<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Perkosaan</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-perkosaan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>derita anak tiri</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2356</guid>
		<description><![CDATA[Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.</p>
<p>Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.</p>
<p>Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya. “Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. “Jangan takut, nanti kuberi uang”, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.</p>
<p>Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan…!”, Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.</p>
<p>Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak, mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh…, sshh..”.</p>
<p>Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.</p>
<p>“Pak, Saya.., takuut”, Suara Marina mendesah lembut.<br />
“Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.<br />
“Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.<br />
“aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.</p>
<p>Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu. “Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu. Marina yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.</p>
<p>Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu. “Sssssh…, mmh…, sssh…, aakh..”, Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata, “Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!”. Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.<br />
“Bagaimana Mar?”, tanya Daud.<br />
“Enaakh…, Paak!”, Jawab Marina.</p>
<p>Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.<br />
“Kenapa Marina? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.<br />
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.</p>
<p>“aakh…, uuggh…, Paakk..”, Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.<br />
“Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Marina. Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.</p>
<p>“Paak, oukh.., akh…, aakh…, ooough…, sakit Pak..”, Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.<br />
“Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.<br />
“Eeegh…, yaa…, aakkhh…, oough..”, jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.<br />
“Teee…, russ…, Paak…, eeggh…, nikmat…, ooough..!”, erang Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, “Ouuuughh…, sa.., saya…, mmaau…, keluar.., Paak..”.<br />
“Tahan…, sebentar…, sayang…, ooouggh..”.</p>
<p>Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh…”, jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, “Eeegghh…, Ooouugh..”. “Creeeet…, creeet…, creeeeeeeet..”. Mengalirlah air mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Marina.<br />
Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayah tiri Marina.</p>
<p>Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.</p>
<p>“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.<br />
“Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.<br />
“Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.<br />
“Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.<br />
“Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.<br />
“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.<br />
“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.</p>
<p>“Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.<br />
“Dua kali, Om”, jawabnya singkat.<br />
“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.<br />
“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.<br />
“Bagaimana caranya Om?”.<br />
“Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.<br />
“Mencoba langsung, di mana Om?”.<br />
“Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.<br />
“Tetapi..”.<br />
“Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.</p>
<p>Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Marina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marina mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya. “mmhh…”, desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.</p>
<p>Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. Sementara Marina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. “Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.</p>
<p>Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria. “Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.</p>
<p>Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga, “Blueess…”. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria. Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.<br />
“Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., “Aah…, ahh…, essst…, esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.<br />
“Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi…, om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.<br />
“Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.<br />
“aakuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”.<br />
“Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Ria.</p>
<p>Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marina merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.</p>
<p>Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.<br />
“Kau menginginkannya?”.<br />
“I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marina dikuasai oleh nafsunya. Lalu Om Jalil memegang bahu Marina lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.</p>
<p>Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak. Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.<br />
“Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”.</p>
<p>Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marina. Marina mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar Om Jalil pada Marina. Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, “Kini genggamlah burungku!”. Marina menggenggam penis Om Jalil. “Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”.</p>
<p>Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”, Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Marina mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marina yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p>Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.</p>
<p>Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.<br />
“Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.<br />
“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina dengan menaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.</p>
<p>“Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..”<br />
“Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”.<br />
“Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marina, sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu. Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.</p>
<p>“Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marina menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., aku maau keeeluaar..!”.<br />
“Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”.<br />
Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga, “Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..”<br />
“Akhuu.., aakhh…”.<br />
“Creeet.., creet.., creettt..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawanku, Oh Perawanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa saja sesukaku.</p>
<p>Namun, ketika krismon tiba, musibah itupun tidak bisa dipungkiri oleh keluarga kami. Kami jatuh bangkrut. Itupun kami memiliki hutang pajak yang tertunggak. Sudah seminggu lamanya, tukang pajak menyatroni rumah kami dan menghutang segala berkas berkas perusahaan ayahku. Ketika aku dipanggil masuk, petugas pajak dan ayahku sedang duduk di ruang kerja. Petugas pajak itu sudah cukup tua. Kira-kira seumur ayahku, tapi matanya dengan nanar memandangi tubuhku yang termasuk bongsor. Dia tersenyum memandangku, wajahku memang termasuk lumayan, maklum dengan tampang orientalku yang klasik, banyak yang mengincarku. Termasuk petugas pajak bernama Pak Amir yang duduk di hadapanku. Ayahku secara panjang lebar menceritakan kesulitannya yang dihadapinya dan bagaimana Pak Amir menawarkan bantuannya untuk mengurangi hutang pajak yang tertunggak kepadanya. Tapi untuk itu ada harga yang sangat mahal. Masalahnya, ayahku sedang tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan bila hutang pajak itu tidak diselesaikan, ayahku akan dimasukkan ke penjara. Pak Amir berkata, bisa dibayar asal aku mau memberikan keperawananku kepadanya. Ayahku hanya tertunduk saja. Aku sangat kaget karena mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.</p>
<p>Setelah dijelaskan secara panjang lebar, akupun menuruti perintah ayah. Secara gontai, dia meninggalkan kami berdua keluar dari kamar kerja. Saat itu, aku mengenakan t-shirt dan rok mini. Pak Amir secara perlahan mulai mengelus tanganku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Dia mulai berani dan mengelus rambutku, tiba-tiba aku mencium bau rokok, ternyata Pak Amir mulai menciumi bibirku. Aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang besar telah menimpa tubuhku yang kecil. Ciumanpun turun ke dadaku yang membusung. Tangannya secara perlahan meraba betis dan naik ke pahaku.</p>
<p>Secara perlahan, rokku di kibaskan dan aku merasa kemaluanku dipermainkan oleh jarinya. Aku hanya bisa berteriak kecil ketika jarinya menusuk alat kemaluanku dan tak lama kemudian alat kemaluankupun menjadi basah. Tiba-tiba Pak Amir berdiri dan membuka celananya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia memaksa memasukkan alat kemaluannya ke mulutku. Aku mencoba berontak, tapi apa daya? Bau sekali penisnya tapi aku teringat akan nasib ayahku yang saat ini sedang berada di tanganku, mengingat hal itu, aku mencoba merubah sikapku dari pasif menjadi aktif. Aku tidak ragu lagi melahap penis Pak Amir yang besar itu dengan mulutku. Kukulum dan kuhisap seperti orang ahli. Dia memegang kepalaku seakan tidak mau penisnya keluar dari mulutku.</p>
<p>Setelah puas, dia memaksaku membuka celana dalamku. Akupun hanya bisa telentang ketika lidahnya memainkan clitorisku. Aku hanya bisa merem-melek keasyikan, baru kali ini rasanya aku merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat. Tak lama kemudian, tak hanya lidah saja yang berbicara.</p>
<p>Rupanya Pak Amir tidak sabar lagi untuk mencoba vaginaku yang masih perawan. Aku menjerit kecil ketika aku merasakan penisnya yang besar memasuki vaginaku untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan ketika dia dengan ganasnya melahap keperawananku. Setelah bosan dengan posisi itu, dia memaksaku dengan posisi menungging dan dia menghantamku dari belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata antara menikmati dan kesakitan. Diapun berganti posisi dan duduk di bangku dan aku disuruhnya untuk duduk di atasnya, dengan posisi duduk, aku memiliki kendali atas dirinya dan entah kenapa aku telah lepas kendali, sehingga aku menggoyangkan penisnya dengan cepat sekali, dia tidak tahan lagi dan akupun dipaksa untuk menjilati air maninya, rasanya aneh. Tapi karena aku disuruh telan, akupun tanpa pikir panjang menelannya.</p>
<p>Selesai tugasku untuk membantu ayahku dan selesai pula pengalaman seks pertamaku dengan seorang petugas pajak yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku. Apa mau dikata. Akupun tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian tersebut. Rasanya aku jadi ketagihan juga sih.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Kerusuhan 12 Mei 1998</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 11 Mei 1998 pukul 5 sore, saya mendarat di Jakarta setelah 4 jam lamanya saya berada di pesawat untuk perjalanan antara Australia dan Jakarta. Saya dijemput oleh orang tua karena saya sudah lama tidak mengenal Jakarta. Setelah sampai di rumah, saya menelepon teman-teman saya terutama teman SMA saya. Tetapi di antara 10 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 11 Mei 1998 pukul 5 sore, saya mendarat di Jakarta setelah 4 jam lamanya saya berada di pesawat untuk perjalanan antara Australia dan Jakarta. Saya dijemput oleh orang tua karena saya sudah lama tidak mengenal Jakarta. Setelah sampai di rumah, saya menelepon teman-teman saya terutama teman SMA saya. Tetapi di antara 10 orang yang saya telepon, hanya seorang yang kebetulan sedang ada di tempat sewaktu saya menelepon mereka. Namanya adalah Venny *********.</p>
<p>Sewaktu saya meneleponnya, dia sempat kaget karena saya masih ingat dengannya. Venny adalah anak tunggal. Ia menceritakan bahwa dirinya sekarang berada di rumah sendirian dan dia sangat takut dengan keadaan di Indonesia yang semakin memanas. Saya hanya memintanya untuk berdoa. Saya bercerita banyak kepadanya mengenai suasana di Australia, pelajaran saya di Australia dan juga mengenai kekasih saya yang masih berada di Australia. Dia juga menceritakan semua masalah yang dihadapi di perkuliahannya termasuk menceritakan saat kekasihnya mencampakkan dia setelah cowoknya mengenal seorang gadis dari IRC.</p>
<p>Kami bercakap cakap selama sejam lamanya hingga kami mesti mengakhiri percakapan kami karena orang tua saya melarang saya telepon terlalu lama dan sebelum menutup telepon, saya memberitahu bahwa saya akan ke rumahnya besok karena saya sangat bosan dengan liburan selama sebulan tanpa kegiatan apapun. Akhirnya saya membuat janji bertemu dengannya besok siangnya.</p>
<p>12 Mei 1998, seperti biasanya, saya mandi, makan pagi dan makan siang dan ketika saya sudah selesai makan, telepon berdering. Karena pembantu saya ada di dalam kamarnya, maka sayalah yang mengangkat telepon dan ternyata Venny yang menelepon saya. Akhirnya saya memberitahukan bahwa saya akan kerumahnya sekarang juga karena saya sudah berbenah diri. Venny nampaknya sangat senang mendengar rencana kedatangan saya karena dia sebenarnya juga sendirian di rumah karena orang tuanya kebetulan sedang ada urusan di luar negeri sementara pembantunya semuanya sedang mudik. Selama dalam perjalanan ke rumah Venny, saya sempat melihat iring-iringan demonstrasi di sekitar salah sebuah Universitas di Jakarta. Saya meminta sopir taksi untuk sedikit mempercepat taksinya karena saya merasa bakal ada yang tidak beres jika saya berlama-lama di arena demonstrasi ini.</p>
<p>Akhirnya saya tiba di rumah Venny. Rumah Venny cukup besar karena dia termasuk orang strata atas. Setelah saya masuk ke ruang tengah rumah Venny, kami mengobrol mengenai segala hal dan Venny menyuguhkan saya air jeruk. Sambil mengobrol mengenai keadaan pendidikan di Australia karena sebenarnya Venny ingin melanjutkan ke Australia juga sama seperti saya setelah dia menyelesaikan S1 di Universitas *******, kami menonton televisi bersama dan pada saat itu sedang ada acara Sekilas Info di RCTI yang memberitahukan bahwa ada penembakan misterius di Trisakti yang membuat Venny ketakutan setengah mati. Karena dia merasa takut, saya memberitahu dia bahwa sebenarnya saya juga merasa khawatir jika saya pulang sekarang. Saya memberitahu Venny bahwa saya akan pulang agak malam agar saya tidak menemui hal-hal yang tidak diinginkan di tengah jalan.</p>
<p>Tetapi sungguh nasib jelek, ketika saya baru saja menyelesaikan perkataan saya, tiba tiba masuklah 5 pemuda ke rumah Venny secara mendadak. Dua orang di antaranya mendekati saya. Saya berusaha menerapkan ilmu karate yang saya miliki terhadap mereka tetapi tentu saja kekuatan seseorang akan sangat sulit melawan 5 orang pemuda yang memiliki senjata tajam apalagi sekarang berat badan saya telah bertambah sehingga gerakan perlawanan saya menjadi kurang efektif. Akhirnya saya tidak sadarkan diri setelah mendapat pukulan dan tendangan dari mereka. Di saat saya sadar, saya mendapatkan diri saya telah berada di kamar Venny dan melihat Venny yang dalam keadaan telentang tidak berdaya di atas ranjangnya dengan tubuh tanpa busana sementara seorang pemuda berambut gondrong tengah menyetubuhinya.</p>
<p>Saya mendengar isak tangis Venny dan tak lama kemudian, seorang pemuda yang berambut gaya tentara mendekati Venny dan memaksa Venny untuk mengulum penisnya. Tentu saja dengan terpaksa dan penuh rasa ketakutan, Venny melakukan hal itu dan saya melihat beberapa kali Venny merasa mual dan ingin muntah. Tetapi setiap kali dia ingin muntah karena bau dari penis cowok itu, pemuda itu langsung menampar pipi Venny sehingga membuat venny menangis dan mengulum penisnya kembali. Hal ini membuat saya geram dan meronta dari ikatan tali di tubuh saya, seorang pemuda yang berdiri di sebelah saya melihat aksi saya untuk melepaskan diri sehingga ia memukul dada dan kepala saya yang membuat saya pingsan kembali.</p>
<p>Ketika saya sadarkan diri, tiba tiba cowok yang memukul saya melepaskan seluruh ikatan saya dan memerintahkan saya menyetubuhi Venny. Saya tidak mengerti maksud dari permainan mereka dan saya menolak. Tetapi tolakan saya ini berakibat saya mendapatkan tendangan dan pukulan di tubuh saya sehingga mau tidak mau saya menuruti kemauan mereka. Saya mendekati tubuh Venny yang telanjang dan saya meminta maaf kepada Venny karena saya tidak dapat berbuat apa apa. Venny meminta saya melakukan apa saja yang mereka minta agar kami berdua tidak lagi disiksa oleh mereka.</p>
<p>Saya mulai melepaskan baju dan celana saya dan pemuda-pemuda itu mulai tertawa dan mulai mengocok- ngocok penis mereka sendiri-sendiri yang baru saja mereka pergunakan untuk memperkosa Venny. Saya mencium leher dan bibir Venny dengan penuh rasa takut dan di saat saya mencium leher Venny, tangisan Venny berubah menjadi desahan panjang sehingga membuat penis saya yang masih lemas menjadi mengeras dan seakan-akan meminta segera dimasukkan ke dalam liang kewanitaannya. Saya kemudian mendekati vagina Venny, saya dapat melihat bahwa ada darah yang bercampur dengan sperma dari pemuda-pemuda tadi.</p>
<p>Saya berpikir bahwa kelima pemuda tadi pastilah memperkosa Venny di saat saya sedang tidak sadarkan diri. Saya sempat bengong untuk beberapa saat dan seorang pemuda memukul kepala belakang saya dan memerintahkan saya untuk menjilati vagina Venny. Terus terang saya terangsang melihat tubuh Venny yang seksi dan montok tetapi bagaimanapun dia adalah teman SMA sekaligus adik angkat saya.</p>
<p>Saya merasa tidak tega jika saya harus bersetubuh dengan Venny karena dia sudah saya anggap seperti adik angkat saya sendiri. Tetapi pukulan di kepala belakang yang saya terima berulang kali di saat saya bengong melihat vagina Venny yang penuh darah dan sperma membuat saya mau tidak mau menjilat vagina Venny. Saat saya menjilat vagina Venny, para pemuda itu saling memandang sambil tertawa-tawa sementara tangan mereka masih aktif mengocok penis mereka masing-masing. Jilatan saya yang berulang ulang membuat Venny terangsang, ditandai dengan desahannya yang panjang. Hal ini membuat seorang pemuda tersebut berkata “Neng, elu tuh ye, tadi nangis sekarang enjoy, dasar perempuan pelacur”, sambil terus mengocok penisnya.</p>
<p>Tiba tiba salah seorang pemuda memukul kepalaku lagi dan menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam vagina Venny. Venny kembali menangis karena dia tahu bahwa aku adalah kakak angkatnya dan aku juga mengerti perasaannya sehingga aku menjadi terdiam tetapi saya terus mendapat pukulan dan tendangan. Saya menjadi geram sekali dan berusaha melawan mereka, tetapi sungguh malang, saya mendapatkan sabetan golok di tangan sehingga saya mau tidak mau harus menuruti kemauan mereka.</p>
<p>Saya mulai mengarahkan penis saya ke dalam kewanitaan Venny dan mulai memasukkannya dengan perlahan-lahan tetapi salah seorang pemuda mendorong tubuh saya dengan kakinya sehingga penis saya menjadi masuk seluruhnya secara paksa. Masuknya keseluruhan penisku ke dalam vagina Venny karena dorongan dari salah seorang pemuda itu membuat kenikmatan sendiri di batinku tetapi sekaligus bercampur dengan rasa bersalah. Venny meringis kesakitan dan melihat hal ini, saya mendiamkan penis saya di dalam vagina Venny agar Venny menjadi terbiasa dengan penis saya. Setelah itu, saya mulai menggosok gosokkan penis saya di dalam vaginanya.</p>
<p>Saya masih terus memainkan penis saya di dalam vaginanya sementara seorang pemuda yang berambut gondrong mendekati payudara Venny dan menjilatinya sementara tangannya masih terus mengocok penisnya yang semakin membesar. Pemuda yang berambut cepak gaya tentara kemudian mendekati Venny dan memaksa Venny mengulum penisnya. Kuluman bibir venny yang kecil membuat pria itu menyemprotkan seluruh spermanya di dalam mulut Venny sehingga membuat Venny menjadi mual kembali, tetapi karena melihat tangan pemuda yang baru saja klimaks tadi mengepalkan tangannya ke arah pipi Venny, Venny langsung menelan semua sperma pemuda tadi sambil menangis terisak isak.</p>
<p>Saya masih terus memainkan penis saya hingga membuat sensasi tersendiri di dalam tubuh saya. Saya tidak dapat membohongi diri saya sendiri bahwa sebenarnya saya pun mulai terangsang dengan permainan vagina Venny yang terus menerus memijit-mijit penis saya. Saya tahu bahwa sebenarnya tubuh Venny juga menyukai permainan saya, karena saya juga telah merasakan cairan “pipis” dari dalam tubuh Venny beberapa kali yang telah membasahi penis saya. Saya ingin mengeluarkan sperma saya di luar tubuh Venny karena dia adalah adik angkat saya tetapi apa daya, akarena ada ancaman dari salah seorang pemuda yang berkata, “Elu harus keluarin sperma elu di dalam tubuh cewek elu, kalo gak, elu berdua gue bunuh sekarang juga”, membuat saya menjadi takut untuk mengeluarkan penis saya keluar dari pijitan kewanitaan Venny yang nikmatnya luar biasa.</p>
<p>Perasaan nikmat dan rasa kasihan bercampur aduk di dalam diriku, pijitan nikmat vagina venny yang terus memijit-mijit penis saya membuat saya tidak sanggup lagi menahan rasa nikmat ini untuk seterusnya. Akhirnya saya berteriak dengan penuh rasa nikmat dan mengeluarkan seluruh air mani saya kedalam liang kewanitaan Venny yang rupanya juga telah mengeluarkan cairan kenikmatan wanita yang bercampur dengan darah. Sebenarnya saya tahu bahwa Venny juga menyukai permainan penisku tetapi tangisan yang bercampur dengan desahannya membuatku bingung kapan dia mendapatkan sensasi kenikmatan yang luar biasa itu, tetapi saya yakin bahwa sebenarnya dia sudah mendapatkan kenikmatan tersebut.</p>
<p>Akhirnya saya dan Venny kelelahan sehingga saya tertidur di atas tubuh Venny sampai sore hari. Ketika saya terbangun, saya mengetahui bahwa pemuda-pemuda brengsek itu telah pergi dan tinggal kami berdua di kamar Venny dan saat itu saya tengah memeluk tubuh Venny dengan penuh belas kasih. Tiba tiba Venny juga terbangun dan dia kembali menangis terisak-isak ketika mendapatkan tubuhnya dan tubuhku dalam posisi telanjang. Dia mengetahui dengan persis apa yang telah terjadi pada dirinya. Saya terus terang merasa sangat bersalah dan berkali-kali saya meminta maaf kepadanya. Venny menyadari bahwa saya bersetubuh dengan dirinya karena paksaan dari orang lain. Dia hanya dapat memandangku dengan mata yang berkaca-kaca dan dia langsung memeluk tubuhku sambil menangis sejadi-jadinya.</p>
<p>Saya merasa kasihan kepadanya tetapi pada saat itu saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah ia agak tenang dari rasa shock dan sedihnya walaupun saya tahu bahwa sebenarnya dia masih merasa ketakutan atas peristiwa tadi siang, saya pamit pulang kepadanya karena hari sudah malam. Setelah kejadian itu, saya terus menemani Venny tiap hari sampai saya harus kembali ke Australia karena masa liburan saya sudah selesai. Hingga sekarang, peristiwa yang menimpa adik angkat saya itu tidak dapat saya lupakan dan saya benar benar benci dengan peristiwa itu.</p>
<p>Tanggal 12 Mei 1998 adalah hari yang tidak terlupakan untuk adik angkatku dan terutama kepada saya sendiri karena akibat peristiwa itu, Venny melahirkan seorang bayi yang dia rawat bersama sama orang tuanya. Saya pernah menjenguk Venny dan bayinya. Untungnya orang tua Venny dapat memaklumi dan tidak membenci saya serta tetap menganggap saya sebagai anak angkatnya sendiri. Saya tidak tahu apakah bayi itu adalah milik saya atau milik salah satu dari pemuda-pemuda brengsek itu. Venny, saya mohon maaf sedalam-dalamnya jika kamu membaca cerita ini.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Pahit Teman Baikku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kisah-pahit-teman-baikku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kisah-pahit-teman-baikku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2321</guid>
		<description><![CDATA[Hi, saya akan menceritakan sebuah pengalaman pahit yang dialamin oleh teman saya. Dia adalah teman saya sekaligus menjadi adik angkat saya namun demi harga diri korban, makanya nama mereka terpaksa saya samarkan. Saat kejadian ini berlangsung, saya sedang kuliah di Australia. Nama temanku adalah Lidya (disamarkan) usia 24 tahun tinggi 162 cm berat badan 48 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, saya akan menceritakan sebuah pengalaman pahit yang dialamin oleh teman saya. Dia adalah teman saya sekaligus menjadi adik angkat saya namun demi harga diri korban, makanya nama mereka terpaksa saya samarkan.</p>
<p>Saat kejadian ini berlangsung, saya sedang kuliah di Australia. Nama temanku adalah Lidya (disamarkan) usia 24 tahun tinggi 162 cm berat badan 48 kg. Pengalaman pahit ini terjadi di tahun 1997, di mana saat itu dia bersama dengan teman mainku saat aku masih dulu, Lina. Dengan tinggi 160 cm berat 55 kg, tubuh Lina boleh dibilang cukup montok sehingga orang sering menyebutnya ’semok’ atau seksi dan montok. Tubuh Lina sangatlah terawat, walau pinggulnya besar dan usianya 28 thn, lekuk tubuhnya sangat indah, payudaranya yang berukuran 34B itu masih kencang dan kulitnya kuning langsat mulus. Hal ini disebabkan mereka sering fitness bersama dan mandi susu secara rutin di salah satu hotel di bilangan Sudirman.</p>
<p>Pada malam kelabu itu, seusai dari fitness kami mencari makan di daerah Tanah Abang. Lydia memakai blue jeans dan kaos biru tua sedangkan Lina memakai celana aerobik hitam ketat serta kaos putih tipis. Setelah berputar-putar beberapa menit mereka lihat ada warung sop kaki kambing yang ramai pengunjungnya. “Wah, pasti masakannya enak, kita makan disitu aja yuk”, ajak Lina. Lydia mengangguk saja sambil mencari parkir di dekat warung itu.Kami memesan 2 porsi sop kaki kambing dan nasi putih.</p>
<p>Singkat cerita kami makan sampai habis dan asyik ngobrol, sampai akhirnya kami sadar bahwa warung itu sudah sepi. Selain mereka, ternyata masih ada tiga pria yang sudah selesai makan. Seorang tinggi kurus satunya hitam kekar dan satunya lagi pendek gemuk berkumis. Ternyata mereka sedang menatap Lydia dan Lina sambil berbisik-bisik di antara mereka.</p>
<p>Pria yang tinggi kurus itu tanpa berkedip memandang Lina, mulai dari wajahnya yang cantik dan manis lalu ke tubuhnya yang saat itu terlihat jelas lekuk tubuhnya karena keringat membasahi kaos putih tipis milik Lina. Maklum Lina adalah gadis keturunan bermata sipit, namun justru itulah daya tariknya didukung hidungnya yang mancung membuat wajahnya sangat menarik.</p>
<p>Merasa kurang nyaman Lydia segera mengajak Lina untuk pulang. Sementara itu Lydia melirik mereka yang terus menatap kami berdua, kulihat matanya merah seolah habis minum alkohol. Tak mereka kuduga saat kami menghampiri mobil, ketiga pria tersebut di belakang kami dan mendorong kami masuk ke dalam mobil. Lydia kaget sampai tak sempat berteriak, ” Diam!, kalau kalian mau selamat”, bentak pria yang hitam kekar itu sambil menunjukkan golok di balik jaket hitamnya. Dengan mata tertutup mereka dibawa ke suatu tempat yang sepi dan asing sehingga mereka tidak tahu berada di daerah mana. Kedua tangan Lydia diikat di belakang badan, begitu juga dengan Lina.</p>
<p>Lina mencoba meronta, dan hal ini membuat mereka gusar. “Plak..plak..”, tampar pria tinggi kurus, hingga bibir Lina berdarah. “Tolong bebaskan kami” pinta Lydia, namun mereka tidak peduli, justru mendorong Lidya ke dalam ruangan besar bersamaan dengan Lina.</p>
<p>Si kumis mulai menggerayangi tubuh Lydia, baju Lydia dilucuti dengan kasar sehingga sekarang Lydia telanjang bulat. Sambil mencoba menciumi Lydia, tangan si kumis meremas-remas payudara Lydia yang montok itu. Bau alkohol dan rokok dari mulutnya membuat Lydia terbatuk batuk beberapa kali. Sementara Lina disobek pakaiannya oleh dua pria lainnya, lalu dengan kasar mereka mendorong Lina ke ranjang berukuran besar. Lina mencoba melawan, tapi sia-sia saja, dia terkapar tak berdaya karena kedua tangannya terikat ke belakang dan kedua kakinya di pegang oleh pria hitam besar itu.</p>
<p>Rupanya mereka adalah binatang buas yang senang melihat mangsanya disakiti.<br />
“Aduh.. jangan..” rintih Lina, ketika pria itu mencoba memasukkan penisnya ke vagina Lina.<br />
Rupanya pria tersebut kesulitan memasukkan penisnya karena lubang vagina Lina yang sempit itu.<br />
“Aduh.. ahk.. ahhk”, jerit Lina ketika akhirnya perawan Lina kebobolan, rupanya jeritan Lina ini membuat pria tersebut semakin ganas.<br />
“Ha.. ha.. rupanya kau masih perawan.. oohh.. sesak sekali”, pria itu tertawa sambil terus memaju-mundurkan pantatnya untuk menekan vagina yang sempit itu. Tubuh Lina yang sintal itu ditindih sambil menggeliat kesakitan.<br />
“Ahh.. ohkk..” nafas pria hitam kekar itu yang sudah basah oleh keringat. Sedangkan pria tinggi kurus mengulum payudara Lina yang masih kencang itu.</p>
<p>Tiba-tiba Lina menjerit lagi karena rupanya payudaranya disundut dengan rokok. Tidak puas mengulum rupanya pria kurus itu meminta berubah posisi. Tubuh Lina dibalik dan menindih pria hitam kekar sambil vaginanya tetap tersumbat penis yang besar. Ternyata pria tinggi kurus itu menginginkan anal seks. Penisnya, walau tak sebesar yang hitam kekar itu namun lebih panjang, ditekankan ke lubang anus Lina, sementara pria di bawah tetap mendorong penisnya ke vagina Lina.</p>
<p>Terus terang Lydia saat itu sangat ketakutan, namun pemandangan itu sedikit banyak membuat Lydia terangsang. Lydia teringat saat Herry pacar Lydia (dia sering bercerita kepadaku mengenai kehidupan seksualnya karena kami adalah teman dekat tapi aku tetap menganggapnya sebagai adik angkatku) mengajak bermain anal seks, pedih namun ada kenikmatan tersendiri.</p>
<p>Tubuh Lina yang mulus itu tampak terjepit di antara dua binatang buas. Lina beberapa kali menggelinjang kesakitan karena secara bersamaan dua lubang yang masih perawan di tekan bersamaan. Beberapa waktu berselang pria kurus itu mengambil sabuknya dan melecuti punggung Lina yang mulus terawat, kulihat mata Lina berair menahan rasa sakit yang luar biasa. Sementara penis pria di bawah berlumuran darah perawan Lina. “Ohh.. nikmat sekali”, pria tinggi kurus itu mendesah.</p>
<p>Tiba-tiba pria berkumis yang sejak tadi memandang atraksi temannya memandangi Lydia dengan buas. Dia mulai mengulum payudara Lydia dan tangannya menjelajahi vagina Lydia. Rupanya dia baru sadar bahwa Lydia sedang mens sehingga dia kaget melihat tangannya berdarah. “Plak.!, kurang ajar kau”, bentaknya,sambil mendorong badan Lydia ke lantai.</p>
<p>Tubuh Lydia diputar menjadi posisi menungging, “Aduh.. ahk..”, jerit Lydia kesakitan saat pria berkumis itu memaksakan penisnya ke anusnya. Walau sudah beberapa kali bermain cinta dengan Herry, namun kali ini sakit luar biasa karena tidak menggunakan pelicin. “Blesss..”, seluruh penisnya terbenam di lubang anus Lydia, sementara tangannya meremas-remas payudara Lydia.</p>
<p>Tidak puas sampai di situ pria tersebut ikutan mengambil sabuk dan melecuti punggung Lydia. Tubuh Lydia bergetar keras menahan sakit. “Ahkk.. aduh..”, jerit Lydia ketika dia menggigit leher Lydia. Lydia mengerang kesakitan, namun semakin Lydia kesakitan semakin pria itu bersemangat mendorong keluar masuk penisnya di anus Lydia. Tak tahan lagi menahan rasa sakit tiba-tiba mata Lydia gelap tak sadarkan diri.</p>
<p>Sesaat Lydia sadar, dia sudah terbaring di rumah sakit, dia masih merasakan anusnya yang perih dan tubuh memar, sedangkan Lina masih pingsan di ranjang sebelahnya. Bila anda ingat perkosaan dua orang wanita dipertengahan tahun 1997 yang ditemukan di pinggir jalan tol jagorawi, itulah kedua teman baikku yang menjadi korban perkosaan dan aku cuma bisa berdoa semoga tuhan memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kisah-pahit-teman-baikku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kerusuhan tahun 1998 merenggut kehormatan ku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kerusuhan-tahun-1998-merenggut-kehormatan-ku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kerusuhan-tahun-1998-merenggut-kehormatan-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/kerusuhan-tahun-1998-merenggut-kehormatan-ku.html</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini pun ditulis, bukan dengan tujuan tertentu, namun sebuah peringatan 10tahun yang lalu, melihat manusia dengan cara berbeda, berharap tak ada lagi jurang pemisah diantara Ras suku dan agama.. Berharap Indonesia yang lebih baik, meski lonjakan harga mulai mencekik kita,.. ******* Nama-ku Vania, umurku sekarang 27 tahun, aku seorang ibu rumah tangga dengan 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini pun ditulis, bukan dengan tujuan tertentu, namun sebuah peringatan 10tahun yang lalu, melihat manusia dengan cara berbeda, berharap tak ada lagi jurang pemisah diantara Ras suku dan agama..</p>
<p>Berharap Indonesia yang lebih baik, meski lonjakan harga mulai mencekik kita,..</p>
<p>*******</p>
<p>Nama-ku Vania, umurku sekarang 27 tahun, aku seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak, Michael yang berumur 3 tahun, dan Sheila yang baru berumur 4 bulan, aku menikah dengan Santo suami-ku 4 tahun yang lalu, aku juga lulusan sekretais dari sebuah universitas ternama, bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan Multi Nasional dan penghasilannya pun cukup lumayan, sedangkan Suami-ku seorang wiraswasta yang menjual barang-barang teknik,..</p>
<p>Rasanya kehidupan-ku cukup ideal dan sempurna untuk ukuran zaman sekarang dimana kehidupan ekonomi cukup sulit, malah kian sulit tiap harinya, bercerita tentang suami-ku Santo, usianya 5 tahun lebih tua dari aku, tak bisa dibilang tampan, meski tak bisa juga dibilang jelek, kenapa aku menikahi-nya ?? sedangkan teman-teman sekantor-ku ataupun cowok-cowok lain yang jauh lebih baik dan kaya pernah mengejar cinta-ku,..</p>
<p>Santo punya sesuatu yang lain, sesuatu yang dibutuhkan oleh aku, oleh para wanita, para wanita yang seperti aku, ya seperti aku ini, mereka yang mengalami satu cerita sepuluh tahun yang lalu,..</p>
<p>#####</p>
<p>Usia-ku bahkan baru saja genap 17 tahun, SMA kelas 2, Mama-ku seorang single parents, dan kami tinggal bertiga dengan Cici-ku Carolline, 2 tahun lebih tua dari usia-ku, Kakak-ku sedang melanjutkan studi-nya di sebuah Perguruan Tinggi Swasta, dan lagi sedang berjuang merintis karier-nya di dunia Model, wajahnya sempat menghias beberapa majalah remaja saat itu,..</p>
<p>Aku bangga dengan Cici-ku itu, dia cantik, dengan rambut sebahu-nya ditambah lagi tubuhnya yang tinggi sintal, dan tubuhnya yang terbilang sexy, aku sering iri melihat kecantikannya, namun justru Kakak-ku itu kerap memuji kecantikan-ku, dia bilang rambut-ku yang kubiarkan panjang itu sangat indah,..</p>
<p>Aku pun bukannya merasa diri-ku buruk, aku sadar aku cukup cantik, sejak aku SMP pun banyak lelaki yang mengejar-ngejar-ku, bahkan seorang guru-ku semasa SMP pernah menyatakan cinta-nya pada-ku, tapi jelas itu menakutkan untuk seorang remaja yang baru tumbuh seperti-ku,.</p>
<p>Mama-ku membuka sebuah Toko di daerah Pecinan metropolitan ini,.. Toko yang menjual sembilan kebutuhan pokok, bukan toko yang besar memang, namun dulu lebih dari cukup untuk sekedar membiayai kebutuhan hidup kami, namun itu dulu bukan sekarang, harga-harga yang kian mencekik ditambah lagi daya beli masyarakat yang kian menurun..</p>
<p>Inflasi yang kian parah, padahal baru saja Presiden terpilih lagi, besar harapan masyarakat untuk adanya perbaikan perekonomian, untuk sebagian orang mereka tahu ini adalah keadaan global masyarakat dunia, namun apa yang seperti itu ada dalam pikiran mereka yang lapar, mereka yang kehausan dan mereka yang merasa terus dibohongi oleh pemerintah,..</p>
<p>Kian hari keadaan kian mencekam, aku ingat 12 May 1998 hari itu, gelombang demonstrasi yang kian marak, kami tersentak, demonstrasi adalah sesuatu yang sangat menakutkan saat itu, kami belum siap dengan sesuatu yang disebut pengerahan Massa, berbeda jauh berbeda dengan demonstrasi saat ini, lebih mengarah ke tindakan anarkis,..</p>
<p>Aku tahu mereka lapar, mereka menginginkan turunnya harga-harga barang, Mama yang memberitahukan itu pada kami. Aku masih terlalu lugu dan kecil untuk berfikir seperti itu, malah aku dengan polos bertanya ke Mama tiap kali aku liat harga beras perliternya yang begitu cepat dinaikan oleh Mama, Mama bilang terpaksa,..</p>
<p>Aku tak mengerti, yang aku tahu pacar-ku James malah sudah tak lagi berada di Indonesia sejak 2 hari yang lalu, diajak oleh kedua orangtua-nya, aku tak mengerti kenapa, tapi yang kutahu teman-teman di sekolah-ku yang berasal dari keluarga berada, sama seperti James, pindah ke luar negeri,..</p>
<p>Sekolah pun mulai libur, negara ini seperti kehilangan arah, mulai terjadi pembakaran di jalanan, Presiden melakukan kunjungan ke Mesir meninggalkan negaranya yang sedang bergejolak, Televisi rumah-ku terus menyala selama 24 jam ini, keadaan Indonesia yang penuh dengan demonstrasi dan keadaan Jakarta yang begitu bergejolak membuat mata-ku terus terpaku menatap layar kaca,..</p>
<p>Dan hari itu 13 May 1998, aku mulai menjerit dalam hati, kami sekeluarga hanya bisa berdoa, sambil terus mendengar semua berita angin tentang keadaan masyarakat, penjarahan, pembakaran, dan sebagian besar yang menjadi korban adalah ‘kami’, mereka haus, mereka terbakar oleh kemarahan dan rasa muak, mereka melihat dengan kacamata-nya, melihat dengan sebuah kacamata penuh kemarahan yang menutup nurani dan akal sehat mereka,..</p>
<p>Kemarahan mereka dilimpahkan pada semua apa yang mereka lihat, apa yang dikatakan oleh para provokator, mereka dikendalikan oleh amarah, akal busuk dan rasa benci mereka, sedangkan ‘kami’ hanya bisa berdoa..</p>
<p>Dan akhirnya segalanya itu terjadi, begitu cepat, namun mencekam dan mengurai air mata, menakutkan, memberikan sebuah warisan yang tak akan terlupakan, hari ini sepuluh tahun yang lalu…</p>
<p>14 May 1998, kami tak tidur semalaman, aku berusaha menutup mata-ku, namun bayangan ketakutan, ditambah suara-suara menakutkan yang seolah kudengar meski aku tahu tak ada yang terjadi,,.. belum terjadi,..</p>
<p>Aku bahkan tak makan seharian, tak ada nafsu aku hanya berharap hari ini akan menjadi hari yang sama dengan beberapa tahun yang lalu, matahari masih matahari yang sama, demikian juga awan-awan dan langit yang sama yang menaungi kehidupan kami, aku hanya berdoa, berdoa agar semua badai ini cepat berlalu, aku bukan seorang bidadari yang mengharapkan Indonesia segera pulih, aku manusia yang penuh ego dan rasa mementingkan diri sendiri, aku ingin selamat, aku ingin kami sekeluarga baik-baik saja tak menjadi korban seperti ‘mereka’ aku tahu, aku mendengar ‘mereka’ yang lebih dahulu menjadi korban,..</p>
<p>Namun semua berubah, aku ingat dengan jelas, Mama menyembunyikan aku dan cici-ku ke toilet di lantai 3, sedangkan Mama diam di luar berusaha memohon kepada para demonstran yang mulai masuk ke komplek,..bukan gang tempat tinggal kami, bersama beberapa penghuni lain,..</p>
<p>Namun yang terdengar dari tempat persembunyian kami malahan suara dobrakan pintu teralis, kaca-kaca yang pecah, dengan suara gaduh yang terdengar dari seluruh penjuru,.. Aku menangis, Cici-ku juga menangis, aku merasakan cekaman ketakutan yang belum pernah kurasakan seblumnya rasa takut yang begitu luar biasa, rasa takut yang membuat-ku merasakan begitu indahnya kehidupan-ku sebelumnya,..aku terus menangis dan berdoa hingga akhirnya pintu kamar mandi itu didobrak paksa,..</p>
<p>Aku tak tahu siapa, namun salah satu dari krumunan orang-orang itu menarik Cici keluar sementara yang lainnya menyerbu kedalam, suara riuh teriakan penuh kekacauan ditambah pula berbagai suara tawa dan penuh intimidasi lainnya,..</p>
<p>Namun ditengah riuh suara itu, aku masih dapat menyaring dengan jernih apa yang kudengar saat satu suara lain menelusuk salam pendengaran-ku, aku mencari sumber suara yang sedang meraung, menangis, menjerit ketakutan, aku menemukannya, aku melihat Cici-ku sedang digumuli oleh orang-orang itu,..</p>
<p>Aku mulai meneteskan air mata saat kulihat tubuh cici-ku diangkat oleh salah satu dari mereka, mereka menarik kaus yang dikenakannya, merobeknya sementara beberapa yang lain membuka celana yang dikenakannya,..</p>
<p>Aku melihat dengan jelas bagaimana air mata cici-ku mengalir deras, aku tahu mereka hendak memperkosanya, namun apa yang bisa kulakukan sementara tangan-tangan kasar lain mulai menarik-narik-ku, aku memalingkan wajah-ku, aku pun bernasib sama dengan cici-ku sekarang, aku tak harus berbuat apa?? Berteriak ?? tidak akan ada gunanya,..</p>
<p>Seketika aku terlonjak saat aku merasakan tangan-tangan itu meremas dada-ku, aku mencari tangan siapa yang meremas-ku itu, aku menoleh mencari,.. namun yang kulihat dari kepungan itu hanyalah wajah-wajah mereka yang penuh kemarahan,..</p>
<p>Marah?? Marah kenapa ?? Apa aku bersalah ?? kulihat wajah mereka yang tak terawat, tato-tato yang mengisi sekujur tubuhnya, tubuh-tubuh kekar dengan wajah yag beringas tubuh mereka berbau tak enak, sementara beberapa menggumuli-ku, beberapa mereka mulai mengambil barang-barang dari rumah-ku, aku berfikir cepat aku cemas, kulihat orang-orang yang sedang menyetubuhi cici-ku, tubuh cici-ku menggeletar-geletar di atas sofa ditengah kekacauan itu,..</p>
<p>Namun pikiran-ku berkelana, mata-ku terus mencari namun tak kutemukan, aku mencari Mama, dimana Mama namun sebuah mulut melimat bibir-ku,. Bibir kasar dengan kumis tebal yang tak terurus, bau mulutnya membuat-ku tak nyaman, aku berusaha memberontak namun aku tak berdaya, kalah tenaga ditengah kekacauan itu,..</p>
<p>Kurasakan tangan yang lain mulai merobek kaus-ku meski aku berusaha menahannya naumn aku tak berdaya untuk mencegahnya, aku meraung, menangis tak karuan berusaha mencegah semua ini, namun aku tak berdaya,.. sementara beberapa orang memelorotkan celana, untuk pertama kalinya dalam hidup-ku aku melihat alat kelamin milik lawan jenis-ku,,</p>
<p>Bulunya amat lebat, aku menutup mata-ku aku menjerit dalam hati saat sebuah tangan memaksa mulut-ku membuka lebar, aku tak lagi bisa melawan kurasakan penis itu mulai masuk dalam mulut-ku,, kurasakan penis itu masuk perlahan, dengan baunya yang menyengat rasanya aneh pekat,..</p>
<p>Sementara beberapa yang lain turut membuka celana yang mereka kenakan, mereka menarik lepas celana yang kukena-kan, aku menjerit ketakutan meski tertahan oleh penis yang ada dalam mulut-ku,..</p>
<p>Aku menangis dan menjerit, aku ketakutan, saat kurasakan jemari-jemari kasar itu mulai menempel di bagian selangkangan-ku aku tak berdaya sementara tangan-tangan kekar itu menempel di pinggul-ku aku menjerit ketakutan, sementara penis dalam mulut-ku mulai menyodok-nyodok dalam mulut-ku, kadang tertahan begitu dalam membuat aku terbatuk-batuk,..</p>
<p>Aku mengelinjang hebat penuh rasa takut saat sebuah jemari menjejal masuk, menyelusup dalam celana dalam-ku sebelum aku sempat menjerit saat tangan ini menari-nari tepat di bibir kemaluan-ku itu, penis dalam mulut-kukembali bergerak, menusuk keluar masuk membuat-ku nyaris tak punya waktu untuk menangis, belum lagi remasan-remasan di dada-ku, aku tahu aku akan segera kehilangan kehormatan-ku,..</p>
<p>Aku belajar membenci, namun tak ada guna-nya di sudut lain diri-ku berusaha menalar kemarahan mereka, aku hanya korban, korban kesalahan dari apa yang ada saat ini, sasaran kemarahan meski aku tak tahu apa kesalahan yang aku perbuat aku takut, aku menangis,..</p>
<p>Sementara tangan-tangan liar itu menari-nari, meremas-remas dadaku, bokong-ku, mereka berlomba mencium tubuh-ku,..</p>
<p>Namun belum sempat aku menarik nafas panjang saat penis itu ditarik dari mulut-ku,..meski dengan letupan sperma yang sedikit tertelan oleh-ku, aku menangis hebat saat rasa sakit menyerang tubuh-ku, kurasakan sebuah benda asing mencoba menerobos masuk tubuh-ku,..</p>
<p>Air mata-ku kembali mengalir, aku menangis hebat meski aku tahu aku tak berdaya apapun, namun aku ingin berjuang melepaskan diri, sementara mata-ku menatap tubuh cici-ku yang sedang disetubuhi seseorang yang bertubuh besar, penisnya mungkin lebih besar dari apa yang sedang berusaha masuk dalam tubuh-ku itu, cici-ku menjerit-jerit kesakitan, sama seperti aku yang menjerit saat itu,..</p>
<p>Berulang kali penis itu berusaha menerjang masuk, ditengah suara tawa yang mengelelgar, sementara banyak pula teriakan-teriakan penuh provokasi lain, kurasakan tiap gerakan penis itu masuk, keluar dalam selangkangan-ku,…</p>
<p>Kututup mata-ku, menghapus pula bayangan cici-ku dalam kerumunan orang-orang itu, aku mencengkram tangan entah siapa, sementara melolong hebat saat kirasakan penis itu merobek kehormatan-ku,..</p>
<p>Belum lagi aku sempat berfikir, kurasakan penis itu keluar masuk dalam tubuh-ku, kurasakan darah hangat mengalir melewati bokong-ku,.. dada-ku tak lepas dari gumulan mereka, remasan-remasan ditambah pula seseorang yang asyik menyusu di payudara-ku, tubuhku mengelinjang hebat, meski dalam sebuah pemerkosaan aku tahu tubuh seorang wanita akan terangsang juga dalam keadaan seperti ini, namun niatan dalam tubuh-ku menolak-nya,..</p>
<p>Apalagi aku baru saja kehilangan kehormatan-ku, apalagi nada-nada ejekan yang seolah tak percaya kalau aku adalah seorang perawan,..</p>
<p>Aku menjerit penuh ketakutan, aku menangis hebat, namun lagi-lagi tertahan saat seseorang kembali menyelipkan penisnya dalam mulut-ku, aku kembali harus menerima bagaimana penis itu keluar masuk dalam mulut-ku, keluar masuk sama dengan penis yang menyelip dalam selangkangan-ku,..</p>
<p>Orang yang sedang menyetubuhi-ku itu, kian garang kian dahsyat menyetubuhi-ku pun juga, makin liar mendesakan penisnya keluar masuk dalam tubuh-ku itu, namun tak lama kurasakan bagaimana penis itu mulai mengelar-geletar dalam vagina-ku itu, sebelim akhirnya melelehkan spermanya dalam tubuh-ku,..</p>
<p>Belum aku dapat menariknafas, seseorang kembali mengangkangkan kaki-ku, sebuah penis kembali menghujam tubuh-ku, aku menjerit saat penis yang lebih besar dari yang tadi itu kembali merobek tubuh-ku, aku memekik saat penis itu mulai menyetubuhi-ku, makin lama makin cepat makin juga membuat air mata-ku mengalir hebat,..</p>
<p>Penis dalam mulut-ku kembali meleleh, aku terpaksa menegak sperma yang langsung masuk dalam tenggorokan-ku itu, aku menarik nafas panjang saat seseorang mengangkat tubuh-ku, dan membuat-ku menungging, membuat penis yang sedang menyetubuhi-ku itu kian lancar saja menyetubuhi-ku,..</p>
<p>Dan lagi sebuah penis masuk dalam mulut-ku,..aku mulai kehilangan kesadaran saat penis yang ada dalam vagina-ku itu tiba-tiba menuang spermanya dalam selangkangan-ku itu,..</p>
<p>Tubuh-ku begitu dikuasai mereka, dan yang membuat-ku tersentak hebat adalah saat sebuah penis menerobos anus-ku, kupejamkan mata, sambil berusaha menahan rasa sakit yang menggelegar, merobek tubuhku, namun disaat yang bersamaan aku pun kembali merasakan sebuah penis menjejali vagina-ku,..</p>
<p>Jadilah 2 buah penis itu secara bersamaan menyetubuhi-ku, belum lagi sebuah penis lain yang sedang di mulut-ku itu,.. raungan tangis-ku tak mengoyahkan kemarahan mereka,.. kucari cici-ku yang tergeletak, seolah tak sadarkan diri, sementara orang-orang itu masih begitu bernafsu menyetubuhi-nya,..</p>
<p>Pun sama dengan pandangan-ku yang kian kabur, aku mulai tak tahan merasakan rasa sakit yang dialami tubuh-ku, belumlagi rasa marah, rasa kesal rasa kecewa dimana aku merasa tak bersalah, orang-orang yang mungkin merusak hidup orang-orang ini pastilah berada di luar negeri, mengapa harus kami yang menjadi sasaran kemarahan kalian,..</p>
<p>Baru aku tak sadarkan diri, aku kehilangan beberapa saat dalam pingsan-ku yang kusadari karena orang yang sedang menyetubuhi-ku sudah berganti, aku terbangun oleh tuangan air dingin yang diambil dari bak kamar mandi menyiram tubuhku, mereka memberikan-ku minum air mentah itu,..</p>
<p>Aku pun masih tak berdaya dalam pemerkosaan ini, aku merasakan tiap tusukan penis yang membuat tubuh-ku mengejang hebat, belum lagi aku harus melayani ciuman mereka yang sedang begitu asyik menikmati tubuh-ku, aku mencari cici-ku yang menghilang dari tempat-nya tadi, aku panik, aku ketakutan, belum lagi memikir-kan mama yang menghilang sejak tadi,..</p>
<p>Kembali penis dalam vagina-ku melelehkan spermanya, ditambah lagi penis dalam anus-ku yang melelehkan spermanya entah penis keberapa yang telah menyetubuhi-ku, aku hanya bisa pasrah dalam keadaan ini,..</p>
<p>Entah berapa banyak lagi orang yang mengantri untuk menyetubuhi-ku,.aku tak berdaya, pun juga aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak tahu, sementara pandangan-ku mulai gelap, segelap kelamnya hari itu dalam sejarah kelam negeri ini,..</p>
<p>#####</p>
<p>Aku terbangun beberapa orang berseragam menyelemat kan-ku, entah hari itu tanggal berapa, yang pasti aku tak kunjung henti menangis, aku tak tahu harus menjadi apa sejak saat itu,..</p>
<p>Mama dan Cici-ku dinyatakan meninggal dalam tragedi itu, aku dirawat oleh kakek-ku di pinggiran kota Jakarta kemudian, mereka berusaha merawat-ku dengan semampu mereka, aku diam sejak saat itu, aku mencari pembenaran dalam hati-ku, aku membenci mereka, aku tak lagi memiliki rasa percaya pada siapa-pun di dunia ini, namun aku tersadar beberapa tahun kemudian,..</p>
<p>Aku terbangun saat mendengar seseorang berkata,..</p>
<p>Tubuh ini hanya sebuah tulang, daging dan darah,..<br />
Tulang yang sama, apapun ras dan sukunya,..<br />
Daging dan darah yang sama,..<br />
Tak ada yang berbeda selain bagaimana mereka mencerna hidup mereka,..<br />
Tak ada yang memilih bagaimana dilahirkan,..<br />
Tak ada yang bisa terjadi dalam kehidupannya,..<br />
Mereka hanya memilih dengan apa yang dilihat apa yang dikerjakan tiap harinya,..</p>
<p>Kemarahan tak akan merubah apapun,..<br />
Kemarahan hanya akan membuat mata kita kian menutup,..<br />
Ketidak perdulian yang berdiri diatas rasa ketidak ingin tahuan,..<br />
Membuat sebuah jurang besar, namun terkadang manusia tak pernah melihat,..<br />
Pun tak mau tahu oleh siapa jurang itu dibuat,..</p>
<p>Cenderung menyalahkan,..<br />
Pun juga takut untuk berjuang,..<br />
Membenci hanya kosong,..<br />
Namun ajarkan mereka cinta agar mereka tahu bagaimana mencintai</p>
<p>Kalimat sederhana yang membuat aku tersadar, mudahnya kita membenci tanpa perduli dengan keadaan yang terjadi, marah sebagai objek pelampiasan dari ketidak mampuan, apa aku memiliki kesalahan?? Aku hanya salah lahir, namun aku pun tak bisa memilih dilahirkan seperti apa,..</p>
<p>Tak lagi membenci, tak lagi menutup diri, aku tahu semua manusia itu sama, yang salah hanya cara berfikirnya, ajarkan mereka cinta, agar mereka tahu apa itu cinta,..</p>
<p>#####</p>
<p>Kubaca koran pagi ini, aku melihat bagaimana harga-harga merangkak naik lagi, aku takut, takut dalam hati-ku, semoga taka da lagi hari kelam seperti saat itu, tak ada lagi rasa dendam, aku berharap masyarakat negeri ini sudah cukup dewasa,.</p>
<p>Luangan kemarahan tak akan menyelesaikan apapun,.. tak ada yang berubah hanya pelampiasan kemarahan sesaat yang tak akan pernah ada hasilnya, hanya sempat cukup membuat perut kenyang satu hari, namun apakah akan membawa ke kehidupan yang lebih baik??</p>
<p>Aku berharap, keadaan merangkak membaik, ingin melihat bagaimana anak-anak-ku dewasa nantu, meraih apa yang mereka impikan,..aku berharap tak ada lagi kemiskinan, aku berharap tak ada lagi kebodohan di negeri ini,..</p>
<p>Aku tersenyum sekarang, aku bahagia dengan kehidupan-ku yang sekarang, aku bahagia dengan suami-ku yang tak tampan itu, namun dia melihat aku apa adanya, aku yang tak sempurna, dan aku yang ternoda, dia melihat-ku sebagai seorang wanita yang dicintainya,..dan semoga yang lain pun mendapatkan keberuntungan seperti aku meski aku berharap tak akan ada lagi “ aku “ “ aku ” yang lain,..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kerusuhan-tahun-1998-merenggut-kehormatan-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Model Agency Terkutuk</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/model-agency-terkutuk.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/model-agency-terkutuk.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/model-agency-terkutuk.html</guid>
		<description><![CDATA[Pagi hari. Aku baru saja bangun tidur. Udara terasa segar setelah Jakarta diguyur hujan deras semalaman. Kukenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat yang menampakkan lekuk-lekuk pantatku yang begitu menggiurkan. Aku berjalan ke halaman depan. “Aha.. Koran baru sudah datang”, kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di dekat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi hari. Aku baru saja bangun tidur. Udara terasa segar setelah Jakarta diguyur hujan deras semalaman. Kukenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat yang menampakkan lekuk-lekuk pantatku yang begitu menggiurkan. Aku berjalan ke halaman depan.</p>
<p>“Aha.. Koran baru sudah datang”, kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di dekat pintu pagar. Kuambil surat kabar itu. Langsung aku duduk di kursi di teras sambil membacanya. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi aku sangat menyukai berita-berita tentang perekonomian Indonesia termasuk krisis ekonomi berkepanjangan yang tengah melanda Indonesia. Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar. Mataku tertumbuk pada sebuah iklan satu kolom yang cukup mencolok.</p>
<p>“Dicari, gadis berusia 17 sampai 25 tahun. Wajah dan penampilan menarik. Bertubuh ramping. Tinggi minimal 165 cm dengan berat yang sesuai. Dapat bergaya. Berminat untuk menjadi foto model. Peminat diharapkan datang sendiri ke **** (edited) Agency, Jl. Cempaka Putih **** (edited), Jakarta Pusat.”</p>
<p>“Aku bisa diterima apa nggak ya?” Aku bertanya dalam hati. Memang sih, kupikir-pikir aku memenuhi syarat-syarat yang diminta. Usiaku baru menginjak 20 tahun. Tubuhku ramping dengan tinggi 170 cm, seimbang dengan ukuran dadaku yang di atas rata-rata wanita seusiaku. Wajahku cantik. Teman-temanku bilang aku perpaduan antara Desy Ratnasari dan Maudy Kusnadi. Tapi menurutku sih mereka terlalu memujiku berlebih-lebihan.</p>
<p>Ah, coba-coba saja aku melamar. Siapa tahu aku diterima jadi foto model. Kan lumayan buat menambah penghasilan. Aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku. “Pakai baju apa ya enaknya?” batinku. Ah ini saja. Kukenakan blus biru muda dan celana panjang jeans belel yang cukup ketat yang baru saja beberapa hari yang silam kubeli di Cihampelas, Bandung.</p>
<p>Mobil Feroza yang kukendarai memasuki jalan yang disebut dalam iklan. Ah, mana ya nomor **** (edited)? Nah ini dia. Rumahnya sih cukup mentereng. Di halamannya terpampang papan nama “**** (edited) Agency Photo Studio &#038; Modelling. Menerima anggota baru.” Wah benar ini tempatnya. Kuparkir mobilku di pinggir jalan. Di sana sudah banyak bertengger mobil-mobil lain. Aku masuk ke dalam. Astaga! Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik. Pasti mereka juga adalah pelamar sepertiku. Sejenak mereka memandangku ketika aku masuk. Mungkin mereka kagum melihat kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku. Kucari tempat duduk yang kosong setelah sebelumnya mendaftarkan diriku di meja pendaftaran.</p>
<p>Gila, hampir semua tempat duduk terisi. Nah, itu dia ada satu yang kosong di sebelah seorang cewek yang cantik sekali, keturunan Indo. Wajahnya mirip Cindy Crawford. Kelihatannya ia sebaya denganku. Tapi astaga, ia memakai baju yang berdada rendah alias “you can see,” dan rok jeans mini yang cukup ketat, sehingga menampakkan pangkal payudaranya yang berukuran cukup besar. Ia nampak memandangku dan tersenyum. Melihatnya aku menjadi minder. Wah, sainganku ini top sekali. Apakah mungkin aku terpilih menjadi foto model di sini? Satu persatu para pelamar dipanggil ke ruang pengetesan, sampai si Indo di sampingku tadi dipanggil juga. Semua pelamar yang sudah dites keluar lewat pintu lain. Akhirnya namaku dipanggil juga.</p>
<p>“Hanny K**** (edited) dipersilakan masuk ke dalam.”<br />
Aku pun masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria bertubuh agak gemuk.<br />
“Kenalkan aku Adolf, direktur sekaligus pemilik agensi ini. Siapa nama kamu tadi? Oh ya, Hanny, nama yang bagus, sebagus orangnya. Sekarang giliran kamu dites. Coba kamu berdiri di sana.”<br />
Aku pun menurut saja dan menuju tempat yang ditunjuk oleh Adolf, di bawah lampu sorot yang cukup terang dan di depan sebuah kamera foto.<br />
“Coba kamu lihat-lihat contoh-contoh foto ini. Pilih lima gaya di antaranya. Aku akan mengetes apakah kamu bisa bergaya. Jangan malu-malu, don’t be shy!” kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto. Aku melihat foto-foto di dalamnya. Ah ini sih seperti gaya foto model di majalah-majalah! Mudah amat! Lalu aku memilih lima gaya yang menurutku bagus. Setelah itu, jepret sana, jepret sini, lima gaya sudah aku berpose dan dipotret. Tapi Adolf belum mempersilakan aku keluar ruangan. Dia kelihatannya seperti berpikir sejenak.</p>
<p>“Nah, sekarang, Han. Coba kamu buka kancing-kancing bagian atas blus kamu. Nggak usah malu. Biasa-biasa aja lah!”<br />
Kupikir tak apa-apa lah kali ini. Kubuka beberapa kancing atas blusku sehingga terlihat BH yang kupakai. Mata Adolf sekilas berubah saat melihat pangkal payudaraku yang montok. Lalu aku dipotret lagi dengan pose-pose yang sensual.<br />
“Nah, begitu kan yahud. Sekarang coba buka baju kamu semuanya.”<br />
Wah! Ini sih mulai kelewatan!<br />
“Ayolah, jangan malu-malu!”<br />
Sebenarnya dalam hati aku menolak. Akan tetapi biarlah, karena aku sejak kecil selalu mengidam-idamkan ingin menjadi foto model.</p>
<p>Dengan perlahan-lahan kutanggalkan blus dan celana panjangku. Mata Adolf tanpa berkedip memandangi tubuh mulusku yang hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam. Aku sedikit menggigil kedinginan hanya berpakaian dalam di ruangan yang ber-AC ini. Namun Adolf tidak mengindahkannya. Ia malah menyuruhku menanggalkan busana yang masih tersisa di tubuhku. Ah, gila ini! Tapi cueklah, hanya berdua ini! Lalu dengan membelakangi Adolf, kulepas BH-ku. Kusilangkan tanganku di dada menutupi payudaraku.</p>
<p>“Han, masak kamu balik badan begitu. Bagaimana aku bisa mengetesmu.”<br />
Aku membalikkan tubuh menghadap Adolf. Adolf menyuruhku menurunkan tangan yang menutupi payudaraku. Adolf terpana menyaksikan payudaraku yang montok dan berisi dengan puting susunya yang tinggi menantang berwarna kecoklatan segar, tanpa tertutup oleh selembar benang pun. Aku menjadi risih pada pandangan matanya. Adolf menyuruhku melepas celana dalamku. Ia semakin melotot melihat bagian kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang masih tipis. Sekilas kulihat kemaluan di balik celana panjangnya menegang.</p>
<p>“Nah, sekarang kamu diam di situ. Akan kuukur tubuhmu, apakah memenuhi syarat”, kata Adolf sambil mengambil meteran untuk menjahit. Pertama kali dia mengukur ukuran vital dadaku. Ia melingkarkan meterannya melalui payudaraku. Dengan sengaja tangan Adolf menyentil puting susuku sebelah kanan sehingga membuatku meringis kesakitan. Tapi aku diam merengut saja.</p>
<p>“Kamu beruntung memiliki payudara yang indah seperti ini”, kata Adolf sambil mencolek belahan payudaraku.<br />
“Nah, sudah selesai sekarang.” Aku merasa lega. Akhirnya selesailah pelecehan seksual yang terpaksa kuterima ini.<br />
“Jadi saya sudah boleh keluar?” tanyaku.<br />
“Eit! Siapa bilang kamu sudah boleh keluar?! Nanti dulu, manis!”<br />
Wah, kacau! Apa gerangan yang ia inginkan lagi?<br />
“Susan!” Adolf memanggil seseorang.<br />
Seorang gadis cantik keluar dari ruangan lain, telanjang bulat. Ya ampun, ternyata ia adalah cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu. Payudaranya yang montok bergantung indah di dadanya, seimbang dengan pinggulnya yang montok pula. Aku bertanya-tanya apa arti dari semua ini.</p>
<p>“Nah, sekarang coba kamu lihat, Hanny. Susan ini adalah satu-satunya pelamar yang berhasil terpilih. Mengapa? Sebab ia cocok dengan profil foto model yang saya inginkan untuk proyek kalender bugil yang akan saya edarkan di luar negeri. Kalo kamu ingin berhasil seperti Susan, kamu harus berani seperti dia, Han”, kata Adolf sambil menunjuk ke arah gadis cantik yang bugil itu. Astaga! Batinku. Aku harus dipotret bugil. Bagaimana pandangan orang-orang terhadapku nanti apabila foto-foto telanjangku sampai dilihat orang-orang banyak?! Tapi kan cuma diedarkan di luar negeri?!</p>
<p>“Baiklah, tapi kali ini aja ya”, aku menyanggupinya. Akhirnya aku dipotret dalam beberapa pose. Pose yang pertama, aku disuruh berbaring tertelentang dengan pose memanjang di atas ranjang, dengan membuka pahaku lebar-lebar, sehingga menampakkan kemaluanku dengan jelas. Pose kedua, aku duduk mengangkang di tepi ranjang sementara Susan menjilati liang kemaluanku. Pose ketiga, aku dalam keadaan berdiri, sedangkan Susan dengan lidahnya yang mahir mempermainkan puting susuku. Pose keempat, aku masih berdiri, sementara Susan berdiri di belakangku dan berbuat seolah-oleh kami berdua sedang bersenggama. Susan berperan sebagai seorang pria yang sedang menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku yang indah. Dan aku diminta memejamkan mataku, seakan-akan aku sedang terbuai oleh kenikmatan yang tiada taranya. Semua itu adalah pose-pose yang membangkitkan nafsu birahi bagi kaum pria namun amat memuakkan bagi diriku.</p>
<p>Tiba-tiba kurasakan kedua belah payudaraku diremas-remas dengan lebih keras, bahkan lebih kasar. Aku meronta-ronta kesakitan. Aku menoleh ke belakang. Astaga! Ternyata yang di belakangku sudah bukan Susan lagi, melainkan Adolf yang sekarang tengah mempermainkan payudaraku dengan seenaknya! Entah Susan sudah ke mana perginya.</p>
<p>“Jangan, Pak! Jangan!” Aku memberontak-berontak sebisa-bisanya. Tapi semua itu tidak ada hasilnya. Tangan Adolf lebih kuat mendekapku kencang-kencang sampai aku hampir tidak bisa bernafas.<br />
“Kamu memang benar-benar cantik, Hanny”, kata Adolf sambil mencium tengkukku sementara tangannya masih terus merambah kedua bukit yang membusung di dadaku.</p>
<p>Tiba-tiba dengan kasar, Adolf mendorongku, sehingga aku jatuh tertelentang di sofa. Melihat tubuh mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan. Matanya melotot seperti mau meloncat keluar melihat keindahan tubuh di depannya. Kututup payudaraku dengan tanganku, tapi Adolf menepiskannya. Betapa belahan payudaraku sangat lembut dan merangsang ketika mulut Adolf mulai menjamahnya. Payudaraku yang putih bersih itu memang menggiurkan. Mulut Adolf dengan buas menjilat dan melumat bagian puncak payudaraku, lalu mengisap puting susuku bergantian, sehingga aku menggelinjang kegelian. Nafasku ikut memburu kala tangan Adolf mulai merayap ke selangkanganku, meraba-raba pahaku dari pangkal sampai lutut. Lalu betisku yang mulus itu.</p>
<p>Aku hampir-hampir tak bisa bernafas lagi ketika mulut Adolf terus mengisap dan menyedot puting susuku. Aku meronta-ronta. Tapi Adolf terus mendesak dan melumat puting susuku yang runcing kemerahan itu. Seumur hidupku, belum pernah aku diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini aku harus menyerahkan diriku pada Adolf.</p>
<p>Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam liang senggamaku yang sempit. Ia sudah tak kuat lagi membendung nafsunya yang memuncak ketika batang kemaluannya bergesekan dengan liang kewanitaanku yang merah terbuka. Batang kemaluan Adolf akhirnya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku. Aku menjerit ketika liang kewanitaanku diterobos oleh batang kemaluan Adolf yang tegang dan panjang. Betapa perih ketika “kepala meriam” itu terus masuk ke dalam liang kewanitaanku, yang belum pernah sekalipun merasakan jamahan laki-laki.</p>
<p>Aku mencoba memberontak sekuat tenaga lagi. Tapi apa daya, Adolf lebih kuat. Lagipula aku sudah lemas, tenagaku sudah hampir habis. Terpaksa aku hanya dapat menerima dengan pasrah digagahi oleh Adolf. Dan akhirnya, aku merasa tak kuat lagi. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tak sadarkan diri.</p>
<p>Saat aku siuman, aku menyadari diriku masih tergeletak telanjang bulat di sofa dengan cairan-cairan kenikmatan yang ditembakkan dari batang kemaluan Adolf berhamburan di sekujur perut dan dadaku. Sementara kulihat ruangan itu telah kosong. Segera kukenakan pakaianku kembali dan bergegas ke luar ruangan. Kukebut Feroza-ku pulang ke rumah dan bersumpah tak akan pernah kembali lagi ke tempat terkutuk itu!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/model-agency-terkutuk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Korban Nafsu Saudara Iparku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-korban-nafsu-saudara-iparku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-korban-nafsu-saudara-iparku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2385</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila. Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila.</p>
<p>Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing kebagian Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.</p>
<p>Ketika menerima uang waris Rp. 2 juta, aku sengaja menyimpan Rp. 1 juta sebagai deposito ke sebuah bank, sedangkan sisanya kubelikan sebuah TV. Sebab aku ingin punya TV sendiri dikamar tidurku.</p>
<p>Begitu lulus, aku pergi berduaan ke Sarangan bersama Anton, pacarku yang sekelas denganku. Ditempat rekreasi yang sejuk itulah aku memadu kasih dengan Anton. Entah bagaimana mulanya, setelah aku dicium dan diremas-remas payudaraku, aku seperti terhipnotis dan terbuai dengan segala rayuannya, sehingga aku menuruti saja ketika Anton mengajakku memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.</p>
<p>Bahkan ketika di dalam kamar tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan remasan-remasan hangatnya yang benar-benar membuatku tak berdaya dan diam saja saat Anton mulai melepas satu demi satu seluruh pakaian yang menempel ditubuhku, aku hanya bisa merasakan desah nafasku yang semakin tidak beraturan dan seluruh tubuhku benar-benar di luar kendaliku. Saat tangan Anton semakin bergerak leluasa ke bagian-bagian sensitif tubuhku, aku semakin pasrah dan menikmati seluruh kecupan hangat,remasan-remasan yang luar biasa nikmatnya, hingga akhirnya seluruh pertahananku jebol setelah penis Anton dengan cepatnya masuk dan merenggut keperawananku dengan sekali hentakan saja. Namun semuanya tak kupikirkan terlalu lama karena aku benar-benar sangat menikmatinya saat penis Anton mulai bergerak maju-mundur, turun-naik, sehingga membuat liang vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke ranjang karena puncak orgasme yang kurasakan saat itu. Lemas, mataku berat, dan akhirnya aku tertidur di dalam pelukan dada Anton kekasihku itu.</p>
<p>Noktah merah yang seharusnya kupersembahkan buat suamiku, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton, pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali melakukan persetubuhan denganku hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku benar-benar dibuat takluk dengan keperkasaan seksualnya.<br />
“Tak udah memikirkan keperawanan. Jaman sudah maju, manusia tidak membutuhkan keperawanan, melainkan kesetiaan”, kata Anton setelah berhasil mengambil keperawananku. Aku juga masih ingat persis ketika Anton memberiku uang Rp.10 ribu.<br />
“Ini untuk beli jamu”, katanya singkat. Hampir saja aku melempar uang itu ke wajahnya. Tetapi Anton keburu mencium pipiku, keningku dan tengkukku sehingga aku tidak bisa marah atas sikapnya tadi.</p>
<p>Benar dugaanku. Setelah peristiwa itu Anton tidak muncul-muncul. Hampir dua minggu aku menunggu, tak kelihatan juga batang hidungnya. Akhirnya aku memaksakan untuk datang ke rumahnya di jalan Borobudur. Betapa terkejutnya aku, ketika ibunya bilang Anton sudah berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana. Niat hati ingin menyampaikan masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah berbuat hal layaknya suami istri. Tetapi mulutku tidak bisa bersuara. Aku hanya menahan nafas dan mengehembuskannya dalam-dalam.</p>
<p>Saat paling membuatku berdebar-debar adalah saat aku tidak mengalami menstruasi. Aku kalut, Beberapa macam pil yang disebut orang-orang bisa untuk menggugurkan kandungan, kuminum. Tetapi, aku tetap terlambat datang bulan. Aku makin kalut. Apalagi aku harus hengkang dari rumah, karena rumah kami sudah laku dijual. Aku harus ke Surabaya, tidak ada jalan lain.</p>
<p>Bulan kedua aku lewati dengan mengurung diri di kamar di ruman Mbak Mira, kakak sulungku. D rumah ini tinggal juga suaminya, Mas Sancaka, dan anak tunggalnya Sarma, yang masih balita. Selain itu pula ada pula Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, yang hingga kini masih hidup membujang.</p>
<p>Sebulan dirumah Mbak Mira, aku sudah tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Ketika Mbak Mira tidur aku mengutarakan permasalahanku ini kepada Mas Sancaka, dan berharap dia bisa memeberikan jalan keluar terbaik bagi diriku.<br />
“Besok kamu ikut aku. Kita harus menggugurkan anak haram itu”, kata Mas Sancaka, “Dan Mbak Mira tidak perlu tahu musibah ini”, tambahnya. “Kamu masih punya uang simpanan?”, katanya.<br />
“Satu juta”, jawabku singkat.<br />
“Besok pagi kita ambil, kekurangan uangnya biar aku yang tanggung”, kata Mas Sancaka.</p>
<p>Keesokan pagi harinya aku dibawa ke dokter yang ada dikawasan lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak terlalu luas itu, kandunganku digugurkan. “Biayanya Rp. 1,6 juta, itu belum termasuk biaya kamar, biaya perawatan, dan obat-obatan. Siapkan saja uang sekitar Rp. 2 juta”, kata dokter yang merawatku kepada Mas Sancaka.</p>
<p>Aku memandangi Mas Sancaka untuk meminta reaksi atas ucapannya tadi malam. “Ya, Dok. Ini kami membawa uang Rp. 1 juta, nanti saya akan ambil uang di ATM untuk melengkapi seluruh biayanya”, kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan kandunganku, sembari melirikku. Lega rasanya aku dibantu kakak iparku. Dibenakku aku punya harapan untuk kuliah kembali, agar jadi ‘orang’. Uang Rp. 1 juta kuserahkan, dan dalam waktu sepuluh menit aku sudah tidak sadarkan diri. Ketika aku bangun, aku telah berada di ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Ada seorang perawat disini. “Jangan banyak bergerak dahulu ya jeng”, kata perawat itu yang kira-kira berusia 40 tahun. dia kemudian menyeka keringatku dan meneyelimuti tubuhku dengan baju putih.</p>
<p>Tak lama kemudian Mas Sancaka datang dan membawa buah-buahan untukku. Aku tersenyum kepadanya. Diapun membalas senyumku. Diusapnya rambutku, dan diciumnya keningku.<br />
“Sus, meski kami menggugurkan kandungannya, tetapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya merasa belum siap saja. Saya ingin Mila menjadi istri kedua”, kata Mas Sancaka kepada perawat itu, tanpa meminta persetujuanku kalau aku pura-pura jadi WIL-nya.<br />
Sehari kemudian aku pulang. Tetapi aku tidak diijinkan untuk pulang ke rumah Mbak Mira oleh Mas Sancaka, Aku justru dibawanya kesebuah hotel. “Kenapa disini, Mas?” tanyaku.<br />
“Kamu masih kelihatan pucat. Jangan pulang dulu, kamu tidur disini sekitar 3 sampai 4 hari dulu, nanti baru pulang. Lagian Mas Sancaka sudah bilang ke Mbak Mira, bahwa kamu balik sementara ke Bandung untuk keperluan menjenguk saudara”, katanya. Aku mengikuti saja sarannya tersebut.</p>
<p>Hari-hari pertama Mas Sancaka bersikap sopan kepadaku, Dia tampak mengasihiku. Tetapi, pada hari kedua, Mas Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di sebelah tubuhku, Mas Sancaka secara mengejutkan memintaku untuk memegang ’senjatanya’.<br />
“Aku nggak kuat, Mila. Tolong kamu pegang-pegang penisku sampai ‘keluar’, agar kepalaku tidak pusing. Mbakyumu sedang mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan badan selama dua hari ini, biasanya kami melakukannya setiap hari”, begitu kata Mas Sancaka beralasan kepadaku.</p>
<p>Ingin rasanya aku menolak, tetapi bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu berbaik hati kepadaku. Kupikir tidak ada salahnya aku melakukannya sekali ini untuk membalas kebaikan-kebaikan Mas Sancaku kepadaku selama ini, khususnya saat-saat seperti ini. Dengan malu-malu aku melakukan apa yang dimintanya, Kulihat penis Mas Sancaka masih tertidur, panjangnya lumayanlah, aku mulai mengusap-usap batang penis Mas Sancaka secara lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka sedikit demi sedikit mulai mengembang dan membesar, tanganku merasakan penisnya yang bergerak-gerak hingga akhirnya tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh batang penisnya telah tegang dengan sangat kerasnya.</p>
<p>Mas Sancaka kulihat memejamkan matanya menikmati permainan ini, aku semakin berani untuk memain-mainkan penisnya, kuusap, kugosok-gosok dengan jariku dan terakhir aku mulai mengocok-ngocok penis Mas Sancaka secara turun naik, kulihat tubuh Mas Sancaka kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai akhirnya tiba-tiba tubuh Mas Sancaka tiba-tiba mengejang, penisnya terasa panas sekali, kulihat kepala penisnya kini berubah warnanya menjadi sangat merah sekali dan berdenyut-denyut.</p>
<p>Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit menahan sesuatu yang amat luar biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan kental menyemprot deras keluar dari batang penisnya Mas Sancaka, cairan spermanya muncrat banyak sekali seiring dengan itu tubuhnya berkelejat-kelejat sampai pada akhirnya spermanya habis, tubuhnya jatuh lunglai dan kulihat wajah Mas Sancaka tersenyum puas. Perlahan-lahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka yang belepotan spermanya, kubersihkan dengan perlahan-lahan sambil memijat-mijat tubuh Mas Sancaka, hingga akhirnya Mas Sancaka tertidur di ranjangku.</p>
<p>Di hari kedua aku benar-benar tidak mampu menolak permintaannya, saat aku sedang mandi tiba-tiba pintu kamar mandiku diketok oleh Mas Sancaka, ketika kubukakan, tiba-tiba Mas Sancaka menerkamku dengan buasnya. “Kalau kamu tidak melayaniku, maka kasus pengguguran ini akan kuberitahukan kepada Mbak Mira”, ancamnya.<br />
Maka, aku tidak mampu menolak keinginannya ini, Semalaman itu aku harus melayani Mas Sancaka ronde demi ronde. Sejak saat itu aku semakin tidak punya keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan tubuhku yang masih sintal, dan rapatnya liang vaginaku, karena aku memang belum pernah melahirkan. Perbuatannya ini tidak hanya dilakukan di hotel saja, tetapi sudah mulai berani dilakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu mengendap-endap menuju kamarku dan mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku takut suatu waktu akan ketahuan akibat Mas Sancaka mengetuk pintuku maka aku setiap tidur tidak pernah mengunci kamar tidurku.</p>
<p>Yang membuatku semakin tertekan adalah tiba-tiba pada suatu hari tubuhku serasa terindih sesuatu, ketika aku membuka mataku alangkah kagetnya aku, karena yang menindih tubuhku adalah Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup mulutku sambil mengancamku. “Awas, kamu tidak perlu berteriak, Jika tidak saya akan melaporkan perselingkuhan kamu dengan Mas Sancaka kepada Mbak Mira. Aku telah mengetahui kejadian ini sejak minggu lalu, lalu apa salahnya jika kamu melakukannya kepadaku juga”, ancamnya.<br />
Sejak saat itu aku menilai Mas Sudrajat sama bejatnya dengan Mas Sancaka. Hingga mulai saat itu hampir setiap hari aku melayani dua pria. Antara pukul 12 malam sampai denga pukul 1.30 pagi aku melayani Mas Sudrajat, dan Antara pukul 3 pagi sampai dengan pukup 4 pagi aku harus kembali bergumul dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai pelampiasan nafsu kedua saudara-saudara iparku.</p>
<p>Bahkan menurutku Mas Sudrajat adalah orang paling bejat didunia ini, ia bahkan menceritakan perselingkuhan kami kepada Mas Suwono yang tinggal di jakarta. Ketika suatu saat Mas Suwono menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas kantornya. Dia tidak tidak sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku malam hari bersama dengan Mas Sudrajat untuk kembali merasakan kehangatan tubuhku, malah pernah suatu kali ketiganya tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh tenagaku, hingga aku pernah pingsan menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi tanpa hentinya dari ketiga saudara iparku yang menggilir aku secara bergantian. Hingga akhirnya puncak dari seluruh kenikmatan tersebut adalah kelelahan yang luar biasa, aku knock out alias KO!</p>
<p>Lebih celaka lagi ketika suatu saat Mbak Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalam suaminya ada di kamarku. Aku sangat yakin Mbak Mira mengetahui kalu suaminya sering masuk ke kamarku. Mbak Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan celana dalam suaminya itu kewajahku. Dan, sejak itulah Mbak Mira jarang mengajakku bicara. Ketika kuceritakan kejadian ini kepada Mas Sancaka, Diluar dugaan di berkata, “Mila, Mbak Mira sudah tidak kuat lagi melayani nafsuku, pernah kusampaikan aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam saja”, kata Mas Sancaka.</p>
<p>Aku tercenung. Napasku terasa berhenti di tenggorokan. Kasihan Mbak Mira. Tetapi siapa yang menaruh rasa belas kasihan kepadaku? Aku telah melayani nafsu biadab ketiga saudara iparku. Ingin rasanya aku lari minggat dari rumah Mbak Mira, Tetapi kemana aku harus menetap? aku tidak ingin menjadi seorang Wanita Tuna Susila, dan aku sudah tidak memiliki uang pula untuk menyambung hidup jika aku minggat.<br />
Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keberanianku benar-benar hilang sama-sekali, dan hingga sampai ini aku masih harus tetap melayani nafsu binatang ketiga lelaki iparku.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-korban-nafsu-saudara-iparku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>harga yang sangat mahal</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/harga-yang-sangat-mahal.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/harga-yang-sangat-mahal.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:56:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/harga-yang-sangat-mahal.html</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu itu Dino tengah terpuruk pada layar komputernya, sambil membuka situs favoitnya (DS). Juga sambil OL pada salah satu chatting room. Mencoba dengan iseng say hello pada beberapa nama yang tampil di layar monitornya. Sudah beberapa hari ini pikirannya suntuk dengan berbagai masalah. Masalah sehari-hari sampai masalah klise seperti kebanyakan orang yang tengah mengalaminya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu itu Dino tengah terpuruk pada layar komputernya, sambil membuka situs favoitnya (DS). Juga sambil OL pada salah satu chatting room. Mencoba dengan iseng say hello pada beberapa nama yang tampil di layar monitornya. Sudah beberapa hari ini pikirannya suntuk dengan berbagai masalah. Masalah sehari-hari sampai masalah klise seperti kebanyakan orang yang tengah mengalaminya saat ini.</p>
<p>Tiba-tiba di layar monitornya muncul sebuah jendela yang meminta nicknya di add sebagai contact. ’Ryani’ nick yang muncul di layarnya lengkap dengan picnya. Dino harus mengakui bahwa Ryani seorang wanita yang cantik. Cantik dan elegant tepatnya. Segera Dino memberikan persetujuannya. Dan..</p>
<p>nabirong_x: hi..<br />
Ryani: asl plz?<br />
nabirong_x: m di bandung, kamu?<br />
Ryani: F __ jogja..<br />
nabirong_x: aku __<br />
Ryani: o…<br />
nabirong_x: masih di kantor..?<br />
Ryani: aku….di rumah,,<br />
nabirong_x: santi ya..?<br />
nabirong_x: maksudnya santai ya..?<br />
Ryani: ]yup…<br />
nabirong_x: wek end kemana?<br />
Ryani: ya di rumah aja…<br />
nabirong_x: jalan dong, kan biar refresh..<br />
Ryani: ya males….<br />
Ryani: abis bete banget,m,<br />
nabirong_x: bete kenapa..?<br />
nabirong_x: masalah kantor..?<br />
Ryani: gak….<br />
nabirong_x: keluarga?<br />
Ryani: yup..<br />
nabirong_x: mo sharing ke aku…?<br />
Ryani: gak tau,,,ah…..<br />
Ryani: males,,,,<br />
nabirong_x: biar agak plong gtu..<br />
Ryani: tadi aku liat2,,,,,situs…<br />
nabirong_x: terus..<br />
Ryani: ya,,,biar gak bete,,<br />
nabirong_x: gimana udah ga bete skrg?<br />
Ryani: masih..<br />
nabirong_x: td liat situs2 yang seru2 ya…<br />
Ryani: dikit…<br />
nabirong_x: hehehe…<br />
Ryani: oya,,,bole minta referensi situs apa aja yg bagus?<br />
nabirong_x: cerita ato apa pic..?<br />
Ryani: ya dua2nya,,,<br />
Ryani: deh,,,aku bener2 suntuk..<br />
nabirong_x: aku jga sering nulis di situs2..<br />
Ryani: oya,,,,<br />
Ryani: apa aja,,,bole minta..<br />
nabirong_x: jangan kaget situsnya serem..<br />
Ryani: apa…gpp koq..<br />
nabirong_x: situs ‘dunia sex’ n cari penulisnya ‘nabirong_x’<br />
Ryani: o….<br />
Ryani: aku coba liat deh…<br />
Ryani: ada lagi gak..<br />
nabirong_x: aku cm msuk di situs itu, yang penulisnya nabirong_x itu aku<br />
Ryani: o..jadi mas,,,bisa nulis ya?<br />
nabirong_x: masih coba2..<br />
Ryani: o….ya,,aku baru aja liat..<br />
Ryani: nabirong x ya..<br />
nabirong_x: yup, yang judulnya business…, bukan karyaku yang lainnya asli karyaku<br />
Ryani: maksudnya.,.<br />
nabirong_x: ada beberapa judul tulisan dr aku, yang judulnya business… bkn karyaku, tapi judul lain dg penulis nabirong_x asli karyaku<br />
Ryani: o bgt,,,,oya,,,,apa itu asli pernah mas alami…koq bisa nulis ya? bagus …koq..<br />
nabirong_x: coba tebak..<br />
Ryani: ya…biasanya,,bisa cerita jika ada pengalaman ya?<br />
nabirong_x: maybe..<br />
nabirong_x: udah liat yang judulnya apa..?<br />
Ryani: koq maybe???sih…<br />
Ryani: brarti aku bisa nulis juga ya?<br />
nabirong_x: ya harus bisa dong.., km udah masuk situs itu kan berarti udah register kan..?<br />
Ryani: baru mau…<br />
Ryani: tapi,,,malu ah nanti di ktawain org aku gak bisa nulis..<br />
Ryani: ….<br />
nabirong_x: ga usah malu ko, yang penting berani dulu, kan ga ada yang tau ini, kecuali pakai nama asli..sama saja bunuh diri<br />
Ryani: gitu ya,,,,,<br />
Ryani: ah malu…<br />
nabirong_x: tapi pengen nulis kan..?<br />
Ryani: ya,,,tapi aku orgnya gak sabaran…<br />
nabirong_x: sagitarius..?<br />
Ryani: gak…..cancer,,<br />
nabirong_x: ow, tukang jepit…<br />
Ryani: gak..<br />
nabirong_x: klo ga apa dong..?<br />
Ryani: oya,,,kalo…mas bikin cerita itu berdasar pengalaman ya?<br />
nabirong_x: lebih baik begitu, bisa dapat feelnya..<br />
Ryani: o…….<br />
Ryani: tapi aku harus mulai dari mana ya? ….bisa bantu aku…mas?<br />
nabirong_x: boleh..<br />
Ryani: tapi dari mana ya mulainya..<br />
nabirong_x: tulis aja semua yang pengen km ceritakan, terus emailkan ke aku bisa..?<br />
Ryani: contohnya,,,<br />
nabirong_x: setelah itu aku edit dan tambahkan,Nti sebelum ku posting aku emailkan kembali kpd mu, klo dah ok aku posting<br />
Ryani: ya,,,,ntar aku,,,bikin dulu tapi jgn di ketawain ya,,,,jika kata2nya gak beraturan,,,<br />
Ryani: emailkan ke mana?<br />
nabirong_x: ya kesana, kan di tulisan di DS itu ada email aku..<br />
Ryani: ­­___________@yahoo.com?<br />
nabirong_x: yup,…<br />
Ryani: ya,,,,apa harus skrg>?<br />
Ryani: besok aja gmn?<br />
nabirong_x: gimana klo..<br />
nabirong_x: tahun depan, hehehe….<br />
Ryani: apa?<br />
Ryani: yea,,,,,,,he,,,,ntar keburu,,,lupa deh..<br />
nabirong_x: pengalaman pribadi…?<br />
Ryani: ya….<br />
Ryani: amat mengganggu aku…<br />
Ryani: rasanya,,,gimana gitu,..<br />
nabirong_x: rasanya gimana? ya aku ga tau…<br />
Ryani: ya…sih.,.<br />
nabirong_x: belom ada yang tau cerita ini, walaupun org terdekat?<br />
Ryani: ya hanya aku n dia aja..<br />
nabirong_x: ga ada masalah kan..? seleai klo dia sudah tau<br />
Ryani: ya,,,<br />
nabirong_x: ga pernah di permasalahkan kan..?<br />
Ryani: ya,,,itu yg bikin aku merasa gak enak n bersalah…<br />
nabirong_x: yg penting itu masa depan bukan masa lalu..<br />
Ryani: ya abis,,,,aku melakukannya bukan dgn org yg aku cintai..<br />
Ryani: ini masalahnya..<br />
Ryani: terpaksa,,<br />
nabirong_x: di perkosa maksudnya..?<br />
Ryani: terpaksa di tapi….karena ditekan…secara mental…<br />
nabirong_x: oooo, menyerah pada keadaan judulnya..<br />
Ryani: ya abis mo bilang apa…..<br />
Ryani: semua udah terjadi..<br />
nabirong_x: aku ngerti…, asal km jgn smp trauma aja sm laki2<br />
Ryani: ya,,,buktinya aku masih jalan pacaran..<br />
nabirong_x: klo itu terjadi km hrs ke psikolog<br />
nabirong_x: yup bagus lah masih ge abnormal..<br />
nabirong_x: ga abnormal maksudnya<br />
Ryani: ya..ini malah…bikin….masalah….bisa dicuriagai pacarku..<br />
nabirong_x: katanya udah tau..?<br />
Ryani: ya melakukan yg tau..pacarku gak tau sama sekali..<br />
nabirong_x: udah jalan brp lama pacarannya?<br />
Ryani: aku udah…2 tahun,.,,<br />
nabirong_x: oke berarti bisa di katakan dialah yg bakal suamimu betul..?<br />
Ryani: ya,,,,<br />
nabirong_x: menurut aku sebaiknya km harus cerita drpd dia taunya nanti setelah menikah,<br />
Ryani: ya,,,,aku masih nunggu,,,<br />
Ryani: kejadiannya,,,saat dia masih melakukan pendekatan…padaku..<br />
nabirong_x: ko bisa, ? km tebar pesona pd org lain juga ya..?<br />
Ryani: gak..saat itu aku kan lagi ngambil….kuliah…program profesi….<br />
Ryani: kan sayang aku hanya tamat s1 aja…jadi aku ingin jadi psikolog…<br />
nabirong_x: hmm, jadi yang melakukan dosenmu..?<br />
nabirong_x: ya kan..?<br />
Ryani: bukan..aku kan mengambil sampel penelitian prilaku….seorg narapidana,,,yg sedang berasimilasi dengan dunia luar..<br />
nabirong_x: hah..! dia yng jdi subyek kamu..?<br />
nabirong_x: yang melakukannya..?<br />
Ryani: ya,,,,kan prilakunya dengan masyarakat umum…<br />
Ryani: lagian kan yg jadi sampelnya,,,org yg udah mau keluar..<br />
nabirong_x: km terlalu ambil resiko dg sampel penelitian jenis itu, apa ga ada penelitian jenis lain.., ya sudahlah semuanya tlh terjd ga bisa di putar balik..<br />
Ryani: ya,…itulah,,,,keteledoranku..<br />
nabirong_x: aku ngerti, km menyukai tantangan.., tp krng memikirkan resikonya<br />
Ryani: ya….<br />
Ryani: aku kira,,,orgnya udah berubah selama di penjara,,<br />
Ryani: awalnya dia baik…<br />
Ryani: n..penurut,,,<br />
nabirong_x: Berubah mungkin saja, cm klo mengahadapi wanita secantik kamu lelaki siapa saja akan ngiler, waktu itu saat pertama kalinya bagimu..?<br />
Ryani: ya,,,,sich….<br />
Ryani: tapi nanti naamaku di samarkan aja ya?<br />
nabirong_x: ya pasti dong, ga sebanding penelitian dg harga yg harus km bayar..<br />
Ryani: ya,,,,<br />
nabirong_x: kecuali klo km tipe orang yg ambisius..<br />
Ryani: tapi aku skrg takut…kalau2 dia….mengancam keluargaku…<br />
Ryani: soalnya dia terus….mengancamku,..,<br />
nabirong_x: gimana bilangnya..?<br />
Ryani: ya,…keselamatan aku dan keluarga….ada di tangannya jika aku macam2 n buka mulut…<br />
Ryani: baginya penjara,,adalah rumah keduanya…katanya,,<br />
nabirong_x: rumit n serba salah ya..<br />
nabirong_x: tp km bisa bilang sm pasngan km pelan2 biar dia bisa mengerti n ga emosian<br />
Ryani: ya…..aku….kuatir….lama 2 pacatku…tau sebab,,,,dia kadang minta….duit,,,juga terkadang minta di temani…<br />
Ryani: aku takut keselamatn pacarku..<br />
Ryani: jika aku buka mulut…<br />
nabirong_x: pindah kota sdh dicoba..?<br />
nabirong_x: ternyata psikolog punya masalah psikologis juga ya…<br />
Ryani: belum…<br />
Ryani: ya,,,<br />
nabirong_x: coba bicara dg cwo km n pikirkan untuk pindah kota, menghilangkan diri..<br />
Ryani: kayanya butuh waktu lama soalnya pacarku kerja di pemda …<br />
nabirong_x: tp yg penting itu km nya harus menghilang, cwo km kan laki, dia bukan makhluk lemah ko<br />
Ryani: ya….saat ini aku masih merasa buntu mau kemana…<br />
nabirong_x: ambil sekolah lgi bisa kan,? lebih baik ambil program beasiswa di LN<br />
Ryani: sedang aku pikirkan….<br />
Ryani: soalnya….ia tau banyak ttg aku..<br />
nabirong_x: tapi kl km menghilang ga bakal deh.., soalnya km skrg ini dlm pengawasannya setiap saat<br />
nabirong_x: diam2 aja, menghilang deh<br />
nabirong_x: ok..?<br />
Ryani: lagi aku cari caranya,,,gmn cara terbaik..<br />
nabirong_x: ok deh, semoga berhasil, kabari aku klo ada perkembangan bagus..<br />
nabirong_x: aku mo nanya..?<br />
nabirong_x: boleh..?<br />
Ryani: apa…<br />
nabirong_x: sampai saat ini si napi itu masih maksa minta di layani..?<br />
Ryani: ya…..<br />
nabirong_x: selalu km beri..?<br />
Ryani: abis….aku gak bisa nolak,,jika nolak ia ngancam akan bongkar rahasiaku pada pacar dan keluargaku..juga tempat kerjaku..<br />
nabirong_x: udah berapa kali sejak saat pertama terjadinya hingga saat ini..?<br />
Ryani: aku gak itung…<br />
nabirong_x: lebih dr jumlah jari di tanganmu?<br />
Ryani: aku gak itung….mas…<br />
Ryani: oya mas aku kirim garis besarnya aja ya….<br />
Ryani: bisa koq sekarang.,..<br />
nabirong_x: boleh nanya lagi..?<br />
Ryani: apa//<br />
nabirong_x: kamu menikmatinya..?<br />
Ryani: aku gak tau,,,mas…..soalnya…yg aku tau,,,,itu terjadi begitu saja…<br />
nabirong_x: ya oke, sorry ya klo anya begini jangan bete ya..<br />
nabirong_x: pernah ga kmu merasa kangen thd dia..?<br />
Ryani: ya….oya…bentar lagi aku kirim ya mas..<br />
Ryani: sama sapa..<br />
nabirong_x: sang napi itu, soalnya km yang tau perasaan dan reaksi tubuhmu..<br />
Ryani: gak tau…la mas….aku hanya ….diam saja..jika semua itu terjadi..<br />
nabirong_x: ga bereaksi ato merasakan hal tersebut sbg sesuatu yang menyenangkan..?<br />
Ryani: aku sudah kirimkan…maaf,,,jika acak2an,,,soalnya aku tdk bisa menulis dengan baik..<br />
Ryani: gak tau…mas..<br />
nabirong_x: oke deh aku mengerti..<br />
Ryani: udah sampai mas..<br />
nabirong_x: udah lg ku buka..<br />
Ryani: maaf ya mas,,,,acak2an..<br />
nabirong_x: ga pa2, nah sekarang bagian yang lebih ditekannkan bagian hubungan intimnya ato kesediahnnya..?<br />
Ryani: ya….terserah mas aja lah…<br />
nabirong_x: aku perlu nanya begini soalnya biar aku punya bayangan..mo nambahin jd bgmana..<br />
nabirong_x: waktu melakukannya dia selalu kasar ato lembut..?<br />
Ryani: awalnya agak kasar,,,,<br />
nabirong_x: trus..<br />
Ryani: ya…..biasa aja..<br />
nabirong_x: agak jelas sedikit maksudnya biasa saja itu bgmana..?<br />
nabirong_x: lembut hingga km larut dan menyerah..?<br />
Ryani: ya,,,,,gak di kasari…lagi dia melakukannya…dengan lembut..<br />
Ryani: ya..<br />
nabirong_x: berarti km juga terlena akan kebisaannya..?<br />
Ryani: ya…aku gak bisa apa apa…lagi…kan aku baru pertama kali…di gituin..<br />
nabirong_x: betul pd saat pertama kalinya, tapi setelah itu kan berulang kembali…?<br />
nabirong_x: hingga beberapa kali<br />
Ryani: ya,,,itupun karena terpaksa…mas..<br />
nabirong_x: ya oke, km ga menikmati kejdian setelah beberapa kali..?<br />
Ryani: ya…akhirnya mau tdk mau…ya ada rasa,,,,kenikmatan juga,,,tapi aku gak mencintainya,,,apalagi dia seusia ayahku…<br />
nabirong_x: maksudnya gini, kalo memeng kasar aku akan explor kekasarnnya, tapi klo km menikmatinya aku akan explor begitu juga..sbgmana pengakuan km..<br />
Ryani: ya…dua2nya ….biar,,lemgkap..<br />
Ryani: oya mas aku bye dulu ya.,…dah ngantuk..<br />
nabirong_x: hahaha…, ga pa2 kan nanti klo aku tulis km menikmatinya dan bereaksi panas’ atas pekerjaan marto<br />
Ryani: aku bye dulu ya mas…<br />
nabirong_x: oke deh, nti aku coba kembangkan, nti ku kirimkan skrip nya<br />
nabirong_x: klo udah oke email balik ya..<br />
Ryani: ya….aku tunggu ya….mas…<br />
nabirong_x: oke deh selamat tidur…<br />
nabirong_x: bye<br />
Ryani: yup,..bye..</p>
<p>Lama Dino tercenung, merasa bersimpati atas kejadian yang dialami oleh Ryani. Dan dengan berdasarkan skrip yang diemailkan oleh Ryani dicobanya mengembangkan cerita agar lebih layak untuk di nikmati pembaca (DS). Silakan menikmati….</p>
<p>Ryani adalah seorang mahasiswi program profesi pada sebuah fakultas psikologi di sebuah universitas di Solo. Saat itu berumur 25 tahun, kulit putih, sopan. Sosoknya amat cantik dan menarik hati pria yang memandang dan tidak heran bila ia telah di pertunangkan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai pegawai pemda setempat.</p>
<p>Kejadiannya bermula saat untuk menyelesaikan tugas akhir dari kampus, dan yang menjadi objek penelitiannya adalah tentang perilaku narapidana selama proses asimilasi. Untuk itu Ryani sering mondar mandir masuk kedalam LP dikota itu untuk melakukan penelitian. Iapun mengambil sebuah contoh kasus dari seorang napi yang bernama Marto. Marto adalah napi yang terhukum selama 9 tahun dalam kasus pembunuhan. Ia telah menjalani masa tahanan selama 7 tahun dan karena berkelakuan baik maka ia sering mendapat remisi.Umurnya 49 tahun, sosoknya pendek, hitam, perut buncit.</p>
<p>Untuk keperluan penelitiannya Ryani pun sering berada bersama Marto, kadang-kadang karena ada kelonggaran dari LP maka Marto boleh keluar tahanan siang hari dan malamnya kembali masuk untuk asimilasi dengan dunia luar. Ryanipun sering memanfaatkan waktu Pak Marto saat keluar itu untuk kepentingan penelitiannya. Karena sering bersama dan selalu berdua dengan, Martopun akhirnya merasa jatuh hati pada Ryani, Marto hanya memendamnya dalam hati. Dan…</p>
<p>Suatu hari, untuk mendapatkan bahan bagi penelitiannya, Ryani menyetujui untuk brengkat bersama Marto mengunjungi orangtuanya di desa. Mereka berangkat pagi –pagi sekali menggunakan bis. Bis yang mereka tumpangi melaju dalam kecepatan normal. Membelah pagi hari dengan deru knalpotnya. Bersisian mereka duduk. Tak terpikirkan sedikitpun di benak Ryani kemungkinan-kemungkinan terburuk dari perjalanannya ini. Tekadnya hanya satu, mendapatkan data seakurat mungkin untuk kepentingan penulisan tugas kampusnya.</p>
<p>Mengenakan kaos berbalut jaket tak mengurangi kecantikannya. Rambut berkucirnya tak dapat menyembunyikan kemulusan kulit tengkuknya yang berbulu halus. Juga balutan jeans pada kakinya semakin menunjukkan bentuk tubuhnya yang indah. Menjelang sore sampailah mereka di terminal dan dengan menggunakan angkutan setempat melaju menuju rumah tinggak orangtuanya Marto. Selang 30 menit kemudian merka turun di halaman sebuah rumah dengan halaman yang luas. Rumah kayu yang cukup asri. Marto melangkah masuk diikuti oleh Ryani. Dan seperti biasanya rumah di desa, rumah itupun tak di kunci.</p>
<p>Pandangan Ryani jatuh berkeliling pada ruangan tamu yang di penuhi jendela pada sisi – sisinya. Memandang melalui jendela ke seberang, menikamati suasana yang tenang dengan kehijauan tanaman di kejauhan. Menyaksikan betapa rumah-rumah disini terletak berjauhan dengan halaman yang rata rata luas.</p>
<p>’Uh….panasnya’ batin Ryani seraya melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di punggung kursi panjang yang ada di ruangan tersebut. Dengan bertelekan pada kusen jendela sambil memejamkan mata memajukan wajahnya ayunya untuk di tiup angin semilir…damai rasanya.</p>
<p>”Ini mba’…silakan minum hanya air putih…..”ucapan Marto menyadarkannya dari kedamaian perasaanya.<br />
”Ga usah repot-rept pak Marto……”sahut Ryani. Melangkah menyisiri jendela dan duduk di kursi kayu jati yang terletak di sampingnya.<br />
”Segar sekali………..”ucap Ryani. Menikmati aliran air putih tersebut mengalir membasahi kerongkongannya yang cukup lengket karena sedari tadi belum di aliri air setitikpun.<br />
”Gimana ya mba….? ujar Kemudian..<br />
”Ada apa…pa…? tanya Ryani memandang raut wajah bingung lelaki yang masih gagah itu.<br />
”Ngg….Ng…, ini kedua orang tuaku lagi ga disini, mereka sedang berkunjung ke rumah paklik ku di desa sebelah..”ujarnya terbata-bata.<br />
”Tadi aku ketemu sama pak Warjo itu tetangga di sebelah, beliau yang bilang …” sambung nya lagi.<br />
” Ya sudah ngga pa pa……., ”sahut Ryani.<br />
”Kita tunggu saja mereka…., tanggung sudah sampai sini…”sambung Ryani lagi.</p>
<p>Waktu pun berlalu dengan cepat. Malampun datang dengan kegelapannya. Syukurlah didesa ini listrik telah masuk, sehingga kegelapan tidaklah merajalela di desa ini. Begitu juga dengan rumah orangtuanya Marto. Beberapa lampu listrik telah dinyalakan biarpun dengan cahaya alakadarnya sehingga tidaklah membuat Ryani berada di wilayah yang asaing baginya.</p>
<p>Tadi sore Marto dengan keramahan ala desa telah mempersilakan Ryani untuk mendiami kamar paling depan. Cukup bersih karena jarang sekali di pergunakan. Dengan mengenakan sehelai kain panjang yang melilit pinggangnya Ryani tengah duduk di ruang tengah, mempelajari dan menelaah kembali data – data yang telah di kumpulkannya selama bersama Marto. Marto dengan sebatang rokok duduk di kursi lainnya pada meja yang sama. Mengepulkan asap rokoknya dengan nikmat, sembari matanya tak lepas dari bagian dada gadis cantik yang tengah menunduk menghadapi kertas-kertasnya.</p>
<p>”Belum mengantuk mba..?”tanyanya kepada Ryani.<br />
”Hmm..belum pak………….”jawab Ryani tak memalingkan wajahnya. Tetap berkonsentrasi pada kertas – kertas yang ada di hadapannya.<br />
”Kalau Pak Marto udah mengantuk,.duluan saja…saya masih membereskan pekerjaan ini menjelang kantuk saya datang…”sambung Ryani tak menoleh.<br />
”kalau begitu saya duluan saja ya mba…….”ujar Marto sembari beranjak meninggalkan kursinya melangkah ke arah kamar satunya dimana dia biasanya berada apabila berada di rumah ini.<br />
”Kalau perlu sesuatu saya berada di sebelah kamar mba ko…..”tambah Marto dari dalam kamar.</p>
<p>Terdengar suara gemerisik kaln bergeser.., Ini dikarenakan sebagaimana biasanya rumah di desa tidak mengunakan pintu sebagai pembatas kamar , hanya menggunakan sehelai kain yang di lekatkan pada kusen pintu. Dan kain itulah yang menjadi batas wilayah ruang yang satu dengan ruang lainnya.</p>
<p>Tak terasa waktu berjalan, menimbulkan tanda-tanda pada tubuh agar segera menghentikan aktifitas. Meminta waktu untuk memulihkan pada kondisi idealnya. Menuntut agar beristirahat. Begitu juga pada gadis ayu ini. Beberapa kali ia menguap… Perjalanan dan pekerjaannya malam ini telah menyita energinya. Tubuhnya tak dapat berkompromi dengan kepenatan yang amat sangat. Ryani pun membereskan kertas-kertasnya, beranjak melangkah menuju kamar yang diperuntukkan buatnya. Langsung begitu rebah di pembaringan tak ingat apa-apa lagi…tertidur pulas.</p>
<p>Di tengah kepulasannya Ryani merasakan secercah sentuhan pada betisnya, sangat ringan tetapi sangat nyaman. Ia menggeliat sejenak. Sentuhan tersebut tak berhenti… makain naik pada lututnya…, makin nyaman dan sebersit rasa aneh yang sangat nyaman mulai tumbuh di dasar perasaannya. Sentuhan itu benganti dengan elusan. Kedua lutut gadis itu kini mendapatkannya secara bergantian. Menggelitik sisi keperempuanannya yang masih lugu. Ryani mengeluh..</p>
<p>Tapi alam kesadarannya segera bangklit. Otaknya langsung bekerja… Bukankah saat ini ia sedang tak dirumahnya sendiri… Bukankah tadi pada pagi ia bepergian bersama Pak Marto… bukankan saat ini ia tengah berada di rumah Pak Marto…. Bukankah saat ini ia tidur di rumah Pak Marto… Lalu apakah atau siapakah yang mengelusi kakinya…. jangan – jangan…..</p>
<p>Rayani langsung tersentak bangun dan langsung duduk bersandar pada punggung ranjang. Mata indahnya membelalak… dengan seruan tertahan hampir keluar dari bibirnya.</p>
<p>”Apa – apaan pak Marto…?”serunya tertahan. Terkejut melihat Marto telah berada di kamarnya. Memandangnya dengan seringai tersungging di bibirnya.<br />
”Saya sudah lama memendam ini mba…”ujarnya ringan.<br />
”Mba juga tau sudah berapa lama saya di penjara….., tak sekalipun saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan perempuan… Tapi saat ini saya tak dapat menahan diri lagi…” tambah marto<br />
”Mba sangat cantik….,”ujarnya memuji.<br />
”Tapi…,tapi kenapa harus saya Pak Marto…? Ryani melontarkan pertanyaan yang tak harus di jawab.<br />
”Lebih baik mba terima saja.., sekali mba berteriak saya tidak segan – segan menghabisi mba… bagi saya penjara adalah rumah kedua…”ucap Marto dengan nada tegas memandang tajam.</p>
<p>’Oh tuhan…., kenapa nasib saya begini……’ keluh Ryani dalam hati.<br />
’Apakah salah saya sehingga harus menghadapi kenyataan seperti ini….?</p>
<p>Marto bergerak naik ke atas pembaringan. Merangkak mendekati gadis ayu yang ketakutan bersedekap memeluk dadanya sendiri. Marto meraih kedua tangan yang tengah bersedekap itu… melepaskannya hingga turun disisi tubuhnya. Meraih wajah ayu tersebut… menengadahkannya.</p>
<p>”Tak usah takut mba… saya takkan menyakiti mba….”ujar Marto.</p>
<p>Perlahan kedua mata Ryani yang terpicing terbuka, memandang dalam sinar takut ke wajah Marto. Perlahan Marto mendekatkan wajahnya… menjatuhkan kecupan ringan di pelupuk mata Ryani… di barengi jilatan pada kelopaknya. Kedua tangan Marto melai merengkuh bahu gadis ayu itu. Menariknya mendekat. Tak kuasa menolak Ryani menuruti kehendak Marto.</p>
<p>Marto membaringkan tubuh gadis itu dengan perlahan. Kembali wajahnya mendekat. Kini kecupan dan jilatan lidahnya mampir pada sisi wajah Ryani. Menjilati cuping telinga yang lancip… menjilati bagian belakangnya dengan lidahnya yang kasap… Turun ke bawah menelusuri urat leher yang tegas menopang kepalanya.. mampir di sepanjang belikatnya. Mata Ryani bekerjap-kerjap. Antara ketakutan dan rasa nikmat yang timbul oleh lidah dan mulutnya Marto. Tak sadar beberapa kali keluhan terbit di bibir mungil gadis ayu tersebut.</p>
<p>Tangan Marto pun tak tinggal diam… Kini telah berada di permukaan daster yang dikenakan Ryani menangkupi bukit padat di dadanya… Ahhh… Ryani mendesah merasakan betapa permukaan telapak tangan itu bergerak di sepanjang bulatan dada kirinya… Rasa itu langsung menyentuh kulit di bawah dasternya yang tak mengenakan bra… Kini jemari Marto bergerak menyelusuri lereng bukit membusung tersebut menuju puncaknya… Menemukan puncaknya dengan stupa mungil yang mencuat… Memijit-mijitnya dengan perlahan… Lalu memilin-milinya…</p>
<p>Tubuh Ryani menggeliat kegelian. Tak merasa cukup, dengan menggunakan tangannya Marto melucuti kancing daster gadis ayu tersebut… menyibakkannya ke samping… Menampilkan kulit putih mulus….. sangat indah di terangi oleh lampu yang temaram.</p>
<p>”Ahhh…..” keluh Ryani pendek. Bibir Marto kini telah mencucupi puncak dadanya yang sebelah kiri… Menjilatinya mengelilingi puncaknya… Mengulum dan melingkari puncaknya dengan lidah kasapnya… bergantian yang kanan dan kiri tak ada yang terlewatkan. Terus turun ke bawah… menyelusuri cekungan garis perut yang bergerak-gerak gelisah….. menemukan cekungan di bawahnya… mencucupi dengan lincah.</p>
<p>Ryani yang belum pernah merasakan hal sejauh ini hanya bisa diam dan menggeliat-geliat gelisah. Satu sisi dirimya merasakan hal ini tidaklah benar tapi sisi lainnya tubuhnya tak dapat menolak…</p>
<p>Saat bibir Martto mampir di sepanjang batas karet pakaiannya yang terakhir, gelinjang tubuhnya makin hebat. Gelitikan lidah Marto semakin menggila di sana. Tak berhenti… lidah dan bibir Marto menemukan sisi dalam batang paha kiri Ryani… Kembali menjilati… menyeluri bagian dalam batang paha tersebut ke bawah… hingga lututnya… berpindah ke bagian sebelahnya….. memberikan perlakuan yang sama di sana…. Tak memberikan jeda pada Ryani untuk berfikir jernih… berusaha membangkitkan birahinya yang selama ini terpendam…</p>
<p>Gadis ayu itu pun tak tahu kapan pembalut bagian tubuhnya yang sangat pribadi di lucuti. Yang ia rasakan hanyalah serbuan rasa nikmat yang amat sangat menerpa seluruhpenjuru tubuhnya… Tak dapat berfikir kenapa tubuhnya begitu peka terhadap sentuhan Marto… tak dapat lagi berfikir untuk menyudahi selagi belum terlambat… Tak dapat berfikir lagi…. Tubuhnya begitu menikmati… begitu bereaksi….. begitu terbakar nafsunya sendiri…</p>
<p>Yang dia tahu Marto telah bergerak menindih tubuh telanjangnya….</p>
<p>”ja…. jangan Pak Marto…………”bisik Ryani terbata-bata.<br />
”Mba lebih baik diam….. saya bisa bertindak brutal apabila mba tidak bekerja sama…” ujar Marto. Ucapan yang halus tetapi cukup tegas. Ryani tak bisa apa apa lagi selain menurutinya. Tak dapat dibayangkannya akibat yang timbul oleh penolakannya.</p>
<p>Air mata menggenang di matanya saat Marto duduk di hadapan pinggulnya. Marto menyibakkan kedua batang paha mulus tersebut ke samping tubuhnya. Merapatkan Pinggulnya pada wilayah pribadi Ryani.</p>
<p>”Uhh…..”lenguh Ryani saat ujung bulat kejantanan Marto menggosok lepitan kewanitaannya. Birahinya yang tadi surut kembali mengalir menuju puncaknya.</p>
<p>Marto menggosok-gosokkan ujung kejantannanya pada lepitan yang masih rapat tersebut. Memberikan kembali rasa nikmat yang lebih dibandingkan aksi sebelummnya. Ryani hanya dapat menggeliat-geliat dengan nafas yang tersengal-sengal. Kepalanya berulangkali terbanting kekiri dan kekanan. Jemari lentiknya mencengkeram kedua lutut Marto. Perlahan tapi pasti cairan hangat timbul pada kewanitaan Ryani…, Membasahi… mempersiapkan diri untuk penetrasi…</p>
<p>Peluh telah bercucuran di tubuh tegap Marto. Begitu juga pada Rayni…Peluh telah membuat sekujur tubuhnya mengkilap, sebagian lagi mengalir dipermukaan kulitnya… Menuruni puncak dadanya dengan bulir-bulir berkejaran…. Marto bergerak… Mengangkat kedua belah kaki lenjang gadis ayu tersebut mendekati dadanya. Memposisikan dirinya setengah berjongkok. Berkerjab-kerjab mata Ryani menantikan aksi Marto selanjutnya… Marto mulai mendesak…. mendorongkan pinggulnya… Mendesakkan ujung membola kejantanannya pada lepitan kewanitaan Ryani… Mencoba menembus lepitan yang ketat tersebut.</p>
<p>”Uhf…..”keluh Ryani. Membeliakkan mata indahnya saat ujung membola kejantanan Marto mendesak kuat… menyibakkan lepiatn kewanitaannya yang basah… memberikan jalan untuk pertama kalinya bagi sebuah benda asing… Sedikit perih terbit di sana… Ryani hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar jeritan tak keluar dari mulutnya. Hanya kuku jemari lentiknya makin mencengkeram pada kedua lutut Marto.</p>
<p>Marto kembali mendesak… menuntaskan segala hasratnya… mendorong pinggulnya. Terasakan oleh Marto betapa liang kewanitaan tersebut begitu ketat mencengkeram. Bahkan terasakan berapa deretan cincin-cincin melingkar di sepanjang liang tersebut berderik-derik membuka diri bagi batang hangat tersebut. Perlahan tapi pasti batang pejal tersebut terus maju mili demi mili hingga… seolah-olah terhambat suatu halangan..</p>
<p>’Inilah saatnya…….’batin Marto.</p>
<p>Kembali menghela napas dan mengumpulkan tenaga pada pinggulnya… mendorong kembali dengan tenaga penuh… terasa sesuatu berdetus… putus… dalam liang tersebut dan di barengi dengan meluncurnya batang pejal kejantanannya hingga amblas terbenam seutuhnya… Terlihat Ryani tersengal-sengal dengan mata berair… habislah harapannya untuk mempersembahkan miliknya pada suaminya kelak…. Martopun diam… Waktu seolah – olah berhenti…</p>
<p>Marto kembali bergerak… Perlahan-lahan menggerakkan pinggulnya memacu birahinya… Sebagai seorang lelaki ia menyadari bahwa dengan kelembutanlah persetubuhan ini akan menjadi sempurna. Tubuh tegapnya bergerak perlahan mencoba menghapuskan rasa perih gadis ayu tersebut dan menggaqntikannya dengan rasa nikmat. Batang pejalnya perlahan tapi pasti bergerak bolak-balik disepanjang liang kewanitaan Ryani. Terkadang diam dan mengedut…</p>
<p>Ryani mendelik merasakan kedutan tersebut memijit setiap tombol birahinya.. Menyirami api nafsunya dengan bahan bakar yang di butuhkannya… Mengelorakan setiap ombak nikmat di sekujur tubuhnya… Rayni merintih…. mengelinjang…. Marto kembali bergerak… menghujamkan batangnya…. makin lama makin cepat…. Merebahkan tubuhnya menelungkupi tubuh indah tersebut. Ryani tak sadar merengkuh tubuh tegap tersebut…..</p>
<p>Marto mulai bergerak mundur batangnya…. perlahan-lahan…. Ryani semakin menggeliat …. Marto mendorong maju lagi…. mundur… maju …. semuanya dengan perlahan-lahan …. kedua tangan Ryani kini tak tinggal diam…. ia juga menginginkan rasa ini dapat dinikmati dengan sempurna….. bibirnya menganga dan sesaat kemudian telah berubah menjadi desah dan rintihan…. tubuhnya menggelinjang-hebat ….. mengangkang lebih lebar…. Marto mencoba agak mempercepat gerak naik turunnya…. pinggul Ryani mulai bergerak gelisah mengimbangi…. Marto mempercepat gerakan…. Marto mempercepat lagi hingga batas yang memungkinkan…. Marto mempertahankan kecepatan itu tanpa mengurangi atau melebihinya…. Marto merasakan liang kenikmatan Ryani semakin membasah dan licin…. mulutnya tak henti-hentinya mendesah…. merintih… mengerang…. Marto mengerahkan seluruh tenaga untuk memompakan terus kenikmatan demi kenikmatan kepadanya…. Ryani semakin larut dalam deru birahi…. pinggulnya naik bergerak ke atas menyambut setiap gerak turun tubuh Marto…. seolah ingin membantu menghujamkan batang pejal Marto lebih dalam lagi ke dasar liang kewanitaannya ….</p>
<p>Keringat telah mengucur di seluruh tubuh Marto jatuh dan bercampur dengan keringat tubuh Ryani…. kedua tubuh mereka bagaikan di hempas gelombang badai…. terbanting-banting diatas ranjang…….. wajah Ryani kian memerah…. kedua alisnya semakin mengernyit…. Marto merasakan dinding-dinding rongga kenikmatannya semakin lama semakin menghimpit ….. otot-otot didalamnya semakin terasa meremas-remas…. Marto melihat kedua matanya sudah setengah terpejam…. mulutnya setengah terbuka dengan lidah mengambang di tengah-tengahnya… Ryani rupanya sudah berada di ambang puncak klimaksnya.</p>
<p>Tak lama kemudian ia mencengkeram sprei sejadi-jadinya………. Marto membenamkan batangnya sedalam-dalamnya…. hingga menyentuh dasar….. dan Marto membiarkan terdiam menekannya…. Marto menanti saat-saat yang paling mengesankan itu…. dan tak lama kemudian…. dinding-dinding liang kenikmatan Ryani mulai berkontraksi…. semakin lama semakin keras…. dan semakin keras…. berkontraksi dengan hebat …. Ryani memekik lirih…. Marto menggerakkan pinggul maju mundur perlahan-lahan…. sambil menekan dengan bertenaga…. Marto mendekap dengan erat bongkahan pantatnya…. kontraksi itu semakin berkelanjutan….. seiring dengan gerakan pinggul Marto…. dibarengi oleh pekikan-pekikan lirih Ryani….. seluruh tubuhnya bergetar hebat…. entah sudah berapa kali ia memekik…. hingga ia tak sanggup lagi meneriakkan pekik nikmatnya itu … agaknya kenikmatan itu terlalu memuncak baginya … tubuhnya terkulai …. lemas….!!!</p>
<p>Marto kembali bergerak… memacu nafsunya yang hampir menjelang.. bergerak maju mundur… Batang pejalnya terus menhujam tak kenal lelah… menggosok seluruh permukaan dinding liang kewanitaan Ryani dengan tergesa-gesa… terus bergerak…</p>
<p>Puncak telah semakin dekat…dengan satu hujaman… mendesakkan batang pejalnya hingga ke dasar liang tersebut dan menggeram….. lecutan-lecutan mengalir di sepanjang tulang belakang tubuhnya…. menjalar menuju pinggangnya…. terus mengumpul pada pangkal kejantannnannya… berkejaran di sepanjang pembuluh batang kejantantannya… memancur keluar dengan kuat… berkali-kali…. membasahi seluruh bagian dalam liang kewanitaan Ryani…. terkulai dan menggelosoh di samping tubuh indah berkeringat tersebut. Mereka terdiam beberapa detik lamanya…</p>
<p>”Maafkan aku mba…..”ujar Marto beringsut mengambil kembali pakaiannya. Ryani memalingkan wajahnya… terisak-isak… tak menjawab. Selangkangannya sedikit merasa terganjal. Tubuhnya terasa lengket. Badannya capai dengan pinggang serasa remuk.. ada juga sebersit rasa yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata timbul dalam dirinya… tak dapat ia pungkiri kejadian barusan sangat melenakannya</p>
<p>Semenjak kejadian itu Ryani selalu menjadi sarana pelampiasan nafsu Marto. Iapun tak dapat menolak, mengkin dikarenakan iapun menikmatinya. Dan Ryani di paksa Marto untuk memutuskan hubungannya dengan pacar. Sampai saat ini ia belum menemukan jalan keluar dari masalahnya ini..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/harga-yang-sangat-mahal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vita dan Reuni SMA</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/vita-dan-reuni-sma.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/vita-dan-reuni-sma.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:54:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/vita-dan-reuni-sma.html</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Vita, umurku saat itu masih 22 tahun dan aku termasuk gadis yang lugu dan pendiam, tapi teman teman kantorku bilang aku adalah gadis yang sangat cantik jika tidak judes. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai wajah yang cukup cantik dengan tubuh yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih mulus. Sahabat wanitaku bilang, kalau di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Vita, umurku saat itu masih 22 tahun dan aku termasuk gadis yang lugu dan pendiam, tapi teman teman kantorku bilang aku adalah gadis yang sangat cantik jika tidak judes. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai wajah yang cukup cantik dengan tubuh yang tinggi dan langsing serta kulit yang putih mulus.</p>
<p>Sahabat wanitaku bilang, kalau di kantor cowok-cowok selalu membicarakan aku dan mereka selalu memperhatikan aku, apalagi kalau aku sedang mengenakan rok span dan blouse ketat busana kerjaku. Mereka bilang tubuhku sangat seksi dengan buah dada besar yang aku miliki, tapi aku tidak peduli dengan komentar mereka. Banyak dari mereka yang berusaha mendekatiku tapi aku masih takut dan enggan untuk menanggapinya, aku lebih senang sendirian, aku merasa bebas dan tidak terikat.</p>
<p>Singkat cerita aku diundang untuk menghadiri reuni SMA tempatku sekolah dulu, maklumlah sejak lulus SMA sampai saat kuliah dan bekerja, kami memang sudah sangat jarang bertemu.</p>
<p>Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat aku tiba di pelataran parkir sebuah kafe di bilangan Jakarta selatan, tempat reuni SMA ku di adakan, saat itu aku mengenakan pakaian kerja, rok span hitam dan kemeja putih dan aku memadukannya dengan blazer hitam, aku memang tidak sempat berganti pakaian karena kesibukanku di kantor, tapi tak apalah, dengan pakaian ini aku cukup PD untuk bertemu dengan teman teman SMAku, pikirku.</p>
<p>“Aduh.. Tuan putri ini makin cantik aja..!!” seru Nina, kawan satu kelasku waktu di SMA. Hari itu aku merasa sangat senang, bertemu dengan teman teman SMA-ku, acaranya juga cukup meriah, di hadiri oleh lebih dari seratus orang, yang semuannya adalah alumni sekolahku.</p>
<p>“Astaga.. Sudah jam berapa nih..!!” gumanku di sela hingar bingar musik, aku sampai lupa waktu karena asyik ngobrol dengan teman temanku.<br />
“Nanti aja pulangnya Vit..!!” seru Cindy sambil menarikku ke depan panggung, saat itu di atas panggung sedang di pentaskan live music dan tampak beberapa pasangan tampak asyik ber slow dance mengikuti alunan music yang memang sedang berirama pelan.</p>
<p>Terus terang saat itu aku memang terbawa suasana pesta, sayang kalau aku harus pulang cepat pikirku, aku malah ikut ikutan menenggak wine. Seumur hidup baru kali ini aku minum minuman keras, sehingga kepalaku terasa pusing, apalagi music sudah berubah menjadi house music dan hip hop membuat kepalaku makin berputar putar tak karuan.</p>
<p>“Ayo Vit..!! kapan lagi.. Belum tentu setahun sekali nih acara ini di buat..!!” seru Nina sambil menari-nari dan menjerit jerit histeris. Kayaknya Nina sudah mulai mabok nih..!! Pikirku.<br />
Tiba tiba aku merasa lenganku di tarik oleh seseorang, rupanya Suryo dia teman satu kelasku saat aku kelas tiga, “Ayo Vit.. Kita melantai..!!” ujar Suryo sambil menarikku ke atas panggung.<br />
“Nggak mau ahh.. Yo, lagi pusing nih..!!” keluhku, tapi Suryo tetap saja menggandengku, mau tidak mau aku jadi mengikutinya ke atas panggung, aku mulai menggerak gerakan tubuhku mengikuti alunan music yang menghentak hentak, aku sudah setengah sadar akibat pengaruh wine yang ku minum tadi dan aku juga benar benar terhanyut dalam histeria suasana pesta, sehingga aku tidak bisa lagi mengontrol gerakan tubuhku, gerakanku menjadi lebih berani dan terkesan erotis, sementara Suryo sudah berada dibelakang tubuhku, mengikuti dan mengimbangi gerakanku. Dan anehnya aku sangat menikmati suasana tersebut, padahal selama ini aku terkenal sangat anti dengan hal yang berbau dugem. Ah.. Nggak apa apa deh sekali ini aja.. Pikirku.</p>
<p>“Buka.. Buka.. Buka..!!” kudengar teriakan teman-temanku sambil bertepuk tangan menyuruhku membuka kemejaku, aku sempat terkesiap mendengar teriakan mereka.</p>
<p>Kulihat ke arah samping, beberapa teman wanitaku memang sedang membuka pakaian bagian atas mereka, bahkan Nina sudah mulai membuka branya sehingga sebelah payudaranya tampak sudah menyembul keluar dan langsung di sambut dengan tepuk tangan dan teriakan riuh rendah dari teman temanku.</p>
<p>Anehnya walaupun agak risih, akhirnya aku mau saja menuruti kemauan teman teman ku itu, entah karena pengaruh wine atau mungkin aku sudah begitu terhanyut dengan suasana pesta tersebut, sambil tetap menggoyang goyangkan tubuhku, ku lepaskan blazerku dan perlahan lahan kubuka kancing kemeja putihku satu persatu sampai terlepas seluruhnya sehingga bra hitam yang kukenakan tampak jelas terlihat. Sementara lengan Suryo mulai memegang pinggangku dari belakang, sambil tetap mengikuti gerakanku.</p>
<p>Aku terus terhanyut dengan alunan musik yang menghentak hentak itu, sesekali ku angkat kedua tanganku ke atas, meraih rambut panjangku dan menariknya ke arah belakang sambil tetap menggerak gerakkan tubuhku, tiba tiba aku tersadar saat tangan Suryo berusaha melepaskan braku.</p>
<p>“Apa apan kamu Yo..!!” jeritku sambil mendekap dadaku, saat itu kancing belakang braku sudah terlepas, perbuatan Suryo itu langsung menyadarkanku dari pengaruh wine dan suasana pesta.<br />
“Brengsek kamu.. Apa yang kamu lakukan..?” teriakku sambil berusaha merapikan kembali kemejaku.</p>
<p>Tapi sepertinya Suryo tidak mengindahkan teriakanku, tangannya dengan sigap langsung memeluk tubuhku dari belakang, membuat aku tidak bisa meronta dan melepaskan diri dari himpitan tubuhnya, sementara sebelah tangannya merenggut paksa bra yang kukenakan hingga terlepas dan jatuh ke lantai, sehingga kini tubuh bagian atasku terlihat jelas dan menjadi tontonan untuk teman-temanku yang langsung menyambutnya dengan sangat antusias.</p>
<p>“Suryo..!! Hentikan.. Lepaskan saya.. Kurang ajar.. Kamu..!!” jeritku sambil terus meronta dari himpitan dan pelukannya, tapi Suryo malah makin beringas, dia malah menarik dan menyeretku ke arah belakang panggung, di tempat ini sinar lampunya lebih redup dan agak tersembunyi dari pandangan teman temanku, tangannya dengan buas terus meremas remas ke dua buah dadaku, sementara mulutnya juga terus menciumi sekujur leherku, aku masih terus menjerit jerit dan meronta, tapi Suryo tetap saja tidak menghentikan perbuatannya, malah dia semakin nekat.</p>
<p>“Kamu sebaiknya diam aja, daripada nanti gua perkosa beneran..!!” bentaknya, dengan nada galak.</p>
<p>Otakku buntu, mendengar ancamannya, aku tak mampu berpikir lagi bagaimana caranya untuk menghindar dari cengkeraman Suryo. Mungkin ini juga karena kesalahanku. Karena terlalu terhanyut dengan suasana pesta, keluhku menyesali kebodohanku sendiri. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi Buah dadaku dan lalu mengulum putingku. Sementara tangan kirinya meremasi buah dada kananku.</p>
<p>Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja, padahal bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa.. Ketakutan yang amat sangat. Sampai saat Suryo menyingkapkan rokku ke arah atas dan mulai meremasi buah pantatku, Aku masih tak mampu bereaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Suryo sudah mulai menggesek gesek daerah sekitar selangkanganku. Tapi ketika dia mulai memelorotkan celana dalamku dan bersiap menghujamkan batang penisnya ke selangkanganku, Aku terkesiap, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras, sekuat tenaga melepaskan dari dekapannya.</p>
<p>“Jangan jangan..!! Lepaskan..!! Saya masih perawan Yo..!!” jeritku panik dan ketakutan, sambil kugerakkan tubuhku ke arah depan, menjauhkan vaginaku dari batang penisnya.<br />
“Diam Vit..!! Layani gua baik-baik, atau gua paksa..!!” ancam Suryo.</p>
<p>Aku tetap berontak.</p>
<p>“Kalau nggak mau diam gua tampar lu”<br />
“Hentikan.. Atau saya laporkan ke teman-teman!!” bentakku tegas.</p>
<p>Mendadak Aku punya kekuatan untuk membentaknya, tiba tiba pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Suryo tidak mencoba menahanku. Aku berhasil lepas!</p>
<p>“Kamu cantik.. Dan Tubuhmu bagus..” guman Suryo.</p>
<p>Aku cepat-cepat mengenakan kembali celana dalamku yang melorot dan membereskan pakaianku, kini Suryo yang mematung. Matanya tajam memandang ke arahku.</p>
<p>“Baiklah.. Gua minta maaf untuk kejadian ini.. Habis kamu cantik sekali sih Vit, gua jadi lupa diri..”</p>
<p>Aku diam.</p>
<p>“Kamu masih mau jadi temanku kan?”</p>
<p>Aku tetap diam sambil memandangnya dengan penuh kemarahan.</p>
<p>“Saya enggak akan mengganggu kamu lagi Vit, tapi sebenarnya saya sudah tertarik dengan kamu dari dulu”</p>
<p>Aku makin jijik mendengar kata katanya.</p>
<p>“Oke, saya tunggu sampai kamu bersedia melayani gua tanpa gua paksa..!!” ujarnya kesal, sambil berjalan menjauh dari tubuhku, aku sempat menarik nafas lega.</p>
<p>Tapi tiba-tiba Suryo menyergap dan memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku. Aku sangat kaget mendapat serangan tak terduga ini, aku kontan berontak. Tapi Suryo malah memelukku lebih kencang. Sehingga aku Makin tidak dapat bergerak. Dia semakin mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya bibirku dengan ketat, Aku diam membiarkan, tak berreaksi.</p>
<p>Bibirnya melumat habis bibirku, Aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berdaya untuk melepaskannya Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke mulutku. Aku merinding. Baru sekali ini bibirku di lumat oleh lawan jenis dan tiba tiba aku kembali dilanda oleh ketakutan yang amat sangat.</p>
<p>Tangan kanannya membuka kembali kancing kemejaku, lalu telapak tangannya merabai bulatan buah dadaku. Tubuhku bergetar karena ketakutan dan Aku mulai kembali meronta. Dadaku serasa sesak dan sulit bernafas karena lumatan mulutnya di bibirku.</p>
<p>Dengan cepat seluruh kancing kemejaku kembali dilepaskannya sehingga tubuh bagian atasku kembali terbuka. Kemudian Suryo memutar tubuhnya, sehingga posisinya kini kembali berada di belakangku, lalu dia mendorong tubuhku hingga rebah ke atas meja yang di gunakan untuk meletakkan alat alat sound system, Entah kenapa Aku merasa tubuhku tiba tiba lemas. Demikian pula ketika Suryo mulai menindih tubuhku dari arah belakang.</p>
<p>Tangannya menyingkapkan kemejaku ke atas dan lidahnya mulai menjilati sekujur punggung dan pundakku, sementara satu tangannya meraih buah dadaku dan meremasnya dengan kasar.</p>
<p>“Lepaskan..!! Tolong.. Tolong..!!” teriakku sangat ketakutan ketika tangannya bergerak menyusup ke sela sela rok-ku, kemudian jari-jarinya menyusup ke balik celana dalamku dan menggosok-gosok selangkanganku.</p>
<p>Aku terus meronta dan berteriak minta tolong, sampai tenggorokanku serak tapi sepertinya teriakkanku tertelan oleh suara hingar bingar musik. Tiba tiba Suryo dengan sigap menyingkapkan rok ku dan langsung memelorotkan celana dalam yang kukenakan sampai sebatas lutut.</p>
<p>“Jangan..!! Tolong..!! Jangan perkosa saya..!!” jeritku panik karena merasa vaginaku sudah tidak tertutup dengan apa apa lagi, sambil makin memperkuat rontaanku, Dan berusaha mengatupkan ke dua belah pahaku sekuat tenagaku.</p>
<p>Aku masih terus menjerit dan meronta sekuatnya ketika dia dengan paksa berhasil membentangkan pahaku lebar-lebar. Aku makin menjerit histeris dan putus asa saat ku rasakan batang penisnya mulai menempel di selangkanganku. Detik berikutnya penis hangat itu telah menggosoki vaginaku..</p>
<p>Saat berikutnya lagi benda hangat itu terasa tepat menekan bibir vaginaku.. Lalu kurasakan tekanan.. Sehingga bibir vaginaku terasa sesak.. Aku tersentak.. Secara refleks pahaku menutup, tapi Suryo berhasil membukanya lagi dan mencoba menusukan batang penisnya lebih dalam lagi.</p>
<p>“Oh.. Ini tidak boleh terjadi..!!” pikirku.</p>
<p>Aku mengatupkan pahaku lagi. Tapi, seberapalah kekuatanku melawan Suryo yang telah di liputi nafsu bejad ini? Kedua belah tangan kuatnya menahan katupan pahaku dan batang penisnya mulai menekan lagi. Tangannya boleh menahan pahaku, tapi Aku masih punya ruang untuk menggerakkan pinggulku dan membawa hasil, batang penisnya terpeleset!</p>
<p>Tapi itu malah membuat Suryo menjadi lebih penasaran, dengan kasar dibukanya lagi pahaku lalu dia mulai mengarahkan batang penisnya langsung ke liang vaginaku, kemudian ditekannya kuat kuat, dan.. Ohh.. Kurasakan benda hangat itu mulai menusuk. Rasanya kepala penisnya telah masuk. Pegangan tangannya pada pahaku kurasakan mengendor.. Kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali. Tapi tekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga batang penisnya tak lepas dari liang vaginaku. Malahan seolah aku menjepit kepala penisnya yang telah masuk itu.</p>
<p>Rasanya Aku mulai menyerah, tak ada gunanya melawan Suryo yang sudah di liputi oleh nafsu bejadnya itu, aku sudah tidak mampu berontak lagi untuk mempertahankan kehormatanku. Air mataku meleleh.. Aku menangis.</p>
<p>Tapi, tiba tiba Suryo dengan cepat menarik batang penisnya lalu tubuhnya rebah di atas tubuhku. Detik berikutnya kurasakan cairan hangat membasahi punggung dan rok hitamku yang tersingkap. Aku sedikit lega, rupanya Suryo telah keluar.. Walaupun belum penetrasi. Belum? Tepatnya belum sempurna. Aku yakin baru kepala penisnya saja yang masuk. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang belum terjadi sesuatu.</p>
<p>Suryo gagal memaksakan kehendaknya untuk memperkosaku, aku sangat bersyukur karena kegadisanku masih utuh dan tidak berhasil di renggut oleh Suryo. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Suryo lalu bangkit. Merapikan kembali pakaiannya dan pergi meninggalkanku, tanpa berkata sedikitpun. Aku pun langsung berdiri, dengan tangan masih gemetar, buru buru ku bereskan letak pakaianku, lalu bergegas menuju pintu keluar, aku tidak mempedulikan lagi sapaan teman temanku, tujuanku hanya satu.. Ingin cepat cepat pulang..</p>
<p>Aku makin mempercepat langkahku menuju ke arah mobilku yang ku parkir di ujung bangunan ini, buru buru kuambil kunci mobil dari tasku dan langsung membuka pintu mobil saat tiba tiba muncul dua orang laki laki dari mobil yang di parkir di belakangku.</p>
<p>“Oh..!!” Aku Kaget bukan kepalang, tapi terlambat untuk berteriak ketika salah seorang diantara mereka langsung menyergapku dan membekap mulutku, aku hanya bisa melihat yang berdiri di depanku adalah Suryo, dia menyeringai ke arahku, sepertinya dia tidak terima dengan kegagalannya tadi. Sementara yang seorang lagi aku tidak tahu.</p>
<p>Kemudian dengan mulut yang masih terbekap mereka menyeretku dan memaksaku masuk ke sebuah mobil minibus milik mereka, kulihat bangku bangku mobil itu sudah di rebahkan, hingga rata, membuat orang yang membekap mulutku, leluasa untuk menarikku ke arah dalam. Lalu tanpa bersuara Suryo langsung masuk dan menutup pintu mobil. Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang kembali mengancamku. Celaka..!!</p>
<p>“Jangan..!!” gumanku.<br />
“Sstt..” jawab Suryo sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya memegang bahu kanan kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku.<br />
“Vita..” panggilnya dengan suara pelan. Membuat Lidahku langsung kelu.<br />
“Gua minta kamu rela dan jangan melawan..!!” jarinya merabai bibirku.<br />
“Jangan..!!” jeritku saat aku berhasil melepaskan mulutku dari bekapan temannya.</p>
<p>Tapi jeritanku langsung terhenti karena bibir Suryo cepat menutup bibirku dan lalu melumatnya dengan kasar. Kedua belah tangannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Sementara kedua tanganku di pegang dengan erat oleh temannya. Aku berhasil melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya.</p>
<p>“Kumohon..!! Jangan” kataku mengiba.</p>
<p>Dadaku diremasnya. Aku menjerit. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Aku makin menjerit. Masih sambil memeluk tubuhku Disingkapkannya rok ku dan Suryo langsung memelorotkan celana dalamku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Suryo bergerak membenamkan wajahnya di antara selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit kepalanya. Gerakanku membuat Suryo langsung bangkit melepaskan jepitan pahaku.</p>
<p>“Brengsek kamu Vit..!! Mau di kasih enak kok ngelawan terus..!! Nikmati aja..!!”<br />
“Jangan..!!” kataku setengah menangis.<br />
“Sekali ini saja, sesudah itu saya tidak akan ganggu kamu lagi, Vit..!!”</p>
<p>Lalu tangan Suryo kembali membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan Suryo yang kuat apalagi ku rasakan cengkeraman di kedua tanganku makin erat, membuat aku semakin putus asa, akhirnya Kubiarkan suyo menjilati liang kewanitaanku. Aku merasa amat malu dan terhina di perlakukan seperti ini</p>
<p>Tapi Aku hanya bisa menangis dan pasrah. Semoga dia tidak sampai memperkosaku.. Aku muak di perlakukan seperti ini, tapi Aku tak berdaya melawannya. Aku benci..!! Aku menyesali diriku sendiri yang tak berdaya melawan, dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis..</p>
<p>Apalagi kini Suryo telah membuka resleting celananya dan mengeluarkan batang penisnya yang sudah tegang dan keras, benda yang pernah sebentar memasuki liang kewanitaanku dan kini akan memasukinya lagi. Tangisanku yang sesenggukan tidak menghentikan gerakan Suryo yang sudah membentangkan pahaku dan siap menusukan batang penisnya. Suryo kemudian merangkak dan mulai menindihku.</p>
<p>“Jangan..!!” gumanku lemah, saat Suryo mulai melepaskan kancing kemejaku, aku masih sesenggukan.<br />
“Sekali ini saja.. Vit.!!”<br />
“Lepaskan saya..!!” pintaku memelas sambil terus menangis saat Suryo mulai menciumi dan mengulum putting buah dadaku.<br />
“Buah dada kamu besar padat sekali.. Sungguh indah” sambungnya sambil terus mengulum payudaraku kiri dan kanan.<br />
“Kamu cantik sekali.. Vit..!!” katanya lagi sambil tangannya terus meraba dan menggerayangi seluruh tubuhku.<br />
” Itulah kenapa tadi gua cepet keluarnya..!!” Akunya.</p>
<p>Aku hanya bisa diam sambil terus menangis menerima seluruh perlakuannya.</p>
<p>“Oke, sekarang jangan nangis lagi ya.. Gua sekarang akan benar benar memperkosa kamu..!!”</p>
<p>Aku kembali menjerit histeris dan putus asa mendengar kata-katanya. Lalu Suryo bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, kemudian dia mengambil posisi di antara ke dua belah pahaku, siap untuk menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang vaginaku..</p>
<p>“Jangan.. Lepaskan..!!” jeritku sambil terus meronta, ku lejang-lejangkan ke dua kakiku, berusaha menyingkirkan tubuhnya dari selangkanganku. Tapi Suryo malah makin menusukan batang penisnya sehingga kepala kemaluannya masuk di antara bibir vaginaku. Di tekannya lagi sambil membentang pahaku lebih lebar. Perlahan batang penisnya menyeruak lebih dalam.</p>
<p>Aku terus berharap agar Suryo tidak kuat, lalu segera mencabut batang penisnya dan menumpahkan cairan spermanya di luar liang vaginaku seperti kejadian yang baru lalu tapi harapanku meleset.. Suryo terus menekan batang penisnya, memaksanya masuk ke dalam liang vaginaku yang sempit..</p>
<p>Mataku terpejam menunggu Tekanan selanjutnya, dan tekanan batang penisnya kurasakan semakin kuat, mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Bukan sakit lagi yang kurasakan tapi ngilu yang tak tertahankan. Sehingga tanpa sadar kepalaku terlempar ke kiri dan ke kanan.</p>
<p>“Aduuh.. Sakitt..!!” jeritku terengah engah.</p>
<p>Lalu pinggul Suryo membuat gerakan memompa. Rasa ngilu makin mejalari sekujur tubuhku. Kuangkat kepalaku, Aku sempat melihat kepala penis Suryo timbul tenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil, hanya ujungnya saja yang keluar masuk.</p>
<p>“Sakit..!!” jeritku.. Sambil terus meronta.</p>
<p>Lalu kurasakan Suryo menambah tekanannya. Kembali kurasakan ngilu dan sakit yang amat sangat di selangkanganku.</p>
<p>“Aauuff” seruku.<br />
“Sakit..!!” jeritku saat kurasakan ada yang terkoyak di dalam liang vaginaku.</p>
<p>Rasa perih langsung melanda di seluruh kemaluanku, kedua tanganku mengepal dengan keras, tubuhku menegang dan mataku melotot. Aku sampai menggigit bibirku sendiri, karena tidak sanggup menahan ngilu dan perih saat kegadisanku direnggut paksa..</p>
<p>Kulihat lagi ke bawah. Separuh batang penisnya telah tenggelam di selangkanganku. Suryo benar-benar telah memasuki tubuhku. Suryo benar-benar telah memperkosaku..!! Merenggut keperawananku. Suryo mulai memompa lagi, kini pompaannya semakin cepat. Rasa sakit makin menjadi jadi. Dan ketika dia menekan lebih kuat lagi, rasa sakit yang kudapat. Makin tak terhingga bercampur dengan dengan rasa ngilu. Sampai akhirnya seluruh bagian tubuh Suryo telah menindih ketat ke tubuhku.</p>
<p>Pada saat Suryo berhenti memompa, kulihat bulu-bulu kelamin kami memang telah saling menempel ketat. Batang penisnya telah seluruhnya tenggelam di dalam liang vaginaku tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar.</p>
<p>“Ooh.. Kamu benar-benar masih sempit Vita..!!” bisiknya dekat telingaku.</p>
<p>Dia benar-benar telah menyetubuhiku. Aku hanya memejamkan mata sambil terus menangis sesenggukan, tidak sanggup menatap wajah pemerkosaku. Kuharap penderitaanku ini segera selesai, aku berharap Suryo segera mencapai orgasme dan melepaskan batang penisnya dari liang vaginaku, sehingga rasa sakitku pun bisa segera sirna.</p>
<p>Tapi harapanku kembali meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda Suryo akan menyudahi perkosaanya, justru hunjaman batang penisnya makin menjadi jadi di dalam liang kemaluanku. Suryo terus memompa tubuhku dan terus memperkosaku tanpa peduli dengan aku yang terus menjerit jerit kesakitan.. Tiba tiba Suryo mengangkat punggungku dan mempercepat gerakannya.</p>
<p>“Ohh.. Sempitnya vagina kamu Vit..!!” dekapannya di punggungku makin erat sambil menghujamkan batang penisnya dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku. Tubuhnya diam memeluk tubuhku.. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar.</p>
<p>“Jangann..!!” jeritku panik saat sadar dia akan berejakulasi di dalam liang rahimku..</p>
<p>Tapi terlambat, bersamaan dengan itu aku merasakan cairan hangat menyemprot dan membanjiri liang vaginaku.</p>
<p>“Ooh.. Vit.. Tubuh kamu indah sekali..” bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah.</p>
<p>Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu…</p>
<p>“Vaginamu.. Nikmat banget..”</p>
<p>Aku masih diam.</p>
<p>“Sempit sekali Vit..”</p>
<p>Tiba-tiba Aku tersadar. Ucapan ucapannya membuat aku ingin muntah. Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa harus mengalami kejadian ini. Juga benci kepada tubuh Suryo yang menindihku, aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak. Dengan sekuat tenaga Aku lepas dari dekapan Suryo dan tubuh itu terguling dari badanku.</p>
<p>Aku berusaha membuka pintu mobil dan melarikan diri, tapi teman Suryo langsung menangkapku, langsung menggumuliku. Dan aku kembali di perkosa.. Entah sudah berapa kali aku di gilir oleh mereka malam itu.. Sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.</p>
<p>Esok paginya aku terbangun, dan aku sudah berada di dalam mobilku sendiri.. Tapi aku tahu.. Kejadian semalam bukan mimpi, karena rasa sakitnya masih kurasakan menjalari seluruh tubuhku. Aku hanya bisa menangis dan meratap, menyesali kejadian yang menimpa diriku..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/vita-dan-reuni-sma.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>di tepi sungai itu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis. Setelah semuanya selesai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis. Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Robby, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.</p>
<p>Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Robby dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.</p>
<p>Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat menggairahkan.</p>
<p>Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Robby. Aku hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.</p>
<p>Robby memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.</p>
<p>Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Robby dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.</p>
<p>Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Wulan sambil tangannya terus membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali. Rupanya Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.</p>
<p>Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.</p>
<p>Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara aku melihat Robby semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Wulan yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.</p>
<p>Tiba-tiba aku mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Wulan. Sepintas aku melihat sperma Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Wulan yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Wulan. Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Wulan. Aku peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.</p>
<p>Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Wulan. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.</p>
<p>Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ternyata Robby hendak melakukan anal seks. Wulan menjerit saat anusnya ditembus penis Robby. Mendengar itu Robby malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan mengiba, “Aduhh…, sudah dong Ro…, ampun…, sakit Rob”. Tapi Robby dan Doni tidak menghiraukannya.</p>
<p>“Oh, sempit sekali”, teriak Robby mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Robby menarik penisnya aku lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Wulan. Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Wulan. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.</p>
<p>Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Wulan dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Wulan.</p>
<p>Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.</p>
<p>Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.</p>
<p>Esoknya, pagi-pagi sekali Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.</p>
<p>Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.</p>
<p>Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.<br />
Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperdaya Resepsionist Cantik</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/memperdaya-resepsionist-cantik.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/memperdaya-resepsionist-cantik.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2375</guid>
		<description><![CDATA[Aku sekarang berumur 37 tahun dan berprofesi sebagai direktur di sebuah perusahaan swasta. Ayahku adalah pendiri dari grup perusahaan ini yang terdiri dari beberapa perusahaan ini. Sebagai “putera mahkota”, aku sangat disegani oleh para karyawan di kantor, termasuk para direktur dan manager professional lainnya. Mereka, para professional itulah yang sebenarnya banyak memberikan kontribusi pada perusahaan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sekarang berumur 37 tahun dan berprofesi sebagai direktur di sebuah perusahaan swasta. Ayahku adalah pendiri dari grup perusahaan ini yang terdiri dari beberapa perusahaan ini. Sebagai “putera mahkota”, aku sangat disegani oleh para karyawan di kantor, termasuk para direktur dan manager professional lainnya. Mereka, para professional itulah yang sebenarnya banyak memberikan kontribusi pada perusahaan, sedangkan aku hanya santai-santai saja dan sekedar memberi instruksi sana-sini.</p>
<p>Di kantor, aku terkenal sebagai seorang playboy. Sebenarnya bukan di kantor saja tetapi sejak SMA dulu. Ditunjang dengan perawakan yang ganteng (kata orang-orang nih) dan berbadan atletis (aku masih keturunan indo dari pihak ibu), juga dukungan financial yang melimpah, tak sulit untuk mendapatkan wanita cantik untuk aku ajak tidur. Seperti kemarin dulu, ketika aku sedang jalan-jalan di mall saat waktu kerja (maklum boss he.. He..) aku menjumpai dua cewek ABG. Mereka baru duduk di bangku SMA, terlihat dari seragam yang mereka kenakan.</p>
<p>Setelah aku ajak makan dan shopping, tak lama mereka sudah melenguh-lenguh aku setubuhi di hotel yang berdampingan letaknya dengan mall itu. Aku sangat puas menikmati tubuh muda dua ABG itu. Mereka masih agak lugu dalam melayaniku, tampak dari cara mereka mengulum kemaluanku yang masih ragu-ragu. Mereka beralasan karena ukurannya terlalu besar sehingga tidak muat di mulut mereka yang mungil, tetapi setelah aku paksa mereka melakukannya juga. Kemudian dari jeritan dan erangan saat aku penetrasi vagina mereka yang sempit, aku berkesimpulan mereka masih jarang melakukan hal ini.</p>
<p>Sedangkan di kantor, aku sering mengajak sekretarisku untuk sekedar bobo siang sehabis makan siang. Lia, sekretarisku itu adalah lulusan D3 dari akademi sekretaris terkenal di Jakarta. Berbody sexy, dengan kulit putih dan berwajah cantik. Dia sudah bertunangan dengan temannya sejak SMA (cinta pertama katanya). Aku kadang kasihan dengan tunangannya itu, yang setiap hari menjemput saat pulang kantor, karena aku telah sering mereguk kenikmatan birahi dari kekasihnya. Bahkan pernah saat dia sedang menunggu di lobby, aku sedang asyik menikmati Lia di dalam kantorku.</p>
<p>Hari ini aku pergi ke kantorku yang terletak di kawasan Kuningan agak siang, karena habis nonton pertandingan piala eropa tadi pagi. Dengan mata yang masih agak mengantuk, aku memasuki lobby kantorku yang terletak di lantai 25.</p>
<p>“Selamat pagi Pak Robert”<br />
“Pagi”</p>
<p>Aku lihat ke arah si penyapa, ternyata dia adalah Noni, receptionist yang sedang tersenyum manis. Noni ini sudah lama aku incar sejak lama, dan berbeda dengan gadis lain yang gampang jatuh ke dalam pelukanku, dia dengan halus selalu menolak jika aku ajak bahkan sekedar makan siang berdua saja. Memang tampaknya dia adalah gadis baik-baik.</p>
<p>Berumur masih 18 tahun, baru lulus SMA dan sedang mengumpulkan biaya untuk kuliah, dia tampak begitu menggemaskan. Gairah gadis muda dengan wajah yang manis, dan tubuh yang proporsional, meskipun masih kalah sexy dari Lia, tapi wajahnya yang imut-imut itu yang mengusik hasrat kelelakianku. Memang aku sangat suka menikmati gadis ABG seperti dia, terutama yang masih belum banyak pengalaman sexnya.</p>
<p>Sampai di ruanganku, Pak Johan tak lama menemuiku untuk membicarakan mengenai proposal proyek yang sedang ia siapkan. Aku tak bisa konsentrasi dalam mendengarkan uraiannya, karena aku masih memikirkan si Noni ABG cantik resepsionisku itu.</p>
<p>“Pak Johan, bagaimana kalau kita bicarakan besok saja, saya sedang agak nggak enak badan nih”<br />
“Oh.. Baik Pak.. Maaf kalau saya mengganggu bapak..”</p>
<p>Beres sudah. Si Johan sudah aku singkirkan. Dalam hatiku aku berpikir yach atur sajalah proposalnya.. Pokoknya kalau nggak gol.. Tinggal aku pecat saja dia he.. He..</p>
<p>Kembali lagi entah mengapa pikiranku kembali ke Noni. Aku harus mengatur rencana agar aku bisa menikmatinya nanti. Segera aku panggil Lia sekretarisku untuk membawa file Noni dari HRD.</p>
<p>“Ini Pak.. Filenya” Lia menyerahkan file yang kuminta.<br />
“Ada lagi yang diperlukan Pak?”<br />
“Kamu suruh Noni menghadap nanti setelah jam kantor selesai” jawabku.</p>
<p>Lia tampak cemburu karena dalam hati dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. Well, too bad Lia.., walaupun kamu cantik, tapi hari ini aku sedang ingin yang lain. Mungkin besok giliran kamu lagi, kataku dalam hati. Tak sabar aku menunggu jam kantor selesai. Sekitar jan 17.30, terdengar ketukan di pintuku.</p>
<p>“Masuk”<br />
“Selamat sore Pak..” Noni menyapaku dengan penuh hormat.<br />
“Oh.. Noni ayo masuk.. Silakan duduk”</p>
<p>Nonipun duduk di depanku. Tampak dia agak ketakutan aku panggil. Tapi itu tidak mengurangi kecantikannya, dengan blazer coklat yang menutupi baju dalamnya yang tidak bisa menutupi sembulan dadanya yang segar. Roknyapun agak mini sehingga pahanya yang putih tampak menanti untuk aku jamah.</p>
<p>“Ada apa Pakk..” tanyanya agak gugup. Ha.. Ha.. Dia sudah agak terintimidasi nih, pikirku.<br />
“Begini Noni.., karena performance perusahan kita kurang memuaskan akhir-akhir ini, sehingga kita perlu melakukan rasionalisasi karyawan” aku berkata sambil menatap matanya yang mulai tampak kemerahan menahan air mata. Dia sudah merasa akan bahwa dia termasuk yang akan di PHK.<br />
“Kamu termasuk yang harus kita PHK. Jadi kamu bisa mengurus pesangon kamu di HRD besok pagi. Maaf ya Noni..” kataku sambil berharap siasatku ini akan berhasil.<br />
“Tapi Pak..” jawab Noni sambil mulai terisak-isak.<br />
“Saya kan tidak berbuat salah apa-apa. ”</p>
<p>Dalam hatiku aku tertawa mendengarnya. Tidak punya salah? Setelah menggoda kelelakianku begitu lama dan selalu menolak rayuanku? Ha.. Ha.. Salah besar kamu Noni..</p>
<p>“Saya juga harus membantu ibu saya yang sedang sakit Pakk.. Tolong saya Pak Robert.. Saya perlu uang untuk operasi Ibu..”, dia sudah semakin terisak-isak di depanku.</p>
<p>Melihat gadis cantik tak berdaya seperti ini, nafsuku semakin bergolak.. Aku ambil tisu di meja kerjaku dan aku pindah duduk di sebelahnya sambil memberikan tisu itu padanya.</p>
<p>“Sudahlah jangan menangis..” kataku sambil mengelus-elus pundaknya.<br />
“Tapi Pak.. Saya tolong jangan dipecat Pak.. Tolong..” katanya sambil menyeka air matanya.<br />
“Yach.. Noni saya bisa saja membantu kamu, tapi kamu juga harus membantu saya”<br />
“Bantu apa Pak.. ”</p>
<p>Wah ini sih pertanyaan retoris pikirku. Aku yang duduk disebelahnya langsung meraba pahanya sambil menciumi pipinya yang masih agak basah karena air mata itu.</p>
<p>“Jangan Pak..” katanya sambil menghindar.<br />
“Ya sudah kalau tidak mau dibantu” jawabku agak kesal karena menahan nafsuku yang sudah tak tertahankan. Noni masih duduk diam terpaku sambil meremas-remas kertas tisu.<br />
“Ya sudah Noni.. Pergi sana” aku mengusir dia. Semoga saja Lia belum pulang sehingga aku bisa menyalurkan hasratku ini. Noni masih diam. Aku kembali merengkuh pundaknya sambil menciumi pipinya. Kali ini dia tidak menghindar. Berhasil.. Aku bersorak kegirangan dalam hati.<br />
“Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Pak.. Soalnya saya sudah punya pacar”<br />
“Tentu saja sayang..” kataku sambil meremas rambutnya, dan menariknya sehingga wajahnya tepat berada di depan wajahku.</p>
<p>Langsung aku cium dan kulum bibirnya yang tipis merekah itu.. Sementara tanganku telah membuka blazernya sehingga pundaknya yang mulus telah terpampang didepanku. Aku ciumi pundaknya yang mulus dan tali BHnya pun aku gigiti gemas. Sementara tanganku sibuk meraba dan meremas pahanya yang putih bersih itu. Tak tahan aku untuk tidak menikmati buah dadanya yang membusung itu. Aku ciumi dadanya yang masih terbungkus baju dalamnya.</p>
<p>“Emmhh.. Emhh” Noni mulai mengerang menahan nikmat yang mulai dia rasakan.</p>
<p>Tangankupun dengan terampil membuka baju dalamnya sehingga dia tinggal mengenakan BH yang kelihatannya terlalu kecil untuk menampung buah dadanya yang besar itu. Aku ciumi dadanya kemudian aku turunkan cup BHnya sehingga buah dadanya mencuat keluar. Oh.. My god.. Indah sekali buah dada Noni ini. Putingnya kecil berwarna merah muda, yang sudah mengeras. Buah dadanyapun kencang dan kenyal seperti halnya buah dada gadis muda belia seperti dirinya. Langsung aku kulum dan jilat putingnya, sambil tanganku meraba pahanya sampai ke celana dalamnya.</p>
<p>“Ohh.. Pak.. Jangan Pak..” Noni mengerang..</p>
<p>Jangan? Dalam hatiku aku tertawa geli. Mulutnya berkata jangan tapi reaksi tubuhnya berkata lain. Mungkin jangan berhenti maksudnya? Tanganku sudah mengelus-elus kemaluannya yang sudah basah oleh cairan nikmatnya.</p>
<p>“Ayo sayang kita pindah ke sofa” ajakku.<br />
“Jangan Pak..”<br />
“Ayo..!!” perintahku sambil menarik tangannya.</p>
<p>Sebelum dia duduk, aku cium dahulu dia sambil melepas baju dalam dan rok mininya. Tampak dia cantik sekali dengan hanya berpakian dalam begitu. Apalagi buah dadanya sudah mencuat keluar dari BH hitam yang dikenakannya.</p>
<p>“Ayo duduk” perintahku.</p>
<p>Dia duduk di depanku sehingga wajahnya tepat berada di depan kemaluanku. Dengan cepat aku membuka semua pakaianku sehingga tinggal mengenakan celana dalam saja.</p>
<p>“Cepat cium” kataku sambil menyorongkan kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam itu padanya.</p>
<p>Nonipun sudah tampak pasrah dan dia mulai menciumi kemaluanku. Tak tahan, aku suruh dia membuka celana dalamku itu sehingga kemaluanku yang sepanjang 20cm dan seukuran hampir sama dengan pergelangan tangannya melonjak keluar. Noni tampak kaget sehingga agak menjerit tertahan melihat ukuranku itu.</p>
<p>“Kenapa sayang”<br />
“Ihh Pak.. Besar sekali.. Noni takut Pak..”<br />
“Nggak apa.. Ayo diisap” perintahku.<br />
“Ampun Pak.. Jangan Pak.. Nggak muat Pak..”<br />
“Ayo cepat” kataku sambil meremas rambutnya dan mendorong kemaluanku sehingga menyentuh bibirnya.</p>
<p>Aku memang paling kesal dengan karyawanku yang belum apa-apa sudah bilang nggak bisa padahal belum mencoba. Entah dalam pekerjaan kantor sehari-hari atau dalam hal Noni ini untuk memuaskan kejantananku. Nonipun membuka bibirnya dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Tangannyapun mulai mengocok kemaluanku sambil kadang-kadang membelai buah zakarku. Rupanya dia sudah merasa percuma saja menolak sehingga lebih baik menikmati saja aktivitas kita ini.</p>
<p>Kemudian dia sudah mengulum kemaluanku. Akupun berdiri berkacak pinggang didepannya, sementara dia sibuk memberikan kehangatan mulutnya pada bos besarnya ini. Kadang-kadang aku meremas rambutnya yang berjepit rambut berbentuk hati berwarna merah muda sehingga menambah kecantikan kemudaannya.</p>
<p>“Ayo lebih dalam”, kataku sambil berkacak pinggang memberi perintah.</p>
<p>Tampak Noni bersusah payah mengulum kemaluanku walaupun tampaknya baru setengah yang bisa dia masukkan kemulutnya yang mungil. Akupun tak sabar, lalu aku dekap kepalanya dengan kedua tanganku, dan aku maju mundurkan kemaluanku di mulutnya. Terasa sesak tapi sangat nikmat menjalar tubuhku.</p>
<p>“Hmmhh.. Mulutmu enak Noni.. Yach ayo terus hisap.. Pintar.. Good girl..”, erangku menahan nikmat duniawi.</p>
<p>Setelah kurang lebih 15 menit menikmati hisapan dan kuluman Noni si gadis lugu ini, aku duduk di sofa dan memerintahkan dia untuk menaiki tubuhku. Aku sibakkan celana dalam hitamnya sehingga vaginanya yang sempit itu telah siap untuk menelan kemaluanku.</p>
<p>“Ahh.. Ampun Pak.. Sakit..”, erangnya ketika kemaluanku mulai menerobos bibir vaginanya.</p>
<p>Aku tak mempedulikan erangan minta ampunya dan langsung menyodokkan kemaluanku sambil menggoyang-goyangkannya ke kanan dan kekiri. Masuknya agak susah sehingga setelah sedikit aku sodokkan aku goyangkan dulu, baru bisa aku sodokkan sedikit lagi ke dalam. Sementara itu mulutku sibuk menikmati buah dada belianya.</p>
<p>“Pak.. Ampun Pak.. Ahh..” erangannya terdengar makin keras.</p>
<p>Kemaluanku kini sudah 3/4 yang masuk dalam vaginanya. Kemudian aku pegang pantatnya yang sexy itu dan aku kocok keluar masuk kemaluanku dalam lubang surgawinya.</p>
<p>“Pak.. Sudah Pak.. Ampun Pak.. Noni hampir sampai..”</p>
<p>Aku semakin cepat menggenjot Noni, sampai akhirnya dia menjerit tertahan karena mulutnya menggigit tangannya sendiri. Mungkin dia malu untuk menjerit terlalu keras saat orgasme. Memang dia pada dasarnya adalah gadis yang sopan dan baik. Aku belum puas menikmatinya, lalu aku suruh dia menungging di sofa dan aku setubuhi dia dari belakang.</p>
<p>“Pak.. Pak.. Jangan Pak.. Noni sudah capai Pak..” katanya sambil merintih.</p>
<p>Aku terus genjot dilakang sambil sesekali aku jambak rambutnya sehingga kepalanya terdongak kebelakang, sehingga aku bisa menciumi wajahnya yang imut itu. Tanganku pun tidak ketinggalan meremas buah dadanya yang besar dan bergoyang saat aku setubuhi kemaluannya dengan gaya doggy-style itu.</p>
<p>Saat aku sedang asyik menggenjot Noni.., tiba-tiba Lia masuk ruanganku. Rupanya aku lupa mengunci ruanganku tadi.</p>
<p>“Ada apa Lia..?” tanyaku sambil tersenyum sambil terus menyetubuhi Noni.</p>
<p>Nonipun sudah kembali terangsang dan tidak memperdulikan kehadiran Lia. Dia tetap mengerang tertahan sehingga menambah suasana mesum di ruangan itu.</p>
<p>“Ini Pak.. Saya perlu tanda tangan Bapak” jawab Lia sambil merengut cemburu.</p>
<p>Tampak dia memang sengaja ingin melihat aku mengerjai Noni, sehingga bekerja lembur.</p>
<p>“Maaf.. Pak kalau mengganggu..” katanya masih dengan nada cemburu.</p>
<p>Aku ambil surat dari tangannya dan langsung aku tandatangani sambil terus menggenjot Noni.</p>
<p>“Nih.. Udah jangan ganggu saya lagi.. Kamu nggak liat saya sedang sibuk?” kataku dengan suara agak marah.<br />
“Kamu liat khan saya sedang beri training si Noni ini supaya pintar..” kataku sambil menarik rambut Noni sehingga wajahnya menghadap ke Lia.<br />
“Udah pergi sana.. Nanti kalau giliranmu ditraining saya akan panggil OK” kataku sambil tersenyum padanya.</p>
<p>Tampak wajah Lia memerah menahan nafsu melihat adegan persetubuhanku dengan Noni.</p>
<p>“Baik Pak..” jawabnya sambil keluar ruangan.</p>
<p>Tetapi setelah keluar ruangan dia tampak mengintip dari balik vertical blind jendela ruanganku. Ha.. Ha mungkin dia penasaran dan bernafsu sekali melihatku mengerjai Noni. Sementara itu aku balikkan tubuh Noni di sofa dan langsung aku genjot lagi dari depan.</p>
<p>“Aahh.. Pak.. Ampun Pak.. Noni hampir sampai lagi..” erangnya.</p>
<p>Aku cium dia saat dia mencapai orgasmenya yang kedua. Sementara itu akupun sudah merasa akan mencapai puncak. Kucabut kemaluanku dari vagina Noni, dan aku suruh dia kulum dan isap lagi. Aku lirik ke vertical blind dan ternyata masih ada bayangan Lia di sana. Aku ingin dia melihat aku ejakulasi di mulut dan wajah Noni resepsionis yang cantik ini.</p>
<p>“Ayo isap terus Noni.. Kamu luar biasa.. Pintar sekali..” kataku memuji kerja kerasnya.</p>
<p>Aku melihat ke vertical blind sambil tersenyum, tak lupa menyibakkan rambut Noni sehingga Lia dapat melihat dengan jelas saat aku ejakulasi nanti.</p>
<p>“Ahh.. Ohh.. Ohh.. You little slut..” erangku saat cairan ejakulasiku keluar membasahi wajah dan mulut Noni.<br />
“Ayo bersihkan.. Isap sampai bersih..” perintahku.</p>
<p>Nonipun terpaksa menjilati bekas cairan sperma dari kemaluanku. Setelah bersih, kamipun masing-masing mengenakan pakaian kami kembali, dan Noni mengambil tisu untuk menyeka bekas sperma dari wajahnya.</p>
<p>“Maaf Pak.. Terus bagaimana dengan nasib saya..” tanyanya memelas.<br />
“Yach.. Kamu bisa terus bekerja di sini asalkan kamu mau memuaskan saya seperti tadi.. OK?” jawabku.<br />
“Baik Pak.. Terimakasih Pak..”</p>
<p>Ha.. Ha.. Memang enak menjadi bos besar.. Sudah habis-habisan menggenjot gadis muda, masih diberi ucapan terimakasih lagi..</p>
<p>“Ya sudah kamu bisa pulang sekarang” kataku sambil mengemasi barang-barangku juga.</p>
<p>Kamipun keluar dari ruanganku, dan aku lihat meja Lia sudah kosong mungkin sudah pulang tidak tahan melihat adegan live-show aku dan Noni. Sampai di lobby aku bertemu dengan pacar Noni yang ternyata sudah menunggunya untuk mengantar pulang.</p>
<p>“Selamat sore Pak” sapanya penuh hormat.<br />
“Ini Budiman Pak.. Pacar saya” Noni mengenalkanku pada pacarnya.<br />
“Dan ini Pak Robert.. Direktur perusahaan ini”<br />
“Oh ya.. Sori ya lama nunggu tadi?” tanyaku sambil tersenyum. Noni tampak menunduk malu.<br />
“Nggak apa kok Pak” kata Budiman.<br />
“Yach tadi saya harus memberikan sedikit training pada Noni untuk meningkatkan produktivitasnya di perusahaan ini” kataku menjelaskan.<br />
“Ternyata dia pintar.. Kamu beruntung lho punya pacar cantik dan pintar seperti dia” kataku.<br />
“Oh iya Pak terimakasih Pak..” Budiman berkata senang dan penuh hormat.</p>
<p>Ha.. Ha.. Aku tertawa dalam hati.. Noni terdiam saja tersipu mendengar pujianku di depan pacarnya tersayang itu. Akupun menaiki lift untuk menuju gedung parkir. Setelah itu aku langsung tancap gas Mercy silver metalikku untuk segera sampai di rumah untuk tidur karena badanku sudah pegal-pegal habis menyetubuhi Noni tadi. Kusetel lagu Al Jarreau, sambil berdesah puas. Sukses rencanaku hari ini. Noni sudah takluk di tanganku.</p>
<p>Sekeluar dari komplek gedung perkantoranku, tiba di lampu merah, aku melihat Budiman sedang menggonceng Noni dengan motor bututnya. Noni melihat ke arahku sambil tersenyum malu. Akupun tersenyum padanya sambil berharap semoga aku tidak cepat bosan menikmati tubuhnya, sehingga dia tak perlu aku pecat untuk aku ganti dengan yang baru.</p>
<p>*****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/memperdaya-resepsionist-cantik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>malam jahanam</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/malam-jahanam.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/malam-jahanam.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 08:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2364</guid>
		<description><![CDATA[Aku tersadar dan menemukan diriku sudah terikat di kursi di ruangan tengah rumah peristirahatan di Puncak. Aku dan beberapa teman berserta istri mereka sedang ber-weekend di puncak. Istriku, Diah sedang kembali ke Jakarta mengambil beberapa keperluan yang tertinggal. Sedangkan aku sendiri baru pulang berjalan-jalan sendiri, sekitar pukul 7 malam ketika sebuah pukulan mendarat di kepalaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tersadar dan menemukan diriku sudah terikat di kursi di ruangan tengah rumah peristirahatan di Puncak. Aku dan beberapa teman berserta istri mereka sedang ber-weekend di puncak. Istriku, Diah sedang kembali ke Jakarta mengambil beberapa keperluan yang tertinggal. Sedangkan aku sendiri baru pulang berjalan-jalan sendiri, sekitar pukul 7 malam ketika sebuah pukulan mendarat di kepalaku tepat ketika aku akan membuka pintu.</p>
<p>Di tengah ruangan ada dua orang berdiri mengawasiku. Yang satu berkulit penuh tato, dan yang satu berbadan kekar.<br />
“Hei, lo sudah bangun. Bagus jadi lo bisa liat bagaimana kita mainin istri lo sekarang!” kata si Tato.<br />
Diah! Diah akan pulang sebentar lagi. Hampir bersamaan, terdengar kunci pintu depan diputar dan Diah masuk ke ruang depan. Si Kekar langsung mendekati dia sebelum Diah sadar apa yang terjadi. Diah terkejut dan berusaha melepaskan pelukan si Kekar. Kakinya menendang-nendang. Tapi pelukan si Kekar tidak dapat dilepaskannya. Kemudian ia melihat si Tato, berdiri disampingku dengan pisau panjang di leherku.<br />
“Diem atau dia mati!” katanya.<br />
Diah langsung berhenti meronta-ronta. Sementara itu si Kekar sekarang menekuk tangannya ke belakang.<br />
“Ka,kalian mau apa?”</p>
<p>Si Tato berjalan mendekati Diah tanpa menjawab. Kemudian ia menarik dan merobek t-shirt yang dikenakan oleh Diah. Nafas Diah tersentak ketika dengan cepat si Tato dengan pisaunya melucuti BH dan celana jeans yang dikenakannya. Sekarang Diah berdiri di tengah ruangan hanya dengan memakai celana dalamnya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, demikian juga dengan tubuhnya yang putih mulus, tidak tertutup selembar benangpun. Diah baru berumur 25 tahun, dan kami baru menikan 3 bulan yang lalu.<br />
“Ampun, jangan..” Diah meronta sambil memandangku putus asa.<br />
“Diem brengsek!” kata si Tato.</p>
<p>Kemudian ia menyeret Diah ke depan kamar mandi, dan ia meletakan kedua tangan Diah pada kusen pintu kamar mandi sehingga Diah berdiri dengan bertumpu ke depan dengan kedua tangannya. Kemudian si Tato melebarkan kaki Diah. Diah sekarang berdiri dengan kaki terbuka di depan kamar mandi, dan tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Diah untuk mencoba baju-baju yang baru dibelinya. Si Tato lalu merobek celana dalam Diah dan menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Diah bisa melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang dilihatnya si Tato sedang mengagumi dirinya.<br />
“Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!” si Tato menampar pantat Diah yang sebelah kiri yang membuat Diah menjerit dan melompat kesakitan. Lalu tanpa menunggu lagi, si Tato melepaskan celananya dan memperlihatkan penisnya yang sudah keras. Si Tato kemudian menyelipkan penisnya diantara kedua kaki Diah lewat belakang, untuk diperlihatkan pada Diah.<br />
“Jangan pak. Jangan! Ampun, jangan!” Diah menoleh ke belakang dan memandangku. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatan.</p>
<p>Si Tato masih tidak peduli melihat Diah memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Diah, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanyah. Setelah tangan si Tato memegang pinggul Diah dan dengan satu gerakan keras bergerak maju.<br />
“Arrgghh, jangaan! Ampuun!” Diah menjerit-jerit ketika penis si Tato mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya. Kaki Diah mengejang menahan sakit ketika penis si Tato terus menembus masuk tanpa ampun.</p>
<p>Si Tato mulai bergerak maju mundur memperkosa Diah dan ketika kepala Diah terjatuh lunglai kesakitan, ia menarik rambut Diah sehingga kepala Diah kembali terangkat dan Diah kembali bisa melihat dirinya disetubuhi oleh si Tato melalui cermin. Kadang-kadang si Tato menampar pantat Diah berulang kali, aku juga melihat payudara Diah yang tersentak-sentak setiap kali si Tato memasukan penisnya ke dalam vagina istriku.</p>
<p>Tiba-tiba si Tato mengeluarkan penisnya dari vaginanyah. Diah langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat. Tapi si Kekar terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum Diah sampai ke pintu depan.<br />
“Ahh, tolong! Tolommpphh”, Teriakan Diah dibungkam oleh tangan si Kekar sementara itu si Tato mendekat dan mengikat tangan Diah menjadi satu ke depan. Setelah itu, Diah didorong hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang si Kekar, membuka celananya dan memasukan penisnya ke mulut Diah.</p>
<p>“Mmpphh!”, Diah berteriak, dengan penis di dalam mulutnya. Sementara itu si Kekar masih diam dan terus menggerakkan penisnya di mulut Diah. Mata Diah tertutup dan wajahnya memerah, sementara itu air mata masih meleleh turun di pipinya. Ketika itu si Tato masuk ke kamar tidur kami dan ketika kembali ia membawa salah satu ikat pinggang kulitku. Si Kekar kemudian mengeluarkan penisnya dari mulut Diah. Diah yang masih tersungkur di atas lutut dan sikunya terlihat lega. Tapi tanpa peringatan lagi, si Tato mengayunkan ikat pinggang ke pantat Diah.<br />
“Aduuh. Sakiit! Ampuun! Jangan, pak, sakit!”, si Tato terus memukuli pantat Diah, sementara Diah berusaha merangkak menjauh, dan berusaha berdiri. Akhirnya Diah sampai ke sofa dan berusaha berdiri. si Tato berhenti memukul dan langsung berlutut di belakang Diah dan meremas pantat Diah.<br />
“Jangan bergerak!” anacam si Tato.</p>
<p>Diah sekarang bersandar pada sofa. Payudaranya tertindih badannya di sofa, sementara ia berlutut di lantai.<br />
“Ampun pak! Lepaskan saya pak! Sakit pak! Ampun!”.<br />
“Diem!” bentak si Tato. si Tato membuka belahan pantat Diah dan meraba-raba liang anusnya. “Ap, apa, mau kalian.”.<br />
“Siap, siap sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus ini!”.</p>
<p>Diah memandangku dengan ketakutan, kemudian ia menoleh ke si Tato yang ada di belakangnya. Wajahnya mulai memucat.<br />
“Jangan! Jangan pak. Saya nggak mau diperkosa di situ pak! Ampun!”.<br />
“Well, gue tetep mau peduli lo mau apa nggak!” si Tato menarik tubuh Diah hingga ia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian ia menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnyah.</p>
<p>Kemudian ia membuka belahan pantat Diah lebar-lebar. “Ampun, jangan! Sakit! Ampun pak, ampun! aakkhh” si Tato mulai mendorong masuk, terus masuk sementara Diah mejerit-jerit minta ampun. Diah meronta-ronta tak berdaya, hanya semakin menambah gairah si Tato untuk terus mendorong masuk. Diah terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis si Tato masuk ke anusnya.<br />
“Ampun! Sakit sekali! Ampun!” jerit Diah, ketika si Tato mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnyah.<br />
“Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian!” kata si Tato sambil memandang mataku.<br />
“Lo udah pernah nyoba pantat istri lo belon? Bener-bener kualitas nomer satu!”.<br />
Tangisan Diah maskin keras. “Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit pak, ampun!” si Tato menampar pantatnya.<br />
“Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo!”</p>
<p>Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Sebelum Diah sempat berteriak, tangan si Tato sudah menutup mulutnya dan ia mendorong penisnya masuk ke anusnyah. Si Kekar kemudian menuju ke ruang depan yang gelap, ketika pintu depan terbuka.<br />
“Di? Ini gue! Kok pintu lo nggak dikunci sih?”<br />
Santi! Sahabat Diah. “Ntar kalo ada ma.. Aahh!” si Kekar sudah menerkam dan memeluk tubuh Santi dari belakang. Terdengar Santi berontak dan meronta-ronta. Tapi tak lama kemudian Santi masuk dipegangi oleh si Kekar dengan kedua tangan terikat ke depan.</p>
<p>Untuk pertama kalinya si Kekar berkata, “Yang ini punya gue.” Santi mempunyai tubuh lebih kurus dan lebih tinggi. Buah dadanya tidak sebesar Diah tapi tidak mengurangi kecantikan dan keindahan tubuhnya. Sementara itu si Tato kembali menyetubuhi Diah lewat pantatnya, sementara si Kekar mulai melucuti pakaian Santi.<br />
“Lepasin! Jangan! Diah, kamu kenapa?” Santi berteriak ketika si Kekar menarik BH-nya hingga lepas dan mulai menarik celana jeansnya.<br />
“Jangan! Lepasin Santi, jangan! Kalian perkosa saja saya. Jangan ganggu Santi! Jangan!” si Tato langsung memasukan penisnya keras-keras.<br />
“Jangan banyak omong! Kita mau lo berdua!” Kemudian ia kembali bergerak dengan brutal dan keras.</p>
<p>Si Kekar berhasil menelanjangi Santi, sementara Santi dengan kedua tangan terikat, berusaha menutupi payudaranya. Si Tato kemudian menarik penisnya keluar dari anusnyah, membuat Diah tersungkur lemas kesakitan di lantai. Kemudian ia membantu si Kekar meringkus Santi.<br />
“Lo mau pake pantatnya juga?” tanya si Tato.<br />
“Tentu dong!”<br />
“Oke”</p>
<p>Kemudian mereka mendorong Santi hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya di hadapanku. Kemudian si Tato menyeret tubuh Diah dan membaringkannya di sebelah Santi. Sekarang mereka berdua berada dalam posisi merangkak tepat di hadapanku. Si Kekar dan si Tato mulai membandingkan antara Diah dan Santi.<br />
“Wow, liat mereka! Beda tapi oke semua!”.<br />
“Lo pilih yang mana? Yang dada besar atau yang pantatnya kenceng?” tanya si Kekar.<br />
“Gue pikir tadi lo bilang yang pantatnya kenceng punya lo!” jawab si Tato.<br />
“Iya, tapi gue lagi baek nih!”.<br />
“Gue ambil yang dadanya gede aja. Pantatnya lebih bunder.” jawab si Tato sambil menunjuk Diah.<br />
“Oke kalo gitu yang pantatnya kenceng buat gue!”</p>
<p>Akhirnya mereka berdua berlutut di belakang mereka. Si Tato di belakang Diah dan si Kekar di belakang Santi. Mereka menempelkan kepala kejantanannya ke liang dubur Diah, serta membuka belahan pantat Diah dan Santi. Dan bersamaan dengan mulai mendorong masuk ke dubur mereka berdua yang telah menganga dengan lebar.<br />
“Ampun! Jangan lagi! Sakit! Jangan disitu lagi!”, Diah menjerit ketika penis si Tato mulai masuk lagi ke anusnya.<br />
“Aduuhh, sakiit. Diah toloong!” Santi menjerit lebih keras lagi, ketika anusnya yang kecil dimasuki oleh penis si Kekar.<br />
“Diem semua! Dasar cewek murahan!” bentak si Kekar.<br />
Si Tato terus bergerak maju mundur sambil mengerang nikmat. “Wah, gue bener kagum sama pantat istri lo ini!”</p>
<p>Aku tak berdaya melihat kedua wanita itu mengerang dan menjerit diperkosa oleh mereka. Kulihat tangan si Kekar meraih payudara Santi yang kecil tapi padat dan meremasnya keras-keras. Kemudian ia menariknya tanpa kasihan. Jeritan Santi kembali terdengar. Melengking.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/malam-jahanam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>model Digarap 2 lelaki</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/model-digarap-2-lelaki.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/model-digarap-2-lelaki.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku, seorang model yunior, diperkenalkan oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal. Temanku ngasi tau bahwa om Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan daun muda. Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga menjadi ternama.</p>
<p>Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku.</p>
<p>Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om Andi sangat profesional mengatur pemotretan, mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar.</p>
<p>Bajunya dengan potongan dada yang rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi blingsatan sendiri.</p>
<p>Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis.</p>
<p>Jokopun kayanya gak bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kon tolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om Andi mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap, telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya.</p>
<p>Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.</p>
<p>Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku.</p>
<p>&#8220;Nes, kamu seksi sekali, om jadi napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional&#8221;, katanya.</p>
<p>Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point.</p>
<p>&#8220;Ines sih mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng<br />
gimana&#8221;, tanyaku.</p>
<p>Om Andi segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku gak keberatan dientot.</p>
<p>&#8220;Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan kamunya&#8221;, katanya sambil tersenyum.</p>
<p>Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas. Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia semakin bernapsu meremas toketku.</p>
<p>&#8220;Nes, toket kamu besar dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede keras begini, pasti sering diisep ya Nes&#8221;.</p>
<p>Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku, sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-gosok nonokku dari luar.</p>
<p>&#8220;Eenghh.. terus om.. oohh!&#8221; desahku sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap toketku.</p>
<p>Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku mengeluarkan cairan hangat.</p>
<p>Dengan merem melek aku menjambak rambut om Andi. Segera tangannya pun mengurai pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ, nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku.</p>
<p>&#8220;Jembut kamu lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo cuma dientot satu ronde&#8221;, katanya.</p>
<p>Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan mengisap.</p>
<p>Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya.</p>
<p>&#8220;Ines ga tahan lagi om, Ines emut kontol om ya&#8221; kataku. Om Andi langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua yang nempel dibadannya dan menyodorkan kontolnya. kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.</p>
<p>Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga om Andi bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.</p>
<p>&#8220;Eemmpp..nngg..!&#8221; aku mendesah tertahan karena nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya.</p>
<p>Kepala kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku.</p>
<p>Kuseka wajahku dengan tanganku. Sisa-sisa peju yang<br />
menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang sedang bugil.</p>
<p>&#8220;Jok, mau ikutan gak&#8221;, tanya om Andi sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kita makan dulu ya&#8221;. Segera kita menyantap makanan yang dibawa Joko<br />
sampai habis.</p>
<p>Sambil makan, kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya terangsang</p>
<p>Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.</p>
<p>&#8220;Nes, toketnya gede juga ya.. enaknya diapain ya&#8221;, katanya sambil terus meremasi toketku.</p>
<p>Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang. Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko mengerang keenakan.</p>
<p>&#8220;Enak, Jok&#8221;, tanya om Andi yang memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.</p>
<p>Om Andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om Andi pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.</p>
<p>Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada kontol Joko makin bersemangat.</p>
<p>Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku.</p>
<p>Aku serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula entotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat selangkanganku.</p>
<p>Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya.</p>
<p>&#8220;Nes, aku pengen ngen totin nonok kamu juga&#8221;, kata Joko.</p>
<p>Aku cuma mengangguk, lalu dia bilang lagi,</p>
<p>&#8220;Tapi Ines istirahat aja dulu, kayanya masih cape deh&#8221;. Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om Andi duduk di sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya.</p>
<p>&#8220;Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi belum rasain nonok kamu&#8221; kata Joko mengambil posisi berlutut di depanku.</p>
<p>Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung<br />
menusuknya tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang sedang menjilati leher di bawah telingaku.</p>
<p>&#8220;Aahh.. Jok, cepet masukin dong, udah kebelet nih!&#8221; desahku tak tertahankan.</p>
<p>Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku.</p>
<p>&#8220;Wah.. seret banget nonok kamu Nes&#8221;, erangnya.</p>
<p>Setelah 15 menit dia gen tot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia memegangi kedua bongkahan pantatku, secara<br />
bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh kami.</p>
<p>Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan dan mulut mereka. Joko<br />
memperhatikan kontolnya sedang keluar masuk di nonokku.</p>
<p>Goyangan kami terhenti sejenak ketika om Andi tiba-tiba mendorong punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om Andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.</p>
<p>&#8220;Aduuh.. pelan-pelan om, sakit &#8221; rintihku waktu dia<br />
mendorong masuk kontolnya.</p>
<p>Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om Andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut dikit. Bukannya mendengar, om Andi malah makin buas menggentotku.</p>
<p>Joko melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Joko.</p>
<p>Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah<br />
lemas ini. Erangan yang keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-kuat oleh Joko, dan om Andi menjambak rambutku. Aku lalu merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku dengan kontol masih tertancap.</p>
<p>Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir</p>
<p>&#8220;Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih&#8221; disambut gelak tawa kami.</p>
<p>Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke ranjang.</p>
<p>Om Andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam dan kocok2.</p>
<p>&#8220;Nes, diisep dong&#8221;, pintanya. Kepalanya kujilat2 sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus.</p>
<p>&#8220;Ah, enak Nes, baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg ngisep mulut bawah&#8221;, erangnya keenakan.</p>
<p>Tangannya terus saja mengelus2 no nokku yang sudah basah karena napsuku sudah memuncak.</p>
<p>&#8220;Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok kamu udah basah begini&#8221;, katanya lagi. kontolnya makin seru kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.</p>
<p>Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku.</p>
<p>&#8220;Enak om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om &#8220;, rengekku keenakan.</p>
<p>enjotan kontolnya makin cepat dan keras, aku juga makin sering melenguh<br />
kenikmatan, apalagi kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau nyampe,</p>
<p>&#8220;om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau nyampe&#8221;, rengekku.</p>
<p>&#8220;Cepat banget Nes, om belum apa2&#8243; jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya. A</p>
<p>khirnya aku menjerit keenakan &#8220;Om, Ines nyampe mas , aah&#8221;, aku menggelepar kenikmatan.</p>
<p>Dia masih terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku.</p>
<p>&#8220;Kok dicabut om, kan belum ngecret&#8221;, protesku.</p>
<p>Dia diem saja tapi menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia mau gaya anjing.</p>
<p>&#8220;Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo dipantat gak asik&#8221;, pintaku.</p>
<p>Dia diam saja. Segera kontolnya ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi,</p>
<p>&#8220;Om , nikmat&#8221;, erangku lagi.</p>
<p>Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2 salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,</p>
<p>&#8220;Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa banget&#8221;, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.</p>
<p>Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian tangannya menjalar lagi ke i tilku, sambil dientot i tilku dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dien tot dengan cara seperti itu.</p>
<p>&#8220;Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,&#8221; erangku saking nikmatnya.</p>
<p>Dia sepertinya juga udah mau ngecret, segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan kontolnya. Tak lama kemudian,</p>
<p>&#8220;Om, Ines mau nyampe lagi, om , cepetan dong enjotannya, aah&#8221;, akhirnya aku mengejang lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.</p>
<p>&#8220;Aah Nes, nikmat banget&#8221;, diapun agak menelungkup diatas punggungku.</p>
<p>Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku.</p>
<p>&#8220;Om , nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini giliran Joko ya&#8221;, kataku.</p>
<p>&#8220;Iya&#8221;, jawabnya sambil berbaring disebelahku.</p>
<p>Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku. &#8220;Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes&#8221;, katanya lagi.</p>
<p>Aku hanya tersenyum, &#8220;Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket badan rasanya&#8221;, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.</p>
<p>Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku.</p>
<p>Aku segera saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku, tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku diplintir2nya,</p>
<p>&#8220;Jok enak, Ines udah napsu lagi nih&#8221;, erangku.</p>
<p>Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu,</p>
<p>&#8220;Jok , nikmat banget &#8220;, erangku.</p>
<p>Diapun menindihku sambil terus menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan akhirnya mendarat di nonokku.</p>
<p>&#8220;Aah Jok , enak banget, belum dientot aja udah nikmat banget&#8221;, erangku.</p>
<p>Aku menggeliat2 keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati nonok dan i tilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonokku yang basah berlendir itu.</p>
<p>Dia bangun dan kembali mencium bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan mulai mengemut kontolnya.</p>
<p>&#8220;Nes, kamu pinter banget sih&#8221;, dia memuji.</p>
<p>Cukup lama aku mengemut kon tolnya. Sambil mengeluar masukkan di mulutku,<br />
kontolnya kuisep kuat2. Dia merem melek keenakan.</p>
<p>Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,</p>
<p>&#8220;Jok , enak&#8221;, erangku.</p>
<p>Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua di nonokku.</p>
<p>&#8220;Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan kemasukan kontol berkali2ya&#8221;, katanya.</p>
<p>&#8220;Tapi enak kan, abis kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa sempit&#8221;, jawabku terengah.</p>
<p>Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya.</p>
<p>&#8220;Enak Jok, aah&#8221;, erangku keenakan.</p>
<p>enjotannya makin cepat dan keras, pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai berkedut2,</p>
<p>&#8220;Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau nyampe&#8221;, erangku.</p>
<p>&#8220;Cepet banget Nes, aku belum apa2&#8243;, jawabnya.</p>
<p>&#8220;Abisnya kon tol kamu enak banget sih gesekannya&#8221;, jawabku lagi.</p>
<p>enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat aku</p>
<p>&#8220;Terus Jok , enak&#8221;. Toketku diremas2 sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk.</p>
<p>&#8220;Terus Jok , lebih cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh&#8230;&#8221; akhirnya aku mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini masih terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia melenguh,</p>
<p>&#8220;Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku udah mau ngecret, terus diempot Nes&#8221;, erangnya</p>
<p>sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya</p>
<p>&#8220;Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu&#8221;, erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku diciumnya.</p>
<p>&#8220;Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat banget&#8221;. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku dan dia berbaring disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa terasa aku tertidur disebelahnya.</p>
<p>Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata om Andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonokku makin terbuka.</p>
<p>&#8220;Om , nikmat banget mas jilatannya&#8221;, erangku.</p>
<p>Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2 toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku sudah banjir lagi.</p>
<p>Aku menggelepar2 ketika i tilku diemutnya. Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku dikangkangkan.</p>
<p>&#8220;Om, masukin dong om , Ines udah pengen dientot&#8221;, rengekku.</p>
<p>Dia langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk,</p>
<p>&#8220;Yang dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om &#8220;, rengekku karena napsuku yang sudah muncak.</p>
<p>Dia langsung mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih dalem lagi.</p>
<p>&#8220;Ayo om , dienjot dong&#8221;, rengekku lagi.</p>
<p>Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya,</p>
<p>&#8220;Om , enak om , terus om , Ines udah mau nyampe rasanya&#8221;, erangku. Dia tidak menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya. Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi,</p>
<p>&#8220;om enak, Ines nyampe om , aah&#8221;, erangku lemes.</p>
<p>Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia meringis keenakan.</p>
<p>&#8220;Nes, terus diempot Nes, nikmat banget rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes&#8221;, pintanya.</p>
<p>Sementara itu enjotan kon tolnya masih terus gencar merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya diplintir2nya.</p>
<p>&#8220;Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot peju om &#8220;, kataku.</p>
<p>Terus saja kontolnya dienjotkan keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,</p>
<p>&#8220;Nes, aku mau ngecret Nes, aah&#8221;, erangnya dan terasa semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan memelukku erat2,</p>
<p>&#8220;Nes, nikmat banget deh ngen tot ama kamu&#8221;, katanya.</p>
<p>Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis dien tot 2 cowok berkali2.</p>
<p>&#8220;Om, jangan lupa orbitin Ines ya&#8221;, kataku.</p>
<p>&#8220;Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener gak Jok&#8221;, jawabnya.</p>
<p>Joko hanya tersenyum saja. Gak lama setelah mobil jalan, akupun tertidur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/model-digarap-2-lelaki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Elin, resiko perjalanan dinas</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/elin-resiko-perjalanan-dinas.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/elin-resiko-perjalanan-dinas.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=802</guid>
		<description><![CDATA[Elin adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Elin berumur 28 tahun, dia adalah seorang Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Elin telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Elin apat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Elin adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Elin berumur 28 tahun, dia adalah seorang Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Elin telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Elin apat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis.</p>
<p>Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Tom dan Anita melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Elin pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.</p>
<p>Menjelang tengah malam, Elin tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Elin membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Tom dan Anita sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali. Anita yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Tom seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan, &#8220;Ssshhh&#8230;, sshhh&#8230;&#8221;, karena mungkin takut membangunkan Elin. Kedua tangan Tom sedang meremas-remas kedua buah dada Anita yang kecil tetapi padat berisi itu. Elin sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Elin mengharapkan mereka cepat selesai dan Tom segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Anita agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Tom sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Elin berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka.</p>
<p>Pada saat Elin mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Elin sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Tom sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Elin berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Tom dan Anita sudah selesai dan Anita dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur. Tom yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Elin, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Elin. Elin menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Tom untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Tom malu, karena dipikirnya Tom melakukan hal itu lebih disebabkan karena Tom masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Elin memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Tom akan menghentikan kegiatannya itu.</p>
<p>Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Tom bangkit dan duduk di samping Elin. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Elin dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan, &#8220;Psssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru&#8230;, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu&#8230;, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam&#8221;, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Elin bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Elin, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Elin. Badan Elin menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Elin seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Tom melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Elin. Jari-jari Tom membuka satu persatu kancing daster Elin, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Elin, sehingga terlihatlah payudara Elin yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.</p>
<p>Sekarang Elin tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Tom. Tom sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Anita, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur. Sejak saat itu Tom bertekad untuk tidak akan membebaskan Elin. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Tom akan menikmati tubuh Elin berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Elin terlalu sayang untuk disimpan oleh Elin sendiri pikir Tom. Tom mendorong tubuh Elin dan mulai meremas-remas payudara Elin yang telah terbuka itu, &#8220;Dengerin sayang, you akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal you baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan&#8221;.</p>
<p>Kesadaran Elin mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Elin perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Tom yang sedang merangkak di atasnya. Elin mencoba mendorong badan Tom sambil berkata, &#8220;Tom, apa yang sedang kau lakukan ini?&#8221;, &#8220;Sadarlah Tom, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!&#8221;. Karena menganggap Tom berada dalam keadaan mabuk, Elin mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Tom. Akan tetapi Tom yang telah sangat terangsang melihat tubuh Elin yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang. &#8220;Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! You emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!&#8221;, kata Tom sambil menekan tubuhnya ke tubuh Elin. Elin berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Tom akan membalas berlaku kasar padanya.<br />
Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.</p>
<p>Sambil menjilat bibirnya Tom berbaring di sisi Elin. &#8220;Lin, lebih baik you mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa you dan saya perkosa you habis-habisan. Kalau you nurutin, you akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit&#8221;. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Elin, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Elin. &#8220;Bodi you oke banget!&#8221;, kata Tom. &#8220;Coba you berputar Elin!&#8221;. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Elin berputar membelakangi Tom. Dan dirasakanya tangan Tom sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba. Kemudian Tom menyibakkan rambut Elin, dan dihirupnya leher Elin dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Elin. Sambil melakukan hal itu tangan Tom berpindah menuju kemaluan Elin. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata, &#8220;Kasihan you, Elin, pasti suami you tidak tahu cara membahagiakan you?&#8221;, &#8220;Tapi tenang aja sayang, dengan saya, you nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, you bakalan merasakan bagaimana menjadi wanita sejati!&#8221;. Sambil memutar kembali tubuh Elin. Setelah itu Tom mengambil tangan Elin dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.</p>
<p>Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Elin tersentak, belum sempat Elin dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Tom dan dengan cepat Tom telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Tom. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Tom lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Elin, &#8220;Apa you mau saya masukin itu?&#8221;, &#8220;Aaahhh&#8230;, jangaaann&#8230;, jaaangaaann&#8230;, Toomm&#8230;&#8221;, Elin dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Tom. Elin mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Tom agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewanitaannya.</p>
<p>Sambil tersenyum Tom berkata lagi, &#8220;You tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik you diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!&#8221;. Tom lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Elin dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Elin dengan tanpa dapat dihalangi lagi. Testis Tom mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Elin, sementara Elin megap-megap karena dorongan keras Tom.</p>
<p>Elin belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Tom. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Tom yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Elin mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Tom, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Elin hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan. Elin hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Elin mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Tom di atasnya. Tom melihat Elin mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Elin sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Tom merasakan tangan Elin merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Elin. Tom terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Elin.</p>
<p>Tom sekarang ingin membuat Elin orgasme terlebih dahulu. Elin semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Tom, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Tom, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Tom. Sekarang Elin secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Tom, sehingga badan Tom mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Tom terasa semakin keras, sehingga Tom semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Elin dalam-dalam. Elin merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.</p>
<p>Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Elin tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil, &#8220;Ooohhhh&#8230;., aagghh&#8230;, adduhhh..!&#8221;. Kedua pahanya melingkari pantat Tom dan dengan kuat menjepit serta menekan ke bawah, disertai tubuhnya yang mengejang dan kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, benar-benar suatu orgasme yang dahsyat telah melanda Elin. Tom merasakan penisnya terjepit dengan kuat oleh dinding kemaluan Elin yang berdenyut-denyut disertai isapan kuat seakan-akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan dinding vagina Elin dan di ujung sana terasa ada &#8220;tembok&#8221; yang mengelus kepala penisnya.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak dan melihat Elin sudah agak tenang, Tom mulai memompa lagi. Pompaan Tom kali ini segera dibalas oleh Elin, pinggulnya bergerak-gerak &#8220;aneh&#8221; tapi efeknya luar biasa. Penis Tom serasa dilumat dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi, ketika pinggul Elin berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba Tom merasakan penisnya terjepit dengan kuat dan dinding-dinding kemaluan Elin berdenyut-denyut secara teratur, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru kemudian bergoyang aneh lagi. Wah, suatu sensasi melanda perasaan Tom, suatu hubungan kelamin yang belum pernah dinikmatinya dengan wanita manapun juga selama ini. Menyesal Tom karena tidak dari dulu-dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Elin makin bervariasi. Terkadang Tom malah meminta Elin berhenti bergoyang untuk sekedar menarik nafas panjang. Lumatan dinding kemaluan Elin pada penis Tom membuatnya geli-geli dan serasa akan &#8216;meledak&#8217;.</p>
<p>Tom tidak ingin cepat-cepat sampai, karena masih ingin menikmati &#8220;elusan&#8221; vagina Elin. Tetapi gerakan-gerakan di dalam liang kewanitaan Elin semakin menggila dan semakin liar. Hingga akhirnya Tom harus menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, semakin cepat Tom bergerak mengimbangi goyangan pinggul Elin, semakin terasa pula rangsangan yang akan meletupkan lahar panas yang sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat. Dan akhirnya, pada tusukan yang terdalam, Tom menyemprotkan maninya kuat-kuat di dalam liang kewanitaan Elin, sambil mengejang, melayang, bergetar. Pada detik-detik saat Tom melayang tadi, tiba-tiba kaki Elin yang pada awalnya mengangkang, diangkatnya dan menjepit pinggul Tom kuat-kuat. Amat sangat kuat. Lalu tubuhnya ikut mengejang beberapa detik, mengendor dan terus mengejang lagi, lagi dan lagi&#8230;, Elin pun tidak sanggup menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak-beliak, serta keseluruhan tubuhnya bergetar dengan hebat tanpa terkendali, seiring dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Elin. &#8220;Toommm, aduuuh, Toomm, aahhhhh&#8230;, aaduuhh&#8230;, nikmaaatt.., Toomm&#8230;.!&#8221;.</p>
<p>Tom tersenyum puas melihat tubuh Elin terguncang-guncang karena orgasme selama 15 detik tanpa henti-hentinya. Kemudian tangan Elin dengan eratnya menekan pantat Tom ke arah selangkangannya sambil kakinya menggelepar-gelepar ke kiri kanan. Tom pun terus menggerakkan penisnya untuk menggosok klitoris Elin. Setelah orgasmenya selesai, tubuh Elin langsung terkulai lemas tak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan dan kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Elin merasa bagian-bagian tubuhnya seolah terlepas dan badannya tidak dapat digerakkan sama sekali.</p>
<p>Setelah gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Elin kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa dia sedang terkapar di bawah tindihan badan kekar lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja memberikan kepuasan yang tiada tara padanya. Suatu perasaan malu dan menyesal melandanya, bagaimana dia bisa begitu gampang ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar dan Elin mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tubuhnya yang masih menghimpit badan Elin, Tom mencoba membujuknya dengan memberikan berbagai alasan antara lain karena ia terlalu banyak minum sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.</p>
<p>Sambil membujuk dan mengelus-elus rambut Elin dengan perlahan-lahan penisnya mulai tegang lagi dan dengan halus penisnya yang memang telah berada tepat di depan kemaluan Elis ditekan perlahan-lahan agar masuk ke dalam kewanitaan Elin. Pada saat merasakan penis Tom mulai menerobos masuk ke dalam kewanitaannya, Elin bereaksi sedikit dengan mencoba memberontak lemah tapi akhirnya diam pasrah dan membiarkan penis besar tersebut masuk sepenuhnya ke dalam liang kewanitaannya. Dengan perlahan-lahan Tom menggerakkan badannya naik-turun, sehingga lama-kelamaan tubuh Elin mulai terangsang kembali dan bereaksi, dan pergumulan kedua insan tersebut semakin lama semakin seru mendaki puncak kepuasan dan kenikmatan, terlupa akan segala penyesalan. Pertarungan mereka terus berlanjut sepanjang malam dan baru berhenti menjelang fajar menyingsing keesokan harinya.</p>
<p>Pukul 10 pagi keduanya baru terbangun dan terlihat Anita telah berpakaian rapi, sedang menikmati sarapan paginya sambil mengerling ke arah mereka dengan senyum-senyum rahasia. Pada mulanya Elin merasa sangat malu terhadap Anita, tapi melihat reaksi Anita yang seperti itu, seakan-akan mengajak bersekutu, akhirnya Elin menjadi terbiasa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/elin-resiko-perjalanan-dinas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pemerkosaan artis julie estelle</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-artis-julie-estelle.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-artis-julie-estelle.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 08:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artis]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tak kenal dengan Julie Estelle. Seorang model yang cantik sekali , artis yang lumayan bagus aktingnya , sudah bermain di beberapa film seperti kuntilanak , selamanya , Alexandria dan lain lain. Di usianya yang muda , Julie Estelle menjadi artis yang banyak dicari oleh produser film karena setidaknya wajah cantiknya bisa mengundang banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tak kenal dengan Julie Estelle. Seorang model yang cantik sekali , artis yang lumayan bagus aktingnya , sudah bermain di beberapa film seperti kuntilanak , selamanya , Alexandria dan lain lain.</p>
<p>Di usianya yang muda , Julie Estelle menjadi artis yang banyak dicari oleh produser film karena setidaknya wajah cantiknya bisa mengundang banyak penonton ( terutama pria ) untuk datang ke bioskop , apalagi Julie Estelle juga pernah berpose untuk playboy . Bahkan kepopulerannya sudah melebihi sang kakak cathy sharon yang lebih dulu terjun ke dunia entertaintment.</p>
<p>Malam itu , merupakan malam yang melelahkan bagi Julie , hampir seminggu ini ia harus shooting film . Ia sudah membayangkan untuk pulang ke rumah , berendam di tub dengan sedikit aroma therapy yang menenangkan lalu tidur sepuasnya.</p>
<p>â€œakhirnyaâ€¦.â€</p>
<p>Julie bergumam sendiri saat sampai di rumah , seperti biasa ia parkirkan mobilnya ke dalam garasi . rumahnya yang besar terlihat sepi , karena ia tinggal sendiri disana sedangkan pembantu rumah tangga akan datang hanya jika Julie meneleponnya.</p>
<p>Masuk ke dalam rumah . Julie langsung masuk ke kamar tidurnya , ia nyalakan CD musik kesukaanya lalu berbaring dengan santainya di tempat tidur , matanya terpejam namun tak tidur , ia sedangkan menenangkan pikiran dengan mendengarkan musik.<br />
Buah dadanya yang menonjol naik turun seirama dengan tarikan nafasnya.</p>
<p>Beberapa menit ia berbaring lalu bangun menuju kamar mandi yang berada di kamarnya untuk menyiapkan bathtub tempatnya berendam nanti.<br />
Sementara menunggu bathtub penuh , Julie menuju lemari pakaian menyiapkan pakaian tidur , dan bersiap berganti pakaian.</p>
<p>Julie mulai membuka pakaiannya satu persatu , pertama blousenya diikuti oleh roknya. Kini ia hanya mengenakan bra dan celana dalam saja . betapa pemandangan yang menyejukkan mata , melihat kulit putih mulus seorang jullie Estelle yang hanya tertutup pakaian dalam , buah dadanya setengah mengintip di balik bra- nya.</p>
<p>Belum juga Julie melepas pakaian dalamnya , tiba tiba pintu kamarnya terbuka dan masuk dua orang pria menggunakan penutup muka langsung mneyergapnya.</p>
<p>â€œAww..!!! Heiâ€¦..!!!â€</p>
<p>Julie tersentak dan terpekik kaget saat tubuhnya terhempas ke tempat tidur.</p>
<p>â€œhaiâ€¦nona Julie yang cantikâ€¦.!!! Kita udah nungguin kamu dari tadi , heheheheâ€¦â€ kata si jangkung</p>
<p>â€œkita ini penggemar berat kamu loo sayang, heheheheâ€¦â€ sambung boncel</p>
<p>Jangkung dan boncel adalah preman yang sedang bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah rumah yang sedang dibangun , beberapa meter dari rumah jullie Estelle.<br />
Setiap Julie keluar rumah , pandangan mereka tak pernah sedetik pun lepas dari keindahan lekuk tubuh artis cantik itu , dan lama kelamaan rasa kagum mereka berubah menjadi niat jahat untuk memperkosanya.</p>
<p>â€œsiapa kamuâ€¦.??? Mau apa â€¦.???!!! Julie berontak</p>
<p>â€œkami ini sedikit mencicipi tubuh kamu sayangâ€¦â€</p>
<p>â€œwiihhâ€¦kamu ternyata lebih cantik aslinya daripada di Tvâ€¦â€</p>
<p>â€nggak mauâ€¦!!! janganâ€¦tidak&#8230;jangan!!!!â€ Julie menjerit panic</p>
<p>â€cel, kerasin radionyaâ€¦!!!â€ kata jangkung. â€œ kita pesta ngentot artis male mini , hahaha..!!â€ si jangkung menahan tubuh Julie yang terus meronta ronta di tempat tidur.</p>
<p>â€œJanganâ€¦!!!!Tolongâ€¦!!!!â€ Julie berteriak</p>
<p>Boncel menaikkan volume musiknya menjadi lebih keras , lalu membantu angkung yang terus menahan tubuh Julie yang berontak.<br />
Boncel meraih kedua tangan Julie dan mengikatnya di tempat tidur di atas kepala gadis itu. Si jangkung lalu melepas kaitan bra di balik punggung Julie , sehingga buah dada putih dan ranum itu kini terbuka dengan bebasnya.<br />
Dengan tak sabar jangkung mulai meremas remas kedua buah dada itu bergantian.</p>
<p>â€œmmmm..empuk benerâ€¦..!!! nona Julie emang selalu bikin kita â€˜tegangâ€™, apalagi kalo pake baju sexyâ€¦..hmmmmâ€¦.â€</p>
<p>â€œ tidaakkâ€¦.Jangan..!!!tolongâ€¦jangaannâ€¦..â€Julie mulai menangis saat buah dadanya diremas remas , apalagi kini jangkung mulai menjilati dan mengulum dengan asyiknya puting susu yang mulai mencuat.</p>
<p>Puas bermain main dengan buah dada Julie Estelle , jangkung bangkit untuk melepas celananya , dan Julie pun memandang ngeri saat penis pria itu yang berukuran besar sudah berdiri tegak menunggu mangsa. Boncel pun ikut melepas pakaiannya.</p>
<p>â€heheheâ€¦kenapa ngeliatin ajaâ€¦..ga sabar yaâ€¦??â€</p>
<p>jangkung lalu menyentuhkan penisnya ke wajah halus Julie Estelle , pria itu menggeram menikmatinya , penisnya kemudian ia sodorkan ke mulut gadis itu.</p>
<p>â€œayo isep nona cantikâ€¦..!!!â€</p>
<p>Julie menutup rapat mulutnya sambil menahan nafas , penis jangkung terlihat kummel dan baunya tak sedap , sungguh menjijikan bagi Julie Estelle.</p>
<p>â€Isepâ€¦cepattâ€¦!!!!â€ kata jangkung sambil memukul mukulkan penisnya ke bibir Julie yang tertutup rapat.</p>
<p>Smentara itu , boncel melepas turun celana dalam Julie . sempat gadis itu melakukan perlawanan namun mereka terlalu kuat untuknya, apalgi tangannya juga terikat di atas kepala.<br />
Tubuh mulus Julie Estelle kini sudah polos tanpa sehelai benang pun , dan tentu saja hal ini membuat birahi kedua pemerkosanya semakin naik tak terkendali.</p>
<p>Boncel membuka lebar paha Julie , vaginanya ia jilati dengan liar. Kepala boncel seolah terbenam diantara kedua kaki Julie Estelle , vagina artis cantik itu begitu harum karena terawatt dengan baik , boncel pun semakin bernafsu karenanya.<br />
Ia mulai menjilat dan menghisap labianya dan hisapannya makin kuat , ia lalu berhenti sejenak dan berkata,</p>
<p>â€œmmmâ€¦..memek artis emang bedaâ€¦nikmat bangetdâ€¦!!!â€</p>
<p>boncel melanjutkan aksinya menjilati vagina Julie. Sementara jangkung masih berusaha memasukan penisnya kedalam mulut Julie , ia mencubit puting susu Julie dengan keras.</p>
<p>â€œAaaawwwwâ€¦!!!â€</p>
<p>saat mulutnya terbuka , penis jangkung pun dengan cepat menerobos masuk.</p>
<p>â€ayo iseeppâ€¦.tapi awas kalo berani gigitâ€¦..!!!â€<br />
.<br />
Julie sudah ketakutan jika mereka akan bertindak lebih kasar lagi , ia tak punya pilihan selain mengikuti kehendak mereka. Penis di mulutnya ia hisap , oral sex bukan hal yang aneh buat selebritis seperti dia , maka ia pun menggunakan semua pengalamannya dalam urusan sex , agar semuanya cepat selesai.</p>
<p>Penis jangkung , ia hisap dari pelan lalu keras lalu pelan lagi , diselingi pula dengan jilatan jilatan yang menggetarkan jiwa , seandainya tangannya tak terikat ia mampu memberikan pelayanan yang lebih â€œliarâ€ lagi</p>
<p>Di bawah , boncel sudah bersiap siap memasukan penisnya ke liang vagina artis cantik itu.</p>
<p>â€œsiap siap ya nona cantikâ€¦â€¦â€</p>
<p>Dan tanpa menunggu jawaban Julie , penis boncel sudah menyeruak masuk dengan kasarnya.</p>
<p>Julie Estelle menjerit tertahan karena mulutnya tersumpal penis jangkung.</p>
<p>â€œuuhhhâ€¦anjrritt..!!!! enak benerâ€¦â€¦ngentot artis emang yahuudâ€¦..â€</p>
<p>Boncel mulai bergerak maju mundur , menghantam vagina Julie.</p>
<p>Jangkung sudah mencabut penisnya dari mulut Julie , ia membiarkan dulu boncel menikmati tubuh indah itu.<br />
Tubuh mulus Julie terguncang guncang dengan keras sehingga buah dadanya bergoyang menggoda , bibir sexynya tak henti henti merintih dan mengerang.</p>
<p>â€œaawâ€¦..aahhh..aahhhhâ€¦..oohhâ€¦.aaahhhâ€¦.â€</p>
<p>â€œaahhâ€¦ooowhhh..oowâ€¦.aaahhâ€¦ahhhâ€¦â€¦â€</p>
<p>Boncel terus menusukan penisnya semakin dalam dan dalam. Penisnya yang juga berukuran lumayan terasa sempit di vagina itu. Entah karena menikmati atau berharap semuanya cepat selesai , Julie Estelle turut menggoyangkan pinggulnya mengimbangi serangan serangan boncel. Pria ini pun semakin bersemangat dan memacu lebih keras lagi.</p>
<p>â€œooohhhâ€¦â€¦aahhhâ€¦aaahhhhâ€¦ooohhâ€¦.owwwâ€¦.â€</p>
<p>â€œaaahhhâ€¦owwwâ€¦.aahhâ€¦aahhhâ€¦â€¦â€</p>
<p>ekspersi wajah Julie tiba tiba berubah , matanya terpejam dan ia menggigit bibirnya seolah menahan sesuatu . sadar jika korbannya akan orgasme , genjotan boncel semakin cepat dan cepat , hingga Julie pun akhirnya tak tahan lagi.</p>
<p>â€œAaaahhhhhâ€¦â€¦OOhhhâ€¦.â€</p>
<p>Julie menjerit panjang , tubuhnya bergertar dan mengejang , vaginanya pun basah tanda ia telah mencapai orgasme , tubuhnya pun terasa melemah.<br />
boncel kini semakin keras dan kasar menggenjot tubuh Julie untuk mencapai kepuasan , tubuh molek gadis itu terbanting banting karenanya.<br />
Julie sendiri sudah tak peduli lagi , tubuhnya sudah benar benar kehabisan tenaga , menangispun ia tak sanggup.<br />
Akhirnya Julie merasakan cairan hangat menyembur membasahi vaginanya , rupanya boncel sudah mencapai puncak pula , spermanya terasa lengket dan hangat.</p>
<p>â€udah dongâ€¦giliran gueâ€¦..!!!â€</p>
<p>Boncel mencabut penisnya , ia juga melepaskan ikatan Julie karena yakin gadis ini sudah psarah dan tak akan melawan lagi.<br />
Kini giliran jangkung menggenjot tubuh Julie Estelle.</p>
<p>â€bodi kamu emang sempurna bangetâ€¦..!!!â€ kata jangkung kagum sambil meraba raba tiap lekuk indah tubuh Julie.<br />
Jangkung lalu membalikkan tubuh Julie , dan mengelus elus punggung Julie hingga ke pantat.</p>
<p>â€œhmmmâ€¦..gilaaâ€¦.nih pantat, empuk , mulus lagiâ€¦..!!!â€</p>
<p>Jangkung meremas remas bulatan pantat Julie tanpa ada perlawanan dari gadis itu yang memang sudah kehabisan tenaga.<br />
Namun Julie tiba tiba tersentak saat merasakan sebuah batang penis akan merobek pantatnya.</p>
<p>â€œTidaaakkk..Jangannâ€¦Jangann disanaaaa..Jangaannn..!!!â€</p>
<p>Penis jangkung sedang berusaha keras menerobos liang pantat Julie yang sempit , membuat gadis itu menjerit kesakitan.</p>
<p>â€œawwaaâ€¦jangaannnâ€¦sakiitâ€¦ampuunnâ€¦â€</p>
<p>Namun hanya jeritan yang bisa ia lakukan , karena tubuhnya tak mempunyai kekuatan.</p>
<p>â€œpantat kamu pernah dientot , sayangâ€¦???â€ Tanya jangkung</p>
<p>Julie diam tak menjawab , jangkung pun menampar bongkahan pantat Julie dengan keras.</p>
<p>â€œJawwaabbâ€¦!!!â€</p>
<p>â€œawwaâ€¦.!!!! Beeâ€¦belum pernahâ€¦.â€ Jawab Julie pelan</p>
<p>â€œsekarang kamu rasain nihâ€¦.!!!â€</p>
<p>Penis itu akhirnya menyeruak masuk ke pantat Julie dengan keras, membuat gadis itu melolong kesakitan.<br />
Dan jeritan jeritan kesakitan itu tidak berhenti selama penis jangkung terus menerus menghantam pantat Julie Estelle.</p>
<p>Sungguh malang nsaib artis cantik satu ini , sepanjang malam tubuhnya yang putih mulus menjadi bulan bulanan kedua pemerkosanya , tubuhnya digilir hampir tanpa jeda.<br />
Waktu menjelang shubuh saat kedua pria itu meninggalkan Julie Estelle dengan tubuh yang telah basah oleh keringat , buah dadanya terlihat bekas bekas merah juga di lehernya , dan cairan sperma juga membasahi vagina , dan wajahnya ,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-artis-julie-estelle.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asmirandah : the lost of innocence</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/asmirandah-the-lost-of-innocence.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/asmirandah-the-lost-of-innocence.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 08:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/asmirandah-the-lost-of-innocence.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu, Asmirandah baru saja hendak beristirahat sepulang sekolah ketika ada ketukan dipintu rumahnya. Ia pun bergegas membukakan pintu. Ternyata bang Tagor yang ada didepan pintu. â€œEh bang Tagor, ada apa bang?â€ â€œGini Dah, pak Mardi minta non segera ke tempat syuting, katanya shoot kemarin ada beberapa adegan yang harus diulangâ€ kata bang Tagor â€œTapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu, Asmirandah baru saja hendak beristirahat sepulang sekolah ketika ada ketukan dipintu rumahnya. Ia pun bergegas membukakan pintu. Ternyata bang Tagor yang ada didepan pintu.</p>
<p>â€œEh bang Tagor, ada apa bang?â€<br />
â€œGini Dah, pak Mardi minta non segera ke tempat syuting, katanya shoot kemarin ada beberapa adegan yang harus diulangâ€ kata bang Tagor<br />
â€œTapi sekarang kan Andah libur bang, Andah mau istirahatâ€ jawabnya sedikit kesal.<br />
â€œTapi mau gimana lagi, sinetron ini kan kejar tayang, jadi harus dibereskan secepatnya, lagian adegannya gak banyak kokâ€ kata bang Tagor<br />
â€œYa udah, kalo gitu Andah mau panggil mama dulu buat nganter ke tempat syutingâ€<br />
â€œGak usah non, biar bang Tagor yang nganter, nanti aja mama non Andah suruh jemput kalo syutingnya sudah selesaiâ€<br />
â€œYa udah, tunggu yah, mau siap-siap duluâ€ kata Andah sambil bergegas<br />
Setelah bersiap-siap dan berpamitan pada mamanya, Asmirandah pun berangkat ke tempat syuting diantar bang Tagor, yang memang sudah dipercaya baik olehnya maupun mamanya.</p>
<p>Tetapi ketika sampai ke tempat syuting, Asmirandah merasa aneh karena kru yang terlihat amat sedikit, hanya 4 orang ditambah pak Mardi sang sutradara. Apalagi tak ada satupun cast sineton itu yang terlihat di lokasi.<br />
â€œkok cuman sedikit orangnya pak?â€ tanyanya<br />
â€œYah kan syutingnya cuman sebentar jadi gak perlu banyak orang, udah deh kamu siap-siap, tapi make up sendiri aja yah, soalnya Mince telat nihâ€ jawab pak Mardi.<br />
Asmirandah pun lalu memasuki rumah besar yang dijadikan tempat syuting itu. Didalam kamar yang dijadikan ruang ganti pakaian, dia pun lalu berganti pakaian dengan baju yang telah disiapkan, ternyata baju yang disiapkan adalah baju seragam sekolah yang amat minim, iapun lalu memakai seragam itu dan berjalan keluar. Belum sampai keluar rumah, diruang tamu telah menunggu Bang Tagor.<br />
â€œAyo Dah syutingnya di kamar tidur utamaâ€, kata bang Tagor<br />
Dea pun mengikuti ke arah kamar tidur utama yang sangat luas, didalamnya tampak kamera, lighting, dan peralatan tata suara telah diset.<br />
â€œTapi ini adegan yang mana? Terus mana pemain yang lainâ€ tanya Asmirandah<br />
â€œPokoknya kamu duduk dulu diatas ranjang, terus memandang ke kameraâ€ jawab pak Mardi, sementara keempat orang kru, pak Mardi dan bang Tagor semua menatap sebagian paha Asmirandah yang terpampang mulus dengan tatapan yang membuatnya risih.</p>
<p>Ia pun mendapat firasat yang kurang enak, namun dia akhirnya menuruti perkataan sang sutradara. Namun baru saja pantatnya menyentuh ujung tempat tidur, tampak dua orang kru yaitu Heri dan Pardi menghampiri Andah, tampak banyak bicara, mereka mengerubuti dan memegangi kedua tangannya.<br />
â€œAda apa ini, lepasin!â€ teriak Andah sekuat tenaga<br />
Namun bukannya menjawab, mereka malah mengikat kedua tangan dan kaki Asmirandah Dengan tali keujung ranjang besi tersebut, sehingga kedua tangan dan kakinya terpentang lebar membentuk huruf X. Ikatan itu sungguh ketat, sehingga jangankan melepasan diri, untuk bergerak saja sudah sulit.</p>
<p>â€œPak Mardi ada apa ini?â€ tanya Andah yang mulai ketakutan.<br />
â€œTenang aja Dah, kami-kami ini sudah lama punya niat untuk membuat film spesial buat kamu, daripada kamu main sinetron remaja terus, mendingan kamu bikin film bokep aja, nama kamu pasti bakal makin terkenalâ€ jawab pak Mardi sambil terkekeh.<br />
Pucatlah muka Andah mendengar jawaban ini, ia tahu petaka apa yang bakal menimpanya.<br />
â€œTolong pak jangan, saya belum pernah gituanâ€ ibanya<br />
Tetapi bukannya menjawab, para kru justru malah menjalankan kamera dan lampu dan mulai menshoot adegan didepannya. Asmirandah melihat Heri dan Pardi yang telah telanjang bulat mulai menaiki kasur ukuran besar tersebut.</p>
<p>Dia merasa ngeri, baru kali ini ia melihat tubuh pria dewasa yang telanjang. Heri dan Pardi pun memulai operasinya. Tangan Heri mulai membuka kancing seragamnya satu persatu, dan begitu tebuka, iapun menggunting kaos dalam dan BH yang dikenakan Andah dan melepasnya dengan paksa, hingga yang menutupi tubuh bagian atasnya hanyalah seragam yang telah tersingkap lebar. Sementara Pardi menyingkap rok seragam Asmirandah hingga ke perut, dan membelai-belai vagina Andah dari luar celana dalam warna biru yang ia pakai. Kemudian jari-jari tanganya bagaikan ular menyelusup dari samping celana dalamnya dan mengelus-elus bibir vagina Andah.<br />
â€œwaah, toketnya montok banget, kenceng banget lagi, padahal masih cilikâ€, komentar Heri yang tepat berada di depan payudara kanan Andah.<br />
â€œIya nih, udah cantik, toketnya sekel banget, udah gitu putih banget â€œ, tambah si Pardi.</p>
<p>Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Heri langsung menghisap payudara kanan, sedangkan Pardi menghisap payudara kiri Asmirandah. Asmirandah terus meonta-ronta berusaha melepaskan diri, iapun berusaha berteriak, namun Heri segera membenamkan sapu tangan kedalam mulutnya dan membekapnya. Andi, salah seorang kru mendekat, ia meraih gunting yang tadi digunakan Heri, dan mulai menggunting celana dalam Andah yang masih ia kenakan. Karena kedua kaki Andah terentang lebar, begitu ia selesai menggunting celananya, terpampanglah vagina yang merekah berwarna merah muda. Vagina itu tampak begitu menggoda, dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih jarang, sehingga semua orang yang ada di ruangan itu menelah ludah memandangnya. Pak Mardi pun menshoot close up kearah vagina Asmirandah, sehingga di monitor di samping kamera yang sengaja diletakkan menghadap ke arah ranjang, Andah bisa melihat bagaimana vaginanya di close up dan di rekam oleh pak Mardi.â€™<br />
â€œDenger yah, kalo kamu macem- macem rekaman ini bakal saya sebarin di internet, jadi mendingan kamu turuti saja semua perintah kamiâ€ bentak Tagor dari belakang lampu.<br />
Asmirandah pun mulai menangis, jika rekaman ini sampai tersebar, bukan hanya karirnya yang akan hancur, tetapi juga nama baiknya dan keluarganya akan hancur berantakan, mau ditaruh dimana muka ini. Sehingga dia pun lalu mengangguk menurutinya.</p>
<p>Melihat korbannya pasrah, Heri dan Pardi lalu membuka semua ikatan pada tangan dan kaki Andah, dan mengambil saputangan dari mulutnya, merekapun lalu membuka semua sisa pakaiannya, hingga ia telanjang bulat diatas kasur. Heri dan Pardi lalu melanjutkan kegiatannya, sementara Andi yang juga sudah telanjang bulat, mendekati vagina Andah, Kedua tangganya lalu membuka kedua kaki Andah lebar-lebar, dan menguak bibir vaginanya hingga bagian dalam vaginanya merekah dan terlihat. Pak Mardi tak menyia-yiakankan dan terus menshoot vaginanya.<br />
â€œGila bagus banget nih memek, baru kali ini gue ngeliat memek sebagus iniâ€ kata Andi yang mulai menggosok-gosok bibir vagina Andah, hingga artis cantik yang merasakan serasangan dari berbagai arah ini mulai mendesah tak terkontrol.<br />
Andi pun mulai sedikit memasukan jarinya kedalam vagina Asmirandah hingga membuatnya mendesah dan mengangkat selangkangannya kearah tangan Andi.<br />
â€œWuih liat men, dia kayaknya demen nihâ€ ejek Andi.<br />
Merah kuping Andah mendengar ejekan ini, namun tiba-tiba mulut Pardi langsung mencium mulutnya dan lidahnya menyeruak masuk kedalam mulutnya, sementara remasan tangannya pada payudara Andah makin mengeras, sedotan Heri pun makin kencang. Andi pun yang sudah tidak tahan langsung menjilati vagina Asmirandah dengan semangat. Belum pernah ia merasakan ciuman seperti ini sebelumnya, apalagi diserang oleh berbagai rangangan ini, membuatnya mau tak mau harus mengakui bahwa ia menikmati semua perlakuan ini.<br />
Tak lama Pardi bangkit dan menyodorkan penisnya kemulut sang artis.<br />
â€œIsep Dahâ€ perintah Pardi</p>
<p>Sejenak ia hanya menatap ngeri melihat penis Pardi yang berdenyut-denyut, belum pernah Ia melihat penis orang dewasa sebelumnya, karena ragu-ragu, Pardi yang sudah tidak sabar langsung menghujamkan penisnya yang gemuk kedalam mulut Andah. Artis muda cantik yang telah terangsang berat karena jilatan-jilatan lidah Andi pada vaginanya mulai menghisap penis Pardi seperti menghisap eskrim, sehingga Pardi pun merem melek keenakan dan memaju-mundurkan pantatnya, seperti orang yang sedang mengentot. Asmirandah merasakan kepalanya mulai terasa ringan, apalagi ketika lidah andi menerobos masuk kedalam vaginanya dan mengobok-oboknya. Sehingga ia merasakan sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya, dan cairanpun membanjir dari vaginanya, ternyata ia telah merasakan orgasme untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa enak luar biasa. Tapi ia terus melanjutkan hisapannya pada penis Pardi, bahkan menyelinginya dengan jilatan-jilatan.</p>
<p>â€œGila men, isapannya, ternyata dia ahli ngisep kontolâ€ ejek Pardi<br />
Andah tak mempedulikan ejekan itu dan terus menghisap, hingga akhirnya ia merasakan tubuh Pardi bergetar dan tak lama kemudian ia merasakan semburan cairan dalam mulutnya. Cairan itu tersa aneh, asin, gurih dan hangat, Andah pun menelannya dan ternyata ia menyukai rasanya, sehingga ia pun terus menyedot penis Pardi untuk menghisap cairan yang mungkin masih tersisa, hal ini membuat Pardi makin kelojotan.<br />
Pak Mardi yang tidak tahan melihat semua ini segera membuka semua pakaiannya dan naik keatas kasur dan memposisikan dirinya diantara kedua kaki sang artis yang mengangkang.<br />
â€œAwas, gue duluan yang memerawaninya, kan gua sutradaranya!â€ teriak pak Mardi<br />
Iapun lalu menyangkutkan kedua betis Andah ke bahunya yang lebar sambil mengarahkan penisnya ke vagina artis cantik yang baru berusia berusia 18 tahun itu.<br />
â€œPak, tolong jangan, jangan dimasukkin pakâ€ pintanya.<br />
Memang meskipun pernah beberapa kali pacaran, ia belum pernah sampai berhubungan seks, apalagi sekarang ini, Andah lebih berkonsentrasi untuk membangun karirnya, daripada pacaran.<br />
â€œTenang aja Dah, yang penting enak kanâ€ jawab Pak Mardi yang disambut tawa mereka.</p>
<p>Perlahan-lahan sutradara itu mulai menancapkan penisnya pada vagina Andah, namun sulit karena vagina yang masih perawan, terlalu sempit untuk menerima penis sebesar itu. Sementara Heri dan Pardi melotot menyaksikan bagaimana si sutradara gendut separuh baya itu memerawani sang artis cantik yang masih amat muda. Akhirnya Asmirandah merasakan sesuatu yang besar menyeruak kedalam vaginanya. Iapun hampir menjerit karena pedih dan sakit, namun pagutan Heri membungkamnya. Dia merasakan penis itu berdenyut-denyut dalam memeknya, yang dipaksa untuk membuka selebar-lebarnya,selangkangannya seakan terbelah dua.<br />
â€œTenang yah non, sakitnya cuman sebentar kokâ€ kata pak Mardi.<br />
Asmirandah mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang penis Pak Mardi membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke dalam vaginanya<br />
.<br />
Setelah terasa terbiasa, ia mulai memaju mundurkan penisnya dengan perlahan. Dengan menahan rasa sakit, Andah menatap penis pak Mardi yang keluar masuk vaginanyanya, disertai sedikit darah perawan. Tak lama kemudian, pak Mardi mempercepat genjotannya, Andah pun merasakan sedikit nikmat, namun rasa perih masih menguasai, hingga pun menjerit -jerit dan menitikkan air mata. Sementara itu, Heri naik dan mendekati wajah Andah sambil mengelus-elus wajahnya dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Andah menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Heri yang hitam.<br />
â€œAyo dong manis, buka mulut kamuâ€, kata Heri sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Andah.</p>
<p>â€œKamu belum pernah ngerasain punya gue kan?Buka mulut kamu, brengsek!â€ bentaknya ketika melihat Asmirandah tak bereaksi.<br />
Perlahan mulut Asmirandah terbuka sedikit, dan Heri pun langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut yang indah tersebut. Mulut Asmirandah terbuka agar semua batang penis itu masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan itupun mulai bergerak keluar masuk di mulutnya,.</p>
<p>â€œSedotâ€¦iyah gituâ€¦ohhh !â€ lenguhnya sambil meremas rambut gadis itu.<br />
Ketika Pak Mardi masih terus menggenjotnya, Pardi dan Andi ikut menikmati tubuh Andah dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh indah Asmirandah. Mereka mulai dengan memainkan buah dada dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik puting susunya. Mau tak mau, Andah mulai merasakan nikmat, sehingga jeritannya berubah mennjadi erangan tak jelas.</p>
<p>Lima menit kemudian penis Heri menumpahkan lahar panas di dalam mulut Andah.<br />
â€œUuggghhâ€¦asyiknya!,â€ lenguh Heri sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.<br />
â€œAnjing, sip banget nyepongnya, sampai gak tahan lama gueâ€ katanya lagi.<br />
Ketika Heri menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya.<br />
â€œJulurin lidah kamu!â€ perintahnya<br />
Asmirandah yang sudah setengah sadar kerana merasakan kenikmatan yang amat sangat, membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Heri kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Andah, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Andah. Saat itu, tiba-tiba Pak Mardi yang sedang menggenjot vagina Andah berteriak<br />
â€œNgentot!! Keluuarrhh nihâ€¦Aaahhh!â€ Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari vagina Andah, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi, menyemprotkan sperma masuk ke dalam rahim sang artis remaja. Andah berontak ketika menyadari sperma Pak Mardi mengalir masuk ke rahimnya.<br />
â€œPak Jangan keluarin didalam! Nanti saya hamilâ€ Ibanya bercucuran air mata<br />
â€œYa udah, lain kali kita keluarin dalam mulut lu ajaâ€ timpal Andi sambil tertawa-tawa<br />
Andi sekarang ada di antara kaki Andah dan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang vagina yang merekah indah itu. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Andi yang besar itu membuka bibir kemaluan Andah yang masih sempit.</p>
<p>Setelah seluruh penisnya masuk dengan sempurna, ia kemudian memegang pinggul Andah dan berguling kesamping, sehingga tubuh Andah menindih tubuhnya. Sementara bang Tagor yang dari tadi hanya menonton sambil mengoperasikan kamera, mulai bergabung. Ia mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Andah.<br />
â€œDah tau kan non mesti gimana.â€ dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Andah, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testisnya berada di wajah Asmirandah.<br />
Tiba-tiba, ia merasakan ada jari yang mengorek-orek anusnya, ketika ia menoleh, ia melihat Pardi yang meludahi lubang anusnya. Asmirandah tersadar apa yang akan dilakukan Pardi pada dirinya, ketika dirasanya batang penis Pardi mulai menempel di lubang anusnya.<br />
â€œJangan Bang, jangan! Ampun Bang, ampun, janganâ€¦â€<br />
Asmirandah menjerit-jerit ketika kepala batang penis itu berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajahnya pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan itu mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Pardi hanya mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Andah tanpa peduli jerit kesakitan gadis itu. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Andah. Hingga akhirnya seluruh batang penis itu masuk, Andah hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.</p>
<p>Pardi beristirahat sejenak, beradaptasi sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Andah menjerit-jerit, bahkan kenikmatan yang ia rasakan dari genjotan Andi pada liang vaginanya, tidak bisa meredam rasa sakit yang ia rasakan pada anusnya.. Pardi terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat sang artis. Jadilah tubuh seksi dan putih itu digarap dari tiga arah, oleh Andi, Bang Tagor, dan Pardi. Setelah beberapa menit, Andah sudah mulai dapat merasakan kenikmatan dari penis-penis itu dan secara tidak sadar mulai menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p>Mulanya Andah digenjot secara perlahan-lahan, akan tetapi kecepatannya terus ditingkatkan sehingga sampai suatu titik tertentu yang dapat membuat perasaannya terbang ke langit karena nikmatnya. Hal ini berlangsung selama 15 menit, hingga akhirnya Pardi mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Andah, kemudian menyembur ke pantat dan mengalir turun ke pahanya. Setelah beberapa lama, Andah merasakan tubuh Andi mengejang dan erangan nikmat keluar dari mulutnya. Sperma laki-laki itu menyembur masuk sebanyak-banyaknya ke dalam lubang vaginanya. Sambil terengah-engah ia menarik batang kemaluannya yang berlumur sperma dan darah perawan keluar dari tubuh Andah.</p>
<p>Sebelum artis muda itu sempat menarik nafas, Heri mengambil giliran selanjutnya dan dengan kasar ia juga mendorong batang kemaluannya masuk ke liang anus Andah yang masih meneteskan sperma. Heri kemudian menarik tubuhnya hingga Asmirandah terbaring telentang menindih tubuh Heri. Rasa sakit itu sekarang sudah berkurang tapi tetap menyakitkan sementara Heri tanpa peduli terus mendorong dan menarik batang kemaluannya. Andah memejamkan matanya berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan ngilu yang menyerang seluruh tubuhnya.</p>
<p>Sementara Bang Tagor yang masih belum orgasme, berjongkok di hadapan Andah, batang kemaluannya sudah tegang dan keras ketika ia tersenyum menyeringai pada si artis, ia lalu mengarahkan batang penisnya ke belahan vagina yang terpampang indah didepannya. Dengan satu dorongan keras batang kemaluan itu merobek masuk ke lubang vagina. Tubuh Andah terasa tersobek-sobek menerima sodokan dari dua arah itu. Terutama ketika batang kejantanan itu masuk ke dalam lubang anusnya yang kering dan sempit. Penis yang bergerak keluar masuk itu terasa seperti besi panas yang membuat nafasnya terputus-putus. Hal ini membuatnya menjerit kecil karena merasa sakit dan nikmat sekaligus. Asmirandah pun mulai meracau, â€œAhhâ€¦, ahhâ€¦, ohâ€¦, ohâ€¦,â€ Inginnya ia menjerit nikmat, tapi mana mungkin ia mengaku bahwa ia mulai menikmati perkosaan itu.</p>
<p>Mulutnya tidak berhenti-henti mengeluarkan suara erangan nikmat dan juga kata-kata yang menggambarkan kenikmatan yang tiada tara. Melihat si artis cantik yang sudah seperti orang yang kerasukan setan nikmat itu, semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.<br />
â€œGila, keenakan diaâ€<br />
â€œTau nih, tadinya pura-pura gak mau,sekarang malah ketagihanâ€<br />
â€œGue yakin abis ini dia malah bakal minta kita buat ngentotin dia!â€<br />
â€œDasar artis, di depan aja sok alim, sok imut, padahal kalau udah gini sama aja sama perek!â€<br />
Kata kata yang entah diucapkan oleh siapa itu membuat kuping Andah terasa panas. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu yang terjadi kok. Andah bahkan mulai melingkarkan tangannya ke leher Bang Tagor yang ada di atas tubuhnya dan menariknya mendekat, lalu menciumi bibir laki-laki itu tanpa canggung. Ia juga melingkarkan kakinya ke tubuh laki-laki itu. Selain itu, Andah juga melingkarkan dan mengunci kakinya ke pantat dan menariknya hingga penis Bang Tagor itu masuk lebih dalam ke dalam vaginanya, dibarengi olehnya dengan mengangkat pinggulnya. Sebelah tangan Andah mengusapi rambut Bang Tagor itu sementara yang lainnya merabai pundak dan punggungnya. Ia menciumi dan mengulum lidah laki-laki itu sembari mengeluarkan erangan, ia benar -benar telah menikmati semuanya, naluri seks dalam dirinya telah bekerja sedemikian hebat membuatnya lupa akan rasa malu dan harga dirinya. Beberapa menit kemudian jeritan Andah hanya tinggal erangan dan rintihan tapi genjotan bang Tagor bukannya berhenti tapi justru bergerak makin cepat. Tak lama kemudian, Bang Tagor menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Andah, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.</p>
<p>Kepala Asmirandah terdongak dan lenguhan keras terdengar panjang keluar dari mulutnya. Bang Tagor mengejang beberapa saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina si artis cantik.<br />
â€œUuggghhâ€¦asyiknya!â€ lenguh Bang tagor sambil menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma.</p>
<p>Heri pun akhirnya tak tahan juga, penisnya serasa diremas kuat oleh dinding anus yang bergerinjal-gerinjal dan sempit itu. Penisnya memuntahkan sperma hangat ke dalam pantat artis muda itu, ia menekan dalam-dalam penis itu selama mengeluarkan isinya hingga akhirnya penisnya menyusut lalu ditariknya lepas. Asmirandah sekarang tergeletak tak bergerak di atas ranjang dengan sperma mengalir keluar dari vagina dan anusnya. Tubuhnya kesakitan seperti baru saja dipukuli. Ia mengerang lirih ketika dua orang menarik tangannya dan melemparkan bajunya.</p>
<p>â€œWuih makasih banget yang Dah, udah mau ngelayanin kita semua. Tenang aja, nih rekaman gak bakal kemana-mana kok, asal kamu juga mau tutup mulut soal semua ini.â€ kata Pak Mardi sambil tersenyum.<br />
Tanpa menjawab, Asmirandah memakai kembali semua pakaian, yang ia pakai ke tempat syuting. Minus BH dan celana dalamnya yang telah digunting oleh para pemerkosanya. Sambil menahan isak tangis, ia berjalan keluar dari rumah tersebut, diiringi senyuman para kru sinetron bejat yang baru saja menggarap tubuhnya habis-habisan.<br />
Diluar, masih ada seorang kru yang tidak ikut memperkosanya, namanya Fandi.</p>
<p>â€œNon Andah, maafin saya yah, gak bisa bantu. Saya udah coba mencegahnya, tapi saya diancam akan dipecat dan dibunuh kalo saya coba melaporâ€ katanya sedih sambil membantu Asmirandah berjalan kearah mobil dinas PH tersebut.<br />
â€œSini non, saya anter pulang ke rumahâ€ kata Fandi sambil membuka pintu belakang mobil tersebut<br />
Asmirandah pun naik kedalam mobil berlogo tersebut, ia tidak bicara apa-apa karena pikirannya masih berkecamuk, antara sedih, marah, dendam, tapi anehnya ketika mengingat semua peristiwa yang baru saja terjadi itu, tanpa sadar sebuah senyum terpampang diwajahnya. Ia menyeka vaginanya yang hanya ditutupi oleh rok pendeknya sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja ia alami di sekujur tubuhnya.</p>
<p>Terasa benar ada cairan kental yang hangat dan sedikit gatal menggelitik memenuhi vaginanya. Ia menggerakkan tangan untuk menyeka bibir vagina itu dan tangannya pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana. Tanpa sadar ia kemudian memasukkan jemarinya tersebut kedalam mulutnya, dan merasakan sperma dari beberapa lelaki yang barus saja menggarapnya itu.<br />
â€œehhm, enakkâ€¦â€ desahnya dalam hati.</p>
<p>Sepertinya lain kali, ia tidak perlu dipaksa untuk melakukan gangbang lagi. Bahkan dengan senang hati akan melakukannya. Mobil itupun terus berjalan menembus malam, menuju rumah sang artis Asmirandah. Sejak itulah Asmirandah mulai menjadi budak seks Pak Mardi, Bang Tagor dan kru-kru lainnya. Pak Mardi bahkan bertindak sebagai germo yang menjualnya dengan harga tinggi ke para eksekutif dan pejabat-pejabat tinggi. Namun di depan publik, Andah tetaplah Andah yang memiliki imej sebagai cewek imut, alim, dan innocent, karirnya pun makin melesat dan mulai merambah layar lebar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/asmirandah-the-lost-of-innocence.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperkosa calon pengantin</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/default-memperkosa-calon-pengantin.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/default-memperkosa-calon-pengantin.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/2009/11/14/default-memperkosa-calon-pengantin/</guid>
		<description><![CDATA[Aku pernah berbagi kisah dengan teman-teman pembaca semua, dan aku akan melakukan hal yang sama sekarang untuk yang kedua kalinya. Statusku yang bebas (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif. Pengalaman ini terjadi pada tahun 1999 di bulan November, dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku pernah berbagi kisah dengan teman-teman pembaca semua, dan aku akan melakukan hal yang sama sekarang untuk yang kedua kalinya. Statusku yang bebas (mahasiswa perantau) membuatku tidak terbatas dalam berbagai aktifitas, walau seringkali diantaranya bermuatan negatif. Pengalaman ini terjadi pada tahun 1999 di bulan November, dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Merupakan pemandangan langka kalau Surabaya dicurahi hujan, karena lebih sering kota ini berada dalam kondisi kering. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berkeliling mengitari Surabaya karena suhunya agak bersahabat.</p>
<p>Aku berkeliling dengan menggunakan angkutan umum, ke tempat-tempat favorit dan belum pernah kujalani sebelumnya. Kali ini aku bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar melirik-lirik wanita putih mulus dan trendy. Entah kenapa sejak dulu aku terobsesi dengan wanita Chinese yang menurut pandanganku adalah tipikal sempurna dalam banyak hal. Di lantai paling atas, mataku tertuju kepada seorang gadis cantik dan seksi, sedang makan sendirian, tak ada teman. Dengan teknik yang biasa kulakukan, kudekati dia. Kami berkenalan sejenak dan dia menawariku ikut makan. Aku bilang aku sudah kenyang. Dia bernama Nina **** (edited). Kami seumuran atau paling tidak dia lebih tua dua tahun dariku. Setelah ngobrol agak lama, dengan mengeluarkan jurus empuk tentunya, dia mengajakku pulang bersama, karena aku mengaku akan menunggu angkutan sampai hujan reda.</p>
<p>Akhirnya, aku pun setuju, dan segera berangkat bersamanya. Di dalam mobil, aku tak bisa tenang karena ketika menyetir, aku bisa melihat dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit menguasai kemudi. Tapi dia tidak menyadari itu, karena aku tahu dia tidak akan suka. Hal itu kusadari dari pembicaraan sebelumnya. Dia kelihatannya wanita baik-baik. Tapi konsentrasiku sangat terganggu apalagi jalanan di kota Surabaya yang tidak rata membuat dada indah yang bersembunyi di balik bajunya bergoyang-goyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang sangat merangsang. Akhirnya timbul pikiran jahat di otakku.<br />
&#8220;Aku pindah ke belakang ya..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Aku ngantuk, mau tiduran, nanti turunkan aku di jalan Kertajaya&#8221;, kataku berpura-pura.<br />
Saat itu sejuta rencana jahat sudah merasuki otakku.<br />
&#8220;Ok, tapi kamu jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya susah&#8221;, katanya polos.</p>
<p>Di kala otakku sudah kesetanan, tiba-tiba&#8230;<br />
&#8220;Jangan berisik atau pisau ini akan merobek lehermu&#8221;, ancamku seraya menempelkan pisau lipat yang biasa kubawa. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak di Medan dulu.<br />
&#8220;Don&#8230; apa-apaan nihh..?&#8221; teriaknya gugup, karena terkejut.<br />
&#8220;Aku peringatkan, diam, jangan macam-macam!&#8221; bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat.<br />
Aku sudah kehilangan keseimbangan karena nafsu.<br />
&#8220;Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke daerah Petemon&#8230; cepat..!&#8221;<br />
&#8220;Ehh.. iiya.. iyahh&#8230;&#8221; jawabnya dengan sangat ketakutan.<br />
Tas yang tadi diletakkan di jok belakang segera kubuka. Seluruh uang dan kartu kreditnya langsung berpindah ke kantongku.<br />
&#8220;Bawa ke Pinang Inn&#8230; cepat!&#8221; bentakku lagi.<br />
Kali ini aku sudah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan sesekali memandangiku, seolah minta dikasihani.<br />
&#8220;Jangan mencoba membuat gerakan macam-macam&#8230; atau kamu kulempar ke jalan&#8230; mengerti?&#8221; ancamku lagi sambil berganti posisi.</p>
<p>Aku mengambil alih kemudi. Entahlah, saat itu aku merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menari-nari di otakku. Dia hanya membisu, dengan tubuh gemetar menahan rasa takut. Tiba-tiba HP-nya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan sampai pecah.<br />
&#8220;Ingat&#8230; jangan bertindak aneh-aneh&#8230; kalau masih ingin hidup&#8230;&#8221; pesanku sesampainya di parkiran Pinang Inn.<br />
Mobil langsung masuk garasi, dan aku menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.<br />
&#8220;Keluar&#8230;!&#8221;</p>
<p>Dengan wajar kugandeng dia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh dia telentang di kasur yang empuk. Kunyalakan TV channel yang memutar film-film biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Dia kelihatan semakin ketakutan, ketika melihatku langsung membuka baju dan celana. Dengan hanya menggunakan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesek-gesek di sekitar dadanya.<br />
&#8220;Agar proses ini tidak menyakitkan, kamu jangan bertingkah.. atau besok mayatmu sudah ditemukan di laut sana&#8230; paham?&#8221;<br />
&#8220;Don.. ke.. ke&#8230; napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku?&#8221; dengan ketakutan dia berusaha membuatku luluh.<br />
&#8220;Salahmu adalah&#8230; kamu memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar&#8230;&#8221;</p>
<p>Segera, seluruh bajunya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari bagian luar sampai dalamnya. Kini dia telanjang bulat di antara serpihan pakaian mahal yang kusayat-sayat. Dia menagis, mata sipitnya bertambah sipit karena berusaha menahan air mata yang mulai mengalir deras ditingkahi isaknya yang sesenggukan. Sejenak aku tertegun menyaksikan keindahan yang terpampang di hadapanku. Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan&#8230; ups&#8230; liang kemaluannya yang merah muda bersembunyi malu-malu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya.<br />
&#8220;Jangann Don&#8230; kumohon jangan&#8230;&#8221; pintanya memelas. Aku sudah tidak peduli.<br />
&#8220;Hei&#8230; Nin&#8230; bisa diam nggak? Mau mati? Hah&#8230;?&#8221; ancamku sambil menampar pipinya. Wajahnya sampai terlempar karena aku menamparnya cukup keras.<br />
&#8220;Silakan menjerit&#8230; ini ruangan kedap suara&#8230; ayo&#8230; menjeritlah&#8230;&#8221;, ejekku kesenangan.</p>
<p>Segera kulebarkan pahanya, kuelus permukaan kemaluannya dengan lembut dan berirama. Sesekali dia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Aku terus mengelus kemaluan itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Dia hanya bisa mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke sela paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang kemaluannya, indah sekali. Seumur hidup, baru kali ini aku melihat kemaluan wanita seindah itu. Bentuknya agak membukit mungil, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas. Bibir kemaluannya kupegang, kemudian lidahku kujulurkan memasuki lubang yang nikmat itu. Kujilati dengan perlahan, mengitari seluruh permukaannya.</p>
<p>&#8220;Shhh&#8230; Don&#8230; Donhh.. jangaaann&#8230; sshh&#8230;&#8221; Nina sampai terduduk.<br />
Ada sesuatu yang lucu. Dalam situasi itu sempat-sempatnya dia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku sesekali. Dalam hati aku tertawa, &#8220;Dasar wanita&#8230; munafik.&#8221;<br />
&#8220;Ayo&#8230; Nin&#8230; ayo&#8230;&#8221; kataku pelan mengharap cairan itu segera keluar membasahi kemaluan indahnya. Saat itu kesadaranku perlahan hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, namun tetap tegas agar Nina tidak bertindak ceroboh.</p>
<p>Kali ini lidahku mengait-ngait klitorisnya beraturan namun dengan arah lidah acak. Dia makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali.<br />
&#8220;Lho&#8230; diperkosa kok malah enjoy&#8230; ayo.. nangis lagi&#8230; mana&#8230;?&#8221; olokku.<br />
&#8220;Don&#8230; jangannhh.. janganh&#8230;&#8221; balasnya malu-malu, berusaha menggeser kepalaku dari selangkangannya. Tapi setelah kepalaku digerakkan ke samping, malah ditariknya lagi hingga mulutku langsung terjatuh di bibir kemaluannya. Aku pun paham, dia ingin menunjukkan ketidaksudiannya, namun di lain pihak, dia sangat menginginkan sensasi itu.<br />
&#8220;Nih.. aku kasih bonus.. silakan menikmati&#8230;&#8221; kataku sambil melanjutkan jilatanku.<br />
Sementara tanganku yang kiri membelai payudaranya bergiliran secara adil. Kiri dan kanan. Sementara tangan kananku kuletakkan di bawah pantatnya. Pantat seksi itu kuremas sesekali.<br />
&#8220;Oghhh&#8230; sshhh&#8230;&#8221;<br />
Nina menggelinjang menahan nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat dia lupa kalau sekarang dia dalam keadaan terjajah. &#8220;Sshhh&#8230; terrusshh&#8230;&#8221;</p>
<p>Perlahan lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir bening itu mengalir membasahi liang kemaluannya yang semerbak.<br />
&#8220;Donnhhh&#8230; Donhhh&#8230;&#8221; Dia berteriak di sela orgasmenya yang kuhadiahkan secara cuma-cuma.<br />
&#8220;Aduh.. Nin.. yang benar aja dong&#8230;&#8221; ringisku karena saat orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.<br />
&#8220;Maaf&#8230; maaf Donhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku berhenti sesaat untuk memberinya waktu istirahat. Aku berdiri di samping ranjang. Dia terkulai lemas. Pahanya dibiarkan terbuka. Kemaluan genit itu sudah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Namun aku berusaha menahan, agar pemerkosaan ini tidak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sejenak. Dia sudah tidak melakukan perlawanan apa-apa, pasrah.</p>
<p>&#8220;Don&#8230; aku tahu kamu sebenarnya baik, jangan sakiti aku yah&#8230; aku mau menemani kamu di sini, asal kamu tidak melukai aku&#8230;&#8221; pintanya sambil mengubah posisi telentangnya menjadi duduk melipat lututnya ke bawah pantat. Liang kemaluannya agak tersembunyi sekarang.<br />
&#8220;Kamu masih <span>perawan</span> nggak?&#8221; tanyaku ketus.<br />
&#8220;Iyah.. masih&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Nah.. sayang sekali, kalau mulai besok kamu sudah menyandang gelar tidak <span>perawan</span> lagi&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230;&#8221; dia tercekat.<br />
&#8220;Don&#8230; semua uang tadi boleh kamu ambil.. tapi mohon jangan yang kamu sebut barusan&#8230; empat hari lagi aku menikah Don&#8230; kumohon Don&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ah&#8230; daripada cowok lain yang merasakan nikmatnya darah segar kamu, mending aku curi sekarang&#8230;&#8221; kataku cepat sambil mendekatinya lagi.<br />
&#8220;Don&#8230; jangan&#8230; kumohon&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Diam!&#8221;<br />
&#8220;Ingat&#8230; pisau ini sewaktu-waktu bisa mengeluarkan isi perutmu&#8230;&#8221; ancamku.<br />
Nina terkejut sekali, karena menyangka aku sudah berbaik hati. Padahal aku juga tidak sungguh-sungguh marah padanya. Mungkin karena aku yang sudah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan.</p>
<p>&#8220;Sekarang giliranmu&#8221;, kukeluarkan batang kemaluanku yang sudah agak terkulai.<br />
&#8220;Kupikir aku nggak perlu menjelaskan lagi cara membangunkan preman yang satu ini&#8230;&#8221; kataku sambil mengarahkan kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar. Sejenak dipandanginya diriku. Tanpa berkata apa-apa dia memegang batang kemaluanku dan mengocoknya perlahan. Dikocoknya terus sampai perlahan, si batang andalanku naik.<br />
&#8220;Cuma itu?&#8221; tanyaku lagi.<br />
Dibuka mulutnya dengan ragu-ragu, kebetulan sekali adegan di TV channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Aku sebenarnya ingin tertawa. Tapi kutahan, karena gengsi kalau dia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Aku berdiri di atas ranjang. Dia berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.</p>
<p>&#8220;Ahhh&#8230;&#8221; aku mengerang merasa nikmat sekali.<br />
Kulihat matanya sesekali melirik TV. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Tapi dia tidak berani menatap wajahku.<br />
&#8220;Auhhgghh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Jangan dilepas&#8230;&#8221; seruku tertahan.<br />
Aku jongkok dengan mengarahkan kepala ke sela pahanya. Aku telentang di bawah. Posisi kami sekarang 69. Sewaktu berputar tadi dia menggigit kemaluanku agar tidak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir kemaluan tepat di atas wajah, kujilati dengan mantap. Kali ini gerakan lidahku liar mengitari permukaan kemaluannya. Sesekali kusedot bukit kecil itu sambil memasukkan hidungku yang kebetulan mancung ke lubang senggamanya.</p>
<p>&#8220;Oghhh&#8230; Ahhh&#8230;&#8221; Kami berseru bersahutan. Kubalikkan tubuhnya. Sekarang dia ada di bawah, namun tetap 69. Kali ini aku lebih leluasa menjilati kemaluannya.<br />
&#8220;Augghhh&#8230; Donhh&#8230; enakkhh&#8230; terusshh&#8230;&#8221; pintanya.<br />
Lalu kembali menyantap batang kemaluanku dengan garang. Sesekali aku merasakan gigitan kecil di sekitar kepala kemaluan. Pintar juga dia, pikirku dalam hati.</p>
<p>Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan menari di dalamnya. Pantatku kugoyang naik-turun agar sensasi batang kemaluan yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang kemaluan itu, jari-jariku mempermainkan bibir kemaluannya.<br />
&#8220;Ougghh&#8230; Don&#8230; enakkhh.. Donnhh.. ahhhh&#8230; Donnhh&#8230;&#8221; serunya dibarengi aliran hangat yang langsung membanjiri lembah merah muda itu.<br />
&#8220;Sekarang waktunya Nin.&#8221;</p>
<p>Aku mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Dia masih telentang. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang sudah mengeras sempurna beradu dengan klitorisnya yang menegang. Dia setengah duduk dengan menahan tubuhnya pakai siku tangan, dan ikut menyaksikan beradunya batang kemaluanku dengan klitorisnya yang sudah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang kemaluannya.</p>
<p>&#8220;Jangann&#8230; kumohon Donh&#8230; jangan..&#8221; serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku.<br />
&#8220;Aku bersedia memuaskan nafsumu, dengan cara apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya? Kalau dari anus mau nggak?&#8221; tantangku.<br />
Tapi sebenarnya aku tidak lagi perduli karena kemaluanku sudah minta dihantamkan melesak lubang kemaluannya.<br />
&#8220;Yah.. terserah kamu Don..&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak.. mau&#8230; aku cuma mau yang ini, ini lebih enak..&#8221; teriakku sambil menunjuk liang kemaluannya.<br />
&#8220;Nih.. pegang.. masukin&#8230;.&#8221; Dengan ragu dipegangnya batang kemaluanku.<br />
&#8220;Don&#8230; apa tidak ada cara lain?&#8221;<br />
&#8220;Cara lain? Ada-ada saja kamu&#8230; Hei&#8230; kamu jangan bertingkah lagi ya&#8230; jangan sampai kesabaranku hilang. Kamu beri satu milyar pun sekarang aku nggak bakalan mau melepaskan punya kamu itu sekarang. Aku sudah nggak tahan&#8230; paham&#8230; paham? paham..?&#8221; bentakku dengan nada suara lebih meninggi. Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya.<br />
&#8220;Donn&#8230; sakitt.. jangann&#8230;&#8221; rintihnya ketika pisau tadi melukai dada putihnya. Aku terkesiap. Namun tak peduli.<br />
&#8220;Ayo.. dimasukin&#8230;&#8221; kali ini pisau kutekan lagi.<br />
Darah segar mengalir perlahan dari luka yang kuperbesar, walau tidak begitu parah.</p>
<p>Dengan berat disertai ketakutan, dipegangnya kemaluanku. Diarahkannya ke liang kemaluannya.<br />
&#8220;Sulit&#8230; sakitt.. Don.. ampunn.. Don&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Pegang ini&#8221;, kataku tidak sadar karena memberikan pisau itu ke tangannya. Dia juga tidak menyadari kalau sedang memegang pisau. Lucu sekali. Aku hanya bisa tersenyum kalau mengingat masa itu. Aku menunduk dan menjilati kemaluannya. Dia melihatku menjilati barangnya. Sesekali kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti aku merasa sudah memiliki mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah.<br />
&#8220;Augghhh&#8230; Ahhh&#8230;&#8221; jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tidak sebanyak yang tadi. Aku kembali duduk menghadap selangkangannya. Tiba-tiba aku sadar kalau sebilah pisau ada di tangannya. Segera kuambil dan kulempar ke lantai. Dia juga baru sadar setelah aku mengambil pisau itu. Namun sepertinya dia memang sudah takluk.</p>
<p>&#8220;Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak&#8230;&#8221; kataku sambil menunjuk kemaluannya. Kami sama-sama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke kemaluannya. Sesekali dia juga ikut mengusap batang kemaluanku dengan air ludah yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Aku memandanginya dengan sayang. Dia juga seolah mengerti arti tatapanku itu. Aku segera mengecup bibirnya. Dia membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya.<br />
&#8220;Ayo dicoba lagi..&#8221;<br />
Kali ini dipegangnya kepala kemaluanku. &#8220;Ah&#8230; Shhh&#8221;<br />
Dan.., &#8220;Oogghhh&#8230; aaahhh&#8230; Shh&#8230;&#8221;</p>
<p>Kepala kemaluanku masuk perlahan. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi perlahan. Dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Sesekali nafasnya kelihatan sesak. Namun ada juga desah liar terdengar lirih.<br />
&#8220;Donnhh&#8230; aku benci.. kaaamu&#8230;&#8221;<br />
Kusodok terus, sampai akhirnya semua batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Aku tahu itu sakit. Namun mau bilang apa, nafsuku sudah di ujung tanduk.<br />
&#8220;Brengsek&#8230; Donhh.. baajingann.. kamu.. shhh&#8230; oghh&#8221;,<br />
Aku tak peduli lagi umpatannya. Yang kurasakan hanya nikmat persenggamaan yang benar-benar beda. &#8220;Shhh.. shhh&#8230; Donhh&#8230; Donhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Kupeluk dia erat-erat. Goyanganku makin liar. Aku hanya bisa mendengar dia mengumpat. Sesekali kupandangi wajahnya di sela nafasku yang ngos-ngosan. Beragam ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, tapi ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titik-titik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang kemaluan dan liang kewanitaannya. Seketika tagisnya meledak. &#8220;Donhh&#8230; bajingann.. kamuu&#8230; jahatt.. kamu Don.. ahhh.. uhh&#8230;&#8221; dia memukul dadaku keras sekali.</p>
<p>Tangisnya makin menjadi. Aku iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang kemaluannya. Darah segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat tenaga ketika spermaku muncrat. &#8220;Ahhh&#8230; ahh&#8230;&#8221; Air maniku memancar keras membasahi dada dan sebagian wajahnya. Dia menangis sesenggukan.<br />
&#8220;Nikmatnya memek <span>perawan</span> kamu Nin&#8230;&#8221; kataku tersenyum senang.<br />
Aku langsung menjilati darah segar yang sudah membasahi pahanya. Segera kugendong dia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan dia. Kuambil kertas toilet dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar kemaluannya dengan lembut. Darah di dadanya yang sudah mengering juga kulap dengan hati-hati.</p>
<p>&#8220;Kamu puas sekarang&#8230; bukan begitu Don?&#8221; ejeknya di sela tangisnya.<br />
Aku terdiam. Aku merasa menyesal. Tapi mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur. Kubersihkan semua darah itu sampai tidak berbekas. Kujilati lagi kemaluannya dengan lembut. Aku tahu, yang ini pasti tidak bisa ditolaknya. Benar, dia mulai bergetar. Dipegangnya tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, malah jemariku dituntunnya ke sepasang dada montok miliknya. &#8220;Ahhh&#8230; shhh&#8230; sekalian ajaa.. Don.. hamili.. aku.. biar kamu.. lebih&#8230; puass&#8230;&#8221; katanya sambil mengangis lagi.</p>
<p>Aku sungguh tak mengerti. Terus terang di sana aku seperti orang bodoh. Tapi dengan santai kujilati terus kemaluannya. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocok-kocoknya perlahan. Kemaluanku sudah terkulai. Lama dia mencengkeram kemaluanku sampai akhirnya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi dia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan berciuman lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya nikmat sekali melebihi minuman ringan apapun. Ketika aku berada di bawah, aku juga menelan semua liurnya tatkala dia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah dia marah atau bagaimana. Sepanjang dia merasa bebas, aku melayaninya. Hitung-hitung balas budi. Hehehe&#8230;</p>
<p>Aku bergerak ke bawah, menjilati tiap inci sel kulitnya. Lehernya bahkan kuberi tanda cupangan banyak sekali, walau aku tahu empat hari lagi dia akan menikah. Peduli setan.<br />
&#8220;Ahh.. Don&#8230; hhhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt&#8221;, serunya tertahan ketika putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang kemaluannya yang masih basah. Aku terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan nakal. Sesampainya di sela paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang kemaluan yang kumakan tadi. Kali ini bentuknya sudah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, namun tidak berdarah. Segera kujilati lagi untuk kesekian kalinya. &#8220;Donn.. enakhh.. nikmathh&#8230;&#8221;</p>
<p>Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati kemaluannya sesekali. &#8220;Aduhhh&#8230; duh&#8230; enaknyaa&#8230; Don.. jangan&#8230; berhenti&#8221;, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku. Kutindih dia dan kuarahkan batang kemaluanku. &#8220;Uhhh&#8230; ssshh&#8221;, serunya sesak ketika batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja aku semakin beringas. Siapa tahan.</p>
<p>&#8220;Donhhh&#8230; bajiingann!&#8221; untuk kesekian kalinya dia mengumpatku.<br />
Entah apa maksudnya. Kali ini dia sangat menikmati permainan (setidaknya secara fisik, entahlah kalau perasaannya). Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.<br />
&#8220;Nin&#8230; punyaahh.. kamuu&#8230; assiikkh.. ahh&#8221;, seruku ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik dia, sehingga sekarang posisinya di atas.<br />
&#8220;Don.. aku.. akan.. bunuh&#8230; kamuu.. suatu.. saat..&#8221;<br />
&#8220;Silakan.. saajahh&#8230;&#8221;<br />
Kami berdua berbicara tak karuan.<br />
&#8220;Oughhh&#8230; aihhh.. sshh&#8221;, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulu-bulu dadaku. Aku merasa kesakitan. Tapi biarlah. Dia sepertinya sangat menyukai.<br />
&#8220;Donh&#8230; kamu&#8230; kamu&#8230;&#8221; dia tidak melanjutkan kata-katanya.</p>
<p>Tiba-tiba.., &#8220;Donhhh&#8230; Donhhh&#8230; bajingan&#8230; ah&#8230;&#8221; serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia kembali orgasme. Tapi goyangannya tidak surut. Kucabut batang kemaluanku dan menyuruhnya membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, &#8220;Oughhh&#8230; oughhh&#8230; oughhh&#8230; oughhh&#8230;&#8221; tiap sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tiba-tiba aku didorongnya dan dia berdiri di hadapanku. Aku ditamparnya keras dan memelukku erat. Ditariknya aku ke ranjang dan memegang kemaluanku. Ditindihnya aku, dia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya.</p>
<p>&#8220;Rasakan nihhh&#8230; bajingan&#8230; shhhh&#8221;, teriaknya sambil menari-nari di atasku. Aku tahu dia akan orgasme lagi.<br />
&#8220;Aduh..Nin..&#8221; pekikku tertahan ketika sekarang dia malah menggigit punggungku.<br />
&#8220;Don&#8230; Don&#8230;&#8221; dia berseru kencang dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga dia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini aku bisa menyodoknya dengan sangat keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat tenaga.<br />
&#8220;Nin&#8230; ahshhh&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Donhhh&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku mengeluarkan sperma di dalam kemaluannya. Dia memelukku erat sekali. Kami berdua ngos-ngosan. Kuangkat dia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan pelan. Kutarik sprei itu karena sudah berisi noda darah dan bercak cairan yang beragam. Kami tergeletak berdampingan, tanpa pakaian.<br />
&#8220;Don&#8230; kamu berhutang padaku, suatu saat aku pasti menagihnya.&#8221;<br />
&#8220;Hutang apa?&#8221; tanyaku.<br />
Dia tidak menjawab. Dengan perlahan dia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang cantik. Tampak lelah. Hmm&#8230; beruntung sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus indah dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk dia. Aku membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama.</p>
<p>Besoknya kami bangun bersamaan, masih berpelukan. Aku sadar, dia tidak punya pakaian lagi. Segera aku keluar dan pergi ke toko terdekat. Kubeli T-shirt dan celana pendek. Ketika kembali ke kamar, dia membisu dan tak mau menjawab pertanyaanku. Didiamkan begitu aku tak ambil pusing. Kupakaikan T-shirt dan celana pendek ke tubuhnya. Dia masih tetap membisu.</p>
<p>&#8220;Ayo pulang&#8230;&#8221; ajakku. Dia melangkah lunglai. Kugandeng dia ke mobil, kududukkan di jok depan. Setelah isi kamar sudah kurapikan, aku langsung menyetir mobil. Sepanjang jalan dia hanya diam membisu.<br />
&#8220;Nin&#8230; aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, satu hal yang aku minta darimu&#8230; jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku karena aku bukanlah calon suamimu&#8221;, kataku agak kesal dengan sedikit berdiplomasi. Dia memandangku dengan gundah. Namun tetap membisu. Sampai di daerah rumahnya pun dia tetap diam.<br />
&#8220;Oke.. Nin&#8230; aku tak tahu apa yang kamu inginkan. Jika ada yang ingin kamu utarakan, lakukanlah sekarang sebelum aku pergi.&#8221;<br />
Dia hanya diam membisu. Dipandanginya aku agak lama. Karena tidak ada jawaban, kudekati dia dan kucium tangannya. Dia tidak bereaksi.<br />
&#8220;Bye.. Nin..&#8221; Aku segera beranjak pergi.</p>
<p>Empat hari kemudian aku memang secara diam-diam mendatangi daerah rumahnya. Benar, dari informasi yang kudapat dia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah Resto mewah di pusat kota. Tapi aku tidak pergi melihatnya. Siapa tahu itu hanya akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu kafe di Surabaya. Saat group-ku manggung, aku melihatnya duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).<br />
&#8220;Lagu ini kupersembahkan buat seorang wanita paling indah yang pernah mewarnai perjalanan hidupku&#8221;, aku pun segera menyanyikan tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam. Dia menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tak seorang pun pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami.</p>
<p>Sekarang setahun sudah lewat. Dia pernah juga meneleponku dan bilang kalau dia sedang hamil tujuh bulan. Ketika kutanya dimana dia saat itu, telepon segera ditutupnya. Well, ternyata aku pun sedang mengalami pemerkosaan darinya. Semoga ini bisa jadi pelajaran berharga buat sobat semua. Ups&#8230; ternyata sekarang ada janji dengan Tante Stella.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/default-memperkosa-calon-pengantin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taksi Pemerkosa</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/taksi-pemerkosa.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/taksi-pemerkosa.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 23:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[aksi kejahatan di dalam taksi sering sekali terdengar , korbannya bisa supirnya atau bahkan penumpangnya. DI kota besar seperti jakarta , berita seperti itu sudah tak aneh lagi bagi warganya.
Namun cathy tak akan pernah menyangka bahwa kejadian itu akan menimpanya bersama pula adik perempuannya aline.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aksi kejahatan di dalam taksi sering sekali terdengar , korbannya bisa supirnya atau bahkan penumpangnya. DI kota besar seperti jakarta , berita seperti itu sudah tak aneh lagi bagi warganya.<br />
Namun cathy tak akan pernah menyangka bahwa kejadian itu akan menimpanya bersama pula adik perempuannya aline.</p>
<p>Malam itu kedua gadis cantik itu baru saja selesai berbelanja. baru saja kemarin aline mendapatkan kabar jika ia lolos audisi untuk bermain di sebuah film layar lebar . aline memang aktif sebagai model dan bintang sinetron walau pun namanya belum terlalu terkenal, tentu saja kesempatam bermain di layar lebar tak akan disia siakan, karena itu bersama cathy kakaknya ia berbelanja pakaian di sebuah mall.</p>
<p>malam itu jakarta agak sepi karena sedari sore tadi hujan turun agak deras , meski saat itu sudah mulai mereda , hanya tinggal rintik rintik.<br />
Taksi yg cathy dan aline tumpangi berhenti di sebuah lampu merah saat tiba tiba pintu belakang taksi terbuka dan masuk dua orang yang langsung mengapit kedua gadis itu di tengah tengah. seorang diantaranya menodongkan pistol ke kepala cathy. taksi kemudian tetap melaju dengan tenang seolah tak ada apa apa.</p>
<p>&#8220;diam kalian&#8230;jangan berulah&#8230;&#8230;kita cuma butuh sedikit sumbangan..hehehehe&#8230;&#8221; ancamnya.</p>
<p>kedua gadis itu sangat ketakutan terutama aline , ia memeluk erat lengan kakaknya sambil menangis.</p>
<p>&#8220;tenang.jangan takut&#8230;.kita kasih aja yg mereka mau&#8230;.&#8221; kata cathy berusaha menenangkan.</p>
<p>&#8220;siapa nama kalian&#8230;?&#8221; tanya si hitam</p>
<p>&#8220;sa..saya&#8230;cathy&#8230;dia adik saya aline&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;aline&#8230;.hmmm&#8230;kayaknya ga asing yah mukanya&#8230;.berapa umur kamu&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8220;tujuh..belas&#8230;.&#8221; jawab aline dengan nada ketakutan.</p>
<p>&#8220;tujuh belas ya&#8230;..? wahhh..tapi toked kamu udah gede gitu &#8230;hahahaha&#8230;&#8221; kata si hitam sambil mencolek buah dada aline, membuat gadis itu semakin ketakutan.</p>
<p>&#8220;toolong&#8230;jangan sakiti kami&#8230;&#8230;ambil aja semua uang sama barang barang kami&#8230;..&#8221; kata cathy berusaha mencegah terjadi hal yang lebih buruk.</p>
<p>&#8220;hehehe&#8230;santai aja nona nona cantik&#8230;sekarang kita mampir dulu ke ATM ya..? hehehehe&#8230;.&#8221;</p>
<p>taksi itu kemudian menuju ke sebuah jajaran ATM Yyang tidak terlalu ramai.</p>
<p>&#8220;LEPaskan kami&#8230;..kalian kan udah ambil semuanya&#8230;&#8221; kata cathy setelah salah seorang penjahat itu kembali dari ATM dan menguras uang didalamnya sebanyak mungkin.</p>
<p>&#8220;hahaha..ga bisa&#8230;&#8230;emang kami bego&#8230;&#8230;tar kalian bisa langsung lapor polisi&#8230;..nanti juga kalian dilepas, tenang aja&#8230;. &#8221;</p>
<p>taksi itu kemudian berputar putar sejenak kemudian masuk ke daerah yang cukup sepi , hanya bebrapa rumah yg terlihat terang tanda ada penghuninya.<br />
mereka kemudian masuk ke sebuah rumah yang agak terpisah dengan yg lain , lampu di dalamnya menyala tak terlalu terang.<br />
cathy dan aline digiring masuk ke dalam , ternyata di dalam sudah ada dua orang yg sedang asyik bermain catur , wajah mereka terlihat menyeramkan .</p>
<p>&#8220;yoo..bro&#8230;kita bakal pesta besar nih&#8230;gue bawa oleh oleh&#8230;..&#8221; kata supir taksi itu.</p>
<p>dua orang yang sedang bermain catur itu adalah preman dan penjahat yg sudah malang melintang di dunia hitam , meraka adalah omen dan codet. Hampir semua kejahatan pernah mereka lakukan, mulai dari copet , nodong sampai pemerkosaan dan pembunuhan , sudah jadi maianan mereka.<br />
supir taksi itu namanya jojo ..termasuk komplotan mereka juga. dulunya jojo memang supir taksi, namun dipecat karena sering menggelapkan uang setoran dan pernah melakukan pelecehan seksual pada seorang penumpangnya, karena dendam ia nekad mencuri taksi di tempat ia bekerja , sedikit dipoles dan kini digunakan sebagai alat untuk melakukan kejahatan.<br />
sisanya yg menodongkan pistol pada cathy adalah black , dan kawannya domo, tak banyak yg tahu catatan kejahatannya namun bisa dipastikan mereka juga sama jahatnya dengan yg lain.</p>
<p>&#8220;weleh..wlweh&#8230;.siapa nih&#8230;.?&#8221; Tanya codet</p>
<p>&#8220;yg mudaan namanya aline yg satu lagi cathy&#8230;.mereka baik loo..nih ada duit dari mereka..hahahaha..&#8221;</p>
<p>&#8220;hmmm..cantik cantik ya&#8230;..tau aja loo bro&#8230;emang kita udah suntuk nih&#8230;kita lagi butuh hiburan&#8230;.&#8221; kata codet.<br />
mendengar kata hiburan, sebersit ketakutan melintas di benak cathy.,</p>
<p>&#8220;hi..hi..buran..ap..apa&#8230;maksud kalian&#8230;..?&#8221; suara cathy bergetar karena takut.</p>
<p>&#8220;hahahaha&#8230;.jangan pura pura bego deh..hiburan ya hiburan&#8230;.di ranjang&#8230;hahahaha&#8230;.&#8221;</p>
<p>mendengar itu , aline langsung menjerit dan menangis histeris sambil memeluk cathy.</p>
<p>&#8220;tolong..saya mohon..jangan perkosa dia&#8230;.dia masih kecil&#8230;.tolong&#8230;&#8221;cathy memohon sambil berusaha menenangkan adiknya.</p>
<p>&#8220;masih kecil&#8230;..17 tahu sih udah dewasa dong neng..ya ga bro&#8230;?&#8221; kata si codet dan disambut dengan derai tawa teman temannya.</p>
<p>&#8220;tolong&#8230;.saya akan lakukan apa saja..asal jangan dia&#8230;tolong&#8230;&#8230;&#8221;cathy memohon.</p>
<p>&#8220;wah bener nih..?&#8221; tanya omen</p>
<p>&#8220;betul&#8230;apa saja&#8230;asal jangan sentuh dia..kasihan&#8230;&#8221; jawab cathy.</p>
<p>&#8220;bagus&#8230;.ok..kalau begitu. itu mau kamu kan. &#8230;..sekarang kamu buka semua baju kamu&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;disini..?&#8221; cathy ragu , &#8220;kenapa ga di kamar..&#8221;</p>
<p>&#8220;disini..sekarang&#8230;..atau adik kamu kami perkosa beramai ramai&#8230;..cepat&#8230;&#8221; Omen tak sabar.</p>
<p>setelah berusaha menenangkan aline . kemudian cathy maju ke tengah ruangan, dan mulai melepas satu persatu pakaiannya, ia berusaha untuk tidak menangis atau meneteskan air mata, namun wajahnya memerah karena dipermalukan seperti ini.</p>
<p>&#8220;WEEIIHH&#8230;..gila men&#8230;..bodynya yahud banget&#8230;&#8230;fitness loe ya&#8230;?&#8221; kata omen</p>
<p>cathy hanya menangguk pelan , dan berhenti melepaskan pakaian luarnya , kini ia hanya menggunaka bra dan celana dalam saja, dibawah tatapan mata para penjahat penuh nafsu.</p>
<p>&#8220;ayo teruskan&#8230;kok berhenti&#8230;..?&#8221; tanya omen</p>
<p>&#8220;cukup&#8230;.sampai sini saja&#8230;.&#8221; kata cathy</p>
<p>&#8220;Terserah deh&#8230;&#8221; kata omen lalu memberi isyarat pada kawannya.</p>
<p>jojo dan black kemudian mendekati aline dan langsung berusaha merobek pakaian atas aline, membuat gadis ini berteriak teriak histeris.</p>
<p>&#8220;JANgan&#8230;..ga mau&#8230;..jangan&#8230;&#8230;..jangaannn&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;tolong&#8230;jangan sakiti dia&#8230;tolong&#8230;.&#8221; cathy memohon.</p>
<p>namun kini jojo dan black sudah berhasil merobek pakaian atas aline, dan keduanya langsung meremas dan mengulum buah dada gadis remaja itu, smentara teriakan aline terdengar kian keras dan histeris.</p>
<p>&#8220;tidaaaaakk&#8230;jaaaangaannnn&#8230;.cici..tolooooong&#8230;  &#8230;.awaaaawwwww&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;baik..baik&#8230;..lepaskan dia&#8230;saya menurut&#8230;saya &#8230;.&#8221; cathy memohon<br />
omen memrintahkan kedua temannya berhenti, namun demikian keduanya masih memegang kedua tangan aline yg kini bertelanjang dada, buah dadanya terlihat kemerahan dan agak basah.</p>
<p>cathy kini mulai melepaskan bra dan celana dalamnya, tubuhnya begitu terlihat indah tanpa busana , buah dadanya menonjol lepas siap untuk diremas remas , vaginanya dengan bulu rambut yg tak terlalu banyak begitu menggoda , belum lagi kulitnya yg halus putih dan lembut.</p>
<p>&#8220;nah..gitu kan bagus&#8230;..punya body ok kok ditutup tutup&#8230;hehehehe&#8230;&#8221;</p>
<p>cathy kemudian disuruh untuk berjalan bak seorang pragawati di catwalk, tanpa busana.<br />
demi adiknya , ia berusaha menahan malu dilecehkan sperti ini , namun ia tak punya pilihan lain meskipun otaknya terus berjalan mencari jalan untuk meloloskan diri.</p>
<p>omen tiba tiba maju ke tengah dan memerintah cathy ,</p>
<p>&#8220;nah..nona cantik ..sekarang kamu berlutut&#8230;..abang punya permen loli buat kamu ..hehehehe&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>cathy berlutut , dan omen membuka celananya , mengeluarkan penisnya yg siap beraksi menerobos vagina para gadis cantik dihadapannya.<br />
omen kemudian menggesek gesekan penisnya di wajah cantik cathy , menggosok gosok di bibirnya , smapi akhirnya membenamkannya di mulut gadis malang itu.</p>
<p>&#8220;isep yang enak&#8230;..jilatin juga pake lidah kamu&#8230;..&#8221;</p>
<p>dengan canggung cathy berusaha mengemut dan menjilat penis itu, selain ukurannya , baunya dan rasa asinnya cukup membuat cathy mual , namun ia terpakasa melakukannya, daripada adiknya yg harus mengalami semua ini , karena ia tahu aline adiknya masih virgin.<br />
kali ini cathy tak bisa menahan air matanya jatuh.</p>
<p>&#8220;ADUH..cape gue berdiri..kita ke sofa sayang&#8230;&#8221; kata omen sambil membawa cathy ke sofa.</p>
<p>omen duduk di sofa , sementara cathy kembali berlutut diantara kaki omen , dan mengulumnya kembali.<br />
cathy sempat kelabakan saat omen menahan kepala gadis itu dan menghujamkan penisnya jauh semakin ke dalam . cathy tersedak dan hampir kehabisan nafas , saat cathy hampir kepayahan , omen baru melepaskannya diringi tawa puas.</p>
<p>omen kemudian menyuruh cathy menjlati buah zakarnya dan penisnya perlahan ke atas dan ke bawh seperti menjilati es krim , lalu kemudian mengulumnya kembali.<br />
waktu terasa lambat berjalan bagi cathy sampai akhirnya , penis omen menyemburkan seluruh isinya masuk langsung ke perut gadis cantik itu.</p>
<p>setelah cathy selesai menjalankan tugasnya , tiba tiba domo datang dan langsung mengikatnya erat , sehingga ia tak bisa bergerak.</p>
<p>&#8220;apa apaan ini&#8230;kenapa saya diikat seperti ini&#8230;lepaskan&#8230;.&#8221; Protes cathy.</p>
<p>&#8220;hehehehe&#8230;.sudah diam&#8230;hehehe&#8230;..black , jojo , ayo teruskan yg tadi, gue pengen lihat body abg sekarang kaya apa..?&#8221;</p>
<p>&#8220;apa&#8230;!!!kalian sudah berjanji&#8230;&#8230;jangan sentuh dia&#8230;&#8221; cathy merasa marah dan tertipu.</p>
<p>&#8220;YAHHH&#8230;gimana ya&#8230;.kita emang pembohong kok&#8230;.hahahahaha&#8230;&#8221; Jjawb omen.</p>
<p>black dan jojo sgera merobek seluruh pakaian yang terisisa di tubuh aline, gadis ini hanya kembali menjerit jerit histeris dan menangis.<br />
tubuh telanjang aline yang masih remaja ternyata menarik perhatian seluruh lelaki disana, ia kemudian dibawa ke tengah ruangan, dan seluruh tubuhnya tak ada yg luput dari jamahan tangan tangan kotor itu.</p>
<p>&#8216;bangsaat kalian&#8230;..!!!!lepaskan dia&#8230;lep&#8230;..&#8221;</p>
<p>cathy tak dapat meneruskan kata katanya ketika domo dan codet menariknya masuk ke sebuah kamar , disana ia dikerjai habis habisan oleh kedua penjahat itu.</p>
<p>smentara itu black, jojo dan omen masih asyik menjamahi tubuh aline yg masih remaja.</p>
<p>&#8220;tiidaaaakk&#8230;&#8230;..ga mauuuuu&#8230;.ga mauuuuuuu&#8230;&#8230;&#8230;..&#8221; aline berusaha berontak, namun tentu saja ia tak punya daya apapun melawan tiga laki laki itu.<br />
jojo menghisap dengan nafsu buah dada kiri aline, sementara bagian kana menjadi milik black.<br />
di bawah omen asyik menjilati vagina <span>perawan</span> itu.</p>
<p>&#8220;hehehehe&#8230;jarang..jarang nih dapet <span>perawan</span>..hahahaha&#8230;..&#8221; omen tertawa senang.</p>
<p>&#8220;aampuun&#8230;jang..an&#8230;.aahhhww&#8230;..jangan&#8230;&#8230;&#8230;  &#8221; aline menangis</p>
<p>&#8220;aaalllaaa&#8230;&#8230;sok juah mahal&#8230;.nanti juga ketagihan&#8230;..ya gak&#8230;.?&#8221; KATA black</p>
<p>&#8220;iya nih&#8230;..sok banget&#8230;&#8221; timpal yg lain</p>
<p>&#8220;aampuunn&#8230;jangan diperkosa&#8230;&#8230;jangan&#8230;saya belum pernah&#8230;sa..saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;boleh&#8230;..kamu ga diperawanin&#8230;tapi sebagai gantinya kita masuk lewat lubang yg lain&#8230;hehehe..&#8221;</p>
<p>&#8220;ap..apa&#8230;maksdunya&#8230;..?&#8221; tanya aline katakutan.</p>
<p>&#8220;ya..pantat kamu..sama mulut kamu&#8230;ya ga&#8230;.?&#8221;</p>
<p>&#8220;baik&#8230;baik&#8230;.asal jangan ambil keperawanan saya&#8230;&#8230;&#8221; kata aline pasrah.</p>
<p>black segera memposisikan aline , penisnya memukul mukul pantat indah aline, dan tanpa ragu sedikitpun menembus masuk ke dalam pantat adis itu.</p>
<p>&#8220;aaaaaaaaaaahhhhhhhh..sakiiittttt&#8230;&#8230;..&#8221; aline menangis menahan sakit saat penis itu masuk menembusnya.<br />
dan jeritan semakin keras dan menyedihkan setiap black mendorong penisnya semakin dalam.</p>
<p>&#8216;awww&#8230;aaahhhh&#8230;udahhhh&#8230;udaahhhhh&#8230;aahhhhh&#8230;  &#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;aaaahhhhhh&#8230;uuhhh&#8230;sa/&#8230;..kiiittt&#8230;aahhhh&#8230;&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p>siksaan itu berjalan cukup lama bagi aline sampai akhirnya ia merasakan ada cairan hangat membasahi pantatnya.<br />
aline menangis keras saat black telah mencabut penisnya , ia tergolek lemah tak berdaya.<br />
namun belum sempat ia merasa lega , black dan jojo tiba tiba memegang kedua tangannya, smentara omen tengah bersiap dengan penisnya diantara kaki aline.</p>
<p>&#8220;oohh..tidakk&#8230;jangan&#8230;.penjahat&#8230;penipu&#8230;&#8230;j  angan&#8230;.jaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>tanpa banyak bicara penis omen menembus vagina aline yg masih <span>perawan</span>.<br />
aline kembali menjerit histeris dan meronta ronta saat, penis itu mengaacak acak keperawannannya.</p>
<p>&#8220;aaaaaaaaaaaaa&#8230;..tidaaaaaaaaaaaakkk&#8230;&#8230;&#8230;.aaa  awwwwwww&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>tangisan gadis itu tentu menjadi stimulus para pemerkosanya , omen malah semakin kencang menggenjot aline.<br />
smentara, vaginanya di acak acak , biuah dadanya tak lepas dari remasan remasan nakal omen, putingnya dicubiti dan ditari tarik.<br />
omen menggeram keras ketika pada akhirnya ia sampai di puncak kenikmatan , cairan putih bercampur merah meleleh keluar dari vagina aline.<br />
wajah cantiknya basah oleh keringat dan airmata, sleuruh tubuhnya terasa sakit lemas seolah tak bisa digerakkan, ia mnegguman gumam tak jelas.</p>
<p>malam masih panjang&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;penderitaan kedua gadis itu masih akan terus berlanjut</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/taksi-pemerkosa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerkosaan Wanita STW</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-wanita-stw.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-wanita-stw.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jan 2009 04:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-wanita-stw.html</guid>
		<description><![CDATA[Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Misye dalam perjalanan pulang dari tempat ia bekerja terpaksa berteduh karena dia tidak membawa jas hujan. Bu Misye berteduh di sebuah bangunan yang belum jadi namun sudah beratap. Setelah menyandarkan motornya Bu Misye mencari tepat duduk dan ternyata ada sebuah kursi panjang. Pakaian yang dikenakan suadah basah semua, Bu Misye sebelumnya berniat untuk tidak berteduh namun karena hujannya semakin lebat dan disertai angin dan petir maka ia memutuskan untuk berteduh, walaupun dalam hatinya cemas karena hari sudah menjelang gelap namun tanda-tanda hujan akan reda belum muncul.</p>
<p>Belum lama duduk datang seorang pemuda tanggung yang juga akan berteduh. Setelah menyandarkan Tiger yang dipakainya, pemuda itu cepat-cepat masuk ke bangunan yang belum jadi tersebut. Bu Misye pertama agak khawatir dengan pemuda tersebut namun akhirnya kekhawatirannya akhirnya hilang karena melihat penampilannya juga keramahannya. Bu Misye melempar senyum dibalas dengan senyum oleh pemuda tersebut.</p>
<p>Pemuda tanggung tersebut berkulit putih bersih dan wajah yang diakui oleh Bu Misye memang tampan. Pemuda tersebut duduk di kursi panjang agak berjauhan letaknya dengan Bu Misye.<br />
&#8220;Cuma sendirian Bu?&#8221; pemuda tersebut memulai pembicaraan.<br />
&#8220;Iya Dik&#8221; Bu Misye menjawab.<br />
&#8220;Adik dari mana?&#8221; lanjutnya.<br />
&#8220;Dari rumah teman, sedang Ibu sendiri dari mana?&#8221; pemuda itu menyambung.<br />
&#8220;Dari tempat kerja Dik&#8221; Bu Misye menjawab.<br />
&#8220;Koq sampai sore Ibu, memang tidak dijemput oleh suami atau putra Ibu?&#8221; pemuda tersebut kembali bertanya.<br />
&#8220;Ndak Dik.. walau udah tua Ibu berusaha sendiri lagian anak-anak Ibu udah berkeluarga semua&#8221; Bu Misye menyahut.<br />
&#8220;Eh Adik masih kuliah kelihatannya, nama Adik siapa biar enak kalau manggilnya&#8221; lanjut Bu Misye, walau dalam hatinya dia agak bingung kenapa harus bertanya namanya.<br />
&#8220;Iwan Ibu, masih kuliah semester pertama, nama Ibu?&#8221; jawab pemuda tersebut.<br />
&#8220;Misye&#8221; jawab Bu Misye.<br />
&#8220;Ibu umurnya berapa koq ngakunya sudah tua?&#8221; Iwan bertanya.<br />
&#8220;Udah hampir limapuluh Dik Iwan&#8221; jawab Bu Misye.<br />
&#8220;Koq masih keliatan lebih muda dari usia Bu Misye lho?&#8221; lanjut Iwan.</p>
<p>Pembicaraan terhenti sebentar. Baju yang dipakai oleh Bu Misye yang basah secara jelas mencetak buah dadanya yang sekal terbungkus oleh BH hitam yang keliatan sangat menantang di usianya. Rambutnya yang teruarai lurus sebahu tampak basah juga. Kulitnya yang putih tampak titik air yang masih membasahinya. Iwan terus memandangi tubuh yang Bu Misye.<br />
&#8220;Tubuh Ibu masih bagus lho, Bu Misye tentu sangat bisa merawat tubuh&#8221; tiba-tiba Iwan memecah kesunyian.<br />
Bu Misye agak kaget dengan pertanyaan Iwan. Dia agak tersinggung dengan pertannyan itu apalagi mata Iwan yang tidak lepas dari dadanya. Anak ini ternyata agak kurang ajar.</p>
<p>Belum lagi keterkejutannya hilang, Iwan berkata lagi, &#8220;Tentu suami Ibu sangat sengan dengan istri yang secantik dan semolek Bu Misye&#8221; Iwan berkata sambil meremas-remas kemaluannya yang masih dibungkus celananya.<br />
Melihat situasi yang kurang baik itu, Bu Misye tidak menjawab, dia langsung berdiri menuju ke motornya walaupun hujan tampaknya semakin menjadi-jadi. Namun tangan Iwan lebih dulu menyahut tangan Bu Misye. Bu Misye semakin marah.<br />
&#8220;Kau mau apa haa?&#8221; hardiknya.<br />
&#8220;Hujan masih lebat, sedang kita cuma berdua.. saya menginginkan Ibu&#8221; sahut Iwan dengan santainya sambil merangkul Bu Misye dari belakang.<br />
&#8220;Menginginkan apa?&#8221; Bu Misye agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukan Iwan.<br />
&#8220;Menginginkan tubuh Ibu..&#8221; Iwan berkata sambil tangannya beraksi menggerayangi tubuh Bu Misye dari belakang.<br />
&#8220;Jangan Dik Iwan.. apa kamu nggak merasa umurku.. sebaya dengan ibumu&#8221; Bu Misye berusaha untuk mengingatkan.<br />
&#8220;Justru itu saya suka&#8221; Iwan menyahut.<br />
Tangan kirinya merangkul Bu Misye dari belakang, tangan kananya berusaha menyingkap rok yang dipakai Bu Misye setelah tersingkap ke atas Iwan mengeluarkan penisnya yang sudah keras berdiri. Tak ketinggalan CD yang dipakai oleh Bu Misye dipelorotkan ke bawah.</p>
<p>Tangan Iwan meraba-raba memek Bu Misye yang ditumbuhi oleh jembut yang rimbun. Jarinya berusaha masuk ke lubang kenikmatan Bu Misye.<br />
&#8220;Dik Iwan.. To.. long.. hentika.. ka.. ka.. ka.. mu nggak se.. harusnya mela.. kuka.. ini.. Dik Iwan Iwan..&#8221; Bu Misye berusaha mengingatkan lagi dengan terbata-bata.<br />
&#8220;Ah.. Jangan.. Dik Iwan.. Ibu.. sudah tua.. ingat..&#8221; tambahnya lagi.<br />
Iwan tidak menggubris kata-kata Bu Misye jarinya sudah masuk ke vagina Bu Misye dan bermain-main di dalamnya. Kemudian Iwan berusaha membalikkan tubuh Bu Misye, setelah itu dengan kasar Iwan mendorong tubuh molek itu sehingga jatuh terjerebab ke tanah. Dengan posisi duduk mengkangkang Bu Misye berusaha bangkit lagi dari duduknya. Pahanya yang mulus tersingkap sampai ke pangkalnya. Pakaian bagian atas acak-acakkan tampak sebagian kutang warna hitam yang seolah tak mampu menahan volume buah dada indah Bu Misye.</p>
<p>Belum sempat berdiri Iwan berkata sambil melepaskan celana dan bajunya, &#8220;Bu Misye, anda berteriakpun tak akan ada orang yang mendengar.. tempat ini agak jauh dari rumah penduduk sebaiknya Bu Misye tidak usah macam-macam&#8221;<br />
&#8220;Aku tak kan sudi melayani kamu.. anak muda&#8221; Bu Misye setengah berteriak.<br />
&#8220;Sudah jangan banyak bicara lepaskan pakaianmu.. cepat.. daripada aku menyakiti Ibu&#8221; sahut Iwan sambil melepaskan celana dalamnya, tampak batang kontolnya yang sudah mengacung keras.</p>
<p>Airmata Bu Misye mulai berlinang. Dia merasa sangat ketakutan dan galau hatinya. Dia merasa tak berharga dihadapan anak muda yang pantas menjadi anaknya. Dia juga merasa menyesal berteduh di tempat itu, dia merasa juga menyesali pakaian kerja yang sering ia kenakan. Rok yang terlalu tinggi dan baju yang transparan yang memperlihatkan BHnya yang seakan tidak muat menahan buah dadanya, sehingga membuat para lelaki yang menatapnya seolah menelanjanginya. Namun dalam hatinya berkata juga bahwa baru sekarang dia melihat kemaluan lelaki yang besar, kontol suaminya tidak sebesar itu. Darahnya berdesir kencang.<br />
Belum hilang keterpanaannya sudah dikejutkan oleh suara Iwan lagi, &#8220;Cepatt! Sudah nggak tahan nih..&#8221;<br />
Karena dilanda ketakutan, dengan perlahan tangan Bu Misye melepas satu persatu kancing bajunya. Tampaklah payudaranya yang dibungkus oleh BH hitam.<br />
&#8220;Cepat lepas kutangmu!&#8221; bentak Iwan.</p>
<p>Dalam hati Bu Misye berkata anak muda memang nggak sabaran. Setelah melepas BHnya, tumpahlah payudara Bu Misye yang masih tampak sekal dan menggairahkan, putting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali.<br />
Iwan jongkok di dekat Bu Misye tangannya mulai menggerayangi payudara Bu Misye.<br />
&#8220;Uh.. ah.. ah..&#8221; rintih Bu Misye ketika tangan Iwan memilin milin putingnya.<br />
Tidak puas memilin-milin mulut Iwan mulai mendarat di pucuk anggur itu. Lidahnya menari-nari dan ketika dihisap keras-keras Bu Misye hanya bisa menggigit bibir bagian bawah dan memejamkan matanya. Setelah puas dengan buah dada Bu Misye Iwan bangkit kemudian mendekatkan kontolnya yang besar tersebut ke mulut wanita paruh baya yang lemah itu.<br />
&#8220;Hisap.. Bu Misye&#8221; perintahnya.<br />
&#8220;Cepatt!&#8221; bentak Iwan ketika Bu Misye belum juga melakukan apa yang ia kehendaki.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye mengulum batang zakar. Pertama dia melakukan hampir saja dia muntah karena selama hidupnya dia baru melakukan beberapa kali dengan suaminya. Bu Misye seakan tidak percaya apa yang dia lakukan sekarang, dia di tempatnya bekerja adalah orang yang dihormati sedang di kampungnya dia juga orang yang disegani Ibu-Ibu. Namun pada saat ini dia sedang melakukan hal yang jorok hingga tentu kehormatannya sebagai wanita hilang sama sekali.</p>
<p>Iwan dengan kasar memaju mundurkan kontolnya sehingga terdengar suara nyaring menggairahkan. Setelah puas Iwan bangkit lagi kemudian di mengambil posisi ditengah-tengah di antara kaki mulus Bu Misye.<br />
Sambil mengelus-elus kontolnya yang sudah sangat keras, Iwan berkata, &#8220;Bu Misye lebarkan lagi agar lebih mudah&#8221;<br />
Hal yang sangat mendebarkan bagi Bu Misye akan terjadi dengan perlahan Bu Misye membuka lebar kakinya sehingga tampaklah memeknya yang tampak merekah dengan bibirnya yang agak menggelambir. Perlahan dan pasti Iwan menuntun kontolnya memasuki lobang kenikmatan Bu Misye. Iwan merasakan kehangatan memek Bu Misye dan kekencangannya seakan meremas rudal Iwan. Sebaliknya Bu Misye yang sedari tadi dengan berdebar menantikan hal tersebut seakan terhenti detak jantungnya ketika ia mulai ditusuk oleh anak muda ini. Seakan merobek barang paling berharga yang dimilikinya.</p>
<p>Ketika Iwan mulai mempercepat genjotannya tampaknya Bu Misye juga sudah mulai melambung ke awan. Sementara diluar hujan seakan belum mau berhenti. Iwan semakin mempercepat genjotannya. Buah dada Bu Misye tergoncang-goncang kesana-kemari. Bu Misye yang semula pasif sedikit memberi perlawanan dengan menggoyangkan pantatnya. Tangannya mengepal memukul lantai, kepalanya bergoyang menahan hawa birahi yang semakin meninggi.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye tidak kuat menahan cairan yang semula ia bendung-bendung, lobang memek Bu Misye mengerut kencang ketika dia mencapai puncak. Bu Misye malu kenapa dia bisa orgame padahal ia tidak menginginkan itu. Yang lebih membuat dia bertambah malu adalah Iwan seakan mengetahui hal tersebut. Iwan tersenyum sambil terus mempercepat genjotannya. Dalam hatinya dia berkata ternyata kau juga merasakan kenikmatan juga. Dan tampaknya Iwan juga akan sampai ke puncak. Dan terdengar lenguhan panjang Iwan ketika batang kontolnya ia tancapkan dalam-dalam sambil merangkul erat Bu Misye keluarlah cairan sperma membanjiri lobang memek Bu Misye.</p>
<p>Iwan terkulai lemas diatas tubuh telanjang Bu Misye jiwa mereka seolah melayang sejenak.<br />
Setelah itu Iwan bangkit dan mengambil pakaiannya sambil berkata, &#8220;Bu Misye berpakaianlah, tampaknya hujan sudah mulai reda, memek Ibu ueenak sekali, terima kasih ya Bu Misye&#8221;.<br />
Bu Misye menatap Iwan dalam hatinya bercampur antara marah, gundah, galau. Namun satu hal yang dia tidak pungkiri bahwa dia juga menikmati perkosaan yang dilakukan Iwan.</p>
<p>Akhirnya Bu Misye memunguti pakaian kemudian mengenakannya kembali. Mereka berjalan ke arah motor mereka tanpa bersuara.<br />
Tampaknya hujan sudah reda. Bu Misye menghidupkan mesin motornya, namun ia dihentikan lagi oleh Iwan.<br />
Iwan berkata, &#8220;Bu Misye saya minta maaf akan kelancangan saya, saya tidak bisa menahan gejolak nafsu saya..&#8221;<br />
Bu Misye tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Iwan dengan mata yang berkaca-kaca. Iwan diam kemudian Iwan mendekatkan wajahnya dan ciuman hangat ia daratkan ke bibir Bu Misye. Pertama Bu Misye diam namun akhirnya Bu Misye membalas ciuman tersebut. Lidah mereka saling bertautan. Sejenak kemudian Bu Misye tersadar dan melepaskan ciuman tersebut kemudian melajukan kendaraannya.</p>
<p>Iwan hanya terdiam terpaku kemudian menaiki kendaraannya ke arah yang berlawanan. Bu Misye menerobos hujan rintik-rintik dengan perasaan yang sebenarnya terpuaskan.</p>
<p>*****</p>
<p>Demikian kisah nyata ini ditulis seperti apa yang diceritakan oleh pelaku cerita ini.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: arnieta2003@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pemerkosaan-wanita-stw.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
