<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Umum</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/cerita-sex-umum/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Istriku Selingkuh dengan Bule</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/istriku-selingkuh-dengan-bule.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/istriku-selingkuh-dengan-bule.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2350</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi urusannya terkatung-katung.</p>
<p>Istriku memilih tinggal sendirian kost di dekat Hotel tempat dia bekerja sebagai Public Relation Manager. Minggu pagi aku berniat mengunjungi dia, kangen juga sih, sudah 3 bulan aku tidak pernah ketemu dia.</p>
<p>Di depan pintu aku kaget melihat seorang bule keluar dari kamarnya, aku menunggu sebentar sampai si bule pergi dan nyelonong masuk kamar istriku, aku pura-pura tidak tahu tentang si bule yang barusan keluar. Kulihat istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Tubuhnya masih tetap seperti dulu padat dan sintal, mungil tapi proporsional, Dia keget melihatku sudah duduk di atas tempat tidurnya.</p>
<p>Kutanya kabarnya namun tidak dijawab, dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, buah dadanya dipamerkan begitu saja, membuat aku jadi bernafsu. Ukuran buah dada istriku memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yah.., sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, bentuknya sangat menggiurkan mata laki-laki yang memandangnya, bulat, padat dan tidak melar. Melihat itu penisku langsung berdiri, apa lagi melihat bekas gigitan si bule di pundak dan buah dadanya.</p>
<p>Kupeluk dia dari belakang, kucium lehernya dan kubisikkan ajakan untuk bersetubuh, namun dia menolak dengan alasan ada janji dengan teman pagi ini. Selesai berpakaian dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian. Lama aku berpikir, dan terlintas dibenakku untuk mengintai hubungan intim mereka. Aku tanyakan ke ibu kost untuk menyewa kamar sebelah, kutahu kamar sebelah tidak ditempati. Setelah dealt dengan ibu kos aku langsung balik ke rumah mengambil peralatan spy-ku yang dulu kubeli dari internet. Aku mempunyai dua buah pinhole video camera yang bisa ngintip lewat lubang kecil. Dulu alat ini aku gunakan untuk mengintip anak-anak kost di rumahku. Balik lagi ke tempat kost istriku dan langsung memasang peralatan spy-ku.</p>
<p>Aku buat lubang kecil tepat di atas temat tidur dan satu lagi di kamar mandi. Selesai pasang kamera lewat plafon, aku coba connect ke TV-monitor yang kupersiapkan di kamar sebelah, hampir 70% dari ruangan tidur bisa kumonitor dan selanjutnya beralih ke channel di kamar mandi, di sini aku harus naik lagi ke plafon karena lokasi cameranya kurang tepat, kugeser sedikit agar tepat di atas bath tub.</p>
<p>Jam 12.00 aku selesai setup video spy-ku, lalu mandi sebentar membersihkan debu yang melekat di tubuhku setelah naik ke langit langit kamar kost. Sambil tiduran menunggu istriku kembali ke kostnya. Kira-kira jam 20.00 kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata istriku dan si bule yang datang. Kunyalakan TV-monitor, kulihat si bule menunggu istriku yang sedang menutup pintu kamar, istriku tampak tidak sabaran, langsung menubruk si bule dan mereka berpagutan sambil saling melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, istriku jongkok di hadapan si bule yang penisnya setengah ereksi dan melahap penis besar di hadapannya. Mulut istriku tidak bisa menampung seluruh penisnya.</p>
<p>Perlahan tapi mantap penis si bule ereksi penuh karena permainan lidah istriku. Kutahu ini adalah keahlian istriku, dulu aku sampai merem melek dibuatnya. Si bule yang tinggi besar mengangkat tubuh mungil istriku ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat bernafsu si bule melahap buah dada kenyal milik istriku. Dari TV-monitor aku dengan jelas sekali melihat wajah istriku yang lagi merem melek menikmati permainan lidah si bule.</p>
<p>Puas menikmati kedua gunung kembar istriku, si bule beralih turun ke perut lalu ke bukit yang ditumbuhi bulu jarang-jarang. Desahan istriku sangat jelas kudengar lewat earphone karena sebelumnya sudah kupasangi wireless microphone di belakang head board-nya. Tangan istriku menarik kuat-kuat sprei sewaktu lidah si bule mulai menyusuri lubang vaginanya.</p>
<p>Selang berapa menit si bule merubah posisinya untuk ber’69′. Desahan istriku langsung hilang bersamaan dengan disumbatnya mulut istriku dengan penis besar si bule. Dengan sangat bernafsu istriku memainkan penis di mulutnya, sedangkan si bule sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris istriku, kulihat kaki istriku mulai menegang dan paha istriku menjepit kepala si bule.</p>
<p>Setelah puas ber-’69′, si bule duduk bersandar di head board dan istriku duduk di pangkuannya dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan istriku memasukan penis besar si bule ke lubang vaginanya. Istriku menjerit kecil ketika penis si bule mulai menerobos masuk. Dia mendongak ke atas sambil meringis menahan sakit saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis si bule masuk lebih dalam.</p>
<p>Setelah diam beberapa saat untuk melumasi penis si bule, istriku mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan si bule melahap dan mejilati buah dada istriku. Ini adalah gaya yang paling disukai istriku. Gerakan istriku maju mundur makin lama makin cepat dan tidak beraturan, selang 5 menit tubuh istriku bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut si bule.</p>
<p>Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui istriku agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah dada istriku yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Istriku lalu mengangkangkan pahanya lebar-lebar, dari TV-monitor aku bisa lihat vagina istriku yang kemerah-merahan akibat gesekan penis besar si bule. Dia menusukkan senjatanya ke vagina istriku dan mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara, “Plak! plok…, plak! plok!”, dari benturan paha mereka.</p>
<p>Istriku mendesah hebat setiap kali si bule menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Rasa cemburuku timbul saat melihat perlakuan kasar si bule terhadap istriku, tetapi aku menikmatinya, penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi. Posisi ini tidak bertahan terlalu lama, si bule minta istriku nungging dan dia menusukkan senjatanya dari belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis si bule keluar masuk menusuk vagina istriku.</p>
<p>Lima menit berlalu si bule menunggangi istriku, perlahan-lahan dia mulai kesetanan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya dengan kesetanan. Akhirnya si bule memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina istriku. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya. Kulihat istriku mencium mulut si bule mesra sekali, dari slang English-nya kutahu dia adalah orang Italy.</p>
<p>Berdua mereka ke kamar mandi, aku cepat-cepat mencolokkan cable RCA dari camera yang di kamar mandi ke TV-monitor. Di kamar mandi kulihat istriku jongkok memutar kran shower sementara si bule memegang shower head-nya. Lalu mereka saling menggosok dengan sabun. Si bule lama sekali membersihkan vagina istriku sampai dia merem melek. Bath tub mereka isi setengahnya lalu tiduran berdua di dalamnya dengan si bule di bawah dan istriku di atas pelukan si bule. Mereka saling berpagutan mesra. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, aku buru-buru pulang karena besok senin pagi aku harus kerja. Terpaksa aku kehilangan adegan hot selanjutnya. Dulu aku berniat membeli alat perekam VCR 24 jam, namun tidak jadi karena harganya mahal. Sesampainya dirumah mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot istriku dengan si bule. Coba aku punya perekam, aku bisa melihat adegan mereka selanjutnya. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.</p>
<p>Senin malam jam 20.00, sepulang dari tempat kerja aku langsung meluncur ke tempat kost istriku, suara desahan terdengar dari kamar istriku, “wah telat aku”. Cepat-cepat kubuka pintu kamarku yang ada di sebelah kamar istriku, TV-monitor kunyalakan, namun mereka tidak kelihatan di kamar tidur, terlihat tempat tidur yang acak-acakan dan pakaian berserakan di mana-mana. Kucoba colokkan monitor yang di kamar mandi, dan “astaga!” Mereka bertiga, istriku, si bule dan temanya bule satunya lagi, yang ini bentuk penisnya lucu, bagian bawah kecil namun kepalanya sebesar bule satunya lagi. Sekarang kutahu nama bule yang menyetubuhi istriku kemarin namanya Jullio, itu aku dapat dari teman istriku di tempatnya bekerja.</p>
<p>Jullio adalah tamu yang sering menginap di hotel tempat istriku bekerja dan dia mempunyai business di Indonesia. Di kamar mandi, istriku kulihat sedang nungging sedangkan Jullio memompa vagina istriku dari belakang, tangan istriku berpegangan ke pinggir bath tub sambil melumat penis anehnya milik si bule satunya yang duduk di ujung bath tub. Aku baru tahu kalau istriku bisa sebuas ini sama cowok bule. Wah ini adegan yang sungguh sangat menyesakkan dadaku, rasa iri, cemburu, marah, menyesal, birahi, sedih bercampur aduk, pokoknya tidak bisa dijelaskan. Keadaan tempat tidur yang acak-acakan menandakan merekan sebelumnya bergumul di sana dan pergumulan mereka di kamar mandi saat ini mungkin babak kedua atau mungkin ketiga. Aku telah kehilangan adegan tersebut. Kalau kubayangkan mungkin lebih seru dari yang di kamar mandi.</p>
<p>Jullio mencabut penisnya dari vagina istriku dan menancapkanya lagi ke lubang pantat istriku, seumur-hidup aku belum pernah menikmati lubang istriku yang satu ini, setiap aku minta dia selalu menolak dengan alasan sakit lah, tidak enak lah, Namun dengan si bule ini kenapa dia berikan. Ini tidak adil!, Jullio nampak mulai kesetanan, semetara istriku berteriak kecil setiap penis besar ini masuk lebih dalam.</p>
<p>Dalam 5 menit Jullio mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh air maninya di punggung istriku. Sementara bule satunya lagi asyik menikmati permainan mulut istriku, karena sudah bernafsu si bule satunya lagi langsung menggendong istriku ke tempat tidur. Istriku di tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara si bule berdiri di lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat istriku. Goyangan pantat si bule menimbulkan suara, “Ceplak.., ceplok..!”,.</p>
<p>penis si bule yang bentuknya aneh itu makin keras menghunjam pantat istriku sambil tangannya meremas keras pantat bahenol istriku. Datang dari kamar mandi si Jullio langsung ikutan nimbrung, dia menyusup ke bawah tubuh istriku dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke vagina istriku lalu menurunkan badan istriku, si bule satunya lagi tetap berdiri dengan penis menancap ke pantat istriku, dia agak membungkuk karena badan istriku merendah dan nempel ke tubuh Jullio. Mereka mulai bergoyang, mulut istriku dengan lahap menjilat dada bidang si Jullio yang di penuhi dengan bulu.</p>
<p>Si bule satunya sudah mulai kesetanan, pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, “Cret.., cret.., cret”, spermanya tumpah di punggung istriku, sementara si Jullio masih asyik menikmati goyangan istriku dari atas, karena si bule satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, istriku lalu duduk bersimpuh di penis si Jullio dan bergoyang maju mundur. Tangan si Jullio meremas buah dada kenyal milik istriku, desahan istriku makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas tubuh Jullio.</p>
<p>Jullio bangkit dan mulai menyodok lubang pantat istriku yang lagi tengkurep lemas. Plok.., plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si Jullio menumpahkan spermanya di atas punggung istriku dan terkulai lemas di sebelah istriku. Si bule satunya datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka. Sempat-sempatnya dia melumat mulut istriku sebelum pergi. Jullio menggendong istriku ke kamar mandi. Setelah saling membersihkan di kamar mandi, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.</p>
<p>Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.00, aku putuskan untuk tidur di sini dan besok aku akan bolos kerja. Sampai jam 02.00 di kamar istriku tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.</p>
<p>Jam 04.00 aku terbangun dan melihat ke monitorku. Kulihat tangan istriku mengocok penis si Jullio yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala istriku dituntun paksa oleh si bule untuk melakukan blow job. Mulut istriku yang mungil tampak mengembung akibat sumbatan penis si Jullio. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut istriku, si Jullio akhirnya tertidur pulas lagi, sementara istriku ke kamar mandi membersihkan mulutnya.</p>
<p>Jam 07.00 si bule bangun, berpakaian dan pamitan ke istriku yang bermalas-malasan di tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si Jullio pergi, aku menyerbu masuk ke kamar istriku, dia kaget sekali melihat aku datang, aku langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, “Lis… kamu jangan munafik, si bule dua orang itu kenapa kamu kasih…ah?”, aku keceplosan ngomong. Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Akhirnya aku menjelaskan aktivitas spy-ku di kamar sebelah. Wajah istriku tampak merah padam antara malu dan marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan si bule. Dia memintaku agar cepat-cepat mengurus perceraian kami, karena dia akan segera menikah dengan si Jullio dan pergi ke Italy. Aku menyanyakan apakah dia benar-benar mencintai si bule namun tidak dijawabnya. Aku memberi tahu bahwa hidup di luar negeri itu susah dan budaya mereka beda. “Aku takut nanti di sana kamu dijadikan budak nafsu mereka”, saranku.</p>
<p>Setelah kejadian itu, mereka selalu berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya untuk bercinta. Aku jadi kehilangan objek spy-ku karena ketololanku sendiri. Aku tidak bisa menaklukkan rasa cemburuku. Setelah kami resmi bercerai, istriku diboyong si bule ke Italy. Sampai sekarang aku tidak pernah terima kabar darinya.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/istriku-selingkuh-dengan-bule.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cici Fiona, Guru Lesku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:02:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini terjadi pada waktu aku duduk dipertengahan kelas 3 SMA dulu. Waktu itu nilai-nilai pelajaranku terutama matematika, fisika dan kimia bisa dibilang hancur lebur. Aku kadang-kadang menyesal juga dulu mamilih kelas IPA, kenapa waktu itu tidak memilih IPS saja supaya tidak ketemu 3 pelajaran keramat itu, tapi ya nasi sudah jadi bubur, ya mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini terjadi pada waktu aku duduk dipertengahan kelas 3 SMA dulu. Waktu itu nilai-nilai pelajaranku terutama matematika, fisika dan kimia bisa dibilang hancur lebur. Aku kadang-kadang menyesal juga dulu mamilih kelas IPA, kenapa waktu itu tidak memilih IPS saja supaya tidak ketemu 3 pelajaran keramat itu, tapi ya nasi sudah jadi bubur, ya mau apa lagi. Demi memperbaiki nilai-nilaiku, aku terpaksa mengiluti les bersama 2 temanku, Hans dan Vernand. Yang memberi les seorang mahasiswi tingkat akhir, umurnya kira-kira 22 tahun waktu itu. Aku mengenalnya melalui perantaraan ciciku. Namanya Fiona, penampilannya perfect sekali, kulit putih, body langsing dengan buah dada yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, pas lah untuk ukuran orang Asia, rambutnya panjang sedada, biasanya dikucir, wajahnya juga cantik, tidak lebar tidak juga panjang, sekilas mirip artis Moon Lee dari Hongkong, dia juga memakai kacamata minus, yang membuatnya terlihat seperti orang pintar, tapi itu tidak mengurangi kecantikannya.</p>
<p>Hari itu aku pergi les ke rumahnya bersama dengan Hans, waktu itu Vernand tidak bisa datang karena sakit. Sesampainya di sana, kami memencet bel berulang kali tapi tidak ada yang membukakan pintu, sialnya lagi waktu itu hujan sudah mulai turun deras sedangkan kami tidak membawa jas hujan, terpaksa kami mampir dulu ke restoran kecil tepat di seberang rumahnya, minum kopi dulu sambil menunggu hujan reda.</p>
<p>Kira-kira 15 menit kemudian aku melihat Ci Fiona turun dari taksi dan langsung berlari ke rumahnya karena tidak membawa payung. Aku langsung memberitahu Hans, setelah kami membayar, lalu kami membawa motor masing-masing ke depan pagar rumah Ci Fiona, sebelum dia masuk rumahnya kami sudah sampai di depan pagar sehingga kami tidak bertambah basah karena dia sudah melihat kehadiran kami.</p>
<p>Di dalam rumah kami membuka jaket kami yang basah. Ci Fiona memberikan handuk pada kami untuk mengeringkan diri dan memberikan kami minum teh panas. Dia sendiri sempat kebasahan sehingga pakaiannya mengerut dan makin memperlihatkan lekuk tubuhnya.</p>
<p>“Aduh sori banget yah, hari ini Cici ada kuliah tambahan lupa beritahu kalian jadi bikin kalian basah gini”, katanya.<br />
“Tidak apa-apa kok Ci kita maklum, tapi kok kenapa di rumah sekarang sepi amat nih, yang lain pada ke mana nih?”, tanya Hans.<br />
“Papa dan Mama lagi ke Surabaya ngikutin undangan pernikahan saudara nih, terus pembantu cici udah pulang, kan udah deket lebaran”.<br />
“Wah jadi repot dong Ci di rumah sendirian”, kataku padanya.<br />
“Yah begitulah, tapi besok ortu pulang kok”, katanya.<br />
“Eh, sebelum les Cici mau mandi dulu sebentar ya, basah nih nanti flunya kambuh lagi, kalian tunggu saja dulu di sini oke..”.<br />
Mendengar itu pikiranku mulai ngeres membayangkan di saat dingin begini bisa mandi bersama cewek secantik Ci Fiona. Ooh enaknya, dingin-dingin empuk deh rasanya.</p>
<p>Dari kamar mandi mulai terdengar suara percikan air, ingin rasanya aku mengintipnya tapi sayang lubang kuncinya sempit sekali. Kami mulai melihat-lihat isi ruang tamunya, melihat foto-fotonya waktu kecil, foto pernikahan kakaknya, dan foto-foto keluarga yang terpajang di sana.</p>
<p>Tiba-tiba dari kamar mandi terdengar jeritan disusul Ci Fiona keluar dari kamar mandi hanya dengan ditutupi handuk yang dilipat dan secara refleks memeluk Hans yang saat itu dekat kamar mandi. “Ada kecoa besar sekali di sana!”, katanya. Aku masuk ke kamar mandi dan melihat ada seekor kecoa yang cukup besar yang bisa membuat wanita terkejut, segera kutepuk binatang itu dengan sandal dan kubuang bangkainya ke tong sampah. Waktu aku keluar kamar mandi kulihat Ci Fiona masih dipelukan Hans dengan hanya selembar handuk saja, dalam hati aku merasa sirik. “Huh kenapa gua dari tadi bukan berdiri di situ, sialan”, gerutuku dalam hati. Ci Fiona terlihat seksi sekali saat itu, rambutnya yang basah tergerai dan pahanya yang putih panjang itu kulihat dengan jelas sekali membuat penisku bangkit saat itu, ingin rasanya menarik handuk itu.</p>
<p>Hans berkata, “Ci kecoanya sudah mati Ci, tenang.., tenang..!”.<br />
Beberapa saat kemudian Ci Fiona mulai tenang dan berkata, “Terima kasih ya untung ada kalian, Cici takut banget sama kecoa”.<br />
Dia mulai melepaskan pelukan tidak sengajanya itu, tapi mendadak Hans menangkap pergelangan tangan kirinya dan tidak melepasnya.<br />
“Eh, kenapa kamu ini Hans, sudah cici mau berpakaian dulu nih”.<br />
“Sudah Ci tidak usah repot-repot berpakaian deh, saya lebih suka ngeliat Cici seperti ini”, jawab Hans.<br />
“Udah ah, kamu jangan main-main keterlaluan gitu ya”, kata Ci Fiona sambil menghentakkan tangannya, tapi Hans bukannya melepas malah semakin erat menggenggamnya sambil tangan satunya menarik lipatan handuk yang dipakai Ci Fiona sehingga handuk itu jatuh, dan terlihatlah pemandangan terindah yang pernah kulihat tubuh putih indah dengan buah dada yang putingnya merah muda dan kemaluannya yang tertutup bulu-bulu hitam yang lebat, persis seperti model-model nude Jepang yang kulihat di internet.</p>
<p>“Kurang ajar kamu ya!”, bentaknya sambil menampar Hans.<br />
Ditampar begitu Hans bukannya kapok, malahan memegang tangan satunya itu dan melipat kedua tangan Ci Fiona ke belakang, lalu mencium bibirnya, membuat pipi Ci Fiona memerah malu.</p>
<p>Melihat adegan panas itu aku yang sudah terbuai nafsu langsung mendekati mereka. Aku memeluk Ci Fiona yang sedang berciuman dari belakang. Tubuh Ci Fiona terasa harum, karena baru selesai mandi. Tanganku agak gemetar ketika memegang buah dadanya yang indah. Kumain-mainkan putingnya sampai terasa mengeras, aku juga menciumi kupingnya dan turun menjilati lehernya, kemudian tangan kiriku mulai turun meraba kemaluanya dan memainkan klitorisnya, hangat rasanya tanganku di tempat itu. Hans melepas ciumannya setelah merasa susah bernafas.</p>
<p>“Sudah.., sudah berhenti.., kalo tidak Cici teriak nih!”, kata Ci Fiona.<br />
Tapi bukannya berhenti, Hans kembali melumat bibir Ci Fiona dan mulai meraba dadanya, aku gantian memegangi tangan Ci Fiona. Menurutku Ci Fiona sebenarnya suka diperlakukan begitu hanya saja dia sok jual mahal atau mungkin juga malu. Buktinya kalau dia tidak suka dia pasti sudah berteriak sejak tadi, dan lagi pula dia bisa dengan mudah menendang sekangkangan Hans untuk melepaskan diri, tapi nyatanya dia hanya meronta-ronta sedikit dan lebih lagi dia juga mulai mengeluarkan lidahnya untuk beradu ketika Hans menciuminya.</p>
<p>Tidak lama kemudian rontaannya mulai melemas dan kelihatannya dia mulai menikmati semua ini.<br />
Hans kembali berkata, “Ci di sini tidak nyaman kan, gimana kalo kita ke kamar Cici aja?”.<br />
“Sudah.., cukup.., kalian memang keterlaluan, Cici ini kan guru kalian!”.<br />
Tanpa menjawab Hans mencari dan menemukan kamar Ci Fiona, aku menutup mulut Ci Fiona dengan tanganku sambil memegangi kedua tangannya yang terlipat ke belakang dan aku menggiringnya masuk ke kamarnya. Setelah Hans mengunci pintu aku mendorong Ci Fiona ke ranjang. Ci Fiona meraih selimut dan menutupi tubuhnya lalu berkata, “Kurang ajar kalian ya.., pergi kalian dari rumah ini..!”. Tapi kami mana mungkin menurutinya, aku mendekatinya sementara Hans membuka pakaiannya, kurebahkan dia di ranjang. Kulumat bibir mungilnya, lalu kujilat buah dadanya, sambil tanganku memainkan vaginanya yang sudah basah karena kumainkan waktu di ruang tamu tadi.</p>
<p>“Stop.., pergi.., jangan gitu Siung.., ah.., jangan.., ahh!”, kudengar Hans berkata padaku.<br />
“Eh Siung mau main kok masih pake baju, lepas dulu dong sana!”.<br />
Hans yang sudah bugil duduk di samping kami, lalu kulepas sebentar Ci Fiona untuk membuka bajuku, Hans langsung menyambar Ci Fiona dan menjilati vaginanya, sesudah bugil aku mendekati lagi Ci Fiona yang lagi terbaring. Aku berlutut di depan wajahnya dan berkata, “Ci tolong dong jilatin, boleh tidak?”. Ci Fiona menatapku sejenak sambil mendesah karena jilatan Hans, lalu diraihnya penisku dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Kulumannya enak sekali, penisku terasa hangat dan basah. Sambil dikulum, kuremas-remas buah dadanya yang montok itu.</p>
<p>Setelah puas menjilati vagina Ci Fiona, Hans mengarahkan penisnya yang cukup besar itu ke liang vagina Ci Fiona, dengan perlahan Hans memasukkannya sementara Ci Fiona terus mengulum dan menjilati penisku. Ternyata Ci Fiona sudah tidak perawan lagi, karena ketika Hans memasukkan penisnya tidak ada darah sedikitpun.</p>
<p>Kira-kira 10 menit lebih penisku dikulum olehnya, aku merasakan sudah mau keluar dan aku sebenarnya sudah mau melepasnya namun tak tertahankan lagi akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, dia pun melepas kulumannya. Kulihat mulutnya penuh dengan mani dan sisanya muncrat membasahi wajahnya, “Sori Ci, Cici terlalu semangat sih tadi, Cici nggak marah kan?”, kataku. “kurang ajar ya kamu ke guru sendiri berani berbuat gini..”. Aku mengambil tisu untuk membersihkan wajah Ci Fiona, ketika aku hendak mengelap penisku, Ci Fiona mencegah, “Siung, jangan.., sini biar Cici bersihin aja.., uhh!”, katanya teputus-putus karena sedang digenjot Hans. Dia meraih penisku dan menjilati sisa-sisa maniku sebelum dia menelannya tadi, semua maniku berada di dalam mulutnya.</p>
<p>“Gimana Ci? rasanya enak gitu?”, kataku.<br />
Dia hanya mengangguk sambil terus menjilat sampai bersih.<br />
Setelah bersih aku bertanya padanya, “Ci gua haus nih, ambil minum di mana nih?”.<br />
“Ambil saja di kulkas di tingkat 2 sana.., ahhh.., ahh..”, katanya lagi dengan nada terputus-putus.</p>
<p>Aku keluar dan membuka kulkas, setelah minum kulihat di frezeer juga ada sekotak es krim, terpikir olehku untuk makan es itu di atas tubuh Ci Fiona pasti lebih nikmat. Maka kubawa es itu ke kamar. Sebelum sampai kamar pun suara desahan Ci Fiona masih terdengar, untung kamarnya agak di dalam dan ada suara hujan deras di luar, jadi suaranya tidak terdengar sampai ke tetangga.</p>
<p>Ketika aku sampai kulihat tubuh Ci Fiona menggelinjang hebat, sampai terlihat tulang-tulang rusuknya, kelihatannya dia sudah mencapai klimaks, dia merangkul erat Hans sambil medesah panjang. Hans mencabut penisnya dan memuntahkan isinya ke mulut Ci Fiona. Ci Fiona menelan semuanya sambil menjilati penis Hans. Aku dekati mereka dan berkata, “Capek ya Ci, nih minum dulu deh!”, kusodorkan segelas air padanya.</p>
<p>“Ci sambil istirahat bagi dong es krimnya boleh tidak?”, tanyaku sambil menunjukkan es itu.<br />
“Kamu ini bener-bener tidak sopan ya, tidak bilang-bilang main ambil aja.., ya udah makan sana”, katanya.<br />
“Tapi tidak ada gelasnya nih Ci.., gimana kalo kita makanya di atas badan cici aja ya?”, tanapa menunggu jawaban darinya, aku sudah mulai mengoles es krim itu ke tubuhnya mulai dari leher, dada, kemaluan, dan paha indahnya. “Eh tunggu dulu, kalian ini apa-apaan nih, dingin ah jangan!”. Sebelum dia berbuat lebih kami langsung menjilati tubuhnya, Hans menjilati leher dan dadanya, aku bagian vagina dan pahanya. Hans berkata, “Wah Ci enak banget esnya, apalagi yang bagian dada, es kayak gini pasti cuma ada 1 di dunia”. Ci Fiona cuma bisa mendesah karena geli bercampur nikmat. Kujilati kemaluannya, agak aneh memang rasa es krim bercampur cairan cinta, tapi enak juga kok.</p>
<p>Setelah es di tubuhnya habis, aku berbaring dan memintanya duduk di atas penisku sambil menggenjotnya. Ci Fiona mulai memasukkan penisku ke vaginanya, kelihatannya agak sempit walaupun tidak perawan lagi. Dia mulai bergoyang-goyang di atas tubuhku dan Hans memasukkan penisnya ke mulut Ci Fiona. Ku remas buah dadanya yang hot itu, sampai akhirnya kutembakkan maniku di vaginanya. Kami akhirnya bermain sampai puas, hari sudah gelap waktu itu.</p>
<p>Kami sempat tertidur kira-kira 1 jam, ketika bangun kulihat Ci Fiona sudah memakai piyama bersandar di pinggir ranjang sambil merokok, baru kali ini kulihat dia merokok, katanya sih dia memang jarang sekali, hanya kalau lagi strees saja biasanya. Kulihat dimeja belajarnya ada fotonya sedang dirangkul seorang pria yang cukup ganteng, pas untuknya. Kutanya siapa orang itu, ternyata dialah pacar Ci Fiona yang sekarang sedang mengambil gelar master di Amerika, dia sudah 1,5 tahun tidak pulang hanya ada kabarnya lewat e-mail dan telepon. Karena itulah Ci Fiona sudah lama tidak menikmati lagi hubungan seks. Sekaranglah Ci Fiona mendapat penyaluran kebutuhan itu, meskipun sebelumnya dia malu-malu.</p>
<p>Dia berkata, “Sudah bangun? gimana.., sudah puas? Kalian ini benar-benar deh, belum pernah ada murid les saya yang seberani kalian, tapi please yah, jaga rahasia ini, biar ini cuma kita yang tau aja, ok!”<br />
“Beres Ci”, kata Hans, “Asal cici seneng kita juga seneng kan, tapi Vernand boleh tau tidak, dia kan temen kita juga Ci”, kata Hans.<br />
“Hmmm.., iya deh tapi dia orang terakhir yang tau rahasia ini loh”.<br />
“OK Ci beres!”, jawab kami bersamaan.<br />
“O iya, Cici udah masak makan malam, lu duaan makan aja di sini”.<br />
Kami pun makan bersama, masakannya enak, hoki banget pacarnya kalau sudah nikah nanti. Sesudah makan kami pulang diantar Ci Fiona sampai pintu pagar. Baru kutahu ternyata dibalik wajah alim dan terpelajar Ci Fiona tersembunyi banyak hal di luar dugaan.</p>
<p>Sejak itu sampai pacar Ci Fiona pulang bila ada kesempatan kami sering melakukan hal itu lagi, kadang berempat (ditambah Vernand), kadang 1 lawan 1 saja, kadang triple, macam-macam lah. Untuk mencari tempat sepi biasa bila di rumah salah satu dari kami sedang kosong, kami meneleponnya untuk datang ke sana saja. Sekarang aku sudah kuliah semester 4, Ci Fiona pun sudah menikah dengan pacarnya, kami bertiga diundang ke pestanya, di sana dia tersenyum manis pada kami bertiga mungkin tanda terima kasih karena kamilah yang memenuhi kebutuhan biologisnya waktu pacarnya tidak ada dulu. Selamat ya Ci, semoga bahagia selalu, kamilah yang tidak bahagia karena tidak bisa bermain dengannya lagi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panti Pijat Plus</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html</guid>
		<description><![CDATA[Karena benar-benar capai, saya ingin pijat, maka saya pergi ke PPT dekat kantor rekanan saya bagian selatan Jakarta, maklum di rumah tidak ada yang bisa pijat. Tempatnya cukup lumayan depan rumah makan Texas, jadi habis pijat (segar plus capai hilang) bisa langsung makan, khan enak tuh, sebelumnya aku belum pernah ke tempat ini jadi niatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena benar-benar capai, saya ingin pijat, maka saya pergi ke PPT dekat kantor rekanan saya bagian selatan Jakarta, maklum di rumah tidak ada yang bisa pijat. Tempatnya cukup lumayan depan rumah makan Texas, jadi habis pijat (segar plus capai hilang) bisa langsung makan, khan enak tuh, sebelumnya aku belum pernah ke tempat ini jadi niatku adalah benar-benar pijat, dengan nama Spesial Masturbasi (SM) kuberi istilah begitu karena (setelah beberapa kali) kebanyakan mereka akan menawarkan jasa seperti itu, tak lebih, sebenarnya inisial tersebut memang benar. Yang jadi persoalan adalah cara (teknik) mereka memang benar-benar profesional.</p>
<p>Banyaknya nama-nama WP (wanita pemijat bukan word perfect) tertulis di kepingan plastik, bagian sisi kiri adalah yang tersedia seperti Doxx, Soxxxx, Ixx, Axxx, Wxxx, Mxxx, Sxxx, Sxxxxx, Nxxx, Ixxx, Sxxxx, dan teman-temannya, yang sudah dipesan (cobalah ingat daftar ini – sebab ini biasanya yang terbaik), sedangkan paling kanan sedang tugas, tetapi jangan salah terkadang resepsionis mengatur WP yang terlalu banyak tugas namanya diletakkan di tengah/dianggap dipesan biar WP lainnya merata tugasnya.</p>
<p>Biaya yang tertera di bandrol resepsionis VIP 1,5 jam $75, dengan kamar tertutup tirai ganda dengan dinding tembok (bukan kain/triplek). AC split sendiri, sebuah kursi dan nakash serta tempat sampah (cek apakah ada kondom, bila ada artinya tempat ini menyediakan order khusus). Cermin kecil, jam dinding, gantungan pakaian, tentunya tempat tidur (kalau sudah selesai pijat coba periksa di bawah sprei pasti ada perlaknya. Kalau ngompol biar nggak menetes ke kasur pegasnya (coba angkat perlaknya pasti di daerah pas kemaluan agak lembab kadang diberi pemutih untuk menghilangkan noda bekas ompol, kalau perlu angkat kasur pegasnya kadang-kadang menemukan bekas pakai kondom plus isinya). Sedangkan kamar biasa 1,5 jam $65 (1 jam $50) kamar ditutup kain, AC cassette dipakai bersama, tanpa kursi, lainnya sama dengan di atas. Melihat situasi di atas, sepertinya tidak ada pijat khusus seperti Monggomas, Kartika, dan lain-lain di daerah Kota.</p>
<p>Saya pesan Mbak Sxxxx ke Mbak Axxxx (resepsionisnya), kemudian saya dipersilakan ke kamar VIP 304, berarti saya naik ke lantai 3, dengan kondisi kamar seperti di atas.</p>
<p>Setelah masuk, tidak lama kemudian masuk Mbak Sxxxx (38D, tangan dan betis sedang, agak pendek 150 cm, sekitar 30 tahun, wajah sunda), saya melepaskan semua pakaian kecuali CD.</p>
<p>“Selamat siang Pak”, sapa Mbak Sxxxx.<br />
“Siang”, jawabku.<br />
“Mau minum apa Pak?”, tanyanya.<br />
“Teh plus krem panas tanpa gula!” kemudian dia pergi ke pesawat telepon di luar ruangan, dan kembali ke kamar lagi. Saat aku akan naik ke tempat tidur…<br />
“Pakai krem nggak Pak?” tanya Mbak Sxxxx.<br />
“Pakai!” jawabku singkat.<br />
“Kalau gitu sekalian dilepas aja CD-nya nanti kena krem”, kata Mbak Sxxxx.<br />
Karena sudah telanjur tidur telungkup dengan kaki rapat, “Tolong dong lepasin!”, seruku. Kan malu belum kenal udah mau lihat rudal mengkeret aja, jadi sambil tidur, CD-ku diplorotin sama dia, tentunya dengan melebarkan sedikit kakiku.<br />
“Mbak AC-nya boleh nggak dimatiin aja, soalnya saya nggak kuat dingin?” Ini trikku karena dia pasti kepanasan, bayangin saja dia jalan sana-sini, mijat, pakai baju komplit, paling tidak blazer akan di lepas, dan tinggal kaos tanpa lengan (bahkan Mbak Soxxx, kaos tanpa lengannya di angkat hingga bawah bra 42FF-nya). Jangan lupa letakkan rudal pada posisi yang aman, bila sewaktu-waktu berubah ukuran, tidak sakit.</p>
<p>Mulailah pijat tanpa krem ke seluruh tubuhku, dimulai dari telapak kaki, betis, paha, pantat, pinggang, punggung. Karena letak kedua kakiku agak rapat, saat dia memijat bagian telapak kaki, otomatis kakiku tertarik dengan sendirinya masing-masing terbawa ke tepi tempat tidur sehingga posisi kakiku terbuka lebar (akhirnya aku tahu maksud posisi ini untuk dapat memijat bagian dalam pahaku, menyenggol biji sedikit).</p>
<p>Saat memijat punggung dia naik ke tempat tidur dengan menduduki pantatku, dan paha bagian dalamnya menyentuh pinggangku, terasa dingin dan halus. Hasil sensor pantatku mengatakan bahwa dia menggunakan celana ketat hingga pangkal paha. Saat tangannya mendorong dari pinggang ke pundak, otomatis posisinya agak menunduk, terasa ada dua hal yang membuat sensor probe-ku over range. Pertama, itu payudara 38D menyentuh punggung, walau masih dibungkus bra dan kaos ada rasa kenyal gimana gitu. Kedua, Saat diduduki pasti daerah lobang pantat dia kan yang nempel di pantatku, nah saat dia menunduk otomatis daging vagina yang tembem seperti tutup bagasi VW Kodok-ku menyentuh pantatku dan ada rasa seperti kedutan, mungkin karena dia tekan pundakku sehingga tumpuannya ada di tutup bagasi itu.</p>
<p>Hingga akhirnya memijat bagian lipatan paha dalam yang kadang-kadang ujung jarinya menyentuh rambut di sekitar biji (kalau aku bilang sih bukan pijat tapi sentuhan atau lebih halus lagi. Padahal belum pakai krem, kalau dia sebelum melakukan ini dia bilang Punten, maka lain kali kalau ke sini lagi, aku langsung order banyakin Puntennya saja, sayang dia nggak bilang). Untuk ukuran pria normal, digituin sih ya pasti kemaluanku bangun, ibarat dongkrak mobil, otomatis pantat keangkat, karena volume kemaluan terisi penuh, untung sudah pada posisi, coba kalau lagi ketekuk, pasti tuh pantat lebih tinggi lagi ngangkatnya.</p>
<p>Lama nggak ngobrol, hanya mendengarkan musik sayup-sayup, dan nampaknya dia sudah menguasai keadaan-aman terkendali (lihat pantatku kadang naik dan merasakan pangkal kemaluanku keras saat pijat dekat biji tadi), keluarlah pertanyaan standar PPT.<br />
“Ke sini sama teman Pak?” tanya Mbak Sxxxx.<br />
“Nggak” jawabku.<br />
“Sudah pernah ke sini?”<br />
“Sudah…” agak berbohong, biar aku tahu servicenya nanti seperti apa, soalnya sesama WP mereka juga bersaing baik wajah, teknik, dan lain-lain.<br />
“Dengan siapa Pak?”<br />
“Wah aku lupa namanya, nggak ngingetin sih!” jawabku. Kalau kamu jawab nama WP-nya nanti dia akan tanya diservice apa aja, bayar berapa dan lain-lain.<br />
“Berarti sering dong Pak”,<br />
“Nggak juga, asalnya dari mana Mbak?” tanyaku.<br />
“Bandung”, pembicaraan terhenti.</p>
<p>Dia mulai memijat dengan krem yang cukup banyak (ini pijat apa lulur krem) semuanya dari arah bawah ke atas (mungkin maksudnya ke arah jantung, agar peredaran darah lancar, nah bisa bayangkan peredaran darah lancar, kemaluan jadi keras, apa nggak tinggal muncrat saja) tapi teknik pijatnya cukup baik (menurutku) pada daerah tanpa titik rangsang dia akan tekan, tapi bila di daerah titik rangsang berubah tekanannya (bukan pijat tapi sentuhan) bayangkan aku dibikin tegang-nggak-tegang-nggak dan seterusnya, disinilah seninya seks, kalau cuma masukin – muncrat – tidur ngorok nggak ada seni, hanya kewajiban memenuhi kebutuhan.</p>
<p>Urutan pijat dengan krem dilakukan sama seperti tanpa krem, hanya saat dia mulai ke daerah pantat, dia ada di sisi kiriku dekat pinggang, dengan usapan dari paha luar ditarik ke atas masuk antara biji dan paha dalam mengitari lubang anus (yang terkadang sengaja disentuh) dengan kedua tangan secara bergantian, otomatis pantatku naik lagi, pindah ke betis, terus kembali ke pantat lagi (dalam hatiku harus sabar nih, bayangin coba kamu dirangsang terus dicuekin, dirangsang turus di cuekin dan seterusnya), pantas memang lobang pantat itu enak kok kalau dielus-elus, nggak pria atau wanita sama saja, apalagi di masukin. Kemudian dia pindah ke sisi kanan, kembali aku di rangsang terus di cuekin (memijat di tempat lain tanpa menghiraukan rudal yang sudah tanggung), di rangsang terus di cuekin dan seterusnya).</p>
<p>Setelah tahu bahwa kemaluanku keras (dengan menyentuh pangkal kemaluanku dia tahu kalau aku sudah ereksi) berarti aman terkendali, sebab kalau nggak bangun berarti dia harus bersusah payah untuk membangunkan agar dapat tip khusus. Dia pindah memijatnya ke pundak terus ke pinggang terus tangan (benar-benar dibuat kesal nih kemaluanku). Untuk pinggang dia tidak menduduki pantatku lagi, karena banyak krem, takut bajunya kotor (sebelumnya aku protes kok nggak seperti tadi mijatnya?).</p>
<p>Setelah itu dia kembali lagi ke pantat dan melakukan pijatan seperti tadi lagi, terpaksa aku protes keras.<br />
“Teteh! (kakak; bahasa Sunda) tolong dong jangan dibikin pusing nih!” kataku.<br />
“Memangnya kenapa, Pak?” tanyanya.<br />
“Itu mijatnya bikin pusing nih”,<br />
“Ya udah Bapak diam saja, ikutin saja yah!”<br />
“Ya sudah”,<br />
“Tetapi nanti tip-nya spesial ya Pak!” tuh kan benar.<br />
Disinilah triknya saat kita lagi butuh banget, dia memberikan penawarannya, memang hampir semua WP berusaha mati-matian secara singkat dan seksama membuat kita tegang dan bikin pusing, yang akhirnya kalau sudah nggak kuat akan mengeluarkan work-order.<br />
“Berapa spesialnya?” kataku lagi.<br />
“Biasanya $100″,<br />
“Ya sudah”, tanpa merinci lagi work-order seperti apa yang akan dia lakukan (soalnya aku belum tahu) lebih gila lagi aku belum tahu apakah di dompet ada $175 ($75 kamar $100 tip) dan seingatku cash only. Disinilah kelakuan para pria, di otak kepalanya yang lebih besar bisa dikalahkan dengan isi kepala bawahnya yang cenderung lebih kecil tapi bisa bikin kepala bagian atas tips buat para wanita.</p>
<p>Mulailah dia meraba dengan menambah krem tadi dengan baby oil (mungkin, soalnya rasanya lebih cair) di bagian pantat, terus meraba dengan ketajaman kukunya dia menyisir (bahasa kasarnya digaruk, tapi lembuuuut banget) rambut sekitar biji ke arah anus. Wah, volume darah di kemaluanku semakin penuh dan pantat ke angkat sebatas kemaluan, biar nggak ketindihan badanku. Tahu kalau ada celah kiri antara kemaluanku dengan pangkal paha tangannya masuk dan mengelus secara perlahan bagian paha, yah naik lagi pantatku, diulangi lagi celah kanan, yah naik lagi pantatku, pijat lagi sekitar lubang anus, yah naik lagi pantatku, hingga posisi badanku tertumpu pada lutut kaki dan siku tangan dan muka menancap di bantal. Sensasinya, jangan anggap enteng. Kucoba mengeluarkan kepalaku dari bantal dan melirik ke belakang, wah ternyata dia duduk dengan posisi mengangkang spt huruf M, kan benar pakai celana pendek ketat sebatas paha, tapi kelihatan mblendug-nya persis seperti tutup bagasi VW-ku. Aku mencoba meraih tutup bagasi itu, tapi kuurungkan, karena ini pertama kali aku ketemu dia.</p>
<p>Akhirnya dapat juga yang dia cari, memijat kemaluanku secara perlahan sekali lagi perlahan, seperti menimang rudal nuklir takut meledak, dengan sangat pelan tangannya ditarik sehingga hanya bagian ujung jari-jari ke arah anus seolah-olah takut kemaluanku jatuh, tangan berputar sesuai dengan bongkahan pantat, jari tangan kiri ke arah kiri dan jari tangan kanan ke arah kanan, saat ini kalau kemaluanku tidak sehat pasti jatuh (ereksi 60%-80%), tetapi yang terjadi antara kemaluan dengan badan seperti garis yang tidak bersinggungan kata geometri, keras sekali, (setelah tegang, aku bilang sama Teteh bahwa apakah tamu Teteh pijat seperti itu apa tegang semua, atau bila orang impoten apakah bisa ereksi, soalnya di atas kepalaku sudah banyak bintang kecil-kecil alias pusing).</p>
<p>Akhirnya aku berkata, “Teteh, aku sudah nggak tahan keluarin aja!”<br />
Tangan kanannya menggenggam kemaluanku dengan lembut (tanpa tekanan dan banyak baby oil-nya) memutar kepala kemaluan dengan jari-jarinya, genggam batang, maju mundur, sementara tangan kiri menusuk anus, kadang meraba rambut di sekitar anus, begitu berulang-ulang, hingga sperma akan keluar. Kira-kira dalam perjalanan di tengah batang kemaluan, eh dipijat sekuatnya kemaluanku, otomatis aku bergetar (over vibration), tak berapa lama dilepas, ya muncrat cairan dari kemaluanku dengan tekanan yang kuat dan nyaris mengenai daguku. Setelah tekanan cairanku turun, otomatis badanku ambruk seperti hidrolik saja atau mesin yang shut-down.</p>
<p>Si Teteh membersihkan tangannya yang belepotan baby oil plus krem plus cairanku dengan kain sprei, dan melanjutkan memijat. Aduh enak lho rasanya, setelah ejakulasi dipijatin, rasanya seperti habis lari dikejar anjing terus selamat lompat pagar.</p>
<p>“Pak sekarang bagian depannya” tanya Teteh. Aku membalikkan badanku, terlihat kemaluanku mengkerut kembali seperti semula, dan Teteh mulai memijat, seperti urutan saat aku telungkup.<br />
“Pak perutnya di urut nggak?” tanya Teteh. Aku menggangguk saja, sepertinya capai banget, dia tersenyum saja melihat aku kelenger.<br />
“Kenapa ketawa?” tanyaku.<br />
“Nggak, itu keluarnya banyak banget dan itunya keras banget”,<br />
“Kamu bisa saja nyanjung, entar, kutambah nih tip-nya”, candaku.<br />
“Pak ini mau dikeluarin lagi?” tanpa sadar saat urut, rupanya perutku ditarik dari bawah ke atas (mungkin karena gravitasi, perutku buncit jadi turun sehingga perlu ditarik ke atas) tapi saat ditarik, ujung jari menyentuh kemaluanku. Ya, tegang lagi. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sambil memberikan senyum (yang paling manis dari yang kupunya).</p>
<p>Cuma karena posisi telentang jadi mengurutnya (bukan sortir) digenggam dari bawah ke arah atas sambil diputar dengan telapak tangan menyentuh ujung kemaluan, karena tadi sudah keluar. Jadi sekarang agak lama, tapi dengan keahliannya, tangan kanan mengurut kemaluan, tangan kiri meraba biji hingga menyisir rambut sekitar anus, dan akhirnya keluar juga cairanku.<br />
“Pak permisi keluar dulu, cuci tangan”, aku mengangguk saja.</p>
<p>Gila 1 jam 20 menit, aku segera pakai kimono dan menuju kamar mandi, dan pakai baju, karena masih ada waktu aku sempatkan mengobrol.<br />
“Teteh liburnya hari apa?” tanyaku.<br />
“Hari Jumat, kenapa tanya libur segala, mau ke sini lagi?”<br />
“Nggak kalau ada temanku mau ke sini kan jadi tahu.”<br />
“Bapak orangnya baik deh”,<br />
“Oh iya uang tip-nya belum yah, pantes kamu nyanjung terus”, candaku sambil memberikan $100-ku sambil kulihat masih ada selembar lagi berarti selamatlah aku nanti diresepsionis, artinya kan nggak dikejar pengaman PPT.<br />
“Benar Pak, biasanya tamu suka meraba-raba, pegang sana sini, akunya yah belum tahu aja. Semua pria itu bajingan. Kata bokap tetangga temanku nasehatin anak perawannya, kucing itu kalau diberi ikan kadang pura-pura ngambil dikit, tapi kalau nggak ada orang (ada kesempatan) yang diambil ayam seekor, dasar perempuan kaya bola, jauh dikejar, dekat ditendang.”<br />
“Ya sudah, nih uang tip-nya, makasih ya Teteh”, sambil kucium tangannya.</p>
<p>Sekilas kulihat bulu tangannya merinding.<br />
“Kenapa merinding?”<br />
“Nggak, Bapak memperlakukan WP koq kayak gitu sih”,<br />
“Kamu manusia kan, saya juga gitu, dan saya benar-benar puas”,<br />
“Pak ke sini lagi yah!”<br />
“Nggak janji yah!”<br />
Tahu nggak, aku melakukan itu semua, ya memberikan preview yang baik agar kalau ke sini lagi dapat yang lebih, pakai ilmu kucing dong.<br />
“Ya udah, terima kasih Teh”, dibukanya kain penutup pintu, langsung aku pergi ke resepsionis.<br />
“Makasih Mbak Ajxxx”, sapaku.<br />
“Sama-sama Pak”, jawabnya.<br />
Tiba-tiba.., “Lho, elu Bud”, tanya suara dari belakangku.<br />
“Eh, iya Fexxxx, kok kamu di sini?”<br />
“Iya gue lagi nunggu Sxxxx yang lagi kerja, abis pijat sama siapa lu”,<br />
“Eh.. sama Sxxxx”<br />
“Wah lu pasti pijat anus yah?” ucapnya (agak keras, sehingga pengunjung di ruang tunggu pun terdengar).<br />
“Nggak, apaan tuh?” pura-pura bodoh, gila nih anak bikin aku malu aja.<br />
“Ya udah sana, lu kelihatan lemes bin lapar”, katanya.<br />
“Nah kamu nunggu siapa?”<br />
“Lu berakin gue tahu”.<br />
Oh ternyata dia nungguin Sxxxx yang kerja denganku, aku ngeloyor sambil senyum, mudah-mudahan jari tangan si Teteh nggak dicuci biar dia pijat dengan kerak di sekitar anusku. Langsung saja aku ngeloyor menuju Texas, makan hati/lever 5 buah plus teh manis panas, untuk mengembalikan tenagaku yang hilang diserap Teteh Sxxxx.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Seorang perawat</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairah-seorang-perawat.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairah-seorang-perawat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2315</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Setiowati, umur saya 22 tahun, saya baru lulus dari Akademi Perawat di salah satu kota kecil di Jawa Timur. Sekarang saya bekerja di Rumah Sakit Swasta di kota Y, baru satu bulan ini saya bekerja. Saya tinggal di rumah Tante, secara keseluruhan saya sudah tinggal 6 bulan di kota ini untuk mencari kerja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama saya Setiowati, umur saya 22 tahun, saya baru lulus dari Akademi Perawat di salah satu kota kecil di Jawa Timur. Sekarang saya bekerja di Rumah Sakit Swasta di kota Y, baru satu bulan ini saya bekerja. Saya tinggal di rumah Tante, secara keseluruhan saya sudah tinggal 6 bulan di kota ini untuk mencari kerja, untunglah akhirnya saya mendapat pekerjaan di Rumah Sakit tersebut. Sebagai orang baru di Rumah Sakit ini, saya banyak mendapat teman dan kenalan baru. Salah satunya adalah Kepala Bangsal Bedah, atasan saya langsung, dimana saya ditempatkan. Ibu Winantu kami memanggilnya, umurnya hampir 40 tahun, akan tetapi sampai sekarang belum menikah juga, walaupun kalau saya lihat sebenarnya Kepala Bangsal saya ini wajahnya cantik, bentuk badannya sensual dan kulitnya putih bersih. Saya mendengar selentingan kabar dari teman-teman di sini, kalau Ibu Winantu sebenarnya simpanan salah satu dokter Kebidanan dan Kandungan yang juga bekerja di Rumah Sakit yang sama. Sebagai Kepala Bangsal Bedah, Ibu Winantu sangat disegani, karena selain secara fisik lebih besar dari rata-rata perawat bangsal Bedah, juga mulutnya sangat pedas, terutama untuk perawat-perawat yang lain. Yang lebih menarik pula, gelang dan cincin berlian di tangan, juga jam tangannya yang bertuliskan “Cartier”. Pantaslah kalau gosip itu benar, Ibu Winantu simpanan salah satu dokter kaya yang juga bekerja di Rumah Sakit ini. Sebagai perawat, kami kadang bergiliran bertugas jaga 24 Jam, kebiasaannya di bangsal saya yang bergiliran jaga adalah perawat senior dan junior, tidak terkecuali saya dan Ibu Winantu. Pada suatu hari, saya mendapat jadwal tugas jaga bersama Ibu Winantu. Sebenarnya saya sangat takut, karena selain saya masih baru, saya juga “ngeri” padanya. Ada yang membuat saya terkejut, ketika semua perawat teman-teman saya selesai bertugas jam 14.00, tinggal kami berdua sebagai perawat jaga hari itu. “Dik Wati”, Ibu Winanti memanggil sambil tersenyum. “Iya, bu”, kaget saya. Sebelum ini, terutama ketika bertugas pagi hari, tidak pernah sekalipun Ibu Winantu memanggil saya dan teman-teman yang lain dengan sebutan “Dik”, apalagi memanggilnya sambil tersenyum. Mimpi apa saya ini? “Ini, statusnya dilengkapi dan periksa ulang Suhu dan Tensi untuk kamar 9 dan 10″. “Iya, Bu”, saya seperti kerbau dicocok hidung. Segera saya lakukan perintahnya. Setelah selesai, menyusul perintah-perintah “manis” yang lain, saya hanya bisa menuruti. Walaupun saya iri juga padanya, karena Ibu Winantu hanya duduk manis di meja counter depan Bangsal Bedah sambil menonton TV.Akhirnya selesai juga perintah-perintah “Sang Ratu”, jam sudah menunjukkan jam 17.00, saatnya jadwal kunjung pasien. Pada saat ini biasanya perawat jaga saatnya untuk beristirahat dan mandi sampai selesainya jadwal kunjung pasien. Saya kelelahan, tapi inilah resikonya sebagai perawat yunior. Saya masuk ke kamar jaga perawat, dan merebahkan diri untuk tidur-tiduran sebantar sambil beristirahat. Tidak berapa lama kemudian Ibu Winantu masuk ke kamar juga, dia juga ikutan rebahan di tempat tidur yang lain. Mulailah dia menginterogasiku. “Sudah punya pacar, dik?”. “Dulu, Bu”. “Dulu waktu sekolah di Akper juga tinggal di asrama Akper?”. “Iya”. Ibu Winantu tertawa, “Kenapa Bu, kok tertawa?”. “Hayo, dulu waktu di asrama sering nonton BF bersama-sama, tho?”. “Iya, kok ibu tahu?”. “Saya dulu waktu masih sekolah juga sama saja dengan Dik Wati”. Setelah itu malahan Ibu Winantu cerita mengenai BF dengan detail dan cerita-cerita mengenai main kucing-kucingan memasukkan cowok ke asrama dan hal-hal porno lainnya, sambil tertawa-tawa. Walaupun geli di telinga mendengarnya, saya menanggapinya dengan malu-malu karena itulah yang juga kami sering lakukan di asrama. Walaupun saya menjadi tidak jenak, akan tetapi senang juga mendengarkan cerita-cerita itu sambil mengingat masa-masa sekolah. “Dik Wati, pernah “main” dengan pacarnya?”. “Belum, Bu”. “Oh, nanti saya ajarin”. “Baik, Bu”, jawab saya asal-asalan, saya pikir itu kan hanya cerita-cerita omong kosong, walaupun saya juga tidak punya niat serius mendapat pelajaran dari Ibu Winantu. “Saya mandi dulu, Bu”. “Ya, nanti saya menyusul”. Saya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Wah, asyik juga, kalau Bu Winantu mau mandi bersama saya. Karena dulu waktu di asrama, saya sering pula mandi berdua dengan teman-teman, sebagaimana pula dengan teman-teman yang lain. Kadang kami sering kagum dengan badan dan payudara teman yang lain, walaupun sering mandi bersama tidak pernah terjadi seperti yang ada di BF, apa itu namanya? Lesbian? Ditengah saya mandi, terdengar ketukan di pintu. “Siapa, yaa?”. “Saya, dik”, suara Ibu Winantu menyahut. Saya bukakan pintu kamar mandi, tentu saja saya dalam keadaan telanjang. Ibu Winantu langsung masuk ke kamar mandi, dan melepas bajunya satu persatu. Saya berhenti mandi dan hanya memandanginya, saya berdebar-debar ingin melihat “peralatan” Ibu Winantu.Ternyata betul dan nyatalah Ibu Winantu sekarang sudah telanjang pula bersama saya di kamar mandi. Kulitnya putih mulus, payudaranya agak besar, mungkin cup B, perutnya rata dan rambut kemaluannya lebat. Dibanding kulit saya yang lebih coklat dan rambut kemaluan saya yang hanya sedikit sekali, saya iri juga. “Kenapa dik?”, Ibu Winantu membangunkan lamunan sesaat saya, sambil tersenyum. “Ndak, Bu, ndak apa-apa”. “Oh, rambut yang bawah hanya sedikit yaa”, sambil tangannya menjulur mengelus liang surgaku. Saya terkesiap, ada perasaan aneh pada vagina saya ketika tangannya mengelus lembut vagina saya. (saya teringat dulu ketika di asrama, kadang kalau mandi bersama teman yang lain, sering guyonan mengelus vagina teman lain seperti itu, tapi tidak ada rasa apa-apa). Secara refleks pula saya menarik napas panjang dan menutup mata. “Kenapa dik, nikmat?”. Saya membuka mata dan tersipu malu. “Oh…, belum pernah yaa”, Ibu Winantu tersenyum, sambil matanya menyempit memperhatikan saya. Saya juga hanya tersenyum sambil menggigit bibir. Saya ingin Ibu Winantu mengelus vagina saya lagi seperti tadi, kata saya dalam hati. Saya merasa itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba Ibu Winantu berjongkok di hadapan saya dan mulai menjilati vagina saya. Saya kaget dan keenakan. Sambil berdiri, saya sandarkan punggung saya ke tembok kamar mandi. Saya tidak bisa dan tidak mau menolaknya, saya ingin menikmatinya. Ibu Winantu sangat ahli menjilati vagina saya, dengan lembut dia membuka lebar paha saya dan membuka pelan-pelan bibir kemaluan luar saya. Saya merasakan sangat nikmat di bawah sana, di kemaluan saya, ketika lidah Ibu Winantu menjilat-jilat kemaluan bagian dalam saya, sungguh nikmat dan nikmat sekali, terutama ketika bibirnya yang basah menjilati klitoris saya. Saya menutup mata menikmatinya, payudara saya juga ikut mengeras, kedua tangan saya meremas bahu Ibu Winantu yang berjongkok di depan saya. Saya menutup rapat-rapat bibir saya, sambil menggigit kencang bibir saya, nikmat sekali, nikmat sekali. Hanya napas saya makin lama makin berat, dan makin lama saya makin merasa kemaluan saya makin basah. “Ooohh…”, saya mendesah agak keras, saya merasa melayang dan lupa segala dalam sesaat. Kemaluan saya bagian dalam terasa berdenyut-denyut berkepanjangan, tubuh saya serasa melayang dengan segala rasa yang pernah saya alami. Untuk pertama kalinya saya merasa mulai mengetahui kemaluan saya sendiri dan kenikmatannya yang luar biasa. (itu namanya orgasme, yaa). “Sudah, dik?”, suara Ibu Winantu menyadarkanku. “Maaf, Bu”, sambil saya memeluk tubuh telanjang Ibu Winantu yang sudah kembali berdiri di hadapan saya. Saya merasa ingin dibelai dan disayangi, di samping tubuh saya yang mendadak lemas, setelah merasakan puncak kenikmatan tadi. “Tidak apa-apa”, Ibu Winantu masih tersenyum. “Wajar saja, tidak usah khawatir”, Ia melanjutkan. Sambil dipeluknya tubuh saya yang juga telanjang. Dia raih kepala saya, dan diciumnya bibir saya dengan lembut, lidahnya juga masuk ke dalam mulutku, menjilati lidah saya. Untuk pertama kalinya pula saya merasakan ciuman dari seorang wanita, apalagi wanita matang dan berpengalaman seperti Ibu Winantu. Ternyata lebih nikmat dan halus, dibanding ketika pertama kalinya saya merasakan ciuman dari seorang cowok. “Ayo dik, lekas mandinya”. “Nanti malam giliran saya ya”, Ibu Winantu tersenyum penuh arti pada saya. Saya mengangguk pelan, dan ingin “waktu” itu segera datang. Malam itu, setelah tugas-tugas sebagai perawat telah selesai, di kamar tidur perawat saya belajar “melayani” Ibu Winantu, ternyata indah sekali. Sungguh hari itu, sore dan malam yang tidak terlupakan. Sejak saat itulah pula, Ibu Winantu menjadi mentor saya. Saya selalu menunggu waktu-waktu tugas bersama, lagi dengan Ibu Winantu dan kencan-kencan kami lainnya di luar jam dinas Rumah Sakit, berbagi waktu dengan “suami” tidak resmi Ibu Winantu, dokter Calvinus, seorang dokter Kebidanan dan Kandungan.<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairah-seorang-perawat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ujian kesetiaan sebelum menikah</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/ujian-kesetiaan-sebelum-menikah.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/ujian-kesetiaan-sebelum-menikah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/ujian-kesetiaan-sebelum-menikah.html</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian ini berlangsung sekitar bulan September 2000 yang lalu. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. Yang aku ingat, saat itu hubungan Eksanti dengan Yoga sudah membaik, bahkan aku mendengar mereka telah bertunangan dan berencana untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Ketika itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yang sama di daerah Selatan – [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian ini berlangsung sekitar bulan September 2000 yang lalu. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. Yang aku ingat, saat itu hubungan Eksanti dengan Yoga sudah membaik, bahkan aku mendengar mereka telah bertunangan dan berencana untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Ketika itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yang sama di daerah Selatan – Jakarta, meskipun berbeda kamar, karena saat itu Yoga sedang mendapat training di Jakarta selama 6 bulan.<br />
Sebagai bekas teman dan atasan Eksanti, aku memang pernah dikenalkan dengan Yoga. Yoga ternyata begitu cemburuan. Memang harus aku akui kalau Eksanti memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Yoga itu. Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yang biasa kalau serorang lelaki yang penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang pacar yang cantik. Aku mengatakan Eksanti cantik, bukan merupakan penilaianku yang subyektif. Banyak teman-temanku lain yang juga berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat sama, bahwa Eksanti memiliki sex appeal yang luar biasa tinggi. Bagi kaum lelaki, jika memandang mata Eksanti, boleh jadi langsung akan berfantasi macam-macam. Percaya atau tidak, mata Eksanti begitu sayu seolah-olah ‘pasrah’ ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka digigit-gigit, kalau Eksanti sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yang sangat eksotis dan sensual.<br />
Ketika aku sempat mengobrol dengan Yoga minggu sebelumnya, secara tidak sengaja kami menemukan suatu peluang bisnis yang mungkin bisa dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya. Pikiran dagangku segera jalan dan aku menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal kepada Yoga untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang.<br />
Siang itu, sehabis meeting dengan salah satu klienku di sebuah kantor di daerah Kuningan, aku berencana untuk mampir ke rumah kost Yoga ? yang juga rumah kost Eksanti – untuk menitipkan proposal yang aku janjikan. Aku mengendarai mobil menuju tempat kost Yoga. Sesampainya di sana, aku melihat garasi tempat mobil Yoga biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Yoga sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Yoga.<br />
Setelah aku memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, aku masuk menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Yoga. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Yoga yang paling pojok, berhadapan dengan kamar Eksanti. Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Yoga karena memang aku sangat perlu dengannya.<br />
Sementara aku sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Eksanti, di depan kamar Yoga, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Eksanti, bukannya orang lain. Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Eksanti. Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan aku melihat wajah Eksanti tampak dari celah pintu yang terbuka.<br />
“Eh, Mas.. cari Mas Yoga yaa.. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Yoga buru-buru berangkat Mas”, jawabnya sebelum aku bertanya.<br />
Entah mengapa, ketika menatap mata Eksanti yang sayu itu, pikiranku jadi teringat masa-masa indah yang pernah kami alami dulu.<br />
Aku sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya, “Kamu nggak ke kantor hari ini?”<br />
“Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Santi bangunnya kesiangan, jadi males banget ke kantor”, jawabnya singkat, sambil menggigit bibir bawahnya.<br />
Ada rasa menyesal kenapa dia harus membolos ke kantor hari ini.<br />
“Terus, Yoga biasanya jam berapa pulangnya, Santi?”, tanyaku sekedar berbasa-basi.<br />
“Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Yoga hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya”, jawabnya agak kesal.<br />
Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Yoga pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal.<br />
Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengan Eksanti. Agak lama aku terdiam. Aku memandang matanya, memandang bibirnya yang basah. Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yang tipis dan memang sangat indah itu. Semakin lama aku melihatnya semakin aku berfantasi macam-macam. Sungguh, jantungku deg-degan saat itu. Mata Eksanti tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Sebuah desiran hangat mengalir keras di dadaku, dan aku sungguh yakin Eksanti pun masih memiliki getar rasa yang sama denganku.<br />
Setelah agak lama kami terdiam, “Teman-teman kamarmu yang lain lagi pada kemana semua, Santi?”, dengan mata menatap sekeliling aku bertanya sekenaku, menanyakan keberadaan anak-anak kost yang lain.<br />
“Mas ini mau nyari Mas Yoga atau..”, kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya.<br />
Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja.<br />
“Aku juga pengin ketemu denganmu, Santi!”, jawabku berpura-pura.<br />
Dia tertawa pelan, “Mas, kenapa, sih?”, ia memandangku lembut.<br />
“Boleh aku masuk, Santi? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,”, jawabku lagi.<br />
“Sebentar, ya.. Mas, kamar Santi lagi berantakan nih!”<br />
Eksanti lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang pintu terbuka kembali, lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam kamarnya. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Eksanti masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku menatap tubuh Eksanti yang membelakangiku.<br />
Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yang memperlihatkan pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. Kejantananku menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah dengan khayalanku dulu, ketika aku memiliki kesempatan membelai-belai lembut kedua pangkal pahanya itu.<br />
Kemudian Eksanti duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Eksanti. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang sedang aku nikmati.<br />
“Mas, mau bicara apa, sih?”, katanya tiba-tiba.<br />
Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma ada khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya.<br />
“Mmm.. San.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,”, kataku berbohong. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu.<br />
“Mimpi tentang apa, Mas?”, kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.<br />
“Tentang kamu, San”, jawabku pelan.<br />
Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku. Sampai-sampai Eksanti menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras.<br />
“Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?”, tanyanya penasaran.<br />
“Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu”, jawabku sambil tertunduk.<br />
Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku benar-benar terkejut lalu menoleh ke arahnya.<br />
“Mas ini ada-ada saja, Mas ‘kan sekarang sudah punya yang di rumah, lagian aku juga ‘kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?”<br />
“Makanya aku juga bingung, Santi. Lagian kalaupun bisa, aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Santi”, jawabku pura-pura memelas.<br />
Kami sama-sama terdiam. Aku meremas jemari tangannya lalu perlahan aku mengangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba wajahnya berpaling sehingga mulutku mendarat di pipinya yang mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya.<br />
Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Aku meraup mulutnya seketika dengan mulutku. Eksanti menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku.<br />
“Mas.., cukup mas!”, tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.<br />
Aku menghentikan aksiku, lalu pura-pura meminta maaf kepadanya.<br />
“Maafkan aku, Santi.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu”, aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku.<br />
“Aku mengerti Mas, aku juga nggak bisa menyalahkan Mas karena mimpi-mimpimu itu. Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas”, sepertinya Eksanti memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan.<br />
Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi.<br />
“Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi..”? kalimatnya terputus.<br />
Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat “ingin membantu..” yang diucapkannya.<br />
“Santi, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.., sebelum kamu benar-benar menjadi milik Yoga. Agar aku bisa melupakanmu”, kataku memohon.<br />
“Kita kan sama-sama sudah ada yang punya, Mas.., nanti kalau ketahuan gimana?”<br />
Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan sama Yoga.<br />
“Seandainya ketahuan.. aku akan bertanggung jawab, Santi”, setelah itu aku memeluknya lagi.<br />
Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut membalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra, sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang. Eksanti mendesah. Aku menciumi kulitnya dengan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Eksanti diam saja. Aku melumat bibirnya, lalu aku menjulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya yang seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya.<br />
Kesempatan ini aku gunakan untuk membelai payudaranya. Perlahan telapak tanganku aku tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada pada sisi payudaranya. Aku benar-benar hampir tidak bisa menguasai birahiku saat itu. Apalagi aku sudah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini terulang lagi bersamanya.<br />
Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas dadanya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang seperti ini yang paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai meremas payudaranya yang sebelah kanan, tangan Eksanti mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya.<br />
“Mas, jangan sekarang Mas.. Santi takut..”, katanya berulang kali.<br />
Aku juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada orang lain yang melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya.<br />
Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Aku bukanlah tipe laki-laki yang suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah percintaan.<br />
Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Eksanti, sedangkan Eksanti masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak kusut.<br />
“Mas, mau ngajak Santi ke mana, sih”, Eksanti menatap wajahku.<br />
“Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kita, Santi”, jawabku sambil memandang permukaan dadanya yang baru saja aku remas-reMas. Eksanti duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku.<br />
“Tapi kalau ketahuan.. Mas yang tanggung jawab, yaa..”, katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi.<br />
Aku mengangguk.<br />
“Terus kapan jalan-jalannya, Mas?”,<br />
“Gimana kalo besok sore jam 4, besok ‘kan Jum’at, bisa pulang lebih awal ‘kan?”, tanyaku.<br />
“Ketemu di mana?”, tanyanya penasaran.<br />
“Kamu telepon aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan menjemputmu di sana, gimana?”, tanyaku lagi.<br />
Dia tersenyum menatapku, “Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan.”, Aku tertawa.<br />
“Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi!!,”, tegasnya.<br />
Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Eksanti seperti dulu lagi. Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin mengajaknya menginap, kalau dia mau. Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab, seandainya aku tidak berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah.<br />
Pukul 3 siang, akhirnya aku harus kembali ke kantorku, di samping memang Eksanti juga meminta aku segera pulang karena dia juga takut kalau tiba-tiba Yoga memergoki kami sedang berdua di kamar. Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Eksanti sekali lagi waktu berdiri di samping pintu. Aku malah sempat menekan tubuh Eksanti hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini aku gunakan untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan.</p>
<p>Di kantor.., di rumah.. aku selalu gelisah. Kejantananku senantiasa menegang membayangkan apa yang telah dan akan aku lakukan terhadap Eksanti nanti.<br />
Keesokan harinya, disaat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu berjalan begitu lambat. Hingga pukul 5 sore, seperti waktu yang telah kami sepakati kemarin, aku sedang menanti-nanti telepon dari Eksanti. Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Eksanti belum juga meneleponku. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi. Seketika aku mengangkat telepon itu. Dari seberang sana aku mendengar suara Eksanti yang sangat aku nanti-nantikan. Eksanti meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal. Banyak pekerjaannya yang menumpuk, karena kemarin ia tidak masuk ke kantor. Saat itu ia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya. Aku langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan bergegas menuju wartel tempat di mana Eksanti sedang menungguku.<br />
Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang aku melihat Eksanti keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan celana jeans warna abu-abu. Blazer kerjanya telah ia lepas, dan ditenteng bersama tas kerjanya. Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian casual setiap hari Jum’at. Eksanti langsung naik ke atas mobilku, setelah memastikan tidak ada orang lain yang mengenalinya di tempat itu.<br />
Aku tersenyum memandangnya. Eksanti kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya tidak dipoles dengan lipstik merah seperti biasanya. Ia hanya menyapukan lipsgloss tipis, yang membuat jantungku semakin deg-degan. Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol.<br />
Selama di perjalanan, aku dan Eksanti bercerita tentang berbagai hal, termasuk Yoga dan kehidupan keluargaku. Sesampainya di Ancol aku mengajak Eksanti untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yang nuansa romantisnya sangat terasa. Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Eksanti, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Eksanti juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan di rumah makan itu, yang ruangannya disekat-sekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang cukup tinggi, membuat aku bisa bertindak leluasa kepada Eksanti.<br />
“Tadi malam mimpi lagi, nggak?”, tanyanya memecah keheningan.<br />
“Nggak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu”, jawabku tanpa malu-malu.<br />
Eksanti tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah cottages di kawasan Ancol. Semula Eksanti menolak, karena dia takut kalau kami tidak bisa menahan diri. Aku akhirnya meyakinkan Eksanti bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja.<br />
Akhirnya Eksanti mengalah. Ketika kami telah berada di dalam kamar cottages itu, Eksanti tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi memandang ke arah laut, sementara aku rebahan di atas tempat tidur. Aku mencoba mencairkan suasana, dengan kembali bertanya mengenai kesibukan pekerjaannya hari itu. Selama aku bertanya kepadanya, ia cuma menjawab singkat dengan kata-kata iya dan tidak. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.<br />
“Mas, pasti kamu menganggap aku cewek murahan, yaa.. kan?”, akhirnya Eksanti mau mulai membuka pembicaraan juga. Ternyata, dengan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Yoga, Eksanti masih belum bisa menerima perlakuanku yang membawanya ke dalam cottages ini. Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamarnya. Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan sedikitpun.<br />
“Santi, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja bersamamu, sebelum Yoga benar-enar menikahi kamu. Aku hanya ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan aku rasa di sinilah tempatnya”, jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.<br />
“Tetapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yang lebih dari itu?”, Eksanti menatapku dengan sorotan mata tajam.<br />
“Kalau kamu gimana?”, aku malah balik bertanya.<br />
“Aku tanyam, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada agak ketus.<br />
“Aku sanggup, Santi”, tegasku.<br />
Akhirnya dia tersenyum juga. Eksanti lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.<br />
“Janji ya, Mas..!”, ujarnya lagi. Aku mengangguk.<br />
Kini aku memeluk tubuh indah Eksanti dengan posisi menyamping, sedang Eksanti rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Aku mencium pipinya, sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Aku memandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung, lalu bibirnya. Aku tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Aku melumat bibir tipis itu dengan mesra, lalu aku mulai menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Cukup lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tersengal-sengal tidak beraturan.<br />
Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi.. dan lagi.. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Eksanti, kini mulai aku aktifkan. Aku membelai, meremasi pangkal lengannya yang terbuka. Aku membuka telapak tanganku, sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil tetap membelai lembut pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak tanganku meraup bukit indah payudaranya. Eksanti menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur, menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yang jenjang.<br />
“Mas, jangan..!”, Eksanti mencoba menarik telapak tanganku yang kini sedang mereMas, menggelitik payudaranya. Aku tidak peduli lagi. Lagi pula dia juga tampaknya tidak sungguh-sungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya saja yang seolah melarang, sementara tangannya cuma sebatas memegang pergelangan tanganku, sambil tetap membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yang mulai mengeras membusung.<br />
Suasana angin pantai yang dingin di luar sana, sangat kontras dengan keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Eksanti mulai merasa kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada.<br />
“Santi, Mas sangat ingin melihat payudaramu, ‘yang..”, ujarku sambil mengusap bagian puncak puting payudaranya yang menonjol. Eksanti kembali menatapku tajam. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya. Tetapi entah mengapa aku lebih suka jika Eksanti yang membuka kaosnya sendiri untukku.<br />
“Tapi janji Mas yaa.., cuma yang ini aja”, katanya lagi. Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti aku janjikan lagi.<br />
Eksanti akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depan mataku. Aku terkagum-kagum ketika menatap dua gundukan daging di dadanya, yang masih tertutup oleh sebuah berwarna bra berwarna hitam. Payudara itu begitu membusung, menantang. Bukit-bukit di dada Eksanti naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Eksanti membuka pengait bra di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Eksanti ketika dia mencoba untuk menurunkan tali bra-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan bra-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang. Payudaranya sangat putih kontras dengan warna bra-nya, sangat terawat dan sangat kencang, seperti yang selama ini selalu aku bayang-bayangkan.<br />
“Payudaramu masih tetap bagus sekali. Santi, kamu pintar merawat, yaa..”, aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.<br />
“Pantes si Yoga jadi tergila-gila sama dia,”, pikirku.<br />
Lalu, perlahan-lahan aku menarik turun cup bra-nya. Mata Eksanti terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna merah kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujung-ujung puncaknya begitu runcing dan kaku. Aku mengusap putingnya lalu aku memilin dengan jemariku. Eksanti mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi payudaranya.<br />
“Egkhh..”, rintih Eksanti ketika mulutku melumat puting susunya. Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku hisap kuat-kuat sehingga membuat Eksanti menarik, menjambak rambutku. Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada Eksanti yang satunya, yang belum sempat aku nikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Eksanti. Sambil menciumi payudara Eksanti, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Eksanti.<br />
Aku membelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Eksanti. Secara tiba-tiba, aku menghentikan kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang. Eksanti tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka pantalon warna hitam yang aku kenakan. Sengaja aku membiarkan lampu kamar cottage itu menyala terang, agar aku bisa melihat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Eksanti yang selama ini sering aku jadikan fantasi seksualku. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Eksanti yang tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yang putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna.<br />
Puas memandangi tubuh Eksanti, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku merapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Eksanti. Aku membelai lagi payudaranya. Aku mencium bibirnya sambil aku masukkan air liurku ke dalam mulutnya. Eksanti menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans-nya yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Eksanti yang masih tertutup celana dalamnya. Eksanti menahan tanganku, ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas kewanitaannya. Ia telah basah.. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi pada tubuh Eksanti. Pinggul Eksanti perlahan bergerak ke kiri.., ke kanan.. dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.<br />
“Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas..”, ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. Sungguh, aku semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum, bahkan aku malah menyuruh Eksanti untuk membuka celana jeans yang dipakainya.<br />
Tangan kanan Eksanti berhenti pada permukaan kancing celananya. Ia kelihatan ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini senantiasa aku mimpikan. Eksanti lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku membantu menarik turun celana jeans Eksanti. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans itu. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya tampak semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus aku akui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal.<br />
Eksanti menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Eksanti. Kami berpelukan. Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala kejantananku. Dia tampak terkejut ketika mendapatkan kejantananku yang tanpa penutup lagi. Memang, sebelum aku masuk ke dalam selimut, aku sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Eksanti. Aku tersenyum nakal.<br />
“Occhh..”, Eksanti semakin kaget ketika tangannya menyentuh kejantananku yang telah tegak menegang.<br />
“Kenapa, Santi?”, aku bertanya pura-pura tidak mengerti. Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya kejantananku saat ini. Eksanti tersenyum malu. Sentuhan kejantananku di tangannya membuat Eksanti merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin.. Kini, Eksanti mulai berani membelai dan menggenggam kejantananku. Belaiannya begitu mantap menandakan Eksanti begitu piawai dalam urusan yang satu ini.<br />
“Tangan kamu semakin pintar yaa.., Santi”, ujarku sambil memandang tangannya yang mulai mengocok-ngocok lembut sekujur kejantananku.<br />
“Ya, mesti dong..,’kan Mas yang dulu ngajarin Santi!”, jawabnya sambil cekikikan.<br />
Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tiba-tiba menjadi semakin liar. Namun aku tetap berusaha bertahan untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan ia benar-benar siap untuk berpaducinta denganku. Sambil meresapi kenikmatan usapan-usapan yang aku rasakan di sepanjang kulit batang kejantananku, jari-jemariku yang nakal mulai masuk dari samping celah celana dalam Eksanti. Telapak tanganku langsung menyentuh bibir kewanitaannya yang sudah merekah basah. Jari telunjukku membelai-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga Eksantipun semakin merasakan nikmat semata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/ujian-kesetiaan-sebelum-menikah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jum’at Malam bersama Alina</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/jum%e2%80%99at-malam-bersama-alina.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/jum%e2%80%99at-malam-bersama-alina.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/jum%e2%80%99at-malam-bersama-alina.html</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya ketika aku sdh berkeluarga dan sudah memiliki 1 anak umur ±2 thn, usiaku kala itu 30 thn. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan di kota S yg masih sangat baru. Belum banyak penghuni yg menempatinya, malahan di gang rumahku (yg terdiri dari 12 rumah) baru 2 rumah yg ditempati, yaitu rumahku dan rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadiannya ketika aku sdh berkeluarga dan sudah memiliki 1 anak umur ±2 thn, usiaku kala itu 30 thn. Kami baru pindah ke sebuah kompleks perumahan di kota S yg masih sangat baru. Belum banyak penghuni yg menempatinya, malahan di gang rumahku (yg terdiri dari 12 rumah) baru 2 rumah yg ditempati, yaitu rumahku dan rumah Pras. Pras juga sudah beristri, namanya Alina, tapi biasa dipanggil Lina. Mereka belum punya anak sekalipun sudah menikah lebih dari 2 thn. Rumah Pras hanya berjarak 2 rumah dari rumahku. Karena tidak ada tetangga yang lain, kami jadi cepat sekali akrab.</p>
<p>Aku dan Pras jadi seperti sahabat lama, kebetulan kami seumuran dan hobi kami sama, catur. Lina, yang berumur 26 thn, juga sangat dekat dgn istriku, Winda. Mereka hampir tiap hari saling curhat tentang apa saja, dan soal seks juga sering mereka perbincangkan. Biasa mereka berbincang di teras depan rumahku kalau sore sambil Winda menyuapi Aria, anak kami. Mereka sama sekali tidak tahu kalau aku sering “menguping” rumpian mereka dari kamarku.</p>
<p>Aku jadi banyak tahu tentang kehidupan seks Lina dan suaminya. Intinya Lina kurang “happy” soal urusan ranjang ini dgn Pras. Bukannya Pras ada kelainan, tapi dia senangnya tembak langsung tanpa pemanasan dahulu, sangat konservatif tanpa variasi dan sangat egois. Begitu sudah ejakulasi ya sudah, dia tidak peduli dgn istrinya lagi. Sehingga Lina sangat jarang mencapai kepuasan dgn Pras. Sebaliknya istriku cerita ke Lina kalau dia sangat “happy” dgn kehidupan seksnya. Dan memang, sekalipun aku bukan termasuk “pejantan tangguh”, tapi aku hampir selalu bisa memberikan kepuasan kepada istriku. Mereka saling berbagi cerita dan kadang sangat mendetail malah. Sering Lina secara terbuka menyatakan iri pada istriku dan hanya ditanggapi dgn tawa ter-kekeh² oleh Winda.</p>
<p>Wajah Lina cukup cantik, sekalipun tidak secantik istriku memang, tapi bodinya sungguh sempurna, padat berisi. Kulitnya yang putih juga sangat mulus. Dan dalam berpakaian Lina termasuk wanita yang “berani” sekalipun masih dalam batas² kesopanan. Sering aku secara tak sadar menelan ludah mengaggumi tubuh Lina, diluar tahu istriku tentu saja. Sayang sekali tubuh yang demikian menggiurkan jarang mendapat siraman kepuasan seksual, sering aku berpikiran kotor begitu. Tapi semuanya masih bisa aku tangkal dgn akal sehatku.</p>
<p>Jum’at petang itu kebetulan aku sendirian di rumah. Winda, dan Aria tentu saja, paginya pulang ke rumah orangtuanya di M, karena hari Minggunya adik bungsunya menikah. Rencananya Sabtu pagi akan akan menyusul ke M. Kesepian di rumah sendirian, setelah mandi aku melangkahkan kaki ke rumah Pras. Maksud hati ingin mengajak dia main catur, seperti yang sering kami lakukan kalau tidak ada kegiatan.</p>
<p>Rumah Pras sepi² saja. Aku hampir mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu, karena aku pikir mereka sedang pergi. Tapi lamat² aku dengar ada suara TV. Aku ketuk pintu sambil memanggil “Pras .. Pras,” Beberapa saat kemudian terdengar suara gerendel dan pintu terbuka.</p>
<p>Aku sempat termangu sepersekian detik. Di depanku berdiri sesosok perempuan cantik tanpa make-up dgn rambut yang masih basah tergerai sebahu. Dia mengenakan daster batik mini warna hijau tua dgn belahan dada rendah, tanpa lengan yang memeperlihatkan pundak dan lengan yang putih dan sangat mulus.</p>
<p>“Eh .. Mas Benny. Masuk Mas,” sapaan ramah Lina menyadarkan aku bahwa yang membukakan pintu adalah Lina. Sungguh aku belum pernah melihat Lina secantik ini. Biasanya rambutnya selalu diikat dengan ikat rambut, tak pernah dibiarkan tergerai seperti ini.</p>
<p>“Nnng … Pras mana Lin?”<br />
“Wah Mas Pras luar kota Mas.”<br />
“Tumben Lin dia tugas luar kota. Kapan pulang?”<br />
“Iya Mas, kebetulan ada acara promosi di Y, jadi dia harus ikut, sampai Minggu baru pulang. Mas Benny ada perlu ama Mas Pras?”<br />
“Enggak kok, cuman pengin ngajak catur aja. Lagi kesepian nih, Winda ama Aria ke M.”<br />
“Wah kalo cuman main catur ama Lina aja Mas.”</p>
<p>Sebetulnya aku sudah ingin menolak dan balik kanan pulang ke rumah. Tapi entah bisikan darimana yang membuat aku berani mengatakan: “Emang Lina bisa catur?”</p>
<p>“Eit jangan menghina Mas, biar Lina cewek belum tentu kalah lho ama Mas.” kata Lina sambil tersenyum yang menambah manis wajahnya.</p>
<p>“Ya bolehlah, aku pengin menjajal Lina,” kataku dgn nada agak nakal.</p>
<p>Lagi² Lina tersenyum menjawab godaanku. Dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan aku duduk di kursi tamu.</p>
<p>“Sebentar ya Mas, Lina ambil minuman. Mas susun dulu caturnya.”</p>
<p>Lina melenggang ke ruang tengah. Aku semakin leluasa memperhatikannya dari belakang. Kain daster yang longgar itu ternyata tak mampu memnyembunyikan lekuk tubuh Lina yang begitu padat. Goyangan kedua puncak pantatnya yg berisi tampak jelas ketika Lina melangkah. Mataku terus melekat sampai Lina menghilang di pintu dapur. Buru² aku ambil catur dari rak pajangan dan aku susun di atas meja tamu.</p>
<p>Pas ketika aku selesai menyusun biji catur, Lina melangkah sambil membawa baki yang berisi 2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemaran aku dan Pras kalau lagi main catur. Ketika Lina membungkuk meletakkan baki di meja, mau tak mau belahan dada dasterya terbuka dan menyingkap dua bukit payudara yang putih dan sangat padat. Darahku berdesir kencang, ternyata Lina tidak memakai bra! Tampaknya Lina tak sadar kalau sudah “mentraktir” aku dgn pemandangan yang menggiurkan itu. Dgn wajar di duduk di kursi sofa di seberang meja.</p>
<p>“Siapa jalan duluan Mas?”<br />
“Lina kan putih, ya jalan duluan dong,” kataku sambil masih ber-debar².</p>
<p>Beberapa saat kami mulai asik menggerakkan buah catur. Ternyata memang benar, Lina cukup menguasai permaian ini. Beberapa kali langkah Lina membuat aku harus berpikir keras. Lina pun tampakya kerepotan dgn langkah²ku. Beberapa kali dia tampak memutar otak. Tanpa sadar kadang² dia membungkuk di atas meja yg rendah itu dgn kedua tangannya bertumpu di pinggir meja. Posisi ini tentu saja membuat belahan dasternya terbuka lebar dan kedua payudaranya yang aduhai itu menjadi santapan empuk kedua mataku. Konsentrasiku mulai buyar.</p>
<p>Satu dua kali dalam posisi seperti itu Lina mengerling kepadaku dan memergoki aku sedang menikmati buah dadanya. Entah memang dia begitu tenggelam dalam berpikir atau memang sengaja, dia sama sekali tidak mencoba menutup dasternya dgn tangannya, seperti layaknya reaksi seorang wanita dalam kondisi ini. Aku semakin berani menjelajah sekitar wilayah dadanya dengan sapuan pandanganku. Aku betul² terpesona, sehingga permaian caturku jadi kacau dan dgn mudah ditaklukkan oleh Lina.</p>
<p>“Cckk cckk cckk Lina memang hebat, aku ngaku kalah deh.”<br />
“Ah dasar Mas aja yang ngalah dan nggak serius mainnya. Konsentrasi dong Mas,” jawab Lina sambil tersenyum menggoda. “Ayo main lagi, Lina belum puas nih.” Ada sedikit nada genit di suara Lina.</p>
<p>Kami main lagi, tapi kali ini aku mencoba lebih konsentrasi. Permainan berjalan lbh seru, sehingga suatu saat ketika sedang berpikir, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji catur yg sudah “mati” ke lantai. Dengan mata masih menatap papan catur aku mencoba mengambil biji catur tsb dari lantai dgn tangan kananku. Rupa²nya Lina juga melakukan hal yg sama, sehingga tanpa sengaja tangan kami saling bersenggolan di lantai.</p>
<p>Entah siapa yang memulainya, tapi kami saling meremas lembut jari tangan di sisi meja sambil masih duduk di kursi masing². Aku melihat ke arah Lina, dia masih dalam posisi duduk membungkuk tapi matanya terpejam. Jari² tangan kirinya masih terus meremas jari tangan kananku. Aku menjulurkan kepalaku dan mencium dahi Lina dgn sangat mesra.</p>
<p>Dia sedikit terperanjat dengan “langkah”ku ini, tapi hanya sepersekian detik saja. Matanya masih memejam dan bibirnya yg padat sedikit terbuka dan melenguh pelan,</p>
<p>“oooohhh …”</p>
<p>Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kulum lembut bibir Lina dengan bibirku, dia menyambutnya dgn mengulum balik bibirku sambil tangan kanannya melingkar di belakang leherku.</p>
<p>Kami saling berciuman dgn posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja. Kulumam bibir Lina ke bibirku berubah menjadi lumatan. Bibirku disedot pelan, dan lidahnya mulai menyeberang ke mulutku. Aku pun menyambutnya dgn permainan lidahku.</p>
<p>Merasa tidak nyaman dalam posisi ini, dgn sangat terpaksa aku lepaskan ciuman Lina. Aku bangkit berdiri, berjalan mengitari meja dan duduk di sisi kiri Lina. Belum sedetik aku duduk Lina sudah memeluk aku dan bibirnya yg kelihatan jadi lebih sensual kembali melumat kedua bibirku. Lidahnya terus menjelajah seluruh isi mulutku sepanjang yg bisa dia lakukan. Aku pun tak mau kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum pernah berciuman begini “hot”, bahkan dgn istriku sekalipun. Rasanya seumur hidup kami berciuman begini, sampai akhirnya Lina agak mengendorkan “serangan”nya.</p>
<p>Kesempatan itu aku gunakan untuk mengubah arah seranganku. Aku ciumi sisi kiri leher Lina yang putih jenjang merangsang itu. Rintih kegelian yg keluar dari mulut Lina dan bau sabun yg harum semakin memompa semangatku. Ciumanku aku geser ke belakang telinga Lina, sambil sesekali menggigit lembut cuping telinganya. Lina semakin menggelinjang penuh kegelian bercampur kenikmatan.</p>
<p>“Aaaahhhh … aaaahhhhh,” rintihan pelan yang keluar dari mulut Lina yang terbuka lebar seakan musik nan merdu di telingaku.</p>
<p>Lengan kananku kemudian aku rangkulkan ke lehar Lina. Tangan kananku mulai menelusup di balik dasternya dan merayap pelan menuju puncak buah dada Lina yg sebelah kanan. Wow … payudara Lina, yang sedari tadi aku nikmati dgn sapuan mataku, ternyata sangat padat. Bentuknya sempurna, ukurannya cukup besar karena tanganku tak mampu mengangkup seluruhnya. Jari²ku mulai menari di sekitar puting susu Lina yang sudah tegak menantang.</p>
<p>Dengan ibu jari dan telunjukku aku pelintir lembut puting yang mungil itu. Lina kembali menggelinjang kegelian, namun tanpa reaksi penolakan sedikitpun. Dia menolehkan wajahnya ke kiri, dgn mata yang masih terpejam dia melumat bibirku. Kami kembali berciuman dgn panasnya sambil tanganku terus bergerilya di payudara kanannya. Reaksi kenikmatan Lina dia salurkan melalui ciuman yg semakin ganas dan sesekali gigitan lembut di bibirku.</p>
<p>Tangan kiriku aku gerakkan ke paha kiri Lina. Darahku semakin mengalir deras ketika aku rasakan kelembutan kulit paha mulus Lina. Lambat namun pasti, usapan tanganku aku arahkan semakin keatas mendekati pangkal pahanya. Ketika jariku mulai menyentuh celana dalam Lina di sekitar bukit kemaluannya, aku menghentikan gerakanku. Tangan kiriku aku kembali turunkan, aku usap lembut pahanya mulai dari atas lutut. Gerakan ini aku ulang beberapa kali sambil tangan kananku masih memelintir puting kanan Lina dan mulut kami masih saling berpagutan.</p>
<p>Ciuman Lina semakin mengganas pertanda dia mengharapkan lebih dari gerakan tangan kiriku. Aku pun mulai meraba bukit kemaluannya yang masih terbalut celana dalam itu. Entah hanya perasaanku atau memang demikian, aku rasakan denyut lembut dari alat kemaluan Lina. Dengan jari tengah tangan kiriku, aku tekan pelan tepat di tengah bukit nan empuk itu. Denyutan itu semakin terasa. Aku juga rasakan kehangatan disana.</p>
<p>“Aaahh … Mas Ben … aahhh .. iya .. iya,”</p>
<p>Lina melenguh sambil sedikit meronta dan kedua tangannnya menyingkap daster mininya serta menurunkan celana dalamnya sampai ke lututnya. Serta merta mataku bisa menatap leluasa kemaluan Lina. Bukitnya menyembul indah, bulu²nya cukup tebal sekalipun tidak panjang bergerombol hanya di bagian atas. Di antara kedua gundukan daging mulus itu terlihat celah sempit yang kentara sekali berwarna merah kecoklatan. Sedetik dua detik aku sempat terpana dengan pemandangan indah yg terhampar di depan mataku ini.</p>
<p>Kemudian jari² tangan kiriku mulai membelai semak² yg terasa sangat lembut itu. Betul² lembut bulu² Lina, aku tak pernah mambayangkan ada bulu pubis selembut ini, hampir selembut rambut bayi. Lina mereaksi belaianku dengan menciumi leher dan telinga kananku. Kedua tangannya semakin erat memeluk aku. Tangan kananku dari tadi tak berhenti me-remas² buah dada Lina yang sangat berisi itu.</p>
<p>Jari²ku mulai mengusap lembut bukit kemaluan Lina yang sangat halus itu. Perlahan aku sisipkan jari tengah kiriku di celah sempit itu. Aku rasakan sediit lembab dan agak berlendir. Aku menyusup lebih dalam lagi sampai aku menemukan klitoris Lina yg sangat mungil dengan ujung jariku. Dgn gerakan memutar lembut aku usap benda kecil yang nikmat itu.</p>
<p>“Ahhhh … iya … Mas .. Ben … ahhhh .. ahhhh.”</p>
<p>Jari tengahku aku tekan sedikit lebih kuat ke klitoris Lina, sambil aku gosokkan naik turun. Lina meresponsnya dengan membuka lebar kedua pahanyan, namun gerakannya terhalang celana dalam yg masih bertengger di kedua lututnya. Sejenak aku hentikan gosokan jariku, aku gunakan tangan kiriku untuk menurunkan benda yang menghalangi gerakan Lina itu. Lina membantu dgn mengangkat kaki kirinya sehingga celana dalamnya terlepas dari kaki kirinya. Sekarang benda itu hanya menggantung di lutut kanan Lina dan gerankan Lina sudah tak terhalang lagi.</p>
<p>Dgn leluasa Lina membuka lebar kedua pahanya. Dari sudut pandang yang sangat sempit aku masih bisa mengintip bibir kemaluan Lina yang begitu tebal merangsang, hampir sama tebal dan sensualnya dgn bibir atas Lina yang masih menciumi leherku. Jariku sekarang leluasa menjelajah seluruh kemaluan Lina yang sudah sangat licin berlendir itu.</p>
<p>Aku gosok² klitoris Lina dgn lebih kuat sambil sesekali mengusap ujung liang kenikmatannya dan aku gesek keatas kearah klitorisnya. Aku tahu ini bagian yang sangat sensitif dari tubuh wanita, tak terkecuali wanita molek yg di sampingku ini. Lina menggelinjang semakin hebat.</p>
<p>“Aaaaaahhhhh …. Mas .. Mas ….. ahhhhh .. terus … ahhhhh,” pintanya sambil merintih.</p>
<p>Intensitas gosokanku semakin aku tingkatkan. Aku mulai mengorek bagian luar lubang senggama Lina.</p>
<p>“Iya … ahhh … iya .. Mas .. Mas .. Mas Ben.”</p>
<p>Lina sudah lupa apa yang harus dia lakukan. Dia hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalanya terdongak kebelakang, matanya tertutup rapat. Mulutnya terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan erangan penuh kenikmatan. Tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya tak lagi memelukku. Tangan kananku pun sudah berhenti bekerja karena merangkul erat Lina agar dia tidak melorot ke bawah. Daster Lina sudah terbuka sampai ke perutnya, menyingkap kulit yang sangat putih mulus tak bercacat. Celana dalam Lina masih menggantung di lutut kanannya. Pahanya menganngkang maksimal.</p>
<p>Jariku masih menari-nari di seluruh bagian luar kemaluan Lina, yang semakin aku pandang semakin indah itu. Aku sengaja belum nenyentuh bagian dalam lubang surganya. Kepala Lina sekarang meng-geleng² kiri kanan dgn liarnya. Rambut basahnya yang sudah mulai kering tergerai acak²an, malah menambah keayuan wajah Lina.</p>
<p>“Mas … Mas …. ahhhhh …. enak …. ahhhh nggak tahaaann .. ahhhh.”</p>
<p>Aku tahu Lina sudah hampir mencapai puncak kenikmatan birahinya. Dengan lembut aku mulai tusukkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yg sudah sangat basah itu. Aku sorongkan sampai seluruh jariku tertelan lubang Lina yang cukup sempit itu. Aku tarik perlahan sambil sedikit aku bengkokkan keatas sehingga ujung jariku menggesek lembut dinding atas vagina Lina.</p>
<p>Gerakan ini aku lakukan berulang kali, masuk lurus keluar bengkok, masuk lurus keluar bengkok, begitu seterusnya. Tak sampai 10 kali gerakan ini, Tiba² Tubuh Lina menjadi kaku, kedua tangannnya mencengkeram erat pinggiran sofa. Kepalanya semakin mendongak kebelakang. Mulutnya terbuka lebar. Gerakanku aku percepat dan aku tekan lebih dalam lagi.</p>
<p>“Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh.”</p>
<p>Lina melenguh dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhnya sedikit menggigil. Aku bisa merasakan jari tanganku makin terjepit kontraksi otot vagina Lina, dan bersaman dgn itu aku rasakan kehangatan cairan yg menyiram jariku. Lina telah mencapai orgasmenya. Aku tidak menghentikan gerakan jariku, hanya sedikit mengurangi kecepatannya.</p>
<p>Tubuh Lina masih menggigil dan menegang. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yg keluar sepatahpun, hanya hembusan nafas kuat dan pendek² yg dia keluarkan lewat mulutnya. Kondisi demikian berlangsung selama beberapa saat. Kemudian tubuh Lina berangsur melemas, aku pun memperlambat gerakan jariku sampai akhirnya dgn sangat perlahan aku cabut dari liang kenikmatan Lina.</p>
<p>Mata Lina masih terpejam rapat, bibirnya masih sedikit ternganga. Dgn lembut dan pelan aku dekatkan bibirku ke mulut Lina. Aku cium mesra bibirnya yang sangat sensual itu. Lina pun menyambut dgn tak kalah mesranya. Kami berciuman bak sepasang kekasih yg saling jatuh cinta.</p>
<p>Agak berbeda dgn ciuman yg menggelora seperti sebelumnya.</p>
<p>“Nikmat Lin?” Dgn lembut aku berbisik di telinga Lina.<br />
“Mas Ben … ah … Lina blm pernah merasakan kenikmatan seperti tadi .. sungguh Mas. Mas Ben sangat pinter … Makasih Mas … Winda sungguh beruntung punya suami Mas.”<br />
“Aku yg beruntung Lin, bisa memberi kepuasan kepada wanita secantik dan semulus kamu.”<br />
“Ah Mas Ben bisa aja … Lina jadi malu.”</p>
<p>Seluruh kejadian tadi sekalipun terasa sangat lama, tapi aku tahu sesungguhnay tak lebih dari 5 menit. Oh, ternyata Lina wanita yang cepat mencapai orgasme, asal tahu bagaimana caranya. Sungguh tolol dan egois Pras kalau sampai tidak bisa memuaskan istrinya ini. Aku berpikir dalam hati.</p>
<p>Lina kemudian sadar akan kondisinya saat itu. Dasternya awut²an, kemaluannya masih terbuka lebar, dan celana dalamnya tersangkut di lutunya. Dia segera duduk tegak, menurunkan dasternya sehingga menutup pangkal pahanya. Gerakan yang sia² sebetulnya karena aku sudah melihat segalanya. Akhirnya dia bangkit berdiri.</p>
<p>“Lina mau cuci dulu Mas.”<br />
“Aku ikut dong Lin, ntar aku cuciin,” aku menggodanya.<br />
“Ihhh Mas Ben genit.”</p>
<p>Sambil berkata demikian dia menggamit tanganku dan menarikku ka kamarnya. Aku tahu ada kamar mandi kecil disana, sama persis seperti rumahku. Sampai di kamar Lina aku berkata:</p>
<p>“Aku copot pakaianku dulu ya Lin, biar nggak basah.”</p>
<p>Lina tdk berkata apa² tetapi mendekati aku dan membantu melepas kancing celanaku semantara aku melepaskan kaosku. Aku lepaskan juga celanaku dan aku hanya memakai celana dalam saja. Lina melirik ke arah celana dalamku, atau lebih tepatnya ke arah benjolan berbentuk batang yg ada di balik celana dalamku. Aku maju selangkah dan mengangkat ujung bawah daster Lina sampai keatas dan Lina mengangkat kedua tangannya sehingga dasternya mudah terlepas.</p>
<p>Baru sekarang aku bisa melihat dgn jelas tubuh mulus Lina. Sungguh tubuh wanita yang sempurna, semuanya begitu indah dan proporsional, jauh melampaui khayalanku sebelumnya. Payudara yang dari tadi hanya aku intip dan raba sekarang terpampang dgn jelas di hadapanku. Bentuknya bundar kencang, cukup besar, tapi masih proporsional dgn ukuran tubuh Lina yg sexy itu. Putingnya sangat kecil bila dibanding ukuran bukit buah dadanya sendiri. Warna putingnya coklat agak tua, sungguh kontras dgn warna kulit Lina yg begitu putih. Perut Lina sungguh kecil dan rata, tak tampak sedikitpun timbunan lemak disana. Pinggulnya sungguh indah dan pantatnya sangat sexy, padat dan sangat mulus. Pahanya sangat mulus dan padat, betisnya tidak terlampau besar dan pergelangan kakinya sangat kecil.</p>
<p>Rupa² Lina sadar kalau aku sedang mengagumi tubuhnya. Dgn agak malu² di berkata:</p>
<p>“Mas curang … Lina udah telanjang tapi Mas belum buka celana dalamnya.”</p>
<p>Tanpa menunggu reaksiku, Lina maju selangkah, agak membungkuk dan memelorotkan celana dalamku. Aku membantunya dgn melangkah keluar dari celana ku. Tongkat kejantananku yg sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak seperti mainan badut keluar dari kotaknya. Kami berdua berdiri berhadapan sambil bertelanjang bulat saling memandangi.</p>
<p>Tak tahan aku hanya melihat tubuh molek Lina, aku maju langusng aku peluk erat tubuh Lina. Kulit tubuhku langsung bersentuhan dgn kulit halus tubuh Lina tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.</p>
<p>“Kamu cantik dan seksi sekali Lin.”<br />
“Ah Mas Ben ngeledek aja.”<br />
“Bener kok Lin.”</p>
<p>Sambil berkata demikian aku rangkul Lina lalu aku bimbing masuk ke kamar mandi. Aku semprotkan sedikit air dgn shower ke kemauluan Lina yg masih berlendir itu. Kemudian tangan kananku aku lumuri dgn sabun, aku peluk Lina dari belakang dan aku sabuni seluruh kemaluan Lina dgn lembut. Rupanya Lina suka dgn apa yg aku lakukan, dia merapatkan punggungnya ke tubuhku sehingga penisku menempel rapat ke pantatnya. Dgn gerakan lambat dan teratur aku menggosok selangkangan Lina dgn sabun. Lina mengimbanginya dgn mengggerakkan pinggulnya seirama dgn gerakanku. Gesekan tubuhku dgn kulit halus mulus Lina seakan membawaku ke puncak surga dunia.</p>
<p>Akhirnya selesai juga aku membantu Lina mencuci selangkangannya dan mengeringkan diri dgn handuk. Sambil saling rangkul kami kembali ke kamar dan berbaring bersisian di tempat tidur. Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan. Aku raba seluruh permukaan tubuh mulus Lina, betul² halus dan sempurna. Lina pun beraksi mengelus batang kejantananku yang semakin menegang itu.</p>
<p>Aku ingin memberikan Lina kepuasan sebanyak mungkin malam ini. Aku ingin Lina merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dgn seorang pria. Dan aku merasa sangat beruntung bisa melakukan itu krn, dari cerita Lina ke Winda, aku tahu tak ada pria lain yg pernah menyentuhnya kecuali Pras, dan sekarang aku.</p>
<p>Tubuh telanjang Lina aku telentangkan, kemudian aku melorot mendekati kakinya. Aku mulai menciumi betisnya, perlahan keatas ke pahanya yang mulus. Aku nikmati betul setiap inci kulit paha mulus dan halusnya dgn sapuan bibir dan lidahku. Akhirnya mulutku mulai mendekati pangkal pahanya.</p>
<p>“Ahhhhh Mas Ben …. ah .. jangan .. nanti Lina nggak tahan lagi .. ah.”</p>
<p>Sekalipun mulutnya berkata “jangan” namun Lina justru membuka kedua pahanya semakin lebar seakan menyambut baik serangan mulutku itu.</p>
<p>“Nikmati saja Lin …. aku akan memberikan apa yg tdk pernah diberikan Pras padamu.”</p>
<p>Aku meneruskan jilatan dan ciumanku ke daerah selangkangan Lina yg sudah menganga lebar. Aku lihat jelas bibir vaginanya yg begitu tebal dan sensual. Perlahan aku katupkan kedua bibirku ke bibir bawah Lina. Sambil “berciuman” aku julurkan lidahku mengorek ujung liang senggama Lina yg merangsang dan wangi itu.</p>
<p>“Ahhhh …. Mas Ben … aaaaahhh .. please .. please.”</p>
<p>Begitu mudahnya kata² Lina berubah dari “jangan” menjadi “please”. Bibirku aku geser sedikit keatas sehingga menyentuh klitorisnya yg berwarna pink itu. Perlahan aku julurkan lidahku dan aku menjilatinya ber-kali². Sekarang Lina bereaksi tepat seperti yang aku duga. Dia membuka selangkangannya semakin lebar dan menekuk lututnya serta mengangkat pantatnya. Aku segera memegang pantatnya sambil me-remas²nya. Lidahku semakin leluasa menari di klitoris Lina.</p>
<p>“Aaaaaahhhhhh …. enak Mas …. enak …. ahhhh .. iya …. ahhhh ahhhhh.”</p>
<p>Hanya itu yang keluar dari mulut Lina menggambarkan apa yg sedang dia rasakan saat ini. Aku semakin meningkatkan kegiatan mulutku, aku katupkan kedua bibirku ke klitoris Lina yg begitu mungil, Aku sedot lambat² benda sebesar kacang hijau itu.</p>
<p>“Maaaaasss …. nggak tahaaaan … ahhhhh .. Maassss.”</p>
<p>Dari pengalamanku tadi memasturbasi Lina dgn jari aku tahu pertahanan Lina tinggal setipis kertas. Lalu aku rubah taktik ku. Aku lepaskan tangan kananku dari pantat Lina, kemudian jari tengahku kembali beraksi menggosok klitorisnya. Lidahku aku julurkan mengorek seluruh lubang kenikmatan Lina sejauh yg aku bisa. Sungguh luar biasa respon Lina. Tubuhnya menegang membuat pantat dan selangkangannya semakin terangkat, kedua tangannya mencengkeram kain sprei.</p>
<p>“AAAaaaaahhhhh … maaaaaaaaaaaaaassssssss.”</p>
<p>Bersamaan dgn erangan Lina aku rasakan ada cairan hangat dan agak asin yg keluar dari liang vaginanya dan langsung membasahi lidahku. Aku julurkan lidahku semakin dalam dan semakin banyak cairan yg bisa aku rasakan.</p>
<p>Tiba² Lina memberontak, segera menarik aku mendekatinya. Tangan kananku dia pegang dan sentuhkan ke kemaluannya. Sambil matanya masih terpejam, dia memeluk aku dan langsung mencium bibirku yang masih belepotan dgn lendir kenikmatannya. Aku tahu apa yg dia mau. Aku biarkan bibir dan lidahnya menari di mulutku menyapu semua sisa lendir yg ada disana. Jari tanganku aku benamkan kedalam vaginanya dan aku gerakkan masuk keluar dgn cepat. Tubuh Lina kembali menggigil dan vaginanya mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu adalah sisa orgasmenya.</p>
<p>Kami masih berciuman sampai tubuh Lina mulai melemas. perlahan aku angkat tangan kananku dari selangkangannya, aku peluk dia dgn lembut. Bibirku perlahan aku lepaskan dari cengkeraman mulut Lina.</p>
<p>Tubuh Lina tergolek lemah seakan tanpa tulang. Matanya sedikit terbuka menatap mesra ke arahku. Bibirnya sedikit menyungging senyum penuh kepuasan.</p>
<p>“Mas …. itu tadi luar biasa Mas … Lina belum pernah digituin … Mas Ben hebat .. makasih Mas … Lina hutang banyak ama Mas Ben.”<br />
“Lin aku juga sangat senang kok bisa membuat Lina puas seperti itu.”</p>
<p>Sambil aku kecup lembut keningnya. Mata Lina berbinar penuh rasa terima kasih. Aku merasakan kenikmatan bathin yg luar biasa saat itu. Kami berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. Penisku masih tegang berdiri, tapi aku tidak hiraukan karena nanti pasti akan dapat giliran juga.</p>
<p>Lina bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini aku biarkan di membersihkan dirinya sendiri. Aku tetap berbaring sambil mengenangkan keindahan yg baru aku alami. Tak berapa lama Lina sudah kembali dan dia langsung berbaring di sampingku. Matanya menatap lekat ke penisku seakan dia baru sadar ada benda itu disana.</p>
<p>“Mas Ben pengin diapain?” Lina bertanya manja.<br />
“Terserah kamu Lin, biasanya ama Pras gimana dong?” Aku coba memancing<br />
“Biasa ya langsung dimasukin aja Mas. Lina jarang puas ama dia.”<br />
“Oh … terus Lina penginnya gimana?”<br />
“Ya kayak ama Mas Ben tadi, Lina puas banget. … Lina pengin cium punya Mas Ben boleh nggak?”<br />
“Emang Lina belum pernah?”<br />
“Belum Mas,” agak jengah dia menjawab, “Mas Pras nggak pernah mau.”<br />
“Ya silahkan kalau Lina mau.”</p>
<p>Tanpa menunggu komando Lina segera merangkak mengarahkan kepalanya mendekati selangkanganku. Dia pegang batang penisku, dia mengamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok. Sangat kaku dan canggung.</p>
<p>“Ayo Lin ,, aku ngak apa² kok. Kalau Lina suka, lakuin apa yg Lina mau.”</p>
<p>Dgn penuh keraguan Lina mendekatkan mulutnya ke kepala penisku. Pelan² dia buka bibirnya dan memasukkan helmku kedalam mulutnya. Hanya sampai sebatas leher kemudian dia sedot perlahan. Dia tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Tentu saja aku tidak bisa merasakan sensasi yg seharusnya. Rupanya dia benar² belum pernah melakukan oral ke penis lelaki.</p>
<p>Dgn lembut aku pegang tangan kiri Lina. Aku genggam jemarinya yg lentik dan aku tarik mendekat ke mulutku. Aku pegang telunjuknya kemudian aku masukkan ke dalam mulutku. Aku gerakkan masuk keluar dgn lambat sambil sesekali aku jilat dgn lidahku saat jari lentiknya masih dalam mulutku. Lina segera paham bahwa aku sedang memberi “bimbingan” bagaimana seharusnya yg dia lakukan. Tanpa ragu dia mempraktekkan apa yg aku lakukan dgn jarinya.</p>
<p>Batang penisku dimasukkan kedalam mulutnya, kemudian kepalanya di-angguk²kan sehingga senjataku tergesek keluar masuk mulutnya yg sensual itu. Sekalipun masih agak canggung tapi aku mulai bisa merasakan “pelayanan” yg diberikan Lina kepadaku. Semakin lama dia semakin tenang dan tdk kaku lagi. Kadang dia mainkan lidahnya di sekeliling kepala penisku dalam mulutnya. Wow .. dlm sekejap Lina sudah mulai ahli dalam oral sex.</p>
<p>Sepertinya Lina sendiri mulai bisa merasakan sensasi dari apa yg dia lakukan dgn mulut dan lidahnya. Dia mulai berani bereksperiman. Kadang dia keluarkan penisku dari mulutnya, menciumi batangnya kemudian memasukkannya kembali. Sesekali dia hanya menghisap kepalanya sambil mengocok batang kemaluanku. Aku mulai merasakan rangsangan dan ikut menikmati permainan mulut Lina.</p>
<p>“Gimana Lin rasanya?”<br />
“Mas… Lina merasakan rangsangan yg luar biasa, Penisnya Mas enak .. Lina suka.”</p>
<p>Aku bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Lina langsung tahu harus bagaimana. Dia duduk bersimpuh di hadapanku dan kembali menghisap penisku. Kepalanya tetap digerakkan maju mundur. Dan sekarang dia menemukan cara baru. dia menjepit batang penisku diantara kedua bibirnya yg terkatup. Kemudian dia meng-angguk²kan kepalanya. Wow … sungguh Lina cepat belajar dalam hal beginian. Batang dan kepala penisku dia gesek degn bibir tebalnya yg terkatup. Aku membantu dia dengan menggerakkan pantatku maju mundur.</p>
<p>“Ohhh Lin …. mulutmu enak sekali … terus Lin.”<br />
“Mas Ben suka? Winda sering ya giniin Mas Ben?”<br />
“Iya Lin … tapi aku lebih suka kamu … bibirmu seksi sekali .. ooohhh Lin .. Winda juga suka .. isep bolaku dan jilati semuanya Lin .. ohhh.”</p>
<p>Lina rupanya nggak mau kalah, dia segera melepaskan batang penisku dari mulutnya dan mulai menjilati dan menghisap bola kembarku. Tangannya sambil mengocok batang kelakianku. Oh sungguh nikmat. Aku belai rambut Lina dan aku usap kepalanya. Lina suka sekali dan dia masih terus menggerayangi seluruh selangkanganku dgn lidahnya. Rasanya sungguh nikmat.</p>
<p>Kemudian kami berganti posisi. Aku kembali tidur telentang dan Lina aku minta merangkak diatasku dengan posisi kepala terbalik. Kami di posisi 69 dan ini adalah salah satu favoritku. Lina sekarang sudah cukup mahir dalam oral sex. Dia segera mengulum batang penisku, aku pun mulai menjilati baginanya. Dengan posisi ini liang kenikmatan Lina sangat terbuka dihadapanku dan aku lebih leluasa menikmati dgn bibir dan lidahku.</p>
<p>Aku jilat dan hisap klitoris Lina yg sudah menantang dan jariku mengorek liang senggamanya. Sesekali aku cuimi bibir vaginanya yang begitu merangsang. Lina pun tak mau kalah, dia melakukan segala cara yg dia tahu terhadap tongkat kejantananku. Dia mainkan pakai lidah, dia kocok sambil dia hisap, dia mainkan kepala penisku mengitari kedua bibirnya. Sungguh nikmat sekali.</p>
<p>Tak terlalu lama aku mulai merasakan bahwa Lina sudah tdk bisa menahan lagi, Pantatnya mulai bergoyang limbung kegelian, namun aku menjilati terus klitorisnya sambil jariku me-nusuk² liang kenikmatannya. Akhirnya Lina sampai juga di puncak nikmatnya. Tubuhnya menegang, gerakan anggukan kepalanya sambil menghisap penisku semakin menggila. Tubuhnya gemetaran tapi dia tetap tak rela melepas penisku dari mulutnya. Aku semakin giat mencium klitorisnya dan mengorek vaginanya dgn jariku. Tubuh Lina tiba² mematung dan aku rasakan cairan hangat meleleh keluar dari liang senggamanya.</p>
<p>Aku langsung menutup lubang vagina Lina dgn mulutku dan membiarkan cairan kenikmatannya membasahi lidahku. Rasanya asin tapi sama sekali tidak amis sehingga aku tak ragu menelan cairan itu sampai tandas.</p>
<p>Kemudian perlahan aku mulai lagi menciumi dan menjilati seluruh permukaan vagina Lina. Otot Lina sudah agak mengendur juga. Dia mulai lagi melakukan segala eksperimen dgn mulut dan lidahnya ke penisku. Kami mulai lagi dari awal. Perlahan namun pasti, Lina mulai mendaki lagi puncak kenikmatan birahinya.</p>
<p>Aku tangkupkan kedua tanganku ke bukit pantat Lina dan mulai membelai dan meremas lembut. Lina menanggapinya dgn sedotan panjang di penisku. Lidahku kembali menelusuri segala penjuru selangkangan Lina. Beberapa saat kemudian aku mulai merasakan tubuh Lina kembali gemetaran. Aku cium bibir bawahnya dan aku sorongkan lidahku sedalam munggkin ke dalam guanya yg merangsang.</p>
<p>Aku juga mulai merasa kalau pertahananku mulai goyah dan bendunganku akan segera ambrol. Lina mempercepat gerakan kepalanya dan akupun menghisap makin kuat vaginanya. Aku sudah tak kuat menahan amarah spermaku dan …</p>
<p>“Croooottsss crooots croots.”</p>
<p>Lahar hangatku menyembur didalam mulut Lina. Untuk sedetik Lina agak kaget tapi dia cepat tanggap. Dia segera mempercepat gerakan kepalanya sambil menelan seluruh air maniku.</p>
<p>“Croots .. croots.”</p>
<p>Sisa maniku kembali menyembur, dan kali ini Lina menyambutnya dgn hisapan kuat di penisku, seakan ingin menyedot apa yg masih tersisa didalam sana. Aku merasakan nikmat yg luar biasa. Ekspresi kenikmatan ini aku lampiaskan dengan semakin gila menjilati dan menyedot vagina Lina. Rupanya Lina juga sudah hampir mancapai klimaksnya. Belaian lidahku di mulut vaginanya membuat puncak itu semakin cepat tercapai. Akhirnya sekali lagi tubuh Lina menegang dan cairan hangat kembali meleleh dari kawahnya. Lidahku kembali menerima siraman lendir kenikmatan itu yg segera aku telan.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, dgn enggan Lina bangkit dan berbaring telentang disampingku. Penisku, walaupun masih berdiri, tapi sudah tidak setegak tadi. Lina memelukku dgn manja dan kami berciuman dgn mesra.</p>
<p>“Lin … gimana? .. puas? … sorry tadi aku nggak tahan keluar di mulut kamu.”<br />
“Lina puas sekali Mas .. sampai dua kali gitu lho …. Lina suka sperma Mas Ben … asin² gimana gitu. Kapan² boleh minta lagi dong Mas,” Lina mulai keluar kenesnya.<br />
“Boleh aja Lin ,,, asal disisain buat Winda .. hehehe,”</p>
<p>Lina mencubit genit lenganku.</p>
<p>“Ihhh … Mas Ben … paling bisa deh … emang Mas sering gaya gituan dgn Winda?”</p>
<p>Aku tahu Winda juga sering bercerita soal kegiatan sex kami ke Lina jadi aku yakin Lina sudah tahu juga.</p>
<p>“Enggak lah … ini baru pertama dgn kamu Lin.”<br />
“Ah Mas bohong .. Winda kan sering cerita ke Lina, katanya Mas Ben pinter ngeseks. Makanya diam² Lina pengin main ama Mas.”<br />
“Udah kesampian kan keinginanmu Lin.”<br />
“Iya sih … tapi Mas jangan marah ya … Lina sering bayangin kita main bertiga dgn Winda .. Mas mau nggak?”</p>
<p>Kaget juga kau mendengar keinginan Lina ini. Jujur saja aku juga sering berfantasi membayangkan alangkah nikmatnya bercinta dgn Winda dan Lina sekaligus. Tapi tentu saja aku tak pernah berani ngomong dgn Winda. Bisa pecah Perang Dunia III, lagi pula itu kan hanya fantasi liar saja.</p>
<p>“Mau sih Lin .. tapi kan nggak mungkin … Winda pasti marah besar.”<br />
“Iya ya … Winda kan orangnya agak alim.”</p>
<p>Kami terus berbincang hal² demikian sampai kira² 10 menit. Kemudian dgn malas kami ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar mandi kami saling menyabuni dan saling membersihkan tubuh kami. Aku jadi semakin mengagumi tubuh Lina. Tak ada segumpal lemakpun di tubuhnya dan semuanya padat berisi.</p>
<p>Setelah mengeringkan diri kami kembali ke atas ranjang dan berpelukan mesra. Sambil saling berciuman aku mulai menggerayangi tubuh molek Lina, Tak bosan²nya aku meremas dan mengusap buah dadanya yg sangat segar itu. Perlahan aku mulai menghujani leher dan pundak Lina dgn ciumanku. Tak sampai disitu saja, mulutku mulai aku arahkan ke dada Lina.</p>
<p>Buah dadanya yg tegak mulai aku cium dan aku gigit² lembut. Lina sangat menyukai apa yg aku lakukan.</p>
<p>“Ahhhh … iya Mas …. disitu Mas … ahhhhh Lina terangsang Mas.”</p>
<p>Lidahku menjilati puting susunya yg mungil dan keras itu. Lina semakin menggelinjang. Tangannya menyusup ke bawah ke selangkanganku. Dipegangnya batang kemaluanku yg masih agak lemas. Dia permainkan penisku dgn jari²nya yg lentik. Mau tak mau burungku mulai hidup kembali. Lina dgn lembut mengocok tongkat kelakianku.</p>
<p>Sambil masih mengulum putingnya, tangan kananku kembali bergerilya di daerah kemaluan Lina. Jariku aku rapatkan dan aku tekan bukit kemaluan Lina sembari aku gerakkan memutar. Dia juga menimpali dgn menggoyangkan pantatnya dgn gerakan memutar yg seirama.</p>
<p>“Mas …. aaahhhh Mas …. enak Mas … ahhh terus … iya.”</p>
<p>Sambil mendesah dia menarik pantatku mendekat ke kepalanya. Akhirnya aku terpaksa melepaskan hisapanku di putingnya dan duduk berlutut di sisinya. Lina terus menekan pantatku sampai akhirnya mulutnya mencapai batang kemaluanku yg sudah tegak menantang. Tangan kiriku aku tampatkan dibelakang kepalanya untuk menyangga kepalanya yg agak terangkat. Penisku kembali dia kulum dan jilati.</p>
<p>“Oooh Lin … enak Lin … aku suka Lin …”</p>
<p>Aku pun menggerakkan pantatku maju mundur. Lina membuka lebar mulutnya dan menjulurkan lidahnya sehingga batang penisku meluncur masuk keluar mulutnya ter-gesek² lidahnya. Sungguh luar biasa apa yang aku rasakan saat itu.</p>
<p>Sementara itu tangan kananku terus menekan dan memutar bukit vagina Lina. Kadang jariku aku selipkan ke celah sempit diantara kedua bukit itu dan mengusap klitoris Lina.</p>
<p>“Ahhh Mas … Lina nggak tahan Mas … ahhhhh .. iya …. aaahhhh.”</p>
<p>Aku segera merubah posisi. Kedua tangan Lina aku letakkan di belakang lututnya dan membuka kedua lututnya. Aku angkat pahanya sehingga liang vaginanya menganga menghadap ke atas. Lina menahan dengan kedua tangan di belakang lututnya. Aku duduk bersimpuh di hadapan lubang kemaluan Lina. Penisku aku arahkan ke lubang yg sudah menganga itu.</p>
<p>Aku tusukan kepala penisku ke mulut lubang dan aku tahan disana. kemudian dgn tangan kananku aku gerakkan penisku memutari mulut liang senggama Lina.</p>
<p>“Maassss .. ahhhhh … nggak tahan … ayo … ahhhhhh.”</p>
<p>Aku sengaja tdk mau terlalu cepat menusukkan batang kejantananku ke gua kenikmatan Lina. Aku gesek²an kepala penisku ke klitoris Lina. Dia semakin menggelinjang menahan nikmat. Akhirnya tanggul Lina bobol juga. Tak heran, dengan gosokan jari saja dia tadi bisa mencapai orgasme apalagi ini dgn kepala penisku, tentu rangsangannya lebih dahsyat.</p>
<p>“Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhhh Massssssss.”</p>
<p>Rintihan itu sekaligus menandai melelehnya cairan bening dari liang vaginanya. Lina kembali mengalami puncak orgasme hanya dgn gosokan di klitorisnya. Kali ini aku masukkan batang penisku seluruhnya kedalam gua kenikmatannya. Aku berbaring telungkup diatas tubuh molek Lina sambil menumpkan berat badanku di kedua sikuku. Aku cium lembut mulutnya yg masih terbuka sedikit. Lina membalas ciumanku dan mengulum bibirku.</p>
<p>Aku biarkan senjataku terbenam dalam lendir kehangatannya. Di telinganya aku bisikan:</p>
<p>“Lin … nikmat ya …”<br />
“Oh Mas … Lina sampai nggak tahan … nikmat Mas ..”</p>
<p>Perlahan dgn gerakan yg sangat lembut aku mulai memompa batang penisku ke dalam lubang senggama Lina yg sudah basah kuyup. Aku tahu Lina pasti bisa orgasme lagi dan kali ini aku ingin merasakan semburan lumpur panas di batang kemaluanku.</p>
<p>“Ayo Lin …. nikmati lagi … jangan ditahan .. aku akan pelan².”<br />
“Ahhhh .. iya Mas …. Lina pengin lagi .. ahhhhh.”</p>
<p>Masih dgn sangat pelan aku pompa terus tongkat kelakianku ke liang vagina Lina yg ternyata masih sempit untuk ukuran wanita yang sudah menikah 2 thn. Buah dada Lina yg menyembul tegak meng-gesek² dadaku ketika aku turun naik. Sungguh sensasi yang luar biasa. Sengaja aku gesekkan dadaku ke payudaranya.</p>
<p>“Aaaahhhhh … ahhhhhhh … iya … ahhhhh .. Lina terangsang lagi Mas … iya …. .”</p>
<p>Kali ini aku pompa sedikit lebih kuat dan cepat. Lina menanggapinya dgn memutar pantatnya sehingga penisku rasanya seperti di peras² dalam liang vaginanya. Gerakkan Lina semakin liar, Tangannya sudah tidak lagi menahan lutut tapi memegang pantatku dan menekannya dengan keras ke tubuhnya.</p>
<p>“Aaaaahhhhhh …. Mas ….. aaaahhhhhhh”</p>
<p>Aku semakin kencang dan dalam memompa pantatku. Mata Lina sudah terpejam rapat, kepalanya meng-geleng² liar ke kiri ke kanan seperti yang dia lakukan di sofa tadi. Gerakannya semakin ganas dan …</p>
<p>“Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ………”</p>
<p>Dia melenguh panjang sambil menegangkan seluruh otot di tubuhnya. Aku menekan dalam² penisku ke lubang senggamanya. Jelas aku rasakan aliran hangat di sekujur batang kemaluanku. Tubuh Lina maish terbujur kaku. Aku pun menghentikan seluruh gerakanku sambil terus menekan liang vaginanya dgn penisku. Beberapa saat sepertinya waktu terhenti. Tidak ada suara, tidak ada gerakan dari kami berdua. Aku memberi kesempatan kepada Lina untuk menikmati klimaks yg barusan dia dapat.</p>
<p>Akhirnya badan Lina mulai mengendur. Tangannya membelai lembut kapalaku. Bibirnya mencari bibirku untuk dihadiahi ciuman yang sangat lembut dan panjang.</p>
<p>“Mas …. Lina sungguh nikmat …. Mas Ben jago deh … Mas belum keluar ya?”<br />
“Jangan pikirkan aku Lin …. yang penting Lina bisa menikmati kepuasan.”</p>
<p>Kemudian dgn lambat aku mulai memompa lagi. Liang senggama Lina terasa sangat licin dan agak sedikit longgar. Selama beberapa saat aku terus memompa lambat².</p>
<p>“Aaaahhhhhh … iya .. iya …. Mas …. Lina mau lagi .. iya … ahhhh”</p>
<p>Lina kembali memutar pantatnya mengiringi irama pompaanku. Dia mulai men-desah² penuh kenikmatan.Aku cabut batang kemaluanku dari vagina Lina. Aku lalu berbaring telentang di sebelahnya.</p>
<p>“Kamu diatas Lin.”</p>
<p>Lina segera berjongkok diatas selangkanganku, Aku arahkan kepala penisku ke lubangnya. Lina kemudian duduk diatas tubuhku dan bertumpu pada kedua lututnya. Pantatnya mulai bergerak maju mundur.</p>
<p>“Ayo Lin … kamu sekarang yg atur .. ohhh iya nikmat Lin.”</p>
<p>Lina semakin bersemangat memajumundurkan pantatnya. Kedua payudaranya berguncang indah dihadapanku. Secara reflek kedua tanganku meremas bukit daging yg mulus itu. Tangan Lina dia letakkan dibelakang pantatnya sehingga tubuhnya agak meliuk kebelakang membuat dadanya semakin membusung.</p>
<p>“Ohhh Lin … susumu sexy sekali … terus Lin … ohhhh … lebih keras Lin.”<br />
“Aaaaahhhh Mas … Lina sudah mau sampai lagi … ahhhhh ahhhhhh Mas”<br />
“Ayo Lin …. terus Lin … cepat …. ohhhhh iya .. iya Lin … memekmu enak sekali.”<br />
“Mas .. ahhhh … Lina nggak tahan … puasi Lina lagi mas .. ahhhh.”</p>
<p>Gerakan pantat Lina semakin cepat dan semakin cepat. Aku merasa penisku ter-gesek² dinding vagina Lina yg sempit dan licin itu. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan agar aku tidak ejakulasi. Pertahananku semakin rapuh.</p>
<p>“Lin … oooohhhh Lin …. aku nggak tahan … ohhh Lin …. enak … enak.”<br />
“Ahhhh … ayo .. Mas ….. Lina juga udah nggak tahan … sekarang mas .. ahhh sekarang.”</p>
<p>Tepat pada detik itu bendunganku ambrol tak mampu menahan terjangan spermaku yg menyemprot kuat.</p>
<p>“Oooooooohhhhhhh Lin ….. crooots crooots croots”<br />
“Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh Mas …. ahhhhhhhhhhh ..”</p>
<p>Kami mencapai puncak kenikmatan ber-sama². Penisku terasa hangat dan aku yakin Lina juga merasakan hal yg sama di dalam vaginanya. Lina masih duduk diatasku tapi sudah kaku tak bergerak. Vaginanya dihujamkan dalam melahap seluruh batang kemaluanku.</p>
<p>“Oooohhh Lin …. nikmat sekali .. makasih Lin .. kamu pinter membuat aku puas.”</p>
<p>Akugapai tubuh Lina dan aku tarik menelungkup diatas tubuhku. Buah dadanya yg masih keras menghimpit dadaku. Aku ciumin seluruh wajahnya yang mulai ditetesi keringat.</p>
<p>“Mas … ahhhhh … Lina sungguh puas Mas … ”</p>
<p>Kemudian kami berbaring sambil berpelukan. Badan kami mulai terasa penat tapi bathin kami sangat puas.</p>
<p>Hari sudah beranjak malam. Diselingi makan malam berdua, kami memadu kasih beberapa kali lagi. Atau lebih tepatnya Lina mengalami orgasme beberapa kali lagi sedangkan aku hanya sekali lagi ejakulasi, Segala gaya kami coba, bahkan aku sempat “membimbing” Lina untuk memuaskan dirinya sendiri dengan jari²nya yg lentik itu. Aku betul² puas dan senang bisa membuat wanita secantik Lina bisa mencapai sekian kali orgasme.</p>
<p>Tak terasa jarum jam terus bergeser dan jam setengah sebelas malam aku meninggalkan rumah Lina. Sebetulnya Lina meminta aku bisa bermalam menemani dia, tatapi aku ingat keesokan harinya aku masih harus menyetir lebih dari 4 jam ke kota M menyusul istri dan anakku tercinta. Maaf Winda, aku telah mereguk madu kepuasan bersama sahabatmu, Alina</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/jum%e2%80%99at-malam-bersama-alina.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CinTa Tak Harus Miliki Kamu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/cinta-tak-harus-miliki-kamu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/cinta-tak-harus-miliki-kamu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/cinta-tak-harus-miliki-kamu.html</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu aku sedang sendiri. Aku baru saja (sekitar sebulan) berpisah dengan salah seorang gadis yang sangat kusayangi. Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. Hari-hari terasa sangat berat tanpa kehadirannya, bahkan aku pun punya rasa sedih akan kehilangan seseorang (setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu). Aku jadi semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu aku sedang sendiri. Aku baru saja (sekitar sebulan) berpisah dengan salah seorang gadis yang sangat kusayangi. Ah, aku sendiri heran, mengapa perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati. Hari-hari terasa sangat berat tanpa kehadirannya, bahkan aku pun punya rasa sedih akan kehilangan seseorang (setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu).</p>
<p>Aku jadi semakin sering menelepon Enni (kekasih pertamaku) walau hanya sekedar menceritakan betapa aku merasa sangat sendirian. Mungkin kalian pernah merasakan (paling tidak sekali) serius menjalin hubungan dengan seseorang, dan begitu pula aku. Pathetic, untuk cowok sepertiku. Tapi, yah terkadang perasaan tak dapat selalu ditipu, bukan?</p>
<p>Suatu hari aku (karena menganggur sekali) menghabiskan waktu luangku di toko buku Gramedia, di jalan Kertajaya, sekedar membaca-baca buku. Soalnya di sana satu-satunya toko buku bermutu dimana kita bisa membaca gratis. Waktu itu aku sedang menikmati membaca buku komik Jepang Elex Media terjemahan bahasa Indonesia (entah apa judulnya, soalnya aku tak ingin repot mengingatnya).</p>
<p>Menyandarkan tubuhku di tembok di sebelah rak buku, dan membiarkan orang-orang memandangku dengan heran saat aku tertawa. Saat itulah tiba-tiba aku melihat sebuah kepala muncul dari balik buku yang kupegang.</p>
<p>“Nia?” seruku tak percaya.<br />
“Ray? Bener kan? Raaayyy!” seru gadis itu tak kalah sengit.<br />
Kami berdua tanpa terasa saling berpelukan, tertawa-tawa, membiarkan adegan tak senonoh itu dilihat orang di sekitar kami.<br />
“Ssshhh… banyak orang,” Nia berkata kepadaku.<br />
“Hahaha… nyari tempat yuk,” kataku.<br />
Kugandeng tangannya keluar dari Gramedia. Kami akhirnya mengambil tempat di salah satu warung di sebelah toko buku itu.</p>
<p>“Ray, gimana aja kabarnya.. umm.. setahun yah?”<br />
Ah ya setahun, lama memang.<br />
“Yah, baik-baik saja. Kamu?”<br />
Lalu Nia bercerita tentang bagaimana ia setelah lulus SMU, berangkat ke Jakarta untuk meneruskan kuliah D1 di sebuah universitas negeri di sana. Setelah tamat, ia kembali ke Surabaya dan bekerja di sebuah bank swasta yang namanya cukup kondang di Indonesia.</p>
<p>Ceritanya sangat panjang (dan siapapun takkan mau mendengarnya, membosankan), namun yang kutahu saat itu aku butuh teman untuk bicara, untuk… “Ray, jadi inget waktu dulu.” Aku pun teringat. Waktu…</p>
<p>Kota XXXX , Jawa Timur, 1990</p>
<p>Kami bertengkar hebat hari itu. Enni tidak mau lagi mendengar alasanku. Dia benar-benar marah ketika mengetahui bahwa aku melupakan janjiku untuk mengantarnya les hanya demi bandku. “Pulang, pikir dulu perbuatan kamu, baru temui aku lagi!” Huh, ya sudah, pikirku sambil beranjak keluar mengambil sepeda Federal-ku dan ngeloyor pulang. Di tengah jalan hampir saja aku terjatuh, reaksi obat di tubuhku masih belum hilang benar.</p>
<p>Aku pulang ke rumah, membanting sepedaku di halaman, dan langsung menuju ke kamar. Kubuka lemariku dan mengambil sebotol B*****i yang isinya tingal setengah. Kuambil ‘tik’ o**t di saku belakangku. Memencet keluar dua butir terakhir, mengunyahnya sambil menenggak seteguk cairan dari botol di hadapanku.</p>
<p>Nikmat! Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku di tempat tidur, menunggu reaksi o**t bekerja. Cih, pikirku, siapa yang butuh wanita. Kubuka retsleting celanaku, mengeluarkan batang kemaluanku, menggoyang-goyangnya sejenak dalam genggamanku sampai menegang. Kusentil ujungnya dengan telunjukku sambil tertawa kecil. Gila, aku tahu kamu protes atas ucapanku, hahahaha. Setan pun tertawa dalam jiwaku.</p>
<p>Kubayangkan tubuh Enni di atasku, tanpa pakaian, tubuhnya bersimbah peluh. “Ahh… uhhh… ahh… Ray… ahhh… ahggh.. agg.. ahhh…” kutariik-tarik kulit kemaluanku, merasakan nikmat pada ujung-ujung sarafnya. Sekarang Enni menciumi dadaku dengan ganas, menggerak-gerakkan pinggulnya, “Ahh.. mmm… mm.. hhh… ahhh.. ngnggnn… hhh…”<br />
nimatnya</p>
<p>kurasakan keringat di permukaan perutku. Nikmat, anganku semakin melayang. ******* hina! Kulepaskan genggamanku pada batang kemaluanku, mengeleng-gelengkan kepalaku untuk memperoleh sedikit kesadaran.</p>
<p>Kuulurkan tanganku mengangkat gagang telepon yang barusan berbunyi keras sekali di pinggir kepalaku.<br />
“Halo..?” nada suaraku terdengar penuh emosi.<br />
“Ray? Kamu tidur..? Sori deh…” nada suara ketakutan terdengar dari seberang.<br />
“Ah.. nggak apa-apa. It’s okay,” emosiku sedikit mereda.<br />
“Kamu ada masalah apalagi dengan Enni?”<br />
“Biasa, sifat kekanak-kanakannya belum mau hilang.”<br />
“Ya sudahlah, tadi dia nangis telpon aku…”<br />
“Lalu? Kamu mau menyuruhku minta maaf ya?”<br />
“Bukan gitu, Ray…”<br />
“Ya sudah deh, aku ngantuk.”</p>
<p>Kuletakkan gagang telepon tanpa menunggu sahutan suara di seberang. Kembali menelentangkan tubuhku, menggenggam batang kemaluanku. Hup. Ah, ya. Kuangkat lagi gagang telpon, menekan beberapa nomor.<br />
“Nia? sori aku sedikit emosi.”<br />
“Hmmm… iya deh, tapi jangan berantem terus.”<br />
Pikiranku sedikit melayang. Obat sialan.<br />
“Nia, jalan yuk.”<br />
“Ha? Mau kemana?”<br />
“Curhat saja, aku pingin refreshing,” sahutku sok sedih.<br />
“Iya deh, jangan pulang malam-malam okay.”<br />
“Yop.”</p>
<p>Kuletakkan gagang telpon ketempatnya semula, mengambil celanaku dan berpakaian.<br />
“Ma… aku pakai mobil,” teriakku.<br />
“Mau kemana Ray? Nanti Papa pulang loh…” mama berteriak dari dalam kamar.<br />
“Bentar saja..” sahutku, dan langsung mengambil kunci mobil dan tanpa menunggu seruan mamaku, aku membawa mobil papa keluar rumah.</p>
<p>Di jalan kutenggak teh pahit yang selalu kubawa di saku jaketku. Ah, lumayan segar. Kutaruh kembali botol Vicks 44 itu ke dalam saku jaketku, dan memacu gas mobil menuju ke rumah Nia.</p>
<p>—————————————————</p>
<p>Kugerayangi buah dadanya, menciumi puting susu-nya, melumat bibirnya, meraba selangkangannya, “Ahh… uh… oh…. hkkk… jangan gitu dong, Ray. Kamu harus lebih pengertian.” Kubanting stir ke kiri, memasuki jalan menuju ke luar kota yang ditumbuhi pepohonan, jalan itu terlihat sepi dan gelap.<br />
“Bagaimana bisa pengertian kalau sifatnya seperti itu terus?”<br />
“Yaahh… bagaimana yah?” Nia terlihat bingung, matanya menatap jendela, melihat pepohonan yang seakan berlari.<br />
“Memang anaknya seperti itu, Ray?” lanjutnya.<br />
Saatnya, pikirku. Kubanting stir melewati kali kecil di bahu jalan, itu bukan masalah untuk Taft GT milik papaku.</p>
<p>—————————————————</p>
<p>Kurasakan Rena mengelus rambutku. Aku menangis semakin keras, mengerang dan terisak, sesekali menguap dengan gerakan sesamar mungkin, sekedar memastikan air mataku tetap keluar.<br />
“Aku sedih…” isakku.<br />
Yah, sedih sekali, sampai menempelkan kepalaku di pahanya.<br />
“Ya, begitulah namanya orang pacaran, kan nggak harus senang terus…” kudengar bisikannya.</p>
<p>“Kamu baik…” kataku lirih nyaris tak terdengar.<br />
Nia mencondongkan kepalanya.<br />
“Apa..?”<br />
Susu-nya itu loh, menempel di ubun-ubunku, seandainya aku bisa berkata begitu saat itu. Namun, aku lebih memilih untuk memutar tubuhku, mengangkat punggungku sekuat tenaga sehingga dapat menyentuh bibirnya dengan bibirku. “Hhhh… Ray…” Peduli amat, lagi enak, nih.<br />
“Aku butuhhh.. mmm…” kukulum bibirnya.<br />
“Sayanghhh…” Nia membalas ciumanku.</p>
<p>Matanya terpejam. Kuangkat sisi tubuhku, memeluk belakang lehernya dengan telapak tanganku. Plakk! Tamparan itu telak mengenai pipiku, membuat pengaruh obat di kepalaku sejenak berkurang. “Nia… maaf…” Aku beringsut ke bangkuku sendiri, menutup mukaku dan menangis seperti seorang anak kecil. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura seperti itu. “Ray… aku juga minta maaf…” Akhirnya siasat ini memang tak pernah gagal.</p>
<p>Nia diam saja saat aku membalikkan tubuhku dan mengecup bibirnya. “Ah.. mmm…” kudengar Nia mengeluh dan kulihat matanya terpejam, meninggalkan garis kepasrahan saat kugenggam susu-nya dengan telapak tanganku. Sip, pikiranku mulai bergerak cepat dalam kondisi setengah sadar. Kutempelkan telapak tangaku ke belakang lehernya, menekan kepalanya supaya aku bisa melumat bibirnya lebih dalam. “Hhhh… Nia…” kuremas dadanya di genggamanku, menikmati kekenyalannya. Nia diam saja saat kumasukkan tangaku ke dalam bajunya. “Ray…” Entah setan mana yang menyetir otakku saat itu, kuremas buah dadanya yang empuk, mengulum bibirnya dengan penuh nafsu, membuatnya terengah-engah menahan tekanan kepalaku.</p>
<p>Nia menurut saat. Kugandeng lengannya menuju jok belakang. Kukulum lagi bibirnya, sekarang tanganku mengangkat bagian bawah bajunya. “Ray.. hh…” Kuangkat bajunya melewati kepalanya, menciumi dadanya, menjilati BH yang menutupi payudaranya, memegang ketiaknya, mendorong punggungnya terangkat, sehingga bisa kutekan kepalaku di dadanya. “Ahh… mmhh… ah… nikmatnya…</p>
<p>” Nia mengeluh kecil saat kulepas kaitan BH-nya. Kulihat payudaranya yang membusung dan putingnya yang terlihat menggoda. Kuhisap putingnya, menyaksikan pori-porinya yang membuka saat kujilati kulit dadanya. “Ray.. hhh…” kubekap mulutnya dengan bibirku, nafasku mulai terengah-engah oleh nafsuku sendiri. Kubuka baju atasku, menempelkan dadaku ke payudaranya, menekan dan menggesek, menikmati semua keluhan dan rintihannya yang tertahan ketika bibirku mengulum bibirnya.</p>
<p>Ah… kenikmatan ini, kenikmatan yang selalu kuinginkan saat hatiku gundah. Kepalaku terasa sangat ringan. Kubaringkan dia di jok belakang, sambil terus menekan dadaku, memastikan dia tidak banyak bergerak. “Ray… jangan, Ray…” Ahh, betapa aku merindukan setiap gadis yang merintih seperti itu di dekapanku. Kuteruskan membuka celana pendeknya, membiarkan pahanya terlihat jelas. Ahhh, kuelus dan kuraba pahanya tanpa memperdulikan tatapan matanya yang setengah terbuka, menatap protes atas perlakuanku kepadanya. Jadi, sebelum tangannya menyingkirkan tubuhku, kuciumi lagi wajahnya, meremas payudaranya, membuatnya mengerang dan melenguh.</p>
<p>“Ahhh… mmmhh… nnggggh…” kunikmati gerakan tulang punggungnya yang terangkat. Ahh, nikmatnya. Kuraba betisnya, menelusuri kulit pahanya yang mulus, dan meletakkan telapak tanganku di permukaan belahan pahanya, beristirahat sejenak, menikmati genggamannya di pergelangan tangaku yang menguat. “Ya Tuhan… ahh…..” Sayang, jangan mendesahkan nama Tuhan sekarang, paling tidak jangan saat ini. Kuraba celah kemaluannya yang mulai basah dari balik celana dalamnya.</p>
<p>Menggerak-gerakkan jariku, membuatnya semakin meronta dalam tindihan dadaku. “Ray… oohhh… hhh…” Dengan gerakan halus kutarik celana dalamnya menelusuri pahanya, betisnya, menikmati geliatnya di tindihanku. Ahh… betapa indahnya kenyataan yang akan kuberikan padamu, gadisku. Kukecup bibirnya dengan lembut, sebelum membuka ikat pinggangku dan menurunkan celanaku berikut celana dalam yang menutupi auratku.</p>
<p>Nia memandang mataku dengan wajah memelas memohon pengertian, namun pengertian apakah yang bisa kuberikan kepadanya saat itu? Nyaris tidak ada. Kugenggam pergelangan tangannya, menuntunnya ke batang kemaluanku yang mulai tegang tak karuan. “Aaahhh…” kurasakan nikmatnya saat tangannya menempel dan menggenggam batang kemaluanku.</p>
<p>“Ray, aku tidak mau begini.”<br />
“Nia, please…” kukecup bibirnya, sama sekali tidak merasakan penolakannya.<br />
“Ray…” mendadak (seperti wanita pada umumnya) Nia menekan bahuku menjauh.</p>
<p>“Oke,” katanya.<br />
“Aku sebenarnya juga mau.”<br />
Wah, ini luar biasa, pikirku.<br />
“Tapi ada syaratnya…”<br />
Sial!<br />
“Kamu harus mau menjadi pacarku.”<br />
Aih, jadi ini masalahnya. Dapat kubayangkan hubungan persahabatan kompetitif antara Enni dan Nia, ahh… begitu bodohkah aku?<br />
“Okay… as you wish… my lady.”</p>
<p>Ternyata begitu, hmm… mungkinkah Nia merasa iri atas keberhasilan Enni mendapatkanku? Sempat terpikir olehku tentang apa saja yang telah diceritakan Enni kepadanya mengenai hubungan kami. Tapi… mendadak Nia menekan leherku dengan tangannya, mengecup bibirku dengan penuh nafsu. “Ah? Mmm…” Dalam keterkejutanku, aku nyaris tidak percaya semua ini. Nia mendadak menggerak-gerakkan genggamannya pada batang kemaluanku. “Ahh… ah… ah… kk…” tak dapat kutahan nikmat yang menjalar di seluruh pembuluh darahku.</p>
<p>Kuciumi seluruh wajahnya, menjilat bibirnya yang terbuka dan terengah, menggigit lehernya, menghisap puting susu-nya dan tanpa basa-basi kuangkat tubuhku, menaikkan pahanya ke samping, dan menempelkan ujung kemaluanku di permukan liang kemaluannya. Kulihat pandangan matanya yang sayu, melihat anggukan kecilnya. Apakah ini saatnya perjalananku berhenti? Membayangkan memiliki seorang kekasih yang tak dapat kulepas lagi? Masa bodoh.</p>
<p>“Ahh…” kudengar ia menjerit kecil saat kutekan-tekan ujung kemaluanku ke liang kemaluannya. Namun aku masih sangat muda dan miskin pengalaman saat itu, bahkan dengan keseringanku menonton film blue aku masih tidak dapat melakukannya. Aku menjadi bingung, keringatku keluar dari dahi dan sekujur tubuhku. “Ahh… ah… ah… Ray… ah…” kudengar erangannya saat pinggulku bergerak-gerak di atasnya. Shit! bagaimana melakukannya dengan benar? Saat itu aku menjadi panik.</p>
<p>“Nggak mau masuk, nih…” kataku dengan alis berkerut.<br />
“Ahhh… hidupin… lampunya…” Nia berkata setengah tertahan.<br />
Hah? Lampu, sempat aku celingukan seperti orang bingung menatap sekelilingku. Gila apa ya? Dalam kebingunganku, pinggul Nia terangkat menekan batang kemaluanku, membuatku sedikit mengerang.<br />
“Ngga ah… kamu aja yang naruh,” ujarku.<br />
“Hhhh…” Nia memegang batang kemaluanku dan menaruhnya di… entah bagian mana dari kemaluannya. Aku berusaha menekan lagi,<br />
“Ahhkkk…”<br />
Kami mengerang bersamaan, kutekan-tekan batang kemaluanku, tanganku menggapai susunya dan meremas-remas, membuat kepalanya terangkat ke belakang.</p>
<p>Keringat di tubuhku semakin deras karena kurangnya ventilasi di dalam mobil, dan karena segala gerakan yang kulakukan. “Ahh.. ahh… ah…” Nia masih mengerang-erang di bawahku. Kutekan terus batang kemaluanku berusaha menembus “apapun” juga yang menghalangi pergerakannya saat itu. Aku mulai jenuh menekan-nekan tanpa hasil. Nia mengangkat kepalanya dan memandang ke bawah. “Duh.. gimana sih… sakit nih..” Ya gimana dong? pikirku saat itu. Kuakui aku masih buta melakukan hubungan seksual, kalau peting sih sering. “Terus..” tanyaku. Nia bangkit, mendudukkan dirinya, dan menarik pundakku.</p>
<p>“Coba kalau begini.”<br />
“Ahhhkk…”<br />
Kurasakan bibirnya yang menempel di dadaku.<br />
“Ahh.. ah…”<br />
Nia mengeluh saat tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menaruhnya di entah bagian mana dari kemaluannya dan mendudukinya.</p>
<p>“Aacchhh…” batang kemaluanku terasa sakit. Nia menarik punggungnya ke belakang, meletakkan tangan kanannya di atas sandaran kepala bangku depan, dan menggoyang-goyang pinggulnya yang menduduki batang kemaluanku. “Ahh.. ah… ah…” aku mulai merasakan kenikmatan yang ditimbulkan oleh goyangannya di sekujur tubuhku.<br />
“Ahkkk…”<br />
Tanganku mencengkeram pahanya, berusaha menahan spermaku yang hampir keluar.<br />
“Arrggghhh…”<br />
Kusentakkan pinggulku ke atas, membuat tubuh Nia terangkat sejenak, spermaku menyembur entah kemana. Membuat mataku rabun dan pikiranku yang sudah terkontaminasi o”&#8221;” melayang.</p>
<p>Nia menggerak-gerakkan pinggulnya lagi.<br />
“Ahhh.. ahh…” kudengar nafasnya mendengus.<br />
“Nia… udah dong…” kataku.<br />
Selalu begini, begitu sudah keluar, langsung saja keinginan itu hilang lenyap.<br />
“Ha? Kan belum masuk?” kudengar Nia berbisik protes.<br />
Kuangkat tubuhku, menatap kemaluanku yang mulai agak lemas.<br />
“Masa?” tanyaku.<br />
“Iya, kayaknya belum deh…” Nia menimpali.<br />
Akh, hahahahahahaha…<br />
“Untunglah…” kataku tanpa memperdulikan bibirnya yang terlipat.<br />
“Ray… duh…”</p>
<p>Kukenakan baju dan celanaku, melihatnya masih duduk di pojok kursi belakang tanpa pakaian dan menyilangkan tangannya di dada.<br />
“Nih….” ujarku saat mengecup bibirnya dan dadanya.<br />
Kuremas lubang kemaluanya sambil tertawa. Akhirnya Nia tertawa mengiringiku, dan mengenakan baju dan celananya kembali. Anehnya, pengaruh o**t itu mulai terasa agak ringan sekarang.</p>
<p>Kuantar ia pulang ke rumahnya. Sampainya di depan pagar, kesadaranku mendadak sedikit pulih.<br />
“Nia… umm… kita…”<br />
Nia membalikkan tubuhnya,<br />
“Aku tahu kok… nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.</p>
<p>“Thanks…”<br />
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya.<br />
Ah… what a night.</p>
<p>Kukendarai mobilku menembus gelap malam. Mendadak saat itu aku ingin menelepon Enni dan meminta maaf.</p>
<p>—————————————</p>
<p>“Ray..?” “Ah, sorrie…” sahutku cepat.<br />
“Eh… Nia.. mm… gini…” Nia tertawa melihat kegugupanku.<br />
“Jalan yuk.”<br />
“Hah… sure…” aku tergagap-gagap.<br />
Selalu saja anak ini tahu maksudku. Hehehehehe!</p>
<p>Dalam perjalanan, Nia lalu bercerita bagaimana semenjak lulus SMU ia selalu berusaha melupakanku dan menolak setiap lelaki yang berusaha mendekatinya. Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. Aku sangat terharu, karena aku juga tahu betapa ia menyayangiku, namun karena persahabatan adalah yang terpenting baginya, ia rela menyerahkan kemenangan itu kepada Enni.</p>
<p>Ah, Nia… seandainya saja… Nia lalu bercerita bagaimana Mas Dita (begitu dia menyebutnya) berhasil meluluhkan gunung es dalam hatinya, dan mengajaknya bertunangan kira-kira dua bulan yang lalu. Sampai di sini aku terdiam, memandangnya tanpa berkedip, lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak, antara sedih, kerinduan, dan kasih sayang tulus seorang teman sejati.</p>
<p>Masih kuingat, sebelum kuturunkan kembali ia di Gramedia (karena Dita akan menjemputnya seperempat jam lagi), Nia sempat mencium pipiku dan meremas kemaluanku dari balik celanaku, tersenyum memandangku dan berkata, “Ray, kita akan bersahabat selamanya…” aku hanya bisa tersenyum saat itu, semua gejolak nafsuku hilang berganti perasaan menyesal, sayang, dan haru yang berkecamuk di hatiku. “Tentu… Nia…” jawabku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/cinta-tak-harus-miliki-kamu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>penjelajah tengah malam</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/penjelajah-tengah-malam.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/penjelajah-tengah-malam.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:06:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/penjelajah-tengah-malam.html</guid>
		<description><![CDATA[erita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu aku masih berumur 15 tahun. Dan sejak peristiwa itu, kemalangan demi kemalangan menimpaku, sungguh jelek nasibku. Kepada siapa aku berani mengadukan nasibku ini, kecuali kepada para pembaca di situs cerita online ini, mudah-mudahan ada yang mau menolongku, mengentaskan nasibku yang jelek. Namaku Nadya, adalah anak bungsu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>erita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu aku masih berumur 15 tahun. Dan sejak peristiwa itu, kemalangan demi kemalangan menimpaku, sungguh jelek nasibku. Kepada siapa aku berani mengadukan nasibku ini, kecuali kepada para pembaca di situs cerita online ini, mudah-mudahan ada yang mau menolongku, mengentaskan nasibku yang jelek. Namaku Nadya, adalah anak bungsu dari 6 bersaudara, ayahku adalah pegawai rendah pemerintahan di kota Malang, keluargaku termasuk miskin, rumah setengah batu, kondisinya sudah tua, namun letaknya di tepi jalan propinsi.</p>
<p>Di rumah, aku tinggal bersama seorang kakak laki-laki, Ayah dan Ibuku, sedang mbak-mbak dan mas-masku yang lain sudah berkeluarga. Masih ada lagi, mbak-mbak 2 orang yang membantu Ibuku, dan kadang-kadang ada seorang tukang antar beras dari desa yang menginap di rumahku kalau kemalaman.</p>
<p>Untuk menutupi biaya hidup keluarga, Ibuku terpaksa membuka warung pecel di rumah, lumayan karena untuk keperluan sehari-hari keluarga dapat ditolong dari warung ini. Biarpun baru kelas 3 SMP, tubuhku termasuk bongsor, tinggiku sekitar 150 cm, beratku 38 kg, dan buah dadaku sudah mulai besar, sebesar mangga yang sekilonya berisi dua, kulitku kuning langsat, bersih dan wajahku terbilang cantik, badanku proporsional, kata teman-temanku.</p>
<p>Orangtuaku mendidik dengan ketat dalam suasana jawa dan keagamaan yang taat, dan tabu akan hal-hal yang berbau erotis atau porno, lebih-lebih sampai melakukan hal itu sebelum menikah. Terlebih lagi di usiaku yang masih sangat muda, aku tidak pernah berani mau macam-macam dengan laki-laki yang mencoba menaksirku. Selain itu, aku kasihan dengan orang tuaku, apabila ada kejadian yang menyusahkan beliau berdua.</p>
<p>Kehidupanku berjalan biasa-biasa saja, sampai kejadian itu terjadi. Waktu itu, di tengah malam tiba-tiba aku terbangun dari tidur, aku merasa nafasku sesak, dan mataku gelap, kaki dan tanganku sakit, serta perut dan dadaku tertekan benda yang berat. Aku menjadi panik dan mencoba bersuara tetapi tidak bisa, rupanya mulutku tertutup oleh sesuatu benda, dan juga mataku, sedang benda yang menindihku itu ternyata orang. Tangan dan kaki yang sakit ini, rupanya disebabkan karena telah diikat dengan kuat, sehingga terasa sakit dan tidak dapat bergerak. Setelah sadar betul dari tidurku ini, aku menyadari ada suatu peristiwa yang menakutkan akan terjadi. Tanganku diikat di sisi atas tempat tidur, sedangkan kakiku diikat di sisi bawah sehingga kakiku menganga. Aku telentang di tempat tidur dalam posisi seperti huruf “X”. Aku merasa bahwa sebagian pakaianku sudah tidak melekat dengan benar di badanku, BH-ku tersingkap, dan celana dalamku rupanya sudah tidak ada. Ada tangan yang dengan kasar sedang meraba-raba kemaluan dan buah dadaku, terutama pada kedua puting susuku yang terasa digigit-gigit, ngilu-ngilu sakit. Dan terdengar suara napas ngos-ngosan, sambil menggigit dan menjilat-jilat sekujur badanku, buah dadaku, leherku, telingaku, dan terus turun kebawah. Aku mulai menangis, karena merasa tidak berdaya, tapi tidak bisa, berteriak pun tidak bisa, saking ngerinya, aku kemudian tidak sadarkan diri.</p>
<p>Tidak berselang lama kemudian, aku tersadar kembali, aku merasa posisi badanku belum berubah, masih saja telentang dengan kedua tangan dan kaki terikat pada sudut-sudut tempat tidur. Hanya saja sekarang semua baju yang melekat pada tubuhku telah terlepas, sehingga aku telentang dengan keadaan telanjang bulat. Aku sedih sekali, karena benar-benar tidak berdaya untuk mempertahankan kehormatanku, sebentar lagi hidupku akan hancur, setelah bajingan yang tidak kukenal dan tidak dapat kulihat itu selesai memerkosaku. Aku benar-benar sedih menyadari bahwa bagian terpenting dari hidupku sebentar lagi akan direnggut paksa oleh orang yang tak kukenal.</p>
<p>Rupanya, pada saat semua keluargaku sudah tertidur, ada orang yang masuk ke dalam rumah dan kemudian masuk ke kamarku yang kebetulan kuncinya hanya dari slot kayu yang dipakukan ke kusen pintu, sehingga cukup disentak sekali saja bisa lepas. Rupanya orang tersebut sudah cukup mengetahui situasi rumahku. Tangan dan kakiku masih terikat, dan mulut serta mataku pun masih tertutup, menurut perkiraanku pada saat itu kira-kira pukul 12-1 malam, aku ketahui dari bunyi jangkrik yang sayup-sayup kedengaran. Tiba-tiba aku merasa, badanku ada yang mengelus-elus dan menggerayangi, kedua buah dadaku terasa diremas-remas dan pada bagian putingku dipelintir-pelintir. Bagian perutku terasa dicium dan dijilat-jilat, terus menurun kebawah dan kemudian giliran kedua paha saya yang kemudian dicium-cium dan dijilat-jilat, terus kepangkal pahaku, akhirnya kemaluanku yang menjadi sasaran permainan mulut dan lidah orang tersebut. Terasa lidahnya menyapu kedua bibir kemaluanku dan sekali-sekali terasa lidahnya mencoba membelah bibir kemaluanku untuk menerobos kedalam lubang vaginaku. Pada saat berikutnya terasa klitorisku menjadi sasaran lidahnya. Aku tidak dapat berkutik, ingin kututup pahaku, tetapi kedua kakiku dipegangi dan diikat dengan kuat.<br />
Mula-mula terasa pedih, linu dan nyeri luar biasa. Lidah orang itu, menyapu bibir kemaluanku dan mencoba menerobos ke dalam liang vaginaku, sambil menggigit dan menjilati clitorisku, dan kadang-kadang lidahnya terjulur ke dalam liang vaginaku. Gigitan-gigitan kecilnya mula-mula membuatku merasa sakit, tapi lama-kelamaan muncul rasa lain yang belum pernah kurasakan seumur hidupku, geli, linu, sedikit perih tapi nikmat sehingga membuat seluruh badanku terasa panas dingin. Lama-kelamaan tanpa terasa aku menggoyang-goyangkan pantatku karena menahan rasa geli luar biasa yang ditimbulkan dari permainan mulut dan lidahnya pada bagian-bagian sensitifku itu. Dan dihisap-hisapnya pula, sehingga aku semakin bertambah tak dapat menahan rasa gelinya, dan tangan orang itu pun tidak tinggal diam, dipuntir-puntirnya puting buah dadaku, serta diremas-remasnya, sehingga menambah rasa geli sekaligus nikmat.</p>
<p>Aku sudah melupakan rasa takut dan sedih, berganti dengan rasa sangat nikmat, nikmat sekali, sulit kuutarakan rasa nikmatnya. Rupanya inilah, yang disebut dengan surga dunia. Saking tidak tahannya, aku ingin menjerit tapi tidak dapat mengeluarkan suara, hanya desahan dari hidungku, tiba-tiba aku merasakan suatu kenikmatan luar biasa yang tidak dapat kulukiskan dan aku tiba-tiba merasa hendak pipis, “…crut…, crut…, crut…, nyut…, nyut…, nyut…”, dan bagian dalam kemaluanku terasa berdenyut-denyut. Badanku menjadi kejang dan bergetar dengan hebat sampai tak terasa badanku tersentak-sentak dan terangkat-angkat di atas tempat tidur. Rupanya aku telah mencapai yang disebut orgasme. Dan pipisku itu rupanya cairan yang menyemprot dari dalam vaginaku saat orgasme. Setelah saat kenikmatan yang melandaku usai, seluruh badanku terasa lemas tak bertenaga.</p>
<p>Kemudian terasa orang itu mulai menindihku, mulutnya terasa menghisap-hisap leherku, mulutnya berbau aneh, rupanya itu adalah bau cairan yang keluar dari milikku. Tangannya meraba-raba dan meremas-remas seluruh tubuhku, terutama pada kedua bongkahan pantatku, kadang dengan halus tapi seringkali kasar, dan tiba-tiba pada pangkal pahaku, tempat dimana tadi dijilat-jilat dan di sedot-sedotnya, terasa ada benda tumpul, keras lagi besar menggesek-gesek di antara kedua pahaku yang sudah terkangkang itu. Secara otomatis aku mencoba merapatkan kedua kakiku, akan tetapi tidak bisa karena tertahan oleh ikatan pada sudut-sudut tempat tidur. Benda tumpul itu terasa mengoles-oles bibir kemaluanku dan sekali-sekali ditekan pada klitorisku. Terasa sangat geli dan ada perasaan nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhku. Tak terasa kemaluanku menjadi sangat basah dan ini rupanya disadari juga oleh orang tersebut, bahwa aku sudah sangat siap untuk permainan selanjutnya. Secara perlahan-lahan terasa benda tersebut menguak kedua bibir kemaluanku yang masih sangat rapat dan terasa benda tersebut memaksa masuk kedalam lubang vaginaku. Rupanya itu adalah penis orang itu, perasaan sakit pada kemaluanku mulai terasa, pedih, terasa penis orang tersebut yang rupanya sangat besar sulit menembus kemaluanku yang masih perawan, aku mencoba menjerit, tapi hanya terdengar lenguhan dan dengusan dari hidungku saja, karena mulutku dibekap.</p>
<p>Aku mencoba berontak, tapi tidak bisa, karena kedua tangan dan kakiku terikat, benar-benar aku merasa tidak berdaya. Dan akhirnya, aku merasa kemaluanku seakan-akan terbelah dan ulu hatiku seakan-akan disodok oleh benda tumpul, ketika orang tersebut dengan ganas dan kasar secara brutal menekan masuk dengan paksa seluruh penisnya kedalam lubang kemaluanku. Terasa besar dan panjang, memadati serta mengisi setiap sudut ruang kemaluanku, sakit dan ingin pingsan rasanya bercampur aduk dalam diriku. Penis yang besar itu terasa memadati dan terbenam, diam sejenak dalam kemaluanku. Tidak lama kemudian terasa orang itu mulai menaikturunkan pantatnya, sehingga penisnya naik turun, masuk keluar, pada kemaluanku. Mula-mula setiap penisnya bergerak masuk atau keluar dari kemaluanku, terasa sakit dan nyeri, akan tetapi lama kelamaan, rasa perih hilang dan berganti dengan rasa nikmat, perasaan nikmat yang sukar kulukiskan, semakin lama perasaan nikmat itu mulai menjalar ke seluruh tubuhku, sehingga aku merasa seakan melayang-layang. Badanku dengan tidak sadar mulai meresponsnya dengan ikut bergoyang-goyang, dan tiba-tiba badanku bergetar lagi dengan hebat dan bagian dalam kemaluanku kembali berdenyut-denyut dengan hebat, aku mengalami orgasme lagi dan bahkan lebih hebat daripada sebelumnya. Dan rupanya, orang itu masih tetap kuat dan naik turun, terus-menerus, beberapa saat kemudian, aku mengalami orgasme lagi, lagi dan lagi, dan dia masih naik turun terus dengan stabil tanpa ada tanda-tanda akan berhenti, aku keluar terus menerus lagi dan lagi. Sampai seluruh badanku terasa lemas tidak bertenaga.</p>
<p>Aku sekarang benar-benar terkapar tidak berdaya, dengan kedua kaki yang terpentang diperkosa oleh orang tersebut sesuka hatinya. Dan orang itu, suatu saat mempercepat gerakannya, dan tiba-tiba dia merangkulku kuat-kuat, serta menciumi serta menghisap leherku kuat-kuat, dan terasa penisnya berdenyut-denyut, kemudian terasa cairan hangat kental menyembur dengan derasnya membasahi rongga-rongga lubang kewanitaanku. Dan karena tekanan badannya yang kuat serta denyutan-denyutan yang kurasakan dari penisnya, sehingga membuatku kemblai mengalami orgasme yang ke sekian kalinya secara bersamaan dengan orang tersebut. Badanku bergetar dan akupun merasakan denyutan-denyutan juga, nikmat sekali. Badan orang tersebut terkulai menelungkup di atas badan saya dengan penisnya yang masih terbenam di dalam liang kewanitaanku.</p>
<p>Setelah beristirahat sebentar terasa penis orang tersebut yang masih terbenam dalam kemaluanku mengeras kembali. Dan malam itu rupanya permainan belum usai, dengan semangat menggebu-gebu orang itu mengulangi lagi permainannya, demikian diulanginya sampai tiga kali lagi pada malam itu. Aku sungguh merasa lelah dan lemas sekali, seluruh tulang-tulangku seakan-akan terasa dilolosi, tapi di sisi lain aku merasakan kenikmatan yang teramat sangat luar biasa. Sungguh ini suatu pengalaman pertama yang sulit kulupakan dan bahkan sampai kini pun aku tidak tahu, siapa pelaku sebenarnya. Barang-barang di rumahku tidak ada yang hilang satupun, jadi tentu saja dia bukan pencuri. Baru pada saat menjelang pagi, orang itu keluar dari kamar, dimana sebelumnya satu tali di tanganku dilepaskan simpulnya. Dan setelah orang itu pergi, aku buka talinya, tangan satunya aku lepaskan, rupanya mata dan mulutku diplester, pakai plester putih. Dan kakiku pun sudah kulepaskan. Kulihat, ada bekas-bekas warna merah di sepreiku yang putih warnanya dan badanku pun juga terlihat merah-merah, bekas gigitan dan sedotannya. Celana dalamku, teronggok sobek di lantai, demikian juga baju dan BH-ku.</p>
<p>Aku merasa sedih sekali mengingat aku telah kehilangan milikku yang paling berharga, tapi di lain pihak ada perasaan puas yang melanda diriku dikarenakan perasaan nikmat yang baru saja kuperoleh. Aku tidak berani menceritakan hal itu ke orang tuaku ataupun kepada saudaraku karena malu dan takut. Aku hanya memendam kejadian ini seorang diri saja. Kejadian ini, masih terulang lagi berkali-kali, sampai aku tamat dari SMA dan herannya aku tidak hamil, entah diapakan oleh orang ini. Aku sudah tidak lagi merasa takut apabila kamarku dimasuki kembali oleh orang tersebut, bahkan aku ada semacam perasaan rindu dan kehilangan jika orang tersebut baru datang agak lama. Aku hanya dapat menduga bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh tukang antar beras dari desa yang memang sering bermalam di rumahku, tapi setiap aku bertemu dengannya, dia bersikap biasa saja, seolah tidak ada pernah ada kejadian apapun. Aku sebenarnya ingin meminta pertanggungjawabannya, tetapi malu, jangan-jangan bukan dia, karena sebenarnya aku tidak memiliki bukti apapun.</p>
<p>Setelah tamat SMA, aku dilamar oleh seorang pemuda, dia bersedia menikahiku karena menurutnya dia sangat mencintaiku dan di matanya, aku adalah anak gadis yang lugu, sopan, alim dan tidak pernah macam-macam. Namun apa yang sebenarnya telah terjadi, sungguh membuatku sedih. Pemuda ini, pada malam pertama kami, mendapatiku sudah tidak perawan lagi, dan dia menuduhku sudah berpengalaman. Aku menyadari tuduhannya betul, jadi aku diam saja dan tidak menjawab. Dia bertambah marah, sehingga sering dia pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Dalam keadaan setengah sadar itu, dia bahkan sudah mulai berani memukulku. Aku sadar, memang pada awalnya akulah yang bersalah, mengapa dulu aku tidak berterus terang saja pada pemuda yang sekarang telah menjadi suamiku ini. Lama-kelamaan aku tidak tahan lagi karena aku sering disakitinya, sehingga aku pulang ke orangtuaku dan menceritakan tentang tabiat suamiku ini serta latar belakang perlakuannya padaku. Ibuku menyesali nasibku yang jelek, dan menyarankan untuk mencari jalan tengah yang terbaik. Tapi aku sudah telanjur takut terhadap suamiku karena dia sudah sangat sering menyakitiku. Dan akhirnya dengan terpaksa aku menggugatnya cerai…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/penjelajah-tengah-malam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pinjaman lunak</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pinjaman-lunak.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pinjaman-lunak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 10:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/pinjaman-lunak.html</guid>
		<description><![CDATA[Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda yang mengisyaratkan munculnya bencana ekonomi seperti belakangan ini, sehingga semua urusan banking terasa smooth saja. Banker yang mengurusi pinjamanku ialah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengalamanku ini terjadi pada tahun 1996 akhir, ketika aku sedang memulai usahaku di kota S. Aku baru saja menyelesaikan urusan pinjaman modalku pada sebuah bank swasta di kota ini. Pada masa itu belum ada tanda-tanda yang mengisyaratkan munculnya bencana ekonomi seperti belakangan ini, sehingga semua urusan banking terasa smooth saja.</p>
<p>Banker yang mengurusi pinjamanku ialah seorang mantan kawan SMA-ku dulu. Sebut saja namanya Nana. Ia baru beberapa bulan bekerja di bank tersebut setelah menyelesaikan studinya di Amerika. Semasa SMA, Nana ialah seorang yang menurutku termasuk golongan nerd. Berkaca mata, duduk di barisan depan, rajin bertanya, dan catatannya selalu laris difotokopi ketika menjelang musim ujian. Sedangkan aku sendiri termasuk golongan urakan, yang selalu mendapat nilai pas-pasan, kecuali untuk pelajaran olah raga. Harus kuakui, Nana tidak banyak berubah. Ia tetap saja nampak kuper dibalik kaca mata minus 3 itu. Untung saja pakaian kerja yang dikenakannya membuatnya nampak lebih ‘terbuka’. Aku ingat, ketika itu ia mengenakan blazer warna biru pastel, dan kemeja kuning muda. Ia juga mengenakan rok mini berwarna biru tua, dan sepatu berhak tinggi, sehingga tingginya yang hanya sekitar 165-an itu terlihat hampir menyamai tinggi badanku.</p>
<p>Setelah usai menandatangani tumpukan kontrak dan perjanjian, aku memutuskan untuk mengajaknya makan siang, bukan lagi sebagai kreditor, tapi sebagai seorang kawan lama. Nana setuju saja, mengingat bahwa pinjamanku waktu itu membuatnya memenuhi target bulanannya.</p>
<p>Kami meluncur menuju sebuah hotel yang cukup terkenal di kota S, karena satu gedung dengan pusat perbelanjaan TP3. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk memesan menu ala carte, karena harga menu buffet tentunya tidak terlalu ekonomis. Selama makan, Nana tampak diam saja, seperti biasanya. Aku mencoba mengamati wajahnya yang manis itu. Kulihat alisnya yang tipis, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, dan lehernya. Leher yang sangat indah, jenjang dan halus. Ketika aku melihat agak ke bawah lagi, kulihat kancing kemejanya yang paling atas tidak dikancingkan sehingga aku dapat berimajinasi bagaimana bentuk bagian tubuhnya yang berada di balik kemeja itu. Selagi asyik-asyiknya menikmati keindahan itu, rupanya Nana mengamatiku dari tadi.<br />
Ia menyunggingkan senyum, mengambil serbet, mengelap bibirnya, dan berkata, “Jen, kamu masih seperti yang aku dengar dulu?”.<br />
“Hmm…, Tergantung apa yang kamu pernah dengar dulu”, Jawabku agak kikuk.<br />
“Pacaran dengan sesama jenis”, Jawabnya lugas. Membuat mataku sedikit terbelalak kaget dan menatap matanya yang bundar lucu itu.<br />
“Yah…, Kalau gosip yang kamu dengar cukup lengkap, seharusnya kamu nggak perlu nanya ‘kan?”, Jawabku mencoba diplomatis.<br />
“Cukup lengkap untuk bisa blackmail kamu”, Katanya.<br />
“Haha, just kidding!”, ujarnya lagi agar aku tidak tersinggung. Aku hanya tersenyum saja dan pura-pura berkonsentrasi pada makan siangku.<br />
“Bersyukurlah kamu bisa hidup normal”, Kataku mencoba bergaya bijak.<br />
“Hihihi…, Udahlah Jen, kreditnya udah di-approved ‘kan?”, katanya lagi”,Nggak ada yang perlu ditakutin…, kecuali kalau bayarnya nunggak!”, Candanya.</p>
<p>Kami terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian aku merasakan sesuatu di betisku. Meja makan kami tergolong kecil, hingga posisi duduk kami cukup dekat, dan kaki kami bisa bersentuhan. Namun kali ini sentuhan itu seperti bukannya tak sengaja. Aku merasakan sentuhan jari kakinya mengusap betisku pelan-pelan, merambat naik ke lututku, bergerak menyusup masuk ke rok miniku, dan bergerak mengusap-usap paha kiriku bagian dalam.</p>
<p>Aku menatap matanya dalam-dalam sambil tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi dia balik memandang wajahku, tersenyum, dilepaskannya gagang sendoknya, lalu tangannya menyentuh lehernya sendiri dengan ujung jari tengah. Seperti orang tolol, pandanganku mengikuti kemana larinya jari-jari lentik itu. Jemarinya bergerak pelan-pelan ke bawah, menyusuri lehernya, turun terus, lalu berhenti ketika tersangkut di kancing kemeja kuningnya. Pada saat itu juga jari kakinya yang sejak tadi diam di antara kedua pahaku disodokannya ke depan, menyenggol kewanitaanku, memang tidak tepat pada bibirnya, namun cukup memberiku sengatan birahi yang mendadak.<br />
“Hkk…”, Aku merintih tertahan, memejamkan mataku untuk mengontrol perasaanku. Ketika mataku terbuka, nampak Nana tersenyum padaku, menunjukkan sebaris gigi yang bersih dan indah. Senyuman itu membuatku makin kikuk. Meskipun masa laluku kulewatkan dengan ‘bebas’, namun penampilan Nana yang anggun membuatku tidak mikir macam-macam padanya…, tapi setelah apa yang dilakukannya ini…, aku tidak tahu lagi. Akhirnya, setelah membisu cukup lama, aku melambaikan tangan pada waiter, dan membayar makan siang.<br />
“Jenn”, Katanya sambil meletakkan tangannya di bahuku. “Aku punya membership di hotel ini, dan aku rasa aku perlu istirahat sedikit. Kamu mau menemaniku kan?”, Tanyanya dengan kalimat yang lugu namun sudah dapat ditebak artinya. Mengingat hubungan bisnisku dengan banknya, aku memutuskan untuk menurut.<br />
Sebagai wanita, agak sulit bagiku untuk bercumbu rayu begitu saja dengan orang yang cukup asing. Hal itulah yang membuatku bengong saja meskipun kini aku sudah duduk di sofa dalam kamar executive hotel, sementara Nana berdiri di hadapanku dan melepas blazernya dengan gaya yang dibuat-buat agar merangsang. Melihatku tidak berespon, Nana melanjutkan permainannya, ia melepaskan satu persatu kancing kemejanya, lalu menyingkapkan kemejanya sehingga bahu kanannya yang halus dan putih bersih itu terlihat olehku.</p>
<p>Tali bra berwarna putih berenda tampak menghiasi bahu yang indah itu. Aku cukup mengagumi keindahan tubuhnya, namun aku masih segan untuk bereaksi, aku malu karena Nana pernah menjadi orang yang cukup aku hormati. Dilemparkannya kemejanya ke atas ranjang, menyusul bra dan celana dalamnya. Aku hanya diam menatap tubuhnya yang kini hanya terbalut rok mini biru tua itu. Payudaranya nampak indah sekali bentuknya, bulat, tidak terlalu besar namun kencang, putih bersih, dan putingnya kecil sekali berwarna coklat muda. Ia melangkahkan kakinya mendekati tempatku duduk.<br />
“Jenn”, bisiknya, “Aku mendengar semua gosip tentang kamu. Tentang anak-anak basket yang lesbi, dan tentang apa yang kamu lakukan dengan guru geografi di perpustakaan waktu itu. In fact, hampir semua orang membicarakannya, namun nggak ada yang berani terang-terangan menuduh”, Sambungnya lagi.</p>
<p>Aku tetap diam, menundukkan kepalaku dengan rasa tidak enak.<br />
“Aku iri dengan Reni dan Evelin yang bisa setiap saat mandi bersama kamu, tidur bareng di rumah kost, melihat kamu dengan kaos basah di ruang ganti..”,bisiknya lagi, seolah menelanjangi masa laluku yang hendak aku lupakan. Aku tetap tertunduk ketika tiba-tiba Nana meraih kepalaku dan mendongakkannya. Karena posisiku duduk dan dia berdiri, maka mataku langsung berhadapan dengan sepasang payudaranya yang indah itu, dengan puting-puting yang masih flat, menunggu untuk dibangunkan. Aku tetap terdiam, meski jari-jari Nana menyusupi rambutku yang lurus dan pendek, mengusap pipi dan rahangku, mengelus tengkukku lalu aku mendengar suaranya lagi.<br />
“Jenn, please…”, Katanya, aku melirik ke atas, menatap matanya. Kaca matanya tak mampu menyembunyikan sorot memelas dari kedua mata bulatnya.</p>
<p>Tanganku memeluk pinggulnya menariknya mendekat. Aku segera mendaratkan bibirku tepat pada puting susu kanannya, menghisap, melingkarinya dengan lidahku, terus-menerus. Aku merasakan cengkeramannya pada kepalaku menguat, aku mendengar desahan nafasnya kian tak teratur, Aku melirik ke wajahnya, aku melihat alisnya menyatu, matanya terpejam, mulutnya ternganga mengeluarkan desahan nafas tak beraturan. Aku ikut kehilangan kontrol, wajahnya begitu membangkitkan hasratku, aku segera memindahkan mulutku ke puting susu kirinya, meremas payudaranya sambil mengulum putingnya, ekspresi wajahnya menunjukkan perasaan kegelian yang amat sangat, tubuhnya menggeliat-geliat kecil, kakinya tampak goyah, tak lama kemudian ia jadi lunglai seperti selembar handuk, rebah di atas karpet tebal kamar itu. Cukup lama aku memainkan kedua payudaranya dengan mulut dan tanganku sementara tangannya sendiri telah masuk ke balik rok mininya.</p>
<p>Tiba-tiba ia mendorongku hingga kini aku berada di bawah tubuhnya. Wajahnya nampak begitu dekat dengan wajahku, ia mendaratkan ciumannya di bibirku, menghisapnya kuat-kuat, sambil tangannya membuka kancing-kancing blazer dan kemejaku. Aku tidak mengerti kenapa aku hanya diam, namun kini aku merasakan tangannya telah menerobos bra Marks &#038; Spencer-ku. Dilepaskannya bibirnya dari bibirku, ia menjilati dan menciumi seluruh rahang dan leherku, memberiku rasa hangat yang nikmat. Ditariknya braku ke atas hingga ia dapat melihat payudaraku. Ia tampak begitu bernafsu memandanginya diremas-remasnya kedua payudaraku dengan gemas sampai terasa agak sakit. Tiba-tiba mulutnya menyerbu puting susuku yang kiri, melumatnya, menghisap, dan menjilatinya. Rangsangan yang tiba-tiba membuatku terpejam dan meringis menahan rasa geli yang tiba-tiba menyerbu. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, aku merasakan gerakan lidahnya semakin menjadi-jadi. Kedua puting susuku dijilati dan dihisapnya bergantian, rasanya geli sekali, tanganku mencoba mencengkeram pinggangnya, namun rasa geli pada puting-putingku terasa membuatku lemas dan aku merasakan sesuatu telah meleleh keluar dari kewanitaanku.</p>
<p>Ditariknya celana dalamku hingga lepas, disingkapkannya rok miniku ke atas, kakiku dikangkangkannya, lalu ia menempelkan kewanitaannya pada kewanitaanku, digosoknya naik turun, aku merasakan hangat dan nikmat yang tak tertahankan, aku merintih dan mengerang keras-keras tak peduli siapa yang akan mendengar. Aku terbaring telentang di atas karpet cokelat muda itu, aku melihatnya seperti menduduki selangkanganku, membuat kewanitaan kami saling bergesekan, tangannya berpegangan pada payudaraku, ibu jari dan telunjukknya memilin-milin keras puting susuku. Ia menggeliat-geliat sambil menaik-turunkan badannya, mendongakkan kepalanya ke atas, hingga aku dapat melihat keindahan rahangnya yang luar biasa.<br />
Aku sendiri menggeliat-geliat mencoba menahan gempuran rasa geli dan nikmat yang mengalir membanjiri tubuhku lewat payudara dan kewanitaanku.<br />
“Aduhh, Nanaa…, ohh…”, Aku seolah mendengar sendiri eranganku yang tak beraturan.<br />
“Uhh…, Jennii…, nikmat sekalii”, Ia merintih-rintih tak karuan, nafasnya makin memburu, gesekan kewanitaan kami semakin terasa hangat dan lembap, pelintiran dan remasannya membuat payudaraku serasa pegal meskipun kegelian. Aku terengah-engah kegelian, punggungku terangkat dari karpet, melengkung seperti busur panah. Kenikmatan yang kudapatkan serasa merajam tubuhku, putingku terasa pegal dan geli karena diplintir-plintir dari tadi, sementara kewanitaanku terasa berdenyut-denyut, rintihanku semakin tak karuan, birahiku kian memuncak. Hingga akhirnya aku merasakan desakan dari dalam tubuhku menuju kewanitaanku, tubuhku terasa kejang dan kaku, aku berusaha menahan meski sia-sia, kewanitaanku terasa tak mampu membendungnya, hingga akhirnya hentakan orgasme menghantam tubuhku. Aku menjerit keras-keras, mencengkeram pinggang Nana, di tengah serbuan kenikmatan itu, aku sempat melihat badan Nana juga mengejang, gerakannya berhenti, namun aku tak dapat mengingatknya lagi, karena aku langsung mencapai puncak. Cairan kami saling bercampur diantara kewanitaan kami, Nana roboh dan terbaring disampingku, sementara aku sendiri merasa kehilangan seperempat kesadaranku karena orgasme yang lumayan dahsyat itu.</p>
<p>Kami tergeletak berdampingan, dengan tubuh basah oleh keringat, kaki terasa pegal, dan nafas terengah-engah, serta mata terkatup rapat.<br />
Aku melirik tubuh Nana yang telanjang di sampingku, tengah memejamkan mata dan terkulai lemah. Aku sendiri tak kalah lelahnya, tubuhku masih dibalut business suit, namun sudah tersingkap di mana-mana, hingga payudaraku bisa merasakan dinginnya hawa AC ruangan, namun kenikmatan orgasme tadi segera mengantarku ke alam bawah sadar, semua gelap lagi… Hanya kenikmatan dan kehangatan yang kurasakan mengalir dalam darahku.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pinjaman-lunak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>di tepi sungai itu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis. Setelah semuanya selesai, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis. Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Robby, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.</p>
<p>Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Robby dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.</p>
<p>Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat menggairahkan.</p>
<p>Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Robby. Aku hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.</p>
<p>Robby memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.</p>
<p>Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Robby dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.</p>
<p>Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Wulan sambil tangannya terus membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali. Rupanya Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.</p>
<p>Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.</p>
<p>Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara aku melihat Robby semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Wulan yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.</p>
<p>Tiba-tiba aku mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Wulan. Sepintas aku melihat sperma Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Wulan yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Wulan. Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Wulan. Aku peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.</p>
<p>Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Wulan. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.</p>
<p>Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ternyata Robby hendak melakukan anal seks. Wulan menjerit saat anusnya ditembus penis Robby. Mendengar itu Robby malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan mengiba, “Aduhh…, sudah dong Ro…, ampun…, sakit Rob”. Tapi Robby dan Doni tidak menghiraukannya.</p>
<p>“Oh, sempit sekali”, teriak Robby mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Robby menarik penisnya aku lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Wulan. Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Wulan. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.</p>
<p>Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Wulan dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Wulan.</p>
<p>Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.</p>
<p>Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.</p>
<p>Esoknya, pagi-pagi sekali Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.</p>
<p>Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.</p>
<p>Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.<br />
Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/di-tepi-sungai-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Lisa teman kerjaku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenangan-lisa-teman-kerjaku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenangan-lisa-teman-kerjaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/kenangan-lisa-teman-kerjaku.html</guid>
		<description><![CDATA[Kebiasaan saya untuk menggoda teman-temanku tidak bisa hilang apalagi saya adalah satu-satunya karyawan cowok yang lainnya yah…cewek semua !!! Sebut namanya LISA orangnya sih biasa gak ada yang patut untuk dibanggakan selain apa yang tersembunyi dibalik kemeja dan roknya pasti semua SETUJU…orangnya enak diajak ngobrol nyambung terus dan pendengar setia. Biasalah pada waktu istirahat makan,kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebiasaan saya untuk menggoda teman-temanku tidak bisa hilang apalagi saya adalah satu-satunya karyawan cowok yang lainnya yah…cewek semua !!!</p>
<p>Sebut namanya LISA orangnya sih biasa gak ada yang patut untuk dibanggakan selain apa yang tersembunyi dibalik kemeja dan roknya pasti semua SETUJU…orangnya enak diajak ngobrol nyambung terus dan pendengar setia.</p>
<p>Biasalah pada waktu istirahat makan,kami semua makan siang bersama dengan pilihan tempat dan menu yang hampir sama…bercanda saling mengejek ataupun membicarakan tentang pekerjaan tadi.</p>
<p>Tiba-tiba dengan pakaian seksi model you can see lewat seorang cewek waooo gugamku dalam hati membuat libidoku bangkit…Saya tak sadar dari tadi Lisa memperhatikan saya lagi memandang cewek seksi yang aduhai bro….gak tahan !!!</p>
<p>Malu saya ketika dengan suara yang khas dia menegurku..”sudah puas liat payudaranya…”saya kanget belum sempat berkata dia bilang ” Apa punyaku gak sebagus dan semontok tu cewek…”</p>
<p>Dengan agak tergagap-gagap saya menjawab..”gak Lisa punyamu bagus tapi saya takut memandangnya takut kamu marah…”<br />
“Liat aja kenapa mesti marah !! yang liat cuma kamu kok..” , Apa yang tidak bisa buat kamu Daniell..”jawabnya..</p>
<p>Bagai mendapat durian runtuh…”Benar nih kamu gak bohongkan..”tanyaku..<br />
“Iyalah sekarang aja kamu mau pegang kamu mau apakah terserah soalnya setiap saya memandangmu membuatku bergairah….”jawabnya dengan lembut..</p>
<p>Oh GOD!! ternyata keberuntungan itu masih ada….”Baiklah buktikan omonganmu …tapi nanti sore setelah sepulang kerja ok sayang”sedikit merayu..</p>
<p>Gak sangka dia akan menjawab seperti ini…”Baik sepulang kerja kita langsung meluncur ke Hotel Singgasana saya yang bayar…”jawabnya dengan mantap…</p>
<p>Asal tau aja Hotel Singgasana termasuk hotel bintang 4 yang harganya pasti relatif mahal untung bukan saya yang bayar….”gugamku dalam hati..”!!</p>
<p>Sementara kerja saya mulai memikirkan apa yang akan saya perbuat..pikiranku terbang ke alam khayalan sampe-sampe waktu BOSku memanggil saya gak dengar…biasa deh dapat MARAH>>>></p>
<p>Pukul 17.00 waktunya pulang kerja..dengan tidak sabar saya menunggu Lisa di mobilku yang sudah kuparkir dimuka kantor..`”Sore sayang sudah siap nih”sapaku sambil membuka pintu mobil..</p>
<p>“Ayo kita ke hotel langsung Niel saya sudah gak sabar ingin melihat permainanmu…”katanya</p>
<p>“Oke kita meluncur sekarang”..</p>
<p>Sesampai dihotel dia memesan kamar..kami sama-sama naik ke lift yang kalo ngak salah lantai 9 kamar 918.Sementara dalam lift kuberanikan diriku untuk mengambil inisiatif memulai duluan dengan menciuminya..membelai rambutnya,memberikan ciuman-ciuman kecil disekitar leher dan telinga terdengar desahan lemah keluar dari mulutnya..</p>
<p>“Saya selalu suka yang gini” Lisa tersenyum nakal memandangku dengan tatapan birahi..sambil memberikan kecupan dibibirku..</p>
<p>Setiba dikamar kami tak langsung berhubungan tapi dia memilih mandi saya menunggunya sambil nonton TV HBO..lumayan kisah percintaan sapa tahu ada adegan sexnya ha3x….</p>
<p>Dia keluar dengan hanya memakai handuk putih…betapa putihnya ini cewek makhlum orang MANADO…siapa yang gak kenal sama orang manado yang terkenal kecantikannya !!!!</p>
<p>kupandangi dia lalu dia berkata “Sana mandi dulu biar harum jangan lama-lama nanti saya gak kasih jatahmu…”tanpa menunggu hitungan detik saya sudah berada dalam kamar mandi dengan secepat kilat saya mandi dan keluar memakai handuk yang saya lilitkan ke pinggang..</p>
<p>Ternyata Lisa juga berpikir sama dengan apa yang kupikirkan..”Sayang handuknya saya buka yah!”bisikku yang disambut dengan anggukan kepala.Setelah handuknya terlepas dari pinggulnya sehingga yang nampak dimukaku gunung kembar terindah yang pernah kuliat,payudaranya yang montok,putih,kenyal,padat tak terlukiskan keindahannya…hanya saya yang bisa melihat dan merasakannya..</p>
<p>Dengan tangannya dia menarik handukku sehingga matanya yang coklat terus memandangi batang kejantananku yang dari tadi sudah berdiri mungkin sedikit nervos melihat karena bukan sombong ukurannya bisa dibilang diatas rata-rata orang ASIA kira-kira 18 cm dengan diameter 5 cm..bisa dibayangkan!!!Dia berkata “Wah penismu besar sekali yah…</p>
<p>Tanpa sepatah kata Jemari tangannya yang ayu mulai mengelus dan mengocok penisku,sentuhannya yang halus terasa begitu lembut dan tiba-tiba dengan ganasnya Lisa memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya..dia mempermainkan dengan lidahnya diantara batang,kepala sampai buah zakarku tanpa menghiraukan desahan-desahanku.Dia mengulumku sampe-sampe kumerasa terbang ke awan nikmatnya tak terhingga..</p>
<p>Setelah puas dengan penisku saya juga tidak tinggal diam saya jilat,isap dan kupelintir-pelintir payudaranya yang indah terus tangan kananku memegang memeknya yang udah mulai membasah kubelai lembut kurasakan dia sedang begitu menikmatinya menahan kenikmatan dan sensasi yang tak terhingga merintih-rintih meminta kenikmatan yang saya berikan..</p>
<p>Kusuruh dia mengangkang pahanya dan tampak memeknya yang merah muda tertutup oleh bulu-bulu tipis..Saat kujilat dan kuisap Lisa mendesah perlahan ditekannya kepalaku seperti dia sangat menikmatinya sampe-sampe keluar cairan lendir tanda dia sudah mencapai orgasmenya yang pertama dengan terengah-engah dia berkata “Jangan siksa saya ayo sini penismu masukkan ke dalam memekku”!!</p>
<p>Wah spontan aja saya naik diatasnya sedikit jongkok kuarahkan penisku kememeknya dengan menggosok-gosokkan di pintu masuk liang senggamanya sambil kupukul-pukul kepala penisku ke klitorisnya..kucoba masukkan sedikit demi sedikit Ohh nikmatnya memeknya lumayan sempit kurasakan pijatan-pijatan disekitar memeknya enaknya..kutarik keluar kembali sampai 3 kali berulang-ulang</p>
<p>“Ayo donk!”jangan buat saya semakin….”belum sempat selesai bicara dengan cepat kumasukkan semuanya sampe habis ditelan memeknya..</p>
<p>“ooohhh….aggghhh…aaaduhh…heeegh…auhhht…. nnnnngggghhh….sss”<br />
Desahnya….saat kupompa berulang-ulang memeknya..</p>
<p>“Tenang sayang..,cintaku memekmu enak benar!”kataku</p>
<p>“ssst…niel saya ngak tahan lagi sama mau kel…”bisiknya..</p>
<p>“Ahhhhsttt uhhh….”! erangnya…</p>
<p>Setelah sekitar 30 menit saya sudah ngak tahan dengan permainan diatasnya !! Goyangannya,pijatan-pijatan memeknya membuatku terbang ternyata Lisa hebat juga kalo diatas diputar-putar pantatnya..diturun naikkan memeknya dan dengan nafas terengah-engah dia berkata “saya mau keluar”!!</p>
<p>“Tunggu kita barengan”!! bisikku…</p>
<p>“Saya keluar…,sama ….saya juga …Aaaaakhhhh nnggghhh!!!”desaku dan desahnya…</p>
<p>Terima kasih sambil kukecup keningnya…</p>
<p>“Sama-sama sayang lain kali temani saya lagi yahh…”menatapku dengan lembut…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenangan-lisa-teman-kerjaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>penerbangan ke medan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/penerbangan-ke-medan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/penerbangan-ke-medan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/penerbangan-ke-medan.html</guid>
		<description><![CDATA[Jam menunjukkan 16.20 PM ketika aku tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku akan melakukan perjalanan ke Medan dengan rekan kerjaku Tomi, ketika aku hubungi ke hp nya Tomi masih di tol bandara, flight kami pukul 17.45, masih cukup waktu utk cek in. Jam 17.45 kami berjalan menuju pesawat utk boarding, seperti biasa ketika memasuki pintu pesawat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jam menunjukkan 16.20 PM ketika aku tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku akan melakukan perjalanan ke Medan dengan rekan kerjaku Tomi, ketika aku hubungi ke hp nya Tomi masih di tol bandara, flight kami pukul 17.45, masih cukup waktu utk cek in. Jam 17.45 kami berjalan menuju pesawat utk boarding, seperti biasa ketika memasuki pintu pesawat semua penumpang disambut oleh pramugari yang ramah menyapa semua penumpang….’Ssssttt bagus tuh pramugarinya’ kata Tomi padaku…’Yoi man’ kataku…sekilas kulirik name tag-nya ‘ehmmm Yolanda, namanya’ tinggi kira2 167 postur tubuhnya nyaris sempurna ….kulit bersih seperti bintang iklan ‘PONDS’, sambil menatapku dia bertanya’ seat brp mas?’ …’seat 3 C&#038;D’ kataku….’Ohh bisnis class mas – silahkan’ katanya lagi. Ketika pesawat sdh mengudara aku menuju toilet di belakang cockpit …..aku menoleh kekanan disitu ada Yolanda dan temannya yg aku blm tau namanya…Yolanda sedang berjongkok mengambil sesuatu dari laci …dan terlihat pahanya yang mulus ….putih…kulitnya lembut pastinya tanpa cela licin…dia menoleh kearahku dan tersenyum …aku tatap matanya dan akupun tersenyum sambil berlalu menuju toilet…tatapanku hanya pada matanya saja tadi wkt pahanya terlihat dia blm tau ada aku disitu ….jadi dg “gentleman” tatapanku hanya pada mata saja hahaha. Sekeluar dari toilet…Yolanda msh disitu …’ini peluang’ pikirku….segera aku hampiri dia ‘Yolanda sdh lama di perusahaan ini’ kataku basa-basi….’Baru mau dua tahun mas…eeeh kok tau namaku’ katanya …’Loh name tag kamu itu’ kataku …..’Ehh iya…katanya dg senyum manis dan sedikit manja’ Di Medan nginap dimana? kataku…di ‘Grand Angkasa…mas dimana’ katanya ….’Eeehh sama dong…aku duduk lagi yah’ kataku… Jam 20.10 pesawat mendarat di bandara Polonia …ketika akan keluar dari pesawat aku sapa Yolanda ‘Sampe ketemu yah’ …’Iyaa mas, terima kasih’ katanya. Setiba di hotel kami cek in dan menempati kamar yang berbeda dan dilantai yang berlainan pula. Sesudah membersihkan diri kami keluar dari hotel dengan menggunakan rental car melihat-lihat kota dan cari makanan …ini adalah pertama kalinya aku ke Medan. Jam sdh menunjukkan 23.40 kami kembali ke hotel, setibanya di lobi…Tomi mengajakku ke basement ‘Disitu ada cafenya kata receptionist hotel’ katanya…’Boleh …’kataku…..tetapi ketika kulihat kearah kiri ternyata ada Yolanda sedang duduk di coffee shop lobby ….’Tom loe duluan deh’ kataku sambil menunjuk ke arah Yolanda ….’Hmmmm ok deh’gumam Tomi sambil menunjukan jari tengahnya ‘ Who knows’ kataku sambil tertawa kecil. Kuhampiri Yolanda, dia sedang duduk termenung, didepannya ada secangkir kopi dengan pot nya dan gula rendah kalori sedangkan dibibirnya menyelip sebatang rokok “Marlboro Light” …’Hei kok sendiri’ tegurku padanya….dia melihat kearahku dengan terkejut ‘Eeehhh mas ….kaget aku’ katanya…’Ohhh sorry deh’ kataku….’Gak apa kok’ katanya…’Boleh duduk’ kataku…’Please…’ katanya menyilahkan, malam ini dia memakai celana jins ketat dan kaos ketat juga sehingga bentuk tubuhnya yang indah terlihat dengan jelas, rambut agak coklat-merah tembaga sebahu. ‘Tadi blm dijawab’ kataku ….’OOhhh iya sendiri’ katanya….’Yang lain mana’ kataku….’Aku sebel’ katanya tanpa menjawab pertanyaanku…’aku agak ribut dg Lia room mate ku’ katanya…’Boleh tau kenapa’ kataku….’Biasa lah jealous gak jelas gitu mas’ katanya….’Makanya kalo jadi orang jangan cantik-cantik amat’ kataku….’Iiihhh si mas’ katanya. ‘Yola dari pada kamu BT disini kita ke cafe bawah yuk’ ajakku….’Saya sdh bbrp kali kesitu…tapi ayo deh mas’katanya…segera aku panggil waiter coffee shop…’Bill nya yah’ kataku…bill itu semua kumasukkan ke bill room aku. Kami beranjak dan berjalan kearah kiri ruang receptionis lalu berbelok kekiri sambil menuruni tangga menuju cafe yang aku lupa namanya, entah sekarang msh ada atau tidak. Suasana cafe agak gelap tapi tdk segelap diskotik …Tomi rupanya sdh mendapatkan pasangannya …aku lihat dia sedang asik dengan seorang gadis yg ber-rok mini dan pakai tank top merah….wah pikirku ‘lumayan tuh si tomi’.Kami memilih duduk di sofa kira-kira 5 m dari pintu masuk, sofa ini memang utk dua orang….aku memesan chivas regal kepada waiter sedangkan Yola memesan red wines….’Yola kamu kok kayaknya lelah’ kataku sambil mengusap rambut …’Gak sih’ katanya sambil menyibakkan tanganku …tetapi sejurus kemudian ternyata dia malah memegang tanganku dan bersandar di bahu kananku…ketika aku menoleh kearah kanan secara tak sengaja kening kirinya tersentuh bibirku…satu detik…dia menoleh kearah kiri …sehingga jarak bibir kami hanya 2 mili ….hembusan nafasnya yg beraroma wine tercium olehku …dan membangkitkan nafsu birahiku ….aku paham kemauan-nya …kulekatkan bibirku dibibirnya perlahan seolah meminta izin ….seperti yg sdh kuduga dia menyambut dengan bibirku dengan lembut …..kami berciuman dengan lembut dan romantis ……ini saatnya…..aku masukkan lidahku ke rongga mulutnya dan disambutnya dengan sapuan lidah yang makin menaikkan gairah lelakiku …..sontak saja penisku mengeras dan hampir berontak didalam celana jins ku…..’Emmmm kamu tidur dimana’ kataku sambil melepaskan ciuman sesaat….’Aku males dikamarku’ katanya ……’Aaaaahhh aku paham sekali arah kata-katanya itu’ …..’Ya udah….aku juga udah ngantuk’ kataku….. Setiba dikamarku kami tidak membuang waktu lagi …segera kupeluk dia ari belakang dan kuciumi tengkuk dan lehernya…sambil kuraba payudaranya ….’Ahhhhh ……ehmmmmm…..’ dia mendesah…..Penisku yg sdh mengeras dan masih terbungkus celana menempel rapat dipantatnya ….Yolanda menggoyang-goyangkan pantatnya menggoda penisku…. Aku tarik kaos ketatnya sehingga tinggal BH saja sekarang….kuciumi lagi bahu, tengkuk lehernya dan sejurus kemudian BHnya sdh aku lepaskan……dia menghadap kearahku sambil juga menarik kaos polo shirtku sehingga kami bertelanjang dada bersama…kutatap gundukkan daging indah didadanya yang masih sangat kencang dg puting berwarna pink….dia memekik kecil ‘ Uhhh mas berbulu dadamu’ katanya. Kurebahkan dia di ranjang dengan masih mengenakan celana panjang jins nya …kugigit ..hisap …jilat putingnya …..Yola mendesah ‘Uuukkkkkhhhhh maaasss ….nikmaaaattt’ katanya sambil tangannya mengelus dan mencubit kecil punggungku….detik itu aku sempat berpikir …bahwa tak pernah kusangka bhw tadi siang dia melayaniku di pesawat sekarang kami bercumbu…aaahhh nasiiib. Sesudah puas menjilati dan menghisap puting susunya …..aku arahkan tanganku ke bagian depan celananya dan membuka celana itu …..di angkatnya pantatnya utk memudahkanku melepaskannya …..sambil tanganya menggapai ikat pinggangku …..sekarang hanya tinggal cd nya saja ….dibaliknya kulihat rambut vagina yang rapi ….tak tahan segara aku tarik cd nya ….kubenamkan wajahku diselangkangannya…..kujilati bibir vaginanya ….dia mendesah ‘ Eeeehhhhmmmm Aaaakkkkkhhhh’ ….lalu kuarahkan lidahku ke klitorisnya ….kujilati …..dan kemudian kuhisap lembut klitorisnya ….sehingga tubuh Yola mengangkat kenikmatan….’Mas…mas sini maaasss’ katanya …’aku tau maksudnya ….bahwa dia pun ingin memuaskan aku dengan mencumbu penisku….kuubah posisi sehingga kami menjadi posisi 69…’Ooooh honey…i loved it’ katanya sambil menjilati dan kemudian menghisap penisku….’ Aaahhh punya kamu wangi sayaaanng’ kataku padanya. Entah berapa lama kami saling menjilat dan menghisap …..hingga akhirnya…..’ Ooohhh maaassss pls fuck meeee’ kata Yola…’Yes baby’ kataku sambil perlahan merubah posisi ….aku diatas danYola dibawah…missionaries….aku masih belum puas …..kuciumi ketiak nya ….ahhh wangiiii…..’ Oooooohhhhh mas …mas please entot aku masss’ katanya….’Aku mau penis masss nancap di memekku’ katanya mulai vulgar dan memegang penisku yg diarahkannya ke mulut vagina nya……pun aku sdh tak tahan ingin segera merasakan kenikmatan liang senggama Yola ….kuturuti maunya Yola….kepala penisku kutempelkan di mulut vaginanya….tapi tubuhku masih kutahan ….Yola mengangkat tubuhnya keatas….tidak sabar ingin segera aku menancapkan penisku ke vaginanya…..sambil berkata ‘ Sayyaaang jangan siksaaa aku donk’ dengan tatapan memohon spy aku segera menancapkan penisku di vaginanya…..timbul juga rasa ibaku padanya dan juga gejolak nafsuku yang sdh ingin merasakan memeknya yg sdh basah itu …..dua detik….kutekan penisku kearah vaginanya ….kepala penisku masuk …agak susah …aaaahhh rupanya masih rapat..pikirku…. Yola merengkuh pantatku dan menekannya kearah tubuh nya …agak kutahan ….penisku masuk 1/4 nya …..’ sayaaaaang tekaaaannnn ….ak..aku….mau …’ katanya, rasa perikemanusiaanku timbul lagi ….kulemaskan tubuhku sambil menekan kebawah ….dan…bllessssss penisku habis ditelan oleh vagina Yola…..turun naik…turun naik …..aku kocok lembut dan kadang sedikit kasar dan juga kasar ….Yola terbeliak …..merasakan kenikmatan yg katanya belum pernah dia alami…..sekitar setengah jam kami bergumul dan berganti posisi dari missionaris, doggy, WOT …….memek Yola sungguh nikmat ….yg menurutnya dia ikut senam aerobic dan BL di wkt senggangnya bila tdk terbang….ah pantas saja memek ini nikmat pikirku….’Aaaakkkhhhhh sayaaaang aku mau keluar’ erangku ……’OOhhhh aku jg yaannngg’ katanya ….hanya 3 menit setelah itu hampir bersamaan kami memuncratkan cairan kenikmatan ‘ aaaaahhhh sayaaaanng kamu hebat’ hampir bersamaan kami mengatakannya, kami tertidur bersama selama 2 jam. Jam 5 pagi Yola beranjak kekamarnya ….mau tugas terbang lagi katanya …’aku ke jakarta trs balikpapan sayaaaang’ katanya, tak lupa dia berikan no hp nya 08116302xx, mas aku nanti 2 mg lg cuti …kemana yg enak? katanya…’ terserah kamu kataku, aku jg ambil cuti deh’ kataku sambil kucium bibirnya ….’ i want you’ katanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/penerbangan-ke-medan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kenapa aku selingkuh</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenapa-aku-selingkuh.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenapa-aku-selingkuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 09:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2370</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini sengaja saya tulis untuk sedikit membantu saya membebaskan perasaan yang benar-benar terpendam dalam diri saya untuk sekian lamanya. Saya adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Semua orang memuji kecantikan diri saya walaupun kulit saya tidak bisa dikatakan putih. Entah mereka yang saya kenal maupun selentingan dan kekaguman orang di luar sana. Baik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini sengaja saya tulis untuk sedikit membantu saya membebaskan perasaan yang benar-benar terpendam dalam diri saya untuk sekian lamanya.<br />
Saya adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Semua orang memuji kecantikan diri saya walaupun kulit saya tidak bisa dikatakan putih. Entah mereka yang saya kenal maupun selentingan dan kekaguman orang di luar sana. Baik yang mengungkapkan langsung maupun yang disampaikan melalui orang lain.</p>
<p>Nama saya Cewmatre. Saya adalah anak pertama dari sebuah keluarga yang serba berkecukupan. Ayah saya adalah seorang pengusaha di bidang perbankan yang cukup diperhitungkan di daerah saya. Saya menikah atas dasar paksaan ayah saya. Sungguh tidak mengenakan menikah dengan orang yang tidak saya cintai, walaupun sudah kurang lebih sembilan tahun usia pernikahan kami. Suami saya, Bramono, adalah seorang dokter yang sedang mengambil spesialisasi bedah di Rumah Sakit pemerintah di kota kami. Terlihat hebat memang. Tapi sayangnya keluarganya ternyata memiliki bibit keturunan “orang stress”.<br />
Ini yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk lebih baik mengadopsi daripada memiliki keturunan ’stress’.</p>
<p>Sikapnya sebagai suami sama sekali tidak mencerminkan seorang suami. Terlebih saat dia menyadari bahwa dirinya adalah kesayangan ayah saya, mertuanya.<br />
Beberapa alasan ayah saya sangat menyayanginya adalah karena suami saya adalah seorang dokter dan (katanya) adalah keturunan orang terhormat. Terhormat? Menjaga nama baik diri sendiri saja tidak bisa, apalagi nama baik keluarga dan rumah tangga?<br />
Sudah cukup lama saya bertahan menjaga nama baik keluarga, hingga akhirnya saya menyadari bahwa ada pihak ketiga yang mengganggu rumah tangga kami.</p>
<p>Namanya Erna. Dia seorang mahasiswi kedokteran hewan yang menjadi gundik suami saya untuk sekian tahun lamanya. Sama sekali tidak ada yang menarik dari dirinya. Kalau boleh saya menyombongkan diri, perbedaan saya dan dirinya ibarat langit dan bumi.<br />
Entah apa yang diinginkan suami saya dari dirinya.<br />
Bukan hanya nama baik rumah tangga kami yang tercoreng, tapi juga nama baik orang tua saya. Dia membawa ‘gundik’nya itu dengan leluasa menggunakan kendaraan pribadi ayah saya, karena memang ia belum mampu memiliki sebuah mobil. Bahkan untuk membeli bautnya pun mungkin masih meminta uang dari saya.</p>
<p>Di tengah kebingungan, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti program Magister Manajemen yang baru saja dibuka di sebuah universitas negeri di kota saya. Di sini saya banyak menjumpai teman baru. Kejenuhan dan kebingungan saya mulai sedikit terobati dengan aktivitas belajar baik di kampus maupun di luar.</p>
<p>Entah angin darimana yang berhembus, saya mendengar bahwa salah seorang teman kuliah saya bertempat tinggal di daerah perumahan yang sama dengan Erni. Tiba-tiba timbul kembali rasa penasaran terhadap ‘gundik’ suami saya itu.<br />
Ibarat wartawan, saya pun mulai melancarkan beberapa pertanyaan daerah seputar perumahan tersebut.</p>
<p>Namanya Eri. Begitu setidaknya ia dipanggil. Pertama memang ia menaruh curiga terhadap pertanyaan saya. Saya berusaha membohonginya agar aib rumah tangga saya tidak terbongkar. Namun karena rasa penasarannya yang begitu besar, saya tidak dapat lagi menutupinya. Terlebih dia begitu jelas memberi informasi mengenai dimana lokasi tepatnya Erni tinggal dan keadaan sekelilingnya.<br />
Hingga akhirnya saya meminta tolong untuk sesekali mengintip apakah suami saya pernah berkunjung ke sana.<br />
Akibatnya, saya sering berhubungan dengannya untuk mendapatkan informasi lebih darinya.</p>
<p>Dari sekedar menerima informasi dan meminta tolong lagi, akhirnya saya tidak dapat menahan lagi penderitaan yang saya alami. Saya akhirnya sering berkeluh kesah mengenai keadaan rumah tangga saya yang sebenarnya. Entah kenapa saya lakukan ini.<br />
Eri adalah totally stranger, yang seharusnya sama sekali tidak mengetahui kondisi intern rumah tangga kami. Tapi bagaimana lagi?<br />
Saya sudah sering berkeluh kesah dengan orang tua mengenai suami saya. Mereka hanya menyuruh saya untuk bersabar. Dengan adik saya, mereka memang merasa kasihan kepada saya, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena kesibukan bisnisnya.<br />
Saya juga pernah berkeluh kesah dengan bibi (tante) saya yang belum menikah, namun dengan cepat dia menjawab, “Waduh, janganlah bicara itu kepada saya, saya tidak sama sekali tidak tahu masalah seperti itu!”<br />
Kemana lagi saya harus berkeluh?</p>
<p>Pada awal cerita saya kepada Eri, dia memang menganjurkan agar saya berbicara kepada orang tua saya. Namun itu merupakan anjuran basi bagi saya.<br />
Eri tidak putus asa. Dia terus memberi dukungan secara moral. Yang membuat diri saya seolah semakin tenang berada di sisinya untuk mendengarkan dan menerima dukungannya. Kemudian dia pun membuka rahasia mengenai dirinya. Mengenai siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana kondisi orang tuanya.<br />
Dari situ saya melihat beberapa kemiripan diantara kami berdua. Saya pun mulai comfortable apabila sudah berada di sisinya. Dan pertemuan pun sering kami atur. Entah itu berkedok kelompok belajar atau lainnya.</p>
<p>Hingga akhirnya, entah kenapa tumbuh rasa suka saya kepada dirinya, dan di suatu saat Eri memberanikan diri untuk menyentuh tangan saya dan memegangnya. Saya merasakan getaran yang ia jalarkan ke diri saya. Akhirnya tanpa saya sangka, ia mengutarakan perasaannya. Perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan terhadap dirinya.</p>
<p>Singkat cerita, kami mulai sepakat saling mengasihi. Dan kami pun mulai secara rutin bertemu untuk berbagi kasih. Walau pun hanya sebatas di dalam mobil saya.</p>
<p>Kekagetan saya yang berikutnya adalah sewaktu Eri tiba-tiba mencium bibir saya. Lucu rasanya saya mengenang kejadian tersebut. Seolah saya adalah seorang gadis yang baru pertama kali dicium oleh pria. Saya tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, saya memang mencintainya. Di sisi lain, saya sudah menikah dan bersuami.<br />
Kembali dia melayangkan kecupan dibarengi dengan sedikit lumatan pada bibir saya.<br />
Saya tetap tidak berkutik. Hingga akhirnya dia bertanya,”Kenapa tidak dibalas?”<br />
Setelah kami saling tatap untuk beberapa saat. Akhirnya….. saya pun membalas lumatan bibirnya.</p>
<p>Kisah kasih kami terus berjalan dengan sedikit bumbu saling cemburu apabila saya terkesan mulai denkat dengan suami saya, atau saya mendengar isu bahwa Eri berkenalan dengan seorang gadis. Tapi itu semua tetap tidak mempengaruhi cinta kami.<br />
Percumbuan kami semakin hangat. Dia pun mulai berani menggerayangi bagian-bagian tubuh saya. Baik dengan menggunakan tangannya atau dengan mulutnya.<br />
Buah dada saya yang berukuran 36B ini sudah sering kali menjadi sasaran empuk mulutnya. Dan saya sangat menikmatinya. Saya pun sering mencumbu dadanya yang lapang, dan sesekali mempermainkan mulut dan lidah saya di pentilnya. Dia pun sangat menikmatinya.</p>
<p>Hingga akhirnya permainan kami mengalami peningkatan. Jemarinya mulai terampil menyusup kepada celana dalamnya dan mempermainkan klitoris saya.<br />
Saya mulai merasakan geli dan nikmat bercampur menjadi satu, terlebih apabila ia kombinasikan dengan mencumbu tubuh saya.<br />
Kami saling bergantian mencumbu hingga akhirnya pun saya hanyut dalam kebiasaan melakukan oral sex terhadapnya. Dia begitu surprise saat saya melakukan oral. Eri tidak menyangka, seperti halnya saya. Saya bahkan sempat terheran pada diri saya sendiri. Banarkah saya melakukan ini? Pertama kali saya melakukan oral sex terhadapnya, memang saya kikuk sekali. Eri hanya membuka sedikit celana dalamnya hingga kepala penisnya tersembul. Entah kenapa, saat saya sedang mencumbu tubuhnya, saya sangat terdorong untuk mencumbu penisnya dan memasukkannya ke dalam mulut saya. Dan sejak saat itu, percumbuan kami belumlah lengkap apabila saya belum melakukan oral sex terhadapnya. Bagi saya, saya merasa memiliki hobby baru. Membuatnya nikmat melalui oral sex.<br />
…suatu saat di tengah percumbuan hebat kami dimana pakaian kami sudah hampir terbuka semua, di jok belakang mobil saya di pelataran parkir department store “R” yang terletak di jalan yang menggunakan nama seorang pangeran, ia mengangkat rok saya dan menyingkap sedikit celana dalam saya, lalu kemudian dengan cepat dan lembutnya, Eri mencumbu dan menyapu vagina saya dengan lidahnya. Sungguh saya dibuatnya kaget dan bingung yang bukan kepalang. Suami saya sama sekali tidak pernah melakukan hal ini terhadap saya. Di tengah kebingungan itu, saya sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Saya mencintainya, tapi saya sama sekali tidak menyangka hingga sejauh ini kisah asmara kami. Begitu lembutnya dia mempermainkan klitoris saya dengan sapuan lidahnya, hingga akhirnya rasa bingung itu lenyap ditelan rasa geli dan nikmat yang sudah menjalar di sekujur tubuh saya. Saya hanya bisa meremas rambut kepalanya, menekan kepalanya lebih dekat di vagina saya yang kian membasah. Kenikmatan itu juga yang akhirnya membuat saya mengangkat kedua paha dengan lebih membuka kangkangan keduanya.<br />
Setelah kurang lebih lima belas menit dia menjilati klitoris saya dengan berbagai cara, saya disuruhnya rebah di jok belakang dan segera dia menindih saya. Rupanya Eri telah menurunkan celananya tanpa sepengetahuan saya sewaktu saya masih melayang-layang.<br />
Dengan cepat Eri menyodorkan penisnya menuju bibir vagina saya. Dan mempermainkan kepala penisnya di bibir vagina saya. Saya kembali menggelinjang. Sama sekali tidak terbesit di benak saya, bahwa kami masih bermain di area parkir sebuah pusat belanja yang terletak di jalan “D”. Yang suatu saat dapat dipergoki satpam.<br />
Kembali saya tersentak hebat saat kepala penisnya menggesek-gesek klitoris saya dengan agak kuat. Tubuh saya mulai bergetar hebat. Apa ini yang dinamakan luapan birahi?<br />
Karena vagina saya yang sudah basah sejak tadi, Eri tidak mendapat kesulitan untuk akhirnya dengan cepat dan lembut menyelipkan penisnya di liang vagina saya.</p>
<p>Saya kembali tersentak dalam sejuta kenikmatan. Sebuah benda yang besar dan panjang menyelinap masuk secara perlahan, sehingga menimbulkan gesekan halus pada klitoris saya. Tubuh saya mengejang sesaat.<br />
Tiba-tiba muncul rasa heran yang amat sangat dalam diri saya.<br />
Selama ini saya tidak pernah merasakan nikmatnya sex dengan suami saya. Yang saya tahu selama ini, sex adalah menyakitkan. Saya hanya menjadi mesin pemuas nafsu sex suami saya tanpa peduli apakah saya menikmatinya atau tidak. Nikmat sex seolah-olah hanya dongeng belaka di telinga saya.<br />
Tapi Eri… seolah-olah dia kini memberikan bukti bahwa nikmat sex itu ada. Dan nyata.<br />
Kini saya sadar sepenuhnya. Saya semakin mencintainya. Saya pun kembali larut dalam kebahagiaan nikmatnya sex. Saya pun menyambut cintanya, juga menyambut goyangannya tidak kalah hebat. Seolah saya ingin menumpahkan dan mencapai kenikmatan sex yang baru saya rasakan dan ingin memberitahunya untuk bersama menikmati sex ini sepuas-puasnya.<br />
Entah berapa lama kami bercinta dan saling berpacu dalam nafsu birahi di dalam mobil Genio berwarna gelap bernomor polisi D* 1**9 **. Akhirnya dia membiarkan saya selesai terlebih dahulu. Sungguh saya tidak menyangka bahwa kenikmatan sex itu begitu indah, menyenangkan dan memuaskan. Saya pun dibuatnya lemas dan tidak bertenaga, terkapar di jok mobil. Telentang tidak berdaya, dengan rasa sejuta bahagia dan kepuasan yang tidak ternilai. Sementara Eri akhirnya mempercepat ritme ayunan pinggulnya dan saya merasakan adanya semburan hangat di dalam vagina saya. Semburan sperma Eri.</p>
<p>Saya sempat khawatir akan kehamilan akibat hubungan kami. Tapi Eri segera berbisik bahwa dia ingin saya hamil dan membesarkan anak tersebut.<br />
Berangsur-angsur kekhawatiran saya menghilang. Di satu sisi, keinginan saya untuk hamil bisa saja terkabul. Dan ini yang saya tunggu.<br />
Akhirnya siasat pun diatur, apalagi golongan darah Eri sama persis dengan suami saya.<br />
Sejak saat itu, kami pun rutin melakukan hubungan sex untuk saling meluapkan cinta dan memuaskan nafsu birahi kami, dimana pun kami sempat. Bahkan pernah di ruangan kantor saya pada saat sepi, Eri meminta saya untuk berdiri membungkuk di tepi meja kerja saya dan dia menyetubuhi saya dari belakang dengan terlebih dahulu mengangkat rok dan menurunkan celana saya dan kemudian mempermainkan vagina saya dengan lidahnya yang kasat.</p>
<p>Kini bukan saja suami saya yang berselingkuh. Saya pun turut terjerumus dalam dunia perselingkuhan. Perselingkuhan yang saya rasa adalah abadi.<br />
Apakah ini semua karena cinta sejati saya dengan Eri?<br />
Apakah karena awalnya kawin paksa oleh ayah saya, hingga tidak pernah ada cinta antara saya dan suami saya?<br />
Hingga kini hubungan saya dan Eri telah berusia dua tahun, baik hubungan komunikasi maupun secara sexual. Kami tetap saling memperhatikan, mengasihi, menjaga dan juga saling mengisi kekurangan satu sama lain. Seperti layaknya suami istri sejati.<br />
Kini saya sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang dilakukan suami saya. Anak kandung saya dari hasil hubungan intim saya dengan Eri dan anak angkat saya pun lebih dekat dengan Eri ketimbang suami saya. Entah kenapa, saya sangat berbahagia menjalani semua ini. Saya sudah menemukan cinta sejati saya……</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenapa-aku-selingkuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menikmati tubuh nanda</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/menikmati-tubuh-nanda.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/menikmati-tubuh-nanda.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[Terasa terik menyengat sinar mentari disiang ini, laju sepeda motor matic-ku pun melaju dengan kencangnya. Sekali-kali mataku melirik spidometer tangki bensinku yang sebentar lagi akan terisi penuh oleh bensin di dekat renon, denpasar. Saat itu ku kenakan jaket kesayangan ku merk At**** yg merupakan brain terkenal band kesayanganku â€Blink 182â€ begitu pula sepatuku ber merk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terasa terik menyengat sinar mentari disiang ini, laju sepeda motor matic-ku pun melaju dengan kencangnya. Sekali-kali mataku melirik spidometer tangki bensinku yang sebentar lagi akan terisi penuh oleh bensin di dekat renon, denpasar.</p>
<p>Saat itu ku kenakan jaket kesayangan ku merk At**** yg merupakan brain terkenal band kesayanganku â€Blink 182â€ begitu pula sepatuku ber merk Mac**** yg sama juga terkenalnya. Terlihat sosok gadis belia seumuranku 2 tahun yang lalu saat turun dari motor untuk mengantre, dan sekarang saya sendiri kini menginjak umur 18 tahun smester 2 di PTN fave Bali. Terlihat putih mulus kulitnya, begitu juga pakiannya girlie banget tak luput wajahnya yang menawan, membuatku tak karuan tak sengaja dipandang olehnya. Rasa grogi menyertaiku ketekia menyapa dengan kata</p>
<p>â€ hai!, sndiri ya.. jaket km keren, beli dmn? gua nyari kyk ntu kok gak nemu-nemu ya?â€, katanya rada nyeroscos.</p>
<p>â€hei, gw bli di b********** kmaren stoknya tinggal ini, hehe..kalo mau ntr bisa dibantu kok nyarina! hahaha..â€,</p>
<p>sahut gw dengan deg degan. Maklum lah gw berparas biasa saja, namun banyak tman sma bilang kalo aku ganteng apalagi aku juga anak band. Tmn-tmn biasa memanggil saya Reno</p>
<p>â€okey, thx ya..tapi gw cepet-cepet neh..â€, sembari ia membalas<br />
dan ia pergi begitu saja..</p>
<p>sial, hilang gitu aja tuh ikan gua, fikirku.</p>
<p>Sampai juga dirumah, dan kumelepas sapatu dan menaruh tasku yg berisi laptop yg selalu kubawa.<br />
â€ Bluggghhh&#8230;.. Fiuhh&#8230;!!â€</p>
<p>terdegar suara seperti itu mungkin. Kulihat hp menunjukan pukul 4 sore, dan 3 pesan masuk dan semuanya dai tmn ku sma yang mengatakan akan main kerumaku yang dulunya tempat tangkringan anak-anak. kulempar hp tak peduli bgtu saja setelah membalas sms tersebut.</p>
<p>Jam telah menunjukan pukul 8 malam, setelah badanku harum dan perutku terisi penuh oleh lauk yg dimasakan mama, akhirnya tmanku si dio datang. Kedatanganya kusambut dgn memukul perutnya yang begitu besar,</p>
<p>â€hey Jlek..pa kbr?â€, lontar pertanyaan dari mulutnya</p>
<p>â€haha.,,dasar gendut, baek..Cuma stres ama kuliahan neh! ntah gimana hasil uas kmaren blom jelasâ€, sahutku dengan nyroscossnya,,</p>
<p>Kita pun mengobrol panjang lebar sampe akhirnya dia pergi dan menitipkan sebuah nomor telepon temannya yang bernama Nanda. Dio sempet bercerita sedikit tentang Nanda yang berawakan sexy, putih, menggairahkan. langsung kubayangkan bagaimana jadinya ketika memerhatikan nomor itu.</p>
<p>Kumulai dari sebuah missed call yang kucoba ke nomernya, dan trnya ta, Greath!! nyambung. Alhirnya kuberanikan diriku mengirimkan sms ke dia.</p>
<p>â€hai, Nanda ya? lam knal. renoâ€, pesan ku terkirim ternyata sangat kilat, tumben bgt nie operator gak sinting â€pikrkuâ€</p>
<p>â€hey, iya ini Nanda, lam knal. anak mna? Btw dpt nomerku drmn?â€ balasnya cukup lama, namun bergeas ku balas</p>
<p>â€anak *******, dari Deo! hehe..â€</p>
<p>sms kami lakukan hingga pukul 12 malam, ntah apa sja kami bicarakan. Sampai akhirnya dia menelponku. Terdengar suaranya yang ramah, rame, asik. Terlihat dipembicaraan kita pertama sangatlah akur dan nyambung, sehingga terbesit rasa yang tak biasa kurasakan. Topic demi topic pembicaraan terlontarkan hingga jam menunjukan 2 pagi, namun karena keasikan pembicaraan terus dilanjutkan. Sampai akhirnya sebuah topic tentang seks kita bicarakan, dan tercium bau kalau Nanda suka melakukan hubungan seksual dengan pacar sebelumnya, dan kitapun saling bertukar pengalaman kita masing-masing. Dan tersirat kata dari bibirnya</p>
<p>â€main donk kesini, qt jalan kek ato gmn, mau?â€ pinta nanda</p>
<p>â€œokey, maybe lusa aja ya, skalian maen gitu ke rumah kakak spupuâ€, sahutku</p>
<p>â€Ok, asik&#8230;udah ya, Nanda bobo dlu, Muacchhhâ€ katanya langsung menutup telepon, dan kurasakan ada sambaran dengan kecupan dari jarak jauh tersebut.</p>
<p>Singakat waktu, hari itupun tiba. Ku pacu matic ku dengan rasa penasaran dan deg-degan yang selalu menghantui. Memang sulit mencari tempatnya kos, sampai aku memutar-mutar 3 kali. â€Damn!â€ fikirku, dan akhirnya ketemu juga nomer rumah kosnya. Kutelpon dia dari depan kosnya. Tak lam kutunggu keluarlah sesosok wnita cantik, putih bersih, bertoked kencang yang kelihatan dari kaosnya yang berwarna putih, sambil membawa handuk kecil mengusap-usapkan rambutnya yang terlihat sehabis keramas.</p>
<p>â€hey, Reno? ayo masukâ€, ajaknya</p>
<p>â€iya, ok-okâ€</p>
<p>sesampainya didalam rumah kos, kita berbincang ria diberan kosny yang pas banget ada sofa and mejanya. Lalu sebuah minuman botol menghampiriku. â€lega&#8230;.â€ kurasa&#8230;.hehe.</p>
<p>â€eh no bole liat kamar kamu gak nda?â€, pintaku</p>
<p>â€eh, masuk aja kali..biasain aj, sory berantakanâ€</p>
<p>sudut demi sudut kupandangi, ternyata kamar yang lumayan untuk anak putri itu terdapat sbuah Tv, lemari, kasur, kipas angin dan WC didalam, dan kulihat pula beberapa pakaiannya yag dijemur, â€huhuh gila, g-string man!!!â€ fikirku..</p>
<p>sengaja dia rebahkan dirinya dikasur sembari menonton acara tv anak muda, dan kudekati dia. Ku duduk disampingnya dan menghadap ke tv. Sekali-kali kupandangi Nanda yang saat itu mngenakan kaos putih ketatnya, celana pendek diatas lutut, erlihat juga bra nya berwarna putih samar-samar.</p>
<p>â€Nda, lu cantik ya, manis, No jd gmes ma kmâ€ sembari ku mencubut pipinya,</p>
<p>â€aah&#8230;.paan sih, pake nyubit segala, thx buat pujiannyaâ€, sahutnya</p>
<p>Kurebahkan badanku sampingnya, dan terlihat dia enjoy aja dengan posisi itu. Lalu kita bercanda ria hingga sore menjelang. Kuberanikan diriku mendekatinya ebih dekat lagi, kucoba peluk dia. â€great!!â€, dia tidak menolak sedikitpun, dan kuangkat dagunya, kulumat dengan lembut bibirnya yang sexy.</p>
<p>â€mmmmMMmmphh&#8230;&#8230;sluRRpppsssss&#8230;.MMmmmpphh. .â€ terdengar suara lumatan kita berdua beradu saat itu. Kuberanikan diri untuk merangsangnya, kumulai dari turun kelehrnya, kuliat dia menggelinjang nikmat dengan perlakuanku yang serakah menjilati lehernya. Terkadang kusempatkan diri untuk menjilati telinganyaâ€</p>
<p>â€Aarrrghhh&#8230;..ssssshhh&#8230;.OOOuuurrgghh&#8230;Noooo&#8230; ..eeemmpph&#8230;â€, desahnya yang terdengar ditelingaku, takkusangka tanganya telah menyusup masuk kedalam celana jeans ku, dan mencoba untuk menggapai kntl ku yang sudah mengeras. Digenggamnya dengan erat kntlku olehnya, terlihat dia meremas-remas kntlku dengan ganasnya.</p>
<p>Tank mau kalah, ak melepas kaosnya yang ketat, kugapai kedua buah toketnya yang WOW&#8230;ukurannya menakjubkan bagiku, kutarik bra-nya kebawah lalu kujilat, kuisap, kusedot putingnya yang telah mengeras akibat rangsanganku. Terlihat olehnya tangan kiriku meremas-remas dengan ganasnya, sesekali ku pelintir putingnya. Mulutkupun semakin buas memainkan putingsusunya bergantian.</p>
<p>â€oohhh&#8230;renn&#8230;ttrrrr,,,,,,,,,trrrruuss,,,renn,,, oh,&#8230;.enak bgt ren&#8230;&#8230;<br />
udah lammm&#8230;aa&#8230;aku gak ngerasain belaian &#8230;&#8230;.nikmat kayak giniâ€, eragnya begitu nikmat tersengal-sengal agak terputus-putus,</p>
<p>Kuberanikan diri untuk menulusuri kebawah, dengan tangan kiriku mencoba menyelip kedalam isi cd nya, tanpa halangan berhasil. Terasa bulu-bulu yang tercukur rapi tumbuh sektiar 1-2cm begitu lebat sesuai feel tanganku yang meraba, dan basah V-nya pun ak bisa dibendung lagi. ternyata nanda juga berusaha untuk mengocok Kntl ku yang keras ga karuan.</p>
<p>Mungkin karena sulit, dengan manjanya ia merayuku aga melapas seluruh bajuku. Kontan, ia dengan ganasnya membuka bajuku serta celana ku. Tiada pakian yang masih tersisa ditubuhku yang melekat lagi, lalu kupaksa ia juga membuka bajunya. seblum sempat kumembuka bajunya, tanganya denagn ganas menggapai Kntl ku, mendekatkan wajahnya dengan Kntlku, lalu mulai denagn kecupan mesra yang mengawali sentuhan bibirnya yang begitu sensual dengan Kntlku yang berukuran kurang lebih 18cm.</p>
<p>â€sLuurrrppsss&#8230;.mmmmmpphh&#8230;mmmmppHhhhh&#8230;&#8230;.cup pz&#8230;.slurpz.ss&#8230;..â€; cuapan mulutnya menjelajahi senti demi senti bagian Kntlku. Tak pernah kurasakan kenikmatan Blowjob yang dilakukan Nanda, sungguh luar biasa. Sekitar 20 menit puas menjilati, mengulum Kntlku dengan ganas, kuberanikan diri untu memutar posisi tubuhnya, dan ku incar selangkangannya.</p>
<p>Kudapati V yang begitu menawan. Terlihat V berwarna pink, dengan kulit V yang masi kencang dan eknyal, beitu juga bulu-bulu yang tercukur rapi menawan. Mata lelaki mana yang tidak ingin mencicipi V yang begitu menawan seperti ini, fikirku sejenak. Langsung lidah ki mulai menjilati V-nya yang begitu sexy, seraya kubuka V-nya dengan jariku.</p>
<p>Mulai kujilati sedikit demi sedikit terjelajahi isi V Nanda. Tercium bau yang khas dari V Nanda.</p>
<p>â€Ouuhhh&#8230;..mmmpphh&#8230;..Renn&#8230;.Truss Ren&#8230;..oowwhh&#8230;&#8230;Enak beibh&#8230;.Oh&#8230;&#8230;.mmmphâ€, Terlotar kata-kata sekan di begitu menikmati jilatan lidahku yang bgitu ganas merajahi isi-isinya, seraya ia mengigit bibirnya.</p>
<p>â€Ohhhhmm&#8230;..Sayyaaaaaannnnnggg&#8230;..aaakkuu keluaaaarrrrrrrrr&#8230;.oh&#8230;&#8230;Mphhâ€,<br />
Blassss&#8230;.Orgasme pertama Nanda ditandakan dengan mucratnya cairan-cairan yang terpadu dilihaku. Kuisap-isap kembali hingga tubuhnya yang montok menggelinjang tak karuan.</p>
<p>â€Renn&#8230;Masuukkkiinn please&#8230;aku udah ga tahaannn&#8230;mmpphh&#8230;â€, pintanya lanjut dengan desahan-desahan dasyat</p>
<p>lalu ku mulai melepas V nya, kuancungkan Kntlku ke arah V-ny Nanda. Mulai ku gesek-gesekan Kntlku di antara belahan V-ny. terlihat wajahnya yang bergerak kekanan kiri terangag berat dengan perlakuanku. Kucoba masukkan Kntlku kedalam V-nya, dengan bantuan tanggan lebutnya juga menaikkan bulu-bulu yang menghalangi jalan kami.</p>
<p>â€Awww&#8230;.Ohh&#8230;pelan-pelan Renâ€, pintanya padaku</p>
<p>Terasa sekali V-nya sangat keset, mungkin karena sudah lama Nanda tidak melakukan hubungan intim. Kudesak, dan agak kupaksa untuk memasukan penisku yang kelihatan sekali urat-utratnya (nanda sempat mengatakan kntlku kayak ktntl org arab, keras, berotot, sawo matang). Kutekan-tekan pinggulku agar lebih leuasa memasuki liang V-ny. BlAsss&#8230;. Akhirnya!</p>
<p>â€Aww&#8230;.Oooouugghh&#8230;mmmppphh&#8230;Oughh&#8230;genjot Say&#8230;please&#8230;â€, rintih nanda ketika kntlku baru saja masuk kedala V-ny yang begitu nikmat.</p>
<p>Mulai kugerakan pinggul ke, melaju kedapan kebelakang dengan tempo yang santai, agar qta sama-sama bisa menikmati. Jujur kalau aku lebih suka hardcore, aku suka menggenjot dengan ganas hingga pasanganku tergeletak lemah, bahkan aku pernah mengeluarkan Sprm sendiri dengan tangan gara-gara pasanganku sudah tak kuat dengan gaya Hardcoreku. Kembali dengan permainanku dengan nanda, terasa sekali V nanda seperti memijatku dengan otot-otot V-ny.</p>
<p>â€Oh&#8230;&#8230;.beibhb&#8230;&#8230;&#8230;mmmmpph&#8230;aku sayaaaaaaannnggg kkmmuuuu.,,,oohh..â€, kudegar keluh nanda yang tak kupedulikan, yang kufikirkan adalah kenikmatan V-nya begitu menakjubkan.</p>
<p>Kini berganti posisi, nanada berada diatasku, menggerakan pantatnya naik turun begitu cepat dari sebelumnya. Masih terasa keset V-nanda dalam genjotan demi genjotan yang kita lalui bersama. tak kusia-siakan kesempatan yang ada, kumainkan kedua buah toketnya yang ranun. Kuremas-remas&#8230;kusedot-sedot, hingga kubuat banyak sekali tanda diekitar toketnya. hanya desahan yang kudengar dari bibirnya yang sexy, kulumat kulepas, kulumat, dan kulepas kemabali. Sampai akhirnya badan Nanda mulai bergetar beda dari genjotan-genjotanya.</p>
<p>â€ren..aku keluaaaaaaaaarr&#8230;..Oowwwhhhhhhh&#8230;&#8230;..aaahhhh&#8230; aahhhhhh&#8230;..â€, nanda kembali orgasme untuk ke dua kalinya saat ini.</p>
<p>Kini kuubah posisi berganti kepososi Doggy, sambil kuremas-remas toketnya yang ranun begitu indah. Belum pernah kuremas toket seranun dan sesexy ini, fikitku. Kupercepat genjotanku maju mundur, terlihat dia makin menjadi-jadi. Nanada meremas tanganku, dicengkramnya hinga ad secuil luka di jariku karena kukunya yang panjang bercatkan hijau. kurasakan sensasi yang sangat-sangat indah, tak pernah kubayangkan aku bisa menikmati tubuh gadis ini.</p>
<p>â€ren, aku cape&#8230;&#8230;&#8230;.bntar lagi aku keluaar:, kata nanda</p>
<p>â€sabar sayang dikit lagi ren keluar kok, kit akluarin bareng ajâ€, sahutku sambil menggenjot tubuhnya</p>
<p>â€iya sayang&#8230;.mmmmphh&#8230;ohh&#8230;..trus say&#8230;.ahhhhh&#8230;..aaaauugggghh&#8230;â€, rintihnya kembali.</p>
<p>setelah 30 menit menggenjotnya, mulai kurasakan akan keluarnya Sprm ku.<br />
â€™beib, aku mau keliar&#8230;..oooouuurgghh:, kataku padanya<br />
â€aku juga..â€ sahutnya</p>
<p>â€â€™Crooottttzz,,,,,crottt&#8230;crooott,,,,croottt&#8230;.. croottt&#8230;.crtooooottt..â€ banyak kali terasa spermaku muncrat kedalam V-ny.<br />
ternyata beda tipis selisih waktu kita keluar. Kucabut Kntlku dari V-ny. Terlihat Sprm ku mengalir dan menetes dari V-ny. Reflek tangan Nanda mengembat Kntlku langsung di emut-nya menghabisi sisa Sprm yg ada di Kntlku.</p>
<p>â€MMmmmmphh..say Sprm km nikmat, walo dapet dkit&#8230;..mmphhhâ€ dengan ganasnya menikmati Kntlku.</p>
<p>Terasa kelelahan meyertai kita, bergegas aku kekamar mandinya untuk membersihkan tubuhku, begitu jug adirinya. Tak luput ku mainkan juga toketnya yang indah disana.</p>
<p>â€Nan, ga papa aq ngluarin didlm?â€, tanyaku<br />
â€Gpp Ren, aku ada obat kok, nanti ku minum. Thx ya, aku satang kamu, aku sayang arab-mu, aku mau km ngisi kesepian ku renâ€,pintanya<br />
â€ok Nda, aku sayang kamuâ€ , jwbku singkat seraya memeluknya lalau mencium keningnya.<br />
setelah kejadian itu, kami masih sering melakukan hubungan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/menikmati-tubuh-nanda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah cinta di bangku sekolahan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kisah-cinta-di-bangku-sekolahan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kisah-cinta-di-bangku-sekolahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:38:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=869</guid>
		<description><![CDATA[Kota X, pertengahan September Suasana sepulang sekolah merupakan suasana yang cukup menyenangkan apabila semua orang bisa memandangnya dari sudut pandang Mitha. Dan Mitha menikmati setiap peristiwa yang terjadi di depan matanya, merasakan tawa yang keluar dari bibirnya ketika melihat seorang siswa menjatuhkan jajanannya dari kantung tasnya, dan menggelengkan kepalanya ketika melihat dua anak yang saling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kota X, pertengahan September</p>
<p>Suasana sepulang sekolah merupakan suasana yang cukup menyenangkan apabila semua orang bisa memandangnya dari sudut pandang Mitha. Dan Mitha menikmati setiap peristiwa yang terjadi di depan matanya, merasakan tawa yang keluar dari bibirnya ketika melihat seorang siswa menjatuhkan jajanannya dari kantung tasnya, dan menggelengkan kepalanya ketika melihat dua anak yang saling berpegangan tangan menyusuri lorong-lorong kelas dan tersipu malu tatkala beberapa siswa yang berkerumun menyoraki mereka. Indahnya cinta.<br />
&#8220;Mitha,&#8221; sebuah suara menyapanya, &#8220;maaf aku membuatmu menunggu.&#8221; Mitha menoleh dan melihat Gara berlari-lari kecil menghampirinya sambil terengah-engah. &#8220;Ah, ngga apa-apa kok.&#8221; jawabnya sambil lalu, toh ia menikmati suasana ini.<br />
&#8220;Yuk.&#8221; Gara menggamit lengannya dan menggandengnya menuju parkiran sepeda motor di depan sekolah.</p>
<p>Mitha membiarkan angin menyibak rambutnya saat sepeda motor Gara menelusuri jalan raya menuju ke rumahnya. Tangannya terjulur memeluk pinggang Gara erat-erat, tangannya yang lain memegangi helm yang menutupi kepalanya supaya tidak terbawa oleh angin saat mereka melaju. Mendadak Gara memelankan laju sepeda motornya.<br />
&#8220;Mitha,&#8221; Gara berkata lembut, &#8220;kita cari tempat untuk ngobrol yuk.&#8221;<br />
Mitha mendesah mengiyakan dan merasakan kegalauan yang sejak kemarin mengamuk di hatinya semakin menjadi-jadi.</p>
<p>Gara membelokkan sepeda motornya memasuki sebuah gang kecil, menelusuri jalanan sempit itu, dan berhenti di pekarangan sebuah rumah kecil yang rindang ditumbuhi pepohonan. Mitha semakin kacau. Gara menurunkan penopang sepeda motornya, menunggu sampai Mitha turun, dan melangkah ke arah teras rumah. Mitha menggenggam tali tasnya erat-erat, mencoba mengusir galau hatinya dan mengikuti langkah Gara. Mitha mendudukkan dirinya di atas kursi taman di depan Gara duduk, menatap lurus ke ujung-ujung sepatunya.</p>
<p>Mitha memejamkan matanya mendengar setiap kata-kata penjelasan Gara. Air mata mulai mendesak keluar dari kantung matanya. &#8220;Maafkan aku,&#8221; desis Gara. Ah, mungkin kata-kata itulah yang paling banyak dilatihnya semalaman supaya bisa diucapkannya saat ini. &#8220;Aku mau pulang,&#8221; Mitha akhirnya berbisik lirih. &#8220;Aku antar ya?&#8221; Gara bangkit berdiri dari kursinya. &#8220;Thanks, tapi aku sebaiknya pulang sendiri,&#8221; Mitha mengeraskan hatinya, tak ingin kelihatan cengeng di depan Gara. Gara memandang punggung Mitha yang berjalan menyusuri pekarangan dan menghilang di balik pagar, Gara menendang meja tamunya, merasakan nyeri di ujung kakinya dan di dalam hatinya.</p>
<p>Mitha merasakan hatinya sedikit tenang saat kakinya melangkah semakin jauh dari rumah Gara, Mitha menolehkna kepalanya, menatap atap rumah itu yang menyembul di atas pepohonan. Tak ada lagi Gara yang manis, yang membelai rambutnya dengan lembut, membuatnya tertawa riang, yang ada hanyalah angin yang menghembus sepoi, menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan cinta yang telah empat tahun terjalin di antara mereka.<br />
Mitha tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatapnya bertanya-tanya selama perjalanan pulang di dalam angkutan umum itu, yang diinginkannya saat ini adalah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, membenamkan kepalanya di dalam bantal dan berteriak sekuat-kuatnya melepaskan beban di hatinya.</p>
<p>Kota X, sehari menjelang lebaran</p>
<p>&#8220;Tiga&#8230;dua&#8230;satu&#8230;&#8221; Ray mengikuti detak jam dinding di atas kepalanya. Tepat pada hitungan kesatu Ray mengangkat tangannya, menopang tubuhnya, menggoyangkan kepalanya, dan memandang kegelapan ruang di sekelilingnya.<br />
Matanya menangkap geliatan tubuh telanjang di sampingnya, bibirnya menyunggingkan senyuman nakal. Ray membungkukkan tubuhnya, menggigit kecil daun telinga gadis di sebelahnya dan berbisik, &#8220;I love you..&#8221;.<br />
Gadis di sampingnya hanya mengeluh pendek, ketidak acuhan itu cukup untuk mengusik ego Ray. Tangannya terjulur menyusup ke balik kain sprei, memeluk si gadis dari belakang, menemukan, meraba, dan meremas payudara si gadis di sampingnya, membuat si gadis terbangun dan menggeliat, &#8220;Ray&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Ssshh&#8230;enak begini,&#8221; desis Ray di telinga si gadis. Ray mengangkat paha kanannya, memeluk pinggul si gadis dengan kakinya, menurunkan pinggulnya dan menyusupkan batang penisnya di lipatan paha si gadis. Si gadis mendesah kecil dan membuka pahanya. Ray membenamkan hidungnya di rambut si gadis, menciumi aroma segarnya, dan menggerak-gerakkan pinggulnya, menggesekkan penisnya di bibir vagina si gadis. Telapak tangannya meremas dan memijat payudara si gadis, membuat si gadis terengah-engah dalam kenikmatan yang diberikannya. Ray mendesis dan tertawa lirih saat si gadis menjerit kecil ketika ujung penisnya menusuk liang vagina si gadis. Ray menikmati kegusaran gadis itu yang secara impresif membalikkan tubuhnya dan berusaha menamparnya. Ray memegang pergelangan tangan si gadis, mengecup bibirnya, &#8220;Sakit ya? Kasihan deh.&#8221; Dan merasakan tangan si gadis melemas, membalas ciumannya dan melumat bibirnya.<br />
Ray memandang jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul empat pagi.<br />
&#8220;Ah, puasa terakhirpun kulewatkan,&#8221; desahnya. Ray bangkit dari tempat tidur dan memunguti bajunya yang berserakan, mengenakannya, dan mengecup bibir Enni dari pinggir tempat tidur sebelum melangkah menuju jendela. Maling. Dan tuduhan itu membuatnya geli.</p>
<p>CHAPTER I</p>
<p>Pantai Z, lebaran kedua, pukul 03.00 pagi</p>
<p>&#8220;Tapi, Ray, aku masih susah untuk melupakannya.&#8221;<br />
Ray menatap mata sendu Mitha dalam-dalam, memandang kearah pasang yang mulai terlihat surut, menghisap rokoknya dalam-dalam, &#8220;Walau bagaimanapun, yang namanya cinta, memang cenderung berakhir menyakitkan, menorehkan luka kenangan yang sulit dilupakan, karena di situlah letak karasteristik sebuah perasaan cinta.&#8221;<br />
&#8220;Ah, tapi ada kan yang cintanya tetap kekal dan membawa kebahagiaan?&#8221;<br />
Ray mengembangkan senyumnya, membuang puntung rokok yang masih setengah panjangnya itu jauh-jauh ke pasir pantai, &#8220;Jangan mengacaukan cinta dengan kasih.&#8221; Mitha mengikuti gerakan puntung rokok yang melayang lalu padam setelah mencapai permukaan pasir, &#8220;Maksud kamu?&#8221;<br />
Ray bangkit berdiri, menggosokkan telapak tangannya yang terasa dingin ke pahanya, membersihkan butir-butir pasir yang menempel, &#8220;Kasih, tidak terbawa oleh nafsu, karena itu ia abadi adanya. Tetapi cinta lekat dengan nafsu, nafsu ingin memiliki, ingin mengikat, menguasai, memuaskan, dan egoisme adalah inti utama dari cinta,&#8221; sampai di sini Ray menghela nafasnya, berusaha menimbulkan kesan dalam pada setiap ucapannya, &#8220;dan bukankah itu yang selalu disenandungkan orang-orang dalam lagu-lagu mereka? Pernahkah mereka membicarakan tentang kasih? Kasih yang tidak menuntut, hanya memberi, berlandaskan pengorbanan, tidak cemburu, murah hati, dan sebagainya seperti yang pernah engkau pelajari?&#8221;<br />
Mitha mengalihkan pandangannya dari Ray ke arah pantai, &#8220;Kamu tahu banyak, Ray,&#8221; gumamnya, &#8220;dan mungkin kau benar.&#8221; Ray tertawa, melompat kecil ke belakang Mitha, memegang pundaknya dan memijat perlahan, &#8220;Kau mengerti sekarang?&#8221;<br />
&#8220;Tujuh puluh lima persen,&#8221; senyum Mitha menikmati pijatan Ray. Ray mencium pipi si gadis dari belakang, berlari menuju mobilnya, membukakan pintu samping dan membungkuk, &#8220;Shall we go?&#8221; Mitha tertawa melihat gayanya yang konyol, menjewer kuping Ray sebelum melangkah masuk ke dalam mobil.</p>
<p>Kota X, awal tahun baru</p>
<p>Mitha merasa bingung dengan dirinya sendiri, menyaksikan Gara yang berlutut memeluk kakinya dan memohonnya kembali adalah bunga mimpinya setiap hari, dan seperti kebanyakan mimpi, Mitha hanya menganggapnya sebagai suatu pelampiasan keinginan perfeksionis yang tidak tercapai di kehidupan nyata. Namun kini&#8230;&#8230;<br />
&#8220;Mitha, aku tak bisa hidup tanpa kamu,&#8221; Gara membenamkan wajahnya di sela-sela kaki gadis yang duduk di hadapannya dan membasahinya.<br />
&#8220;Gara&#8230;..&#8221; Mitha merasakan air mata mulai mengalir di pipinya. Bahkan sampai sekarang aku masih tetap menyayangimu. Mitha membungkukkan tubuhnya, memegang bahu Gara, dan mengecup ubun-ubunnya, &#8220;Bagaimana dengan keluargamu?&#8221; Gara mendekap kaki Mitha lebih erat, &#8220;Persetan dengan mereka.&#8221;</p>
<p>Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 03.15 pagi</p>
<p>&#8220;Alangkah susahnya melupakan cinta pertama.&#8221;<br />
Ray tersenyum, memperhatikan pepohonan yang berlari di sekitarnya, &#8220;Kata orang, cinta pertama dibawa mati, &#8216;tul ngga?&#8221; Mitha menarik nafas panjang, &#8220;Aku tak pernah mencoba membayangkan untuk mengecup bibir seseorang dan menyerupakannya dengan Gara.&#8221;<br />
Ray menggerakkan stirnya ke kanan, menghindari kucing liar yang mendadak melintasi jalan.<br />
&#8220;Bukankah beberapa orang justru melakukannya?&#8221;</p>
<p>Masa-masa kebahagiaan dan kedewasaan</p>
<p>Mitha memperoleh kembali kebahagiaannya yang terenggut saat perpisahannya dengan Gara. Hubungan &#8216;backstreet&#8217; mereka berlangsung seakan begitu sempurna, penuh dengan canda tawa dan keceriaan. Namun Mitha harus rela menempuh hubungan jarak jauh tatkala Ray lebih memutuskan untuk mengikuti amanat orang tuanya sebagai seorang anak tunggal, yaitu dengan berkuliah di Surabaya, sementara Mitha memperoleh PMDK-nya dari sebuah universitas negeri terkemuka di Bandung. Gara berjanji akan menjenguknya sebisa mungkin.<br />
Mitha sadar bahwa Gara bukanlah berasal dari keluarga yang mampu, namun yang diingat dan diinginkannya saat itu adalah bahwa bagaimanapun ia harus mempertahankan hubungan ini sebisa mungkin.<br />
Mitha mengalami berbagai cobaan yang berat selama kuliahnya di Bandung, banyak lelaki yang terpikat oleh kemolekan dan keanggunannya sebagai keturunan putri keraton dan berusaha memikatnya dengan berbagai cara yang luar biasa yang cukup untuk menjatuhkan hati gadis manapun juga. Tapi Mitha masih mampu bertahan dan mengeraskan hatinya, menolak setiap uluran tangan dan godaan yang datang, dan hanya bisa melampiaskannya ketika Gara datang menjenguknya dengan kecintaan dan kerinduannya, membelai tubuhnya dan bercinta di wisma-wisma murah yang berserakan di sekitar kampusnya.</p>
<p>Mitha tumbuh dan berkembang menjadi seorang gadis yang lebih dewasa, dan seiring perkembangannya, Mitha menjadi semakin khawatir akan masa depan hubungan mereka yang semakin kabur semenjak rakyat mulai tersegmentasi oleh kekacauan-kekacauan berbau SARA yang marak di daerah-daerah. Hal inilah yang mampu menahan dan menguatkan dirinya ketika Gara mengendus telinganya di atas kasur murahan dan memohonnya untuk melakukan hubungan suami istri. Keinginan dan hasratnya tertahan oleh ketakutannya sendiri akan masa depan yang kabur itu, dan Gara sepertinya mengerti akan ketakutan itu, mencoba menghormati keputusannya, walaupun terkadang menjadi emosionil ketika hasratnya tak terlampiaskan.</p>
<p>&#8220;Gara, bagaimana dengan kita?&#8221; Mitha mendesah, merasa berat melepaskan kepergian Gara selama dua bulan ke Gresik. Di lain pihak, Mitha sadar posisi Gara yang menjadi harapan satu-satunya sebagai calon tiang penopang perekonomian keluarganya.<br />
Gara memeluk tubuh telanjang Mitha, membisikkan janji-janji indah ke kupingnya, &#8220;Aku akan menyuratimu.&#8221; bisik Gara.<br />
&#8220;Aku akan mencoba bertahan,&#8221; Mitha mendesah lirih.<br />
Gara membungkuk di atasnya, mengecup puting susunya, menindihnya dan meletakkan batang penisnya di bibir vagina gadisnya. Malam itu menjadi milik mereka, namun bagi Mitha, kenyataan itu justru menimbulkan alasan baru untuk segera mengakhiri ketidak pastian cerita cinta mereka. Dan kembali malam itu, Gara merasakan penolakan Mitha saat gadis itu mendorong tubuhnya ke samping, memegang batang penisnya dan memaksa spermanya keluar.</p>
<p>Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 03.45 pagi</p>
<p>Ray merasakan pengaruh caffein itu membuat kantung kemihnya beroperasi lebih cepat. Ray mengurangi laju mobilnya dan menghentikannya di bahu jalan, &#8220;Pipis dulu.&#8221; Mitha melengos dengan perasaan geli, &#8220;Gokil, ah.&#8221; Ray tertawa dan keluar dari mobil.</p>
<p>&#8220;Aku kagum padamu,&#8221; Ray berkata ketika mobil yang mereka tumpangi kembali melaju di atas jalanan hutan. &#8220;Ah, Ray. Aku bukan gadis selemah yang kau kira.&#8221;<br />
&#8220;Mungkin cowokmu yang bego,&#8221; tawa Ray, yang segera meringis ketika kepalan tinju Mitha mendarat di lengan kirinya.<br />
Tawa mereka mengiringi instrumental Richard Clayderman yang mengalun dari tape mobil, menyeruak kegelapan hutan dan kerumunan serangga malam.</p>
<p>CHAPTER II</p>
<p>Ilustrasi Dosa</p>
<p>Gadis itu merintih kecil ketika bibir si Pria menyentuh dan menghisap lebut puting susunya, badannya menggelinjang di atas kasur yang mulai basah oleh keringat. Si Pria memainkan jemarinya di paha si Gadis, membelainya, menelusurinya, menemukan dan membuka lipatan paha si Gadis. Erangan dan keluhan keluar dari bibir si Gadis ketika jemari itu memasuki dan membelai dinding-dinding vaginanya, tangannya terangkat dan memeluk leher si Pria yang kini menjilati seluruh permukaan dadanya. Tangan si Pria terjulur, menuntun pergelangan tangan si Gadis ke arah penisnya, membiarkan jemari si Gadis bermain-main dengan batang penisnya yang menegang, sementara tangannya sendiri kembali menyelip di selangkangan si gadis dan memainkan bibir-bibir vagina si gadis.</p>
<p>Mereka berdua mengeluh, mendesah, dan menggelinjang akan setiap rangsangan yang saling mereka bagi satu dengan lainnya.</p>
<p>Si Pria mengangkat tubuhnya, menatap lurus ke mata si Gadis, mencari-cari jawaban atas permintaan abstraknya, mendesah saat si Gadis menganggukkan kepalanya dengan gerakan samar. Si Pria menurunkan pantatnya perlahan, memegang batang penisnya dengan tangan kanannya, dan menyentuhkan ujung penisnya menyibak bibir vagina si gadis memburu liang kehangatannya. Si Gadis menjerit lirih ketika ujung penis si Pria menusuk dan berusaha membuka jepitan liang vaginanya. Si Pria mengerang tertahan, mendengus, dan menekan penisnya lebih kuat, kepalanya menunduk dan menciumi wajah si Gadis yang mulai basah oleh keringat. Erang kesakitan keluar dari bibir si Gadis saat penis si Pria berhasil menembus selaput daranya, memenuhi liang vaginanya yang terasa berdenyut-denyut. Si Pria membiarkan gerakannya terhenti, meresapi kenikmatan denyut otot liang vagina si Gadis, menciumi lehernya, dadanya, ketiaknya yang bersih.<br />
Kesakitan dan rasa nyeri yang dirasakan si Gadis membuatnya terengah dan mengerang, meronta saat penetrasi batang penis si Pria seakan jarum yang menusuk saraf-saraf sekujur tubuhnya. Si Pria mendengus-dengus, menggerakkan pinggulnya semakin cepat, tidak mengacuhkan geliatan si Gadis dan erangan kesakitannya, mengencangkan otot pinggulnya, dan menarik keluar penisnya sebelum spermanya membanjiri liang vagina si Gadis. Kepala si Pria terangkat, mulutnya mengeluarkan desahan penuh kenikmatan. Si Gadis merasakan otot-otot tubuhnya melemas, merasakan beban yang menindih dadanya saat kepala si Pria menempel di permukaan kulit payudaranya.</p>
<p>Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 04.15 pagi</p>
<p>&#8220;Sssshhh.. hhh&#8230;.&#8221; Ray mengepulkan asap rokok dari tepi bibirnya.<br />
Mitha memandangi langit yang mulai berwarna kebiruan, pertanda matahari akan segera muncul. Beberapa pecari kayu bakar terpaksa meminggirkan sepeda mereka saat mobil yang dikendarai kedua anak manusia itu melaju melintas dengan kecepatan yang cukup untuk menekan udara menggoyangkan sepeda mereka.<br />
&#8220;Ray, benarkah banyak terdapat cowok oportunis di dunia ini?&#8221; Mitha membuyaran kesunyian di antara mereka. Suatu pertanyaan yang merepotkan, pikir Ray saat itu, &#8220;Seandainya saja kebanyakan pria tidak tercipta dengan pemikiran yang lebih kuat dari perasaannya, dan dengan tanpa libido yang luar biasa, mungkin jawabannya adalah tidak.&#8221;<br />
Mitha menghela nafasnya dalam-dalam, matanya masih memndangi pepohonan dari balik jendela di samping tubuhnya. &#8220;Namun,&#8221; Ray meneruskan, &#8220;sekarang semuanya kita kembalikan saja kepada yang dinamakan nafsu. Nafsu mampu membuat segala cahaya menjadi kegelapan, sebaik apapun manusia, apabila nafsu menguasainya&#8230;.&#8221;<br />
&#8220;Aku tahu itu,&#8221; Mitha memotong perkataan Ray.</p>
<p>Bandung, pertengahan Mei</p>
<p>Mitha merasakan kepiluan hatinya saat menyaksikan Gara yang menutupi hidung dan mulutnya dengan kedua telapak tangannya. &#8220;Maafkan aku,&#8221; bahkan Mitha tidak menjadi geli merasakan anekdot ini, selintas ingatannya betapa iapun berusaha menghapalkan perkataan ini sepanjang malam untuk melatih keberaniannya, persis seperti Gara beberapa tahun lalu.<br />
Mitha berusaha mengeraskan hatinya untuk tidak mengakui kebohongannya, berusaha mengalihkan pandangan matanya ke ujung-ujung jemari kakinya.<br />
&#8220;Bunuhlah aku, Gara,&#8221; Mitha terisak, &#8220;karena kelemahanku, apapun asalkan kau merasa puas.&#8221; Mitha mencoba membangkitkan kebencian Gara kepadanya, karena ketidak mampuannya menahan godaan di saat-saat kesepiannya.<br />
Gara menurunkan tangannya, menatap Mitha dengan mata berair, merasakan saraf-sarafnya terbakar di sisi keningnya, menggeram lirih, &#8220;Alangkah ringannya kematian atas luka yang kautorehkan di jangka kepercayaanku.&#8221;<br />
Gara bangkit berdiri, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.</p>
<p>Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 04.35 pagi</p>
<p>&#8220;Mungkin kamu akan menyetujui pendapat bahwa cinta yang bergelimang nafsu akan selalu menuntut kesetimpalan perbuatan apapun yang mengkhianatinya. Bukankah begitu, Ray?&#8221; Mitha memandang Ray yang mencoba memecah konsentrasinya.<br />
&#8220;Kamu membuatku semakin terbawa oleh ceritamu,&#8221; Ray tertawa dan membuang rokok di jepitan jemarinya keluar jendela.</p>
<p>Bandung, pertengahan Mei</p>
<p>&#8220;Gara!&#8221; jeritan lirih itu tak dihiraukannya. Gara memegang tangan Mitha dengan kasar dan menarik gadis itu berdiri, Mitha melihat pandangan mata Gara dibayangi kebencian bercampur dengan air mata, bulu-bulu roma gadis itu berdiri dan adrenalin di sekujur tubuhnya engalir semakin cepat.<br />
Gara menempelkan tubuhnya di tubuh Mitha, menjambak rambut gadis itu dan menarik kepalanya ke belakang, mendesis, &#8220;Terlalu ringan&#8230;.&#8221;<br />
Mitha dapat merasakan hawa kebencian itu menghembus wajahnya.<br />
Gara membalikkan tubuh Mitha, tetap menjambak rambut gadis itu, menekan punggungnya sampai setengah tertelungkup di atas sofa.<br />
&#8220;Gara&#8230;..&#8221; Mitha mulai merasakan kengerian itu memaksa air matanya mengalir lebih deras, sejenak keraguan akan rencananya menyeruak di benaknya, namun akankah sesorang mampu membagi alternatif lain dari kekerdilan pemikirannya saat itu?<br />
Gara menyelipkan tangannya ke balik pakaian Mitha, meremas kasar payudara si gadis, menggeram, &#8220;AKU sekarang&#8230;&#8221; Mitha mengerang kesakitan saat kuku-kuku Gara menancap di kulitnya. Setelah merasa puas meremas, Gara mengeluarkan tangannya dan mengangkat rok Mitha melewati pinggulnya, menarik celana dalam si gadis dengan paksa, membuka kaki Mitha dengan dengkulnya. Mitha merasakan kepiluan dalam dirinya, kenyataan ini adalah yang kemudian disadarinya sebagai konsekuensi yang harus diterimanya dari pengorbanannya sebagai seorang kekasih, membuatnya membatalkan setiap keinginannya untuk meronta dan melepaskan diri.<br />
Gara menyusupkan jemarinya ke selangkangan Mitha, meremas dan menggesek dengan kasar kemaluan si gadis, membuat Mitha meringis menahan rasa sakitnya. Gara menggeram dan menggigit pinggul si gadis dalam-dalam. meninggalkan jejak kemerahan di kulit Mitha yang putih, dan menusukkan telunjuknya ke lubang vagina gadis di bawahnya. Mitha menjerit kesakitan, merasakan setiap kengerian itu menusuk dan mengoyak kemaluannya, namun jeritannya berubah menjadi isak tertahan saat Mitha mengeraskan hatinya kembali dengan menggigit bibirnya dalam-dalam. &#8220;Kamu menyukainya, KAN?&#8221; Gara menggeram, merasa puas akan kepasrahan Mitha. Gara mengeluarkan jarinya dan membuka celananya, mengeluarkan penisnya yang menegang sejak tadi karena rangsangan dari ilusinya atas persetubuhan Mitha dengan si pria itu.</p>
<p>Gara menahan tubuh Mitha dengan sikut kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam batang penisnya, memainkannya seakan ragu akan tindakannya sendiri. Namun hawa kebencian dan imajinasi yang menyakitkan hatinya membuatnya seakan gila. Gara memegang pantat Mitha, membukanya dan menghujamkan penisnya sekuat tenaga ke liang vagina si gadis. Mitha membenamkan mulutnya ke sofa, mengerutkan keningnya dan menjerit sejadi-jadinya, perutnya seakan ditusuk oleh pisau tajam yang mengoyak dan mengguncang otot-otot selangkangannya.</p>
<p>Gara mengerang merasakan kesempitan liang vagina gadis di bawahnya, dan mendesis saat menggerakkan pinggulnya dengan kasar. Mitha merasakan kenyerian yang amat sangat, air matanya membanjiri kain penutup sofa, gadis itu menggigit kain itu sekuat tenaganya, berusaha menyalurkan semua rasa sakit di selangkangannya, tangannya menggapai-gapai dan mencengkeram pergelangan tangan Gara yang menjambak dan menekan kepalanya. Gara menggerakkan pinggulnya semakin cepat, hanyut dalam kenikmatan kebenciannya, &#8220;MAMPUS!&#8221; Gara mengerang dan menekan penisnya dalam-dalam. Mitha menjerit tertahan dari mulutnya yang terkatup, merasakan cairan sperma itu menyembur membasahi saraf-saraf di dinding liang vaginanya. Gara menekan-nekan beberapa saat, menarik keluar batang penisnya yang basah dan berwarna kemerahan, merasa puas membayangkan betapa tindakannya telah menorehkan luka di kemaluan Mitha.<br />
Mitha terisak dalam kenyerian dan kepedihan yang dirasakannya.</p>
<p>Jalanan Hutan dari pantai Z ke kota X, lebaran kedua, pukul 05.05 pagi</p>
<p>Ray menyalakan lagi sebatang marlboro yang sudah terselip di ujung bibirnya.<br />
&#8220;Impulsif dan emosionil,&#8221; Ray mendesis, mengepulkan asap rokok keluar jendela, berusaha untuk menahan emosinya sendiri yang sedikit terhanyut. Rumah-rumah mulai banyak terlihat di pinggir jalan, pertanda bahwa mereka sudah mulai memasuki kota. &#8220;Tapi tepat seperti apa yang kuharapkan darinya.&#8221;<br />
&#8220;Ah?&#8221;</p>
<p>Epilog :</p>
<p>Pasca kejadian</p>
<p>Semenjak kejadian hari itu, Gara tak pernah lagi menghubungi Mitha. Mitha sendiri tidak pernah mencoba untuk mengganggu Gara, bahkan saat Gara diwisuda, Mitha hanya mendengar kabarnya dari salah seorang temannya, dan hanya bisa berdoa bersyukur karena akhirnya cita-cita Gara dan keluarganya tercapai, tanpa gangguan apapun darinya.</p>
<p>Kepuasan Mitha digapainya dengan keberhasilan setiap rencana pengorbanannya untuk keberhasilan Gara, kepuasan menyaksikan kebencian Gara yang mampu membuat lelaki itu melupakannya, kepuasan melihat Gara dan keluarganya berbaikan kembali setelah sekian lama berkutat atas hubungan mereka, kepuasan atas keberhasilan Gara memenuhi tuntutan orang tuanya, dan terutama, kepuasan karena akhirnya ia berhasil menyerahkan keperawanannya kepada satu-satunya orang yang ia kasihi, Gara, walaupun semuanya terasa begitu menyakitkan, dan lebih menyakitkan ketika sudut-sudut matanya menyaksikan linangan air mata di pipi dukun bayi itu saat mengangkat bakal janin dari rahimnya yang kini invalid.</p>
<p>Mitha merasakan hidupnya selesai, hasratnya akan keindahan dan kemolekan keduniawian yang semu di masa depannya lenyap sudah. Namun kematian ini dianggapnya sebagai sebuah kebangkitan hidup baru berwujud penyerahan seluruh jiwa dan raganya ke tangan Penciptanya dalam pelayanannya di sepanjang sisa hidup baru itu. Kenangan akan cintanya yang hanya sekali selamanya merupakan pemicu kedekatannya pada Tuhannya, dan dalam tangis pertobatannya setiap malam, nama Gara adalah satu yang takkan pernah terlewatkan.</p>
<p>Kota X, lebaran kedua</p>
<p>Ray menghentikan mobilnya, memandang matahari yang mulai melewati atap-atap rumah, &#8220;Ahh, tak terasa hari mulai pagi.&#8221; Mitha tersenyum, memutar tubuhnya menghadap Ray, sahabat bermainnya sejak kecil, satu sosok yang diletakkannya di urutan kedua setelah Gara. &#8220;Ray&#8230;&#8221;<br />
Ray membalas pelukan Mitha, merasakan tanggul di kantung matanya hancur, membasahi pundak Mitha dengan air matanya, &#8220;Cengeng ah, aku tidak apa-apa kok.&#8221; Ray membenamkan kepalanya, merasa bingung, karena apapun yang akan dilakukannya tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi. Mitha menepuk punggung Ray, merasakan air matanya sendiri mengalir membasahi baju sahabatnya. &#8220;Jangan lupa kunjungi aku di sana, Ray.&#8221;<br />
&#8220;Aku takkan melewatkan kesempatan itu, untuk melihat kerudung menghiasi keanggunanmu.&#8221; bisik Ray di telinga Mitha. Mitha tertawa kecil di sela isaknya, &#8220;Perayu bodoh.&#8221;<br />
&#8220;Tetaplah berdoa untukku,&#8221; Mitha mengecup kening Ray,&#8221;terima kasih karena telah mengingatkanku bahwa kasih dan pengorbanan adalah lebih utama daripada cinta.&#8221; Mitha menghapus air mata yang mengalir di pipi sahabatnya dengan ibu jarinya, merasakan kasih sayang seperti seorang ibu kepada anaknya, seperti seorang kakak kepada adik kesayangannya. &#8220;Selalu.&#8221; Ray menjawab lirih, enggan melepas kepergian Mitha dan kehangatan kenangan persahabatan mereka yang sebulan berikutnya tidak akan dapat terulang seperti dulu lagi.<br />
Ray mengamati Mitha yang keluar dari mobilnya, melangkah membuka pagar rumahnya, dan melambaikan tangan mengiringi tekanan kakinya pada pedal gas di bawahnya.</p>
<p>Ray menghentikan mobilnya beberapa meter kemudian, melompat turun, menghapus air mata yang mengalir kembali di pipinya, melambaikan tanganya dan berteriak,&#8221;Selamat Natal, Mitha!!&#8221;<br />
Mitha berlari kecil keluar pagar, meletakkan telapak tangannya di sisi pipinya.<br />
&#8220;Selamat Lebaran, Ray!!&#8221;</p>
<p>Persahabatan dan kasih, adalah harta yang tak ternilai harganya.</p>
<p>THE END</p>
<p>Mungkinkah kejadian di atas terjadi? Ah, siapapun takkan menyangkal apabila nafsu yang berwujud emosi akan berubah menjadi tangan-tangan setan yang menghalalkan segala tindakan untuk pemuasannya. Dan hal ini dirasakan dan telah diperhitungkan secara matang oleh sahabatku, Mitha. Aku kagum dengan pola pikirnya dan perencanaannya yang brilian, dan aku terharu akan kasihnya yang begitu dalam kepada Gara. Rasa malu sangat kurasakan ketika aku berkotbah tentang pengorbanan kasih kepada Mitha, sementara pada kenyataannya, ia lebih mengerti daripada aku yang hanya berteori. Pengalaman ini ingin kubagi bersama para pembaca, karena mungkin pembaca dapat memetik beberapa point yang dianggap paling berkesan dari pengakuan ini.</p>
<p>Aku? Aku sudah melakukannya&#8230;.<br />
Tobat? Entahlah&#8230;.</p>
<p>Yang kutahu aku langsung menelepon Rani begitu sampai di rumah, membangunkannya, dan mengatakan bahwa aku sangat MENGASIHI-nya. Semoga bukan teori.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kisah-cinta-di-bangku-sekolahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Seorang Istri yang Dirayu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/saya-seorang-istri-yang-dirayu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/saya-seorang-istri-yang-dirayu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/saya-seorang-istri-yang-dirayu.html</guid>
		<description><![CDATA[Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini. Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama saya Diana. Saya sedang bingung sekali saat ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Karenanya saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman hidup saya yang baru saya hadapi baru-baru ini.</p>
<p>Saya berumur 27 tahun. Saya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak satu. Saya menikah dengan seorang pria bernama Niko. Niko adalah suami yang baik. Kami hidup berkecukupan. Niko adalah seorang pengusaha yang sedang meniti karir.</p>
<p>Karena kesibukannya, dia sering pergi keluar kota. Dia kasihan kepada saya yang tinggal sendiri dirumah bersama anak saya yang berusia 2 tahun. Karenanya ia lantas mengajak adiknya yang termuda bernama Roy yang berusia 23 tahun untuk tinggal bersama kami. Roy adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah PTS. Kehidupan rumah tangga saya bahagia, hingga peristiwa terakhir yang saya alami.</p>
<p>Selama kami menikah kehidupan seks kami menurut saya normal saja. Saya tidak tahu apa yang dimaksud dengan orgasme. Tahulah, saya dari keluarga yang kolot. Memang di SMA saya mendapat pelajaran seks, tetapi itu hanya sebatas teori saja. Saya tidak tahu apa yang dinamakan orgasme.</p>
<p>Saya memang menikmati seks. Saat kami melakukannya saya merasakan nikmat. Tetapi tidak berlangsung lama. Suami saya mengeluarkan spermanya hanya dalam 5 menit. Kemudian kami berbaring saja. Selama ini saya sangka itulah seks. Bahkan sampai anak kami lahir dan kini usianya sudah mencapai dua tahun. Dia seorang anak laki-laki yang lucu.</p>
<p>Di rumah kami tidak mempunyai pembantu. Karenanya saya yang membersihkan semua rumah dibantu oleh Roy. Roy adalah pria yang rajin. Secara fisik dia lebih ganteng dari suami saya. Suatu ketika saat saya membersihkan kamar Roy, tidak sengaja saya melihat buku Penthouse miliknya. Saya terkejut mengetahui bahwa Roy yang saya kira alim ternyata menyenangi membaca majalah &#8216;begituan&#8217;.</p>
<p>Lebih terkejut lagi ketika saya membaca isinya. Di Penthouse ada bagian bernama Penthouse Letter yang isinya adalah cerita tentang fantasi ataupun pengalaman seks seseorang. Saya seorang tamatan perguruan tinggi juga yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik.</p>
<p>Saya tidak menyangka bahwa ada yang namanya oral seks. Dimana pria me&#8217;makan&#8217; bagian yang paling intim dari seorang wanita. Dan wanita melakukan hal yang sama pada mereka. Sejak saat itu, saya sering secara diam-diam masuk ke kamar Roy untuk mencuri-curi baca cerita yang ada pada majalah tersebut.</p>
<p>Suatu ketika saat saya sibuk membaca majalah itu, tidak saya sadari Roy datang ke kamar. Ia kemudian menyapa saya. Saya malu setengah mati. Saya salting dibuatnya. Tapi Roy tampak tenang saja. Ketika saya keluar dari kamar ia mengikuti saya.</p>
<p>Saya duduk di sofa di ruang TV. Ia mengambil minum dua gelas, kemudian duduk disamping saya. Ia memberikan satu gelas kepada saya. Saya heran, saya tidak menyadari bahwa saya sangat haus saat itu. Kemudian ia mengajak saya berbicara tentang seks. Saya malu-malu meladeninya. Tapi ia sangat pengertian. Dengan sabar ia menjelaskan bila ada yang masih belum saya ketahui.</p>
<p>Tanpa disadari ia telah membuat saya merasa aneh. Excited saya rasa. Kini tangannya menjalari seluruh tubuh saya. Saya berusaha menolak. Saya berkata bahwa saya adalah istri yang setia. Ia kemudian memberikan argumentasi bahwa seseorang baru dianggap tidak setia bila melakukan coitus. Yaitu dimana sang pria dan wanita melakukan hubungan seks dengan penis pada liang kewanitaan.</p>
<p>Ia kemudian mencium bagian kemaluan saya. Saya mendorong kepalanya. Tangannya lalu menyingkap daster saya, sementara tangan yang lain menarik lepas celana dalam saya. Ia lalu melakukan oral seks pada saya. Saya masih mencoba untuk mendorong kepalanya dengan tangan saya. Tetapi kedua tangannya memegang kedua belah tangan saya. Saya hanya bisa diam. Saya ingin meronta, tapi saya merasakan hal yang sangat lain.</p>
<p>Tidak lama saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya alami seumur hidup saya. Saya mengerang pelan. Kemudian dengan lembut menyuruhnya untuk berhenti. Ia masih belum mau melepaskan saya. Tetapi kemudian anak saya menangis, saya meronta dan memaksa ingin melihat keadaan anak saya. Barulah ia melepaskan pegangannya. Saya berlari menemui anak saya dengan beragam perasaan bercampur menjadi satu.</p>
<p>Ketika saya kembali dia hanya tersenyum. Saya tidak tahu harus bagaimana. Ingin saya menamparnya kalau mengingat bahwa sebenarnya ia memaksa saya pada awalnya. Tetapi niat itu saya urungkan. Toh ia tidak memperkosa saya. Saya lalu duduk di sofa kali ini berusaha menjaga jarak. Lama saya berdiam diri.</p>
<p>Ia yang kemudian memulai pembicaraan. Katanya bahwa saya adalah seorang wanita baru. Ya, saya memang merasakan bahwa saya seakan-akan wanita baru saat itu. Perasaan saya bahagia bila tidak mengingat suami saya. Ia katakan bahwa perasaan yang saya alami adalah orgasme. Saya baru menyadari betapa saya telah sangat kehilangan momen terindah disetiap kesempatan bersama suami saya.</p>
<p>Hari kemudian berlalu seperti biasa. Hingga suatu saat suami saya pergi keluar kota lagi dan anak saya sedang tidur. Saya akui saya mulai merasa bersalah karena sekarang saya sangat ingin peristiwa itu terulang kembali. Toh, ia tidak berbuat hal yang lain.</p>
<p>Saya duduk di sofa dan menunggu dia keluar kamar. Tapi tampaknya dia sibuk belajar di kamar. Mungkin dia akan menghadapi mid-test atau semacamnya. Saya lalu mencari akal supaya dapat berbicara dengannya. Saya kemudian memutuskan untuk mengantarkan minuman kedalam kamar.</p>
<p>Disana ia duduk di tempat tidur membaca buku kuliahnya. Saya katakan supaya dia jangan lupa istirahat sambil meletakkan minuman diatas meja belajarnya. Ketika saya permisi hendak keluar, ia berkata bahwa ia sudah selesai belajar dan memang hendak istirahat sejenak. Ia lalu mengajak saya ngobrol. Saya duduk ditempat tidur lalu mulai berbicara dengannya.</p>
<p>Tidak saya sadari mungkin karena saya lelah seharian, saya sambil berbicara lantas merebahkan diri diatas tempat tidurnya. Ia meneruskan bicaranya. Terkadang tangannya memegang tangan saya sambil bicara. Saat itu pikiran saya mulai melayang teringat kejadian beberapa hari yang lalu.</p>
<p>Melihat saya terdiam dia mulai menciumi tangan saya. Saat saya sadar, tangannya telah berada pada kedua belah paha saya, sementara kepalanya tenggelam diantara selangkangan saya. Oh, betapa nikmatnya. Kali ini saya tidak melawan sama sekali. Saya menutup mata dan menikmati momen tersebut.</p>
<p>Nafas saya semakin memburu saat saya merasakan bahwa saya mendekati klimaks. Tiba-tiba saya merasakan kepalanya terangkat. Saya membuka mata bingung atas maksud tujuannya berhenti. Mata saya terbelalak saat memandang ia sudah tidak mengenakan bajunya. Mungkin ia melepasnya diam-diam saat saya menutup mata tadi.</p>
<p>Tidak tahu apa yang harus dilakukan saya hanya menganga saja seperti orang bodoh. Saya lihat ia sudah tegang. Oh, betapa saya ingin semua berakhir nikmat seperti minggu lalu. Tangan kirinya kembali bermain diselangkangan saya sementara tubuhnya perlahan-lahan turun menutupi tubuh saya.</p>
<p>Perasaan nikmat kembali bangkit. Tangan kanannya lalu melolosi daster saya. Saya telanjang bulat kini kecuali bra saya. Tangan kirinya meremasi buah dada saya. Saya mengerang sakit. Tangan saya mendorong tangannya, saya katakan apa sih maunya. Dia hanya tersenyum.</p>
<p>Saya mendorongnya pelan dan berusaha untuk bangun. Mungkin karena intuisinya mengatakan bahwa saya tidak akan melawan lagi, ia meminggirkan badannya. Dengan cepat saya membuka kutang saya, lalu rebah kembali. Ia tersenyum setengah tertawa. Dengan sigap ia sudah berada diatas tubuh saya kembali dan mulai mengisapi puting susu saya sementara tangan kanannya kembali memberi kehidupan diantara selangkangan saya dan tangan kirinya mengusapi seluruh badan saya.</p>
<p>Selama kehidupan perkawinan saya dengan Niko, ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini saat kami melakukan hubungan seks. Seakan-akan seks itu adalah buka, mulai, keluar, selesai. Saya merasakan diri saya bagaikan mutiara dihadapan Roy.</p>
<p>Kemudian Roy mulai mencium bibir saya. Saya balas dengan penuh gairah. Sekujur tubuh saya terasa panas sekarang. Kemudian saya rasakan alatnya mulai mencari-cari jalan masuk. Dengan tangan kanan saya, saya bantu ia menemukannya. Ketika semua sudah pada tempatnya, ia mulai mengayuh perahu cinta kami dengan bersemangat.</p>
<p>Kedua tangannya tidak henti-hentinya mengusapi tubuh dan dada saya. Saya hanya bisa memejamkan mata saya. Aduh, nikmatnya bukan kepalang. Tangannya lalu mengalungkan kedua tangan saya pada lehernya. Saya membuka mata saya. Ia menatap mata saya dengan sejuta arti. Kali ini saya tersenyum. Ia balas tersenyum. Mungkin karena gemas melihat saya, bibirnya lantas kembali memagut.</p>
<p>Oh, saya merasakan waktunya telah tiba. Kedua tangan saya menarik tubuhnya agar lebih merapat. Dia tampaknya mengerti kondisi saya saat itu. Ini dibuktikannya dengan mempercepat laju permainan. Ahh, saya mengerang pelan. Kemudian saya mendengar nafasnya menjadi berat dan disertai erangan saya merasakan kemaluan saya dipenuhi cairan hangat.</p>
<p>Sejak saat itu, saya dan dia selalu menunggu kesempatan dimana suami saya pergi keluar kota untuk dapat mengulangi perbuatan terkutuk itu. Betapa nafsu telah mengalahkan segalanya. Setiap kali akan bercinta, saya selalu memaksanya untuk melakukan oral seks kepada saya. Tanpa itu, saya tidak dapat hidup lagi. Saya benar-benar memerlukannya.</p>
<p>Dia juga sangat pengertian. Walaupun dia sedang malas melakukan hubungan seks, dia tetap bersedia melakukan oral seks kepada saya. Saya benar-benar merasa sangat dihargai olehnya.</p>
<p>Ceritanya dulu suami saya Niko punya komputer. Kemudian oleh Roy disarankan agar berlangganan internet. Menurutnya juga dapat dipakai untuk berbisnis. Suami saya setuju saja. Pernah Roy melihat saya memandangi Niko saat dia menggunakan internet, kemudian dia tanya kepada saya, apa saya kepingin tahu.</p>
<p>Niko yang mendengar lalu menyuruh Roy untuk mengajari saya menggunakan komputer dan internet. Pertama-tama saya suka karena banyak yang menarik. Hanya tinggal tekan tombol saja. Bagus sekali. Tetapi saya mulai bosan karena saya kurang mengerti mau ngapain lagi.</p>
<p>Saat itulah Roy lalu menunjukkan ada yang namanya Newsgroup di internet. Saat pertama kali baca saya terkejut sekali. Banyak berita dan pendapat yang menarik. Tetapi waktu saya tidak terlalu banyak. Saya harus mengurus anak saya. Dia baru dua tahun. Saya sayang sekali kepadanya. Kalau sudah tersenyum dapat menghibur saya walaupun dalam keadaan sedih.</p>
<p>Saya tidak mengerti program ini. Hanya Roy ajarkan kalau mau menulis tekan tombol ini. Terus begini, terus begini, dan seterusnya. Tetapi saya tidak cerita-cerita sama dia kalau kemarin saya sudah kirim berita ke Newsgroup. Takut dia marah sama saya. Saya hanya bingung mau cerita sama siapa. Masalahnya saya benar-benar sudah terjerumus. Saya tidak tahu bagaimana harus menghentikannya.</p>
<p>Kini saya bagaikan memiliki dua suami. Saya diperlakukan dengan baik oleh keduanya. Saya tahu suami saya sangat mencintai saya. Saya juga sangat mencintai suami saya. Tetapi saya tidak bisa melupakan kenikmatan yang telah diperkenalkan oleh Roy kepada saya.</p>
<p>Suami saya tidak pernah curiga sebab Roy tidak berubah saat suami saya ada di rumah. Tetapi bila Niko sudah pergi keluar kota, dia memperlakukan saya sebagaimana istrinya. Dia bahkan pernah memaksa untuk melakukannya di kamar kami. Saya menolak dengan keras. Biar bagaimana saya akan merasa sangat bersalah bila melakukannya ditempat tidur dimana saya dan Niko menjalin hubungan yang berdasarkan cinta.</p>
<p>Saya katakan dengan tegas kepada Roy bahwa dia harus menuruti saya. Dia hanya mengangguk saja. Saya merasa aman sebab dia tunduk kepada seluruh perintah saya. Saya tidak pernah menyadari bahwa saya salah. Benar-benar salah.</p>
<p>Suatu kali saya disuruh untuk melakukan oral seks kepadanya. Saya benar benar terkejut. Saya tidak dapat membayangkan apa yang harus saya lakukan atas &#8216;alat&#8217;nya. Saya menolak, tetapi dia terus memaksa saya. Karena saya tetap tidak mau menuruti kemauannya, maka akhirnya ia menyerah.</p>
<p>Kejadian ini berlangsung beberapa kali, dengan akhir dia mengalah. Hingga terjadi pada suatu hari dimana saat saya menolak kembali dia mengancam untuk tidak melakukan oral seks kepada saya. Saya bisa menikmati hubungan seks kami bila dia telah melakukan oral seks kepada saya terlebih dahulu.</p>
<p>Saya tolak, karena saya pikir dia tidak serius. Saya berpikir bahwa dia masih menginginkan seks sebagaimana saya menginginkannya. Ternyata dia benar-benar melakukan ancamannya. Dia bahkan tidak mau melakukan hubungan seks lagi dengan saya. Saya bingung sekali. Saya membutuhkan cara untuk melepaskan diri dari kerumitan sehari-hari. Bagi saya, seks merupakan alat yang dapat membantu saya menghilangkan beban pikiran.</p>
<p>Selama beberapa hari saya merasa seperti dikucilkan. Dia tetap berbicara dengan baik kepada saya. Tetapi setiap kali saya berusaha mengajaknya untuk melakukan hubungan seks dia menolak. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya berusaha semampu saya untuk merayunya, tetapi dia tetap menolak.</p>
<p>Saya bingung, apa saya tidak cukup menarik. Wajah saya menurut saya cukup cantik. Pada masa-masa kuliah, banyak sekali teman pria saya yang berusaha mencuri perhatian saya. Teman wanita saya bilang bibir saya sensual sekali. Saya tidak mengerti bibir sensual itu bagaimana. Yang saya tahu saya tidak ambil pusing untuk hal-hal seperti itu.</p>
<p>Saya tidak diijinkan terlalu banyak keluar rumah oleh orang tua saya kecuali untuk keperluan les ataupun kursus. Saya orangnya supel dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Mungkin hal ini yang (menurut saya pribadi)menyebabkan banyak teman pria yang mendekati saya.</p>
<p>Sesudah melahirkan, saya tetap melanjutkan aktivitas senam saya. Dari sejak masa kuliah saya senang senam. Saya tahu saya memiliki tubuh yang menarik, tidak kalah dengan yang masih muda dan belum menikah. Kulit saya putih bersih, sebab ibu saya mengajarkan bagaimana cara merawat diri.</p>
<p>Bila saya berjalan dengan suami saya, selalu saja pria melirik kearah saya. Suami saya pernah mengatakan bahwa dia merasa sangat beruntung memiliki saya. Saya juga merasa sangat beruntung memiliki suami seperti dia. Niko orangnya jujur dan sangat bertanggung jawab. Itu yang sangat saya sukai darinya. Saya tidak hanya melihat dari fisik seseorang, tetapi lebih dari pribadinya.</p>
<p>Tetapi Roy sendiri menurut saya sangatlah ganteng. Mungkin itu pula sebabnya, banyak teman wanitanya yang datang kerumah. Katanya untuk belajar. Mereka biasa belajar di teras depan rumah kami. Roy selain ganteng juga pintar menurut saya. Tidaklah sulit baginya untuk mencari wanita cantik yang mau dengannya.</p>
<p>Saya merasa saya ditinggalkan. Roy tidak pernah mengajak saya untuk melakukan hubungan seks lagi. Dia sekarang bila tidak belajar dikamar, lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman-teman wanitanya. Saya kesepian sekali dirumah. Untung masih ada anak saya yang paling kecil yang dapat menghibur.</p>
<p>Hingga suatu saat saya tidak dapat menahan diri lagi. Malam itu, saat Roy masuk ke kamarnya setelah menonton film, saya mengikutinya dari belakang. Saya katakan ada yang perlu saya bicarakan. Anak saya sudah tidur saat itu. Dia duduk di tempat tidurnya. Saya bilang saya bersedia melakukannya hanya saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat.</p>
<p>Dengan gesit dia membuka seluruh celananya dan kemudian berbaring. Dia katakan bahwa saya harus menjilati penisnya dari atas hingga bawah. Walaupun masih ragu-ragu, saya lakukan seperti yang disuruh olehnya. Penisnya mendadak &#8216;hidup&#8217; begitu lidah saya menyentuhnya. Kemudian saya disuruh membasahi seluruh permukaan penisnya dengan menggunakan lidah saya.</p>
<p>Dengan bantuan tangan saya, saya jilati semua bagian dari penisnya sebagaimana seorang anak kecil menjilati es-krim. Tidak lama kemudian, saya disuruh memasukkan penisnya kedalam mulut saya. Saya melonjak kaget. Saya bilang, dia sendiri tidak memasukkan apa apa kedalam mulutnya saat melakukan oral seks kepada saya, kenapa saya harus dituntut melakukan hal yang lebih.</p>
<p>Dia berkata bahwa itu disebabkan karena memang bentuk genital dari pria dan wanita berbeda. Jadi bukan masalah apa-apa. Dia bilang bahwa memang oral seks yang dilakukan wanita terhadap pria menuntut wanita memasukkan penis pria kedalam mulutnya. Sebenarnya saya juga sudah pernah baca dari majalah-majalah Penthouse miliknya, saya hanya berusaha menghindar sebab saya merasa hal ini sangatlah tidak higienis.</p>
<p>Karena khawatir saya tidak memperoleh apa yang saya inginkan, saya menuruti kemauannya. Kemudian saya disuruh melakukan gerakan naik dan turun sebagaimana bila sedang bercinta, hanya bedanya kali ini, penisnya berada di dalam mulut saya, bukan pada liang senggama saya.</p>
<p>Selama beberapa menit saya melakukan hal itu. Saya perlahan-lahan menyadari, bahwa oral seks tidaklah menjijikkan seperti yang saya bayangkan. Dulu saya membayangkan akan mencium atau merasakan hal-hal yang tidak enak. Sebenarnya hampir tidak terasa apa-apa. Hanya cairan yang keluar dari penisnya terasa sedikit asin. Masalah bau, seperti bau yang umumnya keluar saat pria dan wanita berhubungan seks.</p>
<p>Tangannya mendorong kepala saya untuk naik turun semakin cepat. Saya dengar nafasnya semakin cepat, dan gerakan tangannya menyebabkan saya bergerak semakin cepat juga. Kemudian menggeram pelan, saya tahu bahwa dia akan klimaks, saya berusaha mengeluarkan alatnya dari mulut saya, tetapi tangannya menekan dengan keras. Saya panik. Tidak lama mulut saya merasakan adanya cairan hangat, karena takut muntah, saya telan saja dengan cepat semuanya, jadi tidak terasa apa-apa.</p>
<p>Saat dia sudah tenang, dia kemudian melepaskan tangannya dari kepala saya. Saya sebenarnya kesal karena saya merasa dipaksa. Tetapi saya diam saja. Saya takut kalau dia marah, semua usaha saya menjadi sia-sia saja. Saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi berkumur. Dia bilang bahwa saya memang berbakat. Berbakat neneknya, kalau dia main paksa lagi saya harus hajar dia.</p>
<p>Sesudah nafasnya menjadi tenang, dia melakukan apa yang sudah sangat saya tunggu-tunggu. Dia melakukan oral seks kepada saya hampir 45 menit lebih. Aduh nikmat sekali. Saya orgasme berulang-ulang. Kemudian kami mengakhirinya dengan bercinta secara ganas.</p>
<p>Sejak saat itu, oral seks merupakan hal yang harus saya lakukan kepadanya terlebih dahulu sebelum dia melakukan apa-apa terhadap saya. Saya mulai khawatir apakah menelan sperma tidak memberi efek samping apa-apa kepada saya. Dia bilang tidak, malah menyehatkan. Karena sperma pada dasarnya protein. Saya percaya bahwa tidak ada efek samping, tetapi saya tidak percaya bagian yang &#8216;menyehatkan&#8217;. Hanya saya jadi tidak ambil pusing lagi.</p>
<p>Tidak lama berselang, sekali waktu dia pulang kerumah dengan membawa kado. Katanya untuk saya. Saya tanya apa isinya. Baju katanya. Saya gembira bercampur heran bahwa perhatiannya menjadi begitu besar kepada saya. Saat saya buka, saya terkejut melihat bahwa ini seperti pakaian dalam yang sering digunakan oleh wanita bila dipotret di majalah Penthouse. Saya tidak tahu apa namanya, tapi saya tidak bisa membayangkan untuk memakainya.</p>
<p>Dia tertawa melihat saya kebingungan. Saya tanyakan langsung kepadanya sebenarnya apa sih maunya. Dia bilang bahwa saya akan terlihat sangat cantik dengan itu. Saya bilang &#8220;No way&#8221;. Saya tidak mau dilihat siapapun menggunakan itu. Dia bilang bahwa itu sekarang menjadi &#8216;seragam&#8217; saya setiap saya akan bercinta dengannya.</p>
<p>Karena saya pikir toh hanya dia yang melihat, saya mengalah. Memang benar, saat saya memakainya, saya terlihat sangat seksi. Saya bahkan juga merasa sangat seksi. Saya menggunakannya di dalam, dimana ada stockingnya, sehingga saya menggunakan pakaian jeans di luar selama saya melakukan aktivitas dirumah seperti biasa. Efeknya sungguh di luar dugaan saya. Saya menjadi, apa itu istilahnya, horny sekali.</p>
<p>Saya sudah tidak tahan menunggu waktunya tiba. Dirinya juga demikian tampaknya. Malam itu saat saya melucuti pakaian saya satu persatu, dia memandangi seluruh tubuh saya dengan sorot mata yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kami bercinta bagaikan tidak ada lagi hari esok.</p>
<p>Sejak saat itu, saya lebih sering lagi dibelikan pakaian dalam yang seksi olehnya. Saya tidak tahu dia mendapatkan uang darimana, yang saya tahu semua pakaian ini bukanlah barang yang murah. Lama-kelamaan saya mulai khawatir untuk menyimpan pakaian ini dilemari kami berdua (saya dan Niko) sebab jumlahnya sudah termasuk banyak. Karenanya, pakaian ini saya taruh di dalam lemari Roy.</p>
<p>Dia tidak keberatan selama saya bukan membuangnya. Katanya, dengan pakaian itu kecantikan saya bagai bidadari turun dari langit. Pakaian itu ada yang berwarna hitam, putih maupun merah muda. Tetapi yang paling digemari olehnya adalah yang berwarna hitam. Katanya sangat kontras warnanya dengan warna kulit saya sehingga lebih membangkitkan selera.</p>
<p>Saya mulai menikmati hal-hal yang diajarkan oleh Roy kepada saya. Saya merasakan semua bagaikan pelajaran seks yang sangat berharga. Ingin saya menunjukkan apa yang telah saya ketahui kepada suami saya. Sebab pada dasarnya, dialah pria yang saya cintai. Tetapi saya takut bila dia beranggapan lain dan kemudian mencium perbuatan saya dan Roy.</p>
<p>Saya tidak ingin rumah tangga kami hancur. Tetapi sebaliknya, saya sudah tidak dapat lagi meninggalkan tingkat pengetahuan seks yang sudah saya capai sekarang ini.</p>
<p>Suatu ketika, Roy pulang dengan membawa teman prianya. Temannya ini tidak seganteng dirinya, tetapi sangat macho. Pada mukanya masih tersisa bulu-bulu bekas cukuran sehingga wajahnya sedikit terlihat keras dan urakan. Roy memperkenalkan temannya kepada saya yang ternyata bernama Bari.</p>
<p>Kami ngobrol panjang lebar. Bari sangat luas pengetahuannya. Saya diajak bicara tentang politik hingga musik. Menurut penuturannya Bari memiliki band yang sering main dipub. Ini dilakukannya sebagai hobby serta untuk menambah uang saku. Saya mulai menganggap Bari sebagai teman.</p>
<p>Bari semakin sering datang kerumah. Anehnya, kedatangan Bari selalu bertepatan dengan saat dimana Niko sedang tidak ada dirumah. Suatu ketika saya menemukan mereka duduk diruang tamu sambil meminum minuman yang tampaknya adalah minuman keras. Saya menghampiri mereka hendak menghardik agar menjaga kelakuannya.</p>
<p>Ketika saya dekati ternyata mereka hanya minum anggur. Mereka lantas menawarkan saya untuk mencicipinya. Sebenarnya saya menolak. Tetapi mereka memaksa karena anggur ini lain dari yang lain. Akhirnya saya coba walaupun sedikit. Benar, saya hanya minum sedikit. Tetapi tidak lama saya mulai merasa mengantuk. Selain rasa kantuk, saya merasa sangat seksi.</p>
<p>Karena saya mulai tidak kuat untuk membuka mata, Roy lantas menyarankan agar saya pergi tidur saja. Saya menurut. Roy lalu menggendong saya ke kamar tidur. Saya heran kenapa saya tidak merasa malu digendong oleh Roy dihadapan Bari. Padahal Bari sudah tahu bahwa saya sudah bersuami. Saya tampaknya tidak dapat berpikir dengan benar lagi.</p>
<p>Kata Roy, kamar saya terlalu jauh, padahal saya berat, jadi dia membawa saya ke kamarnya. Saya menolak, tetapi dia tetap membawa saya ke kamarnya. Saya ingin melawan tetapi badan rasanya lemas semua. Sesampainya dikamar, Roy mulai melucuti pakaian saya satu persatu. Saya mencoba menahan, karena saya tidak mengerti apa tujuannya. Karena saya tidak dalam kondisi sadar sepenuhnya, perlawanan saya tidak membawa hasil apa apa.</p>
<p>Kini saya berada diatas tempat tidur dengan keadaan telanjang. Roy mulai membuka pakaiannya. Saya mulai merasa bergairah. Begitu dirinya telanjang, lidahnya mulai bermain-main didaerah selangkangan saya. Saya memang tidak dapat bertahan lama bila dia melakukan oral seks terhadap saya. Saya keluar hanya dalam beberapa saat. Tetapi lidahnya tidak kunjung berhenti. Tangannya mengusapi payudara saya. Kemudian mulutnya beranjak menikmati payudara saya.</p>
<p>Kini kami melakukannya dalam &#8216;missionary position&#8217;. Begitulah istilahnya kalau saya tidak salah ingat pernah tertulis dimajalah-majalah itu. Ah, nikmat sekali. Saya hampir keluar kembali. Tetapi ia malah menghentikan permainan. Sebelum saya sempat mengeluarkan sepatah katapun, tubuh saya sudah dibalik olehnya. Tubuh saya diangkat sedemikian rupa sehingga kini saya bertumpu pada keempat kaki dan tangan dalam posisi seakan hendak merangkak.</p>
<p>Sebenarnya saya ingin tiduran saja, saya merasa tidak kuat untuk menopang seluruh badan saya. Tetapi setiap kali saya hendak merebahkan diri, ia selalu mengangkat tubuh saya. Akhirnya walaupun dengan susah payah, saya berusaha mengikuti kemauannya untuk tetap bangkit. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam liang kewanitaan saya. Tangannya memegang erat pinggang saya, lalu kemudian mulai menggoyangkan pinggangnya. Mm, permainan dimulai kembali rupanya.</p>
<p>Kembali kenikmatan membuai diri saya. Tanpa saya sadari, kali ini, setiap kali dia menekan tubuhnya kedepan, saya mendorong tubuh saya kebelakang. Penisnya terasa menghunjam-hunjam kedalam tubuh saya tanpa ampun yang mana semakin menyebabkan saya lupa diri.</p>
<p>Saya keluar untuk pertama kalinya, dan rasanya tidak terkira. Tetapi saya tidak memiliki maksud sedikitpun untuk menghentikan permainan. Saya masih ingin menggali kenikmatan demi kenikmatan yang dapat diberikan olehnya kepada saya. Roy juga mengerti akan hal itu. Dia mengatur irama permainan agar bisa berlangsung lama tampaknya.</p>
<p>Sesekali tubuhnya dibungkukkannya kedepan sehingga tangannya dapat meraih payudara saya dari belakang. Salah satu tangannya melingkar pada perut saya, sementara tangan yang lain meremasi payudara saya. Saat saya menoleh kebelakang, bibirnya sudah siap menunggu. Tanpa basa-basi bibir saya dilumat oleh dirinya.</p>
<p>Saya hampir mencapai orgasme saya yang kedua saat dia menghentikan permainan. Saya bilang ada apa, tetapi dia langsung menuju ke kamar mandi. Saya merasa sedikit kecewa lalu merebahkan diri saya ditempat tidur. Jari tangan saya saya selipkan dibawah tubuh saya dan melakukan tugasnya dengan baik diantara selangkangan saya. Saya tidak ingin&#8217;mesin&#8217; saya keburu dingin karena kelamaan menunggu Roy.</p>
<p>Tiba-tiba tubuh saya diangkat kembali. Tangannya dengan kasar menepis tangan saya. Iapun dengan langsung menghunjamkan penisnya kedalam tubuh saya. Ah, kenapa jadi kasar begini. Belum sempat saya menoleh kebelakang, ia sudah menarik rambut saya sehingga tubuh saya terangkat kebelakang sehingga kini saya berdiri pada lutut saya diatas tempat tidur.</p>
<p>Rambut saya dijambak kebelakang sementara pundaknya menahan punggung saya sehingga kepala saya menengadah keatas. Kepalanya disorongkan kedepan untuk mulai menikmati payudara saya. Dari mulut saya keluar erangan pelan memintanya untuk melepaskan rambut saya. Tampaknya saya tidak dapat melakukan apa-apa walaupun saya memaksa. Malahan saya mulai merasa sangat seksi dengan posisi seperti ini.</p>
<p>Semua ini dilakukannya tanpa berhenti menghunjamkan dirinya kedalam tubuh saya. Saya merasakan bahwa penisnya lebih besar sekarang. Apakah ia meminum semacam obat saat dikamar mandi? Ah, saya tidak peduli, sebab saya merasakan kenikmatan yang teramat sangat.</p>
<p>Yang membuat saya terkejut ketika tiba-tiba dua buah tangan memegangi tangan saya dari depan. Apa apaan ini? Saya mulai mencoba meronta dengan sisa tenaga yang ada pada tubuh saya. Kemudian tangan yang menjambak saya melepaskan pegangannya. Kini saya dapat melihat bahwa Roy berdiri diatas kedua lututnya diatas tempat tidur dihadapan saya.</p>
<p>Jadi, yang saat ini menikmati saya adalah&#8230; Saya menoleh kebelakang. Bari! Bari tanpa membuang kesempatan melumat bibir saya. Saya membuang muka, saya marah sekali, saya merasa dibodohi. Saya melawan dengan sungguh-sungguh kali ini. Saya mencoba bangun dari tempat tidur. Tetapi<br />
Bari menahan saya. Tangannya mencengkeram pinggang saya dan menahan saya untuk berdiri. Sementara itu Roy memegangi kedua belah tangan saya. Saya sudah ingin menangis saja.</p>
<p>Saya merasa diperalat. Ya, saya hanya menjadi alat bagi mereka untuk memuaskan nafsu saja. Sekilas teringat dibenak saya wajah suami dan anak saya. Tetapi kini semua sudah terlambat. Saya sudah semakin terjerumus.</p>
<p>Roy bergerak mendekat hingga tubuhnya menekan saya dari depan sementara Bari menekan saya dari belakang. Dia mulai melumat bibir saya. Saya tidak membalas ciumannya. Tetapi ini tidak membuatnya berhenti menikmati bibir saya. Lidahnya memaksa masuk kedalam mulut saya. Tangan saya dilingkarkannya pada pinggangnya, sementara Bari memeluk kami bertiga.</p>
<p>Saya mulai merasakan sesak napas terhimpit tubuh mereka. Tampaknya ini yang diinginkan mereka, saya bagaikan seekor pelanduk di antara dua gajah. Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar disekujur tubuh saya. Perasaan tidak berdaya saat bermain seks ternyata mengakibatkan saya melambung di luar batas imajinasi saya sebelumnya. Saya keluar dengan deras dan tanpa henti. Orgasme saya datang dengan beruntun.</p>
<p>Tetapi Roy tidak puas dengan posisi ini. Tidak lama saya kembali pada &#8216;dog style position&#8217;. Roy menyorongkan penisnya kebibir saya. Saya tidak mau membuka mulut. Tetapi Bari menarik rambut saya dari belakang dengan keras. Mulut saya terbuka mengaduh. Roy memanfaatkan kesempatan ini untuk memaksa saya mengulum penisnya.</p>
<p>Kemudian mereka mulai menyerang tubuh saya dari dua arah. Dorongan dari arah yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada diarah lainnya semakin menghunjam. Saya hampir tersedak. Roy yang tampaknya mengerti kesulitan saya mengalah dan hanya diam saja. Bari yang mengatur segala gerakan.</p>
<p>Tidak lama kemudian mereka keluar. Sesudah itu mereka berganti tempat. Permainan dilanjutkan. Saya sendiri sudah tidak dapat menghitung berapa banyak mengalami orgasme. Ketika mereka berhenti, saya merasa sangat lelah. Walupun dengan terhuyung-huyung, saya bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian saya seadanya dan pergi ke kamar saya.</p>
<p>Di kamar saya masuk ke dalam kamar mandi saya. Di sana saya mandi air panas sambil mengangis. Saya tidak tahu saya sudah terjerumus kedalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diri saya, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun setiap saya teringat kejadian itu, saya merasa basah pada selangkangan saya.</p>
<p>Malam itu, saat saya menyiapkan makan malam, Roy tidak berbicara sepatah katapun. Bari sudah pulang. Saya juga tidak mau membicarakannya. Kami makan sambil berdiam diri.</p>
<p>Sejak saat itu, Bari tidak pernah datang lagi. Saya sebenarnya malas bicara kepada Roy. Saya ingin menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak suka dengan caranya menjebak saya. Tetapi bila ada suami saya saya memaksakan diri bertindak biasa. Saya takut suami saya curiga dan bertanya ada apa antara saya dan Roy.</p>
<p>Hingga pada suatu kesempatan, Roy berbicara bahwa dia minta maaf dan sangat menyesali perbuatannya. Dikatakannya bahwa &#8216;threesome&#8217; adalah salah satu imajinasinya selama ini. Saya mengatakan kenapa dia tidak melakukannya dengan pelacur. Kenapa harus menjebak saya. Dia bilang bahwa dia ingin melakukannya dengan &#8216;someone special&#8217;.</p>
<p>Saya tidak tahu harus ngomong apa. Hampir dua bulan saya melakukan mogok seks. Saya tidak peduli kepadanya. Saya membalas perbuatannya seperti saat saya pertama kali dipaksa untuk melakukan oral seks kepadanya.</p>
<p>Selama dua bulan, ada saja yang diperbuatnya untuk menyenangkan saya. Hingga suatu waktu dia membawa makanan untuk makan malam. Saya tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Hanya pada saat saya keluar, diatas meja sudah ada lilin. Saat saya duduk, dia mematikan sebahagian lampu sehingga ruangan menjadi setengah gelap.</p>
<p>Itu adalah &#8216;candle light dinner&#8217; saya yang pertama seumur hidup. Suami saya tidak pernah cukup romantis untuk melakukan ini dengan saya. Malam itu dia kembali minta maaf dan benar-benar mengajak saya berbicara dengan sungguh-sungguh. Saya tidak tahu harus bagaimana.</p>
<p>Saya merasa saya tidak akan pernah memaafkannya atas penipuannya kepada saya. Hanya saja malam itu begitu indah sehingga saya pasrah ketika dia mengangkat saya ke kamar tidurnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/saya-seorang-istri-yang-dirayu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selingkuh vs. Selingkuh</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/selingkuh-vs-selingkuh.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/selingkuh-vs-selingkuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 21:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=809</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu yaitu ketika masih umur 22 tahun dan masih kuliah di tahun ke-tiga. Dalam libur Natal selama seminggu, sepupu jauhku (anak dari sepupu mamaku) dari Semarang datang berkunjung ke sini untuk menghadiri undangan pernikahan sekalian mengisi liburan. Namanya Yessica, dia lebih muda dua tahun dariku dan sedang kuliah tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini terjadi dua tahun yang lalu yaitu ketika masih umur 22 tahun dan masih kuliah di tahun ke-tiga. Dalam libur Natal selama seminggu, sepupu jauhku (anak dari sepupu mamaku) dari Semarang datang berkunjung ke sini untuk menghadiri undangan pernikahan sekalian mengisi liburan. Namanya Yessica, dia lebih muda dua tahun dariku dan sedang kuliah tahun kedua di sebuah PTS di kotanya. Setelah lama tidak bertemu, hampir tujuh tahunan aku sendiri agak pangling ketika menjemputnya di bandara, soalnya penampilannya sudah jauh berbeda. Dia yang dulunya pemalu dan konservatif kini telah menjadi seorang gadis belia yang modis dan mempesona setiap pria, tubuhnya putih langsing dengan perut rata, rambutnya juga hitam panjang seperti gadis Sunsilk. Dia tiba di sini sekitar pukul tujuh malam, dari bandara aku langsung mengajaknya makan malam di sebuah kafe. Ternyata dia enak juga diajak ngobrol karena kami sama-sama cewek gaul, padahal waktu kecil dulu kami tidak terlalu cocok karena waktu itu dia agak tertutup.</p>
<p>Keesokan harinya aku mengajaknya jalan-jalan menikmati kota Jakarta serta sempat berkenalan dengan Ratna dan cowoknya yang kebetulan bertemu waktu lagi shopping di TA. Royal juga saudaraku yang satu ini, belanjaannya banyak dan semuanya bermerk, aku saja sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Malamnya sepulang dari undangan yang diadakan di sebuah restoran mewah di ibukota, aku langsung menjatuhkan diri ke kasur setelah melepaskan gaun pestaku dan menyisakan celana dalam pink saja. Aku rebahan bugil di ranjang merenggangkan otot-ototku sambil menunggu Yessica yang sedang memakai kamar mandi, dia tadi minum alkohol lumayan banyak, kemungkinan dia muntah-muntah di dalam sana kali pikirku.</p>
<p>&#8220;Yes, sekalian ambilin kaos gua di gantungan baju di dalam dong,&#8221; pintaku ketika dia keluar limabelas menit kemudian, matanya nampak sayu karena pengaruh alkohol dan kelelahan.</p>
<p>Dia memberikan kaos itu padaku lalu memintaku membantu melepaskan kait belakang gaun malamnya. Setelah memakai kaos, aku membuka kait dan menurunkan resleting gaunnya. Yessica pun memeloroti gaunnya sehingga nampaklah dadanya yang montok, ukurannya tidak beda jauh dengan milikku, cuma putingnya lebih kecil sedikit dari punyaku. Hanya dengan bercelana dalam G-string dia berjongkok di depan kopornya mencari pakaian tidur.</p>
<p>&#8220;Kenapa Ci? Kok ngeliatin gua terus, jangan-jangan lu..?&#8221; katanya nyengir karena merasa kulihat terus tubuhnya sambil membanding-bandingkan dengan tubuhku.<br />
&#8220;Yee.. Nggak lah yaw!! Dasar negative thinking aja lo ah!&#8221; ujarku sambil tertawa.</p>
<p>Malam itu, sambil berbaring kami ngobrol-ngobrol, pembicaraan kami cukup seru dari masalah fashion, kuliah, cinta dan sex sehingga bukannya tertidur, kami malah larut dalam obrolan dan canda-tawa. Terlebih lagi ketika memasuki topik seks dan aku menceritakan secara gamblang kehidupan seksku yang liar, dia terkagum-kagum akan keliaranku dan kelihatannya dia juga terangsang.</p>
<p>Namun ketika gilirannya bercerita, suasana jadi serius, di sini dia menceritakan dirinya sedang ribut besar dengan pacarnya yang selingkuh dengan cewek lain, aku dengan penuh perhatian mendengarnya curhat padaku. Nampak matanya berkaca-kaca dan setetes air mata menetes dari matanya yang sipit, dia memeluk bantal lalu menangis tersedu-sedu dibaliknya. Sebagai wanita yang sama-sama pernah dikhianati pria, aku juga mengerti perasaannya, maka kurangkul dia dan kuelus-elus punggungnya untuk menenangkannya. Aku berusaha keras menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan dan memberikan air putih padanya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian tangisnya mulai mereda, dengan masih sesegukan dia memanggil namaku.</p>
<p>&#8220;Hh-mm.. Apa?&#8221;<br />
&#8220;Ci, tadi lu bilang lu pernah bikin film bokep pribadi kan ya<br />
&#8220;Mm.. Iya, so what?&#8221; jawabku sambil mengangguk.<br />
&#8220;Boleh gua liat nggak, hitung-hitung penghilang stress.. Boleh ya?&#8221;<br />
&#8220;Ehh.. Eh.. Gimana ya? Sekarang?&#8221; aku bingung karena risih juga kalau film pribadiku dilihat orang lain.</p>
<p>Akhirnya karena didesak terus dan mengingat sama-sama cewek ini, akupun menyerah. Kunyalakan komputer di seberang ranjangku dan mengambil VCD-nya yang kusimpan di lemari. Yessica adalah orang pertama di luar geng-ku yang pernah menonton vcd ini. Gambar di layar komputer memperlihatkan diriku sedang dikerjai para tukang bangunan, serta adegan seks massal dimana Verna juga belakangan ambil bagian didalamnya membuat jantung kami berdebar-debar. Yessica nyengir-nyengir ketika melihatku yang tadinya berontak akhirnya takluk dan menikmati diperkosa oleh empat kuli bangunan itu.</p>
<p>&#8220;Hi&#8230; hi&#8230; hi&#8230; Malu-malu mau nih yee!&#8221; godanya yang kutanggapi dengan mencubit pahanya.</p>
<p>Aku merasakan vaginaku becek setelah menonton film yang kubintangi sendiri itu, kurasa hal yang sama juga dialami oleh Yessica karena waktu nonton tadi dia sering menggesek-gesekkan pahanya.</p>
<p>&#8220;Ci, gua juga mau dong bikin bokep pribadi kaya lu&#8221; pintanya yang membuatku kaget.<br />
&#8220;Ngaco lu, jangan yang nggak-nggak ah, nanti gua dibilang ngerusak anak orang lagi, nambah-nambah dosa gua aja!&#8221; aku menolaknya.<br />
&#8220;Aahh.. Ayolah Ci, lagian gua juga sudah nggak perawan ini, sudah basah jadi tanggung sekalian aja mandi&#8221;<br />
&#8220;Jangan Yes, gua nggak enak ke lu&#8221;<br />
&#8220;Ayolah, gua cuma mau ngebales aja kok, Napoleon juga membalas berselingkuh waktu tahu istrinya selingkuh, itu baru adil, ya kan&#8221; katanya sok sejarah.<br />
&#8220;Ya.. illah.. Napoleon aja sampai dibawa-bawa, kalaupun gua mau, bikinnya sama siapa, cowoknya mana?&#8221;<br />
&#8220;Di villa aja Ci, penjaga villa lu masih kerja di sana kan? Sekali-kali gua mau coba gimana rasanya kontol kampung nih, please&#8221;</p>
<p>Karena didesak terus dan dia sendiri yang minta, maka akupun terpaksa menyetujuinya, lagian aku sendiri sudah lama tidak berkunjung ke sana, pasti Pak Joko dan Taryo senang apalagi aku ke sana membawa &#8216;barang baru&#8217;.</p>
<p>Kami tidur sekitar jam duabelas dan bangun jam delapan pagi. Setelah sarapan, kami mengemasi barang bawaan, lalu pamit pada mamaku memberitahukan bahwa kami akan ke villa. Aku memakai baju untuk suasana rileks berupa halter neck merah yang memperlihatkan punggungku dipadu dengan celana pendek jeans yang ketat. Yessica memakai gaun terusan mini yang menggantung sejengkal di atas lutut, rambutnya yang panjang diikat ke belakang dengan jepit rambut Tare Panda. Kami berangkat dari Jakarta sekitar jam sepuluh dan tiba di tujuan jam satu lebih, gara-gara liburan yang menyebabkan jalan agak macet.</p>
<p>&#8220;Sudah siap lu Yes? Kalau mau berubah pikiran belum telat sekarang, tapi kalau mereka sudah ngerjain lu, gua nggak bisa apa-apa lagi&#8221; tanyaku ketika sudah mau dekat.<br />
&#8220;I&#8217;m ready for it, lagian gua juga mau tahu rasanya diperkosa itu kaya apa&#8221; katanya yakin.</p>
<p>Kamipun sampai ke villaku, Pak Joko membuka pintu garasi beberapa saat setelah kubunyikan klakson.</p>
<p>&#8220;Waduh Neng, sudah lama kok nggak ke sini.. Bapak kangen nih!&#8221; sapanya menyambut kami.<br />
&#8220;Iya Pak.. habis Citra sibuk banget sih di Jakarta, kalau libur baru bisa main,&#8221; kataku, &#8220;O.. Iya Pak, kenalin itu sepupu Citra, namanya Yessica&#8221;</p>
<p>Pak Joko terkagum-kagum memandang Yessica yang baru saja turun dari mobil, Yessica juga mengangguk dan tersenyum padanya. Kusuruh Yessica meletakkan dulu tasnya di kamar sementara kami mengeluarkan barang, setelah dia masuk, Pak Joko berbicara dengan suara pelan padaku.</p>
<p>&#8220;Eh.. Neng, Neng Yessica itu boleh dientot apa nggak, habis nge-gemesin banget sih, ayunya itu loh&#8221;<br />
&#8220;Idih, Bapak jorok ah.. Dateng-dateng langsung mikirnya gitu&#8221;<br />
&#8220;Duh, maaf-maaf Neng kalau nggak boleh, Bapak khilaf Neng&#8221;<br />
&#8220;Nggak kok Pak, Bapak nggak salah, justru dia yang ngajak ke sini minta digituin, malah minta disyuting lagi Pak, Bapak mau kan disyuting, tenang aja Pak buat koleksi pribadi kok&#8221;</p>
<p>Pria setengah baya itu menunjukkan ekspresi senang mendengar jawabanku, dia langsung bergegas mau menemui Yessica untuk langsung mulai. Tapi buru-buru kutahan dengan menarik lengannya.</p>
<p>&#8220;Eh.. Sabar-sabar Pak nanti dulu dong, kita harus cari suasana dulu biar lebih hot, lagian kita lapar nih mau makan siang dulu, Bapak sekalian ikut makan aja yah&#8221; kataku sambil menyerahkan sekotak ayam goreng KFC dan menyuruhnya menyiapkan nasi.<br />
&#8220;O iya Pak, si Taryo ada nggak? Mau manggil dia juga nih&#8221; tanyaku pada Pak Joko yang sedang beres-beres.<br />
&#8220;Wah kurang tahu tuh Neng, telepon aja dulu&#8221;</p>
<p>Aku pun lalu menelepon vila sebelah, baru kujawab teleponnya setelah beberapa kali di sana bilang &#8216;halo.. Halo.. Siapa ini?&#8217; untuk mengenali suaranya. Setelah yakin itu suara Taryo aku lalu mengundangnya ke sini dan mengutarakan maksudku. Tentu dia senang sekali ditawari seperti itu, tapi dia cuma bisa menemani hari ini saja karena dia bilang besok siang majikannya mau datang berlibur. Ketika kututup telepon, dibelakangku Yessica baru saja turun dari tangga lantai atas.</p>
<p>&#8220;Ngapain aja lu, lama amat beresin barang, yuk makan dulu, lapar nih!&#8221; kataku.<br />
&#8220;Duh sori tadi sakit perut, kepaksa setor dulu ke WC deh&#8221;</p>
<p>Aku memberi usul bagaimana kalau kita makan di taman belakang dekat kolam renang saja, mumpung cuaca juga bagus, juga kusuruh Pak Joko menggelar tikar seperti piknik. Ketika lagi beres-beres bel berbunyi, itu pasti Taryo pikirku. Aku menyuruh Pak Joko meneruskan beres-beres sementara aku ke depan membukakan pintu.</p>
<p>Taryo, si penjaga villa tetangga, muncul di depan pintu dan langsung memelukku begitu pintu kututup. Kami berpelukan dengan bibir saling berpagutan, tangannya mengelusi punggungku turun hingga berhenti di pantat, di sana dia remas bokongku yang montok. Serasa sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan saling melepas rindu saja deh, what.. Taryo jadi kekasihku? Nggak lah yaw.. Just as sex partner!</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Jangan sekarang ah, mau makan dulu, yuk sekalian gua kenalin sama sepupu gua!&#8221; aku melepaskan pelukannya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi mau memelorotkan celanaku.<br />
&#8220;Ehehehe.. habis kangen banget sama neng sih, apalagi neng tambah cantik kalau rambutnya kaya sekarang&#8221; katanya sambil mengomentari rambutku yang sudah lebih panjang dari yang dulu (kini sudah menyentuh bahu) dan kembali kuhitamkan.</p>
<p>Aku memberikan piring dan sendok garpu padanya dan mengajaknya ke taman. Disana Pak Joko dan Yessica juga baru menyendok nasi dan fried chicken ke piringnya. Kami mulai makan dalam suasana santai, obrolan nakal mereka meramaikan suasana, malah sekali aku hampir tersedak karena tertawa. Taryo menenangkan dengan menepuk-nepuk punggungku dan dadaku, ujung-ujungnya tetap meremas payudaraku.</p>
<p>&#8220;Apa sih pegang-pegang malah tambah kesedak tahu!&#8221; omelku sambil menepis tangannya.</p>
<p>Pelan-pelan Yessica mulai terbiasa dengan suasana seperti ini, dengan keudikan kedua orang ini, bahkan dia pun mulai berani jawab waktu ditanya aneh-aneh oleh mereka.</p>
<p>&#8220;Tuh, pahanya satu lagi, habisin aja Pak!&#8221; tawarku.<br />
&#8220;Paha? Mana paha?&#8221; celoteh si Taryo pura-pura bego sementara tangannya meraih pahaku.</p>
<p>Langsung kutampik lagi tangannya dan disambut gelak-tawa. Setelah semua selesai makan limabelas menit kemudian kusuruh Pak Joko dan Taryo membersihkan perangkat makan dan mencucinya dahulu sekalian menunggu makanan di perut turun.</p>
<p>&#8220;Dah nggak risih lagi kan, habis ini kita action nih, siap nggak?&#8221; tanyaku pada Yessica.<br />
&#8220;Siapa takut, lagian gua seneng bisa ngebales si brengsek itu, biar dia tahu cewek juga bisa selingkuh, apalagi gua selingkuhnya sama orang yang nggak pernah dia duga&#8221; tegasnya.<br />
&#8220;Tuh mereka sudah beres Yes, showtime&#8221; kataku melihat kedua penjaga villa itu keluar, &#8220;Pak Joko, tolong handycamnya masih di meja dalam&#8221;</p>
<p>Pak Joko pun masuk lagi dan keluar membawa handycamnya. Kami duduk melingkar di tikar, aku memberi instruksi bak seorang sutradara. Kuperingatkan pada kedua pria itu agar tidak menyentuhku dulu selama aku mensyuting, agar hasilnya maksimal, tidak goyang seperti hasil syuting Verna.</p>
<p>Setelah semua siap, keduanya merapatkan duduk mereka pada Yessica, terlihat dia agak nervous dibuatnya.</p>
<p>&#8220;Santai aja Yes, ntar juga enjoy kok&#8221; saranku.</p>
<p>Kamera kunyalakan, tanpa disuruh lagi keduanya sudah mulai duluan. Pak Joko meletakkan tangannya di paha Yessica yang duduk bersimpuh, tangan itu merabai pahanya secara perlahan dan menyingkap roknya. Taryo di sebelah kanan meremas payudaranya, sepertinya agak keras karena Yessica meringis dan mendesah lebih panjang. Sementara lidahnya menjilati leher jenjang Yessica, ke atas terus menggelikitik kupingnya dan menyapu wajahnya yang mulus.</p>
<p>Tangan Pak Joko sudah masuk ke dalam rok Yessica yang tersingkap, diremasinya kemaluannya yang masih tertutup celana dalam putih tipis yang memperlihatkan bulu kemaluannya. Pria kurus itu juga membuka resleting celananya hingga penisnya yang sudah tegak menyembul keluar, lalu tangan Yessica digenggamkan padanya dan disuruh mengocoknya. Bibir mungilnya dipagut oleh Taryo, mereka berciuman dengan hot, lidah mereka keluar saling jilat dan belit. Sambil berciuman Taryo menurunkan resleting punggung Yessica lalu memeloroti bajunya lewat bahu, juga disuruhnya Pak Joko memeloroti yang sebelah kiri, setelahnya bra-nya mereka lucuti pula. Kini payudara montok saudaraku yang cantik ini terekspos sudah.</p>
<p>Pak Joko langsung mencaplok susu kirinya dengan liar dan ganas, pipinya sampai kempot menyedot benda itu, aku mendekatkan handycam untuk lebih fokus ke momen itu.</p>
<p>&#8220;Gimana Pak? Manis nggak susunya?&#8221; tanyaku sambil mensyuting.<br />
&#8220;Mantap neng, ini baru pas susunya!&#8221; dia melepas sebentar emutannya untuk berkomentar lalu kembali menyusu dan mengorek-ngorek kemaluannya, tangan lainnya mengelusi punggung Yessica.</p>
<p>Taryo masih terus menciuminya, lidahnya terus menyapu rongga mulutnya, begitu pula Yessica juga dengan liar beradu lidah dengannya. Jempol Taryo menggesek-gesek putingnya diselingi pencetan dan pelintiran. Yessica sendiri makin intens mengocoki penis Pak Joko sehingga penjaga villaku ini terpaksa menghentikannya karena tidak mau buru-buru keluar. Kini dia suruh sepupuku merunduk (sehingga posisinya setengah berbaring ke samping) dan mengoral penisnya. Dengan bernafsu, Yessica melayani penis Pak Joko dengan mulut dan lidahnya, mula-mula dia jilati buah pelir dan batangannya dengan pola naik-turun, sampai di kepalanya sengaja dia gelitik dengan lidahnya dan dikulum sejenak. Pemiliknya sampai mengerang-ngerang keenakan sambil meremasi payudaranya yang menggantung.</p>
<p>Taryo menarik gaun itu ke bawah hingga lepas, menyusul celana dalamnya. Setelah menelanjangi Yessica, dia melepaskan bajunya sendiri. Diobok-oboknya vagina Yessica dengan jari-jarinya, liang itu pun semakin becek akibat perbuatannya, cairannya nampak meleleh keluar dan membasahi jarinya.</p>
<p>&#8220;Enngghh.. Uuuhh.. Uhh!&#8221; desah Yessica disela-sela aktivitas menyepongnya.</p>
<p>Kemudian Pak Joko rebahan di tikar dan dia suruh Yessica naik ke wajahnya, rupanya dia mau menjilati vaginanya. Gantian sekarang Taryo yang dikaraoke, penisnya yang hitam berurat dan lebih besar dari Pak Joko dikocok-kocok oleh Yessica yang sedang mengemut pelirnya. Dia menyentil-nyetilkan lidahnya pada lubang kencingnya sehingga Taryo mengerang nikmat.</p>
<p>&#8220;Ayo dong Neng, masukin aja, jangan cuma bikin geli gitu&#8221; kata Taryo sambil menekan penis itu masuk ke mulutnya, lalu wajahnya pun dia tekan dalam-dalam saking tidak sabarnya sehingga mata Yessica membelakak karena sesak. Dia meronta ingin melepaskan benda itu dari mulutnya, tapi tangan Taryo yang kokoh menahan kepalanya.</p>
<p>&#8220;Sudah dong Tar, jangan sadis gitu ah, bisa mati tercekik dia, kontol lu kan gede&#8221; bujukku agar Taryo memberinya sedikit kelegaan.<br />
&#8220;Non Yessicanya seneng kok Neng, tuh buktinya!&#8221; tangkis Taryo memperlihatkan Yessica yang kini malah memaju-mundurkan kepalanya mengoral penisnya, tapi kepalanya tetap dipegangi sehingga tidak bisa lepas.</p>
<p>Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang tengah asyik mengulum penis Taryo, mulutnya penuh terisi oleh batang besar itu sehingga hanya terdengar desahan tertahan. Kemudian kuarahkan ke bawah mengambil adegan Pak Joko sedang melumat vaginanya, dia menjulurkan lidahnya menyapu bibir vaginanya. Tangan kanannya mengelus-elus pantat dan pahanya yang mulus, tangan kirinya dijulurkan ke atas memijati payudaranya.</p>
<p>Ekspresi keenakan Yessica terlihat dari gerak pinggulnya yang meliuk-liuk. Lidah Pak Joko menjilat lebih dalam lagi, dipakainya dua jari untuk membuka bibir vaginanya dan disapunya daerah itu dengan lidahnya. Kemaluannya jadi tambah basah baik oleh ludah maupun cairan vaginanya sendiri. Walaupun terangsang berat aku masih tetap mensyuting mereka sambil sesekali meremas payudaraku sendiri, kemaluanku juga sudah mulai lembab.</p>
<p>&#8220;Emmh.. Emmhh.. Angghh!&#8221; Yessica mendesah tertahan dengan mata merem-melek, tangannya meremasi rambut Pak Joko di bawahnya.</p>
<p>Cairan bening meleleh membasahi vaginanya dan mulut Pak Joko. Pak Joko makin mendekatkan wajahnya ke selangkangannya dan menyedot vaginanya selama kurang lebih lima menit, selama itu tubuh Yessica menggelinjang hebat dan sepongannya terhadap penis Taryo makin bersemangat. Puas menikmati vagina, Pak Joko menarik keluar kepalanya dari kolong Yessica. Dia mengambil posisi duduk dan menaikkan Yessica ke pangkuannya. Tangannya yang satu membuka lebar bibir vaginanya sedangkan yang lain membimbing penisnya memasuki liang itu.</p>
<p>Taryo cukup mengerti keadaannya dengan membiarkan Yessica melepas penisnya yang sedang dioral untuk mengatur posisi dulu. Yessica menurunkan tubuhnya menduduki penis Pak Joko hingga penis itu melesak ke dalamnya diiringi erangan panjang. Pak Joko juga melenguh nikmat akibat jepitan vagina Yessica yang kencang itu. Aku mendekatkan kamera ke selangkangan mereka agar bisa meng-close-up adegan itu. Yessica mulai naik-turun di pangkuannya, payudaranya diremasi dari belakang oleh Pak Joko.</p>
<p>Kembali Taryo memasukkan penisnya ke mulut Yessica yang langsung disambut dengan jilatan dan kuluman. Kurang dari lima belas menit, Taryo sudah mengerang tak karuan sambil menekan kepala Yessica.</p>
<p>&#8220;Hhmmpphh.. Oohh.. Keluar Neng!&#8221; demikian erangnya panjang.</p>
<p>Pipi Yessica sampai kempot mengisapi sperma Taryo, namun hebatnya belum nampak setetespun cairan itu meleleh keluar dari mulutnya, padahal di saat yang sama Pak Joko juga sedang menggenjotnya dari bawah. Hingga erangan Taryo berangsur-angsur mereda, dia pun mulai melepas penis itu dan menjilati sisa-sisa sperma di batangnya. Penis Taryo kelihatan sedikit menyusut setelah menumpahkan isinya.</p>
<p>&#8220;Wuihh.. Gile bener sepongan Neng Yessica nggak kalah dari Neng Citra&#8221; komentarnya.</p>
<p>Kamera kudekatkan ke wajah Yessica yang sedang menjilati sisa-sisa sperma di penis Taryo dengan rakus. Sambil men-charge penisnya, Taryo bermain-main dengan payudara Yessica, kedua bongkahan kenyal itu dia caplok dengan telapak tangannya dan dihisapi bergantian. Kulit payudara yang putih itu sudah memerah akibat cupangan Taryo. Suara erangan sahut-menyahut memanaskan suasana.</p>
<p>Yessica terus menaik-turunkan tubuhnya dengan bersemangat, semakin lama makin cepat dan mulutnya menceracau tak karuan.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Aauuhh.. Aahh!&#8221; lolongnya dengan kepala mendongak ke langit bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang, didekapnya kepala Taryo erat-erat sehingga wajahnya terbenam di belahan payudaranya. Momen indah ini terabadikan melalui handycamku dan terus terang aku sendiri sudah terangsang berat dan ingin segera bergabung, tapi sepertinya belum saatnya, nampaknya mereka berdua sedang getol-getolnya menggarap Yessica sebagai barang baru daripada aku yang sudah sering mereka kerjai.</p>
<p>Yessica ambruk di atas tubuh Pak Joko dengan penis masih tertancap. Pak Joko mendekapnya dan mencumbunya mesra, lidah mereka berpaut dan saling menghisap. Kini Taryo yang senjatanya sudah di reload meminta gilirannya. Pak Joko pun menurunkan Yessica dari tubuhnya dan ke dalam mengambil minum. Kedua pergelangan kaki Yessica dipegangi Taryo lalu dia bentangkan pahanya lebar-lebar. Setelah menaikkan kedua betisnya ke bahu, Taryo menyentuhkan kepala penisnya ke bibir vaginanya.</p>
<p>Walaupun vagina itu sudah basah, tapi karena penis Taryo termasuk besar, lebih besar dari Pak Joko, Yessica meringis dan mengerang kesakitan saat liang senggamanya yang masih rapat diterobos benda hitam itu, tubuhnya tegang sambil meremasi tikar di bawahnya, mungkin dia belum terbiasa dengan penis seperti itu. Taryo sendiri juga mengerang nikmat akibat himpitan dinding vaginanya</p>
<p>&#8220;Uuuhh.. Uhh.. Sempit banget sih, asoy!&#8221; erangnya ketika melakukan penetrasi.</p>
<p>Aku sebagai juru kamera sudah terlalu menghayati sampai tak sadar kalau tangan kiriku menyelinap lewat bawah bajuku dan memijiti payudaraku sendiri, kuputar-putar putingku yang sudah mengeras dari tadi. Taryo mulai menggerakkan penisnya perlahan yang direspon Yessica dengan rintihannya. Pak Joko kembali dari dalam, dia bersimpuh di samping mereka lalu meletakkan tangan Yessica pada penisnya. Dia menikmati penisnya dipijat Yessica sambil meremas payudaranya.</p>
<p>Taryo menaikkan tempo permainannya, disodoknya Yessica sesekali digoyangnya ke kiri dan kanan untuk variasi, tak ketinggalan tangannya meremasi pantatnya yang montok. Yessica semakin menggeliat keenakan, desahannya pun semakin mengekspresikan rasa nikmat bukan sakit. Pak Joko merundukkan badannya agar bisa menyusu dari payudaranya, diemut-emut dan ditariknya puting itu dengan mulutnya.</p>
<p>Sekitar limabelas menit kemudian mereka berganti posisi karena Pak Joko juga sudah mau mencoblos lagi. Kali ini tanpa melepas penisnya Taryo mengangkat tubuh Yessica, dia sendiri membaringkan diri di tikar sehingga Yessica kini diatasnya. Kemudian Pak Joko menyuruhnya agar mengangkat pinggulnya, Yessica lalu mencondongkan badannya ke depan sehingga pantatnya menungging dan payudaranya tepat di atas wajah Taryo.</p>
<p>&#8220;Bapak tusuk di pantat yah Neng, tahan yah kalo agak sakit&#8221; kata Pak Joko meminta ijin.<br />
&#8220;Jangan terlalu kasar yah Pak, saya takut nggak tahan&#8221; kata Yessica dengan suara lemas.<br />
&#8220;Engghh.. Pak!&#8221; erangnya saat Pak Joko memasukkan telunjuknya ke anusnya, lalu dia masukkan juga jari tengahnya sambil diludahi dan digerak-gerakkan untuk melicinkan jalan bagi penisnya.</p>
<p>Setelah merasa cukup, Pak Joko mulai memasukkan barangnya ke sana, kelihatannya cukup susah sehingga dia harus pakai cara tarik ulur, keluarin satu senti masukkan tiga senti sampai menancap cukup dalam dan setelah setengahnya lebih dengan sedikit tenaga dia hujamkan hingga mentok.</p>
<p>&#8220;Akkhh.. Sakit..!!&#8221; erangannya berubah jadi jeritan ketika pantatnya dihujam seperti itu.</p>
<p>Kedua penjaga villa ini bagaikan kuda liar menggarap kedua liang senggama sepupuku, kedua tubuh hitam yang menghimpit tubuh putih mulus itu seperti sebuah daging ham diantara dua roti hangus, mereka sudah bermandikan keringat dan nampak sebentar lagi akan mencapai puncak. Aku sejak tadi sibuk berpindah sana-sini untuk mencari sudut yang bagus.</p>
<p>Yessica mulai mengejang dan mengerang panjang menandai klimaksnya. Tapi kedua penjaga villa itu tanpa peduli terus menggenjotnya hingga beberapa menit kemudian. Mereka mencabut penisnya dan menelentangkan Yessica di tikar. Mereka cukup mengerti permintaan Yessica agar tidak membuang di dalam karena sedang masa subur, Pak Joko menumpahkan ke wajah dan mulutnya, sedangkan Taryo ke perut dan dadanya. Meskipun masih lemas, Yessica tetap menggosokkan sperma itu ke badannya. Ketiganya rebahan dan mengatur kembali nafasnya.</p>
<p>&#8220;Gimana Yes, puas nggak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Aduh Ci.. Lemes banget, kayak nggak bisa bangun lagi rasanya deh!&#8221; jawabnya lemas dengan sisa tenaganya.<br />
&#8220;Gimana Bapak-Bapak, masih kuat nggak? Gua belum dapat nih!&#8221; kataku pada kedua orang itu.<br />
&#8220;Iya ntar Neng, harus isi tenaga dulu nih!&#8221; jawab Pak Joko.<br />
&#8220;Ya sudah istirahat aja dulu, gua mau minum nih haus!&#8221; kataku meninggalkan mereka dan menuju ke dalam.</p>
<p>Aku menuangkan air dingin dari kulkas dan meminumnya. Setelah menutup pintu kulkas dan membalik badan tiba-tiba Taryo sudah di belakangku, kaget aku sampai gelas di tanganku hampir jatuh.</p>
<p>&#8220;Duh.. Ngagetin aja lu Tar, dateng nggak kedengeran gitu kaya setan aja!&#8221; omelku, &#8220;Ngapain? Mo minum?&#8221;</p>
<p>Tanpa berkata-kata dia mengambil gelas yang kusodorkan dan meminumnya. Aku melihat tubuhnya yang telanjang, penisnya dalam posisi setengah tegang, pelirnya menggantung di pangkal pahanya seperti kantung air. Setelah berbasa-basi sejenak aku mendekati dan memeluknya, berpelukan mulut kami mulai saling memagut, lidah bertemu lidah, saling jilat dan saling belit, kugenggam penisnya dan kupijati. Elusannya mulai turun dari punggungku ke bongkahan pantatku yang lalu dia remasi.</p>
<p>Kemudian kuajak dia ke ruang tengah lalu kupersilakan dia duduk di sofa. Aku berdiri di hadapannya dan melepas pakaianku satu persatu hingga tak menyisakan apapun di badanku dengan gerakan erotis. Aku berhenti tepat di depannya yang sedang duduk, nampak dia terbengong-bengong menyaksikan keindahan tubuhku, tangannya merabai paha dan pantatku.</p>
<p>&#8220;Neng cukur jembut yah, jadi rapih deh hehehe..&#8221; komentarnya terhadap bulu kemaluanku yang beberapa hari lalu kurapihkan pinggir-pinggirnya hingga bentuknya memanjang.</p>
<p>Menanggapinya aku hanya tersenyum seraya mendekatkan kemaluanku sejengkal dan sejajar dari wajahnya, seperti yang sudah kuduga, dia langsung melahapnya dengan rakus.</p>
<p>&#8220;Eemmhh.. Yess!&#8221; desahku begitu lidahnya menyentuh vaginaku.</p>
<p>Kurenggangkan kedua pahaku agar lidahnya bisa menjelajah lebih luas. Sapuan lidahnya begitu mantap menyusuri celah-celah kenikmatan pada kemaluanku. Aku mendesah lebih panjang saat lidahnya bertemu klitorisku yang sensitif. Mulutnya kadang mengisap dan kadang meniupkan angin sehingga menimbulkan sensasi luar biasa. Sementara tangannya terus meremas pantatku dan sesekali mencucuk-cucuk duburku. Aku mengerang sambil meremas rambutnya sebagai respon permainan lidahnya yang liar. Puas menjilati vaginaku, dia menyuruhku duduk menyamping di pangkuannya. Dengan liarnya dia langsung mencaplok payudaraku, putingnya dikulum dan dijilat, tangannya menyusup diantara pahaku mengarah ke vagina. Selangkanganku terasa semakin banjir saja karena jarinya mengorek-ngorek lubang vaginaku.</p>
<p>Selain payudaraku, ketiakku yang bersih pun tak luput dari jilatannya sehingga menimbulkan sensasi geli, terkadang dihirupnya ketiakku yang beraroma parfum bercampur keringatku. Tanganku merambat ke bawah mencari penisnya, benda itu kini telah kembali mengeras seperti batu. Kuelusi sambil menikmati rangsangan-rangsangan yang diberikan padaku. Jari-jarinya berlumuran cairan bening dari vaginaku begitu dia keluarkan. Disodorkannya jarinya ke mulutku yang langsung kujilati dan kukulum, terasa sekali aroma dan rasa cairan yang sudah akrab denganku.</p>
<p>Tubuhku ditelentangkan di meja ruang tamu dari batu granit hitam itu setelah sebelumnya dia singkirkan benda-benda diatasnya. Nafasku makin memburu ketika penis Taryo menyetuh bibir vaginaku.</p>
<p>&#8220;Cepet Tar, masukin yang lu dong, nggak tahan lagi nih!&#8221; pintaku sambil membuka pahaku lebih lebar seolah menantangnya.</p>
<p>Karena mejanya pendek, Taryo harus menekuk lututnya setengah berjinjit untuk menusukkan penisnya. Aku menjerit kecil merasa perih akibat cara memasukkannya yang sedikit kasar. Selanjutnya kami larut dalam birahi, aku mengerang sejadi-jadinya sambil menggelengkan kepala atau menggigit jariku. Kini dia berdiri tegak memegangi kedua pergelangan kakiku, sehingga pantatku terangkat dari meja. Payudaraku terguncang-guncang mengikuti irama goyangannya yang kasar.</p>
<p>Dalam waktu duapuluh menit saja aku sudah dibuatnya orgasme panjang sementara dia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.</p>
<p>Sekarang dia merubah posisi dengan menurunkan setengah tubuhku dari meja, dibuatnya aku nungging dengan kedua lututku bertumpu di lantai, tetapi badan atasku masih di atas meja sehingga kedua payudaraku tertekan di sana. Dia kembali menusukku, tapi kali ini dari belakang, posisi seperti ini membuat sodokannya terasa makin deras saja.</p>
<p>Aku ikut menggoyangkan pantatku sehingga terdengar suara badan kami beradu yaitu bunyi plok.. plok.. tak beraturan yang bercampur baur dengan erangan kami. Tak lama kemudian aku kembali orgasme, tubuhku lemas sekali setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatku sudah menetes-netes di meja.</p>
<p>Namun sepertinya Taryo masih belum selesai, nampak dari penisnya yang masih tegang. Aku cuma diangkat dan dibaringkan di sofa, lumayan aku bisa beristirahat sebentar karena dia sendiri katanya kecapekan tapi masih belum keluar. Kami menghimpun kembali tenaga yang tercerai-berai.</p>
<p>&#8220;Yessica sama Pak Joko mana Tar? Kok nggak masuk-masuk?&#8221; tanyaku pelan.<br />
&#8220;Nggak tahu juga Neng, mungkin sudah mulai ngentot lagi di luar, kita lihat aja yuk!&#8221;<br />
&#8220;Oo&#8230; kalo gitu ntar aja deh, masih lemas&#8221;</p>
<p>Namun sebagai jawabannya Taryo malah menggendong tubuhku dan membawaku ke kebun. Di sana Yessica maupun Pak Joko sudah tidak ada lagi yang ada hanya baju mereka yang berceceran di atas tikar. Sayup-sayup terdengar suara desahan tak jauh dari sini, tepatnya dari kolam renang.</p>
<p>Dengan menggendongku, Taryo berbelok ke kanan menuju ke kolam. Di sana kami melihat di kolam daerah dangkal Pak Joko sedang asyik menggenjot sepupuku dari belakang dengan doggy style. Yessica mendesah-desah dan sesekali menjerit kecil menerima sodokan Pak Joko, rambut panjangnya kini basah oleh air dan terurai karena ikat rambutnya sudah dilepas.</p>
<p>&#8220;Neng, kita nyebur juga yuk, biar seger&#8221; ajak Taryo.</p>
<p>Aku menganggukkan kepala menyetujuinya, diapun melangkah turun ke air, di sana tubuhku dia turunkan hingga terendam air. Hmm.. Rasanya dingin dan menyegarkan, sepertinya keletihanku agak terobati oleh air.</p>
<p>&#8220;Masih kuat juga Pak Joko, sejak kapan mulai lagi nih?&#8221; sapa Taryo.<br />
&#8220;Kuat dong, buat neng-neng cantik ini kapan lagi,&#8221; sahut Pak Joko di tengah aktivitasnya.</p>
<p>Air kolam merendamku hingga dada ke atas, aku sandaran pada dinding kolam mengendurkan otot-ototku. Taryo kembali menghampiri dan menghimpit tubuhku. Diciumnya aku dibibir sejenak lalu ciumannya merambat ke telinga dan leher sehingga aku menggeliat geli. Penisnya kugenggam lalu kukocok di dalam air. Dia angkat satu kakiku dan mendekatkan penisnya ke vaginaku. Dengan dibantu tanganku dan dorongan badannya, masuklah penis itu ke vaginaku.</p>
<p>Air semakin beriak ketika dia memulai genjotannya yang berangsur-angsur tambah kencang. Kakiku yang satunya dia angkat sehingga tubuhku melayang di air dengan bersandar pada tepi kolam. Aku menengadahkan wajah menatap langit yang sudah mulai senja dan mengeluarkan desahan nikmat dari mulutku. Mulutnya melumat payudaraku dan mengisapnya dengan gemas membuatku semakin tak karuan.</p>
<p>Aku menoleh ke sebelah untuk melihat Yessica yang berada sekitar lima meter dari kami, sekarang mereka sudah berganti posisi, Yessica duduk di atas pangkuan Pak Joko menggoyang-goyangkan tubuhnya di atas penis Pak Joko yang disaat bersamaan sedang mengenyot payudaranya. Tangan kiri Pak Joko bergerilya mengelusi punggung dan pantatnya. Taryo memang sungguh perkasa, padahal kan sebelumnya dia sudah menggarap Yessica sampai orgasme berkali-kali. Aku sendiri sudah mulai kecapekan dan setengah sadar karena sodokan-sodokan brutalnya. Gesekan-gesekan penisnya dengan dinding vaginaku seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang membuatku gila. Mataku mebeliak-beliak keenakan hingga akhirnya aku klimaks lagi bersamaan dengan Taryo. Spermanya yang hangat mengalir mengisi rahimku.</p>
<p>&#8220;Neng.. Neng keluar nih saya!&#8221; erangnya panjang sambil meringis.</p>
<p>Rasanya sungguh lemas, badan seperti mati rasa, mataku juga makin berat. Mungkin karena kecapaian di perjalanan atau Taryo yang terlalu bersemangat, akupun tak sadarkan diri, padahal jarang sekali aku pingsan setelah bersenggama. Aku masih sempat merasakan diriku digendong Taryo lalu dibaringkan di pinggir kolam, juga menyaksikan Yessica sedang mengoral Pak Joko yang berdiri berkacak pinggang, nampaknya mereka juga sudah mau selesai, tapi entahlah karena aku keburu tidak sadar.</p>
<p>Aku terbangun ketika langit sudah gelap di kamarku, masih telanjang dan terbaring di ranjang. Yessica lah yang membangunkanku dengan mengguncangkan tubuhku. Dia juga masih telanjang, cuma ada kami berdua di kamar ini. Aku mengucek-ngucek mataku sambil menggeliat.</p>
<p>&#8220;Jam berapa Yes?&#8221; tanyaku dengan pelan.<br />
&#8220;Setengah tujuh, mandi yuk, gua juga baru bangun!&#8221; ajaknya.<br />
&#8220;Entar ah, masih lemes sepuluh menit lagi deh!&#8221; jawabku dengan malas dan menarik selimut menutup tubuh bugilku.<br />
&#8220;Ci, handycamnya mana? Lihat dong hasilnya, bagus nggak?&#8221;<br />
&#8220;Mm.. Di ruang tengah kali, terakhir gua taro sana, coba lihat aja&#8221;<br />
&#8220;O iya, Yes.. Sekalian buatin air hangat yah, tinggal buka krannya aja kok, itu otomatis!&#8221; pintaku sebelum dia keluar dari kamar.</p>
<p>Dia kembali tak lama kemudian dengan membawa handycam dan segelas air putih. Kugeser tubuhku duduk bersandar ke ujung ranjang. Dia minta aku menyalakan alat itu karena tidak mengerti. Kami menyaksikan hasil rekamanku tadi melalui layar kecil pada alat itu.</p>
<p>&#8220;Hot juga lu Yes mainnya, bakat jadi bintang bokep nih!&#8221; godaku melihat keliarannya, &#8220;By the way, gimana perasaan lu sesudah ngeliat ini?&#8221;<br />
&#8220;Lega Ci, gua akhirnya bisa juga ngebales cowok brengsek itu, biar tahu rasa dia ceweknya main sama orang-orang kaya gini, putus ya putus, gua dah nggak peduli lagi kok&#8221; katanya berapi-api.<br />
&#8220;Sudah dong jangan nafsu gitu Yes, serem ah liatnya!&#8221; kataku sambil mengelus-elus punggungnya menenangkan.<br />
&#8220;Eh.. Gimana airnya, bisa tumpah nih!&#8221; kataku mendadak baru ingat limabelas menit kemudian gara-gara asyik ngobrol sambil menonton rekaman itu.</p>
<p>Kami buru-buru ke kamar mandi dengan berlari kecil dan benar saja airnya sudah meluap tapi sepertinya belum lama karena lantainya belum terlalu banjir. Terpaksa harus kubuang sedikit airnya, lalu kutaburi buble bath dan mengocoknya hingga berbusa. Kusuruh Yessica agar membawa saja handycamnya ke sini agar bisa nonton sambil berendam. Hhmm.. Segarnya berendam di air hangat berbusa itu, sepertinya segala beban seharian hilang sudah oleh kesegarannya.</p>
<p>Di bathtub kami saling menggosok punggung kami sambil menonton handycam yang diletakkan di tepi bak yang agak lebar, aku juga membantu Yessica mengkramas rambutnya yang panjang itu. Setelah dua puluh menitan kamipun menyelesaikan mandi kami, kuguyur badanku dengan air membersihkan busa-busa yang menempel lalu mengelap badan dengan handuk. Yessica ke kamar dahulu karena aku mau buang air kecil dulu. Aku keluar dari kamar mandi sambil mengikat tali pinggang kimonoku, di ruang tengah aku berpapasan dengan Pak Joko yang juga baru masuk dari pintu yang menuju kolam.</p>
<p>&#8220;Eh Bapak, Taryo mana Pak, kok nggak keliatan?&#8221; sapaku.<br />
&#8220;Oo.. Tadi katanya mau pulang dulu ke rumahnya, ndak tahu deh ngapain,&#8221; jawabnya, &#8220;Tapi nanti katanya mau ke sini lagi sekalian bawain makanan&#8221;</p>
<p>Aku lalu meninggalkannya dan masuk ke kamarku, di sana Yessica yang masih memakai gulungan handuk di kepalanya sedang mengoleskan body lotion pada pahanya. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi, Taryo datang membawa empat bungkus nasi uduk, dia bilang tadi dia menengok istri dan orang tuanya dulu di desa tak jauh dari sini. Kami makan di meja makan, tidak terlalu enak sih, tapi lumayan lah buat sekedar ganjal perut.</p>
<p>Di tengah makan, terdengarlah suara dering HP dari kamarku.</p>
<p>&#8220;HP lu tuh Yes, sana gih terima dulu!&#8221; kataku padanya.</p>
<p>Yessica bergegas ke kamar meninggalkan makannya yang belum habis sementara kami bertiga meneruskan makan. Taryo selesai paling awal, saat itu Yessica masih belum kembali juga, lama juga neleponnya pikirku.</p>
<p>&#8220;Saya panggilin Neng Yessi dulu yah!&#8221; kata Taryo setelah meminum airnya seraya melangkah ke kamarku.</p>
<p>Pak Joko sudah selesai makan, sedangkan aku tidak habis karena nasinya kebanyakan, tak enak pula jadi sisanya kubuang. Kami berdua membereskan sendok-garpu dan gelas ke bak cucian, serta membuang kertas pembungkus ke tempatnya.</p>
<p>&#8220;Yes, ini makannya habisin dulu dong, dingin nanti!&#8221; teriakku padanya, &#8220;Wah jangan-jangan si Taryo dah mulai lagi tuh, habis belum keluar-keluar sih&#8221;</p>
<p>Kami berdua pun segera ke kamarku dan benar juga apa kataku tadi. Taryo sudah telanjang, duduk selonjoran di ranjang dan mendekap Yessica yang duduk membelakanginya bersandar pada tubuhnya. Kimono putih bermotif bunga-bunga kuningnya tersingkap kemana-mana, payudara kirinya yang terbuka dipencet-pencet dan dimainkan putingnya oleh Taryo. Pahanya terbuka lebar dan dipangkalnya tangan Taryo bermain-main diantara kerimbunan bulunya, mengelusi dan mengocok dengan jarinya.</p>
<p>Tak ketinggalan bahu kirinya yang terbuka dicupangi olehnya. Yessica hanya mendesah dengan ekspresi wajah menunjukkan kepasrahan dan rasa nikmat.</p>
<p>Pak Joko yang terangsang sudah mulai grepe-grepe pantatku dan mulai menyingkap bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.</p>
<p>&#8220;Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak&#8221;<br />
&#8220;Ya sudah nggak apa-apa pemanasan aja dulu neng, boleh ya&#8221; jawabnya sambil membuka bajunya sendiri.</p>
<p>Dia menyuruhku jongkok di depan penis hitamnya yang setengah ereksi. Akupun menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidahku, kuawali dengan menjilati hingga basah kepala penisnya, lalu menciumi bagian batangnya hingga pelirnya. Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.</p>
<p>Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh karena teknik oralku. Desahan Yessica tidak terdengar lagi, kulirikan mataku melihatnya, ternyata, keduanya sedang asyik berfrech-kiss. Posisi mereka tidak berubah, Yessica hanya menengokkan kepalanya ke samping saja agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.</p>
<p>Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku, dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di atas. Yessica masih mengenakan kimononya yang sudah terbuka sana-sini memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo sibuk melumat vagina Yessica, klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.</p>
<p>Setelah berdiri Pak Joko memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot, aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali pinggangku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman tangannya menggeser kain yang menyangga pada kedua bahuku maka melorotlah kimono itu, ditubuhku pun sudah tidak menempel apapun lagi.</p>
<p>Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah Yessica dan Taryo yang masih ber-69 kutelungkupkan tubuh telanjangku dan menaruh kepalaku di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat, dari sini dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya. Pak Joko menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.</p>
<p>Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku dia tekuk, lalu dia emuti jari-jari kakiku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan nafasnya terasa dekat wajahku. Leher dan tengukku digelikitik pakai lidahnya, juga telingaku, aku tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini.</p>
<p>Sementara di sebelah kami semakin seru karena Taryo sudah menindih Yessica dan memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali Taryo menyentakkan pinggulnya naik-turun, tangannya kadang meremasi sprei dan kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.</p>
<p>Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja, aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku selalu mendesah:</p>
<p>&#8220;Terus.. Terus.. Jangan pernah stop!&#8221;</p>
<p>Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica yang berada di atas dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas Taryo, diraihnya tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow.. Kali ini dia bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang, di tengah erangannya dia memaki-maki pacarnya yang menyakiti hatinya.</p>
<p>&#8220;Randy anjing.. Ahh.. Lu kira aku uuhh.. nggak bisa.. Nyeleweng apa! Engghh.. Terus Bang.. Entot gua buat ngebales.. Aahh.. Cowok sialan itu!!&#8221;</p>
<p>Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar, otomatis eranganku pun tambah tak karuan, sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat, sementara Pak Joko dia tak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa melepas penisnya dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke pundaknya, dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.</p>
<p>Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh. Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badannya mendapat kuluman Taryo, beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica menggoyangkan tubuhnya dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan mengulumnya lagi.</p>
<p>&#8220;Yahh.. Entot aku Bang.. Sedot susuku sampai puas.. Ahh.. Perlakukan aku sesukamu.. Biar bajingan itu tahu rasa!!&#8221; erangnya terengah-engah melampiaskan dendamnya</p>
<p>Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepalanya ke payudaraku, putingnya ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik, aku merintih dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Sementara situasi di sebelah nampaknya makin seru, kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi permainan dan justru Taryo dibuat ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah ketika mencapai klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser dirinya ke bawah dan menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-melek dan mendesah-desah dibuatnya.</p>
<p>Dalam jangka waktu lima menitan cairan putih kentalnya sudah menyemprot bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah Yessica, Yessica terus mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk ke mulutnya, rambutnya yang panjang itu juga terkena cipratan sperma. Setelah semprotannya reda, dia menjilati sisanya yang masih menetes, kepala penis Taryo yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu, sisanya dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepalanya bersandar di dadanya, keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.</p>
<p>Aku merasakan sebentar lagi giliran aku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.</p>
<p>&#8220;Ayoo.. Pak, terus.. Citra sudah mau..!&#8221; desahku dengan nafas tersenggal-senggal.</p>
<p>Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Dia melepas penisnya dan menurunkan kakiku, spermanya dikeluarkan di dadaku, setelah itu dia ratakan cairan kental itu ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.</p>
<p>Belum habis rasa lelahku, dia sudah tempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruh membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga aku genggam benda itu dan menyapukan lidahku dengan lemas, kujilat bersih dan sisa-sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya kami pun terbaring bersebelahan, keringatku bercucuran dengan deras, dadaku naik-turun dengan cepat karena ngos-ngosan.</p>
<p>&#8220;Ck.. Ck.. Ck.. What a naughty girl you are, Ci!&#8221; terdengar Yessica berkata dari sebelahku.</p>
<p>Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya tersenyum. Kami masih sempat ngobrol-ngobrol beberapa menit sebelum satu-persatu tertidur kecapekan.</p>
<p>Pagi jam sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut, tidak ada siapapun di kamar semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar matahari menerangi kamar ini, dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela, di kolam Yessica sedang berenang sendirian, tanpa sehelai benangpun.</p>
<p>&#8220;Yes.. Ooii!&#8221; sapaku sedikit teriak sambil melambai, &#8220;Mana tuh dua orang itu!?&#8221;</p>
<p>Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai, &#8220;Nggak tahu tuh, kalau Pak Joko tadi lagi nyapu di depan, sini Ci, segar loh renang pagi gini!&#8221;</p>
<p>Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul di sebelah dengan memegang sapu, dia baru masuk ke sini setelah selesai membersihkan halaman depan.</p>
<p>&#8220;Aduh, Bapak, ngagetin aja.. Hampir deh!&#8221; kataku sambil mengelus dada, &#8220;O ya, Taryo hari ini nggak bisa ke sini ya katanya?&#8221;<br />
&#8220;Haduh.. Bapak juga kaget Neng nongolnya mendadak gini.. Taryo ya, tadi pagi dia pulang ke kampungnya lagi, tapi memang dia bilang hari ini nggak bisa ke sini soalnya entar siang majikannya datang!&#8221;</p>
<p>Kebetulan dia ingin minta ijin padaku untuk menengok cucunya yang baru sembuh di desa, tapi sesudah makan siang dia berjanji akan kembali. Setelah dia pergi tinggallah kami dua gadis di villa ini.</p>
<p>Hampir sejam lamanya kami berenang dan mengobrol di kolam. Setelah mandi bersih aku memasak dua bungkus mie Korea untuk sarapan. Habis makan aku mengajaknya jalan-jalan mengelilingi kompleks sekalian menikmati suasana pegunungan yang tenang dan sejuk. Sepanjang jalan, hampir semua orang yang kami temui (terutama pria) memperhatikan kami, bahkan beberapa sempat menggoda dengan kata-kata. Tidak heran sih, karena aku memakai pakaian kemarin yang seksi itu, sedangkan Yessica memakai rok mini warna hitam dengan atasan kaos u can see kuning yang ketat sehingga mencetak bentuk badan dan payudaranya yang menantang. Untung hari ini tidak banyak angin, kalau tidak rok yang bahannya lembut itu sudah tertiup angin kemana-mana.</p>
<p>Kami sih berlagak cuek aja dengan tatapan-tatapan nakal mereka. Siapa sangka justru penjaga villa yang biasa kurang dianggap malah lebih beruntung dibanding om-om dan pemuda kaya yang kami temui. Ketika pulang kami melihat di villa sebelah sudah terparkir dua buah mobil dan beberapa anak-anak asyik bermain di balik pagar. Majikan Taryo dan familinya sudah datang, berarti dia tidak bisa menemani kami lagi karena sibuk melayani mereka.</p>
<p>Di rumah, Yessica meminta kalau nanti ML lagi agar kembali disyuting, dia juga menyayangkan kenapa aku tidak mensyutingnya semalam, padahal menurut dia semalam itu sangat hot adegannya. Iya juga sih pikirku, tapi kan waktu itu nafsu sudah diubun-ubun sampai lupa mau mensyuting juga.</p>
<p>Jam tigaan, setelah Pak Joko kembali, Yessica memintaku mensyutingnya lagi. Kali ini settingnya di ruang tengah tempat Taryo menggarapku kemarin. Yessica dan Pak Joko duduk bersebelahan di sofa, begitu kuberi aba-aba, mereka berpelukan, Pak Joko melumat bibir Yessica dan lidah mereka mulai beradu. Sambil berciuman tangan Pak Joko meraba-raba paha mulusnya semakin ke atas menyingkap roknya yang pendek, Yessica pun tidak kalah aktif, dia meremasi selangkangan Pak Joko dari luar celananya. Kemudian Pak Joko menjatuhkan tubuhnya ke depan menindih Yessica. Mereka mulai saling melucuti pakaian pasangannya sampai bugil.</p>
<p>Yessica dua kali orgasme di atas sofa, selanjutnya kami pindah ke kamar mandi, mereka bercinta di bawah siraman shower, Yessica menyandarkan tangannya di tembok menerima sodokan Pak Joko dari belakangnya. Sambil menggenjot, Pak Joko menyuruhku mengambil sabun cair dekat bathtub, dia menuangkannya ke tangannya lalu membalurinya ke tubuh Yessica. Tangannya yang kasar itu menggosok seluruh tubuhnya, paha, pantat, perut, naik ke payudaranya, lama-lama tubuh sabun cair itu semakin berbusa di tubuh Yessica.</p>
<p>Usai menyabuni Yessica, dia membalik tubuhnya menghadapnya. Kaki kanannya diangkat sepinggang, penisnya diarahkan memasuki lubang senggamanya. Dengan gencarnya dia mengocok sepupuku dalam posisi berdiri. Tak lama kemudian Yessica menengadah dan mengerang panjang mengalahkan suara shower.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Keluar Pak!!&#8221; sambil mempererat pelukannya.</p>
<p>Yessica berlutut dan menerima semprotan sperma Pak Joko di wajahnya. Adegan di kamar mandi ini menyudahi persenggamaan siang ini. Malam harinya kami main threesome di kamarku. Pak Joko berbaring sambil menikmati vagina Yessica yang naik ke wajahnya, sementara aku sibuk melayani penisnya dengan mulut dan lidahku. Semakin kukulum semakin keras dan berdenyut benda itu, kulakukan itu sepuluh menit lamanya. Sayang sekali kalau cepat-cepat orgasme sedangkan aku belum mencapai kepuasanku. Akupun naik ke selangakangannya dan memasukkan benda itu ke vaginaku.</p>
<p>&#8220;Uuugghh..!&#8221; desahku saat benda itu menusuk ke dalam.</p>
<p>Di sela-sela kegiatan menikmati vagina sepupuku, dia juga mendesah merasakan jepitan vaginaku terhadap penisnya. Liarnya goyanganku membuatnya makin liar memperlakukan Yessica, jilatan-jilatannya nampak lebih seru sampai suara menyeruput cairannya pun terdengar. Tangannya dijulurkan ke atas meraih kedua payudaranya, meremasnya sambil terus menyedot vaginanya.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Ohh.. Pak!&#8221; desah Yessica sambil menggeliat-geliat.</p>
<p>Setelah Yessica mencapai orgasme, Pak Joko mengajak ganti posisi. Kali ini aku nungging di atas Yessica dengan gaya 69, kembali Pak Joko menusukku dari belakang, sesekali kurasakan lidah Yessica pada vaginaku, di bawah sana dia sedang menjilati vagina dan penis Pak Joko yang sedang keluar masuk. Sebagai responnya, aku juga menjilati vaginanya yang basah oleh cairan orgasme dan ludah. Aku menjilati bibir vaginanya hingga klitorisnya yang merah itu. Hhmm.. Dia memakai pembersih kewanitaan dengan merek yang sama seperti punyaku, aku sudah hafal dengan aromanya.</p>
<p>Tangan Pak Joko mulai merayap di payudaraku, memilin putingnya dan memijatinya. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang mau meledak dalam diriku, aku mengerang panjang saat mencapai puncak. Genjotannya masih berlangsung beberapa menit ke depan sehingga memberiku kenikmatan lebih lama. Selesai membawaku ke puncak, kini dia mengincar Yessica. Dia rebahan lalu menyuruh Yessica menaiki penisnya yang masih mengacung tegak, benda itu basah mengkilap berlumuran lendirku. Dia mengisi vaginanya dengan penis itu diiringi desahan, setelah berhasil menancapkannya tanpa buang waktu lagi dia menggoyangkan tubuhnya. Pak Joko sendiri turun menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas merespon goyangan badannya.</p>
<p>Birahiku mulai naik lagi, maka aku menaiki wajah Pak Joko dalam posisi berhadapan dengan Yessica. Tanpa diminta lagi, lidahnya sudah beraksi menyusuri organ kewanitaanku, jilatannya diselingi kocokan jari tangan yang bergerak liar di dalam vaginaku, desahanku pun semakin menjadi-jadi. Kedua telapak tanganku saling genggam dengan Yessica. Rasa nikmatku kulampiaskan dengan memagut bibir sepupuku, lidah bertemu lidah lalu saling jilat. Lidah Pak Joko bukan saja menjilati vaginaku, duburku pun tidak luput darinya.</p>
<p>&#8220;Yeeaah, gitu Pak.. Terus.. Yahh.. Jilati aku sepuasmu!&#8221; demikian desahku menghayati setiap jilatannya.</p>
<p>Orgasmeku hanya lebih beberapa detik dari Yessica, tubuh kami menggelinjang di atas tubuh Pak Joko diiringi erangan yang sahut-menyahut. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sekali sampai terdengar suara menyeruputnya. Yessica mencabut penis itu dari vaginanya kemudian rebahan di antara paha Pak Joko mengoral penisnya. Aku juga merundukkan badanku ke depan mendekati penis yang masih tegak itu. Berdua kami melayani Adik kecilnya dengan kocokan, jilatan, dan hisapan selama lima menit hingga isinya muncrat ke wajah kami. Kami masih terus mengocok-ngocoknya hingga tetes terakhir, pemiliknya sampai berkelejotan dan melenguh nikmat akibat perbuatan kami. Maninya sudah tidak sebanyak kemarin sehingga kami sedikit berebutan untuk mendapatkannya.</p>
<p>Kami terkulai lemas, tubuh kami sudah berkeringat, nafas pun sudah putus-putus.</p>
<p>&#8220;Hebat juga ya Bapak ini, bisa tahan segitu lama sama dua cewek&#8221; pujiku.<br />
&#8220;Ahh.. Neng ini, sebenernya sih berkat jamu tadi sore hehehe!&#8221; katanya dengan tersipu malu.<br />
&#8220;Oo.. Pantes tadi nafasnya bau gitu, tapi hebat juga ya jamunya Pak&#8221; sahut Yessica sambil merapat dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.</p>
<p>Sungguh seperti kaisar saja Pak Joko malam itu, tidur diapit dua gadis muda dan cantik, suatu hal yang membuat banyak cowok iri tentunya. Dia juga berterima kasih pada kami karena telah membuatnya merasa muda kembali di usianya. Besoknya jam sebelas kami sudah berangkat kembali ke Jakarta. Tidak lupa kami memberi ciuman perpisahan padanya, Yessica pipi kiri dan aku pipi kanan, lalu dibalasnya dengan menepuk pantat kami bersamaan.</p>
<p>Hari itu juga, sore harinya kami membawa rekaman handycam itu ke Verna untuk ditransfer dalam bentuk vcd (komputer Verna memang paling lengkap walau sebenarnya milik adiknya yang sedang kuliah di luar negeri). Cd masternya dibawa Yessica sebagai koleksi pribadinya, copy-nya untuk kami, tentunya hanya untuk kalangan kita-kita saja. Dia mengabariku seminggu setelah kepulangannya bahwa dia telah memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah sebelumnya dia mengajak cowoknya menonton bersama rekaman di villa itu sebagai pembalasannya. Kata-kata terakhir pada cowoknya sebelum berpisah adalah&#8230;</p>
<p>&#8220;Kalau lu bisa main gila, gua juga bisa bikin yang lebih gila!&#8221;</p>
<p>Sekarang ini dia sudah mempunyai pacar baru yang lebih muda empat tahun darinya, sifatnya juga lembek, biar lebih gampang dikendalikan katanya. Duh.. Dasar Yessica, jadi woman rule nih ceritanya. O, ya met skripsi juga Yes, good luck and success.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/selingkuh-vs-selingkuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Bercinta</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/nikmatnya-bercinta.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/nikmatnya-bercinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 18:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Kejadiannya pada acara tahun baru 2000, aku sedang berlibur di pantai, di pulau Lombok. Aku berlibur bersama Mbak Santi. Kenapa aku panggil mbak&#8230;, karena umurnya tidak terpaut jauh, kami hanya berbeda 3 tahun. Yang membedakan kami hanyalah status sosialnya saja. Mbak Santi adalah seorang eksekutif muda yang bergelut dibidang pialang bursa saham di Jakarta, sementara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadiannya pada acara tahun baru 2000, aku sedang berlibur di pantai, di pulau Lombok. Aku berlibur bersama Mbak Santi. Kenapa aku panggil mbak&#8230;, karena umurnya tidak terpaut jauh, kami hanya berbeda 3 tahun. Yang membedakan kami hanyalah status sosialnya saja. Mbak Santi adalah seorang eksekutif muda yang bergelut dibidang pialang bursa saham di Jakarta, sementara aku masih mulai merintis di pekerjaanku yang baru. Mungkin dari tingkat jabatan, aku lebih tinggi, seorang general manager perusahaan swasta, sementara Mbak Santi hanya pialang saja. Akan tetapi jangan tanya soal pendapatan, bawaannya saja mobil Honda Estillo silver metalik, sementara aku jangankan mobil, tempat tinggal saja masih kost.</p>
<p>Perbedaan yang lain adalah, Mbak Santi sebelum kerja memang sudah berasal dari keluarga yang berada walaupun tidak kaya sekali tetapi yang pasti seluruh saudara kandungnya membawa mobil satu-satu dan yang terjelek adalah kijang jantan 1996. Oh ya, Mbak Santi 4 bersaudara, Mbak Santi anak kedua, yang tertua laki-laki sudah berumah tangga dan sedang sekolah S2 di Australia, yang nomor tiga perempuan Ratih namanya, masih kuliah di perguruan swasta di Bandung, sementara yang terakhir juga perempuan Luluk panggilannya, nama persisnya aku tidak tahu dan sudah kuliah pula di perguruan swasta Jakarta.</p>
<p>Perkenalanku bermula tanpa sengaja ketika ada sebuah acara di hotel Mulia Senayan. Aku menemani bosku dalam sebuah meeting dengan tamu dari Singapura, sementara Mbak Santi juga sedang santai dengan teman prianya di sudut cafe lantai dasar hotel tersebut. Ketika aku sedang mencari kamar kecil kebetulan Mbak Santi juga sedang menuju ke sana. Perkenalan yang basa-basi, dan saling melempar senyum. Akhirnya aku memberanikan diri membuka percakapan.</p>
<p>&#8220;Sedang santai sepulang kerja Mbak..&#8221;<br />
&#8220;Oh.. iya, refreshing lah Mas&#8230; seharian sibuk.&#8221;<br />
&#8220;Oooh.. di sekitar sini kerjanya?&#8221; timpalku sekenanya.<br />
&#8220;Betul, cuma ya.. bukan kerja kantoran gitu lho Mas.&#8221;<br />
&#8220;Swasta maksudnya Mbak?&#8221;<br />
&#8220;Bukan.. artinya ya.. cari-cari klien yang mau main di efek.&#8221;<br />
&#8220;Oh ya.. pialang begitu?&#8221; Aku langsung tanggap dengan jenis pekerjaannya.<br />
&#8220;Mas sendiri.. maaf dari Jawa ya.. kok logatnya bukan Betawi? Aduh sorry kok jadi menuduh gini?&#8221;<br />
&#8220;Tepat&#8230; wah hebat nih Mbak..&#8221;<br />
&#8220;Santi..&#8221; balasnya langsung memperkenalkan diri dan meneruskan masuk ke kamar kecil.<br />
&#8220;Oh ya saya Sakti, memang baru di Jakarta, namanya tuntutan hidup Mbak..&#8221;</p>
<p>Sekeluarnya aku dari kamar kecil dan tidak lama kemudian diikuti Mbak Santi dari kamar kecil sebelahnya. Sopan sekali. Tidak kebanyakan warga ibu kota yang acuh tak acuh, dengan tidak bermaksud basa-basi, Mbak Santi benar-benar menawarkan untuk bergabung dalam acara santainya bersama teman prianya.</p>
<p>&#8220;Maaf Mbak.. mungkin lain waktu, karena saya bersama tamu di sini dari Singapura..&#8221; maksud hati tidak untuk menolak, tetapi mau diapakan tamuku?<br />
&#8220;OK, ini nomor HP saya, tolong Mas kalau punya kenalan yang ingin main efek, nanti biar aku yang prospek, Mas Sakti cukup kenalkan saja siapa temannya, aku yang akan menghubungi beliau.&#8221;</p>
<p>Cekatan sekali, begitulah pialang mencari klien, batinku.. dan tangannya halus sekali.. dan bau parfumnya khas sekali. Matanya bulat utuh, wajahnya manis walaupun tidak bisa dikatakan cantik sekali, rata-rata atas. Bibirnya.. penuh. Hidungnya.. simetris dengan mata dan bibirnya. Wow.. bakat alamku mulai timbul, mungkin karena dua bulan aku &#8220;puasa&#8221; dari kebiasaanku melayani tante, mbak, ibu, dsb, yang selama ini menginginkan petualanganku.</p>
<p>Empat hari berselang dari pertemuan itu, aku bertemu dengan kawan lamaku semasa SMA dulu yang kini sudah sukses, ayahnya memiliki kapal tanker, dan anaknya bergelut di bidang perusahaan IT. Aku jadi ingat Mbak Santi untuk menawarkan bisnis yang digelutinya. Singkat cerita temanku tertarik dan Mbak Santi kuhubungi. Heran! Aku pikir dia lupa denganku, ternyata seperti sudah menjadi kawan lama sekali dengan lancar dia menyapaku di HP, akrab sekali. Akhirnya niat itu kusampaikan dan Mbak Santi berjanji untuk melanjutkannya.</p>
<p>Dua minggu tanpa kabar berita, Mbak Santi menghubungiku di HP, saat itu aku di Jawa Timur dalam rangka tugas kantor. Dari nadanya tampak ada kabar gembira. &#8220;Mas di mana nih.. hey.. aku mau traktir nih, temenmu itu gila ya!&#8221; teriaknya di HP.<br />
&#8220;Sabar Mbak.. ada apa sih.. aku di Jawa Timur nih!&#8221; balasku.<br />
&#8220;Ups.. sorry, aku pikir di Jakarta.. kapan balik?&#8221;<br />
&#8220;Dua hari lagi.&#8221;<br />
&#8220;OK, aku call dua hari lagi.&#8221;</p>
<p>Selasa, hari itu Mbak Santi menepati janjinya menelponku, &#8220;Mas nanti kita makan malam yuk di Tony Romas Ribâ€™s and Steak&#8230; aku dapet rejeki gede nih.. siapa lagi kalau bukan buying dari Mas Anton.&#8221;<br />
Anton adalah teman yang kutawarkan tersebut.<br />
&#8220;Ya.. temen mas itu gila.. beli saham PT Xxxx, Tbk sampai 1000 slot, dan dapat margin hampir 200 juta, gila ya.. yang untung aku, kebagian 2,5%, dan aku mau traktir Mas Sakti nih.&#8221;</p>
<p>Jam 7:30 malam aku ketemu Mbak Santi di Tony Romas yang sudah menunggu 15 menit lebih awal. Kita langsung memesan makanan termahal di sana. Maklum aku tidak pernah mengunjungi restorant macam itu, jadi aku ngikut aja. Sambil makan kita ngobrol dan semakin akrab saja. Makan berakhir pukul 9 kurang 10 menit. Dan aku diajak putar-putar (maklum tidak bawa kendaraan). Diajaknya aku ke cafe Semanggi, jam 11 malam aku diajak ke &#8220;Bengkel&#8221; dekat dari Semanggi.</p>
<p>&#8220;Mas udah punya pacar belum?&#8221;<br />
&#8220;Punya..&#8221; jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Wah nanti nggak dicariin pacarnya kan?&#8221; goda Mbak Santi.<br />
&#8220;Ya dicariin sih, tapi aku sudah bilang ada janji ketemu kamu.&#8221;<br />
&#8220;Lho kok nggak cemburu sih..&#8221; Mbak Santi makin memanjakan suaranya, sepertinya pengaruh alkohol dan musik mulai merasuki Mbak Santi.<br />
&#8220;Kenapa mesti cemburu, dia sudah tahu aku luar dalam kok.&#8221;<br />
&#8220;Maksudnya?&#8221;<br />
&#8220;Maksudnya kami sudah biasa begini&#8221;<br />
&#8220;Wah gawat tuh pacarannya&#8230;&#8221; Mbak Santi coba menyindirku.<br />
&#8220;Emangnya Mbak Santi sendiri gimana?&#8221; aku coba mengimbangi pembicaraan seiring musik yang semakin memekakkan telinga.<br />
&#8220;Ha.. ha.. ha.. sama dong.. gue sih easy going aja Mas.&#8221;<br />
&#8220;Udah nggak virgin dong?&#8221; komentarku tanpa basa-basi.<br />
&#8220;Lha emang masih perlu.. aku sejak SMA udah nggak lagi.. Mas ini bisa aja, abis enak sih..&#8221;<br />
Sepertinya sudah tidak ada batas lagi pembicaraan kami, dan langsung saja kebiasaan burukku muncul, &#8220;Lalu kalau sama aku gimana&#8230; mau coba nggak?&#8221;<br />
&#8220;Kenapa nggak? emang Mas berani?&#8221;<br />
&#8220;Sebutkan saja kapan? Iâ€™ll be there&#8230;&#8221;</p>
<p>Akhirnya malam itu kami selesaikan dengan petting di mobil Mbak Santi. Mbak Santi yang memulai lebih dulu dengan mengelus-elus bagian depan celanaku tepat di reitsletingku. Dan kami berciuman tipis sambil memainkan lidah masing-masing. Burungku mulai bereaksi, dan Mbak Santi mengerti perubahan yang terjadi di &#8220;bagian&#8221; itu. Caranya membuka reitsletingku seperti tanpa hambatan sama sekali.. mahir dan perlahan. Kini celana dalam &#8220;Crocodille&#8221; ku sudah tampak dan menonjol.Belum kusentuh payudaranya yang padat dengan ukuran bra 34 Cup B, tanganku dituntunnya untuk meraba dan mengelus payudaranya. Aku mencoba untuk menyelipkan beberapa jariku masuk melalui bagian belakang. Aku tidak menemukan kancing pengaitnya! Mbak Santi mengerti, dan dengan tangan kirinya, dia melepas kaitan BH-nya yang ternyata disebelah depan, maka tumpahlah payudara yang putih mulus itu. Padat dan berisi, kencang dan putingnya keras tanda Mbak Santi sudah terangsang dengan &#8220;French kiss&#8221; ku yang aku dapat dari mbak Vian.</p>
<p>Cukup lima menit kami ber-&#8221;French kiss&#8221;, kemudian dilanjutkan dengan memainkan ujung putingnya dengan ujung lidahku, sementara Mbak Santi menengadahkan kepala tanda beraksi. Aku jilat perlahan, sambil sesekali tanganku yang satunya meremas sebelah payudaranya. Semakin lama semakin kencang dan erangan Mbak Santi mulai terdengar. Sementara itu, sedari dari kedua tangannya sudah meremas-remas batang kemaluanku yang kaku dan mengeras. Genggamannya tidak cukup untuk meremas kemaluanku. Tidak besar, hanya saja tangannya yang mungil tidak cukup penuh menggenggam batang kemaluanku. Jari tengah Mbak Santi digerak-gerakkan kecil mempermainkan kepala kemaluanku yang sudah penuh mengembang. Ada perasaan geli dan bernafsu di bagian tersebut. Dari cara mempermainkannya, aku dapat membayangkan kemahirannya dalam bercinta.</p>
<p>Kini kedua payudaranya sudah lembab oleh kuluman dan hisapan bibirku yang penuh nafsu, dan Mbak Santi segera membungkukkan badannya dan burungku dijilatnya seperti menjilat ice crem. Ya&#8230; tidak dihisap tetapi dijilat. Wow&#8230; nikmat sekali. Jemarinya mempermainkan pangkal batang kemaluanku sambil mengurai-urai rambut kemaluanku yang lebat. Desir AC mobil tidak membantuku menghentikan keringat yang mengucur menahan gejolak birahi.</p>
<p>Lima menit Mbak Santi mempermainkan seluruh permukaan kemaluanku dari telur kemaluan, pangkal kemaluan, batang kemaluan hingga kepala kemaluanku dengan lidahnya yang hangat. Basah sudah seluruh kemaluanku, tiba-tiba mulut Mbak Santi membuka dan dihisapnya secara perlahan kemaluanku dimulai dari kepala, &#8220;Oogghh my God!&#8221;</p>
<p>Perlahan semakin dalam hingga berhenti di tengah-tengah batang kemaluanku. Dan.. di bagian itu, burungku kembali dipermainkan, bahkan terasa lidahnya kembali melumat sisa kemaluanku yang masuk ke dalam mulutnya, sementara bibirnya tetap berhenti di tengah batang kemaluanku. &#8220;Oouuuttchh..&#8221; luar biasa, sampai di sini, aku berkeyakinan kalau air maniku siap tersembur, tetapi sepertinya Mbak Santi memang ahli dibidang ini, tiba-tiba ia berhenti sejenak sambil tetap diam menghisap, sehingga seolah-olah burungku tertekan oleh sebuah lubang tepat diakhir kepala kemaluanku, dan rupanya ini sangat membantu menghentikan keluarnya air maniku.</p>
<p>Baru sesaat kemudian, dengan cepat seluruh batang kemaluanku habis terbenam di mulutnya, dan aku melihak ekspresi wajahnya, seluruh mulutnya penuh dengan kemaluanku. Barulah seperti biasa yang kualami dalam oral sex, mulut Mbak Santi maju mundur menghisap, menjilat, mengulum sekenanya dan sebisanya, sensasi yang luar biasa karena tertahannya air maniku membuat aku cukup lama bisa bertahan di permainan ini. Wow.. thankâ€™s Mbak Santi.</p>
<p>Sekitar lima menit aku membisikkan ke telinga Mbak Santi kalau aku sudah nggak kuat dan siap memuntahkan cairan kenikmatan. Mbak Santi hanya mengedipkan mata dengan tidak berhenti mengulum batang kemaluanku yang penuh di mulutnya.</p>
<p>Tiba-tiba, air mani itu keluar tepat di ujung tenggorokan Mbak Santi, entah bagaimana caranya Mbak Santi bisa memperkirakan dengan tepat kapan maniku keluar, sehingga, sekilas aku melihat ekspresi Mbak Santi memejamkan mata dan tidak kulihat air maniku tercecer keluar dari mulutnya.</p>
<p>Beberapa detik berlalu, Mbak Santi melonggarkan kulumannya sambil lidahnya menelusuri seluruh permukaan batang kemaluanku untuk membersihkan sisa lendir mani yang masih ada, dan kepala kemaluanku dihisapnya kencang agar tak tersisa lagi cairan yang menetes. Luar Biasa.. Thatâ€™s what a wonderfull experience.</p>
<p>Keheningan melanda kami berdua, kemudian aku membuka pembicaraan &#8220;Maaf mbak aku belum sempat mencicipi itu..&#8221; sambil menunjuk lubang kenikmatan Mbak Santi yang memang tidak tersentuh sama sekali.<br />
&#8220;Memang sengaja belum aku tunjukkan karena memang aku sisakan untuk pertemuan berikutnya Mas..&#8221; suara Mbak Santi manja.</p>
<p>Sejak saat itu, secara rutin dua minggu sekali kami berkencan, dimana saja, villa, hotel, mobil, kamar di rumahnya. Tapi satu yang belum kurasakan adalah lubang kenikmatan Mbak Santi! Just she played me with her oral! Hingga akhirnya Mbak Santi menawarkan acara tahun baru di pulau Lombok.<br />
&#8220;Sakti.. mau merasakan yang satu.. itu kan?&#8221; tawarnya menggoda.</p>
<p>Akhirnya kami bertiga, aku, Mbak Santi dan adiknya yang terakhir Luluk berlibur ke Lombok. Di sana kami menyewa sebuah bungalow di pinggir pantai yang masih <span>perawan</span>, bahkan tempat kami menginap sengaja dibikin tidak ada sarana listrik dan komunikasi. Memang setting daerah wisata ini menonjolkan keasrian lingkungannya.</p>
<p>Tepat malam tahun baru, setelah kami puas bermain di pantai yang juga masih <span>perawan</span>, di sana kami menjumpai banyak cewek bugil dan tidak seperti di Bali, di sini pemandangan lebih erotis dan alami! Segera kami menuju kamar masing-masing. Luluk rupanya sudah mengerti apa yang terjadi diantara kami berdua. Sehingga dia asyik dengan dunianya sendiri.</p>
<p>Segera kami melucuti pakaian kami satu persatu, terkesan tidak romantis dan tergesa-gesa tetapi buat apa romantis segala, toh kami bukan sepasang kekasih, kami hanyalah ingin saling memuaskan nafsu diantara kita berdua yang sudah lama terpendam!</p>
<p>Baru saat itu dikeremangan lampu minyak, aku melihat tubuh yang sensual tanpa sehelai benang pun. Ternyata apa yang kubayangkan selama ini, jauh dari kenyataan. Mbak Santi adalah wanita terseksi yang pernah bercinta denganku selama ini, tidak juga Anggi, tidak juga mbak Vian, dll.</p>
<p>Kami langsung bergumul, bercumbu dan saling meremas. Tubuhnya hangat dan lembut, vaginanya harum sekali, tidak seperti kebanyakan wanita yang bercinta denganku, Mbak Santi lebih suka memulai lebih dulu untuk memacu nafsuku, barulah aku mengimbanginya.</p>
<p>Kini tiba saatku untuk menyentuh, mencium, melumat dan menjilat vaginanya yang selama ini tidak dapat aku jangkau! Bukan main, terawat sekali! Rambut vaginanya halus dan lembut, bibir vaginanya rapat dan simetris. Aku sempat tidak percaya bagaimana wanita yang suka dengan sex tetapi vaginanya tertutup rapat!</p>
<p>Aku mencoba memainkan ujung lidahku untuk memulai membuka bibir vaginanya. Dan baru kali ini aku mendengar erangan Mbak Santi lain dari biasanya kami bermain. Sementara seluruh kemaluanku sudah basah oleh permainan mulutnya. Kejadian foreplay ini berlangsung kurang lebih setengah jam. Secara perlahan mulai kurasakan vagina Mbak Santi yang harum mengeluarkan cairan dan membasahi dinding bagian dalam vaginanya yang seksi dan menggoda. Aku semakin intents dan lebih menekan lidahku untuk mencari titik-titik rangsangan yang ada di dinding vagina Mbak Santi. Cairan itu mulai rata membasahi hingga bibir luar vaginanya. Kini Mbak Santi sudah sepenuhnya dalam rangsangan seksual yang memuncak.</p>
<p>Lima menit kupermainkan vaginanya yang seksi, dari bibir luar, bibir dalam, klitoris hingga dinding dalam vaginanya. Dan Mbak Santi sudah terengah-engah untuk segara mengakhiri permainan ini.</p>
<p>Perlahan kemaluanku digenggamnya dan diarahkan ke bibir vaginanya hingga menyentuh klitorisnya. Mbak Santi tidak ingin terburu-buru, dan mencoba untuk sekedar menggesek-gesekan klitorisnya dengan ujung kepala kemaluanku. Perlahan dan semakin cepat gesekan itu membuat burungku merasakan cairan yang licin merambat di batang kemaluan bagian bawah hingga menyentuh telur kemaluanku. Rupanya rangsangan seksual yang dicari Mbak Santi sudah mulai menjalar dan tidak dapat ditahan lagi. Dari tatapan matanya, rupanya Mbak Santi memberikan ijin untuk memasuki daerah terlarang yang sudah basah oleh cairan vagina tersebut.</p>
<p>Perlahan mulai kuhujamkan kepala burungku yang memang berukuran besar (itu pengakuan dari semua wanita yang bercinta denganku), seperti dugaanku, rupanya agak sulit juga memasuki daerah tersebut, rapatnya bibir vagina Mbak Santi membuktikan bahwa ia rajin merawat vaginanya.</p>
<p>Akhirnya dengan kesabaran dan cairan vagina yang licin membantu kemaluanku perlahan menembus vaginanya, dan terasa dinding vaginanya bergetar dan mengembang, sepertinya menyesuaikan dengan ukuran kemaluanku yang berdiameter cukup besar walaupun tidak panjang. Setelah diam sesaat, barulah terasa ada gerakan pinggul dari Mbak Santi tanda mulai merespon ada benda aneh di dalam vaginanya, burungku tentu saja.</p>
<p>Akhirnya kami berdua seperti bergulat, dimulai dari gerakan kecil dimana aku mengayunkan pantatku naik turun, sementara Mbak Santi memainkan pinggulnya sambil meregang dan merapatkan kedua kakinya seolah ingin mencari posisi terbaik untuk burungku bersangkar di dalamnya. Dan terus berlanjut semakin cepat aku menggesekkan batang kemaluanku didinding vaginanya yang sudah licin. Gesekan ini membuat rangsangan semakin hebat dan desahan Mbak Santi sudah tidak dapat ditahan lagi, desahan dan erangan ini membikin aku jadi semakin bernafsu.</p>
<p>Kami bertukar posisi, dengan Mbak Santi berada di atasku tetapi menghadap membelakangi tubuhku. Dengan gaya berjongkok, dipegangnya kemaluanku dan ditujukan di lubang vaginanya yang sesekali tampak berkilat akibat sinar lilin yang ada di ruangan kami. Permainan kedua ini lebih lancar dibanding yang pertama, karena ukuran vaginanya sudah menyesuaikan dengan ukuran kemaluanku tapi dengan posisi ini Mbak Santi dapat dengan leluasa mengatur seberapa dalam burungku masuk ke vaginanya.. sesekali penuh, sesekali hanya sebagian saja, dan yang paling tahu seberapa dalam burungku masuk hanya Mbak Santi yang tahu.</p>
<p>Ketika suara erangan semakin tidak beraturan, kembali Mbak Santi mengubah posisi, kali ini kami rebahan menyamping, dan aku ada di belakang Mbak Santi, burungku masih tetap di dalam, dan kini aku yang lebih aktif menggerakkan pantatku memasuk dan keluarkan kemaluanku menggesek-gesek dinding vaginanya yang masih basah. Sejak menembus vaginanya hingga permainan ini, kira-kira sudah berlangsung 30 menit dan belum ada tanda-tanda Mbak Santi orgasme, sementara aku sudah tidak kuat lagi.</p>
<p>Akhirnya, kuberanikan diri untuk mempercepat gesekanku dengan posisi doggy style, barulah Mbak Santi mengerang sekncang-kencangnya. Aku yakin Luluk mendengar desahan kami berdua. Tetapi aku juga nggak mau kalah, gesekan kemaluanku semakin keras dengan menusuk vaginanya, tetapi gerakan dengan perlahan, karena aku melihat Mbak Santi sudah tidak teratur gerakannya, tanda mencapai orgasme, dan aku juga tidak perlu mempercepat gesekan karena akan semakin mengganggu puncak orgasme kita berdua. Dengan tusukan yang keras tetapi gerakan perlahan akan semakin terasa penuh di dinding vaginanya sementara dipihakku sendiri, akan semakin terasa jepitan dinding vaginanya akan menyempit dan meremas burungku, sehingga proses orgasme kami terasa full dengan ekspresi kami berdua.</p>
<p>Kami berdua terbaring dan melewatkan malam tahun baru dengan bercinta terlama yang pernah kualami, bayangkan kami bercinta selama setahun, dari jam 10:15 malam tanggal 31 Desember 1999 hingga 1:30 pagi tanggal 1 Januari 2000, itu berarti permainan kami selama setahun?</p>
<p>Paginya kami main di pantai dan Luluk membisikkan sesuatu di telingaku, &#8220;Hayooo&#8230; Mas Sakti semalam ngapain aja kok lama banget, orang begituan kan nggak selama itu&#8230; aku denger lho apa aja yang terjadi.! Boleh nggak Luluk coba?&#8221; bisiknya nakal penuh arti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/nikmatnya-bercinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelora Cinta Tara di &#8220;Rumah Besar&#8221; &#8211; 4</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-4.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 12:06:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2964</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 3 Jam menunjukkan jam 8:20 am, telah 1 jam 20 menit mereka bermain cinta di kamar linen lantai 9 tersebut; segera, diraihnya lipatan handuk dari tumpukannya di troli kayu tersebut dan di bersihkannya badanya dengan handuk itu, kemudian berpakain sebaik-baiknya dan mereka berpelukan kembali mengucapkan selamat bekerja, lalu mereka membuang handuk kotornya ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 3</p>
<p>Jam menunjukkan jam 8:20 am, telah 1 jam 20 menit mereka bermain cinta di kamar linen lantai 9 tersebut; segera, diraihnya lipatan handuk dari tumpukannya di troli kayu tersebut dan di bersihkannya badanya dengan handuk itu, kemudian berpakain sebaik-baiknya dan mereka berpelukan kembali mengucapkan selamat bekerja, lalu mereka membuang handuk kotornya ke tube, supaya jatuh ke ruang linen di basement, kemudian mereka berpisah.</p>
<p>Tara cepat kekamar mandi wanita di lantai 3 dan cepat-cepat membersihkan badannya di bawah shower, menyabun tubuhnya dan di elus-elus lembut memeknya, sambil tersenyum sendiri mengenang nikmatnya ngentot dengan Harry, terlupakanlah sedikit pedih kehidupan yang ada dihatinya, hidup bersama suaminya Nico. Dibilasnya dibawah shower tubuhnya, segera setelah itu berpakaian, kemudian membetulkan &#8220;grooming&#8221; wajah dan rambutnya. Segera dia kembali keruang kerja dikantornya, jam menunjukkan 8:50am, segera Tara memulai pekerjaannya hingga selesai. Adapun Harry berlaku sama hanya dia menuju ke Pavilliunnya dan mandi lagi sebentar dan turun ketinggkat 5 di kantor Executive Office dan menunaikan kerja nya kembali dengan aman dan damai. Hari itu sangat indah baginya dan harapannya untuk ngentot dengan Tara selalu menjadi obsesinya disetiap harinya.</p>
<p>Event week end mendatang ada penyelenggaraan &#8216;Grand Prix&#8217; di kota itu, Hotel penuh dari pertengahan minggu sebelumnya, sebagian staff dapur dan para waiter/waitress dikonsentrasikan kelapangan diweek end itu, dengan membuka dua tenda atas nama Hotel disekitar lapangan pacuan itu; karena banyak para Businesman/woman, dan paraa Celebreties menyaksikan balap mobil Formula 1 itu. Sebagian besar lagi para waitres/waitress dikonsentrasikan untuk event malam hari di restaurant-restaurant diproperty hotel, adapun siang hari memang agak lengang suasana di Hotel. Karena Kebetulan &#8216;General Manager&#8217;nya tugas turun kelapangan, maka Harry ditugaskan incharge didalam property Hotel tersebut.</p>
<p>Kesibukan Tara sudah agak menurun, karena biasanya kesibukan Tara memuncak sebelum event berlangsung. Saat yang indah itu, dimanfaatkan mereka berdua saling mengirim SMS, Harrypun datang kekantor kerja Tara, yang berada di pojok itu, segera ia mengunci pintu kantornya dan diraihnya Tara dengan buasnya kemudian dilucutinya baju bawahnya, semua tanpa kecuali, dan diangkatnya Tara dimeja kerjanya lalu didudukkanya diatas meja kerja, segera dijilatinya memek hangatnya dengan lahapnya. Tara memejamkan matanya, sambil berpegangan kepala Harry menahan serentetan kenikmatan dan denyutan memeknya yang sangat luarbiasa sensasinya; maka digoyangkannya pantatnya sambil duduk, mengharapkan dera dan tusukan lidah Harry untuk segera menggapai dinding dalam rahimnya, Tara mendorong-dorong kepala Harry supaya masuk jauh kedalam selangkangannya. Sambil mengerang, ia menjepit kepala Harry karena dia mendapat Orgasmenya di pagi itu. Harry bangun dari selangkangan Tara setelah Tara mulai merenggangkan selangkangannya dan segera mendekapnya, diciuminya Tara dengan nafsunya yang membara bersama asmaranya menutupi semua perasaan yang ada di pagi itu.</p>
<p>Setelah Tara pulih kembali, dibiarkan dia merebahkan dirinya di meja kerjanya, selang beberapa menit, segera diturunkannya celana Harry, sambil berdiri dijulurkannya kontol tegangnya pada klitoris Tara, dimainkannya lagi klitoris itu dengan kontolnya, hal ini menimbulkan gairah Tara kembali menyelubungi tubuhnya. Setelah Tara menggeliat dan melelehkan getah bening memeknya, Harrypun menusukan kontolnya dalam Vaginanya, segera dipompanya dengan ritme pelan dan kemudiaan cepat, di tariknya lagi, diam sejenak dan dihujamkannya lagi dengan kuat.</p>
<p>Tara belingsatan dan mendongkak-dongkak kembali dan digoyang-goyangkannya kepalanya kekiri dan kekanan sambil giginya menggigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan dera nikmat yang sangat dia inginkan tiap harinya. Sampai akhirnya Harry mengatakan akan mencapai ejakulasinya, ingin mereka menuangkan sama-sama, dan mereka selesaikan kenikmatan itu dengan sempurna, muncat tiga kali sperma dalam rahim Tara, segera dicabutnya kontol Harry, diputarnya badan Tara kepinggir meja dan disodorkannya kontol Harry kemulut Tara, segera Tara membuka mulutnya dan dikulumnya kontol Harry yang tegang merah, sedang memuncratkan spermanya langsung dalam tenggorokannya, segera ditelannya semua sperma itu,lalu dijilatinya kontol Harry dengan penuh kasih sayang. Setelah selesai session itu, mereka segera merapikan diri dan bekerja kembali.</p>
<p>Jam 11 siang, Tara telephone Marissa mengatakan akan ke dokter lagi, dan Marissa pun akan menolongnya mencatat pesan untuk Tara. Namun sebetulnya Tara hanya naik ke tinggkat 14 kamar No 31, di Paviliun Harry, disana Harry telah menunggu nya, setelah Harry berpesan ke Marissa bahwa dia akan pergi kelapangan balap selama 3 jam, kontrol keadaan di sana.</p>
<p>Segera setelah Tara Masuk ke Paviliun, tak sabar lagi Harry menggendong tara di kamar mandi dan melepas semua bajunya, untuk mandi bersama. Setelah mereka telanjang dimasukkannya Tara dalam bathtub, Harry berdiri dipinggir bathtub, di mintanya Tara menyepong dan mengelus-elus kontolnya, maka di elusnya buah zakar Harry lalu dikulum, dijilatnya dengan lidah nakal Tara, dimain-mainkannya dalam mulutnya, Harry mengerang kuat-kuat sambil matanya dipejamkan. Kemudian dirambatkannya lidah Tara kebatang kontol Harry, sambil menyapu dan menyedot seluruh batang kontol Harry, tangan Tara memilin dan memainkan buah zakarnya yang mengecil.<br />
&#8220;Tara, kamu nakal, kamu menggodaku, kulumlah Tara kepala penisku itu, mainkanlah dengan lidah yang nakal itu..&#8221;<br />
Diturutinya kemauannya, di kulumnya kepala Panis Harry, dan dimainkannya lidahnya dilingkaran kepala Panis yang menyembul itu.<br />
&#8220;Aaacchh Tara, manisku, kau jalang, kau binal.. kau gadisku, kau milikku Taraa, kau selalu memuaskanku Tarra..&#8221;<br />
Tara pun melepaskan kulumannya, dan minta dicium mulutnya dengan mulut lembutnya Harry.<br />
&#8220;Harry kiss me darling, I need you always, I want to be with you always darling.&#8221;</p>
<p>Ditariknya pelan Harry kedalam air dan segera menduduki kontol yang keras itu dan menyelipkannya dalam vaginanya, sambil dia mendongkakkan kepala kearah belakang diayunkannya badannya, memompa penis Harry, dan Harry, memegang pinggang dan punggung belakang Tara menjaga supanya tak terbalik jatuh ke belakang. Sebagai, dewi amor sedang mengamuk Tara melonjak-lonjak memompa penis tegangnya Harry hingga pendakian birahinya mencapai puncaknya dan Tarrapun orgasme lagi.</p>
<p>Harry mengangkat Tara, dibalikkannya badan Tara supaya dia tiduran menungging releks dalam bathtub, kemudian dia tusuk dan pompa memek Tara dari belakang sambil Harry menekuk lututnya dalam air tersebut. Tara mengerang lagi, diiringi dengusan nafas Harry yang memburu, terus penis Harry menghujam dan menari didalam relung nikmatnya Tara dengan bebasnya, erangan dan raugan mereka berdua tak bisa dihindarkan dan akhirnya mereka mencapai orgasmenya yang kesekian kalinya dihari yang indah itu.</p>
<p>Mereka mandi bersama dan menguyur badan bersama, setelah puas mereka mengeringkan badan mereka dan beranjak ke tempat tidur. Melihat badan Tara yang masih telanjang itu, Harry ingin mencumbunya lagi, didorongnya Tara ketempat tidur, dan direbahkannya dia, dengan kaki masih menjutai dipinggir tempat tidur. Dimasukkannya lagi kontolnya walau belum tegang sepenuhnya, dan digoyang-goyangkannya terus menerus, sampai benar-benar keras, didalam liang vagina Tara, kemudian dihujamkannya kencang-kencang kontol buas itu pada memek Tara yang kenyal, sempit menghimpit dan berdenyut di dalam.<br />
&#8220;Tara biarkan aku biadab, menuruti nafsu binatangku kepadamu, kaupun akan merasa bahagia dengan perlakuanku ini, katakan bila kau tak menyukainya.&#8221;<br />
&#8220;Harry lakukanlah, kau wild dan aku menyenanginya, kuingin kontolmu nyelip disana terus dimanapun aku pergi, dari pagi sampai petang, akan ku pilin dan kupijit dengan denyutan memekku terus menerus Harry!&#8221;<br />
&#8220;Harry aku bosan memakai dcku akan kuganti pakai kontolmu saja didalam sana untuk menutupi memekku&#8221;<br />
Harry memejamkan matanya, sambil menjawab, &#8220;Heemm, Tara, kau benar-benar binaall!&#8221;</p>
<p>Tara, merasakan keindahkan making love dengan Harry, sukmanya menari, seiring deburan darah dan detup jantungnya setiap kali ia mendapatkan hujaman kontol Harry; ngilu, geli, seribu rasa ada dalam tubuhnya seakan ia melayang-layang dialangit yang biru tiada berbatas; hingga sampai saatnya terasa ia akan orgasme lagi.<br />
&#8220;Harry aku siap, magma didalam akan segera meledak Harry, berikan spermamu didalam sana&#8221;<br />
&#8220;Okey Tarra, aku dattaangg segera&#8221;<br />
Ddan Creett, creet, creet, sempurnalah pergumulan mereka disiang hari itu. Maka robohlah Harry di badan Tara, dengan penuh peluh di badan dan kepalanya..<br />
Mereka tertidur selama 1.5 jam, kemudian mereka membersihkan diri lagi, berpakaian kembali. Tara keluar dari Paviliun Harry dengan sebelumnya mengecup bibirnya mengucapkan selamat siang dan selamat kerja lagi.</p>
<p>Hari itu Tara pulang sore, karena merasa capek sekali seharian ngentot bersama Harry, dijalan dia membeli makanan kesukaan Nico dan anak-anak. Sesampai dirumah mereka makan malam dan main dengan anak-anak sebentar, dan setelah bercakap-cakap dengan Nico, dibahasnya semua masalah rumah tangga sehari itu, kemudian menyuruh anak-anak tidur. Sedang Nico menggandeng Tara masuk kedalam kamar dan meminta jatahnya yang dua hari tidak didapatkannya dari Tara.<br />
Dalam hati Tara mengeluh, &#8220;Mati aku hari ini, sekian kali aku harus mengentot, memekku sudah terasa lelah sekali&#8221;, namun sekali lagi ini kewajiban, tak bisa ditolaknya permintaan Nico.<br />
Segera, Nico melucutinya, dan merebahkan Tara di tempat tidurnya, secepat itu juga Nico menghunjam memek Tara, mulailah &#8220;mesin sex&#8221; tersebut menderu sejalan dengan derap birahi Nico.</p>
<p>Puas Nico, menghujam tanpa perasaan dari depan, dibalikkannya Tara supaya menungging, dan di hujamkannya kontol ngaceng Nico dari belakang, tak lama kemudaian dia sudah memuncratkan sperma birahinya di dalam rahim Tara, tanpa harus mengimbangi perasaan Tara, dalam usahanya mendaki birahinya untuk sama-sama menikmati cinta suami istri yang sedang memadu kasih, dengan cara yang terdalam, yakni ngentot.</p>
<p>Kembali kecewa dalam hati Tara, dan benar-benar kesal akan perilaku Nico, yang selalu sepihak dalam menunaikan tugasnya sebagai suami. Sedih sekali perasaan Tara, namun sekali lagi dia tidak bisa mengelak dan protes kepada Nico suaminya. Esoknya, Tara kembali bekerja, dia mendapat e-mail dari sebuah perusahaan Garment dari designer terbaik di negeri itu, dimana mereka akan mengadakan pameran dan peragaan dalam Hotelnya, kira-kira 10 hari mendatang. Tara segera menyiapkan segala sesuatunya untuk penyelenggaraan pameran dan peragaan pakaian elite ini.</p>
<p>Setiap sore Tara harus tinggal sampai agak larut, menyusun brochures dan undangan kepada orang-orang yang pantes diundang dan penyelenggaraannya. Harrypun harus juga mendorong dan mendukung usaha Tara dalam hal ini, maka kebersamaan mereka tak ada yang mencurigai. Sering Tara tinggal di Paviliunnya, dan mencari tanda tanggannya Harry; bila Harry bilang mau mengerjakannya di pavilliun, dan Tarapun harus datang, walau akhirnya mereka berdua selalu melampyaskan hasrat birahinya di paviliun itu.</p>
<p>Di suatu hari Sabtu, Tara mengatakan ke Nico bahwa dia akan masuk kerja, ada kerjaan yang tidak selesai. Namun setelah dia kerja sejam di kantornya, Harry memanggilnya. Setelah Tara berada di Paviliunnya, sambil minum teh bersama, Harry mengeluarkan amplop tak tertutup diberikannya kepada Tara.<br />
&#8220;Tara, aku sangat mencintaimu, aku ingin juga sedikit memiliki cinta kepada anak-anakmu&#8221;<br />
&#8220;Ini tanda cintaku pada anak-anakmu, karena aku tentunya tak bisa memeluk dan menggapainya, Depositkan uang ini untuk sekolah anak-anakmu&#8221;<br />
&#8220;Jangan sekali-kali kau pakai, kau akan mendapatkan bagiannya sendiri dariku&#8221;</p>
<p>Terperanggah Tara akan kata-kata Harry, dan melelehlah air matanya.<br />
&#8220;Harry, apa artinya semuanya ini, akankah kau meninggalkan aku?&#8221;<br />
&#8220;Tara, Jangan kau berburuk sangka padaku, kau adalah gadis binalku selamanya.&#8221;<br />
&#8220;Tak akan kutinggalkan dirimu akan selalu kuusahakan yang terbaik untukmu, untuk kita selalu saling memiliki&#8221;, maka diciumnya bibir Tara dan dihapusnya air matanya.<br />
Kembali mereka berpangutan, dan diteruskan seharian ngentot berdua diruang tamu setelah minum teh, di dapur sambil memasak, karena Harry dan Tara senang memasak.</p>
<p>Mereka mempunyai tekad menjalani cinta dan kebahagian mereka, mereka tuai dalam &#8220;Rumah Besar&#8221; sambil melupakan kepedihan hidup dalam keluarganya masing-masing, sampai waktu dan umur memisahkan mereka.</p>
<p>*****</p>
<p>Salam hormat dan terima kasihku buat teman mayaku yang selalu membantuku untuk terlaksananya tulisan ini hingga bisa anda nikmati bersama.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: liana_issabella@yahoo.com.au</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelora Cinta Tara di &#8220;Rumah Besar&#8221; &#8211; 3</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-3.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 12:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2962</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 2 Sadar akan keadaan Harry yang semakin mendaki puncak kenikmatanya, dan dia sendiripun telah terangsang, denyutan memeknya telah mempengaruhi deburan darah ditubuhnya, dia lepaskan kuluman kontol Harry dan segera dia memposisikan dirinya diatas Harry menghadap dikakinya, dan dimasukkannya kontol tegang Harry dalam relung nikmatnya , segera diputar memompanya naik turun sambil tekan pijatnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 2</p>
<p>Sadar akan keadaan Harry yang semakin mendaki puncak kenikmatanya, dan dia sendiripun telah terangsang, denyutan memeknya telah mempengaruhi deburan darah ditubuhnya, dia lepaskan kuluman kontol Harry dan segera dia memposisikan dirinya diatas Harry menghadap dikakinya, dan dimasukkannya kontol tegang Harry dalam relung nikmatnya , segera diputar memompanya naik turun sambil tekan pijatnya dengan otot vagina sekuat tenaganya, ritme gerakannyapun ditambah sampai ke kecepatan maksimal.</p>
<p>Harrypun teriak, sementara Tarapun berfocus menikmati dera gesekan kontol Harry, yang menggesek G-spotnya berulang kali, menimbulkan dera kenikmatan nan indah sekali. Tangan Harrypun tak tinggal diam diremasnya pantat Tara yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusnya, sambil menikmati dera goyangan Tara pada kontolnya akhirnya mereka berdua berteriak..<br />
&#8220;Tara aku tak kuat lagi.. berikan kenikmatan lebih lagi Tara, denyutan di ujung kontolku sudak tak tertahankan.&#8221;<br />
&#8220;Kau pandai seperti kuda binalku, kau liar sekali Tara, kau membuatku melayang Tara, aku mau keluar!&#8221;<br />
Lalu disuruhnya Tara memutar badannya menghadap pada dirinya dan dibalikkannya Tara posisi tidur dibawah bersandarkan bantal tinggi dan menaikan kedua kakinya dibahunya, Harrypun bersimpuh di depan memek Tara, sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan ritme yang cepat dan kuat, karena tak tahan lagi Harry akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seolah mau meledak.<br />
&#8220;Tara, please, let me release my valve, I am cumming, pleasee..&#8221;<br />
&#8220;Tunggu Harry, orgasmeku juga mau datang sayang, kita sama-sama&#8221;</p>
<p>Akhirnya Creet, creet , creet, tak tertahankan bendungan Harry jebol memuntahkan spermanya di vagina Tara, adapun bersamaan Tarapun mendengus dan meneriaknan erangan nikmatnya; segera disambarnya bibir Harry, dikulumnya dengan hangat dan disodorkannya lidahnya dalam rongga mulut Harry, seraya didekapmya badan Harry yang sama mengejang, basah badan Harry dengan peluh menyatu dengan peluhnya, terkulailah Harry didada Tara, sambil menikmati denyutan vagina Tara, yang kencang menyambut Orgasmenya yang sangat nikmat, selama ini belum pernah ia rasakan.<br />
Dibelainya rambut Tara dengan penuh kasih dan sayang, dikecupnya dahinya.<br />
&#8220;Honey, Thank you, I love you so much, I want to grow old with you, please don&#8217;t go away from me, you make me a&#8217;live again.?</p>
<p>Mereka bangun dan digendongnya Tara dikamar mandi dan di mandikannya Tara dibawah shower dan disabuninya dengan lembut sebagai tanda terima kasihnya dimalam itu. Segera berpakaian mereka kembali, kemudian dihantarkannya Tara kerumah suaminya.<br />
Ditemuinya Nico telah lelap di tempat tidur kembali dengan tenang dan damai, secepatnya tara berganti pakaian tidur, dan menyusul suaminya masuk dalam quiltnya dan mendekap Nico.</p>
<p>Karena nikmatnya permainan cinta malam itu, Tara bermimpi indah, bersama Harry semalaman.</p>
<p>*****</p>
<p>Sejak kejadian malam itu di pavilliun Harry, Tara selalu mendambakan belaian Harry dan ingin selalu merasakan kemaluannya yang menggeliat di dalam vaginanya, bila teringat hal itu Tara selalu menelan ludahnya dan tak jarang dia melamun sejenak dalam kesibukannya, segera terhenyak bila telephone berdering ataupun tersadar bila ia diburu dengan tanggung jawabnya.</p>
<p>Jum&#8217;at malam ada sebuah event untuk sebuah Oil Company yang akan merayakan &#8220;Hari Jadi&#8221; perusahaan tersebut, pesta ini mengikut sertakan sebagian besar staffnya, jadi memang agak besarlah event yang akan diaturnya untuk malam nanti.</p>
<p>Pagi-pagi dia sudah ke field, ruang pesta, dan menyiapkan segala sesuatunya, kontak dengan dapur, mengenai makanan yang akan bergulir untuk nanti malam. Suasana Hotel masih sepi belum banyak pegawai mulai masuk terutama &#8216;waiters&#8217;nya; Tara ada di ruang ruang pesta sendirian, di pantry mencheck untuk terakhir kalinya; tiba-tiba Harry telah mendekapnya dari belakang dan mendaratkan ciumannya dileher Tara seraya menelusuri dagu dan bersarang di bibir lembut Tara.<br />
&#8220;Selamat Pagi gadisku, kuingin memuaskanmu disini, nikmatilah sayang kehadiranku.&#8221;</p>
<p>Secepat itu juga dinaikkannya Tara diatas &#8220;pantry&#8221;, bagaikan kilat di perosotkannya CD Tara, kemudian mulut Harry telah bersarang di gundukan nikmat Tara. Tara yang telah biasa dengan perilaku suaminya, maka dia juga bisa menerima perlakuan Harry ini, maka Tara hanya menghisap nafas dalam-dalam dan menahannya sebentar dan dihembuskannya perlahan-lahan; Namun tentu saja dengan Harry mendapatkan sensasi yang lain dan memang dia mengharapkannya perlakuan semacam ini ditiap detik nafas dan hidupannya yang baru.</p>
<p>Dinikmatinya rasa indah di bawah sana sambil menggelepar dan mengerang. Clitorisnya pun merasa semakin membesar dan vaginanya berdenyut kencang tak tertahankan. Tanpa dia sadari tangannya sendiri menggapai payudaranya dibawah blazernya dan di remasnya, beberapa saat kemudian ditelusupkannya tangannya kedalam bluse dan dirabanya puntingnya dan dipelintirnya sendiri, nikmat sekali rasanya seakan membuatnya melayang-layang.</p>
<p>Setelah puas Harry menjilatin dan mengentot vagina Tara dengan lidahnya, berdirilah dia dan menarik retsleting celana panjangnya dan dikeluarkannya kemaluannya dari lubang CDnya.<br />
&#8220;Tara, kukunci pintu besar itu jangan kuatir, kita making love disini Okay?&#8221;<br />
&#8220;Harry lakukanlah, entoti aku dengan gaya dan nafsu birahimu, aku akan menikmatinya&#8221;<br />
Harrypun tersenyum dan menusukkan kontol yang tegang dan perkasa itu kedalam vagina Tara yang sudah membasah melelehkan air nikmatnya, karena menahan birahinya.</p>
<p>Sambil berdiri Harry mengentot, memompa kontolnya kuat-kuat dan penuh birahi, sesekali badannya dibungkukkannya, untuk menggapai wajah Tara yang tersenyum manis selama di entotnya. Geregetan rasa Harry melihat wajah yang manis dan penuh gelora cinta di depan matanya. Tara sangat menikmati hujaman kontol Harry dan sambil berkata,<br />
&#8220;Harry, terus sayaang puaskan daku, ingin aku mati bersamamu dalam keadaan kau entoti aku begini.&#8221;<br />
&#8220;Enak Harry enak sekali teruskan.. nikmat batang kontolmu menghentak-hentak ubunku Harryy, ngiluu Harry!&#8221;<br />
Segera diangkatnya tubuh Tara.<br />
&#8220;Tara pompa kontolku naik turun, kau tentu pandai mengerjakan buat sukmaku melayang bersamamu Taraa&#8221;,</p>
<p>Segera Tara digendong menghadapnya dengan kedua kakinya di pinggang nya, serta tanggan Harry memegang pinggang Tara. Segera dikocoknya badan Tara naik-turun, dan Tarapun ikut aktive melakukan permintaannya sambil terus berfucus pada kenikmatan gesekan kontol Haryy, yang membuatnya gilu geli menhujam seluruh tubuhnya hingga bergetar.<br />
&#8220;Harry boleh aku keluaar?&#8221;<br />
&#8220;Ya gadisku kita sama-sama, memekmu hangat menjepit, memilin kuat kontolku, kontolku berdenyut mau keluar spermaku sayang, Oooh kau gadis nakalku.. kau binall!&#8221;<br />
Dan orgasmelah mereka berdua dengan rasa bahagia meliputi mereka.</p>
<p>Kemudian diletakkannya tubuh Tara di pantry kembali,sambil melepaskan kontol Harry, digesernya badan Tara sejajar dengan pinggir pantry, kemudian disodorkannya dimulut Tara, segara Tara mengerti maksudnya dikulum dan dihisapnya kontol tegang itu sampai bersih kembali. Cepat-cepat mereka membersihkan diri di &#8220;wash basin&#8221; di&#8221;pantry&#8221; itu, segera mereka merapikan baju mereka. Harry mendekap Tara, mencium kening pipi dan mulutnya, sambil mengatakan:<br />
&#8220;Kau sempurna, gadisku, kita nikmati hidup ini dengan sebaik-baiknya, seindah matahari bersinar setiap hari..&#8221;<br />
&#8220;Adakah kamu menikmati permainan kita tadi Tara?&#8221; maukan kau menikmatinya ditiap kesempatan ada?&#8221;<br />
&#8220;Ya Harry saya bahagia, dan menikmatinya ngentot denganmu darling&#8221;</p>
<p>Dikecupmya Tara sekali lagi dan mengucapkan selamat kerja, kemudian ditinggalkannya Tara meneruskan pekerjaannya. Adapun Tara sendiri merasa bahagia, nikmat, seolah ringan dalam tubuhnya, karena birahinya tersalurkan baik dengan orang yang dia cintai, dia lalu mengerjakan pekerjaannya dengan suka cita.</p>
<p>Selang dua hari kemudian, dipagi hari, jam 7 pagi Tara sudah ada dikantornya, Tara mendapatkan SMS dari Harry, dimana Tara memang sangat mengharapkannya.<br />
&#8220;Datanglah ke lantai 9, aku sedang mencek kamar VIP untuk siang ini, bawa set brochures yang untuk kamar 914, Housekeepernya kelupaan.&#8221;<br />
Segera datanglah Tara kelantai 9 dan memberikan nya ke Harry, yang bertemu dilorong dekat kamar penyimpanan Linen Hotel.</p>
<p>Begitu melihat Tara datang, segera Harry membuka kedua lenggannya dan menyambutnya dengan dekapan dan ciumannya dibibir hangat Tara. Sadar akan keadaan, segera dibawanya Tara kekamar linen tersebut segera dilanjutkannya melumat bibir Tara, sambil tangan kirinya meraba pantatnya yang penuh, dan memerosotkan CD dan stokingnya, ditariknya dengan kakinya supaya turun terus ke lantai. Segera setelah itu, tanggannya pindah ke depan menggapai gundukan vagina Tara yang sudah menunggu kenikmatan ciptaan tangan Harry. Tangan Tarapun tak tinggal diam, dan dibukanya retsleting celana Harry dan segera diturukannya semua termasuk celana dalam Harry secepat kilat.<br />
&#8220;Tara, kita sambut pagi ini dengan ceria matahari pagi ya, Kita making love disini, para &#8216;Housemaid&#8217; belum datang, tenang saja kita OK.&#8221;</p>
<p>Tara meminta Harry untuk memindahkan kursi ini ke pintu, maka dilakukannya perintah Tara, untuk memindahkan sebuah kursi didepan pintu. Dan dibukanya baju Tara semua dan juga Tara membuka baju Harry, hingga mereka telajang bulat, tak selembar benangpun melekat pada tubuh mereka. Harry memposisikan dirinya berdiri berhadapan dengan Tara, kaki Tara sebelah kiri mengait kaki kanan Harry dan sebaliknya Kaki kiri Harry mengait kaki kanan Tara, segera Harry menyelipkan penisnya dalam vagina Tara, sambil tangan kiri mereka memegangi kaki kiri mereka yang menepel di pantat mereka masing-masing.</p>
<p>Harry mengayun pantatnya kuat-kuat dan Tarapun menjepit, dan mengerakkan vaginanya mengimbangi ayunan Harry, kenikmatan mereka daki bersama, dengan dengausan dan erangan kecil-kecil dari mulut mereka terlepaskan, dan dengan sepenuh tenaga, Harry melaksanakan tugasnya dengan sempurna, hingga Tara mengerang kuat mendapat orgasmenya. Tara merangkul Harry kuat-kuat sambil memangut, dan menghisap liur Harry dengan garang penuh nafsu birahi.</p>
<p>Setelah reda emosi dan getaran seluruh tubuh Tara, dilepaskannya semua posisi itu dan Harrypun minta Tara menungging dengan berpegangan ditiang teroli linen yang terbuat dari kayu yang kuat dan besar itu. Maka ditusukkannya penis merah Harry divagina Tara dari belakang, dan digoyang-goyangkan berulangkali untuk mendapatkan posisi yang nikmat untuk Tara, reaksi tarapun segera merintih menikmati goyangan tersebut, dengan goncangan penis Harry yang menggesek G-spotnya didalam sana, seolah ada sesosok tubuh yang kuasa menarik dorong sukma nya dari ubun-ubun, Tara pun mencengkeram tiang kayu itu sambil meracau tak menentu.</p>
<p>Kemudian dengan ayunan pasti penuh nafsu birahi dihujamkannya penis tegang Harry itu berualang-ulang pada Vagina Tara, terasa Vagina Tara melelehkan cairan kenikmatannya membuat derap penis Harry semakin lincah menari didalam relung nikmat Tara.</p>
<p>Sungguh, nikmat yang dirasakan Tara, diapun mendongak-dongakkan kepalanya sambil meracau.<br />
&#8220;Harry, enaak, Haarry teruskan aku sedang mendaki bersamamu sayang.&#8221;<br />
&#8220;Hunjam memekku keras-keras, layangkan aku ke angkasa, biarkan aku mendapatkan orgameku yang indah lagi Harry!&#8221;<br />
Harrypun semakin giat mendapat seruan Tara, di hentakkannya lebih keras kontol yang keras itu di relung nikmat Tara dan akhirnya iapun merasakan denyutan kepala kontolnya tak tertahankan lagi.<br />
&#8220;Tarra aku dataang, nikmatilah ini, siapkah kau menerimanya?&#8221;<br />
&#8220;Ya Harry, aku sudah siap, membungkuklah dan cium punggungku dan remas susuku Harry&#8221;<br />
&#8220;Cepat lakukanlah aku akan orgasme aacchh sshhtt, Harry enak sekali aku sampai juga Harryy..&#8221;<br />
Cepat otomatis, Hary membungkuk dan menciumi punggung Tara,meremas-remas payudara Tara dengan gairahnya yang memuncak.<br />
&#8220;Tarra, achh aku keluarr, addduhh enak Tara!&#8221;<br />
Sesudah selesai mereka orgasme, lunglailah mereka di kursi duduk dan saling berpangkuan.</p>
<p>Ke bagian 4</p>
<p>Oleh: liana_issabella@yahoo.com.au </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelora Cinta Tara di &#8220;Rumah Besar&#8221; &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 12:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2960</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Tepat jam 19:50 malam Tara berajak dan menutup pintu menuju ke atas lantai 14 no 31, dimana Harry sudah menunggu nya. Setelah dia memencet tombol bel Harrypun membuka pintu, seraya mepersilahkan Tara masuk ke dalam Paviliunnya. Kaget bukan kepalang ketika berhadapan dengan Harry, karena Harry hanya mengenakan jas kamar dan menalikan sabuknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Tepat jam 19:50 malam Tara berajak dan menutup pintu menuju ke atas lantai 14 no 31, dimana Harry sudah menunggu nya.<br />
Setelah dia memencet tombol bel Harrypun membuka pintu, seraya mepersilahkan Tara masuk ke dalam Paviliunnya.<br />
Kaget bukan kepalang ketika berhadapan dengan Harry, karena Harry hanya mengenakan jas kamar dan menalikan sabuknya tidak kencang, jadi sebagian paha atasnya yang berbulu kelihatan. Segera Harrypun menyadari keadaan dan merangkul, membimbing Tara kedalam sambil membetulkan jas kamarnya.<br />
Segera, berkatalah Harry, &#8220;Tara kamu lelah, releks aja ya bersamaku disini, jangan kau hiraukan penampilanku, saat ini, telah kusiapkan dinner untuk kita berdua, maukah kau menemaniku malam ini?&#8221;<br />
Tara menjawab, &#8220;Saya yakin ini bukan sebuah order dari atasanku, namun aku datang untuk memenuhi komitmenku kepadamu, ya kita akan bersama beberapa saat malam ini.&#8221;</p>
<p>Serta merta Harry menggapai dagu Tara dan segera menempelkan bibir hangatnya kepada Tara dengan penuh kasih dan emosinya.<br />
Tara pun tak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Hari dan menyedotnya dengan keras air liur Harry, dililitkannya lidahnya menyambut lidah Harry dengan penuh rasa getaran birahi, serasa dia bisa menghilangkan sekejap semua kekecewaan bathinnya akan sikap Nico suaminya.</p>
<p>Setelah puas meraka bertautan merekapun berajak untuk makan malam. Selama makan malam, mereka bukan hanya menceritakan pengalaman indah dalam perkawinannya, namun juga kekecewaan dan himpitan dalam rumah tangga mereka masing-masing. Sesekali tangan mereka saling mengelus dan meremas; tak terasakan lilin telah hampir tinggal separoh batang, habis terbakar oleh bara yang romantis dan syahdu. Hampir jam 21:00 mereka selesai makan, Harrypun kemudian masuk dan mengambil jas tidur wanita yang biasa disediakan untuk tamu VIP, bahan dari silky warna kuning lembut pastel dan katanya,<br />
&#8220;Tara, ganti ini yuk, nanti pakaian kerja kamu kusut loh&#8221;<br />
&#8220;Boleh nggak kubukakan pakaianmu, sayang&#8221;<br />
&#8220;Boleh Harry, tentu sekalian kau akan menyayangiku kan?&#8221;<br />
&#8220;Ya Tara, gimana kalau kita pindah di kamar tidur saja&#8221;, seraya digendongnya Tara dari ruang makan ke kamar tidur dan direbahkannya tubuh molek itu di kasur.</p>
<p>Segera, Harrypun membalik badannya dan menuju ke Audionya memasang satu set lagu-lagu klasik, &#8220;Serenade&#8221;, Hofstetter ciptaan Haydn, &#8220;Waltz of the Flowers&#8221; dari Peter Tchaikovsky dan&#8221; The four Season: &#8220;Spring&#8221; dari Vivaldi, dimana lagu-lagunya lembut namun ceria penuh gairah; sangat cocok untuk musim spring, dimana saatnya setiap insan sedang enak-enaknya membuat cinta, karena dunia pernuh warna dan hangatnya pas, nyaman sekali untuk semua insan didunia.</p>
<p>Kembali Harry membalikkan badannya ke Tempat tidur, ternyata Tara telah ganti pakaian dengan jas tidurnya dengan tidak ditalikan sabuknya, terlihatlah bra yang transparan dengan &#8220;push up bra style&#8221;warna pastel, memberikan kesan seakan payudara Tara hampir tumpah meluap keluar lebih dari sepertiganya. Tangan kiri Tara mengelus-elus payudara yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sedangkan tangan kanannya membelai &#8220;pussy&#8221;nya yang menyembul mendesak CDnya, karena Tara memang mengenakan celana &#8220;mini high cut style&#8221;.</p>
<p>Melihat pemandangan yang mempersona itu, segera Harrypun menghampiri Tara dengan deburan darah dan nafsunya, langsung menyambar bibir Tara yang lembut dan hangat, dilumatnya bibirnya dan didorongnya lidahnya untuk mencari lawannya didalam rongga mulut yang tak begitu besar itu. Dan didalam sana ternyata sambutan hangat, agak liar telah siap menari bersamanya didalam dan bertautlah keduanya dengan penuh nafsu birahi.</p>
<p>Getaran jantung serta desiran darah Tara mengantarnya sampai kepintu kenikmatan yang tiada berujung, sementara tangan kanan Harry otomatis mendarat disembulan hangat payudara sebelah kanan Tara yang segar; dielusnya lembut,diselusupkan tanganya dalam bra yang hanya 2/3 menutupinya dan dikeluarkannya buah dada Tara, ditekan, dicarinya puntingnya kemudian dipilin halus seraya ditariknya pelan. Dengan perlakuan ini Tarapun melepas ciuman Harry dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalanya kekiri dan kekanan.</p>
<p>Selepas tautan kedua bibir hangat itu, Harry menyapu dagu dan leher Tara, hingga Tarapun meracau menerima dera kenikmatan ini.<br />
&#8220;Harry, getaran dalam tubuhku mendera sukmaku Harry, kenapa kudapatkan ini darimu bukan dari Nico&#8221;<br />
&#8220;Harry, hantarkan aku mencapai awang-awang bersamamu, berikan aku kesempatan untuk menikmati bara cintaku denganmu Harry.&#8221;<br />
&#8220;Aaachh shheesstt, aachh aachh&#8221;<br />
Harrypun melepas kegiatan mulutnya.<br />
&#8220;Tara, aku telah khawatir tadi bila kau akan lari dariku, telah lama kudambakan ini denganmu, aku mencitaimu Tara.&#8221;<br />
&#8220;Mengapa baru kali ini aku bisa menggapaimu, jangan lagi kau pergi dariku&#8221;</p>
<p>Tangan Harry pun segera membuka kaitan branya yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan Ibu jari sebelah kanan Harry, segeralah dua buah gunung kembar indah itu menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Segera ditempelkannya bibir hangat Harry pada buahdada Tara sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu, secepat itu juga merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang keatas. Dikulumnya puting itu dengan buasnya, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi Harry. Adapun reaksi Tarapun semakin mengila, mengerang dan melenguh, sambil mengangkat badannya seraya melepaskan Jas tidurnya berserta bra yang telah dibuka Harry dan dilemparkannya dikursi dekat tempat tidur tersebut.</p>
<p>Harry segera menyadari keadaan, dengan giat penuh nafsu Harry menyedot buahdada Tara yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CD Tara dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar keatas, segera dirabanya kearah vertical, dari atas kebawah, yang ternyata ditemuinya sudah basah lembab, tanda cairan birahi tara telah tak tahan menahan dera kenikmatan dari perlakuan Harry. Segera Harrypun menurunkan CD Tara tersebut, mendorongnya dengan kaki kirinya sampai jatuh ke karpet. Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberi sentuhan rangsangan pada memek Tara, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat dan dipangkasnya adapun dibagian belahan memek dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut, rangsangan Harry ini semakin tajam dan hebat hingga Tara meracau.<br />
&#8220;Harry touch me please, touch me..&#8221;<br />
&#8220;Harry make me fly, I want to fly with you darling, please.&#8221;</p>
<p>Harry segera membuka belahan gundukan tebal memek Tara, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah dibantu dengan Ibu jari nya untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari klitoris Tara; kemudian disapunya dengan telunjuknya ke atas dan kebawah. Tarapun mengerang-erang kuat tak bisa terkontrol. Adapun mulut Harrypun segera menjalar kebawah menyambut klitoris yang telah hangat dengan sentuhan jari telujuknya lalu dijulurkan lidahnya menggatikan kegiatan jari tangannya, disapunnya klitoris yang semakin membesar dan keras itu, ditekannya dengan penuh nafsu, bagai serigala yang sedang yang mendambakan kenikmatan daging rusa atau kembing muda, ataukah sang lebah yang ingin menghisap madu surga dunia bersama Tara; sedang kegiatan tangan kanan Harry tetap melanglang buana dalam lorong kenikmatan Tara menari didalam rongga yang gelap; Tarapun mengelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasmenya yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya; sambil terengah-engah Tara mendorong pantatnya naik, seraya tangannya memegang kepala Harry dan menekannya kebawah sambil meracau.<br />
&#8220;Harry, fuck me darling, please fuck me with your tongue&#8221;</p>
<p>Harry pun memindahkan tangannya dari relung kenikmatan Tara dan digantikannya dengan lidah yang kuat dan digerakkannya keluar masuk diantara lembah kenikmatan dan relungnya; Tarapun menjerit menerima ledakan Orgasmenya yang pertama, magmanya pun meluap menyemprot keatas hidung Harry yang mancung.<br />
&#8220;Harry aku keluaarr, aacchh Harry memekku berdenyut kencang, kiss me please kiss me darling..&#8221;<br />
dan.. mengejanglah Tara beberapa waktu sambil tetap meracau.<br />
&#8220;Harry kau jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku darling, Please kiss me, acch ini permainan indah Harry baru kali ini aku benar mendapatkannya&#8221;</p>
<p>Harry segera bangkit mendekap erat, diatas dadanya Tara yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasmenya; diciumnya mulut Tara dengan kuatnya, yang disambutnya oleh Tara dengan tautan garang, menyerang lidah Harry dalam rongga mulutnya yang indah. Tergoleklah Tara tak berdaya sesaat, Harrypun mencumbunya dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuh Tara yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan matanya yang terpejam dengan penuh cinta; dibiarkannya Tara menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasmenya yang hebat,juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang ia rasakan, kemudian katanya,</p>
<p>&#8220;Harry kau memberikan aku kebahagiaan, tak pernah aku merasakan sentuhan laki-laki yang nikmat seperti ini.&#8221;<br />
&#8220;Dengan Nico, aku lebih hanya menjalankan kewajibanku, mempersembahkan badanku untuknya, dan tak mempunyai hak untuk menikmatinya.&#8221;, dengan perasaan getir yang dalam Tara mengucapkannya.<br />
&#8220;Sudahlah, jangan kau ucapkan lagi, kita nikmati saja kebersamaan kita berdua, tak ingin rasanya keindahan ini terganggu dengan kekecewaan yang melintas di benak kita masing-masing.&#8221;</p>
<p>Dengan sentuhan dan belaian Harry, Tara terbangkit gairah nafsunya lagi, segera dia bangkit, di dorongnya pelah badan Harry yang berada diatasnya, direbahkannya badan Harry disampingnya. Tara menundukkan kepalanya di pipi Harry, dicium dijilatinya pipinya, menjalar kekupingnya, dimasukkannya lidahnya kelobang kuping Harry, sehingga Harrypun meronta menahan gairahnya; kemudian jilatan Tara turun kebawah sampai dipunting susu kiri Hari yang berambut, dibelainya dada Harry yang penuh dengan rambut kecil, sedang tangan kanannya memainkan puting yang sebelah kiri. Menggelinjang Harry mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambatkan gairahnya itu, iapun mengerang, dan mendesah.</p>
<p>Kegiatan Tarapun semakin memanas dengan diturunkannya sapuan lidahnya sembari tangan Tara merangkak ke perut dan dimainkannya lubang pusar Harry sedikit ditekan kebawah dan kesamping, terus dilepaskannya dan dibelainya perut bawah Harry akhirnya sampai kekemaluan Harry yang sudah mengeras namun masih terbalut dc wana biru gelap. Kemudian dibuka, dielus lembut dengan jemari lentiknya batang kemaluan Harry, yang menentang ke atas berwarna kemerahan, kontras dengan kulit Harry yang putih, kepalanya pun telah berbening air birahi. Melihat keadaan yang sudah sangat menggairahkan tersebut, tak sabarlah Tara; segera menempelkan bibir hangatnya kekepala kontol Harry dengan penuh gelora nafsu, disapunya kepala kontol dengan cermat, dihisapnya lubang air seninya, hingga membuat Harry memutar-mutar kepalanya kekiri-kekanan dan mendongkak dongkakkan kepalanya menahan kenikmatan yang sangat indah tiada tara, adapun tangannya menjambak Tara.<br />
&#8220;Tara kekasihku, dera nikmat darimu tak tertahankan, kuingin memilikimu seutuhnya Tara&#8221;<br />
&#8220;Tara please berikan ini ditiap menit di kehidupanku jangan kau lari dariku sayangg, jangan kau lari dariku Tarraa&#8221;</p>
<p>Tarapun tidak menjawabnya, hanya lirikan matanya sambil mengedipkannya satu kearah Harry yang sedang kelojotan, sukmanya terbang melayang ke alam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi, diiringi lagu &#8220;The four Season: Spring&#8221; dari Vivaldi.<br />
Adapun tangan Tara memijat dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, serta lidahnya pun menjilat seluruh permukaan kepala kontol tersebut, temasuk dibagian urat yang sensitive bagian atas sambil dipijat-pijatnya dengan penuh nafsu birahinya.</p>
<p>Ke bagian 3</p>
<p>Oleh: liana_issabella@yahoo.com.au </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelora Cinta Tara di &#8220;Rumah Besar&#8221; &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 12:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2958</guid>
		<description><![CDATA[Tara adalah seorang Ibu rumah tangga, yang cukup santun, cantik dan pandai, dia seorang karyawati menengah yang sukses adapun suaminya Nico sangat religius dan agak kaku; malah dapat digolongkan sangat tradisionil jalan berpikirnya. Kehidupan Tara menjadi berubah dengan segala prubahan zaman serta kariernya, dimana dia bekerja disebuah hotel yang bintang lima di suatu property di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tara adalah seorang Ibu rumah tangga, yang cukup santun, cantik dan pandai, dia seorang karyawati menengah yang sukses adapun suaminya Nico sangat religius dan agak kaku; malah dapat digolongkan sangat tradisionil jalan berpikirnya.</p>
<p>Kehidupan Tara menjadi berubah dengan segala prubahan zaman serta kariernya, dimana dia bekerja disebuah hotel yang bintang lima di suatu property di kota besar dibagian dunia ini.</p>
<p>Dengan penampilan Tara yang manis, ramah, pandai juga sexy, Tara menjabat sebagai &#8216;Event Coordinator Manager&#8217;, adalah suatu bagian yang memang cukup sibuk, di dunia &#8216;Hospitality Industry&#8217; dan sering dia harus bekerja sampai larut malam.</p>
<p>Didalam kehidupan social diHotel ada sebuah motto yang tak tertulis bahwa semua orang seharusnya bantu membantu, apa bila orang pernah tidak membantu satu bagian lain, otomatis suatu ketika dia akan kena batunya sendiri karena tidak akan diperlakukan baik bila dia mendapat kesukaran dikemudian hari.</p>
<p>Motto ini dipegang teguh oleh Tara, sejak kepindahaannya dari lain perusahaan, yang benar-benar berbeda nafas dan warna usahanya; namun dengan cepat Tara bisa mengikuti jalur permainannya.</p>
<p>Namun tak mengherankan juga, cara kehidupan yang begitu erat di property Hotel itu akhirnya mereka juga saling menjalin kasih diantara mereka, entah itu orang dari Front house dengan Back house, manager dengan waitress nya, ataupun chef dengan front office officernya; walaupun, ada tertulis bahwa mereka tidak boleh saling melecehkan pegawai, dalam arti pelecehan apapun termasuk sexuality.</p>
<p>Banyak pegawai menyebutkan bahwa Tara adalah seorang yang sexy, menawan dan ramah, dengan kulit &#8216;fair&#8217; rambut panjang serta &#8216;grooming&#8217; selalu terjaga, tidak terlalu menyolok dalam berdandan, juga ringan tangan. Mungkin hal ini karena dia dari Indonesia, yang terkenal dengan ramah tamah dan berbudi bahasa halus.</p>
<p>Suatu saat pegawai Hotel dihebohkan dengan kejadian adanya pemerkosaan dan pembunuhan sebelah kanan gedung property Hotel, dilakukan oleh orang lokal yang memang tampang dan cara kehidupannya agak menyeramkan bagi yang menemuinya, namun jumlah mereka tidak banyak, dan makin memudar.</p>
<p>Dengan peristiwa itu, banyak wanita pekerja Hotel itu harus di&#8217;escort&#8217; sampai ketempat parkir atau pun tempat pemberhentian bis dimana dia harus mengambil jalur bis menuju ke rumahnya masing2 di malam hari, oleh siapa saja yang bertugas malam itu, bagian front office yang laki-laki, terutama Security.</p>
<p>Tak berbeda dengan Tara, diapun mendapat perlakuan yang sama karena sering kali dia harus selesai jam 22:00 atau 22:30. dimana kadang dia hanya naik bis saya menuju ke suburb dimana dia tinggal.</p>
<p>Disuatu malam, karena Hotel memang sedang sibuk sekali Tara harus pulang malam, Tara menelephone pada suaminya yang sudah dirumah.<br />
&#8220;Nic, kerjaan aku belum selesai tuh, mungkin aku sampai agak malam karena harus keluarin leaflets dan brochures ini besok pagi?&#8221;<br />
&#8220;Biar deh aku naik bus aja ntar kamu jemput di halte bis aja ya?&#8221;<br />
&#8220;Uchh aku juga lagi nyiapin presentasi buat besok nih Tar, udah deh bila aku udah ngantuk ya sampai ketemu ditempat tidur aja ya&#8221;, jawab Nico.<br />
&#8220;OK deh soalnya aku belum tahu sampai jam berapa aku selesai, I love you&#8221;<br />
&#8220;OK I love you too, anak-anak udah pada belajar kok mereka udah mo pada bobo, udah ya muuacch!&#8221; kata Nico.<br />
&#8220;Ya udah sampai nanti, Mmmuuachh&#8221;, sambut Tara dengan agak rasa kesal.<br />
Tara meletakkan telephonenya dan mulai bekerja kembali menyelesaikan pekerjaannya yang menuntut penyelesaian malam itu.</p>
<p>Jam 20:00 dia turun keKantin untuk makan malam, banyak pria yang menayakan akan keberadaannya dan menawarkan untuk panggil aja bila butuh escort. Tarapun menjawab dengan ramah dan santai, sambil memikirkan akan makan apa yang ada dikantin, karena kadang membuat dia bosan juga makanan ala Hotel yang itu-itu juga, terasa kurang rasa, tidak seperti di rumah makan Indonesia atau di warung makan biasa. Akhirnya dia cuma makan cumi yang digoreng pakai tepung dengan sayur mayur dan sedikit nasi goreng yang memang tinggal sedikit.</p>
<p>Tara tak menghiraukan lingkungannya selama makan, karena ingin cepat kembali kepekerjaannya dan pulang tak terlalu malam, rupanya ada seorang yang memperhatikan tingkah lakunya yang agak serius setengah resah.<br />
&#8220;Banyak kerja Tara?&#8221;<br />
Tarapun menoleh karena kaget rasanya sangat familiar dengan suara itu.<br />
&#8220;Oh ya, kok kamu Harry, kok makan sini sih, bukannya kamu harusnya udah pulang tadi 2 jam yang lalu.&#8221;<br />
&#8220;Ya sama aku juga terjerat kerja nih besok ada Press Release&#8221;, kata &#8220;Deputy Executive Managing Director&#8221; ini menerangkan.</p>
<p>Selesai kerja, Tara pergi kebawah menuju keFront Office untuk minta &#8220;escort&#8221;, kemudian seorang ditugaskan untuk mengantarnya sampai kehalte bis menunggu sampai dia naik bis.<br />
Namun tiba-tiba Harry menyahut dari belakang, &#8220;Biar saya saja yang mengantar Tara&#8221;<br />
Maka Tarapun jadi tidak enak hati dan menjawab, &#8220;Gak usah deh Harry biar Peter aja yang menantarku, keluargamu menunggumu&#8221;<br />
&#8220;Ya OK deh Peter, antar Tara kepemberhentian bis, jangan kamu pulang bila dia belum naik bis ya&#8221;, godanya.</p>
<p>Sampai dirumah, Nico telah mengorok diperaduannya, melihat anak- anaknya udah lelap, kelihatan sangat suci sekali wajahnya dalam tidur nyenaknya. Cepat Tarapun membersihkan diri dan masuk ke quilt menyusul Nico tidur di malam spring yang agak sejuk itu. Mendekap Nico dari belakang, berusaha melupakan kekesalannya terhadap Nico yang selalu agak masa bodoh.</p>
<p>Segera terjatuhlah Tara tertidur, namun belum pulas sekali; Nico merasa bahwa istrinya telah berada disampingnya, segera dia membalik dan melucuti pakaian Tara, juga dirinya sendiri. Segera dia memasukkan kemaluannya kedalam vagina Tara.<br />
Walaupun Tara agak capek dari kerja masih terpejam matanya, dia tak dapat mengelak perilaku suaminya yang memang tanpa permisi dan basa basi bila ingin menyalurkan syahwatnya, pun pula tanpa &#8220;warming up&#8221; dan cumbuan; Nico langsung menancapkan kemaluannya dan memompanya sepuasnya, bagaikan sebuah mesin sex yang lagi di&#8221;switch on&#8221;, semua getaran badan Nico terasa dibadan Tara.</p>
<p>Belum juga Tara merasa mencapai pendakian birahinya, Nico telah sangat memburu nafsunya dan deru nafasnya tak terelakkan, kemudian keluarlah air many Nico dalam rahim Tara ,creet, cret, cret. Tarapun menjadi kaget, karena dia masih belum separoh jalan menuju ke puncak pendakiannya dan masih harus berkonsentrasi akan rasa gesekan penis Nico dalam relung kenikmatannya, namun Nico telah KO, dan lunglai di dadanya.</p>
<p>Betapa jengkel dan kecewa hati Tara, akan perlakuan suaminya yang selalu tak pernah memberikan kesempatan untuk berexpresi dan mendapatkan kenikmatan bila mereka membuat cinta. Namun Tara harus menerimanya dengan diam, karena telah beribu kali dia utarakan untuk berbicara mengenai hal yang satu ini, namun Nico, menjawabnya dengan masa bodoh seolah, memang itu tanggung jawab wanita, sebagai pelampyas nafsu suami titik.</p>
<p>Esoknya, Tara kembali bekerja dengan tekunnya, memang kebetulan kamar kerja Tara berada agak pojok dan ngak banyak orang lalu lalang karena memang kegiatannya yang membutuhkan ketenangan, dalam menghadapi para langganannya. Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan, ternyata, Harry yang masuk, kontan kaget Tara akan kehadirannya, karena biasanya bila orang masuk tentu mengetuk pintu terlebih dahulu. Matanya agak sayu dan langsung menutup pintu kamar dan berkata,<br />
&#8220;Tara, kau tentu tahu bahwa aku menyukaimu, bukan saja pinggul dan dadamu yang indah, namun perilakumu meruntuhkan imanku.&#8221;<br />
&#8220;Kudambakan kelembutan wanita seperti kau, dan aku tahu, kau akan mengimbangi deru cinta dan nafsuku Tara&#8221;, berkata begitu sambil menatap mata Tara yang masih agak terperanjat namun juga sebagai kejutan, karenanya darahnya berdesir kencang sewaktu tangan Harry menggapai tanggannya, dan meremasnya halus.</p>
<p>Ditariknya tangan Tara lembut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menggapai leher Tara dan menariknya mendekat di mukanya, dalam sekejap bibir Harrypun telah menempel dibibir Tara dengan hangatnya. Terasa, hangat dan bergetar bibir Tara menerima kenyataan indah ini, sesaat Harry mendorong lidahnya dan memainkannya dirongga mulutnya dengan aktif, sambil sesekali menekan dan menghisap liurnya.</p>
<p>Jantung Tara berdegup kencang, dan darah berdesir, keringat mulai membasah, menerima kenikmatan. Hangatnya dekapan yang tak disangka-sangka, membuat tubuhnya bergetar dan menggeridik bulu kuduknya, dalam berpangutan hangat ini. Akan tetapi, dirasakannya ada suatu halangan kenikmatan mereka, karena mereka berciuman terpisahkan antara meja tulis selebar 90 sentimeter. Maka bergesarlah Harry kearah balik meja dimana Tara berdiri, dan langsung mendekatkan dirinya pada Tara dan mendekapkan tangannya dipunggung Tara, kemudian merambatkan tangannya memegang leher dibalik rambut Tara yang panjang sebahu. Diraba dan dielusnya leher Tara dengan lembut, sambil bibirnya terus memangut bibir Tara yang hangat.</p>
<p>Hampir lupa Tara bila dia dalam keadaan dinas; terhenyaklah mereka ketika telephone berdering, serta merta Tara mendorong pelan Harry, mengangkat telp dan menjawabnya setelah sesaat dikuasainya diri dan emosinya sendiri.<br />
&#8220;Event coordinator office, Tara speaking&#8221;<br />
Ternyata yang telepon dari graphic designer bicara mengenai design yang telah Tara setujui akan langsung di cetak, dan Tara menyetujuinya.</p>
<p>Setelah selesai pembicaraan dengan graphic designer, Harrypun terus memegang tangan Tara lagi, dan mengatakan,<br />
&#8220;Tara, jangan lari dariku lagi please, aku mencintaimu&#8221;<br />
&#8220;Akan kuatur kebahagian kita bersama, will you accept this please&#8221;<br />
Tara tak kuasa menjawab, hanya anggukan kepala dengan mata tak berkedip memandang Harry, seolah cahaya kuat yang mempunyai daya tarik yang besar menyedot dirinya hampir dia tak akan bisa melepasnya. Maka Harry pun menegaskan sekali lagi.<br />
&#8220;Tara, aku ngak puas dengan anggukanmu, katakan bahwa kau juga merasakannya!&#8221;<br />
Akhirnya Tarapun berkata, &#8220;Ya Harry, akupun merasakannya dan akan kucoba memenuhi tuntutan jiwaku&#8221;<br />
&#8220;Kuharap kau sabar Harry, atas kebingunganku ini, namun tak kupungkiri aku mencintaimu juga&#8221;<br />
Harry segera menggapai tangan Tara sekali lagi dan mengelusnya sambil mengecup bibir, kemudian meninggalkan ruangan untuk mengadakan &#8220;Press Release&#8221;.</p>
<p>Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12:15 siang dan terasa Tara butuh mengisi perutnya yang sudah mulai merengek minta dipenuhi, dan diapun meninggalkan ruangan menuju ke kantin. Tara tak banyak bercanda dengan sejawatnya, hanya sekedar basa basi dan ketawa menyegarkan suasana. Sekembali Tara keruang kerjanya, didapatinya surat tertutup yang ternyata dari Harry.<br />
&#8220;Tara, temui aku jam 8 malam di paviliunku room 1431, thank you for your acceptance.&#8221;</p>
<p>Terasa berdesir darah menjadi cepat mengalir, terhentaklah jantungnya bagaikan halilintar menjambar dirinya, tak kuasa menahan deru detak jantung yang semakin mengencang, bingung rasanya apa yang akan diperbuat nanti malam, dalih apa yang akan disusunnya untuk memberitahu Nico suaminya. Segera Tara memutuskan menelphone Marrisa &#8216;Executive Secretary&#8217; di&#8217;executive Offce&#8217;, memberitahukan bahwa dia ada appointment dokter siang itu dan akan kembali ke Hotel jam 4 sore untuk meneruskan kerjaannya, yang menurut agendanya dia akan selesai dimalam hari. Marrisa menjawab bahwa dia akan mencatat semua pesan-pesan yang masuk dari telephone untuknya.</p>
<p>Kepergian Tara sebetulnya hanya akan menjenguk Nico dikantornya dan sambil minum kopi bersamanya sejenak, kemudian dia pulang bersama Nico untuk bertemu dengan anak-anak, hampir satu setengah jam Tara bermain dengan anak-anaknya, Tara kembali keHotel lagi dan bekerja kembali. Sore jam 6 dia minta &#8220;room service&#8221; untuk mengirim secangkir kopi kekantornya dan sedikit kue supaya Tara dapat menghemat jam kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu.</p>
<p>Ke bagian 2</p>
<p>Oleh: liana_issabella@yahoo.com.au</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gelora-cinta-tara-di-rumah-besar-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijat Gairah</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pijat-gairah.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pijat-gairah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:35:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2924</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari sahabatku Arman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya. Arman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Daru, kakek usia kepala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berawal dari sahabatku Arman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya. Arman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Daru, kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..</p>
<p>&#8220;Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Daru istri loe harus bugil total. Mau nggak dia?&#8221; Arman bertanya padaku.<br />
&#8220;Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?<br />
&#8220;Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Daru itu udah tua banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah. Tapi istri loe harus setuju dulu.&#8221;<br />
&#8220;Nanti gue coba tanya dia deh..&#8221;<br />
&#8220;Pokoknya sip banget deh!&#8221;</p>
<p>Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vie istriku. Aku ceritakan apa yang kudengar dari Arman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung merah padam.</p>
<p>&#8220;Malu ah.. telanjang di depan orang lain&#8221; protesnya.<br />
&#8220;Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Arman istrinya bilang dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba memek koq&#8221;<br />
&#8220;Ih..&#8221; muka Vie semakin merah.<br />
&#8220;Kenapa khusus cewek?&#8221;<br />
&#8220;Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan.&#8221;</p>
<p>Vie mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya kuhubungi Arman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Daru. Setelah itu kucoba menghubungi Pak Daru dari nomor HP yang kudapat dari Arman. Singkatnya Pak Daru akan datang ke rumahku esok malamnya dengan perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vie. Esok malamnya sesuai janji Pak Daru tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang sudah tua sekali. Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri sementara Vie hanya melirikku dengan pandangan ragu. Kami menuju ke ruang tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Daru langsung &#8220;To the point&#8221; menghamparkan selimut tebal di lantai.</p>
<p>&#8220;Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini&#8221; katanya sambil menunjuk selimut sebagai alas.<br />
&#8220;Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian&#8221; sambungnya lagi.</p>
<p>Wajah Vie merona merah. Dia kelihatan nervous karena itu aku membantunya melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.</p>
<p>&#8220;Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu&#8221; Pak Daru memotong.</p>
<p>Vie berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Daru mengeluarkan dua botol kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun. Kemudian ia membuka yang bertutup hijau dan menggosokkan minyak tersebut pada kedua telapak tangannya. Ia mulai memijat bagian belakang hingga samping kepala Vie dengan perlahan. Aku duduk menyaksikan. Entah kenapa saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.</p>
<p>Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vie yang mulus dan dipenuhi rambut halus. Nampaknya Vie merasa enak dengan pijatan Pak Daru di kepala dan tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya. Dari tengkuk diteruskan ke bahu Vie yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai telapak tangan. Setelah itu Pak Daru meminta agar istriku melepas tali bra di punggungnya. Vie melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah tidak menutupi tubuh Vie dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Daru mengolesi punggung Vie dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta memijat punggung. Vie tampak menikmati pijatan ini.</p>
<p>&#8220;Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau suami Ibu yang melepasnya?&#8221; Pak Daru tiba-tiba berkata.</p>
<p>Wajah Vie memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Daru melepas celana dalam Vie tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vie yang indah dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang. Pak Daru melumuri dua bongkahan pantat Vie dengan minyak dan segera memijat dengan perlahan. Kali ini Vie mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vie mulai terangsang birahinya dengan pijatan Pak Daru. Apalagi ketika Pak Daru memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vie berubah menjadi lebih berat dan matanya terpejam. Pak Daru tetap memijat seperti tidak terjadi apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.</p>
<p>&#8220;Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini&#8221; Pak Daru menjelaskan.<br />
&#8220;Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi belum pernah dipakainya. Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vie. Kali ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vie merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.</p>
<p>&#8220;Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah Pak Saldy agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu.&#8221; kata Pak Daru setelah selesai memijat kaki istriku.</p>
<p>Kali ini kelihatannya Vie sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil posisi duduk bersila membelakangi Pak Daru. Tubuh indah Vie yang telanjang bulat berhadapan denganku. Pak Daru kembali menggosokkan minyak kedua pada telapak tangannya. Pak Daru terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan Vie.</p>
<p>&#8220;Saya minta izin kepada Pak Saldy dan Ibu Vie untuk melakukan pijatan di tubuh bagian depan Ibu Vie..&#8221;<br />
&#8220;Silakan, Pak Daru&#8221; jawabku<br />
&#8220;Silakan..&#8221; jawab Vie.</p>
<p>Langkah pertama Pak Daru adalah melumuri bagian sekitar vagina Vie dengan minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu kemaluan. Mulut Vie sedikit terbuka. Aku tahu Vie merasakan nikmat disamping rasa malu. Pijatan Pak Daru pasti membuat birahinya naik ke ubun-ubun. Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke dalam celah vagina Vie yang membuat Vie menahan nafas tetapi kemudian beralih. Bulu kemaluan Vie dibasahi oleh minyak pijat Pak Daru sementara Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.</p>
<p>Pak Daru melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vie, dan memijat perut terutama bagian pusar sehingga membuat Vie kegelian. Hanya sebentar saja, setelah itu Pak Daru meminta Vie mengangkat tangannya.</p>
<p>&#8220;Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu.&#8221;</p>
<p>Vie mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak Daru memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.</p>
<p>&#8220;Ihh.. geli pak..&#8221; Vie menggelinjang.<br />
&#8220;Ditahan Bu. &#8221;</p>
<p>Pak Daru mengabaikan Vie yang sedikit menggeliat menahan geli dan melanjutkan pijatannya di ketiak Vie. Setelah itu Pak Daru mengambil minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya. Selanjutnya dari belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vie yang langsung membuat Vie mendesah. Pak Daru melakukan massage lembut pada susu Vie yang sudah tegang. Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vie sangat terangsang dan lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.</p>
<p>Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku sangat bernafsu. Berbeda dengan Pak Daru yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa, Vie merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.</p>
<p>&#8220;Ukhh..&#8221; kali ini Vie mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya. Ingin sekali aku menggantikan Pak Daru memijat susu Vie.</p>
<p>Pak Daru menarik puting susu Vie dengan telunjuk dan jempolnya dengan perlahan sehingga membuat Vie mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai akhirnya Vie merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali pijatan si kakek ini.</p>
<p>&#8220;Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy&#8221; Pak Daru menyudahi aksinya.<br />
&#8220;Ya Pak?&#8221;</p>
<p>Pak Daru menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.</p>
<p>&#8220;Apa ini, Pak Daru?&#8221;<br />
&#8220;Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa.&#8221; bisiknya sambil tersenyum.</p>
<p>Setelah itu aku membayar Pak Daru dan ia pamit pulang. Vie sudah mengenakan pakaiannya lagi.</p>
<p>&#8220;Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Daru.&#8221; kataku.</p>
<p>Vie tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vie yang sedang dipijat. Vie membalas tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.</p>
<p>&#8220;Senggamai aku.. aku ingin segera kontol kamu masuk ke sini&#8221; Vie meracau sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.<br />
&#8220;Beres sayang.. &#8221;</p>
<p>Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya dari belakang. Vie segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding. Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin. Adalah proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina. Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vie merintih nikmat. Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas berlendir dan nikmat.</p>
<p>&#8220;Aahh..&#8221; Vie menghela nafas, tubuhnya bergetar.</p>
<p>Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat. Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vie tentang hal itu.</p>
<p>&#8220;Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku.&#8221; Vie balas berbisik.<br />
&#8220;Okee..&#8221;</p>
<p>Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian Pak Daru dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu aku tuangkan pada tanganku.</p>
<p>&#8220;Apa itu..?&#8221; tanya Vie heran.<br />
&#8220;Ini minyak dari Pak Daru, bagus buat payudara kamu&#8221;<br />
&#8220;Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku sampai kamu puas.&#8221;</p>
<p>Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua susunya yang bergelantungan bebas. Lalu aku mulai mengocok vaginanya dengan lembut. Vie menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan, tangan kiri di susu kiri. Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia mengintip sambil onani, aku tidak perduli.</p>
<p>&#8220;Mhh.. terus.. aah.. &#8221; Vie merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vie menggeliat.</p>
<p>Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku. Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan nafsunya. sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vie menjerit keenakan. Tiba-tiba tubuh Vie menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya. Lalu Vie melepaskan orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata Pak Daru, Vie orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vie bangkit kembali nafsunya dan mulai merintih-rintih.</p>
<p>&#8220;Saldy sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar..&#8221; Vie meracau membuat aku tercengang.<br />
&#8220;Nanti kamu kesakitan..&#8221; jawabku cepat disela kenikmatan.<br />
&#8220;Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh&#8221;<br />
&#8220;As you wish.. Istriku yang cantiik..&#8221;</p>
<p>Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan nikmat.</p>
<p>&#8220;Eaahh..&#8221; Vie menjerit keras.<br />
&#8220;Aah..iya..ah.. begiituu..&#8221;</p>
<p>Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vie. Berisik sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vie. Entah apa yang ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.</p>
<p>&#8220;Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin merasakan.. tenagamu.. uuhh..&#8221;</p>
<p>Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan kasar. Lagi-lagi Vie menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur nikmat.</p>
<p>&#8220;Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu..&#8221; Vie setengah berteriak.<br />
&#8220;Jangan ngaco.. sayang..&#8221;<br />
&#8220;Ngga apa ap.. aa.. aah..!&#8221;</p>
<p>Vie kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vie sampai pinggangku pegal. Vie mendesah lemah.</p>
<p>&#8220;Keluarin.. yang banyak di dalam..&#8221; katanya pelan.<br />
&#8220;Aku.. sedang subur.. biar jadi anak..&#8221;</p>
<p>Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vie. Kami berdua jatuh berlutut di lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.</p>
<p>&#8220;Anget..&#8221; Vie menggumam.<br />
&#8220;Apanya?&#8221; tanyaku terengah-engah.<br />
&#8220;Sperma kamu, di rahimku..&#8221;<br />
&#8220;Emang biasanya dingin ya?&#8221;<br />
&#8220;Yang sekarang lebih..&#8221;</p>
<p>Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih sudah menghilang. Puas sudah dia melihat &#8220;Live show&#8221; kami. Setelah itu kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vie yang tubuhnya penuh minyak. Tetapi setelah selesai mandi Vie kembali ganas dan &#8220;Memperkosa&#8221; aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: duamilk@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pijat-gairah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenikmatan Dengan Istriku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-dengan-istriku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-dengan-istriku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2906</guid>
		<description><![CDATA[Pagi tadi ke ketika saya sedang mandi, terdengar pintu kamar mandi di buka. Karena kamar mandi kami berada di dalam kamar kami maka saya tidak pernah mengunci kamar mandi saat mandi. Dari balik ruang shower yang dipartisi dengan kaca terlihat istri masuk dan sepertinya akan gosok gigi. Tanpa terlalu perdulikan, saya meneruskan mandi dan akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi tadi ke ketika saya sedang mandi, terdengar pintu kamar mandi di buka. Karena kamar mandi kami berada di dalam kamar kami maka saya tidak pernah mengunci kamar mandi saat mandi. Dari balik ruang shower yang dipartisi dengan kaca terlihat istri masuk dan sepertinya akan gosok gigi.</p>
<p>Tanpa terlalu perdulikan, saya meneruskan mandi dan akan membilas shampo yang ada di kepala dan sabun di badan. Selesai membilas kepala sampai bersih kemudian akan meneruskan membilas badan. Pada saat itu istri ikut masuk ke ruangan shower dengan sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Saya menoleh ke dia sambil meneruskan membilas badan yang masih bersabun dan menanyakan apakah mau mandi sendiri atau tidak. Dia hanya membalas dengan senyuman yang penuh arti dan saya sudah tahu maksudnya. Segera shower saya arahkan ke badan dia dan saya bilas dengan rata, kemudian saya ambil liquid soap ke tangan saya sendiri dan kemudian dia juga mengambilnya. Bagian belakang badannya saya sabuni mulai dari tengkuknya dan terus ke bawah merata sampai kaki.</p>
<p>Sementara itu dia menyabuni bagian depan dia. Saya mulai iseng, kedua tangan saya julurkan ke depan dari arah punggungnya dan segera menggenggam payudaranya, sambil meremas remas payudara jari jari saya juga memain mainkan putingnya. Karena begitu licin dengan sabun yang ada di badannya, rangsangan lebih cepat mengalir ke tubuhnya, putingnya segera mengeras dan tegang. Tangan dia yang sibuk menyabuni badannya pun semakin lama semakin pelan gerakannya dan akhirnya terdiam, sebagai gantinya dia mulai mendesah dan menikmati payudaranya yang sedang diremas remas saya.</p>
<p>Tangan kirinya kemudian bergerak kebelakang dia dan segera menggenggam penis saya yang belum terlalu bereaksi itu dan dengan tangannya yang masih bersabun itu, tangan digerakkannya kedepan belakang perlahan lahan sehingga penis menjadi benar benar kencang dan keras, terasa nikmat sekali goyangan tangan istri saya ini. Sementara itu tangan saya masih tetap berada di kedua payudaranya memainkan putingnya. Ketika itu saya membayangkan cerita dia yang lalu ketika pria lain meraba-raba tubuh dia dari belakang di teras aparteman pria itu.</p>
<p>Saya membayangakan bagaimana anak muda itu meremas dan memainkan payudara istri dari arah belakang, pasti dia begitu menikmati dan bahagia dapat memegang tubuh wanita yang indah ini tanpa imbal balik apa apa, bahkan sampai mendapatkan vaginanya dan dapat selesai di dalam vagina istri saya ini. Pasti dia merasakan sesuatu kenikmatan yang lain yang belum pernah dia rasakan dengan pacarnya atau wanita yang dia kenal selama ini.</p>
<p>Kemudian saya mulai menyirami badannya sampai bersih dari sabun, begitu juga saya. Setelah bersih dari sabun dia berbalik ke saya dan menyiumi saya dengan nafsunya, kemudian dia berlutut di depan saya dan segera mencium ujung penis dan menjilat dengan ujung lidahnya itu, kemudian perlahan lahan memasukkannya ke dalam mulutnya itu sampai habis tertelan. Sebelum mulutnya bergerak lebih lanjut terasa lidahnya bergerak gerak didalam mulutnya menyentuh berbagai sisi penis dan yang terakhir dia menyedot dengan begitu kencangnya memaksa keluar cairan dari ujung penis yang berbelah itu. Saya begitu terangsang hingga menggenggam kuat kepalanya. Setelah itu dia mulai menggerakkan mulutnya, terlihat penis keluar masuk ke dalam mulutnya.</p>
<p>Untuk beberapa saat kami terus menikmati permainan sex ini sampai akhirnya istri tidak tahan lagi membendung hawa nafsunya dan ingin segera penis memasuki vaginanya. Dia kemudian berdiri dan bersandar di dinding shower room dan salah satu kakinya diangkat sedikit dan menginjak salah satu sudut shower room, sehingga memudahkan penis untuk masuk. Saya segera memasukkan penis perlahan lahan dan kemudian di susul dengan gerakan pinggul sehingga penis terlihat keluar masuk ke vaginanya. Dia sekarang sudah tidak mendesah lagi, tapi merintih agak kencang. Kedua lengannya bergantung di leher saya. Selaras dengan gerakan pinggul saya, rintihannya pun semakin kencang, sampai akhirnya saya mencapai klimaks dan mengeluarkan cairan putih kental panas di dalam vaginanya.</p>
<p>Setelah penis berhenti mengeluarkan cairan, istri segera melepas penis saya dari vaginanya dan dia kembali berlutut dan menyirami penis dengan air. Dan segera menjilat lagi ujung penis yang berbelah itu dan menjilati sisa sisa sperma yang masih sedikit keluar dari ujung penis. Hari ini adalah weekend pertama saya setelah pulang dari luar negeri.</p>
<p>Siang tadi sekeluarga kami pergi ke Mall yang ada di sekitar Senayan. Seperti biasanya, setelah sampai di sana anak-anak memisahkan diri ingin jalan-jalan sendiri dan kami sepakat untuk bertemu lagi nanti. Saya dan istri jalan berduaan sambil merangkul pinggangnya. Dia memakai baju dan rok berwarna merah muda dan begitu cantik penampilannya, roknya panjang melebihi lutut dan dengan belahan rok yang agak tinggi.</p>
<p>Setelah capai lihat sana sini akhirnya kami istirahat di salah satu restoran di basement departement store di sana. Mungkin kalau orang lihat kami seperti sedang pacaran saja. Sekitar jam tiga sore kami sudah kembali ke rumah, dan malam ini kami berdua ingin bermalam minggu di luar. Mau pergi ke mana, kami belum menentukannya tapi yang pasti sekitar makan malam, nonton bioskop atau mungkin tempat tempat romantis yang dapat dipakai untuk berkencan.</p>
<p>Malam ini bajunya begitu sexy, berbeda dengan tadi siang. Atasannya memakai baju dari bahan kaos berwarna coklat muda yang begitu fit di badannya, bagian dadanya terbuka cukup lebar sehingga terlihat jelas belahan payudaranya dan karena dia memakai BH yang membuat payudara terdorong ke atas maka bentuk payudaranya terlihat lebih sexy lagi. Bawahannya rok dari bahan kaos juga berwarna orange dan benar benar pas di badannya. Roknya cukup mini sekali sehingga berkali kali saya dapat mengintip ketika dia duduk di berbagai tempat. Di mobil sudah jelas terlihat dalamnya karena jok yang rendah sehingga rok yang sudah mini ini tambah tertarik ke atas. Tapi malam ini dia memakai stocking berwarna gelap, tepatnya berwarna ungu tua dan kalau dilihat dari belakanng terlihat hiasan bergaris lurus mengkilat turun sampai ke kaki, dan di bagian pergelangan kakinya terlihat hiasan yang melingkari pergelangan kaki seakan memakai gelang kaki.</p>
<p>Malam ini akhirnya kami putuskan untuk nonton bioskop acara midnight. Seperti biasanya kami setelah antri membeli karcis pergi makan malam terlebih dahulu. Di restoran terlihat begitu banyak pasangan-pasangan muda, maklum karena malam minggu. Tapi walaupun demikian kami sempat menjadi perhatian orang ketika memasuki restoran itu.</p>
<p>Begitu juga ketika kami makan, sempat saya berbisik ke istri, &#8220;Tali garter kamu mungkin kelihatan, anak muda yang di sebelah meja kita melirik lirik..&#8221;.</p>
<p>Istriku sedikit melirik ke roknya, dan memang sedikit terlihat menurutnya, karena dia menyilangkan kakinya. Dia hanya berbisik dan katanya biarin saja, sambil tersenyum nakal ke saya dan kemudian dia menoleh ke pemuda itu dengan sedikit agak tersenyum sehingga pemuda itu terus segera memalingkan kepalanya dan pura pura bicara dengan pasangannya. Melihat kejadian ini dalam hati saya tertawa, istri saya usil juga. Dan yang lebih lucu lagi, pasangannya sepertinya tahu dan sedikit agak melotot matanya ke pemuda ini.</p>
<p>Tempat duduk kami di bioskop cukup strategis posisinya, agak di belakang tapi satu kursi di samping kami kosong. Kami sedikit agak bebas tanpa harus merisaukan sebelah kami. Ketika film selesai, diluar bioskop kami melihat pasangan muda tadi yang di restoran, ternyata mereka nonton bioskop juga, dia sempat menoleh juga ke arah kami. Di parkir mobil sudah sepi, hanya mobil-mobil yang nonton bioskop saja. Mobil kami parkir di gedung parkir mobil di tingkat yang agak atas dan sedikit jauh dari gedung utama karena ketika datang parkir begitu penuh. Tapi ketika kami pulang tingkat itu begitu sepi hanya sekitar lima buah mobil saja di tingkat itu.</p>
<p>Terlihat di deretan mobil kami sudah tidak ada mobil lain, begitu juga deretan depannya, lampu sekitar situ juga banyak yang tidak menyala sehingga terkesan semakin gelap. Setelah masuk ke mobil segera mesin saya hidupkan tetapi tidak segera bergerak. Saya lihat istri sedang menghabiskan minuman cola nya yang dari bioskop. Kemudian saya mendekat ke dia dan pipinya saya cium kemudian kupingnya dan terus bergerak ke bagian belakang telinganya. Wangi parfum khasnya dia tercium, dia jarang berganti ganti parfum, sejak saya kenal dia parfum ini dia sudah pakai. Segera dia meletakkan minumannya dan menoleh ke saya dan dia sambut dengan ciuman dia, bibir yang dilapisi oleh warna lipstik merah menyala dan mengkilat dengan lipgloss nya menambah sexy dan kecupannya begitu membuat hati berdebar. Ciuman kami semakin memanas, lidah dan lidah saling berpaut.</p>
<p>Tangan kiri saya segera masuk menyelinap ke punggungnya dan melepaskan kancing BH nya, sementara itu tangan kanannya sudah membuka resleting celana saya dan masuk ke dalam celana dalam. Terasa kepala penis di permainkan oleh ibujari dan telunjuk dia. Sayapun dengan cepat bereaksi, penis menjadi mengencang dan keras, dia lebih jauh lagi sudah melepas kancing celana, sehingga tangannya lebih bebas lagi bergerak.</p>
<p>Kemudian dia melepas ciumannya dan segera menunduk menuju arah celana saya. Segera kursi mobil saya mundurkan sampai yang terbelakang agar kepalanya lebih bebas bergerak. Dia segera menciumi penis saya dan menjilatinya, terutama bagian kepala penis. Tidak lama kemudian dia mulai memasukkan penis ke dalam mulutnya dan memainkan penis dengan lidah dan bibirnya. Penis terlihat keluar masuk mulutnya disertai dengan suara isapan mulutnya. Saya hanya bisa memandang ke luar kaca mobil sambil mengawasi sekitarnya. Terkadang saya harus memeramkan mata dan sedikit berdesah karena begitu nikmatnya permainan mulutnya. Saya biarkan dia terus mengulum penis yang sedikit demi sedikit terasa keluar sedikit cairan dari ujung penis, dan diapun segera menghisap dan menelannya. Sementara itu tangan saya sibuk melepaskan BH nya yang memang sudah terlepas kancing pengikatnya.</p>
<p>Setelah BH terlepas dari bajunya, kemudian saya mulai menekatkan diri dengan berusaha melepaskan celana dalamnya yang berbentuk renda tipis dan hitam. Ternyata tidak begitu sulit, dia segera menaikkan pinggulnya sedikit, sehingga dengan mudah celana dalamnya lepas sudah. Sempat saya melihat celana dalamnya yang sudah basah itu berkemilauan dengan cairan putih bening itu, dia sudah begitu licin. Jari tengah dan telunjuk saya dengan mudah masuk ke dalam vaginanya. Setiap jari bergerak, suara becek pun terdengar nyaring. Telapak tangan saya sudah penuh dengan lendirnya itu. Payudaranya belum saya sentuh sama sekali, tapi terlihat jelas putingnya yang mengeras mengecap di baju kaosnya itu.</p>
<p>Ketika istri asik menikmati penis saya, sempat melintas sepasang pria-wanita di depan mobil kami dan terus berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh ke arah mobil kami, mungkin sedang begitu asiknya bermesraan sehingga mereka tidak sadar ada saya di dalam mobil. Saya mulai mengisyaratkan ke istri untuk pindah ke ke tempat duduk saya dan menaiki saya. Kursi saya jatuhkan senderannya sampai bawah, dan dengan segera dia pindah dan duduk di atas saya dan siap siap memasukkan penis ke dalam vagina. Saya sempat berbisik ke dia agar jangan tergesa gesa dan perlahan lahan saja, entah dia mendengarkan omongan saya atau tidak. Begitu penis masuk semuanya ke dalam vagina dia merintih agak kencang dan begitu terasa vaginanya menjepit penis dengan kuat, tapi saya tetap dapat mengendalikan diri. Dia duduk di atas saya dengan membelakangi stir mobil dan menghadap kaca belakang mobil. Terasa mobil sedikit bergoyang. Gerakan pinggul istriku begitu indah dan saya merasakan begitu nikmat.</p>
<p>Dia sudah tidak menahan nahan rintihannya lagi, berkali kali merintih dengan suara agak keras. Kedua tangan saya meremas remas kedua payudaranya yang sudah tidak memakai BH itu dari atas bajunya, membuat dia bertambah penasaran. Ketika kami asyik menikmati sex ini, saya sempat melihat ke kaca spion, ada dua sosok bayangan orang yang memperhatikan mobil kami dari belakang, sepertinya pria dan wanita. Saya yakin mereka melihat kami, terutama istri yang sedang duduk di atas saya karena kaca mobil kami tidak terlalu gelap, bahkan dapat di katakan terang. Tapi saya sudah tidak begitu peduli sejauh mereka bukan satpam atau pengelola parkir. Saya biarkan mereka melihat istriku yang sedang menikmati adegan yang menegangkan ini. Sayapun sadar harus segera menyelesaikan car sex ini, karena gedung parkir ini akan segera tutup dan pengelola akan segera memeriksa.</p>
<p>Saya minta ke istri untuk segera konsentrasi dan menyelesaikannya. Dia masih menanyakan bahwa belum memakai kondom. Tapi saya sudah tidak perduli lagi. Biarlah jok mobil kotor sedikit tapi kami bisa puas. Akhirnya dia mencapai klimaks bersama dengan saya. Ketika menyampai klimaks, dia hampir saja bersender ke stir mobil yang dapat menekan klakson mobil, tapi saya segera menahan pinggangnya.</p>
<p>Setelah selesai, dia segera kembali ke tempat duduknya dan merapikan pakainannya dan saya segera membetulkan celana saya dan segera keluar dari gedung parkir. Pemeriksa karcis tidak begitu curiga ke kami dan kami pun segera meluncur di kemalaman hari. Nafas istri saya masih terputus putus dan memejamkan mata. Saya lihat roknya basah karena cairan dia dan sperma saya. Jok mobil di bagian dia juga basah karena tumpahan balik dari sebagian sperma saya yang masuk ke vaginanya.</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: mas_1gun@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenikmatan-dengan-istriku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cukup posisi 69</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/cukup-posisi-69.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/cukup-posisi-69.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2904</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini berawal ketika aku sering ditugaskan kantorku ke luar kota untuk mengikuti training, melakukan negosiasi dan maintain pelanggan yang umumnya adalah perusahaan asing. Oh ya, saya John, 32 tahun, berkeluarga dan tinggal di wilayah timurnya Jakarta. Bekasi kali ye. Sebetulnya sejauh ini tidak ada yang kurang dengan keluarga dan profesiku sebagai orang marketing. Sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini berawal ketika aku sering ditugaskan kantorku ke luar kota untuk mengikuti training, melakukan negosiasi dan maintain pelanggan yang umumnya adalah perusahaan asing. Oh ya, saya John, 32 tahun, berkeluarga dan tinggal di wilayah timurnya Jakarta. Bekasi kali ye. Sebetulnya sejauh ini tidak ada yang kurang dengan keluarga dan profesiku sebagai orang marketing. Sebagai tenaga penjual dengan berbagai training yang pernah kuikuti aku tidak pernah kekurangan teman, pria maupun wanita.</p>
<p>Di mata istriku aku adalah seorang ayah yang baik, penuh perhatian dan selalu pulang cepat ke rumah. Namun di balik itu, sebuah kebiasaan, yang entah ini sudah kebablasan, aku masih suka iseng. Iseng dalam arti awalnya cuma ingin memastikan bahwa ilmu marketing ternyata bisa diterapkan dalam mencari aPapaun termasuk teman cewek, hehehe.. Marketing menurutku bersaudara dengan rayu merayu customer, yah si cewek tadi juga bisa tergolong customer.</p>
<p>Anyway, Anne adalah orang kesekian yang masuk perangkap ilmu marketing versi 02 (versi 01 adalah customer beneran). Anne gadis berkulit putih berusia 23 tahun, lulusan universitas ternama, tinggi 167, berat 50, (buset, kapan gue ngukurnya ya). Ukuran bra gak hapal, karena sebetulnya aku lebih terkonsentrasi dengan yang di balik bra itu. Mojang Bandung ini kukenal dalam sebuah training di Puncak, Bogor. Dia dari sebuah perusahaan Periklanan di seputaran Sudirman Jakarta dan aku dari perusahaan konsultan Manajemen di sekitar Casablanca, juga di Jakarta.</p>
<p>&#8220;Hai Anne, tadi kulihat kamu ngantuk ya?&#8221; kataku ketika rehat kopi sore itu di sebuah training yang kuikuti.<br />
&#8220;Iya nih, gue ngejar deadline 2 hari dan boss langsung nyuruh ke training ini&#8221; katanya.<br />
&#8220;Kemari dengan siapa?&#8221; kataku menyelidik<br />
&#8220;Sendiri.., napa, elo diantar ama bini ya?&#8221; Buset dah ketahuan nih gue udah punya bini.<br />
&#8220;Ah, enggak, gue sama Andre.. tuh..&#8221; kataku sambil menunjuk Andre yang sedang asyik ngobrol dengan peserta lain.<br />
&#8220;Lo sendiri kok gak ngantuk sih?&#8221;<br />
&#8220;Gimana bisa ngantuk sebelah gue ada cewe cakep, hehehe..&#8221;<br />
&#8220;Ah, masa? Siapa?&#8221; Ye, pura pura dia, pikirku.<br />
&#8220;Itu tuh, yang tadi ngantuk..&#8221;<br />
&#8220;Ah, sialan lo..&#8221; sambil tangannya mencubit lenganku.</p>
<p>Usai sesi yang melelahkan sore itu, kami kembali ke kamar masing masing. Aku antar dia sampai pintu kamarnya dan janjian ngobrol lagi sambil makan malam.<br />
&#8220;Hmm..elo kok nggak bawa jaket An?&#8221; kataku ketika dia kulihat agak meringkuk kedinginan di meja makan.<br />
&#8220;Iya nih, buru buru.. kelupaan&#8221;<br />
&#8220;Aku masih punya satu di kamar, biar aku ambilkan&#8221;<br />
&#8220;Oh, gak usah John.. toh cuma sebentar..&#8221;<br />
Tapi aku keburu pergi dan mengambilkan baju hangatku untuknya.<br />
&#8220;Thanks, John.. elo emang temen yang baik&#8221; katanya sambil mengenakan sweater. Aku membayangkan seandainya aku jadi sweater, heheheh..</p>
<p>Usai makan nampaknya dia buru buru ingin masuk ke kamar. Anne tidak menolak ketika aku menawarkan mengantarkannya. Di depan pintu kamar dia malah menawarkan aku masuk, pengen ngobrol katanya. Alamak, pucuk dicinta ulam tiba. Aku pura pura lihat jam. Masih jam besar 20.15.</p>
<p>&#8220;Lain kali aja deh, gak enak kan ntar apa kata teman teman&#8221; kataku agak nervous tapi dalam hati aku berdoa, mudah mudahan dia tidak basa basi.<br />
&#8220;Cuek aja John, kita kan ada tugas bikin outline..&#8221; Memang kebetulan aku dan Anne satu group dengan 3 orang lainnya, tetapi tugas itu sebetulnya bisa dikerjakan besok siang. Akhirnya aku masuk, duduk di kursi. Anne menyetel TV lalu naik ke ranjang dan dengan santai duduk bersila.</p>
<p>&#8220;Gimana An, kamu udah punya gambaran tentang tugas besok?&#8221; kataku basa basi.<br />
&#8220;Belum tuh, males ah ngomongin tugas, mending ngobrol yang lain saja&#8221;<br />
Horee.. aku bersorak, pasti dia mau curhat nih. Bener juga.<br />
&#8220;John, gue jadi inget cowok gue yang perhatian kayak elo..sama bini elo juga begitu ya?&#8221;<br />
&#8220;Yah, Anne.. biasa sajalah, sama siapa siapa juga orang marketing harus baik dong, apa lagi sama cewe kayak elo.. hehehe..&#8221;<br />
&#8220;Tapi gue akhirnya mengerti kalau cowo perhatian itu gak hanya punya satu cewe, tul gak sih?&#8221;<br />
&#8220;Tergantung dong An, buktinya gue punya bini satu, hahaha..&#8221;<br />
&#8220;Tapi kayaknya elo juga punya cewe lain.. ya kan?&#8221;<br />
&#8220;Kok tau sih?&#8221; kataku pelan.</p>
<p>Aku jadi ingat Vina mahasiswi yang minta bantuanku menyelesaikan skripsinya dan akhirnya bisa tidur dengannya. Tapi sungguh, aku tidak merusaknya karena aku mengenalnya dengan cara baik baik dan dia tetap virgin sampai akhirnya menikah.</p>
<p>&#8220;Stereotip saja, berbanding lurus dengan keramahan dan perhatiannya&#8221; katanya lagi dengan senyum yang genit.<br />
&#8220;Kenapa emang An, elo lagi ada masalah dengan cowo lo yang ramah itu?&#8221;<br />
&#8220;Justru itu John, gue lagi mikir mau putus sama dia. Eh, sori kok malah curhat..&#8221;<br />
&#8220;Santai aja An, setiap orang punya masalah dan banyak cara menghadapinya&#8221; kataku seolah psikolog kawakan.<br />
&#8220;Gue melihat dia jalan ama temen gue, dan kepergok di kosan temen gue itu&#8221;<br />
&#8220;Trus?&#8221;<br />
&#8220;Gue gak bisa maafin dia..&#8221;<br />
&#8220;Ya, sudah mungkin kamu masih emosi saja, santai saja dulu masih banyak pekerjaan. Toh kalau jodoh dia pasti pulang ke pangkuanmu..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kadang gue pengen balas aja, selingkuh sama yang lain, biar impas..&#8221;<br />
&#8220;Hmm.. tapi itu kan gak menyelesaikan?&#8221;<br />
&#8220;Biar puas aja..&#8221; Tiba tiba dia menangis.</p>
<p>Wah gawat nih, pikirku. Aku mendekat dan berusaha membujuknya. Lalu entah bagaimana ceritanya aku sudah memeluknya.</p>
<p>&#8220;An, jangan nangis, entar orang orang pada dengar&#8221;</p>
<p>Bukannya mereda, tangisnya malah makin keras. Kudekap dia sehingga tangisnya teredam di dadaku. Jantungku berdebar tak karuan. Telunjukku menyeka air matanya. Kupandangi wajahnya. Bodoh amat nih cowoknya, cewe cakep begini kok disia siakan pikirku. Dan tanpa sadar aku mencium pipinya, dia melihatku dengan mata sayu lalu tiba tiba Anne membalas dengan kecupan di bibir. Wah, seperti keinginan gue nih, pikirku dalam hati.</p>
<p>Dan seperti kehilangan kontrol akupun membalas menghisap bibir mungil yang harum dan merekah itu. Anne membalas tidak kalah hotnya. Napasnya terengah engah tanda napsunya mulai naik. Dengan lembut kutidurkan dia. Dan dengan lembut pula tanpa kata kata, dari balik sweater aku sentuh kedua bukit kembar menantang itu. Anne mendesis desis.</p>
<p>&#8220;Terus John, perhatian elo bikin gue jadi wanita..&#8221;<br />
&#8220;Tenang sayang, wanita seperti kamu memang pantas diperhatikan.. hmm?&#8221;</p>
<p>Seperti minta persetujuannya, perlahan aku angkat sweater dan tshirtnya. Sekarang kedua bukit kembarnya terbuka. Buset dah, putingnya sudah menonjol keras dan tak ada waktu lagi untuk tidak menyedotnya. Aku memang paling hobby menetek dan menghisap benda terindah di dunia ini. Anne terus mendesis desis. Tangannya juga sudah menggenggam senjataku yang mulai mengeras.</p>
<p>&#8220;Uh.. ahh.. uh..&#8221;<br />
&#8220;Anne.. tubuhmu indah sekali..&#8221; Kataku memuji seperti halnya memberi pujian kepada customer perusahaanku.<br />
&#8220;Ayo, John.. jangan dilihat saja, aku rela kamu apakah saja..&#8221;<br />
&#8220;Iya, sayang..&#8221; kataku, sambil tanganku merogoh bagian depan celana jinnya.</p>
<p>Tangannya membantu membuka retsileting dan dengan cepat Anne sudah terlihat dengan CD warna kremnya. Hmm, seksi sekali anak ini, pikirku. Hmm..dari balik CD-nya terlihat bulu bulu halus dan hitam legam. Uh, aku sudah tidak sabar lagi namun dengan tenang aku mengelusnya dari luar. Anne menggelijang, matanya terlihat saya menahan gejolak. Perlahan kuturunkan CD-nya. Uh, sodara sodara, tercium aroma yang sangat kukenal, dia pasti merawat benda yang paling dicari semua laki laki ini dengan baik.</p>
<p>&#8220;Anne.. boleh aku cium?&#8221; bisikku pelan.</p>
<p>Anne mengangguk lemah dan tersenyum. Perlahan Anne merenggangkan kedua kakinya. Pasrah. Dengan kedua jariku, kubuka vaginanya dan terlihat klitorisnya yang merah merekah. Basah. Sungguh indah dan harum. Kujulurkan lidahku di sekitar pahanya sebelum mencapai klitorisnya. Anne mendesis desis dan mulai meracau dan terlihat seksi sekali.</p>
<p>&#8220;Ayo, John.. jangan buat gue tersiksa.. terus ke tengah sayang..&#8221;</p>
<p>Aku malah menjilat bagian pusernya membuat dia uringan uringan dan makin bernafsu. Bermain sex memang perlu teknik dan kesabaran tinggi yang membuat wanita merasa di awang awang.</p>
<p>&#8220;Johnn.. gila lo, ke bawah sayang.. please..&#8221;<br />
&#8220;Hmm.. iya nih, gue emang udah gila melihat memek yang indah ini sayang&#8221; kataku terengah engah.</p>
<p>Akhirnya lidahku hinggap di labia mayoranya. Kusibak dengan lembut rimbunan hutan yang sudah becek itu. Kuhurip cairan yang meleleh di sela selanya. Kelentitnya kuhisap seperti menghisap permen karet. Akibatnya pantatnya terangkat tinggi dan Anne menjerit nikmat. Lidahku terus merojok sampai ke dalam dalamnya. Kuangkat pantatnya dan kupandangi, lalu kusedot lagi. Anne berteriak teriak nikmat. Aku jadi kuatir kalau suaranya sampai keluar. Kupindahkan bibirku ke bibirnya.</p>
<p>&#8220;Tenang sayang, perang baru dimulai..&#8221; Kataku berbisik.</p>
<p>Ia mengangguk dan perlahan aku putar posisi menjadi 69. Posisi yang paling aku sukai karena dengan demikian seluruh isi memeknya terlihat indah. Batangku juga sudah terbenam di bibirnya yang mungil dan terasa hangat serta nikmat sekali. Kutahan agar aku tidak meletus duluan.</p>
<p>&#8220;Punya kamu enak John..&#8221; Pujinya layaknya memuji Customer.<br />
&#8220;Iya, sayang punya kamu lebih enak dan baguss sekali..&#8221; kataku terengah engah.<br />
&#8220;Uh, becek sayang..&#8221;</p>
<p>Aku lanjutkan menjilat seluruh permukaan memeknya dari bawah. Uh, benar pemirsa, siapa tahan melihat barang bagus dan cantik ini. Yang luar biasa, aku yakin dia masih perawan. Bentuk kemaluannya menggelembung dan benar benar seperti belum pernah tersentuh benda tumpul lain.</p>
<p>&#8220;Anne.. kamu masih perawan sayang..&#8221;<br />
&#8220;Iya, John.. gue belum pernah..&#8221;<br />
&#8220;Iya, kamu harus jaga sampai kamu menikah..&#8221;<br />
&#8220;Gue gak tahan John, cepetan sayang..&#8221;</p>
<p>Sungguh, meski banyak kesempatan aku belum pernah berpikir memerawani cewek baik seperti Anne ini, kecuali istriku. Wanita yang kutahu sedang stress dan sedang mencari pelarian sesaat ini harus ditenangkan. Akan buruk akibatnya ketika dia sadar bahwa keperawanannya diberikan kepada orang lain yang bukan suaminya. Aku percaya jika sudah mencapai orgasme dia justru akan berterima kasih dan menginginkannya lagi. Kembali kujelajahi kemaluannya. Cepat cepat aku jilat berulang ulang klitorisnya. Dan sodara pemirsa, apa kataku, pantatnya tiba tiba menekan keras wajahku dan mengejang beberapa kali..lalu mengendur.</p>
<p>&#8220;Uuhh.. gue nyampe Johnn.. aahh.. uhh.. uhh..&#8221;</p>
<p>Masih dalam posisi 69, Anne terdiam sesaat, kulihat kemaluannya masih merekah merah. Perlahan ia mulai bangkit dan mngecup bibirku.</p>
<p>&#8220;Sorry sayang, gue duluan..&#8221;<br />
&#8220;No problem Anne.. kamu merasa mendingan?&#8221;<br />
Ia mengangguk, memelukku dan mencium bibirku.</p>
<p>&#8220;Terima kasih John, elo emang hebat..&#8221;<br />
&#8220;Iya nih, Ann, gue minta maaf jadi telanjur begini..&#8221;<br />
&#8220;Gak Papa kok, gue juga senang..&#8221;</p>
<p>Kami mengobrol sebentar namun tangannya masih menyentuh nyentuh batangku. Ia mengambilkanku minuman dan menyorongkan gelas ke bibirku. Ketika tegukan terakhir habis, bibirku perlahan mengulum bibirnya. Putingnya mulai mengeras dan aku mulai aksi sedot menyedot seperti bayi. Anne kembali menggelijang.</p>
<p>Aku bisikkan perlahan, &#8220;Anne.. gue pengen menggendong kamu sayang&#8221;.<br />
&#8220;Hmm..mulai nakal ya..&#8221; katanya dan merentangkan tangannya.</p>
<p>Aku peluk dan angkat dia lalu kusenderkan ke dinding dekat meja rias. Dari balik cermin kulihat pantatnya yang montok dan mulus itu, membuat gairahku meledak ledak. Dengan posisi berdiri, tubuhnya sungguh seksi. Aku perhatikan dari atas ke bawah, sungguh proporsional tubuhnya. Segera kusedot putingnya dan jariku sebelah kiri segera mengelus rimbunan hutan lebatnya.<br />
Basah, hmm..dia mulai naik lagi. Klentitnya kupilin pilin pelan dan Anne mendesis seperti ular.</p>
<p>Making love sambil berdiri adalah posisi favoritku selain 69. Perlahan sebelah kakinya kuangkat ke kursi pendek meja rias dan terlihatlah belahan memeknya yang merah merekah, indah dan seksi sekali Kuturunkan kepalaku dan segera kutelusuri paha bawahnya dengan lidahku. Dari bawah aku lihat wajahnya mendongak ke atas menahankan nikmat. Sungguh saat itu Anne kelihatan sangat seksi. Sebelum lidahku mencapai kelentitnya, aku sibakkan labia mayoranya dengan kedua Ibu jari. Hmm.. sungguh harum.</p>
<p>&#8220;Cepat John.. gue udah gak tahan.. jilat sayang.. jilat..&#8221;</p>
<p>Benar benar nikmat melihatnya tersiksa, namun sebetulnya aku lebih tersiksa lagi karena batangku sudah mengeras bagaikan batu. Aku nyaris tak bisa menahan klimaks, namun aku harus membuatnya orgasme untuk kedua kalinya. Benar saja, begitu lidahku menyedot klitorisnya, Anne langsung mengejang dan berteriak pertanda orgasme. Kusedot habis cairannya. Luar biasa, aku menikmati ekspresinya ketika mencapai orgasme dan itu jugalah puncak orgasmeku. Cepat aku berdiri dan aku tekan batangku ke sela sela pahanya dan seketika muncratlah semua. crott.. crott..! Wuahh..</p>
<p>&#8220;Oh John, kita keluar bersamaan sayang..&#8221;<br />
&#8220;Iya, enak banget An.. elo membuat gue gila..&#8221;<br />
&#8220;Sama.., gue berterima kasih elo menjaga gue..&#8221;<br />
&#8220;Gue sayang kamu An..&#8221;</p>
<p>*****</p>
<p>Pemirsa, begitulah ceritanya. Tak selamanya seks harus membobol gawang. Setelah kejadian itu Anne makin ketagihan. Dia sangat terkesan bisa mencapai orgasme tanpa merusak keperawanannya. Dia juga menyukai posisi 69 dan posisi berdiri yang bisa mirip 69. Kadang kadang aku datang ke kantornya dan hanya dengan mengangkat roknya aku menjelajahi area area sensitifnya secara cepat dan efisien. Dan pada saat yang sama aku juga mencapai orgasme. Masih ada Vina dan Dina yang ketagihan seperti Anne. Aku selalu bilang pada wanita wanita berpendidikan itu bahwa suatu saat mereka akan menikah dan aku berjanji tidak akan memerawaninya. Cukuplah 69!</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: john_gelo@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/cukup-posisi-69.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semula Aku Tak Tahu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/semula-aku-tak-tahu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/semula-aku-tak-tahu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 11:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2894</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Irza, pada saat kejadian ini terjadi usiaku masih 23 tahun hingga cerita ini kutuliskan kejadian ini masih terjadi dan kini usiaku sudah 26 tahun. Cerita ini berawal pada saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota Bandung, pada saat itu aku dipindah tugaskan dari Surabaya (tempat tinggalku semula bersama orang tuaku) ke Bandung. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Irza, pada saat kejadian ini terjadi usiaku masih 23 tahun hingga cerita ini kutuliskan kejadian ini masih terjadi dan kini usiaku sudah 26 tahun.</p>
<p>Cerita ini berawal pada saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota Bandung, pada saat itu aku dipindah tugaskan dari Surabaya (tempat tinggalku semula bersama orang tuaku) ke Bandung. Di Bandung aku tidak memiliki sanak saudara maupun kenalan. Sebenarnya perusahaan memberikan sebuah rumah dinas untukku namun karena lokasi rumah tersebut tergolong sepi jadi aku tidak menerimanya. Kini aku mengontrak sebuah rumah sendiri yang tidak jauh dari kantorku. Rumah kostku berada disebelah salon kecantikan, pokoknya pas deh soalnya banyak cewek-ceweknya. Diantara sekian gadis yang bekerja di salon itu ada yang kusuka, namanya Mila dan kebetulan dia adalah pemilik salon tersebut dan usianya 2 tahun diatasku namun bila begitu Mila selalu memanggilku dengan sebutan &#8220;Mas&#8221;. Salon tersebut sekaligus tempat tinggalnya dan dia tinggal hanya seorang diri.</p>
<p>Mila adalah seorang gadis yang bertubuh sexy, kulitnya putih mulus, rambutnya panjang terurai, bibirnya imut-imut dan yang tak kalah menarik buah dadanya yang begitu montok yang ku tafsirkan sekitar 36b sehingga serasa mengoda birahiku ditambah lagi dia selalu memakai pakaian ketat nan sexy. Seperti biasanya setiap aku pulang dari kantor sore menjelang malam pasti aku selalu berpapasan dengan Mila karena setiap harinya aku selalu lewat depan salonnya disamping rumahku.</p>
<p>Dia selalu mengedipkan matanya kepadaku sambil sambil berkata, &#8220;Hai ganteng baru pulang ya&#8221;, dan seperti biasanya juga aku meberikan kecupan melambai sambil tersenyum.</p>
<p>Tak jarang aku selalu melamun sendiri sambil memikirkan Mila si gadis ayu nan sexy itu, terlebih lagi saat aku pulang kantor dan mandi sampai peniskupun menegang hingga memuntahkan sperma. Kini tibalah saat yang tak terlupakan seumur hidupku, malam itu sekitar jam 9 Mila datang kerumahku.</p>
<p>Ia minta tolong, katanya, &#8220;Mas Irza, tolong donk ke rumah Mila sebentar&#8221;.<br />
&#8220;Emang ada apa, La&#8221;.<br />
&#8220;Lampu kamar Mila putus, tolong pasangin donk dengan yang baru soalnya Mila takut masang sendiri, ntar kesetrum&#8221;.<br />
&#8220;Ah masa kesetrum aja takut, emang Mila nggak pernah kesetrum ya..&#8221;. Aku sekedar bercanda.<br />
&#8220;Tolong donk Mas Irza, sebentarr aja&#8221;. Mila mengajakku seperti merengek sambil menarik tanganku dan tanpa sengaja buah dadanya yang montok itu menempel di lenganku yang seketika itu pula membuat darah kelelakianku seperti mendidih, namun aku masih dapat menahannya.<br />
&#8220;Ok deh.. ntar ya, Mas pake celana dulu&#8221;. Kebetulan saat itu aku hanya menggunakan kaos dan kain sarung.<br />
&#8220;Alahh.. deket aja pun, ngapain sih ganti-ganti segala, emang mau ke pesta&#8221;.<br />
&#8220;Hmm.. ayolah&#8221;.<br />
Kemudian pada saat baru didepan rumahku setelah mengunci pintu rumahku, aku melihat sepertinya salonnya sudah tutup padahal setahuku biasanya jam 10 salonnya baru tutup.<br />
&#8220;La, kok cepet amat salonnya tutup?&#8221;<br />
&#8220;Ya tadi anak-anak permisi tadi katanya ada urusan&#8221;.<br />
&#8220;Ohoo.. jadi kita hanya berdua donk ntar di rumah kamu, wah asyik nih&#8221;. Seketika itu juga tiba-tiba terlintas pikiran kotor di benakku.<br />
&#8220;Hmm.. awas ya&#8221;. Dia berkata sambil mencolek pipiku.</p>
<p>Kemudian akupun tersenyum sambil kami melangkah menuju rumahnya, dan setelah sampai di rumahnya Mila langsung mengajakku kekarmarnya untuk memasang lampu kamarnya. Ternyata disitu dia telah menyediakan tangga agar memudahkanku untuk naik dan memasang lampu tersebut. Maka akupun naik ke tangga itu sambil Mila menyenter ke atas untuk menerangi pandanganku ke langit-langit tempat lampu yang akan dipasang.</p>
<p>Karena pada saat itu aku menggunakan sarung, maka pada saat naik memang tidak ada masalah namun pada saat mau turun tiba-tiba sarungnya nyangkut dan tanggapun mulai goyang, untung saja Mila memegang tangga tersebut sehingga tidak masalah, namun kain yang kugunakan terus melorot sampai ke kaki sehingga CD ku kelihatan dan Mila menyaksikan hal tersebut dan dia tertawa.</p>
<p>&#8220;Hihi.. Gede juga punya kamu ya&#8221;.</p>
<p>Lantas aku cepat-cepat turun dari tangga dan kugunakan kembali sarungku.</p>
<p>&#8220;Asik ya liat yang gede-gede.. emang kamu naksir ya sama yang gede-gede, pengen rasain nih&#8221;. Aku berkata sekedar gombal.<br />
&#8220;Mau donk&#8221;</p>
<p>Kukira semula ucapan Mila hanya main-main saja, namun tiba-tiba setelah menghidupkan lampu yang baru aku pasang tadi lantas ia mendekatiku dan kemudian menari-nari erotis menggoda di depanku.</p>
<p>&#8220;Emang kamu aja yang punya gede Mila juga juga punya nih&#8221;</p>
<p>Dia terus menari-nari di depanku sambil meremas-remas dengan lembut payudaranya sendiri, dan tiba-tiba secara spontan kucoba untuk menyentuhnya, dan spontan juga dia menghindar, lantas aku hanya menggaruk kepala.</p>
<p>&#8220;Aku pulang aja ah, dah malam&#8221;.<br />
&#8220;Segitu aja udah nyerah mau nggak..?&#8221;.<br />
Dalam hati aku berkata, &#8220;Wah, nih cewek kayaknya nantang apa ngetes nih, soalnya mau kusentuh tadi kok malah menghindar&#8221;. Lantas aku berkata padanya, &#8220;Kamu serius nggak nih..&#8221;<br />
&#8220;Sapa takut.. kemari donk sayang, kita habiskan malam ini hanya berdua&#8221;.</p>
<p>Langsung saja aku mendekatinya dan kupeluk dia lantas kucium bibirnya dan sarungku pun dengan sendirinya melorot ke bawah namun aku tidak memperdulikannya lagi. Satu persatu pakaian Mila aku lucuti dan saat kubuka bajunya diapun membuka bajuku hingga akhirnya kami berduapun bugil. Terus kucium bibirnya sambil memainkan lidah. Kemudian aku menikmati pemandangan seluruh tubuhnya sambil meraba-raba sekujur tubuhnya. Aku sangat mengagumi payudaranya yang sangat montok dan padat itu. Tampaknya Mila tahu aku memandang buah dadanya dengan mata tak berkedip. Lalu dengan cekatan ia menarik kepalaku ke arah bukit kembar itu, aku langsung menghisap putingnya yang masih berwarna coklat muda itu, Mila mendesah keras. Aku mencoba segala keahlianku dalam memainkan putingnya.</p>
<p>Kuhisap dan kumainkan dengan lidah, sambil membenamkan wajahku dan memutar-mutarnya, Mila kelihatan sangat menyukai permainanku. Selang beberapa lama, dia menarik wajahku yang masih asyik mempermainkan putingnya, kemudian mendorongku agar keranjangnya. Mila mulai menciumi leherku, lalu telingaku. Desahannya makin jelas dan makin merangsangku. Kemudian ciumannya mulai turun kearah puting ku, dan turun terus hingga kepusar, lidahnya sempat singgah disana, sehingga makin membuatku bernafsu mengharapkan kulumannya kearah penisku, akhirnya dia mulai menjilati seluruh batang penisku.</p>
<p>Dihisapnya kuat-kuat batang penisku sehingga membuatku menggelinjang, geli dan nikmat. Lalu dia mempermainkan penisku dengan lidahnya. Aku berusaha bertahan agar tidak menggerakkan penisku. Takut kalau dia tersedak. Akhirnya aku tak tahan hingga mendoronkan penisku agar melesak lebih dalam kekulumannya. Dia agak kaget dan hampir tersedak, kemudian mundur.</p>
<p>&#8220;Sori La, aku ngga tahan untuk ngga bergerak, habis nikmat sekali&#8221;.<br />
&#8220;Ngga Papa kok Mas. Punya Mas sih, yang kepanjangan, Mila belum terbiasa yang segini panjang&#8221;.<br />
Mendengar ucapannya dalam hati aku berfikir, &#8220;Wah, nih cewek berarti dah sering juga nih&#8221;.</p>
<p>Kemudian Mila melepaskan kulumannya dan kali ini terasa kedua payudaranya menindih batang penisku, ia menggesek-geseknya sambil memandangiku sambil tersenyum penuh nafsu. Tak tahan dengan permainannya maka perlahan Mila kudorong hingga duduk di pinggir ranjang lalu kedua pahanya kupegang dan di kangkangkan dan kudorong ke atas sehingga lubang vaginanya menganga dan memerah begitu menggiurkan, aku segera merapat diantara kedua kaki Mila dan kugenggam penisku yang sudah berdiri tegak itu lalu kuarahkan masuk ke lubang vaginanya.. achh.. kepala penisku mendesak masuk diantara bibir kemaluannya.. terus kudorong dan.. blass.. batang penisku meluncur masuk kerongga vagina Mila yang begitu hangat dan setengah basah.</p>
<p>Mila menggeliat sambil menggeser tubuhnya ke ranjang dengan tangan yang merentang sedang akupun terus merapat ke tubuh montok itu terutama bagian bawah tubuhku hingga terasa bulu-bulu jembutku bergesekkan dengan bulu-bulu jembutnya yang sama-sama tumbuh lebat. Batang penisku terasa tertelan penuh dalam ronga vagina Mila, dan akupun mulai memaju mundurkan penisku. Setiap gerakan maju kutekan kuat-kuat hingga Mila mendesah dan menggelinjangkan tubuhnya yang montok itu.</p>
<p>Selagi terus memainkan penisku dalam liang vagina Mila, kedua tangan Mila memegangi kedua pahanya dan makin ia rentangkan sedang aku memegang kedua payudaranya yang super size dengan kedua tanganku dari sisi pinggangnya sedang mulutku mengemoti kedua putting susunya yang amat mengeras. Mila meronta keenakkan sambil merintih dan mendesah. Kemudian diapun menggerakkan pantatnya makin cepat, ia begitu menikmati kocokan penisku dalam liang vaginanya, ia makin menggila menggerakan tubuhnya, memutar pinggul dan pantatnya, nampaknya ia sudah nggak tahan lagi, aku cengkeram paha Mila kuat-kuat sambil terus menekan batang penisku dalam liang vaginanya, gerakanku makin cepat sehingga Mila tak kuasa menahan puncak birahinya..</p>
<p>&#8220;Mas.. Mila mauu keluarr Mass..&#8221;, desahnya terengah-engah sambil mempercepat gerakan pantatnya dan aachkk.. Mila pun mengerang hebat dan saat yang sama aku angkat tinggi tinggi pinggulnya agar batang penisku amblas dalam lubang vagina Mila dan kulihat Mila kembali mengejang dan kemudian ia mendesah.. aachkk.. ia telah melepas puncak kenikmatannya dengan nafas yang masih memburu dan matanya yang terpejam penuh nikmat, aku membiarkan Mila tenang, tubuhnya melemah, aku menahan gerakan penisku, sambil terus membenamkan batang penisku di dalam vaginanya yang sudah banjir dengan cairan yang dikeluarkannya saat ia klimaks, kulihat tubuhku dan Mila basah dengan keringat dan benar-benar basah seperti mandi. Sesaat kemudian dengan perlahan aku mencabut batang penisku, karena aku belum mencapai klimaks maka aku memasukkan penisku kedalam mulut Mila.. Ia mendesah sambil memandangiku.</p>
<p>&#8220;Naik Mass..&#8221; pinta Mila agar aku menaiki tubuhnya yang bergeser ke tengah ranjang dan akupun segera menaiki tubuh Mila, setengah duduk di atas leher dan dada Mila.. sedang batang penisku dengan jemariku kurapatkan ke mulut Mila yang sudah siap menelannya.</p>
<p>Aku memajukan batang penisku saat kepala penisku telah diemut oleh bibir Mila, perlahan batang yang sudah begitu keras melesat masuk ke rongga mulut Mila, terus kutekan hingga bibir Mila menyentuh buah pelirku dan terasa kepala penisku masuk kekerongkongan Mila, Mila langsung memegang batang penisku dengan jemarinya dan mendorongnya mundur sampai seluruh penisku keluar dari mulutnya.. ia mendesah nafasnya tersengal, sesaat kemudian Mila dengan lidahnya menjilati buah pelirku.. ia begitu rakus menjilat-jilat buah pelirku saat jemari tangannya mengocok batang penisku.</p>
<p>Jemari tanganku memegang jemari tangan Mila yang tengah mengocok batang penisku, perlahan giliran jemariku yang memegang batang penisku dan mengocoknya, sedang Mila makin merapat, saat penisku terus kurangsang ia menjilat-jilat kepala penisku, ujung lidahnya terasa menekan lubang penisku rasanya nikmat banget dan kocokanku makin mengila hingga kepala penisku seperti mematuk di bibir, lidah bahkan hidung dan pipi Mila..sampai aku merasakan desakan air maniku menuju ke ujung penisku.. aachkk.</p>
<p>&#8220;Mila aku mau keluar aachkk..&#8221; desahku, dan saat aku menegang maka saat itu pula jemari tangan Mila menyambar batang penisku, merebut dari genggamanku dan ia segera pula membuka mulutnya dan menelan separo dari batang penisku. Bibirnya mengatup begitu erat seperti meremas dan saat itu pula aku mengelepar hebat.. aachkk..</p>
<p>Saat spermaku muncrat, seluruh batang penisku amblas tertelan di mulut Mila dan terasa spermaku nyemprot hingga ke kerongkongannya.. dengan mata terpejam penuh nikmat Mila terus mengenyoti batang penisku yang masih menggelepar memuntahkan sperma hangat. Begitu banyaknya hingga rongga mulut Mila tak kuasa menampungnya, sebagian tertelan dan sebagian lagi mengalir di sela bibir dan batang penisku..</p>
<p>Mila masih terus mengenyot-ngenyot batang penisku, ia seperti tak ingin spermaku masih tersisa.. saat kulihat wajahnya, iapun menatapku dan perlahan ia melepas penisku sambil menahan agar spermaku yang memenuhi rongga mulutnya jangan sampai tumpah. Sedang aku bergeser dari atas tubuh Mila lalu berbaring lemas di sisinya. Aku terkulai lemas saat penisku melemah.</p>
<p>Mila bangkit sambil meludah untuk membuang sisa spermaku yang tidak tertelan dan sudah bercampur dengan air ludahnya ke arah lantai tempat mandi yang tak jauh dari ranjang, ia tergolek lagi di sisiku memelukku mesra. Tubuh Mila basah kuyup dengan keringat, begitu pula dengan tubuhku.</p>
<p>Ia mengecup pipiku sambil berbisik, &#8220;Mass.. sperma kamu banyak banget, lama enggak dikeluarinnya yaa..&#8221;, aku hanya tersenyum sambil mengecup buah dadanya yang basah dengan keringatnya.</p>
<p>Selang sejam kemudian kamipun mengulanginya lagi, hingga tak terasa dalam semalam kami melakukkannya sampai tiga kali. Karena pertempuran yang melelahkan itu tak terasa semalam aku tidur berdua dengan Mila hingga pagi.</p>
<p>Kejadian itu terus berulang hingga akhirnya aku mengetahui suatu kenyataan yang hampir tak dapat aku terima dengan akal sehatku sehabis kami melakukan hubungan badan dirumahku kostku. Saat itu adalah hari minggu dan pada saat itu salon Mila tutup. Saat itu kami kembali bercinta, waktu itu adalah sore hari dan kami melakukannya di kamar mandi dirumah kostku. Seperti biasanya kami melakukan power play dengan melakukan oral sex, hingga akhirnya sambil merapatkan tubuhnya didinding dibawah guyuran shower sambil tanganku mengangkat sebelah kakinya dan kemudia aku memasukkan penisku ke vaginanya lalu kujebloskan hingga masuk seluruhnya. Maka aku maju mundurkan semakin cepat.. cepat dan sangat cepat. Kemudian kukecup bibirnya dan kami saling memainkan lidah. Sambil memegang buah dadanya yang montok dan memilin-milin puting susunya terus kumainkan pinggulku maju dan mundur. Hingga semakin kupercepat goyangan pinggangku dan akhirnya kamipun secara bersamaan mencapai puncak klimaks dan kali ini spermaku masuk ke dalam vaginanya.</p>
<p>Setelah itu kami kembali berciuman lalu kuisap buah dadanya. Ku basuh tubuhnya dan lalu kemudian aku menyabuninya dan kami saling bergantian. Selesai mandi kami bersantai diranjang kamarku aku memeluknya dengan mesra dan saat itu aku ingin mengatakan seluruh isi hatiku padanya.</p>
<p>&#8220;La, kayaknya hubungan kita udah terlalu jauh nih kamu mau nggak menjadi istri Mas?&#8221;<br />
&#8220;Hmm.. gimana ya emang Mas Irza serius nggak nyesel soalnya kan Mila lebih tua dari Mas Irza&#8221;.<br />
&#8220;Cinta tidak mengenal usia sayang kamu nggak usah ragu kalau soal itu Mila cinta kan sama Mas&#8221;.<br />
&#8220;Mila sebenarnya cinta sama Mas Irza namun untuk menikah kayaknya nggak mungkin Mas&#8221;<br />
&#8220;Nggak mungkin gimana, apa kamu masih belum yakin..&#8221;.<br />
&#8220;Nggak mungkin kita bisa menikah Mas semua itu nggak akan mungkin bisa jadi kenyataan&#8221;.</p>
<p>Tiba-tiba Mila membentak dengan suara yang agak keras, tak biasanya dia melakukan hal demikian terhadapaku, kemudian dia bangkit dari dekapanku diranjang dan dia berdiri membelakangiku dan menangis. Dalam hati aku jadi heran dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi.</p>
<p>&#8220;Mila kenapa kamu jadi nangis, kamu nggak usah takut deh segala kekurangan maupun kelebihanmu Mas akan terima dengan lapang dada, percayalah sayang&#8221;.<br />
Dia terus menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sepertinya dia tidak mempercayai ucapanku..<br />
&#8220;Memang inilah yang Mila takutkan, semula Mila hanya ingin bermain-main aja, namun entah kenapa Mila timbul rasa cinta sama Mas, Mila nggak bisa hidup tanpa Mas, Mila bukanlah wanita yang normal Mas!&#8221;.<br />
&#8220;Mila kamu kenapa sih apakah kamu mengidap suatu penyakit atau kenapa kamu bisa cerita sama Mas, dan Mas akan terima apa adanya&#8221;.<br />
&#8220;Mila nggak yakin Mas akan terima tetapi memang ini sudah nasib Mila, bila Mas ingin tahu faktanya, mari ikut Mila ke rumah&#8221;.</p>
<p>Singkat cerita sampai di rumahnya, Mila membuka almarinya kemudian mengambil sebuah map.</p>
<p>&#8220;Mas boleh baca seluruh isi map ini, tapi tolong bila setelah Mas baca, dan bila Mas akhirnya membenci Mila, Mila akan terima tetapi tolong jangan katakan fakta ini pada yang lain, Mas harus janji&#8221;.</p>
<p>Lalu akupun mengangguk dan menerima map itu sambil pikiranku diselimuti beribu pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian kubuka map tersebut dan didalam mab terdapat foto-foto yang membuat perasaanku menjadi mual beserta surat keterangan dari Dokter di Jerman bahwasanya Mila pada awalnya dia adalah seorang pria (waria) dan pada bulan mei 1998 dioperasi total menjadi wanita. Saat itu aku kebingungan seperti orang stress dan aku jadi heran kenapa bisa begini. Sulit kuterima dengan akan sehat.</p>
<p>Entah apa yang harus kukatakan, namun rasa marah, mual, bingung dan benci terhadapnya hilang seketika saat itu juga karena tatapan matanya yang memancarkan kesedihan, dan air matanya terus berlinang yang pada akhirnya membuat aku iba padanya. Aku menyadari kejadian ini bukanlah keinginannya, namun takdir kehidupan yang harus dijalaninya. Aku merasa bila aku meninggalkannya akan lebih membuat hatinya semakin hancur. Aku hanya berfikir heran kenapa selama ini aku tidak menyadari bahwa aku telah bercinta terhadap sesamaku namun telah operasi total, bahkan aku tidak mempunyai rasa curiga terhadapnya, karena suara maupun raut wajahnya serta potongan tubuhnya sedikitpun tidak ada yang mirip dengan pria.</p>
<p>Hingga kini hubungan kami terus berjalan dan kami masih melakukan hubungan sex walaupun kini aku telah tahu statusnya namun tidak ada rasa risih bagiku. Kini usiaku telah 26 tahun dan Mila 28 tahun, namun dari wajah tidak kelihatan bahwa Mila yang lebih tua, kepada orang tuaku kukatakan usianya masih 24 tahun karena parasnya yang cantik dan memang kelihatan muda. Orang tua maupun keluargaku sudah aku pertemukan dengannya tetapi mereka tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Tanpa mengetahui statusku dengan Mila yang sebenarnya orang tuaku sering menanyakan kapan kami menikah, dan akupun menjawab dengan seribu alasan. Wajar saja mereka menanyakannya sebab hubungan kami yang telah berlangsung selama 3 tahun dan dari usia kami memang sudah pantas.</p>
<p>*****</p>
<p>Kepada pembaca aku mohon saran-saran anda, sekiranya pembaca mau memberikan masukan kepadaku jalan apa yang harus kutempuh untuk menyelesaikan masalah yang kuhadapi. Anda bisa kirim ke emailku. Atas segala saran dari pembaca aku ucapkan banyak terima kasih dan juga kuucapkan terima kasih kepada situs bokepzone.com</p>
<p>E N D</p>
<p>Oleh: irza_0202@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/semula-aku-tak-tahu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh, Melatiku &#8211; 2</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/oh-melatiku-2.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/oh-melatiku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 11:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2885</guid>
		<description><![CDATA[Dari bagian 1 Aku berbaring di sampingnya dan kutarik kepalanya serta kucim bibirnya dengan lembut, kini lidahku menari bukan di liang vaginanya lagi tapi di dalam mulutnya, semantara tanganku meremas buah dadanya perlahan, kurebahkan Melati ke sisiku. kini ganti kujilati daerah sekitar dadanya dan perlahan puntingnya kuhisap keras. Tak lupa tanganku mengelus-elus vaginanya yang dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bagian 1</p>
<p>Aku berbaring di sampingnya dan kutarik kepalanya serta kucim bibirnya dengan lembut, kini lidahku menari bukan di liang vaginanya lagi tapi di dalam mulutnya, semantara tanganku meremas buah dadanya perlahan, kurebahkan Melati ke sisiku. kini ganti kujilati daerah sekitar dadanya dan perlahan puntingnya kuhisap keras. Tak lupa tanganku mengelus-elus vaginanya yang dari tadi sudah membasah. Perlahan kubalikkan tubuh Melati, Kutarik pinggannya hingga posisinya menunging. Aku arahkan batang kemaluanku kevaginanya yang sudah basah dan memerah, kudengar Melati semakin mengerang.</p>
<p>&#8220;Aacchh.. cepaat sayankk aku sudah nggak tahan pleassee..&#8221; pintanya..</p>
<p>Kumainkan sebentar batang kemaluanku ke ke sekitar vaginanya dan bleess..</p>
<p>&#8220;Oohh nikmat sekali,&#8221; kurasakan vaginanya menjepit batang kemaluanku.</p>
<p>Kemudian kugoyangkan perlahan, dan tangganku pun tidak tinggal diam kuremas-remas buah dadanya yang mengantung, sementara genjotan di lubang vaginanya terus berlanjut, tubuh Melati ikut bergoyang menikmati sodokan batang kemaluanku.<br />
Semakin lama semakin mengeras, nafsuku semakin memuncak mendengar teriakan dan desahan Melati.</p>
<p>&#8220;Aagghh.., yess..&#8221;, Melati mengeraang..</p>
<p>Semakin keras aku menyodokkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya semakin Melati menikmatinya, dan pantanya semakin menungging seakan meminta semakin liar aku menyodoknya. Tak kusiakan, kusodok lagi lebih keras batang kemaluanku hingga tak kusangka Melati mengerang.</p>
<p>&#8220;Sayang.. aku mau..&#8221; kurasakan tubuhnya makin mengencang mengikuti sodokanku..<br />
&#8220;Saa.. yaang..&#8221;<br />
&#8220;Tunggu ya Melati aku juga mau..&#8221;</p>
<p>Sodokanku semakin bertambah cepat dan liar aku semakin ganas hinga tanganku menahan erat pinggangnya agar bisa dengan mudah mengikuti irama sodokan kemaluanku. Kutekan sedalam-dalamnya batang kemaluanku agar aku bisa menumpahkan di tempat yang terdalam.</p>
<p>&#8220;Melati.., aakuu ke.. lu.. aar..&#8221;</p>
<p>Melati tak kuat menahan semburan birahiku hingga Melati pun mendesah, &#8220;Aku Juga ke.. lu.. aarr..&#8221; jerit Melati sambil mencengkeram sprei..</p>
<p>Kurasakan cairan kenikmatanku menyembur di vaginanya bersamaan dengan denyutan di dalam liang vaginanya. Benar-benar nikmat tak terkira. Kami berdua sama-sama tergeletak lemas di kasur, kukecup keningnya dengan lembut sambil berucap, &#8220;Terima kasih Melatii.. kamu sungguh hebat&#8221;.</p>
<p>Dibalasnya kecupanku oleh Melati, sunyi menyelimuti kami beberapa saat hingga kami tertidur. Melati masih tertidur dalam pelukanku, kupandangi wajahnya..</p>
<p>*****</p>
<p>&#8220;Selamat sore Melati&#8221; Ucapku saat ia membuka matanya, sambil kuberikan kecupan lembut di bibirnya.<br />
&#8220;Enak ya tidurnya?&#8221; tanyaku sambil memeluk lebih erat tubuhnya.<br />
&#8220;Iyaa.., sayang palagi abis 2 kali main sama kamu&#8221; Ucap Melati<br />
&#8220;Kita mandi Yuk?, sekarang kan sudah jam 6 sore, abis itu kita cari makan&#8221; ajakku..<br />
&#8220;Yuuk.. tapi aku di mandi&#8217;in yaa..&#8221; jawab Melati..<br />
&#8220;Duhh cepetnya klo diajak mandi&#8221; sambungku..</p>
<p>Kami berdua beranjak menuju kamar mandi, aku ke bawah shower dulu, setelah suhu air tepat aku ajak Melati medekatku.<br />
Dibawah kucuran sower kucium bibirnya dengan perlahan tangankupun tidak tinggal diam, kuusap dada Melati saat menyabuninya, perutnya dan daerah kewanitaannya, aku ingin main sambil mandi. Setelah aku menyabuni tubuh Melati, ganti Melati menyabuni tubuhku, disabuninya tubuhku sampai akhirnya Melati menyabuni batang kemaluanku yang mulai membesar, dan di remas-remasnya batang kemaluanku.</p>
<p>Tak kusia-siakan kesempatan ini kudekatkan bibirku ke bibir Melati dan kulumatnya, sambil kudorong dia di tembok. Belum kami bersihkan sabun di badan kami sehingga membuat badan licin. Kuremas &#8211; remas buah dadanya dengan kencang, sementara batang kemaluanku semakin keras berdiri. masih di bawah sower kami bersihkan sabun yang ada di tubuhku, kemudian di tariknya tubuhku menjauh dari sower, dan tiba-tiba Melati berlutut di depan batang kemaluanku dan mengelus-elus.</p>
<p>&#8220;Minta lagi ya sayang..&#8221; ucap Melati, seakan mengerti keinginanku, kemudian di jilatinya perlahan dan di masukkan dalam mulutnya, dikulumnya halus sambil mengelus-elus ke buah zakarku.<br />
&#8220;Aagghh.. terus Melati..&#8221; Ucapku merintih kenikmatan.</p>
<p>Melati terus mengisap dan membuat batang kemaluanku makin membesar dan tegang. Puas dengan isapannya Melati berdiri di depanku dan besandar di tembok, Mulut kami saling melumat kembali lidahku menari-nari didalam mulutnya, dibalasnya lidahku dengan nakalnya. Tangannya melingkar di bahuku, sementara tanganku mengarahkan batang kemaluanku dan memasuk kan batang kemaluanku ke liang vaginanya.</p>
<p>&#8220;Aagghh..&#8221; Melati mengerang nikmat.</p>
<p>Sambil masih berdiri ku tekankan batang kemaluanku semakin dalam ke liang vagina Melati, dengan gerakan tarik, tekan, tarik, tekan.</p>
<p>&#8220;Sayang.. aagghh&#8221; desah Melati.</p>
<p>Kubalik tubuhnya, sekarang Melati menghadap ke tembok, dan kumasukkan lagi batang kemaluanku ke liang vaginanya, semakin kencang dan liar aku menarik dan menekan batang kemaluanku semakin mendesah Melati menikmatinya.</p>
<p>&#8220;Sayang enak bangeet&#8221; kata Melati sambil tanganya bersandar di tembok.</p>
<p>Gerakanku semakin liar saja menarik dan menekan batang kemaluanku ke liang vagina Melati tanganku pun tidak tinggal diam meremas buah dadanya, semakin dalam aku menekan batang kemaluanku semakin kacau desahan Melati. hingga membuat Melati kembali mencapai puncaknya.</p>
<p>&#8220;Sayang.. aku.. mo keluaar..&#8221; teriak Melati.<br />
&#8220;Bentar kita bersama.. aku juga mo keluar..&#8221;<br />
Makin aku kencangkan aja gerakanku semakin liar aku menekan dan menarik tubuhku hingga akhirnya Melati berteriak.., &#8220;Aagghh.. nikmat sayang&#8221;.<br />
Kurasakan semburan cairan kenikmatanku di dalam vaginanya dan serasa vaginanya menyepit batang kemaluanku di dalamnya.<br />
Setelah selesai semburan kenikmatan aku tarik kemaluanku. ku kecup bibirnya dengan lebut sambil berkata, &#8220;Terima kasih Melati&#8221; Ucapku..</p>
<p>Kami bersihkan lagi tubuh kami berdua di bawah sower dan kemudian kami keluar dari kamar mandi. Jam sudah menunjukan angka 7 kulihat jendela di luar sinar lampu mulai menerangi langit yang gelap sinarnya yang berkilau seperti sinar bintang.</p>
<p>&#8220;Ayo kita jalan-jalan sambil cari makan&#8221; ajakku pada Melati.</p>
<p>Kami berdua keluar hotel dan mencari makan malam lapar juga perut ini dari siang belum terisi. Jam 9 malam kami masuk ke kamar lagi setelah kami jalan-jalan + makan malam. Kulihat Melati duduk di sofa depan televisi menyaksikan salah satu acara, kuhampiri Melati dan aku duduk di sampingnya, ku peluk erat tubuhnya dan perlahan kulumat bibirnya perlahan, kulihat mata Melati terpejam menikmati lumatan bibirnya dan napasnya mendesah serta sesekali Melati memainkan lidahnya dalam mulutku.<br />
Tak terasa jari lentik Melati mulai bergerak menyusup ke selakanganku sambil mengusap-usap batang kemaluanku dari luar dan perlahan batang kemaluanku mulai tegak berdiri.</p>
<p>Jari-jarinya yang lentik terus mengusap-usap batang kemaluanku, sementara aku mencium dan menjilati telinga dan leher Melati yang mebuat tubuh Melati semakin mengelinjang-gelinjang.</p>
<p>&#8220;Oh sayang.. Geli ahh..!&#8221;</p>
<p>Kuturunkan bibirku dari dari kuping menelusur leher, sambil tanganku melepas kaos ketat yang di pakainya itu hingga terlihat buah dadanya yang besar, payudara itu terlihat menyembul dari bra yang dipakainya aku buka pengait bra itu dan kulihat puntingnya mengarah ke bibirku.</p>
<p>Tanpa membuang waktu kulumat puting itu dengan gemas, kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang merah kehitam-hitaman. Tiba-tiba tangan Melati mebuka celana ku dan sekali sentak Melati langsung mengeluarkan batang kemaluanku. Dengan lembut dan penuh perasaan Melati mulai mengocok batang kemaluanku ke atas ke bawah.</p>
<p>&#8220;Aacchh.., Melati.. aacchh..&#8221; aku mengerang menikmati seraya terus menjilati dan menyedot puting Melati.<br />
&#8220;Melati kita lanjutin di renjang aja ya&#8221; ucapku sambil mengangkat tubuhnya yang hanya mengenakan CD mininya.</p>
<p>Aku angkat tubuhnya dan aku baringkan tubuhnya ke ranjang dan kembali aku lumat puting buah dadanya. Tiba-tiba Melati mendorong tubuhku hingga aku terduduk diatas ranjang dan Melati sendiri kemudian berlutut di hadapan selakanganku. Kulihat padangan matanya yang penuh nafsu. Bersamaan dengan itu Melati mulai menjilati kepala batang kemaluanku sambil meremas-remas kedua buah zakarku..</p>
<p>&#8220;Aacchh.. oocchh.. Melati!&#8221; desahku.</p>
<p>Semakin aku mendesah di buatnya semakin liar dia mejilati dan mengeluar masukkan batang kemaluanku di mulutnya disertai gerakan lidahnya yang mengesek urat bawah kepala kemaluanku. Tangan kiriku kembali meremas buah dadanya dan tangan kanan ku mulai merasuk ke dalam CD nya, kulepas CDnya dan langsung ku raba-raba daerah sekitar vaginanya.</p>
<p>&#8220;Mmhh.., mmhh.. Emmhh&#8221; rintih Melati, sambil terus mengulum batang kemaluanku ketika kuremas buah dadanya.</p>
<p>Melati semakin memeperkuat sedotanya hingga membuatku mengerang tidak karuan. Tidak mau kalah, kumasukkan jari tanganku ke liang vaginanya, saat jariku menyentuh daging sebesar kacang yang menonjol keluar segera aku gosok klitoris Melati dengan liar.</p>
<p>&#8220;Aacchh.., aacchh..&#8221; Melati mulai melepas batang kemaluanku dari mulutnya dan berteriak menikmati gosokanku di klitorisnya, hampir 15 menit kami saling mengocok,meremas dan menghisap yang di ikuti dengan gelinjangan dan jeritan jeritan histeris. tiba-tiba Melati menengadahkan wajah dan merintih.</p>
<p>&#8220;Sayang aku dah nggak tahaann..!&#8221; tanpa menunggu lagi kuangkat tubuh Melati dan kusuruh dia menungging.</p>
<p>Tampak kedua buah dadanya yang besar menggelantung bebas seakan-akan minta di remas-remas. Kubuka kedua kaki putih yang mulus itu lalu kugosok-gosokkan batang kemaluanku ke daerah vaginanya, kulihat vaginanya yang kemerah-merahan sudah basah berair, kudengar Melati semakin merintih tidak tahan. Perlahan kusodokkan batang kemaluanku ke dalam liang vaginanya yang sudah membanjir itu.</p>
<p>&#8220;Aacchh..&#8221; Melati mengigit bibirnya sambil menikmati batang kemaluanku yang tengah memasuki liang vaginanya.<br />
&#8220;Aacchh.., aacchh..,&#8221; desah Melati menikmati sodokanku.<br />
&#8220;Aacchh..!&#8221; Jeritnya ketika dengan liar aku semakin menghujamkan batang kemaluanku keluar masuk ke liang vaginanya hingga batang kemaluanku terbenam semuanya di dalam liang vaginanya.</p>
<p>Semakin liar aku menghujamkan batang kemaluanku dengan liar dari arah belakang, lalu kutempelkan perut dan dadaku di punggung dan tangan kananku meremas dan memelintir ke puting buah dada Melati yang semakin menegang itu.</p>
<p>&#8220;Ooaacchh..&#8221; erangannya keras sekali.</p>
<p>Kulihat Melati menengok kearahku sambil menjulurkan lidahnya. dengan cepat aku lumat lidah itu dan kami pun berciuman dengan posisi Melati menungging. Semakin liar aku menyodokkan batang kemaluanku dantanganku semakin meremas-remas buah dadanya. tangan kanan Melati menjambak rambutku dan mempererat lumatan bibir kami. Tiba-tiba Melati merintih dan mengigit lidahku, Tampak wajahnya mengespresikan kenikmatan yang telah di laluinya sambil dindidng vaginanya berdenyut-denyut mencapai klimaksnya.</p>
<p>Aku berhenti sebentar dan mebalik tubuh Melati, aku pandangi tubuhnya yang sempurna itu. dan kulihat Melati meregangkan kedua kakinya pertanda dia minta di lanjutkan. Kuarahkan Juniorku kedepan bibir vaginanya, emang sengaja tidak langsung aku masukkan dulu, tapi aku buat main-main dengan mengusap-usapkan batang kemaluanku ke vaginanya yang semakin membikin Melati mendesah. Dengan tiba-tiba batang kemaluanku aku masukkan ke liang vaginanya hingga semuanya terbenam di dalam vaginanya.</p>
<p>&#8220;Aacchh.. Sayang enakk&#8221; sambil menyilangkan kakinya di atas pinggangku.</p>
<p>Aku semakin liar mengoyangkan dan menyodokkan batang kemaluanku diatas tubuh Melati. Aku angkat kedua kaki Melati aku letakkan ke bahuku dan semakin liar aku menyodokkan batang kemaluanku. Semakin cepat aku mengoyangkan tubuhku hingga aku tak bisa mengontrol diriku dengan tiba-tiba aku merasakan kalo batang kemaluanku siap untuk menyemprotkan cairan kenikmatan.</p>
<p>&#8220;Melati.. aacchh.. aku mau keluar&#8221; erangku disertai sodokan yang semakin liar.<br />
&#8220;Keluarin di dalam saja sayang aku juga mau keluar&#8221; jawab Melati sambil mengoyang-goyangkan pinggulnya dari bawah.</p>
<p>Tak mau kalah aku pun semakin liar neyodokkan batang kemaluanku hingga tiba-tiba tersemburlah air kenikmatan dari dalam batang kemaluanku di sertai denyutan dari dalam vagina Melati.</p>
<p>&#8220;Aacchhkk..&#8221; desah dan erangan Melati disertai tarikan tangnya ke rambutku pertanda dia mencapai puncak kenikmatannya.<br />
Setelah berhenti semburanku dan denyutan vagina Melati kujatuhkan tubuhku ke samping tubuh Melati, perlahan dengan sisa tenagaku, kukecup bibirnya dan aku ucapkan, &#8220;Terimaksih ya Melatiku&#8221; sambil aku remas buah dadanya yang montok itu.</p>
<p>*****</p>
<p>Demikianlah pembaca kisah kami sampai kami berdua cek-out dari hotel Sabtu jam 11 siang kami berdua melakukan sampai 9x. Sebelum mengantarku ke terminal bis, Melati mengajakku untuk bertemu lagi bulan depan.</p>
<p>Untuk Melatiku, walau kita telah sama-sama married tapi aku masih menyayangimu, maafkan aku bila kisah ini aku muat tanpa seijinmu.</p>
<p>Bagi yang ingin berkenalan denganku, silakan kirim mail ke bawah ini dan aku akan menjawab setiap mail yang masuk.</p>
<p>E N D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/oh-melatiku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh, Melatiku &#8211; 1</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/oh-melatiku-1.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/oh-melatiku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 11:02:45 +0000<