<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Pesta sex</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-pesta-sex/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bermula ketika menyaksikan istri selingkuh, sekarang saya jadi ketagihan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bermula-ketika-menyaksikan-istri-selingkuh-sekarang-saya-jadi-ketagihan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bermula-ketika-menyaksikan-istri-selingkuh-sekarang-saya-jadi-ketagihan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 20:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[video bokep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2494</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Nyata beserta Video bokep nya Bro dan Sist sekalian, mohon maaf jika pengalaman pribadi saya ini dianggap tidak wajar, tetapi demikian adanya kebiasaan seks yang tidak lazim kami lakukan ini berawal dari perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya waktu di SMA dulu Bermula sekitar 4 thn lalu, saya keluar dari pekerjaan dan mencoba merintis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Nyata beserta Video bokep nya</strong></p>
<p>Bro dan Sist sekalian, mohon maaf jika pengalaman pribadi saya ini dianggap tidak wajar, tetapi demikian adanya kebiasaan seks yang tidak lazim kami lakukan ini berawal dari perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya waktu di SMA dulu<br />
Bermula sekitar 4 thn lalu, saya keluar dari pekerjaan dan mencoba merintis usaha sendiri, untuk itu supaya saya bisa survive maka anak sama istri saya , saya taruh di kampung di daerah jawa barat, untuk itu saya jarang pulang ke rumah, paling2 satu bulan sekali paling cepat. Setelah beberapa bulan berjalan setiap saya pulang ke kampung, saya suka mendengar tetangga di kampung suka membicarakan tentang istri saya yang mulai kembali berhubungan dengan mantan pacar pertamanya waktu SMA dulu, Cuma saya tidak begitu menanggapi , Cuma karena udah terlalu sering dan gosipnya sudah mulai macam2 dan menjurus ke hal2 yang negative (katanya mantan pacar istri saya ini suka masuk rumah saya malam2), maka saya juga jadi penasaran , untuk itu saya mulai membuat sebuah rencana untuk menjebak mereka , kebetulan rumah yang saya dan istri tempati ini adalah bekas rumah kakaknya mertua saya dan jaraknya sekitar 20 mtr dari rumah mertua, jadi saya berpura2 setiap pulang ke kampung saya tidak pernah tidur di rumah, melainkan tidur di rumah mertua dengan alasan sambil mengerjakan proyek, kebetulan juga rumah yang saya tempati itu listriknya tidak kuat, suka mati kalo di pakai untuk membetulkan mesin, makanya dengan alasan itu , saya bisa memasang kamera mini yang saya pasang di ruang tamu dan satu lagi di kamar tidur istri saya (kebetulan istriku dulunya agak gaptek dia tidak tahu kalau sedang di awasin pakai kamera ), kebetulan anakku dua2nya sudah pintar tidurnya di kamarnya sendiri.<br />
Satu dua hari belum ada tanda2 yang mencurigakan, saya juga bingung padahal kata orang2 si Ujang ( nama mantan pacar istri saya ) hampir tiap malam, datang ke rumah, setelah saya selidikin ternyata dianya sedang pergi ke Bandung sedang mengurus surat2 mobil ( pantesan tidak kelihatan seharian ). Pada malam keempat, tiba2 di kamera terlihat istri saya berjalan mengendap2 menuju pintu, sambil membuka pintu perlahan2, begitu pintu terbuka masuklah si Ujang ke dalam rumah , dan saya yakin itu si Ujang, dari perawakannya yang tidak terlalu tinggi dan sedikit gemuk, sama rambut ikal sedikit gondrong tidak salah lagi itu memang benar si Ujang mantan pacar pertama istri saya ( herannya kok istri saya mau yah ), mereka berdua mengobrol sebentar, saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya kameranya memang tidak saya pasang audionya, takut berisik, nanti mertua saya malah curiga, selama ini kan beliau tahunya saya sedang membetulkan TV di kamar, tidak berapa lama kemudian , ‘EHHH’ si Ujang itu malah mulai memegang2 tangan istri saya, terus tangannya mulai membelai2 rambut istri saya dengan mesra , ‘KURANG AJAR’ saya jadi panasss bangett, cuma saya mencoba untuk menahannya, tidak berapa lama malah istri saya yang memegang pinggang si Ujang, terus menarik2 tangannya dan mengajaknya menuju ke kamar, ‘bangsat!!!!’, saya memaki dalam hati, saya sudah mulai tidak bisa menahan diri lagi, apalagi ketika si Ujang juga mulai membalas merangkul tubuh istri saya , tangan saya sudah mengepal rasanya mau memukul saja gambar yang ada di TV, tidak berapa lama mereka berdua masuk ke dalam kamar, buru2 saja saya memindahkan jegnya ke kamera yang saya pasang di kamar tidur, celakanya begitu saya pindahkan malah jadi tidak jelas, tidak keluar gambarnya !!, mungkin karena penerangannya kurang memadai kali ya, dari pada keduluan mereka langsung aja saya keluar kamar dan menuju ke rumah saya, mertua saya sampe kaget melhat saya keluar kamar dengan terburu2, “ Aya naon A’? kok keburu2 ? “ tanya bapak mertua , “ Ohh , itu pak mau ambil tang “, saya jawab sekenanya aja deh.<br />
Saya langsung pergi setengah berjingkat, takut berisik, saya masuk dari dapur, kebetulan pintu dapur mertua , berhadap2an dengan pintu dapur rumah saya , begitu masuk saya langsung bergegas menuju jendela kamar yang mengahadap dapur, kebetulan jendela di kampung umumnya cuma di tutup pakai kain saja, jadi saya bisa mengintip agak mudah dan jelas, dan ketika saya membuka sedikit, ‘WADUHH !!’ istri saya sama si Ujang sudah tidur2an di kasur, si Ujang sudah mulai mencium pipi istri saya, tapi anehnya kali ini saya malah tidak merasa emosi tuh, soalnya saya lihat istri saya juga menikmati sepertinya, matanya merem, terus tangannya mulai di lingkarkan di leher Ujang, terus kepala si Ujang di tariknya sampai wajah si Ujang berhadapan dengan wajah istri saya, ‘SETANNN !!!’ bibir istri saya mulai melumat bibir Ujang, “ mmpphh…mmpphhh “ Ujang dan istri saya berpagutan mesra, aneh sekali, perlahan2 kemaluan saya malah bergerak nih, ‘ SOMPRETT !!!!, kenapa malah bangun nih kanjut’ pikir saya , ‘WAH’ dari pada saya malah jadi salah tingkah akhirnya saya ambil aja kursi yang ada di dapur, pelan2 saya duduk di kursi sambil mengintip, saya lihat istri saya sudah mulai menarik2 kaos si Ujang, “ A’ ayo buka atuh kaos sama celananya “ rengek istri saya, Ujang menurut, dia mulai membuka kaosnya, sambil menurunkan juga celana panjangnya, “ Is… ( nama istri saya Euis ), biar Aa’ yang buka baju kamu yahh? “ Ujang berkata sambil tangannya mulai menarik kaos tanktop istri saya, ‘ WAHH !!! ‘ makin keras aja nih benda di selangkangan saya melihat adegan itu, tidak berapa lama terlepaslah baju istri saya, terus perlahan tangan Ujang mulai menurunkan celana Hawaii istri saya, posisi istri saya yang tengah tiduran celananya di tarik hingga lepas, sekarang pasangan selingkuh ini sudah setengah bugil, saya melihat benda di dalam celana dalam si Ujang sudah mulai berubah, tangan istri saya sudah mulai menyelinap masuk kedalam celana dalam Ujang, kelihatannya istri saya sudah mulai meremas2 kemaluan si Ujang, dan Ujang juga tidak mau kalah, dia mulai melepas tali Bra istri saya, sebentar saja sudah terlepas deh Bra istri saya, Ujang mulai meremas payudara istri saya secara perlahan2, walaupun sudah sedikit mengendur ( maklum sudah punya anak dua ) tapi dari bentuk sih masih lumayan bagus, apalagi puting susunya juga tidak terlalu besar, sambil merem-melek keenakan si Ujang mengulum pentil susu istri saya, yang sebelah kiri, sementara tangannya yang kanan terus meremas2 payudara istri saya yang bagian kanan, “ Ssssshhh….Aa’, enakkk bangettt sihhh….”, istri saya mengerang keenakan badannya menggeliat2, sementara tangannya terus giat meremas batang kemaluan si Ujang, “ Mmpph..mmbb…mbb…uhhhh….aku juga enak nih Iissss…..”, rintih Ujang sambil terus mengulum pentil susu istri saya, “ Aaaa’ udahhh donggg… Euissss… gak kuattt nihhh….”, istri saya menggelinjang, mendesah sementara tangannya sudah mulai berusaha melepaskan celana dalam si Ujang, tangan Ujang beringsut melepas celana dalammya sendiri, batang kemaluannya menyembul keluar dan menggantung, ukurannya sedang2 aja tuh kayaknya tidak berbeda jauh dengan kemaluan saya.<br />
Begitu batang kemaluan itu lepas dari sangkarnya, istri saya dengan sigap menangkap kemudian meremas2 dengan gemas, karuan saja ini membuat Ujang mengerang, “Aahhhh….Iissss…ssshh …Uuhhh…..” Ujang melepas kulumannya di pentil susu istri saya, dia duduk bersandar di tembok, istri saya yang sudah gemas langsung aja melahap batang kemaluan Ujang, ujung kemaluan si Ujang di kenyot kuat2, Ujang mengerang kepalanya mendongak ke atas, perutnya tertarik saking kuatnya kenyotan mulut istri saya, “ Aaarrrgggghhhhh…..Euisss!!&#8230;&#8230;Ampuuuunnnnnn, Ouuhhhhhhhh…………”, Istri saya mulai mengulum2 batang kemaluan Ujang, batang itu dia masukin terus di keluarin lagi dari mulutnya,” Ouuwbb…nymmm..mmhhh….slrrrupp..”, mulut istri saya,<br />
terus menyiksa batang kemaluan Ujang, Dia mulai kepayahan tangannya meremas2 rambut istri saya,  “ Euisss…..uddaaahhh..aahhh…urang..teu kuattt deui…uuhhh….”, Ujang merintih sambil berusaha menarik kepala istri saya supaya mulutnya lepas dari kemaluannya. Tetapi istri saya sepertinya sudah kesetanan, sambil terus mengocok batang kemaluannya Ujang, mulutnya mulai membantai biji kemaluan si Ujang, mulutnya mulai mengulum sambil sesekali menggigit dua bola daging yang di tumbuhi bulu itu, Ujang menggeliat2 keenakan sesekali mulutnya menyeringai, mungkin ia sedang merasakan geli bercampur sakit karena biji kemaluannya sesekali digigit oleh istri saya , “ Akhh….ssshhh.. Ouhh…Ngeunahhh euyy….trusssshhh…enaaakkkkhhh..”, Ujang mengerang panjang sepertinya dia benar2 kepayahan deh, istri saya memang paling jago kalo di suruh Blow Job, saya saja lebih sering keoknya, “Mmbbbhhh….heghh…uukh..ukh…”, mulut istri saya terus mengulum, menggigit sambil tangannya mengocok batang kemaluan Ujang.<br />
Selang beberapa menit kemudian saya melihat Ujang menarik kuat rambut istri saya, badannya terdorong ke depan, suaranya mengerang parau, “ Aarrrgghhh…Euiss… uranggg keluarrrrrr….aaahhhhhhh…”, dan….’crett..ccrett’ menyemprot lah cairan sperma Ujang di mulut istri saya, “ I..ih..ih.. Aa’ kok udah di keluarin sihhh???? “, istri saya protes sambil terus mengocok kemaluan Ujang hingga tetes sperma yang terakhir keluar, “ Ouhh..ukhh…Ukh.. habis geli sih Is …sshhh…aahhhh..”, tubuh Ujang ambruk ke kasur, sementara istri saya berusaha membersihkan mukanya yang belepotan cairan kenikmatan si Ujang, “ Terrusss…aku gimana dong Aa’… ?, rengek istri saya, ‘Huh !! Sialan !!’ kalo gak lagi ngintip sudah saya aja deh yang mengantikan si Ujang buat menyetubuhi dia, soalnnya nih kanjut sudah tegang 200%, ‘GILA !!’ horny nya lebih dari kalau saya melihat adegan di filem Be-eF atau kalau pas mau menyetubuhi istri saya , dua kali lipat , ‘Gustiiii…’ benar2 sensasi yang luar biasa, sampai2 saya harus membuka resleting celana , untuk membuat kanjut ini bisa bernafas..<br />
Tak berapa lama kemudian istri saya sudah rebah di samping Ujang, sementara tangannya masih mengelus2 kemaluan Ujang yang sudah sedikit lembek, “ Aa’..gimana dong?..kanjutnya jadi lemes gini…”, rengek istri saya sambil tangannya di selusupkan ke dalam celana dalamnya sendiri ( sepertinya istri saya benar2 dikuasai nafsu birahi yang kuat ), “ Ayo dong Aa’ ini lubangku udah gatelll….ihh..”, kembali dia merengek, “ Sini Is…, Aa’ jilatin mau gak? “, lirih Ujang sambil mencium pentil susu istri saya , Ujang mulai membuka celana dalam istri saya, kemudian dia membuka paha istri saya lebar2 sehingga lubang kemaluan istri saya keliatan jelas, walaupun sudah pernah melahirkan sampai dua kali, tapi lubang kemaluan istri saya masih lumayan menggigit, ( tau deh sudah berapa kali lubang istri saya di masukkin kemaluannya si Ujang ), Saya melihat Ujang mulai menyiumi perut istri saya, kemudian semakin lama semakin turun, pas sampai di lobang kemaluannya, istri saya menjerit kecil, “ Ouhhh….Ahhhhh….sss<br />
ssshhh…jangan di gigit Aaaa’, sakittt&#8230;.”, jerit istri saya sambil tangannya meremas seprei kasur ,‘Sialan!!’, rupanya si Ujang balas dendam tadi kemaluannya di gigit istri saya, Ujang mulai menjilat2 lubang bagian dalamnya, hal ini membuat istri saya menggelinjang2 keenakan ( Padahal dia gak pernah mau kalau kemaluannya di jilat saya, takut songong katanya ), “ Ouuww…ssshh…gelliiiiii…uhh…ssshhh….geliiii..”.<br />
istri saya mengerang2, makin beringas saja Ujang memainkan lubang kemaluan istri saya, sementara saya lihat istri saya semakin liar, kepalanya di goyang kekiri-kekanan, tangannya menjambak dan menarik2 rambut si ujang, pinggulnya ditarik maju mundur “Ouuhhh…owwhh..ssshhh…udahhh..udahhh..geliiii..”, rengek istri saya, ‘Waduhh’, mendengar istri saya mengerang2 semakin tegang aja nih kanjut, apa kanjut si Ujang juga sama?&#8230;Ehh..ternyata sama juga tuh, saya lihat kemaluan si Ujang perlahan2 mengeras, sambil terus menjilat kemaluan istri saya, Ujang mengocok2 kemaluannya sendiri hingga makin lama kelihatan kemaluannya semakin tegang, “ Sshh…mmbb..slrruppphh…nymmh..nymm…sshhh..”, Ujang terus membantai lubang kenikmatan istri saya, “ Euis…kanjut Aa’ udah siap nihh..di lanjut teu..???”, Tanya si Ujang sambil mengocok kemaluannya di depan lubang kemaluan istri saya, “ Lanjutiinnn…Aaa’..udah basah nihh….uhhhh…”, desis istri saya sambil mengangkang lebar2. Sejurus kemudian Ujang mulai memasukan kemaluannya di lubang kenikmatan istri saya, “ Ssssshhh&#8230;&#8230;&#8230;.”, Ujang mendesis panjang ketika kemaluannya masuk kedalam lubang nikmat istri saya, “ Uhhhhh….ssshh….aahhh Ouhhh…..enakkk…”, istri saya mengerang kenikmatan kelihatannya dia memang sudah tidak sanggup menahan birahinya, “ Ayuh atuh Aa’…di kocok dong kanjutnya…”, rengek istri saya. Ujang mulai menggenjot kemaluannya turun naik, ‘slepphh..clepp..cleephh..’ bunyi kemaluan istri saya nyaring sekali, itu menandakan kalau lubang surga istri saya sudah basah sekali dengan cairannya dia sendiri, sementara si Ujang berusaha memompa birahinya biar sampai puncak, tapi karena dia tadi sudah keluar sepertinya bakal lama nih ejakulasinya,<br />
“ Ukhh..uhh..ukhh…ahh..ahhh..ukh…sshhh…uuhhh….ouhhh…” suara dua insan yang di kuasai nafsu memenuhi ruangan kamar, sesekali Ujang mengulum pentil susu istri saya, membuat istri saya semakin menggelinjang, “ Eeeehhh..ssshhh…enakkk Aaaa’…terusss..auwwwhh….ngeunahhhhhh…..Ooooooooo..”, melihat istri saya keenakan, Ujang terus mengulum pentil susu istri saya sambil terus mengocok kemaluannya turun naik, semakin lama semakin cepat sehingga membuat istri saya tidak kuat lagi menahan birahinya pinggulnya bergoyang cepat pantatnya diangkat dan…. ”Aaaaaahhhh  …Euissss… …..keluarrrr… .A’aaaa …Ooooooouuhhh……..”,Istri saya mengerang sambil pahanya di tutup rapat menjepit pantat ujang, ‘ serrrr…..’ cairan istri saya keluar sepertinya, saya melihat dari celah lobang kemaluannya, mengalir cairan bening, tangan istri saya meremas punggung Ujang kuat2, “ Akhh…aauwwwhh….ssshh…..Aahhhh….ouhhhhhh…enakkkk……….” Ujang yang merasakan hangat di kemaluannya semakin kuat menggenjot lubang surga istri saya sesekali pantatnya di putar2 sambil di dorong habis ke depan,<br />
“ Ugh..ukh…uhh…uhhh…lobangnya banjirrr….uuhhh…”, rintih Ujang sambil terus mengocok kemaluannya, “ Ahh…uhhh…Brenti dulu…A’…Euis ngiluu….akhh..”, istri saya menjerit2, tapi kelihatannya Ujang gak peduli, dia terus menggenjot, karena merasa ngilu, istri saya membalas dengan menggoyangkan pantatnya kekiri-kekanan, sambil sesekali di hentakkan ke atas, Karuan aja si Ujang kewalahan, kemaluannya berdenyut-denyut ,“Ahhh…sshhhh….enakkk.ahh..ahhh…Ough”<br />
Ujang mencengkram kedua tangan istri saya, gerakan pantatnya makin cepat, dan beberapa detik kemudian pantatnya di hentakkan kuat2….” Aarrrgggghhhh…..urang keluarrr …Isssssss………..Arrrrhhhhhhhhhhh….Ouuhhhhh………….”,<br />
‘Crootttttt..crottt…’, Ujang mengerang panjang pantatnya berkedut2, tubuhnya di hempaskan di atas tubuh istri saya pantatnya terdorong ke depan sangat kuat, “ Ahhhh….sssshhhhhhh…..oouuhhhhh…..enakkk…..”,<br />
lenguh Ujang sambil sesekali menggoyangkan pantatnya, kulihat spermanya mengalir keluar dari celah2 lobang kenikmatan istri saya, ‘ Sialll si ujang!!, ngapain air maninya di buang di dalam, untung aja istri saya KB kalo gak’, umpatku dalam hati, gak berapa lama Ujang turun dari tubuh istri saya, ‘ kesempatan nih mumpung dia berdua masih lemes, saya kerjain ah saya pura2 grebek aja’, pikir saya, soalnya terus terang saya juga gak marah dengan kelakuan mereka berdua malah saya menikmatinya, lihat aja ujung kepala kanjut saya malah basah, terus pelan2 saya jalan ke pintu kamar<br />
‘Brakkkkk!!!’, pintu kamar saya tendang hingga terbuka, Ujang dan istri saya kaget bukan kepalang, “ bangs*ttt !!!, ngapain kamu berdua Ha???..”, hardik saya, muka Ujang pucat pasi istri saya langsung panik, “ A..ampun..kang..ampun….”, kata Ujang ketakutan,<br />
“ Iya A’ aku juga minta ampun…”, rengek istri saya langsung mencoba memeluk badan saya, Cuma saya dorong lagi aja ke tempat tidur, “ Kamu berdua bikin malu!!, sekarang juga kamu berdua ke kantor desa!!, saya tarik tangan si Ujang, Ujang langsung sujud di depan saya, “ Ampuunnn kang, jangan bawa saya ke Kuwu ( panggilan kades kalo di kampung ), tolong saya kang, nanti bapak saya tahu dia jantungan ( si Ujang memang belum punya istri dan masih tinggal bersama orang tuanya ), saya mau di suruh apa aja, saya mau kang asal jangan di bawa ke pak kuwu, tolong kang..”, Ujang merengek sambil mencium kaki saya, gak berapa lama istri saya juga ikut sujud di kaki saya, “ Iya A’, tolong jangan bawa saya ke desa, Aa’ boleh ceraikan saya, saya rela…tolong jangan bawa ke desa nanti bapak jadi malu, kasian bapak A’..”, rengek istriku sambil terus menyiumi kaki saya, ‘Hmm…ini dia saya kerjain aja nih’ pikir saya dalam hati.” Ya sudah begini saja, kamu Jang bikin surat perjanjian bahwa kamu mau ngelakuin apa aja yang saya suruh, kalau kamu menolak, urusannya aku bawa ke kantor polisi, gimana?”, tanya saya sambil mengambil kertas dan ballpoint dari dalam laci, “ Iya kang saya sanggup…”, jawab Ujang lirih, sambil bangun menuju meja, “ Kamu Is!, kamu juga buat perjanjian kalau kamu juga mau aku suruh apa aja, kalo gak aku kasih tahu bapak kelakuan kamu ini dan aku laporin polisi karena kamu sudah berselingkuh”, kata saya sambil memberikan kertas ke istri saya, “ Iya A’, maafin saya yah…”, setelah kedua2nya selesai membuat surat perjanjian, saya suruh mereka berdua untuk ‘main lagi, “ Nah sebagai hukumannya kamu berdua harus mengulangi apa yang kamu perbuat tadi di hadapan saya, saya mau merekamnya buat bukti” kataku sambil mengambil HP kamera yang ada di saku ,<br />
Ujang dan , saling pandang, mereka gak nyangka hukumannya bakal aneh begitu,<br />
“ Tapi A’..? “, istri saya keheranan sementara Ujang cuma menunduk lesu, “ Sudah kamu mau apa tidak?, kalo tidak aku ke pak kuwu sekarang..”, aku berkata sambil mengarahkan kamera ke mereka berdua, “ I..iya,,deh A’…saya mau…” sahut istriku terbata2, “ Kamu jang..???&#8230;”, tanya ku, “ Saya terserah akang aja, tapi kayaknya saya gak sanggup kang tadi udah keluar dua kali, lagian saya malu kalo di liatin”, jawab Ujang sambil memegang kemaluaanya yang sudah lembek, “ Gak usah malu Jang, anggap aja aku gak ada, kan mumpung akunya juga gak marah, jadi kamu bisa main sepuas kamu gimana?”, kataku meyakinkan si Ujang, “ Ya udah deh kang, beneran gak apa2 nih aku main sama istri akang??”, tanya Ujang lagi, “ Udah, beneran gak apa2 kok, sana naik ke tempat tidur gih!!”, sahutku.<br />
Ujang beringsut naik ke tempat tidur, sementara istri saya sudah duduk di atas tempat tidur, badannya sedikit di tutupi selimut, “ Euis !!, ngapain di tutupin biarin aja di buka, biar Ujang bisa nikmatin tubuh kamu “, kata saya mirip seorang sutradara yang sedang memberikan pengarahan ke para pemainnya, Ujang duduk di sebelah istri saya, mukanya masih pucat ketakutan.<br />
“ Ayoh !!&#8230; Is…bangunin tuh kanjutnya si Ujang, kamu khan..jagonya kalo bangunin kanjut.”, kataku sambil mulai merekam mereka berdua, perlahan Euis bangun dan mulai menghampiri kanjut Ujang, jari tangannya yang lentik mulai mendarat di batang kanjut Ujang, sementara ujang mulai rebah di kasur, rupanya dia juga gak mau terlalu terlihat mukanya oleh sorotan kamera HP-ku, Euis sudah mulai beraksi, dia kelihatan agak canggung mungkin malu sama aku suaminya, mungkin pikir dia mana ada suami yang menyuruh istrinya bersetubuh dengan orang lain, “ Eh Euis.yang bener atuh,kalo kanjut Ujang gak keras2 kapan kalian mau mainnya???..”, kataku sambil terus merekam, Euis pun mulai memasukkan kepala kanjut Ujang di dalam mulutnya, dia kulum2 pelan2 sesekali dijilat2 ujung kepalanya, Euis memang pintar untuk yang satu ini, dia tahu titik mana di bagian kemaluan Ujang yang paling sensitif, buktinya Ujang mulai menggelinjang kegelian, Cuma dia gak berani mengeluarkan suaranya, “Heh…Jang…mana suaranya???&#8230;.tadi waktu main yang pertama kok keras sekarang kok diam??,..Hayo…keluarin suara kamu !!&#8230;”, perintahku, Ujang dengan sedikit malu mulai bersuara, “ Sssshhhh…..mmmmpphhhhh….terrusss..Iissss….ouhhhh….”, rintih Ujang,<br />
Euis juga makin bersemangat ketika melihat batang kanjut Ujang mulai mengeras, sisa2 air mani Ujang yang mulai mengering tidak di hiraukannya, dia terus menjilat dan mengulum2, “ Mmmmpppphhh…slrruuuppphhh…emmmmhh..emmhh…emmhh..”,<br />
Kemaluan Ujang dia putar2, buah zakarnya di kulum sambil di tarik2 sampai kempot, karuan saja Ujang makin keenakan, “ Okh..Ukhh…ssshhh…enak..Is, benerrrrr….”, Ujang mengerang2 tangannya mulai meremas2 rambut istriku, sementara aku yang menyaksikan adegan itu juga mulai horny lagi nih, aku buka tali ikat pinggangku kemudian kanjutku kubiarkan keluar, Euis sempat melirik perbuatanku, Cuma dia tidak bisa komentar karena mulutnya penuh dengan biji zakar milik Ujang, sementara tubuh Ujang menggeliat2 sepertinya dia merasa ngilu karena sudah dua kali kanjutnya memuntahkan air mani, “ Uughhh…ohhh…ngiluuu euy..Iss…ngiluuu..atos atuhh..”,<br />
Rengek Ujang memohon supaya istri saya menghentikan pembantaian pada kemaluannya.Kasihan juga si Ujang belum sempat istirahat lama kanjutnya sudah di paksa bangun lagi,<br />
Akhirnya saya suruh istri saya supaya mulai beraksi, “ Euis..ayoh kamu naik di atas kanjut ujang, gantian kamu yang genjot sekarang..”, istri saya beringsut pantatnya berada di atas kemaluan Ujang, kemudian sambil terus di genggam perlahan kanjutnya di arahkan ke lobang kenikmatannya, sejurus kemudian dimasukkannya batang nikmat Ujang ke lobang vaginanya, “ Ahhhhh……”, istri saya mendesis ketika batang kanjut Ujang amblas ke dalam lobang kemaluannya, “ Uuuuuhhhhh…..ssshhh….”, Ujang mendesis juga kelihatannya dia sedang merasakan nikmat bercampur ngilu, istri saya mulai menaik turunkan pantatnya, ‘cleppsss…sleppphh…cleppss…’, bunyi kedua kelamin ini begitu nyaring mungkin karena lobang kemaluan istriku masih terisi oleh sperma Ujang jadinya bunyinya nyaring, apalagi kulihat batang kanjut Ujang belepotan cairan putih setiap keluar masuk lobang kemaluan istriku, “ Ouwh..ouwww..ssshhh….”<br />
Istriku merintih2 keenakan, tangannya menggenggam erat sprei tempat tidur, Ujang yang berada di bawah juga gak mau kalah, tangannya meremas2 payudara istriku dengan mesra, “ Sssshhh….ennaaaakk….aahhhh…terrusss…. Issss….”, rintih Ujang keenakkan Istri saya makin bersemangat pinggulnya turun naik dengan cepat,<br />
matanya merem melek, sementara mulutnya menganga mengeluarkan suara2 yang gak jelas,“ Ouwwhh…hrrrhhh….aarrrgggg….ooupppphhhh….owhh..ouwwggghh….”<br />
beberapa menit kemudian saya suruh istri dan Ujang untuk berganti posisi, sekarang saya minta istri saya untuk nungging, “ Ayohh..Euis kamu sekarang nungging, biar Ujang tusuk lobang kamu dari belakang…”, istri saya menurut dia bangun kemudian menungging di atas tempat tidur, sementara Ujang beringsut menghampiri pantat istriku yang sudah menganga menunggu kanjutnya untuk di masukkan ke dalam lobang kenikmatannya, “ Eeegghhhh….ssshhhh…..”, Ujang mulai memasukkan batang kemaluannya ke dalam lobang vagina istriku, ‘ Sleeeppppsss…’, sekali tekan masuklah batang kanjut itu, “ Aaahhhhh…….ssssshhhhh…..ennaaaakkkk….”, istri saya mendesis panjang, batang kemaluan mulai keluar masuk lobang vagina istriku, bunyinya nyaring‘ Clepss..clophh…clops…clepss..cloph…cloph…’, Ujang terus menggenjot<br />
kanjutnya, tangannya meremas2 pantat istriku “ahh…akhh..ukkh…ogghhh…ssshh…ohhh…uuhhhhh….enaakkkk…ssshhhh….”<br />
Ujang terengah2 menikmati vagina istriku, “ Ssshhh….uhhh…aaaaaa….ennaakkk…”<br />
Istri saya juga mengerang2 kenikmatan, Sementara saya lihat Ujang mulai kepayahan, dengan posisi bersetubuh seperti ini membuat kanjutnya tidak dapat bertahan lama,<br />
“ Oghh..sssshhhh…..addd..ddduuuhhh….teuu…kuattttsss..deui…euuhhhh…….”,<br />
Ujang menggenjot makin cepat, kemudian secara tiba2 dia mencabut kanjutnya dan mengocoknya di luar vagina istri saya di sertai lenguhan panjang, “ Aaaaaaaahhhhh…”,<br />
‘Crroootttt…crettt..cre..cettt..’ muncratlah cairan mani ujang di atas pantat istriku<br />
“ Urangggg…..Keluarrrrrrrr…..Ouuhhhhhhhh………”, Ujang mengerang2 perutnya berkedut stiap kali maninya menetes dari kepala kanjutnya, kemudian dia ambruk ke kasur, “ Yahhh…Jang…kamu udah keluar?..”, tanyaku sambil mengarahkan kamera Hp-ku kearah Ujang yang terduduk lemas, “ Uhh..iya..kang, gak kuat kalo gaya kayak gitu”, Ujang berkata lemah sambil mengelap kanjutnya dengan kain seprei<br />
Aku mematikan proses rekamnya, kemudian aku melihat ke arah istriku yang masih nungging di kasur, sambil membuka celana dan kaosku aku menyuruh Ujang untuk turun dari kasur, “ Sudah kamu turun Jang duduk di kursi gantian aku yang mau ng*nt*t nih”,Kata saya sambil menghampiri tubuh istri saya Euis.<br />
Malam itu saya mampu bersenggama dengan istri saya lebih dari biasanya, saya merasakan nikmat senggama yang luar biasa, ini karena sensasi yang saya dapatkan dari melihat adegan istri saya bersenggama dengan Ujang. Sejak saat itu bila saya ingin mendapatkan sensasi yang luar biasa waktu ML dengan istri, maka saya biasanya mengajak Ujang atau orang lain untuk terlebih dahulu menyetubuhi istri saya, berkat surat perjanjian yang di buat istri saya dan Ujang maka saya bisa menyalurkan hasrat seks saya yang tidak lazim ini dengan mudah, tapi lama-kelamaan istri saya juga mulai terbiasa dengan hal itu, malah sekarang dia dapat lebih menikmatinya dan terkadang lebih sering dia yang memilih pasangan untuk bersenggamanya, kami punya banyak pengalaman untuk di ceritakan bila berkenan.</p>
<p>Akhirnya setelah di cari ketemu juga MMC hapeku, jadi bisa share video pertama kali waktu Istriku ML sama si Ujang mantan pacarnya waktu SMA dulu, Nah video ini yang bikin saya jadi ketagihan banget lihat istri saya ML sama orang lain, sebelum istri saya Ml sama saya, jadi gak terlalu threesome sih, karena biasanya saya nikmatin dulu adegan itu, itung-itung nyaksiin live show filem porno gitu.</p>
<p><a href="http://www.bokepzone.com/wp-content/uploads/2009/12/IstrikuMLsamaUjang_aku_rekam.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2495" title="Istriku ML sama Ujang selingkuhan nya aku rekam" src="http://www.bokepzone.com/wp-content/uploads/2009/12/IstrikuMLsamaUjang_aku_rekam-300x277.jpg" alt="" width="389" height="359" /></a></p>
<p>klik &gt;&gt; <a target="_blank" title="isti ku selingkuh" href="http://www.missupload.com/donyznhhf01u/IstrikuMLsamaUjang_aku_rekam.3gp.html" target="_blank">download bokep</a></p>
<p>video kiriman dari member bokepzone</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bermula-ketika-menyaksikan-istri-selingkuh-sekarang-saya-jadi-ketagihan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku, Istriku dan Temanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku sudah kurang lebih 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik-baik saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak, tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya aku sudah kurang lebih 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik-baik saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak, tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam dan merawat wajah, rambut ke salon dan juga karena anaknya dulu minum susu kaleng sehingga bentuk buah dadanya yang besar itu tetap indah dan masih kencang serta kenyal. Juga lubang vaginanya saat habis melahirkan langsung dijahit sehingga lubangnya kembali seperti saat masih perawan. Jadi hubungan seks kami tetap indah. Suatu hari di tahun 1995, kami diajak sebelah tetangga untuk nonton blue film karena baru beli laser disc. Kami dan suami istri tetangga nonton film itu yang cukup seram karena ada seorang wanita bule disetubuhi oleh dua orang Negro, mereka bergantian memasukkan penisnya yang seorang ke vaginanya dan yang seorang ke mulutnya untuk dihisap. Melihat adegan itu rupanya istriku jadi naik birahinya sehingga memegang tanganku erat-erat dan berbisik, “Waah rupanya nikmat sekaligus lubang atas dan bawah kemasukkan penis.” Kutanya pelan-pelan, “Apakah kamu kepingin adegan begitu?” Istriku dengan malu-malu menganggukkan kepalanya. Setelah selesai memutar laser disc, kami segera pulang dan karena nafsu birahi kami sudah memuncak segera kami puaskan dengan bersetubuh malam itu. Sambil bersetubuh, aku tanya lagi kepadanya, “Mi, apakah kamu kepingin disetubuhi sekaligus dengan dua laki-laki?” Istriku memandangiku sambil malu-malu manggut-manggut kepalanya. Kutanya lagi, “Kalau lakinya dua, satunya kamu ingin dengan siapa?” Istriku menjawab, “Terserah sama Papi saja.” Aku teringat punya dua teman baik sejak sekolah di SMA, yaitu Lud seorang anak turunan Ambon dengan Belanda dan Tono seorang Cina seperti kami. Lalu kutanya lagi, “Kalau Lud atau Tono mau?” Dia menggangguk juga. Lalu kujelaskan lagi, “Mami senang yang penisnya besar, lebih besar dari kupunya atau yang kira-kira sama?” Istriku menjawab, “Enak yang besar saja, seperti di film tadi.” “Oh kalau gitu ya si Lud saja sebab dia punya panjang dan besar.” Memang kita dulu pernah mandi sama-sama bertiga saat masih sekolah ternyata Lud punya penis dalam keadaan mati saja besar dan panjang hanya warnanya agak hitam lalu bulu kemaluannya juga banyak sampai menyambung ke bawah pusar juga dadanya penuh dengan bulu maklum orang Ambon. Besok paginya segera kuinterlokal Lud yang ada di Jakarta dan kuceritakan maksudku, ternyata Lud menyambut dengan antusias dan sanggup datang besok sore sebab hari Sabtu kantor di Jakarta tutup. Aku kemudian booking motel yang terdiri dari 2 kamar dan sebuah ruang tamu dan TV. Hari Sabtu sore aku menjemput Lud di airport bersama istriku, setelah menitipkan anak pada pembantu. Istriku sudah siap membawa tas dengan membawa perlengkapan baju tidur segala, saat itu istriku memakai rok panjang warna coklat tapi bagian atas terbuka sampai dada hanya memakai baju tipis (modelnya Yuni Sara) dengan bagian bawah ada belahannya agak tinggi di depannya sehingga kalau jalan atau duduk pahanya terlihat putih menggairahkan. Juga bagian atasnya terlihat sedikit belahan buah dadanya, karena istriku hanya memakai bra strepples tanpa tali, sehingga di airpot banyak mata laki-laki curi pandang lihat belahan buah dadanya istriku, apalagi kalau tangannya didekapkan di bawah buah dadanya maka buah dadanya semakin menyembul ke atas. Makin syuur..! Tepat pukul 17.15 pesawat Merpati dari Jakarta mendarat, dari penumpang yang turun kulihat Lud menuruni tangga pesawat dengan menenteng tas kecil. Dia memakai T-shirt dan celana jeans. Setelah keluar pintu airport segera kusalami dia, dia menepuk-nepuk bahuku dan berkata, “Waah, nanti malam kita betul-betul ke nirwana”, dengan logat Ambonnya. Kemudian dia memeluk istriku sambil mencium pipi kiri dan kanan yang mulus dan putih dari istriku. “Apa kabar Hwa?” tanyanya pada istriku. Dia kalau panggil istriku dengan Hwa. Kita berjalan menuju parkir dan naik mobil, untuk sementara dia duduk di belakang sendirian dulu sambil kita cari makan. Istriku usul makan sate kambing saja biar hot katanya. Dan usul itu kita setuju semua. Setelah sampai motel kita segera check in, temanku sebagai tamu kuberi kamar yang besar dengan twin bed sekaligus untuk tempat bermain seks-ria nanti. Baru saja aku selesai dari kamar kecil menuju ruang TV yang bersebelahan dengan kamarnya Lud yang masih terbuka pintunya, kulihat Lud memeluk istriku dari belakang menghadap kaca rias sambil tangannya meremas-remas buah dada istriku sehingga kedua pentil buah dadanya yang coklat kemerah-merahan itu menyembul keluar sambil menciumi pipi istriku yang wajahnya menengadah ke wajahnya Lud. Tangannya lud yang kanan kadang-kadang terus meraba turun ke perut dan terus turun untuk disusupkan ke belahan atas dari rok istriku untuk meraba pangkal paha serta vagina istriku. Tampak istriku mulai mendesis kenikmatan serta menggeliat dengan tangan kanannya coba memijit penisnya yang masih pakai jeans itu. Adegan ini masih berlangsung beberapa saat walaupun mereka tahu aku di dekatnya. Ketika kutanya pada istriku, “Mi, nikmat ya permainannya Lud?” Istriku menjawab, “Waah, aku nggak tahan lagi Pi, habis sejak dalam mobil tadi Lud terus mempermainkan dan meremas buah dadaku terus.” Memang istriku kalau buah dadanya sudah dipermainkan lalu nafsunya meroket naik, mungkin ciri khas wanita-wanita yang punya buah dada besar. Karena Lud mau mandi dulu, maka aku dan istriku yang sudah mandi dari rumah duduk di sofa menonton TV dulu. Istriku berkata kepadaku, “Waah Pi, pertama aku dirangkul dan diciumi oleh Lud badanku rasanya merinding dan panas dingin. Habis bulu tangannya dan kumisnya begitu geli rasanya waktu menggesek tubuh dan pipiku.” “Tapi Mami bisa nafsu ya dengan Lud?” tanyaku. Istriku dengan malu manggut-manggut. Lalu dia bilang lagi, “Kalau nanti malam Papi tidur sendirian bagaimana? Sebab katanya aku akan diajak tidur dengannya semalam.” “Nggak apa-apa, yang penting Mami bisa keturutan mendapat kepuasan”, jawabku. Memang entah kenapa perasaanku saat melihat Lud memeluk dan meremas buah dada istriku aku tidak cemburu bahkan nafsuku menjadi berkobar, apa mungkin aku punya kelainan seks pikir dalam hatiku. “Tadi Lud bilang kalau nanti malam air maninya akan disemprotkan terus ke seluruh tubuhku dan vaginaku sampai habis. Dan lendir santanku akan dikuras sampai kering dengan penisnya”, kata istriku. Aku pesan pada istriku agar satu hal yang jangan dilakukan adalah minum air maninya, walaupun nanti kalau nyemprot saat dihisap. Jadi harus diludahkan. Beberapa saat kemudian Lud bertanya pada istriku, “Hwa, apakah kamu tak bawa pakaian tidur? Tapi kalau tak bawa ya tak apa-apa sebab nanti malam kan tak ada pakaian yang boleh menempel di tubuhmu sebab akan kuselimuti dengan tubuhku.” “Macam-macam kamu”, sahut istriku. Lalu istriku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan sikat gigi, juga aku masuk kamar untuk lepas pakaian dan hanya pakai CD saja. Sebentar istriku sudah selesai dan keluar dengan mengenakan pakaian tidur dari bahan tipis warna pink hingga terlihat CD mininya warna merah juga branya yang mini juga dari renda warna merah juga. Melihat istriku keluar dengan pakaian yang sensual sekali, Lud geleng-geleng dan bilang, “Waah aku bisa langsung tegang lho”, sambil pegang-pegang penisnya. Lalu istriku duduk di sofa sebelahku dan tangan Lud ditarik juga untuk diajak duduk di sofa juga. Sekarang istriku diapit sebelah kiri aku dan kanan oleh Lud. Tangan istriku dipegang Lud dan digosokkan ke bulunya di bawah pusar sampai menyambung ke bulu kemaluannya. “Wuuuiihh, cek… cek… cek”, gumam istriku sambil menarik tangannya. Sambil nonton TV tanganku dan tangannya Lud mulai bekerja. Lud menciumi pipi, telinga dan lehernya istriku sehingga kepalanya disandarkan ke bahu Lud dan menengadah untuk terus menerima ciuman-ciuman disertai permainan lidah Lud dan tangan kanannya terus mulai meraba dan meremas buah dada sebelah kanan dan naik turun ke paha istriku. Aku sendiri segera melepas kancing atas baju tidurnya dan kurogoh buah dadanya sebelah kiri untuk segera kuhisap pentilnya serta tangan kiriku meraba paha kirinya dan vaginanya bergantian dengan tangan Lud. Istriku tak tahan terus menggeliat-geliat sambil tangan kirinya memijit penisku dan tangan kanannya merogoh ke dalam celana santainya Lud untuk memegang penisnya. Adegan ini tak berlangsung lama hanya sekitar 5 menit, karena istriku tak tahan dan minta langsung ditancap dengan penis vaginanya. Lalu kita sama-sama masuk kamar, kulepas CD-ku dan ternyata Lud hanya pakai celana santai saja tanpa CD sebab begitu dilorot celananya langsung nampak penisnya. Walaupun belum hidup penisnya cukup panjang kira-kira ada 15 cm dan besar sekali dan kepalanya sudah menongol keluar karena dia disunat, tetapi kantong pelirnya agak kecil. Kupunya panjang dan besarnya hanya kira-kira 65 persennya saja. Istriku juga sudah bugil benar, lalu dia ditarik Lud ke hadapannya dan tubuhnya agak dirapatkan ke tubuh istriku jadi buah dada istriku yang menempel agak ketat dengan dadanya yang penuh bulu. Lalu Lud berpegang pada kedua lengan Hwa dan badannya digeser-geserkan naik turun, ke kiri dan kanan sehingga bulunya menggesek ke seluruh tubuh depan Hwa juga bulu kemaluannya kulihat sempat menggesek vagina istriku, hingga istriku kenikmatan sambil memejamkan mata. Aku jadi syuur melihatnya. “Addduuuh Lud, gila benar gesekan bulu atas bawahmu itu, tak tahan vagina dan buah dadaku kena gesekannya”, kata istriku. Selesai itu lalu Lud tidur dan istriku diminta menungging agak di bawahnya sehingga mulutnya pas depan penisnya dan aku diminta mengerjakan vaginanya dengan penisku. Saat menungging kelihatan buah dada istriku menggantung bebas dan langsung saja ditangkap dengan kedua tangan Lud dan terus diremas-remas. Istriku tanpa komando langsung mencaplok penis Lud yang mulai agak tegang dan mempermainkannya dengan mulut dan lidahnya. Lubang penisku dibuka-buka dengan ujung lidahnya dan kadang-kadang dikocok naik turun dengan mulutnya sehingga Lud mengerang nikmat. Aku sendiri langsung tegang keras dan terus kuhunjamkan maju mundur ke vaginanya. Mendapat dua penis yang sekaligus mengisi lubang atas dan bawah apalagi yang satu gede sekali istriku tampak bernafsu sekali, nafasnya kelihatan terus memburu sedang vaginanya mulai keluar santannya dan kental sekali. Kulihat istriku kadang-kadang tak menghisap penis Lud tapi memepetkan buah dadanya kepenis Lud dan ditaruhnya di belahan buah dadanya dan digosok-gosok dengan buah dadanya. Melihat itu lalu kupegang pantat istriku dan langsung kugoyangkan maju mundur sehingga sekaligus buah dadanya bisa menggosok-gosok penis Lud dan vaginanya mengocok penisku. Praktis kami laki-laki berdua diam hanya dengan goyangan pada pantatnya sudah membuat nikmat penis dua laki-laki dan kulihat vaginanya makin banyak dengan santan kental yang berwarna putih seperti susu. Aku bilang, “Waduuuh Lud, santannya Hwa mulai keluar dan kental sekali Lud”. Langsung dia bilang, “Aku juga tegang banget penisku disedot-sedot dan dipermainkan lubangnya oleh Hwa, ayo kita ganti posisi.” Temanku usul supaya istriku jangan capai sebab masih terus akan dikerjakan semalam suntuk, maka istriku disuruh yang tidur tapi pantatnya di ujung bawah kasur hingga kakinya bisa menapak ke lantai. Temanku nanti akan menancapkan vaginanya dari bawah sambil memegang dan membentangkan kaki istriku. Dan aku yang bertugas mengisi mulut atas dengan penisku dengan jongkok tepat di atas buah dadanya sehingga penisku tepat di hadapan mulutnya. Penisku juga langsung dicaplok oleh Hwa yang sudah memuncak nafsunya, baru beberapa saat Hwa melepas penisku dan mengaduh, “aachh…. Lud!” Aku melongok ke belakang ternyata Lud masih sibuk mau memasukkan penisnya sebab belum bisa masuk, yaah karena kelewat besar bendolan kepala penisnya saat tegang banget itu kira-kira ada 5 cm diameternya. “Sulit banget An masuknya coba kuberi minyak sedikit dulu”, katanya. “Masak toch padahal sudah kumasukan penisku dan sudah ada santannya lho”, sahutku. Lalu temanku ambil botol kecil isi minyak dan dioleskan kepala penisnya dengan minyak lalu dia mengambil semacam longsong dari karet dengan bagian dinding luarnya penuh bulu dari karet kira-kira panjangnya 1 cm. Longsong itu lebarnya kira-kira 10 cm. Kemudian dipakaikan ke penisnya hingga batang penisnya sebagian tertutup dengan longsong berbulu itu. “Ini supaya Hwa mendapat kenikmatan yang lebih hebat. Mau coba ya Hwa?” katanya sambil ditunjukkan ke istriku penisnya yang sudah gede dan panjang lagi hitam itu dilongsongi dengan gelang karet putih berbulu itu sehingga benar-benar menakjubkan kelihatannya. Istriku bilang, “Waah kayak apa rasanya nanti Lud, aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya habisi ya Lud air mani dan santanku!” “Oke” sahutnya. Lalu Lud mengangkat dan mementang lagi kaki istriku dan ujung penisnya ditempelkan tepat di lubang vagina istriku yang mulai menganga itu dan disentakkan ke dalam. “aacch… Lud, masuk Lud penismu”, kata istriku. Memang kepala penisnya Lud sudah masuk lalu digoyang-goyangkan keluar masuk pelan-pelan kepala penisnya supaya agak terbiasa. “Waduh Lud, Pi, rasanya seret sekali bibir vaginaku bisa merasakan bentuk penismu Lud”, kata istriku sambil matanya terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu baru dimasukkan seluruh batang penisnya yang tertutup gelang bulu itu pelan-pelan. Setelah terbenam semuanya, istriku mendesis lagi, “Aduh Pi, penis Lud mentok sampai dalam kepalanya rasanya menyodok mulut rahimku. Enaaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu”, dengan penis tetap terbenam penuh Lud mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun bergantian dengan kiri-kanan, sehingga penisnya menyapu seluruh dinding vagina istriku. Tangan istriku mulai meremas kain sprei dan minta penisku untuk dihisapnya. Penisku juga dipermainkan dengan lidah, lubangnya dibuka-buka dengan lidah, enaknya luar biasa. Aku sambil melihat ke belakang, kulihat penis Lud mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh clit-nya juga dan terlihat bulunya banyak santan istriku yang menempel. Setelah gampang masuk keluar penisnya, maka kaki istriku disuruh membuka dengan telapak kakinya manjat di pinggir kasur sehingga tangan Lud langsung meremas buah dada yang ada di bawah pantatku. Baru 3 menit jalan adegan ini, istriku sudah mengaduh, “Aah.. aah, aku mau klimaks, Lud, Pi!” Benar juga sekejap lagi istriku tampak lemas sehingga menghisapnya kendor dan Lud berkata, “Gila An, pijatan vagina istrimu kuat sekali di penisku.” Memang kalau klimaks istriku vaginanya memijit penis dengan kuat dan nikmat rasanya. Setelah agak kuat, istriku bilang, “Pi, Lud tolong semprotkan semua manimu ya, aku sudah pengin hangatnya manimu sekalian.” Aku tanya pada istriku, “Mi, gimana? Mami nikmat dan puas keinginan Mami untuk merasakan 2 penis sekaligus terlaksana?” “Ya Pi, Mami puas banget dan memang enaknya dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati 2 penis, apalagi ada yang gede-gede. Mami jadi kepingin terus”, sahutnya. Lalu Lud sudah mulai menggenjot lagi vagina Hwa dengan penisnya dan penisku dihisap lagi sambil dibantu dikocok dengan tangan. Setelah 5 menit lagi, istriku mencapai klimaks lagi. Lalu temanku bilang, “Ayo An, sekarang kita puaskan Hwa dengan semprotan mani secara berbarengan.” Lud mulai menggerakan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga istriku sering menggelinjang tubuhnya dan penisku mulai dihisap lagi sambil kadang-kadang dikocok dengan tangan, sedang buah dada istriku tetap menjadi bagian dari tangan Lud yang tak bosan-bosan meremas-remasnya. Makin lama Lud semakin cepat dan semakin keras menghunjamkan penisnya ke vagina Hwa dan mulai mendengus-dengus seperti sapi. Melihat itu akan jadi memuncak nafsuku dengan penis terus dikocok oleh istriku maka air maniku tak tertahan lagi, creet…. creet…. cret, maniku menyemprot masuk ke mulut istriku. Karena seminggu tak bersetubuh maka maniku banyak serta kental juga sehingga mulut istriku penuh dengan mani yang putih seperti cendol itu. Lalu penisku kukeluarkan dari mulutnya dan mani yang masih menetes dari lubang penisku kugeser-geserkan ke bibir istriku dan langsung ditelan semua maniku. Baru saja habis menelan maniku terdengar suara mengaduh dari temanku, “Uuuuuh…. uuuuhh…. uuuhh”, sambil menekankan kuat-kuat penisnya yang terbenam itu ke vagina istriku. Dan tiap kali Lud mengaduh istriku pun ikut mengaduh, “aah Lud… aahh Lud… aah Lud.” Jadi rupanya tiap kali semprotan mani Lud terasa sekali nikmatnya oleh istriku. Aku lalu rebah tidur sebelah istriku dan temanku juga langsung rebah menindih tubuh istriku. Walaupun dengan nafas yang masih memburu tangan temanku tetap masih meremas buah dada Hwa. Kemudian tubuh Lud dipeluk erat oleh istriku dan kakinya pun dilipatkan erat-erat ke pantat Lud dengan maksud agar penisnya jangan buru-buru dicabut dari vaginanya. Kira-kira sampai 5 menit kita bertiga terdiam tanpa kata-kata hanya dengan nafas tersengal-sengal, baru kemudian aku turun menuju kamar mandi untuk cuci dan ternyata Lud dengan merangkul istriku juga ikut ke kamar mandi untuk cuci bersama. Untuk mencuci penis-penis, istriku yang bertugas karena kepunyaan Lud yang banyak belepotan santan dari mani istriku maka penisnya yang dicuci dulu. Kulihat dari vagina Hwa meleleh sedikit mani yang keluar ke pahanya dan kulihat bibir vaginanya memerah. Istriku bilang, “Ya Pi bibir vaginaku merah? Itu gara-gara penis temanmu itu toch yang seretnya bukan main mulai dari bibir vagina sampai dinding dalam vagina seret terus, sehingga vaginaku bisa merasakan lekuk-lekuk penis Lud.” “Tapi nikmat dan nikmat toch sayang?” balas Lud. Istriku tertawa tanda setuju, sambil terus mencuci penis Lud dan kemudian penisku. Setelah itu giliran istriku vaginanya mau dicuci oleh tamanku, istriku duduk di closet dengan kaki terbuka lebar kemudian vaginanya dicuci dan jari tengahnya dimasukkan pelan-pelan untuk mengambil mani yang menempel di dalam dan ternyata ada sedikit dan ditunjukkan ke istriku. Istriku bilang, “Wah Pi, maninya Lud ngendon dalam vaginaku nih sebab tadi semprotannya banyak dan sampai tiga kali tapi yang keluar sedikit sekali. Mungkin masuk ke rahim sebab dalam perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lubangnya benar-benar disodokkan sampai rasanya masuk lubang rahimku. Gimana ya Pi?” “Biarin saja lama-lama kan keluar sendiri, sekarang dikeluarkan percuma nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi.” “Bukan malam ini saja mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku ke vaginamu”, sahut Lud. Istriku menjawab, “Betul Lud, kamu biar kembali ke rumah dengan tempat yang kosong jadi manimu 2 hari ini harus dihabiskan sampai tuntas.” Setelah selesai mencuci, kita bertiga dengan berbugil ria duduk di sofa sambil makan kacang mete dan nonton TV. Temanku berkata, “An, kamu beruntung sekali punya istri dia, walaupun sudah setengah baya dan punya anak tapi buah dadanya masih berdiri menantang tidak jatuh, juga perut dan pahanya mulus sekali tidak keriput, siapa yang tak tegang terus lihat tubuh seindah ini. Apalagi hisapannya juga yahut, kalau jadi istriku tiap hari bisa kusetubuhi minimum 2 kali! Istriku berbisik padaku, “Sudah kesampaian keinginanku untuk melayani nafsu birahi 2 laki-laki sekaligus dan ternyata memang tambah besar nafsunya serta nikmatnya pun tambah. Oya Pi, malam ini aku tak tidur dengan Lud ya, aku akan melayani Lud untuk menyalurkan nafsu sexnya sepuas-puasnya supaya tak kecewa kalau balik ke Jakarta.” Aku menjawab, “Boleh saja, Lud malam ini Hwa biar melayani kamu supaya kamu bisa melampiaskan semua nafsu binatangmu padanya.” “Memang sejak aku makan sate kambing, aku sudah minta supaya dia malam ini dan besok pagi melayani nafsu binatangku”, kata Lud. Kemudian istriku minta tiduran, kepalanya di pangkuan Lud sedang pahanya di pangkuanku sambil tangannya memegang-megang penis Lud lalu digosokan ke pipinya dan diciuminya. Tangan Lud diletakkan di buah dada istriku sambil mengusap, meremas dan kadang menunduk untuk mengecup bibir istriku. Dia kalau mengecup sampai lama hingga istriku sampai sulit bernapas dan minta dilepas kecupannya. Sedang bagianku adalah mempermainkan clit-nya dan memasukkan jari tengahku ke dalam lubangnya dan penisku sambil digesek-gesek dengan betisnya. Lud kadang-kadang memeluk tubuh istriku dan kemudian menciumi pipi dan mengecup kening dan bibir istriku dan tangan istriku pun mengusap-usap dadanya yang berbulu itu. Kemudian Lud berkata padaku, “An, sebenarnya aku sudah lama tiap kali bertemu dengan Hwa, aku kepingin menikmati tubuhnya dan malam ini jadi kenyataan. Untuk itu malam ini istrimu kupinjam untuk menemani tidur sebab aku akan melampiaskan seluruh nafsu binatangku pada Hwa dan penisku akan kusimpan dalam vaginanya sepanjang malam. Aku akan memberikan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira pada Hwa.” “Boleh Lud, malam ini istriku biar melayanimu agar kamu benar-benar puas”, sahutku. “Tapi kalau nanti malam Papi butuh ya Papi ikut masuk saja sebab Mami tetap akan melayani Papi juga malam ini, untuk itu nanti pintu kamarnya biar terbuka saja jadi Papi dapat lihat dan dapat masuk ikut juga”, kata istriku. Setelah itu Lud bertanya pada istriku, “Apakah kamu sudah fit lagi untuk main?” Istriku menjawab, “Aku selalu siap setiap saat untuk melayanimu dan Papi. Malam ini aku benar-benar sehat makin mendapat semprotan mani semakin sehat rasanya, sebab manimu tadi yang keluar hanya sedikit lainnya masih berada di dalam rasanya masih hangat di dalam perutku, Lud.” Setelah itu Lud berdiri sambil membopong istriku dibawa masuk ke kamar dan ditidurkannya. Lud memanggilku untuk menemani istriku dulu karena dia akan ke toilet dulu, kesempatan itu kupakai untuk mencium dan mengecup bibirnya dan mengulangi pesanku, “Mi jangan lupa kalau maninya lud disemprotkan ke dalam mulut hati-hati jangan sampai tertelan dan jangan mau kalau penisnya dimasukkan ke dalam lubang anusmu!” “Iya Pi, akan kuingat terus pesan Papi”, sahut istriku. “Selamat menikmati penisnya Lud yang gede ya Mi, nanti Papi diberi ceritanya ya!” kataku. Saat itu Lud sudah balik masuk kamar dan aku duduk lagi di ruang TV sambil menonton juga mau menonton adegan permainan Lud dengan istriku karena pintu kamarnya terbuka. Lud naik ke tempat tidur dengan posisi di atas istriku, kemudian dadanya yang penuh bulu digesek-gesekkan ke buah dada istriku sehingga istriku menggelinjang kegelian dan terus digesekkan ke bawah yaitu perut, dan vaginanya. Setelah itu Lud naik lagi lalu mulai menciumi kening hidung dan pipi dari istriku lalu mencium telinga istriku dengan mengeluarkan lidahnya untuk mengorek lubang telinga istriku sampai istriku meronta karena geli dan tangan istriku segera meraih penisnya yang selama ini menggelantung dan ujungnya menggesek-gesek paha istriku. Segera dipijit-pijitnya penis Lud dan kadang-kadang dikocok juga serta kantung buah pelirnya diremas-remas juga. Hal itu membuat Lud lebih ganas dia segera mencucupi puting buah dada istriku sambil tangannya meremas-remas buah dadanya dengan harapan ada air susu yang keluar. Tapi walaupun buah dada istriku montok tak keluar air susunya kalau diperas. Penisnya dipermainkan oleh istriku tampak tegang dan panjang banget, lalu Lud mengambil posisi gaya 69, hingga mulutnya pas di vagina dan penisnya tepat di wajah istriku. Keduanya yang langsung beraksi, penisnya yang gede segera dijilati dan dilumat dengan lidah seluruh bagian kepalanya yang nampak gempel besar itu sambil batang penisnya dipijit terus oleh istriku dan dia terus mencucup clit dan lubang vagina istriku. Kurang lebih 10 menit adegan ini lalu gantian Lud yang tidur dan istriku yang duduk di atas penisnya tepat dengan vaginanya. Kepala penisnya dimasukkan ke dalam vagina istriku lalu mulai diputar pantatnya sehingga penisnya berputar dengan dipegang bibir vagina istriku sedang tangan Lud tetap meremas buah dada istriku. Kira-kira sudah 10 menit lewat mani Lud tetap belum menyemprot dan istriku juga belum klimaks, lalu oleh istriku mulai digoyang naik turun pantatnya kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat sehingga penisnya keluar masuk vagina seperti dikocok dengan vagina. Dengan posisi ini baru 5 menit istriku klimaks dan dia diam terduduk di atas penis Lud dengan vaginanya memijit penis. Setelah fit lagi digoyang lagi sampai klimaks lagi istriku. Akhirnya istriku menarik Lud untuk duduk dan istriku tetap duduk di penisnya dan kakinya diselonjorkan di antara tubuh Lud. Lalu Lud yang ganti menggoyangkan pantat istriku maju mundur sambil kadang-kadang istriku ditidurkan ke belakang dan Lud tetap mendekapnya. Dalam waktu 15 menit dengan posisi ini istriku sudah mengerang karena klimaks sampai 2 kali. Puas dengan posisi ini ganti istriku ditelentangkan, lalu Lud menindih istriku setelah penisnya dimasukkan semuanya ke vagina istriku, lalu pantatnya digoyang memutar sehingga bulu kemaluannya menggesek clit dan seluruh vagina istriku dan penisnya memutar di dalam lubang vagina sehingga istriku menggelinjang lagi dengan tangannya menarik lepas sprei. Sedangkan mau mengerang sulit, karena bibirnya dikecup kuat-kuat oleh Lud. Yaah, menonton itu penisku jadi tegang terus sampai kemeng rasanya, dan adegan ini berjalan cukup lama sampai kira-kira 10 menit lebih. Dan dalam waktu 10 menit itu paling tidak istriku sudah mencapai klimaks sampai 2 kali. Setelah itu kakinya yang kekar itu keduanya ditumpangkan ke kedua kaki istriku yang ramping dan indah itu lalu pantatnya digoyangkan naik turun hingga penisnya ikut juga. Dengan posisi ini penisnya betul-betul kejepit dengan bibir vagina istriku sehingga gesekannya betul-betul terasa di vagina istriku sampai istriku berulang kali menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala saat klimaks. Lud minta ganti posisi lagi, sekarang dia agak mengangkat pantatnya dan ganti istriku yang harus menggoyangkan pantatnya memutar hingga penis Lud diputar dengan vagina istriku. Kira-kira 5 menit lewat masih belum lepas juga maninya, padahal kalau aku yang diputar penisnya oleh istriku 5 menit langsung muncrat maniku, akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi. “Aduuh Lud… aduh Lud…. nikmatnya luar biasa aku sudah tak kuat menahannya lagi semprotkan manimu Lud”, pinta istriku. Baru kemudian posisi istriku ditarik ke bawah sehingga pantatnya di pinggir kasur, kemudian Lud turun dan kaki istriku diminta mentang lebar-lebar dan diangkat tinggi lalu Lud menancapkan penisnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tangannya bisa meremas buah dadanya. Lalu mulailah ditembaknya vagina istriku dengan penisnya, pertama mulai pelan-pelan lalu tambah lama tambah keras dan cepat menembaknya sampai tiap kali ditekan pantat istriku terpental naik. Untuk itu terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras vaginanya, pantatnya tak naik tapi penisnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku. “Aduuh Lud… aduh Lud… nikmat banget penismu Lud, tapi aku tak kuat menahan nikmatnya Lud…, aku butuh manimu Lud dan penismu sudah makin hangat Lud”, teriak istriku. Akhirnya “Huuuuh”, desis Lud dan “Cruttt”, maninya muncrat, “Huuuh”, desis Lud lagi dan “Cruttt”, maninya muncrat lagi dan setiap kali maninya muncrat istriku mengerang, “aach… sseett!” Setelah itu Lud tengkurap di tubuh istriku, “Lud tubuhku hangat rasanya kena semprotan manimu”, kata istriku. Kemudian tubuh istriku diangkat naik dan Lud segera tidur di sebelahnya dengan memeluk istriku dan penisnya yang masih tegang itu dimasukkan lagi ke dalam vagina istriku dan kemudian kedua tubuh yang bugil itu diselimuti. Melihat itu walaupun penisku tegang aku tak ikut masuk sebab kupikir istriku capai apalagi vaginanya masih disumpal dengan penis Lud, jadi terpaksa aku masuk ke kamar dan tidur. Suatu saat aku terbangun, karena terasa penisku dipijit-pijit dan ketika membuka mata ternyata istriku dengan masih dibopong di muka berpelukan oleh Lud tangan istriku memijit-mijit penisku. Ketika aku bangun, istriku bilang, “Ayo Pi jangan tidur saja Mami mau disemprot Mani lagi berdua berbarengan.” Eeeh, ternyata pikiranku tadi meleset, kukira istriku yang lemah lembut itu sudah capai tadi ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Aku lihat ternyata vagina istriku tetap didongkrak dengan penis Lud, jam saat itu sudah jam 1 tengah malam jadi aku sudah tidur dua jam. Kemudian istriku ditidurkan di bawahku dan langsung Lud mulai menembak vagina istriku dengan penisnya yang gede itu dan aku terpaksa bangun mendekatkan penisku ke mulut istriku untuk dihisap. Penisku terus dijilati disedot lubangnya sambil kantong penisku diremas-remas dan rambut bawah kantong penisku ditarik-tarik juga pinggiran lubang anusku dielus-elus dengan jarinya hingga aku terus bernafsu dan tegang lagi. Memang kalau kita main bertiga ini tambah terangsang demikian juga Lud yang menembakkan penisnya semakin seru dan nafasnya mulai ngos-ngosan dan crot… crot… crot, maninya muncrat ke dalam vagina istriku, kulihat itu tak tahan juga langsung maniku kulepaskan juga dan memenuhi mulut istriku dan setelah ditelan mulutnya dibuka ditunjukan padaku kalau maniku sudah habis masuk. Dan Lud pun lalu menelungkup di atas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat menghisap-hisap pentil istriku. Lalu dia bilang, “Waah Pi, mani Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi, apa karena vaginaku disumpal terus dengan penisnya Lud ya Pi? sebab biasanya kalau punya Papi paling 1 jam sudah mengalir keluar lagi walaupun nyemprotnya keras banget.” Belum sempat kujawab, Lud bilang, “Gila, istrimu itu minta disumpal terus vaginanya, pokoknya penisku malam ini tak boleh lepas dari vaginanya.” “Nggak Pi, Lud yang minta dulu supaya penisnya dipendam semalam suntuk dalam vaginaku, dan aku setuju”, jawab istriku. “Penisnya terasa hangat terus di vaginaku, dan kalau mulai tegang terasa mulai goyang-goyang dan semakin keras yang menyodok-nyodoknya Pi, kalau tidur walaupun sudah tidur pula penisnya tetapi kepala penisnya tetap nyantol di bibir vaginaku jadi tak mau lepas seperti Papi punya biasanya lepas sendiri kalau tidur.” kata istriku. Setelah fit kembali istriku dibopong lagi dengan masih disodok vaginanya dengan penisnya dan dibawa balik ke kamar depan dan aku pun tertidur lagi karena mengantuk. Seperti biasa aku selalu bangun jam 4.30 pagi selain kebiasaan kadang-kadang penisku tegang sendiri jam-jam itu. Pagi itu penisku juga tegang lalu aku bangun dengan maksud mau naiki istriku, kumasuk ke kamarnya ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud dengan tubuh diselimuti. Aku mencoba mendekati kepala istriku dan kubelai-belai pipinya dan istriku terbangun. Aku bilang, “Penisku tegang nih, yo tak semprotkan ke vaginamu.” Istriku berbisik, “Aduuuh Pi, penis Lud masih menancap terus dalam vaginaku kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab nyantol kepalanya, Papie tak hisap saja ya penisnya?” “Oke”, sahutku. Lalu istriku menengadah dan kudekatkan penisku supaya bisa masuk ke mulutnya, lalu kukocok sendiri penisku dan kugosok-gosokkan kepalanya ke bibirnya dan kadang-kadang kumasukkan dalam-dalam ke mulutnya. Karena sudah cukup lama tegangnya tak lama hanya 5 menit maniku sudah muncrat lagi ke dalam mulut istriku dan kemudian seluruh bagian kepala penisku dijilati untuk membersihkan maniku dan setelah itu baru ditelan semua maniku. Aku bertanya, “Mami tidak nelan maninya Lud toch dan tak dimasuki lubang anusnya juga ya?” “Tidak Pi, semua maninya Lud masuk ke dalam vaginaku dan sampai sekarang belum keluar sehingga rasanya ada sesuatu barang dalam perut yang hangat! Lalu Lud hanya mencabut penisnya kalau minta dihisap setelah itu dimasukkan kembali ke vaginaku”, jawab istriku. Kukecup bibirnya dan kubisiki, “Baik-baik ya Mi, semoga dapat kenikmatan lagi!” Lalu aku keluar kamar dan tiduran lagi. Aku terbangun lagi pukul 6 pagi langsung kupergi mandi dan kemudian duduk di sofa menonton TV. Ternyata istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud, karena baru saja berada di atas istriku kemudian tidur lagi dengan berangkulan lagi. Karena bosan lihat TV lalu kupergi keluar untuk lihat pemadangan alam dan jalan-jalan di taman. Kira-kira sejam kemudian aku balik ke motel dan kulihat kamarnya sudah kosong, rupanya mereka mandi berdua. Aku masuk ke kamar dan melihat di tempat tidur ada gelang karet berbulu yang dipakai dan ada cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton TV lagi, rupanya lama sekali mereka mandi. Kucoba mendekat ke pintu kamar mandi dan menempelkan kupingku di pintu, oh ternyata mereka main lagi dalam kamar mandi sebab terdengar rintihan istriku, “Aduuuh Lud… aduuh Lud… enaknya penismu Lud, nikmat banget Lud rasanya.” Kemudian suaranya Lud, “aach… Hwa, vaginamu juga nikmat, aku kangen terus dengan vagina dan payudaramu yang kenyal ini Hwa!” Aku balik nonton TV lagi jadinya, kira-kira 30 menit lagi mereka keluar dari kamar mandi dengan masing-masing berbalut handuk tubuhnya dan sekarang sudah pisah tidak nyantol lagi penisnya di vagina istriku. Mereka masuk ke kamar dan ganti pakaian, kulihat istriku pakai celana dalam mini warna merah dan pakai bra mini warna merah juga, lalu pakai rok bawah mini hitam dan kaos strip hitam putih tapi pendek jadi hanya sampai bawah bra saja, jadi perutnya yang langsing putih agak kelihatan dari luar. Melihat istriku pakai kaos agak ketat, Lud bilang, “Hwa, kamu jangan pakai bra saja lebih bagus karena kaosmu ketat.” Istriku pertama menolak, “aah katanya mau keluar makan dan nanti mau pulang segala nggak enak kalau tak pakai BH.” Lud bilang, “Kita kan hanya makan di restoran sini saja sebelum pulang, sebab nanti aku masih mau main lagi Hwa.” Jadi terpaksa istriku menurut dengan melepas lagi BH mininya. Eeeehh, ternyata betul juga pendapat Lud, sebab tanpa BH pun ternyata buah dada istriku tetap tegak menantang hanya bedanya putingnya agak nampak jelas dari kaosnya dan kalau jalan kelihatan sedikit bergoyang-goyang buah dadanya. Setelah semua siap kami pergi makan ke restoran hotel pukul 8.15, di sana kita lihat ada 2 pasangan lagi rupanya juga bermalam di hotel itu sebab yang cewek ada yang masih pakai pakaian tidur segala. Selesai makan kita jalan-jalan di taman sebentar sambil ngobrol-ngobrol lalu balik ke motel dan duduk untuk nonton TV. Baru beberapa menit perutku terasa sakit, terpaksa aku ke kamar mandi untuk buang air besar. Selesai buang air besar aku mau menonton TV lagi, ternyata mereka berdua sudah tak ada dan masuk ke kamar lagi. Aku melihat istriku sudah tak mengenakan kaos lagi tapi sedang memakai BH mininya, sedang Lud sedang melepas celana dan kemudian bajunya lalu dia menarik istriku dan ditidurkannya ke ranjang lalu ditindihnya lagi istriku, yaah rupanya mau main lagi mereka. Ternyata benar, rok mini istriku dilepas lalu CD mininya disingkap ke pinggir pangkal paha lalu penisnya dikeluarkan dari CD-nya dan dimasukkan ke vaginanya istriku. Jadi Lud main dengan masih pakai CD dan istriku pakai BH dan CD mini. Karena branya mini, otomatis payudara istriku mencuat keluar ketika terkena remasan tangan Lud sambil pantatnya terus menggenjot naik turun dengan cepatnya. Kira-kira hampir 10 menit terdengar istriku berteriak, “Aduuuh Lud, hangatnya manimu, lepaskan semua manimu Lud!” karena sebelumnya istriku cuma mendesis terus kenikmatan. Nampak sesaat lagi Lud jatuh menelungkup di atas istriku. Karena sudah hampir jam 10 kubangunkan mereka, sebab Lud harus berangkat pulang dengan pesawat jam 11.00. Kuselesaikan semua rekening hotel sementara mereka berpakaian lagi. Kita langsung menuju airport tepat sampai airport pk 10.30. Lalu kita ngomong sebentar dan Lud usul, “Kalau lain kali kita main berempat dengan istriku, bagaimana?” Pertama istriku keberatan sebab aku tak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan kalau wanita itu adalah keponakannya sendiri yang kerja jadi sekretarinya dan kadang-kadang melayani tamu-tamunya yang membutuhkan hiburan. Jadi pasti bersih dan usianya masih muda baru 19 tahun, cukup seksi hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istri dia pasti kurang ramai karena agak kerempeng dan tidak ceria, jadi aku dikhawatirkan tak bisa tegang. “Jadi bisa ramai Hwa, kita main 2 pasang dalam satu kamar pasti hot”, kata Lud. Akhirnya istriku setuju kapan-kapan main berempat, tiba-tiba istriku pergi lari-lari ke kamar mandi. Setelah pulang dari kamar mandi, aku bertanya, “Ada apa?” Dia menjawab sambil menunjukkan CD mininya yang digenggam. “Waah, maninya Lud mulai keluar, CD-ku sampai basah dan lengket jadi tak nikmat dipakai. Mungkin rokku juga basah belakangnya.” Ternyata betul bagian bawah vaginanya basah, karena Lud sudah hampir check in lalu kami berdua langsung pamit pulang dulu setelah dikecup bibirnya oleh Lud. Kami segera menuju mobil dan jok tempat istriku duduk dilembari dengan kertas koran, hampir sampai di rumah istriku mengeluh lagi, “Aduh Pi, maninya keluar lagi rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat dikit Pi!” Kukebut terus dan sampai di rumah mobil kuparkir di tepi jalan dan istriku turun lalu menekan bel, setelah dibuka oleh pembantuku dan segera istriku masuk ke kamar utama kita dan masuk ke kamar mandi dalam tanpa ditutup pintunya. Karena anakku sedang tidur di kamarnya, aku langsung masuk ke kamar utamaku, kulihat istriku lagi melepas rok mininya lalu duduk di closet. Melihat aku datang, istriku bilang, “Papi sini lho, lihat Pi pahaku kena cendol maninya Lud dan itu keluar terus banyak.” Kulihat paha istriku dan bulu kemaluannya basah kena mani dan dari lubang vaginanya keluar jatuh mani Lud yang seperti cendol itu. Melihat itu aku malah jadi nafsu, penisku jadi tegang, terpaksa aku melepas semua pakaianku. “Papi pasti tegang toch kalau lihat vaginaku belepotan mani begini”, kata istriku sambil mulai memegang penisku. Lalu kutarik lepas kaos istriku. “BH-nya jangan dulu ya supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payudara Mami!” kata istriku. Istriku bilang kalau tadi malam sampai pagi tadi dia disemprot mani Lud sampai 7 kali, yaitu jam 8 malam saat bareng dengan saya, jam 11 malam saat main saya nonton TV, jam 1 tengah malam waktu main di kamar saya, jam 3 fajar waktu penis Lud tegang sendiri, jam 6 pagi sehabis saya nyemprot ke mulutnya, jam 8 pagi saat di dalam kamar mandi dan jam 10 pagi waktu mau pulang. “Hebatnya Lud itu sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus dan kental serta hangatnya dan banyaknya sama, maka dari itu rasanya penuh dalam perutku tadi sampai suatu saat kutekan perutku dan mulai keluar terus maninya”, kata istriku. “Mi, kalau sudah habis cuci dulu vaginanya, aku sudah nggak tahan nih.” Istriku buru-buru mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu kuangkat dia dan kuletakkan di atas tempat tidur. Tanpa tunggu macam-macam aku segera menaiki istriku dan kutancapkan penisku ke vaginanya. “Wah Mi, vaginamu masih seret juga buat penisku, kukira jadi longgar kemasukkan penis gedenya Lud”, kataku. Istriku lalu cerita, “Waktu penis Lud ditanam semalam suntuk dalam vaginaku, begitu mulai kurang tegangnya vaginaku kumulai renggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol di bibir vaginaku dengan maksud supaya jangan sampai longgar liangnya. Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu kalau di dalam banget geli rasanya kalau goyang sedikit, kalau di luar kurang geli sebab yang kena cuma bibir vagina saja. Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sudah nafsu banget agak kasar mainnya, lain dengan Papi tetap semangat tapi mesra. Hanya Papi punya kalah besar dan panjangnya saja, tapi Mami mau belikan alat yang bisa buat memperbesar dan memperpanjang penis, tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar. Memang saat Lud mau menyemprot, Mami selalu tekan pantat Mami ke atas supaya penisnya bisa amblas masuk semua sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat, nikmat dan nikmat. Papi punya kalau nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku jadi hangatnya nikmat Pi.” “Pi ini lho selain leher buah dadaku juga dicupang oleh Lud, tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang”, kata istiku sambil melihatkan buah dadanya yang dicupang. Mendengar cerita istriku itu aku semakin menggebu mengangkat turunnya pantat dan segera hak BH istriku yang terletak di bagian depan itu kubuka hingga buah dadanya yang semakin kencang itu tak tertutup lagi yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecupi dan kugigit-gigit putingnya. “Aduuh Pi, nikmat banget Pi, aku sudah kangen dengan penisnya Papi sejak Papi minta tadi malam, masih seret ya Pi, aku masih merasakan seret gesekan penisnya Papi. Pi mau keluar ya? kok sudah anget banget penisnya?” tanya istriku. Benar juga tak lama lagi creeett…. creeettt, maniku menyemprot. “Waah… maninya Papi nyemprot ke dalam, sebab semprotannya keras tapi agak encer. Bisa jadi satu dengan Lud punya nih!” kata istriku. Karena capai kami berdua tiduran tapi akhirnya tertidur juga.<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi Istriku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/imajinasi-istriku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/imajinasi-istriku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2333</guid>
		<description><![CDATA[Aku dan istriku, Risnawati yang biasa kupanggil dengan Ris, sudah menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Ris pada saat ini berumur 29 tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang cukup besar (34B) berbentuk bagus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dan istriku, Risnawati yang biasa kupanggil dengan Ris, sudah menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Ris pada saat ini berumur 29 tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang cukup besar (34B) berbentuk bagus sekal, tinggi 155 cm, berat 50 kg, dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi dengan bentuk badannya dan kedua bongkahan pantatnya sekali. Secara umum, dia cukup seksi.</p>
<p>Telah lama kami mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks three some. Biasanya, sebelum melakukan Making Love, kami mengawalinya dengan saling menceritakan fantasinya masing-masing. Fantasi yang paling merangsang bagi kami berdua, adalah membayangkan Ris melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiranku. Sekedar informasi, Ris memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi, sementara di sisi lain, aku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali. Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisku bisa ereksi lagi, umumnya aku merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika dia minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter aku melakukannya dengan tangan, atau membantunya bermasturbasi dengan dildo. Walaupun demikian selama ini dia bisa merasa puas dengan cara tsb.</p>
<p>Setelah sekian lama mempunyai fantasi tsb, suatu hari aku tanya apakah ia mau merealisasikan fantasi tsb. Pada awalnya ia cuma tersenyum dan mengira aku cuma bercanda. Namun setelah aku desak, ia balik bertanya apakah aku serius. Aku jawab, ya aku serius. Terus dia tanya lagi apakah nanti aku masih akan tetap sayang sama dia, aku jawab ya, aku akan tetap menyayanginya sepenuh hati, sama seperti sekarang. Lalu aku tambahkan, bahwa motivasi utama aku adalah untuk membuatnya bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Melihat wajahnya ketika mencapai orgasme, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagiku.</p>
<p>Akhirnya dia jawab dia mau melakukannya kalau moodnya mengijinkan. Kemudian aku dan Ris mendiskusikan kira-kira dengan siapa kami melakukannya, akhirnya pilihan datang kepada seorang teman dekatku, namanya Vence biasa kupanggil dengan Ven, yang telah lama kami kenal, namun jarang bertemu karena tinggal di kota lain. Sejak itu sering fantasi kami melibatkan kehadiran Ven. Usia Ven 33 tahun, sama denganku, meski demikian tubuhnya lebih tinggi kurang lebih 175 cm dan besar serta tegap, maklum dia adalah keturunan campuran Eropa-Indonesia.</p>
<p>Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, aku menghubungi Ven dari kantorku. Setelah berbasa-basi sebentar, lalu aku mulai menceritakan tentang fantasi-fantasi kami. Sebagai sahabat lama, kami terbiasa berbicara terbuka, termasuk masalah seks. Ven tampak antusias mendengar ceritaku dan dia menyatakan kesanggupannya. Mengingat kesibukan bisnisnya, dia merencanakan untuk datang ke kotaku sekitar 2-3 minggu lagi. Tidak lupa aku tegaskan, bahwa semua rencana ini sepenuhnya bergantung kepada kesediaan istriku. Artinya jika pada saat-saat terakhir Ris berubah pikiran, maka sama sekali tidak boleh ada satu pihakpun yang memaksakan kehendaknya. Aku katakan juga, dia tidak boleh berlaku kasar terhadap Ris, sebab kepuasan Ris adalah segala-galanya. Ven setuju dan dapat memakluminya.</p>
<p>Akhirnya waktu yang yang ditunggu tiba, baik Ris maupun aku cukup gugup menghadapi apa yang telah kita rencanakan. Namun aku meyakinkan Ris bahwa dia boleh berubah pikiran kapanpun. Sekitar pukul 6 sore Ven datang, pada saat itu aku masih berada di kantor, Ris mengabarkan kedatangannya melalui telepon. Pukul 7 aku tiba di rumah, tampak Ven telah mandi dan ganti baju dan sedang menonton TV. Sementara itu Ris sedang berada di kamar mandi. Setelah ngobrol sebentar, kemudian aku masuk ke kamar untuk menyimpan tas dan mengganti pakaian. Pada saat bersamaan Ris baru keluar dari kamar mandi (kamar mandi terletak di dalam ruang tidur kami) dengan hanya memakai handuk. Dia tampak sangat cantik malam itu. Sementara aku mengganti pakaian, Ris mengenakan daster pendek berwarna merah. Ris tampak cantik dengan daster tersebut, panjang daster tsb hanya sampai ke pertengahan paha, tampak kontras dengan pahanya yang berwarna putih mulus. Sementara Ris masih menyisir rambut dan memakai parfum, aku keluar menemui Ven.</p>
<p>Setelah beberapa saat kami mengobrol, bercerita tentang keadaan masing-masing. Ris kemudian keluar kamar. Ven hampir tak berkedip menatap Ris yang benar-benar tampil seksi malam itu. Singkat cerita, setelah selesai makan malam kami sama-sama duduk di karpet, menonton acara TV yang saat itu sedang berlangsung. Posisinya Ven, kemudian Ris di tengah menyender di dadaku. Terus terang suasana saat itu agak canggung dan kami benar-benar tidak tahu cara untuk memulai semua rencana yang telah disusun.</p>
<p>Akhirnya aku mengambil inisiatif dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dada Ris dan menyentuh payudaranya dari luar daster. Mendapat tindakan demikian Ris mulai terangsang dan nafasnya mulai tidak teratur. Segera setelah itu, aku lumat bibirnya dan tangan aku mulai menyusup ke balik dasternya. Ternyata saat itu Ris sudah tidak memakai BH. Ris benar-benar terangsang kini. Pada saat itu tangan Ven mulai mengelus-elus paha Ris yang telah terbuka, karena daster mininya telah terangkat ke atas. Kaki Ris yang tadinya tertekuk ditarik, sehingga sekarang Ris berada dalam posisi duduk sambil bersandar padaku dengan kedua pahanya yang agak terbuka dan kaki melonjor ke depan. Tangan Ven mulai bergerilya pada bagian paha atas Ris.</p>
<p>Kemudian Ven menarik tangan Ris dan meletakkannya di atas pangkuan Ven. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, Ris mengusap-usap kemaluan Ven yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana Ven terlihat menggembung besar. Aku mengira-ngira betapa besar kemaluan Ven ini. Sementara bibirku mulai menyusur leher dan belakang telinganya (bagian yang paling sensitif baginya). Setelah itu aku berbisik di telinga Ris, inilah saat untuk merealisasikan fantasi kita. Lalu aku melepaskan pelukanku untuk memberi kesempatan pada Ven untuk beraksi.</p>
<p>Sekarang Ven mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Ditariknya Ris ke pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap payudara Ris yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggung Ris sambil mulutnya melumat bibir Ris dengan gemas. Tangan Ven yang berada di payudara Ris disisipkan pada belahan daster Ris yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung putingnya yang telah mengeras. Kemudian Ven menarik tangan Ris ke arah resluiting celana Ven yang telah terbuka dan menyusupkan tangannya memegang kemaluan Ven yang telah tegang itu. Kelihatan Ris agak tersentak ketika terpegang senjata Ven yang tampaknya besar itu.</p>
<p>Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian Ris membuka celana Ven sehingga kemaluannya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang dengan jelas terlihat. Aku sangat terkejut melihat kemaluan Ven yang sangat besar dan panjang itu. Kemaluan yang sebesar itu hanya ada di film-film BF barat saja. Batang penisnya berdiameter 7 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya berbentuk topi baja yang sangat besar, panjangnya mungkin lebih dari 20 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut pirang yang lebat.</p>
<p>Setelah keluar dari celananya kelihatan seram, jauh lebih panjang dan besar dari punyaku. Sesaat Ris menoleh ke arahku, dari sinar matanya yang agak panik, tampak dia agak ketakutan dan tidak menduga akan menghadapi penis yang sebesar itu. Aku mulanya juga agak ragu-ragu, tapi untuk menghentikan ini, kelihatannya sudah kepalang, karena tidak enak hati pada Ven yang telah bersedia memenuhi keinginan kami itu.</p>
<p>Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum memberi semangat pada Ris. Mendapatkan persetujuanku dan dorongan semangat itu, Ris kemudian dengan kedua tangannya memegang penis Ven dan mulutnya mendekat ke kemaluan Ven. Ris mulai menjilati kepala penis Ven yang besar itu. Kemudian setelah cukup basah oleh air ludahnya, perlahan Ris mulai memasukkan penis Ven ke dalam mulutnya. Terlihat sangat susah bagi Ris untuk bisa memasukkan penis yang besar itu ke dalam mulutnya. Terlihat mulutnya harus dibuka lebar-lebar untuk bisa menampung penis Ven yang dahsyat itu. Ven tampak sangat menikmati isapan Ris itu.</p>
<p>Kira-kira sepuluh menit Ris mengulum kemaluan Ven, kemudian Ven menarik kepala Ris dan mendekatkan ke mukanya dan kemudian melumat bibir Ris. Ris balas melumat bibir Ven dengan ganasnya, sementara tangan Ven merambah ke payudara Ris dan mulai membuka daster Ris. Setelah daster terlepas, sambil tetap berciuman, tangan Ven mulai menyusup ke balik celana dalam Ris yang berwarna cream sambil memainkan clitoris Ris. Tangan Ris sendiri tidak tinggal diam, ia terus mengelus kemaluan Ven yang semakin menegang.</p>
<p>Kemudian Ven menggendong Ris dan membawanya ke kamar tidur tamu. Terlihat Ris sangat kecil dalam gendongannya, dibandingkan badan Ven yang besar itu. Secara perlahan kemudian Ven meletakkan Ris di ranjang dan membuka celana dalam Ris. Hingga kini Ris telah telanjang bulat. Tampak kulitnya yang putih dan vaginanya yang tanpa rambut (Ris biasa mencukur bulu vaginanya secara teratur) merekah dan tampak basah. Kemudian Ven perlahan-lahan mengarahkan bibirnya ke leher Ris, kemudian turun ke dadanya dan mulai melumat puting payudara Ris bergantian.</p>
<p>Sementara itu aku terus memperhatikan dari pintu kamar dengan menahan birahi yang sangat memuncak. Setelah puas bermain-main di payudara Ris, Ven kemudian mulai menciumi pusar Ris sampai akhirnya mulai menjilati lubang vagina Ris yang semakin basah. Setelah berlangsung kira-kira 30 menit, tampak Ris mulai mendekati orgasme, mengetahui demikian, Ven kemudian mulai mengarahkan penisnya ke vagina Ris yang makin merekah. Sebelum memasukkan penisnya, tidak lupa Ven menggosok-gosok kepala penisnya pada bibir vagina Ris. Badan Ris menggelinjang kegelian merasakan gosokan penis Ven pada vaginanya.</p>
<p>Perlahan-lahan Ven mulai memasukkan penisnya ke vagina Ris. Ris berusaha membantu dengan membuka bibir vaginanya lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk penis sebesar itu masuk ke dalam lubang vagina Ris yang kecil. Tangan Ven yang satu memegang pinggul Ris sambil menariknya ke atas, sehingga pantat Ris agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang penisnya yang ditekan masuk ke dalam vagina Ris.</p>
<p>Sementara Ven sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam memek Ris, badan Ris terlihat menggelinjang-gelinjang dan dari mulutnya terdengar suara, “aahh…, aahh…, ssshh…, ssshh”, seperti orang sedang kepedasan. Pada waktu Ven mulai menekan penisnya, terdengar jeritan tertahan dari mulut Ris, “Aduuhh…, sakiiitt…, Veenn…, pelan-pelan…, doong”. Ven agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberikan kesempatan pada Ris mengambil nafas, kemudian Ven melanjutkan kembali usahanya untuk menaklukkan vagina Ris. Aku agak kasihan juga melihat keadaan itu, disamping itu melihat badan Ris yang menggeliat-geliat dan tangannya yang mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, membuatku terangsang dengan hebat. Ven dengan pasti tetap mendorong kemaluannya masuk secara perlahan-lahan ke dalam vagina Ris.</p>
<p>Akhirnya sesaat kemudian, hampir seluruh kemaluan Ven masuk ke dalam vagina Ris. Ven kemudian menggerakkan penisnya keluar masuk dengan irama yang teratur, sementara Ris mengimbangi dengan mengerakkan pantatnya. Tidak lama kemudian, Ris mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang dan mulutnya mengeluarkan jeritan tertahan, “Aku sampaai Veeenn…, peluk aku kuat-kuat”. Bersamaan dengan itu, kakinya melingkar di pinggang Ven dan mengunci dengan erat. Sementara Ven hampir tidak bisa bergerak dan hanya menekankan kemaluannya ke dalam vagina Ris sekuat mungkin. Tak lama, Ris mulai tampak rileks dan melonggarkan kakinya yang melingkar di pinggang Ven.</p>
<p>Sementara Ven kemudian meneruskan gerakan keluar-masuk penisnya secara perlahan-lahan dan Ris hanya diam kelelahan dengan nafas yang tidak teratur. Tidak lama, tampaknya birahi Ris mulai bangkit lagi dan menggerakkan pantatnya lagi. Maklum wanita kan bisa mengalami multiple orgasme.</p>
<p>Tidak lama kemudian, Ven mencabut penisnya dari vagina Ris dan meminta Ris untuk menungging. Kemudian Ven memasukkan kemaluannya ke vagina Ris dari belakang. Aku yang sejak tadi hanya menyaksikan mulai tidak tahan, kemudian aku mendekat, membuka celana, dan mengarahkan kemaluanku yang sudah sangat tegang ke mulut Ris. Dengan sangat bernafsu, Ris mengulum penisku sementara Ven tampak menggerakan pinggulnya semakin cepat. Tidak lama kemudian tampaknya Ven hampir mencapai klimaksnya dan mengerakkan pantatnya dengan sangat cepat. Ris mengimbangi gerakan Ven dan melepaskan penisku dari mulutnya, sambil mengeluarkan erangan Ris berkata, “Ayo Ven gerakkan yang cepat…, ah…, uh”. Setelah itu Ven ejakulasi dan menekankan pantatnya rapat-rapat sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Ris. Dan pada saat hampir bersamaan Ris pun kembali mencapai orgasme. Tak lama Ven mencabut penisnya dan tidur telentang di samping Ris.</p>
<p>Aku kemudian duduk di kursi sofa yang ada di ruang tidur itu dan menarik Ris. Perlahan Ris jongkok di atasku dan mulai menurunkan vaginanya yang tampak membengkak ke arah kemaluanku (mungkin akibat barang Ven yang sangat besar itu). Dengan mudah penisku masuk ke dalam vagina Ris, maklum setelah cukup lama barang Ven yang besar itu keluar masuk, membuat vagina Ris agak melar. Walau demikian, aku tidak bisa menahan ejakulasi terlalu lama, mungkin akibat pengaruh situasi, tidak lama penisku memuntahkan cairan sperma di dalam vagina Ris, sampai meluber keluar.</p>
<p>Tampak Ven terbaring dengan lesu di ranjang dan aku di sofa. Tampaknya energi kami benar-benar terkuras. Sementara Ris kemudian pergi ke kamar mandi, untuk pipis dan membersihkan sisa-sisa spermaku di vaginanya. Kira-kira setengah jam kami beristirahat, Ris berinisiatif mengulum kemaluan Ven yang masih mengkerut. Sementara aku hanya memperhatikan. Tidak lama, kemaluan Ven mulai membesar lagi setelah beberapa saat dikulum. Ris kemudian mengangkangkan kakinya di atas Ven yang telentang tidur dan menghadapkan wajahnya ke arah penis Ven. Ven kemudian menjilati vagina Ris sampai ke lubang anusnya, dan Ris sendiri sibuk mengulum dan menghisap penis Ven. Melihat pemandangan ini, kemaluanku pun mulai menegang kembali.</p>
<p>Tak lama Ris bangun dan duduk di atas Ven, kemudian Ris memasukkan penis Ven ke vaginanya dengan posisi Ris di atas. Ris menaik-turunkan pantatnya dengan bibir vagina mencengkeram penis Ven dengan erat. Ketika Ris menaikkan pantatnya, bibir vaginanya turut tetarik keluar mencengkeram kemaluan Ven. Sungguh pemandangan yang sangat mengairahkan. Makin lama gerakan Ris makin cepat dan tak lama Ris tampak mencapai orgasmenya dan menekankan pantatnya kuat-kuat sehingga penis Ven masuk seluruhnya. Setelah itu Ris menarik pantatnya dan jongkok di tepi ranjang sambil mengulum kemaluan Ven. Sementara vaginanya mengarah ke arahku. Melihat pemandangan demikian, aku memasukkan penisku ke vagina Ris dari belakang, sementara mulutnya sibuk mengulum kemaluan Ven keluar masuk.</p>
<p>Kira-kira sepuluh menit kemudian, Ris kembali mencapai orgasmenya dan aku rasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat. Tak lama aku pun kembali mencapai ejakulasi. Setelah itu Ris mengelap sisa air maniku yang tertinggal di mulut vaginanya dengan handuk kecil, Ris kemudian berbaring di ranjang dan Ven kembali memasukkan penisnya ke vagina Ris.</p>
<p>Setelah hampir satu jam, dan Ris telah mencapai dua kali orgasme lagi, barulah Ven pun mencapai orgasmenya, namun kali ini Ven mengeluarkan penisnya dari vagina Ris, sehingga spermanya muncrat ke payudara dan perut Ris. Sambil tersenyum Ris membalurkan sperma tsb ke seluruh dada dan perutnya, untuk menikmati kehangatannya. Setelah itu Ris kemudian mengelapnya dengan handuk kecil. Sementara Ven tampak kelelahan namun sangat menikmati. Ven kemudian mencium bibir Ris, istriku dan memeluknya. Ris berkata bahwa ia sangat menikmati malam itu dan tersenyum manis kepadaku. Kemudian mereka berdua tertidur di ranjang dengan tubuh telanjang, sementara aku tertidur kelelahan di atas sofa.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/imajinasi-istriku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Threesome Party</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/threesome-party.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/threesome-party.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2405</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Dody. Aku adalah seorang karyawan salah satu perusahaan IT di Bandung. Saat ini usiaku 28 tahun dan masih single. Seperti halnya orang lain, di usiaku ini kehidupan seksku semakin menggebu. Tetapi ada satu perbedaannya, yaitu aku ini termasuk biseks. Aku anggap ini adalah suatu kelebihan, karena disamping aku suka cewek juga aku suka laki-laki. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Dody. Aku adalah seorang karyawan salah satu perusahaan IT di Bandung. Saat ini usiaku 28 tahun dan masih single. Seperti halnya orang lain, di usiaku ini kehidupan seksku semakin menggebu. Tetapi ada satu perbedaannya, yaitu aku ini termasuk biseks. Aku anggap ini adalah suatu kelebihan, karena disamping aku suka cewek juga aku suka laki-laki. Dan fantasi seksku yang paling aku sukai adalah bermain seks bersama seorang laki-laki dan seorang perempuan (threesomes). Aku impikan kesempatan ini tiap hari, sampai pada suatu ketika, tepatnya awal tahun 2001, sekitar bulan Februari, kesempatan ini akhirnya terlaksana juga. Jauh hari sebelum kejadian itu aku dekat dengan teman sekantor, namanya Andri (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan dia karena divisi kami yang berbeda. Tapi karena kami dilibatkan dalam satu proyek, maka akhirnya kami menjadi dekat. Terus terang aku kagum sekali dengannya. Wajahnya sih biasa saja, tetapi badannya sangat atletis, tingginya sekitar 178 cm lebih pendek 4 cm dari tinggiku (tinggiku sekitar 182 cm). Usianya sekitar 32 tahun dan dia sudah berkeluarga dan mempunyai 1 anak. Kadang-kadang di sela kesibukan kami, dia selalu mencuri pandang ke arahku, dan kadang-kadang selalu menatapku. Aku sendiri jadi bingung apa gerangan yang ada di hatinya, dan aku balas lagi tatapannya sehingga akhirnya kami saling berpandangan selama beberapa detik dan kuakhiri dengan memberikan senyuman. Semenjak saat itu kami jadi dekat sekali, dan kadang-kadang kami pergi ke toilet di kantor bersamaan. Ketika kami buang air kecil, kami selalu saling melihat penis masing-masing (kontes), dan kadang kami saling tertawa melihat kelakuan kami ini seperti anak SMP saja. Akhirnya aku tahu bahwa dia sudah ditinggalkan istrinya sekitar 2 bulanan. Aku tidak tahu alasannya kenapa, karena aku tidak mau terlibat dengan urusan rumah tangganya. Sehingga jika aku kerja lembur dan pulangnya malam aku selalu ditawari menginap di rumahnya. Aku setujui saja karena dari pada aku pulang jauh-jauh ke rumahku yang berada di luar kota Bandung, lebih baik aku menginap di rumahnya sambil dapat mengenal lebih dekat lagi dengan Mas Andri (itulah panggilan aku ke dia). Karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa, kami selalu berpelukan sambil menonton televisi layaknya seorang adik dengan kakak. Walau bagaimanapun aku masih menaruh hormat bahwa dia adalah teman kerjaku, walaupun kadang-kadang penisku ini bangun dari tidurnya. Dan sampai saat itu aku tidak tahu bagaimana dia, apa dia mempunyai fantasi seperti aku? Pada suatu waktu kami ditugaskan ke luar kota untuk melakukan presentasi. Dan hanya aku dan Mas Andri saja yang ditugaskan. Kebetulan di kota S itu aku mempunyai teman cewek namanya Rita. Kami sudah berkenalan selama setengah tahun melalui chating, dan kami selalu saling komunikasi dan saling tukar foto. Dari fotonya aku melihat dia begitu cantik dan seksi. Dan setelah pekerjaan kantorku dengan Mas Andri selesai, aku telepon dia untuk datang ke hotelku (aku dan Mas Andri menyewa 1 kamar). Akhirnya Rita mau datang tapi agak malaman. Ketika malam tiba, akhirnya bel pintu hotel berbunyi. Lau aku buka, ternyata wow, seorang gadis cantik sedang berdiri. Ternyata Rita ini tinggi, sekitar 168 cm, kulitnya putih mulus, kakinya jenjang, rambutnya panjang terurai dan amboi.. dadanya itu yang membuat mata tidak mau mengalihkan ke arah lain. Di usianya yang ke 26 ini dia kelihatan begitu seksi dengan rok pendeknya seperti seorang super model yang sedang berpose. Aku terkesima sampai beberapa detik. “Apa betul ini kamarnya Pak Dody..?” tanyanya.”Betul.. kamu pasti Rita yah..?” jawabku.”Dan kamu pasti Dody yah..?” jawabnya.Kami akhirnya saling berjabat tangan, dan aku persilakan dia untuk masuk. Tidak lupa kukenalkan pada Mas Andri.”Maaf yah kamarnya berantakan..,” kataku.”Ah ndak apa-apa kok aku ngerti kok kalian kan laki-laki,” katanya sambil senyum.Aduh mak.., senyumnya begitu seksi sekali, kelihatan bahwa dia itu orang yang ramah.Singkat cerita kami bertiga ngobrol sampai malam, dan akhirnya kami pesan makan malam lewat room servicenya hotel. Dan tidak kerasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Dari obrolan sebelumnya aku jadi tahu bahwa Rita tinggal kost di kota S ini. Dia kerja sebagai sekretaris di perusahaan onderdil mobil terkemuka. Orangtuanya tinggal di luar kota. Jadi dia bebas-bebas saja kalau pulangnya malam. Obrolan kami sudah tidak karuan lagi, dan mengarah pada hal seks. “Mas, pantas yah kalau aku jadi pacarnya Rita..?” tanyaku ke Mas Andri sambil bercanda. Aku mendekati Rita dan duduk di sampingnya sambil memeluknya serasa dia pacarku. “Wah pantas sekali.. tapi lebih pantasnya lagi kalau sama Mas saja..” kata Mas Andri sambil tersenyum. “Yah sudah.. kalau kalian mau.. dua-duanya aja. Aku senang kok pada kalian berdua,” katanya sambil senyum. “Yang bener nih..?” tanyaku sambil jantungku ini mulai berdebar-debar. “Rita serius kok.. malahan dua rius.” katanya. Mendengar perkataan Rita seperti itu, otomatis jiwa kelelakian kami terpanggil serasa ada lampu hijau yang mempersilakan untuk jalan terus. Sekilas kulihat Mas Andri juga mengalami hal yang sama denganku. Nafsu seks aku pada saat itu begitu menggebu-gebu. Tanpa malu-malu aku eratkan pelukanku ke tubuh bagian atas Rita sampai buah dadanya terasa sekali di dadaku. Aku ciumi lehernya, dan perlahan-lahan kuciumi sampai ke bawah dan sampai ke buah dadanya. Melihat adegan itu, Mas Andri juga tidak mau kalah, dia menciumi sedikit demi sedikit kaki mulusnya Rita, mulai dari betis sampai ke paha. Karena posisi kami yang tidak mengenakan ini, kami boyong tubuh Rita ke atas kasur dan kedengaran nafas Rita yang mulai tidak teratur. Aku mulai mencium bibir Rita yang mungil itu. Kukulum bibirnya dan sesekali kuhisap dengan desahan-desahan yang membuat dia semakin terangsang. Tanpa kusadari, ternyata Mas Andri sudah berada di bibir kami. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan terasa sekali nikmatnya hisapan-hisapan bibir kami yang membuat kami bertiga semakin terangsang. Aku mulai membuka t-shirt ‘polo’-ku, dan begitu juga Mas Andri dengan kemejanya. Mas Andri mulai membuka bajunya Rita, dan tampaklah BH-nya Rita yang bewarna coklat muda dengan renda-renda di pinggirnya. Sehingga tampaklah dua buah gunung yang menjulang ke atas. Dan dengan tanpa basa-basi lagi Mas Andri langsung melepaskan BH-nya Rita, dan tampak buah dada Rita yang putih mulus, dan tampak putingnya yang sudah keras dan memerah. Melihat pemandangan yang begitu menggoda, Mas Andri langsung menghisap buah dada yang sebelah kiri. Tanpa menunggu perintah dari Mas Andri, aku langsung ikutan menghisap buah dada Rita yang sebelah kanan. Kuhisap dan hisap terus, kadang-kadang kujilat putingnya yang keras itu, dan terdengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rita. Karena penis aku yang dari tadi sudah kepingen ikutan menikmati pemandangan yang indah itu sehingga dia tidak nyaman di tempatnya, maka kulepaskan celanaku dan CD-ku. Tampaklah penisku yang menyembul keluar. Ukuran penisku sekitar 18 cm, dengan batang yang agak besar dengan ukuran helm yang lebih besar dari batangku. Mas Andri juga ikut-ikutan melepaskan celana dan CD-nya juga. Tampaklah penisnya yang tidak terlalu besar, sekitar 14 cm tetapi mempunyai batang yang besar. Aku baru sekali ini melihat penisnya Mas Andri yang sudah berdiri tegak. Sebelumnya aku belum pernah melihat penis Mas Andri yang tegak sekali seperti sekarang ini, mungkin karena terangsang sekali menikmati pemandangan yang indah ini, sehingga aku pun ikut semakin terangsang. Kulepaskan juga rok dan CD hitamnya Rita, sehingga kami bertiga berbugil ria tanpa sehelai benang pun di tubuh kami. Aku mulai menciumi dan menghisap puting buah dadanya Rita lagi. Dan Mas Andri mulai menghisap lubang vaginanya Rita. Nafas Rita mulai tidak teratur dan tampak Rita mengelinjang-gelinjang. Aku semakin terangsang melihatnya. Apalagi melihat Mas Andri yang semakin semangat menghisap, dan lidahnya yang panjang mejilati lubang kenikmatannya Rita. Beberapa menit kemudian Rita mulai orgasme, dan tampak badan Rita menegang diiringi dengan suara jeritan, “Auuch..,” tanda keenakan. Mendengar jeritan suara Rita itu, penisku tambah tegak dan rasanya ingin kumasukkan cepat-cepat ke lubang vagina Rita, tapi aku lihat Mas Andri mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya Rita, dan tangan Mas Andri memegangi penisnya agar dapat masuk ke dalam vagina Rita. Setelah kelihatan masuk, Mas Andri mulai menggenjot dan memasuk-keluarkan penisnya. Tiba-tba tangan Rita sudah memegang penisku dan menuntunku ke dalam mulutnya. Akhirnya penisku sudah ada di depan mulutnya Rita. Rita mulai memainkan lidahnya menjilati penisku dan sesekali dimasukkannya penisku sambil dihisapnya. Tiap hisapannya rasanya bagaikan terbang di awan, apalagi melihat genjotan Mas Andri yang semakin cepat di vaginanya Rita. Tampak dia begitu seksi dan gagah, dan aku sengaja mendekatkan wajahku pada wajah Mas Andri. Aku ingin sekali meciumi bibirnya yang seksi, tapi aku takut Mas Andri tidkak suka. Tapi tanpa diduga, Mas Andri mulai mencium bibirku, dan kubalas. Kami saling berciuman dengan penuh nafsu, sementara Mas Andri tetap menggejot Rita dan penisku masih tetap dihisap oleh Rita. Akhirnya kami ganti posisi ke posisi doggy sytle, dimana Rita menungging dan gantian aku yang memasukan penisku ke dalam vaginanya Rita. Untuk pertamanya aku sulit sekali memasukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin karena ukuran penisku yang agak besar dibanding punyanya Mas Andri. Tapi sedikit demi sedikit aku masukkan, dan akhirnya, “Bless..” penisku dapat masuk. Uhh.., enak sekali rasanya, ternyata lubang vagina Rita masih sempit, dan aku merasakan penisku bagai diremas-remas. Aku masuk dan keluarkan penisku, dan kulakukan semakin cepat. Sekarang giliran penis Mas Andri yang dihisap oleh Rita. Rasanya enak sekali menggenjot Rita dan melihat Mas Andri yang keenakan dihisap oleh Rita. Mungkin inilah yang dinamakan surga dunia, dan aku bagaikan terbang di awan. “Uh.. ah.. uh.. ah..,” suara rintihan Rita. “Terus.. Mas.. oh.. enak Mas.. terus..!” teriaknya. Kugenjot terus dan semakin cepat kugenjot, dan akhirnya Rita berteriak, “Mass.., aku mau keluarr..” Tubuh Rita menegang dan terasa vagina Rita berdenyut-denyut, terasa ada yang membasahi penisku. Akhirnya Rita orgasme yang kedua. Kukeluarkan penisku yang masih tegak berdiri, dan tampak ada sebagian cairannya Rita. Mas Andri langsung menjilati penisku dan menjilati semua cairan yang ada sampai habis. Dan tanpa kuduga, Mas Andri terus saja menjilati penisku dan mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Oh.., enak sekali hisapannya, berbeda dengan hisapan Rita tadi. Kali ini lebih kasar dan lebih dalam sedotannya, bagaikan vacuum cleaner yang sedang menyedot debu. Setelah bangkit dari istirahatnya, Rita kemudian menghampiri kami dan mulai memegangi penisnya Mas Andri dan memaksa kami untuk berdiri di lantai. Akhirnya aku dan Mas Andri berdiri berhadapan, dan Rita memegangi penis kami sambil jongkok. Penis kami bergantian dihisapnya. Dan kadang-kadang keduanya dimasukkan ke dalam mulutnya sambil tangannya mengocok penis kami berdua. Sambil keenakan kuhisap putingnya Mas Andri dan kujilati. Tampak lenguhan Mas Andri yang merasakan keenakan. “Uh.. terus Dod, teruus enaak..!” katanya setiap kujilat putingnya. Mendengar desahan Mas Andri dan melihat Rita yang sedang asyik menikmati penis kami, aku semakin terangsang, dan akhirnya ada sesuatu yang ingin keluar dari penis kami. “Mas, aku ingin keluuaar..” kataku. “Aku juga..” kata Mas Andri. Akhirnya kami memegang penis kami masing-masing dan mengocoknya. Wajah Rita sudah berada di depan penis kami. Kupercepat kocokkanku, dan, “Ahh.. crot.. crot.. crot..” air maniku keluar persis di bibir merahnya Rita. Begitu juga dengan Mas Andri. Tampak badannya menegang dan matanya terpejam menikmati sesuatu yang enak, yang mungkin selama ini belum dialaminya. Dan seiring dengan lenguhan panjangnya Mas Andri, “Ahh.., crot.. crot..” air maninya keluar mengenai wajah Rita yang kelihatan menikmatinya juga. Rita mengusapkan semua cairan mani tersebut ke seluruh wajah dan badannya. Kuciumi bibir Rita yang masih terasa air mani yang aku dan Mas Andri keluarkan tadi. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan kami pun naik ke atas kasur. Kami saling berpelukan, dan tanpa terasa akhirnya kami tertidur. Besoknya, sekitar jam 10 pagi kami bangun dan mandi bertiga. Kami mengulangi permainan seks seperti semalam lagi, tetapi sekarang lebih cepat kami lakukan, karena Rita harus segera pulang dan bersiap-siap untuk kerja. Dengan perasaan puas seperti semalam, akhirnya kami akhiri permainan tersebut, dan kami pun segera untuk bersiap-siap pulang ke Bandung. Saat perpisahan, Rita menciumi kami berdua, dan dia minta agar kami selalu mengontak dia jika kami ingin bermain three somes lagi. Itulah pengalaman pertamaku bermain three somes. Mungkin nanti aku akan ceritakan pengalamanku bermain seks dengan Mas Andri, mantan istrinya dan pacarku. Jika ada dari rekan-rekan *******.com yang ingin ikutan bermain bersama dalam permainan seks dengan aku, baik bagi yang biseks atau bagi suatu pasangan yang ingin suasana baru, please email, pasti aku akan balas emailnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/threesome-party.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita-wanita Frustrasi</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/wanita-wanita-frustrasi.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/wanita-wanita-frustrasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:08:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2398</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada pintu yang pertama. Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada pintu yang pertama. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurang pergaulan). Hal ini membuatku lebih betah berada di kosanku, oh ya di bedeng tersebut aku nge-kost, dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga sering menonton film BF untuk memuaskan hasrat birahiku dan selalu berakhir dengan beronani. Cukup sudah pengantarnya ok. Sekarang lanjut ke pengalaman pertamaku yang berawal dari tempat kost dimana aku tinggal. Disebelah (pintu no2) tinggal seorang wanita muda sekitar 25 tahun bernama Desi tinggi 160 berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir taxi tetapi sudah 7 tahun belum dikarunia seorang anak. Pintu no3 ditempati oleh seorang wanita 35 tahun tinggi 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak 7 dan 5 tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Ita. Nah, dari sinilah semuanya berawal. Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang (mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo). Aku yang sudah terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV. Lagi asik nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi. Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Desi yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu. Mbak desi yang sedikit kurus ternyata memiliki payudara sekitar 32b dan sangat seksi sekali. Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang. Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta dengan Mbak desi ditempat terbuka tersebut. Semenjak hal itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya, aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak desi. Hari itu adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan. Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Ita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan payudaranya yang terlihat sudah agak kendor tapi berukuran 34 b. Setiap kali aku memperhatikan pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin pengaruh film BF dengan doggy style yang kebetulan favoritku). Kembali batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar mandi. Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak ita yang sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana. Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Ita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya. Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak ita. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak ita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak ita hampir jatuh dibuatnya. Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya. ” Maaf.. Aduh maaf mbak, nggak sengaja” ucapku. ” Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak liat” balasnya. Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi seperti ini. Sepertinya Mbak ita mengetahui bahwa aku belum pengalaman sama sekali. Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang kemaluanku yang berada dibalik handuk. Est ..est.. auw ..aku mengerang keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak ita sudah berada dibawahku denagn posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku. Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang bulat dibuatnya. 10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak ita. Aku yang tadi pemalu sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak ita kusuruh berdiri dihadapanku dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat pada tubuhnya menambah gairahku. Est .. Ah .. teruss.. kepalanya tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak ita menahan nikmat. Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya melumat kemaluan wanita. Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah menjadi rasa ninkmat yang tiada tara. Est ..est ..teruuss ..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak ita tak mampu menahan nikmat yang diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan jariku ke liang senggamanya. “Mbak mau .. kelu..ar ahh” racaunya. Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan terus menjilati kemaluanya sampai bersih. Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak ita tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi berada diatasku. Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Ita mengambil inisiatif untuk memuaskanku. Mbak Ita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Ita. Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti diperas-peras dan hangat sekali rasanya. Aku tak menyangka bahwa kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku beronani. Mbak Ita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi pasti. Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Ita terus melakukan gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Ita membuatku semakin bernafsu ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari. Rupanya aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Ita sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tangankupun tidak mau kalah dengan pantatku. Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu. “Wah ..indahnya pemandangan ini” ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya menyentuh payudara Mbak Ita, aku langsung mengambil posisi duduk sehingga payudara Mbak ita tepat berada didepan wajahku. Kembali aku melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian. Ahh..ah ..ah..oh.. Est..ss Mbak ita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan perlakuanku ini. Lama kelamaan genjotan Mbak Ita semakin cepat dan aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak ita akhirnya mencapai klimaks yang kedua kalinya. Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak bisa klimaks secara bersamaan. Akhirnya aku meminta Mbak Ita untuk kembali mengulum kemaluanku. Mbak Ita yang sudah mendapat kepuasan dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh ucapku ketika Mbak Ita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air kejantananku. Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua air maniku tertumpah diwajah Mbak Ita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu Mbak Ita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat sekali. Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai diatas kasur. Mbak Ita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku menuju rumahku. Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Ita, alangkah terkejutnya aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami. Eh..mm..mbak..mbak ..Desi..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Desi. “Permisi mbak, aku mau masuk dulu” ucapku pura-pura tidak ada yang terjadi. Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk menghindari introgasi dari Mbak Desi. Tiba-tiba “tunggu!!” teriak Mbak Desi. Aku langsung panas dingin dibuatnya. “Jangan jangan ia akan melaporkanku ke Kepala Desa lagi” ucapku dalam hati.” Aduuhh gawat nih, bisa-bisa cuci kampung” pikirku. ” A..a..ada apa ya mbak” balasku. Mbak Desi langsung mendekatku dan berkata ” kamu akan aku laporkan kesuami Mbak Ita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan” ucap Mbak Desi. ” Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak ” balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba ” ha..ha..ha..ha.. ” Mbak desi tertawa. Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak desi punya dendam dan sekarang berhasil membalaskannya. ” Nggak usah takut, pokoknya sekarang kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!” usulnya. “Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari” ucapku semakin bingung. Tanpa bicara lagi Mbak Desi semakin mendekatiku. Setelah tidak ada lagi jarak diantara kami tangan Mbak Desi langsung melepas handuk yang kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat.”Mbak jangan dikebiri ya..” ucapku.”Nnggak..nggak pa pa kok” balasnya. Mbak Desi ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku. Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak Desi, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh kepala kemaluanku. Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan jilatan dari mulut Mbak Desi setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak Ita. Kuluman dan jilatan Mbak Desi ternyata lebih nikmat dari Mbak Ita. Aku bertaruh bahwa Mbak Desi telah melakukan berbagai macam gaya dan variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan. Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak Desi. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Desi telah berganti posisi dengan menungging. Pantatnya yang kecil namun berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku. “Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong” ucapnya dengan mesra. Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatan Mbak Desi. “Aduh!!” meleset pada tusukanku yang pertama. Aku kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga. “Gila nih perempuan “pikirku, “ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali” ucapku. Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur. Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Desi mulai mendesah menahan nikmat. Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya favoritku. “Ayo..teruuss..ayo..” teriakku memberi semangat”. Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Desi semakin terdengar kencang. Melihat payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin mewujudkan impianku selama ini. Sambil terus menggenjot Mbak Desi aku berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Ita tak tahan akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan cepat. Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Desi didepanku. Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Desi menahan nikmat. Kulumat bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Desi tak sanggup lagi menahan klimaksnya “Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Desi mencapai klimaksnya. Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin menggenjot dengan cepat.”Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara kemaluanku dan kemaluan Mbak Desi yang sudah sangat basah tersebut. Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang kemaluanku dan:”Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam liang senggamanya. Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Pembaca sekalian rupanya Mbak Ita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Desi saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya. Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan itu. Saya masih sangat merindukan untuk kembali berhubunagn sex dengan Mbak Desi atau Mbak Ita karena mereka telah membuat saya tidak virgin lagi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/wanita-wanita-frustrasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pesta sex membuatku ketagihan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pesta-sex-membuatku-ketagihan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pesta-sex-membuatku-ketagihan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:03:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/pesta-sex-membuatku-ketagihan.html</guid>
		<description><![CDATA[terima kasih kepada rekan-rekan yang telah mengirimkan tanggapannya, baik yang berisi penilaian positif maupun negatif. Juga perlu saya jelaskan sekali lagi bahwa cerita yang dibuat semuanya berdasar pada cerita nyata saya, maupun teman serta sahabat-sahabat saya. Adapula yang saya ambil dari kisah nyata beberapa responden yang saya nilai baik untuk diceritakan karena ada kejelasan sifat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>terima kasih kepada rekan-rekan yang telah mengirimkan tanggapannya, baik yang berisi penilaian positif maupun negatif. Juga perlu saya jelaskan sekali lagi bahwa cerita yang dibuat semuanya berdasar pada cerita nyata saya, maupun teman serta sahabat-sahabat saya.</p>
<p>Adapula yang saya ambil dari kisah nyata beberapa responden yang saya nilai baik untuk diceritakan karena ada kejelasan sifat dan karakter dari responden tersebut. Mudah-mudahan keterangan saya ini bisa menjawab beberapa email yang menanyakan benar atau tidaknya cerita yang saya ceritakan tersebut terjadi.</p>
<p>Berikut akan saya ceritakan pengalaman pertama saya dalam orgy sex. Peristiwa ini baru terjadi beberapa hari kebelakang, tepatnya tanggal 22 September 2004. Kecuali nama saya, saya samarkan nama-nama yang ada dalam cerita ini.</p>
<p>*****</p>
<p>22 september 2004, pukul 15.25, suasana di kantor mulai terlihat menurun aktifitasnya. Beberapa staff dan karyawan lain ada yang mengobrol untuk menghabiskan waktu. Harry dan Leo, teman kerja dari Divisi Marketing, tiba-tiba datang ke ruangan kerja saya.</p>
<p>“Hei, Roy! Sibuk nggak?” tanya Harry kepada saya.<br />
“Tidak. Ada apa?” kata saya sambil membereskan beberapa berkas kerjaan saya yang sudah selesai.<br />
“Kamu ada waktu nggak nanti sore lepas kerja?” tanya Harry sambil mendekat.<br />
“Memangnya ada apa, sih?” tanya saya sambil menatap Harry dan Leo bergantian.</p>
<p>Mereka saling pandang lalu tersenyum.</p>
<p>“Nanti sore kami ada acara khusus dengan 3 kolega bisnis…” kata Leo sambil tersenyum.<br />
“Karena kami kurang satu orang, maka kami ajak kamu…” sambung Leo lagi.</p>
<p>Saya mengerenyitkan alis karena belum mengerti maksud mereka.</p>
<p>“Siapa mereka? Acara khusus apa?” tanya saya.<br />
“Pokoknya kamu ikut saja deh. Dijamin puas…” kata Leo sambil menatap Harry.</p>
<p>Lalu mereka berdua tertawa. Saya juga ikut tertawa walau tidak mengerti apa-apa.</p>
<p>“Mana bisa menentukan sesuatu kalau saya tidak tahu apa yang akan dilakukan?” tanya saya.<br />
“Kami ada janji bertemu dengan 3 orang staff Marketing Carrefour untuk memperlancar bisnis…” bisik Harry ke telinga saya.<br />
“Lalu apa urusannya dengan saya?” tanya saya lagi.<br />
“Mereka semua wanita, Roy.. Masa sih nggak ngerti juga?” kata Harry.</p>
<p>Saya mulai bisa menangkap arah pembicaraan mereka.</p>
<p>“Maksudnya acara khusus itu apa?” tanya saya lagi.<br />
“Begini, Roy…” kata Leo.<br />
“Ini bukan kali pertama kami have fun dengan mereka.. Ngerti, nggak?!” tegas Leo sambil tersenyum menatap saya.</p>
<p>Saya mengerti maksud mereka.</p>
<p>“Ngerti…” kata saya sambil tersenyum.<br />
“Jam berapa? Dimana?” tanya saya.<br />
“Ketemu mereka jam 7 di hotel Senen,” kata Harry.<br />
“Baiklah, saya ikut…” kata saya.</p>
<p>Akhirnya kami bertiga tersenyum penuh arti. Setelah beralasan ada pertemuan bisnis kepada istri, saya dan Harry serta Leo segera meluncur ke hotel Senen menjelang jam 7. Disana, sekitar jam 6.45, kami bertemu dengan 3 wanita relasi bisnis Harry dan Leo. Saya dikenalkan kepada mereka. Mereka adalah Henny, 25 tahun, singel, Rita, 29 tahun, menikah, dan Shelly, 23 tahun, singel. Penampilan ketiga wanita tersebut sangat menarik sebagai wanita karier. Kecuali Rita yang agak gemuk, penampilan mereka sangat ramping dan sedap dipandang lengkap dengan dandanannya.</p>
<p>“Kita makan malam dulu atau bagaimana, nih?” tanya Leo.<br />
“Tidak usahlah, kami sudah banyak ngemil tadi di kantor,” kata Shelly sambil tersenyum ke arah saya.</p>
<p>Saya balas senyum. Akhirnya setelah booking satu ruangan, kami segera masuk. Terus terang saja waktu itu saya sangat bingung harus bagaimana karena saya sama sekali belum pernah melakukan hal seperti ini. Saya banyak diam jadinya.</p>
<p>“Sudah berapa kali ikut, Roy?” tanya Shelly sambil duduk merapat kepada saya.<br />
“Ini pertama kali,” kata saya sejujurnya sambil tersenyum.</p>
<p>Shellypun tersenyum manis. Waktu itu saya lihat Harry dan Rita sudah mulai berciuman di kursi. Tangan mereka sama-sama aktif saling mengelus, mengusap dan meremas tubuh pasangannya. Sedangkan Leo dan Henny terlihat saling membuka pakaian masing-masing di atas tempat tidur besar. Setelah benar-benar telanjang bulat mereka langsung berguling berpelukan sambil tangan mereka bergerak bebas di tubuh pasangannya. Melihat hal itu, ****** saya mulai bangkit. Benar-benar pemandangan yang membuat kelelakian saya tergugah.</p>
<p>“Kok diam saja sih, Roy..?” kata Shelly sambil naik ke pangkuan saya.</p>
<p>Dengan tanpa ragu, mungkin sudah terbiasa, Shelly langsung melumat bibir saya dengan panas. Sementara tangannya bergerak membuka semua kancing baju saya. Sayapun membalas ciuman Shelly dengan panas pula. Tangan saya mulai meremas buah dada lalu membuka semua kancing kemeja Shelly. Tak tanggung, BH-nya juga segera saya buka.</p>
<p>“Mmhh.. Mmhh…” desah Shelly disela-sela kami berciuman ketika tangan saya meremas buah dada dan memainkan puting susunya.</p>
<p>Tak lama Shelly langsung turun dari pangkuan saya. Dibukanya rok mini dan celana dalam mini yang dia pakai. Sayapun demikian. Saya buka seluruh pakaian sampai kami sama-sama telanjang. Shelly langsung memeluk saya dan kembali mencium bibir saya dengan panas sambil tangannya meremas dan mengocok pelan ****** saya. Rasanya sangat enak.. Sayapun balas ciuman Shelly sambil meremas pantat kenyalnya. ****** saya sesekali menusuk perut langsingnya.</p>
<p>Ciuman Shelly lalu turun ke dada saya, dijilat dan digigit kecil puting susu saya, lalu lidahnya makin turun ke perut. Lidahnya berhenti ketika menyentuh bulu kemaluan saya yang agak lebat. Tangannya tetap mengocok pelan ****** sambil menatap mata saya. Kemudian ketika mulut Shelly mengulum, menjilat dan menghisap ****** saya, terasa sangat hangat dan nikmat yang tak bisa dikatakan seperti apa. Apalagi ketika sesekali Shelly melepas hisapannya lalu mengocok ****** saya dengan keras, lalu menghisapnya lagi.. Rasa nikmatnya benar-benar tak bisa saya ungkapkan. Saya hanya bisa terpejam dan memompa ****** saya keluar masuk mulut hangat Shelly.</p>
<p>“Gantian dong, Roy…” kata Shelly sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir saya. Saya mengangguk.<br />
“Dimana?” tanya saya.<br />
“Di ranjang saja…” kata Shelly sambil tangannya menarik tangan saya ke ranjang.</p>
<p>Saat itu Leo sedang menyetubuhi Henny. Shelly segera telentang di samping tubuh Henny, sayapun langsung membuka pahanya lalu lidah saya bermain menjilati semua sudut memek Shelly yang bersih tak berbau. Desahan dan erangan serta geliat tubuh Shelly sangat jelas ketika menikmati nikmatnya dijilat memek. Sesekali tangannya meremas rambut saya lalu mendesakkan kepala saya ke memeknya..</p>
<p>“Cepat naik, Roy.. Setubuhi saya!” pinta Shelly dengan nada bergetar.</p>
<p>Sayapun lalu bangkit dan segera memasukkan ****** ke memek Shelly yang sudah sangat basah sehingga memudahkan masuknya ******. Tak lama saya dan Shelly sudah bermandi peluh dihiasi dengan desah dan erangan kenikmatan yang keluar dari mulut kami seiring dengan keluar masuknya ****** saya di memek Shelly. Ada suatu hal yang lebih memanaskan suasana ketika saya asyik menyetubuhi Shelly entah sudah berapa posisi, tiba-tiba Henny yang sedang disetubuhi Leo disamping kami, tangannya memegang pundak saya lalu menarik leher agar mendekati wajahnya, kemudian dilumatnya bibir saya habis. Saya membalas ciumannya sambil tetap menyetubuhi Shelly. Sedangkan tangan saya satu meremas buah dada Henny yang sedang asyik disetubuhi Leo. Hal ini tambah memberikan suatu energi buat saya untuk memacu birahi.</p>
<p>“Roy, gantian..!” tiba-tiba Leo menepuk pundak saya sambil melepas kontolnya dari memek Henny.</p>
<p>Tanpa banyak cakap sayapun mencabut ****** saya dari memek Shelly. Tak lama Leo sudah mulai menyetubuhi Shelly. Ketika saya mau mengangkangi tubuh Henny, tiba-tiba Henny bangkit lalu meraih ****** saya yang masih basah oleh cairan memek Shelly. Dikocoknya ****** saya lalu mulutnya yang agak tebal menghisap dan menjilat ****** saya.</p>
<p>Di sudut terlihat Harry sedang memompa kontolnya di anus Rita. Rita terpejam entah merasakan apa. Harry terpejam sambil terus memompa kontolnya dengan cepat, sampai akhirnya terlihat Harry mencabut kontolnya dari anus Rita lalu tampak air mani Harry muncrat di pantat Rita. Harry terkulai lemas sambil memeluk Rita dari belakang di atas kursi.</p>
<p>“Ohh.. Fuck!! Ohh,” terdengar teriakan lirih Shelly ketika mendapat kenikmatan ketika ****** Leo keluar masuk memeknya.<br />
“Masukkin sini, Roy…” pinta Henny sambil merebahkan dirinya menyamping.</p>
<p>Jarinya dimasukkan ke lubang anusnya. Sejenak saya hanya diam, ragu karena tidak pernah melakukannya. Tapi dorongan nafsu yang kuat akhirnya menghilangkan keraguan saya itu. Saya ludahi tangan lalu dioleskan ke kepala dan batang ****** saya agar licin. Lalu secara perlahan saya susupkan kepala ****** saya ke lubang anus Henny. Mata Henny terpejam sambil memegang batang ****** saya. Lama-lama kepala ****** saya masuk ke anusnya, lalu perlahan saya tekan lebih dalam lagi sampai akhirnya tigaperempat bagian batang ****** saya masuk anusnya. Perlahan saya keluar masukan ****** di anus Henny. Mulanya tampak Henny menggigit bibir, tapi lama-lama matanya terpejam dan terdengar desahan kenikmatan.</p>
<p>“Ohh.. Sshh…” desah Henny sambil menggoyang pantatnya.</p>
<p>Wahh..!! Merupakan suatu pengalaman yang luar biasa.. Saya merasakan rasa nikmat yang sangat luar biasa ketika anus Henny dengan sangat ketat menjepit ketika saya memompa ****** di anusnya. Sementara Hennypun tampak menikmati posisi seperti ini. Sewaktu saya masih merasakan nikmatnya ****** keluar masuk anus Henny, terdengar Leo mengerang sewaktu air maninya menyembur di dalam memek Shelly.</p>
<p>“Jangan dulu dicabut, Leo! Aku juga mau keluar!” kata Shelly dengan suara serak tertahan. Pinggulnya bergoyang cepat sambil mendesakkan memeknya ke ****** Leo agar masuk lebih dalam.</p>
<p>Tak lama, “Ohh.. Fuck! Fuck! Mmhh…” erang Shelly mencapai orgasme.</p>
<p>Tubuh lunglai Leo ambruk memeluk tubuh Shelly. Sementara saya terus memompa ****** di lubang anus Henny. Desahan dan erangan nikmat kami terus terdengar. Sampai saatnya saya merasakan ada dorongan yang ingin keluar dari ****** saya. Saya pompa ****** saya makin keras.</p>
<p>“Saya mau keluar…” kata saya sambil mata terpejam.</p>
<p>Saya tekan ****** saya dalam-dalam sampai hampir masuk semua ke dalam anus Henny. Lalu, croott! Croott! Croott! Air mani saya keluar banyak di dalam anus Henny. ****** saya terasa makin hangat di dalamnya. Henny tersenyum.</p>
<p>“Bagaimana rasanya?” tanya Henny dengan senyum yang menghiasi wajahnya.<br />
“Wahh.. Enak sekali…” kata saya sambil mencabut ****** saya perlahan.</p>
<p>Tampak air mani saya banyak menempel di batang ****** saya, lalu tampak pula air mani yang keluar dari lubang anusnya. Henny bangkit lalu meraih sprei dan mengelap air mani di anus dia serta ****** saya. Malam itu kami melakukan dua kali persetubuhan dengan berganti pasangan. Hanya sekitar 3 jam kami menikmati malam itu.</p>
<p>Setelah berpakaian, saya bertukar kartu nama dengan mereka. Lalu kami pulang. Entah kapan lagi bisa ada ajakan khusus seperti itu lagi..</p>
<p>*****</p>
<p>Wahh..!! Malam itu benar-benar pengalaman pertama saya yang sangat penuh sensasi. Bersetubuh ramai-ramai sambil ganti-ganti pasangan benar-benar membuat gairah seksual saya terdongkrak dan bangkit beberapa kali lipat dari biasanya. Apalagi ditambah dengan anal seks yang baru pertama kali saya lakukan. Nikmatnya benar-benar lebih dari aktifitas seks biasa. Saya tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pesta-sex-membuatku-ketagihan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vonny &amp; Nadya</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/vonny-nadya.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/vonny-nadya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 08:43:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/vonny-nadya.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya aku minta maaf bila ada kata-kata dari aku yang kurang tepat, jadi aku mohon maaf yah. Aku adalah seorang mahasiswa dari universitas swasta di Bandung. Pada saat aku SMU, aku dikenal sebagai lelaki yang “abuy” (anak buaya), memang sih kata cewek-cewek atau mantan-mantan cewekku, saya tipe cowok yang romantis, dengan body yang sangat mendukung. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya aku minta maaf bila ada kata-kata dari aku yang kurang tepat, jadi aku mohon maaf yah. Aku adalah seorang mahasiswa dari universitas swasta di Bandung. Pada saat aku SMU, aku dikenal sebagai lelaki yang “abuy” (anak buaya), memang sih kata cewek-cewek atau mantan-mantan cewekku, saya tipe cowok yang romantis, dengan body yang sangat mendukung.</p>
<p>Pada waktu aku kelas 3 SMU menjelang Ebtanas, aku belajar bersama teman wanita yang bernama Vonny dan Nadya, ketika itu aku berlajar bersama, dan tidak sedikit pun aku berpikir untuk bermacam-macam dengan mereka berdua. Memang sih banyak cowok-cowok yang “sirik” padaku, karena aku bisa dekat dengan mereka berdua, yang termasuk seleb di sekolah **** (edited) di kotaku, yang penting itu sekolah swasta terkenal di Bandung. Pada waktu itu acara belajar itu dilakukan oleh kami bertiga di rumah Vonny. Pada waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul 18:00, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Vonny. Hujan turun deras sekali, dan mengakibatkan aku terpaksa berhenti untuk menunggu hujan tersebut (maklum ketika itu aku memakai motor). Tapi apa boleh buat, karena aku sudah mempunyai janji dengan mereka berdua untuk belajar bersama, yah.. aku berani berkorban meski hujan itu belum reda.</p>
<p>Dan akhirnya aku pun sampai di rumah Vonny dengan basah kuyup. Tiba-tiba Vonny keluar dari rumahnya karena mendengar suara motorku, maklum ketika itu aku memakai motor NSR yang cukup berisik untuk didengar. Tiba-tiba pun Vonny menghampiriku untuk membukakan pagar, agaraku bisa masuk, dan secara otomatis Vonny pun menjadi basah kuyup, dan terlihatlah olehku pemandangan yang menggiurkan. BH-nya yang terlihat jelas olehku, dan kuperkirakan ukurannya cukup besar (36B) dan dia waktu itu memakai BH berwarna hitam, jadi terlihat jelas olehku. Setelah itu aku pun masuk ke rumahnya, dan permisi ke Vonny untuk ke toilet untuk membersihkan badanku akibat hujan tadi. Ketika aku mandi terdengar Vonny mengetuk pintu dan memanggilku untuk memberikan handuk, aku pun membuka pintu dan mengambil handuk tersebut.</p>
<p>Setelah selesai mandi aku keluar dengan hanya memakai handuk saja. Aku mencari Vonny untuk meminjam pakaian kakaknya yang kebetulan sedang di luar kota. Aku melihat-lihat rumahnya, dan kurasakan tidak ada satu orang pun di rumahnya. Cuek saja, aku pikir. Dan aku pun dikagetkan oleh suara seseorang yang memanggilku, ketika kulihat, dia adalah Nadya, yang entah kapan datangnya. Kemudian dia memberikan baju kepadaku, aku sempat kaget dibuatnya, karena aku tidak tahu dia kapan datangnya. Aku pun kembali ke kamar mandi untuk memakai baju ini. Dan ketika aku sedang ganti baju, tiba-tiba Vonny masuk, dan terkejut sekali karena menduga aku sudah tidak ada di dalam (maklum pintu kamar mandi lupa saya kunci). Vonny berkata dengan wajah panik, “Sorry yah Yon,” dan dia langsung beranjak keluar dan aku pun melanjutkan memakai pakaian itu.</p>
<p>Setelah selesai, aku pun beranjak dari situ. Aku keluar ke arah ruang tamu dan melihat mereka sedang bersiap-siap untuk memulai belajar bersama. Aku sempat melihat wajah Vonny yang sedikit canggung. Setelah itu aku duduk dan mengeluarkan buku yang telah kubawa. Setelah beberapalama belajar, entah apa yang merasuki otakku ini sehingga membuat si “Joni” berdiri. Pada saat itu Vonny minta maaf padaku atas kejadian tadi, dan dengan berbisik dia agar tidak memberitahu pada siapapun juga, aku pun mengiyakannya. Ketika itu Nadya mengajak untuk menonton VCD yang baru dipinjamnya untuk melepas suntuk dalam belajar, dan kami pun menuju kamar Vonny. Kami bertiga pun mulai menonton film tersebut. Setelah beberapa lama kami menonton, terlihatlah suatu adegan yang “hot”, kami betiga hanya diam saja, sambil berpandang-pandangan. Aku melihat Nadya yang sudah mulai kegelisahan, mungkin karena melihat adegan tersebut, dan terlihat Vonny yang dari tadi diam saja, tetapi dia seperti mulai terangsang oleh adegan tersebut.</p>
<p>Aku pun melirik ke arah Vonny, dan tanpa dia sadari dia mengusap-ngusap ke arah kemaluannya, dan sedikit-sedikit berdesah kecil, “Sshh.. ahh..” hal ini membuat si “Joni” beranjak dari tempatnya. Timbul hatiku untuk mengerjai mereka berdua. Aku menggeserkan posisi dudukku ini untuk mendekatkan ke mereka berdua. Aku pun memberanikan diri untuk mengelus-elus pahanya yang montok dan putih mulus itu. Dia pun hanya diam saja, seakan akan menikmati elusan itu. Nadya melihat dan ikut terangsang juga, ketika itu Nadya nekad untuk mendekat padaku, dan tiba-tiba dia mengecup bibirku dengan hangat, dan aku pun membalas dengan manis ciumannya. Ciumannya yang sangat lembut itu membuatku semakin membabi buta. Aku pun meremas dada Nadya yang masih terbungkus oleh BH, dan Nadya pun sangat menikmatinya. Tiba-tiba aku mendengar desahan dari Vonny, “Ssshh.. ahh.. puaskan aku malam ini, Yon.. pleassee, aku udah nggak tahannich.”</p>
<p>Aku menyuruh mereka membuka pakaiannya satu persatu. Mereka pun dengan cepat membuka pakaiannya. Lalu Nadya melucuti pakaianku, dan ketika membuka celanaku mereka terbelalak, karena melihat punyaku itu yang cukup besar (18 cm). Dengan cepat Vonny melahap penisku yang sudah tegang dari tadi. Saat Vonny melahap penisku itu, aku terus menjilati puting susu Nadya yang sudah mulai mengeras, dan Nadya menggelinjang keenakan. Saat itu aku menyuruh Nadya untuk terlentang di ranjang, kini aku mulai menjilati kemaluannya yang sudah mengeluarkan bau yang harum dari kemaluannya. Aku terus menjilatinya dengan buas, dengan sedikit-sedikit aku mengocok-ngocok dengan jariku, dan dia pun menikmatinya. Dia menyuruhku untuk memasukkannya ke vaginanya, “Ayo Yonn, masukin dong itunya, aku udah nggak sabaran nunggunya,” aku berkata, “Iya sayang, sabar yah..” tiba-tiba Vonny melepaskan kemaluanku itu dari dalam mulutnya dan membimbing batanganku itu masuk ke dalam liang milik Nadya yang sudah basah sejak tadi.</p>
<p>“Bless.. bless.. bless” batanganku pun masuk setengahnya, dan aku menggoyangkan maju-mundur secara perlahan-lahan dengan bantuan Vonny yang terus memelukku dan menciumku itu. Tiba-tiba Nadya menjerit kesakitan karena batang kemaluanku itu terlalu besar untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya. Aku terus berusaha, dan akhirnya batangku itu pun berhasil amblas semuanya di dalam, dan terasa olehku cairan hangat yang keluar dari kemaluan Nadya.</p>
<p>“Ahh.. ahh.. ah.. Nadya..”<br />
Setalah 20 menit aku melakukannya bersama Nadya, sekarang giliran Vonny yang sudah tak tahandengan horny-nya itu. Aku pun mulai memasukkan ke liang Vonny yang sangat menggodaitu, “Bless.. bless..” amblaslah sudah batanganku itu di dalamnya. “Ah ah ah..” desahnya. Aku merasakan dia sudah akan orgasme, tapi memang benar dia mendesah, “Yonn.. aa.. kuu maa.. uu.. keeluarr..” Lalu aku berkata, “Tahan yah say.. bentar lagi, aku pun maukeluar nich..” Dan setelah beberapa lama dia pun orgasme, dan mengeluarkan cairan hangat yang terasa olehku. Segera setalah itu aku pun mempercepat goyanganku itu dan.. “Creett.. croott.. creett..” aku memuntahkan seluruh maniku itu di mulut Vonny dan Nadya. Mereka berdua sangat menikmatinya. Kami bertiga pun terkulai lemas di tempat tidur.</p>
<p>Vonny dan Nadya bekata kepadaku, “Thanks yah sayang, aku belum pernah merasakan seperti ini Yon.. emang kamu sangat hebat untuk melakukan hal ini,” aku pun bekata, “Iya sayang,” sambil aku mengecup bibir mereka berdua. Karena hari sudah larut malam aku pun bergegas untuk pulang dan pamit kepada mereka. Setelah kejadian itu kami sering melakukannya, baik di rumah maupun di hotel. Sekian cerita dariku ini. Bila anda berkesan, anda dapat berkenalan denganku melalui e-mail. Terima kasih atas nilai yang anda berikan lewat cerita ini.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/vonny-nadya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara diriku,istriku dan ketiga lelaki lain</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/antara-dirikuistriku-dan-ketiga-lelaki-lain.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/antara-dirikuistriku-dan-ketiga-lelaki-lain.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=867</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit Aneh ini sudah lama kuderita sejak aku mulai berpacaran dengan Istriku di kala SMU dulu.Sudah 8 tahun aku menjalin asmara dengan istriku hingga akhirnya kini resmi kunikahi dan memberiku 1 orang anak yang lucu dan cakep seperti bapaknya. Mungkin bisa dibilang aku memiliki sifat ekshibisionisme atau suka memamerkan tubuh kepada orang lain tetapi ekshibisionis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit Aneh ini sudah lama kuderita sejak aku mulai berpacaran dengan Istriku di kala SMU dulu.Sudah 8 tahun aku menjalin asmara dengan istriku hingga akhirnya kini resmi kunikahi dan memberiku 1 orang anak yang lucu dan cakep seperti bapaknya.</p>
<p>Mungkin bisa dibilang aku memiliki sifat ekshibisionisme atau suka memamerkan tubuh kepada orang lain tetapi ekshibisionis yang aku rasakan sedikit berbeda karena yang aku ingin pamerkan adalah tubuh indah istriku sendiri.</p>
<p>Sedikit gambaran istriku orangnya putih seperti chinese dengan tinggi 162 cm berat 55 tentunya terlihat begitu seksi dan berisi. Bibirnya yang mungil dan payudaranya yang berukuran 34-D tentu menambah sempurna penampilannya bagi para pria pada umumnya.</p>
<p>Sejak berpacaran aku suka sekali jika saat jalan-jalan dia hanya memakai Tank Top atau juga baju yang memiliki belahan rendah di bagian dada. Perasaan bangga sekaligus cemburu menjad satu tatkala istriku menjadi perhatian oleh para pria yang kebetulan jalan berpapasan dengan kami. Sorot mata para pria yang selalu mengarah kebagian dadanya adalah hal yang sangat membuatku bangga karena aku memiliki istri yang bisa menggoda pria manapun dan akupun semakin merasa puas karena keindahan itu hanya milikku seorang.</p>
<p>Sore itu selepas memandikan putra kami, aku dan istriku berencana menitipkan putra kami ke rumah neneknya karena kami berencana akan berbelanja ke sebuah mall.<br />
â€œMah pakai Tank Top coklatnya dunkâ€pintaku kepada istriku Dyah<br />
â€œNgga ah pah malu ntar diliat mama ngga enak?â€protes istriku kepadaku<br />
â€œUdah ntar ditutupin pakai cardigan coklat mama kan beres.â€jawabku<br />
â€œYakin nich pahâ€¦?gak papa mama pakai Tank Top ke mall?â€tanya istriku lagi.<br />
Akhirnya kusampaikan dengan perlahan kepadanya bahwa hari ini aku ingin membuat sensasi dan istriku yang sudah mengerti benar akan penyakit sekaligus kesenanganku akhirnya menyetujuinya. Dalam hatiku dia pasti melakukan ini hanya karena ingin membuatku bahagia.</p>
<p>Setelah menitipkan putra kami kerumah neneknya kamipun segera menuju ke Mall[dalam hal ini mall yang kami pilih adalah yang memiliki departement store yang sepi pengunjung/kurang diminati agar rencana kami bisa berhasil terlaksana] untuk berjalan-jalan memilih baju dan melakukan something crazy yang memang sudah aku rencanakan dan diskusikan dengan istriku didalam mobil.</p>
<p>Sesampainya di mall kamipun segera memasuki Departement Store tempat baju wanita. Dan begitu sampai didalam akupun memberi kode kepada istriku untuk melepaskan cardigannya sehingga kini dirinya hanya memakai Atasan Tank Top coklat dipadu dengan Blue Jeans ketat Â¾ benar-benar membuat setiap lekuk tubuh istriku tampak begitu menggoda.</p>
<p>Kami berjalan berputar sampai kemudian kami melihat ada sepasang suami istri yang sedang memilih pakaian kerja wanita. Akupun berbisik kepada istriku untuk memulai aksinya ditempat itu. Istriku pun segera memilih baju didekat mereka sambil kutemani, saat ini aku melihat sang suami tadi sibuk membantu istrinya memilih baju kini mulai melirik keistriku yang ada disebelahnya persis. Aku tahu betul apa yang sedang dilihatnya dan dipikirkan saat ini karena Tank Top yang dikenakan istriku memiliki potongan rendah dibagian dadanya sehingga bisa terlihat dengan jelas belahan payudaranya yang putih dan menggoda.</p>
<p>Istriku kemudian menjatuhkan baju yang dipegangnya tepat dikaki sang suami itu.<br />
â€œOhâ€¦Maaf Mas permisi â€œkata istriku kepada sang suami sambil menunduk mengambil<br />
Mata lelaki itupun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat payudara istriku yang terlihat dengan jelas saat istriku menunduk mengambil pakaian.<br />
Tanpa kuduga tiba-tiba sang istri dari lelaki itu segera mengajak pergi sambil meletakkan baju yang tadi sudah dipilihnya. Mungkin sang istri kesal karena istrinya memperhatikan wanita lain.</p>
<p>Kamipun segera berlanjut berkeliling untuk mencari tempat dan ide yang lebih gila lagi untuk dilakukan.Tak sengaja mataku pun tertuju kearah ruang ganti pakaian yang letaknya ada dibelakang kasir, akupu segera bergegas menuju keruangan itu dan melihat keadaan di sekitarnya. Ada dua ruang ganti di ruang 1 ada seorang wanita yang sedang menunggu pasangannya yang sedang berganti pakaian dan disebelahnya ada 2 orang lelaki yang sedang menunggu temannya yang sedang didalam.</p>
<p>Dua orang lelaki itu aku rasa sedang menunggu temannya yang juga lelaki,ini aku tahu karena melihat dari cara mereka berbicara dengan yang ada didalam menggunakan bahasa yang boleh dibilang sedikit kasar/mungkin bahasa kaum lelaki. Bagiku ini kesempatan emas yang memang sudah kuimpikan dan kubayangkan sebelumnya.</p>
<p>Tanpa menunggu lama akupun mendatangi istriku yang sedang memilih baju untuk segera mencobanya diruang ganti dan menjalankan rencana yang tadi sudah kami sepakati berdua.<br />
â€œPah, Papa yakin orang itu ngga berbuat macam-macam ke mama?â€tanya istriku ragu<br />
â€œSudahlah sayank aku tidak akan jauh dari tempatmu kokâ€jawabku meyakinkan<br />
Sesuai dengan rencana aku memang tidak mengikuti isriku ke ruang ganti tapi tetap mengawasi dari tempat yang tidak terlalu jauh untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan. Tepat disaat istriku sampai orang yang ada diruang 1 keluar dari ruang ganti dan kini giliran istriku yang masuk ke ruang ganti tersebut dan kini kulihat orang yang ada di ruang 2 memperhatikan istriku dengan seksama dari atas ke bawah.</p>
<p>Ruang Ganti itu hanya tertutup oleh sebuah kain yang ditarik dari ujung kir ke ujung kanan untuk menutu orang yang sedang ganti didalamnya.Dari posisi yang tidak terlalu dekat aku bisa melihat dengan jelas bahwa istriku sengaja menarik kain itu dengan keras sehingga meskipun kain itu sampai ujung bagian kanan tetapi dibagian kirinya menjadi sedikit terbuka karena tarikannya yang terlalu keras.Celah yang sekitar 10 cm itu sudah cukup membuat orang yang sedang berada di luar ruang 2 bisa melihat apa yang sedang terjadi didalam ruang 1.</p>
<p>Tampak kini posisi istriku sedang menghadap kearah cermin dan mulailah dia menurunkan tali Tank Top coklat yang dikenakannya kebawah satu persatu terlihatlah bra krem yang dikenakannya. Kedua lelaki yang ada disebelah juga tampak menolehkan mukanya kearah celah itu melihat istriku sedang melepas pakaiannya. Tanpa menunggu lama istriku dengan sengaja melepas juga bra krem yang dikenakannya dan terlihatlah dari pantulan cermin kedua payudaranya terbebas keluar dan menggantung dengan indahnya. Baju yang dibawanyapun tidak segera dikenakannya tetapi hanya digantungkan saja karena kini istriku sibuk bergaya didepan cermin sambil melihat tubuhnya sendiri yang saat ini memang sedang Topless.Badannya yang begiu putih dihiasi kalung permata yang melingkar dilehernya dan indahnya kedua payudaranya tampak begitu menggoda.</p>
<p>Kulihat keanehan terjadi karena kedua lelaki tadi tiba-tiba membuka kain penutup ruang 2 untuk menarik temannya keluar dan memberitahukan keindahan yang dilihatnya. Rasa marah,cemburu mulai menggelayuti Otakku disamping gairah dan kepuasan yang juga timbul karenanya.Aku sedikit bergeser dari tempatku karena untuk tetap bisa melihat celah itu karena kini ke tiga orang itu berdiri bergerombol dan menutupi pandanganku.</p>
<p>Kini akupun mendekat keruang ganti untuk bisa melihat dengan dekat apa yang sedang terjadi dan ternyata ketiga lelaki itu tak menyadari bahwa aku adalah suami dari wanita yang sedang mereka lihat. Tampak di cermin istriku mulai meremas payudaranya sendiri dan mulai bermain dengan putingnya yang merah. Ekspresi wajah istriku benar-benar terlihat merasakan kenikmatan dari sentuhannya sendiri. Aku sengaja tidak masuk ke ruang 2 dahulu karena ingin melihat dahulu apa yang sedang terjadi dan ketiga orang lelaki itupun juga tidak perduli akan kehadiranku yang berada disampingnya,kulihat kini salah seorang dari mereka yang bermabut cepak memasukkan tangannya kedalam celananya mungkin melakukan masturbasi karena tidak kuat melihat istriku pikirku.</p>
<p>Entah merasa terganggu atau bagaimana tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata<br />
â€œMasuk aja Mas kami tidak pakai kokâ€katanya kepadaku sambil menunjuk ruang 2<br />
â€œoh iya terimakasih masâ€jawabku sembari langsung masuk kedalam Ruang 2<br />
Terdengar bsik-bisk pelan mereka dari luar ruang ganti.<br />
â€œDon , Bram jogoen yo aku tak mlebu aeâ€¦gak kuat akuâ€ujarnya ke kedua temannya<br />
â€œyo wis ndangâ€¦tapi ngkuk lek bengok yak opo?â€jawab temannya dengan bahasa jawa<br />
[sedikit kuartikan jika ada yang tidak mengerti,kira-kira begini artinya]<br />
â€œDon , Bram jagain ya aku mau masuk sajaâ€<br />
â€œya udah cepat tapi nanti kalo teriak bagaimana?â€<br />
[begitulah kira-kira artinya]<br />
tanpa menjawab temannya tiba-tiba aku mendengar suara kain ruang dibuka dan akupun langsung keluar untuk melihat yang terjadi. Baru saja aku keluar salah seorang dari mereka menghadangku dan berkata<br />
â€œheh masâ€¦sampeyan lek kate ndelok gak popo tapi ojo macem-macem, meneng wae yoâ€<br />
[â€˜hei mas kalo anda mau lihat tidak apa tapi jangan macam-macam, diam saja yaâ€]<br />
Aku menyadari mereka tidak mengerti bahwa aku suaminya dan melihat tampang ketiga orang itu akupun jadi sedikit berpikir ulang untuk membuat keributan dengan mereka<br />
â€œhahâ€¦.â€istriku yang akan teriak langsung ditutu mulutny oleh si cepak .<br />
â€œjangan teriak manisâ€¦aku tidak akan memperkosamu tapi tolong bantu akuâ€ jawab si cepak pelan dengan membuka resleting celananya.<br />
Istriku sempat melihat keluar kearahku dan akupun segera mengangguk kepadanya<br />
Kini Tangan istriku dibimbing si cepak menuju ke celananya dan bibirnya yang mungil segera dicium dan dilumatnya dengan penuh nafsu. Tangan kanan si cepak kini merayap ke payudara kanan Dyah istriku dan mulai meremasnya dengan perlahan serta mulai memilin payudaranya.Dyah istriku yang merasakan gairahnya naik oleh remasan si cepak kini mulai menurunkan celana dalam si cepak dan mengeluarkan penisnya dengan tangan kanannya.Tangan yang lembut dan penuh kasih itu kini tampak memegang penis besar milik lelaki lain dihadapanku, benar-benar membuatku semakin cemburu dan bernafsu.</p>
<p>Puas melumat bibir istriku si cepakpun menyandarkan tubuh istriku ke dinding dan kini mulunya pun bergerilya menyusuri leher Dyah dan terus turun kebagian payudaranya sebelah kiri. Sambil tangan kanannya terus meremas payudara kanan Dyah Mulut si cepak kini sudah berada tepat di putting indah milik istriku dan mulai mencium serta menghisapnya. Payudara yang indah biasanya digunakan untuk menyusui anak kami kini dinikmati oleh bibir tebal milik lelaki lain. Benar-benar kontras jika biasanya aku melihat anakku yang lucu menghisap payudara istriku kini aku melihat kepala hitam besar dengan rambut seperti tentara terbenam didalam payudara istriku yang indah. Istriku tampak memejamkan mata sambil bersandar di dinding dan kedua tangannya memegang kepala si cepak yang sedang menhisap dan mempermainkan lidahnya tepat diputingnya.</p>
<p>Puas menghisap Payudara istriku si cepak segera memegang kepala Dyah dan membimbing istriku untuk berjongkok tepat dihdapan penisnya. Tangan kanan istriku kini mulai membelai dengan lembut penis si cepak dan dengan ragu didekatkan ke bibirnya. Terlihat keraguan dari istriku disaat mencium ujung kepala penis si cepak, matanya terpejam dengan alis yang sedikit turun ekspresi dari ketakutannya.</p>
<p>Tanpa membuang waktu lagi si cepak segera mendorong kepala istriku ke penisnya sehingga kini separuh bagian dari Penis si cepak yang ukurannya Â½ kali lebih besar dari milikku masuk kedalam mulutnya.<br />
â€œoughâ€¦..mmmhhâ€¦â€terdengar pelan erangan istriku saat mengulumnya<br />
â€œayo terusin manisâ€¦â€¦ohh yessâ€¦..terusin sayankâ€komentar si cepak<br />
Penis itu kini keluar masuk dengan cepat kedalam mulut Dyah dan tidak lagi separuh tapi hampir sepenuhnya sehingga tampak mulut istriku benar-benar penuh terisi. Mata si cepak tampak terpejam menahan nikmat dan tangan kanannya turun kebawah untuk meremas payudara istriku yang menggantung dengan indah.<br />
Tanpa kusadari ternyata kulihat kedua teman cepak yang juga menyaksikan ikut mengeluarkan penisnya dan melakukan masturbasi sambil melihat si cepak di oral oleh istriku.</p>
<p>â€œOhhâ€¦Ohh..terusin sayankâ€¦.Ohhâ€¦Aghhhâ€erangan si cepak saat merasakan klimaks<br />
dan kini terlihat penis si cepak berdenyut didalam mulut istriku memuntahkan air maninya yang begitu kental dan putih.Seteleh beberapa detik dan penisnya berhenti berdenyut si cepak pun mencabut penisnya dari didalam mulut istriku.<br />
Terlihat mulut istriku penuh dengan sperma si cepak dan sebagian menetes ke lantai. Belum sempat istriku berdiri dan membersihkan mulutnya kedua teman si cepak yang tadi melakukan masturbasi kini mendekat dan secara bersamaan memuntahkan air maninya ke tubuh istriku yang masih jongkok di bawah.<br />
â€œAchhâ€¦sshhhâ€¦ouchâ€¦panas bangetâ€¦.achchhâ€erang istriku merasakan semprotan sperma kedua lelaki itu di tubuhnya.<br />
â€œOhhâ€¦yaaaâ€¦yaaaâ€¦terimakasih manisâ€komentar salah seorang dari lelaki itu sambil tersenyum kepada istriku penuh kepuasan<br />
â€œyaaâ€¦.ohhhâ€¦yaaâ€¦I love u Manisâ€komentar yang lain sambil meremas payudara istriku<br />
Kini terlihat kedua payudara istriku dan di bagian leher serta rambutnya dihiasi cairan putih sperma dari kedua lelaki teman si cepak.</p>
<p>Kedua lelaki dan si cepak segera membenarkan celana mereka dan bergegas pergi meninggalkan kami. Merasa keadaan sudah aman akupun segera masuk kedalam ruang ganti tersebut dan segera menutup kain penutup ruang ganti 1.</p>
<p>â€œBagaimana mah?mama suka yang barusan?â€tanyaku kepada istriku<br />
â€œ Istriku berdiri dengan tetap membiarkan dan mengusap-usapkan air mani yang ada ditubuhnya dan berkataâ€¦<br />
â€œOhh papa maafin Dyah yaâ€¦.sshhâ€¦papa juga mau?â€tanya istriku menggoda sambil tetap membelai dan mengusap payudaranya yang basah oleh air mani lelaki-lelaki tadi<br />
Tanpa menunggu lama segera kubalikkan tubuh istriku menghadap dinding dan segera kutrunkan celana jeansnya dan kusibakkan G-String yang dikenakannya. Sejenak sempat kuusap vaginanya dan bagian klitorisnya yang ternyata sudah sangat basah.</p>
<p>Aku tak menyangka ternyata istriku yang terlihat terpaksa akhirnya bisa menikmati juga cumbuan dan rangsangan dari lelaki lain. Hal ini semakin membuatku bernafsu dan dengan segera kubuka reselting celanaku untuk mengeluarkan Penisku yang memang sudah membesar sejak melihat istriku dicumbui oleh si cepak.Dan dengan sekali dorongan penisku pun dengan mudahnya masuk menembus kedalam liang vagina istriku yang sudah basah dan licin. Gesekan gesekan hangat bercampur dengan rasa cemburu dan amarahku membuat gairahku semakin memuncak.<br />
â€œOughâ€¦.yachâ€¦.katakan apa kamu ingin merasakan penisnya berada didalam vaginamu sayank?â€tanyaku dengan terus menghujamkan penisku kedalam vaginanya<br />
â€œiya pah penisnya besar pahâ€¦Dyah pengen merasakan tusukannya..â€jawab istriku<br />
â€œOughh bitch u make me jealousâ€¦U are so naughty bitchâ€umpatku kepadanya<br />
â€œMaaf pah..tapi penisnya benar-benar membuat dyah horneyâ€¦agghhâ€jawabnya sambil memekik tertahan menahan nikmatnya tusukan penisku<br />
â€œDenyutannya di mulutku masih terasa,Dyah pengen itu terjadi didalam vagina Dyahâ€ujarnya terus memanasiku.<br />
Semakin Dyah berkomentar yang membuatku cemburu semakin aku cepat dan keras menghujamkan penisku ke dasar vaginanya.Dan tak berapa lama sekitar 10 menit penisku bermain keluar dan masuk di dalam liang vagina istriku dan tanganku yang tak pernah berhenti meremas dan memilin payudara istriku yang menggantung bebas. Tiba=tiba aku merasakan puncak dari kenikmatan yang aku harapkan<br />
â€œOhh sayankâ€¦.Sayang aku keluarâ€¦.aku keluar sayangâ€¦aghhhâ€erangku<br />
â€œYaahhâ€¦Yahh..pah Dyah pengen merasakannya sekarang pahâ€¦oughhhâ€¦sshhâ€<br />
dan akhirnya kuhujamkan begitu dalam penisku di tusukan terakhir dan kumuntahkan seluruh air maniku didalam vagina Istriku Dyah.<br />
â€œAhhhâ€¦ssshhhâ€¦panas pahâ€¦.aahhh ugghhâ€¦â€istrikupun mengejang menahan nikmat<br />
Kami berdua pun sampai pada puncak klimaks yang benar-benar dahsyat dan sudah lama kami impikan.Kami seakan tak perduli apakah di ruang ganti sebelah ada orang lain juga yang sedang mencoba pakaian ataukah tidak. Yang jelas apa yang terjadi malam itu di dalam ruang ganti di Ruang 1 benar-benar tak terlupakan dan begitu indah.</p>
<p>Sekitar 5 menit setelah make love kamipun segera membenahi diri dan berkemas,akupun membantu istriku membersihkan tubuhnya yang basah dan lengket terkena keringat dan air mani dari ketiga lelaki tadi dengan tissue basah yang ada didalam tas istriku. Di saat kami keluar kami lega karena kondisi ruang ganti memang sedang sepi dan kondisi departement store itu memang sepi pengunjung, hanya satpam dan karyawan yang tampak sibuk merapikan barang-barang karena memang sudah akan tutup.</p>
<p>Benar-benar malam yang indah dan tidak terlupakan bagi kami berdua.Dan kamipun akan mencoba hal-hal baru yang lainnya yang tentunya akan kami ceritakan dilain waktu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/antara-dirikuistriku-dan-ketiga-lelaki-lain.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 wanita haus seks</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/5-wanita-haus-seks.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/5-wanita-haus-seks.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=825</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hallo Nia..&#8221; &#8220;Iya Man pa kabar?&#8221; &#8220;Baik, kamu ada dimana?&#8221; &#8220;Aku lagi di tempat kost temanku nih, main donk kesini teman-teman ku pingin kenalan sama kamu..&#8221;, katanya &#8220;Ehmm.. di daerah mana?&#8221; tanyaku. &#8220;Daerah Radio Dalam, dateng ya sekarang&#8221; &#8220;Ok deh nanti kalau aku dah deket aku telpon ya&#8221; kataku &#8220;Ok aku tunggu ya, jangan lupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Hallo Nia..&#8221;<br />
&#8220;Iya Man pa kabar?&#8221;<br />
&#8220;Baik, kamu ada dimana?&#8221;<br />
&#8220;Aku lagi di tempat kost temanku nih, main donk kesini teman-teman ku pingin kenalan sama kamu..&#8221;, katanya<br />
&#8220;Ehmm.. di daerah mana?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Daerah Radio Dalam, dateng ya sekarang&#8221;<br />
&#8220;Ok deh nanti kalau aku dah deket aku telpon ya&#8221; kataku<br />
&#8220;Ok aku tunggu ya, jangan lupa siapin diri, hehehe..&#8221;, katanya lagi<br />
&#8220;Lho, emang aku mau diapain?&#8221;, tanyaku penasaran<br />
&#8220;Mau diperkosa rame-rame siap nggak?&#8221;<br />
&#8220;Siapa takut..&#8221;, jawabku sekenanya</p>
<p>Lalu aku pun meluncur ke arah Radio Dalam dan sekitar 15 menit akupun sampai di tempat yang telah dijanjikan.<br />
&#8220;Hallo Nia, aku dah di depan nih..&#8221;, kataku<br />
&#8220;Ok aku keluar ya, sabar..&#8221;</p>
<p>Lalu munculah seorang gadis yang sangat seksi tingginya sekitar 175 dengan berat sekitar 55 kg, woww.. buah dadanya lebih besar dari pada punya Nia. Lalu dia menghampiri mobilku dan mengetuknya.<br />
&#8220;Iya, ada apa?&#8221;, jawabku dengan mataku yang tak lepas dari buah dadanya yang montok itu.<br />
&#8220;Firman ya..&#8221;, kata dia.<br />
&#8220;Iya&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Aku Melly temennya Nia yuk masuk yuk..&#8221;, katanya dengan senyum nakalnya.<br />
&#8220;Oh.. yuk&#8221;, jawabku agak sedikit tergagap.</p>
<p>Wah, bakal ada pesta besar nih pikirku dalam hati. Sesampai dikamarnya aku disambut dengan pelukan dan ciuman oleh Nia dan aku diperkenalkan kepada 3 temennya yang lain yang satu bernama Dita, Ayu dan Kiki. Dan harus kuakui mereka bertiga tidak kalah menggiurkannya dengan si Melly.</p>
<p>Tiba-tiba Nia membuka omongan yang bagiku sifatnya hanya basa-basi dan kemudian diteruskan oleh teman-temannya dan lama-kelamaan omongan kami berlanjut ke arah selangkangan. Dan tiba-tiba dari arah belakang ada yang memelukku saat aku akan menengok, dengan cepatnya Melly mencium bibirku dengan liarnya, maka akupun tak kalah bernafsunya aku balas dengan liarnya pula.</p>
<p>Dan ternyata yang memelukku dari belakang adalah Nia dia terus menciumi leherku dan terus turun ke bawah mencoba membuka bajuku sementara aku masih saja berciuman dengan Melly. Ketika bajuku dilepaskan oleh Nia tiba-tiba ada tangan yang membuka celanaku termasuk celana dalamku maka langsung saja adekku yang telah tegang sedari tadi keluar dari sarangnya. Dan seketika itu juga &#8220;Adekku&#8221; langsung dilahap dengan liarnya setelah aku lihat ternyata Dita dengan ganasnya sedang mengulum kemaluanku.</p>
<p>Saat aku sedang diserang oleh tiga wanita ini aku sempat mencari kemana Ayu dan Kiki ternyata mereka ada di sofa dekat situ dan keduanya sudah telanjang bulat dan aku lihat Kiki sedang menjilati vagina Ayu dan Ayu pun mendesah-desah dan meliuk-liukan badannya diatas sofa tersebut sementara aku sendiri sedang kewalahan menangani seranga dari tiga wanita ini, maka aku tidak memperhatikannya.</p>
<p>Langsung saja aku buka baju Melly yang terdekat dengan aku dan ketika Melly sedang membuka seluruh bajunya aku tarik Dita keatas dan kami pun berciuman sementara itu Nia menggantikan posisi Dita mengulum kemaluanku. Begitu pula dengan Dita aku buka bajunya dan posisinya digantikan oleh Nia sedangkan posisi Nia digantikan oleh Melly, wow.. ternyata kuluman Melly lebih enak dari pada Nia dan Dita sampai akhirnya aku merebahkan diri di ranjang yang berada disitu.</p>
<p>Nia setelah melepas bajunya langsung saja memgang kemaluanku dan diarahkannya ke liang vaginannya yang ternyata sudah basah sedari tadi setelah pas maka diturunkan pantatnya perlahan-lahan hingga akhirnya..<br />
Bless.., &#8220;Aah..&#8221;, desah Nia.<br />
Sementara Nia sedang asiknya menaik turnkan pantatnya diatasku, maka aku tarik Melly keatasku dan aku menjilati vaginanya.<br />
&#8220;Ahh.. enak Man terus Man ohh..&#8221; desah Melly.<br />
&#8220;Ahh.. ohh.sst&#8221; desah Nia yang bersahut-sahutan dengan Melly dan Ayu.<br />
&#8220;Ohh.. yess lick my pussy Man ohh yess sst&#8221; racau Melly ketika klitorisnya aku hisap-hisap.</p>
<p>Sementara itu aku tarik pula si Dita dan aku masukan jari tengahku ke liang vaginanya sehingga membuat Dita meracau dan meliuk-liukan badannya.<br />
&#8220;Ohh yes Man enak Man dalem lagi Man ohh..&#8221; racau Dita.<br />
Sementara setelah berada dalam posisi seperti selama kurang lebih 15 menit akhirnya Nia menggenjotnya semakin cepat dan mengerang.<br />
&#8220;Ahh.. Man aku keluar Man ah..&#8221; desah Nia dan seketika itu pula tubuhnya melemas dan menggelimpang disampingku dan ternyata tanpa aku sadari dibawahku sudah ada si Ayu yang dengan cepatnya langsung melumat kemaluanku maka aku pun menggeliat menahan nikmat hisapan Ayu dan Melly segera turun dari mulutku dan memasukan kemaluanku ke vaginanya dan langsung digoyangkannya naik turun dan kadang memutar, sementara Dita tidak mau kehilangan kesempatan maka dia menyodorkan vaginannya ke mulutku dan akupun menjilati dan mengihisap-hisap vaginanya.</p>
<p>Setelah 5 menit aku jilati vagina nya maka tubuh Dita mengejang dan dia berteriak, &#8220;Man ahh.. aku keluar Man.. ah..&#8221; sambil menekan vaginanya ke mulutku langsung saja aku menghisap vaginanya kuat-kuat dan aku merasakan mengalir deras cairan dari vaginanya yang langsung aku sedot dan aku telan habis.</p>
<p>Setelah Dita merebahkan diri di sampingku ternyata Kki juga tidakmau ketinggalan dia menaiki aku dan kembali aku disodorkan vagina ke 3 siang ini yang langsung aku lumat habis baru aku memulai menjilati vagina Kiki Melly yang masih bergoyang diatasku akhirnya mengerang kuat.<br />
&#8220;Man aku keluar Man ah.. sst ahh..&#8221; racaunya.<br />
Terasa sekali cairanya mengalir deras mambahasi kemaluanku dan seketika itu pula ubuhnya melemas dan menggelimpang disampingku dan ternyata Kiki sudah tidak tahan dan langsung menurunkan tubuhnya ke bawah dan memasukan penisku ke vaginanya dan..<br />
&#8220;Ahh.. sst ahh.. Man mentok Man.. ah..&#8221; desahnya.<br />
Sedangkan Ayu yang sedari tadi hanya melihat sambil masturbasi sendiri aku tarik keatasku dan aku jilat dan hisap vaginannya<br />
&#8220;Ohh yess ohh lick it honey oh..&#8221; desah Ayu.<br />
Setelah 10 menit Kiki diatasku dan menggoyangkan pinggulnya akhirnya dia pun mengalami klimaks.</p>
<p>Sementara aku sendiri yang sedari tadi belum keluar karena tidak konsentrasi maka setelah Kiki rebah di sampingku maka aku membalikan badan hingga Ayu berada di bawahku dan perlahan-lahan aku masukan penisku ke vaginanya terasa sangat sempit, ketika kepala penisku mulai menyeruak masuk hingga Ayu berteriak.<br />
&#8220;Ahh.. pelan-pelan Man sakit&#8221;<br />
Maka perlahan-lahan aku masukan lagi setelah setengahnya masuk aku diamkan sebentar agar vagina Ayu terbiasa karena aku melihat Ayu mengerenyitkan dahinya menahan sakit setelah Ayu tenag maka aku sorong pantatku dan akhirnya seluruh penisku berada dalam vagina Ayu<br />
&#8220;Ahh Man sakit ah..&#8221; desah Ayu.</p>
<p>Dan perlahan-lahan Ayu mulai menggoyangkan pinggulnya maka aku pun menggenjot pantatku keluar masuk. Terasa semppit sekali vagina Ayu dan ketika aku melirik kebawah aku melihat ada teesan darah keluar dari vaginanya yang akhirnya baru aku ketahui bahwa memang Ayu yang termuda diantara semuanya dia baru masuk SMU kelas 1 dan hanya dia yang masih perawan.<br />
&#8220;Ahh.. sst.. terus Man enak Man oh.. dalam lagi Man..&#8221; racau Ayu.<br />
Maka aku menarik Ayu kepinggiran tempat tidur dengan posisi kakinya berada di bahu aku sementara aku berdiri memang Ayu tidak kelihatan seperti anak baru masuk SMU dengan tingginya sekitar 170 dan buah dadanya berukuran 36 B.</p>
<p>Setelah 10 menit aku menggenjot Ayu akhirnya dia pun mengerang.<br />
&#8220;Man aku keluar Man ohh.. Man..&#8221;<br />
Namun aku tidak perduli aku terus menggenjot Ayu karena aku sendiri mengejar klimaks ku, setelah itu aku balikan tubuh Ayu sambil terus menggenjotnya hingga akhirnya Ayu berada dalam posisi menungging dan aku terus menggenjotnya dari belakang sambil meremas buah dadanya 36Bnya yang mengayun-ayun.</p>
<p>Ketika aku sedang menggenjot dari arah bawah belakang aku merasakan ada yang menjilati buah pelirku dan ternya Melly sudah bangun lagi sehingga setelah 10 menit aku menggenjot Ayu dari belakang dia pun mengalami orgasme kembali.<br />
&#8220;Ahh Man aku keluar lagi Man ah..&#8221; dan seketika itu tubuhnya benar-benar melemas melihat kondisinya yang seperti itu maka aku tidak tega dan langsung aku tarik Melly untuk mengangkang dan aku tusukan penisku ke vaginanya dan Melly dengan posisi dibawah mendesah-desah seperti orang yang kepedasan.<br />
&#8220;Ahh.. Man terus Man.. esst enak Man terus Man oh..&#8221; racaunya.<br />
&#8220;Enak Mel, aah.. esst ahh&#8221;, racauku tidak karuan karena merasakan sedotan-sedotan di vagina Melly yang kata orang-orang &#8216;empot ayam&#8217;.<br />
Maka dengan semangatnya aku menggenjot Melly dan setelah 10 menit Melly berkata, &#8220;Man aku mau keluar Man.. Man ahh&#8221;<br />
&#8220;Ntar Melll gue juga mau keluar barengan ya ahh&#8221; kataku.<br />
Akhirnya, &#8220;Man gue nggak kuat Man ah..&#8221;, ser.. ser.. ser.., terasa deras sekali semprotan Melly.<br />
&#8220;Ahh gue juga Mell ah..&#8221;, crot.. crot.. crott.., akhirnya akupun orgasme bersamaan.</p>
<p>Akhirnya Kamipun ketiduran dengan posisi aku diatas Melly. Kira-kira aku tertidur 15 menit tiba-tiba aku merasakan penisku dijilat-jilat dan dihisap-hiasap setelah aku membuka mataku ternyata Dita sedang mengulum penisku.<br />
Maka seketika itu juga aku langsung meracau, &#8220;Ah.. ohh.. enak Dit terus Dit&#8221;<br />
Tapi Dita tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada dia langsung naik keatas tubuhku dan memasukkan penisku ke liang vagiannya, memang dari &#8216;peperangan&#8217; tadi hanya Dita yang belum merasakan penisku maka ketika yang lain lain sedang tidur Dita memanfaatkan momen tersebut sebaik-baiknya.</p>
<p>Terus dia menggoyangkan pinggulnya.<br />
&#8220;Ahh.. esst enak Man ah..&#8221;<br />
Aku pun merasakan keenakan dengan goyangan Dita karena goyangannya benar-benar seperti penari ular dia memutar-mutarkan pantatnya diatas penisku. Lama dia melakukan itu hingga akhirnya kami keluar bersamaan.<br />
&#8220;Ahh Man enak Man ayo Man keluarin barengan ohh..&#8221;<br />
Akhirnya, &#8220;Dit aku mau keluar ahh ohh crot.. crot..&#8221;<br />
Kami pun lemas dan Dita menciumku bibirku mesra &#8220;Makasih ya Man, enak lho bener yang Nia bilang&#8221; katanya.<br />
&#8220;Emang Nia bilang apa?&#8221; tanyaku penasaran.<br />
&#8220;Kontolku kamu enak, kamu bisa bikin ceweq ketagihan nanti lagi ya&#8221; katanya.<br />
Aku hanya tersenyum dan memeluk dia.</p>
<p>Akhirnya aku pun menginap disitu dan kami ber-enampun melakukannya berulang kali. Kadang aku mengeluarkan spermaku di dalam vagina Melly, Ayu ataupun yang lainnya secara bergantian. Hingga sekarang pun kami masih sering melakukan kadang satu lawan satu, kadang three some, ataupun langsung berenam lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/5-wanita-haus-seks.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Juraganku Dan Temannya</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/anak-juraganku-dan-temannya.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/anak-juraganku-dan-temannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari JemBut. Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku bekerja sebagai seorang sopir di Malang. Namaku Sony, umurku 24 tahun, dan berasal dari JemBut. Aku sudah bekerja selama 2 tahun pada juraganku ini, dan aku sedang menabung untuk melanjutkan kuliahku yang terpaksa berhenti karena kurang biaya. Wajahku sih kata orang ganteng, ditambah dengan tubuh lumayan atletis. Banyak teman SMA-ku yang dulu bilang, seandainya aku anak orang kaya, pasti sudah jadi playboy kelas super berat. Memang ada beberapa teman cewekku yang dulu naksir padaku, tetapi tidak aku tanggapi.</p>
<p>Mereka bukan tipeku.<br />
Juraganku punya seorang anak tunggal, gadis berumur 18 tahun, kelas 3 SMA favorit di Malang. Namanya Juliet. Tiap hari aku mengantarnya ke sekolah. Aku kadang hampir tidak tahan melihat tubuh Juliet yang seksi sekali. Tingginya kira-kira 168 cm, dan payudaranya besar dan kelihatannya kencang sekali. Ukurannya kira-kira 36C. Ditambah dengan penampilannya dengan rok mini dan baju seragamnya yang tipis, membuatku ingin sekali menyetubuhinya.</p>
<p>Setiap kali mengantarnya ke sekolah, ia duduk di bangku depan di sampingku, dan kadang-kadang aku melirik melihat pahanya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus atau pada belahan payudaranya yang terlihat dari balik seragam tipisnya itu. Tapi aku selalu ingat, bahwa dia adalah anak juraganku. Bila aku macam-macam bisa dipecatnya aku nanti, dan angan-anganku untuk melanjutkan kuliah bisa berantakan. Siang itu seperti biasa aku jemput dia di sekolahnya. Mobil BMW biru metalik aku parkir di dekat kantin, dan seperti biasa aku menunggu Non-ku di gerbang sekolahnya.</p>
<p>Tak lama dia muncul bersama teman-temannya.<br />
&#8220;Siang, Non.., mari saya bawakan tasnya&#8221;.<br />
&#8220;Eh.., Mas, udah lama nunggu?&#8221;, katanya sambil mengulurkan tasnya padaku.<br />
&#8220;Barusan kok Non..&#8221;, jawabku.<br />
&#8220;Jul.., ini toh supirmu yang kamu bicarain itu. Lumayan ganteng juga sih.., ha.., ha..&#8221;, salah satu temannya berkomentar. Aku jadi rikuh dibuatnya.<br />
&#8220;Hus..&#8221;, sahut Non-ku sambil tersenyum. &#8220;Jadi malu dia nanti..&#8221;.<br />
Segera aku bukakan pintu mobil bagi Non-ku, dan temannya ternyata juga ikut dan duduk di kursi belakang.</p>
<p>&#8220;Kenalin nih mas, temanku&#8221;, Non-ku berkata sambil tersenyum. Aku segera mengulurkan tangan dan berkenalan.<br />
&#8220;Sony&#8221;, kataku sambil merasakan tangan temannya yang lembut.<br />
&#8220;Niken&#8221;, balasnya sambil menatap dadaku yang bidang dan berbulu.<br />
&#8220;Mas, antar kita dulu ke rumah Niken di Tidar&#8221;, instruksi Non Juliet sambil menyilangkan kakinya sehingga rok mininya tersingkap ke atas memperlihatkan pahanya yang putih mulus.<br />
&#8220;Baik Non&#8221;, jawabku. Tak terasa penisku sudah mengeras menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku menjilati paha itu, dan kemudian mengulum payudaranya yang padat berisi, kemudian menyetubuhinya sampai dia meronta-ronta.., ahh.</p>
<p>Tak lama kitapun sampai di rumah Niken yang sepi. Rupanya orang tuanya sedangke luar kota, dan merekapun segera masuk ke dalam. Tak lama Non Juliet ke luar dan menyuruhku ikut masuk.<br />
&#8220;Saya di luar saja Non&#8221;.<br />
&#8220;Masuk saja mas.., sambil minum dulu.., baru kita pulang&#8221;.<br />
Akupun mengikuti perintah Non-ku dan masuk ke dalam rumah. Ternyata mereka berdua sedang menonton VCD di ruang keluarga.<br />
&#8220;Duduk di sini aja mas&#8221;, kata Niken menunjuk tempat duduk di sofa di sebelahnya.<br />
&#8220;Ayo jangan ragu-ragu..&#8221;, perintah Non Juliet melihat aku agak ragu.<br />
&#8220;Mulai disetel aja Nik..&#8221;, Non Juliet kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.<br />
Tak lama kemudian.., film pun dimulai.., Wowww.., ternyata film porno. Di layar tampak seorang pria negro (Senegal) sedang menyetubuhi dua perempuan bule (Prancis &amp; Spanyol) secara bergantian. Napas Non Juliet di sampingku terdengar memberat, kemudian tangannya meremas tanganku. Akupun sudah tidak tahan lagi dengan segala macam cobaan ini. Aku meremas tangannya dan kemudian membelai pahanya. Tak berapa lama kemudian kamipun berciuman. Aku tarik rambutnya, dan kemudian dengan gemas aku cium bibirnya yang mungil itu.</p>
<p>&#8220;Hmm.. Eh&#8221;, Suara itu yang terdengar dari mulutnya, dan tangankupun tak mau diam beralih meremas-remas payudaranya.<br />
Kubuka kancing seragamnya satu persatu sehingga tampak bongkahan daging kenyal yang putih mulus punya Non-ku itu. Aku singkap BH-nya ke bawah sehingga tampaklah putingnya yang merah muda dan kelihatan sudah menegang.<br />
&#8220;Ayo.., hisap dong mas.., ahh&#8221;. Tak perlu dikomando lagi, langsung aku jilat putingnya, sambil tanganku meremas-remas payudaranya yang sebelah kiri. Aku tidak memperhatikan apa yang dilakukan temannya di sebelah, karena aku sedang berkonsentrasi untuk memuaskan nafsu birahi Non Juliet. Setelah puas menikmati payudaranya, akupun berpindah posisi sehingga aku jongkok tepat di depan selangkangannya. Langsung aku singkap rok seragam SMA-nya, dan aku jilat CD-nya yang berwarna pink. Tampak bulu vaginanya yang masih jarang menerawang di balik CD-nya itu.</p>
<p>&#8220;Ayo, jilatin memekku mas&#8221;, Non Juliet mendesah sambil mendorong kepalaku. Langsung aku sibak CD-nya yang berenda itu, dan kujilati kemaluannya.<br />
&#8220;Ohh.., nikmat sekali..&#8221;, erangan demi erangan terdengardari mulut Non-ku yang sedang aku kerjai. Benar-benar beruntung aku bisa menjilati kemaluan seorang gadis kecil anak konglomerat. Tanganku tak henti mengelus, meremas payudaranya yang besar dan kenyal itu.<br />
&#8220;Aduh, cepetan dong, yang keras.., aku mau keluar.., ehhmm ohh..&#8221;. Tangan Non Juliet meremas rambutku sambil badannya menegang. Bersamaan dengan itu keluarlah cairan dari lubang vaginanya yang langsung aku jilat habis. Akupun berdiri dan membuka ritsluiting celanaku. Tapi sebelum sempat aku buka celanaku, Non Juliet telah ambil alih.</p>
<p>&#8220;Biar saya yang buka mas&#8221;, katanya.<br />
Tangannya yang mungil melepas kancing celana jeansku, dan membantuku membukanya. Kemudian tangannya meremas-remas penisku dari luar CD-ku. Dijilatinya CD-ku sambil tangannya meremas-remas pantatku. Akupun sudah tak tahan lagi, langsung aku buka CD-ku sehingga penisku yang sudah tegak, bergelantung ke luar.<br />
&#8220;Ih, wowww..!!&#8221;, desis Non Juliet, sambil tangannya mengelus-elus penisku. Tak lama kemudian dijilatinya buah pelirku terus menyusuri batang kemaluanku. Dijilatinya pula kepala penisku sebelum dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku remas rambutnya yang berbando itu, dan aku gerakkan pantatku maju mundur, sehingga aku seperti menyetubuhi mulut anak juraganku ini. Rasanya luar biasa.., bayangkan.., penisku berwarna hitam sedang dikulum oleh mulut seorang gadis manis. Pipinya yang putih tampak menggelembung terkena batang kemaluanku.<br />
&#8220;Punyamu besar sekali Mas Son.., Jul suka.., ehmm..&#8221;, katanya sambil kemudian kembali mengulum kemaluanku.</p>
<p>Setelah kurang lebih 15 menit Non Juliet menikmati penisku, dia suruh aku duduk di sofa. Kemudian dia menghampiriku sambil membuka seluruh pakaiannya sehingga dia tampak telanjang bulat. Dinaikinya pahaku, dan diarahkannya penisku ke liang vaginanya.<br />
&#8220;Ayo.., masukkin dong mas.. Jul udah nggak tahan nih..&#8221;, katanya memberi instruksi, aku tahu dia ingin merasakan nikmatnya penisku. Diturunkannya pantatnya, dan peniskupun masuk perlahan ke dalam liang vaginanya.<br />
Kemaluannya masih sempit sekali sehingga masih agak sulit bagi penisku untuk menembusnya. Tapi tak lama masuk juga separuh dari penisku ke dalam lubang kemaluan anak juraganku ini.<br />
&#8220;Ahh.., yeah.., sekarang masukin deh penis Mas yang besar itu di memekku&#8221;, katanya sambil naik turun di atas pahaku. Tangannya meremas dadanya sendiri, dan kemudian disodorkannya putingnya untukku.</p>
<p>&#8220;Yah, begitu dong mas&#8221;, Tak perlu aku tunggu lebih lama lagi langsung aku lahap payudaranya yang montok itu. Sementara itu Non Juliet masih terus naik turun sambil kadang-kadang memutar-mutar pantatnya, menikmati penis besar sopirnya ini.<br />
&#8220;Sekarang setubuhi Jul dalam posisi nungging.. ya Mas Son..?&#8221;, instruksinya. Diapun turun dan menungging menghadap ke sofa.<br />
&#8220;Ayo dong mas.., masukkin dari belakang&#8221;, Non Juliet menjelaskan maksudnya padaku. Akupun segera berdiri di belakangnya, dan mengelus-elus pantatnya yang padat.</p>
<p>Kemudian kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, tetapi agak sulit masuknya. Tiba-tiba tak kusangka ada tangan lembut yang mengelus penisku dan membantu memasukkannya ke liang vagina Non Juliet. Aku lihat ke samping, ternyata Niken, yang membantuku menyetubuhi temannya. Dia tersenyum sambil mengelus-elus pantat dan pahaku.<br />
Aku langsung menyetubuhi Non Juliet dari belakang. Kugerakkan pantatku maju mundur, sambil memegang pinggul Nonku.<br />
&#8220;Ahh.., Mas.., Mas.., Terus dong.., nikmat sekali&#8221;, Non Juliet mengerang nikmat. Tubuhnya tampak berayun-ayun, dan segera kuremas dari belakang. Kupilin-pilin puting susunya, dan erangan Non Juliet makin hebat.</p>
<p>Niken sekarang telah berdiri di sampingku dan tangannya sibuk menelusuri tubuhku. Ditariknya rambutku dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku. Sambil berciuman dibukanya kancing baju seragamnya sehingga tampak buah dadanya yang tidak terlalu besar, tetapi tampak padat.<br />
&#8220;Ohh.., terus dong mas.. yang cepat dong ahh.. Jul keluar mas.. ohh..&#8221;, Non Juliet mengerang makin hebat. Tak berapa lama terasa cairan hangat membasahi penisku.<br />
&#8220;Non.., saya juga hampir keluar..&#8221;, kataku.<br />
&#8220;Tahan sebentar mas.., keluarin dimulutku..&#8221;, kata Non Juliet.</p>
<p>Non Juliet dan Niken berlutut di depanku, dan Niken yang sejak tadi tampak tak tahan melihat kami bersetubuh di depannya, langsung mengulum penisku di mulutnya. Sementara itu Non Juliet menjilat-jilat buah pelirku. Mereka berdua bergantian mengulum dan menjilat penisku dengan penuh nafsu. Akupun sibuk membelai rambut kedua remaja ini, yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.<br />
&#8220;Ayo, goyang yang keras dong mas..&#8221;, Non Juliet memberiku instruksi sambil menelentangkan tubuhnya di atas karpet ruang keluarga.<br />
&#8220;Ayo penisnya taruh di sini mas..&#8221;, kata Non Juliet lagi. Akupun segera menaruh berlutut di atas dada Non-ku dan menjepit penisku di antara dua bukit kembarnya. Segera aku maju mundurkan pantatku, sambil tanganku mengapitkan buah dadanya.</p>
<p>&#8220;Oh, nikmat sekali..&#8221;.<br />
Sementara Niken sibuk mengelap tubuhku yang basah karena keringat. Tak berapa lama kemudian, akupun tak tahan lagi. Kuarahkan penisku ke dalam mulut Non Juliet, dan dikulumnya sambil meremas-remas buah pelirku.<br />
&#8220;Ahh.., Non.., ahh&#8221;, jeritku dan air manikupun menyembur ke dalam mulut mungil Non Juliet. Akupun tidur menggelepar kecapaian di atas karpet, sementara Non Juliet dan Niken sibuk menjilati bersih batang kemaluanku.<br />
Setelah itu kamipun sibuk berpakaian, karena jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Orang tua Juliet termasuk orang tua yang strict pada anaknya, sehingga bila dia pulang telat pasti kena marah. Di mobil dalam perjalanan pulang, Juliet memberiku uang Rp 1.000.000,-.</p>
<p>&#8220;Ambil mas, buat uang lelah, Tapi janji jangan bilang siapa-siapa tentang yang tadi ya&#8221;, katanya sambil tersenyum. Akupun mengangguk senang.<br />
&#8220;Besok kita ulangi lagi ya mas.., soalnya Niken minta bagian&#8221;.<br />
Demikian kejadian ini terus berlanjut. Hampir setiap pulang sekolah, Non Juliet akan pura-pura belajar bersama temannya. Tetapi yang terjadi adalah dia menyuruhku untuk memuaskan nafsu birahinya dan juga teman-temannya, Niken, Linda, Nina, Mimi, Etik, dll.<br />
Tapi akupun senang karena selain mendapat penghasilan tambahan dari Non Juliet, akupun dapat menikmati tubuh remaja mereka yang putih mulus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/anak-juraganku-dan-temannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Dipakai Anak Kost</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-dipakai-anak-kost.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-dipakai-anak-kost.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.</p>
<p>Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.</p>
<p>Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.</p>
<p>Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.</p>
<p>Suatu hari suamiku datang dari luar kota, dia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.<br />
Suamiku bertanya, &#8220;Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.&#8221;<br />
&#8220;Semua pada pulang karena liburan nasional, tapi yang bule nggak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target&#8221;, balasku mesra.</p>
<p>Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita santai di ruang tamu, &#8220;Nich sekali-kali kita reuni seperti di diskotik&#8221;, kata suamiku, &#8220;Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya..&#8221;<br />
Sambil sedikit senyum, kujawab, &#8220;Kangen ya.. emang cuman kamu yang kangen..&#8221;<br />
Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.<br />
&#8220;Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..&#8221; kata suamiku.<br />
Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.<br />
&#8220;Lho kok empat sih.. nanti over lho&#8221;, kataku manja.<br />
&#8220;Ach.. biar cepat reaksinya&#8221;, balas suamiku sambil tertawa kecil.</p>
<p>Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol santai di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi langsung bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, dia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih montok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.</p>
<p>&#8220;Auh..&#8221; erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak kuat aku menahannya. &#8220;Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..&#8221; sambil mencari posisi yang tepat aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, &#8220;Blesss..&#8221;, batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. &#8220;Ach.. terus Mas.. aku kangen sekali..&#8221;, dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.</p>
<p>Perasaanku aneh sekali, aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan-akan semua lubang yang aku punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seakan-akan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai akhirnya aku keluar terlebih dahulu, &#8220;Ach.. Mas aku keluar ya&#8230; udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas&#8221;,, desahku mesra. &#8220;Aku juga ya.. ntar kamu agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich..&#8221; Mani kental yang hangat banyak sekali masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, aku yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.</p>
<p>Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di mulut suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, aku pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.</p>
<p>Ketika subuh aku terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi aku telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi aku tidak bertanya tentang kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi aku masih bertanya-tanya kenapa kok aku bisa pindah ke dalam sendirian.</p>
<p>Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks seperti semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi aku cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan kalau obatnya sudah bereaksi kamu harus tidur, dan aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.</p>
<p>Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost aku bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.</p>
<p>Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangatlah keheranan, aku mengambil cucian itu.</p>
<p>Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut seketika ketika melihat aku ada di kamarnya. Langsung aku seakan-akan tidak tahu harus berkata apa.<br />
&#8220;Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor&#8221;, kataku dengan sedikit gugup.<br />
&#8220;Suamimu sudah berangkat lagi?&#8221; jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan seperti itu aku sangat kaget. Dan kujawab, &#8220;Kenapa?&#8221;.<br />
Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di bagian vitalnya, si bule itu berkata, &#8220;Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang. Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu aku telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkan kamu ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu.&#8221;</p>
<p>Dengan rasa kaget aku mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa aku bisa pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit<br />
&#8220;Trus saya.. kamu apain&#8221;, tanyaku dengan sedikit penasaran<br />
&#8220;Kutidurin kamu dengan penuh nafsu, sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu&#8221;, jawab si bule.<br />
&#8220;Oic.. bahaya nich, ntar kalo hamil gimana nich&#8221;, tanyaku cemas.<br />
&#8220;Ya.. nggak pa-pa dong&#8221;, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.</p>
<p>Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. &#8220;Ach.. jangan dong.. aku masih capek semalaman&#8221;, kataku tapi tetap saja dia meneruskan niatnya, aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang telah aku minum sewaktu ada suamiku.</p>
<p>&#8220;Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh&#8221;. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya basah juga aku, karena masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, aku mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.</p>
<p>&#8220;Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon&#8221;, desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, &#8220;Blesss..&#8221; masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku, aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, dia memutar posisi jadi enam sembilan, dia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.</p>
<p>&#8220;Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja&#8221;, ucapku tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.<br />
&#8220;Jhon.. aku nggak tahan.. auch.. aouh.. aku keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon..&#8221; desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.<br />
&#8220;Aku juga mau keluar.. auh..&#8221; balasnya sambil mendesah.</p>
<p>Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, aku takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar, tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.</p>
<p>Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Dan akhirnya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, &#8220;Terusin aja nggak pa-pa kok, aku sayang sama istriku.. kalau istriku suka begini.. ya terpaksa aku juga suka.. ayo kita main bareng&#8221;. Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun akhirnya si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali akhirnya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. &#8220;Blesss..&#8221;, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. &#8220;Aduh.. pelan-palan Mas..&#8221;, seruku.</p>
<p>Kira-kira hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung dan akhirnya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, &#8220;Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..&#8221;</p>
<p>Akhirnya si bule pun keluar, &#8220;Auch.. keluar nich..&#8221; ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu saat aku ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. &#8220;Kalau kamu mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kamu jangan sampai disakiti olehnya&#8221;. Sejak saat itupun bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-dipakai-anak-kost.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Diantara Dua Pria</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-diantara-dua-pria.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-diantara-dua-pria.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:13:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya &#8216;gaul abis&#8217;. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya &#8216;gaul abis&#8217;. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.</p>
<p>Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami bertiga Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar, Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih &#8216;jomblo&#8217;. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.</p>
<p>Acara ke Puncak kami mulai dengan &#8216;hang-out&#8217; disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.</p>
<p>Adegan ciuman itu bertambah &#8216;panas&#8217; mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.<br />
&#8220;Jangan To&#8221; tolak Andra.<br />
&#8220;Kenapa sayang&#8221; tanya Vito.<br />
&#8220;Aku belum pernah.. gituan&#8221;<br />
&#8220;Makanya dicoba sayang&#8221; bujuk Vito.<br />
&#8220;Takut To&#8221; Andra beralasan.<br />
&#8220;Ngga apa-apa kok&#8221; lanjut Vito membujuk<br />
&#8220;Tapi To&#8221;<br />
&#8220;Gini deh&#8221;, potong Vito, &#8220;Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti&#8221;<br />
&#8220;Janji ya To&#8221; sahut Andra ingin meyakinkan.<br />
&#8220;Janji&#8221; Vito meyakinkan Andra.</p>
<p>Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vito.<br />
&#8220;Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too&#8221;<br />
Mendengar desahan Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.</p>
<p>Andra semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.</p>
<p>Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. &#8220;Jangan To, katanya cuma cium aja&#8221; sergah Andra.<br />
&#8220;Rileks An&#8221; bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.<br />
&#8220;Tapi.. To.. oohh.. aahh&#8221; protes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.<br />
&#8220;Nikmatin aja An&#8221;<br />
&#8220;Ehh.. akkhh.. mpphh&#8221; Andra semakin mendesah<br />
&#8220;Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi&#8221;<br />
&#8220;He eh To.. eesshh&#8221;<br />
&#8220;Enak An..?&#8221;<br />
&#8220;Ehh.. enaakk To&#8221;<br />
Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan &#8216;live&#8217; seperti itu.</p>
<p>Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.<br />
&#8220;Aku masukin ya An&#8221; pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.<br />
Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.<br />
&#8220;Aakhh.. To.. eengghh&#8221; erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.<br />
Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.<br />
&#8220;Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg&#8221; Andra meracau.<br />
&#8220;Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh&#8221;<br />
&#8220;Aku juga suka kamu isep To.. ahh&#8221; Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.<br />
Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.</p>
<p>Vito tahu Andra sudah pada situasi &#8216;point of no return&#8217;, ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Andra.<br />
&#8220;Auuww.. To.. sakiitt&#8221; jerit Andra.<br />
&#8220;Stop.. stop To&#8221;<br />
&#8220;Rileks An.. supaya enak nanti&#8221; bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.<br />
&#8220;Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin&#8221;<br />
Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Andra. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya. Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.</p>
<p>Vito memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.<br />
&#8220;Uhh.. ohh.. To&#8221; desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.<br />
Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.<br />
&#8220;Agghh.. ohh.. terus Too&#8221; Andra meracau merasakan kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.<br />
&#8220;Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too&#8221; Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.</p>
<p>Pinggul Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.<br />
&#8220;Ssshh.. sshh&#8221; desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat &#8216;life show&#8217; Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.<br />
&#8220;Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii&#8221; Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.<br />
&#8220;Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya&#8221;<br />
&#8220;Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too&#8221;<br />
&#8220;Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh&#8221;<br />
&#8220;Ohh.. Too.. aku sayang kamu.. sshh&#8221; desah Andra seraya memeluk, pujian Vito rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.<br />
&#8220;Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh&#8221; merasakan goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.<br />
&#8220;Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang&#8221; pekik Andra.<br />
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.<br />
&#8220;Too.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh&#8221; erang Andra.<br />
Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.</p>
<p>Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vito tetapi diriku.</p>
<p>Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.</p>
<p>Selesai dari kamar mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang tv dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan &#8216;live show&#8217; yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap &#8216;segitiga venus&#8217; yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelojotan diperlakukan seperti itu.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. sshh.. aahh&#8221; desis Susi.<br />
&#8220;Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang&#8221;<br />
&#8220;Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt&#8221;<br />
&#8220;Auuww.. pelan sayang gigitnyaa&#8221;<br />
Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.<br />
&#8220;Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg&#8221; desah Kelvin.<br />
&#8220;Ohh.. sayangg.. enakk sekalii&#8221;<br />
Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.<br />
&#8220;Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg&#8221; pinta Kelvin.</p>
<p>Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. &#8220;Aaagghh&#8221; keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.</p>
<p>Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan &#8216;live show&#8217; bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.<br />
&#8220;Aaahh.. sshh.. eehh&#8221; desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi!.. masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.<br />
&#8220;Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?&#8221; sapa Susi terkejut.<br />
&#8220;Iya Si.. balik lagi.. perut mules&#8221;<br />
&#8220;Aku suruh Kelvin beli obat ya&#8221;<br />
&#8220;Ngga usah Si.. udah baikan kok&#8221;<br />
&#8220;Yakin Ver?&#8221;<br />
&#8220;Iya ngga apa-apa kok&#8221; jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.</p>
<p>Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar VCD X-2. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Toni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Toni yang pertama melihat kegelisahanku.<br />
&#8220;Kenapa Ver, gelisah banget horny ya&#8221; tegurnya bercanda.<br />
&#8220;Ngga lagi, ngaco kamu Ton&#8221; sanggahku.<br />
&#8220;Kalau horny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita&#8221; Andri menimpali.<br />
&#8220;Rese&#8217; nih berdua, nonton aja tuh&#8221; sanggahku lagi menahan malu.</p>
<p>Toni tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.<br />
&#8220;Santai Ver, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal&#8221; bisik Toni sambil meremas pundakku.<br />
Remasan dan terpaan nafas Toni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Toni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.<br />
&#8220;Remas aja paha aku Ver daripada rok&#8221; bisik Toni lagi.<br />
Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang &#8216;geboy&#8217; saja kadang aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Toni dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.<br />
&#8220;Ngga usah malu Ver, santai aja&#8221; lanjutnya lagi.<br />
Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang &#8216;wow&#8217; kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Toni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.</p>
<p>Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Toni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Toni yang semakin menjadi-jadi.<br />
&#8220;Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu&#8221; bisik Toni seraya mengecup pundakku.<br />
Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.<br />
&#8220;Jangan Ton&#8221; namun aku berusaha menolak.<br />
&#8220;Kenapa Ver, cuma pundak aja kan&#8221; tanpa perduli penolakanku Toni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha &#8216;jaim&#8217;.<br />
&#8220;Ton.. ahh&#8221; desahku tak tertahan lagi.<br />
&#8220;Enjoy aja Ver&#8221; bisik Toni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.<br />
&#8220;Ohh Ton&#8221; aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat &#8216;live show&#8217; dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.<br />
Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Toni di leher dan telingaku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.</p>
<p>Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.<br />
&#8220;Agghh.. Tonn.. Drii.. ohh.. sshh&#8221; desahanku bertambah keras.<br />
Andri menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.</p>
<p>&#8220;Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh&#8221; desahanku berganti menjadi erangan-erangan.<br />
Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Toni menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.</p>
<p>Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.<br />
&#8220;Aaahh.. Tonn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii&#8221;<br />
&#8220;Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi&#8221; bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.<br />
Mendengar kata &#8216;lebih lagi&#8217; aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Toni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Andriâ€”yang sedang menikmati puting susuâ€”dengan kuatnya.<br />
&#8220;Aaagghh.. Tonn.. Drii.. akuu.. oohh&#8221; jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.</p>
<p>Toni dan Andri menyudahi &#8216;hidangan&#8217; pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Andri di payudara dan Toni di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.</p>
<p>Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai &#8216;hidangan&#8217; utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Toni yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah Toni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Tonn.. Drii.. nngghh.. aaghh&#8221; rintihku tak tertahankan lagi.<br />
Toni kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak bergerak.</p>
<p>&#8220;Jilat.. Ver&#8221; perintahnya tegas.<br />
Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah merasakan jilatanku.<br />
&#8220;Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh&#8221; desah Andri.<br />
&#8220;Jilat kepalanya Ver&#8221; aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.<br />
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis desis.<br />
&#8220;Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep&#8221; pintanya diselah-selah desisannya.</p>
<p>Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.<br />
&#8220;Jangan pake gigi Ver.. isep aja&#8221; protesnya, kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.<br />
&#8220;Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver&#8221;<br />
Melihat Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah Toni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..<br />
&#8220;Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr&#8221; jerit Andri, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.</p>
<p>Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Toni tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.<br />
&#8220;Gila Andri.. kira-kira dong&#8221; celetukku sambil bersungut-sungut.<br />
&#8220;Sorry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget&#8221; jawab Andri dengan tersenyum.<br />
&#8220;Udah Ver jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka&#8221; sela Toni seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.<br />
Toni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Toni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah Toni menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.</p>
<p>Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Toni.<br />
&#8220;Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh&#8221; desisku tak tertahan.<br />
&#8220;Teruss.. Tonn.. aakkhh&#8221;<br />
Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.<br />
&#8220;Ssshh.. nikmat Tonn.. mmpphh&#8221; desahanku semakin menjadi-jadi.<br />
Tak lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.</p>
<p>&#8220;Aauugghh.. Tonn.. pelann&#8221; jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.<br />
Toni menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudianâ€”masih sebatas ujungnyaâ€”secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Toni.<br />
&#8220;Ooohh.. Tonn.. sshh.. aahh.. enakk Tonn&#8221; desahku lirih.<br />
Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.<br />
&#8220;Enak.. Ver&#8221; tanya Toni berbisik.<br />
&#8220;He ehh Tonn.. oohh enakk.. Tonn.. sshh&#8221;<br />
&#8220;Nikmatin Ver.. nanti lebih enak lagi&#8221; bisiknya lagi.<br />
&#8220;Ooohh.. Tonn.. ngghh&#8221;</p>
<p>Toni terus mengayunkan pinggulnya turun-naikâ€”tetap sebatas ujung kejantanannyaâ€”dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam membelah kewanitaanku.<br />
&#8220;Auuhh.. sakitt Tonn&#8221; jeritku saat kejantanannya merobek selaput daraku, rasanya seperti tersayat silet, Toni menghentikan tekanannya.<br />
&#8220;Pertama sedikit sakit Ver.. nanti juga hilang kok sakitnya&#8221; bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.<br />
Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga kemaluanku.</p>
<p>Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kejantanannya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.<br />
&#8220;Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Tonn.. empphh&#8221; desahku tak tertahan.<br />
&#8220;Ohh.. Verr.. enak banget punya kamu.. oohh&#8221; puji Toni diantara lenguhannya.<br />
&#8220;Agghh.. terus Tonn.. teruss&#8221; aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.<br />
Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.<br />
&#8220;Tonii.. oohh.. tekan Tonn.. agghh.. nikmat sekali Tonn&#8221; jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.<br />
Tubuhku mengejang, kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.</p>
<p>Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.</p>
<p>Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Andri, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.<br />
&#8220;Aaargghh.. Verr.. enak banget.. terus Ver.. goyang terus&#8221; erang Toni.<br />
Erangan Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri.. Ohh aku sungguh menikmati semua ini.</p>
<p>Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang kemaluannya.<br />
&#8220;Isep Ver&#8221; pinta Toni, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.<br />
&#8220;Ooohh.. enak Ver.. isep terus&#8221;<br />
Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang kemaluan Andriâ€”yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toniâ€”dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun melakukan semua itu.</p>
<p>&#8220;Verr.. terus Verr.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh&#8221; erang Toni.<br />
Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.<br />
&#8220;Aaagghh.. nikmat banget Verr.. isep teruss.. telan Verr&#8221; jerit Toni, lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan Toni, kuhisap kejantananya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.</p>
<p>Toni beranjak meninggalkan aku dan Andri, sepeninggal Toni aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi &#8216;doggy&#8217; dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.<br />
&#8220;Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh&#8221;<br />
&#8220;Enak banget Drii.. aahh.. oohh&#8221;<br />
Mendengar eranganku Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.</p>
<p>Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.<br />
&#8220;Andrii.. kenapa dicabutt&#8221; protesku.<br />
&#8220;Masukin lagi Dri.. pleasee&#8221; pintaku menghiba.<br />
Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.<br />
&#8220;Andrii.. pleasee.. jangan disitu&#8221; aku menghiba meminta Andri jangan melakukannya.<br />
Andri tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis didalamnya.</p>
<p>&#8220;Aduhh sakitt Drii.. akhh..!&#8221; keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Andri.<br />
&#8220;Rileks Ver.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya&#8221; bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.<br />
Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.<br />
&#8220;Aaahh.. aauuhh.. oohh Drii&#8221; erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.<br />
Andri dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Andri menghujamkan kejantananya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.</p>
<p>Toni yang sudah pulih dari &#8216;istirahat&#8217;nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutkuâ€”yang segera kubalas dengan bernafsuâ€”ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Andri yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.</p>
<p>Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada didalam anusku. Toni langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan Andri, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.</p>
<p>&#8220;Aaagghh.. ouuhh.. Tonn.. Drii.. tekaann&#8221; jerit dan erangku tak karuan.<br />
Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul Toni kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.<br />
&#8220;Aduuhh.. Tonn.. Drii.. nikmat sekalii&#8221;<br />
&#8220;Aaarrghh.. Verr.. enakk bangeett&#8221;<br />
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.</p>
<p>Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria.. aku baru akan mencapai kepuasan bila &#8216;dijarah&#8217; oleh dua atau tiga pria sekaligus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-diantara-dua-pria.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permohonan Seorang Teman dan Suaminya</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/permohonan-seorang-teman-dan-suaminya.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/permohonan-seorang-teman-dan-suaminya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami sama-sama aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia, sedangkan aku, karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah. Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat bekerja di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku punya teman SMU dulu. Hubungan kami sangat baik, karena kami sama-sama aktif di OSIS. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Australia, sedangkan aku, karena keadaan ekonomi yang pas-pasan, puas menamatkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah.</p>
<p>Setelah lulus, aku bekerja di Jakarta. Entah suatu kebetulan atau bukan, saat bekerja di salah satu perusahaan swasta, aku bertemu kembali dengan Anna, yang bekerja di perusahaan rekanan perusahaan kami. Kami bertemu waktu ada penandatanganan kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan tempatku bekerja. Kami pun kembali akrab setelah tidak bertemu sepuluh tahun. Ia masih tetap cantik seperti dulu. Dari ceritanya, aku dapatkan informasi bahwa ia memperoleh master di bidang marketing. Selain itu, sama sepertiku, ia telah tiga tahun menikah, suaminya orang Jawa Timur, tetapi mereka belum dikaruniai anak; sedangkan aku ketika itu masih lajang. Usai kerja, kami suka pulang bareng, sebab rumahnya searah denganku. Kadang-kadang jika ia dijemput suaminya, aku ikut numpang mobil mereka.</p>
<p>Aku tak pernah terpikir kalau temanku Anna memiliki suatu rahasia yang suaminya sendiri pun tak pernah tahu. Suatu ketika, kuingat waktu itu hari kamis, aku ikut pulang di mobil mereka, kudengar Anna berkata pada suaminya,</p>
<p>&#8221;Pa, lusa aku ulang tahun yang ke-28, kan? Aku akan minta hadiah istimewa darimu. Boleh kan?&#8221;</p>
<p>Sambil menyetir, suaminya menjawab, &#8221;Ok, hadiah apa rupanya yang kau minta, sayang?&#8221;</p>
<p>&#8221;Hmmm, akan kusebutkan nanti malam waktu kita&#8230;&#8221; sambil tersenyum dan mengerlingkan mata penuh arti.</p>
<p>Suaminya bergumam, &#8221;Beginilah istriku. Kalau ada maunya, harus dituruti. Kalau tidak kesampaian, bisa pecah perang Irak.&#8221; Kemudian tak berapa lama, ia melanjutkan, &#8221;Gimana Gus, waktu SMU dulu, apa gitu juga gayanya?&#8221;<br />
Kujawab, &#8221;Yah, begitulah dia. Waktu jadi aku ketua dan dia sekretaris OSIS, dia terus yang berkuasa, walaupun program kerja aku yang nyusun.&#8221;</p>
<p>&#8221;Idiiiih, jahat lu Gus, buka kartu!&#8221; teriak Anna sambil mencubit lenganku pelan.</p>
<p>Suaminya dan aku tertawa. Sambil kuraba bekas cubitannya yang agak pedas, tetapi memiliki nuansa romantis, kubayangkan betapa bahagianya suaminya beristrikan Anna yang cantik, pintar dan pandai bergaul.<br />
Aku kemudian turun di jalan depan kompleks perumahan mereka dan melanjutkan naik angkot ke arah rumahku yang letaknya tinggal 3 km lagi.</p>
<p>Aku sudah lupa akan percakapan di mobil mereka itu, ketika malam minggu, aku cuma duduk-duduk di rumah sambil menonton acara televisi yang tidak menarik, tiba-tiba kudengar dering telepon.</p>
<p>&#8221;Gus, kau ada acara? Anna dan aku sedang merayakan ulang tahunnya. Datanglah ke rumah kami. Dia sudah marah-marah, sebab baru tadi aku bilang mau undang kau makan bersama kami. Ok, jangan lama-lama ya?&#8221; suara Dicky, suami Anna terdengar.<br />
&#8221;Wah, kebetulan Mas, aku sedang bete nich di rumah. Aku datang sekitar 20 menit lagi ya?&#8221; jawabku.<br />
&#8221;Baiklah, kami tunggu&#8221; katanya sambil meletakkan gagang telepon.</p>
<p>Aku bersiap-siap mengenakan baju hem yang agak pantas, kupikir tak enak juga hanya pakai kaos. Sepeda motor kukeluarkan dan segera menuju rumah Dicky dan Anna.</p>
<p>Setibanya di sana, kuketuk pintu. Anna membuka pintu. Kulihat gaunnya begitu indah membalut tubuhnya. Potongan gaunnya di bagian dada agak rendah, sehingga menampakkan belahan buah dadanya yang sejak SMU dulu kukagumi, sebab pernah kulihat keindahannya tanpa sengaja waktu ia berganti baju saat olah raga dulu.</p>
<p>Kusalami dia sambil berkata, &#8221;Selamat ulang tahun, ya An! Panjang umur, murah rejeki, cepat dapat momongan, rukun terus dalam rumah tangga&#8221;</p>
<p>Tanpa kuduga, tanganku disambut dengan hangatnya sambil diberikannya pipinya mencium pipiku. Yang lebih tak terduga, pinggiran bibirnya â€“ entah disengaja atau tidak â€“ menyentuh tepi bibirku juga.</p>
<p>&#8221;Trims ya Gus&#8221; katanya.</p>
<p>Aku masuk dan mendapati Dicky sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Dicky dan Anna mengajakku makan malam bersama. Cukup mewah makan malam tersebut, sebab kulihat makanan restoran yang dipesan mereka. Ditambah makanan penutup berupa puding dan beragam buah-buahan membuatku amat kenyang. Usai makan buah-buahan, Dicky ke ruang bar mini dekat kamar tidur mereka dan mengambil sebotol champagne.</p>
<p>&#8221;Wah, apa lagi nich?&#8221; tanyaku dalam hati.</p>
<p>&#8221;Ayo Gus, kita bersulang demi Anna yang kita cintai&#8221; kata suaminya sambil memberikan gelas kepadaku dan menuangkan minuman keras tersebut.</p>
<p>Kami bertiga minum sambil bercerita dan tertawa. Usai makan, kami berdua kembali ke ruang tamu, sedangkan Anna membereskan meja makan. Dicky dan aku asyik menonton acara televisi, ketika kulihat dengan ekor mataku, Anna mendatangi kami berdua.</p>
<p>&#8221;Mas, ganti acaranya dong, aku mau nonton film aja! Bosen acara TV gitu-gitu terus&#8221; rajuknya kepada suaminya.</p>
<p>Dicky menuju bufet tempat kepingan audio video dan sambil berkata padaku, ia mengganti acara televisi dengan film, &#8221;Nah, gitulah istriku tersayang, Gus. Kalau lagi ada maunya, jangan sampai tidak dituruti.&#8221;</p>
<p>Kami tertawa sambil duduk bertiga. Aku agak kaget waktu menyaksikan, ternyata film yang diputar Dicky adalah film dewasa alias blue film.</p>
<p>&#8221;Pernah nonton film begini, Gus? Jangan bohong, pria seperti kita jaman SMP saja sudah baca Playboy dulu, bukan?&#8221; tanyanya.<br />
&#8221;He.. he.. he.. nonton sich jangan ditanya lagi, Mas. Udah sering. Prakteknya yang belum&#8221; tukasku sambil meringis.</p>
<p>Agak risih juga nonton bertiga Anna dan suaminya, sebab biasanya aku nonton sendirian atau bersama-sama teman pria.</p>
<p>&#8221;Anna kemarin minta kita nonton BF bertiga. Katanya demi persahabatan&#8221; ujar suaminya.<br />
&#8221;Ya Gus, bosen sich, cuma nonton berdua. Sekali-sekali variasi, boleh kan?&#8221; kata Anna menyambung ucapan suaminya dan duduk semakin rapat ke suaminya.</p>
<p>Kami bertiga nonton adegan film. Mula-mula seorang perempuan bule main dengan pria negro. Lalu pria Asia dengan seorang perempuan Amerika Latin dan seorang perempuan bule.</p>
<p>&#8221;Wah, luar biasa&#8221; batinku sambil melirik Anna yang mulai duduk gelisah.</p>
<p>Kulihat suami Anna sesekali mencium bibir Anna dan tangannya yang semula memeluk bahu Anna, mulai turun meraba-raba tepi buah dada Anna dari luar bajunya. Cerita ketiga semakin panas, sebab pemainnya adalah seorang perempuan bule yang cantik dan bertubuh indah dan dua orang pria, yang satu Amerika Latin dan yang satunya lagi bule. Si perempuan diciumi bibir lalu buah dadanya oleh si pria bule, sedang si pria Amerika Latin membuka perlahan-lahan rok dan celana dalam si perempuan sambil menciumi lutut dan pahanya. Kedua pria tersebut menelentangkan si perempuan di sofa, yang satu menciumi dan meremas buah dadanya, sedang yang lain menciumi celah-celah paha. Adegan itu dilakukan secara bergantian dan akhirnya si pria bule menempatkan penisnya ke klitoris si perempuan hingga si perempuan merintih-rintih. Rintihannya makin menjadi-jadi sewaktu penis tersebut mulai memasuki vaginanya. Di bagian atas, buah dadanya diremas dan diciumi serta disedot si pria Amerika Latin. Si perempuan kemudian memegang pinggang si pria Amerika Latin dan mencari penisnya untuk diciumi dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Si pria memberikan penisnya sambil terus meremas buah dada si perempuan. Begitulah, penis yang satu masuk keluar vaginanya, sedang penis yang lain masuk keluar mulutnya.</p>
<p>Aku merasakan penisku menegang di balik celana dan sesekali kuperbaiki dudukku sebab agak malu juga pada Anna yang melirik ke arah risleting celanaku. Aku merasa horny, tetapi apa daya, aku hanya penonton, sedangkan Anna dan Dicky, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kukerling Dicky dan Anna yang sudah terpengaruh oleh film tersebut.</p>
<p>Tak lama kemudian kulihat gaun Anna semakin turun dan buah dadanya sudah semakin tampak. Benar-benar indah buah dadanya, apalagi saat kulihat yang sebelah kiri dengan putingnya yang hitam kecoklatan, sudah menyembul keluar akibat jamahan tangan suaminya. Desahan Anna bercampur dengan suara si perempuan bule di film yang kami saksikan. Mereka berdua tampak tidak peduli lagi dengan kehadiranku. Aku lama-lama segan juga, tetapi mau pamit kayaknya tidak etis. Kuluman bibir Dicky semakin turun ke leher Anna dan berlabuh di dada sebelah kiri. Bibirnya melumat puting sebelah kiri sambil tangan kanannya meremas-remas buah dada kanan Anna. Gaun Anna hampir terbuka lebar di bagian dada.</p>
<p>Tiba-tiba Anna bangkit berdiri dan menuju dapur. Ia kemudian keluar dan membawa nampan berisi tiga gelas red wine. Ia sodorkan kepada kami berdua dan kembali ke dapur mengembalikan nampan. Aku dan suaminya minum red wine ketika kurasakan dari arah belakangku Anna menunduk dan mencium bibirku tiba-tiba.</p>
<p>&#8221;Mmmmfff, ahhh, An, jangan!&#8221; kataku sambil menolakkan wajahnya dengan memegang kedua pipinya.</p>
<p>Anna justru semakin merapatkan wajah dan tubuhnya dari arah atas tubuhku. Lidahnya masuk dengan lincahnya ke dalam mulutku sedangkan bibirnya menutup rapat bibirku, buah dadanya kurasakan menekan belakang kepalaku. Aku masih mencoba melawan dan merasa malu diperlakukan demikian di depan suaminya.</p>
<p>Rasa segan bercampur nafsu yang menggelora membuat wajahku semakin memanas, terlebih atas permainan bibir dan lidah Anna serta buah dada yang ditekankan semakin kuat.</p>
<p>Kudengar suara suaminya, â€œTak usah malu, Gus. Nikmati saja. Ini bagian dari permintaan spesial Anna kemarin. Kali ini ia tidak minta kado yang lain, tapi kehadiranmu.&#8221;</p>
<p>Aku berhasil melepaskan diri dari serangan Anna dan sambil terengah-engah kukatakan, &#8221;An, tolong&#8230; jangan perlakukan aku seperti tadi. Aku malu. Dicky, aku minta maaf, aku mau pulang saja.&#8221;</p>
<p>Aku bergegas menuju pintu. Tapi tiba-tiba Anna menyusulku sambil memeluk pinggangku dari belakang.</p>
<p>Sambil menangis ia berkata, &#8221;Gus, maafkan aku. Aku tidak mau kau pulang sekarang. Ayolah, kembali bersama kami.&#8221;</p>
<p>Ia menarik tanganku duduk kembali. Aku terduduk sambil menatap lantai, tak berani melihat wajah mereka berdua. Di seberangku, Dicky dan Anna duduk berjejer.</p>
<p>Dicky berkata, &#8221;Gus, tolonglah kami. Ini permintaan khusus Anna. Sebagai sahabat lamanya, kuharap kau tidak keberatan. Sekali lagi aku minta maaf. Kami sudah konsultasi dan berobat ke dokter agar Anna hamil. Ternyata bibitku tidak mampu membuahinya. Padahal kami saling mencintai, aku amat mencintainya, dia juga begitu terhadapku. Kami tidak mau cerai hanya oleh karena aku tidak bisa menghamilinya. Kami tidak mau mengangkat anak. Setelah kami bicara hati ke hati, kami sepakat meminta bantuanmu agar ia dapat hamil. Kami mau agar anak yang ada di dalam rumah tangga kami berasal dari rahimnya, walaupun bukan dari bibitku. Aku senang jika kau mau menolong kami.&#8221;</p>
<p>Aku tidak menjawab. Kucoba menatap mereka bergantian.</p>
<p>Kemudian Anna menambahkan kalimat suaminya, &#8221;Aku tahu ini berat buatmu. Jika aku bisa hamil olehmu, anak itu akan menjadi anak kami. Kami minta kerelaanmu,Gus. Demi persahabatan kita. Please!&#8221; katanya memohon dengan wajah mengiba dan kulihat air matanya menetes di pipinya.</p>
<p>&#8221;Tapi, bagaimana dengan perasaan suamimu, An? Kau tidak apa-apa Dick?&#8221; tanyaku sambil menatap wajah mereka bergantian.</p>
<p>Keduanya menggelengkan kepala dan hampir serempak menjawab, &#8221;Tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8221;Aku pernah cerita pada suamiku, bahwa dulu kau pernah punya hati padaku, tapi kutolak karena tidak mau diganggu urusan cinta&#8221; papar Anna lagi.<br />
&#8221;Ya Gus, Anna sudah ceritakan persahabatan kalian dulu. Aku dengar darinya, kau bukan orang yang suka jajan dan sejak dulu kau tidak nakal terhadap perempuan. Kami yakin kau bersih, tidak punya penyakit kelamin. Makanya kami sepakat menentukan dirimu sebagai ayah dari anak kami&#8221; tambah suaminya.<br />
&#8221;Bagaimana Gus, kau setuju? Kau rela? Tolonglah kami ya!&#8221; pintanya mengiba.</p>
<p>Aku tidak menjawab. Hatiku tergetar. Tak menduga ada permintaan gila semacam ini dari sepasang suami istri yang salah satunya adalah sahabatku dulu. Namun di hati kecilku timbul keinginan untuk menolong mereka, meskipun di sisi lain hatiku, merasakan getar-getar cinta lama yang pernah timbul terhadap Anna.</p>
<p>&#8221;Gus, kau mau kan?&#8221; tanya Anna sambil berjalan ke arahku.<br />
&#8221;Baiklah, asal kalian tidak menyesal dan jangan salahkan jika aku jadi benar-benar suka pada Anna nanti&#8221; jawabku tanpa berani menatap muka mereka.<br />
&#8221;Tak apa, Gus. Aku tak keberatan berbagi Anna denganmu. Aku tahu kau dulu tulus mencintai dia, pasti kau takkan menyakiti dia. Sama seperti aku, tak berniat menyakiti dirinya&#8221; kata Dicky lagi.</p>
<p>Anna lalu duduk di lengan kursi yang kududuki sambil memegang daguku dan menengadahkan wajahku hingga wajah kami bersentuhan dan dengan lembut ia mencium kedua kelopak mataku, turun ke hidung, pipi dan akhirnya bibirku ia kecup lembut. Berbeda dengan ciumannya tadi, aku merasakan kenyamanan yang luar biasa, sehingga kubalas lembut ciumannya. Aku hanyut dalam ciuman yang memabukkan. Sekelebat kulihat Dicky mengamati kami sambil mengelus-elus risleting celananya.</p>
<p>Anna mengajakku duduk ke sofa panjang, tempat Dicky berada. Kini ia diapit olehku dan suaminya di sebelah kanannya. Kami berdua terus berciuman.</p>
<p>Adegan di video kulirik sekilas, suasana semakin panas sebab si perempuan bule sudah disetubuhi oleh dua pria sekaligus, yang satu berada di bawah tubuhnya dengan kontol menancap dalam toroknya, sedangkan kontol yang satu lagi memasuki duburnya. Kedua kontol tersebut masuk keluar secara berirama menambah keras rintihan dan jeritan nikmat si perempuan.</p>
<p>Kami bertiga terpengaruh oleh tayangan demikian, sambil melihat film tersebut, aku terus menciumi wajah, bibir dan leher Anna, sementara suaminya sudah membuka gaun Anna, turun hingga sebatas pinggulnya hingga terpampanglah kini kedua teteknya yang sintal.</p>
<p>Desahan Anna semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang dan suaminya berganti memagut bibirnya. Bibir dan lidahku semakin turun menuju celah-celah teteknya. Tangan kiriku meremas tetek kanannya sambil bibirku melumat pentil tetek kirinya. Ia mengerang semakin kuat, ketika tangan kiriku turun ke pinggulnya dan mengelus-elus pinggul dan pinggangnya. Ciumanku semakin turun ke perutnya dan berhenti di pusarnya. Lama menciumi dan menggelitiki pusarnya, membuatnya makin menggeliat tak menentu.</p>
<p>Suaminya kulihat berdiri dan membuka seluruh pakaiannya. Dicky kini dalam keadaan bugil dan memberikan kontolnya untuk digelomoh Anna. Dengan bernafsu, Anna mencium kepala kontol suaminya, batangnya dan akhirnya memasuk-keluarkan kontol itu ke dalam mulutnya. Tangan kanannya memegang batang kontol suaminya sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya. Kulihat kontol suaminya agak panjang, lebih panjang dari punyaku, maklum suaminya lebih tinggi daripada aku, cocoklah Anna mendapat suami tinggi sebab tingginya 167 Cm, sama denganku.</p>
<p>Sambil terus memesrai kontol suaminya, Anna mengangkat sedikit pantat dan pinggulnya seakan-akan memberikan kesempatan buatku melepaskan gaunnya sama sekali. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak menurunkan gaunnya hingga ke lantai, sehingga tubuh Anna hanya tinggal ditutupi selembar kain segitiga di bagian bawahnya. Tangan kiri Anna bergerak cepat melepaskan celana dalamnya. Kini ia benar-benar telanjang, sama seperti suaminya. Anna duduk kembali sambil menelan kontol suaminya, hingga pangkalnya. Ia sudah benar-benar dalam keadaan puncak birahi.</p>
<p>Aku mengambil posisi berlutut di celah-celah paha Anna. Kuamati sela-sela paha Anna. Toroknya dihiasi rambut-rambut jembut yang tipis, tapi teratur. Agaknya ia rajin merawat toroknya, sebab rambut-rambut kemaluan itu dicukur pada bagian labia, sehingga memperlihatkan belahan yang indah dengan itil yang tak kalah menariknya. Kuarahkan jari-jariku memegang itilnya.</p>
<p>&#8221;Auuwww, aaahhh, enak Gus&#8230; terusin dong&#8230;&#8221; desisnya sambil menggeliatkan pinggulnya dengan indah.</p>
<p>Aku tidak menjawab, tetapi malah mendekatkan wajahku ke pahanya dan lidahku kujulurkan ke itilnya.</p>
<p>&#8221;Ooooohhhh, nikmatnyaaaaa&#8230;&#8221; desahnya sambil mempercepat gerakan mulutnya terhadap kontol Dicky.</p>
<p>Kuciumi itilnya sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Itilnya sudah tegang sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika kukuakkan labianya bagian atas itilnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku menusuk ke dalam toroknya.</p>
<p>&#8221;Aaaaaahhhhhh&#8230; Gusssss&#8230; kau pintar banget!&#8221; rintihannya semakin meninggi.</p>
<p>Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara bergantian, bahkan tak urung kuisap itil dan kedua labianya secara bergantian, hingga erangan dan rintihannya semakin keras. Cairan birahinya mengalir semakin banyak. Kusedot dan kumasukkan ke dalam mulutku. Gurih rasanya. Kedua tangannya kini memegang belakang kepalaku dan menekankannya kuat-kuat ke pahanya sambil menggeliat-geliat seksi. Semakin lama gerakannya semakin kuat dan dengan suatu hentakan dahsyat, ia menekan dalam-dalam toroknya ke wajahku. Agaknya ia sudah orgasme. Kurasakan aliran air menyembur dari dalam toroknya. Rupa-rupanya cairan kawinnya bercampur dengan air seninya. Anehnya, aku tidak merasa jijik, bahkan kuisap seluruhnya dengan buas. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena kuisap seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati seluruh cairannya yang menetes dan mengalir ke pahanya.</p>
<p>Aku masih bersimpuh di celah-celah paha Anna, ketika ia mendekatkan wajahnya mencium bibirku.</p>
<p>&#8221;Makasih ya Gus, kamu pintar banget bikin aku puas!&#8221; katanya.</p>
<p>Kulihat Dicky terpengaruh atas orgasme istrinya, ia berdiri dan berkata, &#8221;Ayo sayang, aku belum dapet nih!&#8221;</p>
<p>&#8221;Aaahh, aku masih capek, tapi ya dech. Aku di bawah ya&#8221; sambutnya sambil menelentangkan tubuh di sofa panjang tersebut.</p>
<p>Suaminya mengambil posisi di sela-sela paha Anna dan menggesek-gesekkan kontolnya ke itil Anna. Anna kembali naik birahi atas perlakuan Dicky. Makin lama Dicky memasukkan kontolnya semakin dalam ke dalam torok Anna. Anna membalas dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan dipegang oleh kedua tangan suaminya. Anna lalu mengisyaratkan aku mendekatinya. Aku jalan mendekati wajahnya. Ia lalu membuka celana panjangku hingga melorot ke lantai. Celana dalamku pun dibukainya dengan ganas dan kedua tangannya memegang kontolku. Sambil menyentuh kontolku, perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah pahaku dan menjilat kepala kontolku.</p>
<p>&#8221;Ahhh, ssshhh, Ann&#8230; Nikmatnyaaaa&#8221; desahku sambil membuka bajuku.</p>
<p>Kini kami bertiga benar-benar seperti bayi yang baru lahir, telanjang bulat. Anehnya, aku tidak merasa malu seperti mula-mula. Adegan yang hanya kulihat dulu di blue film, kini benar-benar kualami dan kupraktekkan sendiri. Gila! Tapi akal sehatku sudah dikalahkan. Entah oleh rasa suka pada Anna atau karena hasrat liarku yang terpendam selama ini.</p>
<p>Anna semakin liar bergerak menikmati tusukan kontol suaminya sambil melumat kontolku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua tetek Anna dengan pentilnya yang semakin mencuat bagaikan stupa candi.</p>
<p>Hunjaman kontol suaminya kulihat semakin hebat sebab Anna semakin kuat menciumi dan menjilati bahkan menelan kontolku hingga masuk seluruhnya ke dalam mulutnya. Kurasakan kepala kontolku menekan ujung tenggorokannya, tapi Anna tidak peduli, air ludahnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah menelan kontolku. Bahkan ketika seluruh kontolku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Kini desahan dan erangan kami bertiga sudah melampaui adegan di film yang sudah tak kami hiraukan lagi.</p>
<p>Sekilas sempat kulihat adegan di video memperlihatkan pergantian adegan dari adegan si perempuan bule berjongkok di atas pinggang si pria Amerika Latin memasuk-keluarkan kontolnya sambil menggelomoh kontol si pria bule. Kemudian si pria bule menempatkan diri di belakang si perempuan dan memasukkan kontolnya ke dalam dubur si perempuan sambil kedua tangannya meremas tetek si perempuan. Dari bahwa, si pria Amerika Latin menciumi bibir si perempuan. Rintihan si perempuan bertambah kuat sewaktu kedua pria tersebut mengeroyok torok dan duburnya dengan hebat. Erangannya berganti dengan jeritan nikmat ketika kedua pria itu semakin kuat menghentakkan kontol mereka dalam-dalam.</p>
<p>Terpengaruh oleh adegan tersebut, Dicky menancapkan kontolnya sedalam-dalamnya ke torok istrinya. Tangan kiri Anna mengelus-elus itilnya sendiri dengan kencang, sedang kontol suaminya masuk keluar semakin cepat. kontolku disedot kuat-kuat oleh Anna dan gigitan gemasnya kurasakan pada batang kontolku. Remasanku makin kuat di tetek Anna sambil sesekali kuciumi bibirnya.</p>
<p>&#8221;Ahhh, aku hampir sampai, An&#8230; Aaahhh torokmu enak benar!&#8221; rintih Dicky.<br />
&#8221;Sabar sayang, aku juga hampir dapat. Sama-sama ya? Oooohhhh, akkhhhh&#8230; enak benar tusukan kontolmu. Ayo sayang, yang dalam&#8230; aaauhhggghhhhh&#8230; Ooouukhhhhh&#8221; rintih Anna semakin tinggi hingga tiba-tiba ia menjerit.</p>
<p>Jeritan Anna membahana memenuhi ruangan bagaikan raungan serigala, ketika dengan hebatnya kontol suaminya menghunjam dengan cepat dan berhenti saat orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul suaminya sedang mulutnya menelan kontolku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh Anna yang indah bergetar-getar beberapa saat, apalagi di bagian pahanya.</p>
<p>Suaminya menghempaskan tubuh di atas tubuh Anna, sementara kedua tangan Anna memeluk tubuh suaminya. Aku melepaskan diri dari Anna dan mengambil tempat duduk sambil mengamati mereka berpelukan sambil bertindihan.</p>
<p>Kulihat adegan film hampir habis. Berarti kami bertiga main satu setengah jam, sebab tayangan film tadi kulihat berdurasi dua jam, sedangkan waktu kami bercakap-cakap bertiga tadi, permainan film baru berlangsung setengah jam.</p>
<p>&#8221;Luar biasa daya tahan Anna&#8221; pikirku.</p>
<p>Kudengar Anna berkata dari balik himpitan tubuh suaminya, &#8221;Ntar giliranmu ya Gus. Kasihan kamu belum apa-apa, padahal aku dan suamiku sudah dapat!&#8221;</p>
<p>&#8221;Nggak apa-apa An. Santai aja. Aku kan cuma pelengkap penderita&#8221; candaku.<br />
&#8221;Jangan gitu dong say&#8221; Anna menolakkan tubuh suaminya dan berdiri lalu mendekatiku.<br />
&#8221;Kamu kan orang penting, makanya kamu yang kami minta menemani saat istimewaku malam ini&#8221; katanya sambil mencium bibirku lembut sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.<br />
&#8221;Mas, kita main di kamar aja yuk, biar lebih enak&#8221; pinta Anna pada suaminya.</p>
<p>Suaminya hanya mengangguk dan mematikan video lalu bergerak mengikuti istrinya ke arah kamar mereka. Aku masih duduk.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/permohonan-seorang-teman-dan-suaminya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisahku dan 3 orang Perawan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kisahku-dan-3-orang-perawan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kisahku-dan-3-orang-perawan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 00:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/2009/11/14/kisahku-dan-3-orang-perawan/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berawal saat 3 orang teman2ku disurabaya berkunjung ke Bandung dan menginap di kostku. Tentu aja ini angin segar, mengingat mereka semua cewek dan masih pada virgin.Sebut saja mereka Rina,Ling,dan Mei. Mei sendiri udah akrab denganku sejak SMP,dan sampai sekarang aku tau itu anak masih virgin.Keakraban kami sendiri udah bisa di bilang TTM lah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini berawal saat 3 orang teman2ku disurabaya berkunjung ke Bandung dan menginap di kostku. Tentu aja ini angin segar, mengingat mereka semua cewek dan masih pada virgin.Sebut saja mereka Rina,Ling,dan Mei. Mei sendiri udah akrab denganku sejak SMP,dan sampai sekarang aku tau itu anak masih virgin.Keakraban kami sendiri udah bisa di bilang TTM lah. Nah,sedangkan yg 2 lagi,memang temen dari SD,Cuma akrabnya pas SMA.</p>
<p>Kebetulan kemarin mereka dapat libur bareng.Jadi mereka inisiatif buat liburan ke Bandung.Aku tentu saja senang mendengar kabar ini.Udah banyak pikiran kotor bersarang di otakku. Sekitar sore,kujemput mereka di stasiun kereta,dan langsung ku ajak ke kostan. Disana sambil istirahat,kami ngobrol banyak soal kenangan2 zaman sekolah dulu. Umur mereka rata2 sama,19 tahun,dan itu digambarkan dengan bentuk tubuh mereka yg benar2 menggiurkan. Dada yg bulat penuh,dan cara berpakaian yang mengundang adik kecilku berontak sejak dari dalam mobil tadi. Rina dan Ling mungkin termasuk cewek liar. Aku tau karma mereka sering cerita soal keseharian mereka di Surabaya.Jadi,urusan dugem dan nakal2an,aku udah maklum. Namun hebatnya,mereka masih bisa menjaga keperawanan mereka. Yg jadi masalah,adalah si Mei yg bener2 masih bersikap seperti anak kecil. Rina dan Ling gak pernah berani cerita dengan Mei soal kehidupan mereka,karma mereka takut Mei akan cerita pada ortunya,dan menyebar ke ortu mereka sendiri.</p>
<p>Akhirnya,pas malam hari,Aku,Rina,dan Ling sepakat,untuk memberi Mei obat tidur.Setelah ia tampak lelap,Kami segera diam2 pergi jalan. Tentu aja tujuannya buat Dugem.Kami benar2 menghabiskan malam sebebas-bebasnya,tertawa,bercanda lepas tanpa kekangan dari orang tua. Disana aku terus mencekoki mereka dengan minuman keras, dengan tujuan bikin mereka mabuk berat. Rina yg gak begitu terbiasa dengan minuman keras,langsung terkapar tidak sadarkan diri,sedang Ling sudah mulai menampakan tanda2 bahwa ia mulai lepas control. Akhirnya kuputuskan buat cabut dari sana.Walau agak repot membawa mereka ke mobil,tp akhirnya aku sukses membawa mereka balik.</p>
<p>Di kostan, Mei tampak masih tertidur pulas. Aku langsung mengangkat Rina ketempat tidur,lalu mengurus Ling yg udah mulai muntah2. Tak berapa lama, Ling juga mulai tertidur, saat itulah nafsuku mulai meledak sejadi-jadinya. Karna mereka sekamar bertiga,gak susah buatku melakukan gerilya.Target pertama,tentu saja si Rina,yg bodynya nyaris perfect dibandingkan kedua temannya. Pertama,aku meyakinkan bahwa dia benar2 gak sadarkan diri. Ku goyang2 badannya dan memanggil namanya,namun ia tetap gak sadarkan diri. Benar2 kesempatan yg bagus,pikirku.Tanpa pikir panjang,kubuka kaosnya yg tampak sudah basah oleh keringat.Aku benar2 gak percaya dengan pemandangan yg ada di depanku. Dada Rina yg membusung,tampak hampir melompat keluar dari Bh-nya yg tampak kekecilan.Kuciumi lehernya,dan kuhirup aroma yg khas dari tubuhnya. Pelan-pelan ciumanku turun dari leher menuju ke belahan dadanya. Tanganku menyusup ke belakang dan melepaskan kaitan BH-nya,lalu kulepas pelan2.Benar2 luar biasa,dadanya putih dan begitu montok,pentilnya berwarna kecoklatan dan mengacung keatas. Langsung saja kuremas dadanya dan kuhisap kedua pentilnya bergantian.Ia tampak bergerak sedikit,sehingga aku harus tetap waspada.Kulanjutkan hisapanku sambil mencoba membuka kancing celananya.Lalu pelan2 kuciumi perutnya sambil tetap turun kebawah dan membuka celananya. Setelah terlepas,tampaklah celana dalamnya yg berwarna hitam.Benar2 merangsang. Kuusap-usap selangkangannya yg sudah tampak becek.Rupanya walau tidak sadarkan diri,ia tetap terangsang dengan perbuatanku ini.</p>
<p>Segera kulepaskan celana dalamnya dan kusaksikan memeknya yg bersih dengan bulu2yg rapi. Memeknya masih terlihat rapat dan belum terjamah. Kuciumi memeknya dan tercium tipikal aroma memek yg biasa kuhirup, anyir, namun menggoda. Itu pula yg membuat aku langsung memainkan lidah ku dan mempermainkan klitorisnya yg tampak masih kecil sekali. Kembali ia bergerak, nampak ia merasakan rangsangan dariku.Namun tetap saja semua akan berantakan kalau sampai ia terbangun.Maka dari itu ku tunggu hingga ia kembali tenang dan terlelap, lalu kulanjutkan lagi permainan lidahku. Selang beberapa waktu,adikku mulai berontak. Aku lalu mengangkat ke dua kakinya dan menaruhnya diatas pundakku. Pelan-pelan kugosokan penisku di depan liang senggamanya sambil mencoba memasukkannya. Perlu waktu lama untuk penisku,agar bisa menembus lubang senggamanya yg begitu sempit. Pelan,tapi pasti aku bergerak maju mundur,sehingga penisku mulai bisa masuk sepenuhnya. Saat sudah kurasa cukup,kupercepat ritmeku dan kurasakan penisku merobek sesuatu, kutarik penisku keluar,dan ternyata benar dugaanku,ada sedikit darah yg keluar dari lobang memeknya dan membasahi penisku.Waow,benar2 <span>perawan</span> dia. Nafsukupun mulai menjadi,aku tidak perduli lagi kalau sampai ia terbangun.Kupercepat goyanganku,merasakan nikmatnya sorga dunia yg sudah lama tidak kurasakan. Akhirnya kubalik ia dalam posisi menungging,dan kuhantam ia dari belakang. Lama permainan itu terasa sampai akhirnya kurasakan aliran spermaku mendesak keluar.Segera kucabut penisku,dan kubalik ia. Kugenjot terus dengan membabi buta.Tampak nafas Rina juga semakin kacau.Aku tidak perduli,terus saja kugoyang dia sampai aku mencapai klimaks.Kucabut penisku dan kutumpahkan spermaku diatas perutnya.Benar2 tubuh yg sempurna.Aku benar2 puas sudah memperawaninya.Kubersihkan spermaku tadi dengan tissue,lalu kupasang kembali pakaiannya agar saat ia bangun besok,ia tidak sadar akan kejadian malam ini. Lalu aku beristirahat sebentar sambil menghisap rokok.<br />
Selesai?Belumâ€¦.Masih ada 2 orang lagi yg akan kurebut keperawanannya.Kutengak obat kuat yg sudah kusediakan,dan kurasakan penisku pelan2 mulai berdiri lagi.Saatnya masuk ke target ke 2â€¦..</p>
<p>Lanjutâ€¦.</p>
<p>Setelah aku mulai merasa tenagaku pulih,segera aku menghampiri Mei yg sudah tertidur dari tadi. Aku memilih Mei,karna ia sudah tertidur lama,jadi tinggal sedikit waktu untuk â€œmempermaknyaâ€. Sedangkan Ling,baru saja terkapar,jadi masih banyak waktu.<br />
Dimulai dengan pemastian bahwa ia masih tertidur,kucoba memanggil namanya,namun tampaknya obat tidur yg kami beri benar2 kuat efeknya.Mei tampak tak bergeming. Perlahan kubuka kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Nafasnya terdengar pelan saat aku mulai menciumi daerah lehernya. Sementara,tanganku sudah menggapai Bh-nya yg berwarna biru dan bermotif bunga,lalu menyingkapnya keatas. Kulihat dada yg tidak begitu besar,tapi cukup menantang. Pentilnya yang berwarna kemerahan,begitu kontras dengan dadanya yg seputih susu.Kujilati dengan lembut kedua putingnya,sambil mencium aroma sabun yg khas dari tubuhnya. Kupermainkan putingnya dan kutarik-tarik hingga kedua putingnya itu mencuat lurus keatas. Lama sekali aku bermain didadanya,merasakan empuknya buah dada seorang <span>perawan</span>.Memang,ini bukan pertama kali aku memegang dada Mei,karna dulu aku juga sering iseng2 meremas dadanya kala sedang bercanda.Namun,baru kali ini aku merasakan dada itu tanpa ditutupi sehelai benang pun.Perutnya naik turun seirama nafasnya yg teratur.Nampak ia begitu dibuai mimpi. Aku pun beranjak dari permainanku diatas dan mulai menjelajah kebawah. Tak sabar rasanya aku ingin melihat memeknya yg selama ini belum terjamah. Pelan-pelan kutarik jeansnya hingga terlepas.Ia menggunakan hotpants berwarna biru,senada dengan warna Bh-nya.Benar2 masih seperti anak kecil,pikirku. Pelan-pelan aku melepas hotpants sekaligus celana dalamnya,dan tersibaklah memeknya yg dipenuhi bulu2 yang tidak beraturan.Tampak lebat,namun tidak mengurangi nafsuku untuk bermain lidah didalam liang kenikmatan itu.Memeknya masih kering.Rupanya ia tidak merasakan rangsangan apapun karna efek obat tidur tersebut.Akupun terus melanjutkan permainan lidahku hingga memeknya begitu basah dengan air ludahku.Kubuka lebar kakinya kesamping dan kucoba permainkan jariku dalam lubang memeknya.Akhâ€¦Menggunakan jari saja sudah terasa sempit,apalagi kalau sampai nanti kumasukan penisku.Maka dari itu aku mencoba membiasakan vaginanya,agar sedikit lebih terbuka.Pertama kumainkan dengan satu jari,lalu lama kelamaan kucoba dengan 2 jari.saat kucoba memasukan jari ketiga rupanya vaginanya sudah tidak dapat menerima lagi,jadi kuputuskan untuk terus mempermainkannya dengan 2 jari.Yang aku heran,tidak ada darah yg keluar saat aku menusuk memeknya dengan jariku.</p>
<p>Namun,tanpa mengurungkan niatku,aku terus melampiaskan nafsu pada tubuh mungil tersebut,apalagi adikku juga sudah tampak berteriak meminta untuk di pertemukan dengan sahabat baiknya itu.Aku lalu melebarkan 2 kakinya ke sampingku dan mengarahkan penisku keliang senggamanya.Sulit sekali aku memasukan penisku.Tampaknya jariku tadi tidak cukup untuk memberi ke-elastisan yg diperlukan.Apalagi memeknya begitu kering,hingga aku harus terus2an melicinkannya dengan ludahku.Dengan usaha keras akhirnya pelan-pelan memeknya mulai membuka.Kepala penisku merengsek masuk dan membuka jalan hingga akhirnya hampir seluruh penisku masuk.Kucoba memasukan penisku seluruhnya,namun sepertinya terantuk sesuatu dan tidak bisa masuk lagi.Akhirnya kucoba menghentak dengan kasar dan sekuat tenaga.Terdengar bunyi â€œCrekkk..â€,dan kemudian mengalirlah darah <span>perawan</span> yg sedari tadi kunantikan.Tersenyum puas,aku melanjutkan goyanganku dengan irama pelan,menikmati jepitan memeknya yang begitu kuat.Aku benar2 terbuai dengan kenikmatan yg tiada tara.Namun aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini dengan bermain satu gaya,kubalikan badannya dan kubuat ia dalam posisi menungging.Pantatnya begitu menggairahkan dan begitu bulat.Namun aku tidak tega untuk melakukan anal dengannya.Akhirnya kugenjot ia dalam posisi Doggy Style selama beberapa menit.Sambil menggoyangnya,kuremas kedua dadanya keras-keras tanpa takut membangunkannya,karna aku tau,reaksi obat tidur tadi akan masih tersisa beberapa jam lagi.<br />
Kembali kubalikan ia dan kugenjot dengan ritme yg makin cepat.Begitu adikku mulai menunjukan tanda2 ingin klimaks,segera kucabut penisku dan kukocok hingga spermaku bermuntahan diatas dadanya.Nafasku makin memburu,bukan karna kelelahan,tapi justru karna nafsuku yang semakin tinggi.Inilah efek obat kuat yg sudah ku tengak tadi.Kubersihkan spermaku dari atas dada Mei,lalu kupasang kembali baju dan celananya.Kuperbaiki posisi tidurnya dan karena faktor nafsu yg sudah meledak-ledak,aku langsung menuju targetku yang terakhirâ€¦Ling!</p>
<p>Lanjut lagi nih bro&#8230;</p>
<p>Permainanku dengan Rina dan Mei,benar2 menguras tenaga.Namun efek obat kuat,membuat adik kecilku terus terjaga dan minta jatah yg lebih.Tubuh Ling mulai menarik dimataku. Bodynya memang kurang jika dibandingkan dengan Rina dan Mei,Sedikit lebih kurus,dan pantatnya nyaris datar.Satu kelebihannya adalah,dia memiliki dada yg cukup besar bila dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus.Kepalang tanggung,kuputuskan menyelesaikan permainanku pagi ini bersama Ling.</p>
<p>Pertama kulepas seluruh pakaian yg menempel ditubuhnya.Kutatap dadanya yg seperti pepaya baru masak itu,dan memek yg mulus,tanpa ditutupi oleh jembut sedikitpun.Tampaknya ia mencukur rapi dan begitu merawat daerah kewanitaannya itu.Tak sabar lagi,kuremas kedua dadanya tanpa perduli dia akan terbangun.Ia tampak bergerak dan mengejang.Sudah pasti ia merasakan semua ini.Kupelintir putingnya sambil menghisap putting yg lain. Kubasahi seluruh permukaan dadanya dengan jilatanku. Terdengar nafasnya yg mulai menderu,seiring rangsanganku yang mulai kudaratkan keseluruh tubuhnya. Kuciumi lehernya,dadanya lengan,hingga ketiaknya.Aku benar2 sudah dikuasai nafsu.Ciumanku menurun kedaerah perutnya,terus menjalar ke daerah kaki dan pangkal pahanya.Ia mulai bergerak gerak tak karuan.Namun aku sudah tak peduli lagi.Kuhampiri memeknya yg plontos itu dengan lidahku dan bermain-main disana. Memeknya sudah becek,dan terasa asin di lidahku.Terus kulanjutkan permainan lidahku sampai akhirnya kedua kakinya menjepit erat kepalaku,memaksaku untuk terus memberinya rangsangan disana.Kutoleh keatas,nampak matanya masih tertutup.Rupanya ia masih setengah sadar.Kubuka pinggiran memeknya dan kumasukan lidahku kedalam liang <span>perawan</span> itu.Begitu harum dan nikmat rasanya.</p>
<p>Mulai terdengar desahannya,menandakan ia benar-benar menikmati perlakuanku ini.Namun aku belum mau meninggalkan memeknya yg masih menantangku untuk terus memainkan lidahku itu.Lama sekali,sampai akhirnya kudengar Ling bersuara,â€Akhâ€¦Teruusssâ€¦â€.Akupun terkejut dan langsung menarik kepalaku.Ia menoleh kearahku dan kemudian menarik kepalaku kembali kearah memeknya.Rupanya ia terbangun.Namun aku tak tau apakah efek minuman yang membuatnya begitu,atau memang ia ingin merasakan kenikmatan dunia yg selama ini belum pernah ia rasakan.â€terusâ€¦terusâ€¦â€.Erangnya.Tentu saja aku tak menyiakan kesempatan ini.Dengan buasnya kupermainkan lidahku di dalam dan luar memeknya.Ia terus mengeluarkan suara-suara yg menandakan ia benar-benar terangsang.â€Aukhâ€¦Akhâ€¦Hahâ€¦Hahâ€¦â€,makin lama suaranya makin keras hingga aku khawatir ia bisa membangunkan kedua temannya.Maka ku bopong ia keruang tamu,sambil mulutnya terus meracau tak jelas.Masih mabuk dia rupanya.Kutaruh dia di sofa dan kembali aku mengangkangkan kedua kakinya dan meneruskan permainanku yang sempat terhenti tadi.Kembali terdengar desahannya.Akhirnya aku beranjak dari posisiku dan kuarahkan penisku ke memeknya sambil terus mengulum pentilnya yg mengacung keras.Tak sulit untuk penisku memasuki memeknya karna tampaknya ia sudah begitu basah dari tadi.Pelan2 kugoyang ia,dan tak perlu waktu lama untuk tau bahwa di penisku mengalir cairan berwarna merah.Ya,benar2 perfect score untukku yang berhasil memperawani 3 wanita dalam satu malam.Kugenjot terus dia sambil memperhatikan wajahnya yg sayu namun terlihat jelas bahwa ia menikmati permainan ini.</p>
<p>Tiba2 tubuh Ling mengejang,menandakan ia mengalami orgasme pertamanya.Lalu tiba2 ia mendorong tubuhku ke belakang.Dan setelah itu ia merayap naik keatasku.Aku benar2 bingung,apakah saat itu ia sadar atau tidak.Dan tanpa di komando,ia menuntun penisku memasuki memeknya dan menggoyang tubuhnya sendiri. Benar-benar liar,pikirku.Nampaknya ia benar2 berbakat dalam urusan seks.Hanya saja ini pertama kali ia bisa melepaskan kemampuan terpendamnya itu.Akh..Begitu nikmat sekali goyangannya diatas tubuhku.Matanya terus menatapku namun ia tampak lebih memilih menikmati permainan saat itu,daripada memenuhi rasa ingin tahuku tentang apa yg terjadi dengannya.Ia terus mendesah tak karuan,sampai kembali ia mengalami orgasme kedua kalinya.Tubuhnya jatuh kebelakang dan terkulai lemas.Tp ini saatnya giliranku ganti memompanya.Kubalik tubuhnya,dan kugenjot ia dari belakang.Ia tampak pasrah dan terus mendesah menyebut namaku.Lama hingga akhirnya kurasakan aku mencapai klimaks.Kucabut penisku dengan maksud menyemburkan spermaku di pantatnya.Namun tiba-tiba Ling berbalik dan segera meraih penisku.Dikocoknya cepet-cepat sambil membuka mulutnya.Waow,pikirku.Tak pernah aku menyangka akan kejadian ini.Aku merasakan penisku seakan ingin meledak.Akhirnya spermaku merengsek keluar dan bertumpahan di dalam mulut Ling.Sebagian tampak berceceran disekitar bibir dan rambutnya.Kuberikan ia tissue untuk membersihkan wajahnya,dan setelah itu kami terkapar kelelahan di sofa ruang tamu.Aku beristirahat sebentar sambil membiarkan ia tertidur dalam pelukanku.Setelah ia nampak lelap,baru kubopong ia kembali ke kamar,dan kupasang kembali bajunya.Setelah berpakaian,akupun kembali keruang tamu dan tertidur,sambil tersenyum puas dengan apa yg terjadi malam ini.</p>
<p>Besoknya,aku dibangunkan Rina.Ia tampak tidak menyadari kejadian semalam.â€Cari makan yukâ€ katanya.Akupun beranjak bersamanya untuk membangunkan Ling yg katanya masih tertidur.Saat melewati kamar mandi,Aku berpapasan dengan Mei.â€Rin,koq â€˜anukuâ€™ perih ya?â€katanya.Aku berpura-pura tertawa mendengarnya.â€Aduh,ngomong masalah cewek koq di depan cowokâ€,kataku.Lalu aku biarkan mereka berdua di depan kamar mandi membahas tentang â€˜masalahâ€™ Mei.Aku masuk ke kamar dan ternyata Ling sudah bangun,namun masih berbaring di tempat tidur.â€Aduh,kepalaku pusing bgt nihâ€,katanya.â€Ya sudahâ€ sahutku,â€Mandi sana,anak2 dah mau cari makan tuhâ€.Lalu aku beranjak menuju pintu.Saat aku hampir menutup pintu,tiba2 Ling berkata,â€Hei,malam tadi asyik yaâ€¦Enak bgtâ€¦Kapan2 lagi yuk!â€.Aku yang mendengar itu hanya bisa tercengang dan tak bisa berkata-kata.Akhirnya aku tersenyum dan berkata,â€Liat nanti ya,hehehheheâ€¦â€¦.â€.Aku pun segera mandi dan berpakaian.Nampak Rina dan Mei sudah menunggu di ruang tamu.Tampaknya mereka sudah tidak membahas lagi â€˜masalahâ€™ Mei tadi.Setelah menunggu Ling mandi dan berpakaian,kami pun pergi berkeliling kota.Ya,malam itu benar-benar malam yg luar biasa bagiku.Sampai kini,hanya Ling yg tahu tentang kejadian malam itu.Dan hubunganku dengan Ling mulai menjadi amat dekat,terutama dalam urusan seks.Namun,petualanganku dengan Ling adalah cerita di Bab lain dalam kehidupanku.Sekarang semua sudah berlalu,dan aku akan selalu mengingat hari itu selamanyaâ€¦</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kisahku-dan-3-orang-perawan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan Untuk Teman-temanku &#8211; 3</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-3.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:59:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2956</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 2 Indah terengah-engah melayani penis super Taryo, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Verna sebagai juru kameranya. Pak Joko yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 2</p>
<p>Indah terengah-engah melayani penis super Taryo, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Verna sebagai juru kameranya. Pak Joko yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Indah, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Indah terpampang begitu Taryo menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Joko mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Indah yang sudah kesurupan ‘setan seks’ itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu</p>
<p>&#8220;Ahh.. awww.. Pak enak banget.. masukin aja sekarang!&#8221; rintihnya manja sambil meraih penis Pak Joko yang masih bergesekan dengan bibir vaginanya.<br />
Pak Joko pun mendorong penis itu membelah kedua belahan kemaluan Indah diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Verna yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Indah nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Taryo yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Taryo, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Indah tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada penis Taryo.</p>
<p>Serangan Pak Joko pada vagina Indah semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat.<br />
&#8220;Aaakhh..aahh!&#8221; jerit Indah dengan melengkungkan tubuhnya ke atas.<br />
Indah telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Joko yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Verna, difokuskan terutama pada wajah Indah yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Taryo menaikkan Indah ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali vagina Indah dikocok oleh penis Taryo. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Taryo. Taryo yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Indah menikmati pijatan kemaluannya. Pak Joko mengistirahatkan penisnya sambil menyusu dari kedua payudara Indah secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam vaginaku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.</p>
<p>Bosan dengan gaya berpangkuan, Taryo berbaring telentang dan membiarkan Indah bergoyang di atas penisnya. Kemudian dia menyuruh Verna naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Verna yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Taryo tertutup oleh daster transparan Verna, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Joko yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berciuman penuh nafsu. Dengan tetap berciuman Pak Joko memasukkan penisnya ke vaginaku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi penisnya keluar masuk dalam vaginaku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari.</p>
<p>Aku melihat Taryo masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Verna sudah bertukar posisi dengan Indah. Sekarang mereka saling berhadapan, Verna bergoyang naik turun diatas penis Taryo sambil berciuman dengan Indah yang mekangkangi wajah Taryo. Indah membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Taryo sampai terdengar suara sluurrpp.. sshhrrpp..Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya penis itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Joko menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Indah sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air.</p>
<p>Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Taryo menyodomi Verna yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Verna maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya.<br />
&#8220;Gimana Dah.. puas semalem?&#8221; tanyaku .<br />
&#8220;Gila gua dientotin sampe kelenger, barbar banget tuh dua orang, eh.. omong-omong pada kemana yang lain si Verna juga ga ada?&#8221;<br />
&#8220;Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk.. udah lengket gini&#8221; ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.</p>
<p>Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Verna dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Verna sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Taryo sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Joko berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus ‘bekerja’. Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah. Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain.</p>
<p>Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.<br />
&#8220;Uuhh.. Ci!&#8221; dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit.<br />
Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Verna dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Indah mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Verna.</p>
<p>Aku melihat wajah horny Verna yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Joko pada vaginanya, sementara Taryo hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan penisnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Verna. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Indah yang mengobok-obok vaginaku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.</p>
<p>Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di vaginaku ketika Taryo yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Verna berjalan ke arahku, penisnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke vaginaku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di vaginaku bukan lagi tangan Indah tapi penis Taryo yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.</p>
<p>Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu. Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Indah dan Verna keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun.. ternyata mereka sedang bermain ‘short time’ sambil menungguku.</p>
<p>Indah yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Joko menyodokinya dari belakang sambil memegangi payudaranya yang tidak terbuka. Sementara di pintu mobil, Verna berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Taryo yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Taryo menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi payudara dan pantatnya.<br />
&#8220;Weleh.. weleh.. masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita&#8221; kataku sambil geleng-geleng kepala.<br />
&#8220;Tenang neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok&#8221; tanggap Pak Joko dengan terengah-engah.</p>
<p>Akhirnya setelah 15 menitan Pak Joko melepas penisnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Indah menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Indah.<br />
&#8220;Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur&#8221; kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu.<br />
Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Joko menggeram dan cepat-cepat kuberikan penis itu pada Indah yang segera memasukkan ke mulutnya. Pria itu mendesah panjang sambil menekan penisnya ke mulut Indah, Indah sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Indah tidak terlalu lama mengisapnya.<br />
&#8220;Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah?&#8221; ujar Verna yang sudah merapikan kembali pakaiannya.</p>
<p>Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Ratna yang hari ini absen.</p>
<p>E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan Untuk Teman-temanku &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2954</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Joko merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur. &#8220;Aahh.. oohh.. gua dah mau.. Pak!&#8221; erang Verna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Joko merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur.<br />
&#8220;Aahh.. oohh.. gua dah mau.. Pak!&#8221; erang Verna bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas.<br />
Melihat reaksi Verna, Pak Joko semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Verna, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Verna mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Verna. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Joko semakin liar.</p>
<p>Setelah aku ambruk ke samping, Pak Joko menindih Verna dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Verna, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya.<br />
&#8220;Hhmmpphh.. sluurrpp.. cup.. cup..&#8221; demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Joko cukup pengertian akan kondisi Verna yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu.</p>
<p>Permainan Pak Joko sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Verna terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Verna dikocok dengan jari-jarinya. Verna membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Joko bermain lebih leluasa.<br />
&#8220;Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget!&#8221; ceracauku sambil merem-melek.<br />
&#8220;Oohh.. terus Pak.. kocok terus&#8221; Verna terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya.</p>
<p>&#8220;Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. udah mau&#8221; aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks.<br />
&#8220;Neng Citra.. Neng Verna.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh&#8221; geramnya dengan mempercepat gerakkannya.<br />
Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Verna berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Verna berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Verna menikmati penis Pak Joko. Verna mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati ‘sosis’ itu.</p>
<p>Di tengah kulumannya mendadak Verna merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Joko mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan<br />
&#8220;Sabar, sabar dong neng, bisa putus kontol bapak kalo rebutan gini&#8221; katanya terbata-bata.<br />
Setelah tidak ada yang keluar lagi Verna menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Joko jatuh tepat di dada Verna.</p>
<p>Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Taryo. Aku tiba di kolam melihat Taryo sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Taryo dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Taryo yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu.<br />
&#8220;Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih?&#8221; sapaku.<br />
&#8220;Edan Ci.. gua sampe klimaks tiga kali.. aahh!&#8221; desah Indah tak karuan.<br />
&#8220;Neng.. temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi&#8221; komentar Taryo sambil terus menggenjot.</p>
<p>Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Taryo menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Taryo menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Taryo. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Taryo memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka.<br />
&#8220;Sini neng, mendingan dipuasin pake kontol saya aja daripada ngocok sendiri&#8221; .</p>
<p>Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya.<br />
&#8220;Gila nih kontol, masih keras juga..udah keluar berapa kali tadi?&#8221; tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih ‘lapar’ itu.<br />
&#8220;Baru sekali tadi.. abis saya masih nungguin neng sih&#8221; godanya saambil nyengir.<br />
Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung.</p>
<p>Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Taryo ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Taryo mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya.</p>
<p>Kalau dibandingkan dengan Pak Joko, memang sodokan Taryo lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Joko yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga.. ternyata si Verna, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Taryo yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Taryo memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.</p>
<p>Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Taryo yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Verna dan Pak Joko sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.</p>
<p>Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Verna, filenya akan disimpan dalam komputer Verna untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Joko dan Taryo kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Indah melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Indah.</p>
<p>Indah sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Taryo menyusupkan tangannya ke kimono Indah meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Joko menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Indah dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Indah terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Taryo yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Joko dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Joko menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Indah, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Indah tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Taryo ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Verna dengan kamera-HP nya.</p>
<p>Ke bagian 3</p>
<p>Oleh: andacc@kittymail.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan Untuk Teman-temanku &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2952</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Joko dan Taryo (baca: Akibat Berenang Bugil), selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu adalah hari Minggu sebulan setelah peristiwaku di vila bersama Pak Joko dan Taryo (baca: Akibat Berenang Bugil), selama ini aku belum ke sana lagi akibat kesibukan kuliahku. Hari Minggu itu aku pergi ke sana untuk refreshing seperti biasa karena Seninnya tanggal merah atau libur. Kali ini aku tidak sendiri tapi bersama 2 orang teman cewekku yaitu Verna dan Indah, kami semua adalah teman akrab di kampus, sebenarnya geng kami ini ada 4 orang, satu lagi si Ratna yang hari ini tidak bisa ikut karena ada acara dengan keluarganya.</p>
<p>Kami sama-sama terbuka tentang seks dan sama-sama penggemar seks, Verna dikaruniai tubuh tinggi semampai dengan buah dada yang bulat montok yang membuat pikiran kotor para cowok melayang-layang, beruntunglah mereka karena Verna tidak sulit diajak ‘naik ranjang’ karena dia sudah ketagihan seks sejak SMP. Sedangkan Indah mempunyai wajah yang imut dengan rambut panjang yang indah, bodynya pun tidak kalah dari Verna walaupun payudaranya lebih kecil, namun dibalik wajah imutnya ternyata Indah termasuk cewek yang lihai memanfaatkan cowok, sudah berkali-kali dia ganti pacar gara-gara sifat materenya. Sedangkan aku sendiri sepertinya kalian sudah tahulah cewek seperti apa aku ini dari cerita-ceritaku dulu.</p>
<p>Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Verna protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Verna karena pacarnya juga tidak boleh diajak.<br />
&#8220;Emangnya lu ngundang siapa aja sih Ci, masa si Chevy aja ga boleh ikutan?&#8221; kata Indah.<br />
&#8220;Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih&#8221; timpal Verna.<br />
&#8220;Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh&#8221;.<br />
Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Joko dan Taryo.</p>
<p>Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Joko lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Joko tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Joko seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Verna yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Taryo. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore.</p>
<p>&#8220;Eh.. sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk&#8221; ajakku pada mereka.<br />
Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya.<br />
&#8220;Wei.. gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana?&#8221; tegur Indah.<br />
&#8220;Iya Ci, lagian kan kalo si tua Joko itu dateng gimana tuh&#8221; sambung Verna.<br />
&#8220;Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Joko udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti&#8221; bujukku sambil menarik tangan Verna.<br />
Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Verna baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun.</p>
<p>Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono.<br />
&#8220;Ci, sekalian ambilin kita minum yah&#8221; pinta Verna.<br />
Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air.<br />
&#8220;Ok, it’s the showtime&#8221; gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Joko dan Taryo segera kesini karena pesta akan segera dimulai.</p>
<p>&#8220;Iya neng, kita segera ke sana&#8221; sahut Taryo sambil menutup gagang telepon.<br />
Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka.<br />
&#8220;Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng&#8221; kata Pak Joko.<br />
&#8220;Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng&#8221; ujar Taryo merujuk pada Indah.<br />
&#8220;Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok&#8221; kataku &#8220;yang penting sekarang surprise buat mereka dulu&#8221;.<br />
Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Verna. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Verna masih berendam di air.</p>
<p>&#8220;Ver, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih&#8221; pintaku padanya.<br />
&#8220;Lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana&#8221;.<br />
Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Joko dan Taryo yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Verna memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah.<br />
&#8220;Kenapa Ci, ada perlu apa emang?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok&#8221; jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka.<br />
Sebelum Verna sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Verna yang terkejut tentu saja meronta-ronta, namun pemberontakan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu.</p>
<p>Pak Joko dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Taryo berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Verna.<br />
&#8220;Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng&#8221; komentar Taryo sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Verna, diperlakukan seperti itu Verna cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Joko begitu kokoh.<br />
&#8220;Hei, jangan rakus dong Tar, dia kan buat Pak Joko, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana&#8221; kataku padanya.<br />
Mengingat kembali sasarannya semula, Taryo menurunkan kembali kaki Verna dan bergegas menuju ke kolam.<br />
&#8220;Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu&#8221; godaku.</p>
<p>Setelah Taryo keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Joko langsung menghempaskan dirinya bersama Verna ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Taryo. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Taryo, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya.<br />
&#8220;Jangan.. tolong!&#8221; jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Taryo.<br />
Taryo dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Taryo menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Taryo yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Taryo mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Taryo menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Taryo memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya.</p>
<p>Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Joko dan Verna untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Verna juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Joko. Waktu aku menghampiri mereka Pak Joko sedang menjilati paha mulus Verna sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Verna.<br />
&#8220;Aduh Ci.. tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini.. ahh!&#8221; kata Verna ditengah desahannya.<br />
&#8220;Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong&#8221; kataku seraya melumat bibirnya.</p>
<p>Aku berpagutan dengan Verna beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Joko mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Verna secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Verna tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara.<br />
&#8220;Hhhmmhh.. tetek Neng Verna ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng&#8221; kata Pak Joko disela aktivitasnya.<br />
Memang sih diantara kami bereempat, payudara Verna termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Joko pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Verna ditelan olehnya.</p>
<p>Puas menetek pada Verna, Pak Joko bersiap memasuki vagina Verna dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Verna dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu.<br />
&#8220;Ouch.. sakit Ver, duh kasar banget sih babu lu&#8221; Verna meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Joko mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu.<br />
&#8220;Tahan Ver, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja&#8221; kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Joko.<br />
Pak Joko menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Verna pun tidak bisa menahan jeritannya, Verna kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Joko mulai menggarap Verna dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Verna menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh..aku mendesah merasakan jari-jari Verna menggerayangi kemaluanku.</p>
<p>Aku lalu naik ke wajah Verna berhadapan dengan Pak Joko yang sedang menggenjotnya. Verna langsung menjilati kemaluanku dan Pak Joko menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Verna, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Verna pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Verna juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: andacc@kittymail.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kejutan-untuk-teman-temanku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Nyaris Jadi Gigolo &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-nyaris-jadi-gigolo-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-nyaris-jadi-gigolo-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:18:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2900</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 &#8220;Tunggu dulu! Aku sedang menunggu seseorang, bisa kan sabar sebentar?&#8221; kata Riva sambil lagi-lagi ia melongok keluar seolah-olah menanti seseorang. Sejak beberapa saat yang lalu, Riva memang terlihat agak gelisah, ia berulang kali menelepon dan keluar masuk ruangan. Akhirnya menjelang jam tiga, aku baru tahu siapa yang ditunggu oleh Riva. Orang itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu! Aku sedang menunggu seseorang, bisa kan sabar sebentar?&#8221; kata Riva sambil lagi-lagi ia melongok keluar seolah-olah menanti seseorang. Sejak beberapa saat yang lalu, Riva memang terlihat agak gelisah, ia berulang kali menelepon dan keluar masuk ruangan.</p>
<p>Akhirnya menjelang jam tiga, aku baru tahu siapa yang ditunggu oleh Riva. Orang itu ternyata adalah seorang lelaki dewasa berusia sekitar 35 tahunan, Riva memperkenalkannya pada kami sebagai rekan bisnis Papanya yang mempunyai art shop di daerah Bedugul. Namanya sebut saja Om Richard. Sekalipun usianya cukup jauh di atas kami ternyata Om Richard orangnya asyik juga, malahan sore itu ia tak hanya bicara bisnis saja dengan Riva melainkan ia juga sempat mengobrol dengan kami bertiga tentang banyak hal, masa remajanya bahkan sampai tentang film-film Hollywood yang baru dirilis. Penampilannya juga terkesan funky untuk orang-orang seusianya yang hampir menginjak kepala empat.</p>
<p>&#8220;Kalian mau mampir ke tempat Om di Baturiti?&#8221; ajak Om Richard kemudian di akhir obrolan kami sore itu. Kebetulan, arah perjalanan pulang dari Bedugul melewati desa Baturiti seperti yang disebutkan om Richard. Jadi, kami bertiga pun setuju untuk mampir sebentar di rumah om Richard. Om Richard dengan mobilnya berjalan lebih dahulu, sementara kami bertiga menyusul di belakangnya.</p>
<p>&#8220;Gila, suka ngebut juga tuh om!&#8221; ujar Riva ketika mobilnya jauh tertinggal di belakang Om Richard.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, kami tiba juga di rumah yang diakui sebagai rumah om Richard. Atau lebih tepatnya bukan rumah tinggal, melainkan sebuah rumah peristirahatan atau yang biasa disebut villa, karena om Richard dan keluarganya juga tinggal di Denpasar. Lokasinya memang tidak di pinggir jalan besar, melainkan masih harus masuk melewati perkampungan dan menempuh jarak selama kurang lebih 20 menit perjalanan dari jalan raya. Tempatnya sangat sunyi dan seandainya hari tidak berkabut, pastilah dari tempat itu bisa dinikmati pemandangan barisan pegunungan yang sangat indah.</p>
<p>&#8220;Berapa beli villa ini, om?&#8221; tanya Mario penasaran setelah kami memasuki bangunan mungil yang asri dan nyaman itu.</p>
<p>&#8220;Delapan ratus! Kebetulan dulunya villa ini punya temen om sendiri, orang bule!&#8221;</p>
<p>Om Richard mengantar kami mengelilingi setiap sudut rumah itu sampai ke pekarangan belakang dimana terdapat taman yang tertata rapi dan sebuah kolam renang. Sesudah itu, ia menyuruh kami duduk di ruang tengah sambil memutarkan sebuah laserdisc untuk kami.</p>
<p>&#8220;Kalian mau menginap? Om kebetulan enggak pulang malam ini!&#8221; ajak Om Richard sambil menyodorkan tiga kaleng softdrink untuk kami.</p>
<p>&#8220;Enggak lah, Om. Thanks. Hari ini kita sudah keluar seharian, kalau menginap, takutnya nanti Papa marah!&#8221; tutur Riva.</p>
<p>&#8220;Alaa, Papamu itu orangnya pengertian banget kok! telepon aja, kasih tahu kalau kamu nginap di tempat om Richard semalam. Gimana?&#8221;</p>
<p>Riva memandang Mario dan ke arahku secara bergantian, untuk minta pendapat kami. Mario setuju, karena kebetulan ia di Bali tinggal sendiri di rumah kontrakannya, jadi tidak ada yang perlu dimintai ijin. Lalu bagaimana denganku? belum tentu om mengijinkan aku menginap di tempat om Richard, tapi akhirnya kuputuskan untuk mencoba menghubungi om lewat telepon. Singkat cerita ternyata usahaku berhasil, om-ku mengijinkan.</p>
<p>Sebelumnya, tak pernah terpikir olehku bahkan mimpi pun tidak, kalau ternyata hari itu aku bukan hanya bisa merayakan hari ulang tahunku yang kedua puluh dengan sedikit pesta, tetapi juga merupakan hari pertamaku menikmati apa disebut orang sebagai &#8220;Kenikmatan&#8221; dunia, melepaskan gairah nafsu muda yang menggelora dan melakukan sesuatu yang sebenarnya tabu dan menjijikkan di mata masyarakat dan agama.</p>
<p>Aku benar-benar tak bisa mengontrol diri lagi saat Om Richard mulai mempreteli pakaianku satu per satu sampai tak ada seutas benang pun yang melilit di tubuhku, aku dibuat telanjang bulat, seperti yang dilakukannya juga terhadap Riva dan Mario bergantian. Saat itu kami bertiga sebenarnya sedang asyik menikmati tontonan laserdisc, namun kami bertiga terpancing oleh bujuk rayu dan kata-kata om Richard yang mengarah pada hal-hal yang berbau sex.</p>
<p>Om Richard membimbing tanganku untuk melucuti pakaiannya satu persatu, mulanya aku merasa begitu canggung karena ini adalah pertama kalinya. Ternyata di balik pakaiannya, ia menyimpan kegagahan seorang lelaki dengan badan yang kekar, kulit putih mulus, dan dada yang bidang dan berbulu tipis. Ia nyaris menjadi seorang lelaki yang sempurna, karena selain hidupnya mapan, ia punya penampilan fisik yang mempesona.</p>
<p>Malam itu adalah malam yang panjang bagi kami berempat, kami bergumul satu sama lain dengan alas seadanya, di atas karpet maupun di sofa.</p>
<p>&#8220;Arg!&#8221; desahku ketika batang kemaluanku dimasukkan ke dalam mulut Riva dan kemudian dihisapnya sambil dinikmatinya seperti ketika menjilati sebuah es krim. Begitupun sebaliknya, ganti aku yang menghisap batang kejantanan Riva yang panjangnya tak kurang dari lima belas senti itu, menjilatinya, bahkan sesekali diselingi gigitan-gigitan kecil di seputar kulit buah pelirnya yang berwarna kemerahan itu. Riva menggesek-gesekkan ujung penisnya ke wajahku, sesekali ia mengocoknya dan kemudian ganti aku yang mengocoknya, sambil sesekali kumasukkan ke dalam mulutku.</p>
<p>Sementara itu di atas karpet, Om Richard dan Mario bergumul dengan gaya tersendiri, mereka saling menindih dan berpagutan dengan liar. Mario bahkan tak kalah hebatnya dari Om Richard yang sudah berpengalaman, ia cukup mampu mengimbangi permainan om Richard, setidaknya itu yang dapat kuamati sesaat setelah aku memandang ke arah mereka berdua. Melihat adegan itu, aku malah makin terangsang saja, aku tak pernah tahu sebelumnya kalau sesama lelaki bisa menikmati permainan semacam itu, sepertinya asyik juga jika kucoba dengan Riva.</p>
<p>Kami berempat memiliki banyak waktu malam itu untuk melakukannya, sambil mencoba gaya-gaya yang pernah kami tonton dari VCD seperti layaknya hubungan suami istri, atau mungkin lebih dahsyat dari sekedar hubungan suami istri. Malah ada beberapa gaya, yang kuanggap sepertinya hanya binatang yang pernah melakukannya. Sampai jam dua pagi, kami menikmati pertempuran semalam itu, sesudah itu kami pun tertidur pulas karena kecapekan sampai keesokan harinya, karena peristiwa semalam itu pula, sampai-sampai kami bangun kesiangan keesokan harinya.</p>
<p>Hari kedua, setelah kami bangun kesiangan, kami berempat memutuskan untuk berenang bersama di kolam belakang. Aku senang sekali, karena memang sudah lama aku tak berenang. Kemarin sore, ketika kulihat kolam renang ini, memang sempat terlintas di pikiranku keinginan untuk berenang.</p>
<p>Setelah puas berenang, aku tidur-tiduran di kursi malas yang ada di sisi kolam, tepat di sebelahku tampak om Richard yang juga sedang berjemur dengan hanya memakai celana renangnya di atas kursi malas.</p>
<p>&#8220;Permainanmu hebat! Om tidak yakin kalau kamu belum pernah melakukan hal itu sebelumnya,&#8221; kata Om Richard berbasa-basi. Aku hanya tersenyum mendengarnya, untuk beberapa saat aku hanya tutup mulut, aku tak tahu kesan apa yang harus kuceritakan mengenai kejadian semalam.</p>
<p>&#8220;Om dengar-dengar kau belum dapat pekerjaan yah?&#8221; tanya Om Richard lagi.</p>
<p>&#8220;Yah begitulah, Om. Sudah mencoba beberapa kali, namun gagal terus. Mencari pekerjaan memang tak semudah membalik telapak tangan, benar kan Om?&#8221;</p>
<p>&#8220;Om dulu juga mulanya seperti kamu, namun tak ada salahnya berusaha. Mungkin saatmu belum tiba aja. Kau harus bisa bersabar sekalipun itu sulit. Tapi, kalau kamu mau, om punya tawaran buat kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kerja apa, Om?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kerja untuk Om. Maaf, bukannya om bermaksud melecehkan kamu atau apa, Om tawari kamu kalau mau jadi simpanan Om. Terus terang om suka kamu, i like your body and your performance!&#8221; puji Om Richard sambil mengelus tanganku.</p>
<p>Bagai tersambar petir di siang bolong, aku kaget mendengar keterus-terangan Om Richard itu. Aku tak berani langsung menjawabnya, aku tak mau terburu-buru dan keliru mengambil keputusan.</p>
<p>&#8220;Beri saya waktu untuk berpikir, Om! Mungkin besok lusa saya akan kasih jawabannya!&#8221; sahutku ragu-ragu.</p>
<p>&#8220;Oke, kalau nanti om kasih kartu nama Om. kamu hubungi om, ok! Kalau kamu bersedia, biaya hidup kamu jadi tanggungan Om! Kalau menurut om sih, tawaran ini menarik dan pekerjaan yang gampang dan menyenangkan, tapi terserah kau!&#8221;</p>
<p>Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya. Kuakui memang tawaran yang baik dan menarik di saat yang tepat, pikirku. Tetapi sesuatu yang baik dan menarik, belum tentu benar, itulah masalahnya mengapa aku tak bisa langsung menjawabnya saat itu juga.</p>
<p>Setelah kurenungkan sendiri lama dua hari, aku memutuskan menolak tawaran tersebut. Kedua sahabatku, Riva dan Mario tak pernah kuberitahu tentang tawaran itu karena aku tak pernah cerita pada mereka. Kini, aku bersyukur karena setahun yang lalu, aku pernah mengambil keputusan yang tepat dan benar.</p>
<p>Setelah aku menolak tawaran Om Richard, mungkin Yang Di atas iba padaku, sehingga aku diberi pekerjaan sebagai seorang room boy di salah satu hotel berbintang di pulau Dewata. Bermula dari titik nol, itulah keadaan saat itu. Aku betul-betul memulai pekerjaanku dari bawah. Namun, lambat laun keadaan ekonomiku mulai membaik sampai detik ini. Paling tidak aku punya penghasilan dan pekerjaan yang tetap dan layak, dan harta yang lebih dari sekedar cukup.</p>
<p>*****</p>
<p>Demikian sekelumit kisah perjalanan hidupku, aku senang berkoresponden dengan banyak sahabat. Jika kalian berminat untuk mengenalku lebih jauh, silahkan berkirim email padaku. Pasti kubalas jika ada kesempatan. Salam, Reyno.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: reyno_cute@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-nyaris-jadi-gigolo-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Nyaris Jadi Gigolo &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-nyaris-jadi-gigolo-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-nyaris-jadi-gigolo-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2898</guid>
		<description><![CDATA[Nyaris binasa..! Yah, barangkali kalimat itulah yang bisa menggambarkan keadaanku setahun silam, atau lebih tepatnya awal bulan Agustus tahun lalu. Aku jelas-jelas belum lupa dan tak akan pernah melupakan kejadian yang hampir menenggelamkanku dalam kehidupan bejat itu. Aku sebenarnya tak tahu bagaimana harus menceritakannya, aku tak pandai bercerita dan disamping itu aku juga bingung harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nyaris binasa..! Yah, barangkali kalimat itulah yang bisa menggambarkan keadaanku setahun silam, atau lebih tepatnya awal bulan Agustus tahun lalu. Aku jelas-jelas belum lupa dan tak akan pernah melupakan kejadian yang hampir menenggelamkanku dalam kehidupan bejat itu. Aku sebenarnya tak tahu bagaimana harus menceritakannya, aku tak pandai bercerita dan disamping itu aku juga bingung harus memulainya dari mana. Tetapi aku akan coba, mungkin tak seindah karya seorang pujangga dan semanis buah tangan seorang penulis, namun aku akan tetap mencobanya.</p>
<p>Dalam batinku, aku rasa kalau aku harus menumpahkannya dalam sebuah tulisan untuk melepaskan sedikit ganjalan di batinku. Penting kuingatkan sebelumnya, bahwa tulisan ini dibuat tanpa bermaksud membawa pikiran pembaca kepada hal-hal negatif dan pornografi. Maafkan aku sebelumnya, jika pikiran anda ternyata tak terkontrol ketika meresapi cerita ini. Sejujurnya, aku dapat katakan disini bahwa dalam tulisan ini tak melulu berisi hal-hal yang negatif dan ilmu anatomi tubuh manusia saja, melainkan lebih lagi menyimpan sebuah pelajaran yang berharga tentang apa yang disebut &#8220;Ilmu kehidupan.&#8221;</p>
<p>Aku tahu, pasti ada beberapa pembaca yang akan langsung menutup page ini ketika membaca kata-kataku di atas, khususnya para pembaca bernafsu besar yang selalu ingin lebih dan lebih lagi dalam hal-hal seperti itu (kalian tahu sendirilah, maksudnya! Oke?). Tapi tak apalah, aku bisa memakluminya sebagai orang yang pernah mengalami saat-saat dimana pikiran ini seolah-olah hanya dipenuhi oleh sex, sex dan sex. Namun tak lupa juga kuucapkan terima kasih bagi kalian yang berani meluangkan sedikit waktu dan uang untuk membayar biaya warnet hanya demi membaca tulisan singkat yang sedikit acak-acakan ini.</p>
<p>Oke, sebelumnya aku ingin sampaikan sedikit perkenalan. Namaku sebut saja Reino, beberapa hari lagi aku berulang tahun yang kedua puluh satu. Kata orang, umur dua puluh satu adalah titik balik awal kedewasaan seorang laki-laki. Aku lahir dan dibesarkan di suatu kota yang maaf saja tak bisa kusebutkan, sebut saja kota M. Namun, sejak SMU aku tinggal di pulau Dewata, kumpul dengan keluarga om-ku. Jujur saja, sebetulnya awalnya aku merasa terpaksa tinggal bersama keluarga besar om-ku seperti umumnya anak pungut yang lain. Namun, aku harus menjalaninya untuk bisa terus melanjutkan sekolah setelah kedua orang tuaku tak lagi punya pekerjaan tetap.</p>
<p>Tetapi lambat laun, aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan tempat tinggal baruku. Apalagi, setelah aku mendapatkan banyak teman dan sahabat baik di kota dimana aku tinggal kini. Dua orang sahabatku yang paling baik adalah Riva dan Mario. Aku dan Mario sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMU kelas dua, karena kebetulan dia adalah salah satu teman sekelasku. Sedangkan, Riva kukenal dari Mario. Kalau mendengar ceritanya, Riva masih memiliki darah turunan Swiss bercampur Bali.</p>
<p>Memang, tampangnya tak mirip orang indonesia atau tampang melayu seperti yang banyak berkeliaran di jalanan. Kulitnya lebih putih dan hidungnya bangir seperti bule. Kalau dibandingkan di antara kami bertiga, memang Riva-lah yang paling cute dengan tampang indonya itu. Mario pun sebenarnya juga tampan, meski kulitnya agak sedikit gosong, but he is black sweet! Sedangkan aku, bagaimana yah? aku tak bisa mendeskripsikan diriku sendiri. Tapi yang jelas aku ada keturunan chineese dan berbadan lebih kekar dibandingkan kedua sahabatku agak kerempeng itu, karena kebetulan aku memang sport mania.</p>
<p>Hari itu aku ingat betul aku sedang mencuci baju ketika Tante memanggilku karena Mario dan Riva datang mencariku. Terkesan aneh, karena tak biasanya Mario atau pun Riva datang tanpa mengabariku sebelumnya, pagi-pagi lagi! Seingatku, waktu itu sekitar jam delapanan, mungkin lebih sedikit. Apalagi jam segitu, mereka biasanya kuliah. Kalau seperti aku sih wajar kalau ada di rumah tiap pagi, karena aku tidak punya kesempatan untuk bisa kuliah seperti Riva dan Mario, aku juga belum bekerja saat itu. Mencari pekerjaan bukannya hal yang mudah bagiku, apalagi hanya lulusan smu dan tidak punya ketrampilan apa-apa, selain daripada menjual tampang dan menebar pesona, itu pun kalau bisa digolongkan ke dalam salah satu bentuk ketrampilan.</p>
<p>&#8220;Kok tumben? Ada apa?&#8221; tanyaku heran ketika menemui mereka di ruang tamu.</p>
<p>Seperti biasanya, bahkan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa, mereka berdua tampak memasang muka kecut. Aku malah bingung melihatnya, kupikir ada suatu masalah yang begitu berat yang menimpa mereka atau gank kami. Karena beberapa hari yang lalu, kami bertiga memang sempat tersangkut masalah dengan penduduk desa ketika mobil Riva menyerempet seorang laki-laki di desa itu.</p>
<p>&#8220;Kita ngomong di belakang saja yuk!&#8221; bisik Mario sambil memberi isyarat dengan kedipan matanya, karena Tante tampak masih sibuk bekerja di ruang tengah dengan kain pelnya.</p>
<p>Kami bertiga pun lantas menuju kebun belakang yang tidak terlalu luas itu. Tetapi setibanya di kebun belakang, mendadak dari arah belakang, Riva mengguyurku dengan air dingin yang kemudian diikuti oleh derai tawa ngakaknya. Mario juga terpingkal-pingkal menyaksikan ulah Riva dan tampangku yang langsung kecut seketika.</p>
<p>&#8220;Happy Birthday, bro!&#8221; pekik mereka berdua sambil bergantian memelukku.</p>
<p>Aku sungguh tidak ingat, kalau hari itu adalah hari ulang tahunku. Luar biasanya, aku malah diingatkan oleh kedua sahabat baikku itu. Aku hanya bisa tersenyum senang, meski saat itu aku jadi salah tingkah. Setiap tahun, aku memang tak pernah ingat akan hari ulang tahunku. Aku ingat sekali, terakhir aku mengingat hari ulang tahunku adalah ketika berumur 12 tahun, ketika aku meminta sebuah hadiah mobil tamiya pada Mamaku, meski beliau tak membelikannya karena tak ada uang. Saat itu aku marah sekali, aku kecewa dan aku memutuskan untuk tidak akan mengingat lagi hari ulang tahunku sejak saat itu, karena aku pikir tak ada gunanya mengingat hari ulang tahun jika tak ada kue tart dan hadiah-hadiah. Bahkan saat itu, dengan gusar, Mamaku berkata: &#8220;Jika kau ngotot ingin kado, minta saja pada sinterklas!&#8221;. Kata-kata itulah yang justru membuat aku makin bertambah kecewa, karena sampai detik ini aku belum menerima kiriman kado satu tamiya-pun dari sinterklas.</p>
<p>&#8220;Kau tak ada acara penting hari ini kan? tak ada wawancara lagi? kita ke kebun raya yuk!&#8221; ajak Riva kemudian. Kebetulan, hari itu aku memang tak ada rencana keluar rumah atau pun wawancara kerja yang tak pernah membuahkan hasil selama ini.</p>
<p>Aku sih mengiyakan saja, diajak jalan-jalan masak mau ditolak? apalagi, mereka berdua punya maksud mulia untuk membuat hari ulang tahunku saat itu menjadi spesial, setidaknya lebih mengesankan daripada tahun-tahun sebelumnya yang nyaris senantiasa berlalu tanpa kesan. Aku pun segera ke kamarku untuk berganti pakaian, memakai setelan kaos lengan panjang dan celana jeans kain warna krem dan jaket dari bahan yang sama. Hanya pakaian itu yang menurutku paling bagus dan paling aku suka dari beberapa potong pakaian yang aku punya, kebetulan keduanya baru kusetrika semalam.</p>
<p>Di dalam mobil mercy E320 milik Riva, Mario duduk di depan, di samping Riva, sementara aku duduk di jok belakang. Lagaknya sih sepertinya aku yang menjadi bos di dalam mobil itu, bersama dengan sopir dan asisten pribadi yang duduk di jok depan. Tapi siapa yang menduga, kalau yang duduk di belakang, ternyata adalah yang paling kere alias paling melarat di antara mereka bertiga. Lucu juga, tetapi memang seperti itulah realita hidup, ada orang yang diberi kesanggupan untuk membeli mobil mewah namun tak bisa menikmatinya, sedangkan di sisi lain, ada yang bisa menikmati nikmatnya duduk di dalam mobil mewah, namun tak diberi kesanggupan untuk dapat membelinya. Tapi itu hanya sekedar basa-basi saja, aku hanya bercanda, aku tak lantas jadi lupa diri karena duduk di dalam mobil mewah dan punya teman-teman anak pengusaha kaya, aku tahu siapa diriku. &#8220;Be myself&#8221; is a best way in my life.</p>
<p>Setelah sekitar satu jam perjalanan dari Denpasar, kami pun tiba di kebun raya Bedugul. Terakhir kami mengunjungi tempat itu kurang lebih delapan bulan yang lalu saat keluarga Mario berakhir pekan di sana, kebetulan aku dan Riva juga ikut waktu itu.</p>
<p>Tak ada yang begitu istimewa yang dapat kuceritakan selama kami berada di dalam &#8220;Hutan&#8221; itu selain daripada kegembiraan kami bertiga sambil menikmati udara sejuk dan suasana tenang yang jauh dari hiruk pikuk suara mesin kendaraan. Sesuatu yang terasa menggelitik dan cukup seru, paling-paling hanyalah ketika kami berulah menjadi agen spionase mengintip orang pacaran di tempat itu. Seru dan lucu, sekalipun kami sendiri masing-masing sudah pernah merasakannya!</p>
<p>Menjelang pukul satu siang, kami bertiga keluar dari dari kebun raya, namun tak langsung pulang. Riva mengajak makan siang di salah satu resto yang ada di dekat tempat itu.</p>
<p>&#8220;Ulang tahun tak meriah tanpa acara makan-makan kan?!?&#8221; bisik Riva.</p>
<p>Aku mengangguk, &#8220;Asal bukan aku yang bayar saja!&#8221; sahutku yang disambut tawa oleh mereka berdua.</p>
<p>Kami pun masuk ke dalam resto berarsitektur bali itu, Mario merangkulku seperti yang biasa dilakukannya untuk menunjukkan keakrabannya. Bagiku hal seperti itu sudah biasa, bahkan kadangkala di depan umum kami bertiga bisa berlagak semesra orang pacaran jika naluri usil kami muncul, tetapi tentu saja dalam batas-batas sopan dan wajar, kami juga tak mau orang-orang di sekeliling kami sampai berpikiran macam-macam tentang kami, apalagi kalau mereka sampai nyebur selokan karena terpana saat melihat kami, kasihan kan?</p>
<p>Pasti makanan disini mahal sekali, pikirku. Apalagi setelah di depan mataku tersaji sepiring besar Bistik daging, beberapa potong paha burung dara goreng Kanton, soup asparagus, serta beberapa gelas juice dan pencuci mulut. Yang jelas, kami bertiga makan sampai perut kami tak muat lagi menampung makanan saking kenyangnya.</p>
<p>&#8220;Kita pulang sekarang?&#8221; tanyaku setelah kulirik jam dinding di dalam restoran sudah menunjukkan jam setengah tiga sore.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: reyno_cute@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-nyaris-jadi-gigolo-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Aku, Pamanku Dan Mas Heru</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/antara-aku-pamanku-dan-mas-heru.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/antara-aku-pamanku-dan-mas-heru.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3085</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini baru saja aku alami saat sedang berlibur sekolah di rumah pamanku, yaitu pada awal Juli 2003, pada liburan sekolah tadi aku berlibur kerumah pamanku, namun sampai disana ternyata yang ada hanya pamanku sendiri, sementara istri dan sepupuku pada berlibur kerumah nenek. Pada suatu hari seperti biasa sehabis aku jalan-jalan aku langsung berniat mandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini baru saja aku alami saat sedang berlibur sekolah di rumah pamanku, yaitu pada awal Juli 2003, pada liburan sekolah tadi aku berlibur kerumah pamanku, namun sampai disana ternyata yang ada hanya pamanku sendiri, sementara istri dan sepupuku pada berlibur kerumah nenek. Pada suatu hari seperti biasa sehabis aku jalan-jalan aku langsung berniat mandi sore karena jam telah menunjukan pukul 17:45, namun saat aku melintas didepan kamar pamanku aku mendengar suara-suara rintihan bercampur dengan desahan laki-laki, karena rasa penasaran aku mencoba mengintip dari lubang kunci kamar yang mana ternyata pintu itu tidak terkunci, akhirnya perlahan aku buka sedikit pintu kamar itu.</p>
<p>Alangkah terkejutnya aku, betapa tidak didalam kamar kulihat Mas Wanto (nama samaran) begitulah biasanya aku memanggil Pamanku dalam keadaan telanjang bulat sedang dicumbui oleh Mas Heru teman pamanku yang juga seorang Pilot salah satu maskapai penerbangan nasional, kulihat dengan jelas Mas Heru begitu ganasnya mencumbui pamanku yang terlihat pasrah terhadap perlakuan Mas Heru terhadap dirinya, ingin aku beranjak dari situ namun rasanya berat sekali, dan ternyata tanpa kusadari semakin lama aku melihat percumbuan Pamanku dan Mas Heru akupun mulai terangsang, kurasakan penisku mulai bangun dan panas.</p>
<p>Akhirnya aku putuskan untuk pergi dari situ dan mandi, selesai mandi aku terus terbayang kejadian yang baru seumur hidup kulihat, pikiranku terus melayang tak karuan, aku memutuskan untuk tidur saja setelah menutup semua pintu dan jendela, namun pada jam 21:15 aku terbangun, entah kenapa aku langsung melangkah menuju kearah kamar pamanku yang dari sore belum ada yang keluar kamar, perlahan kubuka pintu kamar itu, kulihat Pamanku lelap tidur dengan hanya memakai kaos singlet dan celana jeans, sedang Mas Heru tertidur dalam keadaan telanjang dan hanya menggunakan selimut saja, melihat keduanya terlelap timbul pikiranku untuk mencoba masuk kamar itu.</p>
<p>Perlahan aku masuk kamar dan berdiri memandangi Pamanku dan Mas Heru yang lelap tertidur, memang kuakui kedua pria ini sama-sama ganteng dan menawan dengan kulit mereka yang putih bersih hingga menambah ketampanan mereka, lebih-lebih Mas Heru yang seorang Pilot, dagunya yang kebiru-biruan bekas cukuran benar-benar menyiratkan kejantanan yang luar biasa, dadanya yang putih dengan bulu lebut serta puting susunya yang merah membuatku tidak dapat menahan nafsuku, perlahan kubuka selimut yang menutupi tubuh Mas Heru, begitu melihat tubuh Mas Heru yang terlentang dalam keadaan telanjang bulat aku tak dapat menguasai diri lagi, perlahan aku elus kontolnya yang masih belum ngaceng, tanganku gemetaran saat itu, karena ini adalah pertama kali aku mengelus kontol seorang laki-laki yang sudah dewasa, aku tak perduli jika nantinya Mas Heru bangun karena ulahku, kemudian aku usap jembutnya yang hitam dan lebat, dapat kurasakan sisa-sisa air mani yang masih menempel pada rambut kemaluan Mas Heru, lalu aku mulai beranjak menjelajahi tubuh Mas Heru dengan bibir dan lidahku, kujilati perut dan dada bidang Mas Heru.</p>
<p>Sewaktu sedang asyik menjilati serta mengisap puting susu Mas Heru, Mas Heru terbangun dan aku jadi serba salah, aku takut kalau Mas Heru marah dengan perlakuanku terlebih kalau sampai pamanku tahu, namun ternyata Mas Heru tidak marah, dia hanya terseyum dan malah menciumku dengan ganas, mendapat perlakuan seperti itu aku tidak mau membuang kesempatan lagi, ku gigit kecil kuping Mas Heru sambil ku bisikan sesuatu&#8221;,Mas Heru aku ingin menikmati seperti yang Mas Heru berikan pada Pamanku&#8221;. Mas Heru tersenyum mendengarnya dan terus menciumi-ku.</p>
<p>Ku dorong tubuh kekar itu hingga kembali terlentang diatas ranjang, lalu kutindih Mas Heru dan kujelajahi tubuhnya dengah lidahku, kulihat Mas Heru mendesis perlahan sambil matanya terpejam menikmati perlakuanku, kuangkat tangan Mas Heru, dan sambil memeluk tubuh Mas Heru dari samping tak bosan kucium serta kujilati ketiaknya yang bersih terawat sambil tanganku terus memeras serta mengocok kontol Mas Heru yang sudah membesar dan dan tegak menantang. Mas Heru mengerang kenikmatan hingga akhirnya pamanku terbangun karena ulah kami.</p>
<p>Aku menghentikan kegiatanku karena takut terhadap pamanku, beberapa saat lamanya aku hanya terpaku diam membisu tidak tahu mesti berbuat apa, belum sempat aku bisa berfikir jernih Mas Heru tiba-tiba memeluk pamanku dan menciuminya didepanku, dan tanpa rasa sungkan padaku pamanku membalas perlakuan Mas Heru, kulihat mereka saling pagut dan tangan mereka meremas apa saja pada tubuh yang lain, melihat itu aku tidak dapat berpikir jernih, aku mencoba mendekati mereka yang sedang asyik berpagutan tanpa menghiraukan keberadaanku di dekat mereka.</p>
<p>Tanpa pikir panjang aku beranikan diri bergabung dalam keasyikan mereka, aku tak perdulikan apakah pamanku marah atau apa, yang jelas malam ini aku harus mendapat kepuasan dari mereka. Kupeluk pamanku dari belakang sambil ku jilati telingganya serta perlahan tanganku mengusap perut dan dadanya serta sesekali kuremas kontolnya yang masih terbungkus celana jeansnya, aku terus meremas-remas dada pamanku yang gempal itu,<br />
&#8220;Mas Wanto, aku ingin punyamu Mas?&#8221;</p>
<p>Tanpa menunggu jawaban dari Pamanku aku berpindah kebagian depan, kuremas kontol pamanku yang masih terbungkus celana jeans itu, aku membayangkan bagaimana jika aku bisa menggenggam dan mengulum kontol pamanku sendiri, lalu perlahan kubuka resleting celana Mas wanto yang masih asyik berpagutan dengan Mas Heru, begitu terbuka langsung kugenggam kontol pamanku yang ternyata sudah ngaceng hebat, malam ini aku benar-benar seorang keponakan yang kurang ajar terhadap paman-nya, aku hisap kontol pamanku yang ternyata welcome dengan semua perlakuanku terhadapnya, sambil terus menghisap kontolnya kumasukan tanganku kebalik singletnya, kuraba-raba dadanya serta kupilin-pilin puting susunya yang kecil namun sudah mengeras itu, kudengar lenguhan lirih dari mulut pamanku yang akhirnya dia benar-benar pasrahkan tubuh untuk dinikmati oleh keponakannya, pamanku rebah terlentang diatas ranjang, sementara aku dan Mas Heru secara bergantian menghisap kontolnya dan mengusap jembut pamanku yang lebat hingga merambat keperut dan sedikit di dadanya, aku sangat bahagia sekali karena bisa menikmati tubuh pamanku yang memang benar-benar membuat banyak gadis yang tertarik padanya walaupun pamanku sudah punya anak dan istri.</p>
<p>Selagi Mas Heru sedang bersenang-senang dengan kontol pamanku, aku beranjak naik dan membuka singlet pamanku, kini dia terlentang pasrah dengan keadaan telanjang bulat, kulijati perut pamanku lalu naik kedadanya, kutindih tubuhnya dan kuhisap putingnya secara bergantian, menerima perlakuanku dan Mas Heru pamanku hanya mampu mendesah, melenguh dan mengeliat kenikmatan.</p>
<p>Akhirnya kami rubah posisi, kini aku minta pamanku untuk menghisap kontolku, sementara aku sendiri menghisap kontol Mas Heru yang dari tadi asyik dengan kontol pamanku sambil tanganku tak henti-henti meremas-remas biji kontol pamanku, pokoknya kami saling isap, aku masih belum berani melakukan yang lebih jauh lagi, maklum ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, jadi aku masih ada rasa takut untuk berbuat lebih jauh, akhirnya kami hanya sebatas isap dan raba saja.</p>
<p>hingga akhirnya aku merasakan sudah hampir tiba ke puncaknya,<br />
&#8220;Mas Wanto, aku mau keluar&#8221;.<br />
&#8220;Iya, Heru, aku juga nggak tahan&#8221;.<br />
&#8220;Mas To aku keluar&#8221;.<br />
Akhirnya air maniku keluar didalam mulut pamanku dan langsung ditelan semua oleh pamanku, sementara pamanku dan Mas Heru juga sudah sampai pada puncaknya, kulihat air mani mereka muncrat berbarengan, ohh nikmat sekali Mas to?</p>
<p>Akhirnya malam itu kami menyudahi permainan itu karena Pamanku dan MAs Heru terlalu kecapaian karena bertempur dari siang hingga lewat tengah malam, sementara aku yang baru pertama kali melakukan hal ini tidak mau membuang kesempatan, selagi mereka kelelahan tak henti-hentinya aku memuaskan diriku dengan tubuh mereka, kucumbui mereka secara bergantian, dan mereka membiarkan aku berbuat apa saja terhadap mereka, seolah-olah mereka menyerahkan tubuhnya untuk kunikmati sepuasku hingga akhiranya aku tertidur sambil menindih pamanku.</p>
<p>Begitu terbangun aku melihat Pamanku dan Mas Heru sudah tidak ada diatas ranjang, lalu aku bangun dari tidurku, terdengar olehku suara guyuran air dari arah kamar mandi, aku lalu membuka pintu kamar mandi dan kudapati Mas Heru sedang mandi lalu aku peluk tubuh kekar Pilot tersebut dan kuusap seluruh permukaan tubuhnya yang licin karena sabun itu dengan tanganku, lalu tanganku berhenti pada benda kenyal diantara selakangan Mas Heru yang sedang terkulai, kuremas benda yang semalam kunikmati seperti es mambo itu, kukocok dengan lembut sambil kujilati punggung serta kuraba dadanya, perlahan kontol Mas Heru mulai bergerak mengeras dan besar, langsung saja kusambut kontol itu dengan mulutku, desisan dan lenguhan Mas Heru mengema didalam kamar mandi itu, semakin lama hisapanku semakin kupercepat sambil kupeluk paha Mas Heru mulutku tak lepas dari kontolnya,<br />
&#8220;Oh Rian.. terus, aku suka ini, ayo sayang&#8221;.</p>
<p>Mas Heru terus ngeracau sambil matanya terpejam menikmati permainanku, tak seberapa lama muncul pamanku dengan hanya memakai handuk yang dililitkan dipinggangnya yang kekar itu, melihat itu aku langsung pindah sasaran, kupeluk pamanku dan ku susupkan tanganku kedalam lilitan handuknya, kukocok kontolnya yang ternyata dia tidak memakai celana dalam, akhirnya kami saling menuntaskan nafsu birahi kami bertiga hingga sampai pada klimaks masing masing.</p>
<p>Begitulah kisah pertama dalam hidupku, dan kini aku udah kembali ke Bangku sekolah, namun sejak itu setiap sabtu sore aku jadi rajin ketempat pamanku hanya untuk dapat menikmati kembali tubuh pamanku yang telah benar-benar membuatku ketagihan, karena aku tahu setiap hari sabtu siang istri dan sepupuku sudah berangkat berlibur kerumah nenek dan baru pulang minggu sore. Sehingga malam minggu dan hari minggu siang adalah jadwalku untuk mendapatkan pelayanan sex dari pamanku.</p>
<p>Salam sayang buat pamanku tercinta, kehangatan dan keperkasaanmu tak pernah aku lupakan serta Mas Heru dimanapun berada kapan kita bisa bernostalgia lagi bertiga, gue kanget banget sama Mas Heru dan apalagi dengan kenikmatan yang pernah Mas Heru berikan dulu N salam sayang buat sikecil-nya Mas Heru.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: Adrian_i@telkom.net </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/antara-aku-pamanku-dan-mas-heru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Bersama Dua Pria &#8211; 3</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-3.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:18:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3081</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 2 Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Toni. &#8220;Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh&#8221; desisku tak tertahan. &#8220;Teruss.. Tonn.. aakkhh&#8221; Aku menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 2</p>
<p>Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Toni.<br />
&#8220;Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh&#8221; desisku tak tertahan.<br />
&#8220;Teruss.. Tonn.. aakkhh&#8221;<br />
Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.<br />
&#8220;Ssshh.. nikmat Tonn.. mmpphh&#8221; desahanku semakin menjadi-jadi.<br />
Tak lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.</p>
<p>&#8220;Aauugghh.. Tonn.. pelann&#8221; jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.<br />
Toni menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian—masih sebatas ujungnya—secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Toni.<br />
&#8220;Ooohh.. Tonn.. sshh.. aahh.. enakk Tonn&#8221; desahku lirih.<br />
Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.<br />
&#8220;Enak.. Ver&#8221; tanya Toni berbisik.<br />
&#8220;He ehh Tonn.. oohh enakk.. Tonn.. sshh&#8221;<br />
&#8220;Nikmatin Ver.. nanti lebih enak lagi&#8221; bisiknya lagi.<br />
&#8220;Ooohh.. Tonn.. ngghh&#8221;</p>
<p>Toni terus mengayunkan pinggulnya turun-naik—tetap sebatas ujung kejantanannya—dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam membelah kewanitaanku.<br />
&#8220;Auuhh.. sakitt Tonn&#8221; jeritku saat kejantanannya merobek selaput daraku, rasanya seperti tersayat silet, Toni menghentikan tekanannya.<br />
&#8220;Pertama sedikit sakit Ver.. nanti juga hilang kok sakitnya&#8221; bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.<br />
Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga kemaluanku.</p>
<p>Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kejantanannya dirongga kewanitaanku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.<br />
&#8220;Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Tonn.. empphh&#8221; desahku tak tertahan.<br />
&#8220;Ohh.. Verr.. enak banget punya kamu.. oohh&#8221; puji Toni diantara lenguhannya.<br />
&#8220;Agghh.. terus Tonn.. teruss&#8221; aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.<br />
Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya.<br />
&#8220;Tonii.. oohh.. tekan Tonn.. agghh.. nikmat sekali Tonn&#8221; jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.<br />
Tubuhku mengejang, kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.</p>
<p>Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.</p>
<p>Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Andri, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.<br />
&#8220;Aaargghh.. Verr.. enak banget.. terus Ver.. goyang terus&#8221; erang Toni.<br />
Erangan Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri.. Ohh aku sungguh menikmati semua ini.</p>
<p>Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang kemaluannya.<br />
&#8220;Isep Ver&#8221; pinta Toni, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.<br />
&#8220;Ooohh.. enak Ver.. isep terus&#8221;<br />
Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang kemaluan Andri—yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni—dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun melakukan semua itu.</p>
<p>&#8220;Verr.. terus Verr.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh&#8221; erang Toni.<br />
Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.<br />
&#8220;Aaagghh.. nikmat banget Verr.. isep teruss.. telan Verr&#8221; jerit Toni, lagi-lagi naluriku menuntun agar aku mengikuti permintaan Toni, kuhisap kejantananya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.</p>
<p>Toni beranjak meninggalkan aku dan Andri, sepeninggal Toni aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi &#8216;doggy&#8217; dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.<br />
&#8220;Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh&#8221;<br />
&#8220;Enak banget Drii.. aahh.. oohh&#8221;<br />
Mendengar eranganku Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.</p>
<p>Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.<br />
&#8220;Andrii.. kenapa dicabutt&#8221; protesku.<br />
&#8220;Masukin lagi Dri.. pleasee&#8221; pintaku menghiba.<br />
Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.<br />
&#8220;Andrii.. pleasee.. jangan disitu&#8221; aku menghiba meminta Andri jangan melakukannya.<br />
Andri tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan tenggelam habis didalamnya.</p>
<p>&#8220;Aduhh sakitt Drii.. akhh..!&#8221; keluhku pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Andri.<br />
&#8220;Rileks Ver.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya&#8221; bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.<br />
Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.<br />
&#8220;Aaahh.. aauuhh.. oohh Drii&#8221; erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.<br />
Andri dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Andri menghujamkan kejantananya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.</p>
<p>Toni yang sudah pulih dari &#8216;istirahat&#8217;nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku—yang segera kubalas dengan bernafsu—ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Andri yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa hebat kurasakan saat kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.</p>
<p>Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada didalam anusku. Toni langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan Andri, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.</p>
<p>&#8220;Aaagghh.. ouuhh.. Tonn.. Drii.. tekaann&#8221; jerit dan erangku tak karuan.<br />
Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul Toni kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras dikemaluanku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.<br />
&#8220;Aduuhh.. Tonn.. Drii.. nikmat sekalii&#8221;<br />
&#8220;Aaarrghh.. Verr.. enakk bangeett&#8221;<br />
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan akhirnya kami.. terkulai lemas.</p>
<p>Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria.. aku baru akan mencapai kepuasan bila &#8216;dijarah&#8217; oleh dua atau tiga pria sekaligus.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: doi_dio@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Bersama Dua Pria &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-2.html</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. &#8220;Aaagghh&#8221; keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. &#8220;Aaagghh&#8221; keduanya melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat merasakan batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.</p>
<p>Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan &#8216;live show&#8217; bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. akhirnya menyentuh klitorisku.<br />
&#8220;Aaahh.. sshh.. eehh&#8221; desahku merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi!.. masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.<br />
&#8220;Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?&#8221; sapa Susi terkejut.<br />
&#8220;Iya Si.. balik lagi.. perut mules&#8221;<br />
&#8220;Aku suruh Kelvin beli obat ya&#8221;<br />
&#8220;Ngga usah Si.. udah baikan kok&#8221;<br />
&#8220;Yakin Ver?&#8221;<br />
&#8220;Iya ngga apa-apa kok&#8221; jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku karena rasa kaget.</p>
<p>Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar VCD X-2. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Toni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Toni yang pertama melihat kegelisahanku.<br />
&#8220;Kenapa Ver, gelisah banget horny ya&#8221; tegurnya bercanda.<br />
&#8220;Ngga lagi, ngaco kamu Ton&#8221; sanggahku.<br />
&#8220;Kalau horny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita&#8221; Andri menimpali.<br />
&#8220;Rese&#8217; nih berdua, nonton aja tuh&#8221; sanggahku lagi menahan malu.</p>
<p>Toni tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.<br />
&#8220;Santai Ver, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal&#8221; bisik Toni sambil meremas pundakku.<br />
Remasan dan terpaan nafas Toni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Toni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.<br />
&#8220;Remas aja paha aku Ver daripada rok&#8221; bisik Toni lagi.<br />
Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang &#8216;geboy&#8217; saja kadang aku remas tanpa rasa apapun, kali ini merasakan paha Toni dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.<br />
&#8220;Ngga usah malu Ver, santai aja&#8221; lanjutnya lagi.<br />
Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang &#8216;wow&#8217; kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Toni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.</p>
<p>Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Toni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Toni yang semakin menjadi-jadi.<br />
&#8220;Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu&#8221; bisik Toni seraya mengecup pundakku.<br />
Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.<br />
&#8220;Jangan Ton&#8221; namun aku berusaha menolak.<br />
&#8220;Kenapa Ver, cuma pundak aja kan&#8221; tanpa perduli penolakanku Toni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini aku tidak lagi berusaha &#8216;jaim&#8217;.<br />
&#8220;Ton.. ahh&#8221; desahku tak tertahan lagi.<br />
&#8220;Enjoy aja Ver&#8221; bisik Toni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.<br />
&#8220;Ohh Ton&#8221; aku sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat &#8216;live show&#8217; dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.<br />
Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Toni di leher dan telingaku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.</p>
<p>Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga akhirnya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.<br />
&#8220;Agghh.. Tonn.. Drii.. ohh.. sshh&#8221; desahanku bertambah keras.<br />
Andri menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.</p>
<p>&#8220;Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh&#8221; desahanku berganti menjadi erangan-erangan.<br />
Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Toni menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.</p>
<p>Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.<br />
&#8220;Aaahh.. Tonn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii&#8221;<br />
&#8220;Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi&#8221; bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.<br />
Mendengar kata &#8216;lebih lagi&#8217; aku seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Toni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Andri—yang sedang menikmati puting susu—dengan kuatnya.<br />
&#8220;Aaagghh.. Tonn.. Drii.. akuu.. oohh&#8221; jeritku keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.</p>
<p>Toni dan Andri menyudahi &#8216;hidangan&#8217; pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan Andri di payudara dan Toni di kewanitaanku yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.</p>
<p>Mataku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai &#8216;hidangan&#8217; utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Toni yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangkit merasakan lidah Toni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Tonn.. Drii.. nngghh.. aaghh&#8221; rintihku tak tertahankan lagi.<br />
Toni kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya agar tidak bergerak.</p>
<p>&#8220;Jilat.. Ver&#8221; perintahnya tegas.<br />
Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah merasakan jilatanku.<br />
&#8220;Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh&#8221; desah Andri.<br />
&#8220;Jilat kepalanya Ver&#8221; aku menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.<br />
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis desis.<br />
&#8220;Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep&#8221; pintanya diselah-selah desisannya.</p>
<p>Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.<br />
&#8220;Jangan pake gigi Ver.. isep aja&#8221; protesnya, kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.<br />
&#8220;Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver&#8221;<br />
Melihat Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan lidah Toni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..<br />
&#8220;Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr&#8221; jerit Andri, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.</p>
<p>Aku sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Toni tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.<br />
&#8220;Gila Andri.. kira-kira dong&#8221; celetukku sambil bersungut-sungut.<br />
&#8220;Sorry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kamu enak banget&#8221; jawab Andri dengan tersenyum.<br />
&#8220;Udah Ver jangan marah, kamu masih baru nanti lama lama juga bakal suka&#8221; sela Toni seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.<br />
Toni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Toni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, lidah Toni menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.</p>
<p>Ke bagian 3</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Bersama Dua Pria &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3078</guid>
		<description><![CDATA[Vera — 22 tahun, siswi salah satu PTS di Bandung adalah penggemar bokepzone.com. Setelah membaca cerita saya &#8220;Affair Antar Penulis (versi Dio)&#8221; ia mengirimkan email meminta untuk menyadur &#8216;true story&#8217; pengalaman pertamanya berhubungan sex saat berusia 19 tahun yang dilakukan sekaligus dengan dua kawan prianya. Pengalaman pertamanya itu menyebabkan Vera menyukai hubungan sex bersama dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Vera — 22 tahun, siswi salah satu PTS di Bandung adalah penggemar bokepzone.com. Setelah membaca cerita saya &#8220;Affair Antar Penulis (versi Dio)&#8221; ia mengirimkan email meminta untuk menyadur &#8216;true story&#8217; pengalaman pertamanya berhubungan sex saat berusia 19 tahun yang dilakukan sekaligus dengan dua kawan prianya. Pengalaman pertamanya itu menyebabkan Vera menyukai hubungan sex bersama dua pria sekaligus, bahkan lebih. Semua nama dalam cerita ini bukan nama sebenarnya.</p>
<p>*****</p>
<p>Aku adalah gadis berusia 19 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya &#8216;gaul abis&#8217;. Namun demikian aku masih mampu menjaga kesucianku sampai.. Suatu saat aku dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.</p>
<p>Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami bertiga Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran kalau sang pacar, Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih &#8216;jomblo&#8217;. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.</p>
<p>Acara ke Puncak kami mulai dengan &#8216;hang-out&#8217; disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat menegur mereka aku urungkan, karena kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu menahan langkahku menuju dapur.</p>
<p>Adegan ciuman itu bertambah &#8216;panas&#8217; mereka saling memagut dan berguling-gulingan, lidah Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string. Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.<br />
&#8220;Jangan To&#8221; tolak Andra.<br />
&#8220;Kenapa sayang&#8221; tanya Vito.<br />
&#8220;Aku belum pernah.. gituan&#8221;<br />
&#8220;Makanya dicoba sayang&#8221; bujuk Vito.<br />
&#8220;Takut To&#8221; Andra beralasan.<br />
&#8220;Ngga apa-apa kok&#8221; lanjut Vito membujuk<br />
&#8220;Tapi To&#8221;<br />
&#8220;Gini deh&#8221;, potong Vito, &#8220;Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti&#8221;<br />
&#8220;Janji ya To&#8221; sahut Andra ingin meyakinkan.<br />
&#8220;Janji&#8221; Vito meyakinkan Andra.</p>
<p>Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar merasakan lidah Vito.<br />
&#8220;Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too&#8221;<br />
Mendengar desahan Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.</p>
<p>Andra semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal diam ia melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.</p>
<p>Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. &#8220;Jangan To, katanya cuma cium aja&#8221; sergah Andra.<br />
&#8220;Rileks An&#8221; bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.<br />
&#8220;Tapi.. To.. oohh.. aahh&#8221; protes Andra tenggelam dalam desahannya sendiri.<br />
&#8220;Nikmatin aja An&#8221;<br />
&#8220;Ehh.. akkhh.. mpphh&#8221; Andra semakin mendesah<br />
&#8220;Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi&#8221;<br />
&#8220;He eh To.. eesshh&#8221;<br />
&#8220;Enak An..?&#8221;<br />
&#8220;Ehh.. enaakk To&#8221;<br />
Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan &#8216;live&#8217; seperti itu.</p>
<p>Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.<br />
&#8220;Aku masukin ya An&#8221; pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.<br />
Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Andra.<br />
&#8220;Aakhh.. To.. eengghh&#8221; erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.<br />
Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.<br />
&#8220;Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg&#8221; Andra meracau.<br />
&#8220;Aku suka sekali payudara kamu An.. mmhh&#8221;<br />
&#8220;Aku juga suka kamu isep To.. ahh&#8221; Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.<br />
Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.</p>
<p>Vito tahu Andra sudah pada situasi &#8216;point of no return&#8217;, ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Andra dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Andra.<br />
&#8220;Auuww.. To.. sakiitt&#8221; jerit Andra.<br />
&#8220;Stop.. stop To&#8221;<br />
&#8220;Rileks An.. supaya enak nanti&#8221; bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.<br />
&#8220;Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin&#8221;<br />
Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Andra. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya. Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.</p>
<p>Vito memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.<br />
&#8220;Uhh.. ohh.. To&#8221; desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.<br />
Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.<br />
&#8220;Agghh.. ohh.. terus Too&#8221; Andra meracau merasakan kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.<br />
&#8220;Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too&#8221; Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.</p>
<p>Pinggul Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.<br />
&#8220;Ssshh.. sshh&#8221; desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat &#8216;life show&#8217; Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.<br />
&#8220;Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii&#8221; Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.<br />
&#8220;Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya&#8221;<br />
&#8220;Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too&#8221;<br />
&#8220;Punya kamu enaakk sekalii An.. uugghh&#8221;<br />
&#8220;Ohh.. Too.. aku sayang kamu.. sshh&#8221; desah Andra seraya memeluk, pujian Vito rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.<br />
&#8220;Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh&#8221; merasakan goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.<br />
&#8220;Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang&#8221; pekik Andra.<br />
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.<br />
&#8220;Too.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh&#8221; erang Andra.<br />
Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.</p>
<p>Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa aku menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuhku namun keberadaan Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vito tetapi diriku.</p>
<p>Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.</p>
<p>Selesai dari kamar mandi aku mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang tv dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi aku mendapat suguhan &#8216;live show&#8217; yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap &#8216;segitiga venus&#8217; yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelojotan diperlakukan seperti itu.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. sshh.. aahh&#8221; desis Susi.<br />
&#8220;Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang&#8221;<br />
&#8220;Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt&#8221;<br />
&#8220;Auuww.. pelan sayang gigitnyaa&#8221;<br />
Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.<br />
&#8220;Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg&#8221; desah Kelvin.<br />
&#8220;Ohh.. sayangg.. enakk sekalii&#8221;<br />
Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.<br />
&#8220;Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg&#8221; pinta Kelvin.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-bersama-dua-pria-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desah Nafas &#8211; 3</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-3.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3072</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 2 &#8220;Darma, aku belum selesai ngomong&#8221; &#8220;Apa Teh?&#8221; Aku berhenti mencumbunya. Tapi tubuhku tetap berada di atasnya. Pantatku menekan-nekan dengan perlahan. &#8220;Tapi kamu janji dulu, tak akan bilang siapa-siapa&#8221; &#8220;Iya, saya janji, Teh&#8221; &#8220;Suamiku sebenarnya seorang homo. Sejak aku menikahnya dengannya, aku belum pernah melakukan sex&#8221; &#8220;Astaga&#8221; Aku kaget. &#8220;Sstt&#8221; &#8220;Lalu? Gimana cara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 2</p>
<p>&#8220;Darma, aku belum selesai ngomong&#8221;<br />
&#8220;Apa Teh?&#8221; Aku berhenti mencumbunya. Tapi tubuhku tetap berada di atasnya. Pantatku menekan-nekan dengan perlahan.<br />
&#8220;Tapi kamu janji dulu, tak akan bilang siapa-siapa&#8221;<br />
&#8220;Iya, saya janji, Teh&#8221;<br />
&#8220;Suamiku sebenarnya seorang homo. Sejak aku menikahnya dengannya, aku belum pernah melakukan sex&#8221;<br />
&#8220;Astaga&#8221; Aku kaget.<br />
&#8220;Sstt&#8221;<br />
&#8220;Lalu? Gimana cara Teteh, kalau pingin?&#8221;<br />
&#8220;Suamiku membelikan vibrator penis, untuk masturbasiku&#8221;<br />
&#8220;Terus?&#8221;<br />
&#8220;Mulanya Aku bertahan untuk menikmati itu. Namun lama-lama, tak tahan juga. Aku ingin yang asli&#8221;<br />
&#8220;Ayo..!&#8221; Ucapku sambil meraba bagian vagina-nya.<br />
&#8220;Tunggu dulu..!&#8221;<br />
&#8220;Apa lagi? Nanti suamimu keburu datang&#8221;<br />
&#8220;Aku udah minta ijin sama suamiku&#8221;<br />
&#8220;Apa?&#8221;<br />
&#8220;Iya, aku udah minta ijin&#8221;<br />
&#8220;Lalu?&#8221;<br />
&#8220;Asalnya dia marah. Namun dengan alasan pingin punya anak, akhirnya dia ngijinin dengan syarat&#8221;<br />
&#8220;Apa saratnya?&#8221;<br />
&#8220;Yang pertama, saratnya adalah harus dengan satu orang laki-laki. Tidak boleh ganti-ganti&#8221;<br />
&#8220;Terus?&#8221;<br />
&#8220;Dia mau ikut&#8221;<br />
&#8220;Ikut gimana?&#8221;<br />
&#8220;Three In One&#8221;<br />
&#8220;Jadi, dia mau ngesex sama saya?&#8221;<br />
&#8220;Iya bener. Kamu mau kan?&#8221;<br />
&#8220;Saya cuma mau sama Teteh aja. Saya jijik kalau harus intim sama laki-laki&#8221;<br />
&#8220;Berarti aku mau cari laki-laki lain&#8221;<br />
&#8220;Terus kita gimana?&#8221;<br />
&#8220;Gak jadi&#8221; Ucapnya seraya menghempaskan tubuhku.<br />
Tentu saja aku tak mau kehilangan kesempatan seperti ini. Apalagi mendengar Teh Ana masih perawan.<br />
&#8220;Oke deh, saya mau. Tapi saya tidak mau anal sex&#8221; Ucapku pada akhirnya.<br />
Teh Ana tersenyum senang. Lalu memeluk tubuhku kembali. Sekali membuka gaunnya, tubuh Teh Ana hanya menyisakan celana dalam saja. Kugumul dulu bagian sensitif tubuhnya, mulai dari telinga, leher, buah dada, putting susunya, sampai lidahku turun ke bawah. Teh Ana menggelinjang dengan nafas yang tersengal-sengal. Kubuka celana dalamnya. Kujilati vagina-nya. Lidahku mempermainkan clitorisnya, sambil terkadang kusedot-sedot juga.</p>
<p>&#8220;Aduh, Darma. Aku gak tahan&#8221; bisik Teh Ana sambil menuntun kepalaku ke atas.<br />
Kubuka baju dan celanaku dengan cepat. Celana dalamku dibukakan oleh Teh Ana. Namun Aku tidak memberikan penis-ku untuk dipegang oleh tangannya. Masih ada sisa rasa takutku pada pengalaman sebelumnya. Aku takut ejakulasi dini lagi. Hatiku berdebar-debar, tatkala penis-ku mulai dekat pada memeknya. Kuraba liang vaginanya. Setelah yakin sudah siap, kumasukan perlahan-lahan dengan hati yang tenang. Teh Nia memejamkan matanya. Bles.. akh.. akhirnya kontolku masuk pada lubang memeknya. Memang agak seret, tapi tidak terlalu sulit. Rasanya tak mungkin, kalau Teh Ana seorang perawan. Sebab vagina perawan, sangat sulit untuk ditembus pertama kali. Tapi aku tak mempedulikan hal itu. Yang penting aku langsung saja memompanya dengan agak perlahan dulu. Kunikmati cumbuan bibirnya yang menyatu dengan bibirku. Tanganku pun menggerayang pada bagian-bagian penting tubuhnya.</p>
<p>&#8220;Ehm.. ehmm.. ah.. ih.. ah&#8221; suara Teh Nia jelas sekali terdengar oleh kedua telingaku.<br />
Tangannya memeluk erat tubuhku. Entah karena vagina-nya yang agak seret atau apa, baru sekitar empat menit, aku merasakan otot-ototku menegang. Sebagai pertanda akan segera orgasme. Kupacu gerakan pantatku lebih cepat. Terlihat Teh Ana makin asik menikmatinya. Setiap hentakan penis-ku, pasti keluar suara yang berlainan dari bibirnya. Desahan nafas, erangan, rintihan, bahkan jeritan yang tertahan. Sehingga aku tidak tega, jika harus cepat-cepat mengakhiri permainan. Tapi memang desakanku tak bisa kutahan.</p>
<p>Aku menghentikan gerakan pantatku sejenak, untuk menahan arus maniku yang begitu mendesak. Namun Teh Ana tetap menggoyangkan pantatnya, sehingga tidak tertahan lagi, maniku semakin mendekati pintu keluar. Tak ada jalan lagi, selain mengeluarkannya dengan tenang. Aku berlagak belum mengalami orgasme. Ketika air maniku muncrat. Aku berusaha menyembunyikannya dengan cara menggigit telinganya perlahan-lahan. Tak kuhentikan gerakan pantatku, turun naik dengan cepat. Walau sudah lemas dan loyo, aku terus memacunya.</p>
<p>Aku tak tahu, apakah Teh Ana mengetahui orgasmeku atau tidak. Yang pasti dia tetap memejamkan matanya sambil merintih-rintih. Kelihatannya Teh Ana begitu menikmatinya. Aku terus berusaha dengan keadaan sisa-sisa kekuatanku. Kupaksakan, agar penis-ku bertahan. Walau hambar bagiku, namun aku ingin memuaskan Teh Ana. Terus kutekan, sambil menghayalkan keindahan dan kenikmatan. Agar tidak kelihatan lemas dan loyo, lebih kupercepat lagi gerakanku. Mungkin sekitar tujuh menit, baru kurasakan penis-ku menegang lagi dengan normal. Kenikmatan pun menjalar lagi. Sedangkan Teh Nia terus menggoyangkan pantatnya, setengah berputar.</p>
<p>&#8220;Darma.. sedikit lagi&#8221; Teh Ana berbisik, sambil mempererat pelukannya.<br />
Pantatnya diangkat, menekan penis-ku. Aku pun memompanya lebih kencang lagi. Tak kupedulikan suara desahannya yang makin keras. Tangannya menjabak rambutku. Kedua kakinya menekan pinggangku, dan ujung kakinya melingkar, serta mengunci pahaku. Bibirku dilumat dengan ganasnya. Hingga akhirnya Teh Ana mengeluarkan desahan yang cukup panjang.<br />
&#8220;Aakkh&#8221; begitulah, Teh Ana terkulai dengan lemas.<br />
Pada saat itu pula, orgasme keduaku akan segera datang. Kuhentakan penis-ku lebih keras. Teh Ana merintih, membuatku makin bernafsu. Semakin keras rintihannya, desakan orgasmeku pun makin menggelora. Kulingkarkan tanganku pada lehernya. Aku bersiap-siap ambil posisi untuk mencapai puncak kenikmatan. Teh Ana pun sepertinya mengerti. Kakinya dilingkarkan lagi pada posisi semula. Tangannya memeluk tubuhku lebih erat. Kugigit bagian bawah telinganya agak keras. Bersama rintihannya, aku memuncratkan maniku di dalam vagina-nya. Cret.. cret.. agh.. Dan akhirnya aku pun terkulai dengan lemas.</p>
<p>*****</p>
<p>Jam setengah sepuluh, Teh Ana sudah kembali ke kamarnya. Aku tidak boleh tidak, harus masuk ke kamarnya jam duabelas malam nanti, setelah suaminya datang. Tak pernah kubayangkan, jika aku harus melayani seorang laki-laki. Kalau saja wanitanya tidak secantik Teh Ana, pasti akan kutolak.</p>
<p>Aku mengisi waktu dengan persiapan kekuatan. Kumakan kuning telur mentah yang dicampurkan dengan sprit. Aku pun makan dulu sampai kenyang. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukan jam setengah dua belas. Terdengar bunyi motor yang tak asing lagi di telingaku. Motor Didi, suaminya Teh Ana. Kubiarkan saja dulu sampai waktunya jam duabelas tepat.</p>
<p>Waktu yang mendebarkan pun telah tiba. Aku bangkit dari tempat duduk, menuju pintu kamar. Tak terlalu jauh, antara pintu kamarku dengan pintu kamar Teh Ana. Hanya beberapa langkah saja. Sehingga tak mungkin, jika ada yang mengetahuinya. Kuketuk pintunya dua kali. Dan tanpa menunggu lama, pintu pun terbuka. Terulas senyuman Didi menyambut kedatanganku.</p>
<p>Ternyata mereka telah lebih siap. Didi hanya mengenakan celana dalam. Dan tiba-tiba Teh Ana pun memelukku dari belakang. Tonjolan susunya terasa hangat dan empuk. Rupanya Teh Ana telah telanjang bulat. Dia membukakan pakaianku satu persatu. Kurasakan kehalusan kulit Teh Ana, membuat penis-ku langsung menegang. Didi yang memperhatikan dari depanku, napasnya terlihat agak memburu. Didi membuka celana dalamnya, penis-nya yang cukup besar itu sudah ngaceng juga. Bahkan Didi tak segan-segan lagi memelukku dari depan. Betapa jijiknya ketika bibirku harus berpagutan dengan bibir Didi. Namun Teh Ana seakan mengerti. Dia tetap memelukku sambil mencumbuku dari belakang.</p>
<p>Didi menarik tanganku ke atas kasur. Aku disuruh merebahkan diri. Lalu dia menindihku sambil menggerayangi sekujur tubuhku. Bibirnya tak mau lepas dari bibirku. Penis-nya ditekankan pada kontolku. Lalu digesek-gesekannya. Sementara Teh Ana hanya duduk di pinggirku, sambil mengusap-usap tubuhku, yang tidak terhalangi tubuh Didi. Tiba-tiba Didi memekik agak keras. Hentakannya bertambah kuat, membuatku pingin muntah. Mungkin dia mau orgasme. Sebab terasa leherku digigitnya. Dan benar juga, terasa ada cairan hangat membasuh sekitar penis-ku. Dia kemudian terkulai dengan nafas yang tersengal-sengal.</p>
<p>Aku muak. Jijik. Apalagi ketika lidahnya menjilati air maninya yang tumpah pada tubuhku. Bahkan dia pun mengulum kontolku. Dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Teh Ana. Dia mencumbuku dengan gairah birahinya. Tubuhnya yang tidak terhalang selembar kain pun, membuat tanganku bebas menggerayang ke mana aku suka. Aku bangkit sambil menarik kontolku dari mulut Didi. Lalu cepat-cepat memasukan pada lubang vagina Teh Ana, yang sudah siap menyambutnya. Dengan gaya konvensional, kontolku sangat aman, keluar masuk vagina Teh Ana. Teh Ana mulai memejamkan matanya lagi. Aku pun merasakan kenikmatan yang tiada tara.</p>
<p>Tiba-tiba punggungku dijilati oleh lidah Didi. Lalu ke telingaku. Bahkan lama-lama lidahnya menerobos di antara bibirku dan bibir Teh Ana yang tengah menyatu. Aku dan Teh Ana tidak meresponnya. Membuat Didi mencari posisi lain. Aku tak peduli. Semakin kupercepat pompaan tubuhku. Aku mulai tahu kelemahan Teh Ana. Vagina-nya harus ditekan dengan keras, agar cepat mencapai orgasme. Kulakukan hal itu, sampai napas Teh Ana tersengal-sengal.</p>
<p>Tiba-tiba aku dikejutkan perlakuan Didi. Dia berusaha memasukan kontolnya pada pantatku. Membuat aku berguling, menggantikan posisi. Teh Ana di atas, aku di bawahnya, masih berhadapan. Terlihat Teh Nia menyenangi posisi seperti ini. Dia leluasa menekan memeknya lebih keras, dan menggoyangkannya. Aku menekan turun naik dari bawah.</p>
<p>&#8220;Aukh&#8221; Aku tak bisa menahan suaraku, saking nikmatnya.<br />
&#8220;Akh&#8221; Teh Ana pun menjerit agak tertahan. Rupanya dia sudah mau orgasme. Sama seperti halnya aku.<br />
Teh Ana mempercepat putaran pantatnya sambil menekan. Tubuhnya sudah merapat denganku. Aku pun mengalami hal yang sama. Kugigit lehernya, sebagai isarat bahwa aku pun akan segera keluar.</p>
<p>Namun hal itu nampaknya mengundang nafsu Didi yang makin menggebu. Dia menarik tubuh Teh Ana, setengah memaksa. Lepaslah penis-ku dari vagina-nya Teh Ana. Didi menyuruh Teh Ana, agar berganti posisi. Dia tetap di atasku, namun dengan posisi membelakangiku. Teh Ana yang tengah diburu nafsu yang kian memuncak, tak bisa menolaknya. Dia melakukan semua keinginan Didi. Bless.. penis-ku masuk lagi. Ketika aku akan bangkit, dadaku disorong oleh tangan Didi. Dia mendekatkan batang penis-nya pada mulutku. Sejenak aku benar-benar jijik. Namun Didi memaksanya. Sehingga untuk pertama kalinya, aku mengulum penis. Kupejamkan mataku. Di satu sisi aku merasakan mual dan jijik. Di sisi lain, aku merasakan kontolku semakin nikmat rasanya, dengan hentakan vagina Teh Ana yang makin kuat.</p>
<p>Akhirnya aku mencoba mengkonsentrasikan pada kenikmatan penis-ku. Biarlah bibirku mengulum penis Didi. Kubayangkan menjadi bibir Teh Ana. Apalagi ketika Teh Ana makin mempercepat gerakannya, terasa terbang di atas awan. Melayang-layang dengan kenikmatan. Hingga pada akhirnya, tubuh Teh Ana terasa menegang. Aku pun sama. Puncak orgasme akan segera tiba.</p>
<p>&#8220;Akgh.. emh.. sedikit la.. gi&#8221; Terdengar suara tertahan Teh Ana.<br />
&#8220;Aku juga&#8221; suara Didi pun terdengar.<br />
Aku mencoba mengeluarkan kontolnya dari mulutku, takut tertumpah air maninya. Baru saja lepas, cret.. cret.. air mani Didi muncrat mengenai mukaku.<br />
&#8220;Agh..!&#8221; Didi berteriak.<br />
Aku bangkit seraya menghempaskan penis Didi. Kupeluk tubuh Teh Ana dari belakang. Kubantu dengan hentakan yang lebih dahsyat. Air mani Didi, kubersihkan pada punggung Teh Ana.</p>
<p>&#8220;Teh.. Akh&#8221; Aku berbisik tertahan, sambil lebih merapatkan lagi tubuhnya.<br />
&#8220;Heeh&#8221; Teh Ana pun sama halnya denganku. Menekankan vagina-nya lebih keras. Kedua tangannya melingkar ke belakang, menarik pinggangku. Sampai akhirnya.. cret.. cret.. cret.. kutumpahkan maniku dengan nikmatnya. Pantat Teh Ana masih bergerak turun naik. Rupanya dia belum orgasme juga. Sehingga aku bertahan dengan menekan penis-ku lebih dalam.</p>
<p>Mungkin Teh Ana kesulitan orgasme dengan posisi seperti itu. Sebab dia tiba-tiba bangkit, dan berganti posisi. Dia tetap di atasku, namun dengan posisi berhadapan. Kupertahankan penis-ku untuk tetap bertahan. Kasihan Teh Ana. Dia memasukan lagi penis-ku yang telah berlendir. Lalu bergerak turun naik dengan tubuhnya menindihku. Lalu tangannya melingkar pada leherku. Sekitar dua menit lamanya, dia baru terasa menggigit leherku agak kuat. Kubiarkan saja. Sampai akhirnya Teh Ana menghentakan pantatnya untuk yang terakhir kalinya dengan sangat keras, diiringi erangan dari mulutnya yang cukup panjang.</p>
<p>&#8220;Aaakh&#8221; begitulah Teh Ana.<br />
Kurasakan cairan hangat pada penis-ku yang masih berada di dalam vagina-nya. Lagi-lagi Didi mendekatkan penis-nya pada mulutku. Aku malas sekali. Untungnya Teh Ana mengerti. Teh Ana-lah yang menyambut penis Didi, sambil merangsek maju. Teh Ana mengulum penis Didi. Sementara vagina-nya tepat di hadapanku. Maka aku pun menjilat dan menyedotnya. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba Didi menjatuhkan tubuhnya. Teh Ana pun terguling. Aku tetap memburu vagina-nya. Teh Ana mengangkat paha kanannya, untuk keleluasaan mulutku. Tiba-tiba mulut Didi sudah menempel pada kontolku juga. Begitulah pengalaman pertamaku melakukan three in one. Penis-ku dikulum oleh Didi. Aku menjilati vagina Teh Ana. Sementara Teh Ana mengulum penis Didi.</p>
<p>*****</p>
<p>Aku melakukan three in one, selama lima kali. Tapi tetap, aku menolak anal sex, apapun alasannya. Dan selanjutnya aku tak mau lagi melakukan three in one, sebab tak tahan dengan jijiknya. Aku hanya mau dengan Teh Ana saja. Sehingga aku sering bolos kerja di siang hari. Leluasa sekali kalau melakukannya pada siang hari. Tak ada gangguan. Hingga Aku dan Teh Ana hampir tiap hari melakukannya. Berbagai gaya pun telah kupraktekan dengan diakhiri kepuasan. Sampai pada suatu hari, kami tertangkap basah oleh suaminya. Tak kusangka Didi pulang lebih awal. Untung saja, ketika Didi pulang, kami sedang melakukannya di kamarku. Dia tak bisa masuk, sebab kukunci dari dalam. Dan kami pun menyelesaikannya dulu permainan sampai pada puncaknya, dengan menahan suara.</p>
<p>Setelah kejadian itulah, Didi sikapnya jadi berubah. Dia seperti tak bersahabat lagi. Sampai akhirnya dia membawa pindah istrinya ke kontrakan lain. Entah ke mana. Aku tidak mengetahuinya. Membuatku begitu kehilangan. Setelah dua minggu lamanya berpagutan dalam asmara membara, kini harus terhenti secara tiba-tiba.</p>
<p>Lima bulan kemudian, barulah aku bertemu dengan Teh Ana. Dia menemuiku dengan agak tergesa-gesa. Teh Ana mengabarkan, bahwa dirinya akan dibawa pindah ke Sulawesi Selatan. Aku terharu mendengarnya.</p>
<p>&#8220;Terimakasih atas kenangan indahnya&#8221; Kata Teh Ana, sambil mengusap perutnya yang telah membesar.<br />
Aku terbelalak. Dia ternyata tengah hamil. Bahkan kandungannya sudah terlihat besar. Kalau dihitung sejak kepergiannya, pasti kandungan Teh Ana telah berusia lima bulan.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: tirtadharma2000@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desah Nafas &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3070</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Tak ada yang kuberi tahu seorang pun, tentang hilangnya keperkasaanku. Dan untuk memastikan kelainanku, seminggu kemudian aku mengunjungi sebuah lokasi prostitusi yang cukup jauh dari kotaku. Tepatnya di daerah Cianjur. Aku ingin lebih meyakinkan lagi keadaanku. Nafsu sexualku tetap menggebu-gebu. Tapi buat apa, jika tak mampu melakukannya. Sungguh sangat tak berarti. Memalukan.. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Tak ada yang kuberi tahu seorang pun, tentang hilangnya keperkasaanku. Dan untuk memastikan kelainanku, seminggu kemudian aku mengunjungi sebuah lokasi prostitusi yang cukup jauh dari kotaku. Tepatnya di daerah Cianjur. Aku ingin lebih meyakinkan lagi keadaanku. Nafsu sexualku tetap menggebu-gebu. Tapi buat apa, jika tak mampu melakukannya. Sungguh sangat tak berarti. Memalukan..</p>
<p>Tanpa banyak basa-basi lagi, kupilih seorang wanita yang sesuai dengan seleraku. Montok, cantik, putih dan mulus. Tak kutanya nama dan hal ikhwalnya menjadi seorang WTS. Aku langsung saja menggumul tubuhnya. Saling berpagutan bibir, sambil melepaskan pakaian masing-masing. Dorongan birahiku sangat kuat. Dengan penuh nafsu, kubaringkan tubuhnya. Lalu kutindih tubuhnya yang sudah telanjang bulat. Kontan saja, vagina-ku menyentuh pahanya. Kurasakan lagi desakan kuat dari dalam tubuh, yang menjalar pada penis-ku. Jangankan untuk memasukan pada vagina-nya. Baru menyentuhnya juga, aku tak tahan menahan kuatnya arus air mani. Sehingga.. cret.. cret.. maniku muncrat pada perutnya. Lalu aku terkulai lemas.</p>
<p>Dia tersenyum geli, sambil membersihkan penis-ku dengan handuk. Betapa malunya aku. Senyumnya seakan menertawakan aku. Membuat aku cepat-cepat mengenakan pakaian lagi, lalu membayarnya. Kalau saja aku tak malu, mungkin aku sudah berteriak. Aku tak kuasa menerima keadaan seperti ini. Aku benar-benar mengalami ejakulasi dini.</p>
<p>*****</p>
<p>Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan seperti ini. Seperti pada suatu hari, ketika aku berkenalan dengan seorang artis panggung. Noni namanya. Seorang janda beranak satu, yang kabarnya suka menjual diri juga. Dan memang kabar itu tidak terlalu meleset. Buktinya dia mulai menggodaku, ketika pada suatu malam mengunjungi tempat tinggalnya. Tentu saja aku melayaninya, sebab aku pun sudah terangsang sejak awalnya bertemu. Terlebih pakaian yang dikenakannya begitu serba mini. Sehingga belahan buah dadanya yang bulat dan besar, terlihat dengan jelas. Pahanya yang montok pun, seperti sengaja dipamerkan, dengan mengenakan rok yang sangat mini.</p>
<p>Sekitar jam sembilan lewat limabelas menit. Anaknya yang baru berusia lima tahun, sudah terdengar suara dengkurnya di dalam kamar. Aku hanya berduaan di ruangan tamu. Duduk di kursi dengan posisi berhadapan. Buah dadanya kian menantangku.<br />
&#8220;Saya mau permisi dulu, Mbak&#8221; Kataku dengan nada memancing. Ingin memastikan sikapnya.<br />
&#8220;Kenapa buru-buru? Tenang saja. Mau nonton film yang baru?&#8221; begitu katanya sambil beranjak dari kursi, menuju sebuah televisi. Lalu tangannya membuka laci, dan seperti mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian mengambil sebuah kaset VCD.<br />
&#8220;Ini rame, lho&#8221; Katanya lagi, sambil menyalakan VCD, yang tersimpan di pinggir TV-nya. Lalu menyetelnya tanpa ragu lagi. Kukira film nasioanal. Ternyata sebuah film semi blue yang sejak awal, sudah mengeksploitas sexual. Kontan saja nafsu birahiku lebih membara. Kulihat gordeng jendelanya sudah tertutup rapi. Tapi mataku tertuju pada daun pintu. Noni pun seperti yang mengerti. Dia menuju ke arah pintu, lalu menguncinya.</p>
<p>Sungguh berani sekali Noni. Dia langsung duduk di sebelahku, dengan merapatkan tubuhnya. Tatapan matanya sudah tak asing lagi. Sebuah ajakan untuk melakukan hubungan sex. Senyumannya membawa bibirku untuk melumat bibirnya. Kami saling bercumbu dengan penuh gairah birahi. Tayangan film pun tak dihiraukan lagi. Aku lebih asik menikmati adegan yang nyata. Buah dada yang sejak awal hanya kulihat, kali ini bisa kuremas-remas dan kujilati dengan lidahku. Betapa nikmatnya permainan ini. Sudah kubayangkan, goyangan pantatnya akan sangat lincah. Sebab aku pernah menyaksikan goyang pinggulnya di atas panggung. Pantatnya berputar begitu indah. Dan kini, aku tinggal menunggu saatnya yang akan segera tiba.</p>
<p>Tangan Noni membuka ikat pinggang dan relesting celanaku. Lalu memasukan tangannya ke dalam celanaku. Penislku yang sudah menegang, dipegangnya dengan kuat, dan dipermainkannya beberapa saat. Sungguh terasa begitu nikmat. Namun lagi-lagi desakan air maniku sudah memaksa untuk keluar. Entah karena tangannya yang begitu lembut atau apa. Yang pasti, aku tak tahan lagi. Aku sadar akan &#8220;bahaya&#8221;. Tanganku cepat-cepat menuntun tangannya keluar dari dalam celanaku. Bersama itu pula, air maniku muncrat.</p>
<p>Aku berusaha untuk tenang. Tidak memperlihatkan sedang mengalami orgasme. Untungnya air maniku tidak kelihatan, sehingga Noni tak tahu apa yang tengah terjadi. Dia tetap mencumbuku, bahkan mulai membuka baju kaosnya. Aku pun berusaha melayani Noni, walau terasa sangat hambar. Demi harga diriku, aku berusaha untuk bergairah. Noni membuka kancing bajuku satu persatu. Sementara tubuh bagian atasnya sudah bugil. Aku memasukan jari tanganku dari bagian bawah rok mininya. Tak terlalu sulit. Kutemukan lubang vaginanya yang sudah berlendir. Bahkan Noni dengan cepat membuka celana dalamnya. Sehingga ketika roknya disingkapkan, aku melihat pemandangan yang begitu indah. Namun aku sudah lemas. Aku tidak bernafsu. Penis-ku sudah tidur lagi. Kupermainkan clitorisnya dengan agak memaksakan.</p>
<p>&#8220;Ayo&#8221; Noni berbisik dengan nafasnya yang mendesah.<br />
Sejenak aku merasa bingung, dan mencoba mencari jalan untuk menghadapinya.<br />
&#8220;Non, saya mau ke air dulu&#8221; Akhirnya itulah yang kukatakan.<br />
Noni berhenti mencumbuku dengan keheranan. Tapi dia pun mengangguk, walau terlintas suatu kekecewaan dari raut wajahnya.<br />
&#8220;Di mana kamar mandinya?&#8221; Tanyaku sambil berdiri. Noni menunjuk ke arah dapur. Aku pun segera beranjak.</p>
<p>Di kamar mandi, aku membuka celanaku. Kubasahi penis-ku, lalu kubalur dengan sabun. Tanganku mencoba untuk mengocoknya dengan cepat. Sulit sekali. Untuk dibangunkan. Kupaksa lagi dengan lebih cepat, sambil menghayalkan kenikmatan sexual. Kurang lebih lima menit kemudian, barulah perlahan-lahan penis-ku berdiri. Aku mulai punya harapan baru. Kupertahankan keadaan penis-ku. Lalu aku cepat-cepat keluar dari kamar mandi, dan menghampiri Noni dengan mengenakan celana dalam saja.<br />
Noni masih duduk, setengah berbaring di atas kursi. Dia tampak tersenyum, memandangku. Entah senyuman apa. Aku tak peduli. Yang jelas aku dengan cepatnya menindih tubuh Noni. Kubuka celana dalamku. Penis-ku agak mengendur lagi. Cepat-cepat kukocok beberapa kali, dan.. bles.. kumasukan pada vagina Noni. Dengan cepat pula kupompa. Lama kelamaan, aku mulai merasakan keseimbangan. Penis-ku sudah sempurna, masuk-keluar pada vagina Noni. Aku pun merasakan kenikmatan dari goyangan Noni yang memang sangat lincah. Beberapa lama, aku dan Noni saling berpagutan dalam irama yang cepat. Nafasnya sudah terdengar tak beraturan. Tubuhnya pun dibanjiri keringat. Suara desahannya tertahan. Tangannya menekan pantatku dengan keras.</p>
<p>&#8220;Emh.. hem&#8221; Itulah suara yang keluar dari bibirnya.<br />
Tubuhnya mengejang, sambil tangannya memeluk tubuhku dengan erat. Aku pun dalam keadaan yang sama. Kurasakan puncaknya akan segera tiba. Tubuhku semakin merapat dengan tubuh Noni. Aku memeluknya juga dengan erat. Kutekan penis-ku dalam-dalam, sambil bibirku menggigit lehernya. Cret.. aku rasakan air maniku keluar di dalam vagina-nya. Indah sekali. Bersama itu pula, Noni mencapai orgasme. Terasa ada kehangatan pada penis-ku, yang masih bersarang didalam vagina-nya. Kami mencapai titik orgasme pada waktu yang bersamaan. Aku bahagia. Aku bisa merasakan lagi nikmatnya bersetubuh. Aku bahagia sekali. Sungguh bahagia.</p>
<p>Noni terlihat puas dengan persetubuhan ini. Dia mengajakku menginap di rumahnya. Aku pun tidak menolak, sebab keadaan sudah larut malam. Dengan senang hati, Noni memasakanku mie rebus. Kami makan bersama dengan lahapnya. Tak lupa, Noni pun membuatkan segelas kopi panas. Membuat tubuhku segar kembali. Kuhisap sebatang rokok, sambil menikmati suasana yang begitu menyenangkan.</p>
<p>Satu jam kemudian, Noni mengajaku lagi mendaki puncak kenikmatan. Tentu saja tidak kutolak. Sebab aku pun sudah merasa kuat lagi. Dan yang pasti, gairah birahiku mulai bangkit kembali. Tapi baru saja kami bercumbu, tiba-tiba terdengar suara tangisan anaknya dari dalam kamar. Tentu saja Noni segera berhenti, dan berlari menuju kamar. Aku mengambil nafas panjang.</p>
<p>&#8220;Darma&#8221; Noni memanggilku dari dalam kamar.<br />
Aku pun cepat-cepat bangkit, dan berlari menuju kamar. Kulihat Noni sedang memeluk anaknya.<br />
&#8220;Matikan lampunya!&#8221; Kata Noni sambil menunjukan stop kontak, yang letaknya tak jauh dari tempatku berdiri.<br />
Kupijit. Dan keadaan pun jadi gelap.<br />
&#8220;Maah, gelaap&#8221; suara anaknya terdengar lagi. Padahal tadi kelihatannya sudah tidur lagi.<br />
&#8220;Iya sayang, ini ada Mamah di sini. Listriknya mati. Ayo tidur lagi&#8221; Terdengar jawaban Noni pada anaknya.</p>
<p>Aku menghampiri Noni dengan hati-hati. Kurebahkan tubuhku di belakang Noni.<br />
&#8220;Anakku harus dipeluk terus&#8221; Noni berbisik sangat perlahan. Aku pun mengerti.<br />
Kubuka saja dulu seluruh pakaianku. Lalu tanganku meraba tubuh Noni. Kubuka seluruh pakaiannya dengan agak hati-hati. Kupeluk dari belakang, sambil kucumbu bagian lehernya. Turun ke punggungnya, sampai pada pinggangnya. Noni mendesah, tapi tak melepaskan pelukan pada anaknya. Tanganku menerobos belahan pahanya. Lalu kumasukan jariku, mempermainkan clitorisnya. Lagi-lagi Noni mendesah, dan agak menggelinjang. Penis-ku makin menegang. Aku tak kuat lagi, ingin memasukannya. Tangan kiriku melingkar pada lehernya. Tangan kananku bekerja, untuk memapah penis-ku. Noni mengerti. Dia mengangkat pahanya sedikit, memberikan jalan masuk. Walau agak sulit dengan posisi seperti itu, namun akhirnya penis-ku bisa masuk dari belakang. Langsung saja kupompa dengan agak perlahan. Terdengar rintihan tertahan dari mulut noni.</p>
<p>Beberapa lama kemudian, Noni mengambil posisi menungging, dengan tangan yang masih mendekap tubuh anaknya. Aku mengerti, apa yang diinginkan Noni. Sebuah gaya yang sering dilihat dalam film blue. Kuikuti saja, dan memang dengan posisi menungging, penis-ku bisa masuk dengan mudah. Kupompa, keluar-masuk. Walau tidak diiringi cumbuan bibir, namun tetap terasa sangat nikmat. Kukencangkan pompaanku, sambil kupegang ujung rambutnya. Tak ubah, seperti sedang menunggang kuda. Terdengar bunyi ranjang yang bergoyang, bersahutan dengan hentakan nafasnya dalam setiap hentakan penis-ku.</p>
<p>Setelah beberapa lama dengan posisi menungging, tiba-tiba tangan Noni mengeluarkan penis-ku. Lalu dia menarik tanganku untuk turun ke lantai, dengan nafasnya yang makin memburu. Aku disuruh berbaring. Sedangkan dia mengambil posisi di atasku, berhadapan. Tangannya begitu cekatan, memapah penis-ku pada lubang vagina-nya. Lalu dia menggoyangkan pantatnya setengah berputar. Semakin cepat goyangannya, kian terasa begitu nikmat.</p>
<p>&#8220;Akh&#8221; Ada suara tertahan dari mulutnya.<br />
Aku pun meremas buah dadanya dengan penuh perasaan. Terasa irama goyangannya kian tak beraturan, bersama desahan nafasnya yang makin terdengar keras. Kedua telapak tangannya mengusap-usap bulu dadaku dan memijitnya. Aku mulai menuju puncak orgasme, hingga kuangkat paha, serta kutekan penis-ku kuat-kuat. Noni pun menekan vagina-nya dan menghentikan goyangannya. Lalu tubuhnya mengejang, bersama dengan keluhan panjangnya. Tubuhnya terkulai lemas, menindihku. Aku makin bernafsu. Tinggal beberapa saat lagi, maniku juga akan keluar. Tiba-tiba Noni bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Penis-ku terlepas dari vagina-nya. Tangan Noni memegang penis-ku, lalu mengulum dengan mulutnya. Terasa kontolku disedotnya. Tentu saja, maniku dengan cepat pula muncrat ke dalam mulutnya. Cret.. cret..</p>
<p>&#8220;Aah&#8221; bibirku pun tak tertahan untuk mengeluarkan suara itu. Noni mengelus-elus penis-ku.<br />
&#8220;Sayang, tidurnya di kursi yah&#8221; Noni berbisik. Aku pun mengerti.<br />
Noni membantuku mengenakan pakaian. Lalu menggandeng tanganku menuju kursi di ruangan tamu. Aku langsung tertidur dengan pulas dan penuh kepuasan.</p>
<p>*****</p>
<p>Jam sembilan pagi, aku baru bangun. Di meja sudah tersedia segelas kopi dan beberapa macam makanan ringan. Aku memang sangat lapar. Lalu aku cuci muka dan gosok gigi dulu. Setelah itu, barulah aku menyantap hidangan Noni. Sedangkan Noni sendiri entah pergi ke mana. Setelah menghabiskan sebatang rokok, aku bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Kubuka pakaianku. Lalu kubasuh tubuhku dengan air yang begitu jernih. Tiba-tiba, pintu diketuk dari luar.<br />
&#8220;Siapa?&#8221;<br />
&#8220;Noni&#8221;<br />
Kubuka pintunya. Noni berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Dia sudah terlihat segar, dengan mengenakan bajunya yang cukup rapi.<br />
&#8220;Mana anakmu?&#8221;<br />
&#8220;Lagi sekolah. Entar jam sepuluh dijemput&#8221;<br />
&#8220;Di mana?&#8221;<br />
&#8220;Ya di TK, dong&#8221; jawabnya. Membuat tanganku dengan cepat, menarik tangannya.</p>
<p>Noni masuk ke kamar mandi. Kukunci pintunya. Dia pasrah, ketika bajunya kubuka satu persatu. Kukucurkan air pada tubuhnya yang sudah bugil. Noni menggigil. Namun aku senang menyaksikannya. Kupeluk dengan gairah nafsu yang mulai bangkit kembali. Adegan sex pun terulang untuk ketiga kalinya. Bahkan di kamar mandi, aku dan Noni mempraktekan beberapa adegan yang pernah kulihat dalam film blue. Klimaknya kuambil adegan duduk dengan kaki menyilang. Betapa nikmatnya. Tubuhnya seakan ingin menyatu, saking eratnya pelukanku dan pelukannya. Kali ini, kami mencapai puncak klimak bersamaan kembali. Semuanya diakhiri dengan mandi bersama. Noni. Oh, Noni.. Terimakasih. Noni telah mengembalikan kepercayaan diriku kembali.</p>
<p>*****</p>
<p>Jika mengikuti ceritaku dari awal, tentu tak akan asing dengan nama Teh Ana. Tetangga kontrakanku yang cantik dan sexi. Suaminya pun tampan. Seandainya nilai ketampananku 8, maka suaminya adalah 8,5. Tapi yang aku herankan, kenapa Teh Ana tiba-tiba tertarik untuk menghampiriku ke dalam kamar.</p>
<p>Sekitar jam delapan malam, Teh Ana mengetuk pintu kamarku. Tentu saja pada mulanya aku merasa kaget. Disamping tidak biasanya, aku pun heran dengan busana yang dikenakannya. Gaun putih transparan. Jelas sekali, Teh Ana tidak mengenakan BH. Sehingga buah dadanya yang besar dan montok, terlihat oleh kedua mataku. Awalnya, aku gugup juga. Bahkan ada rasa ketakutan dalam hatiku. Tentu saja takut suaminya datang.</p>
<p>&#8220;Suamiku lembur&#8221; Ucap Teh Ana, seakan bisa menebak rasa kekhawatiranku.<br />
Teh Ana pun tidak segan-segan untuk tidur-tiduran di atas kasurku.<br />
&#8220;Enak juga kamarmu&#8221; begitu katanya sambil memeluk bantal.<br />
Aku masih termangu, belum mengerti dengan sikapnya dan situasi yang tengah kuhadapi.<br />
&#8220;Teteh, apa enggak takut ketahuan sama Ibu Kontrakan? Nanti dikiranya apaan&#8221; Aku mengingatkannya dengan ragu.<br />
&#8220;Kamu juga kan tidak takut, waktu kemarin three in one?&#8221; Teh Ana balik bertanya dengan tenangnya.<br />
Tentu saja aku terkejut.<br />
&#8220;Teteh tahu?&#8221; Aku terbelalak. Teh Ana cuma senyum sambil menganggukan kepala.<br />
&#8220;Sudahlah, itu kan rahasia kita. Aku ada perlu sama kamu. Mau kan nolongin aku?&#8221;<br />
&#8220;Iya Teh, saya mau&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Teh Ana menatapku dengan pandangan yang begitu menggairahkan. Dia seperti ragu untuk berkata. Namun aku berusaha cepat tanggap. Pikirku, apa lagi kalau bukan urusan sex. Maka tanpa banyak basa-basi lagi, kuserbu tubuhnya yang begitu menggoda. Aku melumatnya dengan bernafsu. Bibirnya kupagut dengan mesra, sambil menindih tubuhnya. Tanganku pun mulai bergerak ke arah bawah. Tapi tiba-tiba tanganku dipegangnya.</p>
<p>Ke bagian 3</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desah Nafas &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 04:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/desah-nafas-1.html</guid>
		<description><![CDATA[Entah karena sakit hati ditinggal kekasih, atau mungkin ada faktor-faktor penyebab lainnya. Yang pasti aku pun baru menyadarinya ketika akan berhubungan intim dengan seorang gadis remaja. Mulanya aku tak percaya. Tapi bagaimanapun juga, memang harus kuakui bahwa aku mengalami ejakulasi dini. Sebuah keadaan yang sangat memalukan di hadapan seorang wanita. Disaat wanita membutuhkan keperkasaan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah karena sakit hati ditinggal kekasih, atau mungkin ada faktor-faktor penyebab lainnya. Yang pasti aku pun baru menyadarinya ketika akan berhubungan intim dengan seorang gadis remaja. Mulanya aku tak percaya. Tapi bagaimanapun juga, memang harus kuakui bahwa aku mengalami ejakulasi dini. Sebuah keadaan yang sangat memalukan di hadapan seorang wanita. Disaat wanita membutuhkan keperkasaan dari pasangannya, ternyata aku begitu loyo. Belum apa-apa, pertahananku sudah bobol, tanpa bisa dipertahankan lagi. Sungguh suatu penderitaan yang sangat berat. Namun aku tak berani untuk berkonsultasi kepada dokter. Kupendam saja kekuranganku, dan aku berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan diriku lagi.</p>
<p>Benar sekali. Mengembalikan diriku. Satu tahun sebelumnya, aku seorang laki-laki yang benar-benar normal. Bukan sekali dua kali, aku melakukan persetubuhan dengan kekasihku. Bahkan kekasihku selalu mendapatkan kepuasan dariku. Mungkin juga hal itulah salah satu yang menjadikan hubungan asmaraku berlangsung cukup lama, kurang lebih tujuh tahun. Sebut saja namanya Wiwi. Walau kini pada akhirnya menikah dengan laki-laki lain, namun kenangan yang tercipta dengannya, tak mungkin terhapus dari ingatan.</p>
<p>&#8220;Aa laki-laki yang perkasa&#8221;<br />
Entah berapa puluh kali, Wiwi mengucapkan kalimat itu, seiap selesai melakukan sex. Apalagi kalau Wiwi bisa bisa mencapai dobel klimaks.</p>
<p>Bukan bermaksud menyombongkan diri, jika aku mengatakan: perkasa. Memang begitulah adanya. Gairah sex-ku selalu menggebu-gebu. Bukan hanya dengan Wiwi. Aku sering melakukan perjalanan ke luar kota. Dan hampir di setiap daerah yang kudatangi, dapat dipastikan aku bisa mendapatkan seorang gadis yang kusukai. Lalu kupacari. Selanjutnya lama kelamaan, menuju kepada jenjang atas ranjang. Sebut saja, aku tidak setia kepada Wiwi. Wajar sekali jika akhirnya Wiwi jatuh kepada pelukan lelaki lain, walau masalahnya bukan karena perselingkuhanku.</p>
<p>Aku tak merasa wajahku tampan, walau banyak yang mengatakan bahwa aku tampan. Kuanggap sebagai banyolan atau rayuan sandal jepit saja. Hanya perkataan seorang gadis China yang agak kupercayai.<br />
&#8220;Darma, kamu gagah&#8221; Begitu katanya, ketika pertama kali berkenalan di sebuah kafe music.<br />
Nn namanya. Seorang janda, yang usianya satu tahun dibawahku. Entah apa yang membuatnya begitu tertarik kepadaku. Sampai pada akhirnya, setelah bersahabat selama dua bulan, Nn pun bersimbah keringat tanpa busana, di sebuah hotel yang ada di wilayah Bandung. Dia begitu puas dengan permainanku. Kami mencapai klimaks berbarengan. Dan pengalaman itu pun merupakan yang pertama kalinya, aku melakukan hubungan sex dengan wanita bermata sipit.</p>
<p>*****</p>
<p>Suatu kali, aku pun pernah masuk ke sebuah lokasi prostitusi di wilayah Tanjung Sari &#8211; Sumedang (yang saat ini telah diratakan). Aku tertarik kepada seorang WTS yang tengah duduk di sebuah meja. Dia begitu cantik dan menawan. Mengajak kakiku untuk melangkah ke arahnya.</p>
<p>Senyum manis dari bibir merahnya, membuat gairah sexualku terangsang. Apalagi lekuk tubuhnya yang indah, begitu terlihat mencolok dengan pakaian ketatnya. Tanpa banyak basa-basi lagi, aku mengajaknya ke kamar. Tentu saja dia menganggukan kepala, sambil beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa, dia pun membawa sebotol bir untuk dibawa ke dalam kamar.</p>
<p>Walau dia seorang WTS, namun aku sempat menanyakan dulu namanya. Entah palsu atau tidak, yang pasti dia mengaku bernama: Ayu. Bahkan dari perbincangan singkat sebelum memulai permainan, aku bisa mengetahui kalau Ayu itu seorang janda yang disakiti oleh mantan suaminya. Klasik. Tapi aku tak tertarik untuk mengetahuinya lebih jauh, sebab aku sudah tak tahan lagi untuk memulainya. Kupeluk tubuhnya yang telah bugil itu. Beberapa menit, aku bergumul sambil bercumbu. Satu persatu, pakaianku mulai dibukanya. Ayu mengambil posisi di atasku. Sehingga dengan mudah, dia memapah penisku untuk langsung dimasukan ke dalam vaginanya yang telah basah. Kemudian menggoyangkan pantatnya turun naik, diiringi oleh suara erangannya yang menambah gairahku. Pompaannya semakin dipercepat. Sementara tanganku tak hentinya meremas sekujur tubuhnya. Walau susunya sudah tidak terlalu kenyal, namun mulutku tak mau melepaskan sedotan pada putingnya. Nafasnya makin tersengal-sengal. Sampai akhirnya dia menggulingkan tubuhnya. Walau hanya dengan isarat, aku pun bisa mengerti. Ayu meminta ganti posisi.</p>
<p>Aku memang lebih menyukai gaya konvensional. Aku berganti posisi di atasnya, seperti yang biasa kulakukan dengan wanita-wanita lain. Kumasukan penisku dengan mudah. Lalu kupompa dengan perlahan. Tangan Ayu menekan pantatku, sehingga aku tertantang untuk mempercepat gerakannya. Seandainya mulut Ayu tak kusumbat dengan bibirku, pasti suara erangannya akan terdengar dengan jelas. Betapa nikmatnya. Ayu ternyata begitu mahir menggoyangkan pinggulnya. Sampai akhirnya tangan Ayu memeluk tubuhku dengan eratnya. Bibirnya semakin ganas melumat serta menyedot bibirku. Bahkan tangannya berpindah ke rambutku. Menjambaknya dengan agak keras.</p>
<p>Kubiarkan Ayu mengalami orgasme lebih dulu. Aku begitu puas menyaksikannya. Ayu terkapar dengan nafas naik turun. Tangannya sudah tergolek. Keduanya matanya pun terpejam. Sementara aku masih berada di atas tubuhnya. Aku belum mau orgasme. Sehingga aku terus membenamkan penisku turun naik. Tak peduli dengan keadaan Ayu yang sudah tidak respon lagi. Sebab pemandangan seeperti ini, sudah sering kusaksikan, baik dengan Wiwi atau wanita lainnya. Dan memang tak jauh beda dengan Wiwi. Ayu pun diam saja, tanpa melayani, tetapi tidak menolak. Sampai beberapa saat kemudian, aku mulai akan mencapai puncaknya. Kupercepat gerakan pantatku. Kuremas tubuh Ayu dengan lebih keras. Ayu mengerang lebih keras. Kali ini kubiarkan saja. Kurapatkan tubuhku. Ayu mengerti. Dia pun memeluk tubuhku. Dan kugigit lehernya, sambil kupuncratkan maniku yang sudah tak tertahan lagi di dalam pagina-nya.</p>
<p>Aku bangga, bisa mengalahkan seorang WTS. Semakin PD saja. Aku yakin, memang aku perkasa. Ayu pun merasa puas. Dia berterimakasih banyak kepadaku. Entah rayuan atau apa, yang jelas dia mengatakan bahwa akulah tamu pertama yang bisa membuatnya orgasme. Walau begitu, Ayu tetap kubayar. Namun satu minggu kemudian dia menelponku. Dia mengajakku melakukannya di kamar kost-an. Kurang lebih tiga kali, aku melakukan sex di luar jam kerja Ayu. Tentu saja kali ini sangat gratis. Bahkan setiap kali aku ke kamarnya, pasti aku dijamunya.</p>
<p>*****</p>
<p>Itulah sekilas gambaran sosokku, sebelum mengalami masalah ejakulasi dini. Benarkah aku tampan dan gagah? Rasanya biasa saja. Kulitku sawo matang, hanya (mungkin) kelebihanku karena banyak ditumbuhi bulu-bulu pada tubuh. Kalau Tinggi hanya 175 M, dan berat 68 Kg. Masih banyak laki-laki yang lebih segala-galanya dariku. Tapi Aku merasa heran (sekaligus gembira), sebab banyak wanita yang tertarik pada sosokku. Tanpa sadar pula, hal itu membawaku pada sebuah predikat &#8220;fly boy&#8221;. Walau aku tak suka dengan sebutan itu. Cinta kasihku yang tulus, hanya untuk Wiwi. Tapi gairah sexualku terlalu berlebihan. Yang menyebabkan aku ingin melakukan sexual dengan beberapa orang wanita. Tetapi di sisi lain, aku pun tak mau kehilangan Wiwi. Sehingga lumrah sekali, ketika Wiwi dijodohkan orang tuanya, aku begitu terpukul. Sakit hati. Menderita. Sedih. Semuanya berbaur dalam jiwaku.</p>
<p>Kepergian Wiwi dari hidupku, benar-benar membawa pengaruh yang besar. Aku menjadi enggan lagi berhubungan sexual. Sampai bertahan selama satu tahun, aku tidak pernah tidur lagi dengan seorang wanita pun. Disamping tak bergairah, ditambah dengan sikap keseharianku, yang selalu menghindar dari setiap perbuatan yang mengarah ke sana.</p>
<p>Tapi bagaimanapun juga, aku seorang penggemar sex. Lama kelamaan, aku merindukan lagi kehangatan tubuh wanita. Biasanya kalau aku terdesak, Wiwi selalu siap melayaniku. Tapi kini? Wiwi tak ada, dan aku ingin sekali melakukannya. Sampai pada suatu malam, ketika sedang berkhayal di kamar kontrakanku, tiba-tiba datang seorang kawan kuliah. Erik namanya. Dia datang bersama seorang gadis remaja. Kontan saja, aku langsung menanyakan latar belakang gadis yang dibawanya, setengah berbisik-bisik di luar kamar.</p>
<p>Menurut Erik, gadis itu bernama Nia. Baru dikenalnya selama satu bulan. Nia baru duduk di kelas 1 SMU. Usinya pun paling 16 tahun. Tapi kelihatannya sudah dewasa. Dia tidak terlalu cantik, tapi wajahnya manis. Tingginya hampir 170-an. Walau berpakaian longgar, namun aku bisa mengira-ngira bentuk tubuhnya yang montok. Gairahku bangkit, tatkala rok-nya tersingkap waktu duduk. Kulitnya begitu putih dan mulus. Kalau diibaratkan buah, Nia itu masih terlihat segar, dan akan begitu enaknya bila dimakan. Sayang sekali, dia begitu mesranya duduk dengan Erik. Membuatku tidak berani untuk mengganggunya.</p>
<p>Erik menyuruhku membeli rokok, sambil mengerdipkan matanya. Aku langsung mengerti. Walau berat rasanya, aku pun beranjak dari dalam kamar. Kutinggalkan Erik dan Nia berduaan. Dan aku tidak pergi ke warung. Buat apa, rokok masih ada. Aku memilih untuk duduk-duduk di depan kamar kontrakan. Untungnya para penghuni lainnya banyak yang keluar. Kalau pun ada satu dua orang, mereka lebih memilih diam di dalam kamar sambil nonton tivi. Terdengar dari volume suaranya yang cukup keras.</p>
<p>Lama kelamaan, aku merasa penasaran dan tertarik untuk ngintip kawanku melalui lubang kunci. Aku bangkit, dan melangkah perlahan-lahan menuju pintu. Setelah keadaan kuanggap aman, maka aku pun mulai berjongkok dan mendekatkan mukaku pada lubang kunci. Benar sekali, tak jauh dari perkiraan. Erik sedang bergumul dengan Nia dalam keadaan telanjang bulat. Rupanya Erik pun lebih menyukai gaya konvensional. Dia berada di atas Nia, dengan pantat yang turun naik. Tak kulihat wajah Nia, sebab terhalangi tubuh Erik. Hanya tangannya yang melingkar pada punggung Erik. Sama dengan kedua ujung kakinya yang menyilang di atas paha Erik.</p>
<p>Sungguh tak kuasa menahan gejolak keinginanku. Aku semakin terbawa oleh suasana di dalam kamar. Sampai aku pun tak sadar, kalau tetangga kontrakanku sedang memperhatikan di depan pintunya.<br />
&#8220;Lagi apa, Kang Darma?&#8221; begitu katanya, membuatku benar-benar terperanjat.<br />
Untung saja aku cepat-cepat melakukan tindakan improvisasi.<br />
&#8220;Ini kuncinya hilang, Teh&#8221; jawabku, setengah berdebar-debar.<br />
Dia adalah Teh Ana. Walau hubunganku baik-baik, namun aku khawatir kalau-kalau Teh Ana melaporkan pada Si Ibu Kontrakan.<br />
&#8220;Mungkin jatuh di jalan&#8221; Kata Teh Ana lagi, sambil mengulaskan senyumannya.<br />
&#8220;Kalau mau minum kopi, di sini aja dulu&#8221; Teh Ana menawarkan jasa.<br />
&#8220;Kang Didi-nya sudah pulang, Teh?&#8221;<br />
&#8220;Belum&#8221;<br />
&#8220;Enggak, ah. Malu&#8221; Ucapku sambil tetap berlagak mencari-cari sesuatu.</p>
<p>Aku memang agak risih juga kalau berhadapan dengan Teh Ana. Usianya satu tahun di atasku. Sudah hampir dua tahun menikah, namun belum dikarunia seorang anak. Terkadang aku pun suka tergiur oleh kemolekan tubuhnya. Namun aku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Disamping suaminya selalu bersikap baik, aku pun menjaga imej. Walau kuakui, gairah sexualku suka langsung menggebu-gebu, kalau memandang bentuk tubuh Teh Ana yang sexi. Aku tak berani menggodanya. Takut berakibat buruk bagiku. Sukur-sukur kalau Teh Ana mau diajak selingkuh. Kalau tidak? Bisa fatal akibatnya.<br />
&#8220;Saya mau nyari dulu ke warung. Kali aja ketinggalan di sana&#8221; Kataku sambil melangkah, meninggalkan Teh Ana yang masih berdiri di depan pintu.<br />
Aku memang pergi ke warung. Tapi bukan mencari kunci atau membeli rokok. Aku malah membeli sebotol bir.</p>
<p>Pulang dari warung, pintu kamar Teh Ana sudah tertutup lagi. Tak lama kemudian, kulihat pintu kamarku juga terbuka. Erik keluar sambil tersenyum-senyum sendiri, dengan wajah yang cerah. Lalu dia menghampiriku.<br />
&#8220;Kamu mau?&#8221; begitu katanya, setengah berbisik.<br />
&#8220;Sialan&#8221; jawabku, sebab perkiraanku Erik mengajak bercanda atau sengaja memanas-manasiku.<br />
&#8220;Ini serius&#8221; Katanya lagi dengan penuh keyakinan. Tentu saja hatiku mulai berdebar-debar.<br />
&#8220;Bener?&#8221; Aku mau meyakinkannya. Erik menganggukan kepala sambil tersenyum.<br />
&#8220;Emangnya dia cewek bispak?&#8221; Aku masih bertanya lagi.<br />
&#8220;Bukan sih. Tapi kalau mau, coba aja&#8221;<br />
&#8220;Dianya mau?&#8221;<br />
&#8220;Coba saja kataku juga. Aku mau nyari nasi goreng dulu ah&#8221; Erik berlalu dari hadapanku.<br />
Tentu saja aku semakin mendapat angin. Walau agak ragu, namun aku melangkah ke depan pintu. Kudorong perlahan-lahan.</p>
<p>Nia masih terbaring di atas kasurku. Pakaiannya berserakan di lantai, tetapi sekujur tubuhnya ditutupi oleh selimut. Dia menatapku dengan pandangan yang penuh tanda tanya. Sikapnya terlihat kikuk, ketika mengetahui aku yang masuk ke dalam kamar.</p>
<p>&#8220;Mana A Erik?&#8221; Tanya Nia.<br />
&#8220;Lagi ke warung dulu, tuh&#8221; Aku mencoba bersikap tenang.<br />
Kuletakan botol bir di atas meja. Lalu kubuka dan kutuangkan sebagian isinya pada sebuah gelas.<br />
&#8220;Mau minum?&#8221; Aku memancingnya.<br />
Tapi Nia hanya menggelengkan kepala. Kutatap wajahnya dengan penuh perasaan. Namun Nia tampak seperti yang ketakutan. Membuat aku bingung dibuatnya. Kucoba mencari jalan, dengan meneguk bir sampai habis satu gelas penuh.</p>
<p>Nia bangkit tanpa melepaskan selimut penutup tubuhnya. Tangannya menuju ke arah lantai, untuk memungut pakaiannya. Tentu saja aku kecewa. Padahal nafsu birahiku sudah begitu menggebu-gebu. Dan ketika kulit punggungnya terlihat oleh kedua mataku, sungguh tak dapat ditahan lagi. Nafsuku memuncak. Kuhampiri Nia, sekaligus pula kupeluk tubuhnya. Nia nampak begitu kaget. Dia reflek meronta-ronta, ingin melepaskan diri.</p>
<p>&#8220;Jangan, A&#8221; suaranya tertahan.<br />
Untung sekali dia tak berani berteriak. Membuat aku semakin ganas menggerayangi tubuhnya. Kututup bibirnya dengan ciuman. Dia masih meronta-ronta sekuat tenaga. Kedua tangannya berusaha mendorong dadaku. Namun walau bagaimanapun, aku tak mungkin bisa menghentikannya. Tenagaku lebih kuat. Hingga selimutnya telah kulepaskan dari tubuhnya. Tangan kiriku juga cukup cermat membuka celanaku dengan cepat. Dalam sekejap, tubuh bagian bawahku sudah telanjang bulat.<br />
&#8220;A, jangan. Nanti ada A Erik&#8221; Nia berusaha menyadarkanku.<br />
Namun tak ada pengaruhnya sama sekali. Tanganku berganti posisi. Tangan kiri kulingkarkan pada lehernya. Sementara tangan kanan menuntun kemaluanku untuk masuk ke lubang vaginanya. Kubiarkan kedua tangannya mencakar dan memukul-mukul tubuhku.</p>
<p>Aku begitu kaget, ketika penisku baru menyentuh bagian luar vaginanya, tiba-tiba ada sebuah desakan pada penis-ku. Tak bisa kutahan. Aku mau mengalami orgasme. Sehingga aku cepat-cepat menggulingkan tubuhku, dan menumpahkan maniku ke atas kasur sambil telungkup. Tak kuberi tahu kepada Nia, kalau aku telah orgasme. Nia tak beranjak. Dia menitikan air matanya. Aku pun memungut lagi celanaku, dan memakainya.</p>
<p>&#8220;Trimakasih, A. Ternyata Aa bisa mengendalikannya&#8221; begitu kata Nia.<br />
Membuat hatiku merasa lega. Nia mengira, aku telah berusaha mengendalikannya. Padahal sebenarnya aku mengalami kejadian yang sangat pahit, dan baru pertama kalinya kualami semasa hidupku. Mulanya aku tak percaya. Tapi ini nyata. Aku sangat lemah. Bahkan teramat lemah. Loyo. Teramat loyo. Kenapa aku tidak perkasa lagi? Betapa tak berartinya aku sebagai laki-laki. Memang di satu sisi, aku tidak jadi &#8220;Memperkosa&#8221; seorang wanita lugu. Namun di sisi lain, aku merasa khawatir dengan keadaanku.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/desah-nafas-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
