jemari lentik Mbak Ida merambati pinggang Nova ke atas, lalu menyusup ke balik bikini basah yang dikenakan Nova. Membuat payudara Nova seperti tersentak-sentak karena nafasnya menjadi sulit diatur. Wajah Nova yang terpejam itu kini tampak begitu terangsang oleh gerakan-gerakan Mbak Ida. Dengan gerakan cepat, Mbak Ida melepaskan bikini bagian atas itu, hingga kini kedua payudara Nova yang memang menurutku amat indah, padat, putih bersih dengan puting kecoklatan itu terpampang jelas.</p>
<p>“Hey, kamu kok membuka mata, Sar?” kata Mbak Ida yang kini menatap tajam ke arahku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kulihat wajah Nova, wajah itu kini tampak sayu dan matanya menatap ke arahku dengan tatapan dingin dan datar, seolah tidak ingin aku mengganggunya. Ya ampun, pikirku. Apa yang aku kuatirkan telah terjadi. Pijitan-pijitan Beni kini tidak lagi terasa. Aku mengangkat kepalaku dari ranjang dan bermaksud meminta Mbak Ida berhenti mempermainkan badan Nova. Namun Nova malah mengelus paha Mbak Ida yang kini menghimpit pinggangnya di kiri-kanan.<br />
“Tenang aja lah Sar, Nggak apa-apa kan, sekali-sekali!” seru Mbak Ida.<br />
“Ben, kamu ikuti apa yang aku kerjakan ya?”<br />
Mengakhiri kalimatnya itu, Mbak Ida lalu meremas-remas payudara Nova dengan mantap namun lembut sambil menjilati rahang dan lehernya. Nova tampak memiringkan kepalanya, terpejam-pejam sambil mendesah-desah menggumamkan nama Mbak Ida. Tiba-tiba aku merasakan apa yang kini dirasakan oleh Nova. Tangan-tangan Beni menyusup di antara payudaraku dan kasur ini, lalu meremas-remas dan memilin-milin puting susuku. Aku terhenyak dan memejamkan mata karena serbuan yang tiba-tiba itu, segera aku mengosongkan pikiran dan membuang semua logika, membiarkan diri larut dalam petualangan baru.</p>
<p>Pelan-pelan aku merasa tubuhku diangkat dan didudukkan di ranjang, sementara Beni duduk di belakangku dan mengusap serta meremas-remas kedua payudaraku lembut. Sejenak kemudian puting-puting susuku terasa menegang terangsang, sementara payudara ini terasa kaku dan memadat. Aku membuka mata dan melihat bagaimana Mbak Ida menghimpit pinggang Nova dari belakang dengan kedua kakinya, ibu jari kaki kanan Mbak Ida kini menyusup ke balik celana bikini Nova dan bergerak-gerak disitu, sementara tangannya terus menjentik-jentik puting susu Nova. Mbak Ida sendiri tampak amat terangsang, dagunya terkait di pundak kiri Nova sambil wajahnya terpejam-pejam, mungkin karena gesekan dadanya dengan punggung Nova. Sementara Nova tak kalah terangsang, kedua alisnya menyatu di tengah kening dan giginya terkatup meski bibirnya setengah terbuka, dan mendesah-desah norak.</p>
<p>“Aduuhhh… aduuhhh…. enaknya Mbak Idaaa… aduuhhsshh.” Birahi dalam tubuhku tergugah ketika melihat Nova diperlakukan seperti itu, terbayang rasanya jika badanku diperlakukan demikian. Tampaknya Beni menyadari hal itu, namun tidak menirukan gerakan Mbak Ida. Ia menyusupkan kepalanya di bawah ketiak kiriku dan mengulum-ngulum puting susuku dari situ, Uhhh… rasanya geli dan merangsang bukan main. Sementara jari-jari tangan kanannya menguakkan bibir kewanitaanku hingga terbuka dan jari tangan kirinya memijit-mijit di dalam situ, “Aduuuhhh…” nafasku sampai tersengal-sengal dan rasanya sulit menjaga kedua mataku agar tidak menyipit-nyipit. Aku hanya menggeretakkan gigiku rapat-rapat menahan rangsangan ini. Ingin memejamkan mata, namun aku tidak ingin melewatkan pemandangan di hadapanku, dimana Nova sedang dikerjai habis-habisan oleh tangan-tangan Mbak Ida yang begitu berpengalaman. Ohh, sungguh pemandangan yang membuat kewanitaanku berdesir melembab.<br />
Titik-titik keringat mulai tampak di tubuh Nova meski AC sangat dingin. Tubuh lencir atletis itu kini tampak lunglai seperti selembar handuk, dan pasrah saja ketika Mbak Ida menelentangkannya di karpet dan menjilat-jilat paha bagian dalamnya. Saat diperlakukan seperti itu, Nova menggeliat-geliat seperti kesetanan sambil mengaduh-aduh keras dan kedua tangannya berpegangan pada kepala Mbak Ida di selangkangannya. Melihat kondisi itu, otot-otot kewanitaanku tiba-tiba mengejang menangkap jari tengah Beni yang sedang berada di dalamnya. Merasakan jarinya dijepit begitu, Beni malah menggerakkannya keluar masuk kewanitaanku dengan cepat sambil mengait-ngait di dalam, tentu saja tubuhku jadi terjingkat-jingkat kegelian dan punggungku melengkung seperti busur panah. Kudekap kepala Beni yang menempel pada puting susu kiriku agar ia tak menghentikan hisapan dan jilatannya pada puting yang telah mengeras ini. Rintih dan eranganku ikut terdengar memenuhi ruangan, menutupi lembutnya alunan saxophone Kenny G.</p>
<p>Aku benar-benar telah terangsang hebat. Aku tidak lagi mempedulikan Nova dan Mbak Ida yang kini tengah berpelukan erat sambil paha-paha mereka saling menggesek kewanitaan mereka. Aku bangkit dari duduk dan menunggingkan badanku, mempersilakan Beni menikamkan kejantanannya. Sejenak Beni melepaskan tubuhku, terdengar suara kain berjatuhan saat Beni membuka Jeans-nya, lalu tubuhku segera terasa penuh terjejali benda hangat yang keras dan tegang, yang membuatku langsung terpejam dan menengadahkan kepala menahan rasa nikmat tak terkira ini. Aku setengah membuka mata sambil meringis-ringis keenakan. Kedua alisku kini menyatu di keningku, mengikuti ekspresi penuh birahi dari Nova dan Mbak Ida di karpet. Terasa pinggul Beni menabrak-nabrak pantatku ketika ia menggerakkan tubuhnya maju mundur. Gesekan kejantanannya terasa membuat dinding-dinding kewanitaanku menjadi panas dan berdenyut. Otot-otot di dalam sana berusaha mencengkeram kejantanan yang bertekstur kasar itu. Aduuhhh, rasanya nikmat sekali disetubuhi dari belakang sambil menatap tubuh kawan sekantorku dinikmati habis-habisan oleh seorang wanita petualang berpengalaman.</p>
<p>Bermenit-menit lamanya posisi tidak berubah, namun kenikmatan serta sensasi yang kurasakan terasa kian memenuhi batinku. Badanku terasa begitu nikmat digempur oleh kejantanan Ben, apalagi kedua telapak tangannya kini berada pada payudaraku dan memencet-mencet puting susuku. Uhhh, enak sekali rasanya. Dari atas ranjang besar ini, aku melihat tubuh-tubuh indah Mbak Ida dan nova kini saling berdekapan makin erat dan kaki-kaki mereka semakin cepat bergerak pada selangkangan mereka, lalu kedua tubuh semampai itu tiba-tiba mengejang dan wajah-wajah mereka menunjukkan ekspresi kosong yang setengah memejamkan mata dan mulut menganga. Lalu keduanya lunglai di atas karpet sambil terengah-engah dan tetap berpelukan.</p>
<p>Aku membayangkan nikmat dan hangatnya puncak yang telah mereka capai dan menggoyang-goyangkan pinggulku untuk berjuang mencapai puncakku sendiri. Beni tampaknya juga dapat bekerja sama, ia mengikuti gerakan-gerakanku. Namun tidak semuanya sesuai harapan, tiba-tiba Beni mencabut kejantanannya dan melepaskan kedua payudaraku. Aku masih tetap menungging pada kedua lututku di ranjang ketika cairan panas terasa menyemprot ke punggungku. Ahhh, sial benar nasibku. Beni telah mencapai puncaknya, dan kini duduk di tepi ranjang sambil terengah-engah pucat.</p>
<p>“Mm.. maafkan saya, Bu…” kata Beni terbata-bata.<br />
“Hmmhhh…” Aku menarik nafas panjang sambil menatap kedua matanya penuh rasa marah.<br />
“Nggak apa-apa kok Ben, kamu hebat sekali”, Jawabku setelah menguasai emosi.<br />
“Dah, tidur di kamarmu sana!” Beni lalu berjalan tertatih-tatih keluar kamar. Aku menatapnya dengan rasa benci, dasar pria tidak bertanggung jawab! Mending kalau dia suamiku, tapi dia hanya pembantu kawanku, sebal sekali rasanya. Kutelentangkan diri di ranjang besar itu menatap ke langit-langit yang berhiaskan cermin di sana-sini. Menatap bayangan tubuhku sendiri yang gelisah di atas sprei putih yang kusut, menatap bayangan tubuh Nova dan Mbak Ida yang masih saling berpelukan di karpet sambil terpejam dengan ekspresi puas. Sungguh tidak adil, pikirku. Karena birahiku sulit kutahan, akhirnya aku melakukan apa yang selama ini pantang kulakukan, yaitu memuaskan diri sendiri.</p>
<p>Kupejamkan kedua mataku, aku berkonsentrasi penuh membayangkan postur tubuh laki-laki idamanku, The Big D! Kubasahi ujung jariku dengan lidah, lalu kupilin-pilin kedua putingku, membayangkan ia sedang mengulum-ngulumnya. Hmmm… tidak terasa seperti dikulum beneran, tapi siapa peduli itu di tengah kondisi seperti sekarang. Kutekan-tekan sendiri klitoris dan liang kewanitaanku yang terasa becek dan hangat. Uhhh… cukup lama juga aku menggeliat-geliat sendiri di atas ranjang besar itu sambil kedua tanganku menjamah tubuhku sendiri. Sampai tiba-tiba aku merasakan kasur bergerak-gerak karena ada orang lain yang naik ke ranjang. Ah, pasti Mbak Ida ingin memanfaatkan situasi, pikirku. Tadinya aku ingin menolak, tapi kuurungkan niatku karena ingin mencapai puncak yang sejak tadi tidak kesampaian. Kubiarkan saja ia menjamah tubuhku sambil aku tetap dengan setia membayangkan bahwa The Big D lah yang melakukannya padaku.</p>
<p>Terasa jilatan-jilatan dari lidah dan bibir yang halus dan hangat menyapu kedua putingku bergantian, pelukan hangat terasa seperti menyelimuti tubuh rampingku, dan sebuah paha halus menyelip di antara kedua tungkaiku, menggosok-gosok di situ. Sebuah jari lentik menyusul masuk ke dalam liang kewanitaanku, disusul satu jari lagi hingga kini dua jari berdesakan di dalam liang kewanitaanku. Uhhh… semuanya membuatku seperti melayang-layang di udara. Ahh, aku tidak tahu apa lagi yang terjadi, yang jelas seluruh tubuhku seperti diselimuti kehangatan yang amat nyaman. Sentuhan jemari-jemari lentik dan bibir lembut bergantian menyapu ke sekujur badan ini, memercikkan bunga-bunga api birahi yang makin lama makin terasa hangat dan nikmat. Kedua jari dalam liang kewanitaanku pun menari-nari dengan gemulai seolah sudah mengenal betul tempat-tempat yang harus dihinggapinya. Ahhh… nikmat sekali, meski aku memejamkan mata, aku seperti dapat melihat tubuhku sendiri sedang menggelinjang-gelinjang dan mengerang-ngerang dijilati oleh lidah-lidah api birahi ini.</p>
<p>Tidak seperti biasanya, puncak kenikmatan kali ini terasa datang perlahan-lahan dan lembut. Kehangatan tiba-tiba menyelimuti tubuhku ketika aku merasakan tubuhku dipeluk dengan hangat dan erat serta leherku dihujani ciuman, menambah kenikmatan di puncak yang kini baru saja kurasakan. Hm… terbayang wajah dan tubuh The Big D memelukku dengan penuh kasih sayang. Sulit juga membayangkan otot-otot padatnya, karena yang kurasakan menempel di dadaku sekarang adalah payudara wanita lain, dan bukannya dada The Big D yang bidang dan ditumbuhi rambut-rambut halus itu. Tapi rasa nikmat terus mengguyur sekujur tubuhku, hingga sempat aku tak ingat apa-apa untuk beberapa detik.</p>
<p>Pelan-pelan gelombang kenikmatan itu meninggalkan diriku, membiarkan kesadaranku kembali mengambil alih. Masih terasa dekapan hangat pada tubuhku. Terpikir juga olehku untuk mengucapkan terimakasih nanti pada Mbak Ida, sekaligus mengucapkan selamat karena ia berhasil menjamah tubuhku kali ini. Hmm… hampir aku membuka mata, namun kuurungkan niatku karena masih ingin menikmati kehangatan pelukan yang somehow terasa penuh kasih sayang ini. Aku mempererat pelukanku pada tubuh semampai yang menindihku itu, sampai aku menyadari bahwa bahu tempat daguku bersandar terasa lebar dan berotot kencang seperti bahuku sendiri. Ah.. Aku hampir tidak percaya.</p>
<p>Pelan-pelan aku membuka mata, dan menatap tajam ke arah cermin di langit-langit yang kini menunjukkan dengan jelas siapa yang bercinta denganku barusan.<br />
“Nova?” Aku menjerit agak membentak sambil melepaskan pelukan hangat itu. Kulihat Nova agak terkejut. Tubuh telanjangnya kini teronggok di sampingku dengan tangannya masih memegang bahuku. Wajahnya tampak sayu meski dipenuhi ketakutan. Sorot matanya tampak menyesal dan menatap sendu ke arah mataku. “Hey, apa yang kau lakukan?” tanyaku setengah membentak tanpa mengharapkan jawaban. Dan memang Nova tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan wajah manisnya yang kini tampak sedih. Bibirnya bergerak-gerak pelan meski terkatup rapat, dan matanya yang biasanya tajam itu kini digenangi setetes air yang kemudian bergulir jatuh melewati pipinya.</p>
<p>Aku tidak mempedulikannya dan segera bangkit berdiri dari ranjang. Dengan tanpa berusaha menutupi ketelanjanganku, aku melangkah cepat ke arah pintu, dan bergegas kembali ke kamar mandi dan mengguyur kepalaku dengan air dingin. Tanpa menunggu badanku kering, aku melanjutkan langkah kembali ke ruang tamu, mendapati pakaian kerjaku tergeletak kusut di meja makan, dan segera mengenakannya kembali pada tubuhku yang masih basah. Aku terduduk di kursi sambil kedua sikuku bertelekan di meja dan telapak tanganku mencengkeram kepalaku sendiri, menyesali yang terjadi barusan. Bukan diriku sendiri yang kusesali, melainkan Nova. Anak muda yang manis itu, yang dulunya lugu namun cerdas, yang secara tak sengaja terseret dalam pola hidupku, yang kini terseret makin jauh.</p>
<p>Ah, karena selama ini aku memproyeksikan Nova untuk bisa menggantikan posisiku di perusahaan, mungkin karena aku juga bercita-cita untuk merubah hidupnya yang dulu kurang bahagia, mungkin juga karena aku sudah begitu mencintai dan menganggapnya seperti adikku sendiri, dan jelas-jelas telah membawanya pada kehidupan yang seperti ini. Apakah aku sudah menyeretnya terlalu jauh di luar kemauan kami sendiri? “Sari!” suara berat Mbak Ida tiba-tiba mengejutkanku. Aku melepaskan cengkeramanku pada kepalaku sendiri, mengusap mataku yang tadi agak berkaca-kaca, dan menatap tajam ke arah wanita itu dengan sorot mata sangat menyalahkan. “Kamu mau nyalahin aku lagi?” tanyanya dengan nada datar sambil terus menatap mataku dari seberang meja makan.</p>
<p>Ia masih mengenakan kimono hitam tipisnya yang tadi sempat kukenakan. Tali kimono dibiarkannya tidak terikat hingga separuh tubuhnya terlihat jelas. Rambut merahnya pun masih belum benar-benar kering, hingga penampilannya secara keseluruhan terlihat agak menakutkan.<br />
“Ini memang yang kamu mau ‘kan, Mbak?” tanyaku kembali dengan nada tajam.<br />
Mbak Ida menggelengkan kepala sambil memejamkan mata.<br />
“Nggak”, jawabnya singkat.<br />
“Kamu terlalu memaksakan dia untuk menjadi seperti kamu”, lanjut Mbak Ida sambil berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah rak buku di sudut ruang tamu. Aku diam saja, sambil terus mengikuti ke mana jalannya tubuh semampai itu.<br />
“Apakah itu salah?” tanyaku padanya, seperti tidak mengharap jawaban.<br />
“Nggak!” jawab Mbak Ida tetap membelakangiku.<br />
“Sama sekali nggak salah.”</p>
<p>Aku tetap terdiam sambil menatapnya mengambil sebuah buku dan membalik-balik beberapa halaman, menyelipkan sebuah pembatas halaman pada halaman yang dikehendakinya, lalu kembali menghampiri meja sambil menatap wajahku. Diletakkannya telapak tangan kirinya di bahuku sambil memijit-mijit kecil, aku membiarkannya berbuat begitu sambil menunggu kata-katanya lagi.</p>
<p>“Orang seperti kamu, yang kepala batu dan berambisi tinggi…” katanya seperti setengah berbisik, “…yang merasa serba bisa, dan merasa paling kuat…” Ia berhenti sejenak sambil mengangkat tangannya dari bahuku, “…pengen mencoba merubah kehidupan seorang yang lugu seperti Nova? Agar dia bisa jadi seperti kamu? Agar dia bisa hidup bahagia dan bebas seperti kamu? Agar dia bisa memilih ke mana akan hinggap dan tidak harus menunggu dihinggapi?” Cerocosnya dengan nada menyalahkan, ia menyebutkan kembali semua kalimat yang pernah kukatakan padanya tentang filosofi hidupku, tentang ambisi pengejaran cita-cita dan pola pikir “struggle for excellence” yang selama ini aku anut. Entah kenapa, tapi kata-kata Mbak Ida seperti membuatku jadi merasa makin tidak enak dan merasa bersalah. “Cobalah sekali-sekali ngaca, Sar!” Serunya lagi sambil meletakkan buku yang baru diambilnya di hadapanku, “Coba pikir siapa sebenarnya kamu… apa yang sebenarnya kamu kejar… apa kamu yakin kalau orang lain juga bisa mengikuti pola pikir kamu?” Dagunya bergerak ke atas sedikit, memberiku komando agar melihat ke arah buku yang diletakkannya tadi.</p>
<p>Tanganku bergerak meraih buku hard cover bersampul cokelat gelap itu, Becoming a Person of Influence judulnya. Pelan-pelan aku membuka halaman yang oleh Mbak Ida telah diberi pembatas. Di situ tertulis sebuah salinan dari sebuah batu nisan di Inggris, yang bunyi terjemahannya kurang lebih begini, “Semasa mudaku, aku bercita-cita mengubah sikap dunia. Namun ternyata tidak mudah. Setelah aku beranjak dewasa, aku bercita-cita mengubah sikap negaraku. Namun ternyata tidak mudah juga. Setelah aku beranjak tua, aku bercita-cita mengubah sikap keluarga dan sahabat-sahabatku. Namun ternyata sudah terlambat. Kini, di akhir hayatku aku terpikir, seandainya sejak awal aku mengubah sikapku sendiri, mungkin keluarga dan sahabat-sahabatku akan ikut berubah sikap, dan mereka bisa membawa perubahan pada negaraku. Dan jika negaraku berubah lebih baik, pengaruhnya akan mengubah sikap dunia menjadi lebih baik.” Sejenak aku merenungi tulisan yang baru kubaca. Tulisan itu seperti menyadarkan diriku tentang apa yang seharusnya lebih kupikirkan tentang diriku, tentang masa depanku, dan tentang kehidupan orang lain di sekitarku.</p>
<p>Lama setelah itu, Nova muncul dari kamar mandi dengan mengenakan kimono handuk berwarna merah muda. Tanpa berkata apa-apa dan tanpa melihat ke arahku, ia mengambil pakaian kerjanya di meja makan, lalu membawanya kembali ke kamar mandi, untuk beberapa detik kemudian ia keluar lagi dengan sudah mengenakan pakaian kerja yang tadi dipakainya kemari. “Aku rasa sudah waktunya kalian untuk pulang”, ujar Mbak Ida dengan nada datar sambil tidak melihat ke arah kami. Tanpa banyak basa-basi, aku dan Nova melangkah keluar ruangan. Di beranda, Lubas Herera memandangi kami dan berjalan mengikuti kami sampai ke gerbang yang tidak terkunci. Aku melangkah masuk ke Katana hijauku, dan Nova menyusul setelah menutup gerbang dan mengunci gemboknya, meninggalkan Lubas Herera yang kini berdiri dengan dua kaki belakangnya hingga kepalanya seperti melongok keluar dari lubang di gerbang kayu itu. Tatapan bodohnya mengiringi kepergian kami.</p>
<p>Di dalam mobil, Nova meminta maaf padaku dan mengatakan bahwa ia melakukannya padaku tadi karena menyayangiku. Aku menarik tubuhnya dan membiarkannya bersandar pada bahu kiriku sementara aku mengemudi. Kubiarkan ia menangis sejadi-jadinya di bahuku. Meratapi kesepiannya sekarang, meratapi kesendiriannya di kota S, kota yang semula dijadikan tumpuan harapannya untuk masa depan yang baik. Sambil mengemudi, tanpa terasa pipiku sendiri juga dialiri air dari mataku. Aku menenangkan Nova dan menyatakan pengertianku padanya.</p>
<p>Kami berjanji untuk tetap tidak mengulangi kesalahan yang seperti tadi, sekaligus menyatakan diri untuk saling menganggap adik-kakak, agar hubungan kami lebih dari sekedar teman sekerja. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk lebih memberikan pengertian pada Nova, bahwa perburuan yang selama ini terjadi bukannya didasari oleh pemuasan kebutuhan, melainkan untuk mencari yang terbaik. Oke, kadang-kadang memang ada dorongan yang tak terelakkan untuk lebih mementingkan kebutuhan diri. Namun pikiran logis dan akal sehat tetap harus menduduki prioritas pertama. Aku mengantar Nova kembali ke pondokannya, lalu memacu Katana hijau sekencang-kencangnya kembali ke The Huntress’s Lair nama yang diberikan oleh The Big D untuk tempat tinggalku di apartemen P di ujung barat kota.</p>
<p>Nah, ceritanya sudah selesai. Sekedar info, teman saya Nova itu kini sudah menikah dengan seorang banker sukses, dan memiliki seorang anak laki-laki yang manis seperti ibunya. Sebenarnya banyak petualangan yang saya lewatkan bersamanya. Namun kini ia tidak lagi mengembara, tidak juga menggantikan posisi lama saya di kantor. Ia lebih memilih hidup bahagia bersama keluarganya dan mengelola usahanya sendiri. Mbak Ida kini juga sudah pensiun dari avonturirnya. Ia hijrah ke Aussie untuk menetap bersama kekasihnya, seorang wanita pengusaha yang juga sukses di bidang real estate. Sementara saya sendiri? Well, goals saya adalah mencapai posisi tertinggi di kantor dalam beberapa bulan ke depan, menikah, lalu mengundurkan diri dari jabatan bergengsi itu untuk mengelola bisnis sendiri bersama pasangan saya. Semoga apa yang saya pelajari dari kehidupan ini bisa berguna untuk masa depan saya, dan masa depan generasi berikutnya. Semoga juga saya mampu memperbaiki diri saya sendiri dulu, seperti di kutipan buku yang ditunjukkan Mbak Ida pada saya tadi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis manis di saat ospek kampus</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma belajar di Bandung ini. Siapa tahu bisa jadi tukang insinyur. Aku tinggal di kawasan Dago, menempati sebuah rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan beberapa kamar kosong. Hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma belajar di Bandung ini. Siapa tahu bisa jadi tukang insinyur. Aku tinggal di kawasan Dago, menempati sebuah rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan beberapa kamar kosong. Hanya ada aku, seorang pembantu yang cukup tua dan dua ekor anjing peliharaanku serta beberapa ikan di dalam akuarium di sudut ruang tamuku. Keluarga pamanku tinggal di Inggris, karena tugas belajar yang harus ia lakukan.</p>
<p>Berawal dari inisiasi dan orientasi kampus yang dilakukan kakak-kakak tingkatanku, aku berkenalan dengan seorang teman gadis bernama Santi. Gadis yang manis, dengan tinggi sekitar 160 cm, berkulit kuning langsat. Waktu itu, aku sangat kasihan kalau melihat ia menerima hukuman yang menurutku sangat dibuat-buat oleh seniorku. Disuruh mencium-lah, meraba, dan push-up di bawah mereka. Akh… sialan, seribu topan badai! Aku sungguh tidak terima dan biasa gaya sok jagoanku muncul. Kudekati seniorku dan kuhajar dengan beberapa jurus perkenalan dariku. Yah, gini-gini aku cukup menguasai karate dan pencak silat, menyerang dan bertahan, dua hal yang sangat kusenangi. Maklumlah aku suka berkelahi dari kecil.</p>
<p>Beberapa senior pun mulai mengeroyokku. Sambil tentu saja, terjatuh-jatuh menerima tendangan dan libatan tanganku. Apa hendak dikata salah satu senior, yah mungkin ia termasuk pimpinan mahasiswa di kampusku melerai kami dan memberi hukuman pada kami semua. Lari-lari mengitari kampus sambil menyanyi dan menari, dasar!</p>
<p>But never mind, yang terpenting gadis manis itu tidak lagi digoda dan diganggu. Mungkin mereka malu atau takut kalau selesai masa yang harus dilalui mahasiswa baru ini bakal ketemu aku dan bisa benar-benar kuhajar mereka. Bagaimanapun yang lemah harus dibela.</p>
<p>Seminggu kemuRatna, baru kutahu gadis itu satu kelas denganku dan kami pun berkenalan.<br />
“Hai…, terima kasih yah kemarin kamu menolongku. Gara-gara aku, kamu jadi kena masalah deh.” Hey dia menyapaku duluan.<br />
“Ah ndak kok, itu sih urusan kecil buatku”, sambil tersenyum kusapa balik.<br />
“Oh, yah kita belum berkenalan kemarin, nama kamu siapa?” Aku bertanya seolah aku belum tahu namanya. Hi.. hi.. padahal aku sudah tahu namanya dari senior-seniorku.</p>
<p>“Santi, kamu?” Duh mak, nih gadis benar-benar manis sekali, senyumnya aah…, apalagi matanya, bulat dengan alis yang tertata rapi berwarna hitam, serasi sekali</p>
<p>“Hey… kamu kenapa?” Duh ketahuan kalau lagi terpana. Eh, nih anak pakaian dan celananya seksi and ketat sekali, mengundang perhatian cowok, pikirku. Beda sekali denganku, celana jeans belel dengan kemeja panjang kedodoran, potongan rambut pendek cepak dan memakai jam tangan yang besar. Pokoknya aku senang seperti ini, dulu aku terkenal cool di antara teman-teman cowok SMU-ku di Malang.</p>
<p>“Ah.. yah.. namaku Ratna, lengkapnya Dian Ratnasari. Tapi kamu boleh panggil aku apa saja, tapi Ratna lebih nikmat kedengarannya, he.. he.. he.” Jadi grogi juga nih.</p>
<p>“Hmm.., kamu tinggal di mana?” tanyaku, siapa tahu kan nanti dia lebih rajin punya catatan, kan bisa kupinjam. Dasar otak nakal dan pemalas. Aku heran juga, dari kecil aku tidak suka belajar tapi aku bisa dengan mudah menerima apa pun dalam otakku. Bukannya sombong tapi yah.., cuma begitu saja.</p>
<p>Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri, ketika ia menegurku, “Ian, kamu duduk di sebelahku yah”, pintanya. Aku hanya manggut-manggut saja mengiyakan sambil terus berjalan menuju kelas kami.<br />
“Eh, kamu ini lucu juga yah, dari tadi senyum-senyum sendiri hihihi”, ia tertawa kecil. Duh maak manisnya temanku ini.</p>
<p>Tiba-tiba dari arah belakang terdengar kegaduhan kecil, ternyata segerombolan cowok-cowok mengganggu dan mempermainkan salah seorang teman kami yang lebih kecil ukurannya dari mereka, mungkin sekitar 155 cm. Oh, yah aku sendiri 172 cm dan beratku 60 kg. Cukup tinggi besar untuk ukuran cewek kali, yah?</p>
<p>Lagi-lagi aku belagak nih, padahal memang tanganku gatal ingin meninju orang, habis sedang gregetan nih sama Santi. Kusambar salah satu cowok dan tendanganku sangat tepat bersarang di bawah perutnya, yah si-xxx, tahu temannya menjerit, mereka berhenti dan memandangku. Ada kemarahan di wajah mereka, namun aku tidak tahu kenapa, mereka langsung ngeloyor pergi sambil membantu temannya berjalan. Akh, aku puas juga. Sejak saat itu, aku cukup disegani di kampusku, mungkin juga mereka telah membaca biodataku di buku tahunan.</p>
<p>Kembali menjajari Santi, aku bertanya lagi, “Eh, di mana rumah kamu?”.<br />
Dia tersenyum, “Kamu masih inget dengan pertanyaanmu setelah berkelahi barusan?”, berkata begitu, tangannya menempel di pundakku dan turun menggandeng tanganku.<br />
“Yah, sekali lagi, itu hal kecil buatku, habisnya mereka seenaknya mengganggu orang lain”, gumamku sambil menikmati sentuhan alami lengan dan jari-jari kami yang saling mengait.<br />
“Ah, sudahlah, jangan dibicarakan lagi”.<br />
Bosan juga aku, kan aku pingin tahu tentang anak satu ini eh, malah melenceng dari pokoknya.</p>
<p>“Aku tinggal di Taman Sari”, jawabnya. Akhirnya meluncur juga jawabannya.<br />
“Tinggal dengan siapa?”, tanyaku agak bingung, maklum sendirian sih aku.<br />
“Kost, ama teman-teman juga.., banyak kok”, Ia menjawab sambil memilih tempat duduk untuk kami berdua. Ok, di pojok belakang, jadi aku bisa tidur nih.<br />
“hh, boleh main nih, aku bosan sendirian di rumah”, timpalku.<br />
“Aksen kamu sepertinya bukan dari sini, kalau aku dari sekitar sini juga sih, kamu bukan orang sini, kan?”, Ia balik bertanya padaku. “Iyah, aku bukan orang sini, tapi aku tinggal di rumah pamanku, sekalian jaga rumahnya.”</p>
<p>Kuliah pertamaku dimulai, akh bosan rasanya. Tanpa sengaja tanganku merangkul kursi sebelah dan menempel di punggung Santi. Antara sadar dan tidak, maklum mengantuk, aku seperti merasakan gesekan halus di tangan kananku. Jantungku berdesir dan mulai berdegup kencang.</p>
<p>Kutengok, ternyata punggungnya benar-benar ia gesekkan ke tangan kananku hingga jamku pun tertarik ke atas-bawah, ke kanan-kiri, akhh aku mulai menikmati permainan ini. Bibirnya terbuka sedikit, ia menengadah dan lehernya yang jenjang kulihat sangat menantangku. Akh, aku ingin mengecupnya, duh aku bergetar. Ada apa ini?</p>
<p>Aku duduk dengan gelisah, akh dia mempermainkan nafsuku. Aduh bisa pening aku dibuatnya. Aku berdoa, semoga kuliah ini cepat selesai. Dengan sedikit keberanianku, Iih.., aku takut kalau ketahuan teman lain. Telapak tangan kananku mulai meraba dan meremas bahu dan terus turun ke punggung, pinggang, dan berhenti di antara dua kantong saku di belakang jeansnya. Ia mulai menggoyang pantatnya, geser depan-belakang, kanan-kiri. Kuremas salah satu pantatnya yang muat juga di tanganku. Hehehe ternyata cukup kecil, tapi kenyal, dan enaak sekali. Nafasku pun memburu dengan cepat. Akhh lamanya kuliah ini.</p>
<p>Akhirnya, kuliah selesai juga. Permainan kami pun berhenti. Aku tersenyum dan ia pun membalas senyumku dan mengajakku ke belakang (toilet wanita). Duh, gila juga Santi, apa orang sini berani-berani yah. Tanpa ba-bi-bu kuikuti langkahnya dan pokoknya kami sudah ada di dalam. Cukup sepi, karena terhitung masih pagi, belum ada yang ke belakang. Aku bersyukur juga. Lagian yang namanya makhluk berjenis kelamin perempuan tidak begitu banyak. Aku pikir-pikir cukuplah bermain 15 menit.</p>
<p>Aku duduk di closet dan dia kupangku. Kepalanya tepat di hadapanku. Kami hanya berjarak berapa inchi saja. Nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Hidungnya yang agak mancung, ia gesek-gesekkan di hidungku, ih geli juga. Aku tidak tahan.</p>
<p>“Hey, I can lift you”, sambil tersenyum ia berkata.<br />
“Aku cuman 48 kok, San”, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kugendong ia dan aku duduk kembali. Ia tertawa lirih.</p>
<p>Tanganku terus meraba paha, terus ke belakang, meremas pantatnya ke atas menelusuri pinggang dan mulai menyelusup di balik kaus ketatnya, tiap gunung kembar itu teraba olehku nampak kausnya bertambah padat dan ia busungkan dadanya sambil menggeliat menahan nafsu birahinya, duh menempel di punyaku, menekan dan, “Terus.., lagi.., dan…” Aku tak sabar, kubuka kaus ketatnya dan gila, Santi benar-benar berbody indah, aku merasa yang di bawah mulai berdenyut-denyut. Bra-nya yang putih kecil, seakan tak mampu menutupinya, kubuka sekalian, dan nampaklah gunung itu atau bisa dikata bukit sajalah. Kecil dan menantang, kuelus dan kujilati, akh harum, keringatnya mulai keluar satu-satu agak asin. Akh, aku semakin gila. Kuremas pantatnya, kutekan ke selangkanganku, akh ia meremas rambutku dan menekan kepalaku tepat di belahan itu. Akhh! ia mulai menjepit kepalaku, akhh aku hampir tak bisa bernafas. Gila kencang sekali mainnya! Kecil-kecil cabe rawit. Duh, nafasku sesak nih. Sambil terus kutekan pantatnya ke perutku.</p>
<p>Akh, lepas juga kepalaku setelah itu ia menjerit pelan, kaget juga aku, kenapa dia? Baru sekali ini aku melakukan permainan kait-mengait. Apalagi dengan seorang gadis. Eeh, apa dia masih gadis? Entar kutanya, tapi mataku sempat melirik jam tanganku dan aku mengerti permainan ini harus ditunda, ada kuliah lagi.</p>
<p>Kukecup lembut dan lidahku masih ingin melumat kedua bukit itu, kupasang kembali bra dan kaus ketatnya.<br />
“Entar lagi, yah”, kataku, ia tersenyum.<br />
“Makasih, Yan”.<br />
Kutepuk-tepuk pantatnya dan segera kuputuskan.<br />
“San.., kamu mau pindah ke rumahku?”, tanpa pikir panjang juga ia mengangguk. Kuturunkan dia dan aku merasa CD-ku seperti lembab dan lengket.</p>
<p>“San, entar dulu yah”, sambil kubuka retsluiting celanaku dan kuraba yang di balik CD-ku yaitu selangkanganku. Jariku basah seperti ada jelly. Ada apa nih? Seketika kubuka agak lebar dan aku melongok untuk melihatnya lebih jelas. Santi meraih jariku yang basah dan menghirup serta menjilatinya, “Enak, asin, gurih, harum selangit!” terpana aku melihat mulutnya yang bergetar ketika menggumamkan kata-kata itu.</p>
<p>Tangannya menuntunku memasuki celana ketatnya dan terus ke bawah dan di balik CD-nya, basah juga. Kenapa kami, yah? Bingung juga yah aku waktu itu. Hehehe, aku mulai menyukai permainan ini. Telapak tanganku ternyata cukup menutupi selangkangannya, ia gesek-gesekkan dan aku mulai menekan kemaluannya, jari tengahku mulai bermain-main kesana-kemari. Kembali Santi menggeliat dan mengerang lirih. Duh, apa toilet ini memang kosong yah? Gila juga nih anak, pakai acara mengerang segala apalagi pakai menjerit.</p>
<p>Eh, seakan ia tahu apa yang kupikir, ia berhenti dan hanya menggigit bibirnya. Aku tidak tahan, kulumat lagi bibirnya dan kubuka pelan dengan mulutku, dan kami berpagutan lagi. Lidahku dan lidahnya berkaitan dan lama. Matanya terpejam dan akh.., aku menemukan daging kecil di dalam, jariku menerobos dan mulai masuk sedikit.</p>
<p>Tiba-tiba meluncur pertanyaan di otakku, refleks kukatakan padanya, “San, kamu pernah melakukan beginian?”.<br />
Ia menjawab pelan, “Belum, Yan.., baru sama kamu.”<br />
“Jadi kamu masih gadis, masih punya selaput?”, kataku.<br />
“Iya, masih. Pelan aja Yan entar sakit.”<br />
“Maaf, San. Lebih baik nggak sekarang, ada kuliah kan.”</p>
<p>Kulihat Santi kecewa, tapi demi amannya saja sih, padahal sungguh aku bodoh sekali pelajaran biologi, jadi aku tidak tahu berapa jarak selaput itu dari luar vagina. Kutarik jariku dan ia pun menjilatinya sampai bersih. Ok, entar lagi. Nikmat juga jilatannya.</p>
<p>Singkat cerita, Santi pindah ke rumah tinggalku dan dia tak mau beda kamar. Inginnya satu kamar denganku. Yah, tidak apa-apa sih, lumayan ada yang menemani. Aku memiliki kebiasaan bermain gitar di sore hari, karena hanya gitar yang bisa kumainkan. Kini tiap kali aku mainkan senar gitar Santi selalu menyanyi merdu hanya untukku seorang. Terkadang aku duduk di kursi malas beranda luar menghadap taman dalam. Santi datang dan duduk mengangkangi kedua kakiku. Ia suka sekali memakai daster pendek di atas lutut dengan CD yang terlihat bila angin bertiup agak kencang atau ketika ia mengangkat kakinya. Pokoknya hal-hal mudah seperti itu sudah cukup merangsang nafsuku. Apalagi bila malam tiba, Santi memakai kimono sutra yang sekali talinya kubuka, nampaklah semuanya.</p>
<p>Tiap malam ia membuatkan aku susu kegemaranku. Saat aku asyik duduk di komputer sedang online atau mengerjakan tugas, Santi menghampiriku dan menempel di punggungku. Hal ini sangat kusukai dan Santi tahu itu. Aku merasakan lekukan bibir kemaluannya, bukitnya dan ia menempelkannya, merenggangkannya akhh.., mengaduk-aduk emosiku. Segera aku membalikkan badanku. Kurengkuh tubuhnya dan kukempit kakinya dengan kedua pahaku yang kuat, kadang Santi meronta dan aku pun melepaskannya, biasa kami berlarian seperti dua orang kakak beradik bermain kejar dan tangkap. Aku sungguh menyukai permainan ini. Kadang Santi tiba-tiba mengerem dan membalikkan tubuhnya dan tentu saja aku menubruknya dan jatuh bersama bergulingan saling menindih. Nafas kami yang tak beraturan karena berlari-lari saling memburu dengan kecupan-kecupan yang semakin menambah ketidakberaturannya nafas kami. Buah dada kami saling menggesek dan, “Berat ah.. Yan”, aku lalu dengan sigap ganti posisi di bawah, dan ia menyeringai puas karena Santi sangat tahu aku sangat menyayanginya dan tidak mau ia merasa sakit atau apapun. Dan mau tahu apa yang ia lakukan tiap itu terjadi? Santi mengambil susu itu dan menuangkannya di vaginanya dan aku menjilatinya hingga kepuasan yang amat sangat pada kami berdua. Coba saja deh atau kalau siang bisa saja pakai es sirup, dengan dingin yang mengalir pelan rasakan.</p>
<p>Kami saling menjaga, menyayangi, dan berusaha memberikan kepuasan. Namun pernah suatu ketika ia sakit demam, duh aku bingung sekali. Kukompres ia kalau panas dan kuselimuti ia sewaktu dingin menyerangnya. Tapi ia tak mau selimut, ia mau tubuhku menyelimutinya dan sekali lagi ia sangat tahu kalau aku benar-benar hanya bertindak sebagai penghangat tubuhnya dengan kekhawatiran di wajahku yang sangat dihafalnya. Santi sangat menyukai sikapku yang melindungi dan menyayanginya. Sikap yang dapat membedakan kapan bermain dan kapan harus menjaga dan merawat.</p>
<p>Santi sangat akrab dengan keluargaku, begitu juga aku. Keluarganya dan keluargaku telah saling mengenal dan tidak mempermasalahkan hubungan kami. Aku bungsu dari empat bersaudara, kupunya 1 orang kakak laki-laki dan 2 kakak perempuan sedangkan Santi sulung dari tiga bersaudara, 1 orang adik perempuan dan 1 orang adik laki-laki. Kemana pun kami selalu berdua, ke supermarket beli bahan kebutuhan sehari-hari, ke mall untuk cari pakaian atau keperluan lain, ke toko-toko buku, ke bioskop buat nonton, dan lain-lain kecuali kalau aku dan ia sedang memiliki aktivitas yang berbeda. Aku senang berorganisasi dan berolah raga sedangkan ia suka melukis dan bermain musik.</p>
<p>Dini hari saat fajar tiba, sambil tidur aku selalu merasakan sesuatu yang berdenyut di bawah dan refleks aku menempel lekat ke tubuhnya, entah itu punggung dengan sentuhan pantat hangatnya atau langsung perut dengan bukit kembar dan selangkangan yang mengaitku. Santi mengerti kebiasaanku di setiap fajar dini hari dan kami pun saling menggesek.</p>
<p>Sekali merengkuh tubuhnya, ia jatuh menindihku dan berbaring tiduran di tubuhku. Enak katanya, merasakan pelukanku yang hangat, maklum kota ini lumayan dingin. Pokoknya kami melakukan itu kapan saja. Tidak ada bosan-bosannya, soalnya kami mulai ahli sih. Kami mengubah posisi setiap kali mulai bosan dan yahud juga!</p>
<p>Aku mulai mengerti apa yang namanya liang garba itu. Wah, indah sekali, berapa jarak selaputnya, apa itu clitoris, dan perlu dicatat, sampai kini selaput itu belum robek. Aku tidak mau kalau ia sakit, jadi mulutku hanya mengecup, mengulum dan lidahku menjilati agak ke dalam. Ia sangat menyenangi posisi di atas dan aku di bawah. Terkadang aku bertahan cukup lama, kasihan Santi sudah 2-3 kali keluar baru aku keluar. Kalau aku tentu saja suka posisi kaki saling mengait dan selangkangan kami saling menempel dan bergesek semakin kencang, jadi kami bisa orgasme bersama. Tahu kan caranya. Begini, kuangkat kaki kirinya, kuselipkan kaki kiriku, dan kedua kaki kami saling membelit. Posisi ini menyebabkan cairan kental dari kedua kemaluan kami yang keluar bersamaan bercampur dan euunaak sekali. Kadang dengan cara ini Santi sudah sangat kewalahan mengatur nafas, memekik dan menggeliat kencang, tempat tidurku pun berantakan tiap kali kami main di kamar. Perlu dicatat, selesai permainan dan mandi, tempat tidurku kembali sangat rapi karena Santi orang yang sangat rajin dan menjaga kebersihan. Tidak sepertiku, ceroboh.</p>
<p>Kalau di dapur saat ia memasak aku merengkuhnya dan mengecup lembut lehernya serasa kami sepasang suami istri selayaknya, mendudukkannya di meja dan biasa aku rentangkan kedua paha itu dan mulai mencumbuinya, kubuka celanaku dan kugesekkan CD-ku ke CD-nya. Enak lho. Kalau kami bermain di kamar mandi, yah seperti dua anak kecil yang berteriak-teriak kegirangan saling menyiram tempat-tempat sensitif yang sudah sangat kami hapal sambil menciumi tempat-tempat itu. Bath-up yang sudah mulai terisi dengan busa sabun kuoleskan ke seluruh tubuhnya, terutama di-xxx-nya, pelan karena aku takut kalau ada apa-apa. Santi senang sekali telentang di atas tubuhku, “Nyaman, Yan?” katanya sambil mencari di mana pinggangku. Kupeluk erat ia, kurasakan gunungku menekan punggungnya dan satu hal aku nggak senang posisi ketika ia membalikkan badannya tepat ke arahku (di bath-up). Pernah ia coba dan aku tidak enjoy melihat kesulitannya mencumbuiku.</p>
<p>Permainan di beranda pun kami buat berbeda, seperti sepasang kekasih yang tenang saling membelai dan menata taman sambil tiduran di luar, kami sangat menikmati tidur di atas rumput yang lembut. Cuma kadang aku sangat risih melihat semut. Jadi kami nggak begitu memaksakan diri tiduran di taman. Atau aku cemburu dan takut sama semut, kalau-kalau semut itu memasuki area xxx dan menggigit vagina kekasihku. Akhh kan kasihan Santi hanya bisa meringis kesakitan. Nah, kalau yang ini, di tempat tidur kami seperti dua orang gila yang selalu tergila-gila. Banyak posisi yang kami lakukan, pasti kalau dapat dengan alami melakukanya. Intinya cuma satu, ikuti kata hati, kalau mau stop ya stop, mau nge-sun, sun saja, mau membelai, belai aja, kalau mau maju yah maju, kalau mau ganti yah ganti posisi, begitu saja, sepele. Dan seperti telah menjadi suatu kewajiban bagi Santi untuk selalu membersihkan punyaku dan aku begitu juga, menjilati dan saling menghangati kedua vagina kami dengan telapak tangan yang saling kami selipkan di antara kedua paha kami dan hehehehe. Hangat kan, coba deh.</p>
<p>Pernah suatu ketika aku berkonsultasi ke seorang ahli dan beliaunya menjawab kalau aku sebenarnya termasuk transexsual, berjiwa dan bertingkah laku laki-laki namun tubuh wanita, jadinya setengah-setengah dengan hormon yang lebih banyak jenis laki-laki. Yang umum sih salah satu lebih besar dan mengikuti hormon kelaminnya. Kalau aku mau, kata beliaunya bisa saja bedah kelamin. Tapi biaya yang dikeluarkan pun sangat besar. Yah, sudahlah aku seperti ini saja. Dan selama ini Santi selalu mendampingiku entah sampai kapan. Sudah dua tahun ini aku nyambi bekerja di kontraktor dan aku menikmatinya. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku sebenarnya sanggup menghidupi kami berdua dengan 3 orang sekaligus, misalnya. Mungkin selesai kuliah ini, selesai semuanya. Aku pernah tanyakan kepadanya dan ia hanya tersenyum saja. Ia berkata “Yan, jangan pikir sekarang, apa yang terjadi besok adalah misteri bagi kita semua, kecuali hal-hal yang telah kita persiapkan”, dan kalian tahu sampai saat ini aku belum tahu apa maksud dari perkataannya.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>petualanganku menjadi lesbian bersama Margie, Ilen dan Elang</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/petualanganku-menjadi-lesbian-bersama-margie-ilen-dan-elang.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/petualanganku-menjadi-lesbian-bersama-margie-ilen-dan-elang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2352</guid>
		<description><![CDATA[Panggil aku Margie. Masih single, dan (semoga terlaksana) akan menikah beberapa bulan lagi. Aku sobat kentalnya Sang Elang yang badung itu. Kalian pasti sudah baca pengalamannya yang unbelievable. But, I’m the witness. He’s a lucky one! Apa lagi yang aku mesti kasih tahu? Ini saja aku sudah nekat, berani malu, karena namaku sudah diketahui. Nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Panggil aku Margie. Masih single, dan (semoga terlaksana) akan menikah beberapa bulan lagi. Aku sobat kentalnya Sang Elang yang badung itu. Kalian pasti sudah baca pengalamannya yang unbelievable. But, I’m the witness. He’s a lucky one! Apa lagi yang aku mesti kasih tahu? Ini saja aku sudah nekat, berani malu, karena namaku sudah diketahui. Nama asli. Elang juga sih, mentang-mentang paling cuek, paling badung, paling gila, dia dengan asyiknya bercerita segalanya. Srida, itu asli. Ilen, itu juga. Setahuku yang disembunyikannya adalah nama istrinya. Venus ya, dia bilang? Bohong! Aslinya khan…, sudah deh, paling disensor sama si Dayak itu. Elang memang sableng. Kerjanya tiap hari pasti cerita yang aneh-aneh. Dia suka hal-hal yang berbau magis dan serem (bagiku). Dan dia pernah mengaku kalau cita-citanya dulu itu adalah menjadi vampire. Biar gampang naklukin gadis-gadis, begitu ‘udel’nya. Dan satu lagi kegemarannya. Dia paling doyan juga segala hal yang berbau ngeres. Tiap hari dia punya cerita soal seks. Kadang aku bilang sama dia, “Lang, segala hal pastilah mengingatkanmu pada seks!” Si tengil itu cuma nyengir. Salah seorang rekan di divisiku malah menyebutnya germo. Karena teman ceweknya banyak, dan tidak tahu kenapa, artis-artis yang suka main ke kantorku bisa cepat akrab sama dia. Eh, aku kok malah cerita soal Elang. Ke-GR-an entar dia. Aku satu divisi sama Elang sejak aku masuk kerja. Atasanku seorang (kataku masih, kata Elang nggak) perawan tua. Sedangkan empat orang lainnya yang sudah kawin dua orang, plus Elang. Selain itu aku punya teman dari divisi lain. Salah satunya bernama Eca. Eca ini anak Bandung, suaminya orang Jakarta. Sama-sama kerja di kantorku. Eca di administrasi, suaminya di teknik. Sebelumnya sorry, kalau nama Eca yang asli kusembunyikan, aku tidak setega Elang. Tapi kalau ketahuan juga, (seperti kata Elang) cuek sajalah. Toh, di kantorku juga banyak yang rahasianya sudah diketahui umum. Paling kalau ada teman sekantor yang baca, dia nyengir-nyengir kalau ketemuku. Atau malah kalau salah seorang penyiar kondang di kantorku (yang ketahuan memang punya kelainan itu) mendekatiku, pengen mencoba ‘main’ denganku. Aku pasang tarif saja. Hihihi, lumayan buat modalku kawin. Eca ini suka sama Elang, suka-suka gitu deh. Kalau menurutku, paling dia suka sama bulu Elang yang lebat di mana-mana itu. Kecuali di ’situ’, aku tidak pernah lihat sih. Elang sih bilang kepadaku kalau Eca pernah menggodanya di ruang presentasi departemen kami. Aku pertama nggak percaya, tapi setelah kilik-kitik si Eca, dia memang kelihatannya suka. Aku bilang Elang, sikat saja. Elang hanya bilang, “Mending sama kamu. Single dan tidak bikin masalah. Kalau ketahuan si Ndoet gimana? Lagian bentar lagi aku menikah kok.” Ndoet itu suami Eca. Iya Elang memang akan menikahi Venusnya. Dan dia lumayan ‘kaku’ untuk berbuat macam-macam sama cewek lain. Kecuali dengan Srida dan Ilen (kecelakaan, ujarnya), dia ‘lurus’. Aku tahu, karena aku dan dia selalu berbagi rahasia. Senang-senang boleh, katanya, tapi cuma gitu doang, tidak menjurus ke ranjang. Salut juga aku. Padahal sih banyak yang mendekati dia. Sudah ah, hidung si Elang makin mengembang entar, kalau aku membanggakan dia. Suatu malam Eca meminta aku datang menemaninya saat suaminya harus memasang stasiun transmisi di luar kota. Dia dan aku bercerita, saling berbagi rahasia. Dia mengatakan lagi padaku kalau dia tertarik kepada Elang. Eca cerita fantasinya tentang Elang. Dia memintaku menelepon Elang, karena Elang adalah teman baikku. Entah mengapa, aku tertarik dengan ceritanya dan fantasinya terhadap Elang, aku setuju untuk menelepon Elang. Kami menuju ruang tamu Eca dan menelepon Elang. Kami berdua duduk berdekatan di dekat telepon, menempelkan telinga di gagang telepon. Mendengarkan percakapanku dengan Elang. “Elang, aku di tempatnya Eca nih.” “Heh, ngapain?” “Nemenin Eca. Suaminya ke Sumatera”, kataku. “Eh, lu ke sini dong.” “Nggak ah.” “Ayolah, aku mau ngajak lu ke Bengkel. Eca tidak pernah diajak lakinya having fun nih.” “Pergi saja.” “C’mon Lang, you’re my best friend.” “Bentar lagi ya. Aku mesti mandi dulu. Habis tennis tadi di Senayan.” “Oke. kutunggu.” “Eh, omong-omong, kamu dan Eca pakai baju apa sekarang?” “Kenapa?” “Aku mau kalau aku datang, lu-lu pada pakai baju yang seksi. Tembus pandang kek, mini kek.” Gokil si Elang datang lagi. “Wuuuuu…” “Kalau nggak, aku balik lagi.” “Sudah ah! Cepat ke sini.” “Iya, iya. Sabar napa?” “Pokoknya kutunggu.” “Tidak mesti bawa Venus khan? dia paling ogah ke tempat gituan.” “Iya.” Telepon pun ditutup. Aku hanya tersenyum waktu Eca bilang kalau dia terangsang mendengar suara Elang yang katanya seksi. “Gimana kalau kutelepon lagi dia? Kali ini lu yang ngomong”, kataku pada Eca. “Ah, malu dong.” “He! Dia asyik-asyik saja kok kalau diajak bicara.” “Gila apa?” “Benar. Lu bisa cerita apa saja ke dia.” “Tapi khan dia entar ke sini.” “Nanti ya nanti. Sekarang lu puas-puasin dengerin suaranya itu. Beda lho di telepon dengan yang langsung. Di telepon itu, gimana ya? Lebih menggairahkan”, kataku sambil tanganku meraih gagang telepon kembali. Eca cuma bisa diam memandangku. Telepon Elang kembali diangkat, aku memberikan kepada Eca setelah bilang ke Elang, “Anggap saja ini telepon 0809 itu, Lang.” Maksudnya telepon Japati yang tarifnya bikin kantong kebakar itu. Sinting tuh, orang yang mau dikibulin gitu. Aku meninggalkan Eca, menuju kamar tidurnya. Di situ pun ada telepon yang diparalelkan. Dengan hati-hati aku menguping. Biasalah, perempuan dimana-mana suka yang kayak gini nih. Pertamanya Eca agak canggung. Tapi kemudian nggak. Apa lagi ketika Elang mulai miring. Menggoda Eca dengan bermacam pertanyaan, apalagi dia tahu Ndoet tidak ada. Gila tuh Elang. Sex Maniac! Aku tersenyum sendiri mendengar gombalnya Elang. Makin lama makin parah omongan mereka berdua. Ya itulah Elang, kalau sekedar gini doang, pasti diladeninya. Ada-ada saja yang diceritainnya. Aku senang mendengar mereka berdua cepat akrab dan terbuka. Mungkin Eca nggak tahu kalau aku ngupingin dia, jadi dia meladeni kesablengan Elang. Elang menyuruh Eca menyentuh tubuhnya, dari dada sampai vaginanya, mengelusnya, dan mengatakan pada lelaki itu bahwa kewanitaan Eca telah basah. Saat Eca menjawab bahwa vaginanya sudah basah sekali, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh punyaku sendiri. Eca menceritakan pada Elang dengan sangat mendetail bahwa vaginanya bersih, tercukur rapi. Aku terbaring di ranjangnya dan entah kenapa, tiba-tiba mengkhayalkan apa yang Eca katakan. Dia berbisik kepada Elang, bahwa saat ini dia sedang mengelus klitorisnya. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Kubuka celana pendek yang kukenakan dan celana dalam sekalian, sehingga aku dapat memainkan vaginaku dengan jari-jariku. Tanpa sadar aku mengerang. Erangan itu didengar mereka berdua. Lalu Elang bertanya padaku kenapa dari tadi tidak ikutan di telepon. Kubilang aku cuma kepingin dengar, dan edannya aku ikut terangsang. Kubilang kalau saat ini aku sedang mengelus vaginaku juga. Elang senang mendengarkannya, dua orang wanita muda masturbasi sambil dia membacakan cerita. Tiba-tiba Eca masuk ke kamarnya. Telanjang bulat. Dia berbaring di sebelahku. “Pakai speakernya saja, Marg, jadi aku bisa ikut dengar.” Aku melaksanakan permintaannya. “Aku di kamar sekarang, Lang. Dengan Margie”, kata Eca. “Hei! Apa yang kalian lakukan?” Agak kaget si Elang. “Eca denganku sekarang. Di tempat tidur.” “Wah, asyik juga nih.” Elang berseru, aku tahu dia pasti sambil senyum jahil, “Aku tuntun ya!” Aku nggak tahu kenapa, Eca juga. Kami cuma menjawab, “Ya, Lang.” “Kalian sudah pernah berhubungan dengan sesama perempuan sebelum ini?” tanya Elang. “Belum”, jawabku. “Belum, Lang. Tapi aku pernah mengkhayalkannya”, jawab Eca. “Great. Aku akan menjadi penunjuk jalan”, kata Elang. “Eca, maukah lu menyentuh Margie?” “Ya”, jawabnya. “Sentuhlah payudara Margie.” Tangan Eca menyelusuri tubuhku, sampai ke batas bra yang kupakai. Dengan kedua tangan, kubuka t-shirt yang kupakai. Puting payudaraku mengeras dan aku dapat merasakan tangan Eca yang lembut membuka hook di daerah depan bra yang kukenakan. Jemarinya membelai payudaraku. Aku mengeluh pelan. Sensasi yang berbeda kurasakan, tidak seperti rasa yang diberikan Daud, pacarku, kalau sedang menyentuhku. “Sekarang giliranmu, Marg”, kata Elang. Aku sedikit gemetaran karena sensasi aneh ini. Aku menggerakkan telapak tanganku, menyentuh dada Eca yang mulus dan terbuka menantang. Aku dapat merasakan tubuhnya yang hangat. Putingnya lebih kecil dari punyaku dan terasa sangat berbeda. Aku dapat merasakan vaginaku mulai basah dan memanas saat kudengar Elang memberikan petunjuk selanjutnya. “Sekarang saatnya untuk saling merasakan kewanitaan kalian masing-masing. Rasakan perubahannya, rasakan”, kata laki-laki itu. Eca yang mulai duluan, menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan kumerasa jemarinya menyentuh pangkal pahaku. Dia menggerakkan jemarinya mendekat ke vaginaku, dan lalu mengerang saat merasakan vaginaku yang basah dan lembut. “Anggaplah itu vagina kalian sendiri.” Elang memberikan instruksi lanjutan. Eca menggosok bagian luar vaginaku, membuatku menaikkan pinggulku ke atas. “Ooooh, Margie. Punyamu lebih indah dari punyaku. Ooooh, aku sungguh senang dapat menyentuhnya, membelainya”, erang Eca. Saat jemarinya memasuki lubang kenikmatanku, aku merasakan kalau aku akan mencapai orgasme. Sentuhannya membuat gerakanku menjadi liar. Eca tampaknya tahu bagaimana aku menginginkan dia menyentuh vaginaku. Dia menggosok klitorisku, membuat benda kecil berwarna merah muda itu menjadi semakin keras dan menegang. Aku mengerang hebat, melenguh sejadi-jadinya. Elang tahu kalau aku belum berbuat apa-apa buat Eca. “Marg, sekarang kamu harus menyentuh punya Eca.” Aku menggerakkan tangan ke arah bawah tubuh Eca, menuju kelembapannya yang telah basah sekali. Ketika kuku-kukuku mengelus pangkal pahanya, aku dapat merasakan getaran aura yang memancar dari selangkangannya. Aku memasukkan jari tengahku ke dalam vaginanya, seperti yang kulakukan tadi ke vaginaku. Dengan gerakan yang cepat, aku memasukkan dua jari dalam sekali ke lubang kenikmatannya. Eca mulai mengerang dan melenguh, tubuhnya terangkat dari atas ranjang, berusaha memasukkan lagi jemariku lebih dalam. “Sekarang, kumau kalian menghisap jemari kalian tadi.” Perintah Elang. Karena Eca sudah sangat terangsang, dia langsung memasukkan jarinya yang tadi menyentuh kewanitaanku, menghisapnya, mengecap rasa cairan vaginaku di antara bibirnya. Melihatnya, aku melakukan hal yang sama. Menjilati jari tengah dan ibu jariku, aku merasakan cairan kewanitaan Eca yang entah bagaimana aku dapat menerangkannya. “Siapa yang ingin vaginanya dijilati?” Elang bertanya dengan nada mendesak, mengerang. Aku dan Eca pada saat yang sama hanya bisa menjawab, “Aku mau.” “Eca, letakkan kepalamu di antara paha Margie”, kata Elang. Eca menurut, kepalanya turun ke bawah. Aku merasakan rambutnya yang panjang dan lembut itu menyapu tubuhku. Sensasi yang lain tercipta kembali. “Eca, julurkan lidahmu, putar mengelilingi klitoris Margie.” Eca melakukannya. Aku merasakan lidahnya yang basah dan hangat berputar-putar di bibir vaginaku, lalu menjilati klitorisku. Bermain-main di situ, memutar, menjilati, dan menghisap dengan mulutnya. Aku mengangkat pantatku dari tempat tidur sehingga aku dapat menyorongkan vaginaku lebih jauh ke wajah Eca. Dia menggunakan lidahnya seperti jemarinya dan menggerakkannya keluar masuk lubang kenikmatanku. Ini merupakan perasaan yang paling luar biasa yang pernah kurasakan. Lidahnya yang mungil dan berbintil kecil ini berbeda dengan punya Daud. Apakah dia biasa seperti ini? aku rasa nggak. Eca hanyalah tahu dan mengerti apa yang disukai wanita dan benar-benar memaksimalkan sentuhannya di tempat-tempat rahasia wanita. Mendengarkan suara erang dan jeritan kami, aku tahu Elang pastilah sangat terangsang. Saat Eca menjilati cairan yang keluar dari liang rahimku, aku dapat melihat dia menggosokkan vaginanya dengan tangannya. “Eca, Eca saat ini sedang menjilati dan menghisap klitorisku, Lang. Egh, luar biasa”, kataku. “Marg, tanyain Eca apa dia punya dildo?” kata Elang. “Apa itu Lang?” Eca menghentikan aktifitasnya. “Penis buatan, Ca.” Jawab Elang. “Wah, nggak punya Lang. Padahal, pasti nikmat kalau vaginaku disodok-sodok.” Eca berkata dengan suara serak, “Sayang kamu nggak di sini, Lang.” “He eh. Tapi, apa kamu punya sesuatu untuk menggantikannya?” Eca memandang sekeliling, lalu tatapannya tertumbuk pada kaleng body spray dari St Michael. “Aku punya kaleng body spray. Besarnya lumayan. Kaya senjata Ndoet.” “Nah gunakan itu.” Eca mengambilnya. Membersihkannya dengan sepreinya. Aku memandangi tubuh mulusnya yang putih itu. “Sebaiknya kalian mengambil posisi 69. Letakkan vagina kalian ke wajah masing-masing.” Aku melaksanakan petunjuk Elang. Aku dapat mencium aroma yang khas dari kewanitaan Eca. “Margie, masukkan tabung itu ke dalam vagina Eca yang lembut itu”, kata Elang. Eca memberikan tabung berwarna putih dengan tutup krem itu kepadaku. Aku mendorong ‘dildo’ itu perlahan-lahan ke dalam vagina Eca. “Marg…. Ah, masukkan Marg. Uuhh.” Eca mengeram. Saat aku memasukkan lebih dalam lagi, Eca mulai menjilati kembali vaginaku yang sudah sangat basah itu. Gerakan lidahnya bertambah cepat, dan bertambah cepat. aku masih memainkan ‘dildo’ itu ke kewanitaanya. Lalu kurasakan kenikmatan yang makin membesar, orgasme yang semakin mendekat. Aku ingin memuntahkan cairan orgasmeku di bibirnya. “aaghh”, aku mengerang. Gelombang orgasme pertamaku telah datang. Dan lenguhanku membuat Eca pun mendapatkannya. Aku tahu dari pahanya yang menegang. “Uuuuuughh”, kami melenguh berdua. Eca menggerakkan pinggulnya dengan liar, berusaha memasukkan ‘dildo’ itu lebih dalam lagi. Aku dengan bersusah payah menahan tabung itu agar tidak terlepas dari peganganku. Kaleng body spray itu sungguh menjadi sangat licin sekarang. Kemudian kami berpelukan. Melenguh panjang, menikmati sensasi luar biasa yang baru saja kami lewati. Kudengar di speaker pun Elang sedang mengerang. Nafas beratnya terdengar satu-satu. Kupikir dia pun orgasme, atau malah sudah ejakulasi. Huhh! Sebuah pengalaman yang sangat fantastis. Kami bertiga dapat orgasme bersama. “Thanks, Lang”, kataku. “You very welcome.” “Hei. Kita tetap pergi ke Bengkel Night Park, khan?” Tanya Eca. “Iya.” Telepon pun di tutup Elang. Setelah itu aku dan Eca saling berpelukan. Beristirahat sebentar, lalu mandi. Setengah jam kemudian Sang Elang datang. Kami bertiga menghabiskan malam di Bengkel. Ngobrol, bertemu teman-teman yang ada di sana. Sekitar pukul dua belas, kami pulang. Saat kami keluar dari mobil Elang, dia menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku. “Ini. Semoga kalian suka.” Aku sangat capek, dan Eca pun demikian. Besok musti masuk kerja dan kupikir sekarang sudah saatnya tidur. Eca setuju, tapi dia bilang ingin mandi air hangat dulu. Dia menuju kamar mandi dan aku mengganti pakaian dengan baju tidur, lantas merebahkan diri di tempat tidur. Kunyalakan TV dan menonton film HBO. Bingkisan dari Elang telah kami lemparkan di dekat telepon. Aku mendengar shower dimatikan, dan beberapa saat kemudian Eca muncul di kamar tidur. Handuk terlilit di tubuhnya dan satu di kepalanya. Rambutnya yang hitam tampak lembab namun tidak terlalu basah. Dia belum berganti dengan gaun tidurnya. Aku tetap menonton TV, sedang Eca, tidak. Dia meraih bungkusan yang diberikan Elang. “Oh, boy! Apa ini?” Ternyata itu adalah sebuah dildo. Entah Elang dapat dari mana. Pasti dia beli di luar negeri, waktu kemarin dinas ke Hongkong. Barang itu panjangnya sekitar 20 centimeter, berwarna coklat dan dihiasi dengan urat-urat yang tampak ‘asli’. Eca memegangnya dan berkata, “Ini toh dildo itu. Eh, apa yang akan kita lakukan dengan ini?” “Aku senang sekali kalau punya Ndoet segede ini. Akan kuhisap dan kutelan setiap malam”, katanya lagi. Eca membawa kepala dildo yang besar itu ke mulutnya dan memutarkan lidahnya mengelilingi benda itu. Kemudian dia memasukkan sebagian dari dildo itu ke mulutnya dan mulai menghisapnya seperti benda itu adalah penis asli. Aku terangsang. Eca berdiri di hadapanku menghisap dildo itu dan aku menyadari kalau puting payudaraku mulai menegang melihat Eca. Aku tidak tahu Eca sengaja atau nggak, handuk Eca terjatuh. Payudaranya yang besar itu menantang dengan pentilnya yang mengeras. Eca tersenyum padaku saat dia mengeluarkan dildo itu dari mulutnya dan menggosokkannya di antara putingnya yang kiri dan kanan. Aku harus mengakui kalau aku menjadi sangat terangsang dan vaginaku menjadi basah. Sambil memegang dildo dengan satu tangan, tangan yang lainnya bergerak ke tempat tidur. Sambil tersenyum, dia menarik kain yang menjadi selimutku. Eca melanjutkan permainannya dengan dildo tersebut, membawanya ke bagian bawah tubuhnya, dan lebih ke bawah lagi. Dengan suara yang parau, matanya tertuju kepadaku, dia memerintahku, “Buka baju tidurmu, Marg.” Saatku meloloskan baju tidur itu melalui kepala, aku menyadari betapa terpesonanya aku. Aku belum pernah senafsu ini, apa lagi ke sesama jenis. Pengalaman pertama tadi membuatku lupa diri. Saat itu pula Eca masuk ke dalam selimut yang kupakai. Dia di sebelahku, masih memegang dildonya. Dia meletakkannya di sebelahku dan menaruh tangannya di dadaku. Aku merintih dengan penuh kenikmatan ketika Eca secara halus meremasnya. Dia menggerakkan tangannya ke bahuku, menariknya ke arah atas, melewati kepalaku. Sesudah tanganku menyentuh palang yang ada di atas kepala tempat tidur, Eca tersenyum nakal. Dia mengambil dasi Ndoet yang ada di situ, lalu dengan cepat melingkarkannya di pergelanganku, mengikatku di ujung tempat tidur. Aku menahan nafas, merasakan sesuatu perasaan takut. Aku merasa sangat nggak nyaman dengan perlakuan Eca ini. Tanganku sedikit sakit karena ikatan yang kencang itu. Dia pasti menyadarinya. Dia memandangku dengan lembut dan perlahan menelusuri tubuhku dengan jemarinya. “Jangan khawatir”, katanya. “Aku tak akan menyakitimu. Dan, kamu akan menikmati ini.” Dia berbaring di sebelahku dan memelukku. Tubuhnya yang langsing terasa hangat, payudaranya menekan tubuhku. Waktu dia memeluk pahaku dengan kakinya, aku merasakan kelembutan bulu-bulu kemaluannya, lalu kehangatan vaginanya yang digosok-gosokkan ke pahaku. Aku menjadi rileks dan mulai menghayatinya. Eca menijilati dan menghisap dadaku, aku mengerang senang. Aku menjadi sangat terangsang. Salah satu tangannya menjalar ke bagian selangkanganku dan aku mendengus saat jarinya menyentuh klitorisku yang basah. Menekannya di antara labiaku, dan memasukkannya ke dalam lubang kemaluanku. Sentuhannya sungguh seksi, aku hampir saja mencapai orgasme. Aku sedikit kaget ketika mulutnya menekan bibirku. Bibirnya yang lembut terbuka, dan lidahnya menerobos mulutku. Aku mulai merasakan kenikmatan yang dihantarkan lidahnya. Kubiarkan dia menciumku, dan beberapa waktu kemudian, aku membalas kecupannya. Tangannya terus mengelus-elus vaginaku. Aku mencoba untuk mengalungkan lengan ke tubuhnya, tapi ikatan yang dibuatnya sangat kencang. Aku hanya dapat merintih di bawah pengaruh sentuhan dan ciumannya. Eca menarik mulutnya dariku dan aku membuka mataku yang tadi terpejam menghayati perlakuannya. Dia memandangku dengan tatapan liar. “Kamu akan menjadi pemakai pertama dari dildo ini, Margie”,katanya. “Kau akan menyukainya.” “Tapi Ca…” Sia-sia aku menolak. Eca telah menaruhnya di bibir kewanitaanku. “Tadi kau telah memuaskanku. Sekarang giliranmu. Nikmatilah, Margie.” Kemudian kusaksikan Eca menarik kembali dildo itu, membawanya ke mulutnya. Aku melihatnya menjilati dan menghisapnya seperti itu penis sejati. Dia mengeluarkan dildo dari mulutnya dan menyentuhkan kepala dildo itu ke mulutku. Mulutku terbuka dan Eca menekan kepala ‘penis’ yang besar itu ke dalam. “Yach, begitu Margie”, katanya. “Hisaplah kejantanan ini. Hisaplah penis besar ini. Kau menyukai penis yang besar berada di mulutmu, bukan?” Aku tidak bisa menjawab dengan kata-kata, tapi responku cukup jelas. Waktu Eca mengayunkan dildo itu keluar masuk mulut dan kerongkonganku, aku menghisapnya dan melenguh dengan penuh kenikmatan. Aku membuka mata dan melihat Eca memainkan kewanitaannya dengan tangan yang satu lagi. Vaginaku sendiri telah benar-benar banjir dan aku frustasi karena tak dapat menyentuhnya dengan tanganku untuk melepaskan tekanan nafsu syahwat yang menggebu-gebu itu. Eca menyadarinya. Dia mengeluarkan dildo dari mulutku dan memainkannya di bibirku. “Kamu siap dimasuki dildo ini?” dia bertanya. “Yaa!” aku berteriak serak. Aku sudah benar-benar kepingin membenamkan dildo itu ke vaginaku, seperti aku tidak pernah disetubuhi sebelumnya. Mulut Eca kembali menciumi mulutku, dan aku membalas dengan penuh nafsu. Sementara itu, aku merasakan Eca membawa dildo itu ke arah selangkanganku. Kepala dildo yang halus dan licin itu menyentuh labiaku yang basah dan lalu menekannya di antara kedua bibir vaginaku. Eca duduk, untuk membuatnya lebih mudah memasukkan benda itu ke tubuhku. “aahg, aaghh”, aku merintih, nafasku tidak beraturan. Eca menunjukkan dildo yang sudah 15 centimeter masuk ke dalam liang kewanitaanku. Dia perlahan-lahan, ooooh, perlahan-lahan sekali menarik keluar benda itu, hampir keseluruhannya, lalu dengan perlahan-lahan kembali memasukkannya, lebih dalam, lebih dalam lagi. Aku tidak tahan lagi. Makin terangsang. Aku tidak pernah berbicara ‘kotor’ kalau sedang ‘main’ dengan Daud atau dengan pacar-pacarku yang dulu-dulu, tapi Eca membuatku putus asa dan meminta untuk benar-benar disetubuhi. “Ooooooh. aahh”, aku menjerit. “Fuck me! Berikan padaku! Kasari aku! Masukkan Ca! Tekan! Jangan pernah kau keluarkan!” Kamar tidur Eca itu menggemakan segala kata-kata kotor yang keluar dari mulutku. (Aku dilarang Elang menceritakan teriakanku dengan mendetail. Dia beraliran softcore, kurasa.) Eca tidak perlu petunjuk apa pun. Dia mulai memompa dengan kencang dildo itu di dalam lubang kenikmatanku. Tangannya menggenggam dildo itu kencang. Tinjunya menghantam bagian luar vaginaku, membuatku bertambah nikmat. Aku merasa bagian dalam vaginaku tertarik keluar saat dildonya ditarik. Aku menikmati kekasaran yang dibuat Eca. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk membuatku puas secara total. Aku mengalami orgasme yang kurasakan sangat berbeda. Aku jarang bisa mendapatkan multiple orgasme, tapi kali ini mungkin empat atau lima kali puncak kenikmatan itu kurasakan. Aku tidak tahu mana yang duluan terjadi. Aku yang sudah orgasme, atau Eca yang telah kehabisan energi memompakan dildo itu ke vaginaku. Dia rebah di sampingku yang masih terikat. Dildonya masih tertancap di vaginaku. Eca memeluk pahaku dengan kakinya, lalu menggosok-gosokkan kewanitaannya kepadaku. Sampai akhirnya dia juga mencapai orgasme. Dia terbaring kelelahan, tidak bergerak. Aku khawatir dia langsung tidur, dan aku harus terikat sepanjang malam. Akhirnya Eca bergerak, menjauh dari tubuhku yang penuh keringat. Dia menciumku cukup lama sambil tangannya membuka ikatan tanganku. Tanganku terbebas, aku memeluknya dan menariknya ke tubuhku. Kami berciuman kembali. Aku mengeluarkan dildo dari ’sarang’nya, saat itu Elang menelepon. “Did you two enjoy my present, ladies?” Terdengar dia tertawa, kami hanya tersenyum. Aku mencium Eca, dan kami tertidur saling berpelukan. Waktu terbangun esok harinya, aku mulai ragu dengan kehidupan normalku. Aku misuh-misuh ke Elang. Dia yang memulai semua ini. Tapi Elang pula yang akhirnya meyakinkanku, kalau kadang kita emang butuh sesuatu yang beda. Buktinya, aku bakalan kawin dengan Daud beberapa bulan lagi. Doain aku ya…!<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/petualanganku-menjadi-lesbian-bersama-margie-ilen-dan-elang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>gairahku waktu di luar negeri</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Lisa dan sudah setahun lebih aku tinggal di New York Amerika Serikat, setelah aku tinggalkan kelas 1 SMA-ku di Bandung. Hidup di sini bersama abang memang cukup nikmat, paling tidak di sekitar apartemen kami lokasinya aman dan bersahabat, dan tidak perlu khawatir jika kebetulan aku jalan sendirian di malam hari. Sekolahku adalah SMA publik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Lisa dan sudah setahun lebih aku tinggal di New York Amerika Serikat, setelah aku tinggalkan kelas 1 SMA-ku di Bandung. Hidup di sini bersama abang memang cukup nikmat, paling tidak di sekitar apartemen kami lokasinya aman dan bersahabat, dan tidak perlu khawatir jika kebetulan aku jalan sendirian di malam hari. Sekolahku adalah SMA publik, dan murid-muridnya keren-keren, datang dari berbagai ras. Hari-hariku biasanya diisi dengan sekolah, pergi ke tempat-tempat nongkrong anak SMA, biasanya toko Fast Food, kerja sambilan sebagai pelayan di restoran Oriental dekat rumahku (yang kadang-kadang juga tempat nongkrong anak-anak seusiaku), kerja sukarela sebagai pengawas perpustakaan, serta kegiatan ekstrakulikulerku sebagai anggota klub sepakbola wanita dan kelompok drama. Ada beberapa anak dari Indonesia juga di SMA-ku, hanya aku jarang bertemu dengan mereka di sekolah.</p>
<p>Baru-baru ini kelompok drama sekolahku mengadakan kunjungan wisata ke Ibukota di Washington DC. Seorang gadis baru bernama Felicia baru saja mengikuti kegiatan ini. Aku sebenarnya sudah beberapa kali melihat Felicia di sekitar sekolah dan sudah lama merasa cukup iri dengan kakinya yang panjang serta matanya yang tajam dan seolah selalu penuh gairah. Felicia adalah seorang Latina, sebab kedua orangtuanya berasal dari Puerto Rico. Saat pertama kali kulihat Felicia di sekolah, aku jadi teringat dengan acara-acara TV minggu siang yang sering disaksikan oleh pembantu dan supir di tempat kostku dulu di Bandung seperti Maria Mercedes dan sebangsanya. Nah, saat perjalanan wisata ke Washington di atas bis dan kebetulan duduk sebangku, kami berdua segera menjalin persahabatan baru. Bercakap-cakap dengan Felicia benar-benar menarik sebab dia benar-benar supel dan pintar berbicara. Di tengah diskusi mengenai simpatinya terhadap kondisi Indonesia, kusempatkan diriku untuk mengamati rupa teman baruku.</p>
<p>Sepertiku, Felicia berbadan semampai. Rambut lurus dan alisnya berwarna coklat muda, rambutnya sedikit lebih panjang dan kulit Felicia jauh lebih pucat dari kulitku yang kuning. Bibirnya yang berbentuk mungil berwarna merah muda dengan hanya polesan sedikit lipstik saja dan bergerak-gerak secara menawan saat Felicia berbicara dengan logat latinnya yang nikmat didengar. Seperti murid-murid keturunan Spanyol lainnya di sekolahku, gaya berpakaian Felicia benar-benar santai, seperti celana pendek, dan kaos oblong tangan panjang, namun potongan depannya pendek yang berakhir di atas bagian pusar, sehingga dadanya yang membusung membuatnya tampil benar-benar feminin dan eksotik. Kaus kaki Miki Tikus warna putih menutupi sebagian betis Felicia, sepatunya model santai seperti Converse, dan Felicia mengenakan seuntai kalung perak sebagai aksesoris. Sementara telinganya ditindik tiga dengan giwang-giwang kecil diatur artistik. Namun yang bikin aku benar-benar seperti terhipnotis adalah tatapan mata biru jernih Felicia yang menyorot tajam, mengundang, dan benar-benar hidup. Jika ada yang mengamati, mungkin kami berdua akan tampak cukup menarik sebab aku sendiri menjaga penampilanku cukup konservatif walaupun di Indonesia mungkin lumrah saja melihat gadis remaja delapan belas tahun mengenakan turtle neck, rompi dan rok selutut dan rambut kuncir kuda. Tak lama setelah kami mulai berbicara, hilanglah sudah minatku terhadap kunjungan wisata ini.</p>
<p>Sementara waktu berlalu, kami mulai saling menyentuh tangan atau kaki satu dengan lainnya saat ingin menekankan apa yang kami bicarakan. Sentuhan-sentuhan yang mulanya tanpa niat apapun ini lama-lama mulai menelantarkan diri, sampai akhirnya, kami mulai berbicara mengenai seks. Kami saling bertukar pengalaman, dan aku benar-benar terpesona oleh perbedaan kebudayaan dan latar belakang kami berdua. Kata Felicia, dalam masyarakat Hispanik (ras keturunan campuran Spanyol dengan penduduk asli Amerika) sudahlah menjadi standar bagi remaja mereka untuk kehilangan keperawanan atau keperjakaan pada umur sekitar 15 tahun. Setahun di Amerika, banyak pandangan mengenai seks dan hubungan romantis yang dulu kupunyai di Indonesia berubah menjadi sedikit lebih santai. Walaupun aku masih belum sampai sejauh bersanggama, pacarku di sini kadang-kadang menelusuri bagian-bagian tubuhku yang tadinya kuputuskan ‘off-limit’ bagi pacar. Biar bagaimanapun, toh aku masih orang Timur. Di kota seperti New York, walaupun kebudayaan Barat lebih toleran terhadap hubungan kelamin pranikah, toh umumnya remaja hanya berhubungan dengan satu pasangan saja sekitar paling tidak enam bulan, mungkin karena kewaspadaan terhadap penyakit. Mendengar penjelasanku mengenai norma masyarakat di Indonesia, Felicia mengangguk-angguk, dan menyatakan bahwa pandangan seperti itu ada baiknya juga. Dia pun kemudian mulai bercerita mengenai pengalaman-pengalaman masa lalunya, sentuhan-sentuhan nyasar kami semakin sering. Kami mulai saling menggoda secara fisik, dan sebelum bis kami bergulir memasuki batas kota Washington DC setelah hampir seharian perjalanan, hanya ada satu hal dalam benakku: untuk berhubungan intim dengan Felicia.</p>
<p>Saat memasuki hotel, kami mengatur untuk membagi ruangan yang sama. Senja itu, kami berkeliling dan melihat tempat-tempat bersejarah terkenal. Selesai mandi dan makan malam, bersama sekelompok dari murid-murid, aku dan Felicia pergi menyaksikkan sebuah film berjudul “Scream”. Ketika di layar ditunjukkan sebuah bagian film yang menakutkan, kami berdua saling berpegangan tangan dan Felicia memelukku erat. Selesai bagian tersebut, Felicia meletakkan tanganku ke pahanya yang tak tertutup. Kami berdua kebetulan memakai rok pendek, dan beberapa menit kemudian Felicia mencoba merubah sikap duduk dan merenggangkan kakinya, serta membimbing tanganku di antara kedua kakinya. Lalu ia bergerak dan secara perlahan mengusapkan tangannya ke bagian dalam pahaku. Kulepaskan pekikan kecil ketika Felicia menemukan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Sementara kami berpura-pura menonton film, kumain-mainkan rabaanku di celana dalam bagian depan milik Felicia sampai kubuat dia basah sementara ujung jarinya bergeser naik dan turun di bagian yang sama dari celana dalam milikku, mendorong kain yang tipis itu ke dalamku. Tidak mengambil waktu lama sebelum kami berdua mulai saling mencari satu sama lain. Kami mulai bernafas kencang dan berat, dan tak bisa disangkal lagi, di udara mulailah muncul bau kewanitaan basah yang cukup jelas tercium. Salah seorang gadis satu sekolahku duduk di deretan belakang kami. Ia menggeser diri di antara bahu kami dan berbisik, “Kalian berdua merpati cinta sebaiknya mulai berhenti sebelum semua orang mulai menonton kamu dan bukan film ini!” Gadis itu betul, kami benar-benar mulai terbawa situasi. Secara ogah-ogahan kami pun berhenti. Pada menit yang sama Felicia menarik jarinya keluar dariku, kusadari bahwa aku benar-benar menginginkannya kembali di dalamku. Setelah mengatur nafas, Felicia mendekatiku dan berbisik, “Nanti!”</p>
<p>“Aku tak sabar menunggu”, bisikku balik, sedangkan hidungku menghirup aroma intim Felicia yang membalut jariku. Kujilat bersih jariku dan kugenggam tangan Felicia sampai pertunjukan berakhir. Pada saat itu aku sudah benar-benar menjadi terangsang, sisa film yang kami tonton itu tidak ada yang kuingat barang sedikit pun. Kembali ke hotel, kami praktis berlari ke kamar kami, benar-benar tak sabar untuk melanjutkan perbuatan yang terpaksa kami tinggalkan. Bergegas-gegas aku berganti mengenakan kimono katun tidurku yang berwarna gelap dengan corak tradisional Flores sementara Felicia menanggalkan kaos oblong dan rok pendeknya. Baru kusadari bahwa selama ini Felicia tidak mengenakan bra. Sementara aku bengong menatapi dada Felicia yang betul-betul mulus dan berbentuk sempurna, Felicia memuji keindahan corak kimono katunku dan memintaku untuk membawa oleh-oleh seperti itu jika aku kembali dari Indonesia. Kutunjukkan sebuah cincin yang kubeli dari toko suvenir Indonesia di dekat kedutaan sore hari itu pada Felicia. Direbutnya cincin itu dan dia berkata,<br />
“Hahah… dapat!”<br />
“Hey, kembalikan!”<br />
Kukejar Felicia mengitari ruangan sampai akhirnya kutangkap dia di pojokan. Tiba-tiba dibalikkan badannya dan di mukanya muncul raut nakal sementara tangannya bertolak pinggang.<br />
“Mana cincinnya?” tanyaku.<br />
“Entah. Coba saja periksa sendiri”, kata Felicia sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong sambil tertawa-tawa kecil.</p>
<p>Karena Felicia saat itu bertelanjang kecuali untuk celana dalam model bikininya, hanya ada satu tempat untuk mencari. “Kamu ini benar-benar nakal”, seruku sambil menatap matanya yang bersinar-sinar bandel, benar-benar menikmati permainan kecil kami. Pandanganku menyapu wajahnya yang karena berkeringat dan merona merah terlihat benar-benar spektakuler, dengan ujung hidungnya yang runcing dan lesung pipitnya yang molek. Lalu kuturunkan pandangan melewati lehernya yang jenjang, dan dadanya yang naik turun. Sedikit gerah setelah berlarian dalam kamar hotel yang bertemperatur sejuk itu membuat puting Felicia yang berwarna merah muda segar menegak penuh. Kutatap kembali wajahnya sementara kutautkan jariku ke bagian atas celana dalamnya, menarik tali elastis di situ sampai nampak rambut-rambut lembut lurus kecoklatan berjarang-jarang di bawah pusar Felicia.</p>
<p>“Di bawah situ, mungkin?” tanyaku.<br />
“silakan mancing ikan.”</p>
<p>Felicia melangkah mendekati, cukup dekat untuk membuat dada kami bergesekan. Perlahan kugerakkan tanganku lebih jauh ke bagian bawah dari perut Felicia yang betul-betul rata dengan sedikit lengkungan feminin dan menyelipkannya ke balik celana dalam Felicia. Ujung-ujung jariku menyentuh rambut-rambut lembutnya dan gelitikan lembutku membuat postur berdirinya lemas, menengadah dan mendesah.</p>
<p>“Apakah ini cukup hangat?” tanyaku.<br />
“Betul, betul.”</p>
<p>Dipejamkannya kedua mata dan kepalanya semakin menengadah saat jari-jariku bergeser lebih jauh ke bawah sampai seluruh permukaan kelamin Felicia terlindung oleh telapak tanganku. Ia masih cukup lembab hasil dari perbuatan kami di cinema. Cincinku yang hilang tentu saja tersembunyi di celana dalamnya, namun aku tetap berpura-pura mencari-cari benda tersebut.</p>
<p>“Dimana, sih cincin ini?” Kunikmati reaksinya terhadap sentuhanku, kudorong selangkangannya ke dalam telapak tanganku.<br />
“Sepertinya perlu diselidiki lebih dalam, nih…” godaku. “Lebih dalam lebih baik”, Felicia menyahut sambil mengerang.</p>
<p>Kubiarkan jemariku menerobos lipatan-lipatan lembutnya dan segera kurasakan sumber kebasahannya. “Mungkin bersembunyi di sini”, lanjut godaanku. Kedua dada kami saling menekan dan mulut kami hanya terpisah jarak seinci. Benar-benar kuingin menciumnya, dan kurasakan badanku bergetar, tak pernah dalam hidupku aku sedekat ini dengan seorang gadis lain. Tapi kuputuskan untuk memperlambat permainan kecil ini,</p>
<p>“Itu sih terlalu mudah”, kata Felicia.<br />
“Perlu cari tempat persembunyian yang lebih bagus, nih.”<br />
“Contohnya dimana?” kataku sambil menyengir lebar.<br />
“Kira-kira berapa panjang lidahmu?” tanyanya.<br />
Kuleletkan lidahku. “Kira-kira sejauh itu dalam vagina saya”, katanya dan kami berdua tertawa keras.<br />
“Felicia, kamu ini benar-benar mesum. Kamu bakal menjadikan kita berdua sepasang lesbian lipstik!”</p>
<p>Secara lembut diremasnya bagian dada kimonoku, dan dibisikannya, “Oh, kau pikir itu benar-benar hal yang jelek? Akui saja Lisa, kau sebetulnya benar-benar ingin mencobanya, kan?” Bisa kurasakan kehangatan nafasnya menghembus wajahku saat kami berdua saling bertukar pandang. “Well….” Ujarku malu-malu, bermain ’susah dijerat’.</p>
<p>“Sepertinya sih sudah pernah kupikir hubungan lesbian mungkin satu atau dua kali.”<br />
“Biar bagaimanapun”, kata Felicia,<br />
“Semua orang tahu bahwa adalah wajar bagi cewek-cewek untuk bereksperimen satu sama lain. Di samping itu, hampir semua cewek yang saya kenal melakukannya setiap waktu. Tahu tidak?” ujarnya sambil mempelajari rautku. “Apa?” kataku.<br />
“Kau benar-benar cantik. Unik. Kau punya mata yang hitam benar-benar menarik. Apalagi kau datang dari tradisi yang cukup kekolotan. Bikin kau lebih mengundang. mm… apakah rata-rata cewek Indonesia payudaranya langsing seperti ini?”<br />
“Uh, iya”, kataku, tak sadar kulonggarkan tali pinggang kimonoku, mengakibatkan terbukanya bagian dadaku. Perlahan Felicia memijit kedua puting payudaraku, dan kurasakan memanasnya di bagian antara kedua pahaku.<br />
“Toh lagi pula kita berdua perempuan, jadi nggak mungkin hamil. Sama seperti kegiatan menggesek vagina sendiri…” lanjut Felicia.<br />
Felicia memperkeras pijitannya, dan napasku mengencang, kuhirup udara dengan tersendat-sendat, sementara untuk berdiri tegak aku mulai tak mampu.<br />
“Oh, kalau masturbasi, sih, aku benar-benar suka”, kataku.<br />
“Bagus, sebab dengan cewek lain, masturbasi jadi jauuuuh lebih menarik dibanding sendirian.”<br />
Disambarnya ikat pinggang kimonoku yang sudah memang longgar, menjadikan seluruh tubuhku terekspos. Dengan penuh gairah dirangkulnya pinggangku sementara kakiku menggeser, menyentuh langsung selangkangan Felicia yang lembab.<br />
Tangan Felicia mulai melingkar, menjelajahi bagian belakangku. Diiringi senyum nakalnya, Felicia menarik bagian belakang celana dalamku, membuat bagian selangkangan celana dalamku menjadi tertarik lebih ke dalam. Tekanan yang dirasakan oleh klitorisku yang mulai membengkak hampir membuatku orgasme di tempat, sementara kurasakan kedua badan kami seolah meleleh, bercampur satu sama lain. Tak lama kemudian Felicia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, dan kulumat dengan erat lidah kekasihku yang baru ini.</p>
<p>“Masih ingin main sembunyi cincin?” tanya Felicia menggoda.<br />
“Fuck the ring!” (Persetan dengan cincin itu!) semburku sementara tanganku kembali menyelinap ke dalam celana dalamnya.<br />
“I’d rather you fuck me instead”, sahut Felicia, suaranya menyerak seksi, nafasnya panas di telingaku.<br />
“Lalu tunggu apa lagi?” kataku sembari meraih tangannya.</p>
<p>Kami pindah ke sebelah ranjang dan menanggalkan apa yang tersisa di badan kami (kecuali celana dalamku). Felicia benar-benar terangsang, cairan-cairan kelembaban mulai menetes dan bergulir di pahanya. Seluruh tubuhku mulai bergetar penuh antisipasi, terlebih saat kubayangkan betapa lezatnya jika kuletakkan kepalaku di antara kedua pahanya. Felicia naik ke atas ranjang dan menyandarkan diri ke dinding. Lalu dengan kedua jarinya dipisahkannya kedua bibir vaginanya, dan dengan penuh nafsu kusaksikan jarinya yang lain menerobos masuk. Setelah mengaduk-ngaduk beberapa saat jari lentiknya benar-benar basah, dan Felicia mengeluarkan jarinya, mengacungkannya di depan mukaku, membuat isyarat ‘mendekatlah’. “Ayo, kita bersenang-senang malam ini”, undang Felicia seraya mengangkat kaki kirinya ke dekat wajahku dan memain-mainkan jemari kakinya yang mungil. Ketika kutanggalkan celana dalamku, kusadari bahwa bagian selangkangan celana dalamku ternyata sudah kuyup. Tadinya hendak kulempar begitu saja celana dalamku itu, namun Felicia berseru, “Tunggu Lisa, kesinikan kau punya celana dalam itu!” Kulemparkan celana dalamku, dan segera setelah menyambutnya Felicia mendekatkan celana dalam itu ke hidung mancungnya sembari menghirup dalam-dalam aroma sekresi kewanitaanku. “Ooooh, bau kamu betul-betul sedap!”</p>
<p>“Memangnya sudah kebiasaanmu, yah, menciumi celana dalam milik cewek lain?” tanyaku seraya tersenyum lebar.<br />
“Oh, cuma mereka-mereka yang bakal saya entot”, katanya sambil mengedipkan sebelah mata.<br />
Felicia mengusap-usapkan bagian selangkangan celana dalamku yang basah kuyup ke hidung dan mulutnya sementara matanya mengawasiku, yang mulai mengecupi jari-jari kakinya. Kususupkan lidahku di antara setiap jari, kukulum, dan Felicia mulai tertawa-tawa geli campur nafsu. Lalu mulailah kutelusuri kakinya yang panjang dengan bibirku, dan berhenti ketika aku sampai di bagian dalam pahanya. Kujilat, kukecup, dan kugigit lembut kulitnya yang putih mulus. Ya ampun, Felicia betul-betul lembut! Kuciumkan kecupan-kecupan kecil mengitari kelaminnya, dan dengan susah payah kutekan keinginanku untuk langsung menyelami kelamin Felicia dengan mulutku. Dalam pikiranku, Felicia adalah perempuan pertama dalam hidupku yang kujilat kemaluannya, maka ada baiknya kupastikan bahwa kami berdua benar-benar terangsang dulu sebelum kukubur mukaku di selangkangannya. Aku bergerak mendekati mulutnya. “Aku benar-benar butuh kamu”, kataku. Felicia melingkarkan tangannya dan kami pun French kissed.</p>
<p>Lalu Felicia perlahan mengangkatku, memposisikan kedua susuku di depan wajahnya. Dikulumnya salah satu puting susuku di antara kedua bibirnya dan mulutnya yang hangat menyedoti putingku, mengirimkan gelombang-gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhku. “Saya punya ide”, katanya sambil terus menjilati. “Bagaimana kalau kita bolos saja dan tidak usah ikut tur besok? Kita bisa mengunci diri di kamar ini dan berasyik-asyikan seharian penuh.” Untuk membujukku, Felicia menyelipkan tangannya di antara pahaku dan mulai mengusap-usap celahku. Kusongsongkan pinggulku menyambut dua jari Felicia ke dalamku. Ia melanjutkan menghisap payudaraku sekaligus jarinya menjalari vulvaku, sedangkan aku hanya mendesah-desah mendorong-dorongkan kemaluanku menyongsong tangannya. Kupejamkan mata dan kurasakan cairan kental kewanitaanku menyemprot keluar saat ujung-ujung jari Felicia menjepit klitorisku. Orgasme yang kurasakan betul-betul intens, sumpah mati saat itu aku menyaksikan bintang-bintang.</p>
<p>“Kalau kita tinggal di ranjang sepanjang hari”, ujarku setelah pada akhirnya berhasil mengatur napas kembali,<br />
“Kapan kita makan?”<br />
“Kalau kamu lapar, kamu bisa lahap vagina saya saja.” jawab Felicia,<br />
“Ah, kamu ini memang benar-benar nakal!” seruku dan kami berdua pun tertawa-tawa.</p>
<p>Kemudian aku pun kembali menciumi tubuhnya, menelusur kembali ke bagian bawah. Harum keringatnya membalut badannya, dan aku benar-benar menikmati rasa keasin-asinan leher dan celah dadanya. Puting payudaranya yang merah segar berbeda dengan milikku yang berwarna coklat, dan saat kusedot kedua pentilnya, warna mereka berubah menjadi gelap dan mengeras. Puting dada Felicia terlihat persis seperti karet penghapus merah di ujung sebuah pensil, dan tampak kecil dibanding ukuran dadanya yang paling tidak 36C. Pentilku sendiri kira-kira sebesar uang 25 logam, dan menurutku pas untuk ukuran 32B-ku. Kurasakan kedua ujung dadaku mulai menegak karena bersentuhan dengan perut lembut temanku ini. Felicia merangkapkan kakinya mengitari pinggangku, dan menyodor-nyodorkan selangkangannya, klitorisnya berusaha mendapatkan sebanyak mungkin gesekan.</p>
<p>“Ya ampun. Lisa, kamu betul-betul membuat saya senewen”, kata Felicia terengah-engah. Felicia mencoba menurunkan tangannya untuk mengelus-elus kelentitnya sendiri, tapi segera kucegah.<br />
“Sabar”, kataku.<br />
“Yang satu itu akan kutangani sebentar lagi.”<br />
“Saya benar-benar perlu kau ewe sekarang”, mohonnya.<br />
“Jangan terlalu terburu-buru”, balasku seraya menyembulkan lidahku ke dalam pusar Felicia, dan meninggalkan kecupan-kecupan basah menuruni perutnya. Felicia mengangkat pantatnya mencoba membimbing mulutku ke arah gerbang perempuannya. “Eat me, please!” jeritnya tak sabar. Kurebahkan diri di antara kedua paha Felicia, kugunakan tanganku untuk membuka lebar labianya. Kugunakan hidungku untuk membelah lipatan kelaminnya dan menghirup dalam-dalam. Keharuman kelamin Felicia menyengat inderaku. Aromanya jauh lebih terasa dibandingkan dengan bau cairanku sendiri. Bibir dalam dari kemaluan Felicia yang berwarna merah muda menyelinap keluar, dan sekresi kewanitaannya menjadikan bibir tersebut benar-benar kontras dengan bibir luar kemaluannya yang berwarna merah gelap. Lalu perlahan kutarik kulit pelindung kelentitnya, menjadikan klitorisnya yang bengkak mencuat keluar, dan kucolek dengan menggunakan jari telunjuk.<br />
“Kau ini benar-benar centil tukang goda. Saya benci, deh”, rintih Felicia.<br />
“Pembohong”, sahutku. Kelentitnya betul-betul keras dan tegang, dan berdetak kencang saat kusentuh. Kutiup tonjolan ini, dan pinggul Felicia terangkat, menyambut mulutku. Ia benar-benar basah, dan kuusapkan seluruh wajahku di sekujur kelaminnya. Pipi, hidung dan mulutku berlumuran cairan hangatnya. “Lisa, please”, minta Felicia, jemari tangannya menelusuri rambut kepalaku. “Vagina saya butuh sekali.” Akhirnya kuputuskan untuk memenuhi. Menarik napas panjang, kupejamkan kedua mataku. Lidahku menelusur sepanjang garis celah kelamin Felicia. Bibir-bibir lembut Felicia membuka dan kukecup tempat paling rahasia di dunia, surga kecil di belahan paha seorang gadis. Kucicipi sari vagina Felicia, dan rasanya ternyata lebih manis lagi daripada aromanya. Kurenggangkan pahanya lebar-lebar dan kucelupkan lidahku ke dalam lubang kecil merah muda yang hangat dan lembab milik temanku.</p>
<p>Dinding-dinding manis kemaluannya bergerak-gerak membuka dan menutup, menjerat lidahku erat-erat. Aku menyedot dan menjilat bagaikan hidup matiku bergantung kepadanya, memberikan Felicia orgasme terhebat yang pernah dia alami. Mengunyah kelamin Felicia adalah mungkin hal paling erotis yang pernah kualami. Aromanya memenuhiku dengan gairah saat kujilat, kusedot, dan kutelan air keluarannya. Aku benar-benar tersapu oleh kenikmatan terlarang dari berhubungan intim dengan seorang gadis dan saat itu kuputuskan bahwa seks dengan lelaki jatuh ke nomor tiga dalam urutan orgasmeku, setelah memakan vagina dan masturbasi.</p>
<p>Felicia sudah hampir sampai di puncak ketika kuperintahkan, “Berbaliklah, aku ingin jilat pantatmu.” Felicia segera menurut dan tak lama kemudan aku menyaksikan kelaminnya yang indah dari belakang, seluruh bagian kemaluannya merebak, dan sari-sarinya menetes berjatuhan. Seperti seekor anjing, kuendus-endus Felicia dari belakang. Kukecup gundukan-gundukan padat milik temanku, lalu kulebarkan keduanya, dan kujilat pertengahannya dari atas ke bawah. Campuran dari keringatnya yang keasinan, sirup liang surganya yang manis, dan rasa keasaman dari anusnya adalah rangsangan yang tak ada duanya. Kuselipkan kembali lidahku ke dalam kemaluannya, dan kumasukkan ujung hidungku ke celah pantatnya yang terlihat berkerut.</p>
<p>Menjilat habis Felicia memberikanku dorongan yang kuat, namun juga terasa sungguh lembut dan manis, sungguh feminin. Susah kubayangkan sesuatu yang lebih indah dari dua wanita saling bercinta. Saat itu kutemukan rahasia cinta-wanita dan aku pun ketagihan, rasanya ingin merangkak ke dalam celah milik kawanku ini dan tinggal di situ selamanya. Sementara kulumat dengan ganasnya, kumasukkan jari tengahku ke dalam vaginaku sendiri. Lalu dengan mulut penuh menampung air liurku dan cairan sekresinya kubasahi anus Felicia. Perlahan jari tengahku yang basah terbalut pelumasku sendiri kudorong melalui kerutan lubang pantatnya yang mungil. Felicia terasa benar-benar hangat dan lembut di dalam dan aku bisa merasakan otot-ototnya berkontraksi untuk menahan jariku di situ. Kudengar partnerku mengerang-erang dalam bahasa Spanyol yang walaupun tak kumengerti namun ekspresi universal seorang gadis di ambang orgasme bisa kupahami.</p>
<p>Felicia menutupi mukanya dengan sebuah bantal dan tak bisa berhenti merintihkan jeritan-jeritan kenikmatan. “aah, Dios Mio!” serunya ketika jari-jariku yang lain bergulir di klitorisnya. Dielus, dijepit, dan diperah seperti itu membuat kelentit Felicia menjadi betul-betul sensitif. Mengetahui bahwa kami berdua benar-benar dekat dengan puncak, Felicia dengan cepat melempar bantal yang menutupi mukanya, dan mengerang, “Seb… sebentar.” Kuhentikan gerakanku dan didorongnya tubuhku, menjadikanku telentang di ranjang dengan kedua kakiku terkangkang lebar. Dengan gerakan cepat tangan kiri Felicia meraih pergelangan kaki kiriku dan mengangkat, meletakkan kakiku di pundaknya sementara dengan tangan kanannya mendorong lutut kananku, melebarkan labiaku.</p>
<p>Memposisikan bagian bawah dari tubuh langsingnya di antara kedua pahaku, Felicia berkata, “Itilku dan itilmu.” Dengan dua jari kutarik ke atas kulit depan klitorisku sementara Felicia melakukan hal yang sama dengan klitorisnya sendiri, lalu Felicia pun bergeser sehingga kedua kemaluan kami bertemu. Perasaanku saat itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Melalui kerimbunan hitam rambut kelaminku kulihat coklat lembut rambut kelamin Felicia sementara dadanya yang putih mulus dan memerah karena gairah terlihat kontras bergesekan dengan betisku yang kuning langsat. Kedua vagina kami, dengan labia yang basah saling menghempas, saling menjalin, dan saling melelehi menjadi satu. Felicia bergerak memutar-mutar selangkangannya dan kedua kelentit kami yang mencuatpun saling bergesekan. “aah, ahh, yess.. yess”, kupejamkan mata dan perlahan kuremas-remas dadaku dengan tanganku yang bebas. “Ooooh, ngh… aakh”, kurasakan cengkeraman tangan Felicia meninggalkan pergelangan kakiku saat ia menengadah dan tubuhnya mulai terkejang-kejang. Kurasakan bagian bawah tubuhku bergerak-gerak seperti kehilangan kontrol, maju mundur naik turun bagaikan piston. “Ooooh… yeeee… eesssh…!” seru kami bersamaan saat kedua kelentit kami saling bergesekan dengan kencangnya. Tubuhku menggelinjang hebat, Felicia mengejang dan terasa waktu pun menghilang saat secara bersamaan vagina kami menyemburkan cairan kental orgasme.</p>
<p>Sekali, dua kali, dan tiga kali gelombang orgasme menghempas Felicia, dan bahkan saat terbaring lunglai di sisiku pun tubuh seksinya masih bergemetar. Kulingkarkan lenganku di bahunya, dan kurangkul kekasih baruku erat-erat. Kukecup pipinya lembut. Felicia membuka matanya, menyambar bibirku dan melumat mulutku. “Idih, kau berasa seperti vagina”, katanya. “Ayo kita melarikan diri saja, dan bercinta selamanya”, kusuarakan angan-angan di benakku. “Kedengarannya nikmat”, balas Felicia. Kami kembali berciuman dan kurasakan tangan Felicia kembali meraba-raba rimbunan hitamku yang sekarang benar-benar basah kuyup tersiram sekresi kami berdua.</p>
<p>Kubiarkan diriku pasif terbaring di pelukan Felicia cukup lama sementara dia bermain dengan bagian bawahku. Belaian-belaiannya lembut seolah ia menghapal seluruh tonjolan dan lipatan-lipatan vaginaku. Lalu Felicia menelentangkan diri. “Ayo kita ngentot lagi”, katanya sembari menggoyang-goyangkan tubuh mengatur posisi. “Ayo duduk di muka saya”, perintahnya. Aku pun berlutut, menunggangi kepalanya, dan mulai menurunkan kemaluanku ke wajah cantik Felicia. Felicia memiliki lidah yang betul-betul panjang dan aku pun mulah mendesah dan mengerang ketika ia melesakkan lidahnya ke dalamku senti demi senti. Urat-urat dalam vaginaku otomatis mencengkram erat lidah Felicia sementara pinggulku bergerak melingkar dengan perlahan, benar-benar larut dalam ulasan lidah Felicia. Mulutku terasa kering dan aku pun merasa betul-betul perlu melahap vaginanya lagi.</p>
<p>Kuputar posisiku, kurendahkan kepalaku dan kami bercinta dalam posisi enam sembilan. Kembali kulimpahkan segala perhatianku ke kelamin partnerku, menyibakkan labianya yang hangat, dan ketika kukecap pelumas Felicia yang mulai mengucur kembali, kurasakan jarinya yang giliran menjelajahi pantatku. Nafasku kembali terengah-engah sementara lidah Felicia membelai-belai jauh ke dalam rahimku dan jarinya menjelajahi bagian belakangku.</p>
<p>“Uuuuuuuuh ….. uuungh … unghh” seruku tertahan-tahan sebab mulut dan hidungku terselimut ke perempuanan Felicia sementara dia pun mengeluarkan suara-suara yang serupa. “Ah! Aah! aah! Lagi…” otot-otot vaginaku menggeletar saat Felicia menggigit lembut klitorisku.</p>
<p>“Auh!”<br />
“Yaah!” kurasakan geliginya mengitari kacangku.<br />
“Oooooh… yeessh.. sssh…” kulingkari kelentitnya dengan bibirku dan kusedot keras-keras.<br />
“Yes… yes… yeee… eee.. sh!”<br />
“Yeeeessshh…. mmh… mffffh…” ujung lidah kami berdua mengulas-ulas kedua kelentit dengan gerakan sangat cepat, kurasakan seluruh urat kedua vagina kami mengencang dan mengendur di luar kontrol dan kami pun kembali tenggelam, orgasme membanjir keluar.</p>
<p>Setelah kembali mengatur nafas, kulepaskan diriku dan kuhempaskan diriku di samping Felicia supaya kami bisa saling bertatapan wajah. Dengan lengan dan kaki kami saling merangkum, kami bersentuhan berciuman lembut, betul-betul kehabisan tenaga dan kecapaian. “Mudah-mudahan besok saya bangun sebelum kau bangun”, katanya setengah bermimpi. “Memangnya ada apa?” seraya menyibakkan rambutnya ke samping, mengecupi pipi, hidung, dan kelopak matanya yang terpejam. “Sebab, hal pertama yang saya ingin kamu lihat besok pagi adalah wajah saya tersenyum di antara kedua pahamu”, jelasnya. Oh, rasanya sekarang ini saya sudah jatuh cinta”, kataku lembut. “Sini, saya jaga biar tetap hangat”, katanya sambil merangkum kemaluanku ke dalam telapak tangannya yang memang hangat. Kukecup kembali bibirnya, dan sementara kami berdua berpelukan erat, kunikmati kehangatan lembab semak-semaknya yang bersandar ke pahaku. Setelah selama beberapa lama hanya desiran mesin pendingin udara yang terdengar, melalui dinding terdengar suara-suara dua orang gadis dari kamar sebelah. Tak mungkin tidak, mereka sedang bercinta.</p>
<p>“Kan, sudah saya bilang. Semua cewek berbuat hal yang sama”, kata Felicia sambil tersenyum lebar. “Mungkin besok kita perlu mengunjungi tetangga sebelah dan mengundang mereka untuk mampir”, sahutku setengah tertidur.<br />
“Tapi itu artinya saya harus membagi kau dengan mereka”, kata Felicia.<br />
“Betul”, gumamku setengah bermimpi,<br />
“Tapi ingatlah bahwa itu juga artinya kamu bakal punya tiga buah vagina yang lembek dan basah untuk dilahap ditambah tiga mulut hangat untuk melayanimu.”<br />
“mm”, katanya sembari membasahi bibir.<br />
“Betul juga. Mari kita beramah-tamah dengan mereka besok.”<br />
Kami kembali berciuman lembut, dan tak lama kudengar desahan-desahan indah dari kedua gadis sebelah kamar hotel kami. Akhirnya, gadis pertama menjeritkan puncak kenikmatannya, diikuti segera dengan jeritan orgasme temannya. Aku tersenyum sendiri, dan sebelum kami berdua jatuh tertidur, kubalas merangkum kewanitaan Felicia dengan telapak tanganku, menyongsong alam impian.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
