<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Setengah Baya</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-setengah-baya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>pengalaman ku dengan tante murni</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html</guid>
		<description><![CDATA[Ibuku adalah 7 bersaudara, dan beliau adalah anak tertua kedua, kemudian adik-adiknya ada 4 orang, berturut-turut perempuan dan yang bungsu laki laki, adik perempuan yang terkecil tinggal bersama kami sejak aku masih kecil. Sejak aku usia 8 tahun (kira kira kelas 3 SD), tanteku itu mulai ikut tinggal di rumah kami, sebut saja Tante Murni. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibuku adalah 7 bersaudara, dan beliau adalah anak tertua kedua, kemudian adik-adiknya ada 4 orang, berturut-turut perempuan dan yang bungsu laki laki, adik perempuan yang terkecil tinggal bersama kami sejak aku masih kecil. Sejak aku usia 8 tahun (kira kira kelas 3 SD), tanteku itu mulai ikut tinggal di rumah kami, sebut saja Tante Murni. Tante Murni terpaut sekitar 6 tahun denganku, jadi waktu itu usianya 14 thn. Setelah lulus SMP di K, Tante Murni tidak mau meneruskan ke SMA dan memilih ikut kakaknya di Jakarta, katanya mau tahu Jakarta. Wajah Tante Murni sangat menarik, bulat, cukup cantik, kulit sawo matang, dengan tinggi seperti anak perempuan usia 14 tahun, tetapi dalam pandanganku sepertinya tubuh Tante Murni lebih montok dibanding teman seusianya yang lain. Sebagai gadis remaja yang sedang mekar tubuhnya, tanteku ini juga agak sedikit genit. Dia senang berlama-lama jika sedang merias dirinya di depan cermin, aku sering menggodanya dan Tante Murni selalu tertawa saja. Aku sendiri anak tertua dari tiga bersaudara (semua saudaraku perempuan). Rumahku waktu itu hanya mempunyai 3 kamar, satu kamar orang tuaku dan dua untuk anak anak. Kedua adikku tidur dalam satu kamar, dan aku menempati kamar lain yang lebih kecil. Sejak Tante Murni tinggal dengan kami, tante tidur dengan kedua adikku ini. Pergaulan Tante Murni dengan tetangga sekitar juga sangat baik, ia cepat akrab dengan anak remaja sebayanya, antara lain tetangga kami Suli. Usianya tak jauh beda dengan tanteku kira-kira 15 tahun, tapi berbeda dengan tanteku, Suli berkulit putih bersih dan jauh lebih tinggi (kata orang bongsor), wajahnya ayu, rambutnya selalu disisir poni, murah senyum dan baik hati. Ia sangat baik terhadap semua saudaraku terlebih terhadapku, mungkin karena ia anak tunggal dan sangat mendambakan seorang adik laki-laki seperti yang sering dikatakannya kepadaku. Mbak Suli sering bermain di rumah kami, bahkan beberapa kali ikut tidur di rumah kami bila hari libur, oh ya Mbak Suli ini kelas 2 SMEA. Sekitar dua bulan setelah Tante Murni tinggal di rumahku, suatu saat Ibu dan almarhum ayahku harus meninggalkan kami karena suatu urusan di Jawa Tengah (almarhum berasal dari sana) katanya urusan warisan atau apalah waktu itu aku tidak begitu paham. Adikku yang kecil (2,5 thn.) diajak serta, sedangkan kami dititipkan pada tetangga sebelah rumah (kami saling dekat dengan tetangga kiri-kanan) dan tentu saja pada Tante Murni. Tante Murni orangnya sangat telaten mengurus para keponakan, mungkin karena di desa dulu memang tanteku itu orang yang “prigel” dalam pekerjaan rumah tangga. Setiap hari Tante Murni bersama adikku selalu mengantarku sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah. Lalu ia pulang dan menjemputku lagi pada jam pulang sekolah (kira-kira pukul 10:30). Aku sangat senang dijemput Tante Murni, karena aku punya kesempatan untuk menggandengnya dan menepuk pantatnya yang montok itu. Entah mengapa meskipun aku saat itu masih kecil, tetapi kemontokan dada Tante Murni serta juga pinggulnya yang menonjol itu membuat aku selalu berusaha menyentuhnya terutama secara “pura pura” tidak sengaja. Semuanya itu aku lakukan secara intuitif saja, tanpa ada siapapun yang mengajari. Pada hari keempat sejak ditinggal pergi kedua orang tuaku (hari Sabtu), Sepulang sekolah, kami bermain di ruang depan sambil nonton televisi. Aku, adikku, Tante Murni dan Mbak Suli. Orang tua Mbak Suli inilah yang dititipi oleh orang tuaku. Masa kecilku memang lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, jarang aku bermain di luar rumah kecuali bila sekolah, dan pergaulanku juga lebih banyak dengan adikku, atau beberapa anak sebaya tetangga terdekat, itupun kebanyakan mereka perempuan. Kami biasanya bermain mobil-mobilan atau sesekali bermain dokter-dokteran, aku jadi dokter lalu Tante Murni dan Mbak Suli menjadi pasien. Kadang-kadang bila aku sedang berpura-pura memeriksa dengan stetoskop mainanku secara mencuri-curi aku menyenggol payudara Mbak Suli atau tanteku, tapi mereka tidak marah hanya tersenyum sambil berkata, “Eh, koq dokternya nakal, ya”. sambil tertawa, terkadang membalas dengan cubitan ke pipi atau lenganku, yang selalu kuhindari. Memang mulanya aku tak sengaja tapi sepertinya asyik juga menyenggol payudara mereka, maka hal itu menjadi kebiasaanku, setiap kali permainan itu. Terasa sekali payudara mereka kenyal dan empuk, setelah aku besar baru aku menyadari bahwa saat itu mereka pasti tak memakai beha, karena tak terasa ada sesuatu yang menghalangi sentuhan jariku pada daging montok itu kecuali lapisan baju mereka. Setiap kali tanganku menyentuh meremas atau menowel bukit empuk itu, aku merasakan ada getaran aneh terutama di sekitar kemaluanku, tak jarang membuatnya menegang, walaupun waktu itu masih kecil dan belum sunat. Sering aku mengkhayalkan memegang payudara mereka bila sedang sendirian di kamarku sambil memegang burung kecilku, hingga tegang walaupun tak sampai mengeluarkan sperma, hanya cairan bening, seperti cairan lem uhu tapi tidak seperti lem lengketnya. Siang itu setelah adikku tertidur kami kembali bermain dokter-dokteran dan hal itu kulakukan lagi. Untuk diperiksa kuminta Tante Murni untuk berbaring di lantai, dia menurut saja. Yang pertama kuperiksa adalah dahinya lalu aku langsung meletakkan stetoskopku di dadanya, namun aku sengaja memposisikan tanganku sedemikian rupa sehingga tanganku berhasil menempel di dada Tante Murni, kurasakan empuk sekali dan seiring dengan napasnya, tangankupun ikut naik turun pelan-pelan. Tante Murni hanya tertawa saja, sementara Mbak Suli memperhatikan sambil tertawa, rupanya mereka geli atas kekurangajaranku ini, sepertinya Tante Murni keenakan dengan tingkahku ini, tanganku tak hanya memeriksa di satu tempat tetapi terus bergeser, dan aku tak pernah mengangkat tanganku dari gundukan kenyal itu. Sampai tiba-tiba Tante Murni memegang tanganku dan menggosok-gosokannya di dadanya. Aku merasa senang sekali, apalagi Tante Murni juga tiba-tiba merangkul dan menciumiku dengan gemas, tapi ya cuma begitu saja. Karena selanjutnya Mbak Suli yang minta diperiksa, Mbak Suli malahan lebih gila lagi, dia sengaja membuka kancing blus-nya sehingga aku bisa melihat gundukan daging yang putih itu. Tanganku gemetar ketika meletakkan stetoskop plastikku di tepi gundukan dadanya, apalagi ketika dengan suara nyaring Mbak Suli berkata, “Mas.. (dia biasa memanggilku Mas seperti adik adikku, begitu juga Tante Murni), dingin stetoskopmu!”. Tanpa mempedulikan ucapannya, stetoskopku terus bergeser sehingga tersingkaplah bajunya dan mataku terbelalak melihat puting susunya yang kecil dan berwarna coklat muda itu. Saat itulah Mbak Suli menepis tanganku sambil tertawa, “Sudah sudah, geli!”. Mereka berdua langsung berdiri dan meninggalkanku sambil berbisik-bisik, aku merengek agar mereka tetap menemaniku bermain, tetapi mereka terus keluar sambil tertawa. Aku merasakan kalau penisku kaku sekali dan juga celanaku jadi basah, entah mengapa aku jadi penasaran sekali dengan semua ini, aku bertekad kalau besok main dokter-dokteran lagi, akan aku singkap baju Tante Murni atau Mbak Suli biar aku bisa melihat lebih jelas puting susu yang menonjol bulat itu. Malamnya sebelum tidur aku kembali membayangkan kejadian siang itu, kurasakan penis kecilku meregang sehingga kubuka celana pendekku dan kukeluarkan penisku yang sudah tegak ke atas itu. Kupegang dan kuremas pelan-pelan, sambil memejamkan mata kubayangkan kekenyalan dada Tante Murni, puting susu Mbak Suli, terasa nikmat sekali melamun sambil merasakan sesuatu yang gatal dan nikmat di sekitar penisku itu. “Hayo., lagi ngapain!, Aku jadi kaget dan terlonjak serta membuka mataku. Di depanku kulihat Tante Murni sambil tersenyum memandang bagian bawah tubuhku yang terbuka itu. Mukaku terasa panas, mungkin merah padam mukaku, sambil membetulkan celana yang hanya kupelorotkan sampai dengkul aku segera memeluk guling tanpa berkata apa apa lagi dan membelakangi tanteku. Sambil terus tertawa tanteku ikut naik ke ranjangku dan memelukku dari belakang dan menciumku sambil berbisik, “Nggak apa apa Mas.”. Jantungku deg-deg, apalagi ketika dengan lembut tanteku membelai rambutku terus tubuhku sambil berbisi, “Ehh, jangan malu, kamu senang ya pegangin burung, sini tante pegangin”. Mulanya aku ragu, takut kalau tanteku hanya memancing reaksiku saja, tetapi ketika rabaannya turun ke arah selangkanganku aku jadi berubah senang. Kuberanikan diri untuk menolehnya dan kudapati wajah tanteku yang tersenyum manis sekali membuat hatiku berbunga bunga. Burungku yang tadinya sudah mengecil itu mendadak meregang lagi dan mendesak celanaku. Tanteku kemudian menciumi wajahku dengan kasih sayang, tangannya mulai meraba lagi bagian sensitifku dari bagian luar celanaku, aku yakin tanteku bisa merasakan penisku yang meregang dan keras itu, elusan tanteku terasa kurang nikmat, aku berpikir seandainya tanteku memegang langsung burungku, tentu lebih nikmat. Belum habis aku berpikir, tiba-tiba saja Tante Murni memelorotkan celana pendekku sampai terlepas, sehingga burungku yang sudah tegang itu bebas mengacung diudara terbuka. Dengan kelima jarinya tanteku menggenggam burungku dan meremasnya pelan. Aku merasa gatal dan geli serta nikmat yang tak kumengerti tapi membuat aku merasa seperti melayang dan menggeliat serta merintih pelan. Dengan memandang tajam mataku, remasan jari lentik Tante Murni di burungku menjadi semakin cepat bahkan juga dikocoknya naik turun kadang-kadang juga dielusnya buah pelirku. Aku semakin meringis merasakan kenikmatan ini, secara naluriah aku berusaha merangkul tanteku agar rasa geli itu makin terasa nikmat. Aku juga berusaha menempelkan wajahku ke wajah Tante Murni yang kulihat juga merah padam dan bibirnya gemetar, nafas Tante Murni semakin memburu dan dia makin merapatkan tubuhnya ke tubuh kecilku, tanganku diraihnya lalu dituntun ke dadanya yang montok dan kenyal itu. Tanganku terasa menempel di puting susu Tante Murni yang terasa keras seperti kelereng itu, aku meremasnya dengan agak sulit, karena telapak tanganku yang kecil itu tak bisa meremas keseluruhan permukaan dada Tante Murni yang lebar dan keras itu Kuperhatikan tanteku saat itu mengenakan daster kaos yang tipis tanpa mengenakan apa apa lagi dibaliknya. Merasa kurang puas hanya meremas dari luar, akupun menyelusupkan tanganku ke lubang tangan daster Tante Murni sehingga tanganku secara langsung bersentuhan dengan dada yang telah lama aku kangeni itu, hangat dan licin sekali. Kalau tadinya tanteku yang asyik meremas-remas burungku, sekarang justru aku yang beringas meremas-remas payudara tanteku bahkan tanganku yang lain juga ikut ikutan meremas payudara Tante Murni yang satunya. Tante Murni hanya memejamkan matanya rapat rapat sambil menggigit bibirnya. Aku tak mempedulikan apapun sikap Tante Murni, bagiku kesempatan emas ini harus benar-benar dinikmati dan peduli dengan tanteku. Tanganku bukan hanya meremas, tetapi juga memelintir puting susu tanteku yang kecil dan keras itu, lucu sekali melihat kedua tanganku menelinap dan bergerak-gerak di dalam daster tanteku. Kurasakan tangan tanteku sudah tak mengocok penisku, tetapi hanya kadang kadang saja dia meremasnya dengan keras membuat aku kesakitan. Dari luar dadanya yang berdaster mulutku ikut ikutan menciumi dada tanteku itu, rasanya bila memungkinkan aku ingin memanfaatkan seluruh tubuhku untuk menikmati kekenyalan dada Tante Murni ini. Tak kusadari nafas tanteku makin lama makin memburu, rupanya dia juga sangat menikmati kekasaran tanganku ini. Tiba-tiba saja Tante Murni mengangkat dasternya sehingga dadanya tersibak, baru saat itu aku bisa melihat kemontokan payudara tanteku ini, tanganku hanya dapat menutupi sebagian ujung atas payudaranya, sedangkan bagian yang lain masih belum tersentuh oleh remasanku. Dada yang montok itu dipenuhi oleh barut-barut merah bekas remasanku. Setelah dadanya terbuka dengan gemetar Tante Murni berbisik, ” Mas, isep pentilnya pelan-pelan ya”. Tak perlu diperintah dua kali, aku segera melumat puting susu tanteku dan mengenyotnya sekuatku, Tante Murni mendesis desis dan menekan kepalaku kuat kuat kedadanya, aku memeluk pinggangnya dan kutindih badan Tante Murni dengan tubuhku yang telanjang bawah itu. Terasa burungku yang kaku itu menghunjam di tubuh mulus tanteku yang hanya dilapisi celana dalam itu. Tanteku makin kencang memeluk tubuhku, bahkan ia menyuruh aku untuk menjilati juga putingnya. Kulakukan semua itu dengan penuh semangat, entah apa pengaruh kepatuhanku ini pada Tante Murni, yang jelas aku sangat menikmatinya, penisku yang menggeser-geser diperut Tante Murni terasa mengeluarkan cairan yang membasahi perut Tante Murni. Saat itu Tante Murni sudah tak mempedulikan penisku lagi, dia asyik menikmati kepatuhanku itu. Mungkin karena sudah tak tahan dengan semua itu, tiba-tiba saja Tante Murni juga melepaskan celana dalamnya. Selama ini aku hanya bernafsu pada buah dadanya saja, aku tak pernah berpikiran lebih dari itu. Ketika dengan berbisik ia menyuruhku memindahkan ciumanku, aku agak bingung juga. ” Mas, ayo sekarang ciumi selangkangan Mbak ya, nanti punya kamu juga Mbak ciumi”. Aku menghentikan kesibukanku di dada Tante Murni dan memandang ke selangkangannya. Aku takjub sekali melihat selangkangan Tante Murni itu karena ada rambut keriting yang tumbuh di ujung selangkangannya yang cembung itu, ini adalah pemandangan yang sama sekali baru bagiku, selama ini aku hanya pernah melihat selangkangan adikku yang aku tahu tak ada burungnya seperti aku. Namun selangkangan wanita yang berbulu, ya baru kepunyaan Tante Murni ini! Oh, terus terang saja, meskipun aku secara naluri sudah bangkit birahi, tetapi tak pernah kubayangkan bahwa aku akan melangkah sejauh ini dalam bidang seksual apalagi di usiaku yang belum sampai sepuluh tahun itu. Aku agak ragu juga melepaskan mainan yang begitu nikmat di payudara Tante Murni, tetapi perintah Tante Murni membuatku merubah posisi badanku dan dengan ragu-ragu kudekatkan wajahku ke bukit cembung yang ada bulu keritingnya itu. Merasakan keraguanku, Tante Murni tanpa basa basi langsung menekan kepalaku sehingga bibir dan hidungku menempel di bulu-bulu keriting yang halus itu. Karena tadi aku disuruh menggigiti payudara, maka kali ini akupun juga mulai menggigiti bukit cembung itu. Namun kudengar Tante Murni berteriak lirih, “Jangan keras keras gigitnya Mas, sakit!”. Ketidaktahuanku benar-benar konyol, aku kira bukit cembung itu sama seperti payudara, tetapi karena bidangnya kecil, tanganku tak mungkin untuk meremasnya, sebagai sasaran lain aku jadi meremas paha Tante Murni serta juga pantatnya. Ketika Tante Murni membisiki agar ciumanku lebih turun lagi ke depan, aku agak bingung juga. Nah ketika aku maju ke depan barulah aku melihat celah sempit yang berbentuk bibir dan saat itu sudah basah. Warnanya sungguh menarik merah muda dan bibirnya seperti berlipat lipat. Seperti biasa aku menciumi bagian ini dengan penuh semangat. “Jilat saja Mas, nikmat lho!”, bisikan Tante Murni membuatku merubah lagi permainanku. Entah kenapa di tengah asyiknya aku menjilati celah basah yang asin dan agak amis itu, Tante Murni mengerang dan menjambak rambutku sambil menjepitnya dengan kedua pahanya. Aku tak bisa bernafas dan aku segera berontak melepaskan diri. Tante Murni melepaskan dasternya yang tadi masih bergulung di atas dadanya sehingga dia sekarang jadi telanjang bulat. Dengan suara serak disuruhnya aku berbaring telentang, dengan telanjang bulat Tante Murni memegang burungku yang masih tegang itu, karena waktu itu aku belum dikhitan, tanteku menceletkan kulup penisku yang terasa sangat geli bagiku kemudian dengan tiba-tiba Tante Murni mengangkangi burungku dia menurunkan pantatnya, dan dituntunnya burungku memasuki celah sempit yang tadi aku jilati itu. Dilakukannya semua ini dengan pelan-pelan sampai akhirnya aku merasakan kehangatan jepitan kemaluan tanteku yang ternyata telah sangat basah. Aku tak mengerti apa yang dilakukan tanteku ini, tetapi terasa geli, ngilu di sekitar kemaluanku, juga ada rasa perih. Tanteku hanya diam saja setelah menelan burungku, dia malah mendekatkan dadanya ke wajahku sehingga aku mulai lagi menyedot puting susunya itu. Tanteku kembali mendesis-desis, dan terasa dia memutar-mutar pantatnya membuat burungku seperti dikocok-kocok oleh tangan tanteku yang lembut itu, nikmat sekali. Tanteku terus saja menggoyangkan pantatnya ke kanan-kiri, putar sehingga ada rasa yang lebih nikmat di sekitar kemaluanku. Rasa geli yang ditimbulkan membuat aku makin ganas menciumi bahkan juga menggigit daging montok yang bergantung di depanku itu. Ketika Tante Murni mengangkat pantatnya, aku merasa kalau batang burungku yang sekarang penuh lendir dari dalam celah Tante Murni itu menjadi gatal dan geli, ternyata rasanya jauh lebih menyenangkan daripada diremas dengan tangan Tante Murni, apalagi dengan tanganku sendiri. Tidak lama aku merasakan ada lendir yang meleleh di pangkal burungku, yang berasal dari lubang Tante Murni itu. Ketika kutanyakan apakah Tante Murni pipis, dia tak menjawab, melainkan memejamkan matanya serta mendesis dengan keras sekali. Pantatnya ditekan keras-keras ke tubuhku sehingga terasa pangkal kemaluanku menyentuh bibir vaginanya yang hangat. Kurasakan tubuhnya menegang dan berdenyut-denyut pada bagian kemaluannya, membuat burung kecilku seperti diurut dan dipilin oleh tangan yang lembut. Oh.., sungguh kurasakan nikmat yang sungguh luar biasa. Bayangkan…, aku yang baru SD kelas 3 telah merasakan tubuh tanteku yang notabene beberapa tahun lebih tua, yang mungkin maniak seks (terakhir kutemukan koleksi gambar gambar porno di balik tumpukan pakaiannya. Jujur saja Mbak, akupun tak tahu apakah sebelum itu tanteku sudah pernah berhubungan seks, tetapi kukira dia sudah pernah melakukannya, mungkin dengan temannya ketika di K. Mbak pengalaman ini sangat membekas di hatiku, setelah kejadian itu setiap ada kesempatan aku selalu melakukan hal itu bersama tanteku, bahkan pada suatu saat Mbak Suli diajak melakukan bersama kami bertiga (nanti lain waktu aku cerita lagi tentang hal ini). Kalau dulu kami masih berpura-pura, maka sekarang kami sudah pintar saling merangsang, dan yang paling kunikmati adalah saat spermaku memancar keluar, itulah puncak dari segala kenikmatan, geli, dan nikmat bercampur menjadi satu. Kami sama sama menyukai permainan ini sehingga sering dalam satu hari kami melakukannya tiga empat kali, sering juga tanteku pindah ke kamarku malam-malam dan kami melakukan hubungan seks ini dengan pintu terkunci. Tante Murni juga senang mengulum burungku, bahkan seringkali juga aku muncrat di dalam mulutnya. Semua kegiatan ini kulakukan kira-kira sampai kurang lebih 2 tahun sampai akhirnya tanteku pulang ke K. dan selanjutnya menikah di sana. Mbak Yuri, disaat aku sudah berkeluarga keinginan untuk mengulang persetubuhan avonturir dengan tanteku sering muncul, yang aku bayangkan hanya betapa sekarang aku akan lebih pintar membuat tanteku merasa nikmat, dan akupun pasti juga akan lebih menghayati dalam merasakan kelembutan tanteku itu. Semua keinginanku itu baru dapat terulang 15 tahun kemudian, ketika adikku yang paling kecil menikah di K. Malam itu setelah acara resepsi pernikahan selesai kami kembali ke rumah kira-kira pukul 1 pagi, dan karena banyak saudara yang datang maka kami juga menyewa beberapa kamar hotel melati yang letaknya tidak jauh dari rumah (kira kira 200 meter), kebetulan waktu itu aku satu rombongan dengan Tante Murni bersama dua orang anaknya (10 thn dan 7 thn), suaminya tidak ikut, karena ada tugas kantornya yang tak bisa ditinggalkan. Tanteku tidur di ranjang bersama kedua anaknya, aku tidur di lantai dengan kasur extra. Mungkin karena terlalu lelah kedua anaknya langsung tertidur tak lama setelah lampu kamar dipadamkan. Walaupun lelah aku tak bisa memejamkan mata, karena mengingat-ingat kejadian beberapa belas tahun lalu bersama tante yang sekarang sedang terbaring di atas tempat tidur. Ternyata hal ini juga dialami oleh tante, aku merasakan ia gelisah bolak balik. “Nggak bisa tidur Mas?”. “Iya nich, sumuk”. Sambil melongok tante tersenyum kepada yang ada dibawahnya. Sambil turun dari ranjang dia bilang, “Eh boleh nggak aku tidur di sini?, sumuk di atas, di sinikan anyep”. Aku menggeser ke tepi memberi tempat untuk tante. Jantung ini serasa berpacu cepat ketika tubuh tante yang hangat menempel ke sisi tubuhku. Aku merasa ‘adikku’ sudah mulai bereaksi walaupun belum tegak benar (aku waktu itu hanya mengenakan kaos oblong dan sarung saja, tidak mengenakan CD). Aku semakin tidak tahan ketika tanteku memiringkan tubuhnya ke arahku sehingga sekarang dadanya menempel pada lenganku. Semakin nggak karuan nich rasanya. ternyata tante tidak mengenakan BH, hanya daster terusan saja, yach payudaranya cukuplah, kira-kira 34B tapi terasa sudah sangat kencang di lenganku. Aku semakin berani, kuraih pinggang tante dan aku rapatkan pada tubuhku. Tiba-tiba, tidak tahu siapa yang mulai kami telah saling berpagutan. Lidah tanteku dengan lincah menyelinap ke dalam mulutku yang segera kubelit dengan lidahku sendiri. Mbak Yuri, selama itu aku hanya pernah berhubungan seks dengan isteriku sendiri, dan selama itu juga trauma hubungan seksku dengan Tante Murni membuat aku selalu beranggapan bahwa Tante Murni “lebih nikmat” dari isteriku. Bagiku inilah saatnya untuk membuktikan kebenaran memori masa lalu itu. Tangan Tante Murni mulai meraba dadaku terus ke bawah sampai di selangkanganku dan menemukan ‘adikku’ yang sudah mengacung keras. Perlahan tangan Tante Murni mulai membelai-belai, mengocok-ngocok. Aku tak mau ketinggalan dengan ganas merogoh ke arah selangkangannya sambil mulut ini tak henti hentinya bergantian menghisap puting yang telah menegang. Clitoris Tante Murni kubelai dengan sedikit kasar membuatnya mengelinjang tidak keruan. Ketika aku bermaksud akan menggunakan lidah untuk membuat sensasi yang lain, tanteku mencegahnya, “Jangan Mas, tante nggak tahan gelinya”, katanya. Aku mengurungkan niatku dan dengan pandangan matanya aku mengerti bahwa tante sudah tidak tahan ingin disetubuhi maka aku mengambil posisi untuk menindihnya, perlahan aku gesekan dulu ‘adikku’ ke seputar belahan dan permukaan liang tanteku itu, ia terlihat mengelinjang dan berusaha meraih penisku, dibimbingnya menuju lembah kehangatannya. Begitu ujung adikku sudah terselip diantara kedua bibir vaginanya, dengan berbisik tante menyuruhku untuk menekan! Perlahan kuturunkan pantatku, oh.., ternyata kurang lebih sama dengan rasa istri aku tapi agak lebih hangat rasanya. Mulai aku naik turunkan dengan perlahan membuat sensasi yang semakin lama semakin kupercepat irama kocokanku, sayangnya tante Munrni sama sekali tidak memberi reaksi apa-apa, dia hanya diam saja, sambil tangannya terus mencakar-cakar punggungku. Rupanya tante sangat terpengaruh oleh suasana yang menegangkan ini, sehingga sulit untuk memberikan respon. Namun kira-kira pada menit ke 5 aku merasakan otot-otot vaginanya mulai berkontraksi menandakan sudah waktunya bagi tante. Aku mempercepat kocokan dan membenamkan sedalam dalamnya sampai kurasakan dasar kewanitaannya, Kudengar tante menjerit tertahan karena segera dia letakkan bantal ke wajahnya untuk meredam suara yang timbul. Bagian vitalku terasa ada yang mencengkram lembut tapi ketat sekali, otot-otot vagina tanteku serasa memijat-mijat. Mbak Yuri…, terus terang rasanya lebih nikmat dari yang selama ini aku pernah dapat dari isteriku, barang isteriku tidak bisa mencengkeram, meskipun sebenarnya lebih sempit dan kering dibanding kepunyaan tante yang terasa lebih longgar dan agak licin itu. Aku sendiri belum keluar saat itu, kulihat tanteku terkulai kelelahan, kubersihkan sisa-sisa air mani serta juga cairan dari dalam vaginanya dengan menggunakan handuk kecil yang ada di dekat situ. Setelah kurasakan kering, dengan perlahan kumasukkan lagi burungku yang masih tegang dan kugenjot lagi. Aku menggigit bibir tanteku ketika kurasakan gesekan penisku dengan dinding vagina tante yang kesat dan kering itu, rasanya luar biasa. Tante tiba tiba berbisik, “Mas, jangan digoyang dulu ya, biar tante yang goyangin”. Aku menurut saja, dan mulailah tanteku meletakkan kedua kakinya di pantatku, lalu mulai bergoyang, pertama memutar ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang disodoknya ke atas. Aku hanya memejamkan mata merasakan kenikmatan yang tak pernah aku dapat ini, “Enak mana punya tante sama Asri, Mas?”. Aku tak menjawab pertanyaan tante ini, karena jujur saja Mbak Yuri, punya tanteku lebih nikmat dari vagina Asri isteriku. Tak tahan dengan putarannya, apalagi tanteku terus membisikkan kata-kata yang membuatku makin terangsang, akupun ikut-ikutan menggerakkan burungku maju mundur. Sementara buah dada tanteku sudah rata kuciumi dan kugigiti, tadinya aku takut untuk membuat cupangan didadanya, tetapi justru Tante Murni yang menyuruhku. Beberapa saat kemudian aku rasakan sesuatu seakan mendesak untuk dikeluarkan. Kutekan sedalam-dalamnya dan meledaklah semua kenikmatan di dasar kewanitaannya. Tanteku tersenyum dalam kegelapan melihat aku mencapai kepuasan itu. “Mas, ini baru komplit ya”!, bisiknya. Setelah merasakan tuntasnya semprotan spermaku, Tante Murni mendorong tubuhku ke samping, dan dengan lembut dikulumnya burungku, aku menolak karena terasa geli sekali membuat sakit di batang burungku, tetapi tante tak mempedulikanku, terus saja dia menjilati sehingga burungku hingga bersih. Sampai sekarang aku selalu merindukan persetubuhan dengan Tante Murni ini. Seringkali aku melamun dan menganalisis apa yang menyebabkan begitu nikmatnya rasa persetubuhan dengan dia. Jawabnya hanya satu, suasana yang penuh resiko, membuat rangsangan yang berbeda dan membuat aku menjadi penuh gairah.<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pengalaman tak terlupakan sewaktu SMP</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2354</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama, Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh, usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap, dengan dada yang bidang.</p>
<p>Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma, atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.</p>
<p>Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”.<br />
Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.<br />
“Ayoo…”, sambutku dengan polos tampa curiga.<br />
Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.<br />
“Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.<br />
Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.<br />
“Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.<br />
Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.., biar Om gampang meriksanya”.<br />
Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.<br />
“Wah…, kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu.<br />
Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.</p>
<p>Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.<br />
“Waah… kulit kamu halus ya, Rin… Kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu.</p>
<p>Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih…, baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira… yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.<br />
“Nah.., sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.<br />
“Ih…, Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup.<br />
“Lho…, khan mau diperiksa.., pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii…, aku jadi merinding rasanya.<br />
“Ooomm…”, suaraku lirih.<br />
“Tenang sayang.., pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil tersenyum.<br />
Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya.</p>
<p>Kemudian, dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.<br />
“aahh…, Oooomm…”, jeritku lirih.<br />
“Sssstt…, hmm…, nikmat.., kan…?”, katanya.<br />
Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat ke sana-ke mari.<br />
“Ssstthh…, aahh…, Ooomm…, aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.</p>
<p>Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya, Hiii…, rasanya jadi makin geli…, apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.</p>
<p>Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannnya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh…, gila…, tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap di antara kedua kakiku yang otomatis terkangkang, kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.</p>
<p>“aa…, Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannua itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait ke sana-ke mari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.</p>
<p>“aahh…, Ooomm…, jaangan…, jaanggann…, teeerruskaan…, ituu…, aa…, aaku…, nndaak…, maauu.., geellii…, stooopp…, tahaann…, aahh!”.<br />
Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat ke sana-ke mari antara mau dan tidak biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli, bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat ke sana-ke mari, namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya, hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.</p>
<p>Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu di sorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya clitorisku.<br />
“aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.<br />
“aa…, Ooomm…, aauuhh…, aahh!”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.<br />
“Ooomm…, aa!”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.</p>
<p>Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mecuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.</p>
<p>Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada di antara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang di mana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.</p>
<p>Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yan sedang dilakukan oleh Om Bayu.</p>
<p>Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke kesuluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung, aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.<br />
“Gimana Rin…, nikmat khan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.</p>
<p>Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku, hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku, aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.</p>
<p>Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku, gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokkan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit, seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi, perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar, tampa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, aahh. ooohh…, Ooomm…, Ooomm…, eennaak…, eennaak! Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.</p>
<p>“aadduuhh…, saakkiiitt…, Ooomm…, sttooopp…, sttooopp…, jaangaan…, diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku, tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku, maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.</p>
<p>“Om…, kenapa dimasukkan semua, kan…, janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.<br />
Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu, terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, ooohh…, ooohh”, dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku, bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku, sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku, seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat, tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak bedaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.</p>
<p>Melihat keadaanku Om Bayu makin terangsang, sehingga dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat, sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya, dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan, “Ooohh…, Riiinn…, Riiinnn…, aakkuu…, maau…, keluar!.., Ooohh…, aahh…, hhmm…, ooouuhh!”.</p>
<p>Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian, “Ccret…, crett…, crett”, spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.</p>
<p>“aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.<br />
“Terima kasih, sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.</p>
<p>Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol ke sana-ke mari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijat Payudara Tante ku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pijat-payudara-tante-ku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pijat-payudara-tante-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2337</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.</p>
<p>“Van, Mau tolongin Tante”, Katanya.<br />
“Apa yang bisa saya bantu Tante”.<br />
“Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa”.<br />
“Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian”.<br />
“Tante Minta tolong dipijitin”, katanya.<br />
“Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.<br />
“Tante minta kamu memijit ini tante”, katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.<br />
“Van, kok diem mau nggak?”, tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.<br />
“Mau nggak?”, katanya sekali lagi.<br />
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.</p>
<p>Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.<br />
“Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.<br />
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.</p>
<p>Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, “Ahh…, ahh”. Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, “aahh, Van tolong remas lebih keras”. Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.<br />
“Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante”, katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.<br />
“Van, hisap yang kuat sayang…, aah”, desah Tante Rina.<br />
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, “Lebih kuat lagi hisapanya”.</p>
<p>Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.</p>
<p>Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.<br />
“Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, “Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar…”</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pijat-payudara-tante-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah perawan Tua</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2335</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Bagus Hermanto. Kini aku berumur 25 thn. Aku mengenal seks sejak umur 18 thn. Diajari oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswi S2 yang kos di rumahku, di Yogya. Tentu saja secara bertahap, dari pegang-pegang sampai…, tahu sendirilah. Pokoknya butuh tempo sampai 2 bulan baru bisa merasakan hubungan seks tang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Bagus Hermanto. Kini aku berumur 25 thn. Aku mengenal seks sejak umur 18 thn. Diajari oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswi S2 yang kos di rumahku, di Yogya. Tentu saja secara bertahap, dari pegang-pegang sampai…, tahu sendirilah. Pokoknya butuh tempo sampai 2 bulan baru bisa merasakan hubungan seks tang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik.</p>
<p>Setelah itu aku mencoba segala macam wanita, dari pelacur sampai wanita baik-baik. Rasanya sih, aku sudah mempunyai banyak pengalaman. Sudah mengerti semua. Cuma aku tidak pernah merasa kenyang, itu saja problemku.</p>
<p>Semua keyakinan diri itu akhirnya berubah ketika aku memperoleh kenikmatan hubungan badan dengan Mbak Indriani, seorang akuntan yang masih lajang dari suatu kota di Jateng yang pernah menjadi atasanku di tempat kerjaku di Jakarta.</p>
<p>Mbak In, memang tidak tergolong cantik seperti layaknya bintang sinetron. Umurnya 42 tahun. Kulitnya hitam manis, tingginya sekitar 160 cm, mempunyai bentuk badan yang langsing dan mempunyai payudara yang kecil namun indah menantang. Dulu rekan-rekan di kantorku, termasuk para wanitanya, secara sembunyi-sembunyi menyebut dia sebagai “si kulkas”. Soalnya dingin, pasif dan tidak hot. Pokoknya dia tidak masuk dalam daftar seleraku.</p>
<p>Tapi suatu hari di akhir tahun 1999, aku berjumpa lagi dengannya. Gara-garanya VW kodokku mogok di dekat rumahnya, sebuah paviliun di Kebayoran Baru itu. Saat itu hujan deras lama sekali. Aku menelepon taxi Blue Bird tapi tidak datang.<br />
“Ya udah tunggu dulu aja, sambil ngobrol soalnya udah lama kita nggak ketemu”, katanya.</p>
<p>Mulanya kita ngobrol biasa. Taxi yang saya pesan belum juga datang. Padahal sudah jam 9 malam. Mbak In menawariku tidur di rumahnya saja, di sofa ruang tamu. Akupun setuju atas tawarannya, daripada repot, pikirku.</p>
<p>Lalu kami ngobrol ngalor-ngidul. Setelah makan malam, kami masih bercerita tentang banyak hal. Sampai akhirnya aku lancang nanya, “Kok Mbak tetep melajang sih?”.<br />
Diapun cerita bahwa dirinya memang malas untuk menikah karena masih suka sendiri dan bebas. Buktinya dia bisa hidup tanpa pembantu. Semua dikerjakannya sendiri. Kecuali pakaian tertentu yang dilaundry.<br />
“Wah serba swalayan ya”, kataku.<br />
“Termasuk soal tertentu yang khusus juga”, katanya sambil ketawa.<br />
Aku kaget juga. Yang dia maksudkan pasti seks. Soalnya setahuku dia tidak pernah berbicara tentang seks, makanya dia dijuluki si kulkas.</p>
<p>Jam 11 malam aku mulai mengantuk. Mbak In meminjamiku celana dalam dan kaos oblong (keduanya masih baru, berukuran XL, karena itu sebetulnya oleh-oleh dari Bali untuk temannya), dan memberikan sikat gigi baru serta handuk, lalu dia masuk ke kamarnya sendiri.<br />
“Selamat beristirahat. Kalau butuh pengantar tidur nyalakan terus saja TV-nya, tapi jangan keras-keras. Kalo kamu mau baca-baca ya silakan aja, Gus”, katanya.<br />
“Makasih Mbak, good night”, kataku.</p>
<p>Setelah mandi, aku sendirian di ruang tamu itu. Sudah menjadi kebiasaanku kalau mau tidur harus diiringi oleh musik kaset/CD, atau radio, kadang juga TV. Lalu me-ngeset timer-nya sekitar satu jam sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu aku susah sekali untuk tidur. Mau membaca tapi mataku lelah sekali. Akhirnya akupun menyalakan TV, tapi acaranya jelek-jelek.</p>
<p>Akhirnya iseng-iseng aku dekati rak audio-video. Aku periksa ternyata CD playernya berisi tiga keping. Karena remang-remang aku tidak tahu itu CD audio atau VCD. Aku kembali ke sofa. Remote control compo dan TV aku bawa. Setelah aku klik remote-nya barulah ketahuan kalau isinya VCD. Lantas aku putar, lalu muncul opening scene.<br />
Aduh!, Ternyata isinya BF, Judulnya aku lupa, tapi isinya berupa kumpulan adegan klimaks, jadi bukan cerita utuh. Asyik juga…, isinya cuplikan dari banyak film. Pembukaan pertama oral seks sampai air maninya keluar. Aku belum tegang, masih tetap tenang. Adegan berikutnya mirip, begitu seterusnya, hingga adegan penis dimasukkan sampai dicabut waktu air maninya mau kaluar. Aku juga belum ereksi, hal ini di sebabkan karena aku sudah lelah dan mengantuk. Lagipula menonton VCD porno sudah sering kulakukan. Jadinya agak kebal juga.</p>
<p>Nah, potongan terakhir VCD itu dahsyat juga, sehingga membuat penisku menggeliat. Adegan 69. Yang banyak disorot bukan felatio (cewek mengisap cowok), tetapi cunnilingus (cowok mengisap vagina cewek). Aku sampai ereksi menyaksikan adegan tersebut, sehingga adegan itu ada yang aku ulangi sampai beberapa kali. Aku ingin menikmati sampai puas sebelum si cowok di layar TV itu orgasme, sementara aku sendiri berharap bisa orgasme bersamaan dengan gambar di layar tersebut, karena aku mengelus-elus penisku sendiri. Aku perhatikan cara si cowok melayani si cewek. Hebat juga sampai ceweknya mennjerit-jerit.</p>
<p>Ketika adegan berganti, si cewek mengocok penis cowoknya sembari mengisap, mendadak ada tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah karena Mbak In sudah berada di belakangku. Yang bisa kulakukan saat itu cuma mematikan TV-nya, bukan VCD playernya. Lalu aku diam dan menunduk. Tapi Mbak In memegang pundakku dan berkata, “Kamu suka juga ya rupanya. Nggak apa-apa sih kan udah dewasa”.<br />
Aku senyum, dan tidak berani melihat mukanya.<br />
“Gus”, katanya, “Kamu udah sering gitu juga kan? Aku tahu kalo beberapa cewek di kantor kita dulu ada yang pernah kamu kencani…”.<br />
Aku menatapnya. Mbak In ternyata cuma memakai lingerie satin putih tipis, berupa rok dalam pendek tanpa lengan dan celana dari bahan dan warna serupa.<br />
“Kenapa tuh kolormu, kok ada yang berdiri?”.<br />
Ah…, aku makin salah tingkah. Aku tersipu, karena penisku masih tegak.<br />
“mm…, aku…, aku…, aku…, Mbak”, cuma itu yang bisa kuucapkan, sembari aku bangkit dari posisiku yang tadi tiduran di atas sofa.</p>
<p>Kemudian Mbak In duduk di sebelahku. “Aku tadi sempet tertidur sebentar. Tapi gara-gara petir aku terbangun, dan nggak bisa tidur lagi”, katanya.<br />
“Lantas aku dengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Aku buka pintu pelan. Kamu nggak tahu ya?”.<br />
“Ya Mbak”, kataku.</p>
<p>Kali ini aku sudah mulai tenang. Pantas saja aku tidak tahu kalau dia keluar dari kamar, pikirku. Soalnya kamarnya gelap, jadi waktu pintu dibuka tidak ada cahaya yang menerobos keluar.<br />
“Aku liat diam-diam, ternyata kamu lagi asyik ngeliat itu ya. Aku liat tadi di adegan berikutnya kamu mengulang-ulang adegan, dan tanganmu meraba-raba celanamu…”.<br />
“Ya Mbak”, cuma itu yang aku ucapkan.<br />
“Yuk, putar lagi”, ajaknya.<br />
“Nggak ah, malu”, balasku.<br />
“Nggak apa-apa, Gus” katanya, lalu mengambil remote dari tanganku. TV menyala lagi. Lantas dia mengambil remote compo, dan memutar CD kedua.<br />
“Tuh liat”, katanya.<br />
Judulnya “Modern Kamasutra”. Isinya tidak ganas. Serba lembut…, tidak ada close up penis masuk vagina, tidak ada close up ejakulasi mengenai payudara.</p>
<p>Selama 15 menit kami menikmati CD itu dengan diam, sampai kemudian Mbak In berbisik, “Ajarin aku dong Gus. Aku kan nggak pernah”, katanya sambil memelukku.<br />
Aku cuma bergumam, “mm…”.<br />
“Keluarin semua ilmumu dan pengalamanmu…, Gus…”.<br />
“Kok gitu sih Mbak?”.<br />
“Iya dong…, Kamu ajarin aku dong…”.<br />
“Emang Mbak nggak berpengalaman?”.<br />
“Sttttt…, kamu kayak nggak tahu aja. Aku ini masih perawan, makanya sering disindir sebagai perawan tua. Aku juga tahu julukan si kulkas, Gus”, kali ini dia semakin merapat.<br />
“Ajarin aku supaya nggak jadi perawan tua lagi. Ajarin aku biar aku jadi wanita yang lengkap, pernah merasakan nikmatnya pria tanpa harus bersuami dan tanpa harus punya anak, Gus…, Biar lajang tapi matang, gitu Gus”.</p>
<p>Aku terdiam tidak yahu harus berbuat apa, aku melihat ke layar TV. Ah…, adegannya indah sekaligus gila. Mulanya 69, dan pakai close up tapi gambarnya tetap soft, seperti memakai filter. Lantas si pria memasukkan penisnya dari belakang. Lalu 69 lagi. Lalu si cewek berada di atas. Sebentar saja dia sudah meloncat, duduk di muka si cowok, minta dioral, lalu menindih lagi, duduk lagi, menindih lagi, duduk lagi, menindih lagi, entah berapa kali, sampai akhirnya orgasme. Ketika si cowok berdiri, si cewek mengisap dan mengocoknya. Aku tegang sekali, terangsang oleh adegan di layar.</p>
<p>“Ajarin aku sayang. Tunjukin kebisaanmu yang telah membuat cewek-cewek di kantor kita ketagihan…”. Tangannya memegang kedua pipiku, “Please…”.<br />
Entah kenapa aku seperti terhipnotis. Aku peluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya. “Ya Mbak. Tapi aku lagi capek, setelah main squash tadi, jadi mungkin nggak memuaskan Mbak”.<br />
“Aku nggak minta macam-macam. Cuma diajari. Semacam apresiasi, gitulah…”.<br />
“Ya Mbak. Tapi VCD dan TV-nya dimatiin ya”, pintaku.<br />
Mbak In mencubit pipiku, lalu mencium kedua pipiku. “Boleh…”.<br />
“Mbak In pingin yang gimana sih?”.<br />
“Terserah. Pokoknya kamu harus membimbingku, ngajarin aku…, Aku sendiri nggak tahu apakah malam ini akan melepas keperawananku, tapi yang jelas aku pingin dapet sebuah pengalaman yang penting bagi seorang wanita dewasa, yang berumur 40 lebih…”.</p>
<p>Aku terharu, merasa kasihan. Wanita pendiam dan dingin bagai kulkas ini ternyata menginginkan pengalaman erotis. Wanita yang tidak pernah bicara jorok dan cerita humor porno ini (tidak seperti cewek lain di kantornya) ternyata menginginkan sesuatu.<br />
“Ayo Gus. Ajarin aku, bimbing aku…, Kasih tau aku harus gimana saja. Kamu kan lelaki sejati. Kamu udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu…”.<br />
“Ya, Mbak”, kataku seraya mencium keningnya. Mbak In memejamkan mata. Kurasakan hangat tubuhnya.<br />
“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan pengalaman pertama yang indah, Gus. Lengkapi diriku sebagai seorang perempuan yang dewasa…”.<br />
Aku mengangguk lalu memeluknya, dan mengelus rambutnya yang sekarang dipotong pendek itu. Aku merasa kelelakianku ditantang dengan halus. Inilah kelebihan wanita. Masih perawanpun tahu bagaimana caranya menggerakkan hasrat pria.</p>
<p>TV sudah mati. Aku berdiri, menghampiri rak audio. Di dekatnya kutemukan CD Romantic Night, musik instrumental lembut. Itu yang aku putar. Lalu aku kembali ke sofa menghampiri Mbak In.<br />
“Mbak”, bisikku.<br />
“mm…, beri aku pengalaman, Gus. Matangkan aku. Jangan mempermalukan aku. Aku telanjur ngomong ini. Aku belum pernah minta beginian pada laki-laki. Aku memilih kamu soalnya aku percaya sama kamu. Kamu dulu karyawan yang nggak reseh, bukan trouble maker, dan gentleman. Aku tahu kamu telah meniduri beberapa cewek di kantor kita, tapi kamu nggak pernah mengumbar affairmu. Kenapa aku bisa tahu, yah tahu sendiri…, mayoritas kantor kita kan cewek, dalam 15 wanita cuma ada 1 pria”.</p>
<p>Aku merasa percaya diri. Aku peluk Mbak In erat.<br />
“Apa yang harus aku lakukan, Gus? mm ya, mestinya apa yang harus kamu lakukan? mm, maksudku apa yang akan kamu lakukan…, mm kok pake nanya. Mestinya tinggal dijalanin ya…, mm…, mm Gus…”, kali ini dia seperti kebingungan mau berkata apa. Kukecup keningnya.<br />
“Mbak pingin merasakan sesuatu yang indah? Mbak sendiri punya fantasi apa sih?”.<br />
“Banyak. Tapi aku malu ngomonginnya. Terserah kamu dah”, katanya sedikit bermanja. Aneh juga, aku merasa senang dimanja oleh perempuan yang lebih tua. Yah inilah kelebihan wanita, yang bisa membuat lelaki merasa berharga dan dibutuhkan.<br />
“Aku ini menarik nggak sih Gus?”.<br />
Aku mengangguk. Lalu kubisiki, “Lebih menarik dan indah kalo sekarang Mbak pake lipstik dan parfum dikit…”.<br />
Dia segera berdiri, mencubit pipiku, lalu ke kamar. Tidak lama kemudian dia memanggil, “Sini Gus…”.<br />
Aku masuk ke kamar. Dia sedang duduk di meja rias. Aku memeluknya dari belakang. Bau wangi menyergap pelan ke hidungku. Bibirnya sudah terolesi lipstik. “Cakep Mbak”. kataku.<br />
“Bener?”, jawabnya manja.</p>
<p>Mbak In berdiri. Aku kemudian duduk di belakangnya. Di muka cermin berlampu itu aku dapati Mbak In dengan pesona kewanitaan yang bertambah. Seorang wanita berumur 42 thn yang matang. Ajaib juga, aku bisa tertarik malam ini. Tanganku memeluk pinggangnya dari belakang.<br />
“Gini ini ya yang dilakukan para istri?”.<br />
“Aku nggak tahu. Aku belum beristri, dan nggak pernah main dengan istri orang”.</p>
<p>Kemudian aku berdiri, tetap di belakangnya, dan tangan tetap memeluk pinggangnya. Aku cium lembut pipinya dari belakang. Lalu bibirnya, pelan dan lembut, dengan gesekan mengambang.<br />
“Aku belum pernah dicium cowok Gus”, bisiknya.<br />
“Ouhh…”, lenguhnya. Aku melihat ke cermin. Dia juga. Wajahnya tersipu.<br />
“Merem saja Mbak”, kataku. Dia menurut. Tanganku tetap di pinggang. Kuamati dari cermin, matanya terpejam. Lalu kucium lembut lehernya.<br />
“Ihh…”, cuma itu suaranya.<br />
Lantas kucium telinganya. Ah ya…, inilah kelebihan wanita, meskipun dia masih perawan nalurinya tahu bagaimana memancing syahwat lawan jenis. Bagian belakang telinganya itu sudah wangi. Aku merasa nikmat. Lalu kucium lehernya, telinga lagi, leher lagi, pipi, bibir, telinga, leher, dan akhirnya tengkuk.<br />
Tangan kiriku tetap memeluk pinggang dari belakang. Tangan kananku naik ke pusar. Dari cermin kulihat puting Mbak In mulai mengeras, menembus lingerie satin yang di kenakannya.<br />
“Nah gitu dong ngajarinnya, Gus”, bisiknya.</p>
<p>Dari cermin berlampu itu kulihat pancaran kewanitannya terus bertambah. Aku tidak menyadari si kulkas ini ternyata memikat. Pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Mbak In mulai bergetar. Dia tetap terpejam. Dengan pelan seolah tak sengaja aku raba puting kirinya. “Uhh”, dengusnya. Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atas lingerienya itu cuma bergantung pada tali. Dia menggeliat.<br />
“Geli tapi nikmat. Kamu pinter Gus”, bisiknya, tetap terpejam.</p>
<p>Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Kutatap sosok wanita ini dari cermin berlampu (hanya itu yang menyala di kamar, karena lampu lain mati). Kudapati sesuatu yang selama ini, selama mengenalnya, tidak pernah kuperhatikan. Aku kan sudah bilang, Mbak In bukan tipe yang masuk daftar seleraku.</p>
<p>Kini kudapati sesuatu. Mbak In ternyata menarik, punya pesona kewanitaan yang kuat. Kulitnya tidak putih tapi bersih. Tubuhnya langsing, tapi tidak bisa disebut kerempeng. Lekuk tubuhnya masih terlihat dan terasa. Mukanya bersih, tanpa bekas jarawat. Garis matanya memanjang seperti wayang. Alisnya tebal merata. Bibirnya mungil. Bau nafasnya nikmat.</p>
<p>Oh…, apakah yang berubah pada diriku? Kenapa tiba-tiba aku bisa menikmati dan menghargai pesona kewanitaan Mbak In? Karena terangsang, toh dari tadi aku ereksi? Bukan juga. Aku sudah sering bermain dengan wanita. Semuanya kuawali dengan keterpesonaan, terlepas wanita itu cantik sekali atau sedang-sedang saja. Yang pasti sejak aku kenal Mbak Wiwik, yang merenggut keperjakaanku saat aku remaja, seleraku hanya seputar itu, wanita berkulit putih, dengan buah dada besar. Tapi Mbak In? Ah, aku tidak tahu. Aku seperti merasakan pengalaman baru.<br />
Tangan Mbak In masih memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Aku kecup bibirnya, lembut lalu pipinya, telinganya, tengkuknya.<br />
“Apa lagi sekarang, Gus?”, bisiknya.<br />
Kulepaskan pegangan tangannya lalu kutuntun untuk melingkarkan tangan kanannya ke belakang, ke leherku, karena aku kan berdiri di belakangnya. Kucium lehernya…, Kurasakan debar jantungnya, dan bunyi nafasnya yang mengeras…, sepertinya dia bernafas dengan mulut. Lantas aku beralih ke bahunya yang terbuka. Kuangkat tangan kirinya untuk memegangi tengkuknya sendiri.</p>
<p>Saat kutatap cermin, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Mbak In ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow!, seperti tak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow! Ajaib! Aku belum pernah melihat ketiak selebat itu. Lagi pula aku selama ini memang tidak tertarik dengan ketiak yang berbulu, terkesan jorok dan tidak feminin. Tapi kali ini? Wuahh…, kurasakan debar di dadaku, kurasakan aliran darahku meningkat. Berubahkah aku?</p>
<p>Ya! Ketiak lebat ternyata memikat. Suatu hal yang selama ini membuatku risih ternyata merangsang. Dengan pelan aku raba kedua ketiak itu.<br />
“Nggak pernah dicukur ya Mbak?”, Mbak In menggeleng dengan tersenyum.<br />
“Biarin. Entah kenapa aku nggak merasa terganggu. Kamu tahu, dulu di asrama, waktu masih kuliah, aku dijuluki Ratu Ketiak. Karena sejak tahun kedua kuliah aku nggak mencukurnya. Buatku ini bukti kebebasanku, bukti ketidakpedulianku pada apa yang menurut orang lain pantas..”.</p>
<p>Lalu kucium ketiak berbulu itu. Wow! Fantastik! Bau asli tubuh bersih menyergap hidungku, karena wanita yang mengerti tentang parfum memang tidak pernah memberi parfum di ketiaknya, kecuali deodorant. Bau ketiak wanita (asal tidak kelewat keras), itu yang aku sukai dari cewek-cewek yang kukencani selama ini. Kali ini bau alami itu bertambah dengan bulu lebat,sepanjang hampir 5-6 cm. Pantas dulu disebut Ratu Ketiak.</p>
<p>Dari ketiak kanan aku pindah ke ketiak kiri. Sama aroma dan sensasi bulunya dengan yang kanan. Aku terangsang sekali. Ukuran terangsang bukan cuma soal ereksi seberapa keras dan panjang, tapi juga gelora di dalam diri. Sejak tadi aku ereksi, tapi yang sekarang makin ditambah peningkatan nafsu. (Nah para cewek, pahamilah itu…)</p>
<p>Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Aku pegang lembut payudaranya yang kecil itu. Kenyal sekali. Ini sensasi baru buatku, karena aku tidak pernah tertarik dengan payudara kecil. Aku tidak bisa ereksi oleh payudara mungil. Bila berkencan dengan perempuan aku selalu memilih yang mempunyai payudara besar, ukuran 34 keatas (beberapa kali aku dapat yang ukuran 38C). Payudara Mbak In sepertinya di bawah 34. Tapi kok merangsang ya? Nafsuku semakin berkobar. Ibarat bendera, mulai berkibar-kibar. Hanya gara-gara bulu ketiak dan payudara kecil (suatu hal yang belum pernah terjadi).</p>
<p>Akhirnya baju atas lingerie itu kulepas. Dan wow! Kudapati payudara kecil yang kencang, dengan puting mengeras. Puting itu berwarna gelap, tapi begitu merangsang bagiku. Aku selama ini mengencani wanita berkulit putih, termasuk bule, sehingga puting mereka berwarna terang, kalau bule malah kemerahan.<br />
Aku remes pelan kedua payudaranya. Mbak In cuma ah-uh-ah-uh. Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya, sambil mempermainkan puting dan payudaranya.</p>
<p>Lalu aku duduk di kursi dekat meja rias. Aku ciumi puting dan payudaranya, dan kemudian aku kecup puting itu sehingga makin mengeras. Kudengar pinggul Mbak In berkeletek, berbunyi tanda kontraksi otot saat wanita mulai disulut birahi.<br />
“Mbak, aku terangsang. Aku suka ketek dan bulu Mbak, tetek dan puting Mbak..”.<br />
Mbak In tersenyum. “Ajarin lagi aku sesuatu yang baru”, katanya.</p>
<p>Kupandangi tubuh kencang yang sekarang tinggal bercelana dalam satin tipis. Baru aku sadar, di bawah pusarnya tampak segitiga menggelap. Itu pasti bulu vagina. Aneh, aku jadi penasaran, ingin segera melihatnya. Padahal selama ini aku tidak suka melihat bulu vagina yang lebat. Pernah waktu di panti pajit nafsuku jadi mengendor karena si cewek mempunyai bulu vagina yang lebat. Si cewek panti pijat sempat tersinggung, karena nafsuku jadi merosot gara-gara bulu vaginanya yang lebat. Akhirnya aku cuma meminta si pemijat untuk mengocok penisku, sembari aku membayangkan salah satu cewekku yang bulu vaginanya super tipis, hingga aku ejakulasi di payudara pemijat itu.</p>
<p>Aku selama ini memang risih dengan bulu lebat. Dalam pandanganku jorok, tidak sehat, cuma menimbulkan bau dan penyakit. Tapi kali ini begitu bernafsu ingin tahu, Mbak In rupanya tahu.<br />
“Kamu pingin liat lainnya yang lebat ya? Boleh..”.<br />
Aku menggeleng. Dia mengerutkan kening. Aku tersenyum, “Entar Mbak..”.<br />
Yang kulakukan sekarang adalah menciumi pusarnya lalu turun ke bawah, tanpa membuka celana lingerienya, sampai kurasakan bulu tebal tergesek satin dan hidungku.</p>
<p>Setelah itu kusisipkan jariku ke celananya. Kurasakan ketebalan bulu vaginanya yang lebat. Jariku seperti buta sejenak, tidak tahu kemana harus meraba clitoris dan labia majoranya.<br />
Oh, jadi inilah pesona bulu vagina yang tebal, bisa menyembunyikan vulva. Cewek-cewek yang pernah kukencani berbulu vagina tipis, malah ada yang cuma beberapa lembar, sehingga begitu mengangkang sedikit saja, vulvanya langsung terlihat jelas. Dan itulah yang aku sukai. Itu yang membuatku ereksi. Bau khas vaginanya juga mulai menyergap hidungku. Aku kian terangsang.</p>
<p>Akhirnya jemariku mulai mengenal medan. Tahu mana yang clitoris, mana yang labia majora, mana yang labia minora. Lebih dari itu, jemariku basah sekali, seolah baru saja terendam di mangkok. Lingerie itupun basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin kentara. Pinggul Mbak In terus berkeletekan, kontraksi karena terangsang.<br />
“Kamu terlalu, Gus. Terlalu…, Ayo buka celanaku”, katanya.<br />
Dipeganginya kepalaku, dijambaknya rambutku yang gondrong, lalu digesek-gesekkan ke lingerie yang basah kuyup dengan aroma yang kian kentara itu.<br />
“Aku terangsang Gus..”.</p>
<p>Tiba-tiba dia mundur, menjauhkan kepalaku. Tak terasa aku sudah berlutut sejak tadi rupanya. Dengan cepat dia melepas sisa lingerie-nya, dan mencampakkannya ke lantai berkarpet. Wow! Luar biasa, bulu lebat membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu aku naikkan kaki kanannya ke kursi rias. Wah! Luar biasa. Kelebatan bulu vaginanya menutupi vulva. Aku sibak bulu vaginanya, lalu tampaklah vulva yang berwarna gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aneh! Aku kok bisa terangsang. Padahal kalau melihat gambar porno perek melayu yang berkulit hitam, meskipun payudaranya besar, toh vulvanya gelap. Dan itu menjijikkanku. Tapi kali ini aku terkesima. Aku sibak dan belai bulu vaginanya yang sedikit basah. Begitu pula vulvanya. Vulva seorang perawan matang yang mengkilap.</p>
<p>Aku terus memandanginya. Kutunda sekuat tenaga untuk tidak segera mengecup dan menjilatinya. Karena aku ingin menikmati pengalaman baruku secara bertahap dengan pelan. Dengan jempol kuraba clitorisnya yang menyembul keras dan gelap itu.<br />
“Auwwwwww…”, Mbak In bersuara.<br />
Astaga! Jadi inilah clitoris si Mbak. Coklat tua, ada merah tuanya. Besar juga clit-nya. Aku putar pakai jempol.<br />
“Ihh…, gila kamu Gus!”.<br />
Lalu jari telunjuk dan jari tengahku menjepit clitnya dan memutar-mutarkannya.<br />
“Gila…, ghuillaa…, waohh”, desahnya.<br />
Nafasku mulai memburu. Mbak In juga. Aku ambil break sejenak. Mundur, duduk, kaki selonjor di lantai, kedua tanganku di lantai menyangga badan. Saat dia akan menurunkan satu kakinya, aku bilang, “Jangan dulu Mbak…”</p>
<p>Kuamati tubuh di depanku itu. Barulah kusadari pancaran kewanitaannya. Tubuh Mbak In memang kencang. Dalam umur 42 masih bagus badannya, karena masih perawan, belum pernah melahirkan. Lebih dari itu dia memang rajin senam dan fitness, begitupun renang. Sempat terbayang bagaimana ketiaknya terlihat kalau dia senam dan renang. Tubuh langsing padat, payudara kecil kencang, bulu vagina lebat merambat.<br />
“Mbak aku pingin liat ketiak Mbak lagi..”, pintaku.<br />
Dia mengangkat kedua lengannya. Bayangkan. Satu kaki di kursi, kedua lengan terangkat, dada busung tegak. Oh indahnya. Oh wanita dewasa. Oh wanita matang. Oh wanita lajang. Oh wanita perindu kehangatan lelaki. Oh wanita matang lajang kesepian yang hanya berfantasi setiap hari sambil mendidihkan birahi untuk dirinya sendiri.<br />
“Apa lagi sekarang Gus?”.<br />
“Mbak aku mau liat vulva Mbak..”.<br />
“Boleh. Nih liat..”.<br />
Wow! Tangan kanannya turun, lantas jemarinya merentang labia majora. Merah tua menggelap, tapi bagian dalamnya merah menyala. Begitu basah dan berkilau. Lendir yang encer terlihat jelas.</p>
<p>Sesaat aku menikmati pemandangan yang belum pernah kualami itu. Tangan kanan menyibak vulva, lengan kiri terangkat memamerkan ketiak lebat.<br />
“Mbak jilat sendiri Mbak..”.<br />
Ah, dia mau melakukannya. Jemari itu dijilatinya, lalu digesekkan lagi ke vulva, jilat lagi, beberapa kali. Aku tidak tahan, lalu berdiri. Penisku kian mengeras, sehingga celana dalamku seperti menyimpan senjata. Ada setitik basahan di situ. Itu tetesan pertama maniku. Aku menghela nafas. Lalu melepas kaos.<br />
“Tunjukin dong penismu” kata Mbak In, lalu duduk di kursi rias itu. Aku mendekat.<br />
“Badanmu bagus, Gus. Atletis”.<br />
Aku bersyukur, mempunyai tinggi 175 cm dengan berat 75, dan otot yang masih kencang.</p>
<p>Lalu dia meraba celanaku, lalu tonjolan penisku. Kemudian memelorotkan celanaku. Tuinggg! Begitu celana dalamku merosot, maka batang penisku turun, tertarik ke bawah sesaat, untuk kemudian tegak mendongak. Dia memandangi penisku.<br />
“Pegang Mbak”, kataku.<br />
Mbak In nggak langsung menggenggam. Tapi merentang jempol dan kelingkingnya seperti mengukur panjang.<br />
“Kayak pisang”, katanya.<br />
Lantas jempol dan telunjuknya melingkari pucuk penisku. Jarinya lentik, kukunya panjang terawat. Sexy juga ternyata. Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.<br />
“Hangat ya..”, bisiknya mesra.</p>
<p>Kami sama-sama mengambil nafas. Aku menjauh sedikit. Baru sekarang terasa dinginnya AC kamar. Tapi aku tidak mau terburu-buru. Aku ingin mengulur tempo dan menikmatinya lebih lama, soalnya kan lagi ngajarin Mbak In.<br />
“Ke sofa lagi yuk Mbak”, ajakku. Dia tersenyum. Lalu aku gandeng. Kami duduk berdua. Berhadapan. Aku cium bibirnya, dan kemudian matanya.<br />
“Haus Mbak”, bisikku.<br />
“Iya Gus…, tenggorokanku juga kering”.</p>
<p>Mbak In berjalan menuju kulkas, mengambil orange juice kemasan botol. Kami minum bergantian dari botol yang sama. Lalu bersandar ke sofa, sama-sama diam. Tidak terasa sudah satu setengah jam lebih berlalu sejak acara pembukaan di cermin rias tadi. Nafasku kembali normal. Tapi penisku kembali mengendur, memang begitulah alam mengaturnya.<br />
“Kok jadi kecil lagi?”.<br />
Aku tersenyum, “Memang gitu Mbak. Entar gede lagi. Mbak juga mengecil lagi klitnya pasti. Cairan vagina juga berhenti ngalir kan?”. Dia mencium pipiku.<br />
“Sini Mbak”, kataku.<br />
“Gimana lagi?”, dia keheranan.</p>
<p>Dia kuminta untuk berdiri, kemudian aku dudukkan di pangkuanku. Tangan kananku menyangga punggungnya, tangan kiriku menyangga kakinya. Seperti membopong sambil duduk. Kami berciuman. Lipstiknya mulai menipis.<br />
“Apa sih yang kamu sukai dari tubuhku Gus?”. Aku menjawab dengan menciumi lehernya.<br />
“Geli, nikmat, ahh..”.<br />
Kemudian dia kubalikkan, menghadap ke depan, tetap dalam pangkuanku di sofa. Aku pegang payudaranya. Aku mainkan puting susunya.<br />
“Ternyata Mbak In itu hangat ya?”.<br />
“Bukan kulkas, gitu?”.<br />
“Iya. Mbak juga penuh pesona kewanitaan”.<br />
“Bener?”.<br />
“Mbak ternyata punya nafsu..”.<br />
“Iya dong”, ia berbisik.<br />
“Mbak suka masturbasi juga?”.<br />
“Iya dong. Seminggu sekali, bisa dua kali, pernah tiga kali. Aku tahu masturbasi sejak umur 20, dulu sih 3 minggu sekali. Akhirnya mulai umur 30 gairahku malah bertambah. Kadang aku bayangin temen-temen cewek itu, udah kenal penis umur 20, sampai sekarang udah bersetubuh berapa kali coba? Sementara aku cuma bisa masturbasi”.<br />
“Mbak mau dimasturbasi nggak?”. Dia mengangguk.</p>
<p>Lalu kakinya kukangkangkan, dengan posisi tetap jongkok di pangkuanku. Aku ajak dia bekerja sama, jemari dan telapak tanganku untuk memainkan vulvanya, tapi yang menggerakkan tanganku adalah tangannya. Luar biasa. Aku jadi tahu bagaimana si Mbak memburu nikmat. Mulanya memainkan clit. Lantas labia majora. Mulanya gerakannya pelan. Akhirnya kencang, maju-mundur, berputar-putar, sampai tanganku pegal.</p>
<p>Lima belas menit berlalu, si Mbak sudah mendesis-desis, sampai akhirnya tubuhnya mengejang sejenak. Kuambil telapakku, aku ciumi dengan hidung dan mulut. Basah penuh aroma.<br />
Mbak pingin apa sekarang?”.<br />
“Ouhh…, pake nanya. Terserah..”.<br />
Dia kuberdirikan. Aku berlutut di depannya. Aku cium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu pusarnya. Dia cuma ah-uh-ah-uh saja. Aku ulangi terus, kira-kira lima menit lamanya.</p>
<p>Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditarik olehnya, lalu mukaku ditempelkan ke bulu vaginanya. Aku cuma menggesek-gesek hidung di rumput lebat itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa, kaki yang lain tetap berdiri menyangga tubuhnya di lantai. Dengan pelan aku gesekkan hidungku ke clit-nya, lalu labia majoranya. Aku merasakan vulva-nya yang kian basah itu. Aku bisa merasakan bahwa bertambah basahnya vulva Mbak In bukan karena saliva-ku, akan tetapi terlebih karena dari lubang vagina itu memang membanjir cairan encer. Begitu banyak cairan yang merembes, sehingga aku bisa menghirup sambil menyedotnya. Slurping, kata orang bule…, Segar juga. Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin.</p>
<p>Mbak In tidak kuat dengan perlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Aku julurkan lidahku di depan vulvanya yang basah itu, cuma di depannya, belum menempel. Masih jauh, malah. Kira-kira sejengkal dari sasaran. Aku diam terus sambil menjulurkan lidah. Mbak In jadi gemas dibuatnya.<br />
“Cepet dong. Kamu jahat, Gus. Aku udah nggak tahan..”.<br />
Ya, tunggu apa lagi? Dengan kedua jempolku aku rentang labia-nya. Merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Clit-nya mengeras, seperti biji kacang garing. Ah nggak, clitoris manis ini seperti kacang mete, begitu pula ukurannya.</p>
<p>Dengan pelan kutempelkan ujung lidah ke clitorisnya yang mulai keras itu. Cuma menempel, tidak kugesekkan, tidak kujilatin.<br />
“Auhh…, geli…, nikmat…, terus dong”, katanya.<br />
Sekarang lidahku mulai bermain. Clit itu aku jilati. Tubuhnya bergetar. Lidahku terus menjelajah ke labia majora, ke seluruh vulva, sampai banjir permukaan vaginanya, karena campuran saliva dan cairan vagina. Dia terengah-engah.<br />
“Ouhh…”, Mbak In cuma bersuara begitu. Pertama-tama Mbak In aku minta mengocok penisku sampai tegak sempurna. Lima menit kemudian penisku tegang kembali. Air maniku sudah mendidih rasanya. Aku rebahan di ranjang. Mbak Indriani di atas, meniduriku.<br />
“Ayo Mbak tindih aku, pelan-pelan aja, digesekin tuh memek Mbak, kayak onani”.<br />
Dia menurut saja. Naik turun, maju mundur, akhirnya kini vagina Mbak In telah telah basah. Penisku basah. Sudah deh, tidak ada foreplay lagi. Yang penting kini vaginanya sudah basah. Kemudian aku biarkan sendiri nalurinya sebagai wanita dewasa yang matang menuntun birahinya yang menyala-nyala semerah dinding dalam liang vaginanya.</p>
<p>Mula-mula penisku cuma masuk dua senti. Seret dan licin. Asyik juga. Mbak In merem melek. Cabut lagi, masuk lagi. Vaginanya semakin basah. Lubang vaginanya makin longgar. Kudorong lagi hingga bertambah 1 senti. Mbak In merem melek. Kuulang-ulang terus, aku lupa berapa kali, sampai akhirnya “slepppppp…”, burungku menembus pelan vagina si perawan tua yang selalu membuatku onani setiap hari itu.<br />
“Nggak sakit Mbak?”, tanyaku.<br />
“Nggak”, bisiknya.<br />
Iya dong, mainnya pelan, vagina sudah longgar dan banjir, mana bisa sakit. Soal memuaskan wanita, aku mempunyai banyak pengalaman. Meski tidak keluar darah, tanpa rasa sakit, aku yakin inilah kali pertama vagina terhebat di dunia ini kemasukan penis.<br />
Dengan jari kuelus permukaan vaginanya. Dia menggelinjang. Dua jempolku kembali menempel di kedua sisi bibir vaginanya, sehingga bisa merentang mulut vagina.<br />
“Namanya apa sih Mbak?”, aku menggoda.<br />
“Bego kalo kamu nggak tahu!”.<br />
Aku terus menggoda, “Namanya apa sih? Sebutin dong, Mbak..”.<br />
“Payah kamu! Udah sering ngerasain, sering nyoba,masih nggak tau juga”.<br />
Aku diam saja, nggaktidak melakukan tindakan pada pemandangan di depan mukaku itu.<br />
“Apa dong Mbak namanya?”.<br />
“Tauk ah!”.<br />
“Apa dong?”.<br />
“Dikira-kira sendiri. tau?”.<br />
“Apa dong?”.<br />
“Ahh…, bawel amat sih!”.<br />
“Apa dong…, lleelelelhett…, sebutin dong llelelelelhet”, aku menggodanya sembari memainkan lidah di labia dan kclit.<br />
“Auhh…, gila. Nakal”.<br />
“Apa dong, clat, clat, clatttt…”, lidahku semakin nakal, lalu aku hentikan.<br />
“Kamu sendiri nyebutnya apa Gus?”.<br />
Aku jawab, “Vulva, ada klitorisnya, ada labia majora dan minoranya..”.<br />
“Uh kayak guru biologi aja, Gus. Pake nama latin segala..”.<br />
“Habis apa dong..”.<br />
“Malu ah…, udah tahu kan? Tabu buat disebutin, tapi aku sering ngebayangin juga sih..”.<br />
“Kok ngebayangin?”.<br />
“Iya, kalo lagi masturbasi aku sering mendesis-desis nyebutin kata-kata tabu, sambil memacu diri menuju orgasme bersama pria seksi…, Rasanya pingin ngelepasin semua hambatan gitu. Kamu ini mulai mancing ya?”.<br />
“Maksud Mbak?”, aku tanya sembari menjilati bagian basah itu.<br />
“Iyah, aku kan sering ngebayangin hal-hal yang terlarang termasuk ucapan-ucapan terlarang. Jadinya kalo lagi on, waktu masturbasi, ya nyebutin satu demi satu bagian terlarang…, Ahh kamu nakal, lidahmu pintar, udah sering yahh. Aduh…, geli!”.<br />
“Hmm…, ayo dong Mbak..”.<br />
“Iyahh sekalian basah, sekalian dibuka deh rahasia ini. Kalo lagi masturbasi aku sering nyebutin ini…, Aahh geli, nikmat terusin…, Aku sering nyebutin ini…, Ah kamu nakal!”.<br />
Iya, gimana bisa ngomong lengkap, kalau mulutku semakin aktif dan binal menggarap pusat kewanitaannya?<br />
“Aku sering berbisik, kadang juga berteriak, sih…, Itil, memek, jembut, burung, mani, itil, memek, burung, jembut, Gus!”.<br />
“Lagi Mbak..”, Aku senang mendengar kata-kata tabu itu.<br />
“Memek, iyaa…, me..mheekkkk…, iiiittt..theeeiiill…, jemm bouttttt…, kuonnnnn…tuuoll…, Gila nikmat banget teknik oralmu!”.<br />
“Ini Mbak burungku!” Aku berdiri, aku mengacungkan penisku ke mukanya.<br />
“Woooouwwww…, tambah gede. Udah ngerasain berapa memek nih?”.<br />
“Pegang Mbak..” Dia memegangnya. Lalu mengelus. Akhirnya mengocok pelan.<br />
“Isep dong…”.<br />
“Ah nggak. Entar ajah…, Aku masih takut…”.</p>
<p>Aku tidak mau main paksa. Aku sadar sedang mengajari cewek mengenal pengalaman pertama. Biar umurnya sudah matang, tapi pengalaman masih nol. Lalu Mbak In kuminta jongkok di mukaku, sementara aku rebahan di karpet, kepalaku diganjal bantal.<br />
“Sekarang Mbak yang aktif ya…, anggap aja lagi onani..”.<br />
Wow! Tanpa penjelasan lebih lanjut dia langsung memainkan kemaluannya di mukaku, terutama di hidung dan mulutku. Namanya saja naluri? Biar tidak pengalaman, masih perawan, tapi kalau usia sudah matang, juga dia sering nonton film porno, sehingga tidak rikuk lagi menghadapi hal tersebut. Mbak In jadi pintar dalam waktu sekejap. Kadang dia jongkok mengambang, sehingga kemaluannya cuma mengambang di mukaku, tapi kadang juga menekan seperti menduduki wajahku. Begitu banyak cairan membajir dari liangnya.</p>
<p>Sekitar 10 menit hal itu berlangsung. Maju mundur, geser kanan kiri, berputar, begitu terus. Sampai akhirnya.., “Ahh gila…, mhemm..mhekkkkkkuuuuuuu…, itttttt..tillku…, Auhh…, Memek! Itil! Ayo jangan berhenti…, aku nggak kuat Gus!”.<br />
Ah ini dia awal orgasme hebat. Tubuhnya mulai mengejang. Lalu kedua lutut Mbak In tergetar. Tidak ada suara dari mulutnya. Kemudian tubuhnya membungkuk. Dan akhirnya setengah telungkup di atas tubuhku. Kurasakan cairan vagina terus membanjiri wajahku, memasuki hidungku, tertelan oleh mulutku. Tubuh Mbak sudah basah oleh peluh.<br />
“Terima kasih, Gus..”, bisiknya.</p>
<p>Dia menggelindingkan tubuh di sampingku. Nafasnya tersengal-sengal. Aku bangun berdiri. Dia masih rebahan. Kupandangi tubuhnya yang mengkilat, dengan kaki mengangkang dan lengan terentang hingga ketiaknya yang lebat itu tampak. Ah indahnya kejalangan seorang Mbak In!<br />
Dia memandangi penisku yang teracung tegak. Aku pegang batangku. “Jangan sekarang”, katanya. Aku mengalah. Padahal nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun.</p>
<p>Lantas Mbak In kubimbing untuk berdiri, duduk di sofa, dan aku ambilkan minuman untuknya.<br />
“Thanx…”, katanya.<br />
“Mbak capek?”, tanyaku. Dia mengangguk.<br />
“Sini aku pijitin”, kataku.<br />
Dia menurut ketika aku telungkupkann tubuhnya di sofa. Aku mulai memijat kakinya, lalu pinggangnya, dan punggungnya.<br />
“hh…, nikmat…, kamu pinter, Gus”.<br />
Saat itu penisku mulai mengendor. Nafsuku mulai berkurang.</p>
<p>Sekitar seperempat jam itu kupijati dia. Kini giliran mulut dan hidungku menciumi punggungnya, pinggangnya, pantatnya, dan entah apa lagi, pokoknya oral seks kupraktekkan lagi. Lendir mengalir membanjir. Penisku menegang lagi. Beberapa tetes mani beningpun keluar karena tidak tahan oleh birahiku yang kian menggila.<br />
“Aku basah Mbak”, kataku.<br />
Mbak In menoleh melihat penis tegakku yang pucuknya basah. Dia terbelalak. Lagi-lagi posisi tadi berulang. Bau keringat dan cairan vagina bercampur. Aku tidak tahu sudah berapa cc menghirup lendir encer yang keluar dari lubang vagina si perawan tua ini. Beberapa kali dia mengejang. Mungkin empat kali. Dan puncaknya adalah, “Mememekkku Gusssss…, Itiillku…, nggak tahan. Itillkuu mauuu lepassss…, Auh!”.<br />
Dia orgasme hebat. Vaginanya seperti menyempit tiba-tiba.</p>
<p>Kami sama-sama lelah. Lalu beristirahat.<br />
“Mandi air hangat yuk”, kataku.<br />
Kami ke kamar mandi, menyegarkan diri dengan shower. Tanpa percumbuan, tanpa birahi, tanpa nafsu. Saling menyabuni dan mengeramasi. Penisku sudah mengecil.<br />
“Lucu ih”, kata Mbak In sembari meremas penisku yang terkulai. Lalu kami tidur. Berpelukan dalam kamar sejuk ber-AC. Dengan segera aku terlelap karena kecapean.</p>
<p>Kami tertidur, sudah jam 3 pagi lebih. Capek dan ngantuk sekali. Ototku seperti terurai. Kami berpelukan di ranjang Mbak In, ranjang perawan tua yang selalu kesepian, menjadi saksi tiap kali si lajang onani karena diamuk birahi, menjadi saksi tiap kali beberapa helai bulu vaginanya rontok saat digusel oleh tangannya sendiri.</p>
<p>Di kamar ber-AC itu kami terlelap. Aku benamkan wajahku di ketiaknya yang lebat. Entah jam berapa aku tidak tahu karena Mbak In membangunkanku.<br />
“Ini apaan? Kamu ngompol yah?”, tanyanya. Ternyata sprei telah basah oleh maniku, sebagian menyentuh pantat Mbak In.<br />
“Ini maniku Mbak. Habis tertahan terus sih di dalam akhirnya cari jalan keluar sendiri. Aku sih nggak tahu, soalnya lagi tidur tadi”, kataku tersipu.<br />
“Ih hangat dan lengket ya”, katanya.<br />
“Bayangin aja kalo ini mengalir ke memek Mbak”, kataku.<br />
“Nakal kamu”, dia mencubitku.<br />
Dengan tissu kubersihkan ceceran maninya. Setelah itu aku tertidur lagi karena masih mengantuk. Mbak In sepertinya juga tertidur.</p>
<p>Pagi hari, ketika sudah agak terang, aku terbangun. Ternyata Mbak In sudah mandi, lagi make up di depan cermin.<br />
“Aku harus masuk kerja”, katanya. “Padahal capek nih” lanjutnya.<br />
Kupandangi dari ranjang. Tubuh yang kencang itu kuamati dari belakang. Inilah pesona si perawan tua. Dia cuma memakai celana dalam dan BH-nya hitam tipis mungil berenda. Oh, seksi sekali! Tak terasa penisku berdiri lagi.</p>
<p>Aku bangkit dengan senjata teracung. Aku hampiri Mbak In. Kupeluk dari belakang. Aku ciumi lehernya, ketiaknya sambil tanganku mengelus payudaranya yang kecil.<br />
“Ah, jangan Gus, aku lagi make up nih…, nanti rusak make up-ku”.<br />
Aku membisikinya, sambil menjilati telinga kirinya, “Janji deh Mbak make up nggak rusak, tapi dapet kenikmatan yang banyak diperoleh para cewek di kantor Mbak pada pagi hari..”.<br />
Oh, aku kian merapat ke tubuhnya. Tapi tidak bisa mencium pipi dan bibirnya, takut kalau make up-nya rusak. Yang penting bisa menikmati bulu ketiaknya yang luar biasa itu dengan hidung dan mulutku. Penisku semakin tegak berdiri. Tanganku mengelus puting susu si perawan tua yang makin mengeras ini.<br />
“Kamu terlalu, Gus”, bisiknya.<br />
“Terlalu nikmat ya?”, tanyaku.</p>
<p>Aku terus memeluk dari belakang. Tanganku menggusel payudara mungilnya yang keras, payudara 42 tahun yang tidak pernah merasakan kenakalan lelaki muda. Hidungku merasakan sensasi gila yang luar biasa, bulu ketiak yang hitam lebat dan panjang.<br />
“Ketek gini kok dianggurin bertahun-tahun sih Mbak”, tanyaku.<br />
“Dianggurin gimana?”, tanyanya.<br />
“Ya dianggurin dalam arti nggak pernah diciumin laki, nggak pernah digosokin burung”.<br />
“Heh, burung main di ketek? Bisa? Coba dong..”.</p>
<p>Make up-nya Mbak In sudah selesai. Sekarang dia duduk di kursi rias, lantas kedua lengannya diangkat sehingga bulu ketiaknya tampak jelas. Penisku yang tegang, aku gosokkan ke ketiaknya. Wuahh…, hangat, lembbut, seperti menyentuh bulu vagina. Mbak In melihatku dengan pandangan mesra. Penisku semakin besar dan mengeras. Ingin sekali rasanya minta penisku dicium, dijilat lalu dihisap olehnya. Tapi nanti dulu, si perawan tua ini harus dilatih. Kalau serba mendadak bisa trauma nanti dan jadi alergi dengan penis.</p>
<p>Akhirnya aku tidak tahan juga. Rasanya maniku sudah mendidih. Belum pernah aku onani memakai bulu ketiak, dulu aku tidakak suka dengan cewek yang ketiaknya berbulu. Karena tidak sabar aku gesekkan penisku ke ketiaknya sambil kukocok.<br />
“Mbak aku udah nggak kuat, bayangin dari semalem cuma nahan burung supaya nggak masuk memekmu, jadi gimana dong..”. Mbak In tersenyum.<br />
“Mbak, bantu dong Mbak”, pintaku. Tangannya meraih penisku lalu mengocoknya pelan.<br />
“Cepat Mbak. Dia menurut. Terus Mbak..”.<br />
“Aduh pegel nih…, gantian tangan kiri ya..”, Aku tidak bisa berkata apa-apa cuma mengangguk. Air maniku yang mendidih tadi tidak jadi keluar. Yang pasti rangsangan yang kuterima semakin kuat.</p>
<p>Mbak In mulai berkeringat. Uh, tambah cantik melihat si perawan tua yang berberbulu ketiak lebat ini berpeluh. Ketiaknya juga basah, payudaranya juga.<br />
“Tanganku capek..”, katanya. Ya sudah aku kocok sendiri penisku.<br />
“Kamu pingin apa Gus?”, tanyanya.<br />
Aku bilang, “Pokoknya pingin nikmat, tuntas, sampe orgasme dan maniku terkuras abis”.<br />
“Tapi aku belon siap buat bersetubuh. Memekku belon siap dirobek selaputnya. Belon siap disembur cairan lelaki..”, katanya manja.<br />
“Yah gimana Mbak, aku nggak bisa mikir nih”. Mbak In jongkok. Mengamati dari dekat caraku mengocok penis. Mulutnya ternganga.</p>
<p>“Oh gitu ya…, gila..”, katanya. Aku sudah tidak tahan.<br />
“Awas Mbak mau muncrat nih!”, Mbak In terbelalak.<br />
Aduh bagaimana kalau mani ini nanti kena mukanya, kena bibirnya. Dia kan masih perawan. Vaginanya saja belum pernah disembur mani, kok muka dan mulutnya, kasihan…<br />
“Terus Gus!”, katanya.Tangannya menyingkirkan tanganku.<br />
“Biar aku aja”, katanya. Aku nurut saja.<br />
Tangan lembut berjemari lentik itu mengocok penisku pelan-pelan. Aku sudah tidak tahan.<br />
“Cepetan Mbak!”, kataku. Dia semakin cepat mengocok penisku.<br />
“Mbak angkat dong lengan kiri. Aku mau lihat ketiakmu yang lebat itu..”.<br />
Jadilah dia jongkok sambil mengangkat lengan memamerkan ketiak hebat yang berbulu luar biasa. Aku semakin bernafsu. Akhirnya aku cuma bisa berkata, “Awassssss…”. Dan “Crat…, crat…, crat”, air maniku muncrat keras, banyak, dan kental. Mbak In sempat menarik muka menjauh, tapi payudaranya yang mungil dan kencang itu terkena semprotan air maniku.<br />
“Uh, yang namanya mani ternyata hangat ya..”.<br />
Dioles-oleskannya air maniku ke seluruh payudaranya.<br />
“Kok lengket ya…, Kayaknya superglue, hihihik…, Gimana kalo misalnya masuk ke memekku…, Ih aku harus ganti beha nih..”.</p>
<p>Mbak In masih terheran-heran oleh air maniku, benda yang baru dilihatnya ketika usianya sudah 42 thn. Dalam ruang ber-AC mani yang teroles rata di payudaranya cepat mengering.<br />
“Wahh…, ini rupanya krim pengencang tetek. Di kulit kenceng rasanya, Gus..”.<br />
“Buat facial juga bisa Mbak. Makanya di VCD selalu ada facial cumshot…”.<br />
“Ih, nakal deh kamu”, katanya sambil mencubit pipiku.<br />
Aku capek sekali. Terima kasih Mbak In sayang, perawan tuaku. Pagi itu kami berangkat bersama dan sepakat untuk ketemu lagi buat belajar seks. Kami sering bertemu. Jalan-jalan, makan, nonton, seperti orang pacaran. Lalu ya biasalah main seks tanpa persetubuhan. Hal itu berlangsung 5 bulan. Kami bertemu seminggu 2 kali. Oral seks itu rutin. Hanya aku yang melakukan oral seks pada dia, dianya sendiri tidak pernah melakukan oral pada penisku. Ini prestasi buatku. Kencan sudah hot, tapi tidak ada persetubuhan. Vagina Mbak In bisa dijilat dan dihisap sampai kering, tapi keperawanannya masih tetap terjaga. Air maniku sudah bocor berkali-kali, tapi tidak setetespun yang menyelinap ke cervix si lajang hangat bernafsu kuat itu. Maka hanya cunnilingus (tanpa diimbangi felatio) yang selalu berlangsung.</p>
<p>Tak apa. Aku sendiri suka bisa mengerem nafsu, sekaligus belajar memperoleh kepuasan tanpa menancapkan penis ke lubang vagina yang tiada henti mendambakan kenikmatan, lubang vagina yang sebetulnya memendam iri pada vagina wanita lain yang sering dijejali penis dan ditumpahi mani hangat. Tapi, yah…, vaginanya saja belum kena penis, masak mulutnya sudah dimasukkin penis, Kasihan kan? Pemanasan kami tentu dengan nonton BF di VCD. Aku kan punya banyak koleksi film BF. Juga dari majalah.</p>
<p>Ternyata Mbak In si perawan tua ini punya beberapa majalah hot. Katanya sih seperti surat kaleng mendapatkannya. Diposkan ke rumah tanpa nama pengirim. Dia menduga dari cewek-cewek di kantornya yang baru saja pulang dari luar negeri. Majalah itu menjadi bahan onaninya Mbak In. Atau juga onani kami berdua. Muncratnya air maniku ya paling-paling di payudara mungilnya, atau di perutnya, pernah di pusarnya dan ceceran air maniku itu merambat ke bulu superlebatnya.</p>
<p>Hari itu Mbak In genap 42 tahun. Cuma kami rayakan berdua saja di sebuah restoran di hotel berbintang lima. Dia seksi sekali malam itu. Memakai sack dress ketat tanpa lengan, tanpa BH. Karena dia punya kebiasaan menyibak rambut, sehingga bila lengannya terangkat, maka ketiak hebat itu tampak. Aku lihat pelayan restoran dan pengunjung lain pada ngeliatin. Mbak In sendiri sepertinya bangga dengan ketiaknya sekarang.</p>
<p>Pulang dari restoran kami bercumbu, seperti biasanya. Pakai oral, pakai kocok-kocokan, hingga air maniku mau habis. Mbak In sudah terbiasa dengan muncratan mani. Dibiarkannya air maniku membasahi payudaranya bahkan lehernya. Kadang di perutnya, tepat di pusar. Mbak In makin pintar. Cara mengocoknya semakin hebat. Paduan irama lambat kadang cepat bisa menguras maniku. Kadang penisku digesek-gesekkannya ke ketiak lebatnya, ke payudara mungilnya. Air maniku pernah menetes di ketiaknya. Habis nikmat sih, seperti menggesek bulu vagina.<br />
“Hari ini aku genap 42 tahun, Gus. Jadikan aku wanita selengkap-lenglapnya” pintanya, setelah kami istirahat karena kecapekan.</p>
<p>Hari sudah menjelang pagi. Tapi penisku masih bisa berdiri tegak. Inilah saatnya untuk membobol si perawan tua ratu jembut yang jago onani itu, yang vaginanya merindukan sodokan dan elusan batangan daging bertulang lunak, dengan moncong water canon yang siap menembakkan cairan kental yang kencang di kulit wanita. Aku tentu saja mengiyakan.<br />
“Terserah caramu, asal nikmat”, katanya.<br />
Di atas tubuhku Mbak In bergeser pelan, memutar pinggul, goyang kanan kiri. Serba pelan. Kali ini dia tidak banyak bicara. Cuma merem melek sambil ah.., uh.., ah.<br />
Akhirnya aku tidak tahan. Vagina perawan tua itu tiba-tiba seperti menyempit dan menyedot penisku.<br />
“Mbak, Aku mau keluar., Mbak!”, Mbak In cuma menciumku dengan mesara. Keringatnya menetes di wajahku. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya seluruh cairan kelelakianku tersedeot. Seluruh tubuhku seperti diperas. Inilah orgasme hebat yang jarang kualami. Ternyata aku tidak muncrat, cuma mengalir pelan tapi banyak maninya. Saat itu juga Mbak In orgasme. Tubuhnya mengejang, menggelepar di atas tubuhku, dengan keringat membasahi tubuh. Bau ketiaknya kian merangsang.</p>
<p>Dia terpejam menikmati orgasmenya yang pertama kali lewat persetubuhan.<br />
“Oh indahnya. Terima kasih Gus”, katanya.<br />
Tidak ada jeritan liar yang menyebutkan segala genital dalam bahasa sehari-hari. Tidak ada teriakan tertahan. Semuanya begitu lembut, hangat, dan indah. Aku merasa seperti perjaka yang kelepasan kemurniannya. Kalo Mbak In sih jelas, perawan tua yang terlepas keutuhannya, dengan lembut, tanpa robekan selaput yang menyakitkan, tanpa darah karena koyakan.</p>
<p>Sampai terang matahari kami masih berpelukan. Kami berdua bolos kerja. Mandi berdua pakai air hangat, alangkah segarnya. Lalu tidur. Siangnya setelah makan kami bersetubuh lagi. Aku yang di atas. Air maniku masih bisa membanjir, menggenangi vaginanya. Lalu istirahat. Sore bersetubuh lagi.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya persetubuhan menjadi rutin. Entah sudah berapa cc air maniku mengalir ke vagina perempuan berusia 42 tahun ini, tapi masih seperti vagina gadis remaja karena tidak pernah dipakai itu. Semua adegan BF kami tiru, kami coba. Mbak In makin pintar. Juga makin buas. Indriani si jembut lebat, dengan vagina coklat dan clitoris sebesar mete ini memang wanita yang tepat untuk menguras syahwat. Indriani, kenapa sih birahimu kau simpan sekian lama, tersembunyi dalam vagina gelap dan bulu lebatmu? Demi karierkah kau menahan nafsu betinamu? Kau buang hari-harimu tanpa merasakan cipratan mani dan sodokan penis pada cervix-mu.</p>
<p>Aku semakin terikat padanya. Aku makin menyayanginya. Inikah cinta? Sayang seribu satu sayang, Mbak Indriani si lajang kesepian bersyahwat dahsyat itu tidak pernah membicarakan soal asmara. Tak adakah cinta di kamus hatinya? Tak adakah cinta di ujung vaginanya, agar kelak bisa berbuah janin?</p>
<p>Banyak sudah variasi yang kami lakukan. Hanya satu yang belum. Mbak In membiarkan mani muncrat di wajahnya, begitu pula kepada mulutnya, padahal aku ingin sekali, karena setiap kali masturbasi itulah termasuk yang kubayangkan.</p>
<p>Hari ini ulang tahunku ke 25. Kami bercinta. Waktu ditanya apa permintaan istimewaku, maka aku jawab, “facial cumshot kayak di VCD porno”.<br />
Surprised! Mbak In mau. Tapi dengan syarat aku harus bisa membuatnya orgasme terlebih dahulu. Ya maka kami bersetubuh dengan posisi dia di atas.<br />
Berkali-kali dia mengingatkan, “Awas, jangan muncrat dulu Gus..!”.<br />
Kalu aku sudah mau keluar, Mbak mencabut vaginanya, lalu meloncat dan menggesek-gesekkan vaginanya ke mukaku. Mulutku melumat habis vagina dan clitoris-nya sampai aku minum cairan vaginanya banyak sekali. Begitulah sampai akhirnya dia klimaks, sambil bicara keras.<br />
“Akan aku habisin manimu…, manniimuuu…, mhannn..nhiiii..muuu…, spermaamu…, pake mulutku untuk pertama kalinya Gus!”.<br />
Semoga tetangga tidak ada yang mendengar. Mbak In kalau sudah di puncak birahi memang tidak bisa mengontrol diri. Pingin teriak yang tabu-tabu. Kadang setengah menjerit, “burungll” atau, “Memekku! Memekku! Memekku…”.<br />
Tapi aku justru malah senang. Malah tambah terangsang. Aku paling suka kalau melihat dia menjadi jalang, jadi budak birahi. Nah begitu selesai klimaksnya dengan banjir cairan vagina, Mbak In langsung melumat penisku.</p>
<p>Inilah kelebihan wanita. Biar belum pernah melakukan oral seks di penisku, toh terampil juga. Dia hisap, dia kocok, dia jilat, sedot, lumat, kocok, sampai akhirnya aku tidak tahan. Menjelang puncakku, Mbak In melepaskan mulutnya. Si lajang penuh birahi itupun turun dari ranjang, lalu bersimpuh di lantai. Aku disuruhnya bangun dan berdiri. Maniku sudah tidak tahan. Lalu dia mengocok lagi penisku sambil jongkok, sementara aku berdiri.<br />
“Mbak pake satu tangan aja. Tangan Mbak yang satunya diangkat, biar aku muncrat sambil menikmati jembut ketek yang fantastis itu..”, pintaku. Oh, dia menurutiku. Maka tangan kiri mengocok pelan penisku, tangan kanan terangkat, merentang lengan, sampai ketiaknya terlihat jelas. Penisku semakin menegang. Jilatannya makin gila. Kocokannya makin habat.<br />
“Mbaak..”, aku menjerit tertahan. Semuanya berlangsung cepat. Maniku muncrat, “Crat…, crat…, crat”, Masuk ke mulutnya, tapi tidak tertampung semuanya. Jadilah membasahi pipi dan hidungnya. Bibirnya belepotan mani. Sebagian menetes ke payudaranya yang mungil tapi keras kenyal itu.<br />
“Enak juga mani ternyata”, katanya setelah kami terengah-engah duduk di lantai. Kami istirahat.</p>
<p>Pagi esoknya ketika aku masih tertidur, aku terbangun. Karena ternyata penisku sudah dihisap si lajang 42 tahun yang sekarang haus mani itu.<br />
“Iya Mbak ini jamu, biar awet muda. Buat facial bisa bikin wajah kiencang”, kataku.<br />
“Katanya sih gitu. Temen-temen itu juga pada minum mani dan dipakai buat cuci muka”, katanya sambil terus mengocok penisku.</p>
<p>Akhirnya maniku mengalir dan menjadi jamu yang langsung dihisep semuanya. Mbak Indriani memang hebat. Kali ini tidak ada air maniku yang tercecer. Semuanya masuk ke mulut dan ditelannya. Eh, tidak semua sih. Jarinya sempat masuk ke mulut, lalu mengoleskan mani encer itu ke puting susunya. Sebagai hadiah, aku oral vaginanya. Aku sibak bibir besar di mulut vaginanya dengan jari, lalu mulut aku runcingkan, dan sruppp…, masuk ke pintu liang vaginanya. Lidahku menjilat, mulutku menyedot. Semua bagian terkena, dinding luar vagina, labia mayora, labia minora, clitorinya yang sebesar kacang mete itu. Dan terakhir…, aku masukkan pula jariku, berputar-putar di dalam, menggapai G-Spot Mbak In, sementara bibir dan lidahku menggarap daerah pembangkit birahinya. Tentu saja Mbak Indriani jadi blingsatan.<br />
Ketika dia menjerit, “Itilkuuuu lepas…”, saat itulah vaginanya membanjir dan membasahi tenggorokanku, asem asin rasanya. Dan bulu vaginanya itu basah kuyup, oleh campuran lendir vagina dan ludahku. Hari ini memang nikmat sekali.</p>
<p>Setelah itu, hari-hari selanjutnya, seks kami makin gila. Kalau main 69 seringkali sampai air maniku muncrat di mulut mungilnya itu. Tapi Mbak In masih haus variasi. Pingin seperti di BF yang bermacam-macam gaya.</p>
<p>Sudah enam bulan hubungan kami terjalin, dengan penuh birahi dan mani. Mbak In seperti orang yang baru mengenal seks. Memang ya, baru kenal. Makanya keranjingan bersetubuh. Maunya penis dan mani. Beginikah kalau wanita dewasa melajang terlalu lama, obsesinya cuma penis dan mani lelaki, dan yang namanya onani tidak memuaskan dirinya sendiri.</p>
<p>Suatu kali Mbak punya permintaan gila, ingin main bertiga dengan cewek lain. Aku yang harus mencari ceweknya. Tapi itu soal kecil. Aku dulu, sebelum sama Mbak In, suka jajan, jadi punya langganan cewek nakal. Langgananku yang aku sukai adalah Susi. Tubuhnya sintal, kulitnya putih, payudaranya 38, bulu vaginanya tipis, vaginanya merah. Dia jago oral seks. Aku mengontak ke handphone Susi dan dia setuju. Kami janjian di motel Pondok Nirwana di Cawang. Ngakunya sih dia juga kangen.</p>
<p>Di motel aku dan Mbak In check in ke kamar VIP, menutup rolling door, lalu nonton video yang disiarin di TV yang tergantung di atas. Isinya orang bersetubuh, kebetulan main keroyokan, satu pria menghadapi empat perempuan. Puncaknya air maninya menjadi rebutan empat mulut mungil. Wah aku juga mau tuh! Sambil nonton kami petting. Aku cuma memakai celana dalam. Mbak In memakai lingerie satin putih yang tembus pandang, sehingga bulu vaginanya lari kemana-mana.</p>
<p>Ketika Susi datang, Mbak In seang pipis. Tidah tahu, kenapa lama sekali di toilet ya. Padahal begitu Susi datang kami langsung berciuman karena kangen. Ketika berpelukan aku tambah ereksi. Susi memakai rok mini dan koas you can see ketat. Langsung kulepas CD-ku.<br />
“Ya ampun Gus, udah napsu banget ya…, Apa nih, minta diisep dulu apa langsung tancep ke memek?”.<br />
Aku tidak menjawab, Susi langsung jongkok mengisap penisku. Sambil dikocoknya pelan. Sudah biasa tuh kami kencan di sini. Ketika sedang nikmat-enaknya dioral, eh Mbak In keluar. Susi tentu saja kaget dan malu. Dia salah tingkah. Mbak In segera mengatasi keadaan.<br />
“Nggak usah malu, Sus. Ini memang mauku. Aku pingin belajar dari kalian”.</p>
<p>Lalu aku menjelaskan kalau kami butuh selingan. Aku mengaku kami ini pengantin baru. Susi agak heran, kok aku memanggil “istriku” itu Mbak. Tapi namanya saja bisnis, Susi minta tambah. Kalau sendirian melayani aku Rp 300.000, maka kali ini minta Rp 500.000.<br />
Mbak In karena nafsunya sudah di ubun-ubun, mengiyakan saja. Uang dia kan banyak.<br />
“Aku udah sediain cash cukup kok hari ini..”, Hebat juga si jembut lebat ini, bisa mengantisipasi.<br />
“Mbak pinginnya gimana?”, tanya Susi.<br />
Ternyata Mbak In maunya melihat dia striptis, setelah itu pingin melihat dia bersetubuh denganku. Susi mau. Aku dan Mbak melihat striptisnya dari ranjang sambil saling merangsang. Makin hebat striptisnya Susi, Mbak In makin basah. Padahal Susi belum telanjang.</p>
<p>Ketika Susi telanjang, Mbak In kian terbakar. Dia meniru Susi mempermainkan payudara dan puting susunya. Dia juga meniru waktu Susi memasukkan dua jari ke vagina lalu menjilatinya. Aku tentu saja makin ereksi.<br />
“Oh gini rupanya cara merangsang lelaki”, kata Mbak In. Ketika Susi nungging, lalu memasukkan jarinya ke vaginanya dari belakang, Mbak In menirukannya. Waktu Susi menyodorkan telapak tangannya untuk minta ludahku, yang mana tangan basah itu akhirnya dia oleskan ke vagina dan anusnya, Mbak In juga ikut. Jadi kering tuh tenggorokanku. Susi sambil nungging memasukkan jari ke anusnya, Mbak In mengikutinya. Hanya satu yang Mbak In tidak bisa, menjilati putingnya sendiri.</p>
<p>Akhirnya aku punya ide. Susi aku minta berdiri, mengangkat lengan, lalu menjilati ketiaknya. Mbak In yang duduk bersandar di atas kasur ikut mencobanya. Wow, seksi sekali. Ketiak lebat itu basah oleh jilatannya sendiri.</p>
<p>Akhirnya Mbak In tidak tahan waktu melihat Susi mengangkangkan satu kaki di atas ranjang, sambil meremas vaginanya yang merah yang berbulu tipis itu. Susi, gadis sipit dari Pontianak itu memang sensual dan erotis. Mbak In terengah.<br />
“Udah giliranku dulu baru kamu Sus. Ayo Gus, mana burungmu…”.</p>
<p>Aku menarik Mbak In ke sofa. Aku duduk seperti memangkunya, lalu Mbak In jongkok di atas pangkuanku sambil mengangkang, dengan begitu penisku bisa menembus vagina Mbak In yang lebih gelap dari Susi. “Blkessss…”, nikmat sekali masuknya karena sudah licin vagina Mbak In si lajang gila seks. Susi hanya melihat saja. Akhirnya dia punya inisiatif. Dia ciumi vagina Mbak In dan penisku, sementara pantat Mbak In naik turun.<br />
Jadi begini posisinya. Mbak In mengangkang di pangkuanku, menghadap ke depan, dengan vagina tertembus penis, sementara Susi nungging di depan sofa dengan muka menempel di kemaluan kami. Jilatan Susi kian menggila. Ketika penisku keluar, karena meleset gara-gara vagina Mbak In sudah banjir, segera ditangkapnya dan dikocok. Sementara mulutnya masih menggarap clitoris dan vagina Mbak In.</p>
<p>Mbak terengah-engah. Kadang menjerit. Susi memang pintar. Jam terbangnya sebagai wanita nakal tahu bahwa penisku mau muncrat. Maka peniskupun digenggamnya erat, agar kecekik, sehingga maniku tertahan. Sementara itu mulut dan tangan kanan Susi sibuk menggerayangi tubuh Mbak In. Si Mbak rupanya sudah tidak peduli kalau penisku sudah tidak di dalam vaginanya lagi. Oralnya si Susi telah melambungkannya ke alam birahi ternikmat di dunia.</p>
<p>Akhirnya Mbak In mencapai klimaks. Aku dengar suara mulut Susi mengisap-isap cairan vagina Mbak. “Slrppppp..”. Beberapa kali Mbak In klimaks, sampai akhirnya menjerit, “Memek, memek, memekkuuu…, nggak tahan…, Lu memang lonte hebat Susi…, Ajarin aku buat menikmatin seks…, Auhh…, itilku mau lepas, aku kebelet pipis, memekku mau pecah…, Mana burung, mana mani..”.<br />
Semakin seru ucapan Mbak In di ambang puncak dari segala puncak birahinya.</p>
<p>Akhirnya semuanya usai. Mbak In terkulai, dengan vagina memerah basah, begitu pula bulu lebatnya yang basah kuyup, karena campuran cairan vagina dan ludah si amoy Susi. Mbak Indriani turun dari pangkuanku, lalu merebahkan diri di kasur. Aku sudah tidak tahan. Maka segera aku kocok penisku.<br />
Susi tiba-tiba bilang, “Jangan Gus. Itu buatku. Lu pikir gue nggak kangen juga. Biar lonte gue juga butuh nikmat lho..”</p>
<p>Susi rebah di ranjang, di sebelah Mbak In, lalu mengangkang, dan penisku ditariknya. Lalu, “Bles…”. Baru dua menit aku sudah muncrat habis-habisan. Tapi aku tahu siapa Susi karena aku langganannya. Justru ketika aku muncrat itulah dia mulai beranjak orgasme. Ketika penisku melemas, dia seperti berpacu dengan waktu, agar bisa mencapai puncak, sementara vaginanya kian licin karena sperma, dan penisku bisa tergelincir keluar.</p>
<p>Akhirnya dia puncak juga. Dan memberi servis extra, melumat penisku yang melemas dengan mulutnya, sampai penisku betul-betul mengerut kecil dan kering maninya. Setelah itu kami istirahat, memesan makanan yang diantar oleh pelayan. Kami telanjang. Pelayan motel tidak bakal melihat, karena nganternya cuma dari lubang.<br />
“Gua mau mandi ah”, kata Susi. Dia memang cuma makan sedikit, sehingga dengan nikmat bisa mutusin buat mandi. Begitu shower di kamar mandi terdengar, Mbak In meraihku.<br />
“Masih bisa berdiri nggak, Gus?”.<br />
“Aduh, aku capek Mbak, udah lemas..”.<br />
“Ya udah, kita 69 aja ya…, Aku lagi birahi tinggi nih…, Biasa, mau mens Gus”.</p>
<p>Lalu kami ber-69. Mula-mula aku keringkan vagina basah dengan bulu yang awut-awutan dengan celana dalam Mbak In. Itu yang sering aku lakukan, mengepel vagina dengan underwearnya Mbak In.</p>
<p>Setelah vaginanya kering, aku jelajahi dengan mulutku. Rupanya cairan vagina Mbak In juga sudah habis. Jadi aku harus mengeluarkan saliva-ku agar vaginanya basah. Karena aku berposisi 69 di atas, maka kusibak lubang itu selebar-lebarnya, lalu aku ludahi. Setelah basah, aku mengulum clitoris Mbak In yang sebesar mete itu.</p>
<p>Setelah kami berukar posisi. Dia di atas. Setelah itu jariku masuk ke vaginanya. Satu jari dulu, jari tengah, keluar masuk, berputar-putar, menjelajahi lubang si lajang jalang. Lalu dua jari, jari tengah dan telunjuk. Selama dalam lubang, sebisa mungkin aku membentuk tanda V, sambil mengeksplorasi liang Mbak Indriani. Dia mulai terangsang. Mulai merintih. Mulai basah. Akhirnya tiga jariku masuk ke vaginanya, dan berputar-putar.<br />
“Gilaa…, kenapa nggak dari dulu kamu lakukan Gus? Terusss..”.<br />
Karena di atas, Mbak lebih leluasa. Pinggulnya terus bergerak. Aku sempat kehabisan napas, soalnya hidung dan mulutku digusel vagina dan bulu vaginanya tiada henti, sehingga oksigen terhambat masuk ke mulut dan hidungku. Mbak In sendiri makin kuat mengulum dan mengocok penisku. Akhirnya aku ereksi sedikit, dan akhirnya bisa berdiri tegak.<br />
“Terus Mbak, dikocok, diemut, dijilat…, Terus…, sampe keluar maniku..”.<br />
“Sayang banget kalo kamu muncrat sekarang. Masukin dulu ke lubangku, baru kamu boleh muncrat..”.<br />
“Tapi Mbak di atas ya..”.<br />
Mbak In tidak menjawsab, tapi langsung ganti posisi. Dia menindihku dan dalam sekejap vaginanya tertembus oleh penisku. Dia terus bergerak. Keringatnya membanjir. Lipstiknya habis. Rambutnya acak-acakan. Tapi entah mengapa dia jadi kelihatan cantik sekaligus jalang.<br />
“Gus kamu tahan nafsumu, jangan ikutan aktif, biar nggak nggak cepat muncrat..”. Lalu dia memacu diri.</p>
<p>Saat itulah Susi keluar dari kamar mandi, cuma dililit handuk.<br />
“Ayo Susi sayang, bantu aku..”.<br />
Susi ketawa, “Udah tuntasin aja secepatnya Mbak..”.<br />
“Ayo Sus..”, kata Mbak In.<br />
“Tapi tambah Rp 75.000 ya?”.<br />
“Terlalu lu Sus…, Komersil banget sih?”.<br />
“Gue kan nyari nafkah Mbak…” Sambil menjawab, Susi sudah duduk di samping kami. Tangannya meraba biji pelirku.<br />
“Gini deh, mulut gue udah capek nih. Gimana kalo pake jari, tapi gratis?”.</p>
<p>Mbak In yang terengah-engah itu tidak menjawab. Yang terasa sekarang adalah penisku seperti punya teman di lubang. Jari tengah Susi ikut menembus vagina Mbak In. Mbak In blingsatan. Mulai ngomong jorok.<br />
“Bagus, Sus, bagus…, Gila, itil gue lu jepit pake jari ya?, Uhh”, Mbak In kian berkeringat. Aku tidak melihat apa yang sedang trjadi, karena posisiku tidak memungkinkan untuk tahu. Bayangkan, Mbak In di atas, dan terus menciumiku. Aku tahu, birahinya mulai menanjak kencang. Yang pasti kurasakan jemari Susi bermain-main di kemaluan kami.<br />
“Gila! Gila! Gila Gus! Dua jari njepit itilku, lalu jempolnya masuk dubur…, Terlalu Gus! Nikmat Gus! Gila Gus. Jempolnya udah digantiin jari lain…, gilaa, Uhh aku sampai puncak!”.</p>
<p>Mbak In bergerak liar, akibatnya penisku terlepas. Tapi dia tidak mempedulikan penisku lagi, soalnya jemari Susi terus memburu, menggarap clitoris dan anus. Akhirnya Mbak In terkulai setelah menjerit, “Akuuuuuuu!”. Aku sendiri segera mengocok penisku. Tidak sampai semenit penisku sudah mendidih dan siap muncrat. Dengan segera aku bangkit, memiringkan badan, dan mengarahkan penisku ke wajah Mbak In yang tergolek kelelahan dengan nafas terengah-engah. “Cratttt.., tes.., tes..”, Air maniku menyiram wajah Mbak In yang siang ini tampak cantik sekali. Kena pipinya, hidungnya, bibirnya, bahkan matanya. Itulah salah satu petualangan seks-ku dengan Mbak Indriani….</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bibiku Korbanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bibiku-korbanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bibiku-korbanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/bibiku-korbanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Surabaya di sana aku tinggal di rumah Pamanku. Aku tinggal di sana karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga punya anak, jadi kata mereka biar suasana rumahnya bertambah ramai dengan kehadiranku. Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Surabaya di sana aku tinggal di rumah Pamanku. Aku tinggal di sana karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga punya anak, jadi kata mereka biar suasana rumahnya bertambah ramai dengan kehadiranku. Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga ada lapangan tenisnya, maklum pamanku adalah seorang pengusaha yang kaya. Selain bibiku dan pamanku, di sana juga ada 3 orang pembantu 2 cewek dan 1 cowok. Bibiku umurnya 31 tahun tapi masih cantik dan bodinya seperti gitar spanyol, wajahnya mirip Meriam Belina. Dan ke-2 pembantu cewek tersebut yang satu janda dan yang 1 sudah bersuami, sedang yang cowok berumur 20 tahun.</p>
<p>Suatu hari ketika kuliahku sedang libur, paman dan bibiku sedang keluar kota, pintu kamarku diketuk oleh Trisni si janda tsb, “Den Eric itu ada kiriman paket dari Jakarta”. Lalu aku keluar dan menerima paket tsb. Karena tertarik kubuka isinya ternyata isinya alat-alat seks ada penis dari karet, ada oil pelumas dan juga ada 5 VCD. Waktu kubuka paket tersebut Trisni ada di sebelahku dan wajahnya memerah begitu tahu isinya.<br />
“Wah ternyata Jeng Rini hot juga ya Den”, celetuknya Rini adalah nama bibiku.<br />
“Entahlah mungkin aja paman udah loyo…, tapi gimana kalau nanti malam kita setel VCD ini mumpung yang punya lagi pergi..”, kataku sambil mengamati wajahnya yang manis.<br />
“Itu film apaan sih”.<br />
“Entahlah tapi nanti kita nontonnya berdua aja biar nggak dilaporkan ke paman ok”</p>
<p>Malamnya jam 21.00 setelah semua tidur Trisni ke ruang tengah, dia memakai pakaian tidur yang tipis sehingga kelihatan CD dan BH-nya.<br />
“Eh, apa semua sudah tidur”, tanyaku.<br />
“Sudah Den”, jawabnya.<br />
Lalu aku mulai menyetel itu film dan ternyata itu film pribadi bibiku, waktu itu Bibi dan paman sedang bercumbu dengan alat-alat seks tersebut, penis karet yang panjang itu menancap di vagina Bibi dan penis paman diisap oleh Bibi tapi anehnya penis paman tetap kecil.</p>
<p>“Eh kok yang main film Jeng Rini dan Den Budi?”, gumannya setengah bertanya padaku.<br />
“Wah kelihatanya paman itu impoten masa diisep begitu nggak berdiri”, sahutku sambil aku mengeluarkan penisku.<br />
“Nih wong aku yang lihat aja langsing berdiri kok”.<br />
“Ih, Aden jorok ah”, sahut Trisni ketika penisku aku dekatkan ke wajahnya. Aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya dan dia hanya mau menciuminya mula-mula di sekitar batangnya lalu dia mulai menjilati kedua telurku, wah geli sekali dan dia mulai mengisap penisku pelan-pelan, ketika asyik-asyiknya tiba-tiba Erni pembantu yang satunya masuk ke ruang tengah dan dia terkejut ketika melihat adegan kami.</p>
<p>Kami berdua jadi berhenti sebentar, “Erni kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya awas kalau lapor”, ancamku.<br />
“Iya Den”, jawabnya sambil matanya melirik penisku yang masih berdiri tegak.<br />
“Kamu di sini aja lihat film itu”, sahutkku. Dia diam saja. Lalu tanganku melucuti semua baju Trisni dan dia diam saja. Kemudian dia kurebahkan di sofa panjang dan aku mulai menjilati vaginanya, ternyata vaginanya sudah sangat basah.<br />
“Den…, oh den nikmat..”, rintihnya, aku melirik Erni dia dadanya naik turun melihat adegan kami.</p>
<p>Setelah Trisni puas, lalu aku berdiri dan kumasukkan penisku pelan-pelan. “Bles..”, amblas semua batangku dan Trisni berteriak kenikmatan. Kupompa pelan-pelan vaginanya sambil menikmatinya, licin sekali rasanya.<br />
“Sini daripada bengong aja mendingan kamu ikut…, ayo sini”, kataku pada Erni. Lalu dengan malu Erni menghampiri kami berdua. Aku ganti posisi Trisni kusuruh nungging dan kugarap dia dari belakang sehingga ke dua tanganku bergerilya di tubuh Erni. Ketika sampai di CD-nya ternyata CD-nya sudah basah semua. Aku ciumi mulutnya, lalu aku isap putingnya. Dia kelihatan sudah sangat terangsang. Aku menyuruhnya melepaskan semua pakaian yang di kenakan. Saat itu aku merasakan penisku tersiram oleh cairan hangat. Oh, dia sudah orgasme pikirku dan gerakan Trisnipun melemah. Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke vagina Erni dan ternyata lebih nikmat punya Erni, lebih sempit lubangnya. Mungkin karena jarang bersetubuh dengan suaminya pikirku.</p>
<p>Setelah masuk semua aku baru merasakan bahwa vagina Erni itu bisa menyedot dan mengisap, seperti diremas-remas rasanya penisku.<br />
“Uh nikmat banget sih kamu apain itu memekmu heh”, kataku dan Erni cuma tersenyum, lalu kupompa dengan lebih semangat.<br />
“Den ayo den lebih cepat nih”, dan kelihatan bahwa Ernipun mencapai klimaks.<br />
“Ih…, ih…, ih…, hmm..” rintihnya. Lalu kudiamkan dulu penisku biar meraskan remasan vagina Erni, lalu kucabut dan Trisni langsung mendekat dan dikocoknya penisku dengan tangannya sambil diisap ujungnya, dan ganti Erni yang melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depankku dan aku merasakan sudah mau keluar.<br />
“Aku nggak tahan lagi nih…”, lalu Erni mengocok dengan cepat dan, “Crooot…, crooot…, crooot…, crooot”, keluar semua maniku empat kali semprotan dan kelihatannya dibagi rata oleh Erni dan Trisni. Akupun terkulai lemas.</p>
<p>Selama sebulan lebih aku bergantian menyetubuhi mereka, kadang-kadang kami melakukannya bertiga. Dan pada hari itu paman memanggilku.<br />
“Ric paman mau ke Singapore ada keperluan kurang lebih 2 minggu kamu di rumah saja nemanin Bibi kamu ya”, kata pamanku.<br />
“Iya deh aku nggak akan dolan-dolan”, jawabku.<br />
Bibi tersenyum padaku kelihatan senyumnya itu menyembunyikan sesuatu pikirku. Akupun sebenarnya ingin merasakan tubuh bibiku tapi karena tidak ada kesempatan selama ini aku tahan saja. Akhirnya aku punya kesempatan nih pikirku.</p>
<p>Malam harinya selesai makan malam dengan Bibi, aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah dan Bibi menghampiriku dia berkata, “Ric, waktu aku pergi sebulan yang lalu apa kamu nggak dapat paket?”.<br />
“Eh anu, aku nggak dapat kok”, jawabku dengan gugup.<br />
“Kamu bohong…, ini buktinya”, sambil dia menunjukkan penis karet tsb. Ternyata penis karet tersebut sudah jatuh ke tangan bibi, karena barang tersebut sebetulnya di minta oleh Trisni.</p>
<p>“Anu kok Bi, waktu itu memang aku terima tapi”.<br />
“Sudah kamu itu memang suka bohong ya lalu mana VCD-nya?”.<br />
“Aku simpan kok Bi buat aku setel jika aku kepingin, habis Bibi hot banget sih di film itu”, jawabku.<br />
“Dasar anak kurang ajar”, wajahnya langsung memerah.<br />
“Kan Bibi saja belum lihat itu film, ayo kamu ke kamar ambil itu VCD” suruhnya, lalu aku ke kamar untuk mengambilnya.<br />
“Ini Bi, tapi jika Eric pinjam lagi boleh kan Bi”, kataku.<br />
“Kamu jika ingin lihat lagi langsung saja nggak usah pakai di film segala”.<br />
“Ayo sini ke kamar Bibi nonton langsung saja” jawab bibi.</p>
<p>Akupun langsung masuk ke kamar Bibi dan di kamar itu, “Sebentar aku mau ganti baju dulu”, kata Bibi dan dengan enaknya Bibi telanjang di depanku. Aku yang sudah ereksi dari tadi langsung aku peluk Bibi dari belakang. Dan kubelai-belai payudaranya, dia diam saja lalu kupelintir putingnya dan dia kelihatan sudah mulai terangsang. Aku tahu bahwa puting dan clitoris bibiku tempat paling suka dicumbui. Aku mengetahui hal tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku satunya gerilya di daerah vaginanya.<br />
“Eh Ric nikmat juga belaian kamu”, katanya.</p>
<p>Lalu kubalik badan Bibi dan kamipun saling berciuman. Bibir bibi aku lumat dan.., wow, lidah bibiku menari-nari di mulutku. Lalu akupun disuruh telanjang oleh bibiku.<br />
“Eh gedhe banget barang kamu Ric?”, mungkin bibiku jarang melihat penisku yang berdiri tegak, habis pamanku impoten sih. Lalu dengan posisi 69 kami mulai bercumbu. Setelah puas langsung aku masukkan penisku ke dalam vaginanya “Bles”, masuk semua batangku dan bibikupun berteriak keenakkan, aku goyang pinggulku, kelihatan bahwa bibiku hampir mencapai klimaks. Dia bertambah semangat ikut menggoyangnya, kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai di bawah ranjang dan kulihat dari kaca pinggul bibiku, aku jadi semakin terangsang dan kamipun keluar bersama-sama.</p>
<p>Bibi tersenyum puas, “Ric jangan kapok lho…, pokoknya seminggu minim 4 kali harus dengan aku, Trisni dan Erni jangan kamu kasih lagi”.<br />
“Iya bi…”, jawabku dengan malu-malu.<br />
Sejak kejadian malam itu aku semakin lengket dengan bibiku. hampir tiap malam aku mengulangi lagi perbuatan itu, apalagi pamanku berada di Singapore selama dua minggu. Selama itu pula aku bermain dengan bibiku bak pengantin baru.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bibiku-korbanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Guru BP</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairah-guru-bp.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairah-guru-bp.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2319</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku tidak naik kelas, nilaiku hancur-hancuran semua, tidak mungkin deh. Lagian sekolahku sekolah favorit, pasti susah. Nah, ketika aku sedang bingung, eh ada Ibu Conny mendatangiku. Ibu Conny ini guru yang paling cantik di sekolahku. Orangnya putih, tinggi, langsing, cantik wajahnya. Ukuran payudaranya bagus lagi, tidak terlalu besar, juga tidak kecil. Dia memang memakai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya aku tidak naik kelas, nilaiku hancur-hancuran semua, tidak mungkin deh. Lagian sekolahku sekolah favorit, pasti susah. Nah, ketika aku sedang bingung, eh ada Ibu Conny mendatangiku. Ibu Conny ini guru yang paling cantik di sekolahku. Orangnya putih, tinggi, langsing, cantik wajahnya. Ukuran payudaranya bagus lagi, tidak terlalu besar, juga tidak kecil. Dia memang memakai kacamata, cuma aku yakin itu cuma samaran saja.</p>
<p>Dia mendatangiku, terus bilang, “Anton, kamu kok nilainya semakin jelek saja sih?, nanti kamu bisa nggak naik kelas loh”.<br />
Walah, aku jadi kaget juga ditanya begitu, ya sudah aku jawab saja “Iya nih bu, bagaimana yah, boleh belajar ke rumah Ibu nggak sih menjelang ulangan umum?”, Eh masa dia jawab, “boleh-boleh saja, nanti sore saja mulainya, kamu nanti datang yah jam 4 sore”. Lho kok gitu, aku pikir, padahal kan Ibu Conny tuh guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan)! ulangan umum mana ada pelajaran BP? nah aku mulai curiga nih. Ya sudah aku terima saja ajakannya.</p>
<p>Sorenya aku ke rumah Ibu Conny. Dia tinggal sendiri, suaminya sudah cerai, kabur sama cewek lain. Dia persilakan aku masuk. Wah gila, Ibu Conny masa cuma pakai celana pendek dan kaos lengan buntung tipis begitu. Terus kita mulai belajar deh. Pas tengah-tengah belajar, tiba-tiba pensilku jatuh, saat aku mau menunduk untuk mengambilnya, dia sudah mengambilnya duluan, jadinya aku tidak sengaja melihat isi dalam bajunya, wah sip banget, bulat dan mancung. Aku sampai bengong. Ibu Conny bukannya tidak tahu, dia malah diam saja di posisi itu. Aku akhirnya sadar sendiri, terus jadi malu. Aku yakin mukaku sudah seperti kepiting rebus.<br />
“Maaf bu” aku bilang, takut kalau dia marah.<br />
Eh dia malah senyum, “Engga apa-apa Ton, kalau mau lihat terusin saja, Ibu nggak larang kok, malah kalau kamu mau Ibu bisa lepasin kok bajunya”.</p>
<p>Belum sempat aku bilang apa-apa dia sudah melepaskan baju kaos serta celana pendeknya. Gila langsung bugil dia, ternyata selain tidak memakai BH, dia juga tidak memakai celana dalam! Gile aku asli kaget, tapi mulai terangsang nih. aku sih sebenarnya masih mau menolak.<br />
“Malu ah bu”. Tapi dia bilang”,Nggak apa-apa Ton, ini juga salah satu pelajaran, pelajaran menjadi dewasa” sambil ngomong begitu dia maju ke arahku terus membelai-belai “gundukan” di celanaku.</p>
<p>“Kamu pasti belum pernah merasakan nikmatnya seorang wanita”, Kata Bu Conny. Terus dia mulai menciumiku. Mulanya pipi, terus bibir, mulut. Gila kita adu lidah di dalam mulut…, setelah kita berdua kehabisan napas, dia mulai turun ke bawah…, bawah sekali…, sampai ke tengah-tengah pahaku. Resliting celanaku dibuka terus celana dalamku ditarik, ternyata kemaluanku sudah berdiri tegak, dasar masih pemula. Ibu Conny senyum-senyum saja, terus dengan santai dia mulai menjilati kepala penisku “Aduhh…, nikmat banget aku kayaknya langsung tidak tahan deh, untung aku sempat menahan dia dulu sebelum aku benar-benar keluar. Lalu dia mulai mengisap kemaluanku, gila dia isapannya kuat sekali, sampai kedengaran bunyi isapannya, untung dia tinggal sendirian.</p>
<p>Akhirnya aku sudah tidak tahan, kuangkat kepalanya, aku duduk di sofa, terus dia naik di atasku, terus dia mulai goyang, “Ugh…, agh…, ughh”, bunyi napas Ibu Conny jadi berat, tapi dia goyangannya makin rajin. Gilaa, aku baru pertama kali merasakan vagina wanita. Memang seperti sorga rasanya…, Apalagi goyangnya sangat bergairah, sampai bercucuran keringat. Akhirnya aku hampir tidak tahan, aku sudah mau keluar.</p>
<p>Dengan cepat aku ganti posisi, dia aku tidurkan di sofa, terus aku naik di atasnya, terus aku goyang juga deh, lama-lama goyanganku makin cepat, dia juga makin terengah-engah, sambil berteriak, satu rumah rumah bisa mendengar teriakannya. Akhirnya aku tidak tahan lagi, aku keluar di dalam vaginanya. Rasanya badanku jadi lemas sehabis “main” dengan guru BP-ku. Tapi sungguh nikmat. Sejak saat itu aku seminggu tiga kali “belajar” bersama Ibu Conny. Memang sih aku tidak pernah belajar, tapi tidak tahu kenapa, aku bisa naik kelas, memang sih tidak masuk rangking, tapi nilainya lumayan kok. Aku sih sudah pernah mencoba segala gaya (contoh doggie style, sixty-nine) bersamanya, di segala tempat juga sudah di rumahnya. Mulai dari sofa, kamar tidur, dapur, WC, semua sudah. Di tempat jemuran baju juga sudah.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairah-guru-bp.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosenku yang Manis</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/dosenku-yang-manis.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/dosenku-yang-manis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2317</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi sewaktu aku menuntut ilmu di ***-**, Malang, Jawa Timur beberapa tahun yang lalu. Di sinilah aku telah kehilangan perjakaku yang aku pertahankan sekian lamanya. Bu Rini (bukan nama sebenarnya) adalah seorang dosen yang cantik dan pandai. Orangnya kecil molek tapi bodynya mengalahkan anak dara. Dari cerita yang kudengar dia sudah setahun menjanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi sewaktu aku menuntut ilmu di ***-**, Malang, Jawa Timur beberapa tahun yang lalu. Di sinilah aku telah kehilangan perjakaku yang aku pertahankan sekian lamanya.</p>
<p>Bu Rini (bukan nama sebenarnya) adalah seorang dosen yang cantik dan pandai. Orangnya kecil molek tapi bodynya mengalahkan anak dara. Dari cerita yang kudengar dia sudah setahun menjanda tanpa ada anak.</p>
<p>Dia mengajar subjek ekonomi mikro. Tiap kali mengajar dia memakai pakaian yang seksi. Kalau dia mengajar semua mata tertuju ke dekat dada dan pahanya yang empuk dan putih, temasuk aku, tapi yang aku rasakan sewaktu dia mengajar dia asyik memperhatikanku.</p>
<p>Minggu itu dia memberikan ujian…5% untuk ke final. Dua hari setelah ujian dia memanggilku ke ruangannya karena ada hal penting. Aku berpikir mesti ujianku gagal, kalau tidak dia tidak akan memanggilku.</p>
<p>Dugaanku tepat, ketika aku sampai ke ruangannya, aku lihat kertas jawabanku ada di dekat tangannya. Dia bertanya padaku kenapa aku tak menjawab pertanyaan dengan tepat? Aku berkata, aku menjawabnya dengan baik dan dengan sopan menyuruhnya membaca kembali.</p>
<p>Hari itu aku melihat dia pakai pakaian seksi sekali. Payudaranya jelas kelihatan dan membuat jantungku berdebar.</p>
<p>Tiba-tiba dia bangun dan mengunci pintu dari dalam dan merapat mendekat kepadaku kemudian berbisik di dekat telingaku. Ini membuat bulu kudukku berdiri. Bu Rini memang orangnya blak-blakan terus terang sifatnya. Dia berkata dia bisa menolongku lulus dengan syarat…, Belum habis aku bertanya syaratnya, tangannya telah menyentuh penisku dari luar celana yang kupakai. Syaratnya dia mau mengulum penisku sepuas-puasnya katanya sambil membuka retseleting celanaku, aku tak bisa berbuat apa-apa karena peniskupun sudah mengeras.</p>
<p>Ketika burungku yang mengeras telah keluar dia terkejut sekali melihat ukurannya. Lebih kurang 7 inci dan ujungnya sangat lebar. Waw, katanya ini sih punya “Buto” (raksasa). Dia terus mengulum penisku dengan rakusnya.</p>
<p>Aku tak tahu hendak berbuat apa, cuma berserah saja pada dia yang lebih berpengalaman. Aku lihat dia cuma mampu mengulum bagian kepalanya saja karena penisku besar dan panjang, rasanya sungguh nikmat. Kenikmatan yang tak pernah aku rasakan selama ini. Bu Rini terus mengulum penisku tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Selang 10 menit aku merasa badanku tiba-tiba panas dan aku merasa satu kenikmatan yang teramat sangat yang memusat dari pusar hingga kemaluanku. Rupanya aku hampir klimaks. Bu Rini terus mengulum penisku dengan lebih rakus dan akhirnya aku keluar di dalam mulutnya.</p>
<p>Bu Rini terus menghisap penisku hingga kering namun penisku masih tetap tegang. “Hebat banget”, kata Bu Rini. Aku mencoba menyentuh payudara Bu Rini namun Bu Rini menyuruhku keluar ruangan ketika telepon di dalam ruangannya berdering. Dia berkata dekat telingaku “Jangan sekarang”. Dia menyuruhku pergi tetapi sebelum aku keluar ruangan dia memberi nomor teleponnya kepadaku dan menyuruh aku meneleponnya pada jam 8.00 malam itu. Akupun keluar dari ruangan Bu Rini tetapi sebelum aku menutup pintu ruangannya dia sempat berkata, “Kamu dapat A-untuk paper kamu” sambil tersenyum padaku.</p>
<p>Malam itu sebelum aku pulang ke rumah, aku telah membeli sebuah video porno untuk mempelajari bagaimana mereka melakukannya. Malam itu aku habiskan waktuku dengan menonton film porno tersebut sambil menunggu pukul 8.00 malam. Pukul 8.00 malam akupun menghubungi Bu Rini dan tanpa banyak bicara dia menjemputku minum teh di rumahnya.</p>
<p>Setibanya aku di rumah Bu Rini, dia terus mendekapku dan kamipun berkecupan. Dia memang seorang yang berpengalaman. Dia mengajakku masuk ke kamarnya. Dia membuka pakaiannya satu persatu di hadapanku dan membuat penisku terus menegang. Ini rupanya badan yang menjadi idaman para mahasiswa di kampus selama ini. Aku terus membuka pakaianku dan tanpa banyak bicara aku terus mendekapnya dan membaringkan Bu Rini ke ranjang empuknya. Aku kecup bibirnya dan aku jilat tengkuk Bu Rini. Aku kulum payudaranya sehingga dia meraung keenakan. Tangan Bu Rini sempat mengocok penisku namun aku terus memberanikan diri dengan menjilat pusarnya dan terus ke vaginanya. Dia meraung lagi karena keenakan. Aku terus berbuat seperti yang apa dilakukan oleh pasangan yang aku tonton dalam film petang tadi. Aku jilat clitorisnya sehingga dia meraung dan klimak beberapa kali. Dia berkata nikmat sekali.<br />
“Ohh…, hajar aku dengan pelermu, ayo dong”.<br />
Aku tak langsung melayani tapi sebaliknya aku masukkan jariku satu persatu ke dalam vaginanya dan lidahku masih menjilat clitorisnya yang panjang sehingga dia klimak sekali lagi. Dia masih merintih minta agar aku segera memasukkan penisku. Namun aku ada ide dan bertanya padanya apa aku akan dapat nilai bagus.<br />
Dia berkata, “aku janji kamu akan dapat A++” sambil meraung keenakan.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang akupun mengambil bantal yang ada dan menyandarkan punggungnya agar ia lebih terangkat dan akupun memasukkan penisku ke dalam vaginanya namun aku rasakan masih sempit dan panas, namun Bu Rini memudahkan kerjaku dengan menjepit pinggangku dengan kedua belah kakinya sehingga aku berhasil memasukkan semuanya. Akupun mulai mendayung dan kulihat Bu Rini meraung keenakan. Sekarang kepala Bu Rini berada di bawah ranjang dan dia tidak berhenti-hentinya berkata hajar aku lebih keras.<br />
“Ayoo…, ayoo…, kamu hebat Yan…, eenaakk…, enakk…”.<br />
Aku cabut penisku dan menyuruh Bu Rini agar menungging, kami berbuat dengan tehnik doggie style dan dia meraung lagi karena keenakan. Dia berkata aku pria terhebat yang pernah bermain seks dengannya. Setelah sekian lama mendayung aku merasa hendak keluar dan tanpa membuang waktu aku tusuk vaginanya kuat-kuat dan kukeluarkan maniku di dalamnya.</p>
<p>Aku cabut penisku dan masukkan ke dalam mulutnya dan dia kulum penisku hingga kering, namun aku cepat “recover” dan penisku tegang lagi.<br />
“Wah ini hebat sekali”, katanya.<br />
Dia hendak istirahat dulu katanya tapi aku cepat-cepat tunggingkan dia dan kupakai kondom yang kubawa tadi. Perlahan-lahan aku memasukkan penisku ke lubang pantatnya, dan ini membuatkan dia terkejut dan berkata, “Jangan di situ Yan..”, tapi aku tidak peduli. Aku merasa lubang pantatnya sempit sekali namun ketika aku tusuk kuat-kuat, penisku masuk sedikit demi sedikit, akhirnya aku berhasil memasukkan kesemuanya dan mendayung lagi, aku merasakan satu kenikmatan yang teramat sangat dan aku lihat Bu Rini yang pada mulanya kesakitan kini menjadi keenakan. Aku keluar lagi tapi kali ini di dalam lubang pantatnya.<br />
Kami sama-sama tertawa dan dia berkata akulah yang pertama kali memecah keperawanan pantatnya dan aku pasti akan dapat A++.</p>
<p>Pada malam tersebut aku benar-benar puas karena kami asyik bermain. Aku pulang ke rumah pada pukul 6.00 pagi dan terus tidur karena terlalu letih. Aku tersenyum sendirian sambil berkata inilah yang dikatakan nasib mujur.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/dosenku-yang-manis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>om heru, aku ketagihan nih</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/om-heru-aku-ketagihan-nih.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/om-heru-aku-ketagihan-nih.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:19:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/om-heru-aku-ketagihan-nih.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah seorang gadis lajang. Saat ini usiaku 24 tahun, anak ke-5 dari 5 bersaudara yang semuanya perempuan. Dengan tinggi badan 168 dengan berat tubuh 56 membuat orang menganggapku sebagai gadis yang seksi dan menggiurkan. Apalagi aku selalu menjaga kebugaran tubuhku dengan berlatih fitness secara rutin. Orang bilang wajahku cantik. Padahal aku merasa biasa saja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah seorang gadis lajang. Saat ini usiaku 24 tahun, anak ke-5 dari 5 bersaudara yang semuanya perempuan. Dengan tinggi badan 168 dengan berat tubuh 56 membuat orang menganggapku sebagai gadis yang seksi dan menggiurkan. Apalagi aku selalu menjaga kebugaran tubuhku dengan berlatih fitness secara rutin. Orang bilang wajahku cantik. Padahal aku merasa biasa saja. Mungkin ini karena kulitku yang putih dan mulus. Rambutku hitam lurus sebahu. Sebut saja namaku Anna. Aku saat ini sudah sarjana teknik (kata Bang Doel “Tukang Insinyur”.. Ha.. Ha.. Ha).</p>
<p>Suatu hari tiga tahun yang lalu (entah hari apa aku lupa) saat itu aku sedang tidak kuliah jadi aku sendirian di rumah. Bokap dan Nyokap seperti biasa ngantor dan baru sampai di rumah setelah jam 07.00 malam. Kakak-kakakku yang semuanya sudah menikah tinggal di rumah-masing-masing yang tersebar di Jakarta dan Bandung, jadi praktis tinggal aku saja sebagai anak bungsu yang masih ada di rumah. Oh ya Bokap dan Nyokapku selalu mendidik anak-anaknya agar mampu mandiri, dan mereka tidak pernah menggunakan jasa PRT. Jadi aku selalu membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri jika liburan.</p>
<p>Karena enggak ada kuliah aku masih malas-malasan di rumah. Sehabis mandi, hanya memakai celana pendek mini dan kaos you can see aku duduk-duduk di depan TV sambil nonton acara kegemaranku sinetron telenovela. Rencananya aku mau mencuci dan memasak setelah hilang rasa malasku nanti. Lagi asyik-asyiknya nonton sinetron tiba-tiba aku dikejutkan bunyi bel pintu yang ditekan berkali-kali.</p>
<p>Ting-tong.. Ting-tong.. Ting-tong!</p>
<p>“Sialan juga nih orang!! Mengganggu aja! Siapa sih!” makiku dalam hati karena kesal keasyikanku terganggu.</p>
<p>Dengan malas aku berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang. Kulihat di depan pintu ada seseorang yang berpakaian TNI sedang cengangas-cengenges.</p>
<p>“Siapa pula orang ini! Keren juga” kataku dalam hati.</p>
<p>Aku terkejut setengah mati waktu kubuka pintu. Rupanya itu adik kandung bokapku yang paling kecil!</p>
<p>“Ooh Oom Heru kapan sampai di Jakarta..! Kirain monyet dari mana yang nyasar ke sini” teriakku gembira sambil terus menyalaminya.</p>
<p>Rupanya benar itu pamanku yang sudah lama sekali tidak datang ke rumah sejak ia ditugaskan ke daerah konflik di NAD sana (hampir 1 1/2 tahun). Oh iya aku hampir lupa, aku tinggal di Jakarta bagian selatan, tepatnya di daerah Mampang.</p>
<p>Oomku ini seorang perwira menengah yang masih muda, ia berpangkat Kapten waktu itu. Umurnya waktu itu baru 31 tahunan dan ia duda tanpa anak karena istrinya meninggal saat melahirkan anaknya satu tahun yang lalu. Orangnya tinggi besar dan gagah seperti papaku. Tingginya mungkin sekitar 175 Cm dengan berat badan seimbang. Kulitnya agak hitam karena banyak terbakar matahari di daerah konflik sana.</p>
<p>“Baru aja nyampe!! Terus mampir ke sini! Lho Anna.. Emang.. Kamu enggak kuliah? Mana papa dan Mamamu?” kulihat matanya jelalatan melihat pakaianku yang minim ini. Jakunnya naik turun seperti tercekik.<br />
“Brengsek juga rupanya! Mungkin di NAD sana enggak pernah lihat cewek pakai rok mini kali!” kataku dalam hati.<br />
“Enggak Oom.. Anna enggak ada kuliah kok hari ini! Papa sama Mama kan kerja! Entar sore baru pulang!” jawabku agak jengah juga melihat tatapan mata Oomku yang jelalatan seolah-oleh hendak melumat dan menelan tubuhku.<br />
“Memang Oom Heru sedang cuti?” tanyaku untuk mencoba menghilangkan rasa jengahku.<br />
“Lho.. Kamu enggak tahu ya? Oom Heru kan tugasnya sudah selesai dan sekarang dikembalikan ke pasukan! Jadi mulai minggu depan Oom Heru sudah masuk barak lagi di Jakarta sini”</p>
<p>Matanya makin jelalatan menelusuri seluruh tubuhku, sementara tanganku yang menyalaminya masih digenggamnya erat-erat seolah ia enggan melepaskan tanganku. Aku merasakan betapa tangannya begitu kokoh dan kuat menggenggam jemariku.</p>
<p>“Nah daripada nunggu di mess mending Oom Heru ke sini biar ada teman” katanya.</p>
<p>Lalu kupersilahkan Oom Heru untuk duduk di sofa ruang tengah dan kubuatkan minuman.<br />
“Oom Anna siapin kamar tamu dulu ya? Silahkan diminum dulu tehnya! Entar keburu dingin enggak enak lho!”</p>
<p>Aku pun membawa tasnya ke kamar yang depan yang biasa dipakai Oom Heru dulu kalau ia menginap di rumahku. Saat aku sedang membungkuk membenahi seprei tempat tidur yang dipakainya aku terkejut ketika tiba-tiba dua tangan kekar memelukku dari belakang. Aku tidak mampu meronta karena dekapan itu begitu kuat. Terasa ada dengusan napas hangat menerpa pipiku. Pipiku dicium sedangkan dua tangan kekar mendekapku dan kedua telapak tangannya saling menyilang di pinggang kanan-kiriku yang ramping. Aku memberontak, namun apalah dayaku. Tenaganya terlalu kuat untuk kulawan. Setelah kutengok ke belakang ternyata Oom Heru yang sedang memelukku dan mencium pipiku.</p>
<p>“Oom ngapain! Lepasin dong Oom!” Aku berteriak agar dilepaskannya.</p>
<p>Karena terus terang aku belum pernah yang namanya dipeluk laki-laki! Apalagi pakai dicium segala! Tubuhku gemetar ketika tangan kokoh Oom Heru mulai bergerak ke atas dan mulai meremas payudaraku dari luar kaos singletku. Bukannya berhenti tetapi justru Oom Heru semakin menggila!</p>
<p>“Diam sayang.. Dari dulu Oom sangat menyayangimu” bisiknya di telingaku membuat aku geli saat ada dengusan nafas hangat menyembur bagian sensitif di belakang telingaku.</p>
<p>Dekapannya semakin ketat sampai aku merasakan ada semacam benda keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku semakin menggelinjang kegelian saat bagian belakang telingaku terasa digelitik oleh benda lunak hangat dan basah! Ooh.. Rupanya Oom Heru sedang menjilati bagian belakang telingaku. Tanpa sadar aku melenguh.. Ada rasa aneh menjalar dalam diriku! Rupanya Oom Heru sangat piawai dalam menaklukkan wanita. Ini terbukti bahwa aku yang belum pernah bersentuhan dengan lelaki merasa begitu nyaman dan merasakan kenikmatan diperlakukan seperti itu.</p>
<p>“Ja.. Jangan Oomhh!” Aku mendesis antara menolak dan enggan melepaskan diri.</p>
<p>Bibir Oom Heru semakin menjalar ke depan hingga akhirnya bibirnya mulai melumat bibirku. Seprei yang tadinya kupegang terlepas sudah. Tanganku sekarang bertumpu memegang kedua punggung tangan Oom Heru yang sedang sibuk meremas dan mendekap kedua payudaraku.</p>
<p>Napas Oom Heru semakin menggebu seperti kerbau. Lidahnya mulai bergerak-gerak liar menyelusup ke dalam rongga mulutku. Akupun tak tahan lagi.. Tubuhku seolah mengawang hingga ke awan. Kakiku limbung seolah tanpa pijakan. Sekarang tubuhku sudah bersandar sepenuhnya bertumpu pada Oom Heru yang terus mendekapku. Mataku terpejam merasakan sensasi yang baru pertama kali ini aku alami. Tanpa terasa lidahku ikut menyambut serangan lidah Oom Heru yang bergerak-gerak liar. Selama beberapa saat lidahku dan lidah oom Heru saling bergulat bak dua ekor naga langit yang sedang bertarung.</p>
<p>Aku membuka mata, wajah Oom Heru sangat dekat dengan wajahku dan tangannya merangkul dan meremas kedua payudaraku. Anehnya, setelah itu aku tidak berusaha menghindar. Aku merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak dan harus tersalurkan. Kubiarkan saja tangan Oom Heru saat mulai menyusup ke balik singletku dari bagian bawah.</p>
<p>Aku semakin menggelinjang saat tangannya mulai meraba perutku yang masih rata. Perlahan namun pasti tangannya mulai merayap ke atas dan ke bawah. Tangan kanan Oom Heru mulai menyentuh payudaraku yang terbungkus BH tipis itu, sementara tangan kirinya mulai menyusup ke balik celana pendek ketatku. Aku tak sadar tanganku bergerak ke belakang dan mulai meremas rambutnya.</p>
<p>Tubuh kami masih berhimpit berdiri menghadap searah. Oom Heru masih tetap mendekapku dari belakang. Bibirnya melumat bibirku sementara kedua tangannya mulai meraba dan meremas bagian-bagian sensitif tubuh perawanku. Akupun tak tinggal diam tanganku tetap meremas-remas rambutnya yang cepak seperti “rambutan sopiyah” (memang seperti lazimnya anggota TNI harus berambut cepak.. Kalau gondrong soalnya malah dikira preman kali!!)</p>
<p>Untuk beberapa lama, Oom Heru masih melumat bibirku. Aku harus jujur bahwa aku juga ikut menikmatinya. Bahkan beberapa saat secara tak sadar aku juga membalas melumat bibir Oom Heru. Aku masih tetap belum menyadari atau mungkin terlena hingga tak menolak saat tangan Oom Heru mulai menyusup ke dalam BH-ku dan menyentuh apa yang seharusnya kujaga. Nafasku semakin memburu dan aku mulai merasakan bagian selangkanganku mulai basah. Apalagi saat ibujari dan telunjuk Oom Heru mulai mempermainkan puting payudaraku yang sudah semakin mengeras. Tubuhku semakin bergerak liar hingga benda keras yang menempel ketat di belahan pantatku kurasakan semakin mengeras.</p>
<p>Desakan aneh semakin kuat mendorong di bagian bawah. Tubuhku semakin melayang saat tangan kiri Oom Heru dengan lembut mulai memijit-mijit dan meremas gundukan bukit di selangkanganku. (Namanya Bukit Berbulu!! Kalau Uci Bing Slamet dulu nyanyinya Bukit Berbunga.. Mungkin waktu ngarang lagu itu terinspirasi saat bukit berbulunya kepegang lak-laki seperti aku ini!! Ooh indah sekali!! Lebih indah daripada bukit yang berbunga!! Tul enggak? Munafik kalau bilang enggak..).</p>
<p>Tubuhku semakin liar bergerak saat jari Oom Heru mulai menyentuh belahan hangat di selangkanganku. Jari-jarinya terasa licin bergerak menyusuri belahan hangat di selangkanganku. Rupanya aku sudah begitu basah.. Dan Oom Heru tahu kalu aku sudah dalam genggamannya. Aku memang sudah menyerah dalam nikmat sedari tadi. Apalagi aku memang juga mengagumi Oomku yang keren ini.</p>
<p>Tubuhku berkelejat liar seperti ikan kurang air saat jemari Oom Heru mempermainkan tonjolan kecil di bagian atas bukit kemaluanku. Jarinya tak henti-hentinya menggocek dan berputar liar mempermainkan kelentitku.</p>
<p>“Akhh.. Oomphf..” desisanku terhenti karena bibirku keburu dikulum oleh bibir Oom Heru.</p>
<p>Aku sudah merasakan terbang mengawang. Desakan yang menuntut pemenuhan semakin membuncah dan akhirnya dengan diiringi hentakan liar tubuhku aku merasakan ada sesuatu yang menggelegak dan aku mengalami orgasme!! Aku semula tak tahu apa itu orgasme, yang jelas aku merasakan kenikmatan yang amat sangat atas perlakuan Oom ku itu. Tubuhku terasa ringan dan tak bertenaga sesudah itu.</p>
<p>“Gimana sayang?” bisik Oom Heru di telingaku.<br />
“Enak sayang?” lanjutnya.</p>
<p>Aku hanya terdiam dan ada sebersit rasa malu. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, kataku dalam hati menahan rasa malu dan sungkan yang menggumpal dihatiku. Tetapi rangsangan dan stimulus yang diberikan Oom ku terlalu hebat untuk kutahan. Akhirnya aku hanya pasrah saja saat tangan Oom Heru mulai melucuti pakaianku satu per satu. Mula-mula kaos singletku dilepasnya hingga payudaraku yang masih kencang terlihat terbungkus BH cream yang seolah-olah tak mampu menampungnya. Padahal ukurannya sudah 36B.</p>
<p>Tubuh bagian atasku sudah setengah telanjang. Sementara aku yang sudah lemas tetap berdiri dipeluk Oom Heru dari belakang. Kembali tangannya mengelus perutku yang putih rata itu. Tanganku menutup bagian dadaku karena malu dan jengah harus terlihat laki-laki dalam keadaan begini. Lalu dengan terburu-buru Oom Heru melepaskan pakaian seragamnya hingga aku merasakan rambut dada oom Heru yang cukup lebat menempel punggungku yang telanjang. Lagi-lagi aku merasakan sensasi yang lain-daripada yang lain.</p>
<p>Masih dengan setengah telanjang Oom Heru memelukku dari belakang. Aku terlalu malu untuk membuka mataku. Aku hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi dipeluk laki-laki perkasa. Dengan tangan mengelus perut dan dadaku Oom Heru kembali menciumi ku. Kali ini punggungku dijadikan sasaran serbuan bibirnya yang panas. Kumisnya yang tipis terasa geli saat menyapu-nyapu punggungku yang terbuka. Aku menggelinjang hebat. Apalagi saat lidah Oom Heru mulai merayap di tulang belakangku.</p>
<p>Perlahan dari leher bibirnya merayap ke bawah hingga pengait BH-ku. Lalu tiba-tiba aku merasakan kekangan yang mengekang payudaraku melonggar. Ternyata Oom Heru telah menggigit lepas pengait bra-ku. Aku tak sempat menutupi payudaraku yang terbebas karena dengan cepat kedua tangan Oom Heru telah mendekap kedua payudaraku. Aku hanya pasrah dan membiarkan tangannya meremas dan mempermainkan payudaraku sesukanya, karena aku memang menikmatinya juga. Tiba-tiba ada sepercik perasaan liar menyerangku. Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin merasakan kenikmatan yang lebih. Godaan itu begitu menggebu. Lalu tanpa sadar tanganku memegang tangan Oom Heru seolah-olah membantunya untuk memuaskan dahagaku.</p>
<p>Dengan bibirnya Oom Heru menggigit tali bra-ku dan melepaskannya hingga jatuh. Kini tubuh bagian atasku sudah telanjang sama sekali. Hanya celana pendek mini dan celana dalam yang masih menutupi tubuhku.</p>
<p>Setelah berhasil melepaskan tali bra-ku, bibir Oom Heru kembali menyerbu punggungku. Ditelusurinya tulang punggungku dengan lidahnya yang panas. Ini membuat syarafku semakin terangsang heibat. Apalagi tangannya yang kokoh tetap meremas kedua belah payudaraku dengan gemasnya. Ada rasa sakit sekaligus enak dengan remasannya itu. Lidahnya terus turun ke bawah hingga ke atas pinggulku. Hal ini membuatku semakin menggelinjang kegelian.</p>
<p>“Ouchh.. Oomm su.. Sudahh Oommh” aku merintih.</p>
<p>Mulutku bilang tidak tetapi nyatanya tubuhku menginginkannya. Penolakanku seolah tiada artinya. Lalu tiba-tiba celana pendek miniku digigitnya dan ditarik ke bawah hingga ke atas lutut. Separuh buah pantatku yang bulat dan mulus terbuka sudah!! Lidah Oom Heru terus menyerbu buah pantatku kanan dan kiri secara bergantian. Tubuhku meliuk dan meregang merasakan rangsangan terhebat yang baru kali ini kurasakan saat lidah Oom Heru yang panas mulai menyusuri belahan pantatku dan mulai mengais-ngais analku! Luar biasa.. Tanpa rasa jijik sedikitpun lidah Oom Heru menjilati lobang anusku. Hal ini membuat tubuhku tergetar heibat.</p>
<p>Selang beberapa saat, setelah puas bermain-main dengan lobang anusku tangan Oom Heru mulai menarik celana pendek sekaligus CD-ku hingga ke mata kaki. Lalu tanpa sadar aku membantunya dengan melepaskan CD-ku dari kedua kakiku. Kini aku sudah bugil.. Gil! Oom Heru pun rupanya sedang sibuk melepaskan celananya. Hal ini kuketahui dari bunyi gesper yang dilepas.</p>
<p>Sekarang tubuhku yang sintal dan putih sudah benar-benar telanjang total dihadapan Oom Heru. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang dihadapan laki-lakiorang lain, apalagi laki-laki. Aku tak menduga akan terjadi hal seperti ini. Dengan Oomku sendiri pula. Tetapi kini, Oom Heru berhasil memaksaku. Sementara aku seperti pasrah tanpa daya.</p>
<p>Tiba-tiba Oom Heru menarik tanganku sehingga aku terduduk dipangkuan Oom Heru yang saat itu sudah duduk ditepi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa dia langsung mencium bibirku. Aku tidak sempat menghindar, bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis halus Oom Heru menempel kebibirku hingga beberapa saat.</p>
<p>Dadaku semakin berdegup kencang ketika kurasakan bibir halus Oom Heru melumat mulutku. Lidah Oom Heru menelusup kecelah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding. Aku pun terkejut ternyata batang kemaluan Oom Heru yang sudah sangat kencang terjepit antara perutku dan perutnya. Aku merasakan betapa besar dan panjang benda keras yang terjepit diantara kedua tubuh telanjang kami.</p>
<p>Mengetahui besarnya batang kemaluan Oom Heru aku jadi ingat saat aku masih TK waktu diajari menyanyi guru TK-ku “Aku seorang kapiten mempunyai pedang panjang, kalau berjalan prok-prok prok.. Aku seorang kapiten! Tapi ini Oom ku seorang kapiten mempunyai peler (bahasa jawa batang kemaluan) panjang..” memang Oom ku itu pangkatnya waktu itu sudah Kapten! Cocok bukan?</p>
<p>“Akh.., ja.. Jangan oomhh..!” kataku terbata-bata.<br />
“Su.. Sudah.. Oomhh” desisku antara sadar dan tidak.</p>
<p>Oom Heru memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yang kekar dan kuat masih tetap memeluk pinggang rampaingku dengan erat. Aku masih terduduk dipangkuannya. Tetapi ia malah mulai menjilati leherku. Ia menjilati dan menciumi seluruh leherku lalu merambat turun ke dadaku. Aku memang pasif dan diam, namun nafsu birahi sudah semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Oom Heru sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleher dan dadaku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan.</p>
<p>Apalagi saat bibir Oom Heru dengan penuh nafsu melumat kedua puting payudaraku yang sudah sangat keras bergantian. Aku kembali melayang di awan saat dengan gemas Oom Heru menghisap kedua puting payudaraku bergantian. Rangsangan yang kuterima begitu dahsyat untuk kutahan. Apalagi benda keras di selangkangan Oom Heru yang terjepit kedua tubuh telanjang kami mulai tersentuh bibir kemaluanku yang sudah sangat basah.</p>
<p>Gejolak liar yang berkobar dalam diriku semakin menggila. Hingga tanpa sadar aku menggoyang pinggulku di atas pangkuan Oom Heru untuk memperoleh sensasi gesekan antara bibir kemaluanku dengan batang kemaluannya.</p>
<p>Oom Heru sendiri tampaknya juga sudah sangat terangsang. Aku dapat merasakan napasnya mulai terengah-engah dan batang kemaluannya mengedut-ngedut. Sementara aku semakin tak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Oom Heru yang kekar mengangkat tubuhku dari pangkuannya dan merebahkan di atas tempat tidur yang sebenarnya belum selesai kurapihkan itu. Insting perawanku secara refleks masih coba berontak.</p>
<p>“Sudah Oomhh! Jangan yang satu.. Anna takut..” Kataku sambil meronta bangkit dari tempat tidur.<br />
“Takut kenapa sayang? Oom sayang Anna, percayalah sayang..” Jawab Oom Heru dengan napas memburu.<br />
“Jang.. Jangan.. Oom..” protesku sengit.</p>
<p>Namun seperti tidak perduli dengan protesku, Oom Heru segera menarik kedua kakiku hingga menjuntai ke lantai. Meskipun aku berusaha meronta, namun tidak berguna sama sekali. Sebab tubuh Oom Heru yang tegap dan kuat itu mendekapku dengan sangat erat.</p>
<p>Kini, dengan kedua kakiku yang menjuntai ke lantai membuat Oom Heru dapat memandang seluruh tubuhku dengan leluasa.</p>
<p>“Kamu cantik dan seksi sekali sayang” katanya dengan suara parau tanda bahwa ia sudah sangat terangsang.</p>
<p>Dengan tubuh telanjang bulat tanpa tertutup sehelai kainpun yang menutupi tubuhku, aku merasa risih juga dipandang sedemikian rupa. Aku berusaha menutupi dengan mendekapkan lengan didada dan celah pahaku, tetapi dengan cepat tangan Oom Heru memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Oom Heru membentangkan kedua belah pahaku dan menundukkan wajahnya di selangkanganku. Aku tak tahu apa yang hendak ia lakukan.</p>
<p>Tanpa membuang waktu, bibir Oom Heru mulai melumat bibir kemaluanku yang sudah sangat basah. Tubuhku menggelinjang hebat. Aku semakin salah tingkah dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Yang jelas aku kembali merasakan adanya desakan yang semakin menggebu dan menuntut penyelesaian. Sementara kedua tangannya merayap ke atas dan langsung meremas-remas kedua buah dadaku. Bagaikan seekor singa buas ia menjilati liang kemaluanku dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.</p>
<p>Lidahnya yang panas mulai menyusup ke dalam liang kemaluanku. Tubuhku terlonjak dan pantatku terangkat saat lidahnya mulai mengais-ngais bibir kemaluanku.</p>
<p>“Akhh.. Oomhh.. Sud.. Sudahh Oomm..” bibirku menolak tetapi tanganku malah menarik kepala Oom Heru lebih ketat agar lebih kuat menekan selangkanganku sedangkan pantatku selalu terangkat seolah menyambut wajah Oom Heru yang tenggelam dalam selangkanganku.</p>
<p>Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang amat sangat dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat ketika bibir dan lidah Oom Heru menjilat dan melumat bibir kemaluanku.</p>
<p>Aku semakin melayang dan seolah-olah terhempas ke tempat kosong. Tubuhku bergetar dan mengejang bagaikan tersengat aliran listrik. Aku mengejat-ngejat dan menggelepar saat bibir Oom Heru menyedot kelentitku dan lidahnya mengais-ngais dan menggelitik kelentitku.</p>
<p>“Akhh.. Akhh.. Ohh..” dengan diiringi jeritan panjang aku merasakan orgasme yang ke sekian kalinya. Benar-benar pandai menaklukan wanita Oom ku ini. Pantatku secara otomatis terangkat hingga wajah Oom Heru semakin ketat membenam di antara selangkanganku yang terkangkang lebar. Napasku tersengal-sengal setelah mengalami beberapa kali orgasme tanpa ada coitus.</p>
<p>“Anna sayang.. Sekarang giliran Anna menyenangkan Oom ya..” bisiknya setelah napasku mulai teratur.</p>
<p>Aku hanya pasrah dan tak mampu berkata-kata. Antara malu dan mau aku hanya merintih pelan.</p>
<p>“Mmhh..”</p>
<p>Oom Heru yang sudah pengalaman rupanya menyadari keadaanku yang masih hijau dalam hal urusan bawah perut ini. Ia pun lalu membaringkan diri di sisiku. Tangannya sekarang membimbing tanganku dan diarahkannya ke bawah. Dengan mata terpejam karena jengah aku ikuti saja apa kemauannya.</p>
<p>Hatiku berdesir saat tanganku dipegangkannya pada benda keras berbentuk bulat dan panjang. Benda itu terasa hangat sekali dalam genggamanku. Ooh betapa besarnya benda itu. Tanganku hampir tak muat menggenggamnya. Setelah terpegang tanganku pun digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah untuk mengocok benda itu. Oom Heru pun kemudian menarik tubuhku hingga aku berbaring miring menghadapnya. Kepalaku ditariknya dan diciumnya bibirku dengan penuh nafsu. Lidahnya mencari-cari lidahku dan tangannya bergerilya lagi meremas-remas payudaraku.</p>
<p>Aku pun tak sadar ikut mengimbanginya. Lidahku bergerak liar menyambut lidahnya dan tanganku dengan agak kaku mengocok batang kemaluannya. Aku belum berani melihat seperti apa kemaluan laki-laki. Aku masih terlalu malu untuk itu.”Mphh jangan keras-keras sayang.. Sakit itunya” bisik Oom ku. Rupanya aku terlalu keras mengocok batang kemaluannya sehingga Oom Heru merasa kurang nyaman.</p>
<p>Kemudian setelah beberapa saat berciuman, didorongnya kepalaku ke bawah. Diarahkannya kepalaku ke dadanya yang bidang. Masih dengan mata terpejam aku mencoba menirukan apa yang dilakukan Oom Heru padaku. Lidahku mulai menjilat puting dadanya kiri dan kanan bergantian.</p>
<p>“Oohh.. Teruss sayanghh..”</p>
<p>Oom Heru rupanya merasa nyaman dengan perlakuanku itu. Terus didorongnya kepalaku ke bawah lagi.</p>
<p>Kini bibirku mulai menciumi perut dan pusar Oom Heru. Hal ini membuatnya semakin meradang. Mulutnya tak henti-hentinya mendesis seperti kepedasan. Tangannya terus mendorong kepalaku ke bawah lagi. Kini aku merasa daguku menyentuh benda keras yang sedang ku kocok, sementara bibir dan lidahku tak henti-hentinya menciumi perut bagian bawahnya. Kemudian ditekannya lagi kepalaku ke bawah. Rupanya ia menyuruhku menciumi batang kemaluannya!</p>
<p>Dengan malu-malu kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lalu aku memberanikan diri untuk membuka mataku. Lagi-lagi aku berdebar-debar dan darahku berdesir ketika mataku melihat batang kemaluan Oom Heru. Gila! Kataku dalam hati besar sekali.. Bentuknya coklat kehitaman dengan kepala mengkilat persis topi baja tentara! Sementara itu kantong pelernya tampak menggantung gagah dan penuh! Seperti ini rupanya batang kemaluan laki-laki. Sejenak aku sempat membayangkan bagaimana nikmatnya jika batang kemaluan yang besar dan keras itu dimasukkan ke lubang kemaluan perempuan, apalagi jika perempuan itu aku. Gejolak liar kembali mengusikku.</p>
<p>Lamunanku terputus saat tangan Oom Heru yang kekar menekan kepalaku dan didekatkannya ke arah batang kemaluannya. Dengan canggung bibirku mulai mencium batang kemaluannya. Aku sengaja membuang pikiran jijikku dengan membayangkan bahwa aku sedang menjilat”Magnum” (Es Krim yang terkenal besar dan enaknya itu!!). Dan ternyata aku berhasil!! Dengan membayangkan aku sedang menikmati ‘magnum’ku tanpa rasa jijik sekalipun aku mulai menjilati batang kemaluan Oom Heru. Dari ujung kepala kemaluan yang mengkilat hingga kantung biji peler yang menggantung penuh tak luput dari jilatan lidahku.</p>
<p>Sambil berjongkok di lantai aku terus menjilati menyusuri seluruh batang kemaluan Oom Heru yang besar dan panjang itu. Sesekali dengan nakal kusedot biji peler bergantian membuat pantat Oom Heru terangkat. Sementara kedua kaki Oom Heru menjuntai ke lantai seperti posisiku tadi waktu selangkanganku dijilati Oom Heru. Sesekali aku melirik bagaimana reaksinya. Ku lihat mulut Oom Herus terus menceracau tak karuan.</p>
<p>“Terushh sayang.. Oohh nah.. Terusshh oughh” bagai orang gila Oom Heru terus menceracau.</p>
<p>Kemudian Oom Heru bangun dan diangkatnya tubuhku. Kali ini aku dibaringkannya dengan berhadap-hadapan. Kakiku masih menjuntai ke lantai. Ia berdiri di antara kedua belah pahaku. Kemudian tangannya membimbing batang kemaluannya yang sudah berlendir dan dicucukannya ke celah hangat di tengah bukit kemaluanku. Aku tersadar. Antara nafsu dan ketakutan aku menangis. Aku memohon.</p>
<p>“Ja.. Jangan Oommhh.. Ja.. Jangan yang itu”.</p>
<p>Rupanya superegoku memenangkan pertarungan antara id dan superegoku. Ego ku mampu menekan gejolak liar ide ku.</p>
<p>“Kenapa sayang..?” tanya Oom Heru dengan suara parau.<br />
“Anna.. Takut Oomhh.. To.. Tolong jangan yang itu..” kataku memohon.<br />
“Ok.. Okay sayang..” kata Oomku sambil menghela nafas.<br />
“Oom tak akan masukkan sayang.. Cuma diluar.. Oom janji deh” lanjutnya dengan suara parau karena sudah dikuasai oleh nafsu birahinya.<br />
“Jang.. Jangan Oomhh,” aku tetap menolak, “Anna enggak ingin kehilangan satu-satunya yang paling berharga Oom” aku merintih antara nafsu dan takut. Saat ia mulai mencucukkan ujung kepala kemaluannya di celah kemaluanku yang sudah sangat basah.<br />
“Anna sayang.. Apa.. Kamu.. Nggak kasihan padaku sayang.. aku sudah terlanjur bernafsu.. aku nggak kuat lagi sayang, please aku.. Mohon,” kata Oom Heru masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.<br />
“Sudah 2 tahun Oom harus menahan ini sejak tantemu meninggal”</p>
<p>Tiba-tiba Oom Heru beranjak dan dengan cepat mencucukkan batang kemaluannya yang sudah sangat kencang di sela-sela bukit kemaluanku. Kini tubuh telanjang Oom Heru mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Oom Heru menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.</p>
<p>Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang menggesek-gesek bibir kemaluanku. Ternyata Oom Heru menggesek-gesekkan batang kemaluannya di sela-sela bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Ia memutar-mutar dan menggocek-gocekkan batang kemaluannya di sela-sela bibir kemaluanku. Sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutar-muatarkan pantatku. Toh, aku masih mampu bertahan agar benda itu tidak benar-benar memasuki liang kemaluanku.</p>
<p>“Oom, jangan sampai masuk.., diluar saja..!” pintaku.</p>
<p>Oom Heru hanya mendengus dan tetap menggosok-gosokkan batang kemaluannya di pintu kemaluanku yang semakin licin oleh cairan. Aku begitu terangsang. Aku tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenimatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Oom Heru yang masih terengah-engah.</p>
<p>Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi. Napasku semakin memburu dan tubuhku kembali berkelejat menahan kenikmatan. Aku harus mengakui kehebatan Oom Heru untuk yang kesekian kalinya. Karena tanpa penetrasi pun ia telah sanggup membuatku orgasme berkali-kali.</p>
<p>“Akhh.. Oomhh.. Shh.. Ouchh..” tanpa sadar aku menjerit ketika kurasakan kelentitku berdenyut-denyut dan ada sesuatu yang menggelegak di dalam sana.</p>
<p>Mataku terbeliak dan tanpa malu-malu lagi aku mengangkat pantatku menyambut gocekan batang kemaluan oom Heru di bibir kemaluanku agar lebih ketat menekan kelentitku. Aku berkelejotan, sementara napasku semakin memburu. Gerakanku semakin liar saat liang kemaluanku berdenyut-denyut. Lalu aku terdiam tubuhku terasa lemas sekali. Aku tak peduli lagi pada apa yang hendak dilakukan Oom Heru pada tubuhku. Tulang-belulangku serasa lepas semua.</p>
<p>Setelah itu Oom Heru bangkit dan mengambil body lotion yang ada di meja rias kamar tamu dan dengan cepat ia menindihku. Dikangkanginya tubuhku. Kali ini ia benar-benar menguasaiku. Dari kaca meja rias disamping tempat tidur, aku bisa melihat tubuh rampingku seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Oom Heru yang tinggi besar mulai menindihku. Lalu Oom Heru membalur kedua payudaraku dengan lotion dan melemparkan botol itu setelah ditutupnya kembali. Aku merasa lega karena setidak-tidaknya ia telah menepati janjinya untuk tidak memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku.</p>
<p>Oom Heru kembali melumat bibirku. Kali ini teramat lembut. Gilanya lagi, aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Oom Heru. Oom Heru terpejam merasakan seranganku, sementara tanganku kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi. Bermenit-menit kami terus berpagutan hingga akhirnya Oom Heru melepaskan bibirnya dari pagutanku. Ia lalu menempatkan batang kemaluannya di belahan kedua payudaraku yang sudah dilumuri body lotion. Kedua tangannya yang kekar lalu memegang kedua buah payudaraku dan dijepitkannya pada batang kemaluannya. Aku pun ikut membantunya dengan memegang lembut batang kemaluannya.</p>
<p>Setelah batang kemaluannya terjepit kedua payudaraku, ia mulai mengayunkan pantatnya maju mundur hingga batang kemaluannya yang terjepit payudaraku bergerak maju mundur. Batang kemaluannya yang begitu panjang membuat ujung kemaluannya menyentuh-nyentuh bibirku. Lalu untuk membantunya menuntaskan nafsunya akupun membuka mulutku dan menjilati ujung kemaluan itu setiap kali terdorong ke atas. Hal itu berlangsung beberapa lama hingga kurasakan ayunan pantat Oom Heru mulai makin cepat. Gesekan batang kemaluannya yang terjepit ke dua buah payudaraku pun semakin kencang. Nafasnya semakin mendengus dan kulihat matanya terpejam seolah sedang menahan sesuatu. Peluh telah membasahi kedua tubuh telanjang kami hingga kelihatan mengkilap dan licin. Semakin lama gerakannya semakin cepat disertai dengus nafas yang semakin menderu.</p>
<p>Tiba-tiba ia seolah tersentak kurasakan batang kemaluannya yang terjepit dadaku mulai mengedut-ngedut. Tubuhnya mengejat-ngejat seperti tersengat arus listrik dan dari mulutnya keluar geraman dahsyat.</p>
<p>“Ugh.. Ugh.. Arghh.. Akhh”.</p>
<p>Cratt.. Crat.. Cratt.. Cratt.. Cratt..</p>
<p>Akhirnya dari lubang di ujung kemaluannya menyemburlah cairan putih kental yang banyak sekali. Sialnya cairan itu sebagian besar tumpah ke mulutku yang sedang terbuka karena menjilati batang kemaluan itu.</p>
<p>“Glk.. Uhuk.. Uhuk.. Uhuk” aku hampir muntah karena tersedak cairan itu. Rupanya sebagian ikut tertelan.<br />
“Oom Heru jahat.. Uhuk.. Uhuk” sambil masih terbatuk-batuk aku menangis.</p>
<p>Ini merupakan pengalamanku yang pertama kali. Bau cairan sperma saja sudah membuatku mual.. Apalagi tertelan! Pembaca bisa membayangkan bagaimana rasanya.</p>
<p>“Sorry sayang.. Oom tidak sengaja..” bisiknya menghiba seolah merasa bersalah.</p>
<p>Kemudian dengan tanpa rasa jijik dilumatnya bibirku yang masih penuh cairan air maninya itu sehingga rasa jijikku sedikit hilang. Lama kami berciuman sampai akhirnya diambilnya ujung seprei dan dibersihkannya bibirku dari sisa-sisa ceceran air maninya itu. Aku merasa terharu akan perlakuannya dan rasa sayangku padanya pun mulai bertambah. Bukan kasih sayang antara kepenakan.. Eh keponakan dan paman melainkan rasa sayang sebagaimana layaknya perempuan terhadap laki-laki.</p>
<p>Aku yang sudah merasa lemas akhirnya tak mampu bergerak lagi. Aku lega sejauh ini aku masih mampu mempertahankan mahkota keperawananku. Aku langsung tertidur. Mungkin Oom Heru juga ikut tertidur. Karena aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.</p>
<p>Aku bangun ketika aku merasakan geli saat payudaraku ada yang menjilati. Aku membuka mata dan kulihat Oom Heru sedang sibuk menyedot kedua payudaraku secara bergantian. Kembali aku harus menggelinjang dan nafsuku perlahan mulai bangkit.</p>
<p>Tubuh telanjang Oom Heru menindihku. Tubuhnya yang tinggi besar membuat tubuhku seolah-olah tenggelam dalam spring bed. Tanpa kusadari tanganku pun mulai bergerak meremas-remas rambut Oom Heu yang sedang sibuk melumat kedua puting payudaraku bergantian. Tubuh kami sudah mulai basah oleh peluh kami yang mulai mengucur deras. Dalam posisi seperti itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Semakin lama benda yang terjepit di antara perut kami itu makin mengeras dan terasa panas. Ohh, ternyata benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Oom Heru yang mulai mengeras.</p>
<p>Perlahan namun pasti lidah Oom Heru mulai menelusuri setiap lekuk liku tubuhku. Tanpa rasa jijik dijilatinya ketiakku yang bersih mulus, karena aku memang rajin mencabuti bulu ketiakku. Rasanya geli luar biasa diperlakukan seperti itu. Lidahnya yang basah dan panas seolah-olah menggelitik ketiakku. Setelah puas menjilati kedua ketiakku bergantian, lidah Oom Heru mulai menelusuri tubuhku bagian samping ke aras bawah. Sekarang pinggangku dijadikannya sasaran jilatannya. Aku semakin tak mampu menahan diri.</p>
<p>“Oshh.. Ohh Omm.. Ohh” aku hanya mampu merintih.</p>
<p>Karena bukan hanya itu rangsangan yang diberikannya. Tangannya yang nakal ternyata tak tinggal diam. Ditangkupkannya telapak tangannya yang besar ke bukit kemaluanku lalu dengan gerakan lembut diremas-remasnya bukit kemaluanku.</p>
<p>Beberapa saat kemudian sambil bibirnya menjilati perut bagian bawahku, jari jari Oom Heru mulai bergerak menyusuri celah hangat di antara bibir kemaluanku yang sudah sangat basah. Jarinya bergerak sepanjang celah itu dari atas ke bawah hingga menyentuh lubang analku. Dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kemaluanku jarinya mulai dimasuk-masukkan ke dalam lubang analku hingga lubang analku kurasakan mengedut-ngedut.</p>
<p>Tiba-tiba Oom Heru membalik posisi tubuhnya. Wajahnya sekarang menghadap ke selangkanganku dan selangkangannya pun dihadapkannya ke wajahku. Sekarang aku dapat melihat tanpa malu-malu lagi bentuk kemaluan laki-laki. Batang kemaluan Oom Heru yang sudah sangat keras menggantung di atas wajahku. Uratnya yang seperti tali kelihatan menonjol sepanjang batang kemaluannya yang berwarna hitam kecoklatan. Gagah sekali bentuknya seperti meriam kecil antik yang banyak kulihat dijual di sekitar candi Borobudur sana.</p>
<p>Aku tidak sempat mengagumi benda itu berlama-lama, karena tiba-tiba kurasakan batang kemaluan itu mengganjal tepat di bibirku. Rupanya Oom Heru menginginkan batang kemaluannya kujilati seperti tadi. Aku pun membuka bibirku dan dengan lembut mulai menjilati ujung batang kemaluannya yang mengkilat. Tubuhku pun tersentak dan tanpa sadar pantatku terangkat ke atas saat bibir Oom Heru mulai menciumi bukit kemaluanku. Bibirnya dengan gemas menyedot labia mayoraku lalu disisipkannya lidahnya ke dalam bibir kemaluanku.</p>
<p>Saking gelinya tanpa sadar kedua kakiku menjepit kepala Oom Heru untuk lebih menekankan wajahnya ke bukit kemaluanku. Oom Heru pun menekan pantatnya ke bawah hingga batang kemaluannya lebih dalam memasuki mulutku. Aku hampir tersedak dan susah bernapas karena batang kemaluan oom Heru yang besar itu menyumpal mulutku dan ujungnya hampir menyentuh kerongkonganku, sementara rambut kemaluannya yang sangat lebat menutupi hidungku!!</p>
<p>Aku gelagapan hingga tanpa sadar kucengkeram pantat Oom Heru agar mengangkat pantatnya. Rupanya tindakanku berhasil karena Oom Heru mengangkat pantatnya sedikit hingga aku dapat bernapas lega. (Pembaca dapat membayangkan bagaimana rasanya hidung pembaca tersumpal jembut.. Eh rambut kemaluan laki-laki!! Sudah baunya apek.. Ting kruntel lagi kayak indomie pula!! Sedangkan mulut tersumpal batang kemaluan!!)</p>
<p>Tubuhku semakin menggeliat liar saat lidah Oom Heru mulai menggesek-gesek kelentitku. Kelentitku rasanya membengkak dan berdenyut-denyut seolah mau pecah. Mataku sudah membeliak hampir terbalik. Aku merasa hampir mengalami orgasme lagi.. Namun saat desakan di bagian bawah perutku hampir meledak tiba-tiba Oom Heru menjauhkan bibirnya dari selangkanganku. Aku kecewa sekali rasanya. Orgasme yang hampir kuperoleh ternyata menjauh lagi. Ternyata ini memang taktik Oom Heru agar aku penasaran.</p>
<p>Oom Heru mengubah posisi lagi. Kini wajahnya menghadap ke wajahku lagi. Tubuhnya ditempatkannya di antara kedua pahaku yang memang sudah terbuka lebar. Kemudian bibirnya mencium bibirku dengan lembut. Akupun membalasnya. Lidah kami saling berkutat. Sementara itu tubuh bagian bawah Oom Heru mulai menekan selangkanganku. Hal ini kurasakan dari tekanan batang kemaluan Oom Heru yang terjepit bibir keamaluanku, walaupun belum masuk ke dalam liang kemaluanku tentunya!!</p>
<p>Hangat sekali rasanya batang kemaluan itu. Nikmat sekali rasanya gesekan-gesekan yang ditimbulkannya saat pantatnya bergerak maju-mundur.</p>
<p>“Oomhh.. Ja.. Jangan dimasukkan..!” kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat.</p>
<p>Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus atau tidak, sebab sejujurnya aku juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk ke lubang kemaluanku.</p>
<p>“Oke.. Sayang.. Kalau nggak boleh dimasukkan, Oom gesek-gesekkan di bibirnya saja ya..?” jawab Oom Heru juga dengan napas yang terengah-engah.</p>
<p>Kemudian Oom Heru kembali memasang ujung batang kemaluannya tepat di celah-celah bibir kemaluanku. Aku merasa gemetar luar biasa ketika merasakan kepala batang batang kemaluan itu mulai menyentuh bibir kemaluanku. Lalu dengan perlahan digoyangkanya pantatnya hingga batang kemaluannya mulai menggesek celah bibir kemaluanku. Hal ini berlangsung beberapa saat dengan irama yang teratur seperti pemain biola yang menggesek biolanya dengan khidmat.</p>
<p>Rupanya Oom Heru tidak puas dengan cara seperti itu (Aku pun juga kurang puas sebenarnya..! Tapi gengsi dong masak cewek minta duluan!!).</p>
<p>“Oom masukkin dikit ya sayang..” bisik Oom Heru dengan napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah semakin meningkat. Aku sendiri yang juga sudah sangat terangsang dan tidak berdaya karena sudah terbakar birahi hanya diam saja.</p>
<p>Karena aku hanya diam, Oom Heru lalu memegang batang kemaluannya dan dicucukannya ke celah-celah bibir kemaluanku yang sudah sangat licin. Dengan pelan didorongnya pantatnya hingga akhirnya ujung kemaluan Oom Heru berhasil menerobos bibir kemaluanku. Aku menggeliat hebat ketika ujung batang kemaluan yang besar itu mulai menyeruak masuk. Walaupun mulanya sedikit perih, tetapi perlahan namun pasti ada rasa nikmat yang baru kali ini kurasakan mulai mengalahkan perihnya selangkanganku. Seperti janji Oom Heru, batang kemaluannya yang seperti lengan bayi itu hanya dimasukkan sebatas ujungnya saja.</p>
<p>Meskipun hanya begitu, kenikmatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir berteriak histeris. Sungguh batang kemaluan Oom Heru itu luar biasa nikmatnya. Liang kemaluanku serasa berdenyut-denyut saat menjepit ujung topi baja batang kemaluan Oom Heru yang bergerak maju-mundur secara pelahan.</p>
<p>Oom Heru terus menerus mengayunkan pantatnya Mamaju-mundurkan batang batang kemaluan sebatas ujungnya saja yang terjepit dalam liang kemaluanku. Keringat kami berdua semakin deras mengalir, sementara mulut kami masih terus berpagutan.</p>
<p>“Sakkith.. Oomhh..?” Aku menjerit pelan saat kurasakan betapa batang kemaluan oom Heru menyeruak semakin dalam.</p>
<p>Namun rasa perih itu perlahan-lahan mulai menghilang saat Oom Heru menghentikan gerakan batang kemaluannya yang begitu sesak memenuhi liang kemaluanku. Rasa sakit itu mulai berubah menjadi nikmat karena batang kemaluannya kurasakan berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.</p>
<p>Lalu aku semakin mengawang lagi saat lidah Oom Heru yang panas mulai menyapu-nyapu seluruh leherku dengan ganasnya. Bulu kudukku serasa merinding dibuatnya. Aku tak sadar lagi saat Oom Heru kembali mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya yang terjepit erat dalam laing kemaluanku semakin menyeruak masuk. Aku yang sudah sangat terangsang pun tak sadar akhirnya menggoyangkan pantatku seolah-olah memperlancar gerakan batang kemaluan Oom Heru dalam liang kemaluanku.</p>
<p>Kepalaku tanpa sadar bergerak-gerak liar merasakan sensasi hebat yang baru kali ini kurasakan. Liang kemaluanku semakin berdenyut-denyut dan ada semacam gejolak yang meletup-letup hendak pecah di dalam diriku.</p>
<p>Aku tak tahu entah bagaimana, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu telah amblas semua kevaginaku.</p>
<p>Bless..</p>
<p>Perlahan tapi pasti batang kemaluan yang besar itu melesak ke dalam libang kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang batang kemaluan Oom Heru yang sangat-sangat besar itu. Ada rasa pedih menghunjam di perut bagian bawahku. Oohh rupanya mahkotaku sudah terenggut.</p>
<p>“Akhh.. Sakk.. Kitthh.. Oomhh..” aku merintih dan tanpa sadar air mataku menetes.</p>
<p>Ada sebersit rasa penyesalan dalam diriku, mengapa aku begitu mudah menyerahkan mahkotaku yang paling berharga.</p>
<p>“Oomh.. Kok dimaassuukiin seemmua.. Ah..?” tanyaku.<br />
“Maafkan Oom saayang. Oom nggak tahhan..!” ujarnya dengan lembut.</p>
<p>Ia pun menghentikan gerakan pantatnya. Air mataku mengalir tanpa dapat kutahan lagi.</p>
<p>“Jangan menangis sayang..” bisik Oom Heru di telingaku, “Oom sayang kamu”</p>
<p>Ada secercah rasa bahagia saat kudengar bisikan mesranya di telingaku. Aku pun terdiam dan ia pun terdiam. Kami terdiam beberapa saat. Ooh betapa indahnya.. Dalam diam itu aku dapat merasakan kehangatan batang kemaluannya yang hangat dalam jepitan liang kemaluanku. Kembali rasa nikmat menggantikan rasa sakit yang tadi menghentakku. Kurasakan batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku.</p>
<p>Kemudian dengan perlahan sekali Oom Heru mulai mengayunkan pantatnya hingga kurasakan batang kemaluannya menyusuri setiap inci liang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Aku tak sempat mengerang karena tiba-tiba bibir Oom Heru sudah melumat bibirku. Lidahnya menyeruak masuk mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku pun membalasnya.</p>
<p>“Hmmgghh”</p>
<p>Kudengar Oom Heru mendengus tanda birahinya sudah mulai meningkat. Gerakan batang kemaluannya semakin mantap di dalam jepitan liang kemaluanku. Aku merasakan betapa batang kemaluanya yang keras menggesek-gesek kelentitku. Aku pun mengerang dan tubuhku bergerak liar menyambut gesekan batang kemaluannya. Pantatku mengangkat ke atas seolah-olah mengikuti gerakan Oom Heru yang menarik batang kemaluannya dengan cara menyendal seperti orang memancing hingga hanya ujung batang kemaluannya yang masih terjepit dalam liang kemaluanku.</p>
<p>Lalu setelah itu didorongnya batang kemaluannya dengan pelahan hingga ujungnya seolah menumbuk perutku. Dilakukannya hal itu berulang-ulang. Aku merasa ada semacam sentakan dan kedutan hebat saat Oom Heru menarik batang kemaluannya dengan cepat! (Belakangan aku baru tahu kalau itu namanya teknik sendal pancing setelah Oom Heru menceritakannya! Intinya teknik ini adalah mendorong secara pelan hingga batang kemaluannya masuk seluruhnya lalu menarik dengan cepat seperti orang menyendal saat memancing hingga hanya ujung batang kemaluannya yang masih tertinggal! Wow.. Ternyata teknik inilah yang kurasakan paling nikmat dan menjadi teknik favoritku!! Pembaca bisa mencobanya dan wanita ditanggung akan ketagihan deh!!).</p>
<p>Napasku semakin terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tak tertahankan. Begitu besarnya batang kemaluan Oom Heru, sehingga lubang vaginaku terasa sangat sempit. Sementara karna tubuhnya yang berat, batang kemaluan Oom Heru semakin menyeruak ke dalam liang kemaluanku dan melesak hingga ke dasarnya. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang kemaluan Oom Heru menggesek-gesek dinding liang kemaluanku.</p>
<p>Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Oom Heru dengan menggoyang pantatku. Semakin lama, genjotan Oom Heru semakin cepat dan keras, sehingga tubuhku tersentak-sentak dengan hebat. Slep.. slep.. slep.. sleep.. bunyi gesekan batang kemaluan Oom Heru yang terus memompa liang kemaluanku.</p>
<p>“Akhh..! Aakhh.. Oomhh..!” erangku berulang-ulang. Benar-benar luar biasa sensasi yang kurasakan. Oom Heru benar-benar telah menyeretku menuju sorga kenikmatan. Persetan dengan keperawananku. Aku sudah tak peduli apapun.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa dari ujung kepala hingga ujung kemaluanku!! Tubuhku mengelepar-gelepar di bawah genjotan tubuh Oom Heru. Seperti tidak sadar, aku dengan lebih berani menyedot lidah Oom Heru dan kupeluk erat-erat tubuhnya seolah takut terlepas.</p>
<p>“Ooh.. Oomh.. Akhh..!” akhirnya aku menjerit panjang ketika hampir mencapai puncak kenikmatan. Tahu aku hampir orgasme, Oom Heru semakin kencang menyendal-nyendal batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku.</p>
<p>Saat itu tubuhku semakin menggelinjang liar di bawah tubuh Oom Heru yang kuat. Tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.</p>
<p>“Ooh.. Aauuhh.. Oomh..!” Jeritku tanpa sadar.</p>
<p>Seketika dengan refleks jari-jariku mencengkeram punggung Oom Heru. Pantatku kunaikkan ke atas menyongsong batang kemaluan Oom Heru agar dapat masuk sedalam-dalamnya. Lalu kurasakan liang kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya aku seolah merasakan melayang. Tubuhku serasa seringan kapas. Aku benar-benar orgasme!! Gerakanku semakin melemah setelah kenikmatan puncak itu. Oom Heru menghentikan sendalannya.</p>
<p>“Bagaimana rasanya sayang..!” bisik Oom Heru lembut sambil mengecup pipiku.</p>
<p>Aku pun hanya terdiam dan wajahku merona karena malu.</p>
<p>“Istirahat dulu ya sayang” bisiknya lagi.</p>
<p>Oom Heru yang belum orgasme membiarkan saja batang kemaluannya terjepit dalam liang kemaluanku. Kami kembali terdiam. Mungkin Oom Heru sengaja membiarkan aku untuk menikmati saat-saat kenikmatan itu. Aku kembali mengatur napasku sementara kurasakan batang kemaluan Oom Heru terus mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku. Tubuh kami sudah mengkilat karena basah oleh keringat. Memang udara saat itu panas sekali, apalagi kami juga habis bergumul hebat ditambah kamar itu tidak ber AC, hanya kipas angin yang membantu menyejukkan ruangan yang sudah berbau mesum itu.</p>
<p>Setelah beberapa saat Oom Heru yang belum orgasme itu mulai menggerak-gerakkan batang kemaluannya maju mundur. Kali ini dia bergerak tidak menyendal-nyendal lagi. Masih dengan posisi seperti tadi, yaitu kakiku menjuntai ke lantai dan pantatku terletak di tepi pembaringan. Sedangkan oom Heru tetap posisi setengah berdiri karena kakinya masih di lantai.</p>
<p>Kembali gejolak birahiku terbangkit. Dengan sukarela aku menggoyangkan pinggulku seirama dengan gerakan pantat Oom Heru. Rasa nikmat kembali naik ke ubun-ubunku saat kedua tulang kemaluan kami saling beradu. Gerakan batang kemaluan Oom Heru semakin lancar dalam jepitan liang kemaluanku. Meskipun masih ada rasa sedikit ngilu, kubiarkan Oom Heru memompa terus lubang kemaluanku.</p>
<p>Aku yang sudah cukup lelah hanya bergerak mengimbangi ayunan batang kemaluan Oom Heru yang terus memompaku. Batang kemaluannya yang hitam kecoklatan dan sudah berkilat karena basah oleh cairan licin yang keluar dari kemaluanku tanpa ampun menghajar liang kemaluanku. Edan tenan!! Liang kemaluanku dimasuki batang kemaluan sebesar itu. Kalau akau tak malu ingin rasanya aku menjerit meneriakkan kata-kata Oom Timbul dalam iklan jamu yang terkenal “Uenak tenaann!”. Memang enak, bagi yang belum pernah merasakan boleh coba! Ditanggung ketagihan.</p>
<p>Memang kupikir-pikir mendingan enak ngeseks begini daripada ikut-ikutan teman kuliahku yang sok idealis berdemo panas-panasan!! Memang banyak teman yang ngajak aku berdemo, tapi aku emoh! Ngapain toh enggak ada untungnya! Paling-paling kita cuman diperalat sama pemimpin demo! (Rupanya ada benarnya juga pilihan yang kuambil untuk tidak ikut-ikutan berdemo! Soalnya ternyata ketahuan ada beberapa rekan yang terima duit dari demo itu!)</p>
<p>Oom Heru semakin lama semakin kencang memompakan batang kemaluannya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi dan leherku dan kedua tangannya meremas kedua buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu nafsuku semakin memuncak kembali. Kurasakan kenikmatan mulai menjalar lagi. Bermula dari selangkanganku kenikmatan itu menjalar ke putingku lalu ke ubun-ubunku. Aku lalu balik membalas ciuman Oom Heru, pantatku bergerak memutar mengimbangi batang kemaluan Oom Heru yang dengan perkasa menusuk-nusuk lubang kemaluanku.</p>
<p>Gerakan Oom Heru mulai semakin liar. Napasnya mendengus seperti kerbau gila! (Mungkin kerbau kalau lagi gila begini kali ya?) Pantatku kuputar-putar, kiri-kanan semakin liar untuk menggerus batang batang kemaluan Oom Heru yang terjepit erat dalam lubang kemaluanku. Aku pun semakin tak mampu menahan diri. Kusedot lidah Oom Heru yang menyelusup ke dalam mulutku. Tubuh Oom Heru mengejat-ngejat seperti orang tersengat listrik karena kenikmatan.</p>
<p>Lalu di saat aku menjerit panjang saat merasakan orgasme untuk yang ke sekian kalinya. Oom Heru pun mengejat-ngejat.</p>
<p>“Ough.. Ugh.. Ughh” dengan napas yang terengah-engah, Oom Heru yang berada diatas tubuhku semakin cepat menghunjamkan batang kemaluannya. Lalu</p>
<p>Crrtt.. Crrtt.. Crrtt.. Crtt.. Crtt..</p>
<p>Aku merasakan betapa batang kemaluan Oom Heru menyemprotkan air maninya dalam kehangatan liang kemaluanku. Matanya membeliak dan tubuhnya terguncang hebat. Batang kemaluannya mengedut-ngedut hebat saat menyemburkan air maninya. Aku merasakan ada semprotan hangat di dalam sana, nikmat sekali rasanya. Rupanya kami mencapai orgasme yang bersamaan.</p>
<p>“Teruss.. teruss.. putarr sayanghh..!” dengus Oom Heru. Aku pun membantunya dengan semakin liar memutar pinggulku.</p>
<p>Beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk hingga menindih tubuhku. Batang kemaluannya tetap terjepit dalam liang kemaluanku. Sementara aku merasakan ada aliran cairan yang mengalir keluar dari liang kemaluanku. Napas kami menderu selama beberapa saat setelah pergumulan nikmat yang melelahkan itu.</p>
<p>Gila, air mani Oom Heru luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang kemaluanku terasa kebanjiran. Bahkan karna begitu banyaknya, air mani Oom Heru belepotan hingga ke bibir kemaluanku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu reda. Untuk beberapa saat Oom Heru masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran. Batang kemaluannya yang sudah mulai melemas secara perlahan terdorong keluar oleh kontraksi otot liang kemaluanku. Hingga tiba-tiba tubuh kami berdua seperti tersentak saat batang kemaluan itu terlepas dari jepitan kemaluanku.</p>
<p>Plop..</p>
<p>Seperti tutup botol yang terlepas saat batang kemaluan itu terlepas dari jepitan liang kemaluanku. Kami tersenyum.</p>
<p>“Enak sayang?” bisiknya mesra.<br />
“Kamu sungguh hebat Anna. Oom sayang sekali sama Anna” ia merayu lagi setelah memperoleh kenikmatan dariku.</p>
<p>Setelah itu ia menggulingkan tubuhnya berguling kesampingku. Mataku menerawang menatap langit-langit kamar. Ada sesal yang mengendap dihatiku. Tapi nasi sudah menjadi bubur! Air mani sudah terlanjur mengucur! Biarin deh! Apa yang terjadi terjadilah. Que sera sera! Demikian pembenaranku.</p>
<p>“Maafkan Oom, Anna. Oom telah khilaf” bisik Oom Heru lirih.</p>
<p>Aku tidak menjawab, aku duduk dan bermaksud membersihkan ceceran air mani Oom Heru yang berceceran di bibir kemaluanku. Aku kembali tercenung melihat betapa cairan mani yang mengalir keluar dari liang kemaluanku sedikit kemerahan karena darah perawanku. Ya perawanku telah terenggut oleh Oomku! Adik kandung ayahku sendiri!! Untuk beberapa saat tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.</p>
<p>Namun rupanya penyesalanku tidak berlangsung lama. Kenikmatan mengalahkan rasa sesalku. Hari itu kami melakukannya lagi berulang-ulang seperti layaknya pengantin baru. Oom Heru mengajariku berbagai gaya yang aneh-aneh! Memang keadaan sangat mendukung karena kedua orangtuaku baru pulang setelah petang. Jadi siang itu kami benar-benar mereguk kenikmatan sebebas-bebasnya. Dari beberapa gaya yang diperkenalkan Oom Heru, hanya gaya “sendal pancing” itulah yang paling berkesan bagiku dan menjadi gaya favoritku.</p>
<p>Sejak saat itu aku menjadi kekasih Oom ku sendiri. Tentunya tanpa sepengetahuan ayahku. Dan setiap ada kesempatan kami selalu melakukannya di manapun dan kapanpun! Benar pembaca aku menjadi tergila-gila dengan yang namanya seks! I become addicted to cock since then!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/om-heru-aku-ketagihan-nih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Mertuaku, Kekasihku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/ibu-mertuaku-kekasihku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/ibu-mertuaku-kekasihku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:14:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2403</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada istri di sisiku. Memang perkawinan kami belum dikaruniai anak. Maklum baru 1 tahun berjalan. Karena sendirian itu, dan maklum karena otak laki-laki, pikirannya jadi kemana-mana.</p>
<p>Aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang bukan ibu kandung istriku, karena ibu kandung Riris telah meninggal dunia. Ayah mertuaku kemudian kawin lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertuaku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.</p>
<p>Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainanku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkawinanku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik itu.</p>
<p>Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuaku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.<br />
Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertuaku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Riris istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuaku. Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Riris adalah anak tirinya.</p>
<p>Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuaku.</p>
<p>Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Tomy?”.<br />
“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibuku sambil memandangku.<br />
“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.<br />
“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Riris lho Tom…, Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Tom”.<br />
“Tapii, sebenarnya kenapa siih bu…, Tomy jadi penasaran lho”.<br />
“Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, Tom, sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini, masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan”.<br />
“Mungkin, setannya ya Tomy ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau Tomy lagi sama Riris, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau Ibu pernah bayangin Tomy nggak kalau lagi sama Bapak”, aku semakin berani.<br />
“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama ibu mertuanya. Pasti ibu yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.<br />
“Padahal dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Tomy deeh. Tomy jadi pengiin banget sama ibu lho…, Gimana niih, punya Tomy sakit kejepit celana nihh”, aku makin berani.<br />
“Aduuh Toom, jangan gitu dong. Ibu jadi susah nih. Tapi terus terang aja Toom.., Ibu jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, ibu jadi pengin ngeloni kamu Tom…, Tom kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi Tom menggir sebentar Tom, ibu pengen cium kamu di sini”, kata ibu dengan suara bergetar.</p>
<p>ooh aku jadi berdebar-debar sekali. Mungkin terpengaruh juga karena aku sudah satu minggu tidak bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuaku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.<br />
“eehhm…, Toom ibu kangen banget Toom”, bisik ibu mertuaku.<br />
“Tomy juga buu”, bisikku.<br />
“Toom…, udah dulu Tom…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.<br />
“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertuaku.<br />
“Buu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.<br />
“iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.<br />
“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.<br />
Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang penisku.<br />
“Aduuh Toom. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.<br />
Aku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.</p>
<p>Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.<br />
“Buu, Tomy kangen banget buu…, Tomy kangen banget”.<br />
“Aduuh Toom, ibu juga…, Peluklah ibu Tom, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.<br />
Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.<br />
“Eehhmm.., Tom, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi Tom masukkan lidahmu ke mulut ibu”</p>
<p>Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, “Tom, bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan disini”.<br />
Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur kami. Aku merasa tidak enak dengan Riris apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami.<br />
“Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.<br />
“Okey, Tom. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar ini”, kata ibu mertuaku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.<br />
“iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuaku merengut manja.</p>
<p>Kami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.</p>
<p>Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertuaku.<br />
“Buu, aku kaangen banget buu…, Tomyy kanget banget…, Tomy anak nakal buu..”, bisikku.<br />
“Toom…, ibu juga. sshh…, masukin Toom…, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget Toom, Toomm…”, bisik ibuku tersengal-sengal. Aku naik ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku.</p>
<p>Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.</p>
<p>Kaki ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertuaku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.<br />
“Masukkan separo saja Tom. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.<br />
Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertuaku. “Buu, Tomy masuk semua, masuk semua buu”<br />
“Iyaa Toom, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.<br />
Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku, mencoblos vagina ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.<br />
“Buu Tomy mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.<br />
“ssh…, hiiya Toom, keluariin Toom, keluarin”.<br />
“Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Toomm, Tomm, Teruss Toomm”, Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertuaku.</p>
<p>Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertuaku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.<br />
Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.<br />
“Biar di dalam dulu Toom…, Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi, “Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi Toom…, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini”.<br />
“Buu, Tomy juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.<br />
“Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas Toom.., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.<br />
“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.<br />
“Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.<br />
“Tapi buu, Tomy rasanya emoh pisah sama ibu”.<br />
“Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.<br />
Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.</p>
<p>Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.<br />
“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.<br />
Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/ibu-mertuaku-kekasihku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kakak iparku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kakak-iparku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kakak-iparku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/kakak-iparku.html</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini berlangsung kira-kira 2 tahun yang lalu, waktu itu aku diminta oleh ibu mertua untuk mengambil suatu barang di rumah kakak ipar perempuanku sekalian menengok dia karena sudah lama tidak ketemu. Kakak iparku ini (sebut saja namanya Ina) memang tinggal sendirian, walaupun sudah kawin tetapi belum punya anak dan saat ini sudah pisah ranjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian ini berlangsung kira-kira 2 tahun yang lalu, waktu itu aku diminta oleh ibu mertua untuk mengambil suatu barang di rumah kakak ipar perempuanku sekalian menengok dia karena sudah lama tidak ketemu. Kakak iparku ini (sebut saja namanya Ina) memang tinggal sendirian, walaupun sudah kawin tetapi belum punya anak dan saat ini sudah pisah ranjang dengan suaminya yang kerja di kota lain. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci. Tak lama kemudian Ina muncul dari dalam dan sudah tahu bahwa aku akan datang malam ini.<br />
“Ayo Yan, masuk…, langsung dari kantor?, Sorry pintunya sudah digembok, soalnya Ina tinggal sendiri jadi harus hati-hati”, Sambutnya.<br />
Ina malam itu sudah memakai daster tidur karena toh yang bakalan datang juga masih terhitung adiknya, daster yang dia pakai mempunyai potongan leher yang lebar dengan model tangan ‘you can see’.</p>
<p>Kami kemudian ngobrol dan nonton TV sambil duduk bersebelahan di sofa ruang tengah. Selama ngobrol, Ina sering bolak-balik mengambil minuman dan snack buat kita berdua. Setiap dia menyajikan makanan atau minuman di meja, secara tidak sengaja aku mendapat kesempatan melihat kedalam dasternya yang menampilkan kedua payudaranya secara utuh karena Ina tidak memakai BH lagi dibalik dasternya. Ina memang lebih cantik dari istriku, tubuhnya mungil dengan kulit yang putih dan rambut yang panjang tergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama tapi karena tidak punya anak tubuhnya masih terlihat langsing dan ramping. Payudaranya yang kelihatan olehku, walaupun tidak terlalu besar tetapi tetap padat dan membulat. Melihat pemandangan begini terus-menerus aku mulai tidak bisa berpikir jernih lagi dan puncaknya tiba-tiba kusergap dan tindih Ina di sofa sambil berusaha menciumi bibirnya dan meremas-remas payudaranya.<br />
Ina kaget dan menjerit, “Yan, apa-apaan kamu ini!”.<br />
Dengan sekuat tenaga dia mencoba berontak, menampar, mencakar dan menendang-nendang. Tapi perlawanannya membuat birahiku semakin tinggi apalagi akibat gerakannya itu pakaiannya menjadi makin tidak karuan dan semakin merangsang.<br />
“Breett…”, daster bagian atas kurobek ke bawah sehingga sekarang kedua payudaranya terpampang dengan jelas. Putingnya yang berwarna coklat tua terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.<br />
Ina terlihat shock dengan kekasaranku, perlawanannya mulai melemah dan kedua tangannya berusaha menutup dadanya yang terbuka.<br />
“Yan…, ingat, kamu itu adikku…”, rintihnya memelas.<br />
Aku tidak mempedulikan rintihannya dan terus kutarik daster yang sudah robek itu ke bawah sekaligus dengan celana dalamnya yang sudah aku tidak ingat lagi warnanya. Sekarang dengan jelas dapat kulihat vaginanya yang ditumbuhi dengan bulu-bulu hitam yang terawat baik.</p>
<p>Setelah berhasil menelanjangi Ina, kulepaskan pegangan pada dia dan berdiri di sampingnya sambil mulai melepaskan bajuku satu persatu dengan tenang. Ina mulai menangis sambil meringkuk di atas sofa sambil sebisa mungkin mencoba menutupi badannya dengan kedua tangannya. Saat itu pikiranku mulai jernih kembali menyadari apa yang telah kulakukan tapi pada titik itu, aku merasa tidak bisa mundur lagi dan aku putuskan untuk berlaku lebih halus.<br />
Setelah aku sendiri telanjang, kubopong tubuh mungil Ina ke kamarnya dan kuletakkan dengan lembut di atas ranjang. Dengan halus kutepiskan tangannya yang masih menutupi payudara dan vaginanya, kemudian aku mulai menindih badannya. Ina tidak melawan. Ina memalingkan muka dengan mata terpejam dan berurai air mata setiap kali aku mencoba mencium bibirnya. Gagal mencium bibirnya, aku teruskan menciumi telinga, leher dada dan berhenti untuk mengulum puting dan meremas-remas payudara satunya lagi. Ina tidak bereaksi. Aku lanjutkan petualangan bibirku lebih ke bawah, perut dan vaginanya sambil merentangkan pahanya lebar-lebar terlebih dahulu. Aku mulai dengan menjilati dan menghisap clitorisnya yang cukup kecil karena sudah disunat (sama dengan istriku). Ina mulai bereaksi. Setiap kuhisap clitorisnya Ina mulai mengangkat pantatnya mengikuti arah hisapan.</p>
<p>Kemudian dengan lidah, kucoba membuka labia minoranya dan memainkan lidahku pada bagian dalam liang senggamanya. Tangan Ina mulai meremas-remas kain sprei sambil menggigit bibir. Ketika vaginanya mulai basah kumasukkan jari menggantikan lidahku yang kembali berpindah ke puting payudaranya. Mula-mula hanya satu jari kemudian disusul dua jari yang bergerak keluar masuk liang senggamanya. Ina mulai berdesah dan memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan. Sekitar dua atau tiga menit kemudian aku tarik tanganku dari vaginanya. Merasakan ini, Ina membuka matanya (yang selama ini selalu tertutup) dan menatapku dengan pandangan penuh harap seakan ingin diberi sesuatu yang sangat berharga tapi tidak berani ngomong. Aku segera merubah posisi badanku untuk segera menyetubuhinya. Melihat posisi ‘tempur’ seperti itu, pandangan matanya berubah menjadi tenang dan kembali menutup matanya. Kuarahkan penisku ke bibir vaginanya yang sudah berwarna merah matang dan sangat becek itu. Secara perlahan penisku masuk ke liang senggamanya dan Ina hanya mengigit bibirnya. Tiba-tiba tangan Ina bergerak memegang sisa batang penisku yang belum sempat masuk, sehingga penetrasiku tertahan.<br />
“Yan, kita tidak boleh melakukan hal ini…”, Kata Ina setengah berbisik sambil memandangku.<br />
Tapi waktu kulihat matanya, sama sekali tidak ada penolakkan bahkan lebih terlihat adanya birahi yang tertahan. Aku tahu dia berkata begitu untuk berusaha memperoleh pembenaran atas perbuatan yang sekarang jadi sangat diinginkannya.<br />
“Tidak apa-apa ‘Na, kita kan bukan saudara kandung, jadi ini bukan incest”, Jawabku.<br />
“Nikmati saja dan lupakan yang lainnya”.<br />
Mendengar perkataanku itu, Ina melepaskan pegangannya pada penisku yang sekaligus aku tangkap sebagai instruksi untuk melanjutkan ‘perkosaannya’. Dalam ‘posisi standard’ itu aku mulai memompa Ina dengan gerakan perlahan, setiap kali penisku masuk, aku ambil sisi liang senggama yang berbeda sambil mengamati reaksinya. Dari eksperimen awal ini aku tahu bahwa bagian paling sensitif dia terletak pada dinding dalam bagian atas yang kemudian menjadi titik sasaran penisku selanjutnya.</p>
<p>Strategi ini ternyata cukup efektif karena belum sampai dua menit Ina sudah orgasme, tangannya yang asalnya hanya meremas-remas sprei tiba-tiba berpindah ke pantatku. Ina dengan kedua tangannya berusaha menekan pantatku supaya penisku masuk semakin dalam, sedangkan dia sendiri mengangkat dan menggoyangkan pantatnya untuk membantu semakin membenamnya penisku itu. Untuk sementara kubiarkan dia mengambil alih.<br />
“sshh…, aahh”, rintihnya berulang-ulang setiap kali penisku terbenam.<br />
Setelah Ina mulai reda, inisiatif aku ambil kembali dengan merubah posisi badanku untuk style ‘pumping flesh’ untuk mulai memanaskan kembali birahinya yang dilanjutkan dengan style ’stand hard’ (kedua kaki Ina dirapatkan, kakiku terbuka dan dikaitkan ke betisnya). Style ini kuambil karena cocok dengan cewek yang bagian sensitifnya seperti Ina dimana vagina Ina tertarik ke atas oleh gerakan penis yang cenderung vertikal. Ina mengalami dua kali orgasme dalam posisi ini.<br />
Ketika gerakan Ina semakin liar dan juga aku mulai merasa akan ejakulasi aku rubah stylenya lagi menjadi ‘frogwalk’ (kedua kaki Ina tetap rapat dan aku setengah berlutut/berjongkok). Dalam posisi ini setiap kali aku tusukkan penisku, otomatis vagina sampai pantat Ina akan terangkat sedikit dari permukaan kasur menimbulkan sensasi yang luar biasa sampai pupil mata Ina hanya terlihat setengahnya dan mulutnya mengeluarkan erangan bukan rintihan lagi.<br />
“Na, aku sudah mau keluar. Di mana keluarinnya?”, Kataku sambil terus memompa secara pelan tapi dalam.<br />
“ddi dalam saja…, di dalam saja, aahh…, jangan pedulikan”, Ina mejawab ditengah erangan kenikmatannya.<br />
“Aku keluar sekarraang…”, teriakku.<br />
Aku tekan vaginanya keras-keras sampai terangkat sekitar 10 cm dari kasurnya dan cairan kenikmatan tersemprot dengan kerasnya yang menyebabkan untuk sesaat aku lupa akan dunia.<br />
“Jangan di cabut dulu Yan…”, bisik Ina.<br />
Sambil mengatur napas lagi, aku rentangkan kembali kedua paha Ina dan aku pompa penisku pelan-pelan dengan menekan permukaan bawah vagina pada waktu ditarik. Dengan cara ini sebagian sperma yang tadi disemprotkan bisa dikeluarkan lagi sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Ina menjawabnya dengan hisapan-hisapan kecil pada penisku dari vaginanya<br />
“Yan, kenapa kamu lakukan ini ke Ina?”, tanyanya sambil memeluk pinggangku.<br />
“Kamu sendiri rasanya gimana?”, aku balik bertanya.<br />
“Mulanya kaget dan takut, tapi setelah kamu berubah memperlakukan Ina dengan lembut tiba-tiba birahi Ina terpancing dan akhirnya turut menikmati apa yang belum pernah Ina rasakan selama ini termasuk dari suami Ina”, Jawabnya.</p>
<p>Kita kemudian mengobrol seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa dan sebelum pulang kusetubuhi Ina sekali lagi, kali ini dengan sukarela. Sejak malam itu, aku ‘memelihara’ kakak iparku dengan memberinya nafkah lahir dan batin menggantikan suaminya yang sudah tidak mempedulikannya lagi. Ina tidak pernah menuntut lebih karena istriku adalah adiknya dan aku membalasnya dengan menjadikan ‘pendamping tetap’ setiap aku pergi ke luar kota atau ke luar negeri.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kakak-iparku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Break, Break.., Tante pun Didapat</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/break-break-tante-pun-didapat.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/break-break-tante-pun-didapat.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2389</guid>
		<description><![CDATA[Sejak berada dibangku SLTA, saya mempunyai hoby merakit alat-alat elektronika, yang salah satunya adalah alat komunikasi Handheld Transceiver (HT). Setelah rampung merakit dan berhasil untuk digunakan berkomunikasi kini hari-hariku terisi dengan membuang kejenuhan melalui alat komunikasi tersebut. Sampai suatu saat ditengah malam, saya ngebrik dengan seorang wanita di channel khusus yang hanya dapat kami pergunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak berada dibangku SLTA, saya mempunyai hoby merakit alat-alat elektronika, yang salah satunya adalah alat komunikasi Handheld Transceiver (HT). Setelah rampung merakit dan berhasil untuk digunakan berkomunikasi kini hari-hariku terisi dengan membuang kejenuhan melalui alat komunikasi tersebut. Sampai suatu saat ditengah malam, saya ngebrik dengan seorang wanita di channel khusus yang hanya dapat kami pergunakan berdua alias “mojok” dengan fasilitas symplex duplex. Asyik memang sehingga tak terasa sudah larut malam.<br />
“Mah…, udah larut malam nich, masak hanya ngobrol terus tanpa tindakan?”, tanyaku agak manja.<br />
“Emang Papa mau ngapain, kita khan cuma bisa berbicara aja”, balasnya di seberang sana.<br />
“Engg maksud Papa…, ehm ssth”, suaraku sengaja mendesah merayu.<br />
“Ach Papa, dadamu menggairahkan emm apalagi pen.., auh besarnya”.<br />
“Emmh mah, buah dadamu montok, bersih dan itu…, putingnya merah jambu…, Papa ingin mengulumnya mah”.<br />
“Ini pah silakan…, ahh…, aih…, terus pah auh…”.<br />
Demikian hangatnya komunikasi ini sampai tak terasa celana dalamku basah oleh lendir kental seperti susu milk.<br />
“Mah saya udah keluar nich, Mama udah belum?, tanyaku.<br />
“Mamah belum apa-apa tuh pah”, jawabnya.<br />
“Gimana pah kalau besok kita KOPDA (Kopi Darat)”.<br />
“Oke dech mah, tapi dimana?<br />
“Emm di Matahari Plasa lantai IV, tepatnya di Rumah Makan Dandaman, aku disana pakai T-shirt hitam dan celana Jeans Biru. Cari aku disana yah…”.<br />
“Oke deh,… Lalu jam berapa?”.<br />
“Ya…, jam 10 pagi, bisa nggak?<br />
“Pasti bisa deh…, oke sampai ketemu besok ya…, daah cup ah cheerio mam.”<br />
“Cup ah juga pah sampai besok…, cerio”.</p>
<p>Akhirnya di pagi hari yang cerah, pagi-pagi sekali saya sudah mandi dan berpakaian rapi. Dengan menggunakan Jeep Willys bak terbuka Saya meluncur ke Matahari Plasa langsung menuju ke lantai IV. Disana saya berjalan-jalan sambil melihat-lihat ke rumah makan Dandaman dan mencari wanita berpakaian seperti apa yang dia katakan. Beberapa lama di sana, di sudut ruangan mataku terbelalak melihat sosok wanita dengan ciri-ciri yang kucari. Ternyata tubuhnya seksi dan dandanannya menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan. Karena apa yang saya cari sudah ketemu dan ternyata tidak mengecewakan, maka saya langsung menghampirinya.<br />
“Selamat pagi tante”, sapaku dengan senyum ramah.<br />
“Selamat pagi juga”. jawabnya tak kalah ramahnya.<br />
“Kenalkan nama saya Andy, tante”.<br />
“Emh nama tante Santy, Silakan duduk Ndik”.<br />
“Terima kasih tante”, sambil saya mengambil tempat duduk di depannya.<br />
“Jangan lagi panggil tante ah, panggil saja Santy. Oke?”.<br />
“Ya deh”, jawabku sambil mengangguk.<br />
Singkat cerita kami berdua ngobrol tentang kami berdua, eh ternyata memang dia bukan orang sembarangan. Dia istri pengusaha terkenal di Semarang.<br />
“Kamu masih kuliah Ndik?<br />
“Masih San, tapi mungkin semester ini saya ambil cuti”.<br />
“Lho kenapa?”, tanya Santy.<br />
“Yah biasa masalah biaya. Saya harus menanggung buaya hidup dan kuliahku dengan usaha sendiri. Sementara ini bisnis yang saya jalankan lagi sepi San, Jadi yah cuti dulu nggak apa-apa lah”, komentarku menerangkan.<br />
“Andhik”, kata Santy sambil bergerak mendekatiku. “Ngapain harus cuti segala, emang kamu nggak punya siapa-siapa untuk dimintai bantuan?”.<br />
“Emm nggak punya San, habis semua saudaraku berada jauh dari Semarang”.<br />
“Lalu kau anggap aku ini siapa? Tanya Santy mengejutkan. “Kamu butuh uang berapa?” lanjutnya.<br />
Saya jadi gelagapan diberondong pertanyaan oleh Santy.”Em…, anu…, ehg”.<br />
“Kamu nggak usah gugup Ndik, ngomong aja kamu butuh uang berapa”.<br />
Akhirnya saya ngaku juga “Anu San dua juta”.<br />
Setelah saya ngomong begitu, Santy langsung membuka tas kecilnya dan brak…, uang dua juta sudah di atas meja di depanku.<br />
“San…, engh”<br />
“Ala…, nggak usah basa-basi, ambil saja Ndik”‘ Kata Santy tahu apa yang sedang saya pikirkan. Lalu gimana saya harus mengembalikannya San. Nanti gampanglah sekarang ayo habiskan makannya.</p>
<p>Setelah makanan di depan meja habis kusantap, Santy langsung membayarnya dan kami beranjak pergi.<br />
“Kita mau kemana San”, tanyaku.<br />
“Kamu naik apa Ndik?” tanya Santy.<br />
“Itu naik gerobak antik”, kataku sambil menunjuk mobilku.<br />
“Eng kalau begitu, kita naik mobilku saja”, kata Santy. “Sementara biar mobilmu disini dulu, Oke?”.<br />
“Oke”,kataku sambil naik ke mobil Santy.<br />
Dalam pikiranku pasti Santy akan mengajakku ke hotel dan…, ternyata mampir dulu ke rumahnya. Dirumah mewah itu hanya ada perkakas Lux dan Interior yang sangat indah. Halaman luas dengan taman yang indah juga.<br />
“San…, kenapa rumah kamu sepi?”.<br />
“Iya memang hanya ada aku dan suamiku yang sering dinas keluar kota. Maklum sibuk dengan bisnisnya”.</p>
<p>Akhirnya di ruang tamu kami ngobrol sambil nonton VCD yang telah di on kan oleh Santy. Sebuah CD karaoke dengan background seorang artis yang sensual dengan memamerkan tubuhnya yang menggiurkan. Tangan Santy tidak terasa meraba-raba tangan dan tubuhku. Kulirik buah dadanya yang menyembul ingin keluar dari kaos “you can see” nya. Tanpa ragu saya juga membalas gerakan-gerakan Santy. Semakin dalam semakin asyik saja dan tidak terasa saya dan Santy telah telanjang bulat di sofa ruang tamu.”Engh…, ah…, Ndik”, jerit Santy saat kujilati liang kewanitaannya sambil kuremas putingnya.<br />
“Terus Ndik…, augh…, nikmatnya augh…, Ndik aku nggak kuat”.<br />
Langsung saja penisku, saya masukkan ke liang senggamanya dan kali ini jeritan Santy semakin keras “Augh…, Andhik…, gila kamu…, terus Ndik…”. Dan akhirnya cret…, creett… saya puas dan Santy pun demikian.</p>
<p>Akhirnya pengalaman ini terbawa hingga saya tamat kuliah dengan biaya seluruhnya ditanggung oleh Santy. Kini saya sudah punya rumah, mobil, hand phone dan pekerjaan yang semua berasal dari Santy. Kini Santy telah tiada karena sakit jantung.<br />
Mohon maaf Santy, semoga Tuhan mengampuni dosa kita berdua</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/break-break-tante-pun-didapat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>guru ku pemuas nafsuku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/guru-ku-pemuas-nafsuku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/guru-ku-pemuas-nafsuku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2382</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Red. Umur 24th, dan saat ini bekerja di negara A sebagai Creative Director dari suatu perusahaan advertising/multimedia. Kesibukan saya di kantor menghalangi keinginan saya untuk bersosialisasi secara luas, kecuali dengan teman2 sekerja saja. Hampir seluruh waktu saya berada di depan komputer. Beberapa hari terakhir saya mengambil cuti setelah menghabiskan 5 malam non-stop bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama saya Red. Umur 24th, dan saat ini bekerja di negara A sebagai Creative Director dari suatu perusahaan advertising/multimedia. Kesibukan saya di kantor menghalangi keinginan saya untuk bersosialisasi secara luas, kecuali dengan teman2 sekerja saja. Hampir seluruh waktu saya berada di depan komputer. Beberapa hari terakhir saya mengambil cuti setelah menghabiskan 5 malam non-stop bersama rekan2 sekerja untuk menyelesaikan suatu proyek yang amat rumit dan riskan. Waktu cuti tersebut saya habiskan untuk membereskan lemari arsip di rumah saya yang memang sangat berantakan, penuh dengan notes2, sketsa dan buku2 referensi. Dari notes2 tersebut, ternyata saya menemukan fragmen2 kisah hidup saya semasa ber-SMA di kota asal saya di kota X. Setelah menyusunnya secara kronologis (ditambah beberapa telepon SLI sana-sini) saya berhasil membuatnya dalam bentuk digital supaya dapat saya gabungkan dengan diary saya yang tersimpan di dalam laptop saya. Berikut ini beberapa di antaranya: Maret 1993 … Rugi nih bayar uang sekolah mahal2 … udah kelas di pojok gedung, dekat dengan bak pembuangan sampah sekolah lagi! Moga2 nanti pas gua naik ke kelas 3 (kalo naek nih) … gua dikasih kelasnya si Martin yang konon punya akses rahasia ke kamar mandi cewek! Yah kayaknya sih hari2 kayak gini gua kudu bertabah2 ria menghirup bau sampah yang ngga diangkut2… “Eh Red… Red ! Eh udahin mikir kotornya… elu jadi ikut ngga seh ?” temen gua si jelek Aldo bisik2 dari belakang. Maklumlah, pelajarannya Ibu Mia siapa sih yg berani ribut… kecuali kalo mau nilai Bahasa Indonesia merah di raport. “Diem luh Jelek… elu sih nularin pikiran kotor dari belakang… emang jadi nonton di mana ?”,balas gua selagi Ibu Mia ‘lengah’ ke papan tulis. “Saya tidak mau dengar ada yg bisik2 ya !”, suara ketus Ibu Mia menggelegar di kelas. Untung dia tetap terpaku menulis di papan… sebel abis gua liat tampangnya yg judes gitu .. apalagi dengan kacamata aneh yg segede pantat Teh Botol… amiitt.. PLOK ! Segumpal kertas kecil meloncat di depan gua, isinya singkat,”Bioskop Y, 4 sore”. Gua ngasih tanda oke ke si Jelek, yg dia balas dengan menendang bangku gua… sayangnya, terlalu keras –BRAK ! Langsung deh si Teh Botol judes berbalik dan melangkah cepat ke sumber suara. “Sudah saya duga… kalau bukan kalian berempat, pasti gang-nya Katrina di sebelah sana… siapa yg tadi tendang meja ?,”sambarnya dengan pedas. “Eh.. itu bangku yg kena,bukan meja… Bu,”kata gua dengan polos…ngga tau kenapa tau2 bisa bilang begituan. “Kamu berempat nanti ketemu saya selesai pelajaran,”jawabnya dengan dingin, lalu berjalan kembali meneruskan pelajaran. Hiii… *Notes: Saya berempat, plus si Jelek Aldo, Rio KBHRX(alias Ksatria Baja Hitam RX), dan Didi Duku memang teman akrab banget waktu itu… kita bukannya trouble maker sih .. cuman aja untuk ukuran anak2 Biologi, kita termasuk yg kurang bisa diam tenang di kelas.* Rio langsung berbisik,”Goblok lu Lek! Nendang si Teh Botol kek sekalian, gua jadi kena juga..” “Maunya sih tapi gua takut …”,bisik si Jelek lebih pelan. “Takut apa sama dia ?”,bisik Duku yg di sebelah gua. “Cakut dipelkoca,”bisik si Jelek dengan nada cempreng. Langsung kita cekikikan berempat. Yang jelas membuat ituasi menjadi tambah runyam. Lima menit kemudian, gua, Rio dan Didi duduk terdiam di luar ruang guru…menantikan vonis buat si Jelek. Konon kita masing2 akan mendapat vonis yg berbeda. Setengah jam berlalu tanpa kabar. Beberapa guru yang lewat sekali2 menanyakan kabar kita, kenapa kita ada di sana bla bla bla. Biasa deh kalo udah gitu guru2 yg laen jadi ngerasa sok ngehakimin. Omong2 di antara anak2 emang udah ada rumor kalo si Teh Botol sering menahan anak2 lebih lama dari biasanya… cowo atow cewe sama aja. Kalo yang cowo konon disuruh milih: ‘disunat’ atau kasih dia sun, sementara yg cewe disuruh tari perutlah, bugil-lah dsb. Emang sih cuman joke doang… tapi mengingat si Jelek udah lebih dari 30 menit di dalam sana, kita jadi mikir jangan2 dia nolak nge-sun si Teh Botol mentah2… yaiks. Padahal dipikir2 Ibu Mia masih muda.. paling sekitar 25-an deh. Selesai lulus kuliah langsung ngajar kali… buset kalo udah tua kayak apa tuh si Teh Botol. Moga2 ngga jadi botol Aqua. “Suhardi, giliran kamu !” Tanpa gua sadar Didi sudah melangkah ke dalam, sementara si Jelek terdiam di hadapan kita berdua. “Kenapa lu Jelek ? Tambah jelek aja tuh muka…,”cerocos Rio,”…koq lama sih ?” Jelek terdiam, dari tatapannya kita bisa liat kalo dia terlihat sangat tertekan. “Nontonnya batal,”kata si Jelek yg langsung melangkah pergi. Gua langsung ngejar. “Eh gila..kenapa lu ?”Gua cengkram tangannya… kita emang udah biasa kayak gitu. Tiba2 si Jelek berputar cepat, dan tanpa gua sadar muka gua udah kena sabit tinjunya -BSET!- untung lolos, tapi gua hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai. “Hey kenapa lu Lek !!,” gua berdiri balik… kurang ajar nih anak. Kalo bukan temen baek udah gua abisin di tempat. Rio menahan gua dari belakang, sambil memberikan tanda buat si Jelek supaya pergi aja. “Biarin dia, Beh,”bisiknya setelah kita kembali duduk. *Beh itu panggilan gua, dari Babeh–karena waktu itu gua maen drama jadi bapak2 yg kuper abis.* “Kena sunat kali,”bales gua masih ketus. Pipi gua sih ngga sakit, tapi temen baek gua sendiri asal nabok kayak gitu… enak aja ! Ngga lama kemudian, Didi keluar dengan tersenyum…”Tuh kan … gua bilang juga gua ngga salah apa2… mati lu nanti Beh!” Gua cengar cengir doang sambil bilang,”Eh Duku elu tungguin gua ya ?” “Wah sorry Beh ngga bisa nih gua harus jemput adek gua di lantai dasar… nanti kan masih nonton ? Si Jelek Aldo mana ?” Singkat cerita … Rio juga lolos… tinggal gua yang sekarang duduk terdiam di depan Ibu Mia. “Kamu tahu apa kesalahan kamu, Red ?” matanya menatap tajam. “Iya Bu, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk…” “Saya ngga minta kamu minta maaf ! Saya tanya, kamu tahu tidak kesalahan kamu apa ?” “Mengganggu kegiatan belajar mengajar, Bu,” jawab gua dengan klise. Ibu Mia lalu meletakkan kacamata Teh Botol-nya. Gua masih menunduk (biar dikasihanin), tapi dari pantulan kaca meja gua ngeliat sesuatu yang ganjil. Beliau lalu berdiri dan bertolak pinggang. Dari pantulan kaca maja gua sadar ternyata baju yg dia kenakan berbeda dengan yg dipakai waktu mengajar sebelumnya. Gaya banget nih guru… selesai ngajar langsung ganti baju … ngga repot apa? “Saya sangat kecewa dengan kalian berempat. Nilai pas2an, di kelas tidak ada perhatian… apalagi kamu. Di kelas kerjaannya corat coret gambar2 yg jelas2 tidak membangun…! Apa pantas saya lalu membiarkan keserampangan seperti ini ?” Pelan2 gua melihat ke arah Ibu Mia. Wah gila gua langsung shock liat wajahnya tanpa kacamata aneh itu… soalnya..cantik dan manis sekali. Ternyata kacamata sialan itu bikin bagian matanya jadi tidak proporsional sehingga terlihat aneh. Tapi sekarang…gila gua kayak ketemu orang laen aja…. Tubuhnya pun ternyata ngga jelek2 amat … memang sih Ibu Mia tergolong pendek..tapi makin gua liatin badannya yg kecil itu ternyata seksi sekali. Pinggangnya ramping, mungil dan pinggulnya juga berisi… Hmm kayaknya lepas Teh Botol yg di muka, langsung kelihatan deh Teh Botol yg di badan. Gua sampe ngga sadar kejap2 sendiri … kirain gua ketiduran. “RED ! Kenapa kamu kejap2 seperti itu ?”,sentak Ibu Mia dengan kasar. Ternyata bukan mimpi ! ” Oh ngga Bu…mata saya memang lagi perih…”,kata gua dengan gugup, sambil ngucek2 mata. Koq jadi gua yg salah tingkah gini ? “Saya khawatir saya akan sulit meluluskan siswa dengan sikap seperti kamu, Red…”,Ibu Mia meneruskan dengan dingin,” … nilai2 kamu juga termasuk yang terburuk di kelas… selain si.. siapa itu yg kemarin kakaknya kecelakaan?” “Eh..mm…Diane ya?”,jawab gua. “Iya .. Diane… tapi mungkin dia bisa saya bantu karena dia juga mengalami beberapa musibah sebelumnya… tapi kamu…” “Wah …” Gua mulai ketakutan juga. Bisa mati nih kalo ngga naek kelas! “Saya tidak yakin dengan kamu, Red. Akan sangat sulit sekali…” “Masa Ibu ngga bisa kasih keringanan… misalnya membuat tugas tambahan.. atau apa deh.. saya akan berusaha…”, gua memelas. Ibu Mia terdiam… pandangan dan ekspresinya bener2 bikin gua beku. Nekat juga gua bisa melas2 sama dia. Perlahan kemudian Ibu Mia berjalan menjauh, lalu duduk di sofa yg terletak di ujung ruangan. Matanya tetap ngeliatin gua. Gila nih kalo gua ngga naek, Om John bisa batal deh ngirim gua belajar ke negara A! Si Jelek *******… udah bikin masalah, pake nabok gua segala lagi! “Red…” Ibu Mia memanggil…tiba2 nada suaranya berubah. “Eh iya Bu ?” Gua bertanya tak pasti. “Kemarilah … Ibu rasa Ibu tahu apa yg kamu bisa lakukan.” Nada suaranya kini lebih netral dan lembut. Gua makin bergidik. Jangan2 rumor2 itu bener. Perlahan2 gua berjalan mendekati Ibu Mia. Beliau duduk dengan menyilangkan kakinya.. lumayan anggun juga ternyata si Teh Botol. Di depannya gua berdiam diri … ngga tau bisa ngarepin apa. “Iya Bu ?”tanya gua sambil tersenyum pait. Pasti muka gua ngga karuan nih bentuknya. “Kamu … kamu sudah pernah bersenggama ?” GLEK. Gua terbisu … kalo ini mimpi, dari mana mulainya ? Mungkin gua salah denger. “Maaf Bu ?”gua bales, berharap pertanyaan yg berbeda muncul. “Ibu tanya apa kamu sudah pernah bersenggama ?” GLEK. Ini beneran. “Eh.. saya…” “Tidak apa2 kalau kamu tidak mau bilang… Ibu hanya ingin tahu saja…” Gua terdiam kayak patung. “…hanya saja Ibu ada feeling … anak muda segagah kamu… Ibu bisa lihat kalo di sekolah tidak sedikit gadis2 yg melirik ke arah kamu kalau kamu sedang lewat…” Makasih deh Bu, pikir gua, tapi kenapa tiba2 suasananya berubah ? Selama semenit… mungkin lebih kita terdiam … gua jadi bener2 kikuk… “Bu…”,gua memecah kesunyian. Tiba2 gua terpikir sesuatu. Ibu Mia hanya ngeliat gua lebih dalam. Sepasang mata itu mendadak jadi indah banget. “Iya .. saya pernah … beberapa kali …cuman main2 doang …”,aku gua sambil mengingat beberapa insiden yang lampau. Ibu Mia tersenyum… gila ngga pernah gua liat dia senyum… ternyata seperti ini toh… wah kalo dia udah tidur sama siapa aja di sekolah ini? Tiba2 di celana gua, gua baru sadar kalo ’sang adik’ sudah bangun dari tadi… entah kenapa situasi seperti ini bikin gua jadi terangsang banget. Senyum Ibu Mia semakin misterius. “Mendekatlah kemari, Red”, katanya dengan lembut. Gua mendekat.. sekarang pinggul gua udah sejajar dengan kepalanya…’sang adik’ yang terbangun tidak mungkin tersembunyi lagi. “Udah bangun ya…,”kata Ibu Mia,”…coba buka… Ibu mau lihat.” Dengan agak canggung gua buka celana gua, gua biarin jatoh ke bawah. ‘Sang adik’ kini terlihat berdiri dengan segar dan lumayan keras… gila nih… si Ibu mendadak kelihatan bergairah sekali, pikir gua. “Ohhh… lumayan besar juga ya… apa bisa lebih besar lagi..?” Belum gua sempat berpikir, tiba2 Ibu Mia dengan lembut melekatkan bibirnya di batang penis gua. Langsung gua mengejang seperti disengat listrik… kaget banget sih.. “Huyss… tenang ya Red … Ibu bakalan sangat lembut koq”, beliau tersenyum halus. “I…Iya Bu…ehh..”, jawab gua.. ngga tau harus seneng atau sedih. Ibu Mia lalu meneruskan mengecupi batang penis gua, mulai dari dekat zakar sampai ke dekat kepala… diiringin dengan suara desahan yang bikin penis gua langsung keras dan tegang. Perlahan2 jemari2nya mulai memainkan zakar gua dan meremas2 pantat gua. Mulutnya pun mulai berpindah ke kepala penis gua, dengan lembut dihisapnya pelan2… masuk.. keluar… masuk… keluar… sambil menjilat2kan lidahnya ke bagian yang mulai membasah tersebut. “Mgghh… mgghhhh… mgghhhh…” Saking terangsangnya gua secara instinct memegangi kepala Ibu Mia dan meremas2 rambutnya dengan gemas.. beliau nampak cuek dan kelihatannya sih emang udah keasyikan dengan urusannya sendiri. Ibu Mia semakin bergairah menjilati dan meremasi penis gua… sampai2 gua ngga tau penis gua basah karena air ludahnya atau sperma pre-ejakulasi gua yang udah keluar sedikit2. Sebentar kemudian… gua udah bener2 terangsang… rasanya gua ngga sabar giliran gua buat bikin basah vagina beliau dan muncrat di dalamnya sekalian… tapi kali ini gua tahan2 pingin melihat apa yg terjadi berikutnya.. —-Sekelebat gua teringat pengalaman gua dengan Joanna, dari jurusan sosial. Waktu itu dia cuman kocok2 penis gua dengan tangannya sambil menempelkan badannya yang hangat itu dan ngegosok2in buah dadanya ke badan gua. Kita masih separuh berpakaian seragam di toilet sekolah yg memang lagi sepi banget. Waktu itu gua ngga sabaran… langsung deh gua pelorotin rok dan celana dalamnya. Emang sih vaginanya Joanna udah agak basah.. jadi gua cuman main2in dikit sama tangan gua… tangan gua yg satu lagi langsung main2in puting2 buah dadanya. Tiba2 gua gerakin penis gua ke arah pinggulnya dan biarin penis gua masuk ke vaginanya yang udah basah. Akhirnya gua mangku Joanna sambil berdiri, sementara dia numpuin sebelah kaki ke wastafel. Untungnya dia udah basah banget, jadinya ngga gitu kerasa sakit buat ’saat pertama’nya. Tapi yang jelas dia menggeliat kiri kanan saking terangsangnya. Setelah beberapa kocokan, dia langsung orgasme sambil memeluk gua eratttt banget… Guanya sendiri belon, jadi gua keluarin aja tuh penis dan gua muncratin semuanya di wastafel… tapi itulah jadinya, karena terburu2…selesainya jadi ngga enak—- “Red… Red !..Koq mukanya jadi menerawang seperti itu ?!”,suara Ibu Mia kini menghentak gua dengan lembut. Tiba2 ia berhenti dan mundur ke sofanya… tubuhnya kini berkeringat.. dan ternyata baju ‘baru’nya itu cukup tipis sampe2 keringatnya itu membuat bagian dalam tubuhnya terlihat… “Red… kamu… kamu bisa tahan lama ya sama Ibu…”, kata Ibu Mia sambil tersenyum,”…Aldo saja baru bentar udah muncrat ke baju Ibu..” Y-A A-M-P-U-N … ternyata… pantesan si Jelek mukanya kusut gitu..!! Rupanya Ibu Mia berganti baju sebelum si Jelek keluar… gua jadi cekikikan sendiri… gua bales lu nanti Lek..! “Eh Bu… kalo Rio dan Didi… mereka…”,mendadak gua teringat dua sobat gua yg laen. “Mereka tidak Ibu apa2kan,”katanya sambil tertawa ringan,”Mereka sial bertemu dengan Ibu Mia yg galak.” Gua nyengir sambil pelan2 gua deketin Ibu Mia. Ibu Mia tampak terdiam pasrah dan meringankan ekspresi tubuhnya. Perlahan2 gua lepasin blus atasnya, lalu BH pinknya…ternyata buah dadanya juga indah, kedua putingnya mengeras.. pasti Ibu Mia sudah benar2 hot. Terus gua lingkerin tangan gua di pinggangnya, lalu dengan pelan2 gua buka rok panjangnya…gua berusaha sesantai mungkin sambil meletakkan pakaian Ibu Mia di sofa.. soalnya gua sendiri tegang banget.. deg-degan gitu. Sementara penis gua udah tegang setegang2nya …gua sengaja bersabar sambil menanti respon dari Ibu Mia … Ibu Mia lalu mendorong gua dengan perlahan supaya gua berlutut di lantai. “Sekarang giliran kamu, Red… sebelumnya belum pernah ada yg boleh seperti ini kecuali suami Ibu… tapi kamu spesial..”,kembali senyuman lembut itu menghiasi wajahnya. SUAMI ? Wah .. pikir gua… ternyata serem2 ini Ibu ngga beres juga nih… ah tapi cuek aja lah, pikir gua sambil berharap2 kalo moga2 ngga ada yang nyelonos masuk ke ruang yang terletak di ujung gang tersebut. Sambil masih dalam posisi berlutut, gua mendekatkan pinggul Ibu Mia ke kepala gua. Bener juga …vaginanya udah basah, bahkan sedikit cairan mulai mengalir di pangkal pahanya … mungkin dia sudah orgasme sewaktu menghisap penis gua, gua pikir. Gua mulai dengan mengecup2 kemaluan Ibu Mia mulai dari bulu2 sampai ke bagian kelentitnya … rupanya kalo gua main perlahan dan lembut, ternyata lebih menggairahkan daripada gubrak-gabruk-an seperti dengan Joanna dulu… Lalu gua mulai melumat2 daging imut yang mulai menyembul di kemaluan beliau … Ibu Mia langsung mendesah sambil menjambak2 rambut gua … “Ohhhh Redd…ahhh … ahhh …hhh….. terusinn… aaahhhhhh……” Makin lama gua udah makin lupa diri … gila..bisa2 gua muncrat duluan nih …suara Ibu Mia bener2 bikin kesabaran gua serasa di ujung tebing… Ibu Mia sendiri kelihatannya udah siap, soalnya cairan dari vaginanya semakin deras … rasanya bener2 aneh, buat gua sendiri ini baru kedua kalinya gua ngerasain cairan kayak beginian. Lagi2 pikiran gua menerawang (sambil dengan hotnya masih melumat) waktu gua pertama kali mencium dan melumati kemaluan seorang wanita, yaitu milik Deasy sepupu jauhhh gua yang umurnya sekitar 2 taun lebih tua. Kita waktu itu bertemu waktu pernikahannya Om John dan Tante Sarah. Awalnya sih cuman bincang2 kecil doang tapi.. “Ohhh Red…”, desah Ibu Mia agak keras, menghancurkan nostalgia gua… Muka Ibu Mia sudah merah dan berpeluh keringat. “Iya Bu ?”, dengan sok polosnya gua menjawab. Ibu Mia lalu mundur perlahan dan kembali duduk di atas sofa, kali ini beliau sengaja duduk di atas tumpukan baju yang gua taruh di sana sebelumnya … mungkin supaya cairan segar dari dalam vaginanya itu tidak mengotori sofa, pikir gua. Sejenak kita berdua bertatapan … Ibu Mia duduk dengan kedua pahanya sedikit mengangkang, tampak beliau pasrah saja memamerkan liang kemaluannya yang telah membesar dan amat basah itu. Sementara gua perlahan berdiri, juga memamerkan penis gua yang udah full tegang dan memanas… “Red…”,bisik Ibu Mia, sambil tersenyum mesra,”… tolong kuncikan pintu, Ibu lupa … hehehe…” Gua nyengir sambil segera berjalan berbalik ke arahpintu. Pintu masuk ruangan tersebut memang agak terhalang dari sofa oleh sebuah lemari arsip yang cukup besar. Tapi gua emang pernah baca kalo privacy buat cewe itu penting sekali buat bikin dia makin pe-de dalam bercinta. Waktu gua ngelangkah ke deket pintu, gua shock berat karena ada sesosok wajah menyembul di pintu tersebut … rupanya pintu itu sedikit terbuka. Si pemilik wajah juga terlihat sama shocknya. Ternyata seorang cewe manis berpakaian SMA, tapi warna roknya berbeda … berarti dia dari sekolah lain. Cewe itu menatap gua sejenak, lalu sekejap melirik ke penis gua yang memang lagi ngeceng banget. Wajahnya sangat manis dan agak kekanak2an, tetapi saat ini kepucatannya memendungi kecantikannya. Perlahan cewe tsb mundur dan menghilang, sambil sekilas ia memberikan tatapan memelas sama gua…seolah2 ia berkata,”Ampuni saya Bang, jangan apa2kan saya !”. Dengan cepat gua menutup dan mengunci pintu, lalu segera melangkah kembali ke arah Ibu Mia. “Kenapa, Red ? Koq wajah kamu seperti sehabis melihat hantu ?”,kata Ibu Mia. Iya,Bu. Hantu cantik, kata gua dalam hati. Oh, untunglah, kayaknya dia ngga tau, pikir gua. Mungkin terhalang oleh lemari arsip itu. “Eh … ngga Bu… saya … eh .. Ibu seksi sekali.. eh.. muka saya emang kayak gini kalo liat cewe seksi ..”, kibul gua dengan ekspresi yg so pasti ngga ketulungan jeleknya. Ibu Mia tertawa kecil lalu beliau mulai rebahan di atas sofa..pinggulnya masih diletakkan di atas tumpukan baju2nya. Kemudian beliau menyamping, perlahan menghadap ke arah gua…tubuhnya yang mungil seksi itu kini nampak begitu sensual. Lalu Ibu Mia mengangkangkan kedua pahanya, sambil dengan lembut memutar2kan pinggulnya ke arah gua. Salah satu tangan beliau juga mengusap2 vaginanya naik turun. “Ayo Red … Ibu sudah siap …”,kata Ibu Mia dengan halus. Gua berjalan mendekati Ibu Mia. “Akhirnya..”,kata gua dalam hati. Dudukan sofa di ruang tsb memang cukup panjang sehingga cukup buat gua juga ikutan berlutut di atas sofa. Perlahan gua dekatin penis gua ke arah vagina Ibu Mia. Begitu bersentuhan, Ibu Mia tampak menarik napas pendek lalu mendesah lembut. “Ahhh…” Lalu gua mulai deh menggenjot Ibu Mia dengan perlahan2 berusaha serelax mungkin. Karena vaginanya udah cukup basah dan terbuka, gua masuk dengan lumayan gampang. Sekejap kemudian gua sudah mengocok2 penis gua di dalam vagina Ibu Mia. Beliau pun mengikuti dengan menggoyang2kan pinggulnya sesuai dengan irama genjotan gua. “Ohhhh ! Aghhhh…. ohh Red … ohhhh … ohhh… hhhghhh…hgghhhh…”, desah Ibu Mia dengan seksi, menambah panas nafsu gua. “Ohh Ibu… hhgggghhh…”, tak sadar gua juga ikutan mendesah. Ngga nyangka dia udah bersuami, vaginanya ngga kalah rapet dan kencang dengan yang punya Joanna atau Deasy. Keringat kita berdua sudah berpeluh sekujur badan, sementara gerakan2 sensual menjadi semakin cepat dan makin berirama. Buah dada Ibu Mia yang walaupun sudah sangat kencang juga ikutan bergoyang seirama dengan gerakan kita. Gua lalu memiringkan badan gua ke depan sedikit supaya tangan kanan gua bisa meremas2 payudaranya yang menantang itu. Sambil menggenjot Ibu Mia, gua juga muter2in putingnya bergantian kiri kanan. “AAhhhhh….. Redd…. kamu nakall…ohhhh….ohhggghhh….”, desah Ibu Mia semakin keras. Sekelibat gua melirik ke arah pintu dan jendela, berharap tidak ada yang melihat…hmh, kecuali si cewe ‘cilik’ itu. Setelah beberapa lama gua udah ngga kuat lagi… gila vagina serapet ini gua bisa muncrat bentar lagi. Tapi gua paksain sampe Ibu Mia orgasme duluan. “Ohhh Redd … Ibu sudah hampir… ooohh oohh ohhhh…ahhh ahhh….hgghhh…,” nafas dan desah Ibu Mia semakin memburu dan gerakannya pun mulai sedikit menghentak… Sebentar lagi, pikir gua… “Red… tolong ..hhh..hhh…jangann dikeluarin di dalam, ya…? ohhh ohhh”, pinta Ibu Mia tanpa melihat ke arah gua. “HHhhh…hhh…beres Bu”, kata gua sambil mendesah2 juga… Gila, belon saatnya gua jadi Babeh beneran ! “AAAHHhhh……!”, Ibu Mia pun orgasme sambil berteriak kecil dengan halusnya… Pinggulnya dihentakkan sekeras mungkin, seolah2 beliau sedang mengeluarkan sesuatu yang amat dahsyat dari liang cintanya. Gua bisa merasakan percikan orgasmenya membasahi penis gua yang masih asik gua goyangin di dalam.Gua sendiri udah ngga tahan..dengan cepat gua tarik penis gua, yang langsung gua angkat ke atas perut Ibu Mia. Splorrttt….clorrttt…..splooshh…. “Ugghhh…”,keluh gua sambil mengeluarkan tetes2 sperma gua yang terakhir… Kontan gua berasa selesai lari marathon,bolak balik Sabang-Merauke-Sabang … Gua lalu merebah ke atas Ibu Mia dengan cueknya. Paling ditendang, pikir gua. Ibu Mia lalu dengan lembut merangkul gua dan mengijinkan gua melepas lelah di atas buah dadanya yang empuk itu. Bibirnya sesekali mengecup2 kepala gua. “Er…Ibu…”,gua menekatkan diri,”…kenapa seperti ini ?” Ibu Mia menghela nafas panjang, tanpa melihat gua bisa tau kalo beliau sedang menerawang ke langit2 ruangan. “Ibu kesepian, Red … Mas Hardy terlalu disibukkan oleh bermacam2 pertemuan dan proyek di kantornya di luar kota … kami bertemu hanya seminggu 2 atau 3 kali … itu pun hanya sore2 atau malam. Kesempatan kami untuk sekedar berbagi rasa saja hanya sedikit, apalagi melakukan hubungan suami-istri …,” kembali Ibu Mia menghela nafas panjang, kali ini suaranya terdengar agak lebih terputus2,” … Ibu… Ibu hanya dipuaskan oleh begituan kalau dengan orang lain, Red. Mas Hardy seringkali terlalu lelah, jadi selama ini dia selalu keluar duluan …” Ibu Mia mulai menangis kecil. Hati gua jadi ikutan iba juga… mungkin seharusnya gua ngga nanya aja… lagian buat beliau kenikmatan ini pasti cuman sepintas lalu. “Udah deh Bu…ngga perlu diterusin … saya jadi menyesal nanya begitu sama Ibu”, kata gua. “Ngga Red, ngga apa2… selama ini pria2 lain cenderung lebih memperdulikan ‘kapan’ bisa bercinta lagi dengan Ibu, daripada ‘mengapa’ Ibu seperti ini”, balas Ibu Mia. Hati gua jadi lumayan luluh juga… padahal sih gua juga mau nanya seperti itu .. setelah pertanyaan yg pertama hi hi hi hi… Beberapa saat kemudian, kita berpakaian dan merapihkan diri. Untung ada wastafel kecil di pojok ruangan. Ibu Mia mengenakan pakaian lain lagi… hebat lu, pikir gua. Sambil keluar dari pintu, Ibu Mia tiba2 berkata,” Jadi jangan lupa ya Red, ringkasan artikelnya Ibu minta minggu depan… dan juga test ulang hari Jumat ini !” Kembali beliau ucapkan dengan nadanya yang ketus dan dingin. Dari ekor mata gua, terlihat cewe yang tadi ngintip… kelihatannya dia menunggu Ibu Mia… wah pantesan Ibu Mia tiba2 ngomong gituan..entah beliau memang mengharapkan cewe tsb untuk datang atau beliau ngeliat dia duluan waktu kita melangkah keluar. “Iya Bu”,jawab gua sambil menunduk, ikutan mensukseskan ‘drama kecil’ kami. Gua lalu cepat2 melangkah keluar hall. “Oh iya Red,” Ibu Mia memanggil. “Iya Bu ?” “Ini Tasha, keponakan Ibu yang baru datang dari kota DG … dia akan mulai bersekolah di sekolah M mulai minggu ini…” Kita berjabatan. Tasha terlihat sangat risih dan malu2. “Tasha memang pemalu Red”, kata Ibu Mia berusaha meringankan suasana. Bukan pemalu Bu, balas gua dalam hati, itu karena matanya baru terbuka pada ‘realitas hidup’. Hehehe… jadi cekikikan sendirian. Dengan cuek gua lalu melengos keluar gedung sekolah. Sebelum pulang gua mentoleransi perut gua yang udah keruyukan di warung bakso belakang. Pikiran gua kosong, gua biarin aja melayang2 ke mana2 ngga karuan… ***Itulah hasil rekonstruksi pengalaman saya sewaktu SMA … masih ada setumpuk notes2 lain yang sedang saya compile ke dalam laptop saya saat ini. Dahulu semasa saya kecil, mendiang kakek saya pernah berkata kalau mata saya tidak boleh melihat perempuan. Saya kira beliau hanya bercanda. Dan setiap kali saya tanyakan kenapa, jawabannya pasti serupa, “Yang dilihat kamu ngga bisa lepas begitu aja… nanti kamunya yang susah..” Saking seringnya saya dengar, saya jadi sebal sendiri … baru setelah SMA saya mengerti kira2 apa yang beliau maksud. Papa dan Om John, adiknya, memang pernah mengatakan kalau kakek konon punya ilmu2 gelap. Entah kenapa Papa dan saudara2nya kelihatannya tidak ada yang mewarisinya, mungkin karena jaman yang berubah atau apalah…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/guru-ku-pemuas-nafsuku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ibu kost</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/ibu-kost.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/ibu-kost.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/ibu-kost.html</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya harus dinas ke Surabaya, dari kantor saya mendapat tiket kereta api Argo Bromo, karena kereta api akan sampai di Surabaya pada pukul 04.00 pagi, maka saya hubungi teman saya yang kost dekat kantor untuk dapat istirahat sambil menunggu jam kantor. Seperti biasa saya sampai di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya harus dinas ke Surabaya, dari kantor saya mendapat tiket kereta api Argo Bromo, karena kereta api akan sampai di Surabaya pada pukul 04.00 pagi, maka saya hubungi teman saya yang kost dekat kantor untuk dapat istirahat sambil menunggu jam kantor. Seperti biasa saya sampai di kost teman saya jam 04.45, saya langsung menuju ke kamar teman saya di lantai II, untungnya terdapat dipan tambahan yang dapat saya pakai untuk istirahat. Saya langsung tidur lagi karena sangat ngantuk dan saya baru ke kantor nanti siang setelah istirahat makan. Jam 09.00 saya baru bangun, teman saya sudah tidak ada lagi di kamarnya berangkat kerja, juga teman kostnya yang lain. Lalu saya turun ke lantai I untuk mandi, karena kebetulan kamar mandi di lantai II lagi rusak dan masih dibetulkan. Selesai mandi (hanya menggunakan handuk dililitkan di badan) saya keluar dari kamar mandi menuju lantai II. Pada saat mau naik tangga saya dipanggil ibu kost teman saya, “Mas, itu sudah disiapkan kopinya, silakan langsung di minum, mumpung masih hangat”, ibu kost teman saya itu umurnya kira-kira 30 tahun lebih sedikit, langsung saja saya menuju ke meja makan yang dimaksud dan duduk untuk minum kopi yang sudah disediakan. Ibu kost itu juga menemani saya di meja makan minum kopi. Sambil mijit-mijit pundaknya ibu kost bertanya. + “Kopinya cukup manis nggak Mas?” -”Sudah kok bu, pas banget, tetapi ibu kok kelihatan sakit?” + “Iya nich pundak ibu agak sakit”, -”Biasa dipijit nggak bu?” + “Iya sich, tapi pembantu ibu lagi ke pasar.” -”Kalau mau saya bisa bantuin pijit sebentar bu supaya bisa agak baikan?” “Boleh.” Lalu saya pijat pundaknya sebentar, kelihatannya sich nggak terlalu banyak masalah dengan pundaknya. Dia bilang: + “Wah nikmat juga ya pijatan Mas ini, sebenarnya pinggang ibu juga agak keseleo sedikit”, + “Ibu mau dipijitin pinggangnya, tapi kalau pijit pinggang harus sambil tidur karena posisinya susah kalau sambil berdiri.” + “Boleh saja kalau Mas nggak keberatan kita ke kamar ibu saja ya?” -”Yuuk.” Sambil saya ikuti langkahnya menuju kamar dia. Sampai di kamar langsung saja dia tidur tengkurap di tengah tempat tidur, saya jadi bingung bagaimana caranya mijit dia, rupanya dia mengerti kebingungan saya dia bilang “Mas langsung saja naik di tempat tidur dan pijitin ibu, kalau butuh body lotion itu ada di meja rias ibu.” Saya ambil body lotion yang dimaksud dan menuju ke tempat tidurnya sambil saya bilang “Bu, bajunya tolong di buka bagian atasnya supaya saya bisa pijit pinggang ibu.” Langsung dia bangun lagi dari tempat tidurnya dan melepas dasternya ternyata di balik dasternya itu sudah tidak ada apa-apa lagi alias bugil. Saya hanya bisa bengong saja melihat pemandangan yang aduhai ini, bodinya termasuk lumayan bagus, dengan payudaranya yang tidak terlalu besar dan putingnya yang tegak menantang berwarna coklat kemerahan, dan bulunya yang di potong pendek dan rapi berbentuk segitiga, dan pantatnya yang aduhai bentuknya, walaupun wajahnya tidak terlalu cantik, tetapi bodinya yang yahud bikin tegang penis saya. Sampai jakun saya naik turun melihat pemandangan tersebut. Dia tersenyum saja melihat saya bengong melihati dia. + “Mass, jangan bengong achh, cepet bantuin ibu.” + “Mas, cepet saja tuh handuk di lepas, lihat tuch yang di dalam sudah pingin nongol lihat temennya”, karena saya hanya pakai handuk yang dililitkan tentu saja penis saya yang sudah tegang berat nongol dari lilitan dan kelihatan penis saya. Melihat saya masih bengong saja, dia dekati saya sambil menarik lilitan handuk saya, begitu handuk saya lepas penis saya langsung mengacung. + “Mas, gede juga ya penisnya”, sambil dipijit-pijit dengan lembut dan dia jilati penis saya dan sekali-sekali memasukkan penis saya ke mulutnya sampai 1/2 nya, saya sudah nggak bisa mikir apa-apa lagi karena rasanya nikmat banget, saya sudah nggak sabar lagi saya raih payudaranya dengan dua tangan, dan saya angkat badannya yang masih jongkok ke ranjang. Langsung saya ciumi bibirnya yang langsung tanggap dengan mengeluarkan lidahnya, saya mainkan lidahnya dengan lidah saya sambil tangan saya bergerilya memegang payudaranya, dan tangannya rupanya tidak mau kalah, karena dia juga memegang penis saya sambil di urut-urut. Lalu saya putar posisi 69, saya ciumi mulai dari bibirnya, terus turun ke payudaranya, waktu saya jilat pentilnya yang sudah keras dia juga jilat pentil saya, rasanya nikmat sekali. Terus saya turun ke pusarnya, dan pelan-pelan menyusuri kakinya yang sudah celentang, saya jilati dari pusar sampai ke pahanya dan pelan-pelan balik lagi ke bulunya yang rapi dan ke paha satunya lagi dan kembali ke vaginanya yang sudah basah. Saya nggak mendengarkan desahannya karena dia juga melakukan yang sama untuk saya, dia jilat habis penis saya sampai ke zakar dengan sedikit di gigit-gigit, rasanya nikmat banget, lama juga saya lakukan 69 itu. + “Mass, shh, shh, udach acchh, nggak kuat lagi, masukin dong, achh.” Saya langsung balik badan dan arahkan penis saya ke vaginanya yang sudah basah, bless, terasa hangat dan licin, langsung saya kocok keras-keras penis saya. Terdengar ritihannya lagi + “Mass, shh, shh aduhh, achh”, saya lihat mukanya makin memerah dengan sedikit mengerut di dahinya, rupanya dia menahan kenikmatan yang dialami. Kemudian dia berhenti goyang dan mendorong badan saya dan dibalik, rupanya dia ingin main di atas. Sambil goyang-goyang dia pegang payudaranya yang berayun-ayun seirama dengan goyangannya, tiba-tiba dia sorongkan payudaranya ke muka saya. + “Mass, diisep dong”, rupanya dia mau klimaks, saya hisap payudaranya sambil saya remas yang satunya, gerakan dia lebih menggila lagi sambil mendesah-desah “Sshh, scchh, aduhh, acchh”, lalu dia memeluk saya “Mass, aku keluar acchh”, saya peluk dia sambil mencium pipinya, lalu saya cabut penis saya yang basah kena cairannya, karena saya belum selesai dan dia sudah kelelahan saya sikat dia dari belakang dengan doggy style, pelan-pelan saya masukan dan keluarkan penis saya, sampai hampir keluar semua, rupanya gerakan saya yang panjang-panjang ini juga dinikmati olehnya, karena saya dengar desahannya “Shh, shh, achh, achh”, nggak lama kemudian saya juga keluar “sruut, srruut sruut,sruut”, nggak pakai tanya saya keluarkan saja di dalam habis nikmat. Setelah itu saya rebahan di ranjangnya. Kemudian mandi lagi bersamanya. Sejak itu saya jadi senang kalau di tugaskan ke Surabaya oleh kantor. Sekarang ini saya lagi siap-siap guna nanti malam berangkat ke Surabaya lagi dan saya sudah telepon dia untuk siap-siap manuver lagi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/ibu-kost.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bu henny dan temannya</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bu-henny-dan-temannya.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bu-henny-dan-temannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:21:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Telah sebulan lamanya Andi, seorang pemuda tampan rupawan, berkenalan dengan wanita paruh baya berumur empat puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri seorang pejabat teras pemerintah pusat di Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di sebuah department store di kawasan Senen dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi dengan tidak sengaja menolong Bu Henny waktu wanita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah sebulan lamanya Andi, seorang pemuda tampan rupawan, berkenalan dengan wanita paruh baya berumur empat puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri seorang pejabat teras pemerintah pusat di Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di sebuah department store di kawasan Senen dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi dengan tidak sengaja menolong Bu Henny waktu wanita itu mencari sesuatu yang terjatuh dari tas tangan yang dibawanya. Dari pertemuan itulah kemudian keduanya memulai hubungan teman yang kini berkembang menjadi lebih erat, perselingkuhan!</p>
<p>Pemuda lajang yang berwajah tampan itu telah membuat Bu Henny jatuh hati hingga tak dihiraukannya lagi status dirinya sebagai istri seorang pejabat. Ditambah dengan kebiasaan buruk dan kondisi keluarganya yang memang penuh pertengkaran akibat suami yang doyan menyeleweng seperti layaknya kebiasaan para pejabat pemerintah yang tak pernah lepas dari perihal korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku seks yang selama ini selalu diarahkan pada generasi muda sebagai kambing hitam.</p>
<p>Pertemuan pertama yang begitu mengesankan bagi kedua orang itu telah membawa mereka mengarungi petualangan demi petualangan cinta yang dari hari ke hari semakin membuat mereka mabuk asmara. Kencan-kencan rahasia yang selalu mereka lakukan di saat suami Bu Henny melakukan tugas ke luar negeri telah menjadi sebuah jadwal rutin bagi keduanya untuk semakin mendekatkan diri. Nafsu seksual Bu Henny yang meledak-ledak dan terpendam, menemukan tempat yang begitu ia impikan semenjak bertemu pemuda itu. Sebagai pemuda lajang yang juga masih memiliki keinginan libido seksual yang tinggi, Andipun tak kalah menikmatinya.</p>
<p>Bu Henny seperti memberi semua yang pemuda itu dambakan. Kepuasan seksual yang ia peroleh dari hubungannya dengan istri pejabat itu benar-benar telah membuat hidupnya bahagia. Dendam pribadinya sebagai anak muda yang merasa sangat tertipu oleh para pejabat negara seperti terlampiaskan dengan melakukan perselingkuhan itu. Ditambah lagi dengan pesona tubuh Bu Henny yang sangat ia sukai. Sesuai dengan seleranya yang suka pada tubuh montok ibu-ibu dengan postur tubuh bahenol dan payudara besar seperti yang dimiliki wanita itu benar-benar pas seperti seleranya.</p>
<p>Postur tubuh Bu Henny yang bongsor dengan pantat, pinggul dan buah dada yang besar memang telah membuat Andi menjadi gila seks hingga dalam setiap hubungan badan yang mereka lakukan keduanya selalu menemukan kepuasan seks yang hebat. Apalagi dengan bentuk kemaluan yang besar dan sangat panjang dari Andi semakin membuat Bu Henny tak pernah puas dan selalu haus dengan hubungan seksual mereka. Kemaluan Andi yang besar dan panjang serta kemampuannya menaklukkan nafsu kewanitaan Bu Henny hingga wanita itu harus bangkit lagi untuk mengimbangi permainan Andi telah melahirkan gairah yang selalu membara pada diri wanita itu. Tak bosan-bosannya mereka melakukan persetubuhan dimana mereka merasa aman dan nyaman. Hari-hari kedua insan yang mabuk kepuasan seks itupun berjalan lancar dan penuh kenikmatan.</p>
<p>Bulan November tahun 1996, Andi meminta cuti selama satu minggu. Pemuda tampan itu telah sebulan sebelumnya merencanakan untuk menghabiskan liburan di sebuah pulau kecil lepas pantai Bali. Perusahaan tempat ia bekerja memberinya tiket gratis untuknya. Sementara di lain tempat, suami Bu Henny mendapat tugas ke luar negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang. Hingga saat Andi mengatakan rencananya pada wanita itu Bu Henny langsung menyambutnya dengan penuh suka cita. Dengan gemas ia membayangkan apa yang akan mereka lakukan di pulau kecil itu. Dengan kemewahan hotel berbintang lima yang eksklusif, tak tertahankan rasanya untuk segera melakukan hal itu. Benaknya kian dipenuhi bayangan kebebasan seks yang akan ia tumpahkan bersama Andi.</p>
<p>Tiba saatnya mereka berangkat ke Bali, keduanya bertemu di airport dan langsung berpelukan mesra sepanjang perjalanan. Tak terasa penerbangan satu jam lebih itu telah membawa mereka sampai di tujuan. Bagaikan sepasang pengantin baru keduanya begitu mesra hingga feri yang membawa mereka menuju pulau Nusa Lembongan itu telah merapat di sebuah dermaga kecil tepat di depan hotel tempat mereka menginap. Keduanya langsung menuju lobby dan melakukan prosedur check in. Tergesa-gesa mereka masuk ke sebuah bangunan villa yang telah dipesan Bu Henny dan langsung menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur. Dengan nafas yang terdengar turun naik itu keduanya langsung bergumul dan saling mengecup. Bibir mereka saling memagut disertai rabaan telapak tangan ke arah bagian-bagian vital tubuh mereka. Saat tangan Bu Henny meraba punggung Andi, pemuda itu dengan perlahan melepaskan kancing gaun terusan yang dikenakan Bu Henny hingga gaun itu terlepas dari tubuhnya.</p>
<p>Kini tampak tubuh putih mulus dan bahenol itu terbuka. Dadanya yang membusung ke depan dengan buah payudara yang besar masih dilapisi BH putih berenda itu terlihat semakin menantang dan membuat nafsu Andi semakin tak tertahan. Disingkapnya BH itu kebawah hingga buah dada Bu Henny tersembul dihadapannya. Bibir Andi langsung menyambut dengan kecupan.<br />
&#8220;aahh&#8230;, hhmm&#8221;, desah Bu Henny, kecupan Andi membuatnya merasakan kenikmatan khas dari mulut pemuda itu saat Andi mulai menyedot putingnya.</p>
<p>Perempuan itu terus mendesah sambil berusaha melepaskan celana yang dikenakan Andi, setelah berhasil melepaskan celana panjang itu tangan Bu Henny langsung meraih batang penis Andi yang telah tegang mengeras. Dirabanya lembut sambil mengusap-usap kepala penis yang begitu disukainya itu.<br />
&#8220;ooohh&#8230;, Bu&#8230;, ooohh&#8221;, kini desahan Andi terdengar menimpali desahan Bu Henny, kecupan pemuda itupun kini menuju ke arah bawah dada Bu Henny yang terus-menerus mendesah menahan nikmatnya permainan lidah Andi yang terasa menari di permukaan kulitnya. Perlahan pemuda itu menuju ke daerah bawah pusar Bu Henny yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari sekitar daerah kemaluannya. Dengan pasrah Bu Henny mengangkang membuka pahanya lebar untuk memberi jalan pada Andi yang semakin asik itu. Jari tangan pemuda itu kini menyibak belahan kemaluan Bu Henny yang menantang, dan dengan penuh nafsu ia mulai menjilati bagian dalam dinding vagina wanita paruh baya itu. Andi tampak begitu buas menyedot-nyedot clitoris diantara belahan vagina itu sehingga Bu Henny semakin tampak terengah-engah merasakannya.</p>
<p>&#8220;uuuhh&#8230;, uuuhh&#8230;, uuuhh&#8230;, ooohh&#8230;, ooohh&#8230;, teruuusss sedooot sayaang&#8230;, ooohh pintaar kamu Andi&#8230;, ooohh&#8221;, kini terdengar Bu Henny setengah berteriak.<br />
Andi semakin terlihat bersemangat mendengar teriakan nyaring Bu Henny yang begitu menggairahkan. Seluruh bagian dalam dinding vagina yang berwarna kemerahan itu dijilatnya habis sambil sesekali tangannya bergerak meraih susu Bu Henny yang montok itu, dengan gemas ia meremas-remasnya. Kenikmatan itupun semakin membuat Bu Henny menjadi liar dan semakin tampak tak dapat menguasai diri. Wanita itu kini membalik arah tubuhnya menjadi berlawanan dengan Andi, hingga terjadilah adegan yang lebih seru lagi.</p>
<p>Kedua insan itu kini saling meraih kemaluan lawannya, Andi menjilati liang vagina Bu Henny sementara itu Bu Henny menyedot buah penis pemuda itu keluar masuk mulutnya. Ukuran penis yang besar dan panjang itu membuat mulutnya penuh sesak. Ia begitu menyenangi bentuknya yang besar, penis yang selalu membuatnya haus. Buah penis itulah yang selama ini dapat memuaskan nafsu birahinya yang selalu membara. Dibanding milik suaminya tentulah ukuran penis Andi jauh lebih besar, penis suaminya tak lebih dari satu perlima ukuran penis pemuda itu. Ditambah lagi dengan kemampuan Andi yang sanggup bertahan berjam-jam sedang suaminya paling hanya dapat membuat wanita itu ngos-ngosan. Sungguh suatu kepuasan yang belum pernah ia rasakan dari siapapun seumur hidupnya selain dari Andi.</p>
<p>Belasan menit sudah mereka saling mempermainkan kemaluan masing-masing membuat keduanya merasa semakin ingin melanjutkan indehoy itu ketahap yang lebih hebat. Bu Henny bahkan tak sadar bahwa ia belum melepas sepatu putih yang dikenakannya dalam perjalanan.</p>
<p>Nafsu mereka yang telah tak tertahankan itu membuat keduanya seperti tak peduli akan hal-hal lain. Bu Henny kini langsung menunggangi Andi dengan arah membelakangi pemuda itu. Digenggamnya sejenak penis Andi yang sudah tegang dan siap bermain dalam vaginanya itu, lalu dengan penuh perasaan wanita itu menempelkannya di permukaan liang vaginanya yang telah basah dan licin, dan &#8220;Sreeeppp bleeesss&#8221;, penis Andi menerobos masuk diiringi desahan keras dari mulut mereka yang merasakan nikmatnya awal senggama itu.</p>
<p>&#8220;ooo&#8230;, hh&#8230;&#8221;, teriak Bu Henny histeris seketika merasakan penis itu menerobos masuk ke liang vaginanya yang seakan terasa sangat sempit oleh ukuran penis pemuda itu.<br />
&#8220;aahh&#8230;, Buu&#8230;, enaakkk&#8221;, Balas Andi sambil mulai mengiringi goyangan pinggul Bu Henny yang mulai turun naik di atas pinggangnya. Matanya hanya menatap tubuh wanita itu dari belakang punggungnya. Tangan Andi meraih pinggang Bu Henny sambil membelainya seiring tubuh wanita itu yang bergerak liar di atas pinggang Andi.<br />
&#8220;Ohh Andi&#8230;, ooohh sayang&#8230;, enaaknya yah sayang ooohh&#8230;, ibu suka kamu sayang ooohh&#8230;, enaknya And&#8230;, penis kamu enaakkk&#8221;, desah Bu Henny sambil terus bergoyang menikmati penis Andi yang terasa semakin lezat saja. Andipun tak kalah senang menikmati goyangan wanita itu, mulutnya juga terdengar mendesah nikmat.<br />
&#8220;aauuu&#8230;, ooohh vagina ibu juga nikmat, oooh lezatnya oohh bu, ooohh goyang terus bu..&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sini tanganmu sayang remas susu ibu..&#8221;, tangan Bu Henny menarik tangan Andi menuju buah dadanya yang menggantung dan bergoyang mengikuti irama permainan mereka. Andi meraihnya dan langsung meremas-remas, sesekali puting susu itu dipilinnya. Bu Henny semakin histeris&#8221;,aauuu&#8230;, ooohh enaak, remeeess teruuus susu ibu Andi&#8230;, ooohh&#8230;, nikmat&#8230;, ooohh Andi&#8221;.<br />
&#8220;Ohh Bu Henny&#8230;, ooohh Bu enaknya goyang ibu ooohh terus goyang ooohh sampai pangkal bu ooohh&#8230;, tekan lagi ooohh angkat lagi ooohh&#8230;, mmhh ooohh vaginanya enaakkk bu ooohh&#8221;, teriak Andi mengiringinya, kamar villa yang luas itu kini penuh oleh teriakan nyaring dan desahan bernafsu dari kedua insan yang sedang meraih kepuasan seks secara maksimal itu. Bu Henny benar-benar seperti kuda betina liar yang baru lepas dari kandangnya. Gerakannya diatas tubuh Andi semakin liar dan cepat, menunjukkan tanda-tanda mengalami klimaks permainannya. Sementara itu Andi hanya tampak biasa saja, pemuda itu masih asik menikmani goyangan liar Bu Henny sambil meremasi payudara wanita itu bergiliran satu per satu.</p>
<p>Lima belas menit saja adagan itu berlangsung kini terlihat Bu Henny sudah tak dapat lagi menahan puncak kenikmatan hubungan seksual itu. Lalu dengan histeris wanita itu berteriak keras dan panjang mengakhiri permainannya.<br />
&#8220;ooouuu&#8230;, ooo&#8230;, aa&#8230;, iiihh&#8230;, ibu keluaarrr&#8230;, ooo&#8230;, nggak tahaann laagiii enaaknyaa Andi&#8230;, ooohh&#8221;, teriaknya panjang setelah menghempaskan pantatnya ke arah pinggang Andi yang membuat kepala penis pemuda itu terasa membentur dasar liang rahimnya, cairan kental yang sejak tadi ditahannya kini muncrat dari dalam rahim wanita itu dan memenuhi rongga vaginanya.</p>
<p>Sesaat Andi merasakan vagina Bu Henny menjepit nikmat lalu ia merasakan penisnya tersembur cairan kental dalam liang kemaluan wanita itu, vagina itu terasa berdenyut keras seiring tubuh Bu Henny yang mengejang sesaat lalu berbah lemas tak berdaya.<br />
&#8220;ooohh An, ibu nggak kuat lagi&#8230;, Istirahat dulu ya sayang?&#8221;, pintanya pada Andi sambil melepaskan gigitan vaginanya pada penis pemuda itu.<br />
&#8220;Baiklah Bu&#8221;, sahut Andi pendek, ia mencoba menahan birahinya yang masih membara itu sambil memeluk tubuh Bu Henny dengan mesra.</p>
<p>Penis pemuda itu masih tampak berdiri tegang dan keras. Dengan mesra dicumbunya kembali Bu Henny yang kini terkapar lemas itu. Andi kembali meraba belahan kemaluan Bu Henny yang masih basah oleh cairan kelaminnya, jarinya bermain mengutil titik kenikmatan di daerah vagina wanita itu. Bibirnyapun tak tinggal diam, ia kembali melanjutkan jilatannya pada sekitar puting susu Bu Henny. Sesekali diremasnya buah dada berukuran besar yang begitu disenanginya itu. Kemudian beberapa saat berlalu, Bu Henny menyuruhnya berjongkok tepat di atas belahan buah dada itu, lalu wanita itu meraih sebuah bantal untuk mengganjal kepalanya. Ia meraih batang penis Andi yang masih tegang dan mulai mengulumnya, tangan wanita itu kemudian meraih payudaranya sendiri dan membuat penis Andi terjepit diantaranya. Hal itu rupanya cukup nikmat bagi Andi sehingga ia kini mendongak menahan rasa lembut yang menjepit buah penisnya. Sementara itu tangan pemuda itu terus bermain di permukaan vagina Bu Henny, sesekali ia memasukkan jarinya ke dalam liang kemaluan itu dan mempermainkan clitorisnya sampai kemudian beberapa saat lamanya tampak Bu Henny mulai bangkit kembali.</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230;, Andi, kamu memang pintar sayang, kamu buat ibu puas dan nyerah, sekarang kamu buat ibu kepingin lagi, aduuuh benar-benar hebat kamu An&#8221;, puji Bu Henny pada Andi.<br />
&#8220;Saya rasa suasana ini yang membuat saya jadi begini Bu, saya begitu menikmatinya sekarang, nggak ada rasa takut, kuatir ketahuan suami ibu atau waswas. Ibu juga kelihatan semakin menggairahkan akhir-akhir ini, saya semakin suka sama badan ibu yang semakin montok&#8221;<br />
&#8220;Ah kamu bisa aja, An. Masa sih ibu montok, yang bener aja kamu&#8221;.<br />
&#8220;Bener lho, Bu. Saya begitu senang sama ibu belakangan ini, rasanya kenikmatan yang ibu berikan semakin hari semakin hebat saja&#8221;.<br />
&#8220;Mungkin ibu yang semakin bersemangat kalau lagi main sama kamu, gairah ibu seperti meledak-ledak kalau udah main sama kamu. Tapi, ayo dong kita mulai lagi, ibu jadi mau main lagi nih kamu bikin. iiih hebatnya kamu sayang&#8221;, kata Bu Henny sambil mengajak Andi kembali membuka permainan mereka yang kedua kali.</p>
<p>Masih di atas tempat tidur itu, kini Andi mengambil posisi di atas Bu Henny yang berbaring menghadapnya. Tubuhnya siap menindih tubuh Bu Henny yang bahenol itu. Perlahan tapi pasti Andi masuk dan mulai bergoyang penuh kemesraan. Di raihnya tubuh wanita itu sambil menggoyang penuh perasaan. Sepasang kemaluan itu kembali saling membagi kenikmatannya. Suara desahan khas mulai terdengar lagi dari mulut mereka, diiringi kata-kata rayuan penuh nikmat dan gairah cinta.</p>
<p>Kini Andi semakin garang meniduri wanita itu. Gerakannnya tetap santai namun genjotan pinggulnya pada tubuh Bu Henny tampak lebih bertenaga. Hempasan tubuh Andi yang kini turun naik di atas tubuh Bu Henny sampai menimbulkan suara decakan pada permukaan kemaluan mereka yang beradu itu. Bibir mereka saling pagut, kecupan disertai sedotan di leher keduanya semakin membuat suasana itu menjadi tegang dan menggairahkan. Teriakan-teriakan nyaring keluar dari mulut Bu Henny setiap kali Andi menekan pantatnya ke arah pinggul wanita itu.</p>
<p>Beberapa saat lamanya mereka lalu berganti gaya. Bu Henny menempatkan dirinya di atas tubuh Andi, dibiarkannya Andi menikmati kedua buah dadanya yang menggantung. Dengan leluasa kini pemuda itu menyedot puting susu itu secara bergiliran. Tak puas-puasnya Andi menikmati bentuknya yang besar itu, ia begitu tampak bersemangat sambil sebelah tangannya meraba punggung Bu Henny. Buah dada besar dan lembut nan mulus itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Andi yang bertubi-tubi di sekitar putingnya. Sementara Bu Henny kini asik bergoyang mempermainkan irama tubuhnya yang turun naik bergoyang ke kiri kanan untuk membagi kenikmatan dari kemaluan mereka yang sedang beradu. Penis Andi yang tegang dan keras itu seakan bagai batang kayu jati yang tak tergoyahkan. Sekuat wanita itu mendorong ke arah pinggul Andi sekuat itu pula getaran rasa nikmat yang diperolehnya dari pemuda itu.</p>
<p>&#8220;ooohh&#8230;,ooohh&#8230;, ooohh&#8230;, enaknya Andi&#8230;, ooohh enaknya penis kamu sayang&#8230;, ibu ketagihan&#8230;, oohh lezatnya&#8230;, aahh&#8230;, uuuhh&#8230;, sedooot teruuus susu ibu&#8230;, ooohh sayang ooohh&#8221;, desah Bu Henny bercampur jeritan menahan rasa nikmat dari goyang pinggulnya di atas tubuh Andi. Untuk kesekian kalinya sensasi kenikmatan rasa dari penis Andi yang besar dan panjang itu seperti bermain di dalam liang vaginanya. Liang kemaluan yang biasanya hanya merasakan sedikit geli saat bersenggama dengan suaminya itu kini seperti tak memiliki ruang lagi oleh ukuran penis pemuda itu. Seperti biasanya saat dalam keadaan tegang penuh, penis Andi memang menjadi sangat panjang hingga Bu Henny selalu merasakan penis itu sampai membentur dasar liang rahimnya yang paling dalam. Dan keperkasaan pemuda itu yang sanggup bertahan berjam-jam dalam melakukan hubungan seks itu kini kembali membuat Bu Henny untuk kedua kalinya mengalami ejakulasinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba dipercepat dan hempasan pinggulnya ke arah tubuh Andi yang semakin keras, wanita itu berteriak panjang mengakhiri ronde kedua permainannya.</p>
<p>&#8220;aahh&#8230;, ahh&#8230;, aa&#8230;, aahh&#8230;, ibu ke&#8230;, lu.., ar laagiii&#8230;, ooohh&#8230;, kuatnya kamu sayang ooohh&#8221;. jeritnya kembali mengakhiri permainan itu.&#8221;ooohh bu&#8230;, enaak ooohh vagina ibu nikmat jepitannya oooh hh&#8230;&#8221;, balas Andi sambil ikut menggenjot keras menambah kenikmatan puncak yang dialami bu Henny. Pemuda itu masih saja tegar bergoyang bahkan saat Bu Henny telah lemas tak sanggup menahan rasa nikmat yang berubah menjadi geli itu.<br />
&#8220;aawww&#8230;, geliii&#8230;, Andi stop dulu, ibu istirahat dulu sayang ohh gila kamu And, kok bisa kayak gini yah?&#8221;.<br />
&#8220;Habiiis ibu sih goyangnya nafsuan banget, jadi cepat keluar kan?&#8221;.<br />
&#8220;Nggak tahu ya An, ibu kok nafsunya gede banget belakangan ini, sejak ngerasain penis kamu ibu benar-benar mabuk kepayang&#8230;&#8221;, kata Bu Henny sambil menghempaskan tubuhnya di samping Andi yang masih saja tegar tak terkalahkan.<br />
&#8220;Sabar Bu, saya bangkitkan lagi deh..&#8221;, seru pemuda itu sekenanya.<br />
&#8220;Baiklah An, ibu juga mau bikin kamu puas sama pelayanan ibu, biar adil kan? Sini ibu karaoke penis kamu&#8230;, aduuuh jagoanku&#8230;, besar dan panjang ooohh&#8230;, hebatnya lagi&#8221;, lanjut Bu Henny sambil beranjak meraih batang kemaluan Andi yang masih tegang itu lalu memulai karaoke dengan memasukkan penis Andi ke mulutnya.</p>
<p>Andi kembali merasakan nikmat dari permainan yang dilakukan wanita itu dengan mulutnya, penis besarnya yang panjang dan masih tegang itu dikulum keluar masuk dengan buas oleh Bu Henny yang tampaknya telah sangat berpengalaman dalam melakukan hal itu. Sambil berlutut pemuda itu menikmatinya sembari meremas kedua buah payudara Bu Henny yang ranum itu. Telapak tangannya merasakan kelembutan buah dada nan ranum yang begitu ia sukai. Dari atas tampak olehnya wajah wanita paruh baya yang cantik itu dengan mulut penuh sesak oleh batang penisnya yang keluar masuk. Sesekali Bu Henny menyentuh kepala penis itu dengan giginya hingga menimbulkan sedikit rasa geli pada Andi.<br />
&#8220;Auuuww&#8230;, nikmat Bu sedot terus aahh, aduuuh enaknya&#8221;.<br />
&#8220;mm&#8230;, mm..&#8221;, Bu Henny hanya bisa menggumam akibat mulutnya yang penuh sesak oleh penis Andi.</p>
<p>Andi terlihat begitu menikmati detik demi detik permainannya, ia begitu menyenangi tubuh bongsor wanita yang berumur jauh lebih tua darinya itu. Nafsu birahinya pada wanita dewasa seperti Bu Henny memang sangat besar. Ia tak begitu menyenangi wanita yang lebih muda atau seumur dengannya. Andi beranggapan bahwa wanita dewasa seperti Bu Henny jauh lebih nikmat dalam bermain seks dibanding gadis ABG yang tak berpengalaman dalam melakukan hubungan seks. Setiap kali ia melakukan senggama dengan Bu Henny ia selalu merasakan kepuasan yang tiada duanya, wanita itu seperti sangat mengerti apa yang ia inginkan. Demikian pula Bu Henny, baginya Andi-lah satu-satunya pria yang sanggup membuatnya terkapar di ranjang. Tak seorangpun dari mantan kekasih gelapnya mampu membuat wanita itu meraih puncak kepuasan seperti yang ia dapatkan dari Andi.</p>
<p>Sepuluh menit sudah Andi di karaoke oleh Bu Henny. Kemudian kini mereka kembali mengatur posisi saat wanita itu kembali bangkit untuk yang ketiga kalinya. Ia yang telah terkapar dua kali berhasil dibangkitkan lagi oleh pemuda itu. Inilah letak keperkasaan Andi. Ia dapat membuat lawan mainnya terkapar beberapa kali sebelum ia sendiri meraih kepuasannya. Pemuda itu sanggup bermain dalam waktu dua jam penuh tanpa istirahat. Sejenak mereka bermain sambil berdiri, saling menggoyang pinggul, mirip sepasang penari samba. Namun kemudian dengan cepat mereka menuju kamar mandi dan masuk ke dalam bak air hangat yang luas, sembari mengisi bak rendam itu dengan air mereka melanjutkan permainannya di situ, mereka masuk ke dalam bak dan langsung mengatur posisi di mana Andi menempatkan diri dari belakang dan memasukkan penisnya dari arah pantat Bu Henny.</p>
<p>Adegan seru kembali terjadi, teriakan kecil menahan nikmat itu terdengar lagi dari mulut Bu Henny yang merasakan genjotan Andi yang semakin nikmat saja. Diiringi suara tumpahan air dari kran pengisi bath tube itu suasana menjadi semakin menggairahkan.<br />
&#8220;aahh&#8230;, nikmat An, aahh&#8230;, ooohh penis kamu sayang ooohh enaak, mmhh lezaatnya ooohh&#8230;, genjot yang lebih keras lagi dong&#8230;, ooohh enaak&#8221;, teriak Bu Henny sejadi-jadinya saat merasakan nikmat di liang vaginanya yang dimasuki penis pemuda itu. Andi juga kini tampak lebih menikmati permainannya, ia mulai merasakan kepekaan pada penisnya yang telah membuat Bu Henny menggapai puncak dua kali itu.<br />
&#8220;Ooohh&#8230;, Bu&#8230;, vagina ibu juga nikmat sekali&#8230;, ooohh saya mulai merasa sangat nikmat ooohh&#8230;, mmhh&#8230;, Bu ooohh, Bu Henny ooohh ibu cantik sekali ooohh&#8230;, saya merasa bebas sekali&#8221;, oceh mulut Andi menimpali teriakan gila dari Bu Henny yang juga semakin mabuk oleh nikmatnya goyang tubuh mereka.</p>
<p>Keduanya memang tampak liar dengan gerakan yang semakin tak terkendali. Beberapa kali mereka merubah gaya dengan beragam variasi seks yang sangat atraktif. Kadang di pinggiran bath tub itu Bu Henny duduk mengangkang dengan pahanya yang terbuka lebar sementara Andi berjongkok dari depannya sambil menggoyang maju mundur, mulutnya tak pernah lepas menghisap puting susu Bu Henny yang montok dan besar itu. Bunyi decakan cairan kelamin yang membeceki daerah pangkal kemaluan yang sedang beradu itupun kini terdengar bergericik seiring pertemuan kemaluan mereka yang beradu keras oleh hempasan pinggul Andi yang menghantam pangkal paha Bu Henny.</p>
<p>&#8220;Aduuuhh Annndiii&#8230;, enaaknya goyang kamu sayang ooohh&#8230;, teruuus&#8230;, aahh genjot yang keraass&#8230;, ooohh sampai puaasss&#8230;, hhmm enaakk sayangg&#8230;, mmhh nikmaatttnya&#8230;, ooohh&#8230;, enaknya genjotan kamu&#8230;, ooohh&#8230;, Andi sayang oooh kamu pintar sekali ooohh ibu nggak mau berhenti sama kamu&#8230;, ooohh.., jagonya kamu sayang ooohh genjot terus yang keras&#8221;.<br />
&#8220;Ohh Bu Henny, ibu juga punya tubuh yang nikmat, nggak mungkin saya bosan sama ibu, ooohh&#8230;, apalagi susu ini&#8230;, ooohh mm&#8230;, enaknya&#8230;, baru sekali ini saya ketemu wanita cantik manis dengan tubuh yang begitu aduhai seperti ibu, oooh Bu Henny&#8230;, goyang ibu juga nikmat sekali oooh meski ibu sudah punya anak tapi vagina ini rasanya nikmat sekali bu, ooohh susu ibu juga mm&#8230;, susu yang paling indah yang pernah saya lihat&#8230;, auuuhh enaaknya vagina ini&#8230;, ooohh&#8230;, penis saya mulai sedikit peka bu&#8221;, balas Andi memuji wanita itu.</p>
<p>Keduanya terus saling menggoyang sambil memuji kelebihan masing-masing, ocehan mereka berkisar pada kenikmatan seks yang sedang mereka alami saat ini. Andi memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Bu Henny, sedang wanita itu tak henti-hentinya memuji keperkasaan dan kenikmatan yang ia dapatkan dari Andi. Beberapa saat berlalu, mereka kembali merubah variasi gayanya menjadi gaya anjing, Bu Henny menunggingkan pantatnya ke arah Andi lalu pemuda itu menusukkan kemaluannya dari arah belakang. Terjadilah adegan yang sangat panas saat Andi dengan gerakan yang cepat dan goyang pinggul yang keras memnghantam ke arah pantat Bu Henny. Wanita itu kini menjerit lebih keras, demikian pula dengan Andi yang saat ini mulai merasakan akan menggapai klimaks permainannya.</p>
<p>&#8220;ooohh&#8230;, ooohh&#8230;, ooohh&#8230;, aauuuhh&#8230;, ennnaakkk&#8230;, An.. Di sayang&#8230;, genjooot&#8230;, ibu mau keluaar lagii&#8230;, ooohh&#8230;, nggaak tahan lagi sayang&#8230;, nikmaat ooohh&#8221;, jerit nyaring Bu Henny yang ternyata juga sedang mengalami ejakulasi, vaginanya merasakan puncak kenikmatan itu seperti sudah diambang rahimnya. Ia masih mencoba untuk bertahan.</p>
<p>Demikian halnya dengan Andi yang kini sedang mempercepat gerakan pinggulnya menghantam pantat Bu Henny untuk meraih kenikmatan maksimal dari dinding vagina wanita itu. Kepala penisnyapun mulai berdenyut menandakan puncak permainannya akan segera tiba. Buru-buru diraihnya tubuh Bu Henny sambil membalikkan arahnya menjadi berhadapan, lalu kemudian ia mengangkat sebelah kaki wanita itu ke atas dan dengan gesit memasukkan buah penisnya kembali ke liang vagina Bu Henny.</p>
<p>&#8220;oooh Bu, saya juga mau keluar. Kita pakai gaya ini yah?! Saya mau keluarkan sekarang juga&#8230;, aauuuhh Bu Henny sayang&#8230;, ooohh&#8230;, enaakkk&#8230;, ooohh&#8230;, vagina ibu njepit&#8230;, enaak&#8221;, teriak Andi diambang puncak kenikmatannya, ia begitu kuat merasakan cairan sperma yang sudah siap meluncur dari penisnya yang dalam keadaan puncak ketegangannya itu. Kemaluannya terasa membesar sehingga vagina Bu Henny terasa makin sempit dan nikmat. Wanita itupun merasakan hal yang tak kalah nikmatnya, vaginanya seakan sedang merasakan nikmat yang super hebat dan membuat wanita itu tak dapat lagi menahan keluarnya cairan kelamin dari arah rahimnya.</p>
<p>&#8220;ooohh&#8230;, aahh&#8230;, ibu keeeluuuaarrr laagii&#8230;, aahh enaakkk&#8230;, Andiii&#8221;, teriak Bu Henny mengakhiri permainannya, disaat bersamaan Andi juga mengalami hal yang sama. Pemuda itu tak dapat lagi menahan luncuran cairan spermanya, hingga penisnya pun menyemprotkan cairan itu ke dalam rongga vagina Bu Henny dan membuatnya penuh, dinding vagina itu seketika berubah menjadi sangat licin akibat dipenuhi cairan kelamin kedua manusia itu. Andi tampak tak kalah seru menikmati puncak permainannya, ia berteriak sekeras-kerasnya.<br />
&#8220;aahh&#8230;, saya keluaarr juga Bu Henny ooohh&#8230;, ooohh&#8230;, air mani saya masuk ke dalam vagina ibu&#8230;, ooohh&#8230;, lezaat&#8230;, ooohh Bu Henny sayaanng&#8230;, ooohh Bu Henny&#8230;, enaak&#8221;, jeritnya sambil mendekap wanita itu dengan keras dan meresapi sembuaran spermanya dalam jumlah yang sangat banyak. Cairan putih kental itu sampai keluar meluber ke permukaan vagina Bu Henny.</p>
<p>Akhirnya kedua insan itu ambruk dan saling mendekap dalam kolam air hangat yang sudah penuh itu. Mereka berendam dan kini saling membersihkan tubuh yang sudah lemas akibat permainan seks yang begitu hebat. Mereka terus saling mencumbu dan merayu dengan penuh kemesraan.<br />
&#8220;Andi sayang&#8230;&#8221;, panggil Bu Henny.<br />
&#8220;Ya, bu&#8221;.<br />
&#8220;Kamu mau kan terus main sama ibu?&#8221;.<br />
&#8220;Maksud ibu?&#8221;.<br />
&#8220;Maksud ibu, kamu mau kan terus kencan gini sama ibu?&#8221;.<br />
&#8220;Oh itu, yah jelas dong bu, masa sih saya mau ninggalin wanita secantik ibu&#8221;, jawab Andi sambil memberikan kecupan di pipi Bu Henny.<br />
&#8220;Ibu pingin terus bisa menikmati permainan ini, nggak ada yang bisa memuaskan birahi ibu selain kamu. Suami ibu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Dulu sebelumnya ibu juga pernah pacaran sama pegawai bawahan suami ibu tapi ah mereka sama saja, hanya nafsu saja yang besar, tapi kalau sudah main kaya ayam, baru lima menit sudah keluar&#8221;.<br />
&#8220;Yah saya maklum saja bu, tapi ibu jangan kuatir. Saya akan terus menuruti kemauan ibu, saya juga senang kok main sama ibu. Dari semua wanita yang pernah saya kencani cuma Ibu deh rasanya yang paling hebat bergoyang. Bentuk tubuh Ibu juga saya paling suka, apalagi kalau yang ini nih..&#8221;, kata Andi sambil memilin puting susu Bu Henny.<br />
&#8220;Auuuw&#8230;, Andi! geliii aahh&#8230;, ibu udah nggak tahan&#8230;, nanti lagi ah&#8221;, jerit Bu Henny merasakan geli saat Andi memilin puting susunya.</p>
<p>Keduanya terus bercumbu rayu hingga saat beberapa puluh menit kemudian mereka mengeringkan badan lalu beranjak menuju tempat tidur. Di sana lalu mereka saling dekap dan hanyut dalam buaian kantuk akibat kelelahan setelah permaian seks yang hebat itu. Merekapun tertidur lelap beberapa saat kemudian. Masih dalam keadaan telanjang bulat keduanya terlelap dalam dekapan mesra mereka. Dua jam lamanya mereka tertidur sampai saat senja tiba mereka terbangun dan langsung memesan makan malam di kamar.</p>
<p>Hari pertama itu Andi dan Bu Henny benar-benar seperti gila seks. Permainan demi permainan mereka lakukan tanpa mengenal berhenti. Saat malam tiba keduanya kembali melampiaskan nafsu birahi mereka sepuas-puasnya. Klimaks demi klimaks mereka raih, sudah tak terkira puncak kenikmatan yang telah mereka lalui malam itu. Dengan hanya diselingi istirahat beberapa belas menit saja mereka kembali lagi melakukannya. Dari pukul delapan malam sampai menjelang jam empat pagi mereka dengan gila mengumbar nafsu seks mereka di villa yang luas itu. Berbagai macam obat kuat dan ekstasi mereka minum untuk memperkuat tenaganya. Minuman keras mereka tegak sampai mabuk untuk menyelingi permainan itu. Televisi yang ada di kamar itupun mereka putarkan Laser Disc porno yang telah mereka siapkan dari Jakarta, sambil melihat adegan seks di TV itu mereka menirukan semua gerakannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bu-henny-dan-temannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siang Guru, Malam Pelacur</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/siang-guru-malam-pelacur.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/siang-guru-malam-pelacur.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Aneh seorang guru yang mengajarkan norma dan aturan sosial kepada murid-muridnya, bagaimana bisa menjadi seorang pelacur yang jelas-jelas menentang semua norma yang ia ajarkan, apakah karena alasan ekonomi atau masalah kebutuhan akan seks yang menyebabkan ini terjadi mari kita ikuti kisah berikut ini. Juni Rosa permepuan berumur 31 tahun mempunyai pekerjaan sebagai seorang guru di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aneh seorang guru yang mengajarkan norma dan aturan sosial kepada murid-muridnya, bagaimana bisa menjadi seorang pelacur yang jelas-jelas menentang semua norma yang ia ajarkan, apakah karena alasan ekonomi atau masalah kebutuhan akan seks yang menyebabkan ini terjadi mari kita ikuti kisah berikut ini.</p>
<p>Juni Rosa permepuan berumur 31 tahun mempunyai pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah swasta ternama di Surabaya. Rosa telah menikah dengan pria bernama Suhendra yang pekerjaannya adalah teknisi di pengeboran minyak lepas pantai milik perusahaan asing yang hanya bisa pulang 5-6 bulan sekali.</p>
<p>Rosa bertekad memulai profesinya sebagai High Class Call Girl saat ia tahu melihat bukti bahwa suaminya main belakang, selama bekerja di lepas pantai Suhendra suka membawa gadis-gadis nakal. Hal ini ia ketahui dari teman suaminya yang mempunyai dendam terhadapa suaminya, teman suaminya itu menunjukan beberapa foto hasil jepretannya sendiri yang berisikan foto suaminya sedang memluk dan mencium mesra gadis-gadis nakal.</p>
<p>Rosa memulai kariernya di bidang pelacuran kelas tinggi dengan memasang sebuah iklan di koran, begini bunyi iklannya &#8220;Massage Maria, cantik dan berpengalaman menerima panggilan hub. 0812160700X &#8220;, dengan nama samaran Maria maka dimulailah petualangan terlarang Bu guru kita ini.</p>
<p>SMS mulai mengalir ke handphone Rosa yang berisikan panggilan panggilan tapi ada juga SMS yang berisikan kalimat-kalimat porno, Rosa tidak menanggapi semua SMS itu karena hal itu akan membuang waktu saja begitu juga dengan percakapan dengan calon-calon kliennya semua gagal mencapai kata sepakat. Karena harga yang ditetapkan oleh Rosa sangat tinggi yaitu 1,5 juta sekali datang, tentu saja jarang yang berani memboking Rosa.</p>
<p>Sampai suatu saat ada panggilan HP yang masuk saat ia mengajar di kelasnya<br />
&#8220;Permisi anak-anak ibu mau terima telpon dulu jangan ramai ya!&#8221;kemudian Rosa berjalan keluar kelas dan menerima panggilan itu.<br />
&#8220;Hallo Maria? &#8221; terdengar suara berat seorang lelaki0<br />
&#8220;Ya dengan siapa Pak? &#8221;<br />
&#8220;Berapa tarif kamu semalam? &#8221;<br />
&#8220;1,5 juta bayar di muka, tidak kurang dari itu &#8221;<br />
&#8220;Ok done deal, kita ketemu di Kafe Bon Ami, Darmo Selatan jam 18.30 nanti malam sampai disana langsung miss call aku ya bye ..tut tut tut&#8221;</p>
<p>Dalam hati Rosa merasa berdebar dan aneh karena ini adalah pertama kalinya ia akan mendapatkan panggilan serius dan anehnya orang tersebut tidak menawar harga yang ia ajukan, Rosa termenung memikirkan telepon yang baru saja ia terima sampai seorang muridnya menegur<br />
&#8220;Bu, Ibu sakit ya? &#8221; tanya seorang muridnya<br />
&#8220;Oh nggak apa-apa kok, ayo masuk lagi&#8221; sambil memegang pundak muridnya</p>
<p>Setelah selesai mengajar Rosa segera pulang dan mempersiapkan diri, ia mandi dan berdandan secantik mungkin tapi tidak menor, dengan mengenakan gaun malam warna hitam yang anggun, Rosa berangkat ke Bon Ami menggunakan taksi.<br />
Rasa berdebar semakin menjadi saat ia memasuki kafe dan dengan tangan sedikit gemetar ia memanggil no. HP lelaki yang tadi siang menelponnya segera saja terdengar bunyi handphone di pojok ruangan yang rupanya sengaja di taruh di atas meja oleh pemiliknya.</p>
<p>Mata Rosa memandang ke arah sumber bunyi tersebut dan melihat lelaki berumur 45 tahun keturunan cina dengan pakaian necis dan berkacamata minus yang melambaikan tangan seolah olah sudah mengenal dirinya<br />
&#8220;Hi Maria, silahkan duduk disini &#8221;<br />
Ujar lelaki itu sambil berdiri menjabat tangan Maria yang tak lain adalah nama samaran Rosa.</p>
<p>&#8220;Ok kita makan dulu atau langsung pergi nih? &#8221; tanya lelaki itu.<br />
&#8220;Kita bisa langsung pergi setelah pembayaran di lakukan &#8221; ujar Rosa ketus<br />
&#8220;Wow santai saja non jangan takut ini aku bayar sekarang &#8221;<br />
Sebuah amplop coklat disodorkan dan langsung di buka dan dihitung oleh Rosa<br />
&#8220;Ok 1,5 juta kita berangkat, omong omong nama bapak siapa &#8221; tanya Rosa<br />
&#8220;Teman-teman memanggil aku A Cun, yuk berangkat &#8221;<br />
A Cun menggandeng tangan Rosa dengan mesra seperti istrinya sendiri.</p>
<p>Dengan menggunakan mercy new eyes, A Cun membawa Rosa meninggalkan kafe dengan santai tapi pasti mobil dibawa menuju ke arah daerah perumahan elit di daerah Dharmahusada. Ketika sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi A Cun membunyikan klaksonnya, pagar besi itu terbuka secara otomatis meskipun tidak tampak orang di halaman rumah mewah itu, setelah mobil masuk sampai di teras rumah seseorang dengan seragam batik berlari kecil menghampiri mobil.<br />
&#8220;Selamat datang Koh A Cun &#8220;sambil membukakan pintu mobil.<br />
&#8220;Yang lainnya sudah pada kumpul toh, Yok? &#8221; tanya Koh A Cun pada lelaki berseragam itu<br />
&#8220;Sudah Pak, silahkan Pak &#8221; kata petugas yang bernama Yoyok ini .</p>
<p>Mobil A Cun segera dibawa untuk di parkir oleh yoyok yang rupanya bertugas sebagai valet service. Acun dan Rosa langsung masuk ke dalam rumah mewah itu<br />
&#8220;Ini rumah Koh A Cun &#8221; tanya Rosa kagum melihat ruang tamu yang besar dan dipenuhi barang mewah<br />
&#8220;Oh bukan, ini rumah perkumpulan semacam klub bagi kami untuk melepas kepenatan&#8221; ucap Koh Acun seraya membuka pintu ruang tengah yang di dalamnya berisi 3 orang lelaki dan 3 perempuan.</p>
<p>Di ruangan itu tersedia 5 kasur king size, 2 meja biliard, 3 set sofa mewah dan sebuah mini bar yang tertata apik serasi dengan ruang yang relatif besar itu, dari suasana ruangan sudah dapat diperkirakan bahwa ruangan ini sering di pakai sebagai ajang maksiat .<br />
&#8220;Hoi Cun, lama sekali kamu, dapet barang baru ya?&#8221; tanya seorang lelaki cina berumur 56 tahun yang di panggil Koh A Liong.<br />
&#8220;Ah nggak enak ah ngomong gitu di depan orang &#8221; elak A Cun<br />
&#8220;Koh A Cun, mending kamu kasih Mbak ini buat aku saja, kamu pake saja salah satu SPG yang aku bawa&#8221; ucap lelaki berbadan gemuk besar dan berkulit sawo matang yang dipanggil dengan panggilan Pak Angkoro.</p>
<p>A Cun mengamati SPG yang ditawarkan padanya, diantara tiga SPG itu ada satu yang paling menarik hatinya yaitu Lyvia Go. SPG berumur 21 tahun berdarah cina dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg berwajah mirip Ineke, dengan penampilannya yang mengenakan rok super mini dengan atasan kemeja ketat nan tipis membuat A Cun tak mampu menolak tawaran Pak Angkoro<br />
&#8220;Ok deh, Pak Angkoro boleh ambil Maria, saya pinjam Lyvia &#8221; sahut acun sambil langsung menarik pinggang Lyvia dan mereka berdua melakukan deep kissing yang sangat panas sampai terdengar lenguhan lenguhan nafas mereka.</p>
<p>Lyvia yang diciumi dengan ganas segera membalas ciuman itu sambil membuka kancing kemejanya yang seakan tak muat menampung payudaranya yang montok. Dengan rakus Koh A Cun memelorotkan BH Lyvia dan menghisap puting berwarna coklat muda itu, sambil bercumbu tangan Koh Acun bergerak melingkar pinggang Lyvia dan melepas kait rok mini dan meloloskan rok itu turun sehingga kini Lyvia Go hanya mengenakan BH yang sudah tidak menutupi payudaranya dan sebuah celana dalam berwana putih berenda tipis yang sangat seksi sekali melekat di tubuhnya yang putih bak mutiara.</p>
<p>Dengan sekali angkat tubuh Lyvia Go dibawa Koh ACun menuju ranjang terdekat, lalu menelentangkannya sambil meloloskan celana dalam seksi itu dari tempatnya sehingga tampaklah kemaluan Lyvia yang sudah dicukur bersih, tanpa membuang waktu A Cun segera menjilat dan menusuk nusukkan lidahnya ke dalam vagina Lyvia yang diikuti dengan erangan nikmat dari Lyvia.</p>
<p>&#8220;Ahh, aduh enak Koh, dasyat aargh &#8221;<br />
&#8220;Enak ya Go? Kamu sudah berapa kali ngeseks selama jadi SPG &#8221; tanya A Cun sambil mengocok vagina Lyvia dengan dua jari sambil terkadang menggosok kelentit mungil itu dengan jempolnya.<br />
&#8220;Ini yang ke tu..juh aah hi hi hi aduh geli Koh &#8221;<br />
&#8220;Yang pertama ama siapa &#8221; selidik A Cun mencari cari daerah g-spot dengan ujung jarinya<br />
&#8220;Yang pertamaa, aduh yah yah aauh disitu Koh enak, yang pertama sama Pak Angkoro di WC showroom aah&#8221;</p>
<p>Untuk mengakhiri pemanasan ini maka A Cun menempelkan lidahnya di kelentit Lyvia, kemudian menggeleng-gelengkan dan memutar-mutar kepalanya dengan lidah tetap menempel di kelentit. Menerima rangsangan dasyat itu tubuh Lyvia melengkung bagai busur panah yang siap melesatkan anak panahnya.<br />
&#8220;Aduh Koh A Cun, aargh masukin sekarang Koh jangan siksa aku lebih lama lagi hm? &#8220;.</p>
<p>Melihat Lyvia sudah terangsang berat maka Koh A Cun segera menghentikan permainan oralnya dan melepas bajunya sendiri dengan cepat, Lyvia yang melihat Koh A Cun melepas bajunya kagum melihat badan Koh Acun yang berotot, dadanya yang bidang dan perutnya yang terbagi 8 kotak sangat seksi di mata Lyvia yang biasanya melayani Pak Angkoro yang gendut. Semakin bernafsu untuk segera bersetubuh maka Lyvia Go membantu melepas celana Koh A Cun dan betapa kagetnya Lyvia Go ketika celana itu merosot langsung nongol benda sepanjang 16.5 cm (wah ternyata Koh A Cun tidak pakai celana dalam loh, tapi dengan tidak memakai celana dalam juga sangat baik bagi kesuburan pria kata Pak dokter).</p>
<p>Dengan posisi kaki yang di buka lebar lebar, Lyvia menanti Koh Acun sambil tangan kanannya menggosok gosok klitorisnya sendiri, Koh Acun mengambil posisi di tengah tengah kaki Lyvia yang terbuka lebar dan mengarahkan penisnya di muka pintu gerbang kewanitaan Lyvia<br />
&#8220;Aku masukin ya Lyv?&#8221;<br />
&#8220;Sini kubantu Koh &#8221; Lyvia memegang penis A Cun dan mengarahkannya ke liang senggamanya<br />
&#8220;Seret banget ya Lyv, jadi susah masuk nih&#8221;<br />
&#8220;Koh jangan bercanda melulu ah, kapan masuknya?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah nih rasain Lyv&#8221;<br />
&#8220;Aauh aah aah pelan dikit Koh &#8221;<br />
Akhirnya pelan tapi selamat, penis Koh A Cun amblas ke dalam vagina Lyvia dan permainan kuda kudaan khusus dewasapun dimulai, Koh A Cun memaju mundurkan pantatnya dengan tempo sedang sambil memegang kedua betis Lyvia sebagai tumpuan tangannya .</p>
<p>Beralih ke ibu guru kita yaitu Rosa Maria yang cuma bengong melihat permainan permainan liar di sekelilingnya.<br />
&#8220;Wah suasananya panas ya? &#8221; Pak Angkoro menegur Rosa Maria yang bengong<br />
&#8220;Ah nggak juga Pak, kan ada AC&#8221; balas Rosa risih<br />
&#8220;Nggak panas gimana, coba kamu lihat orang orang itu pada telanjang ngapain coba?&#8221;<br />
&#8220;Eeng eeng gimana ya Pak &#8221;<br />
&#8220;Eng eng eng apa, ayo lepas bajumu, kamukan sudah di bayar toh? &#8221;<br />
Rosa merasa harga dirinya diinjak-injak, di dalam hati Rosa Maria berkata &#8220;Aku adalah seorang guru yang dihormati dan disegani oleh anak didik dan rekan sekerjaku kenapa demi dendam pada suami aku harus menjerumuskan diriku ke dalam lembah nista tapi sudah terlambat&#8221;, air mata mulai menetes di pipi Rosa.</p>
<p>&#8220;Wah, kok malah nangis iki piye? Waduh!!&#8221; Pak Angkoro mengelus-elus perutnya yang besar karena bingung.<br />
&#8220;Nggak Pak, ayo kita mulai aja permainan ini &#8221; Rosa mengusap air matanya.<br />
&#8220;Ya gitu dong, itu baru semangat profesional jangan nangis lagi ya &#8221;<br />
Rosa membuka gaun malamnya dengan pedih dan rasa hampa, demikian juga Pak Angkoro beliau membuka seluruh pakaiannya memperlihatkan tubuhnya yang gemuk dan hitam.</p>
<p>&#8220;Sini Ros, bapak akan membuat kamu melayang layang &#8221; pangil Pak Angkoro<br />
Rosa yang masih malu dan canggung menutup tubuhnya yang bugil dengan tangannya sedapat mungkin sambil melangkah ke arah Pak Angkoro<br />
&#8220;Wah kok malu malu gitu, jangan kuatir Ros bapak nggak akan kasar kasar sama kamu &#8220;, Pak Angkoro memandang tubuh Rosa dari atas ke bawah. Jakunnya naik turun memandang tubuh Rosa yang menggiurkan, kulitnya yang kuning langsat bagai kulit putri kraton meskipun tidak seputih Lyvia tapi pancaran erotik dari mata Rosa bagai sinar pancasona pusaka tanah jawa. Dan cara gerak Rosa Maria sungguh membangkitkan gairah, keayuan khas gadis jawa terpancar dari setiap lekuk tubuhnya dan terutama payudaranya yang berwarna kuning gading sungguh mengundang birahi lelaki manapun yang melihatnya.</p>
<p>Dengan lembut Pak Angkoro meletakan kedua telapak tangannya di atas payudara Rosa dan mulai memijat lembut sambil perlahan ia melekatkan bibirnya ke bibir Rosa yang sensual di lumatnya bibir Rosa, semakin lama semakin panas sampai kedua tubuh itu seolah menjadi satu, Pak Angkoro melingkarkan tangannya ke pinggang Rosa dan menariknya sampai lekat pada tubuhnya dan mencumbu Rosa dengan penuh nafsu. Dihisap dan dimasukannya lidahnya kedalam relung relung mulut Rosa sehingga mau tak mau Rosa membalas pagutan-pagutan liar itu.</p>
<p>Hasrat kewanitan Rosa benar-benar dibangkitkan oleh Pak Angkoro yang berlaku seperti kuda jantan dan mendominasi seriap permainan ini. Rosa mulai merasakan hawa panas naik dari dadanya ke ubun-ubun yang membuat Rosa semakin tak berdaya melawan hawa maksiat yang begitu kental dalam ruangan ini sehingga akhirnya Rosapun terlarut dalam hawa maksiat itu.</p>
<p>&#8220;Ros aku minta dioral dong &#8221; sambil menyodorkan penis hitamnya yang berdiameter 5 cm dengan panjang 14 cm.<br />
&#8220;Nggak ah Pak, jijik saya! ih! &#8221;<br />
&#8220;Wah kamu kudu profesional Ros, kalau kerja jangan setengah-setengah gitu dong, gini aja kamu tak oral kalau sampai kamu orgasme berarti kamu kudu ngoral aku yah? &#8221;<br />
Belum sempat Rosa menjawab Pak Angkoro telah menyelusupkan kepala diselangkangan Rosa dan mulai melancarkan segala jurus simpanannya mulai dari jilat, tusuk sampai jurus blender yang memnyapu rata seluruh dinding permukaan vagina Rosa sehingga dalam waktu 7 menit Rosa sudah di buat kejang-kejang.<br />
&#8220;Oooh Pak oouh oh pa..ak&#8221; Rosa meregangkan ototnya sampai batas maksimal.<br />
&#8220;Tuh kamu udah orgasme, nggak bisa bohong sekarang giliranmu&#8221; ucap Pak Angkoro senang</p>
<p>Pak Angkoro menarik kepala Rosa dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang penisnya sendiri sambil mengocok ringan, setelah mulut Rosa dalam jangkauan tembak Pak Angkoro segera menjejalkan penisnya ke dalam mulut Rosa<br />
&#8220;Ayo dong Rosa&#8221; Pak Angkoro menyuapkan penisnya seperti menyuapkan makanan pada anak kecil, setelah penisnya berada dalam mulut Rosa maka dengan menjambak rambut Rosa Pak Angkoro memaju mundurkan kepala Rosa<br />
&#8220;Ehm ehm Pak Angko.. ehm ehm&#8221; Rosa berusaha berbicara tapi malah tersenggal senggal<br />
&#8220;Udah diam aja deh Ros jangan banyak bicara emut!&#8221;</p>
<p>Setelah lima menit berjalan Rosa akhirnya secara mandiri mengulum ujung penis Pak Angkoro, sementara tangannya mengocok dengan kasar pangkal penis Pak Angkoro.<br />
&#8220;Yes gitu Ros, wah kamu lebih hebat dari istriku loh, mau gak kamu jadi gundikku?&#8221; Pak Angkoro berbicara ngawur karena keenakan dioral Rosa. Merasa jenuh dengan permainan oral akhirnya Rosa meminta untuk bercinta.<br />
&#8220;Udahan dong Pak, kita ngesks yang bener aja ya?&#8221; tanya Rosa dengan halus<br />
&#8220;Ok, kamu yang minta loh&#8221;</p>
<p>Pak Angkoro menarik Rosa yang tadinya mengoral dia dalam posisi jongkok menuju meja biliard dan menyuruh Rosa menumpukan kedua tangannya menghadap meja bilirad sementara Pak Angkoro yang berada di belakang Rosa mengatur posisi sodokan perdananya.<br />
&#8220;Ros nungging dikit dong, ya gitu sip!&#8221; Pak Angkoro mengelus pantat Rosa yang bahenol kemudian mengarahkan senjatanya ke vagina Rosa.<br />
&#8220;Aaouh Pak Angkoro, pelan Pak sakit penisnya bapak sih kegedean &#8221; ucap Rosa setengah meledek.<br />
&#8220;Wah kamu itu muji apa menghina Ros? mungkin vaginamu yang kekecilan Ros&#8221; Pak Angkoro membalas ejekan rosa dengan menarik pinggul Rosa ke belakang secara cepat maka amblaslah seluruh penis Pak Angkoro.<br />
&#8220;Auuw gede banget, aauw aah &#8221; Rosa mulai menggoyang pinggulnya berusaha menyeimbangi goyangan Pak Angkoro</p>
<p>Pak Angkoro membenamkan penisnya dalam-dalam dengan menarik pinggul Rosa kebelakang, dengan penis masih tertancap di vagina Rosa kemudian Pak Angkoro memutar pinggulnya membentuk lingkaran sehingga penis yang didalam vagina Rosa menggencet dan menggesek setiap syaraf syaraf nikmat di dinding vagina .<br />
&#8220;Aauh, Rosa keluar ahh&#8221; Rosa mengalami orgasme yang menyebabkan setiap otot di tubuh Rosa mengencang sehingga tubuhnya kelojotan tidak terkendali.<br />
&#8220;Loh Ros, kok sudah KO, belum 10 menit kok udah orgasme wah ini kalau cowok namanya edi, ejakulasi dini kalau kamu berarti menderita odi orgasme dini, ayo terusin sampai aku keluar juga &#8221;<br />
Pak Angkoro mengganti posisi bersenggama dengan mengangkat tubuh Rosa dan menidurkannya di meja biliard. Kemudian kaki rosa dibentangkan oleh Pak angkoro lebar-lebar dan dengan kekuatan penuh penis besar itu menerjang mendobrak pintu kewanitaan Rosa, sampai-sampai klitorisnya ikut tertarik masuk, Rosa yang masih dalam keadaan orgasme makin menggila menerima sodokan itu sehingga secara refleks rosa mencakar bahu Pak angkoro.</p>
<p>&#8220;Oouchh Rosa kamu ini apa-apaan sih, kok main cakar-cakaran segala?&#8221;<br />
&#8220;Oouh aash sorry, abis rosa nggak tahan sih ama sodokannya Mas yang begitu perkasa&#8221; bujuk rosa agar Pak angkoro tidak marah.<br />
&#8220;Jangan cakar lagi ya, kalo tidak rasain ini&#8221; Pak Angkoro menggigit puting Rosa dengan lembut tapi sedikit menyakitkan.<br />
&#8220;Aauw nakal deh&#8221; ucap rosa sambil menggoyangkan pinggulnya sendiri agar penis Pak Angkoro tetap menggesek dinding vaginanya.</p>
<p>Dalam waktu singkat Rosa yang mula-mula seorang guru telah berevolusi menjadi pelacur kelas tinggi yang benar benar profesional baik dari kebinalan maupun ucapannya, semua sudah berubah Rosa kini benar benar seorang pelacur sejati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/siang-guru-malam-pelacur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permainan istriku ketika di pijat</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/permainan-istriku-ketika-di-pijat.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/permainan-istriku-ketika-di-pijat.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/permainan-istriku-ketika-di-pijat.html</guid>
		<description><![CDATA[Sudah sekitar 2 bln terakhir ini gw sering berfantasi yg mungkin bs dibilang nakal. Yakni merasa lbh horny jk melihat istri gw ML sm cowok lain. Ya.., mungkin krn khdpn seks yg monoton. Seiring dengan berjalannya waktu gw berhasrat ingin mencoba merealisasikan fantasi gw tsb. Istri gw tergolong alim &#38; pemalu. Pernah gw pancing ide [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah sekitar 2 bln terakhir ini gw sering berfantasi yg mungkin bs dibilang nakal. Yakni merasa lbh horny jk melihat istri gw ML sm cowok lain. Ya.., mungkin krn khdpn seks yg monoton. Seiring dengan berjalannya waktu gw berhasrat ingin mencoba merealisasikan fantasi gw tsb.</p>
<p>Istri gw tergolong alim &amp; pemalu. Pernah gw pancing ide gila ini sewaktu sedang ML dengannya. Walhasil&#8230; doâ€™i marah bro.</p>
<p>Hingga suatu hari muncul ide yg mnrt gw cocok untuk merealisasikan fantasi gw tsb.</p>
<p>Awalnya gini, untuk menjaga kebugaran &amp; vitalitas tubuhnya, istri gw sering dipijat. Tp selama ini yg mijat adl ibu2x tua. Ya.., namanya juga tukang pijat beneran.</p>
<p>Sedikit info ttg istri gw, usianya 29 th, tingginya 165cm, ukrn bra 36B. Kulit kuning langsat. Facenya sepintas spt Dina Lorenza.</p>
<p>Kejadian ini berawal ketika suatu hr gw pernah baca iklan dikoran tentang pijat refleksi. Bermodalkan info tsb, lalu gw ketempat pemijatan tsb. Singkat cerita, setelah mendapatkan info yg gw butuhkan, akhirnya gw membuat janji dgn pengurus panti pijat tsb mengenai kapan, siapa yang yg memijat &amp; dipijat, kategori pemijatan &amp; tempatnya.</p>
<p>Di hari &amp; tempat yg telah dipersiapkan, sekarang gw tinggal menunggu waktunya sj. â€œJam berapa Mas pijatnya?â€ tanya F istri gw. â€œJam 9â€. â€œKok ga suruh Bi Tika sj sih yg pijat. Kayaâ€™ biasanya?â€ â€œPijat yg satu ini lain. Namanya juga refleksi. Bukan spt pijat urut biasa. Tp fungsi utamanya utk merelekskan otot2x yg kaku. Bahkan bs menyembuhkan penyakit tertentu jika rutinâ€.</p>
<p>Tepat jm 9 lwt 10 menit sang pemijat pun datang.</p>
<p>â€œMalam Mas T. Maaf sy sdkt terlambat.â€ â€œNdak apa2x. Kebetulan anak2x sdh tidur, jadi ga ada yg ganggu. Maklum msh kecil2x.â€</p>
<p>Setelah perkenalan sejenak dgn istri gw, lalu acara pemijatan pun dimulai.</p>
<p>Sengaja gw pilih ruang kamar tidur khusus tamu dlm proses pemijatan kali ini. Karena sebelumnya gw sdh memasang hidden cam di salah sudut kmr tsb. Jd nanti gw bs leluasa memantau seluruh isi ruangan.</p>
<p>â€œBisa dimulai skrng Mbak Fâ€ tanya A kepada istri gw. Sdkt info lagi, pemijat yg gw pilih memang usianya lebh muda 3 th dr istri gw. Dan face-nya pun lumayan ganteng. Kulitnya kuning, tinggi sktr 170 cm.</p>
<p>Istri gw berbaring telungkup diranjang yg memang khusus utk 1 orang. Dia hanya berbalut kain tp msh menggunakan bra &amp; cd.</p>
<p>A memulai aksinya. Pijatan dimulai dari telapak kaki. Gw memperhatikan dgn seksama setiap gerakannya.<br />
â€œKalo terasa sakit, bilang ya Mbak,â€ ucap B kepada istri gw. â€œIya,â€ jwb F singkat.<br />
Sambil memijat B berusaha bersikap sopan baik dlm berbicara maupun bertindak. Dan untuk mencairkan suasana, kami bertiga pun terlibat perbincangan ringan.</p>
<p>Hampir 10 menit berlalu, tahap pemijatan berhenti didaerah lipatan dengkul. Kemudian B beralih ke punggung.</p>
<p>â€œMaaf Mbak F, sy buka bra-nya ya. Soalnya mau diberi minyak?â€ Dengan posisi kepala yg miring, Istri gw melirik kearah gw. Dan gw pun mengangguk pelan. â€œBuka sj A, biar nggak mengganggu,â€ jwb gw.</p>
<p>F mulai kelihatan rileks. Dan dia mulai menikmati pijatan B didaerah punggungnya.</p>
<p>â€œAku ke WC dulu Ma, udah kebelet nich,â€ kata gw pura2x. Padahal disinilah awal fantasi gw bermulai. Lalu gw meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.</p>
<p>Keluar dr kamar gw tdk menuju ke WC melainkan ke ruang tamu sambil menghidupkan alat perekam dr hidden cam yang sdh gw pasang.</p>
<p>Video receiver &amp; recorder yg gw beli cukup kecil tp lumayan canggih. Selain kualitas gambar yg cukup bgs, alat ini juga dilengkapi dgn audionya.</p>
<p>Sungguh pemandangan yg bs bikin horny melihat istri gw disentuh &amp; diraba oleh pria lain. Apalagi ketika A minta izin istri gw utk menurunkan sdkt cd-nya krn akan memijat daerah pantat.</p>
<p>Gw semakin horny ketika melihat aksi A yang agak menekan-nekan jarinya didaerah pangkal tulang ekor pantat istri gw. Dan istri gw pun kelihatannya semakin rileks dan menikmati setiap sentuhan &amp; pijatan A.</p>
<p>Gw mengambil inisiatif utk cari alasan keluar rumah supaya mereka bisa lebih leluasa. Dgn berpura-pura keluar dr WC, gw msk lagi kedalam kamar.</p>
<p>Pemandangan yang indah. Kini cd F sudah berada di daerah dengkulnya. Meskipun pantatnya tertutup kain.</p>
<p>â€œMa., aku keluar sebentar mau beli nasi goreng. Mama mau nggak?â€ Istri gw hanya menjawab dgn gelengan pelan dengan mata yg terpejam.</p>
<p>Kelihatannya dia sudah benar2x rileks. Lalu gw pun keluar dgn menghidupkan motor. Dan berlalu.</p>
<p>Beberapa meter dr rumah, gw mematikan mesin. Lalu gw kembali lg kerumah. Dan masuk lewat pintu belakang yg sengaja tdk gw kunci. Dari dlm dapur, gw mulai menonton aksi A.</p>
<p>Pemandangan yg gw lihat semakin indah. Kini cd F sudah terlepas dari tubuhnya. Samar-samar gw bisa mendengar percakapan mereka krn gw sengaja mengecilkan volume audionya.<br />
A sekarang memijat bagian paha F. Ketika kamera zoom-nya diperbesar, gw dpt melihat dgn jelas ada sesuatu yang menonjol dibalik training A.</p>
<p>â€œJika terasa sakit, bilang ya Mbak.â€ F hanya mengangguk pelan. Tangan A semakin naik keatas pangkal paha F. Terlihat jelas posisi F yang mulai berubah. Dia mungkin sdng menahan geli atau juga merasakan sensasi tertentu ketika jari2x A terkadang dengan sengaja menyentuh vaginanya.</p>
<p>Posisi kaki F sekarang tidak serapat pada saat mulainya pemijatan. Sedikit demi sedikit mulai melebar baik sengaja atau pun karena akibat pijatan A yg membuatnya bergeser.</p>
<p>â€œEnak Mbak F?â€ Istriku hanya terdiam. Mungkin karena agak malu.<br />
â€œMas T beli nasi gorengnya di mana mbak?â€ â€œDi daerah Lâ€ balas F.</p>
<p>Jarak tempuh dr rumah ku ke daerah L sekitar 15 menit PP. Proses pemesanan kira2x 15 menit. Jadi ada wktu 30 menit. Mungkin itu yg ada dalam benak A.</p>
<p>A menuangkan sedikit minyak di atas bongkahan pantat F. Dan mulai memijat lembut lalu turun kearah anus F. Mendapat sentuhan itu F secara reflek menggoyangkan pantatnya.</p>
<p>A merasa mendapat angin segar. Tampak sekali A berusaha merangsang F dgn sentuhan2xnya baik didaerah anus maupun daerah vagina F. Dan sekarang tanpa malu2x lagi bahkan lebih intensif. F istri gw pun tampak semakin menikmatinya.</p>
<p>Suasana horny didalm ruangan gw ganggu sejenak dgn bunyi sms yg sengaja gw kirim ke F yg beritanya bahwa ban motor gw bocor. Jadi mungkin agak lama br bs kembali kerumah.</p>
<p>Jawaban yg gw terima sedikit mengejutkan. â€œIya&#8230;, ndak apa2x. Sebentar lagi pijatannya udah selesaiâ€. Setelah mengirimkan sms, A melanjutkan lagi pemijatannya.</p>
<p>Kali ini di mulai memijat daerah leher. A berdiri tepat di atas kepala F yang sekarang kepalanya disuruh menghadap sejajar ranjang.</p>
<p>Dengan memijat2x lembut sesekali tangan A mengelus punggung F. Dengan posisi mata tetap terpejam, F nampak sekali menikmati setiap sensasi yang dirasakannya.</p>
<p>Tangan kiri memijat lembut pangkal leher F dan tiba2x tangan kanannya mengelus dan mengusap vagina F yang menurut gw pasti sudah sangat basah.</p>
<p>â€œAch&#8230;., ach.., terdengar desahan F. â€œNikmati saja mbakâ€ ucap A sambil mulai memasukan jarinya kedalam vagina F. â€œHmm&#8230;, ackh&#8230;.â€ Nafas F semakin tidak teratur.</p>
<p>Lalu.., A menarik tangan kanannya dan tiba2x mengeluarkan kontolnya. Kini pemandangan yg kulihat benar2x dahsyat. Dengan posisi berdiri diatas kepala F, kontol A berada tepat dihadapan mulut F. Meskipun F belum menyadarinya karena sedari tadi matanya terpejam. Setelah itu, A memainkan kembali tangannya di daerah vagina F.</p>
<p>â€œMbak.., tolong buka matanya,â€ pinta A. Lalu perlahan F membuka matanya. F sempat kaget mendapati ada sebuah torpedo yang mengacung tegak dan jelas lebih besar &amp; panjang dari punya gw berada tepat didepan mulutnya.</p>
<p>Dengan nafas sedikit memburu, tanpa diperintah, dengan perlahan F mulai mencium dan menjilat kontol A. A memajukan sedikit posisi berdirinya agar F dapat dengan mudah memasukan kontolnya kedalam mulutnya.</p>
<p>Sungguh diluar dugaan gw. Ternyat F yg selama ini gw kenal agak sedikit berbeda. Dengan lembut F mulai mengulum &amp; menghisap batang kontol A. Mendapat perlakukan spt itu, A menyuruh F berbaring terlentang tanpa melepaskan kontolnya dari mulut F.</p>
<p>Lalu A mulai meraba dan menjilat toket F.<br />
Mereka melakukan aksi seperti itu sekitar 5 menit. â€œBoleh sy masukan mbak?â€<br />
F mengangguk pelan. â€œJawab dong mbak,â€ ucap A pelan sambil mulai mencium bibir F. Karena pengaruh libido yg sdh tidak terkendali, gw melihat F mulai bertindak diluar kendalinya.<br />
â€œBoleh,â€ ucap F lirih.</p>
<p>Kemudian A memposisikan kontolnya didepan vagina F. Dengan sekali dorongan halus, perlahan-lahan kontol A masuk kedalam memek F. â€œAacchhh&#8230;,â€ desah F.</p>
<p>A mulai memompa pantatnya secara perlahan. F yang dalam kendali birahi seolah-olah mengimbanginya.</p>
<p>Oohh., nikmat sekali memekmu mbak. Sempit sekali. Bagaimana kontolku mbak. Nikmat? Tanya A. â€œIya&#8230;,â€ â€œApanya mbak? Pancing A. â€œKontolmu nikmat. Besar &amp; panjang.â€ Nikmat mana dengan punya suamimu mbak?<br />
â€œEh&#8230;ackh.. nik..mat kontolmu.â€</p>
<p>â€œYeaach&#8230;, nikmatilah Mbak, nikmatilah kontolku.â€<br />
Uch&#8230;achk, Terdengar desahan F Istri gw.</p>
<p>â€œAgak cepat A. Genjot yg cepat. Ack&#8230;, yah&#8230;, genjot yg keras A.â€ Teriak F. â€œApanya yg digenjot Mbak?â€ Pancing A. â€œMemekku A. Genjot memekku.â€</p>
<p>â€œAa&#8230;.aaack&#8230;.., aku hampir sampai A. Terus&#8230;., yg cepat..â€ nafas F semakin memburu.<br />
Perkiraan gw sebentar lagi F pasti akan merasakan orgasmenya. Namun beberapa detik kemudian, ternyata A mencabut kontolnya dari vagina F.</p>
<p>â€œJangan dicabut A, please&#8230;, aku belum dapet. Please.., masukan lg kontolmu A. Aku mohon&#8230;,â€ pinta F.</p>
<p>â€œTenang aja mbak. Pasti aku masukan lagi. Tapi, kita ganti posisi dulu. Sekarang mbak nungging ya..? perintah A.<br />
Demi meraih orgasme dan karena dipengaruhi birahi yg tinggi, F istri gw seolah-olah melupakan statusnya sekarang.</p>
<p>Tanpa diperintah kedua kalinya, F langsung mengambil posisi menungging.<br />
Melihat lubang memek F yang menganga, A langsung mengarahkan kontolnya.<br />
Blezzz.., kontol A yang panjangnya ge perkirakan 20 cm langsung lenyap ditelan memek F istri gw.</p>
<p>â€œAckh&#8230;, pelan-pelan A,â€ erang F. Tapi A tdk menghiraukan ucapan F. Begitu kontolnya amblas, langsung digenjotnya cepat-cepat.</p>
<p>â€œOh.., yeach.., nikmat sekali memekmu F. Legit.â€<br />
Nafas F kian memburu mendapat perlakuan sedikit kasar dari A.<br />
â€œTerus.., genjot terus yang cepat. Ackh&#8230;, ackh&#8230;., oohhh..,â€ F kian meracau.</p>
<p>â€œSemakin cepat A. Aku udah mau sampe&#8230;, ackh..â€<br />
Mendengar ucapan F, A tiba-tiba langsung mencabut kontolnya dari lubang memek F.</p>
<p>â€œAduh.., please A jangan dicabut. Please&#8230;, masukan lagi,â€ terdengar suara F sedikit menghiba.</p>
<p>Lalu A membalikan tubuh F. Disuruhnya F mengangkang. Kemudian&#8230;, Blezzz, kontol A masuk lagi.</p>
<p>Sambil melumat bibir F, dengan genjotan berirama dan pelan A mulai memompa pantatnya.</p>
<p>Gw yang sedari tadi melihat kejadian ini, jadi ikut-ikutan ngos-ngosan menahan nafsu.<br />
Terus terang, gw jadi sangat horny melihat F istri gw di perlakukan sedemikian rupa oleh pria lain.</p>
<p>Hampir 5 menit berlalu, bibir F dan A masih tetap berpagutan, saling hisap dan menjilat. Dan mulai tampak tanda-tanda F akan segera orgasme.</p>
<p>Ciumannya semakin kuat. â€œAckh&#8230;., ackh&#8230;., mmph&#8230;, te..rrus.., agak cepat A.â€<br />
â€œMbak&#8230;F,â€ terdengar pelan suara A sambil mengurangi kecepatan genjotannya.<br />
â€œMbak F&#8230;., kaloâ€™ mbak pengen sampe, mbak F harus menuruti semua keinginan saya.â€</p>
<p>F terdiam sejenak. Birahinya mengalahkan akal sehatnya. Lalu mengangguk pelan.</p>
<p>â€œBaiklah&#8230;, saya akan buat mbak F orgasme dengan syarat mbak harus mau menelan sperma saya. Bagaimana mbak F ?â€ tanya A sambil tetap memompa pantatnya.</p>
<p>Gila.., batinku. F pasti tidak akan meu melakukan hal itu. Selama ini dia tidak pernah mau jika gw akan ejakulasi di mulutnya. Apalagi menelan sperma.</p>
<p>â€œTerserah kamu A. Yang penting sy bisa sampe. Puaskan sy sekarang A, please&#8230;â€ pinta F.<br />
Mendengra ucapan F, gw sempat terperanjat. Tapi gw juga penasara, apa betul f mau melakukan hal tersebut.</p>
<p>â€œBaiklah mbak.â€ Lalu A mulai menaikan kecepatan genjotannya. Sambil menjilat puting F.</p>
<p>â€œYeach&#8230;, terus A. Ter..russs., yang cepat A.â€<br />
â€œAckh&#8230;, nikmat sekali mbak memekmu. Ayo mbak&#8230;, ucapkan mbak kalo mbak mau menelan sperma sy. Katakan mbak,â€ perintah A.</p>
<p>â€œSaya mau sperma kamu A.â€ â€œMau apa mbak? Ucapkan yg jelas.â€<br />
â€œSaya mau menelan sperma kamu A.â€ â€œKamu haus&#8230;?â€ â€œIya&#8230;, A. Sy haus dan mau menelan perma kamu.â€</p>
<p>â€œTerus&#8230;., ohh&#8230;., nikmat sekali kontolmu A. Genjot yg cepat A. Sy udah mau sampe&#8230;., lebih cepat lagi A.â€<br />
â€œSaya akan memberikan orgasme terhebat yg belum pernah kamu rasakan mbak,â€ balas A.</p>
<p>Melihat tanda-tanda F akan segera klimaks&#8230;, â€œNah&#8230;, sekarang tahan nafasnya mbak,â€ perintah A.</p>
<p>F menuruti perintah A. Dia segera menahan nafasnya. â€œTahan terus mbak, jangan dikeluarkan dulu sampai mbak sampe,â€ perintah A lagi.</p>
<p>Beberapa detik kemudian&#8230;.<br />
â€œAaacchkkkk&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..,â€ teriak F. Sungguh pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Mata F terpejam begitu dia memperoleh orgasmenya. Nampak sekali dia merasakan suatu kenikmatan ML yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tubuhnya bahkan menegang keras berbarengan dengan orgasme yang diperolehnya.</p>
<p>Tidak lama setelah F orgasme, tiba-tiba A mencabut kontolnya. Dan mengarahkan ke mulut F.</p>
<p>Sambil mengocok kontolnya dengan cepat, â€œSekarang&#8230;, buka mulutnya mbak,â€ pinta A.</p>
<p>Dugaan gw meleset. Gw kira F tidak bakalan mau melakukan itu. Tapi yang gw lihat ternyata sungguh diluar dugaan. F menuruti perintah A.</p>
<p>â€œHisap kepala kontol sy mbak,â€ perintah A. Sambil mengocok dengan semakin cepat, A menghisap dengan kuat kepala kontol A.</p>
<p>â€œAa&#8230;.ackhh&#8230;.., ackh&#8230;., telan mbak. Telan semuanya.â€ â€œTanpa ragu F istri gw menuruti semua perintah A dengan menelan semua sperma A.</p>
<p>Setelah semua spermanya diperas keluar, perlahan A menarik keluar kontolnya dari mulut F.</p>
<p>â€œBagus mbak&#8230;, bagaimana rasanya ? Nikmat bukan. Sy yakin pasti mbak suka dengan rasa sperma sy. Karena saya bukan perokok.</p>
<p>F hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.</p>
<p>â€œOrgasme yg mbak alami tadi itu namanya A Little Death. Nikmat nggak?â€<br />
â€œIya&#8230;, sy belum pernah orgasme senikmat itu. Ini pengalaman yg luar biasa,â€ jawab istri gw.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak, lalu mereka pun berpakaian kembali. Dan gw segera pura-pura kembali dari membeli nasi goreng.</p>
<p>â€œOhh.., udh selesai mijatnya,â€ tanya gw pura-pura. â€œUdah Mas,â€ jwb A. Dan setelah ngobrol sebentar, lalu A berpamitan pulang.</p>
<p>â€œGimana Ma ? Enak nggak ?â€ pancing gw. â€œLumayanlah,â€ balas istri gw datar berusaha menutupi kejadian yg sebenarnya.</p>
<p>â€œKalo rutin tiap minggu mau nggak ?â€ pancing gw lagi. â€œTerserah Mas aja.â€</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/permainan-istriku-ketika-di-pijat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bu Chelsea,guru kesayanganku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bu-chelsea-guru-kesayanganku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bu-chelsea-guru-kesayanganku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:29:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Selmat pagi,Budi&#8221;,senyum Bu Chelsea dan sapaan ramahnya kembali menyambut kedatanganku,&#8221;Selamat pagi,Bu&#8221;,Bu Chelsea tersenyum dan berjalan ke ruang kelasku.Kuperhatikan pantat montoknya,membuat nafsuku bangkit,tubuh Bu Chelsea betul &#8211; betul menggairahkan,payudara 34B dengan lekuk tubuh yang bisa membuat 1 kelas laki &#8211; laki nafsu,Bu Chelsea adalah guru yang paling cantik menurutku,maklum,dia adalah yang termuda di antara semua guru,kira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Selmat pagi,Budi&#8221;,senyum Bu Chelsea dan sapaan ramahnya kembali menyambut kedatanganku,&#8221;Selamat pagi,Bu&#8221;,Bu Chelsea tersenyum dan berjalan ke ruang kelasku.Kuperhatikan pantat montoknya,membuat nafsuku bangkit,tubuh Bu Chelsea betul &#8211; betul menggairahkan,payudara 34B dengan lekuk tubuh yang bisa membuat 1 kelas laki &#8211; laki nafsu,Bu Chelsea adalah guru yang paling cantik menurutku,maklum,dia adalah yang termuda di antara semua guru,kira &#8211; kira umurnya 28 tahun,rambutnya panjang sebahu,dan dia memakai baju kemeja ketat,bila dia mengajar,tidak ada yang memperhatikan pelajaran,semua laki &#8211; laki hanya memperhatikan lekuk tubuhnya yang indah dan menggairahkan itu.</p>
<p>Akupun berlari kecil ke kelas,Bu Chelsea tampak duduk di belakang meja guru,akupun segera ke tempat dudukku,kuperhatikan Bu Chelsea,kulihat Bu Chelsea mempersiapkan pelajaran,Kringggg,bunyi bel pertanda pelajaran akan dimulai,Bu Chelsea segera berdiri,lalu pergi ke depan papan tulis,seperti biasa,banyak murid laki &#8211; laki yang menelan ludah melihat Bu Chelsea,begitupun aku.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi anak &#8211; anak&#8221;,&#8221;Selamat pagi,Bu&#8221;,seperti biasa,Bu Chelsea mulai mengajar,aku tak memperhatikan kata &#8211; katanya,hanya kuperhatikan payudara montoknya,selama dia mengajar,dia banyak menggoyangkan tubuhnya,sehingga payudara montoknya yang dibungkus kemeja ketat itu sungguh mendatangkan nafsu,apalagi saat dia menulis,terpampanglah pantat montoknya,ingih aku maju dan mereamasnya.Sayang hanya dua jam dia mengajar,guru lain datang dan pelajaran berganti,kujalani semua pelajaran dengan mengingat &#8211; ingat Bu Chelsea,******ku yang kayaknya susah untuk turun ini betul &#8211; betul menyiksaku,aku memikirkan cara untuk menyetubuhi Bu Chelsea.</p>
<p>Bel tanda pulang berbunyi,aku ke lantai dua,ke ruang bahasa inggris,aku tahu dia di ruang itu untuk mempersiapkan soal ulangan,tok,tok,tok,&#8221;Ya,masuk&#8221;,akupun masuk dengan deg &#8211; degan,&#8221;Oh,Budi,ada apa,Bud?&#8221;,&#8221;Eh,ini,Bu,ada pelajaran yang saya tak mengerti&#8221;,kusodorkan buku cetakku padanya,Bu Chelsea kelihatan betul &#8211; betul cantik,menaikkan nafsuku,dia menjelaskan padaku dengan ramah,aku sungguh tak tahan,&#8221;Bu&#8221;,&#8221;Ya,Bud?&#8221;,segera kumajukan kepalaku ke kepalanya,kucium bibirnya yang hangat,hhhmm,betul -betul nikmat,kulihat Bu Chelsea tampak terkejut dan mencoba melepaskan diri,dia meronta sekuat tenaga,akupun meremas payudaranya yang masih kencang itu,dia berusaha menolaknya,kucium terus bibirnya sambil tanganku meremas payudaranya.</p>
<p>Kudengar nafas Bu Chelsea mulai tak beraturan,mungkin dia sudah nafsu,kulepaskan ciumanku darinya,lalu tanganku membuka kancing kemejanya satu persatu,saat kancing ke-3 kubuka,dia berusaha menolak,&#8221;Jangan,Bud,saya sudah punya suami&#8221;,&#8221;Gak pa-pa,Bu&#8221;,kukulum bibirnya yang seksi itu lagi,kini rontahan Bu Chelsea sudah berkurang,dia membalas ciumanku dengan lembut,kulanjutkan membuka kemejanya,dia tak menolak,terlihatlah BH putihnya,segera kubuka kancing BHnya,lalu terlihatlah olehku payudaranya yang masih kencang dengan puting kecoklatan,kukulum putingnya dengan mulutku sambil tangan kananku meremas payudara mmontoknya itu.</p>
<p>Kini nafas Bu Chelsea sudah tak beraturan,dia membuka baju seragamku,lalu celanaku dan CDku,terlihatlah kejantanan milikku yang lumayan besar,Bu Chelsea mendorong kepalaku dengan lembut,lalu dia berlutut sambil mengulum ******ku,membuatku merasakan kenikmatan tiada tara,&#8221;Ssshh,Akhhh,Ahhh,enak,Bu&#8221;,Bu Chelsea masih bermain dengan ******ku,dia mengulum dan menjilatnya.</p>
<p>Kini kubuka rok hitam Bu Chelsea,lalu kubuka CDnya,terlihatlah olehku vagina Bu Chelsea yang masih merah meskipun sudah tak perawan dengan klitoris yang indah.Kini aku yang berjongkok,kujilati selangkangan Bu Chelsea sambil tangan kananku meremas payudaranya,kadang kutusukkan jariku pada lubang kenikmatan Bu Chelsea yang kini membuatnya memejamkan mata sambil mendesah,&#8221;Ehhhm,Bud,terus Bud,Ahhhh,ya,begitu Bud,kamu pintar memuaskan wanita&#8221;,termotivasi oleh kata &#8211; katanya,kini jilatanku semakin cepat,begitu pula dengan tusukan jariku,kurasakan vaginanya sudah sangat basah,&#8221;Ahhhhh,Bud,aku mau keluar&#8221;,keluarlah cairan hangat dari vagina Bu Chelsea.</p>
<p>Kini kunaikkan tubuh mungil Bu Chelsea ke atas meja,dia membalasnya dengan membuka kakinya lebar &#8211; lebar,dapat kulihat vaginanya dengan jelas,sungguh sangat indah,lebih indah dari vagina pacarku,&#8221;Ngapain kamu,Bud?Ayo cepat masukin,ibu sudah gak tahan,nih&#8221;,&#8221;Iya,Bu,yang sabar,Bu&#8221;.Segera kuarahkan ******ku pada lubang kenikmatannya,lalu kutusakkan dengan perlahan,lalu kumaju mundurkan dengan cepat,&#8221;Akkkhhh,Ehhhhm,ahhh,ssssh,terus,Bud,nikmat banget&#8221;,kini Bu Chelsea mendesah lebih cepat,masih kuteruskan memajumundurkan ******ku dalam vaginanya yang sangat indah itu,kurasakan ******ku dipijat oleh otot vagina Bu Chelsea.</p>
<p>Kurasakan sensasi yang luar biasa yang tak pernah kurasakan sebelumnya,&#8221;Ahhhh&#8221;ibu mau orgasme,keluarlah lagi cairan hangat yang menyiram ******ku,kini kucabut ******ku dari vagina Bu Chelsea,aku bersiap -siap ingin menusuk vaginanya lagi,Bu Chelsea mengangkat satu kakinya ke atas sehingga lubang vaginanya terbuka lebar,kuarahkan ******ku pada lubang vaginanya yang terbuka lebar itu,Bu Chelsea menaikkan kaki kirinya pada pundakku,lalu kutusukkan kembali,kumajumundurkan pantatku dengan cepat,&#8221;Akkhhh,pelan &#8211; pelan,Bud,ahhh&#8221;,kurasakan pijitan pada ******ku semakin nikmat,sungguh luar biasa vagina guruku ini&#8221;Ahhhh,terus,Bud,akhhh&#8221;,kulihat tubuh Bu Chelsea sudah dibasahi oleh keringat,begitu juga denganku.&#8221;akkkhhh,Bud,ibu mau keluar,blesss,kembali ******ku dibasahi oleh cairan hangat,kupejamkan mataku lalu ******ku mengeluarkan sperma di dalam vagina Bu Chelsea.</p>
<p>Kami sama &#8211; sama kelelahan,kami masih dalam keadaan telanjang berpelukan di atas meja,kusadari pintu terbuka oleh seseorang,aku lupa mengunci pintu,kami berdua kaget,dan masuklah seorang gadis,dia adalah Livia,pacarku,segera kulepas pelukanku dari Bu Chelsea,Livia menatap kami dengan kaget,air mata menetes di pipinya,dia segera berlari,keadaan betul &#8211; betul gawat.<br />
Bersambung / tamat?dilihat aja nanti,yah<br />
Tolong commentnya,ya?Thanks</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bu-chelsea-guru-kesayanganku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru wali kelas anakku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/guru-wali-kelas-anakku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/guru-wali-kelas-anakku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 05:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.</p>
<p>Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku.</p>
<p>Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana. Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.</p>
<p>Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama-sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku itu.</p>
<p>Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap-siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.</p>
<p>Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiap-siap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.</p>
<p>Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.</p>
<p>Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai &#8220;Seatbelt&#8221;, dia langsung jatuh kedalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan &#8216;bisnis&#8217;nya.</p>
<p>Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.</p>
<p>&#8220;Bu.. ada apa?&#8221; aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan-pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya.</p>
<p>Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku, &#8220;Kamu akan merasakan seperti di surga.&#8221; Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu.<br />
&#8220;Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?&#8221;<br />
&#8220;Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu.&#8221;<br />
Gile sudah direncanaka!</p>
<p>Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. &#8220;Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.&#8221;</p>
<p>Diana mulai mengisap-isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya). &#8220;Aaarghh.. argh..&#8221; aku baru sekali senikmat itu. &#8220;Kamu mulai bergairah kan, Sayang?&#8221; Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu. &#8220;Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh&#8230; ahhh&#8221; Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink. &#8220;Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.&#8221; Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. &#8220;Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih <span>perawan</span>.&#8221;</p>
<p>Waktu itu aku tidak memikirkan dia <span>perawan</span> atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan-pelan, sempit sekali. Benar-benar masih <span>perawan</span>, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua. &#8220;Aaakkhhh&#8230;&#8221; lagi-lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya. &#8220;Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya.&#8221;</p>
<p>Kemudian kami mengganti posisi nungging. &#8220;Plok.. plok.. plok..&#8221; suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri. &#8220;Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!&#8221; Tidak lama kemudian akupun keluar juga.</p>
<p>Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. &#8220;Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.&#8221; Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.</p>
<p>Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, &#8220;Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry..&#8221; Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi.</p>
<p>Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, &#8220;Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry.&#8221; Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/guru-wali-kelas-anakku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vagina Guruku Nikmat Sekali</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/vagina-guruku-nikmat-sekali.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/vagina-guruku-nikmat-sekali.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 00:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet. Kejadian ini tepatnya ketika aku masih duduk du bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih mengijak 17-18 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini pengalaman kencan seksku sebelum aku mengenal internet. Kejadian ini tepatnya ketika aku masih duduk du bangku SMA. Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih mengijak 17-18 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?</p>
<p>Sore itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku<br />
diminta datang ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan listrik rumahnya yang rusak.<br />
&#8220;Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani,&#8221; ujar anak SD<br />
tetangga Mbak Yani.</p>
<p>Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis<br />
itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu,<br />
kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan<br />
rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.</p>
<p>Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi.<br />
Keluarganya tampaknya sedang pergi.Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak.<br />
&#8220;Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudar di luar kota,&#8221; sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku.<br />
Darahku mendesir ketika membuntuti langkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.</p>
<p>&#8220;Anu, Bud&#8230; Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada<br />
kabel yang konslet. Tolong betulin, ya&#8230; Kau tak keberatan<br />
kan?&#8221; pinta Mbak Yani kemudian.<br />
Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.<br />
&#8220;Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau<br />
teliti ya. Nanti keburu mahrib.&#8221;</p>
<p>Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunutu<br />
jaringan kabel, akhirnya aku memutusukan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan<br />
kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri<br />
kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah. aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total. Dan aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang dinyalakan Mbak Yani.</p>
<p>Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero<br />
kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku ingin<br />
melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.<br />
&#8220;Wah, maaf Mbak aku tak bisa menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus,&#8221; jelasku sambil melangkah keluar kamar.<br />
&#8220;Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku&#8230;. merepotkanmu,&#8221;<br />
balas Mbak Yanti.<br />
&#8220;Itu es tehnya diminum dulu.&#8221;</p>
<p>Sementara menunggu hujan reda, kami berdua berakap-cakap<br />
berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah<br />
pribadi yang kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini. Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.</p>
<p>Entah bagiamana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami<br />
berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelu telingkau dan sebagianya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang sama saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.</p>
<p>Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara<br />
bibirku dan Mbak Yani masih tetap saling memagut, tanganku<br />
mulai menggerayangi tubuh guru sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.</p>
<p>&#8220;Aaah&#8230; Budi&#8230; aah&#8230;&#8221; Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan.<br />
Bibirnya masih tetap melahap bibirku.</p>
<p>Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang.</p>
<p>&#8220;Uuuuhhh&#8230; Mbak&#8230;..&#8221; Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di selangkanganku. Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol.<br />
Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu<br />
meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Nafsu<br />
birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.</p>
<p>&#8220;Aaauuhh&#8230; Bud&#8230; uuuh&#8230;..&#8221; Mbak Yani mendesis-desis dengan<br />
desahannya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat.</p>
<p>Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.</p>
<p>Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi<br />
bibir Mbak Yani dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan<br />
kujilati leher jenjang Mbak Yani, membuatnya<br />
menggelinjal-gelinjal sambil merintih kecil. Sementara itu,<br />
tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Yani sehingga<br />
menungkupi seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku. Segera kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mbak Yani tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak Yani yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.</p>
<p>&#8220;Iiiihh&#8230;.. auuuhhh&#8230;.. aaahhh&#8230;..&#8221; Mbak Yani tidak dapat<br />
menahan desahan-desahan nafsunya. Segala gelitikan<br />
jari-jemariku yang dirasakan oleh payudara dan puting susunya<br />
dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin<br />
membulak-bulak.</p>
<p>Kupegang tali pengikat beha Mbak Yani lalu kuturunkan ke<br />
bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Yani. Puting susu Mbak Yani yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Yani. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja payudara guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Yani menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.</p>
<p>&#8220;Oooh&#8230;. Buuuuuuuud&#8221; desahan Mbak Yani semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada orang yang mendengarnya.</p>
<p>Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Yani yang<br />
sebelah kiri, yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku<br />
kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, uperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara sebelah kanan milik guru sekolahku yang membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan mahirnya. Kukulum ujung payudara Mbak Yani. Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi. Mbak Yani pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.</p>
<p>&#8220;Buuuddd&#8230;.. Aaaahhhhh&#8230;..&#8221; Mbak Yani menjerit panjang.</p>
<p>Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak<br />
Yani yang sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku<br />
mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans<br />
yang Mbak Yani kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya<br />
sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke<br />
bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Yani<br />
sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan<br />
bahan dan warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.</p>
<p>Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi,<br />
tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya<br />
yang masih menutupi tubuh Mbak Yani yang memang sintal itu.<br />
Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar<br />
bugil di depanku, siap untuk kunikmati.</p>
<p>Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Yani<br />
di selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis<br />
kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur<br />
permukaan bibir vagina itu secara melingkar berulang-ulang<br />
dengan lembutnya. Tubuh Mbak Yani yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.</p>
<p>&#8220;Oooohhh&#8230;.. Budddyyyy&#8230;.. Iiiihhh&#8230;.. Buuud&#8230;..!&#8221;</p>
<p>Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna<br />
kemerahan yang terletak di bibir vagina Mbak Yani yang mulai<br />
dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging<br />
kecil yang bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan.<br />
Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak Yani yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggelinjal-gelinjal tak tentu arahnya.</p>
<p>Melihat Mbak Yani yang tampak semakin merangsang, aku menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mbak Yani mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang keramat yang masih sempit itu.</p>
<p>Puas menjelajahi klitoris Mbak Yani, jari tengahku mulai<br />
merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam vagina guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Yani memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Yani, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.</p>
<p>&#8220;Aiiihh&#8230; Bud&#8230;&#8221; Mbak Yani merintih kecil seraya meringis<br />
seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar,<br />
bahwa yang menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Yani adalah selaput daranya yang masih utuh. Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih <span>perawan</span>. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Yani, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku sedikit salut padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan<br />
melanjutkan perbuatanku itu.</p>
<p>&#8220;Bud&#8230;.. Kok distop&#8230;..&#8221; tanya Mbak Yani dengan nafas<br />
terengah-engah.</p>
<p>&#8220;Mbak, Mbak kan masih <span>perawan</span>. Nanti kalo aku terusin kan Mbak<br />
bisa&#8230;..&#8221;</p>
<p>Mbak Yani malah menjulurkan tangannya menggapai<br />
selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa yang kukatakan barusan.</p>
<p>Dengan secepat kilat, Mbak Yani memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa hanya celana dalamku. Mata Mbak Yani tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.</p>
<p>&#8220;Mbak&#8230;.. aku buka dulu ya,&#8221; tanyaku sambil menanggalkan<br />
celana dalamku.</p>
<p>Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar<br />
begitu penutupnya terlepas.</p>
<p>&#8220;Aw!&#8221; Mbak Yani menjerit kaget melihat penisku yang begitu<br />
menjulang dan siap tempur. Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang &#8216;meriam&#8217;-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang menghalanginya. Kemudian Mbak Yani menarik penisku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah lubang vaginanya.</p>
<p>Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Yani kan guru<br />
sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aku sampai<br />
menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aku<br />
berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri?</p>
<p>Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan penetrasi lebih jauh ke dalam vagina Mbak Yani. Kutempelkan ujung penisku ke bibir vagina Mbak Yani, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Yani menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta tidak ada duanya di dunia ini.</p>
<p>&#8220;Aaahhh&#8230;.. uuuhhhh&#8230;..&#8221; Mbak Yani mendesah-desah dengan<br />
Yanirnya sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada<br />
klitorisnya yang kemerahan dan kini kembali membengkak.<br />
Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di<br />
payudara Mbak Yani itu dengan puting susunya yang<br />
menggairahkan. Terlihat payudara guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga tampak mengkilap.</p>
<p>Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang vagina Mbak Yani. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mbak Yani adalah guru sekolahku, darah dagingku sendiri!</p>
<p>Mbak Yani mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung &#8220;tonggak&#8221;-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Yani, sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik penisku perlahan-lahan dari Yaning surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong vagina Mbak Yani membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang yang tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Yani sampai sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya.</p>
<p>Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan<br />
mengeluarkan setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak<br />
Yani. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat.<br />
Gesekan-gesekan batang penisku dengan Yaning vagina Mbak Yani semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam permainan cintaku dengan guru sekolahku sendiri ini.<br />
Kenikmatan yang pertama dengan kenikmatan berikutnya,<br />
disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling<br />
susul-menyusul tanpa henti.</p>
<p>Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan<br />
intensitas gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak<br />
Yani yang semakin tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Yani menjadi lupa segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.</p>
<p>Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak<br />
Yani, aku tidak menghentikan hujamanku itu sebatas selaput<br />
daranya seperti biasa, namun malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Yani. Vaginanya yang amat sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam sepenuhnya.</p>
<p>&#8220;Aaaauuuuwwww&#8230;..&#8221; Mbak Yani menjerit cukup keras kesakitan.<br />
Tetapi aku tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin<br />
bernafsu untuk memompa penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam vagina Mbak Yani. Tampaknya rasa sakit yang dialami guru sekolahku itu tidak membuat aku mengurungkan perbuatan setanku. Bahkan genjotan penisku ke dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Yani, dan semakin tiada tandingannya kenikmatan yang<br />
kurasakan.</p>
<p>Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Yani<br />
terus-menerus terjadi sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak Yani tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit tidak karuan.<br />
Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua, sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh dua guru dan murid.</p>
<p>&#8220;Aaaah&#8230;.. Budi&#8230;.. aaahhh&#8230;..&#8221; Mbak Yani menjerit panjang.<br />
Tampaknya ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, guru sekolahku itu sudah hampir mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Yani semakin membuat tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak Yani pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan jeritan berpadu menjadi satu.</p>
<p>Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam<br />
penisku. Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak Yani. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku dari dalam vagina Mbak Yani secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku. Tak lama kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Yani. Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Yani. Ditambah dengan darah yang mengalir dari dalam vaginanya, menandakan keperawanan guru sekolahku itu berhasil direnggut olehku.</p>
<p>Dan akhirnya karena kehabisan tenaga, aku terhempas begitu saja ke atas sofa di samping Mbak Yani. Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat dari ujung rambut ke ujung kaki. Aku hanya mengenakan kaus oblong saja, sedangkan Mbak Yani telanjang Bulat tanpa selembar benangpun yang Menutupi tubuhnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/vagina-guruku-nikmat-sekali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BH Hitam Tante Wike</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bh-hitam-tante-wike.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bh-hitam-tante-wike.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2950</guid>
		<description><![CDATA[Aku sedang tidur ketika HPku berdering. Suara yang tak asing terdengar ditelingaku. Rupanya tante Wike ada di Ykt. Katanya sich ada tugas kantor dengan teman-temannya dan aku diminta datang kehotel *** tempat mereka menginap. Sambil jalan aku membayangkan sosok tante Wike. Dia adik ibuku yang berusia 39 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan tinggi 175 cm, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sedang tidur ketika HPku berdering. Suara yang tak asing terdengar ditelingaku. Rupanya tante Wike ada di Ykt. Katanya sich ada tugas kantor dengan teman-temannya dan aku diminta datang kehotel *** tempat mereka menginap. Sambil jalan aku membayangkan sosok tante Wike. Dia adik ibuku yang berusia 39 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan tinggi 175 cm, tubuhnya ramping dan seksi. Dadanya dihiasi oleh sepasang payudara yang indah dan besar. Waktu kecil dulu aku sering mengintip dada tante Wike dan kalau onani sering membayangkan dadanya itu. Kalau membandingkannya dengan artis, tante Wike mirip Vina Panduwinata.</p>
<p>Sesampai di hotel aku diperkenalkan dengan 2 teman tante Wike, Pak Bondan(46) dan bu Shinta(37). Mereka memintaku menjadi penunjuk jalan selama mereka di Ykt, dan aku menyanggupinya. Setelah itu kami berkeliling kota sampai jam 21:47. Karna sudah malam tante Wike meminta aku menginap dikamarnya saja. Kesempatan batinku, dari tadi aku sudah gatal melihat payudara tante Wike dibalik baju tang top biru yang ketat. Aku tak ingat lagi kalau dia tanteku, yang penting hasratku tersalurkan pikirku.</p>
<p>Setelah masuk kamar tante Wike pergi mandi, aku langsung memikirkan cara bagaimana agar aku bisa menikmati tubuh tante Wike yang tetap seksi walau telah memiliki 2 anak. Saat dia keluar aku menelan ludah, dengan celana pendek ketat sampai diatas lutut dan baju kaos putih tanpa lengan benar-benar memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya yang sempurna. Saat tante Wike lewat didepanku tercium wangi sabun dari tubuhnya, saat ia hendak mengeringkan rambutnya terlihat BH hitam kesukaanku dari balik ketiak tante Wike.</p>
<p>Aku jadi gelap mata. Begitu tante Wike membelakangiku, langsung kurangkul dia. Bibirku menyedot lehernya, sementara tanganku yang satu meremas sepasang payudara dan yang satu lagi bermain diselangkangan dan paha tante Wike. Hanya sebentar ia meronta setelah itu tubuh tante Wike menjadi tenang.<br />
&#8220;Izinkan aku merasakan tubuh tante yang indah ini ya?&#8221; Desahku di kuping tante Wike.<br />
&#8220;Gimana Ndra? Tapi sekali ini aja ya Ndra.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua&#8221; Kata tante Wike. Aku mengangguk kecil tanda bersedia.</p>
<p>Tante Wike lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu tante Wike mencopot celana ketatnya terlihat paha mulus yang kugerayangi tadi. Saat ia hendak melepas tali BH aku cegah. Dengan lembut tanganku kebelakang pundak tante Wike membuka kaitnya lalu memelorotkan BH itu sambil menggesek puting susunya. Sepasang payudara berukuran 36 B terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan.</p>
<p>Tante Wike lalu mencopot celana dan CD hitamnya. Dan kini ia telah telanjang bulat, penisku terasa tegang karna tak menyangka tubuh tante Wike seindah itu. Lalu ia naik keatas ranjang dan merebahkan badannya telentang. Aku begitu takjub, tubuh tanteku yang aduhai telanjang dan pasrah berbaring diranjang tepat dihadapanku.<br />
&#8220;Ayo Ndra.. apa yang kamu tunggu, tante udah siap, jangan takut kalau belum pernah nanti tante bantu&#8221; Kata tante Wike.<br />
&#8220;Iya.. tolong ya tante&#8221; Jawabku berbohong.</p>
<p>Segera aku melepas semua pakaianku karna sebenarnya aku juga sudah tak tahan. Kulihat tante Wike memperhatikan kejantananku yang berdenyut-denyut, lalu aku naik keatas ranjang dan memulainya. Langsung saja kukecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, masih canggung pikirku, tapi tidak aku hiraukan terus aku lumat bibirnya. Sementara kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.</p>
<p>&#8220;Ooh.. Ndra.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh..&#8221; Tante Wike mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali aku merasakan ia menelan ludah yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini bibirku kuarahkan kebawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada tante Wike. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini berada tepat dihadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah laki-laki. Langsung aku jilati dari bawah lalu kearah putingnya, sementara buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.</p>
<p>&#8220;Emmh oh aarghh&#8221; Tante Wike mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.<br />
Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit gigi bawahnya, kini jariku kuarahkan keselangkangannya. Disana kurasakan rambut yang tumbuh disekeliling vagina tante Wike. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa dia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari kelentitnya. Kupermainkan jariku keluar-masuk didalam lubang vagina tante Wike yang semakin licin tersebut.</p>
<p>&#8220;Aarrgghh.. eenhh.. Ndra kam.. mu ngapain oohh..&#8221; Kata tante Wike meracau nggak karuan, kakinya mengecak-ngecak sprei dan badannya menggeliat. Tak kuperdulikan kata-katanya, maka tubuh tante Wike makin menggelinjang dikuasai nafsu birahi. Kurasakn tubuh tante Wike menegang dan wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam liang vaginanya.<br />
&#8220;Oohh.. arghh.. oohh..&#8221; kata tante Wike dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ooh..aahh..&#8221; Tante Wike mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya tergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi lubang vaginanya.<br />
&#8220;Oohh.. ohh.. emhh..&#8221; Tante Wike mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.<br />
&#8220;Ndra apa yang kamu lakukan kok tante bisa kayak gini?&#8221; Tanyanya padaku.<br />
&#8220;Kenapa memangnya tante?&#8221; Kataku sambil meremas payudaranya.<br />
&#8220;Baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini, luar biasa&#8221; Kata tante Wike. Ia lalu bercerita kalau om Widya (suaminya) hanya sebentar saja jika bercumbu sehingga ia kurang puas.</p>
<p>&#8220;Sayang.. sekarang giliranku&#8221; Bisikku ditelinganya, tante Wike mengangguk kecil.<br />
Aku mulai mencumbunya lagi, kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati. Setelah kurasa cukup, kusejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan tante Wike tahu. ia lalu mengkangkangkan pahanya lalu kuarahkan batang kejantananku keliang senggamanya. Perlahan-lahan aku masukkan batang penisku dan aku nikmati. Batang kejantananku mudah saja memasuki liang senggamanya karna sudah sangat basah dan licin. Kini perlahan-lahan aku gerakkan pinggulku naik turun. ooh nikmatnya.</p>
<p>&#8220;Lebih cepat Ndra.. aarghh.. mmhh&#8221; Kata tante Wike terputus-putus dengan mata yang merem melek. Aku percepat gerakanku lalu terdengar suara berkecipak dari selangkangannya.<br />
&#8220;Iya.. begitu.. aahh.. terr.. russ.. aarghh..&#8221; kata tante Wike tak karuan.<br />
Keringat kami berucuran menjadi satu, kulihat wajahnya semakin memerah.<br />
&#8220;Ndra, tante mau.. enak lagi.. ohh.. ahh.. aahh ahh..&#8221; Kata tante Wike sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan vaginanya dipenuhi cairan hangat menyiram batang penisku.</p>
<p>Remasan dinding vaginanya begitu kuat, akupun mempercepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks.. aahh.., kubiarkan air maniku keluar didalam liang senggama tante Wike. Kurasakan nikmat yang luar biasa, kupeluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya. Setelah cukup menikmatinya kucabut penisku dan kubaringkan tubuhku disampingnya.</p>
<p>&#8220;Tante Wike, terima kasih ya..&#8221; Kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.<br />
&#8220;Tante juga Ndra.. baru kali ini tante merasakan kenikmatn seperti ini, kamu hebat&#8221; Kata tante Wike lalu mengecup bibirku.<br />
Kami berdua lalu tertidur karna kelelahan.</p>
<p>Sekitar jam 3 pagi aku terbangun. Setelah meminum segelas air aku memandangi tubuh telanjang tante Wike. Benar-benar menggairahkan sekali, kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya masih terjaga diusianya yang hampir berkepala 4 ini. Lalu aku mulai mencumbunya lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan sepuas hatiku setiap inci tubuh tante Wike. Perlahan-lahan aku lumat bibir tante Wike dengan penuh kelembutan sampai ia mulai terbangun lagi.</p>
<p>Setelah tante Wike terbangun kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku didalam mulutnya. tante Wikepun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku beroperasi didadanya, kuremas-remas payudaranya yang kenyal mulai dari lembah sampai ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya shingga ia menggeliat dan menggelinyang. Dua bukit kembar itu semakin mengeras. Ia menggigit bibirku saat kupelintir puting susunya.</p>
<p>Setelah aku puas dibibirnya, kini aku melumat dan mengulum payudaranya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang sebelah kanan. Kulihat mata tante Wike sangat redup, ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.<br />
&#8220;Oohh.. aarghh.. en.. ennak Ndra, emmh..&#8221; Kata tante Wike mendesah-desah.</p>
<p>Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas payudaranya dan menyeret ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, ia ingin agar aku segera mempermainkan liang vaginanya. Jari-jariku pun segera bergerilya divaginanya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya yang membuat tante Wike semakin menggelinyang tak karuan.<br />
&#8220;Ya.. terruss.. argghh.. eemmh.. enak.. oohh..&#8221; Mulut tante Wike meracau.</p>
<p>Setiap kali tante Wike terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk vaginanya, setelah ia agak tenang, aku permainkan lagi liang senggamanya, kulakukan beberapa kali.<br />
&#8220;Emhh Ndra.. ayo dong jangan gitu.. kau jahat oohh..&#8221; Kata tante Wike memohon.<br />
Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akn membuatnya klimaks dengan jariku tapi dengan mulutku, aku ingin menerapkan hasil latihanku dengan bu Denok dan bu Atika.</p>
<p>Segera kuarahkan mulutku keselangkangannya. Kusibakkan rambut-rambut hitam yang mengelilingi vaginanya dan terlihatlah liang senggamanya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.<br />
&#8220;Ndra.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh..&#8221; Kata tante Wike.<br />
Aku tak perdulikan kata-katanya, lidahku terus menari-nari didalam liang senggamanya bahkan menjadi semakin liar tak karuan</p>
<p>Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkram sprei dan mulutku dipenuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.<br />
&#8220;Ohmm.. emhh.. ennak Ndra.. aahh..&#8221; Kata tante Wike ketika ia klimaks.<br />
Setelah tante Wike selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku mencumbunya lagi karna aku juga ingin mencapai kenikmatan. Kali ini posisiku dibawah tubuh tante Wike.</p>
<p>Aku tidur telentang dan tante Wike melangkah diatas batang penisku. Tangannya memegang batang kejantananku yang tegak perkasa, setelah menjilatinya lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan vaginanya diarahkan ke batang penisku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan liang kewanitaannya. Tante Wike lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggannya dan ketika sampai dikepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi kini ia mempercepat gerakannya.</p>
<p>Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desis, sungguh seksi wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha mencapai puncak kenikmatan. Wajah tante Wike terlihat sangat cantik seperti itu ditambah lagi rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepaalanya. Payudaranya terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tembah keras katiak jari-jariku memelintir puting susunya.<br />
&#8220;Oh emhh yaah.. oohh..&#8221; Itulah kata-kata yang keluar dari mulut tante Wike.</p>
<p>&#8220;Tante nggak kuat lagi Ndra..&#8221; Kata tante Wike sambil berhenti menggerakkan badannya.<br />
Aku tahu ia segera mencapai klimaks, lalu aku rebahkan tubuh tante Wike dan kupompa liang senggamanya, tak lama tante Wike mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan tante Wike menikmati orgasmenya yang kesekian. Setelah itu kucabut batang penisku dan kusuruh tante Wike menungging lalu kumasukkan batang penisku dari belakang. Tante Wike terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang kulakukan padanya. Ia hanya mendesah kenikmatan.</p>
<p>Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh tante Wike rebahan lagi dan aku masukkan lagi batang kejantananku dan memompa vaginanya lagi, karna aku ingin mengakhirinya. Beberapa saat kemudia tante Wike ingin klimaks lagi, wajahnya memerah dan tubuhnya menggelinjang ke sana ke mari.<br />
&#8220;Ahh.. oh.. tante mau enak lagi Ndra. arrghh ahh..&#8221; kata tante Wike.<br />
&#8220;Tunggu sayang, ki.. kita barengan.. aku juga sedikit lagi..&#8221; desahku.<br />
&#8220;Tante udah nggak tahan Ndra.. ahh..&#8221; kata tante Wike mendesah panjang.</p>
<p>Lalu tubunya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. caran hangat membasahi batang kejantananku. Cairan hangat menyirami batang penisku dan kurasakan dinding vaginanya seakan akan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya aku pun tidak kuat.. crott.. aku pun mencapai klimaks. Nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat meresapi kenikmatan yang merasuki kami berdua.<br />
&#8220;Thank&#8217;s tante&#8221; Bisikku sambil memelintir puting susunya.</p>
<p>Setelah itu 3 malam berturut-turut aku memuaskan hasrat yang terpendam sejak aku kecil sampai tante Wike kembali pulang ke Smr.<br />
&#8220;Kalau pulang.. jangan lupa kerumah ya&#8221; Bisiknya saat akan naik ke pesawat terbang di bandara.<br />
Aku tersenyum penuh arti. Sebentar lagi aku akan pulang berlibur, aku sudah rindu dengan tante Wike yang aduhai.</p>
<p>E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bh-hitam-tante-wike.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercumbu Dengan Pemuda Idaman &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bercumbu-dengan-pemuda-idaman-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bercumbu-dengan-pemuda-idaman-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2948</guid>
		<description><![CDATA[Dari Bagian 1 Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Indra melepaskanku dan berdiri di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngok batang penisnya yang berukuran luar biasa tersebut. &#8221; Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekaran ganti Bu Atika dong yang aktif..! &#8221; Kata Indra denagn manja. &#8221; Ibu nggak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Bagian 1</p>
<p>Ketika kenikmatan birahi benar-benar menguasaiku, dengan tiba-tiba, Indra melepaskanku dan berdiri di tepi tempat tidur. Ia mengocok-ngok batang penisnya yang berukuran luar biasa tersebut.<br />
&#8221; Udah hampir setengah jam, dari tadi aku terus yang aktif, capek nih. Sekaran ganti Bu Atika dong yang aktif..! &#8221; Kata Indra denagn manja.<br />
&#8221; Ibu nggak bisa Ndra, lagian Ibu masih takut..! &#8221; Jawabku dengan malu-malu.<br />
&#8221; oke kalo gitu pegang aja iniku, please, kumohon sayang..&#8221; Ujarnya sambil menyodorkan batang penis besar itu kehadapanku.</p>
<p>Dengan malu-malu kupegang batang yang besar dan berotot itu. Lagi-lagi berdebar-debar dan darahku berdesir ketika tanganku mulai memegang penis Indra. Sejenak aku sempat membayangkan bagaimana nikmatnya jiak penis yang besar dan keras itu dimasukkan kelubang vagina perempuan, apalagi jika perempuan itu aku.</p>
<p>&#8221; Besaran mana sama milik suami Ibu..? &#8221; Goda Indra.<br />
Aku tidak menjawab walau dalam hati aku mengakui, penis Indra jauh lebih panjang dan lebih besar dibandingkan milik suamiku. Padahal usia Indra jauh lebih muda.<br />
&#8221; Diapakan nih Ndra..? Sumpah Ibu gak bisa apa-apa &#8221; Kataku berbohong sambil memegang penis Indra.<br />
&#8221; Oke, biar gampang, dikocok aja sayang. Bisakan..? &#8221; Jawab Indra dengan lembut.</p>
<p>Dengan dada berdegub kencang, kukocok perlahan-lahan penis yang besar milik Indra. Ada sensasi tersendiri ketika aku mulai mengocok buah zakar Indra yang sangat besar tersebut. Gila, tanganku hampir tidak cukup memegangnya. Aku berharap dengan kukocok penisnya, sperma Indra cepat muncrat, sehingga ia tidak berbuat lebih jauh kepada diriku. Indra yang kini telentang disampingku memejamkan matanya ketika tanganku mulai naik turun mengocok batang zakarnya.</p>
<p>Napasnya mendengus-dengus, tanda kalau nafsunya sudah meningkat lagi. Aku sendiri juga terangsang melihat tubuh tinggi besar dihadapanku seperti tidak berdaya dikuasai rasa nikmat. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, sehingga kepalanya kini etapt berada diselangkanganku sebaliknya kepalaku juga tepat menghadap selangkangannya. Indra kembali melumat lubang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat tanpa henti di rongga vaginaku. Sementara aku masih terus mengocok batang zakar Indra dengan tanganku.</p>
<p>Kini kami berdua berkelejotan, sementara napas kami juga saling memburu. Setelah itu Indra beranjak dan dengan cepat ia menindihku. Dari kaca lemari yang terletak disebelah samping tempat tidur, aku bisa melihat tubuh rampingku seperti tenggelam dikasur busa ketika tubuh Indra yang tinggi besar mulai menindihku. Dadaku deg-degan melihat adegan kami melalui kaca lemari itu. Gila batinku, kini aku yang telanjang digumuli oleh lelaki yang juga sedang telanjang, dan laki-laki itu bikan suamiku.</p>
<p>Indra kembali melumat bibirku. kali ini teramat lembut. Gilanya lagi, aku tanpa malu lagi membalas ciumannya. Lidahku kujulurkan untuk menggelitik rongga mulut Indra. Indra terpejam merasakan seranganku, sementara tanganku kekarnya masih erat memelukku, seperti tidak akan dilepas lagi.</p>
<p>Bermenit-menit kami terus berpagutan saling memompa birahi masing-masing. Peluh kami mengucur deras dan berbaur ditubuhku dan tubuh Indra. Dalam posisi itu tiba-tiba kurasakan ada benda yang kenyal mengganjal diatas perutku. Ohh, aku semakin terangsang luar biasa ketika kusadari benda yang mengganjal itu adalah batang kemaluan Indra. Tiba-tiba kurasakan batang zakar itu mengganjal tepat dibibir lubang kemaluanku. Rupanya Indra nekat berusaha memasukkan batang penisnya kevaginaku. Tentu saja aku tersentak.</p>
<p>&#8221; Ndra.. jangan dimasukkan..! &#8221; Kataku sambil tersengal-sengal menahan nikmat.<br />
Aku tidak tahu apakah permintaan aku itu tulus , sebab disisi hatiku yang lain sejujurnya aku juga ingin merasakan betapa nikmatnya ketika batang kemaluan yang besar itu masuk kelubang vaginaku.<br />
&#8221; Oke.. kalau nggak boleh diamasukkan, kugesek-gesekkan dibibirnya saja ya..? &#8221; Jawab Indra juga dengan napas yang terengah-engah.</p>
<p>Kemudian Indra kembali memasang ujung penisnya tepat dicelah vaginaku. Sungguh aku deg-degan luar biasa ketika merasakn kepala batang penis itu menyentuh bibir vaginaku. Namun karna batang zakar Indra memang berukuran super besar, Indra sangat sulit memasukkannnya kedalam celah bibir vaginaku. Padahal jika aku bersetubuh denagn suamiku penis suamiku masih terlalu kekecilan untuk ukuran lubang senggamaku.</p>
<p>Setelah sedikit dipaksa, akhirnya ujung kemaluan Indra berhasil menerobos bibir vaginaku. Ya ampun, aku menggeliat hebat ketika ujung penis yang besra itu mulai menerobos masuk. Walau<br />
pun mulanya sedikit perih, tetapi selanjutnya rasa nikmatnya sungguh tada tiara. Seperti janji Indra, penisnya berukuran jumbo itu hanya hanya digesek-gesekan dibibir vagina saja. Meskipun hanya begitu, kenikamatan yang kurasa betul-betul membuatku hampir teriak histeris. Sungguh batang zakar Indra itu luar biasa nikmatnya.</p>
<p>Indra terus menerus mamaju-mundurkan batang penis sebatas dibibir vagina. keringat kami berdua semakin deras mengalir, semenatara mulut kami masih terus berpagutan.<br />
&#8221; Ayoohh.. ngoommoong saayang, giimaanna raasaanyaa..? &#8221; Kata Indra tersengal-sengal.<br />
&#8221; Oohh.. teeruuss.. Ndraa.. teeruss..! ujarku sama-sama tersengal.</p>
<p>Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kurasakan batang kemaluan yang besar itu telah amblas semua kevaginaku. Bless, perlahan tapi pasti abtang kemaluan yang besar itu melesak kedalam libang kemaluanku. Vaginaku terasa penuh sesak oleh batang penis Indra yang sangat-sangat besar itu.<br />
&#8220;Lohh..? Ndraa..! Dimaassuukiin seemmua yah..? &#8221; Tanyaku.<br />
&#8221; Taanguung, saayang. Aku nggak tahhan..! &#8221; Ujarnya dengan terus memompa vaginaku secara perlahan.</p>
<p>Entahlah,kali ini aku tidak protes. Ketika batang penis itu amblas semua divaginaku, aku hanya dapat terengah-engah dan merasakan kenikmatan yang kini semakin tertahankan. Begitu besarnya penis si Indra, sehingga lubang vaginaku terasa sangat sempit. Sementara karna tubuhnya yang berat, batang penis Indra semakin tertekan kedalam vaginaku dan melesak hingga kedasar rongga vaginaku. Sangat terasa sekali bagaimana rasanya batang zakar menggesek-gesek dinding vaginaku.</p>
<p>Tanpa sadar aku pun mengimbangi genjotan Indra dengan menggoyang pantatku. Kini tubuh rampingku seperti timbul tenggelam diatas kasur busa ditindih oleh tubuh besar dan kekearnya Indra. Semakin lama, genjotan Indra semakin cepat dan keras, sehingga badanku tersentak-sentak dengan hebat. Clep.. , clep.. , clep.. , cleep.. , begitulah bunyi batang zakar Indra yang terus memompa selangkanganku.</p>
<p>&#8221; Teerruss Nndraa..! Aakuu.. nggaak.. kuuaatt..! &#8221; Erangku berulang-ulang.<br />
Sungguh ini permainan seks yang paling nikmat yang pernah kurasakan dalam sepuluh tahun ini.<br />
Aku sudah tidak berpikir lagi tentang kesetiaan kepada suamiku. Indra benar-benar telah menenggelamkan aku dalam gelombang kenikmatan. Persetan, toh suamiku sendiri sudah tak bisa lagi memberikan aku kepuasan sedahsyat dan kenikmatan seperti ini.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian, aku merasakan nikmat yang luar biasa disekujur tubuhku. Badanku mengelepar-gelepar dibawah genjcetan tubuh Indra. Seketika itu seperti tidak sadar, kuciumi lebih berani bibir Indra dan kupeluk erat-erat.<br />
&#8221; Nndraa.. aakkuu.. haampiir.. oorrgaassmmee..! &#8221; desahku ketika hampir mencapai puncak kenikamatan. Tahu aku hampir orgasme, Indra semakin kencang menghunjam-hunjamkan batang kejantanannya keselangkanganku.</p>
<p>Saat itu tubuhku semakin meronta-ronta dibawah dekapan Indra yang kuat. Akibatnya, tidak lama kemudian aku benar-benar mencapai klimaks.<br />
&#8221; Kaalauu.. uudahh.. orrgassme.. ngoommoong.. saayaang.. biaarr.. aakuu.. ikuut.. puuaas.! &#8221;<br />
Desah indra.<br />
&#8221; ooh.. aauuhh.. aakkuu.. klimaks.. Nndraa..! &#8221; Jawabku.<br />
Seketika dengan refleks tangan kananku menjambak rambut Indra, sedangkan tangan kiriku memeluknya erat-erat. Pantatku kunaikkan keatas agar batang kemaluan si Indra dapat menancap sedalam-dalamnya.</p>
<p>Setelah kenikmatan puncak itu, tubuhku melemas denagn sendirinya. Indra juga menghentikan genjotannya.<br />
&#8221; Aku belum keluar sayang.. Tahan sebentar ya.. Aku terusin dulu..! &#8221; Ujarnya lembut sambil mengecup pipiku.<br />
Gila aku bisa orgasme walaupun posisiku dibawah. Padahal jika dengan suamiku, untuk orgasme aku harus berposisi diatas dulu. Tentu saja ini semua karna Indra yang ajuh lebih perkasa diabandingkan suamiku. Walau pun usia mereka trerpaut jauh dan Indra jauh lebih muda. Selain itu batan kejantanannya memang sangat luar biasa besar dan nikmat luar biasa buat vagina perempuan.</p>
<p>Meskipun kurasakan sedikit ngilu, kubiarkan Indra memompa terus lubang vaginaku. Karena lelah, aku pasif saja saat Indra terus menggumuliku. Tanpa perlawanan, kini badanku yang kecil dan ramping benar-benar tenggelam ditindih tubuh atletis Indra. Clep.. clep.. clep.. clep. Kulirik kebawah untuk melihat vaginaku yang dihajar batang kejantanan Indra. Gila, vaginaku dimasuki penis sebesar itu. Dan yang lebih gila lagi, batang zakar besar seperti itu nikmatnya tiada terkira.</p>
<p>Indra semakin lama semakin kencang memompanya penisnya. Sementara mulutnya tidak henti-hentinya menciumi pipi, bibir dan buah dadaku. Mendapat rangsangan tanpa henti seperti itu tiba-tiba nafsuku bangkit kembali. Kurasakan kenikmatan mulai merambat lagi dari selangkanganku yang dengan kencang dipompa si Indra. Maka aku balik membalas ciuman Indra, semantara pantatku kembali berputar-putar mengimbangi penis Indra yang masih perkasa menusuk-nusuk lubang vaginaku.</p>
<p>&#8221; Iibuu ingiin.. lagii..? &#8221; Tanya Indra.<br />
&#8221; Eehh..&#8221; Hanya itu jawabku.<br />
Kini kami kembali mengelapar-gelepar bersama.</p>
<p>Tiba-tiba Indra bergulung, sehingga posisinya kini berbalik, aku diatas, Indra dibawah.<br />
&#8221; Ayoohh gaantii..! Iibu seekaarang di ataass..&#8221; Kata Indra.<br />
Dengan posisi tubuh diatas Indra, pantatku kuputar-putar, maju-mundur, kiri-kanan, untuk mengocok batang penis Indra yang masih mengacung dilubang vaginaku. Dengan masih malu-malu aku juga ganti menjilati leher dan puting Indra. Indra yang telentang dibawahku hanya dapat merem-melek karna kenikmatan yang kuberikan.</p>
<p>&#8221; Tuuh.. biisaa kaan..! Kaatanya taa.. dii.. nggak.. bisa.. , &#8221; Kata si Indra sambil membalas menciumku dan meremas-remas buah dadaku.<br />
Hanya selang lima menit saat aku diatas tubuh Indra, lagi-lagi kenimatan tak terkira menderaku. Aku semakin kuat menghunjam-hunjamkan vaginaku kebatang penis Indra. Tubuhku yang ramping makin erat mendekap Indra. Aku juga semakin liart membalas ciuman Indra.</p>
<p>&#8221; Nddraa.. aakuu.. haampiir.. orgasme.. laaggii.. ssaayaang..! &#8221; Kataku terengah-engah.<br />
Tahu kalau aku akan orgasme untuk yang kedua kalinya, Indra langsung bergulung membalikku, sehingga aku kembali dibawah. Dengan napas yang terengah-engah, Indra yang telah berada diatas tubuhku semakin cepat memompa selangkanganku. Tak ayal lagi, rasa nikmat tiada tara terasa disekujur tubuhku. Lalu rasa nikmat itu seperti mengalir dan berkumpul ke selangkanganku. Indra kupeluk sekuat tenaga, sementara napasku semakin tak menentu.</p>
<p>&#8221; Kalau mau 0rgasmee ngomong sayang, biaar lepaass..! &#8221; Desah indra.<br />
Karna tidak kuat lagi menahan nikmat, aku pun mengerang keras.<br />
&#8221; Teruss.. , teruss.. , akuu.. orgasmee Ndraa..! &#8221; Desahku, sementara tubuhku masih terus menggelepar-gelepar dalam tindihan tubuh Indra.</p>
<p>Belum reda kenikmatan klimaks yang kurasakan, tiba-tiba Indra mendengus-dengus semakin cepat. Tangan kekarnya mendekapku erat-erat seperti ingin meremukkan tulang-tulangku. Ia benar-benar membuatku tak bisa bergerak, dan napasnya terus memburu. Genjotannya di vaginaku semakin cepat dan keras. Kemudian tubuhnya bergetar hebat.</p>
<p>&#8221; Buu.. , akuu.. , maauu.. , keluuarr sayang..! &#8221; Erangnya tidak tertahankan lagi.<br />
Melihat Indra yang hampir keluar, pantatku kuputar-putar semakin cepat. Aku juga semakin erat memeluknya. Crot.. crot.. crot..! Sperma Indra terasa sangat deras muncrat dilubang vaginaku. Indra memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga batang kejantanannya benar-benar menancap sedalam-dalamnya di lubang kemaluanku. Aku merasa lubang vaginaku terasa sangat hangat oleh cairan sperma yang mengucur dari kemaluan si Indra.</p>
<p>Gila, sperma Indra luar biasa banyaknya, sehingga seluruh lubang vaginaku terasa basah kuyup. Bahkan karna sangking banyaknya, sperma Indra belepotan hingga ke bibir vagina dan pahaku. Berangsur-angsur gelora kenikmatan itu mulai menurun.</p>
<p>Untuk beberapa saat Indra masih menindihku, keringat kami pun masih bercucuran. setelah itu ia berguling kesampingku. Aku termenung menatap langit-langit kamar. Begitu pun dengan Indra. Ada sesal yang mengendap dihatiku. Kenapa aku harus menodai kesetiaan terhadap perkawinanku, itulah pertanyaan yang bertalu-talu mengetuk perasaanku.</p>
<p>&#8221; Maafkan aku Bu Tika. Aku telah khilaf dan memaksa Ibu melakukan perbuatan ini &#8221; Ujar Indra denagn lirih.<br />
Aku tidak menjawab, kami berdua kembali termenung dalam alm pikiran masing-masing. Bermenit-menit kemudian tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua.</p>
<p>&#8221; Heei suadah siang lho.. ayo pulang..! &#8221; Teriak kawan Indra disertai ketoak pada pintu.<br />
Denagn masih tetap diam, aku dan Indra segera beranjak, berbenah lalu berjalan keluar kamar. Tanpa kata-kata pula Indra mengecup bibirku saat pintu kamar akan dibuka.<br />
&#8221; Hayo Ndra, kamu apain Bu Atika sampai pintunya ditutup segala &#8221; Kelakar kawan Indra.<br />
&#8221; Ah nggak apa-apa kok, kami cuma ketiduran tadi &#8221; Jawabku degan perasaan malu. Sementara Indra cuma tersenyum.</p>
<p>Seminggu sejak kejadian itu rasa sesal masih menderaku. Tetapi menginjak minggu kedua muncul rasa rindu pada Indra. Dadaku sering berdebar-debar kalau mengingat kenikamatan luar biasa yang telah diberikan Indra. Aku selalu terbayang keperkasaan Indra diatas ranjang, yang itu semua tidak dimiliki oleh suamiku yang dimakan usia. Sementara aku yang rajin merawat tubuh malah makin ingin merasakan kenikmatan yang lebih.</p>
<p>Maka sejak itu aku sering jalan-jalan dengan Indra. Bahkan hampir rutin sebulan 2 sampai 4 kali aku melepas hasrat pada Indra yang selalu melayaniku. Dan dtiap kencan selalu saja ada hal-hal baru yang membuatku semakin terikat oleh keperkasaannya. Saat menulis cerita ini pun beberapa kali harus terhenti karena Indra dan aku sudah sangat terangsang.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: borneoman00@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bercumbu-dengan-pemuda-idaman-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercumbu Dengan Pemuda Idaman &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bercumbu-dengan-pemuda-idaman-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bercumbu-dengan-pemuda-idaman-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2946</guid>
		<description><![CDATA[Trim&#8217;s atas berbagai macam ragam komentar yang datang ke e-mailku. Sekarang aku mencoba mengambil cerita dari sudut berbeda, yaitu dari sisi wanita. Sensasi apa saja yang mereka rasakan dan yang kuambil adalah saat aku pertama kali merasakan tubuhnya. Jadi selamat menikmati. ***** Sebut saja namaku Atika, seorang wanita yang telah berusia 40 tahun dan telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Trim&#8217;s atas berbagai macam ragam komentar yang datang ke e-mailku. Sekarang aku mencoba mengambil cerita dari sudut berbeda, yaitu dari sisi wanita. Sensasi apa saja yang mereka rasakan dan yang kuambil adalah saat aku pertama kali merasakan tubuhnya. Jadi selamat menikmati.</p>
<p>*****</p>
<p>Sebut saja namaku Atika, seorang wanita yang telah berusia 40 tahun dan telah bersuami. Menurut banyak teman, aku adalah wanita yang cukup cantik dan berkulit putih bersih. Yang luar biasa adalah postur tubuhku yang masih terawat dan indah. Tinggi badanku 167 cm. Pantatku cukup bulat dan berisi dengan sepasang betis yang indah. Sepasang payudaraku berukuran 34 juga tampak padat dan serasi dengan bentuk tubuhku. Kata orang tubuhku seperti artis Minarti Atmanegara yang bentuk tubuhnya tetap indah diusia yang telah berkepala 4.</p>
<p>Aku bekerja sebagai karyawati staff accounting pada sebuah toserba yang cukup besar dikotaku. Sehingga aku banyak mengenal banyak relasi dari para pekerja perusahaan lain yang memasok barang ketempatku bekerja. Aku juga menjadi instruktur senam BL ditempat aku fitness. Disinilah kisah yang akan kisah indah aku dan Indra pertama kali terjadi.</p>
<p>Sebagai seorang istri, aku merupakan seorang wanita setia pada suami. Aku berprinsip, tidak ada laki-laki lain yang menyentuh hati dan tubuhku, kecuali suami yang sangat kucintai. Dan sebelum kisah ini terjadi, aku memang selalu dapat menjaga kesetiaanku. Jangankan disentuh, tertarik dengan lelaki lain merupakan pantangan buatku.</p>
<p>Tetapi begitulah, beberapa bulan terakhir suamiku kurang dapat memuaskanku diatas ranjang. Kalaupun bisa, dia pasti kelelahan dan langsung istirahat. Mungkin karna usia kami yang terpaut 14 tahun, mau tak mau aku cuma bisa memainkan jari sambil membayangkan suamiku sedang memasukkan batang kejantanannya ke vaginaku. Tapi tak senikmat kenyataan.</p>
<p>Sampai akhirnya datang seorang mahasiswa yang ingin PI (Praktek Industri) ditempatku. Dan aku ditunjuk sebagai pembimbing mahasiswa tersebut oleh bosku. Mahasiswa itu memperkenalkan dirinya bernama Indra. Kuperhatikan dia dari atas sampai bawah, cukup lumayan penampilannya. Indra berbadan tinggi besar dan atletis, tingginya sekitar 178 cm. Sungguh aku tidak mempunyai pikiran atau perasaan tertarik padanya.</p>
<p>Pada awalnya hubungan kami biasa-biasa saja, bahkan cendrung agak kaku. Namun begitu, Indra selalu bersikap baik padaku. Kuakui pula, ia pemuda yang simpatik. Ia sangat pandai mengambil hati orang. Sehingga lama-kelamaan kekakuannya berkurang dan kami berdua menjadi akrab. Bahkan aku sering meminta Indra membantuku lembur dikantor. Dan jika begitu biasanya aku bercerita tentang kehidupan rumah tanggaku. Sampai-sampai urusan diatas tempat tidur kuceritakan padanya. Karna Indra sangat pandai memancing.</p>
<p>Hingga suatu ketika, setelah sebulan Ia PI dikantorku. Sewaktu aku sedang lembur menghitung keuangan bulanan perusahaan, Indra datang menghampiriku.<br />
&#8221; Misi Bu, bisa ganggu gak? &#8221; Tegur Indra sopan.<br />
&#8221; Ya ada apa Ndra? &#8221; Jawabku.<br />
&#8221; Ini.. ada beberapa yang saya gak ngerti bisa dijelaskan gak Bu? &#8221; Indra bertanya lagi.<br />
&#8221; Ooh bisa.. mana yang kamunya kurang paham &#8221; aku menjawab lalu menyuruhnya untuk duduk disampingku disofa.</p>
<p>Lalu aku memberikan penjelasan panjang lebar kepadanya. Katanya sih bahan yang dia minta penjelasan dariku itu akan dimasukkan dalam bahan laporannya.<br />
&#8221; Bu, saya mo ngasih hadiah ulang tahun, Bu atika mau nerima gak? &#8221; Tanyanya tiba-tiba.<br />
&#8221; Boleh, syaratnya hadiahnya harus banyak ya&#8221; Jawabku bergurau.<br />
&#8221; Saya juga punya syarat Bu, hadiah ini akan saya berikan kalo Bu Atika mau memejamkan mata. Mau gak? &#8221; Tanyanya lagi.<br />
&#8221; Serius nih? Oke kalo cuma itu syaratnya Ibu mau &#8221; Kataku sambil memejamkan mata.<br />
&#8221; Awas jangan buka mata sampai saya memberikan aba-aba..! &#8221; Kata Indra lagi.</p>
<p>Sambil terpejam aku penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikannya. tetapi, ya ampun, pada saat mataku terpejam, tiba-tiba aku merasakan ada benda yang lunak menyentuh bibirku. Tidak hanya menyentuh, benda itu juga melumat bibirku dengan halus. Aku langsung tahu, Indra tengah menciumku. Maka aku langsung membuka mata, wajah Indra sangat dekat dengan wajahku dan tangannya merangkul pinggangku. Tetapi anehnya, setelah itu aku tidak berusaha mengindar.</p>
<p>Untuk beberapa lama, Indra masih melumat bibirku. Kalo mau jujur aku juga ikut menikmatinya. Bahkan beberapa saat secara refleks aku juga membalas melumat bibir Indra. Sampai kemudian aku tersadar, lalu ku dorong dada Indra hingga ia terjengkang kebelakang.<br />
&#8221; Ndra seharusnya ini gak boleh terjadi &#8221; Kataku dengan nada bergetar menahanrasa malu dan sungkan yang menggumpal dihatiku.<br />
&#8221; Maaf Bu Atika, mungkin saya terlalu nekat. Seharusnya saya sadar Ibu sudah bersuami. Tapi inilah kenyataannya, Aku sayang sama Bu Atika&#8221; Ujarnya lirih sambil meninggalkanku.</p>
<p>Seketika itu aku merasa sangat menyesal, aku merasa telah mengkhianati suamiku. Tapi uniknya peristiwa seperti masih terulang beberapa kali. Beberapa kali jika Indra konsultasi denganku, ia selalu memberikan &#8220;hadiah&#8221; seperti itu. Tentu itu dilakukannya jiak tak ada orang yang melihat. Meskipun pada akhirnya aku menolaknya, tapi anehnya, aku tidak pernah marah dengan perbuatan Indra itu.</p>
<p>Entahlah, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu, apakah ini dikarnakan permasalahanku dengan suami diatas ranjang sehingga menerima begitu saja semua perbuatannya padaku. Ataukah aku telah jatuh cinta pada pada Indra, pemuda yang usianya jauh berbeda namun sangat menarik perhatianku. Sekali lagi, aku tidak tahu. bahkan dari hari kehari, aku semakin dekat dan akrab dengan Indra.</p>
<p>Hingga pada hari terakhir prakteknya, Indra mengajakku jalan-jalan. Awalnya aku menolaknya, aku khawatir kalau kedekatanku dengannya menjadi penyebab perselingkuahan yang sebenarnya. Dengan alasan bahwa itu hari terakhir praktek, Indra terus mendesakku. Akhirnya aku menyetujuinya.Tapi aku memintanya hari minggu. Dengan syarat tidak boleh ada orang kantor yang mengetahuinya.</p>
<p>Begitulah, pada hari Minggu, aku dan Indra akhirnya berangkat jalan-jalan. Agar suamiku tidak curiga, aku katakan padanya aku pergi ketempat seorang kawan untuk menyelesaikan lemburan kantor. Ikut juga teman kuliah Indra bersama pacarnya. Awalnya aku protes, setelah dijelaskan panjang lebar akhirnya aku mau ikut pergi juga. Oh ya, kami berempat menggunakan mobil milik kawan Indra. Berempat kami jalan-jalan kesuatu lokawisata pegunungan yang cukup jauh dari kotaku. Kami sengaja memilih tempat yang jauh dari kota, agar tidak mengundang kecurigaan tetangga, keluarga dan terutama suamiku.</p>
<p>Setelah lebih satu jam kami berputar-putar disekitar lokasi wisata, Indra dan kawannya mengajak istirahat disebuah losmen. Kawan Indra tadi dan pacarnya menyewa satu kamar, dan kedua orang itu langsung hilang dibalik pintu yang tertutup. Maklum keduanya baru dimabuk cinta. Aku dan suamiku dulu waktu pacaran juga begitu, jadi aku maklum saja.</p>
<p>Indra menyewa juga satu kamar disebelahnya. Aku sebenarnya juga berniat menyewa kamar sendiri akan tetapi indra melarangku.<br />
&#8221; Ngapain boros-boros? kalau sekedar istirahat satu kamar saja. Tuh bed-nya ada dua &#8221; Ujarnya.<br />
Akhirnya aku mengalah, aku numpang dikamar yang disewa Indra. Walaupun sebenarnya aku merasa sangat tidak enak hati.</p>
<p>Kami mengobrol tertawa cekikikan membicarakan kawan Indra dan pacarnya dikamar sebelah. Apalagi, kawan Indra dan pacarnya sengaja mendesah-desah hingga kedengaran ditelinga kami. Sejujurnya aku deg-degan juga mendengar desahan dari kamar sebelah yang mirip suara orang terengah-engah itu. Entah kenapa dadaku semakin berdegup kencang ketika aku mendengar desahan itu dan membayangkan apa ayng sedang mereka lakukan dikamar sebelah. Untuk beberapa saat, aku dan Indra diam terpaku.</p>
<p>Tiba-tiba Indra menarik tanganku sehingga aku terduduk dipangkuan Indra yang saat itu sedang duduk ditepi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa dia langsung mencium bibirku. Aku tidak sempat menghindar, bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis halus Indra menempel kebibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegub kencang ketika kurasakan bibir halus Indra melumat mulutku. Lidah Indra menelusup kecelah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu tengkukku merinding.</p>
<p>Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada indra supaya ia melepaskan pelukannya padak diriku.<br />
&#8221; Ndra, jangan Ndra, ini enggak pantas kita lakuakan..! &#8221; kataku terbata-bata.<br />
Indra memang melepas ciumannya dibibirku, tetapi kedua tangannya yangm kekar dan kuat masih tetap memeluk pinggang rampaingku denagn erat. Akujuga masih terduduk dipangkuannya.<br />
&#8221; Memang nggak pantas Bu, toh Bu Tika gak puas sama suami Ibu. Aku akan muasin Ibu &#8221; Ujar Indra yang terdengar seperti desahan.</p>
<p>Setelah itu Indra kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan menciumi seluruh wajahku, lalu merambat keleher dan telingaku. Aku memang pasif dan diam, namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin kuat menguasaiku. Harus kuakui, Indra sangat pandai mengobarkan birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya keleherku benar-benar telah membuatku terbakar dalam kenikmatan. Bahkan dengan suamiku sekalipun belum pernah aku merasakn rangsangan sehebat ini.</p>
<p>Indra sendiri tampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat merasakn napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku semakin tak kuat unruk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu tiba-tiba tangan Indra yang kekar itu membuka kancing bajuku. Tak ayal lagi, buah dadaku yang berwarna putih bersih itu terbuka didepan Indra. Secara refleks aku masih coba berontak.</p>
<p>&#8221; Cukup Ndra! Jangan sampai kesitu Ibu takut..&#8221; Kataku sambil meronta dari pelukannya.<br />
&#8221; Takut dengan siapa Bu? Toh gak ada yang tahu, percaya sama Indra Bu. Aku akan memuaskan Bu Tika &#8221; Jawab Indra dengan napas memburu.<br />
Seperti tidak perduli dengan protesku, Indra yang telah melepas bajuku, kini ganti sibuk melepas BH-ku. Meskipun aku berusaha meronta, namun tidak berguna sama sekali. Sebab tubuh Indra yang tegap dan kuat itu mendekapku dengan sangat erat.</p>
<p>Kini, dipelukan Indra, buah dadaku terbuka tanpa tertutup sehelai kainpun. Aku berusaha menutupi dengan mendekapkan lengan didadaku, tetapi dengan cepat tangan Indra memegangi lenganku dan merentangkannya. Setelah itu Indra mengangkat dan merebahkan tubuhku ditempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Indra melumat salah satu buah dadaku sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas buah dadaku yang lainnya. Bagaikan seekor singa buas ia menjilati dan meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.</p>
<p>Kini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan mengerang karena kenikmatan yang mencengkeramku. Aku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geliu dan nikmat ketika bibir dan lidah Indra menjilat dan melumat puting susuku.<br />
&#8221; Bu.. da.. dadamu putih dan in.. indah sekali. A.. aku makin nggak ta.. tahan.. ,sayang.. , &#8221; Kata Indra terputus-putus karna nafsu birahi yang kian memuncak.</p>
<p>Kemudian Indra juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya, ia pandai sekali mengelitik buah dada hingga perutku. Sekali lagi aku hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian tanpa kuduga, Dengan cepat Indra melepas celana dan celana dalamku dalam sekali tarikan. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi dengan tubuh besar dan tenaga kuat kuat yang dimiliki Indra, dengan mudah ia menaklukkan perlawananku.</p>
<p>Sekarang tubuhku yang ramping dan putih itu benar-benar telanjang total dihadapan Indra. Sungguh, aku belum pernah sekalipun telanjang dihadapan laki-laki lain, kecuali dihadapn suamiku. Sebelumnya aku juga tak pernah terpikir akan melakukan perbuatan seperti ini. Tetapi kini, Indra berhasil memaksaku. Sementara aku seperti pasrah tanpa daya.</p>
<p>&#8221; Ndra, untuk yang satu ini jangan Ndra. Aku tidak ingin merusak keutuhan perkawiananku..! &#8221; Pintaku sambil meringkuk diatas tempat tidur, untuk melindungi buah dada dan vaginaku yang kini tanpa penutup.<br />
&#8221; Bu.. apa.. kamu.. nggak kasihan padaku sayang.. , aku sudah terlanjur terbakar.. , aku nggak kuat lagi sayang, please aku.. mohon &#8221; Kata Indra masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.</p>
<p>Entah karna tidak tega atau karena aku sendiri juga telah terlanjur terbakar birahi, aku diam saja ketika Indra kembali menggarap tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggarap kedua buah dadaku, semenatar tangan yanga satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikamatan itu. Sementara napasku juga semakin terengah-engah.</p>
<p>Tiba-tiba Indra beranjak dan denagn cepat melepas semua pakaian yang menempel ditubuhnya. Kini ia sama denganku, telanjang bulat-bulat. ya ampun, aku tidak dpat percaya, kini aku telanjang dalam satu kamar denagn laki-laki yang bukan suamaiku, ohh. Aku melihat tubuh Indra yang memang benar-benar atletis, besar dan kekar terutama otot-otot perutnya. Ia lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan suamiku yang berperawakan sedag-sedang saja.</p>
<p>Tetapi yang membuat dadaku berdegub lebih keras adalah benda diselangkangan Indra. Benda yang besarnya hampir sama denagn lenganku itu berwarna coklat muda dan kinin tegak mengacung. Panjangnya kutaksir tidak kurang dari 22 cm, atau hampir dua kali lipat dibanding milik suamiku, sementara besarnya sekitar 3 sampai 4 kali lipatnya. Sungguh aku tak percaya, laki-laki semuda Indra memiliki penis sebesar dan sepanjang ini. Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemes dan penasaran.</p>
<p>Kini tubuh telanjang Indra mendekapku. Darahku seperti terkesiap ketika merasakan dada bidang Indra menempel erat dadaku. Ada sensasi hebat yang melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain selain suamiku. Ia masih meciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya juga tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal. Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan sedahsyat ini.</p>
<p>Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang masuk dan menggelitik lubang vaginaku. Ternyata Indra nekat memasukkan jari tangannya kecelah vaginaku.Ia memutar-mutar telunjuknya didalam lubang vaginaku, sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat itu, secara refleks aku memutar-muatarkan pantatku. Toh, aku masih berusaha menolaknya.</p>
<p>&#8221; Ndra, jangan sampai dimasukkan jarinya, cukup diluaran saja..! &#8221; Pintaku.<br />
Tetapi lagi-lagi Indra tidak menggubrisku. Selanjutnya ia menelusupkan kepalanya di selangkanganku, lalu bibir dan lidahnya melumat habis vaginaku. Aku tergetar hebat mendapatkan rangsangan ini. Tidak kuat lagi menahan kenimatan itu, tanpa sadar tanganku menjambak rambut Indra yang masih terengah-engah di selangkanganku. Kini aku telah benar-benar tenggelam dalam birahi.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: borneoman00@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bercumbu-dengan-pemuda-idaman-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isteri Boss Yang Aduhai</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/isteri-boss-yang-aduhai.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/isteri-boss-yang-aduhai.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2942</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namaku HAR (nama samaran), aku sudah menikah dengan 3 orang anak dan umurku masih 34 tahun. Isteriku cantik putih dan baik sekali bahkan saking baiknya dia mau menerima aku apa adanya, walaupun gajiku pas-pasan tapi dia tetap mencintaiku. Wajahku tidaklah ganteng atau macho akan tetapi biasa-biasa saja dan aku bukan pemuda yang tinggi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut saja namaku HAR (nama samaran), aku sudah menikah dengan 3 orang anak dan umurku masih 34 tahun. Isteriku cantik putih dan baik sekali bahkan saking baiknya dia mau menerima aku apa adanya, walaupun gajiku pas-pasan tapi dia tetap mencintaiku. Wajahku tidaklah ganteng atau macho akan tetapi biasa-biasa saja dan aku bukan pemuda yang tinggi, tinggiku hanya 160 cm dengan berat sekitar 55 kg. Tapi walaupun demikian aku termasuk orang yang beruntung karena beberapa kali aku memiliki selingkuhan yang cantik-cantik, jadi pengalamanku cukup banyak. Semua wanita yang menjadi pacar gelapku senang bermain seks denganku karena aku dapat memuaskan mereka, karena aku bisa memberikan kepuasan kepada mereka beberapa kali, bahkan sampai 8 kali orgasme ketika aku berpacaran dengan gadis bule.</p>
<p>Pengalamanku kali ini terjadi ketika tahun 2002 saat aku pergi ke Yogyakarta untuk urusan bisnis. Kebetulan aku bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi penelitian dan ekowisata maka aku berangkat ke kota Yogya dalam acara pameran ekowisata. Saat itu aku pergi sendirian dengan menggunakan kereta executive. Pertama kalinya aku pergi ke Yogya sendirian jadi aku tidak begitu hapal kota yogya tapi dengan modal nekat dan keberanian akupun memberanikan diri seolah-olah aku sering datang ke kota tersebut. Tadinya aku akan pergi dengan isteri bos ku yang kebetulan sering pergi ke Yogya. Karena masih ada urusan di Jakarta maka isteri bosku tidak jadi menemaniku.</p>
<p>Isteri bosku (bernama Mbak Wati) wajahnya cukup menarik dengan kulit yang coklat dan hitam manis dan badannya yang sintal walaupun usianya sudah menginjak 40 tahun tapi masih kelihatan sintal dan berisi, maklumlah sering aerobik dan olah raga. Pada waktu aku di Yogya Mbak Wati sering meneleponku hampir setiap hari bahkan sehari bisa lebih dari 2, pada mulanya aku sendiri tidak tahu mengapa dia sering telpon aku. Saat itu, aku tinggal di sebuh hotel yang lumayan bagus, bersih dan murah di dekat jalan Malioboro. Karena aku sendirian di kota itu aku seringkali kesepian dan aku selalu ingat anak dan isteriku. Akan tetapi itu semua hilang ketika Mbak Wati meneleponku dan aku selalu menggodanya bahwa aku kesepian dan horny di kota ini karena aku sering dengar erangan kenikmatan dari sebelah kamarku, dia hanya tertawa saja. Bahkan dia menggodaku untuk mencari wanita Yogya saja buat menemaniku.</p>
<p>Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bahwa bosku menyuruh Mbak Wati untuk menemaniku di Yogya, aku berfikir wah ini kesempatan yang baik buatku untuk menggodanya, memang keberuntungan masih berpihak pada diriku. Akhirnya dia bilang bahwa dia akan menyusul dengan menggunakan kereta dan minta di bookingkan satu kamar untuknya. Aku bilang pada hari itu mungkin kamar akan penuh.<br />
Dia sedikit kecewa lalu dia bilang, &#8220;Terus gimana dong, ..aku gak mau tinggal di hotel yang jauh dari kamu, ..ngomong-ngomong Har kamar kamu ada 2 bed apa satu?&#8221;<br />
&#8220;Kamarku Cuma satu bed tapi di bawah ranjang ada satu bed lagi jadi mungkin aku bisa pake, emang Mbak mau sekamar denganku?&#8221; aku menggodanya.<br />
&#8220;Boleh kalo nggak ada kamar lagi&#8221; aku setengah tidak percaya akan ucapannya.<br />
Aku berfikir inilah kesempatanya aku bisa mendekati dia dan menggodanya.<br />
&#8220;Tapi Mbak aku suka tidur telanjang paling Cuma pake celana dalam doang dan selimut, apa Mbak gak apa-apa?.. Aku sedikit meyakinkan dia akan kebiasaanku.<br />
&#8220;Nggak apa-apa siapa takut.. masalahnya aku juga kadang-kadang begitu juga&#8221;.<br />
Aku semakin senang mendengarnya. Lalu aku menawarkan untuk tinggal sekamar denganku bila tidak ada kamar kosong dan dia setuju.</p>
<p>Ketika pada hari H nya, aku jemput dia di stasiun dan setelah bertemu aku ajak ke hotel tempat aku menginap, otak ngeresku mulai jalan dan aku mulai berfikir bagaimana caranya agar dia mau sekamar denganku lalu dengan akal bulusku aku berbohong bahwa kamar hotel penuh semua. Lalu aku langsung ajak Mbak Wati ke kamarku dan aku tidak menyangka ternyata dia mau sekamar denganku. Karena sebelumnya aku pikir dia hanya bercanda.</p>
<p>Ketika malam tiba, aku sengaja mengambil satu tempat tidur lagi, untuk menjaga agar dia tidak mempunyai fikiran yang jelek tentang diriku, karena aku masih takut kalau Mbak Mbak Wati akan marah dan tersinggung bila aku seranjang dengannya karena biasanya itu akan dianggap tidak sopan dan senonoh serta murahan dan perempuan akan marah sekali bila dianggap seperti itu. Sebelum tidur kami mengobrol tentang macam-macam dan pada akhirnya bicara tentang seks. Saking seriusnya bicara tentang seks, aku memberanikan diri memancing reaksinya.</p>
<p>&#8220;Mbak kalo ngomongin seks kayak gini, cewekku dulu seringkali udah basah duluan&#8221;.<br />
Lalu dia menjawab, &#8220;Ah itu sih biasa, aku aja suka basah&#8221;.<br />
Tak lama kemudian suasana berubah karena dia merasa perutnya agak sakit karena kembung. Aku mulai kasihan lalu aku menawarkan diri, &#8220;Biar aku refleksi dan pijit deh&#8221;.</p>
<p>Lalu aku pijit kaki dan betisnya. Pada mulanya dia kesakitan dengan pijitanku tersebut. Otak kotorku mulai datang dan aku coba untuk memijit pahanya dan dia meringis kesakitan. Lama aku memijit pahanya dan makin lama kau kendurkan pijitanku tetapi dia masih mengerang bahkan ketika aku elus-elus dia masih mengerang. Dengan segenap keberanianku aku coba mengelus hingga ke pangkal pahanya dan dia mengerang semakin menjadi, tentu saja penisku langsung berdiri apalagi ketika aku pijit dan elus bagian pahanya dia membuka pahanya lebar-lebar. Lalu aku singkapkan rok tidurnya dan aku elus di pangkal paha kemudian aku beranikan diri mengelus vaginanya, ternyata Mbak wati diam saja dan mengerang, tanpa pikir panjang aku masukkan jari-jemariku ke balik celana dalamnya dan memainkan klitoris dan lubang vaginanya dengan jariku. Ternyata vaginanya sudah basah sekali, lalu aku tarik celana dalamnya dan aku mulai menciumi pahanya hingga sampailah pada gundukan vaginanya yang sangat merangsang.</p>
<p>Aku hisap dan jilat vaginanya yang harum, Mbak wati semakin mengerang kenikmatan.<br />
&#8220;Oh.. oohh.. mmhh.. ohhmm.. sayangg.. ohmm&#8221; jilatanku semakin liar dan semakin terasa kakinya mulai mengejang..aku semakin mempercepat tempo jilatan mautku dan dia mengerang semakin keras.<br />
&#8220;Oohh.. ehheehmm.. ohh.. aauuaa.. hhmm&#8221; ternyata dia telah mencapai orgasme yang pertama.</p>
<p>Kemudian aku lepaskan celana dalamku karena kebetulan aku selalu tidur hanya memakai celana dalam dan saat itu aku hanya memakai kain sarung. Dengan penis yang masih menegang aku beralih posisi di atasnya dan menciumi bibir dan kedua susunya dengan jemari tanganku memainkah pentilnya. Karena tidak sabar lalu aku masukkan penisku yang sudah tegang. Sewaktu penisku masuk ke lubang kenikmatan tersebut terdengar erangan keenakan Mbak Wati.</p>
<p>Vagina Mbak Wati serasa sempit karena tulang panggulnya yang seakan-akan mempersempit lubang kemaluannya. Akan tetapi aku merasaka kenikmatan yang luar biasa di penisku dengan lubangnya yang sempit itu. Aku keluar masukkan penisku dan Mbak Wati membuka lebar-lebar kakinya sambil menopang satu kaki ke dinding kamar. Aku semakin merasakan sensasi yang luar biasa ketika penisku keluar masuk, karena dinding lubang vagina dan tulang panggulnya yang menggesek-gesek batang kemaluanku begitu terasa sekali.</p>
<p>Mbak Wati masih terus mengerang ketika aku menekan penisku di vaginanya dalam-dalam. Walaupun penisku tidak besar sekali tapi berukuran normal akan tetapi sensasi yang aku berikan ketika aku mengocok penisku di dalam vaginanya membuat Mbak wati mengerang, menjerit keenakan sambil matanya merem melek. Setelah hampir satu jam sejak pemanasan Mbak Wati kelihatan tegang kemudian di merapatkan kedua kakinya dan aku mengangkangkan kakiku sehingga lubang vaginanya semakin sempit. Dengan gaya seperti itu aku masih tetap terus mengocok vaginanya dan Mbak wati semakin mengerang keras.<br />
Akhirnya dia bilang, &#8220;Ohh sayang aku mau keluaarr.. ohh enakk&#8221;..</p>
<p>Akhirnya Mbak Wati tidak bisa menahan gejolak yang ada dalam dirinya, maka jebollah pertahanannya dengan jeritan yang membuatku semakin bergairah. Aku masih mengocok penisku karena sampai saat itu aku masih bertahan dan aku ingin memberikan kenikmatan yang dasyat untuknya sehingga dia tidak bisa lupa dan terus ketagihan. Aku semakin mempercepat kocokanku, semakin cepat aku mengocok jeritan keenakan Mbak Wati semakin kencang dan tak tertahankan.</p>
<p>Aku merasakan sensasi yang tiada taranya, sehingga aku merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari batang kemaluanku dan akupun mempercepat irama kocokanku. Badanku semakin menegang dan Mbak Wati semakin mengerang.<br />
&#8220;Ohh.. Mbak aku mau keluar.. Mbak udah mau lagi nggak?.. aku dah nggak tahan nih&#8221;<br />
&#8220;Ohh sayang aku juga mau keluar.. ohh.. oohh kita bareng sayaangg.. oohh aku keluaarr&#8221;<br />
&#8220;Aku juga Mbak, ..oohh Mbak eeaannakk?&#8221;<br />
Dan bobollah pertahananku dan pertahanannya.., Crot..crot..crot..<br />
&#8220;Oohh.. enaak..&#8221; akhirnya kami orgasme bersama-sama.<br />
&#8220;Oh, kamu hebat sayang.. sampai aku orgasme tiga kali, padahal aku jarang banget loh orgasme walaupun sama suamiku. Malah aku keseringannya nggak bisa orgasme&#8221;.</p>
<p>Dengan peluh yang mengucur banyak sekali aku tidak segera mencabut penisku dari vaginanya, aku biarkan penisku merasakan sensasi vagina Mbak wati yang begitu nikmat. Akhirnya kamipun tertidur dengan tubuh masih telanjang.</p>
<p>Malam itu kami lakukan lagi sampai 4 kali. Pada keesokan harinya kami lakukan lagi hingga siang hari sampai 3 kali. Begitu pula pada malam harinya hingga pagi kami lakukan lagi 3 kali. Setiap hari kami lakukan terus dan sampai kembali ke Jakarta kami masih tetap melakukannya di dalam kereta walaupun hanya sebatas permainan jari-jariku di kemaluannya dan dia mengocok penisku dengan ditutup selimut. Sesampainya di Jakarta kami masih sering melakukannya terkadang di rumahnya ketika boss dan orang-orang pergi atau di kantor saat semua orang sedang keluar. Mbak Wati termasuk wanita yang kuat sekali seperti kuda liar karena untuk membuatnya orgasme memerlukan waktu yang lama dan perlu laki-laki yang betul-betul kuat dan pandai memberikan sensasi hebat, sehingga suaminyapun tidak dapat mengimbanginya, tapi dengan aku Mbak Wati tidak bisa berbuat apa-apa karena setiap kali bersetubuh aku selalu memberikannya kepuasan.</p>
<p>Akan tetapi sekarang kami tidak lagi, karena dia memiliki selingkuhan yang lainnya lagi. Sekarang aku kesepian lagi apalagi aku jarang sekali berhubungan dengan isteriku karena terkadang aku kasihan dia sering kecapaian.</p>
<p>Teman-temanku bilang bahwa aku memang jantan karena bisa memuaskan perempuan. Bahkan mereka yang merasa jantan di ranjang tidak dapat mengimbangi permainanku hingga bisa memuaskan perempuan berkali-kali. Sampai wanita bulepun kewalahan karena mereka jarang sekali mendapatkan kepuasan dengan laki-laki bule walaupun mereka memiliki penis yang besar, tapi itu bukan jaminan dan cewek-cewek bule mengakuinya ketika tahu bahwa aku bisa memuaskan mereka beberapa kali.</p>
<p>*****</p>
<p>Demikianlah sekelumit pengalamanku dengan isteri bosku yang sangat mengasyikkan. Apabila ada yang berminat menjadikanku sebagai kekasih gelap baik tante-tante atau bukan aku siap melayani dan memuaskan anda semua.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: aha_ardi@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/isteri-boss-yang-aduhai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Kamar Tante Ninik</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/di-kamar-tante-ninik.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/di-kamar-tante-ninik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2932</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kriing..&#8221; jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata. &#8220;Wah gawat, telat nih&#8221; dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi. Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kriing..&#8221; jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.</p>
<p>&#8220;Wah gawat, telat nih&#8221; dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.</p>
<p>Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari.</p>
<p>Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja.</p>
<p>&#8220;Met pagi semua&#8221; aku ucapkan sapaan seperti biasanya.<br />
&#8220;Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?&#8221; Fifi membalas sapaanku.<br />
&#8220;Iya nih kesiangan&#8221; aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.<br />
&#8220;Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh.&#8221; Dari dapur tante menyuruh aku.<br />
&#8220;OK Tante&#8221; jawabku singkat.<br />
&#8220;Ayo duo cewek paling manja sedunia.&#8221; celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.<br />
&#8220;Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya.&#8221; Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.<br />
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.</p>
<p>Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.</p>
<p>Terdengar suara desahan lirih, &#8220;Hmm, ohh, arhh&#8221;.</p>
<p>Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku.</p>
<p>&#8220;Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.&#8221; Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku.<br />
&#8220;Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.&#8221; Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar.</p>
<p>Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.</p>
<p>&#8220;Hmm.. geli ah&#8221; Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.<br />
&#8220;Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.&#8221; Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.<br />
&#8220;Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.&#8221; Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.<br />
&#8220;Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu&#8221; Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.<br />
&#8220;Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi&#8221; celetukku sekenanya.<br />
&#8220;Lho, jadi kamu..&#8221; Tante kaget dengan mimik setengah marah.<br />
&#8220;Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?&#8221; agak takut juga aku kalau dia marah.</p>
<p>Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.</p>
<p>&#8220;Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..&#8221; dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.<br />
&#8220;Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya.&#8221; Aku semakin salah tingkah.<br />
&#8220;Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?&#8221; tanya tanteku dengan mimik keheranan.<br />
&#8220;Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!&#8221; Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.</p>
<p>Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.</p>
<p>&#8220;Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir.&#8221; tante Ninik merengek perlahan.<br />
&#8220;Hmm..shh&#8221; tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.</p>
<p>Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.</p>
<p>&#8220;Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.&#8221; tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.<br />
&#8220;Ya sudah dibuka saja tante.&#8221; pintaku.</p>
<p>Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe.&#8221; Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.</p>
<p>Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.</p>
<p>&#8220;Tante.. ngapain berhenti?&#8221; aku beranikan diri bertanya ke tante,dan rupanya ini mengagetkannya.<br />
&#8220;Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?&#8221; agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.<br />
&#8220;Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding&#8221; sambil tersenyum dia ngoceh lagi.</p>
<p>Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.</p>
<p>&#8220;Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku.&#8221; Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.<br />
&#8220;Hmm, iya deh.&#8221; Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.</p>
<p>Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P</p>
<p>&#8220;Ahh.. enak tante, terusin hh.&#8221; aku mulai meracau.</p>
<p>Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.</p>
<p>&#8220;Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.&#8221; Sambil tangan tante mengusap vaginanya.<br />
&#8220;OK tante&#8221; aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.<br />
&#8220;Shh.. ohh&#8221; tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.<br />
&#8220;Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh&#8221; tante mulai berbicara tidak teratur.</p>
<p>Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. &#8220;Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar.&#8221; tante mengerang dengan keras.</p>
<p>&#8220;Ahh..&#8221; erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.</p>
<p>Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.</p>
<p>&#8220;Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?&#8221; dengan manja tante memeluk tubuhku.<br />
&#8220;Ehh, gimana ya tante..&#8221; aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.<br />
&#8220;Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya&#8221; tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.</p>
<p>Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.</p>
<p>&#8220;Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.&#8221; tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku.</p>
<p>Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.</p>
<p>&#8220;Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P&#8221; aku memberi peringatan ke tante.<br />
&#8220;Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih.&#8221; tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.</p>
<p>Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.</p>
<p>&#8220;Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh&#8221; tante berbicara sambil merasa keenakan.<br />
&#8220;Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak&#8221; Aku membalas omongan tante.</p>
<p>Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.</p>
<p>&#8220;Ahh..&#8221; kami berdua melenguh.</p>
<p>Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.</p>
<p>&#8220;Plok.. plok.. plokk&#8221; suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan.<br />
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras &#8220;Ahh.. Fir tante nyampai lagi&#8221;</p>
<p>Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.</p>
<p>&#8220;Tante, aku mau keluar nih, di mana?&#8221; aku bertanya ke tante.<br />
&#8220;Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih&#8221; sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.</p>
<p>Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.</p>
<p>&#8220;Arghh.. tante aku nyampai&#8221;.<br />
&#8220;Aku juga Fir.. ahh&#8221; tante juga meracau.</p>
<p>Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.</p>
<p>&#8220;Fir, kamu hebat.&#8221; puji tante Ninik.<br />
&#8220;Tante juga, vagina tante rapet sekali&#8221; aku balas memujinya.<br />
&#8220;Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi&#8221; pinta tante.<br />
&#8220;Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?&#8221; aku balik bertanya.<br />
&#8220;Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang&#8221; Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.</p>
<p>Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.</p>
<p>*****</p>
<p>Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: naughty_am2003@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/di-kamar-tante-ninik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Gigolo &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kisah-seorang-gigolo-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kisah-seorang-gigolo-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2930</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Saya mohon maaf kepada para netters sekalian. Karena kesibukan saya, baru sekarang saya sempat untuk melanjutkan kisah hidup saya. Terima kasih atas respon yang telah diberikan. Baik yang berupa kritik dan saran. Juga yang ingin berkenalan sampai mengajak kencan. Mohon maaf kalau ada email anda yang belum sempat saya balas. ***** Dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Saya mohon maaf kepada para netters sekalian. Karena kesibukan saya, baru sekarang saya sempat untuk melanjutkan kisah hidup saya. Terima kasih atas respon yang telah diberikan. Baik yang berupa kritik dan saran. Juga yang ingin berkenalan sampai mengajak kencan. Mohon maaf kalau ada email anda yang belum sempat saya balas.</p>
<p>*****</p>
<p>Dua hari kemarin, saya benar-benar lelah, karena saya harus melayani Ci Virra. Siapakah Ci Virra? Ia adalah seorang warga keturunan. Ia seorang wanita karir. Umurnya sekitar 42 tahun. Tubuhnya gemuk dan nafsu seksnya sangat tinggi. Saya benar-benar kewalahan melayaninya. Tapi dia benar-benar kagum dengan kehebatan saya. Ia ketagihan, kapanpun kalau ia sedang horny, ia minta saya harus siap melayaninya.</p>
<p>Saya pasti akan menceritakan bagaimana hubungan saya dengan Ci Virra di lain waktu. Sekarang saya akan melanjutkan kisah saya dengan Mbak Ella. Masih ingat kan?</p>
<p>Seminggu sudah berlalu. Saya benar-benar merindukan Mbak Ella. Setiap hari kalau saya lagi horny, saya cuma bisa beronani dengan membayangkan tubuh seksinya. Entahlah, semenjak usia 12 tahun saya sudah sering beronani, dan yang menjadi fantasi seks saya pasti wanita-wanita dewasa. Saya lebih bergairah bila mengkhayalkan mereka. Dan khayalan itu pertama kali terwujud dengan Mbak Ella. Saya memang memiliki beberapa pacar, tapi tak ada gairah sedikitpun untuk ngeseks dengan mereka. Mungkin saya mengidap penyakit sindroum complex, kalau tidak salah.</p>
<p>Hari itu sekitar pukul 6 sore. Aku sedang di toko, sepi sekali, benar-benar BT. Tiba-tiba HPku berdering.</p>
<p>&#8220;Hallo sayang, apa kabar? Kangen ga sama Mbak? Kamu lagi ngapain?&#8221;, suara merdu yang sedang kutunggu-tunggu.<br />
&#8220;Ah enggak kangen kok. Biasa aja tuh. Mbak lagi dimana?&#8221;<br />
&#8220;Ih kamu jahat deh. Mbak lagi di Jakarta, di kafe XX. Mbak juga enggak kangen sama kamu, Mbak cuma kangen sama burung kamu. Apa burung kamu gak rindu sama sarangnya? Kesini yah? Mbak tunggu!&#8221;<br />
&#8220;Ok deh Mbak, nanti saya suruh burung saya terbang kesana.&#8221;</p>
<p>Mbak Ella hanya tertawa. Aku pun segera menutup toko lalu bergegas mandi. Aku mambayangkan betapa indahnya malam nanti. Aku akan bertempur habis-habisan dengan Mbak Ella. Membayangkannya saja sudah nikmat, apalagi mencicipinya.</p>
<p>Sebelum jam 8 malam aku telah sampai di kafe itu. Setelah masuk ke dalam dari sudut kafe ada wanita sedang melambaikan tangan. Itulah Mbak Ella, wanita yang kurindukan selama ini. Dia tidak sendiri, disebelahnya ada seorang wanita lagi. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia sudah berumur, mungkin hampir 50 tahun. Namun begitu ia terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan menggunakan kemeja biru dan rok panjang.</p>
<p>Mbak Ella memperkenalkanku padanya. Ibu Lis namanya. Beliau adalah direktur utama di tempat Mbak Ella bekerja. Pantas saja kalau Mbak Ella terlihat begitu hormat padanya. Setelah lama berbincang-bincang, tiba-tiba saja Mbak Ella pamit pergi.</p>
<p>&#8220;Wan, Mbak pergi dulu ya, ada urusan mendadak, kamu tolong temani Ibu Lis ya!&#8221; Aku hanya menganggukkan kepala.</p>
<p>Setelah mencium keningku ia langsung pergi. Aku hanya terdiam dan menunduk karena kulihat Ibu Lis memperhatikanku dengan serius.</p>
<p>&#8220;Hey, kok diam aja. Jangan takut donk, memangnya Ibu mau menerkam kamu. Kita jalan yuk, cari udara segar.&#8221;</p>
<p>Aku hanya tertawa kecil ketika ia mencubit pipiku kemudian menggandeng tanganku keluar dari kafe itu. Selama dua jam kami keliling kota. Ibu Lis menceritakan pengalaman hidupnya, dari bisnis sampai keluarga. Kini ia telah menjanda dengan dua orang anak yang tinggal di luar negeri dan sudah menikah. Menurutnya semua telah diraihnya, kecuali satu, belaian hangat dan kasih sayang dari seorang pria. Suaminya telah meniggalkannya lima tahun yang lalu. Ah seperti yang kuduga akhirnya ia megutarakan maksudnya. Ia ingin malam ini aku mengobati kesepiannya, memuaskan hasrat biologis yang selama ini tersimpan. Ia akan memberikan apa yang kuminta asal aku dapat memuaskannya. Aku hanya mengganggukkan kepala, tak kusangka wanita yang sebelumnya terlihat begitu tegar, angkuh, kini menangis di depanku.</p>
<p>Tepat jam 12 kami check in di sebuah hotel mewah di kawasan kota. Begitu sampai di kamar, tak kusangka bagaikan macan kelaparan ia langsung menerkamku, menjatuhkanku diatas kasur. Dengan kasar ia melepas pakaianku, membuka celanaku, dan langsung memakan kontolku.</p>
<p>&#8220;Ah.. ohh pelan-pelan Bu, sakit nih, ohh.. hisap Bu, hisap!&#8221;<br />
&#8220;Maaf Wan, ahh Ibu sudah lama gak ngemut barang yang enak ini. Kontolmu gede, panjang lagi, ohh beruntung sekali istri kamu nanti. Ehmm enak Wan.&#8221;</p>
<p>Ibu Lis memang hebat memanjakan kontolku. Baru sepuluh menit, sudah kurasakan lahar panas akan keluar. Kutekan kepalanya kedalam ketika pejuku keluar dan langsung masuk ke dalam mulutnya. Ia meminum seluruhnya, lalu membersihkan kontolku dengan lidahnya.</p>
<p>&#8220;Ahh enak Wan. Peju kamu nikmat sekali. Nanti kasih Ibu lagi ya?&#8221;</p>
<p>Kemudian ia berdiri dan melepaskan seluruh pakaiannya. Wow hebat juga, walaupun usianya hampir setengah abad, terlihat payudaranya yang besar hanya sedikit mengendur, kulit tubuhnya pun masih kencang, bulu-bulu kemaluannya juga terlihat rapi. Sepertinya ia merawat tubuhnya dengan baik.</p>
<p>Aku langsung menarik tangannya, kurebahkan ia, kuciumi senti demi senti tubuhnya. Kulumat vaginanya, kusedot, hisap, kadang kumainkan lidahku di itilnya. Sementara kedua tanganku memijat halus payudaranya. Belum sampai lima menit, ia menekan-nekan kepalaku, ia hendak orgasme, kutekan pangkal pahanya keras-keras. Ahh keluarlah cairan kenikmatannya, ia mengerang keras, kemudian kusedot habis cairan itu dan kubersihkan memeknya dengan lidahku.</p>
<p>Aku kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi. Entah kenapa, diruangan ber-AC itu badanku terasa panas, mugkin karena lelah berkeliling kota tadi. Aku pun mandi, kupikir sekalian memberi waktu bagi Ibu Lis untuk istirahat sebentar. Begitu keluar dari kamar mandi, kulihat tubuh mulus terpampang di depanku. Gairahku bangkit lagi, kudekati ia. Alamak, ternyata ia sudah tertidur, mungkin ia benar-benar lelah, tak tega hatiku untuk membangunkannya. Aku berpikir keras, gairahku makin memuncak. Akhirnya aku teringat Mbak Ella, aku menelponnya dan kuceritakan kejadiannya.</p>
<p>Ternyata ia sedang berada di sebuah apartemen di Jl.Gotot Subroto. Aku segera berpakaian dan meluncur kesana. Setengah jam kemudian aku sudah sampai disana. Aku benar-benar sudah tak tahan, ingin segera kulumat habis setiap jengkal tubuh mulus Mbak Ella.</p>
<p>Kuketuk perlahan kamar nomor 634. Terdengar langkah orang mendekat. Pintu pun dibuka, di depanku berdiri seorang wanita bertubuh gemuk berumur kira-kira 40 tahun. Ia hanya mengenakan daster tipis, dibalik dasternya itu terlihat kedua payudaranya, sangat besar tapi sudah kendur.</p>
<p>Aku dipersilahkan masuk. Ketika berjalan kedua belah pantatnya juga terlihat jelas, besar sekali.Sampai di dalam kulihat seorang wanita lagi kira-kira berumur sama sedang tidur telanjang di kasur.Ya ampun, ia tengah memainkan memeknya dengan tangan kanannya. Kedua jarinya disodok-sodok ke dalam lubang memeknya. Sementara tangan kirinya memeras kencang payudaranya sendiri.</p>
<p>Aku begitu terkesima melihatnya. Tiba-tiba saja wanita bertubuh gemuk yang tadi langsung mendorongku dan menjatuhkanku ke atas kasur. Ternyata ia sudah telanjang bulat. Sedikit ngeri dan takut, tapi juga lucu melihat tubuh gemuk telanjang di depanku. Lucu sekali, kedua pahanya begitu lebar, sampai-sampai memeknya tidak terlihat.</p>
<p>Wanita gemuk itu menindihku. Kemudian membuka paksa baju dan celanaku. Setelah telanjang, dengan rakus ia menciumi seluruh tubuhku. Ia memijat halus kontolku. Ah nikmat sekali pijatannya. Dengan cepat kontolku menegang keras. Ia pun langsung menelan habis, terkadang mengulum, menyedot, dan mengocok-ngocok kontolku.</p>
<p>Sepuluh menit kemudian ia bangkit dan mengangkangiku. Perlahan-lahan kontolku dibimbing masuk ke memeknya. Setelah masuk, ia diam saja, hanya matanya terpejam menikmati sesuatu barang yang besar memenuhi lubang kenikmatannya. Kemudian ia mulai memainkan pantatnya, turun naik perlahan, terkadang pinggulnya digoyang-goyang.</p>
<p>Tiba-tiba saja wanita kurus disampingku bangkit, dan langsung mengangkangiku diatas. Memeknya tepat berada di depan mukaku. Ia menunjuk kearah memeknya. Tanpa dikomando, aku langsung melumat memek yang ternyata sudah basah itu. Kusedot habis, sementara kedua tanganku meremas-remas payudaranya.</p>
<p>Badanku terasa remuk ditindih oleh dua orang wanita. Beberapa menit kemudian wanita gemuk itu mengerang hebat, kedua tangannya mencengkram keras badanku. Ia mendapatkan orgasmenya yang pertama. Bersamaan dengan itu laharku juga meletus di rongga rahimnya. Ah nikmat sekali. Ini yang kutunggu-tunggu karena tadi sempat tertunda.</p>
<p>Mulutku masih memainkan memek wanita kurus diatasku. Semenit kemudian ia juga mengerang keras sambil menjambak rambutku. Keluarlah cairan kenitmatannya, dan langsung kusedot habis, kubersihkan memeknya dengan lidahku. Kemudian ia berbaring disebelah kiriku, sementara wanita gemuk itu berbaring di sebelah kananku.</p>
<p>Kemudian aku bangkit dan berjalan menuju dapur. Haus sekali rasanya setelah bertempur tadi. Yah baru pertama kali aku melawan dua wanita sekaligus. Aku duduk di kursi dapur, meminum segelas jus jeruk dingin. Lama aku terdiam membayangkan kejadian tadi. Sampai tiba-tiba gairahku bangkit lagi. Aku segera bergegas kembali ke ranjang. Ternyata kedua wanita itu sudah tertidur pulas. Aku bingung harus memilih yang mana.</p>
<p>Akhirnya kuhampiri wanita yang bertubuh kurus karena belum kurasakan kehangatan memeknya dan ia pun belum mencoba kehebatan kontolku. Kusibakkan kedua pahanya. Terlihat memeknya sudah kering, kubasahi dengan air liurku. Perlahan tapi pasti, kuhujamkan batang kejantananku. Ia terbangun dan merintih, kemudian hanya tersenyum kecil dan memejamkan matanya lagi. Kubiarkan sebentar kontolku di dalam. Aku ingin merasakan kehangatan memeknya. Perlahan-lahan kumaju-mundurkan pantatku, sambil sesekali menggoyangkan pinggulku.</p>
<p>&#8220;Ahh.. ohh. Terus Mas, enak Mas, ohh.. ohh. nikmat sekali. Ayo Mas, sekalian cobain susuku donk!&#8221;</p>
<p>Sesuai perintahnya, segera kusedot payudara kirinya, sementara tanganku memelintir puting payudara kanannya. Ia mengerang kecil ketika kugigit putingnya. Pinggulku tetap menggenjotnya. Semakin lama semakin kupercepat ketika aku tahu ia akan orgasme. Bibir memeknya terasa menjepit keras kontolku ketika ia orgasme. Kuperlambat genjotanku, kemudian kucabut kontolku. Ia berbaring lemas.</p>
<p>Kulirik wanita gemuk disampingku. Ternyata ia telah terbangun dan sedang memainkan memeknya dengan tangannya. Rupanya dari tadi ia melihat permainanku dengan wanita yang kurus. Ia menatapku dan menunjuk-nunjuk memeknya.</p>
<p>&#8220;Ayo Mas, masukin dong, aku sudah gak tahan nich. Memekku sudah gatel lagi kepengin ngerasain kontol Mas yang gede.&#8221;<br />
&#8220;Sabar sayang, enak yah kontolku ini, kepingin lagi yah?&#8221;<br />
&#8220;Ayo dong Mas, jangan bercanda ah.&#8221;</p>
<p>Kontolku masih meneras dan tegang. Segera kuhujamkan ke liang kenikmatan wanita gemuk itu. Ternyata ia memang lebih pintar dari wanita yang kurus. Sambil kugenjot, ia memainkan sendiri pinggulnya memutar berlawanan dengan pinggulku.</p>
<p>Tiba-tiba ia mengangkat kedua kakinya dan disenderkan di pundakku. Aku pun duduk mengangkang, namun kontolku tetap menancap di lubang memeknya. Ah pintar sekali ia memilih gaya. Secara perlahan aku mulai menggenjot lagi.</p>
<p>Wanita yang kurus tiba-tiba bangkit dan langsung melumat payudara wanita yang gemuk. Pandai juga ia memainkan payudara itu satu persatu. Aku senang karena ada yang membantuku agar wanita gemuk ini cepat mencapai klimaks. Yah saat itu memang kurasakan laharku akan keluar, sementara wanita gemuk ini masih asyik menggoyang-goyang pinggulnya.</p>
<p>Kemudian kepalaku dicengkram keras oleh kedua kaki wanita yang gemuk. Ah rupanya ia akan orgasme. Kedua tangannya menjambak keras rambut wanita yang kurus.</p>
<p>&#8220;Ayo Mas, goyang yang kencang, ayo cepat, ohh.. ohh.. aahh&#8221;<br />
&#8220;SAya juga sayang, dikeluarin di dalam aja yah, biar lebih enak.&#8221;<br />
&#8220;Tersserraahh kammuu.. ahh.&#8221;</p>
<p>Ia mengerang hebat. Sampai-sampai wanita yang kurus berteriak juga menahan sakit sambil memegang rambutnya yang dijambak. Kepalaku juga sakit oleh jepitan kedua kakinya.</p>
<p>Aku segera mencabut kontolku. Laharku belum keluar. Segera kutarik kepala wanita yang bertubuh kurus. Kupaksa ia untuk mengoralku. Ternyata pintar juga ia memakan kontolku. Semenit kemudian meletuslah laharku di dalam mulutnya. Ia langsung meminum habis sampai bersih. Aku langsung terlentang lemas sampai akhirnya tertidur.</p>
<p>Aku baru terbangun kira-kira jam 8 pagi. Benar-benar lemas badanku ini, serasa mau copot tulang-tulangku. Aku segera berpakaian dan menuju dapur karena kudengar suara kedua wanita itu sedang bercakap-cakap.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi sayang, cape yah. Ini Tante sudah buatkan susu dan nasi goreng untuk kamu.&#8221;, Wanita yang gemuk ini menggandeng tanganku untuk duduk.<br />
&#8220;Perkenalkan nama saya Erna, panggil saja Tante Erna. Nah, yang ini Tante Dian. Kami berdua adalah teman bisnisnya Ella.&#8221;<br />
Ya ampun, aku baru teringat kalau tujuanku kesini unuk bertemu dengan Mbak Ella. Karena nafsuku yang tertahan semalam aku jadi lupa.</p>
<p>Kami pun sarapan bersama. Tante Erna menceritakan kalau mereka suka berjudi, siapa yang menang harus menghadiahkan seorang gigolo sebagai pembayaran pajak kepada yang kalah. Mungkin maksudnya agar yang kalah tidak terlalu emosi karena kekalahannya. Dan semalam Mbak Ella telah menang besar, dan menjadikanku sebagai pajaknya. Selain mereka bertiga sebenarnya masih ada dua orang lagi, namun tidak bisa datang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang itu datang, berarti aku harus bertempur habis-habisan dengan empat orang. Wah mana tahan.</p>
<p>Tepat pukul 10 aku pamit pulang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih. Mereka benar-benar puas dengan pelayananku semalam. Mereka memberiku uang dalam sebuah amplop. Aku menolaknya, karena dipaksa aku menerimanya juga.</p>
<p>Ingin rasanya cepat tiba di rumah, badanku benar-benar remuk, aku ingin segera dipijat oleh Bik Inah pembantuku. Di perjalanan kubuka amplop itu. Wow isinya satu juta rupiah. Kupikir tak sia-sia perjuanganku semalam.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: anas9393@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kisah-seorang-gigolo-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seorang Gigolo &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kisah-seorang-gigolo-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kisah-seorang-gigolo-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2928</guid>
		<description><![CDATA[Baru seminggu aku mengenal bokepzone.com, tapi aku sudah tertarik untuk menceritakan pengalaman hidupku. Karena sangat panjang, aku akan kirim satu persatu. Pada bagian pertama ini memang tidak begitu berhubungan dengan judulnya, tapi akan erat kaitannya dengan kisah-kisahku selanjutnya. ***** Namaku Ridwan, umurku 25 tahun, wajahku biasa-biasa saja, postur tubuhku juga standar, tinggi 168 cm dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru seminggu aku mengenal bokepzone.com, tapi aku sudah tertarik untuk menceritakan pengalaman hidupku. Karena sangat panjang, aku akan kirim satu persatu. Pada bagian pertama ini memang tidak begitu berhubungan dengan judulnya, tapi akan erat kaitannya dengan kisah-kisahku selanjutnya.</p>
<p>*****</p>
<p>Namaku Ridwan, umurku 25 tahun, wajahku biasa-biasa saja, postur tubuhku juga standar, tinggi 168 cm dan berat 55 kg. Tapi entah kenapa sejak sekolah dulu banyak sekali wanita yang mengejar-ngejarku. Mungkin karena otakku yang cerdas dan kepandaianku bergaul atau karena aku memang memiliki daya tarik sendiri. Aku tinggal di suatu daerah strategis di jakarta selatan. Aku seorang wiraswastawan. Aku membuka sebuah toko handphone (HP) di wilayah perkantoran di Jakarta Selatan.</p>
<p>Kisahku berawal kurang lebih 2 tahun yg lalu. Dengan kepandaianku berdagang, saat itu aku telah memiliki banyak pelanggan di tokoku. Kebanyakan dari mereka adalah para karyawan yg bekerja di wilayah perkantoran itu. Salah satunya sebut saja Mbak Ella, usianya 37tahun. Ia adalah seorang manager di suatu perusahaan. Wajahnya cukup menarik, dengan kulit putih bersih. Tubuhnya sangat seksi, padat, dan berisi. Maklum karena dia sering aerobik dan olahraga. Yang menjadi pusat perhatianku adalah payudaranya. Bentuknya tidak terlalu besar, tapi terlihat serasi dengan postur tubuhnya. Aku sering membayangkan jika suatu saat bisa meremas bahkan meminum susunya.</p>
<p>Setiap jam makan siang Mbak Ella selalu mampir ke tokoku. Terkadang membeli voucher, cashing HP, atau sekedar ngobrol denganku. Mungkin karena wawasanku yg luas, aku bisa mengimbangi pembicaraannya. Karena itulah ia senang menghabiskan jam istirahatnya di tokoku. Aku akui, aku sering grogi bila dekat dengannya. Gayanya sedikit centil dan genit. Tapi yg membuatku salah tingkah adalah postur tubuhnya. Kadang aku tak tahan untuk melahap tubuh yg seksi itu. Apalagi bentuk bibirnya ketika berbicara, uhh aku ingin segera mengulumnya. Mbak Ella adalah fantasi seksku ketika beronani.</p>
<p>Aku masih ingat betul, hari itu adalah hari minggu, kurang lebih jam 5 sore. Aku sedang istirahat di rumah ketika HPku berdering.<br />
&#8220;Hallo Ridwan, selamat sore. Maaf mengganggu, kamu lagi sibuk gak?&#8221; ternyata Mbak Ella yang menelponku.<br />
&#8220;Enggak kok Mbak. Saya sedang istirahat. Kalo boleh tahu, ada apa nih sore-sore telepon, mau ngajak makan apa nonton. He.. he..?&#8221; candaku.<br />
&#8220;Ah kamu, kalo masalah itu sih gampang. Tapi ada yg lebih penting nih?&#8221;<br />
&#8220;Ada apa Mbak?&#8221; aku jadi penasaran.<br />
&#8220;Begini, tadi tiba-tiba saja HPku rusak, tidak ada suaranya. Kamu bisa gak ke rumahku sekarang? Masalahnya besok pagi-pagi aku harus berangkat ke luar kota, kalo gak ada HP, wah bisa kacau dong. Kamu bisa kan?&#8221;<br />
&#8220;Ok deh, demi Mbak saya selalu siap. Tapi dimana alamat rumah Mbak?&#8221;<br />
Setelah mendapat alamat yg diberikan aku segera berangkat kesana.</p>
<p>Jam tujuh tepat, aku telah sampai di depan sebuah rumah mewah di suatu kawasan elit di jakarta selatan. Hujan turun rintik-rintik. Setelah diperbolehkan masuk oleh satpam, aku segera memasuki rumah itu. Mbak Ella menyambutku dengan senang hati. Aku benar-benar terpesona melihat bentuk tubuhnya. Saat itu ia mengenakan pakaian senam yg sangat seksi, buah dadanya terlihat begitu menonjol, seperti mau keluar dari tempatnya, dan bongkahan pantatnya benar-benar menggiurkan.</p>
<p>&#8220;Hallo keren, silahkan masuk. Kamu santai aja dulu disini, Mbak mau mandi dulu, panas bangat nih!&#8221;<br />
Ketika ia berjalan, mataku tak terpejam melihat bentuk tubuhnya dari belakang. Indah sekali. Sampai kemudian pembantunya datang membawa segelas jus jeruk. Aku langsung meminumnya. Ah segar sekali.</p>
<p>Lima belas menit kemudian Mbak Ella keluar lagi dari kamarnya. Wow,benar-benar pemandangan yg luar biasa. Kali ini Mbak Ella hanya mengenakan daster yg sangat tipis. Dengan daster itu sampai-sampai aku bisa mengetahui kalau ia tidak memakai BH lagi dan mengenakan CD warna pink. Kemudian ia duduk di depanku dan menyerahkan HPnya.Aku langsung membukanya.</p>
<p>Saat aku menservis HPnya, sering kali badannya membungkuk melihat apa yg sedang kukerjakan. Ketika aku menoleh, ya ampun kedua bukit kembarnya terlihat begitu jelas, begitu menantang. Sepertinya ia sengaja memperlihatkan bukit kembarnya itu. Kemudian ia duduk disebelahku untuk melihat lebih jelas apa yg sedang kukerjakan. Ia masih juga suka membungkuk. Sampai suatu saat lenganku refleks menyenggol buah dadanya.</p>
<p>&#8220;Aduh, maaf Mbak, gak sengaja.&#8221;<br />
&#8220;Oh, gak apa-apa kok. Aku yg sorry nih udah ngeganggu&#8221;. Ia pun sedikit menjauh.</p>
<p>Jam 21.00, HP Mbak Ella telah selesai kuservis. Setelah basa-basi aku pamit pulang tapi ia melarangku karena hujan diluar deras sekali. Mbak Ella kemudian mengajakku makan malam. Kebetulan sekali, perutku memang sudah lapar. Sambil makan kami mengobrol kesana kemari, sampai Mbak ella menceritakan kehidupan pribadinya. Ternyata ia adalah seorang istri nahkoda kapal. Tapi entah kenapa sudah 5 tahun lebih suaminya tak memberi kabar apapun. Selesai makan kami kembali ke ruang tamu.</p>
<p>&#8220;Wan, Mbak merasa kesepian. Maukah kamu menolong Mbak?&#8221; Bagai disambar petir aku kaget sekali dengan kata-katanya itu, walaupun aku sudah faham maksudnya.<br />
&#8220;Menolong gimana maksud Mbak?&#8221;<br />
&#8220;Ya mengobati rasa sepi Mbak, kamu mau kan Wan, please?&#8221;<br />
&#8220;Iya, tapi bagaimana ya Mbak, saya belum pernah melakukannya, saya gak bisa&#8221;<br />
&#8220;Gak usah khawatir, nanti akan Mbak ajarkan.&#8221;</p>
<p>Sambil berkata begitu ia langsung menghampiriku dan mulai mencium bibirku. Sebagai lelaki normal, akupun langsung membalas ciumannya. Bibir kami saling berpagut, lidah kami saling menggigit, saling sedot. Cukup lama kami menikmatinya.</p>
<p>&#8220;Ayo puaskan Mbak sayang.. ah.. ah.&#8221; suaranya hanya mendesis ketika ciumanku berpindah ke pipi, kening, turun ke leher dan telinganya.</p>
<p>Akupun gak mau ketinggalan. Tangan kiriku mulai menjalar di pahanya. Kusingkapkan dasternya, benar-benar mulus sekali pahanya. Kuremas-remas sampai ke pangkal pahanya. Ketika sampai ke CD-nya, kumasukkan kedua jariku, dan ku garuk-garuk memeknya.</p>
<p>&#8220;Ah sayang. Kamu nakal ya&#8221;</p>
<p>Aku tidak menghiraukannya. Sementara itu tangan kananku memeras halus buah dadanya dari luar. Tangannya pun tak mau ketinggalan memegang bahkan mencengkram keras kontolku dari luar. Terasa sakit tapi aku menikmatinya.<br />
Tapi tiba-tiba ia melepaskan pelukannya dan memegang tanganku.</p>
<p>&#8220;Jangan disini, gak enak kalo terlihat pembantuku, di kamarku aja.&#8221;</p>
<p>Setelah menutup pintu kamar, ia langsung menarikku dan menjatuhkanku di ranjangnya. Dengan ganasnya ia menciumiku, seperti seekor macan yg sedang melahap mangsanya. Terus ke bawah dan ke bawah. Setiap jengkal tubuhku tak luput dari ciumannya. Kemudian ia membuka resleting celanaku dan langsung mencengkram rudalku.</p>
<p>&#8220;Wan, punya kamu boleh juga. Apa ada wanita lain yg pernah memegang kontol kamu ini Wan?&#8221;<br />
&#8220;Belum Mbak, kecuali ibuku waktu kecil dulu. Apa Mbak mau..&#8221;</p>
<p>Belum selesai kata-kataku, ia telah mengulum, menghisap, kadang meremas kontolku. Pintar sekali ia memainkan adik kecilku. Beberapa menit kemudian, aku sudah merasakan seperti ada lahar panas yg mau keluar.</p>
<p>&#8220;Mbak, aku mau keluar.. ohh.. ohh.. ahh.. nikmat sekali Mbak&#8221;.</p>
<p>Aku pegang kepalanya dan aku tahan agar ia tidak melepaskan kulumannya. Crot.. crot.. crot keluarlah air pejuku di dalam mulutnya.</p>
<p>&#8220;Terus sayang, terus.. ah.. Peju kamu enak sekali, keluarin terus, ah peju kamu asin tapi uenak tenan&#8221;</p>
<p>Dengan rakusnya ia meminum habis pejuku. Kemudian kami istirahat sejenak.</p>
<p>&#8220;Mbak, sekarang giliran saya yg akan puaskan Mbak&#8221; Kemudian akupun langsung menerkam tubuhnya.<br />
&#8220;Sabar sayang, buka bajunya dulu donk.&#8221;</p>
<p>Kamipun membuka pakaian kami masing-masing. Setelah telanjang bulat, langsung kubaringkan ia. Kuciumi senti demi senti tubuh mulusnya. Dari atas ke bawah sampai kepada memeknya. Kurenggangkan kedua pahanya.</p>
<p>&#8220;Ayo sayang.. puaskan.. Mbak.. ya.. ohh.. oohh.&#8221; Kata-katanya terus meracau, apalagi ketika aku melahap habis memeknya dengan mulutku, kadang kusedot, kuhisap, dan kugigit dengan lembut itilnya.<br />
&#8220;Ah.. ennak ssayang.. kamu ppinnttarr.. ohh.. oohh&#8221;</p>
<p>Aku sudah tidak mempedulikan kata-katanya. Aku makin asyik dengan mainan baruku. Kumasukkan kedua jariku kedalam lubang memeknya. Kukocok perlahan lahan. Tubuhnya meronta-ronta seperti orang kesetanan, kedua teteknya bergoyang kencang. Aku pun meraih teteknya itu. Dengan tangan kiriku, aku pelintir puting susunya yg sebelah kiri dan mulutku kini menggigit halus puting kanannya. Sementara kedua jari tangan kananku tetap mengocok lubang memeknya. Semakin cepat kocokanku, semakin cepat pula ia meronta. Kedua kakinya ia jepitkan diatas tubuhku. Sampai akhirnya ia menggelinjang hebat, kedua tangannya mencengkram keras kepalaku. Akhirnya ia mencapai orgasmenya. Ia terkulai lemas. Ditekan-tekannya kepalaku. Aku mengerti maksudnya.</p>
<p>Sekarang giliranku meminum cairan kenikmatannya. Kutelan habis semuanya dan dengan lidahku, kubersihkan daerah memeknya. Kemudian aku naik keatas dan mulai mencium bibir, leher dan telinganya. Akupun turun menghisap kedua susunya. Terkadang kugigit putingnya bergantian. Ia hanya mengeluh merasakan nikmatnya. Beberapa menit kemudian ia sudah terangsang lagi.</p>
<p>&#8220;Ayo sayang. Aku sudah tak tahan lagi. Masukin sayang, Masukin yah please..&#8221;<br />
&#8220;Iya Mbak, aku juga sudah tidak sabar ingin merasakan memek Mbak yg nikmat ini&#8221;</p>
<p>Ia mengangkangkan kedua pahanya, dan membimbing burungku memasuki sarangnya. Perlahan lahan kontolku masuk, sampai..bless. Aku berhenti sejenak ketika seluruh kontolku masuk ke memeknya.Oh hangatnya.</p>
<p>&#8220;Ayo sayang, goyang sayang ohh.. ohh&#8221; Kedua tangannya memegang pantatku dan membantu gerakan pinggulku.</p>
<p>Cukup lama aku mengocoknya, akhirnya kupercepat kocokanku ketika kurasakan lahar panas akan keluar lagi dari kontolku.</p>
<p>&#8220;Mbak, oh..aku mau keluar. Di keluarin dimana nih ohh.. oohh&#8221;<br />
&#8220;Mbak juga mau keluar, ohh.. oohh sama-sama ya sayang.. ohh.. di dalam aja gak apa-apa. Ohh barengan yah.&#8221; Akhirnya bersama-sama kami mencapai orgasme.</p>
<p>Tubuhku kurebahkan disampingnya. Ia memelukku dan menciumku.</p>
<p>&#8220;Terima kasih ya sayang. Kamu benar-benar hebat.&#8221;<br />
&#8220;Mbak juga hebat. Terima kasih Mbak telah mengajarkan saya. Mbak, kalo boleh saya tau, kenapa Mbak memilih saya? Bukankah banyak gigolo diluar sana yg lebih hebat dari saya?&#8221;<br />
&#8220;Ha.. ha.. Mbak pilih kamu karena Mbak suka kamu. Kamu mempunyai daya tarik sendiri yg aneh Wan. Mbak juga yakin kamu pasti bersih&#8221;</p>
<p>Ia tersenyum kemudian menciumku dan merebahkan kepalanya di dadaku. Malam itu kami masih melakukannya lagi beberapa kali sampai pagi. Bahkan ketika paginya kami mandi bersama-sama. Mbak Ella benar-benar kagum dengan keperkasaan dan permainan ranjangku. Padahal, itu adalah pengalaman pertamaku. Mungkin karena aku sering nonton film BF, karena yg aku lakukan hanya meniru apa yg aku tonton. Tapi kuakui, aku juga banyak belajar dari Mbak Ella. Dialah yg telah merenggut keperjakaanku.</p>
<p>Kemudian kami sarapan bersama. Sekali lagi ia mengucapkan banyak terima kasih padaku. Akupun pamit pulang.<br />
Jam 12 siang HPku berdering, ada SMS masuk. Oh ternyata Mbak Ella.</p>
<p>&#8220;Hai sayang, Mbak pergi dulu yah, gak lama kok. Jaga diri baik-baik yah. Sampai ketemu lagi. Daag&#8221;</p>
<p>Bagiku seminggu adalah waktu yg lama. Aku benar-benar merindukannya.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: anas9393@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kisah-seorang-gigolo-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Bersama Sopirku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenangan-bersama-sopirku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenangan-bersama-sopirku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:37:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2926</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah). Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah). Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. Aku pertama mengenal seks dari pacarku yang tak lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku haus seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.</p>
<p>Ketika itu aku belum diijinkan untuk membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku mempekerjakaan Bang Tohir sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan). Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku. Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang melihat ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku, aku sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.</p>
<p>Obsesiku yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru bubaran pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir dimana Bang Tohir sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.</p>
<p>&#8220;Non gak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok&#8221; hiburnya</p>
<p>Waktu itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil dan mengunci pagar aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua. Di kamar, dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap. Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.</p>
<p>&#8220;Sshh.. Bang&#8221; desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.</p>
<p>&#8220;Tenang Non.. saya sudah dari dulu kesengsem sama Non, apalagi kalau ngeliat Non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat Abang ngeliatnya juga&#8221; katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.</p>
<p>Tohir mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei dan kepala Tohir yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.</p>
<p>Sesaat kemudian, Tohir menarik kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap. Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.</p>
<p>&#8220;Non, teteknya bagus amat.. sama bagusnya kaya memeknya, Non marah ga saya giniin?&#8221; tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.</p>
<p>Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Tohir yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.</p>
<p>Aku merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Tohir kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas.</p>
<p>Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena Tohir perokok jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Tohir melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Dengan tetap memakai kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.</p>
<p>&#8220;Ayo Non, emutin kontol saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non&#8221; katanya.</p>
<p>Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.</p>
<p>&#8220;Uaahh.. uueennakk banget, Non udah pengalaman yah&#8221; ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.</p>
<p>Setelah lewat 15 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing penisnya menuju sasaran.</p>
<p>&#8220;Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan&#8221; katanya.</p>
<p>Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.</p>
<p>Tohir memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Tohir lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Tohir yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Non Citra, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!&#8221; ceracaunya di tengah aktivitasnya.</p>
<p>Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.</p>
<p>&#8220;Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang&#8221; desahku dengan mempererat pelukanku.</p>
<p>Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat, kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, &#8220;Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah Non, udah basah gini&#8221;.</p>
<p>Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Tohir meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.</p>
<p>Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Tohir mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.</p>
<p>Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Oouuhh.. Bang!&#8221; itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.</p>
<p>Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.</p>
<p>Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.</p>
<p>Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.</p>
<p>Tohir sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku. Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.</p>
<p>Sejak saat itu, Tohir sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku. Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan ortuku sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya dia nekad memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar ortuku letaknya agak berjauhan dariku. Meskipun begitu aku selalu mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau membuang di luar. Tiga bulan kemudian Tohir berhenti kerja karena ingin mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku sudah lulus SMU dan sudah diijinkan untuk membawa mobil sendiri.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: andacc@kittymail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenangan-bersama-sopirku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanteku Yuni</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/tanteku-yuni.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/tanteku-yuni.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2902</guid>
		<description><![CDATA[Hallo netters, namaku Wawan, umurku sekarang 26 tahun. Aku ada cerita menarik mengenai pengalaman seksku. Kejadian ini terjadi pada saat aku masih duduk dikelas 3 SMA, yach kira-kira umurku masih sekitar 19 tahun. Karena tinggal di salah satu kota besar yang terkenal dengan pendidikannya, aku dititipkan oleh orangtuaku di rumah tanteku yang kebetulan juga bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo netters, namaku Wawan, umurku sekarang 26 tahun. Aku ada cerita menarik mengenai pengalaman seksku. Kejadian ini terjadi pada saat aku masih duduk dikelas 3 SMA, yach kira-kira umurku masih sekitar 19 tahun. Karena tinggal di salah satu kota besar yang terkenal dengan pendidikannya, aku dititipkan oleh orangtuaku di rumah tanteku yang kebetulan juga bekerja sebagai dosen disalah satu perguruan swasta terkenal dikota.</p>
<p>Tanteku namanya Yuni, dia ini seorang &#8220;Single parent&#8221; dengan tiga orang anak; dua perempuan dan satu laki-laki. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Suaminya ini memang seorang pembalap lokal yang tidak terkenal namanya. Dengan tiga orang anak dan umurnya yang sudah 37 tahun, tanteku ini masih saja kelihatan seksi. Tubuhnya terawat, karena dengan kondisi keuangannya yang mapan, tanteku secara teratur senam. Hasilnya, walaupun dengan tiga orang anak, tubuhnya tetap terawat dengan baik. Pantatnya besar dengan pinggul yang juga besar tapi pahanya selain putih dan mulus juga singset tanpa ada tumpukan lemak sedikitpun. Payudaranya lumayan besar, entah kira-kira berapa ukurannya akupun tidak tahu tapi yang jelas masih sekal tidak kendor layaknya seorang Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak.</p>
<p>Kejadiannya berawal pada saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak ada orang hanya ada tanteku yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang, kebetulan hari itu jadwal mengajar tanteku hanya satu mata kuliah saja.</p>
<p>Sepulang sekolah, aku menemukan tanteku didapur sedang asyik memasak. Dengan langkah gontai karena kecapekan, aku langsung menghampiri meja makan.</p>
<p>&#8220;Tante Yun, belum siap yah makanannya?&#8221; tanyaku kelaparan.</p>
<p>&#8220;Belum Wan, sabar yah. Ini lo si Suti (pembantu tanteku) pulang tadi pagi, jadinya ya gini nih repot sendiri&#8221; keluh tanteku</p>
<p>Di dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau tanteku tidak pernah kerja &#8220;Sekeras&#8221; ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah tanteku semakin cantik.</p>
<p>Saat itu dia hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena bentuk pantat dan pinggulnya yang besar, daster itu jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya. &#8220;Ah, seksi sekali&#8221; pikirku kotor.</p>
<p>&#8220;Wawan bantuin ya Tante?&#8221; tawarku.</p>
<p>&#8220;Boleh Wan, sini!&#8221; ternyata tanteku tidak keberatan.</p>
<p>Tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku mendekat, entah karena apa tiba-tiba kran air di cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air yang langsung dari tandon air yang penuh menyembur dengan derasnya mengenai tanteku yang kebetulan ada didepannya.</p>
<p>&#8220;Aduh Wan, tolong.., gimana ini?&#8221; tanteku dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.</p>
<p>Karena tubuh tanteku tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia harus sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.</p>
<p>Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya menutup saluran air itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan, tanpa sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang sekal. Keadaan ini bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku.</p>
<p>&#8220;Aduh Wan gimana ini?&#8221; tanya tanteku tanpa bisa bergerak.</p>
<p>&#8220;Duh gimana ya Tante, aku juga bingung.&#8221; kataku mengulur waktu.</p>
<p>Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepas satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya aku justru melepas celanaku berikut juga celana dalamku. Memang agak susah tapi akhirnya aku berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa lagi.</p>
<p>&#8220;Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Tante. Sebentar Wawan carikan dulu yah&#8221;</p>
<p>Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku di saluran air.</p>
<p>&#8220;Pegang dulu Tante&#8221; kataku sedikit terengah menahan gairah.</p>
<p>&#8220;Yah, gih sana cepetan, Tante sudah pegal nih&#8221; sungut tanteku.</p>
<p>Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar.</p>
<p>&#8220;Ehh.. apa-apan ini Wan, jangan gitu dong!?&#8221; tanpa sadar tanteku melepas pegangannya disaluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.</p>
<p>&#8220;Auhh.. ohh&#8221; suara tanteku jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air. Tanpa sadar juga tanteku berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi.</p>
<p>&#8220;Kesempatan&#8221; pikirku, dengan satu sentakan celana dalam tanteku melorot sampai diujung kakinya.</p>
<p>&#8220;Auwch.. duh Wan jangan, aku ini tantemu, jangann..&#8221; Mohon tanteku.</p>
<p>Kepalang tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalaku, kujulurkan lidahku untuk mencapai vaginanya.</p>
<p>&#8220;Auwchh.. Wan.. ahh..&#8221; jilatan pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi.</p>
<p>Lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari vaginanya, semakin kedalam membuat tanteku bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan, yang ada kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari klitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang vaginanya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.</p>
<p>&#8220;Ahh..hh Wann.. ahh aouhh..&#8221; dengan erangan keras, rupanya tanteku sudah mencapai orgasme. Tubuhnya langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.</p>
<p>&#8220;Aduh aku belum apa-apa&#8221; pikirku.</p>
<p>Langsung aku berdiri, kusiapkan senjataku yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan kontolku kevaginanya. Kudorongkan sedikit demi sedikit. Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung kulesakkan dengan kasar.</p>
<p>&#8220;Ahh sakit Wan.. pelan.. auh&#8221; kepala tanteku langsung melonjak keatas, tanpa sengaja pegangannya di saluran air terlepas. Air menyembur dengan deras. Kepalang basah, begitu mungkin pikir tanteku karena selanjutnya dia hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku.</p>
<p>Kudiamkan sebentar kontolku yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam vagina tanteku, ku nikmati benar-benar bagaimana ternyata vagina yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih saja nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Wan enak, terus sayang..yang cepat aouhh.. ahh.. terus sayang&#8221; pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku.</p>
<p>&#8220;Nah gitu Wan, ouhh.. ya gitu teruuss..&#8221; Pinta tanteku.</p>
<p>Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat.</p>
<p>&#8220;Yang cepat Wan, Tante sudah mau keluar lagi.. ouhh.. terus&#8221; kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan.</p>
<p>&#8220;Cepatt.. cepatt truss.. ouchh.. Tante kelluaarr.. aghh&#8221; Orgasmenya telah sampai dibarengi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran cucian piring dengan erat.</p>
<p>&#8220;Cabut dulu Wan.. Tante linuu..&#8221; pinta tanteku, karena merasakan aku yang masih mengocoknya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Akan wawan cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante?&#8221; kataku.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi sekarang dari depan aja yah&#8221; janji tanteku.</p>
<p>Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Aku mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu tangannya membimbing kontolku kearah liang vaginanya. Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga kontolku.</p>
<p>&#8220;Ahh.. oohh..&#8221; erang tanteku, ciuman kami terlepas.</p>
<p>&#8220;Kocokkan yang cepatt wann..&#8221; pinta tanteku sambil pahanya semakin dilebarkan.</p>
<p>&#8220;Begini Tante..&#8221; Kataku sambil mengocokkan kontolku dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Gila kamu Wann.. kuaatt sekalii kamuu..&#8221; sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas vaginanya. Aku tahu mau maksudnya.</p>
<p>&#8220;Yahh yang ituu.. teruss Wann.. ohh enakk.. Wan teeruss..&#8221; rintih tanteku ketika sambil kontolku mengocok vaginanya tanganku juga memelintir klitorisnya.</p>
<p>&#8220;Ohh Wan, Tante hampir sampai..&#8221; tubuhnya mulai bergetar agak keras.</p>
<p>&#8220;Aku juga hampir sampai Tante.. ohh punya Tante eenakk..&#8221; aku mulai tidak bisa mengendalikan lagi, orgasmeku tinggal sebentar lagi.</p>
<p>&#8220;Dikeluarin dimana Tante?&#8221; tanyaku minta ijin.</p>
<p>&#8220;Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss.. didalemm jugaa nggakk Papa&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayoo..Tante udah diujung nihh wann..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ouhh.. enakk.. cepatt Wann.. yangg cepatt&#8221; rintih tanteku.</p>
<p>&#8220;Goyang Tante, kita barengan ajaa.. oghh&#8221; orgasmeku sudah diujung.</p>
<p>Semakin kupercepat kocokanku, tanteku juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air maniku.</p>
<p>&#8220;Aku keluarr tantee.. aughh..&#8221; sambil kubenamkan dalam-dalam.</p>
<p>&#8220;Tante juga Wann.. oughh akhh.. gilaa.. uenakknya..&#8221; erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.</p>
<p>Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih ada didalam vaginanya. Kulirik ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari vaginanya. Seperti tersadar dari dosa, tanteku mendorong badanku.</p>
<p>&#8220;Kamu nakal Wan, berani sekali kamu berbuat ini&#8221; sungut tanteku.</p>
<p>&#8220;Tapi Tante juga menikmatinya kan?&#8221; belaku.</p>
<p>Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi. Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya.</p>
<p>&#8220;Tante air di tandon tadi sudah habis loh&#8221; candaku dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.</p>
<p>*****</p>
<p>Demikian pengalamanku, selanjutnya kejadian seperti tadi berlangsung terus. Walaupun menolak dalam hati tapi tubuh dan hasrat tanteku tidak bisa menolak kontolku. Bagi para pembaca yang ingin berbagi pengalaman atau mungkin justru ada Tante-Tante yang berhasrat seperti tanteku, silakan hubungi emailku, pasti kubalas.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: gufo19071977@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/tanteku-yuni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbak Nin, Istri Sepupuku &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/mbak-nin-istri-sepupuku-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/mbak-nin-istri-sepupuku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2892</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Aku sengaja tidak langsung mengocokkan kontolku, aku diamkan semua bagian kejantannanku tetap habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan sejenak betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku masih belum bergerak, aku dapat merasakan kemaluan Mbak Nin yang tidak hanya sempit, tapi juga dapat menghisap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Aku sengaja tidak langsung mengocokkan kontolku, aku diamkan semua bagian kejantannanku tetap habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan sejenak betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku masih belum bergerak, aku dapat merasakan kemaluan Mbak Nin yang tidak hanya sempit, tapi juga dapat menghisap dan menekan-nekan kemaluanku.</p>
<p>Tanpa menarik kontolku, aku gerakan pantatku kedepan tiga kali sehingga.., &#8220;Bleb, bleb, bleb..!&#8221; Posisi Mbak Nin pun sedikit maju karena tekanan dari ku.</p>
<p>&#8220;Oh.., Ah.., Oh..!&#8221; Desahan Mbak Nin seiring dengan tekanan tadi.<br />
&#8220;Sayang, cepat donk, pompa aku semau kamu!&#8221; Pinta Mbak Nin.</p>
<p>Aku mulai menarik dengan perlahan kemaluanku sampai sebatas leher kemaluanku, kemudian aku tekan perlahan, tapi hanya sampai setengah batang kejantananku, kemudan aku tarik, aku tekan setengah, tarik, tekan, tarik tekan.. terus begitu secara berulang. Aku melakukan dengan cara yang aku baca dari buku kama sutra, yaitu, aku tarik keluar kejantananku sampai sebatas leher dan kemudian aku masukan hanya setengah dari batang kejantananku sebanyak 10 kali, dan kemudian diselingi 1 kali keluar sebatas leher dan masuk sampai amblas semua batangku dan menahannya sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Mbak Nin untuk melakukan gerakan berputar.</p>
<p>&#8220;Crek, crek.. crek.. crek.&#8221; Suara indah itu terulang sepuluh kali, diselingi dengan.. &#8220;Sleb..&#8221; sebanyak sekali &#8220;Plok, plok, plok, plok..!&#8221; Suara yang muncul akibat benturan antara pangkal pahaku dengan pantat putih mulus Mbak Nin membuat suasana semakin indah. Memek Mbak Nin memang gila. Betapa aku tak perlu mengangkat pantatku sedikit keatas agar mendapat gesekan dan tekanan pada bagian atas batang kemaluanku, atau ke bawah agar gesekannya lebih terasa di bawah, atau kekiri, atau kekanan.., semua itu tidak perlu sama sekali. Kemaluan Mbak Nin yang benar-benar lubang surga itu sudah sangat sempit, sehingga menekan dan menggesek semua permukaan kontolku, dari ujung kepala sampai ke pangkal kemaluanku.</p>
<p>Aku tak bisa lagi mengatur gerakanku, semakin lama gerakanku semakin cepat, dan tekanannya pun semakin keras. Dari posisiku yang di belakang, aku dapat jelas melihat penisku keluar masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Mbak Nin itu tertarik keluar setiap batangku kutarik keluar.</p>
<p>&#8220;Oughh, ough.., ah.., oh.., kamu hebat sayang.&#8221; Mbak Nin terus mendesah dan meracau.</p>
<p>Sesekali dengan posisinya yang menungging, tangan kanan Mbak Nin kebelakang dan menyentuh perutku untuk menahan tekanan yang aku lakukan. Aneh memang, Mbak Nin menahan laju tekanan penisku dengan tangannya, tetapi Mbak Nin terus meracau..</p>
<p>&#8220;Terus sayang, ah.., terus, terus sayang..!&#8221;</p>
<p>Buah dada Mbak Nin terpental-pental dan desahannya benar-benar menghanyutkan, seperti suara musik terindah yang pernah aku dengar.</p>
<p>&#8220;Ahh.. shh sshh sayang, Ohh.. enakk.. Uhh uhh.. hmm.. Enak sayang.. terus!&#8221; Seru Mbak Nin.<br />
&#8220;Aoww..!&#8221; Tiba-tiba Mbak Nin sedikit berteriak.<br />
&#8220;Kenapa Mbak, sakit ya?&#8221; Tanyaku yang hanya di jawab dengan senyum dan gelengan kepalanya saja.<br />
&#8220;Teruskan sayang aku suka koq.&#8221; Katanya.</p>
<p>Aku berpikir mungkin gerakanku terlalu kuat, ditambah liang vagina Mbak Nin yang begitu sempitnya. Maka aku ambil inisiatif untuk mengangkat kaki kanannya. Aku angkat kaki kanannya agar lubang surga Mbak Nin sedikit lebih longgar, sehingga Mbak Nin dapat lebih menikmatinya.</p>
<p>&#8220;Oghh, ff, sayang kamu memang hebat!&#8221; Katanya.</p>
<p>Karena gesekan yang terjadi sedikit berkurang, aku semakin cepat melakukan gerakan maju mundur dengan sedikit gerakan keatas akibat terangkatnya kaki kanan Mbak Nin dengan tangan kananku. Semua hal itu tidak mengurangi kenikmatan yang aku rasakan, bahkan percintaan kami menjadi lebih variatif, sampai suatu saat aku turunkan lagi kaki kanannya dan kedua tanganku memegang pinggulnya kuat-kuat sambil sesekali meremas pantatnya yang bulat indah itu. Dan..</p>
<p>&#8220;Oughh.. sayang.. aku keluar..!&#8221; Vagina Mbak Nin kurasakan semakin licin dan hangat, tapi denyutannya semakin terasa.</p>
<p>Aku dibuat terbang rasanya. Aku hentikan gerakan maju mundurku, sekarang aku benamkan seluruh batang penisku ke liang vagina Mbak Nin sambil terus mendenyutkan batang kemaluanku. Aku tekan dengan kuat penisku 