<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Perawan</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-perawan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Perawan adikku yang aku rengut</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawan-adikku-yang-aku-rengut.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawan-adikku-yang-aku-rengut.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 20:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3606</guid>
		<description><![CDATA[cerita ini bermula ketika aku sedang bermain bersama adikku, dia adalah adik sepupuku tapi sudah aku angap adikku sendiri, dia berumur 17 thn, saat itu aku baru berumur 18 thn, dia cantik mempunyai bentuk tubuh yang seksi dan payudarahnya sudah mulai tumbuh. aku sering menginap di rumahnya, ya maklum rumah kami dekat. aku sering smsan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>cerita ini bermula ketika aku sedang bermain bersama adikku, dia adalah adik<br />
sepupuku tapi sudah aku angap adikku sendiri, dia berumur 17 thn, saat itu aku baru<br />
berumur 18 thn, dia cantik mempunyai bentuk tubuh yang seksi dan payudarahnya sudah<br />
mulai tumbuh. aku sering menginap di rumahnya, ya maklum rumah kami dekat. aku<br />
sering smsan am dia.</p>
<p>suatu hari saat aku curhat ke dia karena pada saat itu aku baru putus sama pacarku,<br />
dia pengertian sekali sama aku, saat kami saling smsan tiba-tiba dia blz smsku<br />
dengan kata &#8220;aku pengen cium kamu&#8221; me to&#8221; dia terus menantangku. pada suatu malam<br />
tanteku(ibu adikku) akan pergi keluar dia menyuruhku menemani adikku itu. aku pun<br />
pergi k rumah adikku jam 21.30. lam kami mengobrol tak terasa sudah jam 10 lebih.<br />
lalu adikku tiba-tiba bicara &#8220;kak berani ngak mencium aku?&#8221;  aku menjawab &#8220;beradi<br />
dek&#8221; tiba-tiba adikku menyodorkan mulutnya. tanpa ragu aku langsung melahap habis<br />
bibirnya yang mungil itu, dia seperti menikmati ciumanku,<br />
mulut kami saling melahap lidahnya. taklama aku mendengar suara hembusan nafas<br />
adikku terangah-angah, ternyata dia sudah mulai merangsang. tak tahu setan apa,<br />
tiba-tiba tanganku masuk ke dalam bajunya yang sedikut longar itu, dan kutemukan<br />
gundukan yang sangat kenyal. aku remas remas gundukan itu lalu aku lepaskan pakaian<br />
adikku yang sedang menikmati jari-jariku yang ada di payudarahnya.</p>
<p>dan akupun terpana melihat kemolekan tubuh adikku, akupun lansung melumat dan<br />
menyedot puting adikku, dia seperti merasa sangat nikmat dengan perlakuanku itu, dia<br />
menekan wajahku ke dadanya. kini jsri-jsriku beralih ke agian bawah yang ku temukan<br />
adalah lubang vagina adikku yang lembut aku memasukkan jari2ku kedalamnya dia sangat<br />
menikmatinya. mulutkupn ikut turun kebawah lidahku mulai menjilatinya, dia<br />
mengeram-ngeram sanagt menikmatinya. tak lam aku merasakan cairan yang hangat keluar<br />
dari vagina adikku ternyata dia udah dipuncaknya. </p>
<p>lalu kami pindah kekamarnya didalam kamar aku membaringkannya di pinggir tempat tidur.<br />
lalu kukeluarkan penisku yang sudah dari tadi menegang, adikku memegangnya tanpa ragu<br />
dan mulai mengocoknya aku sangat menikmatinya, kemudian aku mencumbuinya dan aku<br />
menyodorkan penisku di depan mulut vaginanya, dia berkata &#8221; jangan kak adik masih perawan&#8221; aku<br />
menghiraukannya dan tetap melai memasukkan penisku dengan perlahan dia<br />
mengerang kesakitan. lalu aku melumat bibirnya dan dengan satu hentakan keras<br />
penisku masuk seluruhnya kedalam vaginanya. dia menjerit kesakitan. </p>
<p>tapi saat itu keadaan rumah sedang sepih! aku mendiamkan sejenak penisku didalam selama 3 menit.<br />
lalu aku mulai memajumundurkan penisku rasanya sangat enak penisku terasa dipijat,<br />
adikku yang tadinya merasa sakit kini mulai terangsang lagi</p>
<p>setelah 30 menit aku mengocok mengaduk vagina adikku, diapun sudah orgnsme 3 kali.<br />
kini aku mulai merasakan tekanan dari penisku, aku sudah menahanya lama, lalu aku<br />
keluarkan penisku agar maniku tidak keluar di dalam dan membuat dia hamil. aku<br />
mengeluarkannya diluar. setelah itu kami tidur bersama  sekitar 20 menit lalu adikku<br />
bangun dan menuju kamar mandi, segera aku susul, didalam kamr mandikamu mandi<br />
bersama &#8220;dik mafin kakak ya, kakak sudah merengut perawan adek&#8221; lalu adikku<br />
menaggis! kejadian itu pun sering terulang kalau rumah lagi sepi hingga saat ini.</p>
<p>TAMAT</p>
<p>Pengirim : pelo_lo@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawan-adikku-yang-aku-rengut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>derita anak tiri</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2356</guid>
		<description><![CDATA[Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.</p>
<p>Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.</p>
<p>Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya. “Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. “Jangan takut, nanti kuberi uang”, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.</p>
<p>Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan…!”, Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.</p>
<p>Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak, mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh…, sshh..”.</p>
<p>Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.</p>
<p>“Pak, Saya.., takuut”, Suara Marina mendesah lembut.<br />
“Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.<br />
“Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.<br />
“aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.</p>
<p>Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu. “Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu. Marina yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.</p>
<p>Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu. “Sssssh…, mmh…, sssh…, aakh..”, Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata, “Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!”. Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.<br />
“Bagaimana Mar?”, tanya Daud.<br />
“Enaakh…, Paak!”, Jawab Marina.</p>
<p>Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.<br />
“Kenapa Marina? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.<br />
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.</p>
<p>“aakh…, uuggh…, Paakk..”, Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.<br />
“Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Marina. Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.</p>
<p>“Paak, oukh.., akh…, aakh…, ooough…, sakit Pak..”, Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.<br />
“Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.<br />
“Eeegh…, yaa…, aakkhh…, oough..”, jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.<br />
“Teee…, russ…, Paak…, eeggh…, nikmat…, ooough..!”, erang Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, “Ouuuughh…, sa.., saya…, mmaau…, keluar.., Paak..”.<br />
“Tahan…, sebentar…, sayang…, ooouggh..”.</p>
<p>Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh…”, jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, “Eeegghh…, Ooouugh..”. “Creeeet…, creeet…, creeeeeeeet..”. Mengalirlah air mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Marina.<br />
Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayah tiri Marina.</p>
<p>Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.</p>
<p>“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.<br />
“Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.<br />
“Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.<br />
“Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.<br />
“Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.<br />
“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.<br />
“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.</p>
<p>“Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.<br />
“Dua kali, Om”, jawabnya singkat.<br />
“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.<br />
“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.<br />
“Bagaimana caranya Om?”.<br />
“Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.<br />
“Mencoba langsung, di mana Om?”.<br />
“Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.<br />
“Tetapi..”.<br />
“Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.</p>
<p>Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Marina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marina mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya. “mmhh…”, desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.</p>
<p>Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. Sementara Marina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. “Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.</p>
<p>Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria. “Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.</p>
<p>Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga, “Blueess…”. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria. Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.<br />
“Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., “Aah…, ahh…, essst…, esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.<br />
“Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi…, om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.<br />
“Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.<br />
“aakuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”.<br />
“Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Ria.</p>
<p>Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marina merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.</p>
<p>Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.<br />
“Kau menginginkannya?”.<br />
“I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marina dikuasai oleh nafsunya. Lalu Om Jalil memegang bahu Marina lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.</p>
<p>Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak. Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.<br />
“Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”.</p>
<p>Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marina. Marina mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar Om Jalil pada Marina. Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, “Kini genggamlah burungku!”. Marina menggenggam penis Om Jalil. “Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”.</p>
<p>Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”, Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Marina mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marina yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p>Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.</p>
<p>Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.<br />
“Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.<br />
“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina dengan menaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.</p>
<p>“Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..”<br />
“Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”.<br />
“Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marina, sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu. Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.</p>
<p>“Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marina menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., aku maau keeeluaar..!”.<br />
“Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”.<br />
Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga, “Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..”<br />
“Akhuu.., aakhh…”.<br />
“Creeet.., creet.., creettt..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pengalaman tak terlupakan sewaktu SMP</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2354</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama, Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh, usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap, dengan dada yang bidang.</p>
<p>Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma, atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.</p>
<p>Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”.<br />
Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.<br />
“Ayoo…”, sambutku dengan polos tampa curiga.<br />
Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.<br />
“Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.<br />
Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.<br />
“Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.<br />
Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.., biar Om gampang meriksanya”.<br />
Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.<br />
“Wah…, kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu.<br />
Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.</p>
<p>Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.<br />
“Waah… kulit kamu halus ya, Rin… Kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu.</p>
<p>Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih…, baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira… yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.<br />
“Nah.., sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.<br />
“Ih…, Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup.<br />
“Lho…, khan mau diperiksa.., pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii…, aku jadi merinding rasanya.<br />
“Ooomm…”, suaraku lirih.<br />
“Tenang sayang.., pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil tersenyum.<br />
Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya.</p>
<p>Kemudian, dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.<br />
“aahh…, Oooomm…”, jeritku lirih.<br />
“Sssstt…, hmm…, nikmat.., kan…?”, katanya.<br />
Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat ke sana-ke mari.<br />
“Ssstthh…, aahh…, Ooomm…, aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.</p>
<p>Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya, Hiii…, rasanya jadi makin geli…, apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.</p>
<p>Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannnya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh…, gila…, tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap di antara kedua kakiku yang otomatis terkangkang, kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.</p>
<p>“aa…, Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannua itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait ke sana-ke mari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.</p>
<p>“aahh…, Ooomm…, jaangan…, jaanggann…, teeerruskaan…, ituu…, aa…, aaku…, nndaak…, maauu.., geellii…, stooopp…, tahaann…, aahh!”.<br />
Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat ke sana-ke mari antara mau dan tidak biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli, bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat ke sana-ke mari, namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya, hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.</p>
<p>Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu di sorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya clitorisku.<br />
“aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.<br />
“aa…, Ooomm…, aauuhh…, aahh!”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.<br />
“Ooomm…, aa!”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.</p>
<p>Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mecuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.</p>
<p>Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada di antara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang di mana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.</p>
<p>Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yan sedang dilakukan oleh Om Bayu.</p>
<p>Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke kesuluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung, aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.<br />
“Gimana Rin…, nikmat khan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.</p>
<p>Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku, hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku, aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.</p>
<p>Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku, gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokkan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit, seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi, perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar, tampa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, aahh. ooohh…, Ooomm…, Ooomm…, eennaak…, eennaak! Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.</p>
<p>“aadduuhh…, saakkiiitt…, Ooomm…, sttooopp…, sttooopp…, jaangaan…, diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku, tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku, maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.</p>
<p>“Om…, kenapa dimasukkan semua, kan…, janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.<br />
Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu, terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, ooohh…, ooohh”, dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku, bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku, sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku, seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat, tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak bedaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.</p>
<p>Melihat keadaanku Om Bayu makin terangsang, sehingga dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat, sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya, dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan, “Ooohh…, Riiinn…, Riiinnn…, aakkuu…, maau…, keluar!.., Ooohh…, aahh…, hhmm…, ooouuhh!”.</p>
<p>Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian, “Ccret…, crett…, crett”, spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.</p>
<p>“aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.<br />
“Terima kasih, sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.</p>
<p>Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol ke sana-ke mari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Pemilu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2346</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu 7 Juni 1999, yang baru saja lewat bagi sebagian orang kesannya penuh nuansa politis. Tetapi bagi saya, kesan sangat jauh berbeda, bahkan tidak akan pernah terbayangkan akan bermakna demikian dalam bagi saya pribadi. Kesan yang penuh sensualitas dan menggairahkan. Saat itu, 7 Juni, rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu 7 Juni 1999, yang baru saja lewat bagi sebagian orang kesannya penuh nuansa politis. Tetapi bagi saya, kesan sangat jauh berbeda, bahkan tidak akan pernah terbayangkan akan bermakna demikian dalam bagi saya pribadi. Kesan yang penuh sensualitas dan menggairahkan.</p>
<p>Saat itu, 7 Juni, rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu rumah dihuni tujuh orang, ayah, ibu, kakak laki-laki saya yang masih kuliah, saya sendiri SMA kelas tiga, baru saja selesai Ebtanas dan lulus. Kemudian adik perempuan saya kelas lima SD, lalu sepupu laki-laki saya kelas dua SMP dan pembantu satu orang. Oh iya, panggil saja saya Yuli, asli Tolaki.</p>
<p>Jadi pada saat pemilu rumah yang berada di kawasan Perumahan Pemda Kampung Kemah Raya, Kendari jadi sepi sekali. Ayah ke Kolaka, mengurus pemilu di sana, kebetulan juga beliau caleg Golkar untuk daerah tersebut. Kakak saya jadi pengawas pemilu untuk UNFREL Kendari, ibu saya jadi panitia pemilu lokal kawasan Kemah Raya. Pembantu dan adik, disuruh bantuin ibu mengurus konsumsi. Praktis yang jaga rumah, saya dengan sepupu saya yang bernama, Ical. Saya belum ikut memilih, belum cukup umur, baru 16 tahun lebih dua bulan. Saya dengan Ical sangat akrab, habisnya dia ikut dengan keluarga saya sejak masih kelas satu SD, dan selalu menjadi teman main saya.</p>
<p>Senin itu, 7 Juni 1999, badan saya pegal sekali, selesai ngepel dan membersihkan rumah. Dan seperti biasa saya kepingin dipijitin. Biasanya sih oleh ibu, dan Ical juga, habis dari kecil saya sudah biasa menyuruh dia. Karena agak pegal, saya panggil saja Ical untuk mijitin, Ical nurut saja. Saya langsung berbaring telungkup di karpet depan TV, dan Ical mulai memijit tubuhku. Asyik juga dipijit oleh Ical, tangannya keras sekali, punggungku jadi fresh lagi.<br />
“Duh, Cal…, mijitnya yang lurus dong, jangan miring kiri miring kanan..”, kataku.<br />
“Abis, posisinya nggak bagus kak”, jawabnya.<br />
“Kamu dudukin aja paha Kak Yuli, seperti biasa…”.<br />
“Tapi…, kak..”.<br />
“Alah.., nggak usah tapi…, biasanya kan juga begitu…, ayo..”, Saya tarik tangan Ical memaksanya untuk duduk di pahaku, seperti kalau dia memijit saya pada waktu-waktu kemarin.</p>
<p>Ical akhirnya mau, duduk dan menjadikan kedua pahaku dekat pantat sebagai bangkunya, dan mulai lagi ia memijit sekujur punggungku. Tapi, pijitan agak lain, makin lama makin saya rasakan tangannya agak gemetaran dan nafasnya agak ngos-ngosan.<br />
“Kamu kenapa Cal, capek atau sakit..?”, tanyaku.<br />
“Tidak, tidak apa-apa kak”, jawabnya. Akan tetapi duduknya mulai tidak karuan, geser kiri dan kanan, sementara pantatnya seperti tidak mau dirapatkan di pahaku, agak terangkat.</p>
<p>Akhirnya, saya menyuruhnya pindah, dan saya bangun, lalu duduk mendekati, biasa bermaksud menggoda.<br />
“Ayo.., kamu kenapa, ini pantatmu, selalu diangkat.., tidak biasanya”, sambil tanganku bermaksud mencubit pantatnya.<br />
“Tidak, tidak apa-apa kak..”, jawabnya sambil menghindari cubitanku, malah tanganku tersenggol celana bagian selangkangannya yang seperti agak tertarik kain celananya dan agak menonjol, melihat itu timbul rasa isengku, karena memang saya dan Ical kalau main seperti anak-anak yang masih TK, asal ngawur saja.</p>
<p>“Loh.., itu apa di celanamu Cal, kok nonjol begitu..” Mendengar itu Ical merah padam mukanya, lalu ia berdiri ingin lari menghindar dari saya, tapi segera kutarik tangannya untuk duduk, dan tanganku yang satu menggerayangi celananya memegangi dan meraba benjolan tersebut.<br />
“Jangan kak Yuli, Ical malu..”, katanya. Dasar saya yang nakal, saya pelototin matanya, Ical langsung diam, dan tanganku leluasa memegang barang tersebut.</p>
<p>Penasaran, saya buka resliting celananya dan menarik keluar barangnya yang mengeras tersebut, dan astaga, ternyata penis Ical sudah menegang. Baru kali ini saya melihat penis milik orang yang bukan anak-anak dan sudah disunat yang tegang dan keras serta panjang seprti itu. Sementara Ical diam saja, kepalanya hanya menunduk, mungkin malu atau bagaimana saya tidak tahu.</p>
<p>Saya acuh saja, perlahan-lahan, kuelus-elus penis Ical, semakin mengeras penisnya hingga urat-uratnya seperti mau keluar. Kudengar Ical mendesah tertahan. Lalu kuurut-urut sambil kupijit kepala penisnya yang merah itu, Ical makin mendesah, “Ah.., ah..”</p>
<p>Kugenggam erat penis Ical dan kukocok-kocok dengan perlahan, semakin lama semakin kencang. Badan Ical ikut menegang, sambil kepalanya terangkat ke atas menatap langit, mulutnya terbuka, dia mulai agak mengerang, “Achh..”.</p>
<p>Semakin kencang penis Ical kukocok, semakin menggeliat badan Ical membuat saya tersenyum geli melihatnya. Sampai erangan Ical makin mengeras, “Ach.., achh..”. Dan badannya makin menggeliat, hingga mungkin tidak tahan…, ia lalu memelukku erat. Mulanya saya kaget akan reaksinya, tapi saya biarkan saja, karena keasyikan mengocok penis Ical. Rupanya Ical sudah semakin menggeliat, hingga tangannya entah sadar atau tidak ikut menggeliat juga, meraba badanku dan payudaraku.</p>
<p>“He Ical…, kenapa..” tegurku, sambil tetap mengocok penis Ical, “Achh…, achh..” Hanya itu yang Ical bilang, sementara tangannya meremas-remas payudaraku, dan remasannya yang kuat membuatku merasakan sesuatu yang lain, hingga saya biarkan saja Ical meremas payudaraku, dan Ical lalu menyingkap baju kaos yang kupakai, hingga kelihatan BH-ku dan meremas payudaraku lagi hingga keluar dari BH-ku.</p>
<p>“Acchh…, accchh” erang Ical, saya mulai merasakan kenikmatan tersendiri pada saat payudaraku tidak terbungkus BH diremas oleh tangan Ical dengan kuat, sedangkan penisnya tetap saja kukocok-kocok. Dan entah naluri apa yang ada pada Ical, hingga dia nekat menyosor payudaraku dan mengisap putingnya seperti anak bayi yang sedang menyusu.<br />
“Aduh…, Ical…, aduhh” Hanya itu yang mampu kuucapkan, payudaraku mulai mengeras, keduanya diisap secara bergantian oleh Ical.</p>
<p>Saya juga mulai menggeliat, kutarik kepala Ical dari payudaraku, lalu kudekatkan ke wajahku, kucium bibirnya dengan nafsu yang muncul secara tiba-tiba, Ical balas mencium, bibir kami berdua saling memagut, lidah bertemu lidah saling mengadu dan menjilati satu sama lain.</p>
<p>Tangan Ical menggerayangi badanku, melepaskan baju dan BH-ku, hingga aku bugil sebatas dada. Kulepaskan juga baju yang dipakai Ical, dan kupelorotkan celananya, hingga Ical bugil tanpa sehelai benangpun, dan kembali kukocok penisnya, sedangkan Ical kembali menyosor payudaraku yang sudah keras membukit.</p>
<p>Perlahan tangan Ical menelusuri rokku lalu menyelusup masuk ke dalam rokku, “Acchh…, Accchh”, Saya dan Ical terus mengerang dan menggelinjang. Tangan Ical menyelusup ke dalam CD-ku, lalu mengusap-ngusap vaginaku.<br />
“Aduuuhh…, Ical..” erangku, sementara jarinya mulai ia masukkan ke dalam vaginaku yang mulai kurasakan basah, dan Ical mempermainkan jarinya di dalam vaginaku.<br />
“Accchh…, aduuuhh…, acccchh..”. Tak tahan lagi, Ical menarik lepas rok dan celana dalamku, hingga akhirnya saya kini telanjang bulat. Kemudian Ical mencium bibirku dan saya tetap mengocok penisnya, sedangkan jarinya bermain dalam vaginaku.</p>
<p>“Accchh..” Hanya erangan tertahan karena tersumbat bibir Ical yang keluar dari mulutku. Kemudian Ical berhenti menciumku, lalu ia mengambil posisi menindih badanku, saya membiarkan saja apa yang akan Ical lakukan, karena kenikmatan itu sudah mulai terasa mengaliri pembuluh darahku. Dan, tiba-tiba saya rasakan sakit yang teramat sangat di selangkanganku.</p>
<p>“aaccccchh, Ical.., apa yang kau lakukan..”, tanyaku. Tapi terlambat, rupanya Ical sudah memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku, dan seperti tidak mendengarkan pertanyaanku, Ical mulai mengoyang batang penisnya naik turun dalam vaginaku yang semakin berlendir dan mulai terasa basah oleh aliran darah perawanku yang mengalir membasahi vaginaku.<br />
“Accchh…, Ical…, aduuhh Ical..”, erangku.<br />
Badanku semakin menggelinjang, kujepit badan Ical dengan kedua kakiku sementara tanganku memeluk erat dan menggoreskan kukuku di punggung Ical. Semakin kencang goyangan penis Ical dan semakin keras pula erangan kami berdua.<br />
“Accch…, aduhh..” Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat nikmat yang terdorong dari dalam…, dan erangan panjang saya dan Ical, “aahh”. Bersamaan semprotan mani Ical dalam vaginaku dan semburan maniku yang menciptakan kenikmatan yang tak pernah kurasakan dan kubayangkan sebelumnya.</p>
<p>Ical menarik keluar penisnya, lalu berbaring di sampingku. Kami berdua saling bertatapan, seperti ada penyesalan tentang apa yang telah terjadi, akan tetapi rupanya nafsu kami berdua lebih kuat lagi. Kuraih kembali dan kudekatkan wajahku ke wajah Ical, kami lalu berciuman lagi dan saling melumat, kemudian kupegang erat penis Ical, sehingga kembali menegang dan kembali lagi kami melakukan hubungan badan tersebut hingga beberapa kali.</p>
<p>Hingga hari ini saya dan Ical, bila ada kesempatan masih mencuri waktu dan tempat untuk melakukan hubungan badan, karena mengejar kenikmatan yang tiada taranya, kadang di kamarku, di kamar Ical, ataupun di dalam kamar mandi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawanku, Oh Perawanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa saja sesukaku.</p>
<p>Namun, ketika krismon tiba, musibah itupun tidak bisa dipungkiri oleh keluarga kami. Kami jatuh bangkrut. Itupun kami memiliki hutang pajak yang tertunggak. Sudah seminggu lamanya, tukang pajak menyatroni rumah kami dan menghutang segala berkas berkas perusahaan ayahku. Ketika aku dipanggil masuk, petugas pajak dan ayahku sedang duduk di ruang kerja. Petugas pajak itu sudah cukup tua. Kira-kira seumur ayahku, tapi matanya dengan nanar memandangi tubuhku yang termasuk bongsor. Dia tersenyum memandangku, wajahku memang termasuk lumayan, maklum dengan tampang orientalku yang klasik, banyak yang mengincarku. Termasuk petugas pajak bernama Pak Amir yang duduk di hadapanku. Ayahku secara panjang lebar menceritakan kesulitannya yang dihadapinya dan bagaimana Pak Amir menawarkan bantuannya untuk mengurangi hutang pajak yang tertunggak kepadanya. Tapi untuk itu ada harga yang sangat mahal. Masalahnya, ayahku sedang tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan bila hutang pajak itu tidak diselesaikan, ayahku akan dimasukkan ke penjara. Pak Amir berkata, bisa dibayar asal aku mau memberikan keperawananku kepadanya. Ayahku hanya tertunduk saja. Aku sangat kaget karena mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.</p>
<p>Setelah dijelaskan secara panjang lebar, akupun menuruti perintah ayah. Secara gontai, dia meninggalkan kami berdua keluar dari kamar kerja. Saat itu, aku mengenakan t-shirt dan rok mini. Pak Amir secara perlahan mulai mengelus tanganku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Dia mulai berani dan mengelus rambutku, tiba-tiba aku mencium bau rokok, ternyata Pak Amir mulai menciumi bibirku. Aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang besar telah menimpa tubuhku yang kecil. Ciumanpun turun ke dadaku yang membusung. Tangannya secara perlahan meraba betis dan naik ke pahaku.</p>
<p>Secara perlahan, rokku di kibaskan dan aku merasa kemaluanku dipermainkan oleh jarinya. Aku hanya bisa berteriak kecil ketika jarinya menusuk alat kemaluanku dan tak lama kemudian alat kemaluankupun menjadi basah. Tiba-tiba Pak Amir berdiri dan membuka celananya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia memaksa memasukkan alat kemaluannya ke mulutku. Aku mencoba berontak, tapi apa daya? Bau sekali penisnya tapi aku teringat akan nasib ayahku yang saat ini sedang berada di tanganku, mengingat hal itu, aku mencoba merubah sikapku dari pasif menjadi aktif. Aku tidak ragu lagi melahap penis Pak Amir yang besar itu dengan mulutku. Kukulum dan kuhisap seperti orang ahli. Dia memegang kepalaku seakan tidak mau penisnya keluar dari mulutku.</p>
<p>Setelah puas, dia memaksaku membuka celana dalamku. Akupun hanya bisa telentang ketika lidahnya memainkan clitorisku. Aku hanya bisa merem-melek keasyikan, baru kali ini rasanya aku merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat. Tak lama kemudian, tak hanya lidah saja yang berbicara.</p>
<p>Rupanya Pak Amir tidak sabar lagi untuk mencoba vaginaku yang masih perawan. Aku menjerit kecil ketika aku merasakan penisnya yang besar memasuki vaginaku untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan ketika dia dengan ganasnya melahap keperawananku. Setelah bosan dengan posisi itu, dia memaksaku dengan posisi menungging dan dia menghantamku dari belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata antara menikmati dan kesakitan. Diapun berganti posisi dan duduk di bangku dan aku disuruhnya untuk duduk di atasnya, dengan posisi duduk, aku memiliki kendali atas dirinya dan entah kenapa aku telah lepas kendali, sehingga aku menggoyangkan penisnya dengan cepat sekali, dia tidak tahan lagi dan akupun dipaksa untuk menjilati air maninya, rasanya aneh. Tapi karena aku disuruh telan, akupun tanpa pikir panjang menelannya.</p>
<p>Selesai tugasku untuk membantu ayahku dan selesai pula pengalaman seks pertamaku dengan seorang petugas pajak yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku. Apa mau dikata. Akupun tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian tersebut. Rasanya aku jadi ketagihan juga sih.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah perawan Tua</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2335</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Bagus Hermanto. Kini aku berumur 25 thn. Aku mengenal seks sejak umur 18 thn. Diajari oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswi S2 yang kos di rumahku, di Yogya. Tentu saja secara bertahap, dari pegang-pegang sampai…, tahu sendirilah. Pokoknya butuh tempo sampai 2 bulan baru bisa merasakan hubungan seks tang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Bagus Hermanto. Kini aku berumur 25 thn. Aku mengenal seks sejak umur 18 thn. Diajari oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswi S2 yang kos di rumahku, di Yogya. Tentu saja secara bertahap, dari pegang-pegang sampai…, tahu sendirilah. Pokoknya butuh tempo sampai 2 bulan baru bisa merasakan hubungan seks tang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik.</p>
<p>Setelah itu aku mencoba segala macam wanita, dari pelacur sampai wanita baik-baik. Rasanya sih, aku sudah mempunyai banyak pengalaman. Sudah mengerti semua. Cuma aku tidak pernah merasa kenyang, itu saja problemku.</p>
<p>Semua keyakinan diri itu akhirnya berubah ketika aku memperoleh kenikmatan hubungan badan dengan Mbak Indriani, seorang akuntan yang masih lajang dari suatu kota di Jateng yang pernah menjadi atasanku di tempat kerjaku di Jakarta.</p>
<p>Mbak In, memang tidak tergolong cantik seperti layaknya bintang sinetron. Umurnya 42 tahun. Kulitnya hitam manis, tingginya sekitar 160 cm, mempunyai bentuk badan yang langsing dan mempunyai payudara yang kecil namun indah menantang. Dulu rekan-rekan di kantorku, termasuk para wanitanya, secara sembunyi-sembunyi menyebut dia sebagai “si kulkas”. Soalnya dingin, pasif dan tidak hot. Pokoknya dia tidak masuk dalam daftar seleraku.</p>
<p>Tapi suatu hari di akhir tahun 1999, aku berjumpa lagi dengannya. Gara-garanya VW kodokku mogok di dekat rumahnya, sebuah paviliun di Kebayoran Baru itu. Saat itu hujan deras lama sekali. Aku menelepon taxi Blue Bird tapi tidak datang.<br />
“Ya udah tunggu dulu aja, sambil ngobrol soalnya udah lama kita nggak ketemu”, katanya.</p>
<p>Mulanya kita ngobrol biasa. Taxi yang saya pesan belum juga datang. Padahal sudah jam 9 malam. Mbak In menawariku tidur di rumahnya saja, di sofa ruang tamu. Akupun setuju atas tawarannya, daripada repot, pikirku.</p>
<p>Lalu kami ngobrol ngalor-ngidul. Setelah makan malam, kami masih bercerita tentang banyak hal. Sampai akhirnya aku lancang nanya, “Kok Mbak tetep melajang sih?”.<br />
Diapun cerita bahwa dirinya memang malas untuk menikah karena masih suka sendiri dan bebas. Buktinya dia bisa hidup tanpa pembantu. Semua dikerjakannya sendiri. Kecuali pakaian tertentu yang dilaundry.<br />
“Wah serba swalayan ya”, kataku.<br />
“Termasuk soal tertentu yang khusus juga”, katanya sambil ketawa.<br />
Aku kaget juga. Yang dia maksudkan pasti seks. Soalnya setahuku dia tidak pernah berbicara tentang seks, makanya dia dijuluki si kulkas.</p>
<p>Jam 11 malam aku mulai mengantuk. Mbak In meminjamiku celana dalam dan kaos oblong (keduanya masih baru, berukuran XL, karena itu sebetulnya oleh-oleh dari Bali untuk temannya), dan memberikan sikat gigi baru serta handuk, lalu dia masuk ke kamarnya sendiri.<br />
“Selamat beristirahat. Kalau butuh pengantar tidur nyalakan terus saja TV-nya, tapi jangan keras-keras. Kalo kamu mau baca-baca ya silakan aja, Gus”, katanya.<br />
“Makasih Mbak, good night”, kataku.</p>
<p>Setelah mandi, aku sendirian di ruang tamu itu. Sudah menjadi kebiasaanku kalau mau tidur harus diiringi oleh musik kaset/CD, atau radio, kadang juga TV. Lalu me-ngeset timer-nya sekitar satu jam sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu aku susah sekali untuk tidur. Mau membaca tapi mataku lelah sekali. Akhirnya akupun menyalakan TV, tapi acaranya jelek-jelek.</p>
<p>Akhirnya iseng-iseng aku dekati rak audio-video. Aku periksa ternyata CD playernya berisi tiga keping. Karena remang-remang aku tidak tahu itu CD audio atau VCD. Aku kembali ke sofa. Remote control compo dan TV aku bawa. Setelah aku klik remote-nya barulah ketahuan kalau isinya VCD. Lantas aku putar, lalu muncul opening scene.<br />
Aduh!, Ternyata isinya BF, Judulnya aku lupa, tapi isinya berupa kumpulan adegan klimaks, jadi bukan cerita utuh. Asyik juga…, isinya cuplikan dari banyak film. Pembukaan pertama oral seks sampai air maninya keluar. Aku belum tegang, masih tetap tenang. Adegan berikutnya mirip, begitu seterusnya, hingga adegan penis dimasukkan sampai dicabut waktu air maninya mau kaluar. Aku juga belum ereksi, hal ini di sebabkan karena aku sudah lelah dan mengantuk. Lagipula menonton VCD porno sudah sering kulakukan. Jadinya agak kebal juga.</p>
<p>Nah, potongan terakhir VCD itu dahsyat juga, sehingga membuat penisku menggeliat. Adegan 69. Yang banyak disorot bukan felatio (cewek mengisap cowok), tetapi cunnilingus (cowok mengisap vagina cewek). Aku sampai ereksi menyaksikan adegan tersebut, sehingga adegan itu ada yang aku ulangi sampai beberapa kali. Aku ingin menikmati sampai puas sebelum si cowok di layar TV itu orgasme, sementara aku sendiri berharap bisa orgasme bersamaan dengan gambar di layar tersebut, karena aku mengelus-elus penisku sendiri. Aku perhatikan cara si cowok melayani si cewek. Hebat juga sampai ceweknya mennjerit-jerit.</p>
<p>Ketika adegan berganti, si cewek mengocok penis cowoknya sembari mengisap, mendadak ada tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah karena Mbak In sudah berada di belakangku. Yang bisa kulakukan saat itu cuma mematikan TV-nya, bukan VCD playernya. Lalu aku diam dan menunduk. Tapi Mbak In memegang pundakku dan berkata, “Kamu suka juga ya rupanya. Nggak apa-apa sih kan udah dewasa”.<br />
Aku senyum, dan tidak berani melihat mukanya.<br />
“Gus”, katanya, “Kamu udah sering gitu juga kan? Aku tahu kalo beberapa cewek di kantor kita dulu ada yang pernah kamu kencani…”.<br />
Aku menatapnya. Mbak In ternyata cuma memakai lingerie satin putih tipis, berupa rok dalam pendek tanpa lengan dan celana dari bahan dan warna serupa.<br />
“Kenapa tuh kolormu, kok ada yang berdiri?”.<br />
Ah…, aku makin salah tingkah. Aku tersipu, karena penisku masih tegak.<br />
“mm…, aku…, aku…, aku…, Mbak”, cuma itu yang bisa kuucapkan, sembari aku bangkit dari posisiku yang tadi tiduran di atas sofa.</p>
<p>Kemudian Mbak In duduk di sebelahku. “Aku tadi sempet tertidur sebentar. Tapi gara-gara petir aku terbangun, dan nggak bisa tidur lagi”, katanya.<br />
“Lantas aku dengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Aku buka pintu pelan. Kamu nggak tahu ya?”.<br />
“Ya Mbak”, kataku.</p>
<p>Kali ini aku sudah mulai tenang. Pantas saja aku tidak tahu kalau dia keluar dari kamar, pikirku. Soalnya kamarnya gelap, jadi waktu pintu dibuka tidak ada cahaya yang menerobos keluar.<br />
“Aku liat diam-diam, ternyata kamu lagi asyik ngeliat itu ya. Aku liat tadi di adegan berikutnya kamu mengulang-ulang adegan, dan tanganmu meraba-raba celanamu…”.<br />
“Ya Mbak”, cuma itu yang aku ucapkan.<br />
“Yuk, putar lagi”, ajaknya.<br />
“Nggak ah, malu”, balasku.<br />
“Nggak apa-apa, Gus” katanya, lalu mengambil remote dari tanganku. TV menyala lagi. Lantas dia mengambil remote compo, dan memutar CD kedua.<br />
“Tuh liat”, katanya.<br />
Judulnya “Modern Kamasutra”. Isinya tidak ganas. Serba lembut…, tidak ada close up penis masuk vagina, tidak ada close up ejakulasi mengenai payudara.</p>
<p>Selama 15 menit kami menikmati CD itu dengan diam, sampai kemudian Mbak In berbisik, “Ajarin aku dong Gus. Aku kan nggak pernah”, katanya sambil memelukku.<br />
Aku cuma bergumam, “mm…”.<br />
“Keluarin semua ilmumu dan pengalamanmu…, Gus…”.<br />
“Kok gitu sih Mbak?”.<br />
“Iya dong…, Kamu ajarin aku dong…”.<br />
“Emang Mbak nggak berpengalaman?”.<br />
“Sttttt…, kamu kayak nggak tahu aja. Aku ini masih perawan, makanya sering disindir sebagai perawan tua. Aku juga tahu julukan si kulkas, Gus”, kali ini dia semakin merapat.<br />
“Ajarin aku supaya nggak jadi perawan tua lagi. Ajarin aku biar aku jadi wanita yang lengkap, pernah merasakan nikmatnya pria tanpa harus bersuami dan tanpa harus punya anak, Gus…, Biar lajang tapi matang, gitu Gus”.</p>
<p>Aku terdiam tidak yahu harus berbuat apa, aku melihat ke layar TV. Ah…, adegannya indah sekaligus gila. Mulanya 69, dan pakai close up tapi gambarnya tetap soft, seperti memakai filter. Lantas si pria memasukkan penisnya dari belakang. Lalu 69 lagi. Lalu si cewek berada di atas. Sebentar saja dia sudah meloncat, duduk di muka si cowok, minta dioral, lalu menindih lagi, duduk lagi, menindih lagi, duduk lagi, menindih lagi, entah berapa kali, sampai akhirnya orgasme. Ketika si cowok berdiri, si cewek mengisap dan mengocoknya. Aku tegang sekali, terangsang oleh adegan di layar.</p>
<p>“Ajarin aku sayang. Tunjukin kebisaanmu yang telah membuat cewek-cewek di kantor kita ketagihan…”. Tangannya memegang kedua pipiku, “Please…”.<br />
Entah kenapa aku seperti terhipnotis. Aku peluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya. “Ya Mbak. Tapi aku lagi capek, setelah main squash tadi, jadi mungkin nggak memuaskan Mbak”.<br />
“Aku nggak minta macam-macam. Cuma diajari. Semacam apresiasi, gitulah…”.<br />
“Ya Mbak. Tapi VCD dan TV-nya dimatiin ya”, pintaku.<br />
Mbak In mencubit pipiku, lalu mencium kedua pipiku. “Boleh…”.<br />
“Mbak In pingin yang gimana sih?”.<br />
“Terserah. Pokoknya kamu harus membimbingku, ngajarin aku…, Aku sendiri nggak tahu apakah malam ini akan melepas keperawananku, tapi yang jelas aku pingin dapet sebuah pengalaman yang penting bagi seorang wanita dewasa, yang berumur 40 lebih…”.</p>
<p>Aku terharu, merasa kasihan. Wanita pendiam dan dingin bagai kulkas ini ternyata menginginkan pengalaman erotis. Wanita yang tidak pernah bicara jorok dan cerita humor porno ini (tidak seperti cewek lain di kantornya) ternyata menginginkan sesuatu.<br />
“Ayo Gus. Ajarin aku, bimbing aku…, Kasih tau aku harus gimana saja. Kamu kan lelaki sejati. Kamu udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu…”.<br />
“Ya, Mbak”, kataku seraya mencium keningnya. Mbak In memejamkan mata. Kurasakan hangat tubuhnya.<br />
“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan pengalaman pertama yang indah, Gus. Lengkapi diriku sebagai seorang perempuan yang dewasa…”.<br />
Aku mengangguk lalu memeluknya, dan mengelus rambutnya yang sekarang dipotong pendek itu. Aku merasa kelelakianku ditantang dengan halus. Inilah kelebihan wanita. Masih perawanpun tahu bagaimana caranya menggerakkan hasrat pria.</p>
<p>TV sudah mati. Aku berdiri, menghampiri rak audio. Di dekatnya kutemukan CD Romantic Night, musik instrumental lembut. Itu yang aku putar. Lalu aku kembali ke sofa menghampiri Mbak In.<br />
“Mbak”, bisikku.<br />
“mm…, beri aku pengalaman, Gus. Matangkan aku. Jangan mempermalukan aku. Aku telanjur ngomong ini. Aku belum pernah minta beginian pada laki-laki. Aku memilih kamu soalnya aku percaya sama kamu. Kamu dulu karyawan yang nggak reseh, bukan trouble maker, dan gentleman. Aku tahu kamu telah meniduri beberapa cewek di kantor kita, tapi kamu nggak pernah mengumbar affairmu. Kenapa aku bisa tahu, yah tahu sendiri…, mayoritas kantor kita kan cewek, dalam 15 wanita cuma ada 1 pria”.</p>
<p>Aku merasa percaya diri. Aku peluk Mbak In erat.<br />
“Apa yang harus aku lakukan, Gus? mm ya, mestinya apa yang harus kamu lakukan? mm, maksudku apa yang akan kamu lakukan…, mm kok pake nanya. Mestinya tinggal dijalanin ya…, mm…, mm Gus…”, kali ini dia seperti kebingungan mau berkata apa. Kukecup keningnya.<br />
“Mbak pingin merasakan sesuatu yang indah? Mbak sendiri punya fantasi apa sih?”.<br />
“Banyak. Tapi aku malu ngomonginnya. Terserah kamu dah”, katanya sedikit bermanja. Aneh juga, aku merasa senang dimanja oleh perempuan yang lebih tua. Yah inilah kelebihan wanita, yang bisa membuat lelaki merasa berharga dan dibutuhkan.<br />
“Aku ini menarik nggak sih Gus?”.<br />
Aku mengangguk. Lalu kubisiki, “Lebih menarik dan indah kalo sekarang Mbak pake lipstik dan parfum dikit…”.<br />
Dia segera berdiri, mencubit pipiku, lalu ke kamar. Tidak lama kemudian dia memanggil, “Sini Gus…”.<br />
Aku masuk ke kamar. Dia sedang duduk di meja rias. Aku memeluknya dari belakang. Bau wangi menyergap pelan ke hidungku. Bibirnya sudah terolesi lipstik. “Cakep Mbak”. kataku.<br />
“Bener?”, jawabnya manja.</p>
<p>Mbak In berdiri. Aku kemudian duduk di belakangnya. Di muka cermin berlampu itu aku dapati Mbak In dengan pesona kewanitaan yang bertambah. Seorang wanita berumur 42 thn yang matang. Ajaib juga, aku bisa tertarik malam ini. Tanganku memeluk pinggangnya dari belakang.<br />
“Gini ini ya yang dilakukan para istri?”.<br />
“Aku nggak tahu. Aku belum beristri, dan nggak pernah main dengan istri orang”.</p>
<p>Kemudian aku berdiri, tetap di belakangnya, dan tangan tetap memeluk pinggangnya. Aku cium lembut pipinya dari belakang. Lalu bibirnya, pelan dan lembut, dengan gesekan mengambang.<br />
“Aku belum pernah dicium cowok Gus”, bisiknya.<br />
“Ouhh…”, lenguhnya. Aku melihat ke cermin. Dia juga. Wajahnya tersipu.<br />
“Merem saja Mbak”, kataku. Dia menurut. Tanganku tetap di pinggang. Kuamati dari cermin, matanya terpejam. Lalu kucium lembut lehernya.<br />
“Ihh…”, cuma itu suaranya.<br />
Lantas kucium telinganya. Ah ya…, inilah kelebihan wanita, meskipun dia masih perawan nalurinya tahu bagaimana memancing syahwat lawan jenis. Bagian belakang telinganya itu sudah wangi. Aku merasa nikmat. Lalu kucium lehernya, telinga lagi, leher lagi, pipi, bibir, telinga, leher, dan akhirnya tengkuk.<br />
Tangan kiriku tetap memeluk pinggang dari belakang. Tangan kananku naik ke pusar. Dari cermin kulihat puting Mbak In mulai mengeras, menembus lingerie satin yang di kenakannya.<br />
“Nah gitu dong ngajarinnya, Gus”, bisiknya.</p>
<p>Dari cermin berlampu itu kulihat pancaran kewanitannya terus bertambah. Aku tidak menyadari si kulkas ini ternyata memikat. Pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Mbak In mulai bergetar. Dia tetap terpejam. Dengan pelan seolah tak sengaja aku raba puting kirinya. “Uhh”, dengusnya. Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atas lingerienya itu cuma bergantung pada tali. Dia menggeliat.<br />
“Geli tapi nikmat. Kamu pinter Gus”, bisiknya, tetap terpejam.</p>
<p>Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Kutatap sosok wanita ini dari cermin berlampu (hanya itu yang menyala di kamar, karena lampu lain mati). Kudapati sesuatu yang selama ini, selama mengenalnya, tidak pernah kuperhatikan. Aku kan sudah bilang, Mbak In bukan tipe yang masuk daftar seleraku.</p>
<p>Kini kudapati sesuatu. Mbak In ternyata menarik, punya pesona kewanitaan yang kuat. Kulitnya tidak putih tapi bersih. Tubuhnya langsing, tapi tidak bisa disebut kerempeng. Lekuk tubuhnya masih terlihat dan terasa. Mukanya bersih, tanpa bekas jarawat. Garis matanya memanjang seperti wayang. Alisnya tebal merata. Bibirnya mungil. Bau nafasnya nikmat.</p>
<p>Oh…, apakah yang berubah pada diriku? Kenapa tiba-tiba aku bisa menikmati dan menghargai pesona kewanitaan Mbak In? Karena terangsang, toh dari tadi aku ereksi? Bukan juga. Aku sudah sering bermain dengan wanita. Semuanya kuawali dengan keterpesonaan, terlepas wanita itu cantik sekali atau sedang-sedang saja. Yang pasti sejak aku kenal Mbak Wiwik, yang merenggut keperjakaanku saat aku remaja, seleraku hanya seputar itu, wanita berkulit putih, dengan buah dada besar. Tapi Mbak In? Ah, aku tidak tahu. Aku seperti merasakan pengalaman baru.<br />
Tangan Mbak In masih memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Aku kecup bibirnya, lembut lalu pipinya, telinganya, tengkuknya.<br />
“Apa lagi sekarang, Gus?”, bisiknya.<br />
Kulepaskan pegangan tangannya lalu kutuntun untuk melingkarkan tangan kanannya ke belakang, ke leherku, karena aku kan berdiri di belakangnya. Kucium lehernya…, Kurasakan debar jantungnya, dan bunyi nafasnya yang mengeras…, sepertinya dia bernafas dengan mulut. Lantas aku beralih ke bahunya yang terbuka. Kuangkat tangan kirinya untuk memegangi tengkuknya sendiri.</p>
<p>Saat kutatap cermin, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Mbak In ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow!, seperti tak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow! Ajaib! Aku belum pernah melihat ketiak selebat itu. Lagi pula aku selama ini memang tidak tertarik dengan ketiak yang berbulu, terkesan jorok dan tidak feminin. Tapi kali ini? Wuahh…, kurasakan debar di dadaku, kurasakan aliran darahku meningkat. Berubahkah aku?</p>
<p>Ya! Ketiak lebat ternyata memikat. Suatu hal yang selama ini membuatku risih ternyata merangsang. Dengan pelan aku raba kedua ketiak itu.<br />
“Nggak pernah dicukur ya Mbak?”, Mbak In menggeleng dengan tersenyum.<br />
“Biarin. Entah kenapa aku nggak merasa terganggu. Kamu tahu, dulu di asrama, waktu masih kuliah, aku dijuluki Ratu Ketiak. Karena sejak tahun kedua kuliah aku nggak mencukurnya. Buatku ini bukti kebebasanku, bukti ketidakpedulianku pada apa yang menurut orang lain pantas..”.</p>
<p>Lalu kucium ketiak berbulu itu. Wow! Fantastik! Bau asli tubuh bersih menyergap hidungku, karena wanita yang mengerti tentang parfum memang tidak pernah memberi parfum di ketiaknya, kecuali deodorant. Bau ketiak wanita (asal tidak kelewat keras), itu yang aku sukai dari cewek-cewek yang kukencani selama ini. Kali ini bau alami itu bertambah dengan bulu lebat,sepanjang hampir 5-6 cm. Pantas dulu disebut Ratu Ketiak.</p>
<p>Dari ketiak kanan aku pindah ke ketiak kiri. Sama aroma dan sensasi bulunya dengan yang kanan. Aku terangsang sekali. Ukuran terangsang bukan cuma soal ereksi seberapa keras dan panjang, tapi juga gelora di dalam diri. Sejak tadi aku ereksi, tapi yang sekarang makin ditambah peningkatan nafsu. (Nah para cewek, pahamilah itu…)</p>
<p>Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Aku pegang lembut payudaranya yang kecil itu. Kenyal sekali. Ini sensasi baru buatku, karena aku tidak pernah tertarik dengan payudara kecil. Aku tidak bisa ereksi oleh payudara mungil. Bila berkencan dengan perempuan aku selalu memilih yang mempunyai payudara besar, ukuran 34 keatas (beberapa kali aku dapat yang ukuran 38C). Payudara Mbak In sepertinya di bawah 34. Tapi kok merangsang ya? Nafsuku semakin berkobar. Ibarat bendera, mulai berkibar-kibar. Hanya gara-gara bulu ketiak dan payudara kecil (suatu hal yang belum pernah terjadi).</p>
<p>Akhirnya baju atas lingerie itu kulepas. Dan wow! Kudapati payudara kecil yang kencang, dengan puting mengeras. Puting itu berwarna gelap, tapi begitu merangsang bagiku. Aku selama ini mengencani wanita berkulit putih, termasuk bule, sehingga puting mereka berwarna terang, kalau bule malah kemerahan.<br />
Aku remes pelan kedua payudaranya. Mbak In cuma ah-uh-ah-uh. Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya, sambil mempermainkan puting dan payudaranya.</p>
<p>Lalu aku duduk di kursi dekat meja rias. Aku ciumi puting dan payudaranya, dan kemudian aku kecup puting itu sehingga makin mengeras. Kudengar pinggul Mbak In berkeletek, berbunyi tanda kontraksi otot saat wanita mulai disulut birahi.<br />
“Mbak, aku terangsang. Aku suka ketek dan bulu Mbak, tetek dan puting Mbak..”.<br />
Mbak In tersenyum. “Ajarin lagi aku sesuatu yang baru”, katanya.</p>
<p>Kupandangi tubuh kencang yang sekarang tinggal bercelana dalam satin tipis. Baru aku sadar, di bawah pusarnya tampak segitiga menggelap. Itu pasti bulu vagina. Aneh, aku jadi penasaran, ingin segera melihatnya. Padahal selama ini aku tidak suka melihat bulu vagina yang lebat. Pernah waktu di panti pajit nafsuku jadi mengendor karena si cewek mempunyai bulu vagina yang lebat. Si cewek panti pijat sempat tersinggung, karena nafsuku jadi merosot gara-gara bulu vaginanya yang lebat. Akhirnya aku cuma meminta si pemijat untuk mengocok penisku, sembari aku membayangkan salah satu cewekku yang bulu vaginanya super tipis, hingga aku ejakulasi di payudara pemijat itu.</p>
<p>Aku selama ini memang risih dengan bulu lebat. Dalam pandanganku jorok, tidak sehat, cuma menimbulkan bau dan penyakit. Tapi kali ini begitu bernafsu ingin tahu, Mbak In rupanya tahu.<br />
“Kamu pingin liat lainnya yang lebat ya? Boleh..”.<br />
Aku menggeleng. Dia mengerutkan kening. Aku tersenyum, “Entar Mbak..”.<br />
Yang kulakukan sekarang adalah menciumi pusarnya lalu turun ke bawah, tanpa membuka celana lingerienya, sampai kurasakan bulu tebal tergesek satin dan hidungku.</p>
<p>Setelah itu kusisipkan jariku ke celananya. Kurasakan ketebalan bulu vaginanya yang lebat. Jariku seperti buta sejenak, tidak tahu kemana harus meraba clitoris dan labia majoranya.<br />
Oh, jadi inilah pesona bulu vagina yang tebal, bisa menyembunyikan vulva. Cewek-cewek yang pernah kukencani berbulu vagina tipis, malah ada yang cuma beberapa lembar, sehingga begitu mengangkang sedikit saja, vulvanya langsung terlihat jelas. Dan itulah yang aku sukai. Itu yang membuatku ereksi. Bau khas vaginanya juga mulai menyergap hidungku. Aku kian terangsang.</p>
<p>Akhirnya jemariku mulai mengenal medan. Tahu mana yang clitoris, mana yang labia majora, mana yang labia minora. Lebih dari itu, jemariku basah sekali, seolah baru saja terendam di mangkok. Lingerie itupun basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin kentara. Pinggul Mbak In terus berkeletekan, kontraksi karena terangsang.<br />
“Kamu terlalu, Gus. Terlalu…, Ayo buka celanaku”, katanya.<br />
Dipeganginya kepalaku, dijambaknya rambutku yang gondrong, lalu digesek-gesekkan ke lingerie yang basah kuyup dengan aroma yang kian kentara itu.<br />
“Aku terangsang Gus..”.</p>
<p>Tiba-tiba dia mundur, menjauhkan kepalaku. Tak terasa aku sudah berlutut sejak tadi rupanya. Dengan cepat dia melepas sisa lingerie-nya, dan mencampakkannya ke lantai berkarpet. Wow! Luar biasa, bulu lebat membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu aku naikkan kaki kanannya ke kursi rias. Wah! Luar biasa. Kelebatan bulu vaginanya menutupi vulva. Aku sibak bulu vaginanya, lalu tampaklah vulva yang berwarna gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aneh! Aku kok bisa terangsang. Padahal kalau melihat gambar porno perek melayu yang berkulit hitam, meskipun payudaranya besar, toh vulvanya gelap. Dan itu menjijikkanku. Tapi kali ini aku terkesima. Aku sibak dan belai bulu vaginanya yang sedikit basah. Begitu pula vulvanya. Vulva seorang perawan matang yang mengkilap.</p>
<p>Aku terus memandanginya. Kutunda sekuat tenaga untuk tidak segera mengecup dan menjilatinya. Karena aku ingin menikmati pengalaman baruku secara bertahap dengan pelan. Dengan jempol kuraba clitorisnya yang menyembul keras dan gelap itu.<br />
“Auwwwwww…”, Mbak In bersuara.<br />
Astaga! Jadi inilah clitoris si Mbak. Coklat tua, ada merah tuanya. Besar juga clit-nya. Aku putar pakai jempol.<br />
“Ihh…, gila kamu Gus!”.<br />
Lalu jari telunjuk dan jari tengahku menjepit clitnya dan memutar-mutarkannya.<br />
“Gila…, ghuillaa…, waohh”, desahnya.<br />
Nafasku mulai memburu. Mbak In juga. Aku ambil break sejenak. Mundur, duduk, kaki selonjor di lantai, kedua tanganku di lantai menyangga badan. Saat dia akan menurunkan satu kakinya, aku bilang, “Jangan dulu Mbak…”</p>
<p>Kuamati tubuh di depanku itu. Barulah kusadari pancaran kewanitaannya. Tubuh Mbak In memang kencang. Dalam umur 42 masih bagus badannya, karena masih perawan, belum pernah melahirkan. Lebih dari itu dia memang rajin senam dan fitness, begitupun renang. Sempat terbayang bagaimana ketiaknya terlihat kalau dia senam dan renang. Tubuh langsing padat, payudara kecil kencang, bulu vagina lebat merambat.<br />
“Mbak aku pingin liat ketiak Mbak lagi..”, pintaku.<br />
Dia mengangkat kedua lengannya. Bayangkan. Satu kaki di kursi, kedua lengan terangkat, dada busung tegak. Oh indahnya. Oh wanita dewasa. Oh wanita matang. Oh wanita lajang. Oh wanita perindu kehangatan lelaki. Oh wanita matang lajang kesepian yang hanya berfantasi setiap hari sambil mendidihkan birahi untuk dirinya sendiri.<br />
“Apa lagi sekarang Gus?”.<br />
“Mbak aku mau liat vulva Mbak..”.<br />
“Boleh. Nih liat..”.<br />
Wow! Tangan kanannya turun, lantas jemarinya merentang labia majora. Merah tua menggelap, tapi bagian dalamnya merah menyala. Begitu basah dan berkilau. Lendir yang encer terlihat jelas.</p>
<p>Sesaat aku menikmati pemandangan yang belum pernah kualami itu. Tangan kanan menyibak vulva, lengan kiri terangkat memamerkan ketiak lebat.<br />
“Mbak jilat sendiri Mbak..”.<br />
Ah, dia mau melakukannya. Jemari itu dijilatinya, lalu digesekkan lagi ke vulva, jilat lagi, beberapa kali. Aku tidak tahan, lalu berdiri. Penisku kian mengeras, sehingga celana dalamku seperti menyimpan senjata. Ada setitik basahan di situ. Itu tetesan pertama maniku. Aku menghela nafas. Lalu melepas kaos.<br />
“Tunjukin dong penismu” kata Mbak In, lalu duduk di kursi rias itu. Aku mendekat.<br />
“Badanmu bagus, Gus. Atletis”.<br />
Aku bersyukur, mempunyai tinggi 175 cm dengan berat 75, dan otot yang masih kencang.</p>
<p>Lalu dia meraba celanaku, lalu tonjolan penisku. Kemudian memelorotkan celanaku. Tuinggg! Begitu celana dalamku merosot, maka batang penisku turun, tertarik ke bawah sesaat, untuk kemudian tegak mendongak. Dia memandangi penisku.<br />
“Pegang Mbak”, kataku.<br />
Mbak In nggak langsung menggenggam. Tapi merentang jempol dan kelingkingnya seperti mengukur panjang.<br />
“Kayak pisang”, katanya.<br />
Lantas jempol dan telunjuknya melingkari pucuk penisku. Jarinya lentik, kukunya panjang terawat. Sexy juga ternyata. Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.<br />
“Hangat ya..”, bisiknya mesra.</p>
<p>Kami sama-sama mengambil nafas. Aku menjauh sedikit. Baru sekarang terasa dinginnya AC kamar. Tapi aku tidak mau terburu-buru. Aku ingin mengulur tempo dan menikmatinya lebih lama, soalnya kan lagi ngajarin Mbak In.<br />
“Ke sofa lagi yuk Mbak”, ajakku. Dia tersenyum. Lalu aku gandeng. Kami duduk berdua. Berhadapan. Aku cium bibirnya, dan kemudian matanya.<br />
“Haus Mbak”, bisikku.<br />
“Iya Gus…, tenggorokanku juga kering”.</p>
<p>Mbak In berjalan menuju kulkas, mengambil orange juice kemasan botol. Kami minum bergantian dari botol yang sama. Lalu bersandar ke sofa, sama-sama diam. Tidak terasa sudah satu setengah jam lebih berlalu sejak acara pembukaan di cermin rias tadi. Nafasku kembali normal. Tapi penisku kembali mengendur, memang begitulah alam mengaturnya.<br />
“Kok jadi kecil lagi?”.<br />
Aku tersenyum, “Memang gitu Mbak. Entar gede lagi. Mbak juga mengecil lagi klitnya pasti. Cairan vagina juga berhenti ngalir kan?”. Dia mencium pipiku.<br />
“Sini Mbak”, kataku.<br />
“Gimana lagi?”, dia keheranan.</p>
<p>Dia kuminta untuk berdiri, kemudian aku dudukkan di pangkuanku. Tangan kananku menyangga punggungnya, tangan kiriku menyangga kakinya. Seperti membopong sambil duduk. Kami berciuman. Lipstiknya mulai menipis.<br />
“Apa sih yang kamu sukai dari tubuhku Gus?”. Aku menjawab dengan menciumi lehernya.<br />
“Geli, nikmat, ahh..”.<br />
Kemudian dia kubalikkan, menghadap ke depan, tetap dalam pangkuanku di sofa. Aku pegang payudaranya. Aku mainkan puting susunya.<br />
“Ternyata Mbak In itu hangat ya?”.<br />
“Bukan kulkas, gitu?”.<br />
“Iya. Mbak juga penuh pesona kewanitaan”.<br />
“Bener?”.<br />
“Mbak ternyata punya nafsu..”.<br />
“Iya dong”, ia berbisik.<br />
“Mbak suka masturbasi juga?”.<br />
“Iya dong. Seminggu sekali, bisa dua kali, pernah tiga kali. Aku tahu masturbasi sejak umur 20, dulu sih 3 minggu sekali. Akhirnya mulai umur 30 gairahku malah bertambah. Kadang aku bayangin temen-temen cewek itu, udah kenal penis umur 20, sampai sekarang udah bersetubuh berapa kali coba? Sementara aku cuma bisa masturbasi”.<br />
“Mbak mau dimasturbasi nggak?”. Dia mengangguk.</p>
<p>Lalu kakinya kukangkangkan, dengan posisi tetap jongkok di pangkuanku. Aku ajak dia bekerja sama, jemari dan telapak tanganku untuk memainkan vulvanya, tapi yang menggerakkan tanganku adalah tangannya. Luar biasa. Aku jadi tahu bagaimana si Mbak memburu nikmat. Mulanya memainkan clit. Lantas labia majora. Mulanya gerakannya pelan. Akhirnya kencang, maju-mundur, berputar-putar, sampai tanganku pegal.</p>
<p>Lima belas menit berlalu, si Mbak sudah mendesis-desis, sampai akhirnya tubuhnya mengejang sejenak. Kuambil telapakku, aku ciumi dengan hidung dan mulut. Basah penuh aroma.<br />
Mbak pingin apa sekarang?”.<br />
“Ouhh…, pake nanya. Terserah..”.<br />
Dia kuberdirikan. Aku berlutut di depannya. Aku cium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu pusarnya. Dia cuma ah-uh-ah-uh saja. Aku ulangi terus, kira-kira lima menit lamanya.</p>
<p>Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditarik olehnya, lalu mukaku ditempelkan ke bulu vaginanya. Aku cuma menggesek-gesek hidung di rumput lebat itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa, kaki yang lain tetap berdiri menyangga tubuhnya di lantai. Dengan pelan aku gesekkan hidungku ke clit-nya, lalu labia majoranya. Aku merasakan vulva-nya yang kian basah itu. Aku bisa merasakan bahwa bertambah basahnya vulva Mbak In bukan karena saliva-ku, akan tetapi terlebih karena dari lubang vagina itu memang membanjir cairan encer. Begitu banyak cairan yang merembes, sehingga aku bisa menghirup sambil menyedotnya. Slurping, kata orang bule…, Segar juga. Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin.</p>
<p>Mbak In tidak kuat dengan perlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Aku julurkan lidahku di depan vulvanya yang basah itu, cuma di depannya, belum menempel. Masih jauh, malah. Kira-kira sejengkal dari sasaran. Aku diam terus sambil menjulurkan lidah. Mbak In jadi gemas dibuatnya.<br />
“Cepet dong. Kamu jahat, Gus. Aku udah nggak tahan..”.<br />
Ya, tunggu apa lagi? Dengan kedua jempolku aku rentang labia-nya. Merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Clit-nya mengeras, seperti biji kacang garing. Ah nggak, clitoris manis ini seperti kacang mete, begitu pula ukurannya.</p>
<p>Dengan pelan kutempelkan ujung lidah ke clitorisnya yang mulai keras itu. Cuma menempel, tidak kugesekkan, tidak kujilatin.<br />
“Auhh…, geli…, nikmat…, terus dong”, katanya.<br />
Sekarang lidahku mulai bermain. Clit itu aku jilati. Tubuhnya bergetar. Lidahku terus menjelajah ke labia majora, ke seluruh vulva, sampai banjir permukaan vaginanya, karena campuran saliva dan cairan vagina. Dia terengah-engah.<br />
“Ouhh…”, Mbak In cuma bersuara begitu. Pertama-tama Mbak In aku minta mengocok penisku sampai tegak sempurna. Lima menit kemudian penisku tegang kembali. Air maniku sudah mendidih rasanya. Aku rebahan di ranjang. Mbak Indriani di atas, meniduriku.<br />
“Ayo Mbak tindih aku, pelan-pelan aja, digesekin tuh memek Mbak, kayak onani”.<br />
Dia menurut saja. Naik turun, maju mundur, akhirnya kini vagina Mbak In telah telah basah. Penisku basah. Sudah deh, tidak ada foreplay lagi. Yang penting kini vaginanya sudah basah. Kemudian aku biarkan sendiri nalurinya sebagai wanita dewasa yang matang menuntun birahinya yang menyala-nyala semerah dinding dalam liang vaginanya.</p>
<p>Mula-mula penisku cuma masuk dua senti. Seret dan licin. Asyik juga. Mbak In merem melek. Cabut lagi, masuk lagi. Vaginanya semakin basah. Lubang vaginanya makin longgar. Kudorong lagi hingga bertambah 1 senti. Mbak In merem melek. Kuulang-ulang terus, aku lupa berapa kali, sampai akhirnya “slepppppp…”, burungku menembus pelan vagina si perawan tua yang selalu membuatku onani setiap hari itu.<br />
“Nggak sakit Mbak?”, tanyaku.<br />
“Nggak”, bisiknya.<br />
Iya dong, mainnya pelan, vagina sudah longgar dan banjir, mana bisa sakit. Soal memuaskan wanita, aku mempunyai banyak pengalaman. Meski tidak keluar darah, tanpa rasa sakit, aku yakin inilah kali pertama vagina terhebat di dunia ini kemasukan penis.<br />
Dengan jari kuelus permukaan vaginanya. Dia menggelinjang. Dua jempolku kembali menempel di kedua sisi bibir vaginanya, sehingga bisa merentang mulut vagina.<br />
“Namanya apa sih Mbak?”, aku menggoda.<br />
“Bego kalo kamu nggak tahu!”.<br />
Aku terus menggoda, “Namanya apa sih? Sebutin dong, Mbak..”.<br />
“Payah kamu! Udah sering ngerasain, sering nyoba,masih nggak tau juga”.<br />
Aku diam saja, nggaktidak melakukan tindakan pada pemandangan di depan mukaku itu.<br />
“Apa dong Mbak namanya?”.<br />
“Tauk ah!”.<br />
“Apa dong?”.<br />
“Dikira-kira sendiri. tau?”.<br />
“Apa dong?”.<br />
“Ahh…, bawel amat sih!”.<br />
“Apa dong…, lleelelelhett…, sebutin dong llelelelelhet”, aku menggodanya sembari memainkan lidah di labia dan kclit.<br />
“Auhh…, gila. Nakal”.<br />
“Apa dong, clat, clat, clatttt…”, lidahku semakin nakal, lalu aku hentikan.<br />
“Kamu sendiri nyebutnya apa Gus?”.<br />
Aku jawab, “Vulva, ada klitorisnya, ada labia majora dan minoranya..”.<br />
“Uh kayak guru biologi aja, Gus. Pake nama latin segala..”.<br />
“Habis apa dong..”.<br />
“Malu ah…, udah tahu kan? Tabu buat disebutin, tapi aku sering ngebayangin juga sih..”.<br />
“Kok ngebayangin?”.<br />
“Iya, kalo lagi masturbasi aku sering mendesis-desis nyebutin kata-kata tabu, sambil memacu diri menuju orgasme bersama pria seksi…, Rasanya pingin ngelepasin semua hambatan gitu. Kamu ini mulai mancing ya?”.<br />
“Maksud Mbak?”, aku tanya sembari menjilati bagian basah itu.<br />
“Iyah, aku kan sering ngebayangin hal-hal yang terlarang termasuk ucapan-ucapan terlarang. Jadinya kalo lagi on, waktu masturbasi, ya nyebutin satu demi satu bagian terlarang…, Ahh kamu nakal, lidahmu pintar, udah sering yahh. Aduh…, geli!”.<br />
“Hmm…, ayo dong Mbak..”.<br />
“Iyahh sekalian basah, sekalian dibuka deh rahasia ini. Kalo lagi masturbasi aku sering nyebutin ini…, Aahh geli, nikmat terusin…, Aku sering nyebutin ini…, Ah kamu nakal!”.<br />
Iya, gimana bisa ngomong lengkap, kalau mulutku semakin aktif dan binal menggarap pusat kewanitaannya?<br />
“Aku sering berbisik, kadang juga berteriak, sih…, Itil, memek, jembut, burung, mani, itil, memek, burung, jembut, Gus!”.<br />
“Lagi Mbak..”, Aku senang mendengar kata-kata tabu itu.<br />
“Memek, iyaa…, me..mheekkkk…, iiiittt..theeeiiill…, jemm bouttttt…, kuonnnnn…tuuoll…, Gila nikmat banget teknik oralmu!”.<br />
“Ini Mbak burungku!” Aku berdiri, aku mengacungkan penisku ke mukanya.<br />
“Woooouwwww…, tambah gede. Udah ngerasain berapa memek nih?”.<br />
“Pegang Mbak..” Dia memegangnya. Lalu mengelus. Akhirnya mengocok pelan.<br />
“Isep dong…”.<br />
“Ah nggak. Entar ajah…, Aku masih takut…”.</p>
<p>Aku tidak mau main paksa. Aku sadar sedang mengajari cewek mengenal pengalaman pertama. Biar umurnya sudah matang, tapi pengalaman masih nol. Lalu Mbak In kuminta jongkok di mukaku, sementara aku rebahan di karpet, kepalaku diganjal bantal.<br />
“Sekarang Mbak yang aktif ya…, anggap aja lagi onani..”.<br />
Wow! Tanpa penjelasan lebih lanjut dia langsung memainkan kemaluannya di mukaku, terutama di hidung dan mulutku. Namanya saja naluri? Biar tidak pengalaman, masih perawan, tapi kalau usia sudah matang, juga dia sering nonton film porno, sehingga tidak rikuk lagi menghadapi hal tersebut. Mbak In jadi pintar dalam waktu sekejap. Kadang dia jongkok mengambang, sehingga kemaluannya cuma mengambang di mukaku, tapi kadang juga menekan seperti menduduki wajahku. Begitu banyak cairan membajir dari liangnya.</p>
<p>Sekitar 10 menit hal itu berlangsung. Maju mundur, geser kanan kiri, berputar, begitu terus. Sampai akhirnya.., “Ahh gila…, mhemm..mhekkkkkkuuuuuuu…, itttttt..tillku…, Auhh…, Memek! Itil! Ayo jangan berhenti…, aku nggak kuat Gus!”.<br />
Ah ini dia awal orgasme hebat. Tubuhnya mulai mengejang. Lalu kedua lutut Mbak In tergetar. Tidak ada suara dari mulutnya. Kemudian tubuhnya membungkuk. Dan akhirnya setengah telungkup di atas tubuhku. Kurasakan cairan vagina terus membanjiri wajahku, memasuki hidungku, tertelan oleh mulutku. Tubuh Mbak sudah basah oleh peluh.<br />
“Terima kasih, Gus..”, bisiknya.</p>
<p>Dia menggelindingkan tubuh di sampingku. Nafasnya tersengal-sengal. Aku bangun berdiri. Dia masih rebahan. Kupandangi tubuhnya yang mengkilat, dengan kaki mengangkang dan lengan terentang hingga ketiaknya yang lebat itu tampak. Ah indahnya kejalangan seorang Mbak In!<br />
Dia memandangi penisku yang teracung tegak. Aku pegang batangku. “Jangan sekarang”, katanya. Aku mengalah. Padahal nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun.</p>
<p>Lantas Mbak In kubimbing untuk berdiri, duduk di sofa, dan aku ambilkan minuman untuknya.<br />
“Thanx…”, katanya.<br />
“Mbak capek?”, tanyaku. Dia mengangguk.<br />
“Sini aku pijitin”, kataku.<br />
Dia menurut ketika aku telungkupkann tubuhnya di sofa. Aku mulai memijat kakinya, lalu pinggangnya, dan punggungnya.<br />
“hh…, nikmat…, kamu pinter, Gus”.<br />
Saat itu penisku mulai mengendor. Nafsuku mulai berkurang.</p>
<p>Sekitar seperempat jam itu kupijati dia. Kini giliran mulut dan hidungku menciumi punggungnya, pinggangnya, pantatnya, dan entah apa lagi, pokoknya oral seks kupraktekkan lagi. Lendir mengalir membanjir. Penisku menegang lagi. Beberapa tetes mani beningpun keluar karena tidak tahan oleh birahiku yang kian menggila.<br />
“Aku basah Mbak”, kataku.<br />
Mbak In menoleh melihat penis tegakku yang pucuknya basah. Dia terbelalak. Lagi-lagi posisi tadi berulang. Bau keringat dan cairan vagina bercampur. Aku tidak tahu sudah berapa cc menghirup lendir encer yang keluar dari lubang vagina si perawan tua ini. Beberapa kali dia mengejang. Mungkin empat kali. Dan puncaknya adalah, “Mememekkku Gusssss…, Itiillku…, nggak tahan. Itillkuu mauuu lepassss…, Auh!”.<br />
Dia orgasme hebat. Vaginanya seperti menyempit tiba-tiba.</p>
<p>Kami sama-sama lelah. Lalu beristirahat.<br />
“Mandi air hangat yuk”, kataku.<br />
Kami ke kamar mandi, menyegarkan diri dengan shower. Tanpa percumbuan, tanpa birahi, tanpa nafsu. Saling menyabuni dan mengeramasi. Penisku sudah mengecil.<br />
“Lucu ih”, kata Mbak In sembari meremas penisku yang terkulai. Lalu kami tidur. Berpelukan dalam kamar sejuk ber-AC. Dengan segera aku terlelap karena kecapean.</p>
<p>Kami tertidur, sudah jam 3 pagi lebih. Capek dan ngantuk sekali. Ototku seperti terurai. Kami berpelukan di ranjang Mbak In, ranjang perawan tua yang selalu kesepian, menjadi saksi tiap kali si lajang onani karena diamuk birahi, menjadi saksi tiap kali beberapa helai bulu vaginanya rontok saat digusel oleh tangannya sendiri.</p>
<p>Di kamar ber-AC itu kami terlelap. Aku benamkan wajahku di ketiaknya yang lebat. Entah jam berapa aku tidak tahu karena Mbak In membangunkanku.<br />
“Ini apaan? Kamu ngompol yah?”, tanyanya. Ternyata sprei telah basah oleh maniku, sebagian menyentuh pantat Mbak In.<br />
“Ini maniku Mbak. Habis tertahan terus sih di dalam akhirnya cari jalan keluar sendiri. Aku sih nggak tahu, soalnya lagi tidur tadi”, kataku tersipu.<br />
“Ih hangat dan lengket ya”, katanya.<br />
“Bayangin aja kalo ini mengalir ke memek Mbak”, kataku.<br />
“Nakal kamu”, dia mencubitku.<br />
Dengan tissu kubersihkan ceceran maninya. Setelah itu aku tertidur lagi karena masih mengantuk. Mbak In sepertinya juga tertidur.</p>
<p>Pagi hari, ketika sudah agak terang, aku terbangun. Ternyata Mbak In sudah mandi, lagi make up di depan cermin.<br />
“Aku harus masuk kerja”, katanya. “Padahal capek nih” lanjutnya.<br />
Kupandangi dari ranjang. Tubuh yang kencang itu kuamati dari belakang. Inilah pesona si perawan tua. Dia cuma memakai celana dalam dan BH-nya hitam tipis mungil berenda. Oh, seksi sekali! Tak terasa penisku berdiri lagi.</p>
<p>Aku bangkit dengan senjata teracung. Aku hampiri Mbak In. Kupeluk dari belakang. Aku ciumi lehernya, ketiaknya sambil tanganku mengelus payudaranya yang kecil.<br />
“Ah, jangan Gus, aku lagi make up nih…, nanti rusak make up-ku”.<br />
Aku membisikinya, sambil menjilati telinga kirinya, “Janji deh Mbak make up nggak rusak, tapi dapet kenikmatan yang banyak diperoleh para cewek di kantor Mbak pada pagi hari..”.<br />
Oh, aku kian merapat ke tubuhnya. Tapi tidak bisa mencium pipi dan bibirnya, takut kalau make up-nya rusak. Yang penting bisa menikmati bulu ketiaknya yang luar biasa itu dengan hidung dan mulutku. Penisku semakin tegak berdiri. Tanganku mengelus puting susu si perawan tua yang makin mengeras ini.<br />
“Kamu terlalu, Gus”, bisiknya.<br />
“Terlalu nikmat ya?”, tanyaku.</p>
<p>Aku terus memeluk dari belakang. Tanganku menggusel payudara mungilnya yang keras, payudara 42 tahun yang tidak pernah merasakan kenakalan lelaki muda. Hidungku merasakan sensasi gila yang luar biasa, bulu ketiak yang hitam lebat dan panjang.<br />
“Ketek gini kok dianggurin bertahun-tahun sih Mbak”, tanyaku.<br />
“Dianggurin gimana?”, tanyanya.<br />
“Ya dianggurin dalam arti nggak pernah diciumin laki, nggak pernah digosokin burung”.<br />
“Heh, burung main di ketek? Bisa? Coba dong..”.</p>
<p>Make up-nya Mbak In sudah selesai. Sekarang dia duduk di kursi rias, lantas kedua lengannya diangkat sehingga bulu ketiaknya tampak jelas. Penisku yang tegang, aku gosokkan ke ketiaknya. Wuahh…, hangat, lembbut, seperti menyentuh bulu vagina. Mbak In melihatku dengan pandangan mesra. Penisku semakin besar dan mengeras. Ingin sekali rasanya minta penisku dicium, dijilat lalu dihisap olehnya. Tapi nanti dulu, si perawan tua ini harus dilatih. Kalau serba mendadak bisa trauma nanti dan jadi alergi dengan penis.</p>
<p>Akhirnya aku tidak tahan juga. Rasanya maniku sudah mendidih. Belum pernah aku onani memakai bulu ketiak, dulu aku tidakak suka dengan cewek yang ketiaknya berbulu. Karena tidak sabar aku gesekkan penisku ke ketiaknya sambil kukocok.<br />
“Mbak aku udah nggak kuat, bayangin dari semalem cuma nahan burung supaya nggak masuk memekmu, jadi gimana dong..”. Mbak In tersenyum.<br />
“Mbak, bantu dong Mbak”, pintaku. Tangannya meraih penisku lalu mengocoknya pelan.<br />
“Cepat Mbak. Dia menurut. Terus Mbak..”.<br />
“Aduh pegel nih…, gantian tangan kiri ya..”, Aku tidak bisa berkata apa-apa cuma mengangguk. Air maniku yang mendidih tadi tidak jadi keluar. Yang pasti rangsangan yang kuterima semakin kuat.</p>
<p>Mbak In mulai berkeringat. Uh, tambah cantik melihat si perawan tua yang berberbulu ketiak lebat ini berpeluh. Ketiaknya juga basah, payudaranya juga.<br />
“Tanganku capek..”, katanya. Ya sudah aku kocok sendiri penisku.<br />
“Kamu pingin apa Gus?”, tanyanya.<br />
Aku bilang, “Pokoknya pingin nikmat, tuntas, sampe orgasme dan maniku terkuras abis”.<br />
“Tapi aku belon siap buat bersetubuh. Memekku belon siap dirobek selaputnya. Belon siap disembur cairan lelaki..”, katanya manja.<br />
“Yah gimana Mbak, aku nggak bisa mikir nih”. Mbak In jongkok. Mengamati dari dekat caraku mengocok penis. Mulutnya ternganga.</p>
<p>“Oh gitu ya…, gila..”, katanya. Aku sudah tidak tahan.<br />
“Awas Mbak mau muncrat nih!”, Mbak In terbelalak.<br />
Aduh bagaimana kalau mani ini nanti kena mukanya, kena bibirnya. Dia kan masih perawan. Vaginanya saja belum pernah disembur mani, kok muka dan mulutnya, kasihan…<br />
“Terus Gus!”, katanya.Tangannya menyingkirkan tanganku.<br />
“Biar aku aja”, katanya. Aku nurut saja.<br />
Tangan lembut berjemari lentik itu mengocok penisku pelan-pelan. Aku sudah tidak tahan.<br />
“Cepetan Mbak!”, kataku. Dia semakin cepat mengocok penisku.<br />
“Mbak angkat dong lengan kiri. Aku mau lihat ketiakmu yang lebat itu..”.<br />
Jadilah dia jongkok sambil mengangkat lengan memamerkan ketiak hebat yang berbulu luar biasa. Aku semakin bernafsu. Akhirnya aku cuma bisa berkata, “Awassssss…”. Dan “Crat…, crat…, crat”, air maniku muncrat keras, banyak, dan kental. Mbak In sempat menarik muka menjauh, tapi payudaranya yang mungil dan kencang itu terkena semprotan air maniku.<br />
“Uh, yang namanya mani ternyata hangat ya..”.<br />
Dioles-oleskannya air maniku ke seluruh payudaranya.<br />
“Kok lengket ya…, Kayaknya superglue, hihihik…, Gimana kalo misalnya masuk ke memekku…, Ih aku harus ganti beha nih..”.</p>
<p>Mbak In masih terheran-heran oleh air maniku, benda yang baru dilihatnya ketika usianya sudah 42 thn. Dalam ruang ber-AC mani yang teroles rata di payudaranya cepat mengering.<br />
“Wahh…, ini rupanya krim pengencang tetek. Di kulit kenceng rasanya, Gus..”.<br />
“Buat facial juga bisa Mbak. Makanya di VCD selalu ada facial cumshot…”.<br />
“Ih, nakal deh kamu”, katanya sambil mencubit pipiku.<br />
Aku capek sekali. Terima kasih Mbak In sayang, perawan tuaku. Pagi itu kami berangkat bersama dan sepakat untuk ketemu lagi buat belajar seks. Kami sering bertemu. Jalan-jalan, makan, nonton, seperti orang pacaran. Lalu ya biasalah main seks tanpa persetubuhan. Hal itu berlangsung 5 bulan. Kami bertemu seminggu 2 kali. Oral seks itu rutin. Hanya aku yang melakukan oral seks pada dia, dianya sendiri tidak pernah melakukan oral pada penisku. Ini prestasi buatku. Kencan sudah hot, tapi tidak ada persetubuhan. Vagina Mbak In bisa dijilat dan dihisap sampai kering, tapi keperawanannya masih tetap terjaga. Air maniku sudah bocor berkali-kali, tapi tidak setetespun yang menyelinap ke cervix si lajang hangat bernafsu kuat itu. Maka hanya cunnilingus (tanpa diimbangi felatio) yang selalu berlangsung.</p>
<p>Tak apa. Aku sendiri suka bisa mengerem nafsu, sekaligus belajar memperoleh kepuasan tanpa menancapkan penis ke lubang vagina yang tiada henti mendambakan kenikmatan, lubang vagina yang sebetulnya memendam iri pada vagina wanita lain yang sering dijejali penis dan ditumpahi mani hangat. Tapi, yah…, vaginanya saja belum kena penis, masak mulutnya sudah dimasukkin penis, Kasihan kan? Pemanasan kami tentu dengan nonton BF di VCD. Aku kan punya banyak koleksi film BF. Juga dari majalah.</p>
<p>Ternyata Mbak In si perawan tua ini punya beberapa majalah hot. Katanya sih seperti surat kaleng mendapatkannya. Diposkan ke rumah tanpa nama pengirim. Dia menduga dari cewek-cewek di kantornya yang baru saja pulang dari luar negeri. Majalah itu menjadi bahan onaninya Mbak In. Atau juga onani kami berdua. Muncratnya air maniku ya paling-paling di payudara mungilnya, atau di perutnya, pernah di pusarnya dan ceceran air maniku itu merambat ke bulu superlebatnya.</p>
<p>Hari itu Mbak In genap 42 tahun. Cuma kami rayakan berdua saja di sebuah restoran di hotel berbintang lima. Dia seksi sekali malam itu. Memakai sack dress ketat tanpa lengan, tanpa BH. Karena dia punya kebiasaan menyibak rambut, sehingga bila lengannya terangkat, maka ketiak hebat itu tampak. Aku lihat pelayan restoran dan pengunjung lain pada ngeliatin. Mbak In sendiri sepertinya bangga dengan ketiaknya sekarang.</p>
<p>Pulang dari restoran kami bercumbu, seperti biasanya. Pakai oral, pakai kocok-kocokan, hingga air maniku mau habis. Mbak In sudah terbiasa dengan muncratan mani. Dibiarkannya air maniku membasahi payudaranya bahkan lehernya. Kadang di perutnya, tepat di pusar. Mbak In makin pintar. Cara mengocoknya semakin hebat. Paduan irama lambat kadang cepat bisa menguras maniku. Kadang penisku digesek-gesekkannya ke ketiak lebatnya, ke payudara mungilnya. Air maniku pernah menetes di ketiaknya. Habis nikmat sih, seperti menggesek bulu vagina.<br />
“Hari ini aku genap 42 tahun, Gus. Jadikan aku wanita selengkap-lenglapnya” pintanya, setelah kami istirahat karena kecapekan.</p>
<p>Hari sudah menjelang pagi. Tapi penisku masih bisa berdiri tegak. Inilah saatnya untuk membobol si perawan tua ratu jembut yang jago onani itu, yang vaginanya merindukan sodokan dan elusan batangan daging bertulang lunak, dengan moncong water canon yang siap menembakkan cairan kental yang kencang di kulit wanita. Aku tentu saja mengiyakan.<br />
“Terserah caramu, asal nikmat”, katanya.<br />
Di atas tubuhku Mbak In bergeser pelan, memutar pinggul, goyang kanan kiri. Serba pelan. Kali ini dia tidak banyak bicara. Cuma merem melek sambil ah.., uh.., ah.<br />
Akhirnya aku tidak tahan. Vagina perawan tua itu tiba-tiba seperti menyempit dan menyedot penisku.<br />
“Mbak, Aku mau keluar., Mbak!”, Mbak In cuma menciumku dengan mesara. Keringatnya menetes di wajahku. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya seluruh cairan kelelakianku tersedeot. Seluruh tubuhku seperti diperas. Inilah orgasme hebat yang jarang kualami. Ternyata aku tidak muncrat, cuma mengalir pelan tapi banyak maninya. Saat itu juga Mbak In orgasme. Tubuhnya mengejang, menggelepar di atas tubuhku, dengan keringat membasahi tubuh. Bau ketiaknya kian merangsang.</p>
<p>Dia terpejam menikmati orgasmenya yang pertama kali lewat persetubuhan.<br />
“Oh indahnya. Terima kasih Gus”, katanya.<br />
Tidak ada jeritan liar yang menyebutkan segala genital dalam bahasa sehari-hari. Tidak ada teriakan tertahan. Semuanya begitu lembut, hangat, dan indah. Aku merasa seperti perjaka yang kelepasan kemurniannya. Kalo Mbak In sih jelas, perawan tua yang terlepas keutuhannya, dengan lembut, tanpa robekan selaput yang menyakitkan, tanpa darah karena koyakan.</p>
<p>Sampai terang matahari kami masih berpelukan. Kami berdua bolos kerja. Mandi berdua pakai air hangat, alangkah segarnya. Lalu tidur. Siangnya setelah makan kami bersetubuh lagi. Aku yang di atas. Air maniku masih bisa membanjir, menggenangi vaginanya. Lalu istirahat. Sore bersetubuh lagi.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya persetubuhan menjadi rutin. Entah sudah berapa cc air maniku mengalir ke vagina perempuan berusia 42 tahun ini, tapi masih seperti vagina gadis remaja karena tidak pernah dipakai itu. Semua adegan BF kami tiru, kami coba. Mbak In makin pintar. Juga makin buas. Indriani si jembut lebat, dengan vagina coklat dan clitoris sebesar mete ini memang wanita yang tepat untuk menguras syahwat. Indriani, kenapa sih birahimu kau simpan sekian lama, tersembunyi dalam vagina gelap dan bulu lebatmu? Demi karierkah kau menahan nafsu betinamu? Kau buang hari-harimu tanpa merasakan cipratan mani dan sodokan penis pada cervix-mu.</p>
<p>Aku semakin terikat padanya. Aku makin menyayanginya. Inikah cinta? Sayang seribu satu sayang, Mbak Indriani si lajang kesepian bersyahwat dahsyat itu tidak pernah membicarakan soal asmara. Tak adakah cinta di kamus hatinya? Tak adakah cinta di ujung vaginanya, agar kelak bisa berbuah janin?</p>
<p>Banyak sudah variasi yang kami lakukan. Hanya satu yang belum. Mbak In membiarkan mani muncrat di wajahnya, begitu pula kepada mulutnya, padahal aku ingin sekali, karena setiap kali masturbasi itulah termasuk yang kubayangkan.</p>
<p>Hari ini ulang tahunku ke 25. Kami bercinta. Waktu ditanya apa permintaan istimewaku, maka aku jawab, “facial cumshot kayak di VCD porno”.<br />
Surprised! Mbak In mau. Tapi dengan syarat aku harus bisa membuatnya orgasme terlebih dahulu. Ya maka kami bersetubuh dengan posisi dia di atas.<br />
Berkali-kali dia mengingatkan, “Awas, jangan muncrat dulu Gus..!”.<br />
Kalu aku sudah mau keluar, Mbak mencabut vaginanya, lalu meloncat dan menggesek-gesekkan vaginanya ke mukaku. Mulutku melumat habis vagina dan clitoris-nya sampai aku minum cairan vaginanya banyak sekali. Begitulah sampai akhirnya dia klimaks, sambil bicara keras.<br />
“Akan aku habisin manimu…, manniimuuu…, mhannn..nhiiii..muuu…, spermaamu…, pake mulutku untuk pertama kalinya Gus!”.<br />
Semoga tetangga tidak ada yang mendengar. Mbak In kalau sudah di puncak birahi memang tidak bisa mengontrol diri. Pingin teriak yang tabu-tabu. Kadang setengah menjerit, “burungll” atau, “Memekku! Memekku! Memekku…”.<br />
Tapi aku justru malah senang. Malah tambah terangsang. Aku paling suka kalau melihat dia menjadi jalang, jadi budak birahi. Nah begitu selesai klimaksnya dengan banjir cairan vagina, Mbak In langsung melumat penisku.</p>
<p>Inilah kelebihan wanita. Biar belum pernah melakukan oral seks di penisku, toh terampil juga. Dia hisap, dia kocok, dia jilat, sedot, lumat, kocok, sampai akhirnya aku tidak tahan. Menjelang puncakku, Mbak In melepaskan mulutnya. Si lajang penuh birahi itupun turun dari ranjang, lalu bersimpuh di lantai. Aku disuruhnya bangun dan berdiri. Maniku sudah tidak tahan. Lalu dia mengocok lagi penisku sambil jongkok, sementara aku berdiri.<br />
“Mbak pake satu tangan aja. Tangan Mbak yang satunya diangkat, biar aku muncrat sambil menikmati jembut ketek yang fantastis itu..”, pintaku. Oh, dia menurutiku. Maka tangan kiri mengocok pelan penisku, tangan kanan terangkat, merentang lengan, sampai ketiaknya terlihat jelas. Penisku semakin menegang. Jilatannya makin gila. Kocokannya makin habat.<br />
“Mbaak..”, aku menjerit tertahan. Semuanya berlangsung cepat. Maniku muncrat, “Crat…, crat…, crat”, Masuk ke mulutnya, tapi tidak tertampung semuanya. Jadilah membasahi pipi dan hidungnya. Bibirnya belepotan mani. Sebagian menetes ke payudaranya yang mungil tapi keras kenyal itu.<br />
“Enak juga mani ternyata”, katanya setelah kami terengah-engah duduk di lantai. Kami istirahat.</p>
<p>Pagi esoknya ketika aku masih tertidur, aku terbangun. Karena ternyata penisku sudah dihisap si lajang 42 tahun yang sekarang haus mani itu.<br />
“Iya Mbak ini jamu, biar awet muda. Buat facial bisa bikin wajah kiencang”, kataku.<br />
“Katanya sih gitu. Temen-temen itu juga pada minum mani dan dipakai buat cuci muka”, katanya sambil terus mengocok penisku.</p>
<p>Akhirnya maniku mengalir dan menjadi jamu yang langsung dihisep semuanya. Mbak Indriani memang hebat. Kali ini tidak ada air maniku yang tercecer. Semuanya masuk ke mulut dan ditelannya. Eh, tidak semua sih. Jarinya sempat masuk ke mulut, lalu mengoleskan mani encer itu ke puting susunya. Sebagai hadiah, aku oral vaginanya. Aku sibak bibir besar di mulut vaginanya dengan jari, lalu mulut aku runcingkan, dan sruppp…, masuk ke pintu liang vaginanya. Lidahku menjilat, mulutku menyedot. Semua bagian terkena, dinding luar vagina, labia mayora, labia minora, clitorinya yang sebesar kacang mete itu. Dan terakhir…, aku masukkan pula jariku, berputar-putar di dalam, menggapai G-Spot Mbak In, sementara bibir dan lidahku menggarap daerah pembangkit birahinya. Tentu saja Mbak Indriani jadi blingsatan.<br />
Ketika dia menjerit, “Itilkuuuu lepas…”, saat itulah vaginanya membanjir dan membasahi tenggorokanku, asem asin rasanya. Dan bulu vaginanya itu basah kuyup, oleh campuran lendir vagina dan ludahku. Hari ini memang nikmat sekali.</p>
<p>Setelah itu, hari-hari selanjutnya, seks kami makin gila. Kalau main 69 seringkali sampai air maniku muncrat di mulut mungilnya itu. Tapi Mbak In masih haus variasi. Pingin seperti di BF yang bermacam-macam gaya.</p>
<p>Sudah enam bulan hubungan kami terjalin, dengan penuh birahi dan mani. Mbak In seperti orang yang baru mengenal seks. Memang ya, baru kenal. Makanya keranjingan bersetubuh. Maunya penis dan mani. Beginikah kalau wanita dewasa melajang terlalu lama, obsesinya cuma penis dan mani lelaki, dan yang namanya onani tidak memuaskan dirinya sendiri.</p>
<p>Suatu kali Mbak punya permintaan gila, ingin main bertiga dengan cewek lain. Aku yang harus mencari ceweknya. Tapi itu soal kecil. Aku dulu, sebelum sama Mbak In, suka jajan, jadi punya langganan cewek nakal. Langgananku yang aku sukai adalah Susi. Tubuhnya sintal, kulitnya putih, payudaranya 38, bulu vaginanya tipis, vaginanya merah. Dia jago oral seks. Aku mengontak ke handphone Susi dan dia setuju. Kami janjian di motel Pondok Nirwana di Cawang. Ngakunya sih dia juga kangen.</p>
<p>Di motel aku dan Mbak In check in ke kamar VIP, menutup rolling door, lalu nonton video yang disiarin di TV yang tergantung di atas. Isinya orang bersetubuh, kebetulan main keroyokan, satu pria menghadapi empat perempuan. Puncaknya air maninya menjadi rebutan empat mulut mungil. Wah aku juga mau tuh! Sambil nonton kami petting. Aku cuma memakai celana dalam. Mbak In memakai lingerie satin putih yang tembus pandang, sehingga bulu vaginanya lari kemana-mana.</p>
<p>Ketika Susi datang, Mbak In seang pipis. Tidah tahu, kenapa lama sekali di toilet ya. Padahal begitu Susi datang kami langsung berciuman karena kangen. Ketika berpelukan aku tambah ereksi. Susi memakai rok mini dan koas you can see ketat. Langsung kulepas CD-ku.<br />
“Ya ampun Gus, udah napsu banget ya…, Apa nih, minta diisep dulu apa langsung tancep ke memek?”.<br />
Aku tidak menjawab, Susi langsung jongkok mengisap penisku. Sambil dikocoknya pelan. Sudah biasa tuh kami kencan di sini. Ketika sedang nikmat-enaknya dioral, eh Mbak In keluar. Susi tentu saja kaget dan malu. Dia salah tingkah. Mbak In segera mengatasi keadaan.<br />
“Nggak usah malu, Sus. Ini memang mauku. Aku pingin belajar dari kalian”.</p>
<p>Lalu aku menjelaskan kalau kami butuh selingan. Aku mengaku kami ini pengantin baru. Susi agak heran, kok aku memanggil “istriku” itu Mbak. Tapi namanya saja bisnis, Susi minta tambah. Kalau sendirian melayani aku Rp 300.000, maka kali ini minta Rp 500.000.<br />
Mbak In karena nafsunya sudah di ubun-ubun, mengiyakan saja. Uang dia kan banyak.<br />
“Aku udah sediain cash cukup kok hari ini..”, Hebat juga si jembut lebat ini, bisa mengantisipasi.<br />
“Mbak pinginnya gimana?”, tanya Susi.<br />
Ternyata Mbak In maunya melihat dia striptis, setelah itu pingin melihat dia bersetubuh denganku. Susi mau. Aku dan Mbak melihat striptisnya dari ranjang sambil saling merangsang. Makin hebat striptisnya Susi, Mbak In makin basah. Padahal Susi belum telanjang.</p>
<p>Ketika Susi telanjang, Mbak In kian terbakar. Dia meniru Susi mempermainkan payudara dan puting susunya. Dia juga meniru waktu Susi memasukkan dua jari ke vagina lalu menjilatinya. Aku tentu saja makin ereksi.<br />
“Oh gini rupanya cara merangsang lelaki”, kata Mbak In. Ketika Susi nungging, lalu memasukkan jarinya ke vaginanya dari belakang, Mbak In menirukannya. Waktu Susi menyodorkan telapak tangannya untuk minta ludahku, yang mana tangan basah itu akhirnya dia oleskan ke vagina dan anusnya, Mbak In juga ikut. Jadi kering tuh tenggorokanku. Susi sambil nungging memasukkan jari ke anusnya, Mbak In mengikutinya. Hanya satu yang Mbak In tidak bisa, menjilati putingnya sendiri.</p>
<p>Akhirnya aku punya ide. Susi aku minta berdiri, mengangkat lengan, lalu menjilati ketiaknya. Mbak In yang duduk bersandar di atas kasur ikut mencobanya. Wow, seksi sekali. Ketiak lebat itu basah oleh jilatannya sendiri.</p>
<p>Akhirnya Mbak In tidak tahan waktu melihat Susi mengangkangkan satu kaki di atas ranjang, sambil meremas vaginanya yang merah yang berbulu tipis itu. Susi, gadis sipit dari Pontianak itu memang sensual dan erotis. Mbak In terengah.<br />
“Udah giliranku dulu baru kamu Sus. Ayo Gus, mana burungmu…”.</p>
<p>Aku menarik Mbak In ke sofa. Aku duduk seperti memangkunya, lalu Mbak In jongkok di atas pangkuanku sambil mengangkang, dengan begitu penisku bisa menembus vagina Mbak In yang lebih gelap dari Susi. “Blkessss…”, nikmat sekali masuknya karena sudah licin vagina Mbak In si lajang gila seks. Susi hanya melihat saja. Akhirnya dia punya inisiatif. Dia ciumi vagina Mbak In dan penisku, sementara pantat Mbak In naik turun.<br />
Jadi begini posisinya. Mbak In mengangkang di pangkuanku, menghadap ke depan, dengan vagina tertembus penis, sementara Susi nungging di depan sofa dengan muka menempel di kemaluan kami. Jilatan Susi kian menggila. Ketika penisku keluar, karena meleset gara-gara vagina Mbak In sudah banjir, segera ditangkapnya dan dikocok. Sementara mulutnya masih menggarap clitoris dan vagina Mbak In.</p>
<p>Mbak terengah-engah. Kadang menjerit. Susi memang pintar. Jam terbangnya sebagai wanita nakal tahu bahwa penisku mau muncrat. Maka peniskupun digenggamnya erat, agar kecekik, sehingga maniku tertahan. Sementara itu mulut dan tangan kanan Susi sibuk menggerayangi tubuh Mbak In. Si Mbak rupanya sudah tidak peduli kalau penisku sudah tidak di dalam vaginanya lagi. Oralnya si Susi telah melambungkannya ke alam birahi ternikmat di dunia.</p>
<p>Akhirnya Mbak In mencapai klimaks. Aku dengar suara mulut Susi mengisap-isap cairan vagina Mbak. “Slrppppp..”. Beberapa kali Mbak In klimaks, sampai akhirnya menjerit, “Memek, memek, memekkuuu…, nggak tahan…, Lu memang lonte hebat Susi…, Ajarin aku buat menikmatin seks…, Auhh…, itilku mau lepas, aku kebelet pipis, memekku mau pecah…, Mana burung, mana mani..”.<br />
Semakin seru ucapan Mbak In di ambang puncak dari segala puncak birahinya.</p>
<p>Akhirnya semuanya usai. Mbak In terkulai, dengan vagina memerah basah, begitu pula bulu lebatnya yang basah kuyup, karena campuran cairan vagina dan ludah si amoy Susi. Mbak Indriani turun dari pangkuanku, lalu merebahkan diri di kasur. Aku sudah tidak tahan. Maka segera aku kocok penisku.<br />
Susi tiba-tiba bilang, “Jangan Gus. Itu buatku. Lu pikir gue nggak kangen juga. Biar lonte gue juga butuh nikmat lho..”</p>
<p>Susi rebah di ranjang, di sebelah Mbak In, lalu mengangkang, dan penisku ditariknya. Lalu, “Bles…”. Baru dua menit aku sudah muncrat habis-habisan. Tapi aku tahu siapa Susi karena aku langganannya. Justru ketika aku muncrat itulah dia mulai beranjak orgasme. Ketika penisku melemas, dia seperti berpacu dengan waktu, agar bisa mencapai puncak, sementara vaginanya kian licin karena sperma, dan penisku bisa tergelincir keluar.</p>
<p>Akhirnya dia puncak juga. Dan memberi servis extra, melumat penisku yang melemas dengan mulutnya, sampai penisku betul-betul mengerut kecil dan kering maninya. Setelah itu kami istirahat, memesan makanan yang diantar oleh pelayan. Kami telanjang. Pelayan motel tidak bakal melihat, karena nganternya cuma dari lubang.<br />
“Gua mau mandi ah”, kata Susi. Dia memang cuma makan sedikit, sehingga dengan nikmat bisa mutusin buat mandi. Begitu shower di kamar mandi terdengar, Mbak In meraihku.<br />
“Masih bisa berdiri nggak, Gus?”.<br />
“Aduh, aku capek Mbak, udah lemas..”.<br />
“Ya udah, kita 69 aja ya…, Aku lagi birahi tinggi nih…, Biasa, mau mens Gus”.</p>
<p>Lalu kami ber-69. Mula-mula aku keringkan vagina basah dengan bulu yang awut-awutan dengan celana dalam Mbak In. Itu yang sering aku lakukan, mengepel vagina dengan underwearnya Mbak In.</p>
<p>Setelah vaginanya kering, aku jelajahi dengan mulutku. Rupanya cairan vagina Mbak In juga sudah habis. Jadi aku harus mengeluarkan saliva-ku agar vaginanya basah. Karena aku berposisi 69 di atas, maka kusibak lubang itu selebar-lebarnya, lalu aku ludahi. Setelah basah, aku mengulum clitoris Mbak In yang sebesar mete itu.</p>
<p>Setelah kami berukar posisi. Dia di atas. Setelah itu jariku masuk ke vaginanya. Satu jari dulu, jari tengah, keluar masuk, berputar-putar, menjelajahi lubang si lajang jalang. Lalu dua jari, jari tengah dan telunjuk. Selama dalam lubang, sebisa mungkin aku membentuk tanda V, sambil mengeksplorasi liang Mbak Indriani. Dia mulai terangsang. Mulai merintih. Mulai basah. Akhirnya tiga jariku masuk ke vaginanya, dan berputar-putar.<br />
“Gilaa…, kenapa nggak dari dulu kamu lakukan Gus? Terusss..”.<br />
Karena di atas, Mbak lebih leluasa. Pinggulnya terus bergerak. Aku sempat kehabisan napas, soalnya hidung dan mulutku digusel vagina dan bulu vaginanya tiada henti, sehingga oksigen terhambat masuk ke mulut dan hidungku. Mbak In sendiri makin kuat mengulum dan mengocok penisku. Akhirnya aku ereksi sedikit, dan akhirnya bisa berdiri tegak.<br />
“Terus Mbak, dikocok, diemut, dijilat…, Terus…, sampe keluar maniku..”.<br />
“Sayang banget kalo kamu muncrat sekarang. Masukin dulu ke lubangku, baru kamu boleh muncrat..”.<br />
“Tapi Mbak di atas ya..”.<br />
Mbak In tidak menjawsab, tapi langsung ganti posisi. Dia menindihku dan dalam sekejap vaginanya tertembus oleh penisku. Dia terus bergerak. Keringatnya membanjir. Lipstiknya habis. Rambutnya acak-acakan. Tapi entah mengapa dia jadi kelihatan cantik sekaligus jalang.<br />
“Gus kamu tahan nafsumu, jangan ikutan aktif, biar nggak nggak cepat muncrat..”. Lalu dia memacu diri.</p>
<p>Saat itulah Susi keluar dari kamar mandi, cuma dililit handuk.<br />
“Ayo Susi sayang, bantu aku..”.<br />
Susi ketawa, “Udah tuntasin aja secepatnya Mbak..”.<br />
“Ayo Sus..”, kata Mbak In.<br />
“Tapi tambah Rp 75.000 ya?”.<br />
“Terlalu lu Sus…, Komersil banget sih?”.<br />
“Gue kan nyari nafkah Mbak…” Sambil menjawab, Susi sudah duduk di samping kami. Tangannya meraba biji pelirku.<br />
“Gini deh, mulut gue udah capek nih. Gimana kalo pake jari, tapi gratis?”.</p>
<p>Mbak In yang terengah-engah itu tidak menjawab. Yang terasa sekarang adalah penisku seperti punya teman di lubang. Jari tengah Susi ikut menembus vagina Mbak In. Mbak In blingsatan. Mulai ngomong jorok.<br />
“Bagus, Sus, bagus…, Gila, itil gue lu jepit pake jari ya?, Uhh”, Mbak In kian berkeringat. Aku tidak melihat apa yang sedang trjadi, karena posisiku tidak memungkinkan untuk tahu. Bayangkan, Mbak In di atas, dan terus menciumiku. Aku tahu, birahinya mulai menanjak kencang. Yang pasti kurasakan jemari Susi bermain-main di kemaluan kami.<br />
“Gila! Gila! Gila Gus! Dua jari njepit itilku, lalu jempolnya masuk dubur…, Terlalu Gus! Nikmat Gus! Gila Gus. Jempolnya udah digantiin jari lain…, gilaa, Uhh aku sampai puncak!”.</p>
<p>Mbak In bergerak liar, akibatnya penisku terlepas. Tapi dia tidak mempedulikan penisku lagi, soalnya jemari Susi terus memburu, menggarap clitoris dan anus. Akhirnya Mbak In terkulai setelah menjerit, “Akuuuuuuu!”. Aku sendiri segera mengocok penisku. Tidak sampai semenit penisku sudah mendidih dan siap muncrat. Dengan segera aku bangkit, memiringkan badan, dan mengarahkan penisku ke wajah Mbak In yang tergolek kelelahan dengan nafas terengah-engah. “Cratttt.., tes.., tes..”, Air maniku menyiram wajah Mbak In yang siang ini tampak cantik sekali. Kena pipinya, hidungnya, bibirnya, bahkan matanya. Itulah salah satu petualangan seks-ku dengan Mbak Indriani….</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perawan abg tetanggaku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawan-abg-tetanggaku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawan-abg-tetanggaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2327</guid>
		<description><![CDATA[Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.<br />
“Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku.</p>
<p>Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.</p>
<p>Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.<br />
“Selamat sore Om. Tante ada?”<br />
“Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?”<br />
“Wah gimana ya..”<br />
“Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah.</p>
<p>ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.<br />
“Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.<br />
“Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..”<br />
“Majalah apa sich?”, tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.<br />
“Apa saja. Pokoknya yang terbaru”.<br />
“Oke silakan masuk dan pilih sendiri”.</p>
<p>Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.<br />
“Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa.<br />
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.</p>
<p>“Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku.<br />
“Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana”<br />
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.</p>
<p>Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.<br />
“Sudah ketemu Ren?” tanyaku.<br />
“Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh.<br />
“Mau lihat CD bagus nggak?”<br />
“CD apa Om?”<br />
“Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”</p>
<p>Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.<br />
“Film apa sih Om?”<br />
“Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.<br />
“Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.<br />
“Bagus kan?”<br />
“Ini kan film porno Om?!”<br />
“Iya. Kamu suka kan?”<br />
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.</p>
<p>Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.<br />
“Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya.<br />
“Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.<br />
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.<br />
“Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..”<br />
“Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.<br />
“Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman..”</p>
<p>Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.</p>
<p>“Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.</p>
<p>Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.</p>
<p>“Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.<br />
“Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya.<br />
“Iii.. iya Om. Tapi..”<br />
“Kamu pengin lebih enak lagi?”</p>
<p>Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.</p>
<p>“Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas.<br />
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.<br />
“Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan.<br />
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. “Ouuu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.</p>
<p>Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.<br />
“Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.</p>
<p>“Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”<br />
“Ouuu enak sekali Om…”<br />
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.</p>
<p>Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.<br />
“Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.<br />
“Tapi takut Om..”<br />
“Nggak usah takut. Takut apa sih?”<br />
“Hamil”<br />
Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong”<br />
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.</p>
<p>“Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”.<br />
“Kalau ketahuan Tante gimana?”<br />
“Ya jangan sampai ketahuan dong”<br />
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawan-abg-tetanggaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>murid perawan di les private</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/murid-perawan-di-les-private.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/murid-perawan-di-les-private.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:55:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/murid-perawan-di-les-private.html</guid>
		<description><![CDATA[Fanny Damayanti, adalah seorang gadis dengan wajah cantik, alis matanya melengkung, dan mata indah serta jernih, dilindungi oleh bulu mata lentik, hidung mancung serasi melengkapi kecantikannya, ditambah dengan bibir mungil merah alami yang serasi pula dengan wajahnya. Rambutnya yang hitam dan dipotong pendek menjadikannya lebih menarik, kulitnya putih mulus dan terawat, badannya mulai tumbuh begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fanny Damayanti, adalah seorang gadis dengan wajah cantik, alis matanya melengkung, dan mata indah serta jernih, dilindungi oleh bulu mata lentik, hidung mancung serasi melengkapi kecantikannya, ditambah dengan bibir mungil merah alami yang serasi pula dengan wajahnya. Rambutnya yang hitam dan dipotong pendek menjadikannya lebih menarik, kulitnya putih mulus dan terawat, badannya mulai tumbuh begitu indah dan seksi. Dia tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada dan menyayanginya. Usianya baru 15 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan. Badannya tidak terlalu tinggi berkisar 155 cm, badannya ideal dengan tinggi badannya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.</p>
<p>Seminggu yang lalu Fanny mulai rutin mengikuti les privat Fisika di rumahku, Renne Lobo, aku seorang duda. Aku mempunyai sebuah rumah mungil dengan dua buah kamar, diantaranya ada sebuah kamar mandi yang bersih dan harum. Kamar depan diperuntukkan ruang kerja dan perpustakaan, buku-buku tersusun rapi di dalam rak dengan warna-warna kayu, sama seperti meja kerja yang di atasnya terletak seperangkat komputer. Sebuah lukisan yang indah tergantung di dinding, lukisan itu semakin tampak indah di latar belakangi oleh warna dinding yang serasi. Ruang tidurnya dihiasi ornamen yang serasi pula, dengan tempat tidur besar dan pencahayaan lampu yang membuat suasana semakin romantis. Ruang tamu ditata sangat artistik sehingga terasa nyaman.</p>
<p>Rumahku memang terkesan romantis dengan terdengar pelan alunan lagu-lagu cinta, Fanny sedang mengerjakan tugas yang baru kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol. Fanny berusaha menggapai ke bawah bermaksud untuk mengambilnya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya. Fanny kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Fanny berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.</p>
<p>Aku sebagai orang yang telah cukup berpengalaman dapat merasakan getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu, sambil tersenyum aku berkata, “Fan, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti itu”. Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar Fanny mencubit pahaku sambil tersenyum senang.</p>
<p>“Udah punya pacar Fan?”, godaku sambil menatap Fanny.<br />
“Belum, Kak!”, jawabnya malu-malu, wajahnya yang cantik itu bersemu merah.<br />
“Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar”, lanjutku.<br />
“Habis mereka maunya cuma hura-hura kayak anak kecil, caper”, komentarnya sambil melanjutkan menulis jawaban tugasnya.<br />
“Ohh!”, aku bergumam dan beranjak dari tempat duduknya, mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.<br />
“Minum Coca Cola apa Fanta, Fan?”, lanjutku.<br />
“Apa ya! Coca Cola aja deh Kak”, sahutnya sambil terus bekerja.<br />
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri tubuh Fanny yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri.</p>
<p>“Sudah Kak”, suara Fanny mengagetkan lamunanku, kuhampiri dan kusodorkan sekaleng Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian aku memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.<br />
“Ahh, ternyata selain cantik kamu juga pintar Fan “, pujiku dan membuat Fanny tampak tersipu dan hatinya berbunga-bunga.<br />
Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin dekat padaku.</p>
<p>Pujian tadi membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.</p>
<p>“Kamu bisa ngerti yang baru kakak jelaskan Fan”, kataku sambil melihat wajah Fanny lewat sudut mata.<br />
Fanny tersentak dari lamunannya dan menggeleng, “Belum, ulang dong Kak!”, sahutnya. Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.</p>
<p>Fanny semakin tidak bisa berkonsentrasi, saat merasakan usapan lembut jari tanganku itu, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan senyaman dan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaan yang tak terlukiskan. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi. Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bau parfum yang lembut.</p>
<p>Dia berusaha melirikku, tapi aku cuek saja, sebagai perempuan yang selalu ingin diperhatikan, Fanny mulai mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup, ada getaran yang menjalar lembut lewat tanganku.</p>
<p>Selesai menerangkan aku menatapnya dengan lembut, dia tak kuasa menahan tatapan mata yang tajam itu, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas lembut pahaku, akhirnya Fanny menutup mata karena tidak kuat menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.</p>
<p>“Kamu sakit?”, tanyaku berbasa basi. Fanny menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, Fanny diam saja karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku genggam lembut jari tangan kirinya.</p>
<p>Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku, “Kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa Fan”, gumamku lirih. pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar, dan nafasnya sesak menahan gejolak di dadanya. Dan Fanny ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku, “Ahh..”, Fanny mendesah kecil tanpa disadari.</p>
<p>Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher, dan kembali lagi naik ke telinga beberapa kali. Fanny merasa angan-angannya melambung, entah kenapa dia pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip hatinya perasaan ingin terus menikmati belaian-belaian lembut itu.</p>
<p>“Kamu memang sangat cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!”, kataku merayu.<br />
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibir hangatku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, hangat dan lembut, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah dialaminya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua kejadian itu.</p>
<p>“Ja.., jangan Kak”, pintanya untuk menolak. Tapi dia tidak berusaha untuk mengelak saat bibir hangatku dengan lembut penuh perasaan menyusuri pipinya yang lembut, putih dan halus, saat merasakan hangatnya bibirku mengulum bibirnya yang mungil merah merekah itu bergeter, aku yakin baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dikulum dan dicium bibir laki-laki.</p>
<p>Jantung di dadanya berdegup makin keras, perasaan nikmat yang menyelimuti hatinya semakin membuatnya melambung. “Uuhh..!”, hatinya tergelitik untuk mulai membalas ciuman dan kuluman-kuluman hangatku.</p>
<p>“Aaahh..”, dia mendesah merasakan remasanku lembut di payudara kiri yang menonjol di dadanya, seakan tak kuasa melarang. Dia diam saja, remasan lembut menambah kenikmatan tersendiri baginya.<br />
“Dadamu sangat indah Fan”, sebuah pujian yang membuatnya semakin mabuk, bahkan tangannya kini memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.</p>
<p>“Aaahh”, Fanny mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak dan tubuhnya bergetar menandakan vaginanya mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang dialaminya, hal itu membuat vaginanya terasa geli, merupakan kenikmatan tersendiri. Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.</p>
<p>Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.<br />
“Jangan nanti dilihat orang”, pintanya, tapi tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.</p>
<p>Seakan dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang bersprei putih. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.</p>
<p>“Auuuhh”, bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. “Aaaahh”, dia makin mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.</p>
<p>Aku semakin senang dengan bau wangi di tubuhnya. “Tubuhmu wangi sekali”, kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala. Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Fanny sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.</p>
<p>“Uhh.!”, tanganku menarik bajunya ke atas hingga keluar dari rok abu-abunya, kemudian jari-jarinya melepas kancing yang tersisa dan menari lembut di atas perutnya. “Auuuhh” membuatnya menggelinjang nikmat, perasaannya melambung mengikuti irama jari-jariku, sementara serdaduku terasa makin tegang.</p>
<p>Dia mulai menarik kepalaku ke atas dan mulai mengimbagi ciuman dan kuluman, seperti caraku mengulum dan mencium bibirnya. “Ooohh”, terdengar desah Fanny yang semakin terlena dengan ciuman hangat dan tarian jari-jariku diatas perutnya, kini dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut.</p>
<p>Aku semakin tegang hingga harus mengatur gejolak birahi dengan mengatur pernafasanku, aku terus mempermainkan tubuh dan perasaan gadis itu, kuperlakukan Fanny dengan halus, lembut, dan tidak terburu-buru, hal ini membuat Fanny makin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.<br />
Tanganku mulai menyusup di bagian dada yang menonjol di bawah bra gadis itu, terasa kenyal dan padat di tanganku.<br />
“Aaahh.. Uuuhh. ooohh”, Fanny menggelinjang gelinjang geli dan nikmat, jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadanya yang mulai berkembang lembut dan putih, seraya terus berpagutan. Dia merasa semakin nikmat, geli dan melambungkan angan-angannya.</p>
<p>Ujung jariku mulai mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan kemerahan itu dengan sangat hati-hati. “Kak.. Aaahh.. uuhh.. ahh”. Fanny mulai menunjukkan tanda-tanda terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku, agak susah, tapi dia berhasil. Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin memuncak. “Ngghh.. “, vaginanya yang basah semakin membuatnya nikmat, pikirku. Fanny menurut ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan, lalu dilempar ke samping tempat tidur.</p>
<p>Sekarang tubuh bagian atasnya tidak tertutup apapun, dia tampak tertegun dan risih sejenak, saat mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Di sisi lain dia merasa kagum dengan dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri. Sedangkan aku tertegun sejenak melihat pemandangan di depan mataku, birahiku bergejolak kembali, aku berusaha mengatur pernafasan, karena tidak ingin melepaskan nafsu binatangku hingga menyakiti perasaan gadis cantik yang tergolek pasrah di depanku ini.</p>
<p>Aku mulai mengulum buah dada gadis itu perlahan, terasa membusung lembut, putih dan kenyal. Diperlakukan seperti itu Fanny menggelinjang, “Ahh.. uuuhh.. aaahh”. Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya yang putih, lembut, dan kenyal itu terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidah diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.</p>
<p>“Aaahh..!”, dia merintih geli dan makin mendekap kepalaku, vaginanya mungkin kini terasa membanjir. Birahinya semakin memuncak. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. Uhh”, rintihnya makin panjang. Aku terus mempermainkan buah dada gadis lugu itu dengan bibir dan lidahku, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku yang bidang dan atletis.</p>
<p>Kembali ujung bibirnya kukulum, terasa geli dan nikmat. Saat Fanny akan membalas memagutnya, telapak tangannya kupegang dan kubimbing naik ke atas kepalanya. Aku mulai mencium dan menghisap lembut, dan menggigit kecil tangan kanannya, mulai dari pangkal lengan, siku sampai ujung jarinya diisap-isap. Membuatnya bertambah geli dan nikmat. “Geli.. ahh.. ohh!”<br />
Perasaannya melambung kembali, ketika buah dadanya dikulum, dijilati dan dihisap lembut. “Uuuhh.!”, dia makin mendekapkan kepalaku, itu akan membuat vaginanya geli, membuat birahinya semakin memuncak.<br />
“Kak.. ahh, terus kak.. ahh.. ssst.. uhh”, dia merintih rintih dan menggelinjang, sesekali kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.</p>
<p>Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. aku melirik ke paha mulus, indah terlihat di antara rok yang tersingkap. Darahku berdesir, kupindahkan tanganku dan terus menari naik turun antara lutut dan pangkal paha putih mulus, masih tertutup celana yang membasah, Aku merasakan birahi Fanny semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.<br />
“Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”, terdengar gadis itu merintih panjang. Aku dengan pelan dan pasti mulai membuka kancing, lalu menurunkan retsleting rok abu-abu itu, seakan Fanny tidak peduli dengan tindakanku itu. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya bertekuk lutut, menyerah.</p>
<p>“Jangan Kak.. aahh”, tapi aku tidak peduli, bahkan kemudian Fanny malah membantu menurunkan roknya sendiri dengan mengangkat pantatnya. Aku tertegun sejenak melihat tubuh putih mulus dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.</p>
<p>“Uuuhh”, ketika membalikkan badan, Fanny melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia kaget, malu, tapi ingin tahu. “Aaahh”. Fanny mulai merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang kalah oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya. “Ahh..”, dia diam saja saat aku kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, dia kini memegang dan merasakan serdadu yang keras bulat dan panjang di balik celanaku, sejenak Fanny sejenak mengelus-elus benda yang membuat hatinya penasaran, tapi kemudian dia kaget dan menarik tangannya.</p>
<p>“Aaahh”, Fanny tak kuberikan kesempatan untuk berfikir lain, ketika mulutku kembali memainkan puting susu mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada. Vaginanya terasa makin membanjir, hal ini membuat birahinya makin memuncak. “Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh.. uhh”, sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku menari naik turun antara lutut dan pangkal pahanya yang putih mulus yang masih tertutup celana. Tanpa disadarinya, karena nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.</p>
<p>“Teruuuss.. aaahh.. uuuhh”, karena geli dan nikmat Fanny mulai membuka kakinya, jari-jari Rene yang nakal mulai menyusup dan mengelus vaginanya dari bagian luar celana, birahinya memuncak sampai kepala.<br />
“Ahh.. terus.. ahh.. ohh”, gadis itu kaget sejenak, kemudian kembali merintih rintih. Melihat Fanny menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai menyusup di balik celana melalui pangkal paha dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang basah lembut dan hangat. Fanny makin menggelinjang dan birahinya makin membara. “Ahh.. teruusss ooh”, Fanny merintih rintih kenikmatan.</p>
<p>Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi, dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, Fanny membiarkannya, sudah tidak peduli lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.</p>
<p>Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan mataku, tampak semakin indah dan merangsang. Pangkal pahanya yang sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus. Vaginanya tampak kemerahan dan basah dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang sekarang berdiri tegak sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir. “Kak.. ahh, terus Kak.. ahh.. uhh”.</p>
<p>Vagina yang basah terasa geli dan gatal, nikmat sampai ujung kepala. “Kak.. aahh”, Fanny tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang serdadu yang keras bulat dan panjang itu. Fanny tidak merasa malu lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.</p>
<p>Aku tersenyum penuh kemenangan melihat tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat serdaduku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak kagum.</p>
<p>Sekarang kami tidak memakai penutup sama sekali. Fanny kagum sampai mulutnya menganga melihat serdadu yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, baru pertama kali dia melihat benda itu. Vaginanya pasti sudah sangat geli dan gatal, dia tidak peduli lagi kalau masih perawan, kemudian telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.</p>
<p>Sejenak aku tertegun melihat vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu yang baru tumbuh, lubang vaginanya tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.</p>
<p>Fanny hanya tertegun saat aku berada di atasnya dengan serdadu yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting susu yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri. “Kak.. ahh, terus ssts.. ahh.. uhh”, birahinya memuncak bisa-bisa sampai kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku. “Ahh” terasa hangat dan kencang.</p>
<p>“Kak.. ahh!”, dia tak dapat lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, dia mulai menginginkan serdaduku menyerang ke lubang dan merojok vaginanya yang terasa sangat geli dan gatal. “Uuuhh.. aaahh”, tapi aku malah memainkan topi baja serdaduku sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya. “Ooohh Kak masukkan ahh”, gadis itu sampai merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh kenikmatan.</p>
<p>Dengan hati-hati dan pelan-pelan aku terus mempermainkan gadis itu dengan serdaduku yang keras, hangat tapi lembut itu menyusuri bibir vagina.<br />
“Ooohh Kak masukkan aaahh”, di sela rintihan nikmat gadis itu, setelah kulihat puting susunya mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus selaput daranya, Sreetts “Aduuhh.. aahh”, tangannya mencengkeram bahuku. Dengan begitu, Fanny hanya merasa lubang vaginanya seperti digigit nyamuk, tidak begitu sakit, saat selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Burungku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan sampai setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati. “Ahh”, dia merintih kenikmatan.</p>
<p>Aku tidak mau terburu-buru, aku tidak ingin lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit karena belum terbiasa dan belum elastis. Burung itu masuk lagi setengahnya dan.. Sreeets “Ohh..”, kali ini tidak ada rasa sakit, Fanny hanya merasakan geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya. Fanny menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.</p>
<p>“Kak.. ahh, terus Kak.. ohh.. uhh”, serdaduku terus menghunjam semakin dalam. Ditarik lagi, “Aaahh”, masuk lagi. “Ahh, terus… ahh.. uhh”, lubang vagina itu makin lama makin mengembang, hingga burung itu bisa masuk sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Fanny merasakan nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi. “Aaahh, ooohh, aaahh” vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat. Dia telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti dirinya.</p>
<p>Melihat Fanny sudah mencapai orgasme, aku kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan sejak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina Fanny, “Kak.. ahh.. ssst.. ahh.. uhh”, Fanny merintih dan merasakan nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.<br />
“Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!”, kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan. Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa serdadu menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.</p>
<p>Aku mengeluarkan serdadu yang terpercik darah perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah Fanny dan memeluknya supaya Fanny merasa aman, dia tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan.<br />
“Bagaimana kalau Fanny hamil Kak”, katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.<br />
Sesaat kemudian aku dengan sabar menjelaskan bahwa Fanny tidak mungkin hamil, karena tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.</p>
<p>Fanny semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi bisa berlangsung karena merupakan keinginan dan kerelaannya juga. Diapun bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.</p>
<p>Bangun tidur, Fanny membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi dia kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-sampai aku tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang berserakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian dia pamit pulang dan mencium pipiku yang masih berbaring di tempat tidur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/murid-perawan-di-les-private.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rezza dokter muda dari kota</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/rezza-dokter-muda-dari-kota.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/rezza-dokter-muda-dari-kota.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2387</guid>
		<description><![CDATA[Rezza adalah seorang dokter muda yang baru saja menamatkan pendidikan dokternya pada sebuah universitas ternama di Sumatera. Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa ptt pada sebuah desa di daerah itu. Orang tua dan tunangannya keberatan jika Rezza melaksanakan ptt di daerah itu, selain jauh dari kotanya dan daerah itu masih terbelakang dan terisolir. Orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rezza adalah seorang dokter muda yang baru saja menamatkan pendidikan dokternya pada sebuah universitas ternama di Sumatera. Sebagaimana dokter baru ia harus menjalani masa ptt pada sebuah desa di daerah itu. Orang tua dan tunangannya keberatan jika Rezza melaksanakan ptt di daerah itu, selain jauh dari kotanya dan daerah itu masih terbelakang dan terisolir. Orang tua Rezza sangat keberatan dan ia mengupayakan agar Rezza ditempatkan pada daerah yang dekat dan tidak terisolir itu. Upaya orang tuanya ini gagal karena telah menjadi keputusan instansi pusat dan tidak dapat di batalkan. Kekuatiran orang tua dan tunangannya amat beralasan, karena Rezza adalah masih muda dan belum mengetahui seluk beluk masyarakat desa itu, ditambah kerasnya kehidupan di desa yang terkenal dengan kebiasaan masyarakatnya yang primitif itu. Selain itu Rezza akan menikah dengan Sadewo tunangannya beberapa bulan lagi. Memang Rezza dan Sadewo telah lama pacaran dan kedua orang tua mereka merestui hubungan mereka. Rezza adalah seorang gadis yang masih berumur 24 tahun merupakan mahasiswa kedokteran yang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan, sehingga tdk heran ia dalam waktu yang singkat telah menamatkan kuliahnya. Selain itu ia berparas cantik, memiliki sosok yang membuat lawan jenisnya ingin mendapatkannya, namun hatinya telah jatuh kepada Sadewo yang merupakan pria yang gigih mendapatkannya, hingga ia mau di pertunangkan dengan nya.Sadewo adalah seorang pria yang telah memiliki kehidupan yang mapan pada sebuah BUMN di kota itu, selain itu ia anak dari sahabat ayah Rezza. Selama mereka pacaran hanya diisi dengan makan malam dan kadang nonton. Mereka berdua tidak pernah melakukan hal yang bertentanggan dengan adat dan agama, sebab masing-masing menyadari suatu saat akan mendapatkannya juga nantinya. Setelah melalui perjalanan yang melelahkan Rezza dengan diantar ayahnya dan Sadewo didesa itu. Perjalanan dari kotanya memakan waktu selama 1 mhari perjalanan ditambah jalan yang amat rusak dan setapak. Didesa itu Rezza di sambut oleh perangkat desa itu dan kepala dusun. Dengan sedikit acara, barulah Rezza resmi bertugas. Lalu ayahnya dan Sadewo pulang ke kota besoknya setelah mewanti-wanti Rezza untuk berhati-hati. Hari pertama ia bertugas Rezza dibantu oleh kader kesehatan yang bertugas penunjuk jalan. Rezza menempati salah satu rumah milik kepala dusun yang bernama Tommy. Tommy amat disegani dan ia termasuk orang kaya didesa itu. Umurnya sekitar 67 tahun dan memiliki 3 orang istri. Inipun sering meminjamkan sepeda motornya kepada Rezza untuk tugas-tugasnya, kadang-kadang ia sendiri yang memboncengkan Rezza saat Rezza ingin ke desa sebelah. Bagi Rezza keberadaan Tommy ini amat membantunya di saat ia hampir putus asa melihat lingkungan desa yang hanya terdiri dari hutan dan jalan yang hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor. Karena sering diantar kedesa desa lainnya, seringkali tanpa disadari oleh Rezza telah membuat Tommy menaruh rasa ingin memiliki dari diri, apalagi jika dalam berboncengan seringkali dada Rezza yang montok itu bersentuhan dengan punggung Tommy. Sebagai laki-laki normal iapun merasakan ingin yang lebih jauh lagi. Rezza merasa ia tak bisa bertugas jika tanpa dibantu Tommy. Suatu hari saat pulang dari desa tetangga, mereka kehujanan dan hari saat itu hujan turun dengan derasnya.Lalu dengan buru-buru Tommy mempercepat kendaraannya, secara otomatis Rezza memegang pinggang Tommy dengan erat dan dalam suasana itu Tommy dapat merasakan kehangatan dan sentuhan dada Rezza dengan nyata. Lalu mereka sampai di kediaman Rezza yang merupakan juga rumah milik Tommy. Sesampai didalam rumah, Rezza masuk kekamar dan mengganti pakaiannya dengan kimono handuk, sedang Tommy ia pinjami handuk untuk ganti pakainan yang basah itu. Saat Rezza berganti pakaian tadi Tommy mengintipnya dari celah pintu kamar itu. Jakunnya naik turun karena melihat kehalusan dan kemulusan kulit tubuh Rezza seluruhnya. Dengan langkah pasti ia duduk di ruang tengah rumah itu karena diluar hari hujan. “Wah, hujannya deras sekali pak.” kata Rezza, “Bagaimana jika nginap disini saja pak.” “Ooooo.. terima kasih bu. Kalau hujan reda saya akan pulang…” terang Tommy. “Baiklah pak…” jawab Rezza. Lalu Rezza kedapur dan membuatkan kopi untuk Tommy. “Pak, ini kopinya..”. “Wah kopi… bisa begadang saya malam ini bu.” “O.. ya.. pak.. apa perlu saya ganti dengan teh hanggat?” jawab Rezza. “Ohh… nggak usah bu.. ini juga nggak apa.” timpal Tommy, sambil memandang kearah Rezza. Hingga saat itu hujan belum reda dan Tommy terpaksa nginap di rumah itu. Rezza terus menemani Tommy ngobrol tentang pekerjaan hingga rencana ia akan menikah. Tommy mendengarnya dengan penuh perhatian dan sesekali mencuri pandang dada Rezza. Rezza tak enak hati jika ia meninggalkan Tommy sendirian malam itu karena Tommy telah banyak membantunya. Sedang matanya mulai ngantuk. Sedang hiburan di rumah itu tidak ada karena tidak adanya jaringan televisi. Melihat Rezza yang mulai ngantuk itu lalu Tommy menyuruh Rezza tidur duluan. “Bu, tidur aja dulu biar saya diluar sini.” “Wah saya nggak enak ni pak, masa Tommy saya tinggal.” Rezza memaksakan dirinya untuk terus ngobrol hingga jam menunjukan pukul 9 00 wib yang kalau didesa itu telah larut ditambah hujan deras. Dari tadi Tommy terus memperhatikan Rezza karena suasana malam itu membuatnya ingin mengambil kesempatan terhadap Rezza dengan tidak menampakkan keinginannya. Padahal saat itu tanpa di sadari Rezza Tommy telah duduk disamping Rezza. “Bu… Rezza.., dingin ya bu..” kata Tommy. “Ya pak…,” sahut Rezza.. dengan pasti Tommy, meraih tangan Rezza… “Ini bu, saya pegang tangan ibu ya.., biar dinginnya hilang….” bisik Tommy. Rezzapun membiarkan Tommy meraih tangannya, memang ada hawa hangat yang ia rasakan. Lalu Tommy melingkarkan tangannya di bahu Rezza dan mengelus balik telinga Rezza, padahal itulah daerah sensitif Rezza. Kepala Rezza lalu rebah di bahu Tommy dan seperti sepasang kekasih Tommy terus meransang daerah peka di tengkuk dan bahu Rezza. Rezzapun meresapi usapan dan elusan lembut laki-laki yang seusia dengan ayahnya itu, matanya hanya merem melek. Mungkin karena suasana dan cuaca yang dingin membuat Rezza membiarkan tindakan Tommy itu. Tommy lalu berdiri, dan menarik tangan Rezza hingga berdiri. Rezza menurut, lalu ia tuntun kekamar yang dan menyilahkan Rezza berbaring. “Bu, tampaknya ibu capai.” kata Tommy. “Ya pak..” kata Rezza. Tommy keluar kamar dan mengunci pintu rumah itu dan memeriksa jendela, lalu ia masuk kekamar Rezza kembali sambil menguncinya dari dalam. Ia sudah tidak sabar ingin menggauli Rezza yang telah menjadi obsesinya selama ini malam itu. Tommy berjalan kearah Rezza, yang saat itu duduk ditepian ranjang. “Pak.. koq di kunci?” tanya Rezza. “Biasalah bu, jika malam hujan begini kan biar hawa dingin nggak masuk…” timpal Tommy. “Bagaimana bu apa masih Dingin?” tanyanya. “Iya pak…” angguk Rezza. “Baiklah bu bagaimana jika saya pijitin kepala ibu itu biar segar.” kata Tommy “Silahkan pak…” jawab Rezza. Lalu Rezza duduk membelakangi Tommy dan Tommypun naik ke ranjang itu dengan memijit kepala dan tengkuk Rezza. Padahal yang dilakukannya adalah meransang Rezza kembali untuk bisa……mengusainya. Sebagai laki-laki berpengalaman tidaklah susah bagi Tommy untuk menaklukkan Rezza, yang ia tahu belum begitu tau tentang dunia sex dan laki-laki. Dengan gerakan lembut dan pasti usapan tangannya mulai dari tengkuk hingga balik telinga Rezza. Rezza… menutup matanya menikmati setiap gerakan tangan Tommy. Dari dekat Tommy dapat merasakan dan menikmati kehalusan kulit Rezza. Beberapa saat lamanya pijitan Tommy itu telah turun ke punggung dan diluar kesadaran Rezza kimononya telah turun dari bahunya dan yang tinggal hanya Bh yang menutup payudaranya. Bh itupun dengan kelincahan tangan Tommy jatuh dan sempat dilihat Tommy bernomor 34b. Masih dari belakang gerakan tangan Tommy lalu meremas payudara Rezza. Rezza sadar dan menahan gerakan tangan Tommy.. “Sudah pak…, jangan lagi pak…” sambil memakai kimononya kembali sedang bhnya telah terjatuh. Tommy kaget dan ia memandang mata Rezza, ada nafsu tertahan, namun ia harus mulai memasang strategi agar Rezza, kembali bisa ia kuasai. “Maaf bu.., kalau tadi saya lancang.” kata Tommy. Rezza diam saja. Sedang saat itu Tommy hanya selangkah lagi bisa mengusai Rezza. Lalu Tommy berjalan keluar dan ia tinggalkan Rezza. Kemudian ia balik lagi kekamar itu, dan duduk disamping Rezza, pakaian Rezza saat itu acak-acakan. “Bu…, apa ibu marah?” tanaynya. “Tidak pak tapi sayalah yang salah. Padahal selama saya pacaran dan tunangan belum pernah seperti ini.” terang Rezza. Tommy manggut-manggut mendengar perkataan Rezza. Cuaca malam itu tetap hujan deras dan dingin udara terus menusuk tulang, Tommy mengerti jika Rezza khawatir sebab ia masih perawan, namun tekadnya sudah bulat bahwa malam itu Rezza harus bisa ia gauli. Dalam kebiusan sikap Rezza saat itu, Tommy kembali meraih tangan Rezza dan menciumnya, Rezza diam membisu, lalu Tommy memeluk Rezza dan tidak ada penolakan dari Rezza, Rupanya Rezza saat tadi telah bangkit birahinya namun karena ingat akan statusnya maka ia menolak Tommy. Dijari Rezza memang melingkar cincin tunangan dan Tommy tidak memperdulikannya. Dengan kelihaiannya, kembali Rezza larut dalam pelukan dan alunan nafsu yang di pancarkan laki-laki desa itu. Sekali sentak maka terbukalah kimono Rezza, hingga terbuka seluruh kulit tubuhnya yang mulus itu, tanpa bisa ditolak Rezza.Dengan penuh nafsu Tommy memilin dan membelai dada putih itu hingga memerah dan dengan mulutnya ia gigit putingnya. Keringat telah membasahi tubuh Rezza dan membuatnya pasrah kepada Tommy. Sebelah tangan Tommy turun dan merongoh cd Rezza dan memasuki lobang itu yang telah basah. Lalu ia buka dan tubuh Rezza ia baringkan. Ia amat bernafsu sekali melihat belahan vagina Rezza yang tertutup oleh sedikit bulu halus. Tommypun lalu membuka baju dan cdnya, hingga mereka sama-sama bugil diatas ranjang itu. Penis Tommy amat panjang dan besar. Rezza saat itu tidak tahu apa-apa lagi. Tommypun lalu membuka kedua kaki Rezza dan mengarahkan penisnya kebelahan vagina Rezza. Beberapa kali meleset, hingga dengan hati-hati ia angkat kedua kaki Rezza yang panjang itu kebahunya, dan barulah ia bisa memasukan kepala penisnya. “Aduhhhhhh pak.. aughhhhghhhhh… ghhh… sakit pak…” jerit Rezza. Tommy lalu menarik penisnya kembali. Lalu dengan mulutnya ia beri air ludah ke pinggiran lobang vagina itu biar lancar. Kemudian ia ulangi memasukan penisnya. Dengan hati2 ia dorong masuk dan kepala penis masuk… “Auuuuuggggkkkk…” jerit Rezza. “Sebentar bu…” kata Tommy. “Nanti juga hilang sakitnya buk…” terangnya lagi. Sekali hentak maka seluruh penisnya masuk dan ia maju mundurkan. Padahal saat itu Rezza merasa dilolosi tulangnya. ia gigit bibir bawahnya menahan rasa nyilu dan sakit saat penetrasi tadi.Tommy telah berhasil merobek selaput dara Rezza, hingga kelihatan tetesan darah di paha mulus Rezza saat itu dan membasahi sprey yang kusut. Tangan Tommypun terus memilin payudara Rezza dan kembali menahan pinggul Rezza. Lebih kurang 20 menit ia maju mundurkan penisnya kedalam vagina Rezza sedang Rezza telah 2 kali orgasme, barulah ia muntahkan spermanya didalam rahim Rezza. lalu ia tetap diam diatas tubuh Rezza. Terlihat ketika itu, tubuh putih mulus Rezza berada dibawah tubuh Tommy yang masih membelai dada dan menjilat bibir dan lidah Rezza. Kedua tubuh manusia itu penuh keringat. Di sudut mata Rezza ada air mata karena keperawanannya telah hilang bukan karena tunangannya tapi oleh laki-laki tua itu. Ia tidak punya pilihan lain karena telah terlanjur di setubuhi Tommy. Hingga menjelang pagi Tommy kembali mengulang permainan sex itu dengan Rezza, hingga Rezza merasakan kenikmatan dan mengetahui rahasia dalam permaianan dewasa. Sadewo tidak ia ingat lagi dan saat itu ia terbelenggu oleh gairah dan nafsu yang di berikan Tommy. Sejak saat itu, hubungan kedua insan yang berbeda umur sangat jauh itu terus berlangsung di rumah itu, kadang-kadang di gubuk milik Tommy di tengah hutan daerah itu. Rezza merasa heran karena laki-laki seumur Tommy masih memiliki stamina yang prima dalam berhubungan. Tidak heran jika Tommy memiliki 3 orang istri dan memiliki 3 orang anak yang telah dewasa. Tommypun bermaksud untuk menjadikan Rezza istrinya yang ke 4 karena ia amat bangga bisa memerawani seorang Dokter dari kota dan cantik. Untuk itulah ia terus berusaha menyetubuhi Rezza hingga bisa hamil oleh bibitnya. Rezzapun sulit melepaskan diri dari Tommy. Ia sedang berpikir untuk membatalkan pertunangan dengan Sadewo, karena bagaimanapun ia sudah tidak perawan lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/rezza-dokter-muda-dari-kota.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atik Pembantuku yang manis</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/atik-pembantuku-yang-manis.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/atik-pembantuku-yang-manis.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Saat aku pulang dari kantor ku lihat ada seorang cewek yang wajahnya cukup manis, tubuhnya sintal, tidak terlalu tinggi, Tidak terlalu tinggi 158 cm-an, toket kelihatan montok dan mengkel. Aku yang biasanya gak terlalu peduli sama pembantu kali ini harus ngiler melihatnya. Pikiran seronok langsung menjalar dalam otakku. Siapa gerangan sicewek yang baru membukakan pintu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat aku pulang dari kantor ku lihat ada seorang cewek yang wajahnya cukup manis, tubuhnya sintal, tidak terlalu tinggi, Tidak terlalu tinggi 158 cm-an, toket kelihatan montok dan mengkel. Aku yang biasanya gak terlalu peduli sama pembantu kali ini harus ngiler melihatnya. Pikiran seronok langsung menjalar dalam otakku. Siapa gerangan sicewek yang baru membukakan pintu gerbang saat aku memasukkan mobil ke garasi ini.</p>
<p>â€œSelamat sore Pakâ€¦â€ Sapanya dengan lembut.<br />
â€œSoreâ€ Jawabku singkat. Rasanya bergetar hatiku. Bahaya nih, kenapa aku tertarik banget sama dia ya ? Anganku jadi berkecamuk. Pikiran kotor dan ngeres jadi terus membayang dalam angan. Baru lihat saja kok aku jadi nafsu gini. Padahal dia kan hanya pembantu. Aku langsung masuk ke rumah dan mencari istriku, langsung tanya tentang itu cewek.</p>
<p>â€œItu pembantu baru yaâ€¦ emang dapat dari manaâ€¦?â€<br />
â€œIstri teman kamu tadi yang bawain, katanya dia baru dapat 2, sementara dia Cuma butuh 1 saja, trus dia bawa ke sini. Dia katanya anak lampung.â€<br />
â€œOhâ€¦ jawabku. Kayaknya dia masih bocah gituâ€¦ Emang dia sudah bisa kerja ?â€ Tanyaku.<br />
â€œBaru 18 th, tapi katanya sudah pernah kerja sih. Ya gak salah kan kalo kita coba duluâ€ Kata istriku.<br />
â€œTerserah Mama dechâ€¦ Kan ini urusan perempuan.â€ Padahal dalam hati aku sangat cocok banget dengan pembantu yang satu ini. Pokoknya bakal bisa aku betah di rumah.</p>
<p>Keesokan harinya saat istriku ngantar anakku sekolah, aku coba ajak bicara dia.<br />
â€œNama kamu siapa ?â€ Tanyaku.<br />
â€œAtik Pakâ€ Jawabnya singkat. Walaupun masih agak malu2 tapi kelihatannya dia cukup berani.<br />
â€œUmur kamu berapa ?â€<br />
â€œ18 tahun Pak ?â€<br />
â€œMasih kecil ya kamu, tapi kok kayak dah dewasa gitu, badan kamu tidak sesuai dengan umur kamu. Bahkan maaf yaâ€¦ toket kamu sudah gede banget gitu. Kayaknya sudah pernah diremas2 cowok dechâ€œ Dengan sopan aku berusaha menggodanya.<br />
â€œIh Bapak bisa saja, saya jadi malu.â€ Ujarnya tersipu. Kelihatannya dia tersanjung dengan ucapanku.<br />
â€œPacar kamu pasti nakalâ€¦ dan seneng ngremesin toket kamu yaâ€¦.â€ Karena dia kelihatannya tidak keberatan aku goda.<br />
â€œBapak kok tahu sihâ€¦?â€<br />
â€œTahulahâ€¦ bahkan dengan lihat bentuk badan kamu aku juga tahu kalo kamu pernah, bahkan seringâ€¦ maaf ya jangan marah kalo aku salahâ€¦. Kamu sering dientot kanâ€¦.â€ Tembakku.<br />
Dia kaget, mukanya jadi merah dan kayak orang ketakutan.<br />
â€œJangan malu dan takut, itu kan urusan kamu sendiri. Buat aku gak ada pengaruhnya kok bila pembantu disini walau masih bujang tapi sudah gak perawanâ€¦â€ Aku coba menenangkannya.<br />
â€œTapi Bapak jangan bilang sama Ibu ya Pakâ€¦, saya takut ibu jadi mulangin saya nanti.â€ Pintanya.<br />
â€œIya aku gak akan bilang kok, tapi ada syaratnya. Pertama, kamu harus mau crita tentang pacar kamu, dan gimana dia berhubunganâ€ pancingku.<br />
â€œKami sebenarnya sudah tunangan Pak, makanya setiap ada kesempatan kami sering melakukannya. Tapi dia juga ngencani cewek lain, makanya aku tinggal ke Jakarta.â€<br />
â€œLha kamu sekarang jauh dari pacar kamu, trus apa kamu gak ketagihanâ€¦?â€. Kejarku, karena aku sudah nafsu banget tuk bisa ngentotin dia.<br />
â€œSering juga sih Pak nafsu banget. Bapak kan tahu orang kalo sudah pernah ngrasain yang satu itu pasti akan ketagihan. Tapi gimana lagi, saya sudah jengkel banget sama dia, walau masih cinta.â€ Critanya sambil nunduk.<br />
â€œKalo lagi pingin, gimana kamu ngatasinya ?â€ Dia terbuka banget sama aku. Kayaknya ada kesempatan nih buatku.<br />
â€œIhâ€¦ malu ah Pak.â€ Gak apa2, cerita saja. Siapa tahu aku bisa bantu kamu.<br />
â€œGimana ya Pakâ€¦ saya kan orang normalâ€¦ jadi kalo udah ngebet yaâ€¦â€¦..â€ Dia diam sejenak, kelihatannya ragu untuk mengatakannya. Aku diam saja menunggu, akhirnyaâ€¦.. â€œSayaâ€¦ jadi masturbasiâ€¦. Habis mau sama siapa lagiâ€¦ kan sekarang sudah gak punya pacar lagi. Bapak jangan ketawain saya yaâ€¦ maaf kalo saya ngomong apa adanyaâ€¦â€ lanjutnya.<br />
â€œKasihan juga ya kamuâ€¦, kalo ada kesempatan mau gak kamu aku bantuin nglepas hasrat kamu saat munculâ€¦?â€ pancingku.<br />
â€œBapak bantunya gimanaâ€¦ emang Bapak mau sama sayaâ€¦.?â€ Katanya dengan malu dan ragu-ragu.<br />
â€œAku kan kasihan sama kamu, lagian kalo pas kamu nafsu gak tersalurkan kerja kamu malah berantakan nanti. Emang kamu mau dimarahin Ibu karena kerja gak benerâ€¦?, Kalo bantunya gimana kita lihat saja nanti.â€ Aku denger suara mobil, istriku sudah datang dari antar anak sekolah.<br />
â€œNanti kita atur saja yaâ€¦ Tuh Ibu sudah datang, bukain pintunya dulu.â€ Kataku padanya.</p>
<p>Istriku masuk ke rumah sambil bilang, katanya mau shoping sama temen2nya. Katanya nanti pulangnya sekalian jemput anak dari sekolah. Wah kesempatan bagus nih pikirku, karena aku sudah ngebet banget tuk bisa muasin Atik yang suka kehausan itu. Setelah aku ijinkan istriku langsung berangkat. Aku langsung panggil Atik.</p>
<p>â€œTik, bisa gak kamu bantu pijitin badan akuâ€¦ di kamar yaâ€¦.â€ Pintaku.<br />
â€œBisa Pakâ€ Aku langsung ke kamar, Atik ngikuti dari belakang. Kupikir ini kesempatan bagus, rasanya aku sudah gak kuat nunggu lebih lama lagi. Lagian sayang kalo dilewatkan kesempatan yang ada. Aku langsung copot baju dan celana panjangku. Tinggal CD yang menempel di celanaku.<br />
â€œLho kok pakaiannya dicopot smua Pak, katanya mau dipijitin. Maaf ya Pakâ€¦ karena saya bisa nafsu kalo lihat laki2 hanya pakai cd giniâ€¦â€<br />
â€œYa sudah, kamu siniâ€¦â€¦â€ Ku raih tangannya dan langsung aku tidurin di ranjang.<br />
â€œKamu lagi nafsu kanâ€¦.â€ Atik diam saja.<br />
Aku langgsung cium kening, kelopak mata, hidung terus akhirnya bibirku sampai ke bibirnya. Tanganku dari belakang leher menuju ke arah toketnya yang sudah membusung menanti serangan dariku, setelah sampai kuelus dari pinggir toket memutar trus kuremas dengan pelan.<br />
â€œAghâ€¦. Shhhâ€¦. Pakâ€¦â€¦â€ Dia mulai mendesis dan menggeliat. Bibirnya menyambut bibirku, kuteroboskan lidahku kedalam mulutnya tuk menggapai lidahnya. Dia membalas dengan mengeluarkan lidahnya dan melilit lidahku. Sungguh nikmat rasanya memeluk cewek ABG seperti Atik. Kugigit lidahnyaâ€¦..<br />
â€œOughâ€¦.. shhhhhâ€¦. Pakâ€¦. Atikâ€¦. eenâ€¦.nakâ€¦. terus â€¦ Pakâ€¦â€¦â€ Atik mulai lepas kendali, kelihatan sekali bahwa dia besar nafsunya.</p>
<p>Setelah beberapa saat kami bersilat lidah, bibirku kuturunkan ke lehernya. Secara bergantian kuserang bibir leher dan daun telingannya sambil tanganku terus meremas-remas toketnya kanan dan kiri bergantian. Tak henti2 Atik mengerang nikmat bahkan semakin keras erangannya, pasrah terhadap apa yang aku lakukan.<br />
Aku berusaha membuka baju oblongnya, dia membantu mempermudah dengan mengangkat tangannya. Aku benar2 gak tahan melihat gundukan toketnya, aku buka juga celana dan bra-nya biar lebih mudah meremas dan enak rasanya. Sekarang Atik sama denganku, hanya mengenakan cd. Atik belum berani untuk membalas seranganku, sengaja aku biarkan dia menikmati serangan yang aku lakukan biar dia lain kali ketagihan permainanku.</p>
<p>Kucium pinggir toketnya yang keras dan membusung, badannya langsung menggeliat dan kepalanya menggeleng ke kanan kiri sambil tangannya menjambak rambutnya sendiri. Pelan2 dari pinggir toket bibirku mendaki ke puncak pentilnya, kugigit pelan dan kuhisap secara bergantian, sambil tanganku menerobos cd-nya yang sudah basah. Kutemukan gundukan yang terbelah yang sedang menantikan serangan. Saat tanganku mengelus belahannya dia, semakin menggeliat dan merintih dahsyatâ€¦.</p>
<p>â€œAuwwâ€¦.ssshhhhâ€¦â€¦.Oughâ€¦..Pakâ€¦â€¦ pacarku mainnya gak seenak inâ€¦..niâ€¦ Pakâ€¦.â€ Ceracaunya.<br />
Aku buka cd-nya biar gerakan tanganku lebih leluasa. Atik ngebantu dengan mengangkat pantatnya sehingga aku dengan mudah mencopotnya.<br />
Mengingat dia sudah gak perawan, dengan lembut jari tengahku kuteroboskan memasuki gua nikmatnya yang sangat sempit. Kutemukan benjolan kecil yang sangat basah. Sambil bibirku menyerang toketnya jari tanganku kukeluar masukkan sambil mengelus-elus benjolan shg membuat dia semakin kelojotan dan meraung-raung kenikmatan.</p>
<p>â€œOughâ€¦â€¦ shhhhâ€¦â€¦.Atikâ€¦. meâ€¦. Layanggggâ€¦. Ahâ€¦â€¦â€¦ Pakâ€¦â€¦.â€ Tak kupedulikan ceracaunya, terus kuserang dia.<br />
Kontolku rasanya sudah gak tahan untuk menjelajah dan menyodok memek Atik yang sempit itu. Tapi aku harus sabar, aku pingin dia bisa mencapai puncak dulu biar bener2 puas.</p>
<p>Setelah 15 menit ku serang akhirnyaâ€¦.<br />
â€œ Ahâ€¦ aughâ€¦shhhhâ€¦shhhhâ€¦.. Pakâ€¦. Atikâ€¦.. maâ€¦.uâ€¦..kluâ€¦..arâ€¦.. teâ€¦.ruuuusssssssâ€¦â€¦â€¦.â€ Badannya berkelojotan tak karuan dan mengejan beberapa kali, tanganku kena semburan basah kenikmatannya. Nafasnya terus memburu, akhirnya dia lunglai. Dia aku peluk mesra sambil aku ciumin bibirnya biar dia lebih bisa ngerasa nikmat di puncak orgasmenya. Setelah nafasnya agak normal kutanya,</p>
<p>â€œGimana Atikâ€¦.. Enak yaâ€¦.?â€<br />
â€œAduhâ€¦ enak banget Pak, hampir tak kuat ngrasain ngrasain nikmatnyaâ€¦..â€ jawabnya sambil ngos-ngosan.<br />
â€œ Pemanasan aja mainnya Bapak enak banget, gimana kalo punya Bapak yang masuk yaâ€¦..â€<br />
â€œMauâ€¦..?â€ Tanyaku. â€œMmmâ€¦â€¦â€¦â€ Dia hanya menggumam.<br />
Aku sebenarnya juga sudah gak tahan untuk segera nyodok memek dia, makanya aku dudukin dia di tepi ranjang. Kuraih tangannya untuk memegang kontolku yang menonjol dan masih terbungkus cd.<br />
â€œKok kepalanya kluar Pakâ€¦.. gede bangetâ€¦â€¦..punya Bapak. Mana muat punyaku nantiâ€¦.â€ Komentarnya.<br />
â€œCoba sajaâ€¦..buka saja cd-kuâ€¦.â€ Kataku sambil mengelus2 rambutnya. Atik menarik cd-ku ke bawah karena dia duduk di depanku saat kontolku yang sudah ngaceng berat lepas dari cd mengenai mukanya.<br />
â€œOuwâ€¦. Pak. Bener-bener gede Pakâ€¦..â€ Serunya.<br />
Kuraih kepala Atik dan kutarik dan kusuruh dia menjilat kontolku. Atik menjilati kontolku dari ujungnya, lidahnya dimainin disitu terus kebagian batang dan pangkal kontolku. Aku rasanya melambung kenikmatan. Dia kusuruh menghisap kepala kontolku sambil kepalanya kupegang dan kugerakkan maju-mundur.<br />
â€œOughâ€¦.tikâ€¦..nikmat banget. Kamu pinter banget Tikâ€¦â€¦..â€ Erangku. Sambil ngemut lidah dia tak henti-hentinya mengusap-usap kontolku, dibantu tangannya membantu dengan mengocok maju-mundur sehingga semakin membuatku kenikmatan.</p>
<p>Setelah 10 menit, kusuruh Atik mengeluarkan kontolku dari mulutnya.<br />
Kubaringkan Dia diranjang. Atik membuka selangkangannya, sehingga mempertontonkan gundukan memeknya yang terbelah merekah semakin membuatku bernafsu.</p>
<p>â€œAyo Pakâ€¦. Atik pingin banget rasain kontol Bapakâ€¦â€¦â€ Taka sabar dia.<br />
Aku memposisikan diriku diantara paha dia. Kuangkat kedua kakinya. Kontolku kugesek2kan ke memeknya. Atik meringis tak sabar menunggu. Kutekan pelan kontolku di lubang nikmatnya. Rasanya sempit banget memek Atik. Karena tak sabar dia mengangkat pantatnya yang otomatis membuat kontolku masuk dan kejepit di memeknya. Sungguh nikmat banget memek ABG satu ini.</p>
<p>â€œOuwâ€¦.wwwâ€¦sshhhhâ€¦.. enak Pakâ€¦.. genjotin saya Pakâ€¦. Ouhâ€¦.. nikmatinâ€¦.saâ€¦yaâ€¦.â€ Katanya sambil pantatnya langsung digoyang2, sehingga membuatku ngerasakan nikmat yang tak terkira. Rupanya dia sangat pinter ngelayani pria.</p>
<p>â€œPlok-plok-plokâ€¦â€¦.â€ Bunyi benturan antara pangkal kontol dan memek dia saat aku semakin gencar menggenjot Atik.<br />
â€œOuhâ€¦.. sshhhhâ€¦. Terâ€¦rusâ€¦.. Pakâ€¦â€¦ Enakâ€¦..banngâ€¦ngetâ€¦..kontol Bapakâ€¦â€¦â€ Tak hentinya dia meracau sambil tangannya menjambat rambutnya sendiri dan kepalanya terus menggeleng ke kanan kiri.<br />
Lima menit kemudianâ€¦.<br />
â€œOuwwwâ€¦.. Pakâ€¦.. Aaaâ€¦..tikâ€¦â€¦ samâ€¦. Paiâ€¦. Lagiâ€¦â€¦â€¦â€¦â€¦.oughâ€¦ sssshhhhâ€¦â€¦.â€ Badannya mengejan dan kontolku terasa kesemprot oleh cairan nikmatnya. Saat dia keluar kusambut dengan sodokan kontol dengan semakin gencar sehingga benar2 kelojotan, sampai akhirnya badan Atik melemas.</p>
<p>Kuperlambat kocokanku, kucium bibir dan kuremas toketnya sambil menunggu dia agak pulih lagi.<br />
Setelah kukocok agak pelan selama 2 menit kelihatannya dia mulai tegang lagi.<br />
â€œBapak kuat bangetâ€¦.. aku jadi enakâ€¦..â€ katanya.<br />
â€œAyo bantu aku sampai keluarâ€¦.â€ Kataku.<br />
â€œSiap Pakâ€¦â€¦.â€ Jawabnya.<br />
Akhirnya kegencarkan lagi genjotanku. Atik menggoyang dan memutar pantatnya mengimbangi gerakannku, sehingga kontolku seperti diremas2 rasanya. Sungguh nikmat banget ngentotin Atik.</p>
<p>â€œOuhghâ€¦â€¦.Tikâ€¦..kamu pinter bangetâ€¦.. enak banget memek kamuâ€¦â€¦â€<br />
Lima menit kemudian Atik mengejan lagi dan badannya melemas. Aku juga sudah gak kuat lagi nahan lebih lama.<br />
Kucabut kontolku dan aku merangkak ke atas.<br />
â€œSupaya kamu gak hamil aku semprotin di mulut kamu yaâ€¦â€¦â€ pintaku.<br />
Tangannya langsung meraih kontolku dan memasukkan ke mulutnya. Sambil mengocok dan lidahnya bermain2 dikepala kontolku. Aku semakin blingsatan dan semakin gencar sodokan kontolku dimulutnya. Dan, akhirnyaâ€¦.<br />
â€œOughhhhhâ€¦ssssssâ€¦â€¦..Tikâ€¦â€¦â€¦â€¦â€¦â€¦â€ Aku mengejan dan menyemprotkan maniku yang banyak kemulutnya.<br />
Atik aku suruh nelan spermanya. Atik turuti apa yang aku suruh.<br />
Kami terkulai lemas sambil berpelukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/atik-pembantuku-yang-manis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati tubuh perawan Anita, sepupuku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/menikmati-tubuh-perawan-anita-sepupuku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/menikmati-tubuh-perawan-anita-sepupuku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:24:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku asli/nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku asli/nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.</p>
<p>Sepupuku (selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.</p>
<p>Nah kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.</p>
<p>Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya).<br />
Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, &#8220;Wah temenku sih biasa begituan (ciuman).&#8221;<br />
Terus aku jawab, &#8220;Eh.. kok tau..?&#8221;<br />
Rupanya teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai &#8216;anu&#8217; teman Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.</p>
<p>Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus aku bertanya padanya, &#8220;Eh, kamu mau juga nggak..?&#8221;<br />
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.<br />
Dia bahkan bertanya, &#8220;Sakit nggak sih..?&#8221;<br />
Ya kujawab saja, &#8220;Ya nggak tau lah, wong belum pernah&#8230; Gimana.., mau nggak..?&#8221;<br />
Anita berkata, &#8220;Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, &#8216;anunya&#8217; jadi sakit.&#8221;<br />
&#8220;Iya deh..!&#8221; jawabku.</p>
<p>Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak 5 hari lalu dia sedang menstruasi.</p>
<p>Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh &#8216;anunya&#8217;, dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.</p>
<p>Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar 5 menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.<br />
&#8220;Auw..,&#8221; begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.<br />
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, &#8220;Eeesshh&#8230;&#8221; desisnya.<br />
Lalu kutanya, &#8220;Gimana..? Sakit..?&#8221;<br />
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.</p>
<p>Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.</p>
<p>Hari berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.<br />
&#8220;Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi.&#8221; katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.<br />
&#8220;Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?&#8221; jawabnya.</p>
<p>Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.</p>
<p>&#8220;Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?&#8221; katanya.<br />
Ternyata dia melihatku, kujawab, &#8220;Iya ini sih tandanya aku masih normal&#8230;&#8221;<br />
Aku terus melanjutkan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.<br />
Kubisiki dia, &#8220;Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?&#8221;</p>
<p>Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.</p>
<p>Malam harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.</p>
<p>&#8220;Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan.&#8221; kataku.<br />
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.</p>
<p>&#8220;Eehhsstt&#8230; eehhsstt&#8230; Ouw.., eehhsstt&#8230; eehhsstt&#8230; eehhsstt&#8230;&#8221; begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.<br />
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.<br />
&#8220;Kocokkannya lebih pelan dong..!&#8221; kataku yang merasa kocokkannya terhenti.<br />
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.<br />
Dan akhirnya, &#8220;Oh.., oohh.. oohh.. ohh&#8230;&#8221; rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.</p>
<p>Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah 5 menit, akhirnya aku klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.</p>
<p>Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.<br />
&#8220;Eh, kamu udah selesai mens-nya..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?&#8221; katanya.</p>
<p>Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.</p>
<p>&#8220;Uhh.. esshh.. eesshh.. esshh&#8230;&#8221; begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.<br />
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.</p>
<p>Tapi, &#8220;Auw.. diapaain Mas..? Eshh.. uuhh..&#8221; desisannya tambah mengeras.<br />
&#8220;Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!&#8221; sambil terus kukocokkan jariku.<br />
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.<br />
&#8220;Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?&#8221; pancingku.<br />
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.<br />
&#8220;Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?&#8221; tanyaku.<br />
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.</p>
<p>&#8220;Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu.&#8221;<br />
&#8220;Mana.., mana.., oh ini ya..?&#8221; kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.<br />
&#8220;Ahh. auu.. enakk Maass&#8230; eehh&#8230; aahh.. truuss Mass, terusiinn.. ohh..!&#8221;<br />
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.<br />
Dan akhirnya, &#8220;Uhh.. uhh.. uuhh.. ahh.. aahh..&#8221; dia mencapai klimaks.</p>
<p>Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.<br />
Lalu kubertanya, &#8220;Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini&#8230;? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!&#8221;<br />
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.</p>
<p>Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.<br />
Kutekan lagi dan, &#8220;Auuwww.. ehhssaakkiitt..!&#8221;<br />
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.<br />
&#8220;Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?&#8221; tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.<br />
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.</p>
<p>Karena dia tetap diam, maka kulanjutkan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, &#8220;Wah aku memperawaninya nih.&#8221;<br />
&#8220;Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Uhh.. tadi sakiitt sich&#8230; uhh. geelii..&#8221; begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.</p>
<p>Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan mulutku.</p>
<p>Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah orgasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, &#8220;Crot.. crot.. crot..&#8221; air maniku tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.</p>
<p>Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menurutku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.<br />
Sebelum tidur aku sempat berfikir, &#8220;Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!&#8221;</p>
<p>Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.<br />
&#8220;Wah, bisa hamil nich anak..!&#8221; pikirku.<br />
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.</p>
<p>Begitulah ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak &#8216;horny&#8217;. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/menikmati-tubuh-perawan-anita-sepupuku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memerawani pacar temanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/memerawani-pacar-temanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/memerawani-pacar-temanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Aku anak pertama dari lima bersaudara. Usiaku menginjak 16 tahun manakala orangtuaku harus pindah tugas dari kota K ke kota P. Alhasil waktu itu aku baru dua bulan masuk kelas 1 SMA sayang jika harus pindah, apalagi sekolahku adalah sekolah swasta yang membutuhkan biaya banyak. Atas kebijakan orangtuaku, aku harus kos. Maka aku diantar oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku anak pertama dari lima bersaudara. Usiaku menginjak 16 tahun manakala orangtuaku harus pindah tugas dari kota K ke kota P. Alhasil waktu itu aku baru dua bulan masuk kelas 1 SMA sayang jika harus pindah, apalagi sekolahku adalah sekolah swasta yang membutuhkan biaya banyak.</p>
<p>Atas kebijakan orangtuaku, aku harus kos. Maka aku diantar oleh kedua orangtuaku dan keempat adik-adikku menempati kos baru. Rumah kosku sangat besar, dengan model kuno khas ukiran Jepara. Berbentuk letter L dengan halaman luas, terdapat sepasang pohon mangga. Ruang tamu yang memanjang kebelakang yang bersekat dimana terdapat empat kamar di bagian tengahnya yang berhadapan langsung dengan ruang makan. Semuanya berjumlah sepuluh kamar. Aku sendiri berada di kamar terakhir di bagian letter L-nya. Empat kamar termasuk kamarku berakses langsung keluar melalui pintu samping dengan halaman kecil di tanami pohon mangga kecil. Dipisahkan oleh tembok belakang sebuah rumah.</p>
<p>Teman-teman kosku waktu itu bernama Mbak Mamiek, Mbak Mur, Mas Prayitno, Mbak Srini, Indarto, Sularno dan pemilik Kos. Rumah bagian depan yang tepat membatasi kamarku memiliki dua anak perempuan, Tika kelas tiga SMP dan Sutarmi SD ke las 6.<br />
Ukuran tubuhku biasa-biasa saja 168, berat 60 dengan tahi lalat di dagu sebelah kanan dan rahang sebelah kiri yang kata mbak Srini menarik dan sekaligus membuatku manis kata mbak Srini, padahal aku laki-laki tulen hal ini nanti aku ceritakan. Ukuran penisku juga normal, tegak lonjong keatas tanpa membengkok. Setiap pagi semenjak duduk di SD aku selalu merendam dengan teh basi selama 10 menitâ€“tanpa diberi gula loh (entar di krubut semut, bisa berabe he.. he..), lalu pelan-pelan di kocok-kocok, diremas jangan sampe keluar mani (seringnya sih keluar, abis enak sih). Itu kata anak-anak kos sebelah rumahku dahulu, entah benar atau tidak. Manfaatnya? Itu juga aku belum tahu.</p>
<p>Hari-hari berlalu, aku sudah mulai terbiasa dengan lingkunganku yang baru, aku sering keluar dengan teman-temanku yang baru. Terutama mas Prayit sering meminta menemaniku untuk menemui pacarnya, sebel juga habis jadi obat nyamuk sih. Saat kami pulang sering kami berjumpa dengan Tika. Kami berhenti dan mas Prayit sering menggoda cewek itu, orangnya sih khas cewek K, radak item dibilang cantik juga enggak, manis juga enggak. Lalu apa dong, yah kayak gitu lah.<br />
Lama kelamaan aku juga iseng-iseng ikut menggodanya. Dia pulang jam 12.45 sedangkan aku pulang jam 13.30 dan Cuma aku yang masih sekolah teman-teman kosku sudah bekerja semua, paling cepat jam 17 mereka baru pulang praktis cuman aku yang pulang awal.<br />
&#8220;Duh, lagi santai ya TRE,&#8221; begitulah kalau aku memanggilnya.<br />
&#8220;Baru pulang mas?&#8221;<br />
Aku mendekat, dia hanya mengenakan celana pendek olahraganya dan berkaos tanpa lengan sedang membaca sebuah novel. Lumayan, tidak hitam-hitam amat demikian pikirku manakala ekor mataku menelusuri kakinya.</p>
<p>Begitulah, sering aku menggodanya dan nampaknya dia suka. Naluri laki-lakiku mengatakan kalau dia sebenarnya ada hati kepadaku. Atas dasar keisengan, aku membuat sebuah surat di atas kertas surat berwarna pink dan harum dengan ukuran tulisan agak besar. Sangat singkat, &#8220;Tika, I love u&#8221; kemudian pada malam harinya aku sisipkan di jendela kamarnya, dari luar aku dengar dia sedang bersenandung kecil menyanyikan lagu dangdut kesukaanya.</p>
<p>Dengan cepat kertasku tertarik masuk, hatiku terkesiap takut kalau-kalau bukan Tika yang menariknya. Tidak beberapa lama lampu dimatikan dan jendela terbuka, ah Tika melongokkan kepalanya keluar. Ketika dia melihatku dia tersenyum lalu melambai supaya aku mendekat. Kemudian aku mendekat. Ketika aku mendekat tiba-tiba<br />
&#8220;Cuuppâ€¦!&#8221;<br />
Tika mengecup bibirku, aku terperanjat atas perlakuan itu. Belum lagi keterkejutanku hilang Tika mengulangi perbuatannya. Kali ini dengan sigap aku rengkuh pundaknya, aku lumat bibirnya. Gantian Tika yang terkejut, dia hanya ingin menjawab suratku dengan kecupan kilat justru aku tidak kalah cepat. Lidahku meliuk-liuk dalam mulutnya yang menganga karena terkejut, tampak sekali dia belum pernah melakukan ciuman.<br />
&#8220;Mmmppphh&#8230;&#8221;<br />
Lalu tubuhnya mengejang, rona wajahnya memerah desiran panas napas kami mulai memburu. Tika memejamkan matanya pelan dia mulai mengikuti lidahku yang menjelajah rongga mulutnya dan dia melenguh pelan tertahan manakala lidah-lidahku menaut lembut lidahnya. Refleks tangan kirinya merengkuh tengkukku, menarik lembut kepalaku dan tangan kirinya bertopang pada tepian daun jendela.<br />
Dalam suasana gelap, pelan aku turunkan telapak tangan kananku dan meraih gundukan payudaran sebelah kirinya.<br />
&#8220;Ah..!&#8221;<br />
Tika melenguh lirih dan terkejut, menepis pelan tanganku.<br />
&#8220;Sudah malam, besok yah?&#8221; Bisiknya lirih, memberiku satu kecupan dan menutup daun jendela. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.</p>
<p>Aku kembali kekamarku, tidak kuasa menolak desakan birahi aku lepas semua pakaianku. Dengan tidur terlentang jemari telunjut dan ibu jariku menjepit erat batang kontuolku dan aku tegakkan membuat kepala kontuolku dan otot-ototnya merah membesar. Telapak tangan kiriku menggosok-gosok pelan, sementara cairan bening sudah keluar dari kepala kontuol yang memerah.<br />
Mataku terpejam, aku pentang kedua kakiku lebar-lebar dan membayangkan Tika yang sempat aku pegang payudaranya yang kecil lembut tadi.<br />
&#8220;Ah&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Ssstt&#8230;&#8221;<br />
Kepalaku berdenyut-denyut dan tubuhku terasa melayang tanpa terasa kocokanku semakin cepat seiring desah napasku yang mulai memburu.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230; hhh&#8230;!â€<br />
&#8220;Croot&#8230; croott&#8230; croottt&#8230;!&#8221;<br />
Airmaniku menyembur dengan dasyat, kali ini cukup banyak mengingat kali pertama aku berciuman dan meremas milik perempuan.</p>
<p>Paginya seperti biasa aku siap-siap hendak berangkat, aku biasa naik angkutan umum toh motor juga ada tapi enggak seru. Kebetulan angkutan kosku pangkalan kedua angkutan jadi belum banyak penumpangnya dan aku bisa memilih tempat duduk. Nah, serunya pas pangkalan ke tiga sudah mulai penuh anak-anak sekolah apalagi jalurnya melewati tiga SMA dan 1 SMP, bayangkan deh pas penuh-penuhnya lumayan dapat senggolan susu, he&#8230; he&#8230;</p>
<p>Tika sudah menunggu di samping rumahnya di balik kerindangan pohon Mahkotadewa. Aku berangkatnya agak siang, soalnya sekolahku masuk pukul 7.15, maklum banyak atlit Pelatnas yang bersekolah disekolahku dan biasanya Tika sudah berangkat, pasti dia menungguku toh semenjak malam itu aku resmi jadi pacarnya.<br />
Aku menengok kekanan dan kekiri, kedua orangtua yang seorang guru dan adiknya sudah berangkat semenjak tadi, Tika biasa menggunakan sepeda.<br />
&#8220;Maaf tadi malam, marah?&#8221;<br />
Senyuman dan guratan giginya semakin tampak putih dipadu rona wajahnya yang coklat kehitaman.<br />
&#8220;Tidak tuh,&#8221; seraya aku menghampirinya di kerimbunan. Entah mengapa dia juga beranjak semakin masuk ke lorong samping rumahnya dan tentunya kami semakin tidak tampak dari luar.<br />
&#8220;Habis surat kamu sudah malam sih.&#8221;<br />
Aku raih tangannya dan pelan aku rapatkan tubuhku kearahnya dan aku cium bibirnya ah.. dingin-dingin empuk. Lidah-lidah kami bertautan, matanya terpejam. Jarum jam menunjukkan pukul 6.35 jadi masih ada waktu buat bercinta!</p>
<p>Berlahan aku lingkarkan kedua tanganku kepinggangnya, dia hanya terdiam sambil memejamkan matanya dengan kedua tangannya tergerai kebawah. Akankah aku ditolak? Demikian pikirku manakala pelan aku julurkan telapak tangan kananku kearah dadanya.<br />
&#8220;Jangan disini,&#8221; kemudian menarik tanganku menuju ke belakang gudang.</p>
<p>Disitu terdapat sebuah dipan (tempat tidur kecil) dari bambu dan kami duduk bersebelahan lalu aku rengkuh pundaknya tanpa di komando bibir kami beradu dan saling bertautan, kali ini bagaikan kuda liar terlepas dari kandangnya Tika memeluk erat pinggangku. Matanya terpejam rapat manakala bibirku merayap turun kelahernya. Kali ini tangan kananku dibiarkannya menelusuri payudaranya yang terbungkus baju seragam SMPnya.</p>
<p>&#8220;Ehh&#8230;&#8221;<br />
Tika melenguh lirih manakala aku dengan lembut meremas payudaranya, kecil dan tampak kenyal. Dan sementara bibirku terus meliuk-liuk di sekitar lehernya dan dengan naluri laki-laki bibirku bermain di telinganya sehiingga membuat bulu kuduknya merinding. Tika semakin merapatkan kedua kakinya dan sementara tubuhnya bersandar erat ke tubuhku.</p>
<p>Tika merenggangkan dadanya, memberi jarak agar tanganku leluasa bermain-main di payudaranya dan sementara kepalanya sedikit meliuk-liuk mengikuti gerak wajahku dan di seputar lehernya dan bulu kuduknya sesekali meremang. Baju seragam Tika bagian depan sudah awut-awutan padahal ini adalah hari senin.<br />
&#8220;Hhh&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Hhhhâ€¦hhh&#8230;&#8221;<br />
Hanya desah napas kami yang terdengar. Dan berlahan Tika semakin menekuk tubuhnya dan terlentang keatas dipan bambu. Pelan aku mendekatkan bibirku ke bibirnya, Tika membalasnya penuh gairah. Jemari tanganku membuka satu persatu kancing bajunya seiring dengan berjalannya waktu dari menit ke menit.<br />
Aku menindih pelan seraya membuka resletting celana seragam SMAku yang berwarna abu-abu. Aku menjatuhkan kecupan lembut dibibirnya, refleks Tika membuka mulutnya memberi jalan untuk lidahku menjelajahi rongga mulutnya. Sementara tanganku telah menurunkan celana seragam dan celana dalamku sampai batas pantatku, kini kontuolku telah terbebas.<br />
Aku raih tangan Tika yang sedikit terentang keatas, aku tuntun kearah kontuolku.<br />
&#8220;Uhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Tubuhnya bergetar, payudara yang terhimpit tangannya menyembul kecoklatan berkilatan saat dengan bimbinganku Tika meremas batang kontuolku.<br />
Karena belum terbiasa dan untuk pertama kalinya dia memegang maka genggamannya sedikit kencang dan tidak ada reaksi selain menggenggam. Toh aku juga tidak pernah tahu karena ini juga baru pertama kalinya aku memperlakukan lawan jenisku sampai jauh.</p>
<p>&#8220;Mmmpp&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hhh&#8230; Hhhh&#8230;â€<br />
Ciumanku merayap turun ke payudaranya dan tanganku mulai meraba-raba gundukan diatas selangkangannya.<br />
&#8220;Hhhmmmpp&#8230;&#8221;<br />
Aku serasa melayang ketika tangan lembut yang menggenggam batang kontuolku sedikit naik meraup kepala kontuolku. Tegang dan keras sekali.<br />
&#8220;Sayang&#8230;&#8221; Demikian bisiknya lirih di telingaku ketika tanganku pelan menyibakkan rok seragam biru milikya sedikit naik. Tika mengangkat sedikit pantatnya sehingga dengan bebas roknya tersibak keatas. Ketika aku menoleh kebawah Tika seketika menysupkan kepalanya kedadaku, malu tapi mau dan suka.</p>
<p>Celana dalam warna pink menyembunyikan gundukan kecil diatasnya tampak jelas sekali bagian bawahnya telah basah kuyup. Tika membiarkan tanganku menyusup kebalik celana dalamnya, serasa gundukan belum ditumbuhi banyak bulu, masih ada satu dua dan sangat halus.<br />
&#8220;Basah&#8221; dalam benakku saat telapak tanganku merayap diatas permukaan tempiknya, Tika semakin berani memberiku kesempatan dengan sedikit membuka himpitan pahanya.<br />
Naluriah, demikian istilahnya. Jari telunjuk dan jari manisku pelan menggosok samping kanan dan kiri tempiknya sementara jari tengahku menemukan sebuah biji kacang klentit miliknya. Semakin basah saat aku pelan menggosok-gosok tanganku dengan kaku, maklum belum biasa sih.<br />
Telapak tanganku penuh dengan cairan kental dan lembab. Aku terus menggosok-gosokkan tangannku, hangat, lembab dan licin. Sementara Tika tidak melepaskan genggaman tangannya di kontuolku, kalau tadi di bagian kepala sekarang di bagian pangkalnya yang berbulu.<br />
Bersambung â€¦â€¦<br />
Aku menurunkan celana dalamnyaâ€¦â€¦</p>
<p>Bagian kedua :</p>
<p>Aku menurunkan celana dalamnya sampai kebatas lutunya dan dengan kakiku aku lepaskan. Aku menindihnya dimana sebelumnya tangan Tika yang menggenggam kontuolku aku terlentangkan, membuat sepasang payudaranya yang sempat tertutup sedikit kaosnya membusung. Tika seolah-olah mengiyakan apa yang akan aku lakukan, berarti sungguh dia mencintaiku.</p>
<p>Pernyataan cinta yang secara iseng aku lontarkan ternyata mendapat sambutan yang sedemikian dasyatnya. Sungguh dia kini pasrah terlentang di bawahku. Sementara aku, hanya nafsu yang berputar-putar didalam otakku. Ulangan Fisika pada jam pertama dengan pak Anton sang guru killer dimana tak ada ampun bagi yang tidak masuk pelajarannya tanpa surat keterangan apalagi saat ulangan sudah tidak aku pikirkan.</p>
<p>Aku rentangkan lutut Tika biar pinggulku sedikit leluasa menindih tubuhnya. Tika hanya menurut saja. Aku genggam batang kontuolku, aku arahkan kelobang vaginnanya. Naluri laki-lakiku seolah-olah secara otomatis bekerja.<br />
Saat bagian kepala menempel di bagian lembut dan basah aku menarik napas untuk mengurangi keteganggan.<br />
&#8220;Sreet&#8230;&#8221;<br />
Terasa kepala kontuolku menyibak sesuatu ketika pinggulku aku tekan sedikit. Tika sedikit mengrenyitkan dahinya tanda ada sesuatu yang aneh.<br />
&#8220;Sreet&#8230;&#8221;<br />
Kembali seperti menyobek sesuatu. Kini Tika menggigit bibir bagian bawahnya, wajahnya sedikit tegang sementara wajahku pun demikian, genggaman tanganku sedikit gemetar ketika aku dorong pantatku kebawah.<br />
&#8220;Sreet&#8230; sreeettt&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Mpphhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Erangan lirih dari mulut Tika katika separuh kontuolku sudah menghujam masuk. Tetesan darah perawan menetes, bagaikan aliran sungai Mahakam menetes disela-sela dipan bambu yang kami pakai untuk bergelut. Menetes kebawah, berjatuhan tetes demi tetes keatas tanah yang berdebu.<br />
Aku menarik keatas pantatku dan dengan pelan aku tekan kembali kebawah, kali ini tanganku sudah tidak menggenggam berganti menopang tubuhku yang merapat diatas tubuh Tika.<br />
&#8220;Sreettt&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aaahhhh&#8230;!&#8221;<br />
Tika menjepit pantatku dengan kedua pahanya yang sedikit terangkat menahan perih saat semua kontuolku untuk pertama kalinya menembus vaginnannya. Dan kini semua batang kontuolku sudah menghujam kedalam liang surgawi tempiknya.</p>
<p>Tangannya menggenggam erat, pahanya menjepit kuat pantatku dan wajahnya semakin terpejam. Aku berikan kecupan lembut kebibirnya lalu dia mulai menangis. Dan memeluk tubuhku dengan erat dengan tidak melepaskan jepitan pahanya di pantatku justri kakinya yang terangkat di letakkan diatas betisku.<br />
Berlahan pantatku aku mainkan naik-turun, untuk menenangkannya aku membisikkan sesuatu ketelinganya,<br />
&#8220;Sakit&#8230;?&#8221;<br />
&#8220;Aku tahan, aku sayang kamu&#8230;&#8221;</p>
<p>Suara berderit pada dipan bambu menahan tubuh kami saat kontuolku aku maju-mundurkan, Tika tidak melepaskan pelukannya dan kedua kakinya tetap berada diatas betisku dan kali ini jepitan pahanya di pantatku sedikit mengendor.<br />
&#8220;Plak&#8230; plak&#8230; plak&#8230;&#8221;<br />
Kelamin kemi mengeluarkan bunyi khas saat saling bergesekan dan suara itu merupakan pertama kalinya kami dengar.</p>
<p>Dua puluh menit berlalu dari aku berhasil memerawani Tika, aku terus memainkan kontuolku maklum masih jejaka jadi maju-mundur, maju-mundur terus tanpa ada variasi. Toh dengan demikian lambat laun rasa perih pada Tika mulai hilang, aku pun demikian.<br />
Tika mulai mencari-cari bibirku dan aku menyambutnya dengan mengulum lidahnya dan memilinnya dengan lembut.<br />
&#8220;Hhhmmppp&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Hhhhhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sayang&#8230;&#8221;<br />
Sepuluh menit kemudian Tika mengencangkan pelukannya dan kembali pelan menguatkan jepitannya.<br />
&#8220;Plak&#8230; plakk&#8230; plakkk&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku terus menghujaninya dengan goyangan kontuolku, sesekali aku berlahan untuk menarik napas. Lumayan pegel juga ternyata, palagi rambut kontuolku yang sudah mulai lebat lenyodok-nyodok vaginnanya yang belum berambut membuat rasa perih padanya menjadi suatu sensasi mengenakkan, menggugah birahi yang sedikit berkurang akibat rasa perih.<br />
&#8220;Hhggghh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Aahhhhh&#8230;&#8221;<br />
Tika mengejang, rona wajahnya memerah, napasnya tertahan manakala birahinya menanjak menghantam ubun-ubun dan bagaikan suatu hempasan gelombang menerjang apa saja lalu padam terkulai. Lemas. Banyak energi yang telah dikeluarkan.<br />
Aku terus menggenjot saat Tika sudah jatuh terlentang, kedua kakinya terkulai mengkangkang. Aku topang badanku dengan kedua tanganku kali ini pantatku bebas naik turun. Lesatan kontuolku di dalam vaginnanya bagaikan terpedo yang diluncurkan dari sebuah kapal selam. Seperti ada sesuatu yang akan keluar aku percepat gerakan pantatku naik-turun. Dan&#8230;<br />
&#8220;Ahhhhhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Crott.. croot.. crooot&#8230;&#8221;<br />
Bersamaan dengan aku semprotkan air maniku tiba-tiba,<br />
&#8220;Gubraaak&#8230;&#8221;<br />
Dipan yang kami pakai rubuh karena beban goyangan yang aku lakukan.<br />
&#8220;Ah!&#8221;<br />
&#8220;Aduhh&#8230;&#8221;<br />
Kami jatuh berguling, Tika tetap aku peluk sehingga dia menindih tubuhku. Kontuolku terlepas dari tempiknya, spermaku muncrat kemana-mana. Akibatnya, kontuolku yang masih &#8220;ereksi&#8221; tertimpa pantatnya Tika.<br />
&#8220;Dipan sialan,&#8221; demikian umpatku.<br />
&#8220;Sudah keropos.&#8221;<br />
Lalu kami berdiri, Tika memandangku saat aku meringis menahan ngilu di kontuolku yang tertimpa pantatnya.<br />
&#8220;Sakit?&#8221;<br />
&#8220;He-eh&#8221;<br />
Sambil berdiri dimana aku masih telanjang bulat, Tika mengulurkan tangannya, memegang kontuolku yang sudah terkulai seraya memberikan pijitan-pijitan lembut. Aku tumpangkan kedua tanganku keatas pundaknya.<br />
&#8220;Hari ini kita bolos ya?&#8221;<br />
Aku hanya tersenyum, aku biarkan tubuhku bugil dihadapannya. Tika sambil membersihkan dengan tangan kirinya badanku yang sedikit berdebu memandangku mesra, duh bening mata itu menusuk lekat ke dalam kalbuku.<br />
&#8220;Padahal aku jam pertama ada ulangan fisika.&#8221;<br />
&#8220;O ya?&#8221;<br />
&#8220;Biar saja,&#8221; sambil aku belai rambutnya yang tergerai.<br />
&#8220;Masih sakit?&#8221;<br />
&#8220;Sedikit.&#8221;<br />
&#8220;Enakan sekarang?&#8221;<br />
&#8220;He-eh&#8221;<br />
Tika mengocok berlahan-lahan dan kontuolku seperti diurut tangan lembut, berlahan kontuolku mulai tegak kembali. Aku belai payudaranya yang tertutup kaos dan seragamnya sudah tersibak tidak karuan. Aku cium kembali bibirnya sementara Tika terus dan terus mengurut-urut kontuolku.<br />
&#8220;Mmmpphhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Di kamar yuk?&#8221; Tika meraih seragamku dan menggandeng tanganku masuk melalui pintu belakang dimana dia memegang anak kunci. Setiap dia pulang duluan selalu melalui pintu belakang sedangkan adiknya pulang bersama orangtuanya.<br />
Tika langsung melepas seragam putih birunya yang sudah awut-awutan, sebercak darah perawan masih sedikit meleleh di selangkangannya, Tika langsung merebahkan diri keatas ranjang. Dan aku pelan menempatkan diri keatas tubuhnya, pantatku berada ditengah-tengah selangkangannya.<br />
&#8220;Bleesss&#8230;&#8221;<br />
Kontuolku langsung menyusup ke dalam vaginnannya. Aku ciumi wajahnya dan melumat bibirnya. Sontak Tika merengkuh tengkukku dan aku meremas payudaranya. Sepasang anak manusia bertelanjang bulat saling memagut, memadu cinta, membakar api birahi.<br />
Pikiranku lepas terbang, sudah tidak ada batas sama sekali diantara kami padahal baru semalam aku mengatakan cinta, itupun hanya kesiengan belaka. Ah, setelah ini semua begitu kejam dan jahatkah aku? En tahlah, itu urusan belakang saat ini kontuolku tertanam didalam vaginnannya.<br />
&#8220;Ahh-hh&#8230;&#8221;<br />
Tika menggeliat saat aku mulai kembali aksi kontuolku naik turun. Perih dan pedih berganti kenikmatan, bagaikan sebuah gada dengan kepala membesar membuat sensasi nikmat saat bergesekan.</p>
<p>Kali ini aku tidak perlu kuatir ranjangnya akan ambruk, ranjang berderit-derit saat aku menggoyangkan pinggulku. Seperti tadi Tika memelukku dengan erat dan sepasang kakinya mengait kali ini tidak diatas betisku melainkan lebih naik keatas pantatku.<br />
Desah napasnya semakin memburu di dekat telingaku dan kali ini tidak memerlukan waktu lama Tika sudah mulai mengejang dan walaupun dia mencoba menahan tapi desakan biologisnya lebih kuat.<br />
&#8220;Aahhh&#8230;&#8221;<br />
Tanpa sadar Tika melenguh dengan kerasnya ketika sampai dipuncak birahinya dan dalam hitungan detik pula aku mengikuti.<br />
&#8220;Aakkhhh&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Croottt&#8230; crooottt&#8230; crooottt&#8230;&#8221; aku semburkan airmaniku kedalam rahimnya, entah apa yang akan terjadi sudah tidak aku pikirkan. Aku biarkan kontuolku masih menancap di vaginnanya dan &#8220;pluppp&#8230;&#8221; terlepas dan terkulai lemas.</p>
<p>Jam 10 aku kembali kekamar kosku dibelakang rumahnya setelah sebelumnya untuk yang ketiga kalinya aku menidurinya. Uh, pegal semua badanku. Terutama kontuolku langsung bekerja keras. Aku langsung mandi untuk menyegarkan badan, kosku masih sepi karena semua masih kerja sampai jam 17 kecuali mbak Srini seorang guru SD paling jam 1 sudah pulang, bapak kosku juga pergi biasanya ke pasar untuk mancari hiburan bermain catur, maklum pensiunan. Dan akhirnya aku tertidur sampa sore hari.</p>
<p>Praktis semenjak kejadian itu antara aku dan Tika sudah tidak ada batas apapun, kedua orangtua dan adiknya selalu berangkat jam 6.30 sehingga memberiku keleluasaan untuk bercinta dengannya.</p>
<p>&#8220;Hai pah,&#8221; demikian Tika menyebutku Pah. Lucu juga kedengarannya tapi asyik juga tapi satu hal hingga kini aku tidak mencintainya. Ah, sayang, aku memang jahat sekali. Padahal dia mencintaiku dengan tulus.<br />
&#8220;Hai,&#8221; sapaku pula ketika melewati kamarnya, dia hanya mengenakan kaos oblong sehingga beha warna kuning yang dia pakai terlihat. Sedangkan dia hanya mengenakan celana dalam warna pink dengan sedikit tersipu dia meraih rok seragam biru yang tergolek di ranjang dan menutup bagian depannya.</p>
<p>Barusan aku dengar suara motor orang tuanya berangkat ke sekolah. Lalu dia seperti biasa memberiku kode melalui pintu belakang, sebentar aku menoleh dan tidak ada orang. Teman-teman kosku masih pada tidur kecuali mbak Srini seornag guru SD teman kosku juga sudah berangkat.<br />
Bersambung â€¦â€¦<br />
Aku langsung mengunci pintu dan memeluknya sambil melumatâ€¦â€¦</p>
<p>Bagian ketiga :</p>
<p>Aku langsung mengunci pintu dan memeluknya sambil melumat bibirnya,<br />
&#8220;20 menit,&#8221; pintanya tegas.<br />
&#8220;Oke&#8221;<br />
20 menit bagiku sudah cukup, maklum dia masuk jam 6.55 sedangkan aku jam 7.15. Tanpa perlu komando kami langsung naik keatas ranjang sementara Tika terlihat pasrah dengan dada membusung dibalik kaos oblongnya dan celana dalam warna pink.</p>
<p>Tanganku meraih kaos yang diekanakannya dan menariknya keatas bersamaan dengan behanya, akupun demikian membuka baju seragamku hingga aku bugil. So, kontuolku sudah nafsu langsung ereksi.<br />
Ups&#8230;!<br />
Dingin empuk manakala Tika meremas kontuolku saat aku hendak menindih sedikit tubuhnya sambil meremas payudaranya.<br />
&#8220;Hmmmppp&#8230;&#8221;<br />
Payudaranya bergetar saat aku merabanya dengan lembut, mengeras saat aku meremasnya, menggelinjang saat putingnya aku pilin dengan jemariku dan,<br />
&#8220;Paaahh&#8230;&#8221; merintih saat aku susupkan wajahku diantara sepasang gunung kembarnya dam memberikan gigitan mesra yang meninggalkan tanda merah kebiruan di kulitnya yang kecoklatan.</p>
<p>Aku menurunkan ciumanku keatas perutnya, berputar-putar diatas pusarnya,<br />
&#8220;Aahhh&#8230;&#8221;<br />
Tika merintih geli, refleks genggamannya terlepas dari kontuolku dan mesra mengusap kepalaku dengan tangan kirinya sementara tangan kananya tersibak keatas.</p>
<p>Cewek usia 14 tahun tentunya di kelaminya belum ditumbuhi rambut lebat, beberapa tipis dan baru mulai tumbuh tampak saat aku merayap turun dari perutnya kebawah pangkal selangkanagnnya. Aku geser posisiku dengan menarik keatas pinggulku, dengan posisi itu Tika mulai memberanikan diri mengusap kontuolku sambil memandang lekat-lekat kontuolku.</p>
<p>&#8220;Besar&#8221; pikirnya, itu aku tahu kemudian dari buku hariannya yang aku ambil saat dia kekamar mandi. Aku belum berpengalaman dalam session ini, maka langsung aku julurkan lidahku menjilati langsung klentit dan semuanya dan menghisap menggunakan mulutku.<br />
&#8220;Hhmmppphh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Akkhhh&#8230;!&#8221;<br />
Tidak dinyana Tika terkejut dengan apa yang aku lakukan, refleks dia mengatupkan pahanya sehingga kepalaku terjepit. Refleks juga genggamannya di kontuolku mengencang, tapi dia tidak memejamkan matanya. Dipandangnya kontuolku yang sudah mengeluarkan cairan bening tanda birahi dari ujung kepala kontuolku.<br />
&#8220;Masukin pah, sudah siang,&#8221; pintanya sambil menggeser tubuhku darinya.</p>
<p>Aku merebahkan tubuhku keatasnya, Tika membuka kedua kakinya, memberiku keleluasaan mengarahkan kontuolku dan,<br />
&#8220;Blesss&#8230;&#8221;<br />
Kontuolku melesat masuk kedalam liang vaginnanya yang sudah basah langsung sampai kedasarnya, hangat, lembut dan kenyal. Kontuolku seperti diremas oleh kelembutan dan kehangatan, dipilin oleh cairan birahi dan kami pagi itu menyatu dengan tubuh bugil.<br />
Tika memelukku dan kembali seperti sebelumnya mengaitkan kedua kakinya keatas pinggulku dan aku memacu, melesatkan berulangkali kontuolku kedalam tempiknya. Saling menderu napas kami berkejar-kejaran, sesekali Tika tersipu malu saat dia membuka kelopak matanya dan aku sangat dekat diatasnya memandang tajam kearahnya, tersipu dengan rona wajah memerah dan menyembunyikannya kebawah pundakku. Aku terus menayunkan pinggulku naik turun, suara-suara yang akhirnya terbiasa di telinga kami mengiringi derit ranjang yang terdengar pelan karena goyangan kami.<br />
&#8220;Paahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Sayanggg&#8230;&#8221;<br />
Hentakan birahi merayap keujung kontuolku, dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya. Sementara dengan tegang memelukku erat dan mengapitkan kedua pahanya kuat-kuat di pinggulku. Dinginnya udara pagi dengan jendela berkaca nako menyebabkan kami semakin birahi.<br />
&#8220;Ahhh&#8230;&#8221;<br />
Tika melenguh, mengejang, bergetar dan jepitan vaginnanya meremas-remas kontuolku saat aku hentakkan-hentakkan hingga dasar vaginnanya dimana rambut kelaminku menggesek-gesek klentitnya saat beradu. Dalam hitungan detik, akupun mengejang, sambil menggigit belakang telinganya dan tangan meremas payudaranya aku hujamkan kuat-kuat kontuolku.<br />
&#8220;Ak-akkk-akkhhh&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Croot&#8230; serrr&#8230; croot, croot&#8230; crooot&#8230;&#8221;<br />
Kami terdiam, Tika sudah terkulai lemas dengan bersimbah peluh dan aku biarkan kontuolku terjepit vaginnanya yang berdenyut-denyut lembut. Aku memeluknya dan desah napas kami yang semula menderu-deru berlahan-lahan mulai teratur.<br />
&#8220;Pah, dah siang loh, aku tidak mau bolos lagi,&#8221; Tika mengingatkanku sambil tersenyum. Lalu aku kecup bibirnya dan tampak di leher belakang telinganya membekas gigitanku. Saat kami berpakaian tampak hampir sekujur tubuhnya penuh dengan &#8220;cupang&#8221;-an dan gigitan mesraku. Payudara kirinya membekas jemari kananku tadi saat aku akan orgasme. Tika tersenyum saat aku memandang tubuhnya,<br />
&#8220;Hasil karyamu pah,&#8221; seraya memakai kembali behanya.<br />
&#8220;Karya abstrak mah,&#8221; lalu aku hampiri dia dan aku belai kelaminya yang masih melelehkan spermaku.<br />
&#8220;Tidak dicuci dahulu mah&#8221;<br />
&#8220;Enggak ah, biarin aku tetap merasakan milikmu pah.&#8221;<br />
Jam menunjukkan pukul 7.50 saat Tika mengayuh sepedanya dan aku berjalan ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum. Biasa, buat cari senggolan apalagi jam mendekati waktu masuk.<br />
Pernah suatu ketika aku mewakili sekolahku dalam ajang lomba menggambar, lumayan aku memiliki bakat menggambar. Sebelum jam 1 aku sudah kembali, aku longokkan kepalaku tampak Tika sedang mengerjakan PR-nya. Melihatku dia beranjak keluar melalui pintu belakang.<br />
Darah mudaku seketika bergelora, aku hampiri dan aku lumat bibirnya.<br />
&#8220;Hampir jam 1 pah,&#8221; demikian dia mengingatkan, berarti 30 menit lagi orangtuanya pulang. Sontak aku minta dia nungging dengan kedua tangan diatas dipan bambu (sudah diganti dengan yang baru) lalu aku sibakkan rok yang dipakainya, celana dalamnya aku plorotkan dan lidahku dengan cepat menjilati tempiknya.<br />
Ups, he&#8230; he&#8230; sedikit pesing, sebodo amat. Lalu aku arahkan kontuolku ke vaginnanya dan,<br />
&#8220;Sleeebbb&#8230; bleeesss&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ahhhh&#8230;&#8221;<br />
Tika terkejut dan sedikit meringis menahan perih tapi hanya sebentar dan napasnya sudah mulai tidak beraturan. Berselang lima menit dengan mencengkeram tepian dipan bambu sambil &#8220;mekangkang&#8221; Tika menggeliat seraya melenguh kuat.<br />
&#8220;Aahhhh&#8230;&#8221;<br />
Aku pegang pantatnya dengan kedua tanganku, aku sodokkan kedepan dan kebelakang pantatku sehingga kontuolku leluasa melesak keluar dan kedalam. Lalu aku remas dengan mencengkeram pantatnya manakala kontuolku memuntahkan spermaku.<br />
&#8220;Ahhhh&#8230; hh&#8230; ahhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Serrr&#8230; serrr&#8230; serrr&#8230;&#8221;<br />
Cairan kental putih muncrat didalam vaginnanya seraya menimbulkan bunyi &#8220;ceplak-ceplak-ceplak&#8221;, belum puas aku teruskan genjotanku sampai-sampai Tika hampir jatuh terkulai kalau saja tidak aku topang pinggulnya dengan kedua tanganku.</p>
<p>Semangat mudaku menggelora, aku terus memacu dan memacu. Kontuolku yang semula terasa ngilu karena sudah melontarkan airmaniku berlahan kembali mendapatkan kekuatannya. Aku mati-matian agar kontuolku setelah mengeluarkan airmani tidak terkulai. Aku paksa semangatku agar cepat meraih birahi kembali.</p>
<p>Tika hanya menggigit bibirnya, lemas sekali. Sendi-sendinya serasa mau lepas, napasnya tersengal-sengal. Rasa pening menghantam kepalanya tapi tempiknya ternyata tidakmau kompromi, berlahan cairan birahi membasahi gesekan kontuol dan tempiknya.<br />
Tika tidak kuasa menahan hentakan birahi yang berlahan mulai merambat naik ke ubun-ubunnya. Merayap ke semua ujung syarafnya, jantungnya berdegup dengan kencang, matanya terbelalak dengan semua otot diwajahnya menyembul menyebabkan rona wajahnya memerah.<br />
&#8220;Akkk&#8230; hhhhhh&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Crooot&#8230; crooot&#8230; crooot&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230;&#8221;<br />
Bersamaan kami dihempas oleh puncak birahi, bersamaan kami dihantam oleh kenikmatan surgawi dan bersamaan kami jatuh terjerembab keatas dipan bambu dan seolah-olah dunia terasa melayang. Tika jatuh tanpa daya keatas dipan menyisakan lelehan sperma di selangkangannya dibawah tonjolan pantatnya, ternyata dia pingsan!</p>
<p>Disekolah aku termasuk siswa yang biasa-biasa saja, sedangkan Tika termasuk kategori siswa kelompok &#8220;dodol&#8221; alias &#8220;bego&#8221; dan kategori cewek &#8220;non nominasi&#8221; pantes saja aku radak &#8220;GR&#8221; langsung main tancep pedang aja. Hebatnya aku tidak puas hanya sekali, paling sedikit dua kali, inikah manfaat akibat rendaman air teh basi? Mungkin kali ya ha&#8230; ha&#8230;</p>
<p>Sudah tiga bulan aku setubuhi Tika, selama itu pula dia tidak hamil. Luar biasa, membuat aku ketagihan. Sungguh tidak ada waktu lowong aku dengan dia untuk tidak bermain sex. Terus terang dan terang terus, aku memperlakukan Tika sebagai obyek dan bukan sebagai subyek, duh memang aku sadari aku betul-betul jahat. Tidak jarang Tika sekitar jam 2 siang menyusup masuk ke kamarku, meminta jatah disaat kedua orangtuanya istirahat siang. Ternyata apa yang kami lakukan disiang itu tidak lepas dari mbak Srini teman kosku yang seorang guru SD, nanti aku ceritakan pada bagian tersendiri supaya cerita ini tidak terlalu panjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/memerawani-pacar-temanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembokat Gue yang perawan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pembokat-gue-yang-perawan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pembokat-gue-yang-perawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[Pembokat gue cewek umurnya +/- 16 tahun, anaknya putih, bersih lumayan cakep. Postur badannya agak pendek kira-kira 158 cm beratnya kurang lebih 43 kg. Kejadiannya waktu Nyokap Bokap gue lagi ke luar kota, Gue pas lagi nyetel laser Bokep diruang TV, terus kebetulan dia lewat mau beresin Kamar gue. Dia sempet ngeliat orang bule lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembokat gue cewek umurnya +/- 16 tahun, anaknya putih, bersih</p>
<p>lumayan cakep. Postur badannya agak pendek kira-kira 158 cm<br />
beratnya kurang lebih 43 kg.<br />
Kejadiannya waktu Nyokap Bokap gue lagi ke luar kota, Gue pas<br />
lagi nyetel laser Bokep diruang TV, terus kebetulan dia lewat<br />
mau beresin Kamar gue.<br />
Dia sempet ngeliat orang bule lagi begituan di TV, tapi belagak<br />
enggak pengaruh, kira-kira 5 menit dia dikamar gue, gue yang<br />
udah ngaceng nyelonong juga ke kamar, dia lagi nungging beresin<br />
tempat tidur gue, dia nggak tau kalo gue udah di dalam kamar gue<br />
terus gue pegang pundaknya, dia sempet kaget, terus balik badannya<br />
pas gitu gue cipok aja bibirnya.<br />
dia kayaknya kaget banget tapi nggak berusaha ngelawan (takut kali)<br />
gue lepasin cipokan terus gue tanya :<br />
&#8220;Udah pernah cipokan belum?&#8221;<br />
&#8220;er..eh&#8230;mas kok gitu sih&#8221;<br />
&#8220;Enak nggak..?&#8221; gue pancing<br />
&#8220;Nggak tau ah&#8230;&#8221; katanya<br />
&#8220;Mo lagi nggak?&#8221;<br />
belum sempet dia jawab gue udah lumat lagi bibirnya, kali ini<br />
dia kayaknya lebih pasrah. Pikir gue kesempatan niih<br />
Terus tangan kiri gue pegang teteknya diluar t-shirtnya sementara<br />
tangan kanan gue megang pantatnya.<br />
Kayaknya doi enjoy banget, enggak lama gue rebahin dia diatas<br />
tempat tidur gue sambil gue tindihin dia.<br />
Gue buka zipper jeans gue ama pelorotin celana dalam gue,<br />
batang gue udah berdiri.Gue pegang tangan kanan dia terus<br />
gue suruh genggam batang gue.<br />
&#8220;Gerakin tangan kamu Nit&#8230;&#8221;<br />
&#8220;mass,&#8230; kan malu&#8230;.nih saya&#8221;<br />
&#8220;Enggak ada siapa-siapa kok malu..&#8221;gue jawab<br />
Rupanya dia udah terangsang juga. Gue<br />
keatasin t-shirtnya sampe kelihatan bra-nya warna krem<br />
toketnya sih sedeng-sedeng aja, terus gue ciumin branya<br />
(untungnya doi abis mandi) wangi mek!<br />
Gue singkap bra-nya kelihatan teteknya terus gue kulum puting<br />
nya dia, dia kelojotan<br />
&#8220;ahh&#8230;.mas&#8230;.geli&#8221;<br />
&#8220;ntar juga enak&#8221;<br />
5 menit gue cupangin teteknya, sementara tangan doi udah mulai<br />
jago ngocokin batang gue. Gue pelorotin celan pendek dia bareng<br />
ama celana dalamnya. Dia kayaknya kaget<br />
&#8221; mass&#8230; jangan&#8230;.mas&#8221;<br />
&#8220;Saya cuma mo liat doang kok&#8221; gue kelesin sambil gue cipok<br />
biar dia nggak ngomong lagi<br />
jembutnya hitam halus nggak banyak, terus gue colok2 ma jari<br />
tengah<br />
&#8220;eh&#8230;ehhhh&#8230;.ssaakit mas..&#8221;<br />
&#8220;ntar juga enak, abis barang kamu sempit juga&#8221;<br />
Gue masih terus dikocokin, barang gue udah tegang abis mo<br />
keluar tapi gue tahan.<br />
Gue sempet kangkangin paha doi pake badan gue terus gue arahin batang<br />
gue ke lubang doi, doi tetep megangin barang gue, sempet gue<br />
oles-olesin barang gue ke lubang dia, dia udah basah juga (bag.<br />
dalamnya &amp; barangnya nggak terlalu becek)gue teken kepala barang gue<br />
sampe ilang kepalanya. Dia udah ngerang-ngerang sakit tapi enak<br />
gue cabut kepala barang gue terus gue olesin ludah gue.<br />
Gue tancep lagi kali ini rada licinan dikit.<br />
Setengah batang gue udah masuk kedalam lubangnya terus gue udah mulai<br />
ngocok keluar masuk lubangnya, nmakin lama makin licin dan nggak<br />
terasa lagi semua batang gua udah masuk<br />
&#8220;Mmmaas&#8230;&#8230;&#8221; dia ngejerit pas gue teken seemuanya masuk.<br />
Gue angkat kakinya keatas biar tambah dalem masuknya.<br />
&#8220;Mmass ccepeeet mass&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Nit&#8230;barang kamu enak bbanet&#8221;<br />
&#8220;Kocook mas&#8230;.argh&#8230;.&#8221;<br />
3 Menitan ada gue entotin dia akhirnya gue udah nggak tahan<br />
mo keluar gue tancep yang dalem trus gue keluarin di dalam<br />
crettt&#8230;.cerrttt&#8230;.crret.<br />
Sejak darii itu gue sering ******* ama dia kalo punya kesempatan<br />
sampe akhirnya dia hamil.<br />
Itu perawan pertama yang gue dapetin. Nanti gue sambung lagi<br />
ceritanya waktu gue ngentotin dia di Kamar Mandi dia pas lagi<br />
Hamil muda, yang ternyata memeknya lebih enak ketimbang waktu gue<br />
perawanin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pembokat-gue-yang-perawan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisahku dan 3 orang Perawan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kisahku-dan-3-orang-perawan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kisahku-dan-3-orang-perawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 00:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/2009/11/14/kisahku-dan-3-orang-perawan/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berawal saat 3 orang teman2ku disurabaya berkunjung ke Bandung dan menginap di kostku. Tentu aja ini angin segar, mengingat mereka semua cewek dan masih pada virgin.Sebut saja mereka Rina,Ling,dan Mei. Mei sendiri udah akrab denganku sejak SMP,dan sampai sekarang aku tau itu anak masih virgin.Keakraban kami sendiri udah bisa di bilang TTM lah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini berawal saat 3 orang teman2ku disurabaya berkunjung ke Bandung dan menginap di kostku. Tentu aja ini angin segar, mengingat mereka semua cewek dan masih pada virgin.Sebut saja mereka Rina,Ling,dan Mei. Mei sendiri udah akrab denganku sejak SMP,dan sampai sekarang aku tau itu anak masih virgin.Keakraban kami sendiri udah bisa di bilang TTM lah. Nah,sedangkan yg 2 lagi,memang temen dari SD,Cuma akrabnya pas SMA.</p>
<p>Kebetulan kemarin mereka dapat libur bareng.Jadi mereka inisiatif buat liburan ke Bandung.Aku tentu saja senang mendengar kabar ini.Udah banyak pikiran kotor bersarang di otakku. Sekitar sore,kujemput mereka di stasiun kereta,dan langsung ku ajak ke kostan. Disana sambil istirahat,kami ngobrol banyak soal kenangan2 zaman sekolah dulu. Umur mereka rata2 sama,19 tahun,dan itu digambarkan dengan bentuk tubuh mereka yg benar2 menggiurkan. Dada yg bulat penuh,dan cara berpakaian yang mengundang adik kecilku berontak sejak dari dalam mobil tadi. Rina dan Ling mungkin termasuk cewek liar. Aku tau karma mereka sering cerita soal keseharian mereka di Surabaya.Jadi,urusan dugem dan nakal2an,aku udah maklum. Namun hebatnya,mereka masih bisa menjaga keperawanan mereka. Yg jadi masalah,adalah si Mei yg bener2 masih bersikap seperti anak kecil. Rina dan Ling gak pernah berani cerita dengan Mei soal kehidupan mereka,karma mereka takut Mei akan cerita pada ortunya,dan menyebar ke ortu mereka sendiri.</p>
<p>Akhirnya,pas malam hari,Aku,Rina,dan Ling sepakat,untuk memberi Mei obat tidur.Setelah ia tampak lelap,Kami segera diam2 pergi jalan. Tentu aja tujuannya buat Dugem.Kami benar2 menghabiskan malam sebebas-bebasnya,tertawa,bercanda lepas tanpa kekangan dari orang tua. Disana aku terus mencekoki mereka dengan minuman keras, dengan tujuan bikin mereka mabuk berat. Rina yg gak begitu terbiasa dengan minuman keras,langsung terkapar tidak sadarkan diri,sedang Ling sudah mulai menampakan tanda2 bahwa ia mulai lepas control. Akhirnya kuputuskan buat cabut dari sana.Walau agak repot membawa mereka ke mobil,tp akhirnya aku sukses membawa mereka balik.</p>
<p>Di kostan, Mei tampak masih tertidur pulas. Aku langsung mengangkat Rina ketempat tidur,lalu mengurus Ling yg udah mulai muntah2. Tak berapa lama, Ling juga mulai tertidur, saat itulah nafsuku mulai meledak sejadi-jadinya. Karna mereka sekamar bertiga,gak susah buatku melakukan gerilya.Target pertama,tentu saja si Rina,yg bodynya nyaris perfect dibandingkan kedua temannya. Pertama,aku meyakinkan bahwa dia benar2 gak sadarkan diri. Ku goyang2 badannya dan memanggil namanya,namun ia tetap gak sadarkan diri. Benar2 kesempatan yg bagus,pikirku.Tanpa pikir panjang,kubuka kaosnya yg tampak sudah basah oleh keringat.Aku benar2 gak percaya dengan pemandangan yg ada di depanku. Dada Rina yg membusung,tampak hampir melompat keluar dari Bh-nya yg tampak kekecilan.Kuciumi lehernya,dan kuhirup aroma yg khas dari tubuhnya. Pelan-pelan ciumanku turun dari leher menuju ke belahan dadanya. Tanganku menyusup ke belakang dan melepaskan kaitan BH-nya,lalu kulepas pelan2.Benar2 luar biasa,dadanya putih dan begitu montok,pentilnya berwarna kecoklatan dan mengacung keatas. Langsung saja kuremas dadanya dan kuhisap kedua pentilnya bergantian.Ia tampak bergerak sedikit,sehingga aku harus tetap waspada.Kulanjutkan hisapanku sambil mencoba membuka kancing celananya.Lalu pelan2 kuciumi perutnya sambil tetap turun kebawah dan membuka celananya. Setelah terlepas,tampaklah celana dalamnya yg berwarna hitam.Benar2 merangsang. Kuusap-usap selangkangannya yg sudah tampak becek.Rupanya walau tidak sadarkan diri,ia tetap terangsang dengan perbuatanku ini.</p>
<p>Segera kulepaskan celana dalamnya dan kusaksikan memeknya yg bersih dengan bulu2yg rapi. Memeknya masih terlihat rapat dan belum terjamah. Kuciumi memeknya dan tercium tipikal aroma memek yg biasa kuhirup, anyir, namun menggoda. Itu pula yg membuat aku langsung memainkan lidah ku dan mempermainkan klitorisnya yg tampak masih kecil sekali. Kembali ia bergerak, nampak ia merasakan rangsangan dariku.Namun tetap saja semua akan berantakan kalau sampai ia terbangun.Maka dari itu ku tunggu hingga ia kembali tenang dan terlelap, lalu kulanjutkan lagi permainan lidahku. Selang beberapa waktu,adikku mulai berontak. Aku lalu mengangkat ke dua kakinya dan menaruhnya diatas pundakku. Pelan-pelan kugosokan penisku di depan liang senggamanya sambil mencoba memasukkannya. Perlu waktu lama untuk penisku,agar bisa menembus lubang senggamanya yg begitu sempit. Pelan,tapi pasti aku bergerak maju mundur,sehingga penisku mulai bisa masuk sepenuhnya. Saat sudah kurasa cukup,kupercepat ritmeku dan kurasakan penisku merobek sesuatu, kutarik penisku keluar,dan ternyata benar dugaanku,ada sedikit darah yg keluar dari lobang memeknya dan membasahi penisku.Waow,benar2 <span>perawan</span> dia. Nafsukupun mulai menjadi,aku tidak perduli lagi kalau sampai ia terbangun.Kupercepat goyanganku,merasakan nikmatnya sorga dunia yg sudah lama tidak kurasakan. Akhirnya kubalik ia dalam posisi menungging,dan kuhantam ia dari belakang. Lama permainan itu terasa sampai akhirnya kurasakan aliran spermaku mendesak keluar.Segera kucabut penisku,dan kubalik ia. Kugenjot terus dengan membabi buta.Tampak nafas Rina juga semakin kacau.Aku tidak perduli,terus saja kugoyang dia sampai aku mencapai klimaks.Kucabut penisku dan kutumpahkan spermaku diatas perutnya.Benar2 tubuh yg sempurna.Aku benar2 puas sudah memperawaninya.Kubersihkan spermaku tadi dengan tissue,lalu kupasang kembali pakaiannya agar saat ia bangun besok,ia tidak sadar akan kejadian malam ini. Lalu aku beristirahat sebentar sambil menghisap rokok.<br />
Selesai?Belumâ€¦.Masih ada 2 orang lagi yg akan kurebut keperawanannya.Kutengak obat kuat yg sudah kusediakan,dan kurasakan penisku pelan2 mulai berdiri lagi.Saatnya masuk ke target ke 2â€¦..</p>
<p>Lanjutâ€¦.</p>
<p>Setelah aku mulai merasa tenagaku pulih,segera aku menghampiri Mei yg sudah tertidur dari tadi. Aku memilih Mei,karna ia sudah tertidur lama,jadi tinggal sedikit waktu untuk â€œmempermaknyaâ€. Sedangkan Ling,baru saja terkapar,jadi masih banyak waktu.<br />
Dimulai dengan pemastian bahwa ia masih tertidur,kucoba memanggil namanya,namun tampaknya obat tidur yg kami beri benar2 kuat efeknya.Mei tampak tak bergeming. Perlahan kubuka kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Nafasnya terdengar pelan saat aku mulai menciumi daerah lehernya. Sementara,tanganku sudah menggapai Bh-nya yg berwarna biru dan bermotif bunga,lalu menyingkapnya keatas. Kulihat dada yg tidak begitu besar,tapi cukup menantang. Pentilnya yang berwarna kemerahan,begitu kontras dengan dadanya yg seputih susu.Kujilati dengan lembut kedua putingnya,sambil mencium aroma sabun yg khas dari tubuhnya. Kupermainkan putingnya dan kutarik-tarik hingga kedua putingnya itu mencuat lurus keatas. Lama sekali aku bermain didadanya,merasakan empuknya buah dada seorang <span>perawan</span>.Memang,ini bukan pertama kali aku memegang dada Mei,karna dulu aku juga sering iseng2 meremas dadanya kala sedang bercanda.Namun,baru kali ini aku merasakan dada itu tanpa ditutupi sehelai benang pun.Perutnya naik turun seirama nafasnya yg teratur.Nampak ia begitu dibuai mimpi. Aku pun beranjak dari permainanku diatas dan mulai menjelajah kebawah. Tak sabar rasanya aku ingin melihat memeknya yg selama ini belum terjamah. Pelan-pelan kutarik jeansnya hingga terlepas.Ia menggunakan hotpants berwarna biru,senada dengan warna Bh-nya.Benar2 masih seperti anak kecil,pikirku. Pelan-pelan aku melepas hotpants sekaligus celana dalamnya,dan tersibaklah memeknya yg dipenuhi bulu2 yang tidak beraturan.Tampak lebat,namun tidak mengurangi nafsuku untuk bermain lidah didalam liang kenikmatan itu.Memeknya masih kering.Rupanya ia tidak merasakan rangsangan apapun karna efek obat tidur tersebut.Akupun terus melanjutkan permainan lidahku hingga memeknya begitu basah dengan air ludahku.Kubuka lebar kakinya kesamping dan kucoba permainkan jariku dalam lubang memeknya.Akhâ€¦Menggunakan jari saja sudah terasa sempit,apalagi kalau sampai nanti kumasukan penisku.Maka dari itu aku mencoba membiasakan vaginanya,agar sedikit lebih terbuka.Pertama kumainkan dengan satu jari,lalu lama kelamaan kucoba dengan 2 jari.saat kucoba memasukan jari ketiga rupanya vaginanya sudah tidak dapat menerima lagi,jadi kuputuskan untuk terus mempermainkannya dengan 2 jari.Yang aku heran,tidak ada darah yg keluar saat aku menusuk memeknya dengan jariku.</p>
<p>Namun,tanpa mengurungkan niatku,aku terus melampiaskan nafsu pada tubuh mungil tersebut,apalagi adikku juga sudah tampak berteriak meminta untuk di pertemukan dengan sahabat baiknya itu.Aku lalu melebarkan 2 kakinya ke sampingku dan mengarahkan penisku keliang senggamanya.Sulit sekali aku memasukan penisku.Tampaknya jariku tadi tidak cukup untuk memberi ke-elastisan yg diperlukan.Apalagi memeknya begitu kering,hingga aku harus terus2an melicinkannya dengan ludahku.Dengan usaha keras akhirnya pelan-pelan memeknya mulai membuka.Kepala penisku merengsek masuk dan membuka jalan hingga akhirnya hampir seluruh penisku masuk.Kucoba memasukan penisku seluruhnya,namun sepertinya terantuk sesuatu dan tidak bisa masuk lagi.Akhirnya kucoba menghentak dengan kasar dan sekuat tenaga.Terdengar bunyi â€œCrekkk..â€,dan kemudian mengalirlah darah <span>perawan</span> yg sedari tadi kunantikan.Tersenyum puas,aku melanjutkan goyanganku dengan irama pelan,menikmati jepitan memeknya yang begitu kuat.Aku benar2 terbuai dengan kenikmatan yg tiada tara.Namun aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dengan bermain satu gaya,kubalikan badannya dan kubuat ia dalam posisi menungging.Pantatnya begitu menggairahkan dan begitu bulat.Namun aku tidak tega untuk melakukan anal dengannya.Akhirnya kugenjot ia dalam posisi Doggy Style selama beberapa menit.Sambil menggoyangnya,kuremas kedua dadanya keras-keras tanpa takut membangunkannya,karna aku tau,reaksi obat tidur tadi akan masih tersisa beberapa jam lagi.<br />
Kembali kubalikan ia dan kugenjot dengan ritme yg makin cepat.Begitu adikku mulai menunjukan tanda2 ingin klimaks,segera kucabut penisku dan kukocok hingga spermaku bermuntahan diatas dadanya.Nafasku makin memburu,bukan karna kelelahan,tapi justru karna nafsuku yang semakin tinggi.Inilah efek obat kuat yg sudah ku tengak tadi.Kubersihkan spermaku dari atas dada Mei,lalu kupasang kembali baju dan celananya.Kuperbaiki posisi tidurnya dan karena faktor nafsu yg sudah meledak-ledak,aku langsung menuju targetku yang terakhirâ€¦Ling!</p>
<p>Lanjut lagi nih bro&#8230;</p>
<p>Permainanku dengan Rina dan Mei,benar2 menguras tenaga.Namun efek obat kuat,membuat adik kecilku terus terjaga dan minta jatah yg lebih.Tubuh Ling mulai menarik dimataku. Bodynya memang kurang jika dibandingkan dengan Rina dan Mei,Sedikit lebih kurus,dan pantatnya nyaris datar.Satu kelebihannya adalah,dia memiliki dada yg cukup besar bila dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus.Kepalang tanggung,kuputuskan menyelesaikan permainanku pagi ini bersama Ling.</p>
<p>Pertama kulepas seluruh pakaian yg menempel ditubuhnya.Kutatap dadanya yg seperti pepaya baru masak itu,dan memek yg mulus,tanpa ditutupi oleh jembut sedikitpun.Tampaknya ia mencukur rapi dan begitu merawat daerah kewanitaannya itu.Tak sabar lagi,kuremas kedua dadanya tanpa perduli dia akan terbangun.Ia tampak bergerak dan mengejang.Sudah pasti ia merasakan semua ini.Kupelintir putingnya sambil menghisap putting yg lain. Kubasahi seluruh permukaan dadanya dengan jilatanku. Terdengar nafasnya yg mulai menderu,seiring rangsanganku yang mulai kudaratkan keseluruh tubuhnya. Kuciumi lehernya,dadanya lengan,hingga ketiaknya.Aku benar2 sudah dikuasai nafsu.Ciumanku menurun kedaerah perutnya,terus menjalar ke daerah kaki dan pangkal pahanya.Ia mulai bergerak gerak tak karuan.Namun aku sudah tak peduli lagi.Kuhampiri memeknya yg plontos itu dengan lidahku dan bermain-main disana. Memeknya sudah becek,dan terasa asin di lidahku.Terus kulanjutkan permainan lidahku sampai akhirnya kedua kakinya menjepit erat kepalaku,memaksaku untuk terus memberinya rangsangan disana.Kutoleh keatas,nampak matanya masih tertutup.Rupanya ia masih setengah sadar.Kubuka pinggiran memeknya dan kumasukan lidahku kedalam liang <span>perawan</span> itu.Begitu harum dan nikmat rasanya.</p>
<p>Mulai terdengar desahannya,menandakan ia benar-benar menikmati perlakuanku ini.Namun aku belum mau meninggalkan memeknya yg masih menantangku untuk terus memainkan lidahku itu.Lama sekali,sampai akhirnya kudengar Ling bersuara,â€Akhâ€¦Teruusssâ€¦â€.Akupun terkejut dan langsung menarik kepalaku.Ia menoleh kearahku dan kemudian menarik kepalaku kembali kearah memeknya.Rupanya ia terbangun.Namun aku tak tau apakah efek minuman yang membuatnya begitu,atau memang ia ingin merasakan kenikmatan dunia yg selama ini belum pernah ia rasakan.â€terusâ€¦terusâ€¦â€.Erangnya.Tentu saja aku tak menyiakan kesempatan ini.Dengan buasnya kupermainkan lidahku di dalam dan luar memeknya.Ia terus mengeluarkan suara-suara yg menandakan ia benar-benar terangsang.â€Aukhâ€¦Akhâ€¦Hahâ€¦Hahâ€¦â€,makin lama suaranya makin keras hingga aku khawatir ia bisa membangunkan kedua temannya.Maka ku bopong ia keruang tamu,sambil mulutnya terus meracau tak jelas.Masih mabuk dia rupanya.Kutaruh dia di sofa dan kembali aku mengangkangkan kedua kakinya dan meneruskan permainanku yang sempat terhenti tadi.Kembali terdengar desahannya.Akhirnya aku beranjak dari posisiku dan kuarahkan penisku ke memeknya sambil terus mengulum pentilnya yg mengacung keras.Tak sulit untuk penisku memasuki memeknya karna tampaknya ia sudah begitu basah dari tadi.Pelan2 kugoyang ia,dan tak perlu waktu lama untuk tau bahwa di penisku mengalir cairan berwarna merah.Ya,benar2 perfect score untukku yang berhasil memperawani 3 wanita dalam satu malam.Kugenjot terus dia sambil memperhatikan wajahnya yg sayu namun terlihat jelas bahwa ia menikmati permainan ini.</p>
<p>Tiba2 tubuh Ling mengejang,menandakan ia mengalami orgasme pertamanya.Lalu tiba2 ia mendorong tubuhku ke belakang.Dan setelah itu ia merayap naik keatasku.Aku benar2 bingung,apakah saat itu ia sadar atau tidak.Dan tanpa di komando,ia menuntun penisku memasuki memeknya dan menggoyang tubuhnya sendiri. Benar-benar liar,pikirku.Nampaknya ia benar2 berbakat dalam urusan seks.Hanya saja ini pertama kali ia bisa melepaskan kemampuan terpendamnya itu.Akh..Begitu nikmat sekali goyangannya diatas tubuhku.Matanya terus menatapku namun ia tampak lebih memilih menikmati permainan saat itu,daripada memenuhi rasa ingin tahuku tentang apa yg terjadi dengannya.Ia terus mendesah tak karuan,sampai kembali ia mengalami orgasme kedua kalinya.Tubuhnya jatuh kebelakang dan terkulai lemas.Tp ini saatnya giliranku ganti memompanya.Kubalik tubuhnya,dan kugenjot ia dari belakang.Ia tampak pasrah dan terus mendesah menyebut namaku.Lama hingga akhirnya kurasakan aku mencapai klimaks.Kucabut penisku dengan maksud menyemburkan spermaku di pantatnya.Namun tiba-tiba Ling berbalik dan segera meraih penisku.Dikocoknya cepet-cepat sambil membuka mulutnya.Waow,pikirku.Tak pernah aku menyangka akan kejadian ini.Aku merasakan penisku seakan ingin meledak.Akhirnya spermaku merengsek keluar dan bertumpahan di dalam mulut Ling.Sebagian tampak berceceran disekitar bibir dan rambutnya.Kuberikan ia tissue untuk membersihkan wajahnya,dan setelah itu kami terkapar kelelahan di sofa ruang tamu.Aku beristirahat sebentar sambil membiarkan ia tertidur dalam pelukanku.Setelah ia nampak lelap,baru kubopong ia kembali ke kamar,dan kupasang kembali bajunya.Setelah berpakaian,akupun kembali keruang tamu dan tertidur,sambil tersenyum puas dengan apa yg terjadi malam ini.</p>
<p>Besoknya,aku dibangunkan Rina.Ia tampak tidak menyadari kejadian semalam.â€Cari makan yukâ€ katanya.Akupun beranjak bersamanya untuk membangunkan Ling yg katanya masih tertidur.Saat melewati kamar mandi,Aku berpapasan dengan Mei.â€Rin,koq â€˜anukuâ€™ perih ya?â€katanya.Aku berpura-pura tertawa mendengarnya.â€Aduh,ngomong masalah cewek koq di depan cowokâ€,kataku.Lalu aku biarkan mereka berdua di depan kamar mandi membahas tentang â€˜masalahâ€™ Mei.Aku masuk ke kamar dan ternyata Ling sudah bangun,namun masih berbaring di tempat tidur.â€Aduh,kepalaku pusing bgt nihâ€,katanya.â€Ya sudahâ€ sahutku,â€Mandi sana,anak2 dah mau cari makan tuhâ€.Lalu aku beranjak menuju pintu.Saat aku hampir menutup pintu,tiba2 Ling berkata,â€Hei,malam tadi asyik yaâ€¦Enak bgtâ€¦Kapan2 lagi yuk!â€.Aku yang mendengar itu hanya bisa tercengang dan tak bisa berkata-kata.Akhirnya aku tersenyum dan berkata,â€Liat nanti ya,hehehheheâ€¦â€¦.â€.Aku pun segera mandi dan berpakaian.Nampak Rina dan Mei sudah menunggu di ruang tamu.Tampaknya mereka sudah tidak membahas lagi â€˜masalahâ€™ Mei tadi.Setelah menunggu Ling mandi dan berpakaian,kami pun pergi berkeliling kota.Ya,malam itu benar-benar malam yg luar biasa bagiku.Sampai kini,hanya Ling yg tahu tentang kejadian malam itu.Dan hubunganku dengan Ling mulai menjadi amat dekat,terutama dalam urusan seks.Namun,petualanganku dengan Ling adalah cerita di Bab lain dalam kehidupanku.Sekarang semua sudah berlalu,dan aku akan selalu mengingat hari itu selamanyaâ€¦</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kisahku-dan-3-orang-perawan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Gemerlap, Dunia Hampa &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/dunia-gemerlap-dunia-hampa-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/dunia-gemerlap-dunia-hampa-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2912</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Erangan panjang menandakan kenikmatan yang tiada taranya. Aku malu sekali ketika orgasme dihadapannya. Ritme ciumannya pada kemaluanku perlahan-lahan mengendur seiring dengan tekanan yang kurasakan. Martin memang hebat. Dia sudah berpengalaman memuaskan ceweq. Dia bisa tahu timing yang tepat kapan harus cepat dan kapan harus pelan. Aku jadi curiga apa dia berprofesi sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Erangan panjang menandakan kenikmatan yang tiada taranya. Aku malu sekali ketika orgasme dihadapannya. Ritme ciumannya pada kemaluanku perlahan-lahan mengendur seiring dengan tekanan yang kurasakan. Martin memang hebat. Dia sudah berpengalaman memuaskan ceweq. Dia bisa tahu timing yang tepat kapan harus cepat dan kapan harus pelan. Aku jadi curiga apa dia berprofesi sebagai gigolo yang biasa memuaskan Tante-Tante kesepian. Hehehe..</p>
<p>&#8220;Lho kok cepat? Udah terangsang dari tadi ya?&#8221; tanyanya sambil senyum-senyum mesum.</p>
<p>Mukaku memerah ketika aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku memukulnya dengan bantal sambil menggodanya. &#8220;Kamu gigolo ya? Kok hebat banget?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, gigolo! Kurang ajar! Gua ini memang Don Juan Surabaya ya! Belum pernah ada ceweq yang tidak puas kalau main denganku!&#8221; katanya pongah.</p>
<p>&#8220;Teman-temanku sampai menjuluki aku ‘Sex Machine’!&#8221; lanjutnya.</p>
<p>&#8220;Ngibul! kamu pasti gigolo!&#8221; godaku sambil memukulnya dengan bantal lagi. Kami perang mulut selama beberapa saat.</p>
<p>Kemudian Martin mengakhirinya dengan berkata, &#8220;Enak aja menghinaku! Sebagai balasannya, nih..&#8221; Martin melompat kearahku dan memasukkan kepalanya diantara kakiku.</p>
<p>Dia langsung melumat kemaluanku dengan mulutnya lebih ganas lagi padahal kemaluanku masih berdenyut-denyut geli. Aku menjerit-jerit karenanya. Gelinya luar biasa! Entah apakah kemaluanku sudah sangat basah atau tidak, aku mendengar bunyi berkecipak di kemaluanku. Rasa geli yang menerpa segera berubah menjadi nikmat. Aku terhanyut lagi dalam permainan lidahnya.</p>
<p>Aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Badanku rasanya lemas semua. Malam itu aku mudah sekali orgasme. Entah apa mungkin itu karena pengaruh ineks atau memang aku sudah dalam keadaan puncak, aku tidak tahu..</p>
<p>Kami break sebentar. Martin tidur terlentang. Kulihat penisnya berdiri tegak bagai tugu monas. Kepalanya yang merah mengkilat karena cairan maninya meleleh keluar. Aku duduk di dipangkuannya dan memegang penisnya yang keras.</p>
<p>&#8220;Lho, sejak kapan celana dalammu lepas? Aku kok nggak tahu?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Hehehe.. kamu merem terus dari tadi sampe nggak tahu kalo burungku udah menunggu-nunggu ditembakkan ke sasaran!&#8221; candanya.</p>
<p>Aku kasihan padanya. Kuelus-elus penisnya sambil menggodanya. Lalu aku naik ke atas tubuhnya dan duduk tepat diatas penisnya. Martin tampak terangsang melihat tindakanku. Kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur diatas penisnya sambil kuelus-elus dadanya. Martin memejamkan matanya sambil merasakan sentuhan-sentuhan kemaluanku di penisnya. Aku juga merasa geli-geli nikmat saat penisnya yang keras dan licin menggeser klitorisku.</p>
<p>Lama-lama Martin tidak kuat menahan rangsangan. Dia bangkit dan memeluk tubuhku. Kami berciuman. Tanpa mempedulikan bau cairan vaginaku di mulutnya, aku terus menggoyangkan pinggulku maju mundur. Kemaluanku yang basah semakin memudahkan penis Martin bergesekan diantar bibir kemaluanku. Gerakan kami makin lama makin liar, sampai akhirnya pertahananku runtuh!</p>
<p>Penis Martin mengoyak keperawananku! Kepala penisnya selip dan masuk ke vaginaku. Aku menjerit kaget dan gerakanku terhenti. Untuk sesaat aku merasa sakit karena ada benda sebesar itu masuk ke vaginaku. Martin juga berhenti dan hendak mencabut penisnya dari vaginaku. Namun aku mencegahnya. Aku benar-benar terhanyut dalam fantasiku sendiri akan kenikmatan persetubuhan. Kupeluknya erat-erat tubuhnya. Disamping rasa sakit, aku merasakan suatu kenikmatan yang lain. Aku ingin merasakan lebih lama lagi.</p>
<p>Secara tak sadar aku merendahkan pinggulku perlahan-lahan sampai penis Martin memenuhi liang vaginaku. Rasanya sungguh luar biasa! Aku memeluk Martin sekuat tenaga dengan napas terputus-putus. Kucengkeram punggungnya dengan kuku jariku tanpa peduli dia kesakitan atau tidak. Tak terlukiskan perasaanku saat itu. Aku mengerang-erang. Rasanya seluruh sarafku terputus dan terpusat di kemaluanku saja. Martin membiarkanku sesaat menikmati moment ini. Dia pasti juga sedang menikmati koyaknya selaput daraku.</p>
<p>Perlahan-lahan Martin mulai menggoyangkan pinggulnya. Penisnya bergerak-gerak perlahan dalam kemaluanku. Aku mendesah mengaduh-aduh menahan nikmat dan geli. Vaginaku masih sangat sensitif sampai sampai aku tidak tahan ketika penisnya digerak-gerakkan. Aku menatap sayu pada Martin.</p>
<p>&#8220;Kenapa aku nggak tahu kalau ML seenak ini? Kalau tahu, aku sudah dari dulu mau making love sama kamu!&#8221; kataku parau.</p>
<p>Mendengar perkataanku, sesaat Martin hanya memandangku tanpa ekspresi. Aku tidak dapat menebak apa yang ada dipikirannya. Lalu dengan pandangan yang menyejukkan, dia mencium keningku dan pipiku. Aku menjadi tenang dan damai. Martin, aku sayang padamu, aku sayang padamu, aku sayang padamu. Tak ada lagi Andrew dalam kamusku. Aku hanya sayang padamu kataku dalam hati. Sex jauh lebih memabukkan daripada extacy! Aku tak bisa berpikir jernih! Yang ada dipikiranku hanya terus dan terus.. tanpa akhir..</p>
<p>Martin mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vaginaku. Mulanya perlahan, lama-lama semakin cepat. Rasanya mau mati saking nikmatnya. Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya erangan dan desahan yang keluar dari mulutku. Dorongan penisnya yang menghujam keluar masuk ke dalam vaginaku membuatku tak berdaya.</p>
<p>Malam itu aku orgasme empat kali. Martin menumpahkan spermanya di perutku dan terkapar disebelahku. Aku juga terkapar kelelahan. Saking lelahnya aku sampai tidak kuat untuk bergerak mengambil tissue untuk membersihkan spermanya yang tumpah di perutku. Ternyata orgasme saat ML jauh lebih nikmat daripada dengan oral seks. Sungguh berbeda..</p>
<p>Setelah terkapar beberapa saat, Martin membopongku ke kamar mandi dan memandikan aku. Aku terus menerus memandang wajahnya dan mencari-cari sinar apa yang terpancar di wajahnya. Apakah dia benar mencintaiku atau aku hanya salah satu perempuan koleksinya? Aku terus memeluknya saat dia membasuh tubuhku dengan air hangat dan membersihkan kemaluanku. Kemudian setelah membersihkan diri, kami tidur kelelahan.</p>
<p>*****</p>
<p>Besoknya saat aku bangun, Martin sudah tidak ada di sebelahku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul sembilan. Detik berikutnya aku baru sadar kalau tidur telanjang bulat dan hanya ditutupi selimut. Perlahan-lahan memoriku memutar balik kejadian tadi malam. Agak susah mengingat kejadian semalam setelah pakai ineks dan minum minuman beralkohol.</p>
<p>Setelah ingat semua, dengan lunglai aku bangkit dan melihat kemaluanku. Kuraba dan kupegang kemaluanku. Rasa nikmat dan geli semalam masih terbayang di pikiranku. Pikiran jelek mulai menggangguku. Aku sudah tidak perawan! Aku sudah kehilangan keperawananku di usia ke 16 dengan cowoq yang bukan pacarku maupun suamiku! Edan! Aku lepas kendali!</p>
<p>Kata-kata Ling mulai teringat kembali. Saat dia kehilangan keperawanannya pertama kali, dia menangis menjadi-jadi semalaman. Namun sekarang dia sudah biasa dan malah sering making love. Aku teringat saat Ling mengenalkan Martin padaku, dia memperingatkan Martin agar jangan macam-macam padaku. Berbagai macam kejadian dari awal aku kenal kehidupan malam sampai saat ini lalu lalang dalam pikiranku seakan-akan menyindirku. Sekarang semuanya telah terjadi! Aku tak percaya! Aku jadi seperti Ling!</p>
<p>Aku ingin menangis menyesali semuanya! Namun sudah terlambat! Apalagi saat aku melihat setitik noda hitam pada sprei. Aku langsung menangis menjadi-jadi. Aku merasa berdosa! Bayangan wajah Papa Mamaku berkelebat berganti-ganti dalam benakku. Aku merasa berdosa pada Papaku, pada Mamaku, pada kakakku, pada seluruh keluargaku!</p>
<p>Aku ke kamar mandi untuk membersihkan diriku! Aku merasa kotor dan hina! Aku bukan Tina yang dulu lagi! Masa depanku hancur! Siapa yang mau sama aku! Cowoq mana yang mau menerima ceweq seperti aku! Ceweq yang sudah tidak utuh lagi! Ceweq murahan! Aku benci diriku sendiri! Aku benci semua orang! Aku menangis lama sekali di kamar mandi. Kutumpahkan semua perasaanku dalam air mata yang segera tersapu guyuran air hangat. Hingga akhirnya aku tergeletak lemas di lantai kamar mandi.</p>
<p>Setelah bosan menangis, aku segera beranjak dari kamar mandi dan mengenakan pakaian. Kuambil ponselku dan kukirim SMS pada Ling. Aku minta dia menjemputku di rumah Martin. Ling menyanggupi dan berjanji akan menjemput aku sepulang sekolah pukul 13.00</p>
<p>Pukul sebelas Martin pulang ke rumah. Tiba-tiba perasanku jadi campur aduk saat kudengar suara mobil Martin memasuki rumah. Ada perasaan jengkel yang menggebu-gebu padanya.</p>
<p>&#8220;Kok berani-beraninya orang segede dia menjerumuskan anak kecil! Dasar hidung belang!&#8221; pikirku jengkel.</p>
<p>Aku duduk di ranjang menghadap pintu sambil menunggu dia masuk. Kusiapkan wajah sesuram mungkin agar dia tahu kalau aku marah padanya. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendiamkannya selamanya. Pokoknya dia harus tahu kalau aku marah!</p>
<p>Martin yang sepuluh tahun lebih dewasa tahu bagaimana harus bertindak menghadapi aku. Dia diam saja saat aku mendiamkannya. Lalu mulai mengajakku makan. Aku menolak. Dia terus mengajakku bicara dan bercerita kalau dia bangun kesiangan sehingga terlambat kerja. Dia pura-pura tidak tahu aku marah padanya. Sejurus kemudian dia mulai memelukku dan mengatakan kalau dia segera pulang karena khawatir aku belum makan atau kesepian di rumah.</p>
<p>Lama-lama aku kasihan juga padanya. Dia baik padaku. Sebenarnya yang salah aku. Aku yang memaksanya melakukan itu. Padahal kemarin dia sudah mau tidur, aku malah merangsangnya habis-habisan. Yah, aku yang salah. Seperti membangkitkan macan tidur. Aku pun mulai melunak. Aku mulai menjawab pertanyaannya sepatah-sepatah sampai akhirnya suasana mulai cair.</p>
<p>Mengerti umpannya mengena, Martin mulai merayuku dan menggodaku. Aku tidak tahan digoda dan mulai membalas godaannya.</p>
<p>&#8220;Martin, kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus kawin sama aku!&#8221; serangku.</p>
<p>&#8220;Jangan kuatir sayang! Aku ini dari dulu juga suka sama kamu. Cuma aku takut kamu yang nggak mau sama aku karena aku terlalu tua. Hahahaha..&#8221; balasnya.</p>
<p>Aku tidak peduli pikirku. Toh aku juga merasa cocok dengan Martin. Dia begitu dewasa. Dia bisa momong aku. Masalahnya, dia sepuluh tahun lebih tua dari aku. Apa orang tuaku setuju aku menikah dengannya?</p>
<p>Pikiranku sudah jauh lebih baik sekarang. Martin memelukku erat-erat dan menghiburku. Aku jadi makin sayang padanya.</p>
<p>Akibat kejadian malam itu, hampir tiap hari aku making love dengannya. Kami melakukan di rumahnya, di hotel, di kamar mandi, di mobil dan dimanapun kami mau! Berbagai posisi kami lakukan. Aku benar-benar ketagihan bersenggama! Bahkan kami pernah menginap seharian di hotel dan tidak keluar kamar sama sekali. Saat itu aku sampai orgasme sebelas kali waktu making love dengannya! Benar-benar liar dan tak terkontrol!</p>
<p>Acara tripping selalu dilanjutkan dengan making love. Kesukaan kami adalah triping sambil telanjang bulat berdua di kamar Martin sambil bercumbu. Asyik sekali rasanya! Saat pengaruh ineks menurun, kami bersenggama atau melakukan oral seks untuk membuat on lagi. Setelah benar-benar habis, kami lanjutkan dengan minum minuman keras. Edan..</p>
<p>Dua bulan terakhir ini aku jarang kontak dengan Martin. Martin sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan aku sibuk diadili oleh keluargaku. Mereka marah besar padaku dan mengawasiku dengan ketat. Ponselku disita sementara. Telepon untukku disortir sama orang tuaku. Kemana-mana selalu diantar sopir ayahku. Pokoknya aku jadi tahanan rumah!</p>
<p>Entah siapa yang salah! Aku tak perlu menyalahkan siapa saja selain diriku sendiri. Aku sendiri pun menyesal menyadari kondisiku sekarang. Orang luar pada bingung melihat tingkahku. Aku hidup di dalam keluarga yang harmonis. Orang tuaku sayang dan perhatian padaku. Tapi kok bisa aku terjerumus jadi seperti ini?</p>
<p>Hahaha.. memang bodoh apa yang kulakukan. Penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi. Entah sampai kapan aku bisa berhenti dari dunia gila ini? Aku pun sudah mulai bosan..</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: cindy_martina@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/dunia-gemerlap-dunia-hampa-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Gemerlap, Dunia Hampa &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/dunia-gemerlap-dunia-hampa-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/dunia-gemerlap-dunia-hampa-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2910</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Tina. Usiaku 16 tahun. Aku sekolah di sebuah SMU swasta terkenal di Surabaya. Sudah hampir setahun ini hidupku penuh berisi kesenangan-kesenangan yang liar. Dugem, ineks dan seks bebas. Sampai akhirnya aku terjerumus dalam ambang kehancuran. Terombang-ambing dalam ketidak pastian. Aku bingung apa yang kucari. Aku bingung harus kemana arah dan tujuanku. Apa yang selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Tina. Usiaku 16 tahun. Aku sekolah di sebuah SMU swasta terkenal di Surabaya. Sudah hampir setahun ini hidupku penuh berisi kesenangan-kesenangan yang liar. Dugem, ineks dan seks bebas. Sampai akhirnya aku terjerumus dalam ambang kehancuran. Terombang-ambing dalam ketidak pastian. Aku bingung apa yang kucari. Aku bingung harus kemana arah dan tujuanku. Apa yang selama ini kulakukan tidak memberikan kemajuan yang positif. Bahkan aku nyaris gila. Siapakah aku ini?</p>
<p>Sejujurnya aku menyesali kondisiku yang seperti ini. Keterlibatanku dengan narkoba telah membawaku ke dalam kehidupan yang kelam. Sungguh kejam! Aku jadi berangan-angan ingin kembali ke kehidupan lamaku dimana aku belum mengenal narkoba. Saat itu begitu indah. Orang tuaku sayang padaku. Andrew pacarku dengan setia berada disisiku. Dan dia selalu datang untuk menghibur dan menemaniku.</p>
<p>Aku jadi ingat pada hari-hari tertentu, teman-teman sekolahku datang main ke rumah untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar berkumpul. Kalau lagi ada pacarku, mereka selalu menggoda kami sebagai pasangan serasi. Padahal menurutku kami bertolak belakang. Aku pemalu dan mudah merajuk. Sedang pacarku biang kerok di sekolah dan tidak tahu malu. Aku berprestasi dalam pelajaran tapi kurang menguasai bidang olah raga. Sedangkan dia berprestasi dalam olah raga namun malas belajar. Tinggiku sedang dan badanku agak kurus. Sedangkan dia tinggi dan besar. Pokoknya beda banget. Tapi teman sekolah mengatakan kami pasangan serasi. Entah apanya yang serasi..</p>
<p>Aku masih ingat saat-saat terakhir dia meninggalkan aku untuk sekolah ke Amerika. Ada setitik firasat bahwa itu adalah saat terakhir aku bersamanya. Aku menangis tiada henti di bandara seperti orang bodoh. Tidak ada kata yang terucap, hanya sedu sedan lirih terdengar dari mulutku. Orang tuanya sampai sungkan pada orang tuaku dan berusaha menghiburku dengan mengatakan bahwa Andrew akan sering pulang ke Indonesia untuk menengokku. Orang tuaku pun tak kalah dan berjanji padaku akan menyekolahkan aku ke Amerika selepas SMU.</p>
<p>Kata orang cinta akan lebih terasa saat terpisahkan oleh jarak. Aku tidak sabar untuk membuka e-mail setiap malam. Telepon internasional seminggu sekali menjadi pelepas dahaga bila aku rindu suaranya. Setiap malam menjelang tidur, aku melihat-lihat foto kami berdua. Dan tak lupa aku mendoakan dia.</p>
<p>Kini Andrew tidak akan mau memandangku lagi. Laporan dari teman-temannya yang melihat aku berkeliaran di diskotik-diskotik dengan lelaki lain membuatnya murka dan tidak mempercayai aku. Dia mengadili aku yang hanya bisa menangis dan berjanji akan menghentikan perbuatanku. Tapi apa daya, di belahan dunia lain, Andrew tidak akan bisa melihat keseriusanku. Dia meminta untuk mengakhiri hubungannya denganku meski aku menangis meraung-raung di telepon. Aku tak berdaya. Dia begitu kerasnya tidak mengampuni kesalahanku.</p>
<p>Yah memang semua itu memang salahku. Tapi apakah aku tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan? Apakah setiap orang tidak pernah khilaf? Apakah sama sekali tidak ada ampun untukku? Dia dulu mengatakan apa pun yang terjadi akan selalu mencintaiku. Akan selalu menjagaku. Semakin hari cintanya padaku akan semakin besar. Ternyata, bohong! Itu semua hanya bohong belaka!</p>
<p>Saat ini aku jadi ceweq bodoh, sering melamun dan mudah stres. Bukan hanya hubunganku dengan Andrew yang hancur. Hubunganku dengan ayah ibuku juga memburuk. Mereka sudah menyerah menghadapi aku yang hampir setiap hari pulang pagi. Mereka bahkan mengancam akan mengusir aku bila terus menerus seperti ini.</p>
<p>Aku jadi sering membolos sekolah. Prestasiku di sekolah makin hari makin memburuk. Aku telah kehilangan minat untuk belajar dan meraih ranking tinggi di sekolah. Hubungan sosial dengan teman sekolahku juga semakin buruk. Aku malas bergaul dengan mereka. Aku takut mereka mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku takut mereka menyebarkan tingkah lakuku sebenarnya. Aku takut..</p>
<p>Aku jadi paranoid! Aku jadi mudah curiga dengan semua orang. Aku jadi sulit tidur dan melamun yang tidak-tidak. Aku jadi sering mimpi buruk dan makin sulit membedakan mana mimpi dan kenyataan. Lama-lama aku bisa gila!</p>
<p>Aku ingin berhenti menggunakan narkoba dan sesegera mungkin meninggalkan dunia gemerlap yang selama setahun ini kugeluti. Tapi aku sulit meninggalkannya. Aku terperangkap di dalamnya!</p>
<p>Ineks! Semua ini gara-gara pil setan itu! Badanku semakin kurus. Mataku cekung dihiasi garis hitam dibawahnya. Aku tidak mengenali wajahku sendiri di hadapan cermin. Bahkan Mamaku sudah mengecap aku sebagai wanita nakal.</p>
<p>Yah.. wanita nakal.. aku memang telah jadi wanita nakal. Aku telah melepaskan keperawananku pada seorang pria yang bukan suamiku. Aku malu pada diriku dan pada orang tuaku. Diriku bukan Tina yang dulu. Tina yang selalu meraih prestasi di sekolah. Tina yang selalu membanggakan orang tua. Tina yang rajin ke gereja. Tina yang lugu dan pemalu. Tina yang selalu jujur dan berterus terang..</p>
<p>Malam itu entah malam keberapa aku ke diskotik dengan Martin. Setelah triping gila-gilaan bersama teman-teman, aku pulang bersama Martin. Sebenarnya aku malas pulang karena masih dalam keadaan on berat. Gara-gara Bandar gede dari Jakarta datang, semua jadi kebanyakan ineks. Badanku terus bergetar tiada henti, dan rahangku bergerak-gerak ke kiri dan kekanan. Dengan eratnya aku peluk lengan Martin seakan-akan takut kehilangan dirinya.</p>
<p>Tidak seperti biasanya Martin mengajakku putar-putar keliling kota. Mungkin dia kasihan melihat aku masih on berat dan tidak tega membiarkan aku sendirian di rumah. Aku sih senang-senang saja. Kuputar lagu-lagu house music agak kencang, meski aku tahu akibatnya bisa fatal.</p>
<p>Tak sampai lima menit, lagu house music dan hembusan hawa AC yang dingin membuat aku on lagi! Aku menggerak-gerakkan badan, kepala dan tanganku di bangku sebelah. Rasanya asyik sekali triping dalam mobil yang melaju membelah kota! Martin tertawa melihat aku memutar-mutar kepala seperti angin puyuh.</p>
<p>&#8220;Untung kaca film mobilku gelap. Jadi aku nggak perlu takut orang-orang melihat tingkahmu!&#8221; ujarnya.</p>
<p>Hahaha.. rasanya saat itu aku tidak peduli mau dilihat orang, polisi, hansip atau siapa pun juga, aku tidak akan peduli! Lagipula ini masih jam 3 pagi.</p>
<p>Setelah setengah jam kami putar-putar kota, akhirnya kami sampai di daerah sekitar rumah Martin. Martin menyarankan agar aku meneruskan tripingku di rumahnya. Sebab terlalu riskan bila triping di jalanan seperti itu. Kalau sedang sial bisa ketangkap polisi. Aku yang sudah tidak bisa berpikir lagi Cuma mengiyakan semua omongannya.</p>
<p>Sampai di rumahnya, aku langsung diantar ke kamarnya. Sambil meletakkan kunci mobil, Martin menyalakan ac dan memutar lagu house music untukku. Wah dia benar-benar ingin membuat aku on terus sampai pagi! Ok, Aku layani! Kurebut remote ac dari tangannya dan ku setel dengan temperatur paling rendah.</p>
<p>Martin yang sudah drop, begitu mencium bau ranjang langsung hendak merebahkan badannya yang besar itu ke tempat tidur. Tentu saja aku tidak ingin tripping sendiri! Kutarik tangannya dan kuajak dia goyang lagi. Martin mengerang dan tetap menutup wajahnya dengan bantal. Tingkahnya dibuat manja seperti anak kecil. Tidak habis pikir aku segera mencari koleksi minumannya di mejanya. Kusambar sebotol Martell VSOP dan kupaksa dia minum.</p>
<p>Mulanya Martin menolak dengan alasan besok harus kerja. Namun aku memaksa terus hingga dia tak berkutik. Beberapa teguk Martell membuahkan hasil juga. Martin bangun dan duduk didepanku. Aku segera memeluknya dari belakang dan menggodanya dengan manja.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu mau nemenin aku tripinng.. hari ini aku jadi milikmu.&#8221;<br />
&#8220;Milikku sepenuhnya..? Ehm.. I love it!&#8221; Balas Martin nakal.<br />
&#8220;Ya..ehm.. jadi milikmu..&#8221; gumamku di dekat telinganya.</p>
<p>Aku memeluknya dari belakang dan menciumi telinganya sampai dia kegelian. Aku terus menggodanya dengan menciumi leher dan bahunya. Tiba-tiba dia membalikkan badan dan menyergapku! Aku kaget juga dan berteriak kecil. Martin mendekapku erat-erat dan balas menciumi wajah, leher dan telingaku. Aku menjerit-jerit kegelian oleh tingkahnya.</p>
<p>Lama-lama ciuman Martin semakin turun ke bawah. Dia melorotkan tali tank-topku dan menciumi buah dadaku dengan ganas sambil mendengus-dengus. Aku bergetar menahan geli dan rangsangan yang hebat. Otot-otot badan dan kakiku terasa kaku semua.</p>
<p>Tidak puas menciumi dadaku, Martin meloloskan bra yang menutupi dadaku sehingga kedua buah dadaku tersembul keluar.</p>
<p>&#8220;Woow.. aku paling suka payudaramu!&#8221; desisnya.</p>
<p>Aku paling suka kalau keindahan tubuhku dipuji. Dia mengucapkan kata-kata itu dengan mata berbinar-binar sehingga membuatku tersanjung. Tentu saja aku langsung menutupi dadaku dengan kedua tanganku seakan-akan melarangnya untuk melihat.</p>
<p>Sedetik kemudian dia membuka kedua tanganku dan membungkuk kearah dadaku lalu mendekatkan mulutnya ke puting kananku. Dengusan napasnya yang mengenai putingku sudah bisa membuatku menggelinjang. Pelan-pelan lidahnya menjilat putingku sekilas, lalu berhenti dan memandang reaksiku. Aku memejamkan mata dan mendengus. Perasaanku melambung sampai ke awang-awang! Ketika kubuka mataku, dia memandangku sambil tersenyum nakal. Aku memukulnya. Kemudian dia menjilat puting kiriku sekilas. Aku kembali menggelinjang-gelinjang. Aku merasa detik-detik penantian apa yang akan dilakukan Martin pada putingku membuat aku makin penasaran. Aku mengerang-erang ingin agar Martin meneruskan aksinya.</p>
<p>Aku sudah sangat terangsang hingga memohon-mohon padanya agar memuaskan aku. Martin tersenyum manis sekali lalu mulai memasukan putingku ke mulutnya. Putingku dipermainkan dengan mulut dan lidahnya yang hangat. Aku bergetar dan menggelinjang menjadi-jadi. Kepiawaian Martin merangsang dan memuaskan aku sudah terbukti. Rangsangan yang hebat melupakan segala janji yang pernah kubuat.</p>
<p>Martin sangat terangsang rupanya. Aku merasa ada yang mengganjal di bagian bawah perutku dan menyodok-nyodok kemaluanku. Aku membuka kedua kakiku lebar-lebar dan merubah posisi pinggulku agar kemaluanku bergesekan dengan penisnya. Tiap kali penisnya menggesek klitorisku aku mengerang dan merenggut apa saja yang bisa kurenggut termasuk rambutnya. Napas kita yang mendengus-dengus bersahut-sahutan bersaing dengan lagu house music yang memenuhi ruangan.</p>
<p>Martin meneruskan aksinya sambil melepas pakaianku satu persatu hingga aku telanjang bulat. Aku menatap wajahnya dengan perasaan tak karuan. Lalu dia membuka pakaiannya sendiri dan mulai menyerangku dengan ganas.</p>
<p>Aku diciumi mulai mulut turun ke leher lalu ke buah dadaku. Kemudian turun lagi melewati pusar dan bulu kemaluanku. Dia berhenti sesaat sambil melihat aku yang sudah terangsang berat.</p>
<p>&#8220;Martin.. cium anuku please..&#8221; pintaku terbata-bata.<br />
&#8220;Hehehe..&#8221; Desisnya pelan.</p>
<p>Lalu tanpa menunggu perintah kedua kalinya, dia mulai merubah posisinya agar mulutnya pas di kemaluanku. Kemudian kakiku dibuka lebar-lebar ke atas sehingga kemaluanku menyembul di antara pahaku. Aku merasa hawa dingin menerpa bagian dalam kemaluanku yang merekah. Aku memejamkan mata berdebar-debar menunggu Martin memulai aksinya.</p>
<p>Martin menciumi sisi luar kemaluanku dengan perlahan. Aku mengerang tertahan dan mengerutkan dahi. Rasanya geli sekali! Ciumannya bergerak ke tengah dan berhenti di klitorisku. Klitorisku diciuminya lama sekali seperti kalau dia menciumi bibirku. Dia mengulum dan kadang menyedot kemaluanku dengan kuat. Aku mendesah-desah keras sekali. Tak tergambarkan rasanya. Lalu ketika lidahnya ikut bermain, aku tak kuat menahan lebih lama lagi. Dibukanya bibir kemaluanku dengan jarinya, lalu lidahnya dimasukan diantaranya. Lidahnya memilin-milin klitorisku dan kadang masuk ke vaginaku dalam sekali.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/dunia-gemerlap-dunia-hampa-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
