<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zona Bokep Indonesia &#124; 3gp bokep, Video Bokep, Cerita Dewasa, Film bokep, Foto Bugil, Seks, skandal, Mesum, Terbaru, Online &#187; Cerita Dewasa</title>
	<atom:link href="http://www.bokepzone.com/category/cerita-seru/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bokepzone.com</link>
	<description>pusat koleksi 3gp Bokep, video bokep, video mesum, film bokep, cerita dewasa, foto Bugil, foto telanjang, Skandal, Seks, kamasutra, anak, Sd, Smp, abg, sma, mahasiswi, karyawati, pembokat, model, artis, terbaru,  online.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 17:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Perawan adikku yang aku rengut</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawan-adikku-yang-aku-rengut.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawan-adikku-yang-aku-rengut.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 20:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=3606</guid>
		<description><![CDATA[cerita ini bermula ketika aku sedang bermain bersama adikku, dia adalah adik sepupuku tapi sudah aku angap adikku sendiri, dia berumur 17 thn, saat itu aku baru berumur 18 thn, dia cantik mempunyai bentuk tubuh yang seksi dan payudarahnya sudah mulai tumbuh. aku sering menginap di rumahnya, ya maklum rumah kami dekat. aku sering smsan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>cerita ini bermula ketika aku sedang bermain bersama adikku, dia adalah adik<br />
sepupuku tapi sudah aku angap adikku sendiri, dia berumur 17 thn, saat itu aku baru<br />
berumur 18 thn, dia cantik mempunyai bentuk tubuh yang seksi dan payudarahnya sudah<br />
mulai tumbuh. aku sering menginap di rumahnya, ya maklum rumah kami dekat. aku<br />
sering smsan am dia.</p>
<p>suatu hari saat aku curhat ke dia karena pada saat itu aku baru putus sama pacarku,<br />
dia pengertian sekali sama aku, saat kami saling smsan tiba-tiba dia blz smsku<br />
dengan kata &#8220;aku pengen cium kamu&#8221; me to&#8221; dia terus menantangku. pada suatu malam<br />
tanteku(ibu adikku) akan pergi keluar dia menyuruhku menemani adikku itu. aku pun<br />
pergi k rumah adikku jam 21.30. lam kami mengobrol tak terasa sudah jam 10 lebih.<br />
lalu adikku tiba-tiba bicara &#8220;kak berani ngak mencium aku?&#8221;  aku menjawab &#8220;beradi<br />
dek&#8221; tiba-tiba adikku menyodorkan mulutnya. tanpa ragu aku langsung melahap habis<br />
bibirnya yang mungil itu, dia seperti menikmati ciumanku,<br />
mulut kami saling melahap lidahnya. taklama aku mendengar suara hembusan nafas<br />
adikku terangah-angah, ternyata dia sudah mulai merangsang. tak tahu setan apa,<br />
tiba-tiba tanganku masuk ke dalam bajunya yang sedikut longar itu, dan kutemukan<br />
gundukan yang sangat kenyal. aku remas remas gundukan itu lalu aku lepaskan pakaian<br />
adikku yang sedang menikmati jari-jariku yang ada di payudarahnya.</p>
<p>dan akupun terpana melihat kemolekan tubuh adikku, akupun lansung melumat dan<br />
menyedot puting adikku, dia seperti merasa sangat nikmat dengan perlakuanku itu, dia<br />
menekan wajahku ke dadanya. kini jsri-jsriku beralih ke agian bawah yang ku temukan<br />
adalah lubang vagina adikku yang lembut aku memasukkan jari2ku kedalamnya dia sangat<br />
menikmatinya. mulutkupn ikut turun kebawah lidahku mulai menjilatinya, dia<br />
mengeram-ngeram sanagt menikmatinya. tak lam aku merasakan cairan yang hangat keluar<br />
dari vagina adikku ternyata dia udah dipuncaknya. </p>
<p>lalu kami pindah kekamarnya didalam kamar aku membaringkannya di pinggir tempat tidur.<br />
lalu kukeluarkan penisku yang sudah dari tadi menegang, adikku memegangnya tanpa ragu<br />
dan mulai mengocoknya aku sangat menikmatinya, kemudian aku mencumbuinya dan aku<br />
menyodorkan penisku di depan mulut vaginanya, dia berkata &#8221; jangan kak adik masih perawan&#8221; aku<br />
menghiraukannya dan tetap melai memasukkan penisku dengan perlahan dia<br />
mengerang kesakitan. lalu aku melumat bibirnya dan dengan satu hentakan keras<br />
penisku masuk seluruhnya kedalam vaginanya. dia menjerit kesakitan. </p>
<p>tapi saat itu keadaan rumah sedang sepih! aku mendiamkan sejenak penisku didalam selama 3 menit.<br />
lalu aku mulai memajumundurkan penisku rasanya sangat enak penisku terasa dipijat,<br />
adikku yang tadinya merasa sakit kini mulai terangsang lagi</p>
<p>setelah 30 menit aku mengocok mengaduk vagina adikku, diapun sudah orgnsme 3 kali.<br />
kini aku mulai merasakan tekanan dari penisku, aku sudah menahanya lama, lalu aku<br />
keluarkan penisku agar maniku tidak keluar di dalam dan membuat dia hamil. aku<br />
mengeluarkannya diluar. setelah itu kami tidur bersama  sekitar 20 menit lalu adikku<br />
bangun dan menuju kamar mandi, segera aku susul, didalam kamr mandikamu mandi<br />
bersama &#8220;dik mafin kakak ya, kakak sudah merengut perawan adek&#8221; lalu adikku<br />
menaggis! kejadian itu pun sering terulang kalau rumah lagi sepi hingga saat ini.</p>
<p>TAMAT</p>
<p>Pengirim : pelo_lo@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawan-adikku-yang-aku-rengut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermula ketika menyaksikan istri selingkuh, sekarang saya jadi ketagihan</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bermula-ketika-menyaksikan-istri-selingkuh-sekarang-saya-jadi-ketagihan.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bermula-ketika-menyaksikan-istri-selingkuh-sekarang-saya-jadi-ketagihan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 20:47:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[karya sendiri]]></category>
		<category><![CDATA[video bokep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2494</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Nyata beserta Video bokep nya Bro dan Sist sekalian, mohon maaf jika pengalaman pribadi saya ini dianggap tidak wajar, tetapi demikian adanya kebiasaan seks yang tidak lazim kami lakukan ini berawal dari perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya waktu di SMA dulu Bermula sekitar 4 thn lalu, saya keluar dari pekerjaan dan mencoba merintis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Nyata beserta Video bokep nya</strong></p>
<p>Bro dan Sist sekalian, mohon maaf jika pengalaman pribadi saya ini dianggap tidak wajar, tetapi demikian adanya kebiasaan seks yang tidak lazim kami lakukan ini berawal dari perselingkuhan istri saya dengan mantan pacarnya waktu di SMA dulu<br />
Bermula sekitar 4 thn lalu, saya keluar dari pekerjaan dan mencoba merintis usaha sendiri, untuk itu supaya saya bisa survive maka anak sama istri saya , saya taruh di kampung di daerah jawa barat, untuk itu saya jarang pulang ke rumah, paling2 satu bulan sekali paling cepat. Setelah beberapa bulan berjalan setiap saya pulang ke kampung, saya suka mendengar tetangga di kampung suka membicarakan tentang istri saya yang mulai kembali berhubungan dengan mantan pacar pertamanya waktu SMA dulu, Cuma saya tidak begitu menanggapi , Cuma karena udah terlalu sering dan gosipnya sudah mulai macam2 dan menjurus ke hal2 yang negative (katanya mantan pacar istri saya ini suka masuk rumah saya malam2), maka saya juga jadi penasaran , untuk itu saya mulai membuat sebuah rencana untuk menjebak mereka , kebetulan rumah yang saya dan istri tempati ini adalah bekas rumah kakaknya mertua saya dan jaraknya sekitar 20 mtr dari rumah mertua, jadi saya berpura2 setiap pulang ke kampung saya tidak pernah tidur di rumah, melainkan tidur di rumah mertua dengan alasan sambil mengerjakan proyek, kebetulan juga rumah yang saya tempati itu listriknya tidak kuat, suka mati kalo di pakai untuk membetulkan mesin, makanya dengan alasan itu , saya bisa memasang kamera mini yang saya pasang di ruang tamu dan satu lagi di kamar tidur istri saya (kebetulan istriku dulunya agak gaptek dia tidak tahu kalau sedang di awasin pakai kamera ), kebetulan anakku dua2nya sudah pintar tidurnya di kamarnya sendiri.<br />
Satu dua hari belum ada tanda2 yang mencurigakan, saya juga bingung padahal kata orang2 si Ujang ( nama mantan pacar istri saya ) hampir tiap malam, datang ke rumah, setelah saya selidikin ternyata dianya sedang pergi ke Bandung sedang mengurus surat2 mobil ( pantesan tidak kelihatan seharian ). Pada malam keempat, tiba2 di kamera terlihat istri saya berjalan mengendap2 menuju pintu, sambil membuka pintu perlahan2, begitu pintu terbuka masuklah si Ujang ke dalam rumah , dan saya yakin itu si Ujang, dari perawakannya yang tidak terlalu tinggi dan sedikit gemuk, sama rambut ikal sedikit gondrong tidak salah lagi itu memang benar si Ujang mantan pacar pertama istri saya ( herannya kok istri saya mau yah ), mereka berdua mengobrol sebentar, saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya kameranya memang tidak saya pasang audionya, takut berisik, nanti mertua saya malah curiga, selama ini kan beliau tahunya saya sedang membetulkan TV di kamar, tidak berapa lama kemudian , ‘EHHH’ si Ujang itu malah mulai memegang2 tangan istri saya, terus tangannya mulai membelai2 rambut istri saya dengan mesra , ‘KURANG AJAR’ saya jadi panasss bangett, cuma saya mencoba untuk menahannya, tidak berapa lama malah istri saya yang memegang pinggang si Ujang, terus menarik2 tangannya dan mengajaknya menuju ke kamar, ‘bangsat!!!!’, saya memaki dalam hati, saya sudah mulai tidak bisa menahan diri lagi, apalagi ketika si Ujang juga mulai membalas merangkul tubuh istri saya , tangan saya sudah mengepal rasanya mau memukul saja gambar yang ada di TV, tidak berapa lama mereka berdua masuk ke dalam kamar, buru2 saja saya memindahkan jegnya ke kamera yang saya pasang di kamar tidur, celakanya begitu saya pindahkan malah jadi tidak jelas, tidak keluar gambarnya !!, mungkin karena penerangannya kurang memadai kali ya, dari pada keduluan mereka langsung aja saya keluar kamar dan menuju ke rumah saya, mertua saya sampe kaget melhat saya keluar kamar dengan terburu2, “ Aya naon A’? kok keburu2 ? “ tanya bapak mertua , “ Ohh , itu pak mau ambil tang “, saya jawab sekenanya aja deh.<br />
Saya langsung pergi setengah berjingkat, takut berisik, saya masuk dari dapur, kebetulan pintu dapur mertua , berhadap2an dengan pintu dapur rumah saya , begitu masuk saya langsung bergegas menuju jendela kamar yang mengahadap dapur, kebetulan jendela di kampung umumnya cuma di tutup pakai kain saja, jadi saya bisa mengintip agak mudah dan jelas, dan ketika saya membuka sedikit, ‘WADUHH !!’ istri saya sama si Ujang sudah tidur2an di kasur, si Ujang sudah mulai mencium pipi istri saya, tapi anehnya kali ini saya malah tidak merasa emosi tuh, soalnya saya lihat istri saya juga menikmati sepertinya, matanya merem, terus tangannya mulai di lingkarkan di leher Ujang, terus kepala si Ujang di tariknya sampai wajah si Ujang berhadapan dengan wajah istri saya, ‘SETANNN !!!’ bibir istri saya mulai melumat bibir Ujang, “ mmpphh…mmpphhh “ Ujang dan istri saya berpagutan mesra, aneh sekali, perlahan2 kemaluan saya malah bergerak nih, ‘ SOMPRETT !!!!, kenapa malah bangun nih kanjut’ pikir saya , ‘WAH’ dari pada saya malah jadi salah tingkah akhirnya saya ambil aja kursi yang ada di dapur, pelan2 saya duduk di kursi sambil mengintip, saya lihat istri saya sudah mulai menarik2 kaos si Ujang, “ A’ ayo buka atuh kaos sama celananya “ rengek istri saya, Ujang menurut, dia mulai membuka kaosnya, sambil menurunkan juga celana panjangnya, “ Is… ( nama istri saya Euis ), biar Aa’ yang buka baju kamu yahh? “ Ujang berkata sambil tangannya mulai menarik kaos tanktop istri saya, ‘ WAHH !!! ‘ makin keras aja nih benda di selangkangan saya melihat adegan itu, tidak berapa lama terlepaslah baju istri saya, terus perlahan tangan Ujang mulai menurunkan celana Hawaii istri saya, posisi istri saya yang tengah tiduran celananya di tarik hingga lepas, sekarang pasangan selingkuh ini sudah setengah bugil, saya melihat benda di dalam celana dalam si Ujang sudah mulai berubah, tangan istri saya sudah mulai menyelinap masuk kedalam celana dalam Ujang, kelihatannya istri saya sudah mulai meremas2 kemaluan si Ujang, dan Ujang juga tidak mau kalah, dia mulai melepas tali Bra istri saya, sebentar saja sudah terlepas deh Bra istri saya, Ujang mulai meremas payudara istri saya secara perlahan2, walaupun sudah sedikit mengendur ( maklum sudah punya anak dua ) tapi dari bentuk sih masih lumayan bagus, apalagi puting susunya juga tidak terlalu besar, sambil merem-melek keenakan si Ujang mengulum pentil susu istri saya, yang sebelah kiri, sementara tangannya yang kanan terus meremas2 payudara istri saya yang bagian kanan, “ Ssssshhh….Aa’, enakkk bangettt sihhh….”, istri saya mengerang keenakan badannya menggeliat2, sementara tangannya terus giat meremas batang kemaluan si Ujang, “ Mmpph..mmbb…mbb…uhhhh….aku juga enak nih Iissss…..”, rintih Ujang sambil terus mengulum pentil susu istri saya, “ Aaaa’ udahhh donggg… Euissss… gak kuattt nihhh….”, istri saya menggelinjang, mendesah sementara tangannya sudah mulai berusaha melepaskan celana dalam si Ujang, tangan Ujang beringsut melepas celana dalammya sendiri, batang kemaluannya menyembul keluar dan menggantung, ukurannya sedang2 aja tuh kayaknya tidak berbeda jauh dengan kemaluan saya.<br />
Begitu batang kemaluan itu lepas dari sangkarnya, istri saya dengan sigap menangkap kemudian meremas2 dengan gemas, karuan saja ini membuat Ujang mengerang, “Aahhhh….Iissss…ssshh …Uuhhh…..” Ujang melepas kulumannya di pentil susu istri saya, dia duduk bersandar di tembok, istri saya yang sudah gemas langsung aja melahap batang kemaluan Ujang, ujung kemaluan si Ujang di kenyot kuat2, Ujang mengerang kepalanya mendongak ke atas, perutnya tertarik saking kuatnya kenyotan mulut istri saya, “ Aaarrrgggghhhhh…..Euisss!!&#8230;&#8230;Ampuuuunnnnnn, Ouuhhhhhhhh…………”, Istri saya mulai mengulum2 batang kemaluan Ujang, batang itu dia masukin terus di keluarin lagi dari mulutnya,” Ouuwbb…nymmm..mmhhh….slrrrupp..”, mulut istri saya,<br />
terus menyiksa batang kemaluan Ujang, Dia mulai kepayahan tangannya meremas2 rambut istri saya,  “ Euisss…..uddaaahhh..aahhh…urang..teu kuattt deui…uuhhh….”, Ujang merintih sambil berusaha menarik kepala istri saya supaya mulutnya lepas dari kemaluannya. Tetapi istri saya sepertinya sudah kesetanan, sambil terus mengocok batang kemaluannya Ujang, mulutnya mulai membantai biji kemaluan si Ujang, mulutnya mulai mengulum sambil sesekali menggigit dua bola daging yang di tumbuhi bulu itu, Ujang menggeliat2 keenakan sesekali mulutnya menyeringai, mungkin ia sedang merasakan geli bercampur sakit karena biji kemaluannya sesekali digigit oleh istri saya , “ Akhh….ssshhh.. Ouhh…Ngeunahhh euyy….trusssshhh…enaaakkkkhhh..”, Ujang mengerang panjang sepertinya dia benar2 kepayahan deh, istri saya memang paling jago kalo di suruh Blow Job, saya saja lebih sering keoknya, “Mmbbbhhh….heghh…uukh..ukh…”, mulut istri saya terus mengulum, menggigit sambil tangannya mengocok batang kemaluan Ujang.<br />
Selang beberapa menit kemudian saya melihat Ujang menarik kuat rambut istri saya, badannya terdorong ke depan, suaranya mengerang parau, “ Aarrrgghhh…Euiss… uranggg keluarrrrrr….aaahhhhhhh…”, dan….’crett..ccrett’ menyemprot lah cairan sperma Ujang di mulut istri saya, “ I..ih..ih.. Aa’ kok udah di keluarin sihhh???? “, istri saya protes sambil terus mengocok kemaluan Ujang hingga tetes sperma yang terakhir keluar, “ Ouhh..ukhh…Ukh.. habis geli sih Is …sshhh…aahhhh..”, tubuh Ujang ambruk ke kasur, sementara istri saya berusaha membersihkan mukanya yang belepotan cairan kenikmatan si Ujang, “ Terrusss…aku gimana dong Aa’… ?, rengek istri saya, ‘Huh !! Sialan !!’ kalo gak lagi ngintip sudah saya aja deh yang mengantikan si Ujang buat menyetubuhi dia, soalnnya nih kanjut sudah tegang 200%, ‘GILA !!’ horny nya lebih dari kalau saya melihat adegan di filem Be-eF atau kalau pas mau menyetubuhi istri saya , dua kali lipat , ‘Gustiiii…’ benar2 sensasi yang luar biasa, sampai2 saya harus membuka resleting celana , untuk membuat kanjut ini bisa bernafas..<br />
Tak berapa lama kemudian istri saya sudah rebah di samping Ujang, sementara tangannya masih mengelus2 kemaluan Ujang yang sudah sedikit lembek, “ Aa’..gimana dong?..kanjutnya jadi lemes gini…”, rengek istri saya sambil tangannya di selusupkan ke dalam celana dalamnya sendiri ( sepertinya istri saya benar2 dikuasai nafsu birahi yang kuat ), “ Ayo dong Aa’ ini lubangku udah gatelll….ihh..”, kembali dia merengek, “ Sini Is…, Aa’ jilatin mau gak? “, lirih Ujang sambil mencium pentil susu istri saya , Ujang mulai membuka celana dalam istri saya, kemudian dia membuka paha istri saya lebar2 sehingga lubang kemaluan istri saya keliatan jelas, walaupun sudah pernah melahirkan sampai dua kali, tapi lubang kemaluan istri saya masih lumayan menggigit, ( tau deh sudah berapa kali lubang istri saya di masukkin kemaluannya si Ujang ), Saya melihat Ujang mulai menyiumi perut istri saya, kemudian semakin lama semakin turun, pas sampai di lobang kemaluannya, istri saya menjerit kecil, “ Ouhhh….Ahhhhh….sss<br />
ssshhh…jangan di gigit Aaaa’, sakittt&#8230;.”, jerit istri saya sambil tangannya meremas seprei kasur ,‘Sialan!!’, rupanya si Ujang balas dendam tadi kemaluannya di gigit istri saya, Ujang mulai menjilat2 lubang bagian dalamnya, hal ini membuat istri saya menggelinjang2 keenakan ( Padahal dia gak pernah mau kalau kemaluannya di jilat saya, takut songong katanya ), “ Ouuww…ssshh…gelliiiiii…uhh…ssshhh….geliiii..”.<br />
istri saya mengerang2, makin beringas saja Ujang memainkan lubang kemaluan istri saya, sementara saya lihat istri saya semakin liar, kepalanya di goyang kekiri-kekanan, tangannya menjambak dan menarik2 rambut si ujang, pinggulnya ditarik maju mundur “Ouuhhh…owwhh..ssshhh…udahhh..udahhh..geliiii..”, rengek istri saya, ‘Waduhh’, mendengar istri saya mengerang2 semakin tegang aja nih kanjut, apa kanjut si Ujang juga sama?&#8230;Ehh..ternyata sama juga tuh, saya lihat kemaluan si Ujang perlahan2 mengeras, sambil terus menjilat kemaluan istri saya, Ujang mengocok2 kemaluannya sendiri hingga makin lama kelihatan kemaluannya semakin tegang, “ Sshh…mmbb..slrruppphh…nymmh..nymm…sshhh..”, Ujang terus membantai lubang kenikmatan istri saya, “ Euis…kanjut Aa’ udah siap nihh..di lanjut teu..???”, Tanya si Ujang sambil mengocok kemaluannya di depan lubang kemaluan istri saya, “ Lanjutiinnn…Aaa’..udah basah nihh….uhhhh…”, desis istri saya sambil mengangkang lebar2. Sejurus kemudian Ujang mulai memasukan kemaluannya di lubang kenikmatan istri saya, “ Ssssshhh&#8230;&#8230;&#8230;.”, Ujang mendesis panjang ketika kemaluannya masuk kedalam lubang nikmat istri saya, “ Uhhhhh….ssshh….aahhh Ouhhh…..enakkk…”, istri saya mengerang kenikmatan kelihatannya dia memang sudah tidak sanggup menahan birahinya, “ Ayuh atuh Aa’…di kocok dong kanjutnya…”, rengek istri saya. Ujang mulai menggenjot kemaluannya turun naik, ‘slepphh..clepp..cleephh..’ bunyi kemaluan istri saya nyaring sekali, itu menandakan kalau lubang surga istri saya sudah basah sekali dengan cairannya dia sendiri, sementara si Ujang berusaha memompa birahinya biar sampai puncak, tapi karena dia tadi sudah keluar sepertinya bakal lama nih ejakulasinya,<br />
“ Ukhh..uhh..ukhh…ahh..ahhh..ukh…sshhh…uuhhh….ouhhh…” suara dua insan yang di kuasai nafsu memenuhi ruangan kamar, sesekali Ujang mengulum pentil susu istri saya, membuat istri saya semakin menggelinjang, “ Eeeehhh..ssshhh…enakkk Aaaa’…terusss..auwwwhh….ngeunahhhhhh…..Ooooooooo..”, melihat istri saya keenakan, Ujang terus mengulum pentil susu istri saya sambil terus mengocok kemaluannya turun naik, semakin lama semakin cepat sehingga membuat istri saya tidak kuat lagi menahan birahinya pinggulnya bergoyang cepat pantatnya diangkat dan…. ”Aaaaaahhhh  …Euissss… …..keluarrrr… .A’aaaa …Ooooooouuhhh……..”,Istri saya mengerang sambil pahanya di tutup rapat menjepit pantat ujang, ‘ serrrr…..’ cairan istri saya keluar sepertinya, saya melihat dari celah lobang kemaluannya, mengalir cairan bening, tangan istri saya meremas punggung Ujang kuat2, “ Akhh…aauwwwhh….ssshh…..Aahhhh….ouhhhhhh…enakkkk……….” Ujang yang merasakan hangat di kemaluannya semakin kuat menggenjot lubang surga istri saya sesekali pantatnya di putar2 sambil di dorong habis ke depan,<br />
“ Ugh..ukh…uhh…uhhh…lobangnya banjirrr….uuhhh…”, rintih Ujang sambil terus mengocok kemaluannya, “ Ahh…uhhh…Brenti dulu…A’…Euis ngiluu….akhh..”, istri saya menjerit2, tapi kelihatannya Ujang gak peduli, dia terus menggenjot, karena merasa ngilu, istri saya membalas dengan menggoyangkan pantatnya kekiri-kekanan, sambil sesekali di hentakkan ke atas, Karuan aja si Ujang kewalahan, kemaluannya berdenyut-denyut ,“Ahhh…sshhhh….enakkk.ahh..ahhh…Ough”<br />
Ujang mencengkram kedua tangan istri saya, gerakan pantatnya makin cepat, dan beberapa detik kemudian pantatnya di hentakkan kuat2….” Aarrrgggghhhh…..urang keluarrr …Isssssss………..Arrrrhhhhhhhhhhh….Ouuhhhhh………….”,<br />
‘Crootttttt..crottt…’, Ujang mengerang panjang pantatnya berkedut2, tubuhnya di hempaskan di atas tubuh istri saya pantatnya terdorong ke depan sangat kuat, “ Ahhhh….sssshhhhhhh…..oouuhhhhh…..enakkk…..”,<br />
lenguh Ujang sambil sesekali menggoyangkan pantatnya, kulihat spermanya mengalir keluar dari celah2 lobang kenikmatan istri saya, ‘ Sialll si ujang!!, ngapain air maninya di buang di dalam, untung aja istri saya KB kalo gak’, umpatku dalam hati, gak berapa lama Ujang turun dari tubuh istri saya, ‘ kesempatan nih mumpung dia berdua masih lemes, saya kerjain ah saya pura2 grebek aja’, pikir saya, soalnya terus terang saya juga gak marah dengan kelakuan mereka berdua malah saya menikmatinya, lihat aja ujung kepala kanjut saya malah basah, terus pelan2 saya jalan ke pintu kamar<br />
‘Brakkkkk!!!’, pintu kamar saya tendang hingga terbuka, Ujang dan istri saya kaget bukan kepalang, “ bangs*ttt !!!, ngapain kamu berdua Ha???..”, hardik saya, muka Ujang pucat pasi istri saya langsung panik, “ A..ampun..kang..ampun….”, kata Ujang ketakutan,<br />
“ Iya A’ aku juga minta ampun…”, rengek istri saya langsung mencoba memeluk badan saya, Cuma saya dorong lagi aja ke tempat tidur, “ Kamu berdua bikin malu!!, sekarang juga kamu berdua ke kantor desa!!, saya tarik tangan si Ujang, Ujang langsung sujud di depan saya, “ Ampuunnn kang, jangan bawa saya ke Kuwu ( panggilan kades kalo di kampung ), tolong saya kang, nanti bapak saya tahu dia jantungan ( si Ujang memang belum punya istri dan masih tinggal bersama orang tuanya ), saya mau di suruh apa aja, saya mau kang asal jangan di bawa ke pak kuwu, tolong kang..”, Ujang merengek sambil mencium kaki saya, gak berapa lama istri saya juga ikut sujud di kaki saya, “ Iya A’, tolong jangan bawa saya ke desa, Aa’ boleh ceraikan saya, saya rela…tolong jangan bawa ke desa nanti bapak jadi malu, kasian bapak A’..”, rengek istriku sambil terus menyiumi kaki saya, ‘Hmm…ini dia saya kerjain aja nih’ pikir saya dalam hati.” Ya sudah begini saja, kamu Jang bikin surat perjanjian bahwa kamu mau ngelakuin apa aja yang saya suruh, kalau kamu menolak, urusannya aku bawa ke kantor polisi, gimana?”, tanya saya sambil mengambil kertas dan ballpoint dari dalam laci, “ Iya kang saya sanggup…”, jawab Ujang lirih, sambil bangun menuju meja, “ Kamu Is!, kamu juga buat perjanjian kalau kamu juga mau aku suruh apa aja, kalo gak aku kasih tahu bapak kelakuan kamu ini dan aku laporin polisi karena kamu sudah berselingkuh”, kata saya sambil memberikan kertas ke istri saya, “ Iya A’, maafin saya yah…”, setelah kedua2nya selesai membuat surat perjanjian, saya suruh mereka berdua untuk ‘main lagi, “ Nah sebagai hukumannya kamu berdua harus mengulangi apa yang kamu perbuat tadi di hadapan saya, saya mau merekamnya buat bukti” kataku sambil mengambil HP kamera yang ada di saku ,<br />
Ujang dan , saling pandang, mereka gak nyangka hukumannya bakal aneh begitu,<br />
“ Tapi A’..? “, istri saya keheranan sementara Ujang cuma menunduk lesu, “ Sudah kamu mau apa tidak?, kalo tidak aku ke pak kuwu sekarang..”, aku berkata sambil mengarahkan kamera ke mereka berdua, “ I..iya,,deh A’…saya mau…” sahut istriku terbata2, “ Kamu jang..???&#8230;”, tanya ku, “ Saya terserah akang aja, tapi kayaknya saya gak sanggup kang tadi udah keluar dua kali, lagian saya malu kalo di liatin”, jawab Ujang sambil memegang kemaluaanya yang sudah lembek, “ Gak usah malu Jang, anggap aja aku gak ada, kan mumpung akunya juga gak marah, jadi kamu bisa main sepuas kamu gimana?”, kataku meyakinkan si Ujang, “ Ya udah deh kang, beneran gak apa2 nih aku main sama istri akang??”, tanya Ujang lagi, “ Udah, beneran gak apa2 kok, sana naik ke tempat tidur gih!!”, sahutku.<br />
Ujang beringsut naik ke tempat tidur, sementara istri saya sudah duduk di atas tempat tidur, badannya sedikit di tutupi selimut, “ Euis !!, ngapain di tutupin biarin aja di buka, biar Ujang bisa nikmatin tubuh kamu “, kata saya mirip seorang sutradara yang sedang memberikan pengarahan ke para pemainnya, Ujang duduk di sebelah istri saya, mukanya masih pucat ketakutan.<br />
“ Ayoh !!&#8230; Is…bangunin tuh kanjutnya si Ujang, kamu khan..jagonya kalo bangunin kanjut.”, kataku sambil mulai merekam mereka berdua, perlahan Euis bangun dan mulai menghampiri kanjut Ujang, jari tangannya yang lentik mulai mendarat di batang kanjut Ujang, sementara ujang mulai rebah di kasur, rupanya dia juga gak mau terlalu terlihat mukanya oleh sorotan kamera HP-ku, Euis sudah mulai beraksi, dia kelihatan agak canggung mungkin malu sama aku suaminya, mungkin pikir dia mana ada suami yang menyuruh istrinya bersetubuh dengan orang lain, “ Eh Euis.yang bener atuh,kalo kanjut Ujang gak keras2 kapan kalian mau mainnya???..”, kataku sambil terus merekam, Euis pun mulai memasukkan kepala kanjut Ujang di dalam mulutnya, dia kulum2 pelan2 sesekali dijilat2 ujung kepalanya, Euis memang pintar untuk yang satu ini, dia tahu titik mana di bagian kemaluan Ujang yang paling sensitif, buktinya Ujang mulai menggelinjang kegelian, Cuma dia gak berani mengeluarkan suaranya, “Heh…Jang…mana suaranya???&#8230;.tadi waktu main yang pertama kok keras sekarang kok diam??,..Hayo…keluarin suara kamu !!&#8230;”, perintahku, Ujang dengan sedikit malu mulai bersuara, “ Sssshhhh…..mmmmpphhhhh….terrusss..Iissss….ouhhhh….”, rintih Ujang,<br />
Euis juga makin bersemangat ketika melihat batang kanjut Ujang mulai mengeras, sisa2 air mani Ujang yang mulai mengering tidak di hiraukannya, dia terus menjilat dan mengulum2, “ Mmmmpppphhh…slrruuuppphhh…emmmmhh..emmhh…emmhh..”,<br />
Kemaluan Ujang dia putar2, buah zakarnya di kulum sambil di tarik2 sampai kempot, karuan saja Ujang makin keenakan, “ Okh..Ukhh…ssshhh…enak..Is, benerrrrr….”, Ujang mengerang2 tangannya mulai meremas2 rambut istriku, sementara aku yang menyaksikan adegan itu juga mulai horny lagi nih, aku buka tali ikat pinggangku kemudian kanjutku kubiarkan keluar, Euis sempat melirik perbuatanku, Cuma dia tidak bisa komentar karena mulutnya penuh dengan biji zakar milik Ujang, sementara tubuh Ujang menggeliat2 sepertinya dia merasa ngilu karena sudah dua kali kanjutnya memuntahkan air mani, “ Uughhh…ohhh…ngiluuu euy..Iss…ngiluuu..atos atuhh..”,<br />
Rengek Ujang memohon supaya istri saya menghentikan pembantaian pada kemaluannya.Kasihan juga si Ujang belum sempat istirahat lama kanjutnya sudah di paksa bangun lagi,<br />
Akhirnya saya suruh istri saya supaya mulai beraksi, “ Euis..ayoh kamu naik di atas kanjut ujang, gantian kamu yang genjot sekarang..”, istri saya beringsut pantatnya berada di atas kemaluan Ujang, kemudian sambil terus di genggam perlahan kanjutnya di arahkan ke lobang kenikmatannya, sejurus kemudian dimasukkannya batang nikmat Ujang ke lobang vaginanya, “ Ahhhhh……”, istri saya mendesis ketika batang kanjut Ujang amblas ke dalam lobang kemaluannya, “ Uuuuuhhhhh…..ssshhh….”, Ujang mendesis juga kelihatannya dia sedang merasakan nikmat bercampur ngilu, istri saya mulai menaik turunkan pantatnya, ‘cleppsss…sleppphh…cleppss…’, bunyi kedua kelamin ini begitu nyaring mungkin karena lobang kemaluan istriku masih terisi oleh sperma Ujang jadinya bunyinya nyaring, apalagi kulihat batang kanjut Ujang belepotan cairan putih setiap keluar masuk lobang kemaluan istriku, “ Ouwh..ouwww..ssshhh….”<br />
Istriku merintih2 keenakan, tangannya menggenggam erat sprei tempat tidur, Ujang yang berada di bawah juga gak mau kalah, tangannya meremas2 payudara istriku dengan mesra, “ Sssshhh….ennaaaakk….aahhhh…terrusss…. Issss….”, rintih Ujang keenakkan Istri saya makin bersemangat pinggulnya turun naik dengan cepat,<br />
matanya merem melek, sementara mulutnya menganga mengeluarkan suara2 yang gak jelas,“ Ouwwhh…hrrrhhh….aarrrgggg….ooupppphhhh….owhh..ouwwggghh….”<br />
beberapa menit kemudian saya suruh istri dan Ujang untuk berganti posisi, sekarang saya minta istri saya untuk nungging, “ Ayohh..Euis kamu sekarang nungging, biar Ujang tusuk lobang kamu dari belakang…”, istri saya menurut dia bangun kemudian menungging di atas tempat tidur, sementara Ujang beringsut menghampiri pantat istriku yang sudah menganga menunggu kanjutnya untuk di masukkan ke dalam lobang kenikmatannya, “ Eeegghhhh….ssshhhh…..”, Ujang mulai memasukkan batang kemaluannya ke dalam lobang vagina istriku, ‘ Sleeeppppsss…’, sekali tekan masuklah batang kanjut itu, “ Aaahhhhh…….ssssshhhhh…..ennaaaakkkk….”, istri saya mendesis panjang, batang kemaluan mulai keluar masuk lobang vagina istriku, bunyinya nyaring‘ Clepss..clophh…clops…clepss..cloph…cloph…’, Ujang terus menggenjot<br />
kanjutnya, tangannya meremas2 pantat istriku “ahh…akhh..ukkh…ogghhh…ssshh…ohhh…uuhhhhh….enaakkkk…ssshhhh….”<br />
Ujang terengah2 menikmati vagina istriku, “ Ssshhh….uhhh…aaaaaa….ennaakkk…”<br />
Istri saya juga mengerang2 kenikmatan, Sementara saya lihat Ujang mulai kepayahan, dengan posisi bersetubuh seperti ini membuat kanjutnya tidak dapat bertahan lama,<br />
“ Oghh..sssshhhh…..addd..ddduuuhhh….teuu…kuattttsss..deui…euuhhhh…….”,<br />
Ujang menggenjot makin cepat, kemudian secara tiba2 dia mencabut kanjutnya dan mengocoknya di luar vagina istri saya di sertai lenguhan panjang, “ Aaaaaaaahhhhh…”,<br />
‘Crroootttt…crettt..cre..cettt..’ muncratlah cairan mani ujang di atas pantat istriku<br />
“ Urangggg…..Keluarrrrrrrr…..Ouuhhhhhhhh………”, Ujang mengerang2 perutnya berkedut stiap kali maninya menetes dari kepala kanjutnya, kemudian dia ambruk ke kasur, “ Yahhh…Jang…kamu udah keluar?..”, tanyaku sambil mengarahkan kamera Hp-ku kearah Ujang yang terduduk lemas, “ Uhh..iya..kang, gak kuat kalo gaya kayak gitu”, Ujang berkata lemah sambil mengelap kanjutnya dengan kain seprei<br />
Aku mematikan proses rekamnya, kemudian aku melihat ke arah istriku yang masih nungging di kasur, sambil membuka celana dan kaosku aku menyuruh Ujang untuk turun dari kasur, “ Sudah kamu turun Jang duduk di kursi gantian aku yang mau ng*nt*t nih”,Kata saya sambil menghampiri tubuh istri saya Euis.<br />
Malam itu saya mampu bersenggama dengan istri saya lebih dari biasanya, saya merasakan nikmat senggama yang luar biasa, ini karena sensasi yang saya dapatkan dari melihat adegan istri saya bersenggama dengan Ujang. Sejak saat itu bila saya ingin mendapatkan sensasi yang luar biasa waktu ML dengan istri, maka saya biasanya mengajak Ujang atau orang lain untuk terlebih dahulu menyetubuhi istri saya, berkat surat perjanjian yang di buat istri saya dan Ujang maka saya bisa menyalurkan hasrat seks saya yang tidak lazim ini dengan mudah, tapi lama-kelamaan istri saya juga mulai terbiasa dengan hal itu, malah sekarang dia dapat lebih menikmatinya dan terkadang lebih sering dia yang memilih pasangan untuk bersenggamanya, kami punya banyak pengalaman untuk di ceritakan bila berkenan.</p>
<p>Akhirnya setelah di cari ketemu juga MMC hapeku, jadi bisa share video pertama kali waktu Istriku ML sama si Ujang mantan pacarnya waktu SMA dulu, Nah video ini yang bikin saya jadi ketagihan banget lihat istri saya ML sama orang lain, sebelum istri saya Ml sama saya, jadi gak terlalu threesome sih, karena biasanya saya nikmatin dulu adegan itu, itung-itung nyaksiin live show filem porno gitu.</p>
<p><a href="http://www.bokepzone.com/wp-content/uploads/2009/12/IstrikuMLsamaUjang_aku_rekam.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2495" title="Istriku ML sama Ujang selingkuhan nya aku rekam" src="http://www.bokepzone.com/wp-content/uploads/2009/12/IstrikuMLsamaUjang_aku_rekam-300x277.jpg" alt="" width="389" height="359" /></a></p>
<p>klik &gt;&gt; <a target="_blank" title="isti ku selingkuh" href="http://www.missupload.com/donyznhhf01u/IstrikuMLsamaUjang_aku_rekam.3gp.html" target="_blank">download bokep</a></p>
<p>video kiriman dari member bokepzone</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bermula-ketika-menyaksikan-istri-selingkuh-sekarang-saya-jadi-ketagihan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Tak Tahu Siapa Ayah Anakku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 09:48:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku hidup dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat otoriter. Ayahku seorang perwira menengah kepolisian, sehingga beliau mendidik anak-anaknya dengan sangat tegas dank keras. Beliau juga berharap bila kami sudah besar nanti, kami bisa menjadi abdi Negara seperti didirnya. Namun sayang Tuhan lebih dulu memanggilnya saat aku masih berumur tujuh tahun. Sejak ditinggal ayah, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku hidup dalam sebuah keluarga yang bisa dibilang sangat otoriter. Ayahku seorang perwira menengah kepolisian, sehingga beliau mendidik anak-anaknya dengan sangat tegas dank keras. Beliau juga berharap bila kami sudah besar nanti, kami bisa menjadi abdi Negara seperti didirnya. Namun sayang Tuhan lebih dulu memanggilnya saat aku masih berumur tujuh tahun.</p>
<p>Sejak ditinggal ayah, aku besar dan tumbuh dalam didikan ibu. Terus terang saja diantara anak-anaknya yang lain aku paling dimanja, mungkin karena aku anak perempuan satu-satunya yang dimiliki ibu. Di rumah aku dikenal sangat pendiam, terlihat alim dan tidak suka berbuat yang aneh-aneh, sehingga ibu tidak banyak memproteksi kegiatan-kegiatanku. Padahal, di luar rumah, aku sama seperti anak-anak lain.</p>
<p>Saat puber dan mulai jatuh cinta, aku juga berkencan dengan pria idamanku. Tapi untuk menjaga citraku yang baik dihadapan ibu, aku tumbuh dalam sikap kepura-puraan. Didepan kakak-kakakku, aku selalu bersikap seolah aku anti pacaran, padahal kenyataan sesungguhnya aku gemar sekali berganti-ganti pasangan.</p>
<p>Entah mengapa, aku lebih menyukai sosok pria yang usianya jauh lebih tua dariku. mungkin karena aku merindukan fgur ayah yang tak lagi kumiliki sejak aku masih kecil, karena beberapa kali dekat dengan pria yang sudah matang, akupun jadi lebih cepat dewasa. Apalagi tubuhku yang bongsor membuat orang mengira aku berumur jauh lebih dewasa.</p>
<p>Suatu hari, ketika aku dan ibu mengantar makanan untuk kakakku yang sedang menjalani pendidikan polisi, aku berkenalan dengan komandannya. Karena seringnya mengunjungi kakak, akupun jadi dekat dengan komandan kakakku itu.</p>
<p>Sebut jaja namannya Hari, sosoknya penuh kharisma dan tampan. Sejak awal bertemu aku sudah jatuh cinta padanya. Sampai-sampai aku tidak memperdulikan statusnya yang telah beristri. Apalagi Hari bercerita bahwa ia ingin beristri lagi, karena sampai saat ini ia tidak memiliki anak dari pernikahannya.</p>
<p>Aku merasa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, dan aku punya harapan besar padanya, karena dia menginginkan anak dariku dan hubungan kamipun semakin dekat. Tentu saja kami harus mencari seribu alasan pada keluarga kami masing-masing agar kami bisa lebih sering berdua. Karena perasaanku yang begitu dalam, aku tak berpikir panjang lagi ketika Hari mencumbuku dan membawaku pada puncak kenikmatan duniawi, apalagi Hari berjanji padaku bahwa saat aku hamil ia akan menikahiku.</p>
<p>Setelah berkali-kali berhubungan badan dan berbulan-bulan menanti, aku tak kunjung hamil. Perasaanku mulai cemas, terlebih ketika Hari mulai menjauhiku. Diam-diam aku mendatangi kantor Hari. Ternyata hal itu membuatnya marah besar. Hari lalu memintaku untuk tidak lagi menemuinya lagi, dan sejak saat itu aku tak pernah bertemu ia lagi. Kudengar dari temannya, Hari meminta dipindah tugaskan kekota lain.</p>
<p>Sejak perpisahan yang menyakitkan itu, aku benar-benar merasa sangat kehilangan semangat hidup. Dan saat itu timbul rasa dendamku terhadap semua laki-laki dan aku berniat menghancurkan kehidupan mereka. Dengan menjadi perempuan panggilan mungkin dendamku terhadap laki-laki akan terbalaskan.</p>
<p>Setelah sekian bulan menjadi perempuan panggilan, akhirnya aku merasa ada yang berubah dengan tubuhku, hampir tiga bulan aku tak mendapat tamu bulanan. Aku sedikit takut karena aku memang tak selalu menggunakan alat kontrasepsi saat aku berhubungan badan dan untuk menghlangkan keraguan, aku melakukan tes dengan alat deteksi kehamilan dan ternyata aku memang benar-benar hamil. Seketika itu juga tubuhku lemas tak berdaya. Aku tak tahu harus kepada siapa aku meminta pertanggung jawaban atas kehamilan ini, karena begitu banyak laki-laki yang pernah bersetubuh denganku.</p>
<p>Sejak hamil, aku tak berani keluar rumah, sehingga tak satupun teman dan tetangga yang mengetahui keadaanku. Kakak-kakakku yang selama ini menganggapku sebagai anak yang baik, penurut dan alim, sangat kecewa padaku. Dan ibu, meski tak memperlihatkannya, ia pasti sangat kecewa dan terpukul.</p>
<p>Aku yakin siapapun yang mengetahuiku kisahku ini pasti akan mengutukku. Saat ini yang membuatku kuat hanyalah anakku. Singakt cerita anakku lahir dengan selamat, tubuhnya montok, kulitnya putih sepertiku. Dia sangat tampan, yang menjadi pikiranku saat ini adalah bagaimana aku bisa menghidupinya. Setelah sadar dengan apa yang kulakukan selama ini, aku justru kesulitan dalam mencari pekerjaan.</p>
<p>Usiaku saat ini hampir mencapai 30 tahun, untuk berkerja dipabrik aku sudah terlalu tua. Apalagi aku tidak punya keterampilan apapun. Aku berharap ada yang mau menolongku atau paling tidak memberiku saran. Aku tahu masa laluku hitam, namun aku masih berharap ada sekelumit harap untukku dan anakku ………</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-tak-tahu-siapa-ayah-anakku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>alex, burung mudaku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/alex-burung-mudaku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/alex-burung-mudaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 00:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2297</guid>
		<description><![CDATA[Sebut saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat menyakiti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebut saja namaku Haryani, saat menikah aku tidak tahu kalau ternyata suamiku masih berstatus suami sah orang lain, namun belakangan kuketahui nasi sudah menjadi bubur. Pada akhirnya dia pun mengakui kalau sudah punya anak isteri, namun apalah artinya aku yang lemah dan bodoh ini jika harus bersikeras untuk menuntutnya. Kendatipun aku tahu akan sangat menyakiti isteri sahnya, jika ia mengetahui. Suamiku adalah seorang perwira yang mempunyai kedudukan penting di sebuah propinsi (tidak kusebut tempatnya). Usianya sudah mencapai 55 tahun dan aku sendiri baru mencapai 27 tahun. Fasilitas yang diberikan dan ketakutanku lah yang membuatku sangat tak berdaya untuk menentang keberadaanku. Aku dibelikan sebuah villa yang sangat mewah yang terletak tidak begitu jauh dari kota tempat suamiku bertugas. Semua fasilitas yang diberikan kepadaku sangatlah mewah bagiku, aku mendapatkan sebuah mobil pribadi, telepon genggam dan perangkat entertainment di rumah. Namun ini semua ternyata masih kurang, aku ingin punya momongan, aku ingin dicintai dan disayangi. Kenyataannya aku hanya tempat persinggahan saja. Belakangan kudengar bahwa suamiku juga punya WIL lain selain aku, malahan kadang ia juga jajan kalau sedang keluar kota, kabar ini kudapatkan dari isteri ajudannya sambil wanti-wanti agar aku tutup mulut. Aku sendiri memang sudah kenal dekat dengan keluarga ajudan suamiku, namun demikian sampai saat ini rahasia ini masih tersimpan cukup rapi. Bagaimanapun juga aku kesal dan sedih dengan kondisi seperti ini, sehingga timbul niatku untuk berperilaku serupa.</p>
<p>Pada suatu hari suamiku bertindak ceroboh dengan menitipkan anak bungsunya kepadaku, beliau memperkenalkanku sebagai ipar ajudannya. Anak itu memanggilku Mbak maklum dia masih SMP dan usinya pun masih 14 tahun. Wajahnya, perilakunya persis bapaknya, nilai kesopanannya agak kurang bila dibanding dengan anak-anak di kampungku. Maklumlah ia adalah anak pejabat tinggi. Jam 21.00 bapaknya telepon, meminta Alex (sebut saja nama anak itu begitu) untuk tidur di rumah karena bapak ada urusan. Aku jadi curiga pasti dia ada kencan dengan orang lain. Alex pun belum tidur, ia lagi asyik nonton televisi di ruang keluarga. Akhirnya timbul niat burukku untuk memperdaya Alex, namun bagaimana caranya? aku dihadapkan pada jalan buntu. Akhirnya spontan kumasukkan VCD-VCD porno ke dalam player untuk saya hidangkan kepada Alex. Aku hidupkan oven selama 3 menit yang kebetulan isinya adalah daging yang sudah masak sejak siang tadi. Langsung saja kurayu dia untuk menyantapnya sehingga kami pun menyantap daging panggang dan sambal kecap bersama-sama. Sambil basa-basi kutanyakan sekolahnya, tampaknya kemampuannya di sekolah biasa-biasa saja, terbukti dengan kekurang antusiasannnya bicara tentang sekolah. Ia lebih suka bicara tentang video game dan balap motor.</p>
<p>Kupegang tengkuknya dan kupijit sambil kukatakan, “Kamu pasti capek, sini Mbak pijitin…” Dia pun diam saja, maklum dia adalah anak yang manja. Kuraih remote control dan kutekan play untuk CD yang pertama, film-filmnya adalah jenis vivid dengan tema seks yang cukup halus. Tampaknya Alex sangat menyukainya, ah pucuk di cinta ulam pun tiba. Sambil kupijit sekujur tubuhnya, kuamati roman mukanya. Kukatakan tidak usah malu, karena itu hanya film saja (tidak sungguhan). Muka Alex tegang, setiap ada adegan orang berpelukan (cuma berpelukan) aku suruh dia telentang untuk pijatan bagian depan. Sambil telentang Alex tetap memperhatikan film yang tampaknya mulai disukainya itu. Kini acara di film mulai ke adegan yang cukup panas, seorang wanita melepas pakaiannya sehingga tinggal pakai celana dan BH dalam saja. Alex semakin tegang dan agak kupercepat tanganku mengarah ke pangkal pahanya. Pura-pura kupijit pahanya dengan menyentuh kemaluannya, dia terkejut ketika kemaluannya yang tegang kesentuh tanganku. Pucat pasi mukanya, namun kunetralisir dengan mengatakan “Tenang Alex, semua orang sama, adalah hal yang sangat wajar bila seseorang terangsang. Karena semua orang mempunyai nafsu.” “Malu Mbak”, jawab Alex. Kalau orang banyak malu, tapi Alex kan sendirian cuma sama Mbak. Mbak nggak malu kok. Dengan berkata demikian kubuka bajuku sehingga aku hanya pakai BH saja. Akupun heran juga kagum, anak seumur dia juga bisa tegang dan tampak tidak berdaya, jauh dari sikap sehari-hari yang agak arogan. Namun aku mulai menyukainya tanpa memikir yang jauh ke depan mengingat bapaknya sendiri juga berbuat serupa terhadap saya. Film terus berputar, tubuh Alex terasa hangat malah aku khawatir kalau dia sakit, dia tampak pucat entah takut apa bagaimana, aku tidak tahu.</p>
<p>Alex hanya melirik buah dadaku tanpa berani menatap langsung, dia tetap memperhatikan film dengan seksama. Saat kupegang lagi kemaluannya dia hanya diam saja, tak kusia-siakan kesempatan ini kuremas kemaluan yang berukuran agak kecil itu. Akupun sudah tidak memperhatikan film lagi, kubuka celana Alex dan kuperhatikan kemaluannya. Tampak bersih dan mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, aku semakin bernafsu melihatnya. Langsung kuterkam dengan mulutku dan kumulai menjilatnya, Alex hanya terdiam sambil kadang pinggulnya bergerak menikmatinya. Kuhisap kemaluannya dan dia pun teriak Uh.. Mbak.. kubiarkan anak kecil itu menggelinjang, kubimbing tangannya ke payudaraku. Ah, dia malah meremas kuat sekali. Kumaklumi dia sangat lugu dalam hal ini, aku tidak menyesal malah menyukainya. Aku hisap terus, dia pun semakin bergerak tidak karuan sambil teriak-teriak ah, uh, ah, uh. Kemudian dia teriak keras sambil tubuhnya gemetar disusul oleh cairan hangat dari kemaluannya. Aku telan cairan asin dan pekat ini tanpa rasa jijik sedikit pun, dan dia pun diam lemas terkulai. Kupeluk dia, dan kubisikkan kata-kata, “Enakkan”, sambil aku tersenyum, dia balas pelukanku dan hanya bicara “Mbak..” Aku bimbing dia ke kamar mandi dan kumandikan dengan air hangat, burung kecilku masih tidur dan aku yakin nanti akan bangun lagi.</p>
<p>Kemudian kami pun tidur bersama di depan televisi di atas karpet, dia tampak kelelahan dan tidur pulas. Aku pun puas meski tidak sampai coitus. Menjelang subuh aku bangun, dan kulihat dengan seksama tubuh Alex yang sedang tidur telanjang. Nafsuku bangkit lagi dan kucoba membangunkan burung kecil itu, ternyata berhasil dan kuulangi lagi perbuatan tadi malam dengan pertambahan Alex meningkatkan variasi permainan. Tampaknya Alex mulai mengikuti naruninya sebagai makhluk bernafsu, ia mungkin meniru adegan film tadi malam. BH-ku dibuka dan dijilati, aku pun merasakan kenikmatan dari anak bau kencur, kubayangkan anak dan bapaknya mengerjaiku seperti sekarang, ah tak mungkin. Aku tuntun tangan Alex ke kemaluanku yang sejak tadi malam belum tersentuh sama sekali. Kubimbing tangannya menggesek-gesek kemaluannya dan ia pun memahami keinginanku. Gerakan-gerakan Alex dan servicenya kepadaku masih sangat kaku, mungkin perlu beberapa kali aku melatihnya. Tiba-tiba ia menarik paksa celana dalamku dan BH-ku pun dilucuti. Kubiarkan dia berkreasi sendiri, tampak wajahnya masih tegang tapi tidak setegang tadi malam dan ia pun mulai tidak sopan kepadaku, ah biarlah. Aku didorong hingga telentang, dan ia pun langsung menindihku. Dicobanya memasukkan burung kecil itu ke dalam kemaluanku, namun berkali-kali ia tidak berhasil. Ia pun semakin penasaran, ah suami kecilku ini mesti banyak belajar dariku.</p>
<p>Kubimbing kemaluannya memasuki kemaluanku dan ia pun menggesek-gesekkannya. Terasa nafsuku merasuk ke sekujur tubuhku, kini penantianku tadi malam hampir tercapai dan ah nikmat sekali, suami kecilku bisa memuaskanku kali ini. Dengan cepat aku bangun dan kuhampiri burung kecil yang masih menantang itu, kuhisap dalam-dalam, dia pun mengerang kenikmatan dan terus menerus kuhisap hingga badannya bergetar dan lagi-lagi air liur burung kecil yang hangat itu menjadi bagian dari dagingku. Hari sudah terang, dan segera kami mandi air hangat bersama-sama. Aku merasa puas dan Alex hanya diam saja, entah apa yang dipikirkan. Menyesalkah? aku tidak tanya. Kenyataannya kisah ini masih berlangsung, sekarang Alex sudah SMA dan masih tetap dalam bimbinganku.</p>
<p>Pagi harinya bapaknya Alex (yang juga suamiku) datang dan dengan tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ini adalah pengalaman pertamaku dengan burung muda.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/alex-burung-mudaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku, Istriku dan Temanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:40:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku sudah kurang lebih 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik-baik saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak, tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya aku sudah kurang lebih 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik-baik saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak, tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam dan merawat wajah, rambut ke salon dan juga karena anaknya dulu minum susu kaleng sehingga bentuk buah dadanya yang besar itu tetap indah dan masih kencang serta kenyal. Juga lubang vaginanya saat habis melahirkan langsung dijahit sehingga lubangnya kembali seperti saat masih perawan. Jadi hubungan seks kami tetap indah. Suatu hari di tahun 1995, kami diajak sebelah tetangga untuk nonton blue film karena baru beli laser disc. Kami dan suami istri tetangga nonton film itu yang cukup seram karena ada seorang wanita bule disetubuhi oleh dua orang Negro, mereka bergantian memasukkan penisnya yang seorang ke vaginanya dan yang seorang ke mulutnya untuk dihisap. Melihat adegan itu rupanya istriku jadi naik birahinya sehingga memegang tanganku erat-erat dan berbisik, “Waah rupanya nikmat sekaligus lubang atas dan bawah kemasukkan penis.” Kutanya pelan-pelan, “Apakah kamu kepingin adegan begitu?” Istriku dengan malu-malu menganggukkan kepalanya. Setelah selesai memutar laser disc, kami segera pulang dan karena nafsu birahi kami sudah memuncak segera kami puaskan dengan bersetubuh malam itu. Sambil bersetubuh, aku tanya lagi kepadanya, “Mi, apakah kamu kepingin disetubuhi sekaligus dengan dua laki-laki?” Istriku memandangiku sambil malu-malu manggut-manggut kepalanya. Kutanya lagi, “Kalau lakinya dua, satunya kamu ingin dengan siapa?” Istriku menjawab, “Terserah sama Papi saja.” Aku teringat punya dua teman baik sejak sekolah di SMA, yaitu Lud seorang anak turunan Ambon dengan Belanda dan Tono seorang Cina seperti kami. Lalu kutanya lagi, “Kalau Lud atau Tono mau?” Dia menggangguk juga. Lalu kujelaskan lagi, “Mami senang yang penisnya besar, lebih besar dari kupunya atau yang kira-kira sama?” Istriku menjawab, “Enak yang besar saja, seperti di film tadi.” “Oh kalau gitu ya si Lud saja sebab dia punya panjang dan besar.” Memang kita dulu pernah mandi sama-sama bertiga saat masih sekolah ternyata Lud punya penis dalam keadaan mati saja besar dan panjang hanya warnanya agak hitam lalu bulu kemaluannya juga banyak sampai menyambung ke bawah pusar juga dadanya penuh dengan bulu maklum orang Ambon. Besok paginya segera kuinterlokal Lud yang ada di Jakarta dan kuceritakan maksudku, ternyata Lud menyambut dengan antusias dan sanggup datang besok sore sebab hari Sabtu kantor di Jakarta tutup. Aku kemudian booking motel yang terdiri dari 2 kamar dan sebuah ruang tamu dan TV. Hari Sabtu sore aku menjemput Lud di airport bersama istriku, setelah menitipkan anak pada pembantu. Istriku sudah siap membawa tas dengan membawa perlengkapan baju tidur segala, saat itu istriku memakai rok panjang warna coklat tapi bagian atas terbuka sampai dada hanya memakai baju tipis (modelnya Yuni Sara) dengan bagian bawah ada belahannya agak tinggi di depannya sehingga kalau jalan atau duduk pahanya terlihat putih menggairahkan. Juga bagian atasnya terlihat sedikit belahan buah dadanya, karena istriku hanya memakai bra strepples tanpa tali, sehingga di airpot banyak mata laki-laki curi pandang lihat belahan buah dadanya istriku, apalagi kalau tangannya didekapkan di bawah buah dadanya maka buah dadanya semakin menyembul ke atas. Makin syuur..! Tepat pukul 17.15 pesawat Merpati dari Jakarta mendarat, dari penumpang yang turun kulihat Lud menuruni tangga pesawat dengan menenteng tas kecil. Dia memakai T-shirt dan celana jeans. Setelah keluar pintu airport segera kusalami dia, dia menepuk-nepuk bahuku dan berkata, “Waah, nanti malam kita betul-betul ke nirwana”, dengan logat Ambonnya. Kemudian dia memeluk istriku sambil mencium pipi kiri dan kanan yang mulus dan putih dari istriku. “Apa kabar Hwa?” tanyanya pada istriku. Dia kalau panggil istriku dengan Hwa. Kita berjalan menuju parkir dan naik mobil, untuk sementara dia duduk di belakang sendirian dulu sambil kita cari makan. Istriku usul makan sate kambing saja biar hot katanya. Dan usul itu kita setuju semua. Setelah sampai motel kita segera check in, temanku sebagai tamu kuberi kamar yang besar dengan twin bed sekaligus untuk tempat bermain seks-ria nanti. Baru saja aku selesai dari kamar kecil menuju ruang TV yang bersebelahan dengan kamarnya Lud yang masih terbuka pintunya, kulihat Lud memeluk istriku dari belakang menghadap kaca rias sambil tangannya meremas-remas buah dada istriku sehingga kedua pentil buah dadanya yang coklat kemerah-merahan itu menyembul keluar sambil menciumi pipi istriku yang wajahnya menengadah ke wajahnya Lud. Tangannya lud yang kanan kadang-kadang terus meraba turun ke perut dan terus turun untuk disusupkan ke belahan atas dari rok istriku untuk meraba pangkal paha serta vagina istriku. Tampak istriku mulai mendesis kenikmatan serta menggeliat dengan tangan kanannya coba memijit penisnya yang masih pakai jeans itu. Adegan ini masih berlangsung beberapa saat walaupun mereka tahu aku di dekatnya. Ketika kutanya pada istriku, “Mi, nikmat ya permainannya Lud?” Istriku menjawab, “Waah, aku nggak tahan lagi Pi, habis sejak dalam mobil tadi Lud terus mempermainkan dan meremas buah dadaku terus.” Memang istriku kalau buah dadanya sudah dipermainkan lalu nafsunya meroket naik, mungkin ciri khas wanita-wanita yang punya buah dada besar. Karena Lud mau mandi dulu, maka aku dan istriku yang sudah mandi dari rumah duduk di sofa menonton TV dulu. Istriku berkata kepadaku, “Waah Pi, pertama aku dirangkul dan diciumi oleh Lud badanku rasanya merinding dan panas dingin. Habis bulu tangannya dan kumisnya begitu geli rasanya waktu menggesek tubuh dan pipiku.” “Tapi Mami bisa nafsu ya dengan Lud?” tanyaku. Istriku dengan malu manggut-manggut. Lalu dia bilang lagi, “Kalau nanti malam Papi tidur sendirian bagaimana? Sebab katanya aku akan diajak tidur dengannya semalam.” “Nggak apa-apa, yang penting Mami bisa keturutan mendapat kepuasan”, jawabku. Memang entah kenapa perasaanku saat melihat Lud memeluk dan meremas buah dada istriku aku tidak cemburu bahkan nafsuku menjadi berkobar, apa mungkin aku punya kelainan seks pikir dalam hatiku. “Tadi Lud bilang kalau nanti malam air maninya akan disemprotkan terus ke seluruh tubuhku dan vaginaku sampai habis. Dan lendir santanku akan dikuras sampai kering dengan penisnya”, kata istriku. Aku pesan pada istriku agar satu hal yang jangan dilakukan adalah minum air maninya, walaupun nanti kalau nyemprot saat dihisap. Jadi harus diludahkan. Beberapa saat kemudian Lud bertanya pada istriku, “Hwa, apakah kamu tak bawa pakaian tidur? Tapi kalau tak bawa ya tak apa-apa sebab nanti malam kan tak ada pakaian yang boleh menempel di tubuhmu sebab akan kuselimuti dengan tubuhku.” “Macam-macam kamu”, sahut istriku. Lalu istriku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan sikat gigi, juga aku masuk kamar untuk lepas pakaian dan hanya pakai CD saja. Sebentar istriku sudah selesai dan keluar dengan mengenakan pakaian tidur dari bahan tipis warna pink hingga terlihat CD mininya warna merah juga branya yang mini juga dari renda warna merah juga. Melihat istriku keluar dengan pakaian yang sensual sekali, Lud geleng-geleng dan bilang, “Waah aku bisa langsung tegang lho”, sambil pegang-pegang penisnya. Lalu istriku duduk di sofa sebelahku dan tangan Lud ditarik juga untuk diajak duduk di sofa juga. Sekarang istriku diapit sebelah kiri aku dan kanan oleh Lud. Tangan istriku dipegang Lud dan digosokkan ke bulunya di bawah pusar sampai menyambung ke bulu kemaluannya. “Wuuuiihh, cek… cek… cek”, gumam istriku sambil menarik tangannya. Sambil nonton TV tanganku dan tangannya Lud mulai bekerja. Lud menciumi pipi, telinga dan lehernya istriku sehingga kepalanya disandarkan ke bahu Lud dan menengadah untuk terus menerima ciuman-ciuman disertai permainan lidah Lud dan tangan kanannya terus mulai meraba dan meremas buah dada sebelah kanan dan naik turun ke paha istriku. Aku sendiri segera melepas kancing atas baju tidurnya dan kurogoh buah dadanya sebelah kiri untuk segera kuhisap pentilnya serta tangan kiriku meraba paha kirinya dan vaginanya bergantian dengan tangan Lud. Istriku tak tahan terus menggeliat-geliat sambil tangan kirinya memijit penisku dan tangan kanannya merogoh ke dalam celana santainya Lud untuk memegang penisnya. Adegan ini tak berlangsung lama hanya sekitar 5 menit, karena istriku tak tahan dan minta langsung ditancap dengan penis vaginanya. Lalu kita sama-sama masuk kamar, kulepas CD-ku dan ternyata Lud hanya pakai celana santai saja tanpa CD sebab begitu dilorot celananya langsung nampak penisnya. Walaupun belum hidup penisnya cukup panjang kira-kira ada 15 cm dan besar sekali dan kepalanya sudah menongol keluar karena dia disunat, tetapi kantong pelirnya agak kecil. Kupunya panjang dan besarnya hanya kira-kira 65 persennya saja. Istriku juga sudah bugil benar, lalu dia ditarik Lud ke hadapannya dan tubuhnya agak dirapatkan ke tubuh istriku jadi buah dada istriku yang menempel agak ketat dengan dadanya yang penuh bulu. Lalu Lud berpegang pada kedua lengan Hwa dan badannya digeser-geserkan naik turun, ke kiri dan kanan sehingga bulunya menggesek ke seluruh tubuh depan Hwa juga bulu kemaluannya kulihat sempat menggesek vagina istriku, hingga istriku kenikmatan sambil memejamkan mata. Aku jadi syuur melihatnya. “Addduuuh Lud, gila benar gesekan bulu atas bawahmu itu, tak tahan vagina dan buah dadaku kena gesekannya”, kata istriku. Selesai itu lalu Lud tidur dan istriku diminta menungging agak di bawahnya sehingga mulutnya pas depan penisnya dan aku diminta mengerjakan vaginanya dengan penisku. Saat menungging kelihatan buah dada istriku menggantung bebas dan langsung saja ditangkap dengan kedua tangan Lud dan terus diremas-remas. Istriku tanpa komando langsung mencaplok penis Lud yang mulai agak tegang dan mempermainkannya dengan mulut dan lidahnya. Lubang penisku dibuka-buka dengan ujung lidahnya dan kadang-kadang dikocok naik turun dengan mulutnya sehingga Lud mengerang nikmat. Aku sendiri langsung tegang keras dan terus kuhunjamkan maju mundur ke vaginanya. Mendapat dua penis yang sekaligus mengisi lubang atas dan bawah apalagi yang satu gede sekali istriku tampak bernafsu sekali, nafasnya kelihatan terus memburu sedang vaginanya mulai keluar santannya dan kental sekali. Kulihat istriku kadang-kadang tak menghisap penis Lud tapi memepetkan buah dadanya kepenis Lud dan ditaruhnya di belahan buah dadanya dan digosok-gosok dengan buah dadanya. Melihat itu lalu kupegang pantat istriku dan langsung kugoyangkan maju mundur sehingga sekaligus buah dadanya bisa menggosok-gosok penis Lud dan vaginanya mengocok penisku. Praktis kami laki-laki berdua diam hanya dengan goyangan pada pantatnya sudah membuat nikmat penis dua laki-laki dan kulihat vaginanya makin banyak dengan santan kental yang berwarna putih seperti susu. Aku bilang, “Waduuuh Lud, santannya Hwa mulai keluar dan kental sekali Lud”. Langsung dia bilang, “Aku juga tegang banget penisku disedot-sedot dan dipermainkan lubangnya oleh Hwa, ayo kita ganti posisi.” Temanku usul supaya istriku jangan capai sebab masih terus akan dikerjakan semalam suntuk, maka istriku disuruh yang tidur tapi pantatnya di ujung bawah kasur hingga kakinya bisa menapak ke lantai. Temanku nanti akan menancapkan vaginanya dari bawah sambil memegang dan membentangkan kaki istriku. Dan aku yang bertugas mengisi mulut atas dengan penisku dengan jongkok tepat di atas buah dadanya sehingga penisku tepat di hadapan mulutnya. Penisku juga langsung dicaplok oleh Hwa yang sudah memuncak nafsunya, baru beberapa saat Hwa melepas penisku dan mengaduh, “aachh…. Lud!” Aku melongok ke belakang ternyata Lud masih sibuk mau memasukkan penisnya sebab belum bisa masuk, yaah karena kelewat besar bendolan kepala penisnya saat tegang banget itu kira-kira ada 5 cm diameternya. “Sulit banget An masuknya coba kuberi minyak sedikit dulu”, katanya. “Masak toch padahal sudah kumasukan penisku dan sudah ada santannya lho”, sahutku. Lalu temanku ambil botol kecil isi minyak dan dioleskan kepala penisnya dengan minyak lalu dia mengambil semacam longsong dari karet dengan bagian dinding luarnya penuh bulu dari karet kira-kira panjangnya 1 cm. Longsong itu lebarnya kira-kira 10 cm. Kemudian dipakaikan ke penisnya hingga batang penisnya sebagian tertutup dengan longsong berbulu itu. “Ini supaya Hwa mendapat kenikmatan yang lebih hebat. Mau coba ya Hwa?” katanya sambil ditunjukkan ke istriku penisnya yang sudah gede dan panjang lagi hitam itu dilongsongi dengan gelang karet putih berbulu itu sehingga benar-benar menakjubkan kelihatannya. Istriku bilang, “Waah kayak apa rasanya nanti Lud, aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya habisi ya Lud air mani dan santanku!” “Oke” sahutnya. Lalu Lud mengangkat dan mementang lagi kaki istriku dan ujung penisnya ditempelkan tepat di lubang vagina istriku yang mulai menganga itu dan disentakkan ke dalam. “aacch… Lud, masuk Lud penismu”, kata istriku. Memang kepala penisnya Lud sudah masuk lalu digoyang-goyangkan keluar masuk pelan-pelan kepala penisnya supaya agak terbiasa. “Waduh Lud, Pi, rasanya seret sekali bibir vaginaku bisa merasakan bentuk penismu Lud”, kata istriku sambil matanya terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu baru dimasukkan seluruh batang penisnya yang tertutup gelang bulu itu pelan-pelan. Setelah terbenam semuanya, istriku mendesis lagi, “Aduh Pi, penis Lud mentok sampai dalam kepalanya rasanya menyodok mulut rahimku. Enaaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu”, dengan penis tetap terbenam penuh Lud mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun bergantian dengan kiri-kanan, sehingga penisnya menyapu seluruh dinding vagina istriku. Tangan istriku mulai meremas kain sprei dan minta penisku untuk dihisapnya. Penisku juga dipermainkan dengan lidah, lubangnya dibuka-buka dengan lidah, enaknya luar biasa. Aku sambil melihat ke belakang, kulihat penis Lud mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh clit-nya juga dan terlihat bulunya banyak santan istriku yang menempel. Setelah gampang masuk keluar penisnya, maka kaki istriku disuruh membuka dengan telapak kakinya manjat di pinggir kasur sehingga tangan Lud langsung meremas buah dada yang ada di bawah pantatku. Baru 3 menit jalan adegan ini, istriku sudah mengaduh, “Aah.. aah, aku mau klimaks, Lud, Pi!” Benar juga sekejap lagi istriku tampak lemas sehingga menghisapnya kendor dan Lud berkata, “Gila An, pijatan vagina istrimu kuat sekali di penisku.” Memang kalau klimaks istriku vaginanya memijit penis dengan kuat dan nikmat rasanya. Setelah agak kuat, istriku bilang, “Pi, Lud tolong semprotkan semua manimu ya, aku sudah pengin hangatnya manimu sekalian.” Aku tanya pada istriku, “Mi, gimana? Mami nikmat dan puas keinginan Mami untuk merasakan 2 penis sekaligus terlaksana?” “Ya Pi, Mami puas banget dan memang enaknya dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati 2 penis, apalagi ada yang gede-gede. Mami jadi kepingin terus”, sahutnya. Lalu Lud sudah mulai menggenjot lagi vagina Hwa dengan penisnya dan penisku dihisap lagi sambil dibantu dikocok dengan tangan. Setelah 5 menit lagi, istriku mencapai klimaks lagi. Lalu temanku bilang, “Ayo An, sekarang kita puaskan Hwa dengan semprotan mani secara berbarengan.” Lud mulai menggerakan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga istriku sering menggelinjang tubuhnya dan penisku mulai dihisap lagi sambil kadang-kadang dikocok dengan tangan, sedang buah dada istriku tetap menjadi bagian dari tangan Lud yang tak bosan-bosan meremas-remasnya. Makin lama Lud semakin cepat dan semakin keras menghunjamkan penisnya ke vagina Hwa dan mulai mendengus-dengus seperti sapi. Melihat itu akan jadi memuncak nafsuku dengan penis terus dikocok oleh istriku maka air maniku tak tertahan lagi, creet…. creet…. cret, maniku menyemprot masuk ke mulut istriku. Karena seminggu tak bersetubuh maka maniku banyak serta kental juga sehingga mulut istriku penuh dengan mani yang putih seperti cendol itu. Lalu penisku kukeluarkan dari mulutnya dan mani yang masih menetes dari lubang penisku kugeser-geserkan ke bibir istriku dan langsung ditelan semua maniku. Baru saja habis menelan maniku terdengar suara mengaduh dari temanku, “Uuuuuh…. uuuuhh…. uuuhh”, sambil menekankan kuat-kuat penisnya yang terbenam itu ke vagina istriku. Dan tiap kali Lud mengaduh istriku pun ikut mengaduh, “aah Lud… aahh Lud… aah Lud.” Jadi rupanya tiap kali semprotan mani Lud terasa sekali nikmatnya oleh istriku. Aku lalu rebah tidur sebelah istriku dan temanku juga langsung rebah menindih tubuh istriku. Walaupun dengan nafas yang masih memburu tangan temanku tetap masih meremas buah dada Hwa. Kemudian tubuh Lud dipeluk erat oleh istriku dan kakinya pun dilipatkan erat-erat ke pantat Lud dengan maksud agar penisnya jangan buru-buru dicabut dari vaginanya. Kira-kira sampai 5 menit kita bertiga terdiam tanpa kata-kata hanya dengan nafas tersengal-sengal, baru kemudian aku turun menuju kamar mandi untuk cuci dan ternyata Lud dengan merangkul istriku juga ikut ke kamar mandi untuk cuci bersama. Untuk mencuci penis-penis, istriku yang bertugas karena kepunyaan Lud yang banyak belepotan santan dari mani istriku maka penisnya yang dicuci dulu. Kulihat dari vagina Hwa meleleh sedikit mani yang keluar ke pahanya dan kulihat bibir vaginanya memerah. Istriku bilang, “Ya Pi bibir vaginaku merah? Itu gara-gara penis temanmu itu toch yang seretnya bukan main mulai dari bibir vagina sampai dinding dalam vagina seret terus, sehingga vaginaku bisa merasakan lekuk-lekuk penis Lud.” “Tapi nikmat dan nikmat toch sayang?” balas Lud. Istriku tertawa tanda setuju, sambil terus mencuci penis Lud dan kemudian penisku. Setelah itu giliran istriku vaginanya mau dicuci oleh tamanku, istriku duduk di closet dengan kaki terbuka lebar kemudian vaginanya dicuci dan jari tengahnya dimasukkan pelan-pelan untuk mengambil mani yang menempel di dalam dan ternyata ada sedikit dan ditunjukkan ke istriku. Istriku bilang, “Wah Pi, maninya Lud ngendon dalam vaginaku nih sebab tadi semprotannya banyak dan sampai tiga kali tapi yang keluar sedikit sekali. Mungkin masuk ke rahim sebab dalam perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lubangnya benar-benar disodokkan sampai rasanya masuk lubang rahimku. Gimana ya Pi?” “Biarin saja lama-lama kan keluar sendiri, sekarang dikeluarkan percuma nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi.” “Bukan malam ini saja mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku ke vaginamu”, sahut Lud. Istriku menjawab, “Betul Lud, kamu biar kembali ke rumah dengan tempat yang kosong jadi manimu 2 hari ini harus dihabiskan sampai tuntas.” Setelah selesai mencuci, kita bertiga dengan berbugil ria duduk di sofa sambil makan kacang mete dan nonton TV. Temanku berkata, “An, kamu beruntung sekali punya istri dia, walaupun sudah setengah baya dan punya anak tapi buah dadanya masih berdiri menantang tidak jatuh, juga perut dan pahanya mulus sekali tidak keriput, siapa yang tak tegang terus lihat tubuh seindah ini. Apalagi hisapannya juga yahut, kalau jadi istriku tiap hari bisa kusetubuhi minimum 2 kali! Istriku berbisik padaku, “Sudah kesampaian keinginanku untuk melayani nafsu birahi 2 laki-laki sekaligus dan ternyata memang tambah besar nafsunya serta nikmatnya pun tambah. Oya Pi, malam ini aku tak tidur dengan Lud ya, aku akan melayani Lud untuk menyalurkan nafsu sexnya sepuas-puasnya supaya tak kecewa kalau balik ke Jakarta.” Aku menjawab, “Boleh saja, Lud malam ini Hwa biar melayani kamu supaya kamu bisa melampiaskan semua nafsu binatangmu padanya.” “Memang sejak aku makan sate kambing, aku sudah minta supaya dia malam ini dan besok pagi melayani nafsu binatangku”, kata Lud. Kemudian istriku minta tiduran, kepalanya di pangkuan Lud sedang pahanya di pangkuanku sambil tangannya memegang-megang penis Lud lalu digosokan ke pipinya dan diciuminya. Tangan Lud diletakkan di buah dada istriku sambil mengusap, meremas dan kadang menunduk untuk mengecup bibir istriku. Dia kalau mengecup sampai lama hingga istriku sampai sulit bernapas dan minta dilepas kecupannya. Sedang bagianku adalah mempermainkan clit-nya dan memasukkan jari tengahku ke dalam lubangnya dan penisku sambil digesek-gesek dengan betisnya. Lud kadang-kadang memeluk tubuh istriku dan kemudian menciumi pipi dan mengecup kening dan bibir istriku dan tangan istriku pun mengusap-usap dadanya yang berbulu itu. Kemudian Lud berkata padaku, “An, sebenarnya aku sudah lama tiap kali bertemu dengan Hwa, aku kepingin menikmati tubuhnya dan malam ini jadi kenyataan. Untuk itu malam ini istrimu kupinjam untuk menemani tidur sebab aku akan melampiaskan seluruh nafsu binatangku pada Hwa dan penisku akan kusimpan dalam vaginanya sepanjang malam. Aku akan memberikan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira pada Hwa.” “Boleh Lud, malam ini istriku biar melayanimu agar kamu benar-benar puas”, sahutku. “Tapi kalau nanti malam Papi butuh ya Papi ikut masuk saja sebab Mami tetap akan melayani Papi juga malam ini, untuk itu nanti pintu kamarnya biar terbuka saja jadi Papi dapat lihat dan dapat masuk ikut juga”, kata istriku. Setelah itu Lud bertanya pada istriku, “Apakah kamu sudah fit lagi untuk main?” Istriku menjawab, “Aku selalu siap setiap saat untuk melayanimu dan Papi. Malam ini aku benar-benar sehat makin mendapat semprotan mani semakin sehat rasanya, sebab manimu tadi yang keluar hanya sedikit lainnya masih berada di dalam rasanya masih hangat di dalam perutku, Lud.” Setelah itu Lud berdiri sambil membopong istriku dibawa masuk ke kamar dan ditidurkannya. Lud memanggilku untuk menemani istriku dulu karena dia akan ke toilet dulu, kesempatan itu kupakai untuk mencium dan mengecup bibirnya dan mengulangi pesanku, “Mi jangan lupa kalau maninya lud disemprotkan ke dalam mulut hati-hati jangan sampai tertelan dan jangan mau kalau penisnya dimasukkan ke dalam lubang anusmu!” “Iya Pi, akan kuingat terus pesan Papi”, sahut istriku. “Selamat menikmati penisnya Lud yang gede ya Mi, nanti Papi diberi ceritanya ya!” kataku. Saat itu Lud sudah balik masuk kamar dan aku duduk lagi di ruang TV sambil menonton juga mau menonton adegan permainan Lud dengan istriku karena pintu kamarnya terbuka. Lud naik ke tempat tidur dengan posisi di atas istriku, kemudian dadanya yang penuh bulu digesek-gesekkan ke buah dada istriku sehingga istriku menggelinjang kegelian dan terus digesekkan ke bawah yaitu perut, dan vaginanya. Setelah itu Lud naik lagi lalu mulai menciumi kening hidung dan pipi dari istriku lalu mencium telinga istriku dengan mengeluarkan lidahnya untuk mengorek lubang telinga istriku sampai istriku meronta karena geli dan tangan istriku segera meraih penisnya yang selama ini menggelantung dan ujungnya menggesek-gesek paha istriku. Segera dipijit-pijitnya penis Lud dan kadang-kadang dikocok juga serta kantung buah pelirnya diremas-remas juga. Hal itu membuat Lud lebih ganas dia segera mencucupi puting buah dada istriku sambil tangannya meremas-remas buah dadanya dengan harapan ada air susu yang keluar. Tapi walaupun buah dada istriku montok tak keluar air susunya kalau diperas. Penisnya dipermainkan oleh istriku tampak tegang dan panjang banget, lalu Lud mengambil posisi gaya 69, hingga mulutnya pas di vagina dan penisnya tepat di wajah istriku. Keduanya yang langsung beraksi, penisnya yang gede segera dijilati dan dilumat dengan lidah seluruh bagian kepalanya yang nampak gempel besar itu sambil batang penisnya dipijit terus oleh istriku dan dia terus mencucup clit dan lubang vagina istriku. Kurang lebih 10 menit adegan ini lalu gantian Lud yang tidur dan istriku yang duduk di atas penisnya tepat dengan vaginanya. Kepala penisnya dimasukkan ke dalam vagina istriku lalu mulai diputar pantatnya sehingga penisnya berputar dengan dipegang bibir vagina istriku sedang tangan Lud tetap meremas buah dada istriku. Kira-kira sudah 10 menit lewat mani Lud tetap belum menyemprot dan istriku juga belum klimaks, lalu oleh istriku mulai digoyang naik turun pantatnya kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat sehingga penisnya keluar masuk vagina seperti dikocok dengan vagina. Dengan posisi ini baru 5 menit istriku klimaks dan dia diam terduduk di atas penis Lud dengan vaginanya memijit penis. Setelah fit lagi digoyang lagi sampai klimaks lagi istriku. Akhirnya istriku menarik Lud untuk duduk dan istriku tetap duduk di penisnya dan kakinya diselonjorkan di antara tubuh Lud. Lalu Lud yang ganti menggoyangkan pantat istriku maju mundur sambil kadang-kadang istriku ditidurkan ke belakang dan Lud tetap mendekapnya. Dalam waktu 15 menit dengan posisi ini istriku sudah mengerang karena klimaks sampai 2 kali. Puas dengan posisi ini ganti istriku ditelentangkan, lalu Lud menindih istriku setelah penisnya dimasukkan semuanya ke vagina istriku, lalu pantatnya digoyang memutar sehingga bulu kemaluannya menggesek clit dan seluruh vagina istriku dan penisnya memutar di dalam lubang vagina sehingga istriku menggelinjang lagi dengan tangannya menarik lepas sprei. Sedangkan mau mengerang sulit, karena bibirnya dikecup kuat-kuat oleh Lud. Yaah, menonton itu penisku jadi tegang terus sampai kemeng rasanya, dan adegan ini berjalan cukup lama sampai kira-kira 10 menit lebih. Dan dalam waktu 10 menit itu paling tidak istriku sudah mencapai klimaks sampai 2 kali. Setelah itu kakinya yang kekar itu keduanya ditumpangkan ke kedua kaki istriku yang ramping dan indah itu lalu pantatnya digoyangkan naik turun hingga penisnya ikut juga. Dengan posisi ini penisnya betul-betul kejepit dengan bibir vagina istriku sehingga gesekannya betul-betul terasa di vagina istriku sampai istriku berulang kali menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala saat klimaks. Lud minta ganti posisi lagi, sekarang dia agak mengangkat pantatnya dan ganti istriku yang harus menggoyangkan pantatnya memutar hingga penis Lud diputar dengan vagina istriku. Kira-kira 5 menit lewat masih belum lepas juga maninya, padahal kalau aku yang diputar penisnya oleh istriku 5 menit langsung muncrat maniku, akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi. “Aduuh Lud… aduh Lud…. nikmatnya luar biasa aku sudah tak kuat menahannya lagi semprotkan manimu Lud”, pinta istriku. Baru kemudian posisi istriku ditarik ke bawah sehingga pantatnya di pinggir kasur, kemudian Lud turun dan kaki istriku diminta mentang lebar-lebar dan diangkat tinggi lalu Lud menancapkan penisnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tangannya bisa meremas buah dadanya. Lalu mulailah ditembaknya vagina istriku dengan penisnya, pertama mulai pelan-pelan lalu tambah lama tambah keras dan cepat menembaknya sampai tiap kali ditekan pantat istriku terpental naik. Untuk itu terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras vaginanya, pantatnya tak naik tapi penisnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku. “Aduuh Lud… aduh Lud… nikmat banget penismu Lud, tapi aku tak kuat menahan nikmatnya Lud…, aku butuh manimu Lud dan penismu sudah makin hangat Lud”, teriak istriku. Akhirnya “Huuuuh”, desis Lud dan “Cruttt”, maninya muncrat, “Huuuh”, desis Lud lagi dan “Cruttt”, maninya muncrat lagi dan setiap kali maninya muncrat istriku mengerang, “aach… sseett!” Setelah itu Lud tengkurap di tubuh istriku, “Lud tubuhku hangat rasanya kena semprotan manimu”, kata istriku. Kemudian tubuh istriku diangkat naik dan Lud segera tidur di sebelahnya dengan memeluk istriku dan penisnya yang masih tegang itu dimasukkan lagi ke dalam vagina istriku dan kemudian kedua tubuh yang bugil itu diselimuti. Melihat itu walaupun penisku tegang aku tak ikut masuk sebab kupikir istriku capai apalagi vaginanya masih disumpal dengan penis Lud, jadi terpaksa aku masuk ke kamar dan tidur. Suatu saat aku terbangun, karena terasa penisku dipijit-pijit dan ketika membuka mata ternyata istriku dengan masih dibopong di muka berpelukan oleh Lud tangan istriku memijit-mijit penisku. Ketika aku bangun, istriku bilang, “Ayo Pi jangan tidur saja Mami mau disemprot Mani lagi berdua berbarengan.” Eeeh, ternyata pikiranku tadi meleset, kukira istriku yang lemah lembut itu sudah capai tadi ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Aku lihat ternyata vagina istriku tetap didongkrak dengan penis Lud, jam saat itu sudah jam 1 tengah malam jadi aku sudah tidur dua jam. Kemudian istriku ditidurkan di bawahku dan langsung Lud mulai menembak vagina istriku dengan penisnya yang gede itu dan aku terpaksa bangun mendekatkan penisku ke mulut istriku untuk dihisap. Penisku terus dijilati disedot lubangnya sambil kantong penisku diremas-remas dan rambut bawah kantong penisku ditarik-tarik juga pinggiran lubang anusku dielus-elus dengan jarinya hingga aku terus bernafsu dan tegang lagi. Memang kalau kita main bertiga ini tambah terangsang demikian juga Lud yang menembakkan penisnya semakin seru dan nafasnya mulai ngos-ngosan dan crot… crot… crot, maninya muncrat ke dalam vagina istriku, kulihat itu tak tahan juga langsung maniku kulepaskan juga dan memenuhi mulut istriku dan setelah ditelan mulutnya dibuka ditunjukan padaku kalau maniku sudah habis masuk. Dan Lud pun lalu menelungkup di atas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat menghisap-hisap pentil istriku. Lalu dia bilang, “Waah Pi, mani Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi, apa karena vaginaku disumpal terus dengan penisnya Lud ya Pi? sebab biasanya kalau punya Papi paling 1 jam sudah mengalir keluar lagi walaupun nyemprotnya keras banget.” Belum sempat kujawab, Lud bilang, “Gila, istrimu itu minta disumpal terus vaginanya, pokoknya penisku malam ini tak boleh lepas dari vaginanya.” “Nggak Pi, Lud yang minta dulu supaya penisnya dipendam semalam suntuk dalam vaginaku, dan aku setuju”, jawab istriku. “Penisnya terasa hangat terus di vaginaku, dan kalau mulai tegang terasa mulai goyang-goyang dan semakin keras yang menyodok-nyodoknya Pi, kalau tidur walaupun sudah tidur pula penisnya tetapi kepala penisnya tetap nyantol di bibir vaginaku jadi tak mau lepas seperti Papi punya biasanya lepas sendiri kalau tidur.” kata istriku. Setelah fit kembali istriku dibopong lagi dengan masih disodok vaginanya dengan penisnya dan dibawa balik ke kamar depan dan aku pun tertidur lagi karena mengantuk. Seperti biasa aku selalu bangun jam 4.30 pagi selain kebiasaan kadang-kadang penisku tegang sendiri jam-jam itu. Pagi itu penisku juga tegang lalu aku bangun dengan maksud mau naiki istriku, kumasuk ke kamarnya ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud dengan tubuh diselimuti. Aku mencoba mendekati kepala istriku dan kubelai-belai pipinya dan istriku terbangun. Aku bilang, “Penisku tegang nih, yo tak semprotkan ke vaginamu.” Istriku berbisik, “Aduuuh Pi, penis Lud masih menancap terus dalam vaginaku kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab nyantol kepalanya, Papie tak hisap saja ya penisnya?” “Oke”, sahutku. Lalu istriku menengadah dan kudekatkan penisku supaya bisa masuk ke mulutnya, lalu kukocok sendiri penisku dan kugosok-gosokkan kepalanya ke bibirnya dan kadang-kadang kumasukkan dalam-dalam ke mulutnya. Karena sudah cukup lama tegangnya tak lama hanya 5 menit maniku sudah muncrat lagi ke dalam mulut istriku dan kemudian seluruh bagian kepala penisku dijilati untuk membersihkan maniku dan setelah itu baru ditelan semua maniku. Aku bertanya, “Mami tidak nelan maninya Lud toch dan tak dimasuki lubang anusnya juga ya?” “Tidak Pi, semua maninya Lud masuk ke dalam vaginaku dan sampai sekarang belum keluar sehingga rasanya ada sesuatu barang dalam perut yang hangat! Lalu Lud hanya mencabut penisnya kalau minta dihisap setelah itu dimasukkan kembali ke vaginaku”, jawab istriku. Kukecup bibirnya dan kubisiki, “Baik-baik ya Mi, semoga dapat kenikmatan lagi!” Lalu aku keluar kamar dan tiduran lagi. Aku terbangun lagi pukul 6 pagi langsung kupergi mandi dan kemudian duduk di sofa menonton TV. Ternyata istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud, karena baru saja berada di atas istriku kemudian tidur lagi dengan berangkulan lagi. Karena bosan lihat TV lalu kupergi keluar untuk lihat pemadangan alam dan jalan-jalan di taman. Kira-kira sejam kemudian aku balik ke motel dan kulihat kamarnya sudah kosong, rupanya mereka mandi berdua. Aku masuk ke kamar dan melihat di tempat tidur ada gelang karet berbulu yang dipakai dan ada cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton TV lagi, rupanya lama sekali mereka mandi. Kucoba mendekat ke pintu kamar mandi dan menempelkan kupingku di pintu, oh ternyata mereka main lagi dalam kamar mandi sebab terdengar rintihan istriku, “Aduuuh Lud… aduuh Lud… enaknya penismu Lud, nikmat banget Lud rasanya.” Kemudian suaranya Lud, “aach… Hwa, vaginamu juga nikmat, aku kangen terus dengan vagina dan payudaramu yang kenyal ini Hwa!” Aku balik nonton TV lagi jadinya, kira-kira 30 menit lagi mereka keluar dari kamar mandi dengan masing-masing berbalut handuk tubuhnya dan sekarang sudah pisah tidak nyantol lagi penisnya di vagina istriku. Mereka masuk ke kamar dan ganti pakaian, kulihat istriku pakai celana dalam mini warna merah dan pakai bra mini warna merah juga, lalu pakai rok bawah mini hitam dan kaos strip hitam putih tapi pendek jadi hanya sampai bawah bra saja, jadi perutnya yang langsing putih agak kelihatan dari luar. Melihat istriku pakai kaos agak ketat, Lud bilang, “Hwa, kamu jangan pakai bra saja lebih bagus karena kaosmu ketat.” Istriku pertama menolak, “aah katanya mau keluar makan dan nanti mau pulang segala nggak enak kalau tak pakai BH.” Lud bilang, “Kita kan hanya makan di restoran sini saja sebelum pulang, sebab nanti aku masih mau main lagi Hwa.” Jadi terpaksa istriku menurut dengan melepas lagi BH mininya. Eeeehh, ternyata betul juga pendapat Lud, sebab tanpa BH pun ternyata buah dada istriku tetap tegak menantang hanya bedanya putingnya agak nampak jelas dari kaosnya dan kalau jalan kelihatan sedikit bergoyang-goyang buah dadanya. Setelah semua siap kami pergi makan ke restoran hotel pukul 8.15, di sana kita lihat ada 2 pasangan lagi rupanya juga bermalam di hotel itu sebab yang cewek ada yang masih pakai pakaian tidur segala. Selesai makan kita jalan-jalan di taman sebentar sambil ngobrol-ngobrol lalu balik ke motel dan duduk untuk nonton TV. Baru beberapa menit perutku terasa sakit, terpaksa aku ke kamar mandi untuk buang air besar. Selesai buang air besar aku mau menonton TV lagi, ternyata mereka berdua sudah tak ada dan masuk ke kamar lagi. Aku melihat istriku sudah tak mengenakan kaos lagi tapi sedang memakai BH mininya, sedang Lud sedang melepas celana dan kemudian bajunya lalu dia menarik istriku dan ditidurkannya ke ranjang lalu ditindihnya lagi istriku, yaah rupanya mau main lagi mereka. Ternyata benar, rok mini istriku dilepas lalu CD mininya disingkap ke pinggir pangkal paha lalu penisnya dikeluarkan dari CD-nya dan dimasukkan ke vaginanya istriku. Jadi Lud main dengan masih pakai CD dan istriku pakai BH dan CD mini. Karena branya mini, otomatis payudara istriku mencuat keluar ketika terkena remasan tangan Lud sambil pantatnya terus menggenjot naik turun dengan cepatnya. Kira-kira hampir 10 menit terdengar istriku berteriak, “Aduuuh Lud, hangatnya manimu, lepaskan semua manimu Lud!” karena sebelumnya istriku cuma mendesis terus kenikmatan. Nampak sesaat lagi Lud jatuh menelungkup di atas istriku. Karena sudah hampir jam 10 kubangunkan mereka, sebab Lud harus berangkat pulang dengan pesawat jam 11.00. Kuselesaikan semua rekening hotel sementara mereka berpakaian lagi. Kita langsung menuju airport tepat sampai airport pk 10.30. Lalu kita ngomong sebentar dan Lud usul, “Kalau lain kali kita main berempat dengan istriku, bagaimana?” Pertama istriku keberatan sebab aku tak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan kalau wanita itu adalah keponakannya sendiri yang kerja jadi sekretarinya dan kadang-kadang melayani tamu-tamunya yang membutuhkan hiburan. Jadi pasti bersih dan usianya masih muda baru 19 tahun, cukup seksi hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istri dia pasti kurang ramai karena agak kerempeng dan tidak ceria, jadi aku dikhawatirkan tak bisa tegang. “Jadi bisa ramai Hwa, kita main 2 pasang dalam satu kamar pasti hot”, kata Lud. Akhirnya istriku setuju kapan-kapan main berempat, tiba-tiba istriku pergi lari-lari ke kamar mandi. Setelah pulang dari kamar mandi, aku bertanya, “Ada apa?” Dia menjawab sambil menunjukkan CD mininya yang digenggam. “Waah, maninya Lud mulai keluar, CD-ku sampai basah dan lengket jadi tak nikmat dipakai. Mungkin rokku juga basah belakangnya.” Ternyata betul bagian bawah vaginanya basah, karena Lud sudah hampir check in lalu kami berdua langsung pamit pulang dulu setelah dikecup bibirnya oleh Lud. Kami segera menuju mobil dan jok tempat istriku duduk dilembari dengan kertas koran, hampir sampai di rumah istriku mengeluh lagi, “Aduh Pi, maninya keluar lagi rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat dikit Pi!” Kukebut terus dan sampai di rumah mobil kuparkir di tepi jalan dan istriku turun lalu menekan bel, setelah dibuka oleh pembantuku dan segera istriku masuk ke kamar utama kita dan masuk ke kamar mandi dalam tanpa ditutup pintunya. Karena anakku sedang tidur di kamarnya, aku langsung masuk ke kamar utamaku, kulihat istriku lagi melepas rok mininya lalu duduk di closet. Melihat aku datang, istriku bilang, “Papi sini lho, lihat Pi pahaku kena cendol maninya Lud dan itu keluar terus banyak.” Kulihat paha istriku dan bulu kemaluannya basah kena mani dan dari lubang vaginanya keluar jatuh mani Lud yang seperti cendol itu. Melihat itu aku malah jadi nafsu, penisku jadi tegang, terpaksa aku melepas semua pakaianku. “Papi pasti tegang toch kalau lihat vaginaku belepotan mani begini”, kata istriku sambil mulai memegang penisku. Lalu kutarik lepas kaos istriku. “BH-nya jangan dulu ya supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payudara Mami!” kata istriku. Istriku bilang kalau tadi malam sampai pagi tadi dia disemprot mani Lud sampai 7 kali, yaitu jam 8 malam saat bareng dengan saya, jam 11 malam saat main saya nonton TV, jam 1 tengah malam waktu main di kamar saya, jam 3 fajar waktu penis Lud tegang sendiri, jam 6 pagi sehabis saya nyemprot ke mulutnya, jam 8 pagi saat di dalam kamar mandi dan jam 10 pagi waktu mau pulang. “Hebatnya Lud itu sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus dan kental serta hangatnya dan banyaknya sama, maka dari itu rasanya penuh dalam perutku tadi sampai suatu saat kutekan perutku dan mulai keluar terus maninya”, kata istriku. “Mi, kalau sudah habis cuci dulu vaginanya, aku sudah nggak tahan nih.” Istriku buru-buru mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu kuangkat dia dan kuletakkan di atas tempat tidur. Tanpa tunggu macam-macam aku segera menaiki istriku dan kutancapkan penisku ke vaginanya. “Wah Mi, vaginamu masih seret juga buat penisku, kukira jadi longgar kemasukkan penis gedenya Lud”, kataku. Istriku lalu cerita, “Waktu penis Lud ditanam semalam suntuk dalam vaginaku, begitu mulai kurang tegangnya vaginaku kumulai renggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol di bibir vaginaku dengan maksud supaya jangan sampai longgar liangnya. Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu kalau di dalam banget geli rasanya kalau goyang sedikit, kalau di luar kurang geli sebab yang kena cuma bibir vagina saja. Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sudah nafsu banget agak kasar mainnya, lain dengan Papi tetap semangat tapi mesra. Hanya Papi punya kalah besar dan panjangnya saja, tapi Mami mau belikan alat yang bisa buat memperbesar dan memperpanjang penis, tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar. Memang saat Lud mau menyemprot, Mami selalu tekan pantat Mami ke atas supaya penisnya bisa amblas masuk semua sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat, nikmat dan nikmat. Papi punya kalau nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku jadi hangatnya nikmat Pi.” “Pi ini lho selain leher buah dadaku juga dicupang oleh Lud, tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang”, kata istiku sambil melihatkan buah dadanya yang dicupang. Mendengar cerita istriku itu aku semakin menggebu mengangkat turunnya pantat dan segera hak BH istriku yang terletak di bagian depan itu kubuka hingga buah dadanya yang semakin kencang itu tak tertutup lagi yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecupi dan kugigit-gigit putingnya. “Aduuh Pi, nikmat banget Pi, aku sudah kangen dengan penisnya Papi sejak Papi minta tadi malam, masih seret ya Pi, aku masih merasakan seret gesekan penisnya Papi. Pi mau keluar ya? kok sudah anget banget penisnya?” tanya istriku. Benar juga tak lama lagi creeett…. creeettt, maniku menyemprot. “Waah… maninya Papi nyemprot ke dalam, sebab semprotannya keras tapi agak encer. Bisa jadi satu dengan Lud punya nih!” kata istriku. Karena capai kami berdua tiduran tapi akhirnya tertidur juga.<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-istriku-dan-temanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Diperkosa Tiga Orang Gadis</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/aku-diperkosa-tiga-orang-gadis.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/aku-diperkosa-tiga-orang-gadis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2361</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki, sudah punya pacar. Bahkan sudah ada yang beberapa kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya keinginan untuk pacaran. Walau sebenarnya banyak juga gadis-gadis yang mau jadi pacarku.</p>
<p>Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.</p>
<p>Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.</p>
<p>Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpura-pura memandang jauh ke depan, ketika dia tiba-tiba saja berpaling dan menatapku.<br />
“Lagi ada yang ditunggu?”, tegurnya tiba-tiba.<br />
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepat-cepat aku menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.<br />
“Tidak…, Eh, kamu sendiri..?”,aku balik bertanya.<br />
“Sama, aku juga sendirian”, jawabnya singkat.</p>
<p>Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apalagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan wanita sampai sejauh itu.<br />
“Jalan-jalan yuk…”, ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.<br />
“Kemana?”, tanyaku ikut berdiri.<br />
“Kemana saja, dari pada bengong di sini”, sahutnya.</p>
<p>Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.</p>
<p>Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.<br />
“Eh, nama kamu siapa…?”, tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.<br />
“Angga”, sahutku.<br />
“Akh.., kayak nama perempuan”, celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.<br />
“Kalau aku sih biasa dipanggil Ria”, katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.<br />
“Nama kamu bagus”, aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.<br />
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua dariku”,· katanya meminta.</p>
<p>Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa bulan. Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya sekedar berjalan-jalan sambil mencari kenalan baru.<br />
“Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak…?”, ujarnya menawarkan, sambil menunjuk gerobak tukang bubur ayam.<br />
“Boleh”, sahutku.</p>
<p>Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Ria banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Ria memang pandai membuat suasana jadi akrab.</p>
<p>Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Ria yang mengajak pulang lebih dulu.<br />
“Mobilku di parkir disana…”, katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.<br />
“Kamu bawa mobil…?”, tanyaku heran.<br />
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum”, katanya beralasan.<br />
“Kamu sendiri…?”<br />
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.<br />
“Ikut aku yuk…”, ajaknya langsung.</p>
<p>Belum juga aku menjawab, Ria sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Ria malah meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Ria langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Ria menahan dan memaksaku untuk singgah.</p>
<p>“Ayo..”, Sambil menarik tanganku, Ria memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa laki-laki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.<br />
“Tunggu sebentar ya…”, kata Ria setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.</p>
<p>Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Ria. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadis-gadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.</p>
<p>Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.</p>
<p>“Aku dulu…, Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini”, kata Ria tiba-tiba sambil melepaskan baju kaosnya.</p>
<p>Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Ria bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Ria mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali.. Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat. Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulu-bulu vaginanya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Ria menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henar-benar polos dalam keadaan tidak berdaya. Bukan hanya Ria yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.<br />
“Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian…?”, aku membentak kaget.</p>
<p>Tapi tidak ada yang menjawab. Ria sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Ria saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.</p>
<p>Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika merasakan jari-jari tangan Ria yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Ria. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat.</p>
<p>Aku benar-benar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku.</p>
<p>Aku benar-benar tidak berdaya ketika Ria duduk di atas perutku, dan menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku. Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.</p>
<p>Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadis-gadis ini bukan hanya menderita penyakit hiperseks, tapi juga biseks. Mereka bisa melakukan dan mencapai kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga menggunakan alat-alat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut membayangkannya.</p>
<p>Sementara itu Ria semakin asyik menggerak-gerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah, Riapun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Ria terus menggenjot tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya membuatku benar-benar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubi-tubi aku berteriak tertahan. Ria yang mendengarkan teriakanku ini tiba-tiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan melakukan gerakan-gerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Ria terus mengocok-ngocok penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.</p>
<p>Tetapi Ria rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi dipaksa untuk tetap keras dan upaya Ria sekarang benar-benar berhasil. Penisku tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Ria kembali memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Ria menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.</p>
<p>Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Ria memperkosaku, tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan Ria tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku bisa merasakan vagina Ria berdenyut-denyut dan menyedot-nyedot penisku, hingga akhirnya Ria melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya. Aku merasakan vagina Ria tiba-tiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Ria. Saat Ria mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di batangan penisku..</p>
<p>Setelah Ria Baru saja mendapatkan orgasme, Ria menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Ria. Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masing-masing mencapai kepuasan yang diinginkannya.</p>
<p>Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkm aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini…?</p>
<p>Aku hanya bisa berharap mereka cepat-cepat melepaskan aku sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal angan-angan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadis-gadis itu akan melepaskanku.</p>
<p>Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa. Bahkan mereka menggunakan obat-obatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.</p>
<p>Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan terbelenggu seperti ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta untuk dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macam-macam. Aku membayangkan kalau orang tua dan saudara-saudara serta semua temanku pasti kebingungan mencariku.</p>
<p>Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadis-gadis binal dan liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus. Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa melayani nafsu birahinya. Aku benar-benar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga batinku benar-benar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman gadis-gadis binal itu.</p>
<p>Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku benar-benar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena belum diisi makanan. Aku benar-benar tersiksa lahir dan batin.</p>
<p>Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang bukan Ria, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah benar-benar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya.<br />
“Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan”, katanya sambil berlalu meninggalkan kamar ini.</p>
<p>Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.<br />
“Bapak ini siapa?”, tanyaku<br />
“Saya pengurus rumah ini”, sahutnya.<br />
“Lalu, ketiga gadis itu..”, tanyaku lagi.<br />
“hh…, Mereka memang anak-anak nakal. Maafkan mereka, Nak…”, katanya dengan nada sedih.<br />
“Bapak kenal dengan mereka?”, tanyaku.<br />
“Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudah-mudahan saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi”, katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.</p>
<p>Aku juga tidak bisa bilang apa-apa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih, aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan pintu. Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.</p>
<p>Aku benar-benar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakan-akan semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian itu tidak sampai menimpa orang lain. Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu terjadi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/aku-diperkosa-tiga-orang-gadis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petualang Cinta ku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html</guid>
		<description><![CDATA[Suasana kantor pada hari Jumat jam setengah empat sore kali ini hampir tidak berbeda dengan biasanya. Dari ruang pribadiku terdengar hiruk pikuk teman-teman sekerja yang bersiap-siap pulang, canda ria yang terdengar lepas, dan tulat tulit ponsel mereka yang sudah mulai ditelepon dari rumah untuk rencana week end. Seperti biasanya juga, aku pulang agak terakhir. Bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suasana kantor pada hari Jumat jam setengah empat sore kali ini hampir tidak berbeda dengan biasanya. Dari ruang pribadiku terdengar hiruk pikuk teman-teman sekerja yang bersiap-siap pulang, canda ria yang terdengar lepas, dan tulat tulit ponsel mereka yang sudah mulai ditelepon dari rumah untuk rencana week end. Seperti biasanya juga, aku pulang agak terakhir. Bukan karena rajin, tapi karena aku malas mengemudikan Katana hijauku dalam antrian panjang berkelok-kelok yang memenuhi gedung parkir pada jam-jam segini. Aku tetap duduk di kursi kerjaku, mengerjakan beberapa hal untuk persiapan hari Senin nanti, agar hari Mingguku bisa terasa lebih bebas. Setelah aku rasa cukup, aku membuka-buka beberapa situs favoritku di internet, seperti FriendFinder, nba.com, dan lain-lainnya. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.<br />
“Yak, masuk Nov!” kataku singkat. Pintu terbuka, dan masuklah Nova, seorang teman kerja yang waktu itu baru diangkat menjadi asistenku.<br />
“Kok tahu kalau aku?” tanyanya keheranan sambil menutup pintu kembali.<br />
“Yah.. siapa lagi kalau bukan kamu?” jawabku tanpa memberitahunya kalau aku sudah hafal pola ketukannya yang agak lebih keras dibandingkan teman-teman lain.</p>
<p>Wanita itu meletakkan tas kerjanya di sofa putih di seberang ruangan lalu mendatangi meja kerjaku sambil matanya sesekali melirik kesana-kemari untuk mencari benda-benda aneh baru yang memang sering kupajang di situ. Ketika matanya menemukan sebuah album foto di meja samping, ia lalu membelokkan arahnya ke situ dan mencomotnya. Dalam hati aku tertawa geli melihat tingkahnya yang agak kekanak-kanakan meski usianya hanya beberapa tahun lebih muda dariku. Kini ia mengamati foto-foto itu dengan mimik serius, sementara aku mengamati dia.</p>
<p>Nova adalah seorang mantan atlet yang bentuk tubuhnya terpelihara dengan baik meski warna kulitnya agak kecoklatan karena dulu sering diterpa matahari. Wajahnya cukup manis menurutku, sementara pakaian-pakaian yang menempel di badannya selalu mengikuti apa yang kupakai, ia juga selalu mengikuti ke mana aku pergi, dan melakukan apa yang aku lakukan. Pendeknya, di mana ada Sari, di situ ada Nova, entah dalam bisnis atau just for fun, singkatnya, dia seorang sidekick sejati buatku. Ia adalah seorang petualang baru yang memilih menjadi petualang karena kebetulan ia sangat dekat denganku.</p>
<p>Agak merasa berdosa juga aku, jika mengingat saat pertama ia datang ke kantor memenuhi iklan lowongan koran. Waktu itu aku sendiri yang mewawancarainya, dan waktu itu ia tampak masih lugu dengan kacamata berbingkai hitam tebal dan rambut panjang sebahu serta pakaian yang… well… konvensional. Namun sekarang? Dari tempat dudukku aku bisa mengamati posturnya yang semampai (sekitar 170-an lah) dan berbahu bidang itu sedang berdiri di sisi ruangan dengan terbungkus setelan pakaian kerja Escada merah menyala yang elegan namun terkesan seksi. Kacamata berbingkai tebal juga sudah digantikan dengan contact lens coklat, sementara rambut ikalnya kini dipotong persis seperti rambutku, pendek seleher dan simpel. Untung saja rambutku lurus, hingga masih tetap ada bedanya.</p>
<p>“Ini foto waktu kapan, Mbak?” tanyanya membuyarkan lamunanku.<br />
“Oh, pas SMA”, jawabku singkat.<br />
“Kenapa emang?”<br />
“Mbak Sari yang mana?” tanyanya balik dengan tetap mengamati album foto itu dengan mimik serius.<br />
“Yang mana, hayooo?” Godaku sambil mematikan Macintosh dan beranjak berdiri dari kursi kerjaku.<br />
“Yang ini ya?” tanyanya sambil menghadapkan album foto itu padaku dan menunjuk sebuah foto.<br />
“Iya, yang itu”, jawabku sambil membenahi tas kerjaku.<br />
“Cantik ‘kan?”<br />
Kata-kata terakhir itu tadi mendapatkan jawaban berupa ekspresi mengejek dari wajahnya.<br />
“Norak, ah!” katanya sambil menutup album itu dan melemparnya kembali ke meja.<br />
“Kaki kepanjangan gitu masa pakai celana kependekan, apa nggak malah berkesan kerempeng?” lanjutnya lagi, yang kubalas dengan sebuah tinju agak keras di lengannya.</p>
<p>Kami lalu tertawa-tawa sambil menanti jam bergeser ke pukul setengah lima, supaya perjalanan mobilku lancar di gedung parkir. Nova menceritakan padaku tentang masa-masa hidupnya sebagai atlet, tentang latihan-latihan fisik yang dilakukannya, dan hal lain yang terkesan macho dan terlalu dibesar-besarkan. Sementara aku dengan tak kalah membual juga menceritakan tentang latihan yang kualami pada saat aku tergabung dalam sebuah klub basket.</p>
<p>“Eh, gimana rencana malam ini?” tanya Nova di tengah pembicaraan.<br />
“Aku belum ada rencana lebih jauh”, jawabku.<br />
“Kamu ada rencana apa?”<br />
“Yahhh…” desah Nova panjang sambil merentangkan kedua tangannya dan menggeliat malas.<br />
“Aku sih pengen jalan-jalan.”<br />
“Jalan-jalan apa jalan-jalan?” tanyaku dengan nada menggoda.<br />
“Hmm…” Nova terdiam agak lama.<br />
“Pengennya ya jalan-jalan biasa, tapi kalau nanti ada hasilnya, yah, nggak apa-apa kan?”</p>
<p>Pembicaraan terus berlanjut hingga akhirnya tiba pada topik kesenangan wanita, yaitu membicarakan orang lain. Kami membicarakan seorang kawan yang kebetulan sering bekerja sama dengan perusahaan kami.<br />
“Mbak Sari, kalau Mbak Ida itu orangnya gimana?” tanya Nova sambil mengamati pemandangan dari jendela lantai tujuh ini.<br />
“Apanya yang gimana?” tanyaku balik sambil mengenakan blazerku kembali dan bersiap-siap pulang.<br />
“Dia kan single”, jawab Nova.<br />
“Apa dia juga… hmm… seperti Mbak Sari?”<br />
“Hihihi”, aku tertawa kecil mendengar tuduhannya itu.<br />
“Not really”, lanjutku sambil mematikan lampu dan mencolek lengan Nova agar mengikutiku keluar ruang kerja.</p>
<p>Karena gedung parkir sudah lumayan kosong, Katana hijauku dengan bebasnya meninggalkan gedung kantor itu. Nova menumpang di mobilku, agar nanti bisa keluar jalan-jalan bareng, katanya. Tapi however kami masih belum punya tujuan yang jelas, hingga kami berputar-putar saja di daerah itu. Sempat terpikir untuk mampir ke Kafe Jendela tempat beberapa kawan sering nongkrong, tapi karena masih terlalu sore dan sepi, akhirnya nggak jadi. Sempat juga ada ide untuk mampir ke Colors Pub, tapi sekali lagi karena masih terlalu sore, kami mengurungkan niat itu.</p>
<p>“Nov, kamu tadi kok nanya tentang Mbak Ida kenapa?” tanyaku karena tidak ada topik yang dibicarakan.<br />
“Nggak apa-apa sih”, jawabnya sembari menggosok lensa sunglasses Gucci-nya dengan ujung baju.<br />
“Just curious.”<br />
“Dengar-dengar… dia orangnya nggak normal, yah?” tanya Nova lagi.<br />
“Maksudmu dia sinting?” tanyaku balik, menghindari membicarakan kejelekan orang dengan cara mengambil ekstrimnya.<br />
“Nggak gitu sih”, jawab Nova tetap dengan mimik serius.<br />
“Kata orang, dia nggak suka sama cowok.”<br />
“Kalo emang iya, kenapa? Dan kalo enggak, apa kamu nggak malu gosipin orang?” jawabku diplomatis.<br />
Nova tertawa kecil mendengar sindiran itu.</p>
<p>“Aku cuman pengen tahu”, jawabnya tak kalah diplomatis tapi masih amatiran.<br />
“Kalo emang ternyata iya, apa kamu lantas mau nyoba kencan sama dia?” tanyaku to the point.<br />
Wajah Nova tampak menunjukkan ekspresi aneh, perpaduan antara jijik dan mendapat inspirasi.<br />
“Gini deh, daripada kita ngomongin orang, gimana kalau kita mampir ke rumah dia”, jawabku sambil menyalakan lampu sen untuk belok kiri, karena Katana hijau kini telah sampai di depan rumah orang yang kami bicarakan.<br />
“Lho, lho, lho! Mbak! Jangan dooong!” Rengek Nova ketika Katana hijau kuparkir di depan rumah besar dengan design aneh itu. Aku tidak mempedulikan rengekannya karena setengah jengkel. Aku hanya membuka pintu dan keluar dari mobil, meski sambil merengek dan menggerutu tidak jelas, Nova ikut turun juga.</p>
<p>Sampai ketika aku memencet bel pintu, Nova masih juga tampak tidak tenang. Ia berkacak pinggang sambil melihat ke langit yang kini berwarna ungu bercampur oranye. Rumah yang kami kunjungi itu terletak di tepi sungai kecil dengan lingkungan tertutup yang dipenuhi pohon-pohon besar (Dan para pembaca yang berasal dari kota S akan berpikir-pikir, kira-kira di mana letaknya, ya kan?) sehingga suasana jadi agak remang-remang dramatis. Seorang pembantu pria berwajah Maluku berbadan tegap keluar dari balik pintu dalam dan kembali masuk setelah aku menyebutkan nama orang yang kucari. Pintu kembali terbuka, tapi bukan si pembantu yang keluar, melainkan seorang, eh seekor anjing St. Bernard, sebesar meja makan.</p>
<p>“Aduh, Mbak… ada anjingnya, pulang aja yuk!” seru Nova merasa mendapat alasan. Aku hanya memandangi wajah Nova dan wajah anjing itu bergantian, lalu menunjuk ke anjing yang kini menatap wajah Nova sambil menjulurkan lidah dan mengibas-ngibaskan ekor.<br />
“Tuh lihat!” kataku.<br />
“Dia menyukai kamu, jadi nggak ada masalah.”<br />
“Hm… masa sih?” tanya Nova sambil berlutut dan mengamati wajah anjing yang berekspresi lugu agak bodoh itu dari balik pagar. Si pembantu muncul dan membukakan gerbang pagar yang terbuat dari kayu berat berlubang-lubang di sana-sini itu. Kami melangkah masuk. Aku melangkah dengan tenang, sementara Nova melangkah agak gelisah sambil sesekali melihat ke arah anjing besar yang kini berjalan mengikutinya. Besar sekali memang, tingginya saja hampir sepinggang kami. Si pembantu lalu mempersilakan kami duduk di kursi beranda, tentu saja dengan ditemani St. Bernard besar itu, yang kini duduk bersimpuh di lantai memandangi Nova dengan ekspresi yang seperti tadi, lugu setengah bodoh.</p>
<p>Nuansa rumah itu memang agak mendirikan bulu tengkuk bagi orang yang belum pernah mengunjunginya. Pagarnya terbuat dari kayu berwarna gelap yang terkesan berat dan tertutup. Pekarangannya yang tidak terlalu luas ditutup dengan paving block yang dicat cokelat gelap, senada dengan tembok rumah yang juga berwarna maroon gelap. Bangunannya sendiri mungkin cukup bagus, bangunan tua dengan arsitektur kolonial, namun sentuhan seni kontemporer di sana-sini membuatnya tampak aneh. Bayangkan saja, lampu temaram yang menempel di dindingnya berbentuk kepala wanita yang melotot, asbak di meja beranda pun berbentuk kepala seorang bayi (atau tuyul?) yang mulutnya menganga lebar. Perpaduan yang agak aneh karena meja dan kursi berandanya berwarna hijau tua dan berbentuk ukiran Jepara klasik. Di sudut beranda juga terdapat beberapa patung kayu ukiran Bali yang menggambarkan dua orang wanita tanpa busana sedang saling mencekik.</p>
<p>“Angker ya, rumahnya?” celetuk Nova yang rupanya juga mengamati situasi.<br />
“Yah, tapi dia satu-satunya designer yang setuju dengan harga yang kamu tawarin!” jawabku mengingatkan Nova.<br />
“Hm, iya ya. Mbak Ida partner kantor kita”, gumam Nova.<br />
“Apa nggak sebaiknya nanti kita ngomongin kerjaan aja?”<br />
“Alaa, udahlah, sekarang Jumat malam”, jawabku jengkel.<br />
“Lagian kan kamu pengen kenal lebih jauh sama dia?”<br />
“Siapa yang pengen kenalan sama aku?” tanya suara berat seorang wanita yang terdengar tiba-tiba dari samping beranda.</p>
<p>Nova dan aku sempat agak terjingkat karena kaget oleh suara Mbak Ida yang memang berat itu. Wanita berusia 30-an itu telah berdiri di samping beranda dan mengelus-elus kepala anjingnya. Meski usianya agak lebih tua dariku, Mbak Ida memiliki postur tubuh yang terjaga. Tidak seperti Nova dan aku yang meski ramping tapi terkesan lebar dan bidang, postur tubuh Mbak Ida cenderung tidak nampak lebar. Tingginya kurang lebih 160-an, dengan proporsi yang lebih panjang di kaki. Kulitnya agak gelap dan bentuk tubuhnya padat tapi khas wanita dengan dada yang agak membusung. Sore itu ia mengenakan sejenis kimono berwarna coklat gelap yang belahannya agak rendah hingga kami dapat dengan jelas melihat belahan dadanya. Rambutnya yang lurus dan panjang sebahu dicat merah. Merah beneran, merah bendera, bukan merah brunette. Wajahnya cantik namun matanya terkesan misterius di bawah alis yang hampir tidak ada rambutnya.</p>
<p>“Ini, si Nova yang pengen kenalan sama Mbak Ida.”<br />
“Lho, kan udah kenal?” jawab Mbak Ida sambil menjabat tangan Nova yang malu-malu dan agak gemetar.<br />
“Ayo masuk!” seru Mbak Ida mempersilakan kami masuk.<br />
“Bas, kamu jaga di luar ya!” serunya, kali ini ditunjukkan ke si anjing.<br />
“Mbak, nama anjing kamu siapa sih?” tanyaku ingin tahu.<br />
“Lubas Herera”, jawab Ida singkat sambil membukakan pintu ke ruang tamu.<br />
Aku hanya memandangi anjing dan pemiliknya bergantian, setengah heran karena jarang ada anjing yang punya nama belakang.</p>
<p>Suasana ruang tamu yang amat luas itu berbeda 180 derajat dengan beranda dan pekarangan yang gelap dan misterius. Dinding ruang tamu berwarna putih cerah, lantainya juga terbuat dari keramik putih. Sementara perabotannya bergaya modern, terbuat dari pipa-pipa besi berlapis chrome mengkilat dengan bantalan-bantalan kursi biru cerah. Satu-satunya hiasan dinding adalah jam yang tepinya terbuat dari ban penyelamat kapal berwarna merah terang bergaris putih, dan jarum jamnya juga berwarna merah terang, kontras dengan nuansa ruangan yang biru-putih. Tidak ada coffee table (meja tamu), yang ada hanya sebuah meja makan di tengah ruangan yang kakinya terbuat dari pipa-pipa mengkilat dan mejanya sendiri dari kaca dengan bentuk yang tidak simetris, seperti sirip ikan hiu. Di sudut ruangan terdapat tiga buah komputer Macintosh yang casing dan monitornya berwarna biru transparan, semuanya masih menyala dan screen savernya berbeda-beda, di monitor paling kiri ada huruf I yang berputar-putar, di monitor tengah huruf D, dan di monitor paling kanan huruf A, ketiganya membentuk huruf nama pemiliknya, benar-benar nyentrik, pikirku.</p>
<p>Sementara dinding belakang dari ruang tamu ini bukan tembok, melainkan kaca yang menghadap ke sebuah kolam renang kecil berbentuk pisang. Yang paling aneh adalah dinding dan dasar kolam renang itu tidak polos seperti umumnya kolam renang, melainkan dipenuhi sebuah anime yang dibelit gurita. (Setelah diamati lebih jauh, ternyata bukan gurita, melainkan kejantanan pria yang jumlahnya banyak dan panjang-panjang seperti ular melilit badan wanita-wanita tanpa busana itu).</p>
<p>“Yah, ginilah rumahku”, kata Mbak Ida memecah keheningan.<br />
“Gimana?”<br />
“Hm… bagus, bagus sekali”, jawab Nova mengangguk-angguk tanpa mampu menyembunyikan ekspresi gugup setengah takut.<br />
“Berbeda sekali dengan waktu aku ke sini pertama dulu”, jawabku sambil mengamati jam dinding aneh yang kuceritakan tadi.<br />
“Iya dong Sar”, jawab Mbak Ida.<br />
“Kami kan tipe pembosan, kaya kamu!” lanjutnya penuh arti.</p>
<p>Kami duduk mengelilingi meja makan berbentuk sirip hiu itu, menghadap ke beberapa gelas sirup yang dihidangkan si pembantu yang tadi membukakan pintu. Nova tak henti-hentinya memandangi rambut Mbak Ida yang dicat merah menyala itu, sementara aku sendiri berusaha untuk tidak menunjukkan ekpresi heran, takut dia tersinggung.</p>
<p>“Nah, ada apa ini kok kemari? Ada order lagi yah?” tanya Mbak Ida mengawali pembicaraan setengah bercanda.<br />
“Ah, enggak, hanya nggak ada acara aja sore ini”, jawabku sambil menyeruput minuman di gelas berbentuk kepala Miki Tikus. Agak kaget juga aku ketika minuman di gelas itu menyembulkan sedikit aroma alkohol, aku hanya meneguk sedikit saja karena aku memang tidak suka minuman yang memabukkan. Aku melirik ke Mbak Ida sambil mengangkat alis kiriku.<br />
“Apa nih minumannya?” tanyaku dengan mata menuduh namun masih terkesan ramah.<br />
“Oh, iya!” jawab Mbak Ida dengan ekpresi datar.<br />
“Aku lupa kamu nggak minum.”<br />
Mbak Ida lalu berjalan ke dispenser di sudut ruangan dan menuangkan segelas air putih untukku. Ketika ia berjalan meninggalkan meja makan, aku melirik ke arah Nova.<br />
“Nov, kalau nggak suka nggak usah diminum, lho”, bisikku mencegahnya.<br />
“Hmm?” tanya Nova sambil melihat ke arahku dan meletakkan gelasnya yang telah kosong ke meja. Ah, ya sudahlah. Aku mengurungkan niatku mencegah Nova meminum minuman aneh itu.<br />
Kami lalu ngobrol kesana kemari diselingi joke-joke khas wanita lajang. Suasana menjadi hangat dan akrab. Tanpa terasa jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun Nova yang tadi takut-takut, kini malah tampak betah. Memang Mbak Ida, terlepas dari bagaimana bentuknya, adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Sekedar info, ia adalah seorang designer yang kerap kali bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja. Dan ia sering kami pakai karena kelebihannya itu, ia memiliki people skill yang tinggi. Tidak seperti umumnya orang seprofesi dia, yang sulit untuk memahami orang lain dan cenderung menganggap orang lain awam. Meski gayanya mendandani rumah cenderung aneh, dia sama sekali bukan tipe orang yang nyentrik atau weird dalam hubungan kerja. Ia amat profesional.</p>
<p>Pembicaraan berlanjut sampai kemudian Mbak Ida mengantar Nova berkeliling rumahnya. Aku yang dulu sudah pernah ke situ tidak ikut berkeliling, aku mengambil sebuah buku dari rak di sudut ruangan dan mulai membacanya. Sebuah buku paperback bagus, yang berjudul Rich Dad Poor Dad, oleh Robert Kiyozaki. Cukup lama aku membaca buku itu sampai kemudian Nova datang kembali ke ruang tamu menjumpaiku.<br />
“Mbak Sari, pulangnya nggak buru-buru kan?” tanyanya dengan mata kekanak-kanakan.<br />
“Oh? Nggak kok”, jawabku sambil melirik arloji.<br />
“Emang mau ngapain kamu?”<br />
“Mbak Ida ngajak aku nyobain kolam renangnya, kata dia airnya hangat”, jawab Nova lagi.<br />
“Yah, terserahlah. Tapi apa kamu bawa baju renang?” tanyaku.<br />
“Dia mau minjemin kita baju renang kok”, jawab Nova sambil menunjukkan sebuah kantong plastik yang berisi pakaian renang.<br />
“Ganti bajunya di kamar mandi situ, Nov!” kata Mbak Ida yang tiba-tiba muncul.</p>
<p>Kali ini Mbak Ida muncul dengan kimononya sudah tidak lagi diikat, dibiarkannya terbuka begitu saja, dari balik kimono tampak bikini renang berwarna merah seperti rambutnya. Hmm… kontras dan indah juga perpaduan warna itu, kulitnya yang kuning agak gelap dan bikini serta rambut merah. Dalam hati aku sempat iri dengan bentuk badan Mbak Ida yang padat dan berbentuk, sementara badanku sendiri cenderung ceking dan datar panjang-panjang.<br />
“Kamu ikutan sekalian deh, Sar!” Ajak Mbak Ida lagi.<br />
“I Promise I won’t do anything”, lanjutnya penuh arti.<br />
Aku hanya mengangkat bahu dan tidak punya pilihan lain. Apalagi Nova menarik lenganku masuk ke kamar mandi.</p>
<p>Kamar mandi rumah ini jadi terkesan aneh karena tidak ada yang aneh di dalamnya. Kamar mandi klasik berukuran besar dengan bak mandi di sudut, cermin besar di dekatnya, sebuah kloset di sampingnya, dan sebuah pintu menuju ke ruang lain. Begitu biasa jika dibandingkan dengan suasana dalam rumah. Di situ Nova tanpa malu-malu mempreteli semua yang melekat di badannya dan mengenakan bikini yang dipinjamkan Mbak Ida.</p>
<p>“Kamu kok milih yang bikini sih?” tanyaku sambil memilih-milih pakaian renang dalam kantong plastik.<br />
“Emang kenapa, Mbak?” Jawab Nova sambil melenggak-lenggok di depan cermin menatap keindahan bentuknya yang memang indah.<br />
“Kan nggak ada cowok”, lanjutnya lagi.<br />
Aku memilih pakaian renang biasa saja, Speedo berwarna biru muda. Hmm, terasa agak longgar di bagian dada dan pinggang, menunjukkan dimana perbedaan antara bentuk badanku dan badan Mbak Ida. Sempat menatap cermin, dan… yah… aku memang sama sekali tidak jelek! Pikirku sambil menatap garis tubuhku yang menurutku paling indah di seluruh dunia.</p>
<p>Tiba di pinggiran kolam renang Mbak Ida, rasa-rasanya aku malas untuk masuk ke air. Entah kenapa, tapi rasa-rasanya gambar kartun di dasar dan dinding kolam itu mengganggu pikiranku. Sementara Nova hanya mengomentari bahwa gambar kartun itu lucu. Yah, memang dia jarang memperhatikan sampai ke detail, hingga dia lantas nyemplung begitu saja bersama dengan Mbak Ida yang sudah lebih dulu masuk ke air. Dari tepi kolam aku mengamati bahwa di dinding-dinding kolam renang terdapat lampu-lampu besar, hingga dalam air dapat terlihat dengan jelas. Aku melihat tubuh lencir Nova berenang-renang dengan latar belakang gambar-gambar wanita kartun yang ketakutan karena dililit oleh ular-ular besar.</p>
<p>Hmm, pemandangan yang menarik sebenarnya, namun aku memilih untuk duduk saja di tepi kolam, membiarkan angin malam menyejukkan kulit tubuhku yang hanya tertutup pakaian renang. Karena merasa kelewat dingin, akhirnya aku membungkus badanku dengan kimono Mbak Ida yang ditinggalkannya di tepi kolam, dan berjalan mengelilingi halaman belakangnya yang lumayan besar dan bersih, mencari si pembantu tadi sekedar untuk teman ngobrol, tapi pemuda itu juga tidak ada. Dalam hati, aku merasa sedikit bersalah karena mengerti siapa Mbak Ida sebenarnya. Wanita itu tak lain adalah petualang juga, sama seperti aku sendiri. Namun yang berbeda adalah bahwa buruannya seringkali berasal dari teman sejenis, dan bukan lawan jenis. Itu sebabnya pikiranku sekarang terasa seperti membawa Nova ke mulut singa. Tapi, ah, masa bodoh! Aku kan bukan baby sitter untuk Nova. Meski keberadaannya seringkali membuatku merasa memiliki seorang adik, tapi jalan hidupnya kan bukan urusanku, itu pilihannya sendiri.</p>
<p>Dari tempatku berdiri di sudut halaman belakang, kolam renang Mbak Ida tidak terlihat karena tertutup pagar tanaman setinggi satu meteran. Tapi setelah lama, aku baru menyadari kalau aku tidak mendengar suara deburan air seperti yang kudengar tadi. Aku mulai merasa tidak enak, dan segera melangkahkan kaki ke arah kolam renang. Seperti dugaanku, Nova dan Mbak Ida sudah tidak berada di kolam renang, juga di sekitarnya, mereka mungkin sudah masuk ke dalam rumah. Aku berusaha melihat melalui dinding kaca, tidak ada siapa-siapa di ruang tamu atau ruang tengah.</p>
<p>“Di mana kedua orang itu”, pikirku. Kucoba membuka pintu kaca geser untuk masuk ke ruang tengah, ternyata terkunci. Berarti aku terpaksa harus memutar melalui pintu depan. Agak risih juga hanya mengenakan pakaian renang terbalut kimono tipis dan berjalan di antara pohon-pohon pisang di kegelapan. Akhirnya aku sampai ke garasi tempat 318i Mbak Ida teronggok congkak. Lalu membelok ke kiri, dan aku tiba di beranda yang menakutkan tadi. Tampak si Lubas Herera kini memandangi aku sambil mengibas-ngibaskan ekor. “Anjing tolol ini tentu tidak bisa ditanyai keberadaan tuannya”, pikirku. Lalu aku membuka pintu depan yang untungnya tidak terkunci, dan kembali berada di ruang tamu. Seperti yang kuduga, ruang tamu itu kosong.</p>
<p>Aku berjalan mondar-mandir di situ sambil memikirkan kira-kira ke mana kedua temanku tadi. Akhirnya aku mencoba alternatif terburuk, yaitu kamar tidur Mbak Ida. Konyolnya, aku tidak menjumpai pintu lain selain ke kamar mandi dan ke kolam renang tadi. Rumah ini memang terasa begitu besar karena tidak ada sekat-sekat ruangannya. Berarti dimana letak kamar tidurnya? Setelah berpikir beberapa menit, naluri petualangku mengatakan bahwa kamar tidur seorang pemburu umumnya tergabung dengan kamar mandi atau setidaknya memiliki akses langsung ke kamar mandi. Aku jadi teringat akan pintu di kamar mandi tadi. Segeralah aku melangkah ke kamar mandi, oops! kimono panjang ini mengganggu langkahku, jadi aku melepaskan dan menaruhnya di meja makan.</p>
<p>Setibanya aku di kamar mandi, terlihat pintu yang kumaksud terbuka sedikit. Lampu kamar mandi yang terang membuat aku tidak dapat melihat apa-apa dari celah pintu itu, tampak temaram di sana. Pelan-pelan aku melangkahkan kaki ke sana. Setelah makin dekat, terasa dinginnya hembusan hawa AC dari celah pintu yang terbuka sedikit itu, terdengar pula alunan lembut musik sound track Titanic dari Kenny G. Hmm, apakah mereka berdua ada di situ? Kalaupun iya, apa yang mereka lakukan? Bukankah Nova seorang straight? Apakah Mbak Ida mencoba menjahili Nova? Atau apakah Nova ingin mencoba petualangan baru? Berbagai pikiran jorok berkembang dalam benakku, membuat aku tidak segera memasuki ruangan di balik pintu itu. Hm… apakah aku harus langsung masuk? Atau mungkin menunggu di ruang tamu sambil pura-pura tertidur? Atau harus mengintip dulu? Uhh… bingung juga. Anyway, aku harus melakukan sesuatu, bukan?</p>
<p>Setelah memantapkan diri, aku memegang handel pintu dan dan mendorongnya hingga terbuka. Nah, tampaklah kamar tidur Mbak Ida yang ternyata tidak terlalu besar, namun dindingnya berlapis kayu jati berwarna gelap. Lampu yang kuning temaram membuat suasana terasa gelap. Dinding kayu itu polos tidak tertempeli hiasan apa-apa, karpet tebal di lantai juga polos berwarna coklat tua, tepat di tengah-tengah ruangan teronggok tempat tidur kayu besar. Nah, di atas ranjang besar itulah Nova tertelungkup dengan bikininya, sementara si pembantu pria yang tadi kucari-cari kini sedang duduk di atas pantat Nova dan memijiti punggung wanita itu.</p>
<p>Keduanya tampak agak terkejut melihat kehadiranku. “Wah, Sari! Kamu juga mau ikutan ya?” Terdengar suara Mbak Ida mengejutkanku. Wanita itu duduk di sebuah sofa di pinggir kamar. Rambutnya masih tampak basah dari kolam renang tadi, bikini merahnya yang tipis dan agak basah tidak berfungsi menyembunyikan apa-apa lagi.<br />
“Pijitan si Beni enak nggak, Nov?” cerocos Mbak Ida.<br />
“Mmm… mmm… lumayan lah, Mbak!” jawab Nova yang masih tertelungkup di ranjang, dipijit oleh si Beni yang bertelanjang dada.<br />
“Oh, well…” Aku seperti kehabisan kata-kata karena dihadapkan pada suasana yang agak tidak wajar. Aku lantas duduk di sofa di samping Mbak Ida, mengamati wajah Nova yang kini tampak terpejam-pejam karena otot kakinya sedang dipijat oleh si Beni. Dari cara memijatnya, sepertinya Beni memang orang yang ahli dalam hal tersebut, bukan hanya seorang yang asal pencet. Setelah sesaat mencoba beradaptasi, aku menengok ke Mbak Ida.</p>
<p>“Mbak Ida nggak dipijit juga?” Tanyaku.<br />
“Aku sih udah selesai”, jawabnya singkat.<br />
“Kamu mau nyoba? Enak lho, Sar.”<br />
“Iya coba aja Mbak Sari!” sahut Nova yang rupanya sudah selesai dipijit, ia kini menghampiri sofa tempat kami duduk.<br />
“Enak kok, jadi terasa lebih lentur seperti jelly!” candanya menambahkan. “Eh, Ben! Jangan kembali dulu, nih Ibu Sari juga pengen dipijit!” seru Mbak Ida pada pemuda Maluku itu.</p>
<p>Aku beranjak menuju tempat tidur besar itu. Beni tampak tersenyum manis dan mengangguk hormat padaku. “Hmm… Not bad”, pikirku. Meski amat pendek dan hanya setinggi dadaku, pemuda ini otot-ototnya lumayan jadi juga. Beni yang kulit tubuhnya hitam legam itu hanya mengenakan celana jeans pendek yang menunjukkan adanya tonjolan khas pria, baguslah, pikirku. Ia normal, pria mana yang tidak bereaksi seperti itu kalau diijinkan menyentuh badan si Nova yang memang atletis dan kesat. Nah, kita tunggu bagaimana reaksi dia setelah memijiti badan si pemburu ini. Hmm, pemuda yang beruntung, pikirku nakal.</p>
<p>“Apa perlu saya buka pakaian?” tanyaku pada Beni dengan nada serius namun bertujuan menggoda.<br />
Pemuda itu diam dan tampak bingung lalu melirik ke arah majikannya.<br />
“Hahaha!” Mbak Ida tertawa gelak.<br />
“Nggak apa-apa Ben! Ibu Sari itu badannya oke punya lhoo!” Beni tampak ragu-ragu dan menelan liur, reaksi yang aku sukai untuk digoda! Aku malah tanpa ragu-ragu menurunkan lengan pakaian renang ini ke kiri kanan dan menariknya ke bawah, hingga kini pemuda beruntung itu dapat melihat segalanya di bawah sinar lampu yang kuning temaram. Mulut Beni menganga menyaksikan semuanya. Di hadapannya berdiri si pemburu, tanpa selembar benang pun, dengan postur yang satu setengah kali lebih tinggi darinya, berwarna kuning bersih dan halus semampai. Aku menarik nafas dalam agar kedua dadaku membusung ke depan, lalu menghembuskan nafas lagi hingga kedua bukit yang tidak besar itu kembali ke posisi semula, dan bola mata Beni mengikuti gerakan kedua benda indah itu. Aku tersenyum sambil menyipitkan mata menggodanya, dan memanjat naik ke ranjang dan membaringkan badanku tertelungkup di kasur pegas empuk itu.</p>
<p>“Hey, ayo, jangan bengong, Ben!” Seru Mbak Ida sambil tertawa-tawa.<br />
“Tunjukkan pijitan terbaikmu!”<br />
“Lho, emangnya yang diberikan ke aku tadi bukan pijitan dia yang terbaik?” tanya Nova yang kini duduk di samping Mbak Ida.<br />
“Lah, kalau buat Sari ya lain dong Nov!” cerocos Mbak Ida lagi.<br />
“Untuk Sari kan harus yang… hmm… menyentuh!”</p>
<p>Nova dan Mbak Ida lalu tertawa tawa sementara kini kurasakan tangan-tangan Beni mengoleskan baby oil ke betisku dan mulai memijit. “Waaa!” Aku menjerit keras ketika kurasakan pijitan jari-jari Beni begitu keras dan menyakitkan. Kontan saja Beni menghentikan pijitannya dan memasang ekspresi penuh rasa bersalah.<br />
“Pelan-pelan aja, Mas Beni!” kataku mencoba menghiburnya, “Mulai dari punggung aja nggak apa-apa kok.”<br />
Lantas Beni mulai mengolesi punggungku dengan baby oil, dan mulai memijit pelan-pelan. Hmm… harus kuakui rasanya memang mantap dan membuat rileks. Biasanya, pria yang tahu memijit wanita adalah pria yang hebat di ranjang, tapi aku segera membuang pikiran konyol itu dan memejamkan mata menikmati pijitan-pijitannya yang melemaskan otot. Hmm, menyenangkan sekali dipijit oleh pemijit ahli, di ruangan ber-AC yang temaram, diiringi musik instrumental Kenny G.</p>
<p>Saat asyik-asyiknya memejamkan mata menikmati suasana, aku sayup-sayup mendengar erangan wanita di tengah alunan lembut saxophone itu. Apakah memang di kaset Kenny G terdapat sound effect seperti itu? Ah, aku rasa tidak. Aku membuka mata sedikit, dan menatap lurus ke arah sofa di pinggir kamar. Dan aku segera mendapat jawaban dari mana rintihan itu berasal. Di atas sofa itu, Mbak Ida juga tampak sedang memijit badan Nova dari belakang. Tepatnya, Mbak Ida sedang mengusap-usap pinggang Nova yang terbuka, sambil menciumi leher kawanku itu. Novanya tidak menunjukkan perlawanan sedikitpun, malah tangan kirinya memeluk kepala Mbak Ida yang kini mencium dan menjilati leher kirinya.</p>
<p>Pelan-pelan jemari lentik Mbak Ida merambati pinggang Nova ke atas, lalu menyusup ke balik bikini basah yang dikenakan Nova. Membuat payudara Nova seperti tersentak-sentak karena nafasnya menjadi sulit diatur. Wajah Nova yang terpejam itu kini tampak begitu terangsang oleh gerakan-gerakan Mbak Ida. Dengan gerakan cepat, Mbak Ida melepaskan bikini bagian atas itu, hingga kini kedua payudara Nova yang memang menurutku amat indah, padat, putih bersih dengan puting kecoklatan itu terpampang jelas.</p>
<p>“Hey, kamu kok membuka mata, Sar?” kata Mbak Ida yang kini menatap tajam ke arahku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kulihat wajah Nova, wajah itu kini tampak sayu dan matanya menatap ke arahku dengan tatapan dingin dan datar, seolah tidak ingin aku mengganggunya. Ya ampun, pikirku. Apa yang aku kuatirkan telah terjadi. Pijitan-pijitan Beni kini tidak lagi terasa. Aku mengangkat kepalaku dari ranjang dan bermaksud meminta Mbak Ida berhenti mempermainkan badan Nova. Namun Nova malah mengelus paha Mbak Ida yang kini menghimpit pinggangnya di kiri-kanan.<br />
“Tenang aja lah Sar, Nggak apa-apa kan, sekali-sekali!” seru Mbak Ida.<br />
“Ben, kamu ikuti apa yang aku kerjakan ya?”<br />
Mengakhiri kalimatnya itu, Mbak Ida lalu meremas-remas payudara Nova dengan mantap namun lembut sambil menjilati rahang dan lehernya. Nova tampak memiringkan kepalanya, terpejam-pejam sambil mendesah-desah menggumamkan nama Mbak Ida. Tiba-tiba aku merasakan apa yang kini dirasakan oleh Nova. Tangan-tangan Beni menyusup di antara payudaraku dan kasur ini, lalu meremas-remas dan memilin-milin puting susuku. Aku terhenyak dan memejamkan mata karena serbuan yang tiba-tiba itu, segera aku mengosongkan pikiran dan membuang semua logika, membiarkan diri larut dalam petualangan baru.</p>
<p>Pelan-pelan aku merasa tubuhku diangkat dan didudukkan di ranjang, sementara Beni duduk di belakangku dan mengusap serta meremas-remas kedua payudaraku lembut. Sejenak kemudian puting-puting susuku terasa menegang terangsang, sementara payudara ini terasa kaku dan memadat. Aku membuka mata dan melihat bagaimana Mbak Ida menghimpit pinggang Nova dari belakang dengan kedua kakinya, ibu jari kaki kanan Mbak Ida kini menyusup ke balik celana bikini Nova dan bergerak-gerak disitu, sementara tangannya terus menjentik-jentik puting susu Nova. Mbak Ida sendiri tampak amat terangsang, dagunya terkait di pundak kiri Nova sambil wajahnya terpejam-pejam, mungkin karena gesekan dadanya dengan punggung Nova. Sementara Nova tak kalah terangsang, kedua alisnya menyatu di tengah kening dan giginya terkatup meski bibirnya setengah terbuka, dan mendesah-desah norak.</p>
<p>“Aduuhhh… aduuhhh…. enaknya Mbak Idaaa… aduuhhsshh.” Birahi dalam tubuhku tergugah ketika melihat Nova diperlakukan seperti itu, terbayang rasanya jika badanku diperlakukan demikian. Tampaknya Beni menyadari hal itu, namun tidak menirukan gerakan Mbak Ida. Ia menyusupkan kepalanya di bawah ketiak kiriku dan mengulum-ngulum puting susuku dari situ, Uhhh… rasanya geli dan merangsang bukan main. Sementara jari-jari tangan kanannya menguakkan bibir kewanitaanku hingga terbuka dan jari tangan kirinya memijit-mijit di dalam situ, “Aduuuhhh…” nafasku sampai tersengal-sengal dan rasanya sulit menjaga kedua mataku agar tidak menyipit-nyipit. Aku hanya menggeretakkan gigiku rapat-rapat menahan rangsangan ini. Ingin memejamkan mata, namun aku tidak ingin melewatkan pemandangan di hadapanku, dimana Nova sedang dikerjai habis-habisan oleh tangan-tangan Mbak Ida yang begitu berpengalaman. Ohh, sungguh pemandangan yang membuat kewanitaanku berdesir melembab.<br />
Titik-titik keringat mulai tampak di tubuh Nova meski AC sangat dingin. Tubuh lencir atletis itu kini tampak lunglai seperti selembar handuk, dan pasrah saja ketika Mbak Ida menelentangkannya di karpet dan menjilat-jilat paha bagian dalamnya. Saat diperlakukan seperti itu, Nova menggeliat-geliat seperti kesetanan sambil mengaduh-aduh keras dan kedua tangannya berpegangan pada kepala Mbak Ida di selangkangannya. Melihat kondisi itu, otot-otot kewanitaanku tiba-tiba mengejang menangkap jari tengah Beni yang sedang berada di dalamnya. Merasakan jarinya dijepit begitu, Beni malah menggerakkannya keluar masuk kewanitaanku dengan cepat sambil mengait-ngait di dalam, tentu saja tubuhku jadi terjingkat-jingkat kegelian dan punggungku melengkung seperti busur panah. Kudekap kepala Beni yang menempel pada puting susu kiriku agar ia tak menghentikan hisapan dan jilatannya pada puting yang telah mengeras ini. Rintih dan eranganku ikut terdengar memenuhi ruangan, menutupi lembutnya alunan saxophone Kenny G.</p>
<p>Aku benar-benar telah terangsang hebat. Aku tidak lagi mempedulikan Nova dan Mbak Ida yang kini tengah berpelukan erat sambil paha-paha mereka saling menggesek kewanitaan mereka. Aku bangkit dari duduk dan menunggingkan badanku, mempersilakan Beni menikamkan kejantanannya. Sejenak Beni melepaskan tubuhku, terdengar suara kain berjatuhan saat Beni membuka Jeans-nya, lalu tubuhku segera terasa penuh terjejali benda hangat yang keras dan tegang, yang membuatku langsung terpejam dan menengadahkan kepala menahan rasa nikmat tak terkira ini. Aku setengah membuka mata sambil meringis-ringis keenakan. Kedua alisku kini menyatu di keningku, mengikuti ekspresi penuh birahi dari Nova dan Mbak Ida di karpet. Terasa pinggul Beni menabrak-nabrak pantatku ketika ia menggerakkan tubuhnya maju mundur. Gesekan kejantanannya terasa membuat dinding-dinding kewanitaanku menjadi panas dan berdenyut. Otot-otot di dalam sana berusaha mencengkeram kejantanan yang bertekstur kasar itu. Aduuhhh, rasanya nikmat sekali disetubuhi dari belakang sambil menatap tubuh kawan sekantorku dinikmati habis-habisan oleh seorang wanita petualang berpengalaman.</p>
<p>Bermenit-menit lamanya posisi tidak berubah, namun kenikmatan serta sensasi yang kurasakan terasa kian memenuhi batinku. Badanku terasa begitu nikmat digempur oleh kejantanan Ben, apalagi kedua telapak tangannya kini berada pada payudaraku dan memencet-mencet puting susuku. Uhhh, enak sekali rasanya. Dari atas ranjang besar ini, aku melihat tubuh-tubuh indah Mbak Ida dan nova kini saling berdekapan makin erat dan kaki-kaki mereka semakin cepat bergerak pada selangkangan mereka, lalu kedua tubuh semampai itu tiba-tiba mengejang dan wajah-wajah mereka menunjukkan ekspresi kosong yang setengah memejamkan mata dan mulut menganga. Lalu keduanya lunglai di atas karpet sambil terengah-engah dan tetap berpelukan.</p>
<p>Aku membayangkan nikmat dan hangatnya puncak yang telah mereka capai dan menggoyang-goyangkan pinggulku untuk berjuang mencapai puncakku sendiri. Beni tampaknya juga dapat bekerja sama, ia mengikuti gerakan-gerakanku. Namun tidak semuanya sesuai harapan, tiba-tiba Beni mencabut kejantanannya dan melepaskan kedua payudaraku. Aku masih tetap menungging pada kedua lututku di ranjang ketika cairan panas terasa menyemprot ke punggungku. Ahhh, sial benar nasibku. Beni telah mencapai puncaknya, dan kini duduk di tepi ranjang sambil terengah-engah pucat.</p>
<p>“Mm.. maafkan saya, Bu…” kata Beni terbata-bata.<br />
“Hmmhhh…” Aku menarik nafas panjang sambil menatap kedua matanya penuh rasa marah.<br />
“Nggak apa-apa kok Ben, kamu hebat sekali”, Jawabku setelah menguasai emosi.<br />
“Dah, tidur di kamarmu sana!” Beni lalu berjalan tertatih-tatih keluar kamar. Aku menatapnya dengan rasa benci, dasar pria tidak bertanggung jawab! Mending kalau dia suamiku, tapi dia hanya pembantu kawanku, sebal sekali rasanya. Kutelentangkan diri di ranjang besar itu menatap ke langit-langit yang berhiaskan cermin di sana-sini. Menatap bayangan tubuhku sendiri yang gelisah di atas sprei putih yang kusut, menatap bayangan tubuh Nova dan Mbak Ida yang masih saling berpelukan di karpet sambil terpejam dengan ekspresi puas. Sungguh tidak adil, pikirku. Karena birahiku sulit kutahan, akhirnya aku melakukan apa yang selama ini pantang kulakukan, yaitu memuaskan diri sendiri.</p>
<p>Kupejamkan kedua mataku, aku berkonsentrasi penuh membayangkan postur tubuh laki-laki idamanku, The Big D! Kubasahi ujung jariku dengan lidah, lalu kupilin-pilin kedua putingku, membayangkan ia sedang mengulum-ngulumnya. Hmmm… tidak terasa seperti dikulum beneran, tapi siapa peduli itu di tengah kondisi seperti sekarang. Kutekan-tekan sendiri klitoris dan liang kewanitaanku yang terasa becek dan hangat. Uhhh… cukup lama juga aku menggeliat-geliat sendiri di atas ranjang besar itu sambil kedua tanganku menjamah tubuhku sendiri. Sampai tiba-tiba aku merasakan kasur bergerak-gerak karena ada orang lain yang naik ke ranjang. Ah, pasti Mbak Ida ingin memanfaatkan situasi, pikirku. Tadinya aku ingin menolak, tapi kuurungkan niatku karena ingin mencapai puncak yang sejak tadi tidak kesampaian. Kubiarkan saja ia menjamah tubuhku sambil aku tetap dengan setia membayangkan bahwa The Big D lah yang melakukannya padaku.</p>
<p>Terasa jilatan-jilatan dari lidah dan bibir yang halus dan hangat menyapu kedua putingku bergantian, pelukan hangat terasa seperti menyelimuti tubuh rampingku, dan sebuah paha halus menyelip di antara kedua tungkaiku, menggosok-gosok di situ. Sebuah jari lentik menyusul masuk ke dalam liang kewanitaanku, disusul satu jari lagi hingga kini dua jari berdesakan di dalam liang kewanitaanku. Uhhh… semuanya membuatku seperti melayang-layang di udara. Ahh, aku tidak tahu apa lagi yang terjadi, yang jelas seluruh tubuhku seperti diselimuti kehangatan yang amat nyaman. Sentuhan jemari-jemari lentik dan bibir lembut bergantian menyapu ke sekujur badan ini, memercikkan bunga-bunga api birahi yang makin lama makin terasa hangat dan nikmat. Kedua jari dalam liang kewanitaanku pun menari-nari dengan gemulai seolah sudah mengenal betul tempat-tempat yang harus dihinggapinya. Ahhh… nikmat sekali, meski aku memejamkan mata, aku seperti dapat melihat tubuhku sendiri sedang menggelinjang-gelinjang dan mengerang-ngerang dijilati oleh lidah-lidah api birahi ini.</p>
<p>Tidak seperti biasanya, puncak kenikmatan kali ini terasa datang perlahan-lahan dan lembut. Kehangatan tiba-tiba menyelimuti tubuhku ketika aku merasakan tubuhku dipeluk dengan hangat dan erat serta leherku dihujani ciuman, menambah kenikmatan di puncak yang kini baru saja kurasakan. Hm… terbayang wajah dan tubuh The Big D memelukku dengan penuh kasih sayang. Sulit juga membayangkan otot-otot padatnya, karena yang kurasakan menempel di dadaku sekarang adalah payudara wanita lain, dan bukannya dada The Big D yang bidang dan ditumbuhi rambut-rambut halus itu. Tapi rasa nikmat terus mengguyur sekujur tubuhku, hingga sempat aku tak ingat apa-apa untuk beberapa detik.</p>
<p>Pelan-pelan gelombang kenikmatan itu meninggalkan diriku, membiarkan kesadaranku kembali mengambil alih. Masih terasa dekapan hangat pada tubuhku. Terpikir juga olehku untuk mengucapkan terimakasih nanti pada Mbak Ida, sekaligus mengucapkan selamat karena ia berhasil menjamah tubuhku kali ini. Hmm… hampir aku membuka mata, namun kuurungkan niatku karena masih ingin menikmati kehangatan pelukan yang somehow terasa penuh kasih sayang ini. Aku mempererat pelukanku pada tubuh semampai yang menindihku itu, sampai aku menyadari bahwa bahu tempat daguku bersandar terasa lebar dan berotot kencang seperti bahuku sendiri. Ah.. Aku hampir tidak percaya.</p>
<p>Pelan-pelan aku membuka mata, dan menatap tajam ke arah cermin di langit-langit yang kini menunjukkan dengan jelas siapa yang bercinta denganku barusan.<br />
“Nova?” Aku menjerit agak membentak sambil melepaskan pelukan hangat itu. Kulihat Nova agak terkejut. Tubuh telanjangnya kini teronggok di sampingku dengan tangannya masih memegang bahuku. Wajahnya tampak sayu meski dipenuhi ketakutan. Sorot matanya tampak menyesal dan menatap sendu ke arah mataku. “Hey, apa yang kau lakukan?” tanyaku setengah membentak tanpa mengharapkan jawaban. Dan memang Nova tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan wajah manisnya yang kini tampak sedih. Bibirnya bergerak-gerak pelan meski terkatup rapat, dan matanya yang biasanya tajam itu kini digenangi setetes air yang kemudian bergulir jatuh melewati pipinya.</p>
<p>Aku tidak mempedulikannya dan segera bangkit berdiri dari ranjang. Dengan tanpa berusaha menutupi ketelanjanganku, aku melangkah cepat ke arah pintu, dan bergegas kembali ke kamar mandi dan mengguyur kepalaku dengan air dingin. Tanpa menunggu badanku kering, aku melanjutkan langkah kembali ke ruang tamu, mendapati pakaian kerjaku tergeletak kusut di meja makan, dan segera mengenakannya kembali pada tubuhku yang masih basah. Aku terduduk di kursi sambil kedua sikuku bertelekan di meja dan telapak tanganku mencengkeram kepalaku sendiri, menyesali yang terjadi barusan. Bukan diriku sendiri yang kusesali, melainkan Nova. Anak muda yang manis itu, yang dulunya lugu namun cerdas, yang secara tak sengaja terseret dalam pola hidupku, yang kini terseret makin jauh.</p>
<p>Ah, karena selama ini aku memproyeksikan Nova untuk bisa menggantikan posisiku di perusahaan, mungkin karena aku juga bercita-cita untuk merubah hidupnya yang dulu kurang bahagia, mungkin juga karena aku sudah begitu mencintai dan menganggapnya seperti adikku sendiri, dan jelas-jelas telah membawanya pada kehidupan yang seperti ini. Apakah aku sudah menyeretnya terlalu jauh di luar kemauan kami sendiri? “Sari!” suara berat Mbak Ida tiba-tiba mengejutkanku. Aku melepaskan cengkeramanku pada kepalaku sendiri, mengusap mataku yang tadi agak berkaca-kaca, dan menatap tajam ke arah wanita itu dengan sorot mata sangat menyalahkan. “Kamu mau nyalahin aku lagi?” tanyanya dengan nada datar sambil terus menatap mataku dari seberang meja makan.</p>
<p>Ia masih mengenakan kimono hitam tipisnya yang tadi sempat kukenakan. Tali kimono dibiarkannya tidak terikat hingga separuh tubuhnya terlihat jelas. Rambut merahnya pun masih belum benar-benar kering, hingga penampilannya secara keseluruhan terlihat agak menakutkan.<br />
“Ini memang yang kamu mau ‘kan, Mbak?” tanyaku kembali dengan nada tajam.<br />
Mbak Ida menggelengkan kepala sambil memejamkan mata.<br />
“Nggak”, jawabnya singkat.<br />
“Kamu terlalu memaksakan dia untuk menjadi seperti kamu”, lanjut Mbak Ida sambil berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah rak buku di sudut ruang tamu. Aku diam saja, sambil terus mengikuti ke mana jalannya tubuh semampai itu.<br />
“Apakah itu salah?” tanyaku padanya, seperti tidak mengharap jawaban.<br />
“Nggak!” jawab Mbak Ida tetap membelakangiku.<br />
“Sama sekali nggak salah.”</p>
<p>Aku tetap terdiam sambil menatapnya mengambil sebuah buku dan membalik-balik beberapa halaman, menyelipkan sebuah pembatas halaman pada halaman yang dikehendakinya, lalu kembali menghampiri meja sambil menatap wajahku. Diletakkannya telapak tangan kirinya di bahuku sambil memijit-mijit kecil, aku membiarkannya berbuat begitu sambil menunggu kata-katanya lagi.</p>
<p>“Orang seperti kamu, yang kepala batu dan berambisi tinggi…” katanya seperti setengah berbisik, “…yang merasa serba bisa, dan merasa paling kuat…” Ia berhenti sejenak sambil mengangkat tangannya dari bahuku, “…pengen mencoba merubah kehidupan seorang yang lugu seperti Nova? Agar dia bisa jadi seperti kamu? Agar dia bisa hidup bahagia dan bebas seperti kamu? Agar dia bisa memilih ke mana akan hinggap dan tidak harus menunggu dihinggapi?” Cerocosnya dengan nada menyalahkan, ia menyebutkan kembali semua kalimat yang pernah kukatakan padanya tentang filosofi hidupku, tentang ambisi pengejaran cita-cita dan pola pikir “struggle for excellence” yang selama ini aku anut. Entah kenapa, tapi kata-kata Mbak Ida seperti membuatku jadi merasa makin tidak enak dan merasa bersalah. “Cobalah sekali-sekali ngaca, Sar!” Serunya lagi sambil meletakkan buku yang baru diambilnya di hadapanku, “Coba pikir siapa sebenarnya kamu… apa yang sebenarnya kamu kejar… apa kamu yakin kalau orang lain juga bisa mengikuti pola pikir kamu?” Dagunya bergerak ke atas sedikit, memberiku komando agar melihat ke arah buku yang diletakkannya tadi.</p>
<p>Tanganku bergerak meraih buku hard cover bersampul cokelat gelap itu, Becoming a Person of Influence judulnya. Pelan-pelan aku membuka halaman yang oleh Mbak Ida telah diberi pembatas. Di situ tertulis sebuah salinan dari sebuah batu nisan di Inggris, yang bunyi terjemahannya kurang lebih begini, “Semasa mudaku, aku bercita-cita mengubah sikap dunia. Namun ternyata tidak mudah. Setelah aku beranjak dewasa, aku bercita-cita mengubah sikap negaraku. Namun ternyata tidak mudah juga. Setelah aku beranjak tua, aku bercita-cita mengubah sikap keluarga dan sahabat-sahabatku. Namun ternyata sudah terlambat. Kini, di akhir hayatku aku terpikir, seandainya sejak awal aku mengubah sikapku sendiri, mungkin keluarga dan sahabat-sahabatku akan ikut berubah sikap, dan mereka bisa membawa perubahan pada negaraku. Dan jika negaraku berubah lebih baik, pengaruhnya akan mengubah sikap dunia menjadi lebih baik.” Sejenak aku merenungi tulisan yang baru kubaca. Tulisan itu seperti menyadarkan diriku tentang apa yang seharusnya lebih kupikirkan tentang diriku, tentang masa depanku, dan tentang kehidupan orang lain di sekitarku.</p>
<p>Lama setelah itu, Nova muncul dari kamar mandi dengan mengenakan kimono handuk berwarna merah muda. Tanpa berkata apa-apa dan tanpa melihat ke arahku, ia mengambil pakaian kerjanya di meja makan, lalu membawanya kembali ke kamar mandi, untuk beberapa detik kemudian ia keluar lagi dengan sudah mengenakan pakaian kerja yang tadi dipakainya kemari. “Aku rasa sudah waktunya kalian untuk pulang”, ujar Mbak Ida dengan nada datar sambil tidak melihat ke arah kami. Tanpa banyak basa-basi, aku dan Nova melangkah keluar ruangan. Di beranda, Lubas Herera memandangi kami dan berjalan mengikuti kami sampai ke gerbang yang tidak terkunci. Aku melangkah masuk ke Katana hijauku, dan Nova menyusul setelah menutup gerbang dan mengunci gemboknya, meninggalkan Lubas Herera yang kini berdiri dengan dua kaki belakangnya hingga kepalanya seperti melongok keluar dari lubang di gerbang kayu itu. Tatapan bodohnya mengiringi kepergian kami.</p>
<p>Di dalam mobil, Nova meminta maaf padaku dan mengatakan bahwa ia melakukannya padaku tadi karena menyayangiku. Aku menarik tubuhnya dan membiarkannya bersandar pada bahu kiriku sementara aku mengemudi. Kubiarkan ia menangis sejadi-jadinya di bahuku. Meratapi kesepiannya sekarang, meratapi kesendiriannya di kota S, kota yang semula dijadikan tumpuan harapannya untuk masa depan yang baik. Sambil mengemudi, tanpa terasa pipiku sendiri juga dialiri air dari mataku. Aku menenangkan Nova dan menyatakan pengertianku padanya.</p>
<p>Kami berjanji untuk tetap tidak mengulangi kesalahan yang seperti tadi, sekaligus menyatakan diri untuk saling menganggap adik-kakak, agar hubungan kami lebih dari sekedar teman sekerja. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk lebih memberikan pengertian pada Nova, bahwa perburuan yang selama ini terjadi bukannya didasari oleh pemuasan kebutuhan, melainkan untuk mencari yang terbaik. Oke, kadang-kadang memang ada dorongan yang tak terelakkan untuk lebih mementingkan kebutuhan diri. Namun pikiran logis dan akal sehat tetap harus menduduki prioritas pertama. Aku mengantar Nova kembali ke pondokannya, lalu memacu Katana hijau sekencang-kencangnya kembali ke The Huntress’s Lair nama yang diberikan oleh The Big D untuk tempat tinggalku di apartemen P di ujung barat kota.</p>
<p>Nah, ceritanya sudah selesai. Sekedar info, teman saya Nova itu kini sudah menikah dengan seorang banker sukses, dan memiliki seorang anak laki-laki yang manis seperti ibunya. Sebenarnya banyak petualangan yang saya lewatkan bersamanya. Namun kini ia tidak lagi mengembara, tidak juga menggantikan posisi lama saya di kantor. Ia lebih memilih hidup bahagia bersama keluarganya dan mengelola usahanya sendiri. Mbak Ida kini juga sudah pensiun dari avonturirnya. Ia hijrah ke Aussie untuk menetap bersama kekasihnya, seorang wanita pengusaha yang juga sukses di bidang real estate. Sementara saya sendiri? Well, goals saya adalah mencapai posisi tertinggi di kantor dalam beberapa bulan ke depan, menikah, lalu mengundurkan diri dari jabatan bergengsi itu untuk mengelola bisnis sendiri bersama pasangan saya. Semoga apa yang saya pelajari dari kehidupan ini bisa berguna untuk masa depan saya, dan masa depan generasi berikutnya. Semoga juga saya mampu memperbaiki diri saya sendiri dulu, seperti di kutipan buku yang ditunjukkan Mbak Ida pada saya tadi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/petualang-cinta-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pengalaman ku dengan tante murni</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html</guid>
		<description><![CDATA[Ibuku adalah 7 bersaudara, dan beliau adalah anak tertua kedua, kemudian adik-adiknya ada 4 orang, berturut-turut perempuan dan yang bungsu laki laki, adik perempuan yang terkecil tinggal bersama kami sejak aku masih kecil. Sejak aku usia 8 tahun (kira kira kelas 3 SD), tanteku itu mulai ikut tinggal di rumah kami, sebut saja Tante Murni. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibuku adalah 7 bersaudara, dan beliau adalah anak tertua kedua, kemudian adik-adiknya ada 4 orang, berturut-turut perempuan dan yang bungsu laki laki, adik perempuan yang terkecil tinggal bersama kami sejak aku masih kecil. Sejak aku usia 8 tahun (kira kira kelas 3 SD), tanteku itu mulai ikut tinggal di rumah kami, sebut saja Tante Murni. Tante Murni terpaut sekitar 6 tahun denganku, jadi waktu itu usianya 14 thn. Setelah lulus SMP di K, Tante Murni tidak mau meneruskan ke SMA dan memilih ikut kakaknya di Jakarta, katanya mau tahu Jakarta. Wajah Tante Murni sangat menarik, bulat, cukup cantik, kulit sawo matang, dengan tinggi seperti anak perempuan usia 14 tahun, tetapi dalam pandanganku sepertinya tubuh Tante Murni lebih montok dibanding teman seusianya yang lain. Sebagai gadis remaja yang sedang mekar tubuhnya, tanteku ini juga agak sedikit genit. Dia senang berlama-lama jika sedang merias dirinya di depan cermin, aku sering menggodanya dan Tante Murni selalu tertawa saja. Aku sendiri anak tertua dari tiga bersaudara (semua saudaraku perempuan). Rumahku waktu itu hanya mempunyai 3 kamar, satu kamar orang tuaku dan dua untuk anak anak. Kedua adikku tidur dalam satu kamar, dan aku menempati kamar lain yang lebih kecil. Sejak Tante Murni tinggal dengan kami, tante tidur dengan kedua adikku ini. Pergaulan Tante Murni dengan tetangga sekitar juga sangat baik, ia cepat akrab dengan anak remaja sebayanya, antara lain tetangga kami Suli. Usianya tak jauh beda dengan tanteku kira-kira 15 tahun, tapi berbeda dengan tanteku, Suli berkulit putih bersih dan jauh lebih tinggi (kata orang bongsor), wajahnya ayu, rambutnya selalu disisir poni, murah senyum dan baik hati. Ia sangat baik terhadap semua saudaraku terlebih terhadapku, mungkin karena ia anak tunggal dan sangat mendambakan seorang adik laki-laki seperti yang sering dikatakannya kepadaku. Mbak Suli sering bermain di rumah kami, bahkan beberapa kali ikut tidur di rumah kami bila hari libur, oh ya Mbak Suli ini kelas 2 SMEA. Sekitar dua bulan setelah Tante Murni tinggal di rumahku, suatu saat Ibu dan almarhum ayahku harus meninggalkan kami karena suatu urusan di Jawa Tengah (almarhum berasal dari sana) katanya urusan warisan atau apalah waktu itu aku tidak begitu paham. Adikku yang kecil (2,5 thn.) diajak serta, sedangkan kami dititipkan pada tetangga sebelah rumah (kami saling dekat dengan tetangga kiri-kanan) dan tentu saja pada Tante Murni. Tante Murni orangnya sangat telaten mengurus para keponakan, mungkin karena di desa dulu memang tanteku itu orang yang “prigel” dalam pekerjaan rumah tangga. Setiap hari Tante Murni bersama adikku selalu mengantarku sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah. Lalu ia pulang dan menjemputku lagi pada jam pulang sekolah (kira-kira pukul 10:30). Aku sangat senang dijemput Tante Murni, karena aku punya kesempatan untuk menggandengnya dan menepuk pantatnya yang montok itu. Entah mengapa meskipun aku saat itu masih kecil, tetapi kemontokan dada Tante Murni serta juga pinggulnya yang menonjol itu membuat aku selalu berusaha menyentuhnya terutama secara “pura pura” tidak sengaja. Semuanya itu aku lakukan secara intuitif saja, tanpa ada siapapun yang mengajari. Pada hari keempat sejak ditinggal pergi kedua orang tuaku (hari Sabtu), Sepulang sekolah, kami bermain di ruang depan sambil nonton televisi. Aku, adikku, Tante Murni dan Mbak Suli. Orang tua Mbak Suli inilah yang dititipi oleh orang tuaku. Masa kecilku memang lebih banyak dihabiskan di dalam rumah, jarang aku bermain di luar rumah kecuali bila sekolah, dan pergaulanku juga lebih banyak dengan adikku, atau beberapa anak sebaya tetangga terdekat, itupun kebanyakan mereka perempuan. Kami biasanya bermain mobil-mobilan atau sesekali bermain dokter-dokteran, aku jadi dokter lalu Tante Murni dan Mbak Suli menjadi pasien. Kadang-kadang bila aku sedang berpura-pura memeriksa dengan stetoskop mainanku secara mencuri-curi aku menyenggol payudara Mbak Suli atau tanteku, tapi mereka tidak marah hanya tersenyum sambil berkata, “Eh, koq dokternya nakal, ya”. sambil tertawa, terkadang membalas dengan cubitan ke pipi atau lenganku, yang selalu kuhindari. Memang mulanya aku tak sengaja tapi sepertinya asyik juga menyenggol payudara mereka, maka hal itu menjadi kebiasaanku, setiap kali permainan itu. Terasa sekali payudara mereka kenyal dan empuk, setelah aku besar baru aku menyadari bahwa saat itu mereka pasti tak memakai beha, karena tak terasa ada sesuatu yang menghalangi sentuhan jariku pada daging montok itu kecuali lapisan baju mereka. Setiap kali tanganku menyentuh meremas atau menowel bukit empuk itu, aku merasakan ada getaran aneh terutama di sekitar kemaluanku, tak jarang membuatnya menegang, walaupun waktu itu masih kecil dan belum sunat. Sering aku mengkhayalkan memegang payudara mereka bila sedang sendirian di kamarku sambil memegang burung kecilku, hingga tegang walaupun tak sampai mengeluarkan sperma, hanya cairan bening, seperti cairan lem uhu tapi tidak seperti lem lengketnya. Siang itu setelah adikku tertidur kami kembali bermain dokter-dokteran dan hal itu kulakukan lagi. Untuk diperiksa kuminta Tante Murni untuk berbaring di lantai, dia menurut saja. Yang pertama kuperiksa adalah dahinya lalu aku langsung meletakkan stetoskopku di dadanya, namun aku sengaja memposisikan tanganku sedemikian rupa sehingga tanganku berhasil menempel di dada Tante Murni, kurasakan empuk sekali dan seiring dengan napasnya, tangankupun ikut naik turun pelan-pelan. Tante Murni hanya tertawa saja, sementara Mbak Suli memperhatikan sambil tertawa, rupanya mereka geli atas kekurangajaranku ini, sepertinya Tante Murni keenakan dengan tingkahku ini, tanganku tak hanya memeriksa di satu tempat tetapi terus bergeser, dan aku tak pernah mengangkat tanganku dari gundukan kenyal itu. Sampai tiba-tiba Tante Murni memegang tanganku dan menggosok-gosokannya di dadanya. Aku merasa senang sekali, apalagi Tante Murni juga tiba-tiba merangkul dan menciumiku dengan gemas, tapi ya cuma begitu saja. Karena selanjutnya Mbak Suli yang minta diperiksa, Mbak Suli malahan lebih gila lagi, dia sengaja membuka kancing blus-nya sehingga aku bisa melihat gundukan daging yang putih itu. Tanganku gemetar ketika meletakkan stetoskop plastikku di tepi gundukan dadanya, apalagi ketika dengan suara nyaring Mbak Suli berkata, “Mas.. (dia biasa memanggilku Mas seperti adik adikku, begitu juga Tante Murni), dingin stetoskopmu!”. Tanpa mempedulikan ucapannya, stetoskopku terus bergeser sehingga tersingkaplah bajunya dan mataku terbelalak melihat puting susunya yang kecil dan berwarna coklat muda itu. Saat itulah Mbak Suli menepis tanganku sambil tertawa, “Sudah sudah, geli!”. Mereka berdua langsung berdiri dan meninggalkanku sambil berbisik-bisik, aku merengek agar mereka tetap menemaniku bermain, tetapi mereka terus keluar sambil tertawa. Aku merasakan kalau penisku kaku sekali dan juga celanaku jadi basah, entah mengapa aku jadi penasaran sekali dengan semua ini, aku bertekad kalau besok main dokter-dokteran lagi, akan aku singkap baju Tante Murni atau Mbak Suli biar aku bisa melihat lebih jelas puting susu yang menonjol bulat itu. Malamnya sebelum tidur aku kembali membayangkan kejadian siang itu, kurasakan penis kecilku meregang sehingga kubuka celana pendekku dan kukeluarkan penisku yang sudah tegak ke atas itu. Kupegang dan kuremas pelan-pelan, sambil memejamkan mata kubayangkan kekenyalan dada Tante Murni, puting susu Mbak Suli, terasa nikmat sekali melamun sambil merasakan sesuatu yang gatal dan nikmat di sekitar penisku itu. “Hayo., lagi ngapain!, Aku jadi kaget dan terlonjak serta membuka mataku. Di depanku kulihat Tante Murni sambil tersenyum memandang bagian bawah tubuhku yang terbuka itu. Mukaku terasa panas, mungkin merah padam mukaku, sambil membetulkan celana yang hanya kupelorotkan sampai dengkul aku segera memeluk guling tanpa berkata apa apa lagi dan membelakangi tanteku. Sambil terus tertawa tanteku ikut naik ke ranjangku dan memelukku dari belakang dan menciumku sambil berbisik, “Nggak apa apa Mas.”. Jantungku deg-deg, apalagi ketika dengan lembut tanteku membelai rambutku terus tubuhku sambil berbisi, “Ehh, jangan malu, kamu senang ya pegangin burung, sini tante pegangin”. Mulanya aku ragu, takut kalau tanteku hanya memancing reaksiku saja, tetapi ketika rabaannya turun ke arah selangkanganku aku jadi berubah senang. Kuberanikan diri untuk menolehnya dan kudapati wajah tanteku yang tersenyum manis sekali membuat hatiku berbunga bunga. Burungku yang tadinya sudah mengecil itu mendadak meregang lagi dan mendesak celanaku. Tanteku kemudian menciumi wajahku dengan kasih sayang, tangannya mulai meraba lagi bagian sensitifku dari bagian luar celanaku, aku yakin tanteku bisa merasakan penisku yang meregang dan keras itu, elusan tanteku terasa kurang nikmat, aku berpikir seandainya tanteku memegang langsung burungku, tentu lebih nikmat. Belum habis aku berpikir, tiba-tiba saja Tante Murni memelorotkan celana pendekku sampai terlepas, sehingga burungku yang sudah tegang itu bebas mengacung diudara terbuka. Dengan kelima jarinya tanteku menggenggam burungku dan meremasnya pelan. Aku merasa gatal dan geli serta nikmat yang tak kumengerti tapi membuat aku merasa seperti melayang dan menggeliat serta merintih pelan. Dengan memandang tajam mataku, remasan jari lentik Tante Murni di burungku menjadi semakin cepat bahkan juga dikocoknya naik turun kadang-kadang juga dielusnya buah pelirku. Aku semakin meringis merasakan kenikmatan ini, secara naluriah aku berusaha merangkul tanteku agar rasa geli itu makin terasa nikmat. Aku juga berusaha menempelkan wajahku ke wajah Tante Murni yang kulihat juga merah padam dan bibirnya gemetar, nafas Tante Murni semakin memburu dan dia makin merapatkan tubuhnya ke tubuh kecilku, tanganku diraihnya lalu dituntun ke dadanya yang montok dan kenyal itu. Tanganku terasa menempel di puting susu Tante Murni yang terasa keras seperti kelereng itu, aku meremasnya dengan agak sulit, karena telapak tanganku yang kecil itu tak bisa meremas keseluruhan permukaan dada Tante Murni yang lebar dan keras itu Kuperhatikan tanteku saat itu mengenakan daster kaos yang tipis tanpa mengenakan apa apa lagi dibaliknya. Merasa kurang puas hanya meremas dari luar, akupun menyelusupkan tanganku ke lubang tangan daster Tante Murni sehingga tanganku secara langsung bersentuhan dengan dada yang telah lama aku kangeni itu, hangat dan licin sekali. Kalau tadinya tanteku yang asyik meremas-remas burungku, sekarang justru aku yang beringas meremas-remas payudara tanteku bahkan tanganku yang lain juga ikut ikutan meremas payudara Tante Murni yang satunya. Tante Murni hanya memejamkan matanya rapat rapat sambil menggigit bibirnya. Aku tak mempedulikan apapun sikap Tante Murni, bagiku kesempatan emas ini harus benar-benar dinikmati dan peduli dengan tanteku. Tanganku bukan hanya meremas, tetapi juga memelintir puting susu tanteku yang kecil dan keras itu, lucu sekali melihat kedua tanganku menelinap dan bergerak-gerak di dalam daster tanteku. Kurasakan tangan tanteku sudah tak mengocok penisku, tetapi hanya kadang kadang saja dia meremasnya dengan keras membuat aku kesakitan. Dari luar dadanya yang berdaster mulutku ikut ikutan menciumi dada tanteku itu, rasanya bila memungkinkan aku ingin memanfaatkan seluruh tubuhku untuk menikmati kekenyalan dada Tante Murni ini. Tak kusadari nafas tanteku makin lama makin memburu, rupanya dia juga sangat menikmati kekasaran tanganku ini. Tiba-tiba saja Tante Murni mengangkat dasternya sehingga dadanya tersibak, baru saat itu aku bisa melihat kemontokan payudara tanteku ini, tanganku hanya dapat menutupi sebagian ujung atas payudaranya, sedangkan bagian yang lain masih belum tersentuh oleh remasanku. Dada yang montok itu dipenuhi oleh barut-barut merah bekas remasanku. Setelah dadanya terbuka dengan gemetar Tante Murni berbisik, ” Mas, isep pentilnya pelan-pelan ya”. Tak perlu diperintah dua kali, aku segera melumat puting susu tanteku dan mengenyotnya sekuatku, Tante Murni mendesis desis dan menekan kepalaku kuat kuat kedadanya, aku memeluk pinggangnya dan kutindih badan Tante Murni dengan tubuhku yang telanjang bawah itu. Terasa burungku yang kaku itu menghunjam di tubuh mulus tanteku yang hanya dilapisi celana dalam itu. Tanteku makin kencang memeluk tubuhku, bahkan ia menyuruh aku untuk menjilati juga putingnya. Kulakukan semua itu dengan penuh semangat, entah apa pengaruh kepatuhanku ini pada Tante Murni, yang jelas aku sangat menikmatinya, penisku yang menggeser-geser diperut Tante Murni terasa mengeluarkan cairan yang membasahi perut Tante Murni. Saat itu Tante Murni sudah tak mempedulikan penisku lagi, dia asyik menikmati kepatuhanku itu. Mungkin karena sudah tak tahan dengan semua itu, tiba-tiba saja Tante Murni juga melepaskan celana dalamnya. Selama ini aku hanya bernafsu pada buah dadanya saja, aku tak pernah berpikiran lebih dari itu. Ketika dengan berbisik ia menyuruhku memindahkan ciumanku, aku agak bingung juga. ” Mas, ayo sekarang ciumi selangkangan Mbak ya, nanti punya kamu juga Mbak ciumi”. Aku menghentikan kesibukanku di dada Tante Murni dan memandang ke selangkangannya. Aku takjub sekali melihat selangkangan Tante Murni itu karena ada rambut keriting yang tumbuh di ujung selangkangannya yang cembung itu, ini adalah pemandangan yang sama sekali baru bagiku, selama ini aku hanya pernah melihat selangkangan adikku yang aku tahu tak ada burungnya seperti aku. Namun selangkangan wanita yang berbulu, ya baru kepunyaan Tante Murni ini! Oh, terus terang saja, meskipun aku secara naluri sudah bangkit birahi, tetapi tak pernah kubayangkan bahwa aku akan melangkah sejauh ini dalam bidang seksual apalagi di usiaku yang belum sampai sepuluh tahun itu. Aku agak ragu juga melepaskan mainan yang begitu nikmat di payudara Tante Murni, tetapi perintah Tante Murni membuatku merubah posisi badanku dan dengan ragu-ragu kudekatkan wajahku ke bukit cembung yang ada bulu keritingnya itu. Merasakan keraguanku, Tante Murni tanpa basa basi langsung menekan kepalaku sehingga bibir dan hidungku menempel di bulu-bulu keriting yang halus itu. Karena tadi aku disuruh menggigiti payudara, maka kali ini akupun juga mulai menggigiti bukit cembung itu. Namun kudengar Tante Murni berteriak lirih, “Jangan keras keras gigitnya Mas, sakit!”. Ketidaktahuanku benar-benar konyol, aku kira bukit cembung itu sama seperti payudara, tetapi karena bidangnya kecil, tanganku tak mungkin untuk meremasnya, sebagai sasaran lain aku jadi meremas paha Tante Murni serta juga pantatnya. Ketika Tante Murni membisiki agar ciumanku lebih turun lagi ke depan, aku agak bingung juga. Nah ketika aku maju ke depan barulah aku melihat celah sempit yang berbentuk bibir dan saat itu sudah basah. Warnanya sungguh menarik merah muda dan bibirnya seperti berlipat lipat. Seperti biasa aku menciumi bagian ini dengan penuh semangat. “Jilat saja Mas, nikmat lho!”, bisikan Tante Murni membuatku merubah lagi permainanku. Entah kenapa di tengah asyiknya aku menjilati celah basah yang asin dan agak amis itu, Tante Murni mengerang dan menjambak rambutku sambil menjepitnya dengan kedua pahanya. Aku tak bisa bernafas dan aku segera berontak melepaskan diri. Tante Murni melepaskan dasternya yang tadi masih bergulung di atas dadanya sehingga dia sekarang jadi telanjang bulat. Dengan suara serak disuruhnya aku berbaring telentang, dengan telanjang bulat Tante Murni memegang burungku yang masih tegang itu, karena waktu itu aku belum dikhitan, tanteku menceletkan kulup penisku yang terasa sangat geli bagiku kemudian dengan tiba-tiba Tante Murni mengangkangi burungku dia menurunkan pantatnya, dan dituntunnya burungku memasuki celah sempit yang tadi aku jilati itu. Dilakukannya semua ini dengan pelan-pelan sampai akhirnya aku merasakan kehangatan jepitan kemaluan tanteku yang ternyata telah sangat basah. Aku tak mengerti apa yang dilakukan tanteku ini, tetapi terasa geli, ngilu di sekitar kemaluanku, juga ada rasa perih. Tanteku hanya diam saja setelah menelan burungku, dia malah mendekatkan dadanya ke wajahku sehingga aku mulai lagi menyedot puting susunya itu. Tanteku kembali mendesis-desis, dan terasa dia memutar-mutar pantatnya membuat burungku seperti dikocok-kocok oleh tangan tanteku yang lembut itu, nikmat sekali. Tanteku terus saja menggoyangkan pantatnya ke kanan-kiri, putar sehingga ada rasa yang lebih nikmat di sekitar kemaluanku. Rasa geli yang ditimbulkan membuat aku makin ganas menciumi bahkan juga menggigit daging montok yang bergantung di depanku itu. Ketika Tante Murni mengangkat pantatnya, aku merasa kalau batang burungku yang sekarang penuh lendir dari dalam celah Tante Murni itu menjadi gatal dan geli, ternyata rasanya jauh lebih menyenangkan daripada diremas dengan tangan Tante Murni, apalagi dengan tanganku sendiri. Tidak lama aku merasakan ada lendir yang meleleh di pangkal burungku, yang berasal dari lubang Tante Murni itu. Ketika kutanyakan apakah Tante Murni pipis, dia tak menjawab, melainkan memejamkan matanya serta mendesis dengan keras sekali. Pantatnya ditekan keras-keras ke tubuhku sehingga terasa pangkal kemaluanku menyentuh bibir vaginanya yang hangat. Kurasakan tubuhnya menegang dan berdenyut-denyut pada bagian kemaluannya, membuat burung kecilku seperti diurut dan dipilin oleh tangan yang lembut. Oh.., sungguh kurasakan nikmat yang sungguh luar biasa. Bayangkan…, aku yang baru SD kelas 3 telah merasakan tubuh tanteku yang notabene beberapa tahun lebih tua, yang mungkin maniak seks (terakhir kutemukan koleksi gambar gambar porno di balik tumpukan pakaiannya. Jujur saja Mbak, akupun tak tahu apakah sebelum itu tanteku sudah pernah berhubungan seks, tetapi kukira dia sudah pernah melakukannya, mungkin dengan temannya ketika di K. Mbak pengalaman ini sangat membekas di hatiku, setelah kejadian itu setiap ada kesempatan aku selalu melakukan hal itu bersama tanteku, bahkan pada suatu saat Mbak Suli diajak melakukan bersama kami bertiga (nanti lain waktu aku cerita lagi tentang hal ini). Kalau dulu kami masih berpura-pura, maka sekarang kami sudah pintar saling merangsang, dan yang paling kunikmati adalah saat spermaku memancar keluar, itulah puncak dari segala kenikmatan, geli, dan nikmat bercampur menjadi satu. Kami sama sama menyukai permainan ini sehingga sering dalam satu hari kami melakukannya tiga empat kali, sering juga tanteku pindah ke kamarku malam-malam dan kami melakukan hubungan seks ini dengan pintu terkunci. Tante Murni juga senang mengulum burungku, bahkan seringkali juga aku muncrat di dalam mulutnya. Semua kegiatan ini kulakukan kira-kira sampai kurang lebih 2 tahun sampai akhirnya tanteku pulang ke K. dan selanjutnya menikah di sana. Mbak Yuri, disaat aku sudah berkeluarga keinginan untuk mengulang persetubuhan avonturir dengan tanteku sering muncul, yang aku bayangkan hanya betapa sekarang aku akan lebih pintar membuat tanteku merasa nikmat, dan akupun pasti juga akan lebih menghayati dalam merasakan kelembutan tanteku itu. Semua keinginanku itu baru dapat terulang 15 tahun kemudian, ketika adikku yang paling kecil menikah di K. Malam itu setelah acara resepsi pernikahan selesai kami kembali ke rumah kira-kira pukul 1 pagi, dan karena banyak saudara yang datang maka kami juga menyewa beberapa kamar hotel melati yang letaknya tidak jauh dari rumah (kira kira 200 meter), kebetulan waktu itu aku satu rombongan dengan Tante Murni bersama dua orang anaknya (10 thn dan 7 thn), suaminya tidak ikut, karena ada tugas kantornya yang tak bisa ditinggalkan. Tanteku tidur di ranjang bersama kedua anaknya, aku tidur di lantai dengan kasur extra. Mungkin karena terlalu lelah kedua anaknya langsung tertidur tak lama setelah lampu kamar dipadamkan. Walaupun lelah aku tak bisa memejamkan mata, karena mengingat-ingat kejadian beberapa belas tahun lalu bersama tante yang sekarang sedang terbaring di atas tempat tidur. Ternyata hal ini juga dialami oleh tante, aku merasakan ia gelisah bolak balik. “Nggak bisa tidur Mas?”. “Iya nich, sumuk”. Sambil melongok tante tersenyum kepada yang ada dibawahnya. Sambil turun dari ranjang dia bilang, “Eh boleh nggak aku tidur di sini?, sumuk di atas, di sinikan anyep”. Aku menggeser ke tepi memberi tempat untuk tante. Jantung ini serasa berpacu cepat ketika tubuh tante yang hangat menempel ke sisi tubuhku. Aku merasa ‘adikku’ sudah mulai bereaksi walaupun belum tegak benar (aku waktu itu hanya mengenakan kaos oblong dan sarung saja, tidak mengenakan CD). Aku semakin tidak tahan ketika tanteku memiringkan tubuhnya ke arahku sehingga sekarang dadanya menempel pada lenganku. Semakin nggak karuan nich rasanya. ternyata tante tidak mengenakan BH, hanya daster terusan saja, yach payudaranya cukuplah, kira-kira 34B tapi terasa sudah sangat kencang di lenganku. Aku semakin berani, kuraih pinggang tante dan aku rapatkan pada tubuhku. Tiba-tiba, tidak tahu siapa yang mulai kami telah saling berpagutan. Lidah tanteku dengan lincah menyelinap ke dalam mulutku yang segera kubelit dengan lidahku sendiri. Mbak Yuri, selama itu aku hanya pernah berhubungan seks dengan isteriku sendiri, dan selama itu juga trauma hubungan seksku dengan Tante Murni membuat aku selalu beranggapan bahwa Tante Murni “lebih nikmat” dari isteriku. Bagiku inilah saatnya untuk membuktikan kebenaran memori masa lalu itu. Tangan Tante Murni mulai meraba dadaku terus ke bawah sampai di selangkanganku dan menemukan ‘adikku’ yang sudah mengacung keras. Perlahan tangan Tante Murni mulai membelai-belai, mengocok-ngocok. Aku tak mau ketinggalan dengan ganas merogoh ke arah selangkangannya sambil mulut ini tak henti hentinya bergantian menghisap puting yang telah menegang. Clitoris Tante Murni kubelai dengan sedikit kasar membuatnya mengelinjang tidak keruan. Ketika aku bermaksud akan menggunakan lidah untuk membuat sensasi yang lain, tanteku mencegahnya, “Jangan Mas, tante nggak tahan gelinya”, katanya. Aku mengurungkan niatku dan dengan pandangan matanya aku mengerti bahwa tante sudah tidak tahan ingin disetubuhi maka aku mengambil posisi untuk menindihnya, perlahan aku gesekan dulu ‘adikku’ ke seputar belahan dan permukaan liang tanteku itu, ia terlihat mengelinjang dan berusaha meraih penisku, dibimbingnya menuju lembah kehangatannya. Begitu ujung adikku sudah terselip diantara kedua bibir vaginanya, dengan berbisik tante menyuruhku untuk menekan! Perlahan kuturunkan pantatku, oh.., ternyata kurang lebih sama dengan rasa istri aku tapi agak lebih hangat rasanya. Mulai aku naik turunkan dengan perlahan membuat sensasi yang semakin lama semakin kupercepat irama kocokanku, sayangnya tante Munrni sama sekali tidak memberi reaksi apa-apa, dia hanya diam saja, sambil tangannya terus mencakar-cakar punggungku. Rupanya tante sangat terpengaruh oleh suasana yang menegangkan ini, sehingga sulit untuk memberikan respon. Namun kira-kira pada menit ke 5 aku merasakan otot-otot vaginanya mulai berkontraksi menandakan sudah waktunya bagi tante. Aku mempercepat kocokan dan membenamkan sedalam dalamnya sampai kurasakan dasar kewanitaannya, Kudengar tante menjerit tertahan karena segera dia letakkan bantal ke wajahnya untuk meredam suara yang timbul. Bagian vitalku terasa ada yang mencengkram lembut tapi ketat sekali, otot-otot vagina tanteku serasa memijat-mijat. Mbak Yuri…, terus terang rasanya lebih nikmat dari yang selama ini aku pernah dapat dari isteriku, barang isteriku tidak bisa mencengkeram, meskipun sebenarnya lebih sempit dan kering dibanding kepunyaan tante yang terasa lebih longgar dan agak licin itu. Aku sendiri belum keluar saat itu, kulihat tanteku terkulai kelelahan, kubersihkan sisa-sisa air mani serta juga cairan dari dalam vaginanya dengan menggunakan handuk kecil yang ada di dekat situ. Setelah kurasakan kering, dengan perlahan kumasukkan lagi burungku yang masih tegang dan kugenjot lagi. Aku menggigit bibir tanteku ketika kurasakan gesekan penisku dengan dinding vagina tante yang kesat dan kering itu, rasanya luar biasa. Tante tiba tiba berbisik, “Mas, jangan digoyang dulu ya, biar tante yang goyangin”. Aku menurut saja, dan mulailah tanteku meletakkan kedua kakinya di pantatku, lalu mulai bergoyang, pertama memutar ke kiri dan ke kanan, kadang-kadang disodoknya ke atas. Aku hanya memejamkan mata merasakan kenikmatan yang tak pernah aku dapat ini, “Enak mana punya tante sama Asri, Mas?”. Aku tak menjawab pertanyaan tante ini, karena jujur saja Mbak Yuri, punya tanteku lebih nikmat dari vagina Asri isteriku. Tak tahan dengan putarannya, apalagi tanteku terus membisikkan kata-kata yang membuatku makin terangsang, akupun ikut-ikutan menggerakkan burungku maju mundur. Sementara buah dada tanteku sudah rata kuciumi dan kugigiti, tadinya aku takut untuk membuat cupangan didadanya, tetapi justru Tante Murni yang menyuruhku. Beberapa saat kemudian aku rasakan sesuatu seakan mendesak untuk dikeluarkan. Kutekan sedalam-dalamnya dan meledaklah semua kenikmatan di dasar kewanitaannya. Tanteku tersenyum dalam kegelapan melihat aku mencapai kepuasan itu. “Mas, ini baru komplit ya”!, bisiknya. Setelah merasakan tuntasnya semprotan spermaku, Tante Murni mendorong tubuhku ke samping, dan dengan lembut dikulumnya burungku, aku menolak karena terasa geli sekali membuat sakit di batang burungku, tetapi tante tak mempedulikanku, terus saja dia menjilati sehingga burungku hingga bersih. Sampai sekarang aku selalu merindukan persetubuhan dengan Tante Murni ini. Seringkali aku melamun dan menganalisis apa yang menyebabkan begitu nikmatnya rasa persetubuhan dengan dia. Jawabnya hanya satu, suasana yang penuh resiko, membuat rangsangan yang berbeda dan membuat aku menjadi penuh gairah.<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pengalaman-ku-dengan-tante-murni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis manis di saat ospek kampus</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:35:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma belajar di Bandung ini. Siapa tahu bisa jadi tukang insinyur. Aku tinggal di kawasan Dago, menempati sebuah rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan beberapa kamar kosong. Hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma belajar di Bandung ini. Siapa tahu bisa jadi tukang insinyur. Aku tinggal di kawasan Dago, menempati sebuah rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan beberapa kamar kosong. Hanya ada aku, seorang pembantu yang cukup tua dan dua ekor anjing peliharaanku serta beberapa ikan di dalam akuarium di sudut ruang tamuku. Keluarga pamanku tinggal di Inggris, karena tugas belajar yang harus ia lakukan.</p>
<p>Berawal dari inisiasi dan orientasi kampus yang dilakukan kakak-kakak tingkatanku, aku berkenalan dengan seorang teman gadis bernama Santi. Gadis yang manis, dengan tinggi sekitar 160 cm, berkulit kuning langsat. Waktu itu, aku sangat kasihan kalau melihat ia menerima hukuman yang menurutku sangat dibuat-buat oleh seniorku. Disuruh mencium-lah, meraba, dan push-up di bawah mereka. Akh… sialan, seribu topan badai! Aku sungguh tidak terima dan biasa gaya sok jagoanku muncul. Kudekati seniorku dan kuhajar dengan beberapa jurus perkenalan dariku. Yah, gini-gini aku cukup menguasai karate dan pencak silat, menyerang dan bertahan, dua hal yang sangat kusenangi. Maklumlah aku suka berkelahi dari kecil.</p>
<p>Beberapa senior pun mulai mengeroyokku. Sambil tentu saja, terjatuh-jatuh menerima tendangan dan libatan tanganku. Apa hendak dikata salah satu senior, yah mungkin ia termasuk pimpinan mahasiswa di kampusku melerai kami dan memberi hukuman pada kami semua. Lari-lari mengitari kampus sambil menyanyi dan menari, dasar!</p>
<p>But never mind, yang terpenting gadis manis itu tidak lagi digoda dan diganggu. Mungkin mereka malu atau takut kalau selesai masa yang harus dilalui mahasiswa baru ini bakal ketemu aku dan bisa benar-benar kuhajar mereka. Bagaimanapun yang lemah harus dibela.</p>
<p>Seminggu kemuRatna, baru kutahu gadis itu satu kelas denganku dan kami pun berkenalan.<br />
“Hai…, terima kasih yah kemarin kamu menolongku. Gara-gara aku, kamu jadi kena masalah deh.” Hey dia menyapaku duluan.<br />
“Ah ndak kok, itu sih urusan kecil buatku”, sambil tersenyum kusapa balik.<br />
“Oh, yah kita belum berkenalan kemarin, nama kamu siapa?” Aku bertanya seolah aku belum tahu namanya. Hi.. hi.. padahal aku sudah tahu namanya dari senior-seniorku.</p>
<p>“Santi, kamu?” Duh mak, nih gadis benar-benar manis sekali, senyumnya aah…, apalagi matanya, bulat dengan alis yang tertata rapi berwarna hitam, serasi sekali</p>
<p>“Hey… kamu kenapa?” Duh ketahuan kalau lagi terpana. Eh, nih anak pakaian dan celananya seksi and ketat sekali, mengundang perhatian cowok, pikirku. Beda sekali denganku, celana jeans belel dengan kemeja panjang kedodoran, potongan rambut pendek cepak dan memakai jam tangan yang besar. Pokoknya aku senang seperti ini, dulu aku terkenal cool di antara teman-teman cowok SMU-ku di Malang.</p>
<p>“Ah.. yah.. namaku Ratna, lengkapnya Dian Ratnasari. Tapi kamu boleh panggil aku apa saja, tapi Ratna lebih nikmat kedengarannya, he.. he.. he.” Jadi grogi juga nih.</p>
<p>“Hmm.., kamu tinggal di mana?” tanyaku, siapa tahu kan nanti dia lebih rajin punya catatan, kan bisa kupinjam. Dasar otak nakal dan pemalas. Aku heran juga, dari kecil aku tidak suka belajar tapi aku bisa dengan mudah menerima apa pun dalam otakku. Bukannya sombong tapi yah.., cuma begitu saja.</p>
<p>Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri, ketika ia menegurku, “Ian, kamu duduk di sebelahku yah”, pintanya. Aku hanya manggut-manggut saja mengiyakan sambil terus berjalan menuju kelas kami.<br />
“Eh, kamu ini lucu juga yah, dari tadi senyum-senyum sendiri hihihi”, ia tertawa kecil. Duh maak manisnya temanku ini.</p>
<p>Tiba-tiba dari arah belakang terdengar kegaduhan kecil, ternyata segerombolan cowok-cowok mengganggu dan mempermainkan salah seorang teman kami yang lebih kecil ukurannya dari mereka, mungkin sekitar 155 cm. Oh, yah aku sendiri 172 cm dan beratku 60 kg. Cukup tinggi besar untuk ukuran cewek kali, yah?</p>
<p>Lagi-lagi aku belagak nih, padahal memang tanganku gatal ingin meninju orang, habis sedang gregetan nih sama Santi. Kusambar salah satu cowok dan tendanganku sangat tepat bersarang di bawah perutnya, yah si-xxx, tahu temannya menjerit, mereka berhenti dan memandangku. Ada kemarahan di wajah mereka, namun aku tidak tahu kenapa, mereka langsung ngeloyor pergi sambil membantu temannya berjalan. Akh, aku puas juga. Sejak saat itu, aku cukup disegani di kampusku, mungkin juga mereka telah membaca biodataku di buku tahunan.</p>
<p>Kembali menjajari Santi, aku bertanya lagi, “Eh, di mana rumah kamu?”.<br />
Dia tersenyum, “Kamu masih inget dengan pertanyaanmu setelah berkelahi barusan?”, berkata begitu, tangannya menempel di pundakku dan turun menggandeng tanganku.<br />
“Yah, sekali lagi, itu hal kecil buatku, habisnya mereka seenaknya mengganggu orang lain”, gumamku sambil menikmati sentuhan alami lengan dan jari-jari kami yang saling mengait.<br />
“Ah, sudahlah, jangan dibicarakan lagi”.<br />
Bosan juga aku, kan aku pingin tahu tentang anak satu ini eh, malah melenceng dari pokoknya.</p>
<p>“Aku tinggal di Taman Sari”, jawabnya. Akhirnya meluncur juga jawabannya.<br />
“Tinggal dengan siapa?”, tanyaku agak bingung, maklum sendirian sih aku.<br />
“Kost, ama teman-teman juga.., banyak kok”, Ia menjawab sambil memilih tempat duduk untuk kami berdua. Ok, di pojok belakang, jadi aku bisa tidur nih.<br />
“hh, boleh main nih, aku bosan sendirian di rumah”, timpalku.<br />
“Aksen kamu sepertinya bukan dari sini, kalau aku dari sekitar sini juga sih, kamu bukan orang sini, kan?”, Ia balik bertanya padaku. “Iyah, aku bukan orang sini, tapi aku tinggal di rumah pamanku, sekalian jaga rumahnya.”</p>
<p>Kuliah pertamaku dimulai, akh bosan rasanya. Tanpa sengaja tanganku merangkul kursi sebelah dan menempel di punggung Santi. Antara sadar dan tidak, maklum mengantuk, aku seperti merasakan gesekan halus di tangan kananku. Jantungku berdesir dan mulai berdegup kencang.</p>
<p>Kutengok, ternyata punggungnya benar-benar ia gesekkan ke tangan kananku hingga jamku pun tertarik ke atas-bawah, ke kanan-kiri, akhh aku mulai menikmati permainan ini. Bibirnya terbuka sedikit, ia menengadah dan lehernya yang jenjang kulihat sangat menantangku. Akh, aku ingin mengecupnya, duh aku bergetar. Ada apa ini?</p>
<p>Aku duduk dengan gelisah, akh dia mempermainkan nafsuku. Aduh bisa pening aku dibuatnya. Aku berdoa, semoga kuliah ini cepat selesai. Dengan sedikit keberanianku, Iih.., aku takut kalau ketahuan teman lain. Telapak tangan kananku mulai meraba dan meremas bahu dan terus turun ke punggung, pinggang, dan berhenti di antara dua kantong saku di belakang jeansnya. Ia mulai menggoyang pantatnya, geser depan-belakang, kanan-kiri. Kuremas salah satu pantatnya yang muat juga di tanganku. Hehehe ternyata cukup kecil, tapi kenyal, dan enaak sekali. Nafasku pun memburu dengan cepat. Akhh lamanya kuliah ini.</p>
<p>Akhirnya, kuliah selesai juga. Permainan kami pun berhenti. Aku tersenyum dan ia pun membalas senyumku dan mengajakku ke belakang (toilet wanita). Duh, gila juga Santi, apa orang sini berani-berani yah. Tanpa ba-bi-bu kuikuti langkahnya dan pokoknya kami sudah ada di dalam. Cukup sepi, karena terhitung masih pagi, belum ada yang ke belakang. Aku bersyukur juga. Lagian yang namanya makhluk berjenis kelamin perempuan tidak begitu banyak. Aku pikir-pikir cukuplah bermain 15 menit.</p>
<p>Aku duduk di closet dan dia kupangku. Kepalanya tepat di hadapanku. Kami hanya berjarak berapa inchi saja. Nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Hidungnya yang agak mancung, ia gesek-gesekkan di hidungku, ih geli juga. Aku tidak tahan.</p>
<p>“Hey, I can lift you”, sambil tersenyum ia berkata.<br />
“Aku cuman 48 kok, San”, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kugendong ia dan aku duduk kembali. Ia tertawa lirih.</p>
<p>Tanganku terus meraba paha, terus ke belakang, meremas pantatnya ke atas menelusuri pinggang dan mulai menyelusup di balik kaus ketatnya, tiap gunung kembar itu teraba olehku nampak kausnya bertambah padat dan ia busungkan dadanya sambil menggeliat menahan nafsu birahinya, duh menempel di punyaku, menekan dan, “Terus.., lagi.., dan…” Aku tak sabar, kubuka kaus ketatnya dan gila, Santi benar-benar berbody indah, aku merasa yang di bawah mulai berdenyut-denyut. Bra-nya yang putih kecil, seakan tak mampu menutupinya, kubuka sekalian, dan nampaklah gunung itu atau bisa dikata bukit sajalah. Kecil dan menantang, kuelus dan kujilati, akh harum, keringatnya mulai keluar satu-satu agak asin. Akh, aku semakin gila. Kuremas pantatnya, kutekan ke selangkanganku, akh ia meremas rambutku dan menekan kepalaku tepat di belahan itu. Akhh! ia mulai menjepit kepalaku, akhh aku hampir tak bisa bernafas. Gila kencang sekali mainnya! Kecil-kecil cabe rawit. Duh, nafasku sesak nih. Sambil terus kutekan pantatnya ke perutku.</p>
<p>Akh, lepas juga kepalaku setelah itu ia menjerit pelan, kaget juga aku, kenapa dia? Baru sekali ini aku melakukan permainan kait-mengait. Apalagi dengan seorang gadis. Eeh, apa dia masih gadis? Entar kutanya, tapi mataku sempat melirik jam tanganku dan aku mengerti permainan ini harus ditunda, ada kuliah lagi.</p>
<p>Kukecup lembut dan lidahku masih ingin melumat kedua bukit itu, kupasang kembali bra dan kaus ketatnya.<br />
“Entar lagi, yah”, kataku, ia tersenyum.<br />
“Makasih, Yan”.<br />
Kutepuk-tepuk pantatnya dan segera kuputuskan.<br />
“San.., kamu mau pindah ke rumahku?”, tanpa pikir panjang juga ia mengangguk. Kuturunkan dia dan aku merasa CD-ku seperti lembab dan lengket.</p>
<p>“San, entar dulu yah”, sambil kubuka retsluiting celanaku dan kuraba yang di balik CD-ku yaitu selangkanganku. Jariku basah seperti ada jelly. Ada apa nih? Seketika kubuka agak lebar dan aku melongok untuk melihatnya lebih jelas. Santi meraih jariku yang basah dan menghirup serta menjilatinya, “Enak, asin, gurih, harum selangit!” terpana aku melihat mulutnya yang bergetar ketika menggumamkan kata-kata itu.</p>
<p>Tangannya menuntunku memasuki celana ketatnya dan terus ke bawah dan di balik CD-nya, basah juga. Kenapa kami, yah? Bingung juga yah aku waktu itu. Hehehe, aku mulai menyukai permainan ini. Telapak tanganku ternyata cukup menutupi selangkangannya, ia gesek-gesekkan dan aku mulai menekan kemaluannya, jari tengahku mulai bermain-main kesana-kemari. Kembali Santi menggeliat dan mengerang lirih. Duh, apa toilet ini memang kosong yah? Gila juga nih anak, pakai acara mengerang segala apalagi pakai menjerit.</p>
<p>Eh, seakan ia tahu apa yang kupikir, ia berhenti dan hanya menggigit bibirnya. Aku tidak tahan, kulumat lagi bibirnya dan kubuka pelan dengan mulutku, dan kami berpagutan lagi. Lidahku dan lidahnya berkaitan dan lama. Matanya terpejam dan akh.., aku menemukan daging kecil di dalam, jariku menerobos dan mulai masuk sedikit.</p>
<p>Tiba-tiba meluncur pertanyaan di otakku, refleks kukatakan padanya, “San, kamu pernah melakukan beginian?”.<br />
Ia menjawab pelan, “Belum, Yan.., baru sama kamu.”<br />
“Jadi kamu masih gadis, masih punya selaput?”, kataku.<br />
“Iya, masih. Pelan aja Yan entar sakit.”<br />
“Maaf, San. Lebih baik nggak sekarang, ada kuliah kan.”</p>
<p>Kulihat Santi kecewa, tapi demi amannya saja sih, padahal sungguh aku bodoh sekali pelajaran biologi, jadi aku tidak tahu berapa jarak selaput itu dari luar vagina. Kutarik jariku dan ia pun menjilatinya sampai bersih. Ok, entar lagi. Nikmat juga jilatannya.</p>
<p>Singkat cerita, Santi pindah ke rumah tinggalku dan dia tak mau beda kamar. Inginnya satu kamar denganku. Yah, tidak apa-apa sih, lumayan ada yang menemani. Aku memiliki kebiasaan bermain gitar di sore hari, karena hanya gitar yang bisa kumainkan. Kini tiap kali aku mainkan senar gitar Santi selalu menyanyi merdu hanya untukku seorang. Terkadang aku duduk di kursi malas beranda luar menghadap taman dalam. Santi datang dan duduk mengangkangi kedua kakiku. Ia suka sekali memakai daster pendek di atas lutut dengan CD yang terlihat bila angin bertiup agak kencang atau ketika ia mengangkat kakinya. Pokoknya hal-hal mudah seperti itu sudah cukup merangsang nafsuku. Apalagi bila malam tiba, Santi memakai kimono sutra yang sekali talinya kubuka, nampaklah semuanya.</p>
<p>Tiap malam ia membuatkan aku susu kegemaranku. Saat aku asyik duduk di komputer sedang online atau mengerjakan tugas, Santi menghampiriku dan menempel di punggungku. Hal ini sangat kusukai dan Santi tahu itu. Aku merasakan lekukan bibir kemaluannya, bukitnya dan ia menempelkannya, merenggangkannya akhh.., mengaduk-aduk emosiku. Segera aku membalikkan badanku. Kurengkuh tubuhnya dan kukempit kakinya dengan kedua pahaku yang kuat, kadang Santi meronta dan aku pun melepaskannya, biasa kami berlarian seperti dua orang kakak beradik bermain kejar dan tangkap. Aku sungguh menyukai permainan ini. Kadang Santi tiba-tiba mengerem dan membalikkan tubuhnya dan tentu saja aku menubruknya dan jatuh bersama bergulingan saling menindih. Nafas kami yang tak beraturan karena berlari-lari saling memburu dengan kecupan-kecupan yang semakin menambah ketidakberaturannya nafas kami. Buah dada kami saling menggesek dan, “Berat ah.. Yan”, aku lalu dengan sigap ganti posisi di bawah, dan ia menyeringai puas karena Santi sangat tahu aku sangat menyayanginya dan tidak mau ia merasa sakit atau apapun. Dan mau tahu apa yang ia lakukan tiap itu terjadi? Santi mengambil susu itu dan menuangkannya di vaginanya dan aku menjilatinya hingga kepuasan yang amat sangat pada kami berdua. Coba saja deh atau kalau siang bisa saja pakai es sirup, dengan dingin yang mengalir pelan rasakan.</p>
<p>Kami saling menjaga, menyayangi, dan berusaha memberikan kepuasan. Namun pernah suatu ketika ia sakit demam, duh aku bingung sekali. Kukompres ia kalau panas dan kuselimuti ia sewaktu dingin menyerangnya. Tapi ia tak mau selimut, ia mau tubuhku menyelimutinya dan sekali lagi ia sangat tahu kalau aku benar-benar hanya bertindak sebagai penghangat tubuhnya dengan kekhawatiran di wajahku yang sangat dihafalnya. Santi sangat menyukai sikapku yang melindungi dan menyayanginya. Sikap yang dapat membedakan kapan bermain dan kapan harus menjaga dan merawat.</p>
<p>Santi sangat akrab dengan keluargaku, begitu juga aku. Keluarganya dan keluargaku telah saling mengenal dan tidak mempermasalahkan hubungan kami. Aku bungsu dari empat bersaudara, kupunya 1 orang kakak laki-laki dan 2 kakak perempuan sedangkan Santi sulung dari tiga bersaudara, 1 orang adik perempuan dan 1 orang adik laki-laki. Kemana pun kami selalu berdua, ke supermarket beli bahan kebutuhan sehari-hari, ke mall untuk cari pakaian atau keperluan lain, ke toko-toko buku, ke bioskop buat nonton, dan lain-lain kecuali kalau aku dan ia sedang memiliki aktivitas yang berbeda. Aku senang berorganisasi dan berolah raga sedangkan ia suka melukis dan bermain musik.</p>
<p>Dini hari saat fajar tiba, sambil tidur aku selalu merasakan sesuatu yang berdenyut di bawah dan refleks aku menempel lekat ke tubuhnya, entah itu punggung dengan sentuhan pantat hangatnya atau langsung perut dengan bukit kembar dan selangkangan yang mengaitku. Santi mengerti kebiasaanku di setiap fajar dini hari dan kami pun saling menggesek.</p>
<p>Sekali merengkuh tubuhnya, ia jatuh menindihku dan berbaring tiduran di tubuhku. Enak katanya, merasakan pelukanku yang hangat, maklum kota ini lumayan dingin. Pokoknya kami melakukan itu kapan saja. Tidak ada bosan-bosannya, soalnya kami mulai ahli sih. Kami mengubah posisi setiap kali mulai bosan dan yahud juga!</p>
<p>Aku mulai mengerti apa yang namanya liang garba itu. Wah, indah sekali, berapa jarak selaputnya, apa itu clitoris, dan perlu dicatat, sampai kini selaput itu belum robek. Aku tidak mau kalau ia sakit, jadi mulutku hanya mengecup, mengulum dan lidahku menjilati agak ke dalam. Ia sangat menyenangi posisi di atas dan aku di bawah. Terkadang aku bertahan cukup lama, kasihan Santi sudah 2-3 kali keluar baru aku keluar. Kalau aku tentu saja suka posisi kaki saling mengait dan selangkangan kami saling menempel dan bergesek semakin kencang, jadi kami bisa orgasme bersama. Tahu kan caranya. Begini, kuangkat kaki kirinya, kuselipkan kaki kiriku, dan kedua kaki kami saling membelit. Posisi ini menyebabkan cairan kental dari kedua kemaluan kami yang keluar bersamaan bercampur dan euunaak sekali. Kadang dengan cara ini Santi sudah sangat kewalahan mengatur nafas, memekik dan menggeliat kencang, tempat tidurku pun berantakan tiap kali kami main di kamar. Perlu dicatat, selesai permainan dan mandi, tempat tidurku kembali sangat rapi karena Santi orang yang sangat rajin dan menjaga kebersihan. Tidak sepertiku, ceroboh.</p>
<p>Kalau di dapur saat ia memasak aku merengkuhnya dan mengecup lembut lehernya serasa kami sepasang suami istri selayaknya, mendudukkannya di meja dan biasa aku rentangkan kedua paha itu dan mulai mencumbuinya, kubuka celanaku dan kugesekkan CD-ku ke CD-nya. Enak lho. Kalau kami bermain di kamar mandi, yah seperti dua anak kecil yang berteriak-teriak kegirangan saling menyiram tempat-tempat sensitif yang sudah sangat kami hapal sambil menciumi tempat-tempat itu. Bath-up yang sudah mulai terisi dengan busa sabun kuoleskan ke seluruh tubuhnya, terutama di-xxx-nya, pelan karena aku takut kalau ada apa-apa. Santi senang sekali telentang di atas tubuhku, “Nyaman, Yan?” katanya sambil mencari di mana pinggangku. Kupeluk erat ia, kurasakan gunungku menekan punggungnya dan satu hal aku nggak senang posisi ketika ia membalikkan badannya tepat ke arahku (di bath-up). Pernah ia coba dan aku tidak enjoy melihat kesulitannya mencumbuiku.</p>
<p>Permainan di beranda pun kami buat berbeda, seperti sepasang kekasih yang tenang saling membelai dan menata taman sambil tiduran di luar, kami sangat menikmati tidur di atas rumput yang lembut. Cuma kadang aku sangat risih melihat semut. Jadi kami nggak begitu memaksakan diri tiduran di taman. Atau aku cemburu dan takut sama semut, kalau-kalau semut itu memasuki area xxx dan menggigit vagina kekasihku. Akhh kan kasihan Santi hanya bisa meringis kesakitan. Nah, kalau yang ini, di tempat tidur kami seperti dua orang gila yang selalu tergila-gila. Banyak posisi yang kami lakukan, pasti kalau dapat dengan alami melakukanya. Intinya cuma satu, ikuti kata hati, kalau mau stop ya stop, mau nge-sun, sun saja, mau membelai, belai aja, kalau mau maju yah maju, kalau mau ganti yah ganti posisi, begitu saja, sepele. Dan seperti telah menjadi suatu kewajiban bagi Santi untuk selalu membersihkan punyaku dan aku begitu juga, menjilati dan saling menghangati kedua vagina kami dengan telapak tangan yang saling kami selipkan di antara kedua paha kami dan hehehehe. Hangat kan, coba deh.</p>
<p>Pernah suatu ketika aku berkonsultasi ke seorang ahli dan beliaunya menjawab kalau aku sebenarnya termasuk transexsual, berjiwa dan bertingkah laku laki-laki namun tubuh wanita, jadinya setengah-setengah dengan hormon yang lebih banyak jenis laki-laki. Yang umum sih salah satu lebih besar dan mengikuti hormon kelaminnya. Kalau aku mau, kata beliaunya bisa saja bedah kelamin. Tapi biaya yang dikeluarkan pun sangat besar. Yah, sudahlah aku seperti ini saja. Dan selama ini Santi selalu mendampingiku entah sampai kapan. Sudah dua tahun ini aku nyambi bekerja di kontraktor dan aku menikmatinya. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku sebenarnya sanggup menghidupi kami berdua dengan 3 orang sekaligus, misalnya. Mungkin selesai kuliah ini, selesai semuanya. Aku pernah tanyakan kepadanya dan ia hanya tersenyum saja. Ia berkata “Yan, jangan pikir sekarang, apa yang terjadi besok adalah misteri bagi kita semua, kecuali hal-hal yang telah kita persiapkan”, dan kalian tahu sampai saat ini aku belum tahu apa maksud dari perkataannya.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gadis-manis-di-saat-ospek-kampus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>derita anak tiri</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:34:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2356</guid>
		<description><![CDATA[Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marina gadis muda jelita, usianya baru tujuh belas tahun, hidup bersama ibu dan ayah tirinya. Ayah kandungnya telah meninggal dunia delapan tahun yang lalu. Rupanya ayah tirinya yang baru berusia tiga puluh enam tahun itu, telah lama menaruh rasa penasaran untuk mencicipi perawan yang masih ranum itu. Sang ayah tiri meneguk air liur setiap menyaksikan pinggang, pinggul dan pantat Marina yang indah dan seksi, apalagi bila Marina sedang berjongkok mengepel lantai dengan pakaian seadanya, wah, Daud melotot matanya. Timbullah hasratnya untuk menyaksikan tubuh sang anak tiri yang indah polos tanpa pakaian. Daud mendapat akal, suatu hari ketika Marina dan ibunya sedang keluar rumah, Daud bekerja keras membuat lubang di dinding kamar mandi yang hanya terbuat dari papan.</p>
<p>Suatu hari ketika Marina hendak pergi mandi Daud bersiap menunggu sambil mengintip dari lubang kamar mandi yang telah dibuatnya, Marina memasuki kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk melilit di tubuhnya, setelah mengunci pintu kamar mandi dengan tanpa ragu Marina melepaskan handuknya, Daud menelan liurnya menyaksikan pemandangan indah yang terpampang di depan matanya, pemandangan indah yang berasal dari tubuh indah anak tirinya, tubuh yang begitu sekal padat, ramping dan mulus itu membuat gairah Daud bergejolak, apalagi sepasang payudara yang begitu mulus dengan sepasang puting susu berwarna merah jambu menghias indah di puncak payudara yang sekal itu, mata Daud melirik ke arah selangkangan gadis itu tampak bulu-bulu halus indah menghias di sekitar belahan kemaluan perawan itu yang membukit rapat. Semua itu membuat dada Daud bergetar menahan nafsu, membuatnya semakin penasaran ingin menikmati keindahan yang sedang terpampang di depan matanya. Daud tahu Marina sering keluar dari kamarnya pada malam hari untuk pipis.</p>
<p>Pada malam berikutnya, Daud dengan sabar menunggu. Begitu Marina memasuki kamar mandi, Daud membarenginya dengan memasuki kamar Marina. Daud menunggu dengan jantung berdebar keras, begitu Marina masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu Daud muncul dari balik lemari, Marina terbelalak, mulutnya menganga, buru-buru Daud meletakkan telunjuk ke mulutnya, isyarat agar Marina jangan berteriak, Marina mundur beberapa langkah dengan ketakutan. Daud maju dan tiba-tiba menyergapnya Marina siap menjerit, tetapi Daud dengan cepat menutup mulutnya. “Jangan menjerit!”, Daud mengancam. Marina semakin ketakutan, badannya gemetar. Daud memeluk gadis yang masih murni itu, menciumi bibirnya bertubi-tubi. Marina terengah-engah. “Jangan takut, nanti kuberi uang”, kata Daud dengan nafas menggebu-gebu. Bibir Marina terus diciumi, gadis itu memejamkan matanya, merasakan nikmat, dengan mulut terbuka. Tanpa sadar, rontaan Marina mulai melemah, bahkan kedua lengannya memanggut bahu Daud. Sekilas terbayang adegan di buku porno yang pernah dilihatnya.</p>
<p>Alangkah gembiranya Daud ketika Marina mulai membalas ciuman-ciumanya dengan tak kalah gencarnya. “Pak, Pak jangan…!”, Walaupun mulutnya berkata jangan, tetapi Marina tidak mengadakan perlawanan ketika gaunnya di lepas. Dalam sekejap, Marina hanya mengenakan beha dan celana dalam saja, itupun tidak bertahan lama. Daud mencopoti bajunya sendiri. Marina menghambur ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Marina menghadap tembok, menunggu dengan dada bergetar, di hatinya terjadi pertentangan antara nafsu dan keinginan untuk mempertahankan kehormatannya, namun nafsulah yang menang. Selimut yang menutupi tubuh ditarik, Marina dipeluk dari belakang dan dirasakannya hangatnya pisang ambon Daud mengganjal dan menggesek-gesek di belahan pantatnya, Marina menggigil.</p>
<p>Dengan bernafsu Daud menciumi kuduk Marina, gadis itu menggelinjang-gelinjang, rasa nikmat menyelusup ke pori-porinya. Daud membalikkan tubuh Marina hingga telentang, gadis itu meronta hendak melepaskan diri, Daud menindihnya, tangannya meraba-raba bongkahan buah dada Marina. Dada yang ranum dan sehat, yang selama beberapa hari ini mengisi khayalan Daud. Kembali rontaan-rontaan Marina melemah, dirasakannya kenikmatan pada buah dadanya, yang diciumi Daud dengan berganti-gantian. Dada yang kenyal dan masih segar itu bergetar-getar, Daud membuka mulutnya dan melahap putingnya yang merah jambu. Marina menjerit lirih, tetapi segera tenggelam dalam erangan kenikmatan. “Pak, mm.., mm.., ja..ngan ssshh mmphh…, sshh..”.</p>
<p>Akhirnya Marina tidak lagi memberontak, dibiarkannya payudara kiri dan kanannya dijilati dan dihisap oleh Daud. Aroma harum yang terpancar dari tubuh perawan itu benar-benar menyegarkan, membuat rangsangan birahi Daud semakin naik. Kedua bukit indah Marina semakin mengeras dan membesar, puting yang belum pernah dihisap mulut bayi itu kian indah menawan, Daud terus mengulum dan mengulumnya terus.</p>
<p>“Pak, Saya.., takuut”, Suara Marina mendesah lembut.<br />
“Jangan takut, tidak apa-apa nanti kuberi uang..”, dengan napas memburu.<br />
“Ibu, pak. Nanti ibu bangun.., sshh.., aah..”.<br />
“aakh.., ibumu tidak akan bangun sampai besok pagi, ia sudah kuberi obat tidur”.</p>
<p>Marina mulai mendesah lebih bergairah ketika tangan Daud mulai bermain di bukit kemaluannya yang membengkak. Daud menekan-nekan bukit indah itu. “Kue apemmu hebat sekali”, bisik Daud sambil berkali-kali meneguk air liurnya, tangan Daud menguak belahan kue apem itu. Marina yang semula mengatupkan pahanya rapat-rapat kini mulai mengendurkannya, bagaimana tidak? Sentuhan-sentuhan tangan Daud yang romantis mendatangkan rasa nikmat bukan kepalang apalagi batang kemaluan lelaki yang tegak itu, menggesek-gesek hangat di paha Marina dan berdenyut-denyut. Sebenarnya Marina ingin sekali menggenggam batang kemaluan yang besarnya luar biasa itu.</p>
<p>Sementara itu Daud menggosok-gosokkan tangannya ke bukit kemaluan yang ditumbuhi rambut halus yang baru merintis indah menghiasi bukit itu. “Sssssh…, mmh…, sssh…, aakh..”, Mata Marina membeliak-beliak dan pahanyapun membuka. Daud menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vagina Marina yang masih rapat walau sudah dikangkangkan. Secara naluriah Marina menggenggam batang penis Daud, ia merasa jengah, keduanya saling berpandangan, Marina malu sekali dan akan menarik kembali tangannya tetapi dicegah oleh Daud, sambil tersenyum, lelaki yang cukup ganteng itu berkata, “Tidak apa-apa, Marina! Genggamlah sayang, berbuatlah sesuka hatimu!”. Dan dengan dada berdegup Marina tetap menggenggam batang penis yang keras itu. Daud merem-melek menikmati belaian dan remasan lembut pada batang penisnya. Sementara itu tangan Daud mulai menjelajahi bagian dalam kemaluan Marina, gadis itu menjerit kecil berkali-kali. Bagian dalam kemaluannya telah basah dan licin, ujung jari Daud menyentuh-nyentuh clitoris Marina. Marina menggelinjang-gelinjang.<br />
“Bagaimana Mar?”, tanya Daud.<br />
“Enaakh…, Paak!”, Jawab Marina.</p>
<p>Daud semangkin gencar menggempur vagina Marina dengan jari tangannya. Lalu Daud menundukkan kepalanya ke arah selangkangan Marina. Dipandanginya belahan vagina yang begitu indahnya, menampakkan bagian dalamnya yang kemerahan dan licin. Daud menguakkan bibir-bibir kemaluan itu, maka kelihatanlah clitorisnya, mengintip dari balik bibir-bibir kemaluan Marina, Daud tidak dapat menahan dirinya lagi, diciumnya clitoris Marina dengan penuh nafsu. Marina menjerit kecil.<br />
“Kenapa Marina? Sakit?”, tanya Daud di sela kesibukannya.<br />
Mariana menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kakinya. Dengan bernafsu Daud menjilati vagina Marina dan lidahnya menerobos menjilati bagian dalam dari kemaluan Marina, melilit dan membelai clitorisnya. Marina semakin tidak tahan menerima gempuran lidah Daud, tiba-tiba dirasakannya dinding bagian dalam kemaluannya berdenyut-denyut serta seluruh tubuhnya terasa menegang dan bersamaan dengan itu ia merasakan sesuatu seperti akan menyembur dari bagian kemaluannya yang paling dalam.</p>
<p>“aakh…, uuggh…, Paakk..”, Marina mendesah seiring menyemburnya air mani dari dasar lubuk kemaluannya. Sementara Daud tetap menjilati kemaluan Marina bahkan Daud menghisap cairan yang licin dan kental yang menyembur dari kemaluan Marina yang masih suci itu, dan menelannya.<br />
“Sungguh nikmat air manimu Mar”, bisik Daud mesra di telinga Marina. Sementara Marina memandang memelas ke arah Daud, dan Daud mengerti apa yang diingini gadis itu, karena iapun sudah tidak tahan seperti Marina. Batang kemaluan Daud sudah keras sekali. Besar dan sangat panjang. Sedangkan bukit kemaluan Marina sudah berdenyut-denyut ingin sekali dimasuki penis Daud yang besar. Maka Daudpun mengatur posisinya di atas tubuh Marina. Mata Marina terpejam, menantikan saat-saat mendebarkan itu. Batang penis Daud mulai menggesek dari sudut ke sudut, menyentuh clitoris Marina. Marina memeluk dan membalas mencium bibir ayah tirinya bertubi-tubi. Dan akhirnya topi baja Daud mulai mencapai mulut lubang kemaluan Marina yang masih liat dan sempit. Dan Daudpun menekan pantatnya. Marina menjerit. Bagaikan kesetanan ia memeluk dengan kuat. Tubuhnya menggigil.</p>
<p>“Paak, oukh.., akh…, aakh…, ooough…, sakit Pak..”, Marina merintih-rintih, pecahlah sudah selaput daranya. Sedangkan Daud tidak menghiraukanya ia terus saja menyodokkan seluruh batang kemaluannya dengan perlahan dan menariknya dengan perlahan pula, ini dilakukannya berulang kali. Sementara Marina mulai merasakan kenikmatan yang tiada duanya yang pernah dirasakannya.<br />
“Goyangkan pinggulmu ke kanan dan ke kiri sayang!”, bisik Daud sambil tetap menurun-naikkan pantatnya.<br />
“Eeegh…, yaa…, aakkhh…, oough..”, jawab Marina dengan mendesah. Kini Marina menggoyangkan pinggulnya menuruti perintah ayahnya. Dirasakannya kenikmatan yang luar biasa pada dinding-dinding kemaluannya ketika batang penis Daud mengaduk-aduk lubang vaginanya.<br />
“Teee…, russ…, Paak…, eeggh…, nikmat…, ooough..!”, erang Marina. Daud semakin gencar menyodok-nyodok vagina Marina, semakin cepat pula goyangan pinggul Marina mengimbanginya hingga, “Ouuuughh…, sa.., saya…, mmaau…, keluar.., Paak..”.<br />
“Tahan…, sebentar…, sayang…, ooouggh..”.</p>
<p>Daud mulai mengejang, diapun hampir mencapai klimaksmya. “aaGhh…”, jerit Marina sambil menekan pantat Daud dengan kedua kakinya ketika ia mencapai puncak kenikmatannya. Bersamaan dengan tekanan kaki Marina Daud menyodokkan penisnya sedalam-dalamnya sambil menggeram kenikmatan, “Eeegghh…, Ooouugh..”. “Creeeet…, creeet…, creeeeeeeet..”. Mengalirlah air mani Daud membasahi lubang kemaluan Marina yang sudah dibanjiri oleh air mani Marina. Merekapun mencapai puncak kenikmatannya. Keduanya terkulai lemas tak berdaya dalam kenikmatan yang luar biasa dengan posisi tubuh Daud masih menindih Marina dan batang penisnya masih menancap dalam lubang kemaluan Marina.<br />
Enam bulan kemudian, Marina dan Ria meninggalkan kota kecilnya. Mereka ikut Om Jalil ke Jakarta. Om Jalil belum lama mereka kenal, tetapi mereka tidak peduli, mereka menginginkan hidup lebih baik ketimbang di kota kecilnya sendiri. Mereka tahu nasib apa yang bakal mereka terima di Jakarta nanti, diserahkan pada seorang germo yang namanya Tante Yeyet. Mereka pergi ikut Om Jalil tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Om Jalil menunggu mereka di stasion kereta api. Dari sanalah baru mereka bersama-sama menuju Jakarta. Ria berani ikut dengan Om Jalil ke Jakarta karena dia juga sudah tidak perawan lagi. Bukit kemaluannya sudah ditoblos oleh Pandy. Pandy adalah pria yang sangat berpengalaman dengan wanita. Pandy pandai merayu. Dan Marinapun tergelincir dalam rayuannya dan berhasil digagahi Pandy, ia merupakan orang kedua yang pernah merasakan nikmatnya vagina Marina selain ayah tiri Marina.</p>
<p>Sementara kereta berjalan dengan pesatnya. Dalam perjalanan mereka di malam hari yang selama delapan jam dalam kereta api, Om Jalil tidak dapat menahan hawa nafsunya berjalan dengan dua orang gadis cantik yang menggoda. Dengan sedikit memaksa Om Jalil mencoba untuk menggauli mereka. Pada waktu itu keadaan kereta yang mereka tumpangi tidak terlalu banyak penumpangnya sehingga banyaklah kursi yang kosong. Kebetulan deretan bangku di depan mereka kosong. Waktu itu lampu penerang gerbong sudah dipadamkan tinggal lampu remang-remang saja yang masih menyala menerangi keadaan gerbong yang mereka tumpangi.</p>
<p>“Kalian tentunya sudah berpengalaman dengan laki-laki?”, tanya Om Jalil memulai pembicaraan.<br />
“Belum Om”, jawab Ria dengan malu-malu.<br />
“Sudah berapa kali kamu merasakannya, Ria?”, tanyanya sambil memegang paha Ria yang hanya mengenakan rok mini dari bahan yang tipis.<br />
“Merasakan apa, Om?”, tanya Ria berpura-pura tak mengerti.<br />
“Merasakan hangatnya batang peler pria memasuki lubang kemaluanmu”, jawab Om Jalil dengan terus terang.<br />
“Saya, saya baru merasakannya sekali Om”, jawab Ria sambil menunduk.<br />
“Tidak usah malu, apakah kamu menikmatinya?”, Om Jalil mulai menebar jaringnya. Ria hanya mengangguk tanpa berkata apapun.</p>
<p>“Sedangkan kamu sudah berapakali kecoblos Mar?”, mengalihkan pertanyaanya pada Marina.<br />
“Dua kali, Om”, jawabnya singkat.<br />
“Syukurlah, jadi kalian sudah punya pengalaman”. Dia berhenti untuk menghisap rokoknya lalu mematikan rokok itu.<br />
“Tapi aku perlu untuk mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”, sambungnya sambil menghadap ke arah Ria.<br />
“Bagaimana caranya Om?”.<br />
“Dengan mencobanya langsung”, jawabnya tegas.<br />
“Mencoba langsung, di mana Om?”.<br />
“Di sini saja, toh semua penumpang sudah tidur”.<br />
“Tetapi..”.<br />
“Tenang saja biar Om yang mengaturnya”, potong Om Jalil sambil merangkul tubuh Ria yang ada di sebelah kanannya, lalu ia mulai menciumi bibir Ria. Ria terpaksa melayaninya demi lancarnya perjalanan mereka ke Jakarta. Setelah beberapa saat lidah mereka saling berpilin, tangan Om Jalil mulai beraksi menyelinap, meremas payudara Ria melalui bagian bawah kaos ketat yang dikenakan Ria. Ria menggelinjang menikmati sentuhan tangan Om Jalil yang sangat lincah meremas payudaranya, apalagi bibir Om Jalil yang menggerayangi lehernya.</p>
<p>Semakin ganas Om Jalil menikmati bukit indah milik Ria yang putih mulus itu setelah mengangkat kaos, dan melepas beha Ria. Sedangkan Marina hanya menatap mereka dengan kosong. Tiba-tiba tangan Om Jalil yang satu meraih tangan Marina. Tanpa perlawanan tangan itu ditaruh di atas batang penisnya yang masih dalam celana. Marina mengerti maksud Om Jalil, dengan segan-segan dibukanya ikat pinggang Om Jalil lalu diturunkan ritsluitingnya, dikeluarkannya kemaluan yang sudah digenggamnya dari celana dalamnya. “mmhh…”, desah Om Jalil menikmati remasan tangan halus Marina pada batang penisnya. Sementara tangan kanan yang bebas menjelajah ke dalam rok mini Ria, jari tangan kanannya dengan lincahnya mencoba melepaskan celana dalam yang dikenakan Ria.</p>
<p>Ria mengangkat pantatnya untuk memudahkan Om Jalil melepaskan penutup belahan vaginanya, Ria mengangkat satu kakinya untuk melepaskan celana dalamnya yang melorot sampai di mata kaki, bersamaan dengan itu itu jari-jari Om Jalil menerobos bibir vaginanya, lalu mempermainkan clitoris yang ada di dalamnya. Ria gelagapan menahan nikmat yang dirasakannya pada clitorisnya yang dipilin jari-jari Om Jalil, serta gigitan-gigitan lembut pada puting susu kanannya serta belaian-belaian yang diselingi remasan nikmat pada buah dadanya yang kiri. Sementara Marina tidak lagi meremas batang penis Om Jalil, tetapi dia menggocok batang penis itu dengan lembut. Pergumulan segitiga itu berjalan cukup lama hingga Om Jalil tak dapat lagi menahan nafsunya. “Pindahlah kamu ke bangku itu!” perintahnya pada Ria sambil menunjuk tempat duduk di seberang tempat duduk mereka.</p>
<p>Ria mengikuti perintah Om Jalil, dia duduk menyadar di tempat yang ditunjuk Om Jalil. Lalu Om Jalil berdiri menghadap Ria dengan batang penisnya yang panjang besar dan hitam menunjuk ke arah Ria, ditariknya kaki Ria hingga posisi gadis itu setengah rebah menyandar, lalu dikangkangkannya paha Ria hingga tampak olehnya belahan indah yang dihiasi bulu-bulu lebat dengan bagian dalam yang merah merona, lalu diarahkannya kepala penisnya yang merah mengkilap memasuki lubang vagina Ria. “Ssssshh…, aahh..”, desah gadis itu ketika dengan agak susah kepala penis itu memasuki lubang kemaluannya. Om Jalil sendiri merasakan nikmat luar biasa ketika kepala kemaluannya terjepit oleh bibir-bibir vagina Ria yang sempit, hingga ia tak melanjutkan gerakan mendorongnya untuk menikmati pijitan bibir vagina itu di kepala penisnya. Sedangkan Marina hanya menyaksikan adegan itu dengan dada bergetar menghayalkan hal itu terjadi pada dirinya.</p>
<p>Setelah terhenti beberapa kejap, dengan pasti Om Jalil melanjutkan dorongan pantatnya hingga, “Blueess…”. Seluruh batang kemaluannya amblas memasuki vagina Ria. Sedangkan Ria mengerang tertahan merasakan betapa batang kemaluan Om Jalil yang besar menyumpal di dalam lorong kemaluannya, membuat nafasnya terburu nafsu. Kenikmatan itu bertambah ketika Om Jalil menarik keluar batang kemaluannya hingga menimbulkan gesekan yang mengguncang seluruh tubuh Ria. Om Jalil memepercepat gerakan pantatnya mengeluar-masukkan penisnya hingga tubuh Ria terhentak-hentak kenikmatan, merasakan betapa dahsyatnya penis Om Jalil yang besar itu mengobrak-abrik lubang kemaluannya hingga membuatnya melenguh-lenguh nikmat.<br />
“Ouuugh…, eeeghh…, te..ruuus.., ooom…, jaa..ngan…, berhenti.”, desah Ria tertahan menikmati tarian penis Om Jalil dalam lubang vaginanya yang semakin basah dan licin hingga mengelurkan suara decak pelan. Semakin lama gerakan Om Jalil semakin gencar, dan remasannya pada payudara Ria semakin gemas, ditambah dengan gerakan pinggul Ria yang membuat batang penis Om Jalil seret keluar masuk, membuat keduanya tak dapat bertahan lebih lama lagi, hingga.., “Aah…, ahh…, essst…, esssst..”, desah Om Jalil sambil menggerakkan pantatnya dengan cepat.<br />
“Ouuugh…, eessstt…, eeengh…, aakh…, aakuu.., ti.., tidak.., taahaan.., laagi…, om..”, erang Ria hampir mencapai puncak orgasmenya.<br />
“Tung..guu.., sayang…, aakku…, juuggaa…, mmau.., ngecret..!”, ucap Om Jalil terputus-putus sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Ria.<br />
“aakuuu…, kee..keeluar.., Ooom..”.<br />
“Akuuu…, juuggaa…, aaghh..”, dan, “Creeet.., creeet.., crettt.”, tersemburlah cairan nikmat dari batang penis Om Jalil ke dalam vagina Ria.</p>
<p>Keduanya saling berangkulan mencapai puncak kenikmatan bersama-sama, cairan kental membanjiri vagina Ria dan membasahi penis Om Jalil. Sementara ketika Om Jalil dan Ria bertarung, Marina begitu terangsang melihat permainan mereka hingga tanpa sadar tangannya meremas buah dadanya dan mengelus-elus bibir kemaluannya dan mendesah-desah seorang diri, karena dibakar hawa nafsunya sendiri. Om Jalil dan Ria sama-sama terkulai setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan, sedangkan Marina merasakan denyutan-denyutan dalam liang vaginanya merindukan sentuhan kemaluan lelaki di dinding-dindingnya, semakin ia menahan gejolak nafsu itu semakin menggejolak nafsu itu dalam dadanya, akhirnya ia tak kuasa menahan diri, Marina bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan selangkangan Om Jalil yang bersandar memejamkan mata di bangku sebelahnya, ditatapnya kemaluan Om Jalil yang menggantung lunglai, dibelainya kemaluan yang besar itu, walaupun belum tegak berdiri. Semakin lama belaiannya semakin menggebu lalu diremasnya penis yang mulai bangun perlahan-lahan karena remasan-remasan jemari lentik Marina.</p>
<p>Om Jalil membuka matanya karena merasakan kegelian yang nikmat pada batang penisnya, dibiarkannya beberapa saat Marina yang belum tahu bahwa Om Jalil sudah terjaga, membelai dan meremas batang kemaluannya, Om Jalil berkata perlahan.<br />
“Kau menginginkannya?”.<br />
“I.., iya Om aa.., aku menginginkan burungmu”, jawab Marina dikuasai oleh nafsunya. Lalu Om Jalil memegang bahu Marina lalu mengangkatnya berdiri, ia menatap gadis di hadapannya, ia tahu bahwa Marina telah dikuasai oleh nafsunya, mulailah Om Jalil membelai tubuh Marina yang mengenakan gaun terusan tanpa lengan yang begitu minim. Tangannya meraba mulai dari bagian paha yang tak tertutup oleh terusan yang pendek itu, terus merambat menuju pada sepasang paha yang mulus itu sambil terus berdiri hingga pakaian Marina tertarik mengikuti gerakan berdiri Om Jalil, hingga Om Jalil berhasil melepaskan pakaian itu dari tubuh yang kini hanya mengenakan beha dan celana dalam. Kembali Om Jalil membelai tubuh itu dari atas ke bawah sambil bergerak duduk.</p>
<p>Setelah posisinya duduk berhadapan dengan selangkangan Marina yang hanya mengenakan celana dalam, tangannya bergerak melepas celana dalam itu hingga terpampanglah gumpalan bulu-bulu halus terhampar menghiasi sekitar bibir kemaluan yang begitu ranum dan menebarkan aroma yang menggairahkan hingga membuat darah Om Jalil menggelegar dan nafsunya mulai menanjak. Dengan kedua tangannya Om Jalil merengkuh bungkahan pantat Marina yang padat ke arah wajahnya, lalu dengan rakusnya Om Jalil melumat bibir kemaluan Marina dengan penuh nafsu. Marina mendesah kenikmatan sambil membelai rambut Om Jalil yang tengah melumat vaginanya.<br />
“Ooouugh…, Ooomm…, lakukanlah.., Oom.., aa.., aku…, dah ti..daak.., taahhan…, lagi..!”.</p>
<p>Om Jalil hanya tersenyum dan menjawab dengan perlahan, “Baiklah. Sekarang naiklah ke pangkuanku”, suruh Om Jalil pada Marina. Marina mengikuti perintah Om Jalil, dengan cepat ia duduk di pangkuan Om Jalil. Penis Om Jalil yang tegak menghadap ke atas meleset miring diduduki oleh Marina. Om Jalil berkata, “Bukan begitu caranya, sekarang berdirilah dengan lutut di atas bangku mengangkangi burungku!”, ajar Om Jalil pada Marina. Kini Marina mengangkangi Om Jalil yang duduk bersandar dengan penis tegak ke atas mengarah tepat pada bibir kemaluan Marina. Kembali Om Jalil memberikan instruksi kepada Marina, “Kini genggamlah burungku!”. Marina menggenggam penis Om Jalil. “Arahkan ke lubang memekmu!”, Kembali Marina menuruti perintah Om Jalil tanpa berkata apapun. “Turunkan pantatmu lalu masukkan burungku dalam lubang memekmu perlahan-lahan!”.</p>
<p>Marina mengerjakan semua perintah Om Jalil hingga…, “Sleeep….”, Kepala kemaluan Om Jalil yang besar itu menyelinap di antara dua bibir vagina Marina yang langsung menjepit kepala penis itu dengan ketat. Marina mendesah kenikmatan, “Oough…”. Dipegangnya bahu Om Jalil yang sedang merem-melek menikmati jepitan sepasang bibir vagina Marina yang kenyal dan sempit. Dengan suara terputus-putus kenikmatan Om Jalil berkata, “Yaakh…, begitu, sekarang turunkan pantatmu agar burungku dapat masuk lebih dalam!”, Marina menghempaskan tubuhnya ke bawah, dirasakannya betapa penis Om Jalil yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam liang vaginanya yang terdalam, yang belum pernah tersentuh oleh benda apapun karena penis Om Jalil adalah penis paling besar dan panjang yang pernah menerobos lubang vaginanya, dan itu memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan Marina sebelumnya. Om Jalil sendiri mengejang menikmati gesekan seret dari dinding vagina Marina yang seakan mengurut penisnya dengan kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p>Dirangkulnya tubuh Marina untuk melampiaskan getaran kenikmatan yang dirasakannya. Sejenak keduanya terdiam tidak melakukan gerakan apapun karena tenggelam dalam kenikmatan yang tiada taranya. Hanya getaran-getaran kereta api yang bergelombang membuat mereka melayang dalam arus kenikmatan bercinta.</p>
<p>Akhirnya kesunyian itu dipecahkan oleh suara Om Jalil yang lebih mirip desahan.<br />
“Sekarang bergeraklah hurun naik agar lebih nikmat sayang!”.<br />
“Eest.., baikh.., Om..”, jawab Marina sambil mulai mengangkat tubuhnya, terasa olehnya betap hangatnya gesekan kulit penis Om Jalil di dalam liang vaginanya, lalu dihempaskan lagi tubuhnya ke bawah membenamkan penis Om Jalil kembali dalam pelukan dinding kemaluannya yang berdenyut kenikmatan. Hal itu dilakukan Marina berulang kali seiring dengan getaran kereta yang menambah nikmatnya persetubuhan mereka, kian lama gerakan Marina semakin gencar menurun-naikan pantatnya. Sedang Om Jalil tidak hanya diam saja, ia mengiringi gerakan pantat Marina dengan menaikkan pantatnya bila Marina menghentakkan pantatnya membenamkan penis Om Jalil. Marina mendesah-desah menikmati permainanan yang hebat itu.</p>
<p>“Eeeghh…, niikhmat…, sekhali…, Om..”<br />
“Yaakh…, memang.., nikhmat memekmu ini Mar…, oouggh..”.<br />
“Ooomm…, hisaplah susuku ini agar lebikh nikhmat Om..” pinta Marina, sambil menarik kepala Om Jalil ke arah dadanya yang dibusungkan menantang itu. Segera saja Om Jalil melepaskan satu-satunya pakaian yang masih melekat di tubuh Marina, menggelembunglah payudara yang kenyal menegang setelah Om Jalil menarik lepas penutup benda indah itu. Mulailah Om Jalil menjilati puting susu Marina yang merah menantang itu, tidak hanya sampai di situ saja, Om Jalil menghisap rakus buah dada yang benar-benar ranum itu kiri dan kanan sedangkan kedua tangannya meremas buah pantat Marina yang padat berisi dan membantunya turun naik menenggelamkan penisnya. Semakin lama gerakan keduanya samakin menggila desahan-desahan tak henti-hentinya keluar dari sepasang insan itu.</p>
<p>“Oooooogh…, oough…, akhh…, ahh…”, desahan Marina menikmati tarian penis Om Jalil yang perkasa di dalam lubang vaginanya yang semakin licin dan basah. Cukup lama mereka berpacu dalam mengejar kenikmatan sehingga, “Eeeeest…, Ooough…, lebihh…, ceepat lagi…, Sayaang.., aku maau keeeluaar..!”.<br />
“Yaakhh…, aku…, juga..,. sudahh…, tidak.., taahaan.., laagi…, Ooooomm”.<br />
Hentakan pantat mereka semakin cepat terbawa nafsu yang seakan meledakkan dada mereka hingga, “Ooough…, Akuu…, keluaar…, sayang..”<br />
“Akhuu.., aakhh…”.<br />
“Creeet.., creet.., creettt..”, Keduanya saling berangkulan dengan erat menikmati puncak permainan mereka yang sungguh hebat. Marina berdiri mengeluarkan penis yang besar itu dari lubang vaginanya lalu berpakaian dan kembali lunglai di bangkunya menyusul Ria yang sudah terlelap. Sedang Om Jalil menatap kedua gadis bergantian lalu dia berpakaian dan kembali memejamkan matanya. Semuanya sunyi dan tenang. Tak ada lagi erangan-erangan atau desahan, mereka tertidur dengan penuh kepuasan, tanpa memikirkan apa yang menanti mereka di Jakarta nanti.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/derita-anak-tiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pengalaman tak terlupakan sewaktu SMP</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2354</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama, Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh, usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap, dengan dada yang bidang.</p>
<p>Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma, atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.</p>
<p>Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”.<br />
Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.<br />
“Ayoo…”, sambutku dengan polos tampa curiga.<br />
Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.<br />
“Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.<br />
Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.<br />
“Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.<br />
Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.., biar Om gampang meriksanya”.<br />
Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.<br />
“Wah…, kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu.<br />
Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.</p>
<p>Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.<br />
“Waah… kulit kamu halus ya, Rin… Kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu.</p>
<p>Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih…, baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira… yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.<br />
“Nah.., sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.<br />
“Ih…, Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup.<br />
“Lho…, khan mau diperiksa.., pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii…, aku jadi merinding rasanya.<br />
“Ooomm…”, suaraku lirih.<br />
“Tenang sayang.., pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil tersenyum.<br />
Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya.</p>
<p>Kemudian, dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.<br />
“aahh…, Oooomm…”, jeritku lirih.<br />
“Sssstt…, hmm…, nikmat.., kan…?”, katanya.<br />
Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat ke sana-ke mari.<br />
“Ssstthh…, aahh…, Ooomm…, aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.</p>
<p>Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya, Hiii…, rasanya jadi makin geli…, apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.</p>
<p>Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannnya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh…, gila…, tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap di antara kedua kakiku yang otomatis terkangkang, kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.</p>
<p>“aa…, Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannua itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait ke sana-ke mari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.</p>
<p>“aahh…, Ooomm…, jaangan…, jaanggann…, teeerruskaan…, ituu…, aa…, aaku…, nndaak…, maauu.., geellii…, stooopp…, tahaann…, aahh!”.<br />
Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat ke sana-ke mari antara mau dan tidak biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli, bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat ke sana-ke mari, namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya, hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.</p>
<p>Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu di sorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya clitorisku.<br />
“aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.<br />
“aa…, Ooomm…, aauuhh…, aahh!”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.<br />
“Ooomm…, aa!”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.</p>
<p>Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mecuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.</p>
<p>Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada di antara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang di mana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.</p>
<p>Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yan sedang dilakukan oleh Om Bayu.</p>
<p>Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke kesuluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung, aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.<br />
“Gimana Rin…, nikmat khan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.</p>
<p>Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku, hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku, aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.</p>
<p>Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku, gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokkan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit, seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi, perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar, tampa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, aahh. ooohh…, Ooomm…, Ooomm…, eennaak…, eennaak! Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.</p>
<p>“aadduuhh…, saakkiiitt…, Ooomm…, sttooopp…, sttooopp…, jaangaan…, diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku, tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku, maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.</p>
<p>“Om…, kenapa dimasukkan semua, kan…, janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.<br />
Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu, terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh…, ssshh…, ooohh…, ooohh”, dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku, bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku, sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku, seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat, tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak bedaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.</p>
<p>Melihat keadaanku Om Bayu makin terangsang, sehingga dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat, sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya, dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan, “Ooohh…, Riiinn…, Riiinnn…, aakkuu…, maau…, keluar!.., Ooohh…, aahh…, hhmm…, ooouuhh!”.</p>
<p>Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian, “Ccret…, crett…, crett”, spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.</p>
<p>“aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.<br />
“Terima kasih, sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.</p>
<p>Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol ke sana-ke mari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pengalaman-tak-terlupakan-sewaktu-smp.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>petualanganku menjadi lesbian bersama Margie, Ilen dan Elang</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/petualanganku-menjadi-lesbian-bersama-margie-ilen-dan-elang.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/petualanganku-menjadi-lesbian-bersama-margie-ilen-dan-elang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2352</guid>
		<description><![CDATA[Panggil aku Margie. Masih single, dan (semoga terlaksana) akan menikah beberapa bulan lagi. Aku sobat kentalnya Sang Elang yang badung itu. Kalian pasti sudah baca pengalamannya yang unbelievable. But, I’m the witness. He’s a lucky one! Apa lagi yang aku mesti kasih tahu? Ini saja aku sudah nekat, berani malu, karena namaku sudah diketahui. Nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Panggil aku Margie. Masih single, dan (semoga terlaksana) akan menikah beberapa bulan lagi. Aku sobat kentalnya Sang Elang yang badung itu. Kalian pasti sudah baca pengalamannya yang unbelievable. But, I’m the witness. He’s a lucky one! Apa lagi yang aku mesti kasih tahu? Ini saja aku sudah nekat, berani malu, karena namaku sudah diketahui. Nama asli. Elang juga sih, mentang-mentang paling cuek, paling badung, paling gila, dia dengan asyiknya bercerita segalanya. Srida, itu asli. Ilen, itu juga. Setahuku yang disembunyikannya adalah nama istrinya. Venus ya, dia bilang? Bohong! Aslinya khan…, sudah deh, paling disensor sama si Dayak itu. Elang memang sableng. Kerjanya tiap hari pasti cerita yang aneh-aneh. Dia suka hal-hal yang berbau magis dan serem (bagiku). Dan dia pernah mengaku kalau cita-citanya dulu itu adalah menjadi vampire. Biar gampang naklukin gadis-gadis, begitu ‘udel’nya. Dan satu lagi kegemarannya. Dia paling doyan juga segala hal yang berbau ngeres. Tiap hari dia punya cerita soal seks. Kadang aku bilang sama dia, “Lang, segala hal pastilah mengingatkanmu pada seks!” Si tengil itu cuma nyengir. Salah seorang rekan di divisiku malah menyebutnya germo. Karena teman ceweknya banyak, dan tidak tahu kenapa, artis-artis yang suka main ke kantorku bisa cepat akrab sama dia. Eh, aku kok malah cerita soal Elang. Ke-GR-an entar dia. Aku satu divisi sama Elang sejak aku masuk kerja. Atasanku seorang (kataku masih, kata Elang nggak) perawan tua. Sedangkan empat orang lainnya yang sudah kawin dua orang, plus Elang. Selain itu aku punya teman dari divisi lain. Salah satunya bernama Eca. Eca ini anak Bandung, suaminya orang Jakarta. Sama-sama kerja di kantorku. Eca di administrasi, suaminya di teknik. Sebelumnya sorry, kalau nama Eca yang asli kusembunyikan, aku tidak setega Elang. Tapi kalau ketahuan juga, (seperti kata Elang) cuek sajalah. Toh, di kantorku juga banyak yang rahasianya sudah diketahui umum. Paling kalau ada teman sekantor yang baca, dia nyengir-nyengir kalau ketemuku. Atau malah kalau salah seorang penyiar kondang di kantorku (yang ketahuan memang punya kelainan itu) mendekatiku, pengen mencoba ‘main’ denganku. Aku pasang tarif saja. Hihihi, lumayan buat modalku kawin. Eca ini suka sama Elang, suka-suka gitu deh. Kalau menurutku, paling dia suka sama bulu Elang yang lebat di mana-mana itu. Kecuali di ’situ’, aku tidak pernah lihat sih. Elang sih bilang kepadaku kalau Eca pernah menggodanya di ruang presentasi departemen kami. Aku pertama nggak percaya, tapi setelah kilik-kitik si Eca, dia memang kelihatannya suka. Aku bilang Elang, sikat saja. Elang hanya bilang, “Mending sama kamu. Single dan tidak bikin masalah. Kalau ketahuan si Ndoet gimana? Lagian bentar lagi aku menikah kok.” Ndoet itu suami Eca. Iya Elang memang akan menikahi Venusnya. Dan dia lumayan ‘kaku’ untuk berbuat macam-macam sama cewek lain. Kecuali dengan Srida dan Ilen (kecelakaan, ujarnya), dia ‘lurus’. Aku tahu, karena aku dan dia selalu berbagi rahasia. Senang-senang boleh, katanya, tapi cuma gitu doang, tidak menjurus ke ranjang. Salut juga aku. Padahal sih banyak yang mendekati dia. Sudah ah, hidung si Elang makin mengembang entar, kalau aku membanggakan dia. Suatu malam Eca meminta aku datang menemaninya saat suaminya harus memasang stasiun transmisi di luar kota. Dia dan aku bercerita, saling berbagi rahasia. Dia mengatakan lagi padaku kalau dia tertarik kepada Elang. Eca cerita fantasinya tentang Elang. Dia memintaku menelepon Elang, karena Elang adalah teman baikku. Entah mengapa, aku tertarik dengan ceritanya dan fantasinya terhadap Elang, aku setuju untuk menelepon Elang. Kami menuju ruang tamu Eca dan menelepon Elang. Kami berdua duduk berdekatan di dekat telepon, menempelkan telinga di gagang telepon. Mendengarkan percakapanku dengan Elang. “Elang, aku di tempatnya Eca nih.” “Heh, ngapain?” “Nemenin Eca. Suaminya ke Sumatera”, kataku. “Eh, lu ke sini dong.” “Nggak ah.” “Ayolah, aku mau ngajak lu ke Bengkel. Eca tidak pernah diajak lakinya having fun nih.” “Pergi saja.” “C’mon Lang, you’re my best friend.” “Bentar lagi ya. Aku mesti mandi dulu. Habis tennis tadi di Senayan.” “Oke. kutunggu.” “Eh, omong-omong, kamu dan Eca pakai baju apa sekarang?” “Kenapa?” “Aku mau kalau aku datang, lu-lu pada pakai baju yang seksi. Tembus pandang kek, mini kek.” Gokil si Elang datang lagi. “Wuuuuu…” “Kalau nggak, aku balik lagi.” “Sudah ah! Cepat ke sini.” “Iya, iya. Sabar napa?” “Pokoknya kutunggu.” “Tidak mesti bawa Venus khan? dia paling ogah ke tempat gituan.” “Iya.” Telepon pun ditutup. Aku hanya tersenyum waktu Eca bilang kalau dia terangsang mendengar suara Elang yang katanya seksi. “Gimana kalau kutelepon lagi dia? Kali ini lu yang ngomong”, kataku pada Eca. “Ah, malu dong.” “He! Dia asyik-asyik saja kok kalau diajak bicara.” “Gila apa?” “Benar. Lu bisa cerita apa saja ke dia.” “Tapi khan dia entar ke sini.” “Nanti ya nanti. Sekarang lu puas-puasin dengerin suaranya itu. Beda lho di telepon dengan yang langsung. Di telepon itu, gimana ya? Lebih menggairahkan”, kataku sambil tanganku meraih gagang telepon kembali. Eca cuma bisa diam memandangku. Telepon Elang kembali diangkat, aku memberikan kepada Eca setelah bilang ke Elang, “Anggap saja ini telepon 0809 itu, Lang.” Maksudnya telepon Japati yang tarifnya bikin kantong kebakar itu. Sinting tuh, orang yang mau dikibulin gitu. Aku meninggalkan Eca, menuju kamar tidurnya. Di situ pun ada telepon yang diparalelkan. Dengan hati-hati aku menguping. Biasalah, perempuan dimana-mana suka yang kayak gini nih. Pertamanya Eca agak canggung. Tapi kemudian nggak. Apa lagi ketika Elang mulai miring. Menggoda Eca dengan bermacam pertanyaan, apalagi dia tahu Ndoet tidak ada. Gila tuh Elang. Sex Maniac! Aku tersenyum sendiri mendengar gombalnya Elang. Makin lama makin parah omongan mereka berdua. Ya itulah Elang, kalau sekedar gini doang, pasti diladeninya. Ada-ada saja yang diceritainnya. Aku senang mendengar mereka berdua cepat akrab dan terbuka. Mungkin Eca nggak tahu kalau aku ngupingin dia, jadi dia meladeni kesablengan Elang. Elang menyuruh Eca menyentuh tubuhnya, dari dada sampai vaginanya, mengelusnya, dan mengatakan pada lelaki itu bahwa kewanitaan Eca telah basah. Saat Eca menjawab bahwa vaginanya sudah basah sekali, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh punyaku sendiri. Eca menceritakan pada Elang dengan sangat mendetail bahwa vaginanya bersih, tercukur rapi. Aku terbaring di ranjangnya dan entah kenapa, tiba-tiba mengkhayalkan apa yang Eca katakan. Dia berbisik kepada Elang, bahwa saat ini dia sedang mengelus klitorisnya. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Kubuka celana pendek yang kukenakan dan celana dalam sekalian, sehingga aku dapat memainkan vaginaku dengan jari-jariku. Tanpa sadar aku mengerang. Erangan itu didengar mereka berdua. Lalu Elang bertanya padaku kenapa dari tadi tidak ikutan di telepon. Kubilang aku cuma kepingin dengar, dan edannya aku ikut terangsang. Kubilang kalau saat ini aku sedang mengelus vaginaku juga. Elang senang mendengarkannya, dua orang wanita muda masturbasi sambil dia membacakan cerita. Tiba-tiba Eca masuk ke kamarnya. Telanjang bulat. Dia berbaring di sebelahku. “Pakai speakernya saja, Marg, jadi aku bisa ikut dengar.” Aku melaksanakan permintaannya. “Aku di kamar sekarang, Lang. Dengan Margie”, kata Eca. “Hei! Apa yang kalian lakukan?” Agak kaget si Elang. “Eca denganku sekarang. Di tempat tidur.” “Wah, asyik juga nih.” Elang berseru, aku tahu dia pasti sambil senyum jahil, “Aku tuntun ya!” Aku nggak tahu kenapa, Eca juga. Kami cuma menjawab, “Ya, Lang.” “Kalian sudah pernah berhubungan dengan sesama perempuan sebelum ini?” tanya Elang. “Belum”, jawabku. “Belum, Lang. Tapi aku pernah mengkhayalkannya”, jawab Eca. “Great. Aku akan menjadi penunjuk jalan”, kata Elang. “Eca, maukah lu menyentuh Margie?” “Ya”, jawabnya. “Sentuhlah payudara Margie.” Tangan Eca menyelusuri tubuhku, sampai ke batas bra yang kupakai. Dengan kedua tangan, kubuka t-shirt yang kupakai. Puting payudaraku mengeras dan aku dapat merasakan tangan Eca yang lembut membuka hook di daerah depan bra yang kukenakan. Jemarinya membelai payudaraku. Aku mengeluh pelan. Sensasi yang berbeda kurasakan, tidak seperti rasa yang diberikan Daud, pacarku, kalau sedang menyentuhku. “Sekarang giliranmu, Marg”, kata Elang. Aku sedikit gemetaran karena sensasi aneh ini. Aku menggerakkan telapak tanganku, menyentuh dada Eca yang mulus dan terbuka menantang. Aku dapat merasakan tubuhnya yang hangat. Putingnya lebih kecil dari punyaku dan terasa sangat berbeda. Aku dapat merasakan vaginaku mulai basah dan memanas saat kudengar Elang memberikan petunjuk selanjutnya. “Sekarang saatnya untuk saling merasakan kewanitaan kalian masing-masing. Rasakan perubahannya, rasakan”, kata laki-laki itu. Eca yang mulai duluan, menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan kumerasa jemarinya menyentuh pangkal pahaku. Dia menggerakkan jemarinya mendekat ke vaginaku, dan lalu mengerang saat merasakan vaginaku yang basah dan lembut. “Anggaplah itu vagina kalian sendiri.” Elang memberikan instruksi lanjutan. Eca menggosok bagian luar vaginaku, membuatku menaikkan pinggulku ke atas. “Ooooh, Margie. Punyamu lebih indah dari punyaku. Ooooh, aku sungguh senang dapat menyentuhnya, membelainya”, erang Eca. Saat jemarinya memasuki lubang kenikmatanku, aku merasakan kalau aku akan mencapai orgasme. Sentuhannya membuat gerakanku menjadi liar. Eca tampaknya tahu bagaimana aku menginginkan dia menyentuh vaginaku. Dia menggosok klitorisku, membuat benda kecil berwarna merah muda itu menjadi semakin keras dan menegang. Aku mengerang hebat, melenguh sejadi-jadinya. Elang tahu kalau aku belum berbuat apa-apa buat Eca. “Marg, sekarang kamu harus menyentuh punya Eca.” Aku menggerakkan tangan ke arah bawah tubuh Eca, menuju kelembapannya yang telah basah sekali. Ketika kuku-kukuku mengelus pangkal pahanya, aku dapat merasakan getaran aura yang memancar dari selangkangannya. Aku memasukkan jari tengahku ke dalam vaginanya, seperti yang kulakukan tadi ke vaginaku. Dengan gerakan yang cepat, aku memasukkan dua jari dalam sekali ke lubang kenikmatannya. Eca mulai mengerang dan melenguh, tubuhnya terangkat dari atas ranjang, berusaha memasukkan lagi jemariku lebih dalam. “Sekarang, kumau kalian menghisap jemari kalian tadi.” Perintah Elang. Karena Eca sudah sangat terangsang, dia langsung memasukkan jarinya yang tadi menyentuh kewanitaanku, menghisapnya, mengecap rasa cairan vaginaku di antara bibirnya. Melihatnya, aku melakukan hal yang sama. Menjilati jari tengah dan ibu jariku, aku merasakan cairan kewanitaan Eca yang entah bagaimana aku dapat menerangkannya. “Siapa yang ingin vaginanya dijilati?” Elang bertanya dengan nada mendesak, mengerang. Aku dan Eca pada saat yang sama hanya bisa menjawab, “Aku mau.” “Eca, letakkan kepalamu di antara paha Margie”, kata Elang. Eca menurut, kepalanya turun ke bawah. Aku merasakan rambutnya yang panjang dan lembut itu menyapu tubuhku. Sensasi yang lain tercipta kembali. “Eca, julurkan lidahmu, putar mengelilingi klitoris Margie.” Eca melakukannya. Aku merasakan lidahnya yang basah dan hangat berputar-putar di bibir vaginaku, lalu menjilati klitorisku. Bermain-main di situ, memutar, menjilati, dan menghisap dengan mulutnya. Aku mengangkat pantatku dari tempat tidur sehingga aku dapat menyorongkan vaginaku lebih jauh ke wajah Eca. Dia menggunakan lidahnya seperti jemarinya dan menggerakkannya keluar masuk lubang kenikmatanku. Ini merupakan perasaan yang paling luar biasa yang pernah kurasakan. Lidahnya yang mungil dan berbintil kecil ini berbeda dengan punya Daud. Apakah dia biasa seperti ini? aku rasa nggak. Eca hanyalah tahu dan mengerti apa yang disukai wanita dan benar-benar memaksimalkan sentuhannya di tempat-tempat rahasia wanita. Mendengarkan suara erang dan jeritan kami, aku tahu Elang pastilah sangat terangsang. Saat Eca menjilati cairan yang keluar dari liang rahimku, aku dapat melihat dia menggosokkan vaginanya dengan tangannya. “Eca, Eca saat ini sedang menjilati dan menghisap klitorisku, Lang. Egh, luar biasa”, kataku. “Marg, tanyain Eca apa dia punya dildo?” kata Elang. “Apa itu Lang?” Eca menghentikan aktifitasnya. “Penis buatan, Ca.” Jawab Elang. “Wah, nggak punya Lang. Padahal, pasti nikmat kalau vaginaku disodok-sodok.” Eca berkata dengan suara serak, “Sayang kamu nggak di sini, Lang.” “He eh. Tapi, apa kamu punya sesuatu untuk menggantikannya?” Eca memandang sekeliling, lalu tatapannya tertumbuk pada kaleng body spray dari St Michael. “Aku punya kaleng body spray. Besarnya lumayan. Kaya senjata Ndoet.” “Nah gunakan itu.” Eca mengambilnya. Membersihkannya dengan sepreinya. Aku memandangi tubuh mulusnya yang putih itu. “Sebaiknya kalian mengambil posisi 69. Letakkan vagina kalian ke wajah masing-masing.” Aku melaksanakan petunjuk Elang. Aku dapat mencium aroma yang khas dari kewanitaan Eca. “Margie, masukkan tabung itu ke dalam vagina Eca yang lembut itu”, kata Elang. Eca memberikan tabung berwarna putih dengan tutup krem itu kepadaku. Aku mendorong ‘dildo’ itu perlahan-lahan ke dalam vagina Eca. “Marg…. Ah, masukkan Marg. Uuhh.” Eca mengeram. Saat aku memasukkan lebih dalam lagi, Eca mulai menjilati kembali vaginaku yang sudah sangat basah itu. Gerakan lidahnya bertambah cepat, dan bertambah cepat. aku masih memainkan ‘dildo’ itu ke kewanitaanya. Lalu kurasakan kenikmatan yang makin membesar, orgasme yang semakin mendekat. Aku ingin memuntahkan cairan orgasmeku di bibirnya. “aaghh”, aku mengerang. Gelombang orgasme pertamaku telah datang. Dan lenguhanku membuat Eca pun mendapatkannya. Aku tahu dari pahanya yang menegang. “Uuuuuughh”, kami melenguh berdua. Eca menggerakkan pinggulnya dengan liar, berusaha memasukkan ‘dildo’ itu lebih dalam lagi. Aku dengan bersusah payah menahan tabung itu agar tidak terlepas dari peganganku. Kaleng body spray itu sungguh menjadi sangat licin sekarang. Kemudian kami berpelukan. Melenguh panjang, menikmati sensasi luar biasa yang baru saja kami lewati. Kudengar di speaker pun Elang sedang mengerang. Nafas beratnya terdengar satu-satu. Kupikir dia pun orgasme, atau malah sudah ejakulasi. Huhh! Sebuah pengalaman yang sangat fantastis. Kami bertiga dapat orgasme bersama. “Thanks, Lang”, kataku. “You very welcome.” “Hei. Kita tetap pergi ke Bengkel Night Park, khan?” Tanya Eca. “Iya.” Telepon pun di tutup Elang. Setelah itu aku dan Eca saling berpelukan. Beristirahat sebentar, lalu mandi. Setengah jam kemudian Sang Elang datang. Kami bertiga menghabiskan malam di Bengkel. Ngobrol, bertemu teman-teman yang ada di sana. Sekitar pukul dua belas, kami pulang. Saat kami keluar dari mobil Elang, dia menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku. “Ini. Semoga kalian suka.” Aku sangat capek, dan Eca pun demikian. Besok musti masuk kerja dan kupikir sekarang sudah saatnya tidur. Eca setuju, tapi dia bilang ingin mandi air hangat dulu. Dia menuju kamar mandi dan aku mengganti pakaian dengan baju tidur, lantas merebahkan diri di tempat tidur. Kunyalakan TV dan menonton film HBO. Bingkisan dari Elang telah kami lemparkan di dekat telepon. Aku mendengar shower dimatikan, dan beberapa saat kemudian Eca muncul di kamar tidur. Handuk terlilit di tubuhnya dan satu di kepalanya. Rambutnya yang hitam tampak lembab namun tidak terlalu basah. Dia belum berganti dengan gaun tidurnya. Aku tetap menonton TV, sedang Eca, tidak. Dia meraih bungkusan yang diberikan Elang. “Oh, boy! Apa ini?” Ternyata itu adalah sebuah dildo. Entah Elang dapat dari mana. Pasti dia beli di luar negeri, waktu kemarin dinas ke Hongkong. Barang itu panjangnya sekitar 20 centimeter, berwarna coklat dan dihiasi dengan urat-urat yang tampak ‘asli’. Eca memegangnya dan berkata, “Ini toh dildo itu. Eh, apa yang akan kita lakukan dengan ini?” “Aku senang sekali kalau punya Ndoet segede ini. Akan kuhisap dan kutelan setiap malam”, katanya lagi. Eca membawa kepala dildo yang besar itu ke mulutnya dan memutarkan lidahnya mengelilingi benda itu. Kemudian dia memasukkan sebagian dari dildo itu ke mulutnya dan mulai menghisapnya seperti benda itu adalah penis asli. Aku terangsang. Eca berdiri di hadapanku menghisap dildo itu dan aku menyadari kalau puting payudaraku mulai menegang melihat Eca. Aku tidak tahu Eca sengaja atau nggak, handuk Eca terjatuh. Payudaranya yang besar itu menantang dengan pentilnya yang mengeras. Eca tersenyum padaku saat dia mengeluarkan dildo itu dari mulutnya dan menggosokkannya di antara putingnya yang kiri dan kanan. Aku harus mengakui kalau aku menjadi sangat terangsang dan vaginaku menjadi basah. Sambil memegang dildo dengan satu tangan, tangan yang lainnya bergerak ke tempat tidur. Sambil tersenyum, dia menarik kain yang menjadi selimutku. Eca melanjutkan permainannya dengan dildo tersebut, membawanya ke bagian bawah tubuhnya, dan lebih ke bawah lagi. Dengan suara yang parau, matanya tertuju kepadaku, dia memerintahku, “Buka baju tidurmu, Marg.” Saatku meloloskan baju tidur itu melalui kepala, aku menyadari betapa terpesonanya aku. Aku belum pernah senafsu ini, apa lagi ke sesama jenis. Pengalaman pertama tadi membuatku lupa diri. Saat itu pula Eca masuk ke dalam selimut yang kupakai. Dia di sebelahku, masih memegang dildonya. Dia meletakkannya di sebelahku dan menaruh tangannya di dadaku. Aku merintih dengan penuh kenikmatan ketika Eca secara halus meremasnya. Dia menggerakkan tangannya ke bahuku, menariknya ke arah atas, melewati kepalaku. Sesudah tanganku menyentuh palang yang ada di atas kepala tempat tidur, Eca tersenyum nakal. Dia mengambil dasi Ndoet yang ada di situ, lalu dengan cepat melingkarkannya di pergelanganku, mengikatku di ujung tempat tidur. Aku menahan nafas, merasakan sesuatu perasaan takut. Aku merasa sangat nggak nyaman dengan perlakuan Eca ini. Tanganku sedikit sakit karena ikatan yang kencang itu. Dia pasti menyadarinya. Dia memandangku dengan lembut dan perlahan menelusuri tubuhku dengan jemarinya. “Jangan khawatir”, katanya. “Aku tak akan menyakitimu. Dan, kamu akan menikmati ini.” Dia berbaring di sebelahku dan memelukku. Tubuhnya yang langsing terasa hangat, payudaranya menekan tubuhku. Waktu dia memeluk pahaku dengan kakinya, aku merasakan kelembutan bulu-bulu kemaluannya, lalu kehangatan vaginanya yang digosok-gosokkan ke pahaku. Aku menjadi rileks dan mulai menghayatinya. Eca menijilati dan menghisap dadaku, aku mengerang senang. Aku menjadi sangat terangsang. Salah satu tangannya menjalar ke bagian selangkanganku dan aku mendengus saat jarinya menyentuh klitorisku yang basah. Menekannya di antara labiaku, dan memasukkannya ke dalam lubang kemaluanku. Sentuhannya sungguh seksi, aku hampir saja mencapai orgasme. Aku sedikit kaget ketika mulutnya menekan bibirku. Bibirnya yang lembut terbuka, dan lidahnya menerobos mulutku. Aku mulai merasakan kenikmatan yang dihantarkan lidahnya. Kubiarkan dia menciumku, dan beberapa waktu kemudian, aku membalas kecupannya. Tangannya terus mengelus-elus vaginaku. Aku mencoba untuk mengalungkan lengan ke tubuhnya, tapi ikatan yang dibuatnya sangat kencang. Aku hanya dapat merintih di bawah pengaruh sentuhan dan ciumannya. Eca menarik mulutnya dariku dan aku membuka mataku yang tadi terpejam menghayati perlakuannya. Dia memandangku dengan tatapan liar. “Kamu akan menjadi pemakai pertama dari dildo ini, Margie”,katanya. “Kau akan menyukainya.” “Tapi Ca…” Sia-sia aku menolak. Eca telah menaruhnya di bibir kewanitaanku. “Tadi kau telah memuaskanku. Sekarang giliranmu. Nikmatilah, Margie.” Kemudian kusaksikan Eca menarik kembali dildo itu, membawanya ke mulutnya. Aku melihatnya menjilati dan menghisapnya seperti itu penis sejati. Dia mengeluarkan dildo dari mulutnya dan menyentuhkan kepala dildo itu ke mulutku. Mulutku terbuka dan Eca menekan kepala ‘penis’ yang besar itu ke dalam. “Yach, begitu Margie”, katanya. “Hisaplah kejantanan ini. Hisaplah penis besar ini. Kau menyukai penis yang besar berada di mulutmu, bukan?” Aku tidak bisa menjawab dengan kata-kata, tapi responku cukup jelas. Waktu Eca mengayunkan dildo itu keluar masuk mulut dan kerongkonganku, aku menghisapnya dan melenguh dengan penuh kenikmatan. Aku membuka mata dan melihat Eca memainkan kewanitaannya dengan tangan yang satu lagi. Vaginaku sendiri telah benar-benar banjir dan aku frustasi karena tak dapat menyentuhnya dengan tanganku untuk melepaskan tekanan nafsu syahwat yang menggebu-gebu itu. Eca menyadarinya. Dia mengeluarkan dildo dari mulutku dan memainkannya di bibirku. “Kamu siap dimasuki dildo ini?” dia bertanya. “Yaa!” aku berteriak serak. Aku sudah benar-benar kepingin membenamkan dildo itu ke vaginaku, seperti aku tidak pernah disetubuhi sebelumnya. Mulut Eca kembali menciumi mulutku, dan aku membalas dengan penuh nafsu. Sementara itu, aku merasakan Eca membawa dildo itu ke arah selangkanganku. Kepala dildo yang halus dan licin itu menyentuh labiaku yang basah dan lalu menekannya di antara kedua bibir vaginaku. Eca duduk, untuk membuatnya lebih mudah memasukkan benda itu ke tubuhku. “aahg, aaghh”, aku merintih, nafasku tidak beraturan. Eca menunjukkan dildo yang sudah 15 centimeter masuk ke dalam liang kewanitaanku. Dia perlahan-lahan, ooooh, perlahan-lahan sekali menarik keluar benda itu, hampir keseluruhannya, lalu dengan perlahan-lahan kembali memasukkannya, lebih dalam, lebih dalam lagi. Aku tidak tahan lagi. Makin terangsang. Aku tidak pernah berbicara ‘kotor’ kalau sedang ‘main’ dengan Daud atau dengan pacar-pacarku yang dulu-dulu, tapi Eca membuatku putus asa dan meminta untuk benar-benar disetubuhi. “Ooooooh. aahh”, aku menjerit. “Fuck me! Berikan padaku! Kasari aku! Masukkan Ca! Tekan! Jangan pernah kau keluarkan!” Kamar tidur Eca itu menggemakan segala kata-kata kotor yang keluar dari mulutku. (Aku dilarang Elang menceritakan teriakanku dengan mendetail. Dia beraliran softcore, kurasa.) Eca tidak perlu petunjuk apa pun. Dia mulai memompa dengan kencang dildo itu di dalam lubang kenikmatanku. Tangannya menggenggam dildo itu kencang. Tinjunya menghantam bagian luar vaginaku, membuatku bertambah nikmat. Aku merasa bagian dalam vaginaku tertarik keluar saat dildonya ditarik. Aku menikmati kekasaran yang dibuat Eca. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk membuatku puas secara total. Aku mengalami orgasme yang kurasakan sangat berbeda. Aku jarang bisa mendapatkan multiple orgasme, tapi kali ini mungkin empat atau lima kali puncak kenikmatan itu kurasakan. Aku tidak tahu mana yang duluan terjadi. Aku yang sudah orgasme, atau Eca yang telah kehabisan energi memompakan dildo itu ke vaginaku. Dia rebah di sampingku yang masih terikat. Dildonya masih tertancap di vaginaku. Eca memeluk pahaku dengan kakinya, lalu menggosok-gosokkan kewanitaannya kepadaku. Sampai akhirnya dia juga mencapai orgasme. Dia terbaring kelelahan, tidak bergerak. Aku khawatir dia langsung tidur, dan aku harus terikat sepanjang malam. Akhirnya Eca bergerak, menjauh dari tubuhku yang penuh keringat. Dia menciumku cukup lama sambil tangannya membuka ikatan tanganku. Tanganku terbebas, aku memeluknya dan menariknya ke tubuhku. Kami berciuman kembali. Aku mengeluarkan dildo dari ’sarang’nya, saat itu Elang menelepon. “Did you two enjoy my present, ladies?” Terdengar dia tertawa, kami hanya tersenyum. Aku mencium Eca, dan kami tertidur saling berpelukan. Waktu terbangun esok harinya, aku mulai ragu dengan kehidupan normalku. Aku misuh-misuh ke Elang. Dia yang memulai semua ini. Tapi Elang pula yang akhirnya meyakinkanku, kalau kadang kita emang butuh sesuatu yang beda. Buktinya, aku bakalan kawin dengan Daud beberapa bulan lagi. Doain aku ya…!<br />
TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/petualanganku-menjadi-lesbian-bersama-margie-ilen-dan-elang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku Selingkuh dengan Bule</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/istriku-selingkuh-dengan-bule.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/istriku-selingkuh-dengan-bule.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2350</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku seorang IT manager di sebuah perusahan swasta di Bali, umurku 32 thn dan istriku 29 thn, kami sudah lima tahun menikah namun belum dikaruniai seorang anak. Enam bulan lalu aku memutuskan pisah ranjang dengan istriku karena sudah tidak ada kecocokan lagi.Rencananya dalam waktu dekat aku akan mengurus perceraian kami. Tapi karena terbentur waktu jadi urusannya terkatung-katung.</p>
<p>Istriku memilih tinggal sendirian kost di dekat Hotel tempat dia bekerja sebagai Public Relation Manager. Minggu pagi aku berniat mengunjungi dia, kangen juga sih, sudah 3 bulan aku tidak pernah ketemu dia.</p>
<p>Di depan pintu aku kaget melihat seorang bule keluar dari kamarnya, aku menunggu sebentar sampai si bule pergi dan nyelonong masuk kamar istriku, aku pura-pura tidak tahu tentang si bule yang barusan keluar. Kulihat istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Tubuhnya masih tetap seperti dulu padat dan sintal, mungil tapi proporsional, Dia keget melihatku sudah duduk di atas tempat tidurnya.</p>
<p>Kutanya kabarnya namun tidak dijawab, dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, buah dadanya dipamerkan begitu saja, membuat aku jadi bernafsu. Ukuran buah dada istriku memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yah.., sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, bentuknya sangat menggiurkan mata laki-laki yang memandangnya, bulat, padat dan tidak melar. Melihat itu penisku langsung berdiri, apa lagi melihat bekas gigitan si bule di pundak dan buah dadanya.</p>
<p>Kupeluk dia dari belakang, kucium lehernya dan kubisikkan ajakan untuk bersetubuh, namun dia menolak dengan alasan ada janji dengan teman pagi ini. Selesai berpakaian dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian. Lama aku berpikir, dan terlintas dibenakku untuk mengintai hubungan intim mereka. Aku tanyakan ke ibu kost untuk menyewa kamar sebelah, kutahu kamar sebelah tidak ditempati. Setelah dealt dengan ibu kos aku langsung balik ke rumah mengambil peralatan spy-ku yang dulu kubeli dari internet. Aku mempunyai dua buah pinhole video camera yang bisa ngintip lewat lubang kecil. Dulu alat ini aku gunakan untuk mengintip anak-anak kost di rumahku. Balik lagi ke tempat kost istriku dan langsung memasang peralatan spy-ku.</p>
<p>Aku buat lubang kecil tepat di atas temat tidur dan satu lagi di kamar mandi. Selesai pasang kamera lewat plafon, aku coba connect ke TV-monitor yang kupersiapkan di kamar sebelah, hampir 70% dari ruangan tidur bisa kumonitor dan selanjutnya beralih ke channel di kamar mandi, di sini aku harus naik lagi ke plafon karena lokasi cameranya kurang tepat, kugeser sedikit agar tepat di atas bath tub.</p>
<p>Jam 12.00 aku selesai setup video spy-ku, lalu mandi sebentar membersihkan debu yang melekat di tubuhku setelah naik ke langit langit kamar kost. Sambil tiduran menunggu istriku kembali ke kostnya. Kira-kira jam 20.00 kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata istriku dan si bule yang datang. Kunyalakan TV-monitor, kulihat si bule menunggu istriku yang sedang menutup pintu kamar, istriku tampak tidak sabaran, langsung menubruk si bule dan mereka berpagutan sambil saling melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, istriku jongkok di hadapan si bule yang penisnya setengah ereksi dan melahap penis besar di hadapannya. Mulut istriku tidak bisa menampung seluruh penisnya.</p>
<p>Perlahan tapi mantap penis si bule ereksi penuh karena permainan lidah istriku. Kutahu ini adalah keahlian istriku, dulu aku sampai merem melek dibuatnya. Si bule yang tinggi besar mengangkat tubuh mungil istriku ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat bernafsu si bule melahap buah dada kenyal milik istriku. Dari TV-monitor aku dengan jelas sekali melihat wajah istriku yang lagi merem melek menikmati permainan lidah si bule.</p>
<p>Puas menikmati kedua gunung kembar istriku, si bule beralih turun ke perut lalu ke bukit yang ditumbuhi bulu jarang-jarang. Desahan istriku sangat jelas kudengar lewat earphone karena sebelumnya sudah kupasangi wireless microphone di belakang head board-nya. Tangan istriku menarik kuat-kuat sprei sewaktu lidah si bule mulai menyusuri lubang vaginanya.</p>
<p>Selang berapa menit si bule merubah posisinya untuk ber’69′. Desahan istriku langsung hilang bersamaan dengan disumbatnya mulut istriku dengan penis besar si bule. Dengan sangat bernafsu istriku memainkan penis di mulutnya, sedangkan si bule sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris istriku, kulihat kaki istriku mulai menegang dan paha istriku menjepit kepala si bule.</p>
<p>Setelah puas ber-’69′, si bule duduk bersandar di head board dan istriku duduk di pangkuannya dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan istriku memasukan penis besar si bule ke lubang vaginanya. Istriku menjerit kecil ketika penis si bule mulai menerobos masuk. Dia mendongak ke atas sambil meringis menahan sakit saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis si bule masuk lebih dalam.</p>
<p>Setelah diam beberapa saat untuk melumasi penis si bule, istriku mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan si bule melahap dan mejilati buah dada istriku. Ini adalah gaya yang paling disukai istriku. Gerakan istriku maju mundur makin lama makin cepat dan tidak beraturan, selang 5 menit tubuh istriku bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut si bule.</p>
<p>Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui istriku agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah dada istriku yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Istriku lalu mengangkangkan pahanya lebar-lebar, dari TV-monitor aku bisa lihat vagina istriku yang kemerah-merahan akibat gesekan penis besar si bule. Dia menusukkan senjatanya ke vagina istriku dan mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara, “Plak! plok…, plak! plok!”, dari benturan paha mereka.</p>
<p>Istriku mendesah hebat setiap kali si bule menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Rasa cemburuku timbul saat melihat perlakuan kasar si bule terhadap istriku, tetapi aku menikmatinya, penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi. Posisi ini tidak bertahan terlalu lama, si bule minta istriku nungging dan dia menusukkan senjatanya dari belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis si bule keluar masuk menusuk vagina istriku.</p>
<p>Lima menit berlalu si bule menunggangi istriku, perlahan-lahan dia mulai kesetanan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya dengan kesetanan. Akhirnya si bule memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina istriku. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya. Kulihat istriku mencium mulut si bule mesra sekali, dari slang English-nya kutahu dia adalah orang Italy.</p>
<p>Berdua mereka ke kamar mandi, aku cepat-cepat mencolokkan cable RCA dari camera yang di kamar mandi ke TV-monitor. Di kamar mandi kulihat istriku jongkok memutar kran shower sementara si bule memegang shower head-nya. Lalu mereka saling menggosok dengan sabun. Si bule lama sekali membersihkan vagina istriku sampai dia merem melek. Bath tub mereka isi setengahnya lalu tiduran berdua di dalamnya dengan si bule di bawah dan istriku di atas pelukan si bule. Mereka saling berpagutan mesra. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, aku buru-buru pulang karena besok senin pagi aku harus kerja. Terpaksa aku kehilangan adegan hot selanjutnya. Dulu aku berniat membeli alat perekam VCR 24 jam, namun tidak jadi karena harganya mahal. Sesampainya dirumah mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot istriku dengan si bule. Coba aku punya perekam, aku bisa melihat adegan mereka selanjutnya. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.</p>
<p>Senin malam jam 20.00, sepulang dari tempat kerja aku langsung meluncur ke tempat kost istriku, suara desahan terdengar dari kamar istriku, “wah telat aku”. Cepat-cepat kubuka pintu kamarku yang ada di sebelah kamar istriku, TV-monitor kunyalakan, namun mereka tidak kelihatan di kamar tidur, terlihat tempat tidur yang acak-acakan dan pakaian berserakan di mana-mana. Kucoba colokkan monitor yang di kamar mandi, dan “astaga!” Mereka bertiga, istriku, si bule dan temanya bule satunya lagi, yang ini bentuk penisnya lucu, bagian bawah kecil namun kepalanya sebesar bule satunya lagi. Sekarang kutahu nama bule yang menyetubuhi istriku kemarin namanya Jullio, itu aku dapat dari teman istriku di tempatnya bekerja.</p>
<p>Jullio adalah tamu yang sering menginap di hotel tempat istriku bekerja dan dia mempunyai business di Indonesia. Di kamar mandi, istriku kulihat sedang nungging sedangkan Jullio memompa vagina istriku dari belakang, tangan istriku berpegangan ke pinggir bath tub sambil melumat penis anehnya milik si bule satunya yang duduk di ujung bath tub. Aku baru tahu kalau istriku bisa sebuas ini sama cowok bule. Wah ini adegan yang sungguh sangat menyesakkan dadaku, rasa iri, cemburu, marah, menyesal, birahi, sedih bercampur aduk, pokoknya tidak bisa dijelaskan. Keadaan tempat tidur yang acak-acakan menandakan merekan sebelumnya bergumul di sana dan pergumulan mereka di kamar mandi saat ini mungkin babak kedua atau mungkin ketiga. Aku telah kehilangan adegan tersebut. Kalau kubayangkan mungkin lebih seru dari yang di kamar mandi.</p>
<p>Jullio mencabut penisnya dari vagina istriku dan menancapkanya lagi ke lubang pantat istriku, seumur-hidup aku belum pernah menikmati lubang istriku yang satu ini, setiap aku minta dia selalu menolak dengan alasan sakit lah, tidak enak lah, Namun dengan si bule ini kenapa dia berikan. Ini tidak adil!, Jullio nampak mulai kesetanan, semetara istriku berteriak kecil setiap penis besar ini masuk lebih dalam.</p>
<p>Dalam 5 menit Jullio mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh air maninya di punggung istriku. Sementara bule satunya lagi asyik menikmati permainan mulut istriku, karena sudah bernafsu si bule satunya lagi langsung menggendong istriku ke tempat tidur. Istriku di tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara si bule berdiri di lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat istriku. Goyangan pantat si bule menimbulkan suara, “Ceplak.., ceplok..!”,.</p>
<p>penis si bule yang bentuknya aneh itu makin keras menghunjam pantat istriku sambil tangannya meremas keras pantat bahenol istriku. Datang dari kamar mandi si Jullio langsung ikutan nimbrung, dia menyusup ke bawah tubuh istriku dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke vagina istriku lalu menurunkan badan istriku, si bule satunya lagi tetap berdiri dengan penis menancap ke pantat istriku, dia agak membungkuk karena badan istriku merendah dan nempel ke tubuh Jullio. Mereka mulai bergoyang, mulut istriku dengan lahap menjilat dada bidang si Jullio yang di penuhi dengan bulu.</p>
<p>Si bule satunya sudah mulai kesetanan, pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, “Cret.., cret.., cret”, spermanya tumpah di punggung istriku, sementara si Jullio masih asyik menikmati goyangan istriku dari atas, karena si bule satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, istriku lalu duduk bersimpuh di penis si Jullio dan bergoyang maju mundur. Tangan si Jullio meremas buah dada kenyal milik istriku, desahan istriku makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas tubuh Jullio.</p>
<p>Jullio bangkit dan mulai menyodok lubang pantat istriku yang lagi tengkurep lemas. Plok.., plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si Jullio menumpahkan spermanya di atas punggung istriku dan terkulai lemas di sebelah istriku. Si bule satunya datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka. Sempat-sempatnya dia melumat mulut istriku sebelum pergi. Jullio menggendong istriku ke kamar mandi. Setelah saling membersihkan di kamar mandi, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.</p>
<p>Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.00, aku putuskan untuk tidur di sini dan besok aku akan bolos kerja. Sampai jam 02.00 di kamar istriku tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.</p>
<p>Jam 04.00 aku terbangun dan melihat ke monitorku. Kulihat tangan istriku mengocok penis si Jullio yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala istriku dituntun paksa oleh si bule untuk melakukan blow job. Mulut istriku yang mungil tampak mengembung akibat sumbatan penis si Jullio. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut istriku, si Jullio akhirnya tertidur pulas lagi, sementara istriku ke kamar mandi membersihkan mulutnya.</p>
<p>Jam 07.00 si bule bangun, berpakaian dan pamitan ke istriku yang bermalas-malasan di tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si Jullio pergi, aku menyerbu masuk ke kamar istriku, dia kaget sekali melihat aku datang, aku langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, “Lis… kamu jangan munafik, si bule dua orang itu kenapa kamu kasih…ah?”, aku keceplosan ngomong. Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Akhirnya aku menjelaskan aktivitas spy-ku di kamar sebelah. Wajah istriku tampak merah padam antara malu dan marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan si bule. Dia memintaku agar cepat-cepat mengurus perceraian kami, karena dia akan segera menikah dengan si Jullio dan pergi ke Italy. Aku menyanyakan apakah dia benar-benar mencintai si bule namun tidak dijawabnya. Aku memberi tahu bahwa hidup di luar negeri itu susah dan budaya mereka beda. “Aku takut nanti di sana kamu dijadikan budak nafsu mereka”, saranku.</p>
<p>Setelah kejadian itu, mereka selalu berpindah-pindah dari satu hotel ke hotel lainnya untuk bercinta. Aku jadi kehilangan objek spy-ku karena ketololanku sendiri. Aku tidak bisa menaklukkan rasa cemburuku. Setelah kami resmi bercerai, istriku diboyong si bule ke Italy. Sampai sekarang aku tidak pernah terima kabar darinya.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/istriku-selingkuh-dengan-bule.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bocah Imut</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html</guid>
		<description><![CDATA[Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa. “Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?”, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa.</p>
<p>“Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?”, Datang seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan.<br />
“Eh, Tante Tika. Mama belum pulang tuh!” jawab Tommy sambil menyembunyikan novel yang dibacanya ke belakang tubuhnya. Tante Tika, adik ayah Tommy, baru saja bercerai dengan suaminya.<br />
“Eh, Tommy baca apa sih? Kok pake di umpet-umpetin segala? Tante boleh lihat nggak?” Setelah dibujuk-bujuk, Tommu mau menyerahkan novel itu kepada Tante Tika.</p>
<p>“Astaga, Tommy. Masih kecil bacaannya ginian!”, seru Tante Tika setelah melihat sampul buku yang bergambarkan seorang gadis muda dengan busana yang sangat minim dan pose yang menggiurkan. Tante Tika lalu membolak-balik halaman novel itu. Saat membaca bagian di mana terdapat adegan yang merangsang dalam buku itu, sekilas terjadi perubahan pada wajahnya.<br />
“Tom, daripada kamu sendirian di sini, lebih baik ke rumah Tante yuk!”, ajak Tante Tika.<br />
“Tapi, Tante, Tonny disuruh Mama jaga rumah”.<br />
“Alaa, tinggal kunci pintu saja sudah”, kata Tante Tika sambil mengunci pintu rumah lalu ia menarik tangan Tommu ke mobilnya.</p>
<p>Mobil Tante Tika sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah Tommy yang duduk di sampingnya.<br />
“Masih kecil sudah ganteng begini”, gumam Tante Tika dalam hati. Ia menggerakkan tangannya meremas-remas kemaluan bocah yang masih hijau itu.<br />
“Aduh, Tante. Geli ah”, kata Tommy. Tante Tika tersenyum penuh arti. Ia menarik tangannya ketika mobil sudah tiba di depan rumahnya yang megah bak istana di seberang danau Sunter.</p>
<p>Tante Tika usianya sudah mencapai tiga puluh dua tahun, tapi penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan berkat giatnya ia mengikuti senam aerobik di sebuah klub kebugaran beken di Jakarta. Wajahnya yang cantik ditambah dengan tubuhnya yang bahenol serta seksi. Payudaranya yang besar memang amat menawan, apalagi dia sekarang seorang janda. Sudah banyak lelaki yang mencoba merebut hatinya, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Menurutnya mereka hanya menginginkan hartanya saja. Tante Tika memang kaya raya, mobil mewahnya ada beberapa buah dari model yang mutakhir lagi. Rumahnya mentereng, di kawasan perumahan elite lagi. Itu semua berkat kerja kerasnya sebagai direktris sebuah perusahaan asuransi papan atas.</p>
<p>Oh ya, Tante Tika mempunyai seorang anak gadis bernama Andriana, putri satu-satunya, tapi biasa dipanggil Andri saja. Gadis manis ini duduk di kelas dua sebuah SMP swasta top di daerah Kelapa Gading. Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun ini, tubuh Andri sedang mekar-mekarnya. Payudara remajanya sudah ranum sekali, berukuran lebih besar daripada gadis-gadis sebayanya, laksana payudara gadis berusia tujuh belas tahun. Mungkin kemontokannya ini warisan dari ibunya. Tapi Andri memang anak yang agak kurang pergaulan alias kuper karena kebebasannya dibatasi dengan ketat oleh ibunya, yang kuatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan kemolekan tubuh anaknya tersebut. Sama sekali Andri belum pernah merasakan apa artinya itu cinta. Padahal banyak sudah cowok yang naksir dia. Namun Andri belum sadar akan cinta.</p>
<p>“Tom, badan Tante pegal nih. Tolong pijatin ya”, kata Tante Tika sambil mengajak Tommy ke kamar tidurnya. Tante Tika membuka busananya. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang telanjang bulat tengkurap di ranjang. Tommy masih lugu sekali. Ia belum tahu apa-apa tentang keindahan tubuh wanita.</p>
<p>“Tante kok buka baju? Kepanasan ya?”, tanya Tommy dengan polosnya. Tante Tika mengangguk. Lalu Tommy memijati tubuh Tante Tika. Mula-mula punggungnya. Lalu turun ke bawah. Tante Tika mendesah sewaktu tangan mungil Tommy memijati gumpalan pantatnya yang montok.</p>
<p>“Tante, kenapa? Sakit ya?”, tanya Tommy lugu. Mula Tante Tika memerah. Dia duduk di atas ranjang. Tangannya menarik tangan Tommy ke payudaranya.<br />
“Tante, ini apaan? Kok empuk amat sih?”, tanya Tommy ketika tangannya menjamah payudara tantenya. Tante Tika mulai bangkit nafsu birahinya.<br />
“Ini namanya payudara, Tom”.<br />
“Kok Tante punya sih? Tommy nggak ada?”.<br />
“Tommy, Tommy. Kamu bukan cewek. Semua cewek kalau udah gede pasti akan punya payudara. Payudara adalah lambang keindahan tubuh wanita”, Tante Tika menjelaskan dengan bahasa yang terlalu tinggi bagi anak seusia Tommy.<br />
“Lalu pentilan ini apa namanya?”, tanya Tommy sambil memijit puting susu tantenya. Tante Tika sedikit menggelinjang terangsang.<br />
“Ah…, Ini namanya puting susu. Semua wanita juga mempunyai puting susu. Mamamu juga punya. Dulu waktu kamu masih bayi, kamu minum susu dari sini”.<br />
“Masa sih Tante. Biasanya kan susu dari sapi?”<br />
“Mau nyobain nih kalo kamu nggak percaya. Sini deh kamu isap puting susu Tante!”.</p>
<p>Tommy kecil mendekatkan mulutnya pada payudara Tante Tika lalu diisapnya puting susunya.<br />
“Ih, Tante bohong. Kok nggak keluar apa-apa?”, kata Tommy sambil terus menyedoti puting susu Tante Tika yang tinggi menegang itu. Tapi tantenya nampaknya tidak mempedulikan perkataan keponakannya itu.<br />
“Teruskan…, Tom…, Sedot terus…, Ouuuhh..”, kata Tante Tika bernafsu. Karena merasa mendapat mainan baru, Tommypun menurut. Dengan ganasnya ia menyedot-nyedot puting susunya. Tante Tika menggerinjal-gerinjal. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja di dekatnya, sehingga isinya tumpah membasahi bahu dan celana pendek Tommy.<br />
“Ya, Tante. Pakaian Tommy basah deh!”, kata Tommy sambil melepaskan isapannya pada puting susu Tante Tika.<br />
“Ya, Tommy. Kamu buka baju dulu deh. Nanti Tante ambilkan baju ganti. Siapa tahu ada yang pas buat kamu”, kata Tante Tika sambil beranjak ke luar kamar tidur. Sempat dilihatnya tubuh telanjang Tommy. Dikenalkannya pakaiannya lagi. Tante Tika pergi ke kamar anaknya, Andri, yang baru saja pulang dari sekolah.</p>
<p>“Dri”.<br />
“Apa, Ma?”, tanya Andri yang masih memakai baju seragam. Blus putih dan rok berwarna biru.<br />
“Kamu punya baju yang sudah nggak kamu pakai lagi nggak?”.<br />
“Nggg…, Ada Ma. Tunggu sebentar”, Andri mengeluarkan daster yang sudah kekecilan buat tubuhnya dari dalam lemari pakaiannya.<br />
“Buat apa sih, Ma?”, kata Andri seraya menyerahkan dasternya kepada ibunya.<br />
“Itu, buat si Tommy. Tadi pakaiannya basah ketumpahan air minum”.<br />
“Tommy datang ke sini, Ma? Sekarang dia di mana?”.<br />
“Sudah! Kamu belajar dulu. Nanti Tommy akan Mama suruh ke sini!”.<br />
“Ya…, Mama!” Gerutu Andri kesal. Ibunya tak mengindahkannya. Andri senang pada Tommy karena ia sering saling menukar permainan komputer dengannya. Tapi Andri keras kepala. Setelah jarak ibunya cukup jauh, diam-diam ia membuntuti dari belakang tanpa ketahuan. Sampai di depan kamar ibunya, Andri mengintip ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ibunya sedang berbicara dengan Tommy.</p>
<p>“Tommy, coba kamu pake baju ini dulu. Bajunya Andri, sambil nunggu pakaian kamu kering”, kata Tante Tika sambil memberikan daster milik Andri kepada Tommy.<br />
“Ya, Tante. Tommy nggak mau pake baju ini. Ini kan baju perempuan! Nanti Tommy jadi punya payudara kayak perempuan. Tommy nggak mau!”.<br />
“Nggak mau ya sudah!”, kata Tante Tika sambil tersenyum penuh arti. Kebetulan, batinnya. Kemudian ia menanggalkan busananya kembali.<br />
“Kalo yang ini apa namanya, Tom?”, tanya Tante Tika sambil menunjuk batang kemaluan Tommy yang masih kecil.<br />
“Kata Papa, ini namanya burung”, jawab Tommy polos.<br />
“Tommy tahu nggak, burung Tommy itu gunanya buat apa?”.<br />
“Buat pipis, Tante”.<br />
“Bener, tapi bukan buat itu aja. Kamu bisa menggunakannya untuk yang lain lagi. Tapi itu nanti kalo kamu sudah gede”.</p>
<p>Andri heran melihat ibunya telanjang bulat di depan Tommy. Semakin heran lagi melihat mulut ibunya mengulum batang kemaluannya. Rasanya dulu ibunya pernah melakukan hal yang sama pada kemaluan ayahnya. Semua itu dilihatnya ketika kebetulan ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar ibunya. Kenapa ya burung si Tommy itu, pikir Andri.<br />
“Enak kan, Tom, begini?”, tanya Tante Tika sembari menjilati ujung batang kemaluan Tommy.<br />
“Enak, Tante, tapi geli!”, jawab Tommy meringis kegelian.<br />
“Kamu mau yang lebih nikmat nggak?”.<br />
“Mau! Mau, Tante!”.<br />
“Kalau mau, ini di pantat Tante ada gua. Coba kamu masukkan burung kamu ke dalamnya. Terus sodok keras-keras. Pasti nikmat deh”, kata Tante Tika menunjuk selangkangannya.</p>
<p>“Cobain dong, Tante”, Tante Tika menyodokkan pantatnya ke depan Tommy. Tommy dengan takut-takut memasukkan “burung”nya ke dalam liang vagina Tante Tika. Kemudian disodoknya dengan keras. Tante Tika menjerit kecil ketika dinding “gua”nya bergesekkan dengan “burung” Tommy. Andri yang masih mengintip bertambah heran. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya sampai menjerit begitu. Tapi Andri segera berlari kembali ke kamarnya ketika ia melihat ibunya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Tommy yang hanya memakai celana dalam ibunya. Sampai di kamarnya, Andri berbaring di ranjang membaca buku fisikanya. Tommy muncul di pintu kamar.</p>
<p>“Mbak Andri. Kata Tante tadi Mbak mau cari Tommy ya?”.<br />
“Iya, kamu bawa game baru nggak?”, tanya Andri. Tommy menggeleng.<br />
“Eh, Tom. Ngomong-ngomong tadi kamu ngapain sama mamaku?”.<br />
“Nah ya, Mbak tadi ngintip ya? Pokoknya tadi nikmat deh, Mbak!”, kata Tommy berapi-api sambil mengacungkan jempolnya.<br />
“Enak gimana?”, Andri bertanya penasaran.<br />
“Mbak mau ngerasain?”.<br />
“Mau, Tom”.<br />
“Kalo begitu, Mbak buka baju juga kayak Tante tadi”, kata Tommy.<br />
“Buka baju?”, tanya Andri, “Malu dong!”.</p>
<p>Akhirnya dengan malu-malu, gadis manis itu mau membuka blus, rok, BH, dan celana dalamnya hingga telanjang bulat. Tommy tidak terangsang melihat tubuh mulus yang membentang di depannya. Payudara ranum yang putih dan masih kencang dengan puting susu kemerahan, paha yang putih dan mulut, pantat yang montok. Masih kecil sih Tommy!</p>
<p>“Bener kata Tante. Mbak Andri juga punya payudara. Tapi punyanya Tante lebih gede dari punya Mbak. Pentilnya Mbak juga nggak tinggi kayak Tante”, Tommy menyamakan payudara dan puting susu Andri dengan milik ibunya.<br />
“Pentil Mbak keluar susu, nggak?”.<br />
“Nggak tahu tuh, Tom. Nggak pernah ngerasain sih!”, kata Andri lugu.<br />
“Pentilnya Tante nggak bisa ngeluarin apa-apa, payah!”.<br />
“Masak sih bisa keluar susu dari pentilku?”, kata Andri tidak percaya sambil memandangi puting susunya yang sudah meninggi meskipun belum setinggi milik ibunya.<br />
“Mbak nggak percaya? Mau dibuktiin?”.<br />
“Boleh!”, kata Andri sambil menyodorkan payudaranya yang ranum.</p>
<p>Mulut Tommy langsung menyambarnya. Diisap-isapnya puting susu Andri, membuat gadis itu menggerinjal-gerinjal kegelian.<br />
“Ya, kok nggak ada susunya sih, Mbak?”.<br />
“Coba kamu isap lebih keras lagi!”, kata Andri. Tommy segera menyedoti puting susu Andri. Tapi lagi-lagi ia kecewa karena puting susu itu tidak mengeluarkan air susu. Tapi Tommy belum puas. Diisapnya puting susu Andri semakin keras, membuat gadis manis itu membelalak menahan geli.<br />
“Nggak keluar juga ya, Tom”, tanya Andri penasaran.<br />
“Kali kayak sapi. Harus diperas dulu baru bisa keluar susunya”, kata Tommy.<br />
“Mungkin juga. Ayo deh coba!”, kata Andri seraya meremas-remas payudaranya sendiri seperti orang sedang memerah susu sapi. Sementara itu Tommy masih terus mengisapi puting susunya. Akhirnya mereka berdua putus asa.</p>
<p>“Kok nggak bisa keluar sih. Coba yang lain aja yuk!”, kata Tommy membuka celana dalamnya.<br />
“Apaan tuh yang nonjol-nonjol, Tom?”, tanya Andri ingin tahu.<br />
“Kata Papa, itu namanya burung. Cuma laki-laki yang punya. Tapi kata Tante namanya kemaluan. Tau yang bener yang mana!”.<br />
“Aku nggak punya kok, Tom?”, kata Andri sambil memperhatikan daerah di bawah pusarnya. Tidak ada tonjolan apa-apa”.<br />
“Mbak kan perempuan, jadi nggak punya. Kata Tante, anak perempuan punya…, apa tuh namanya…, va…, vagina. Katanya di pantat tempatnya.<br />
“Di pantat? Yang mana? Yang ini? Ini kan tempat ‘eek, Tom?!”, kata Andri sambil menunjuk duburnya.<br />
“Bukan, lubang di sebelahnya”, kata Tommy yakin.<br />
“Yang ini?”, tanya Andri sembari membuka bibir liang vaginanya.<br />
“Kali!”.<br />
“Jadi ini namanya vagina. Namanya kayak nama mamanya Hanny ya?”, kata Andri. Ia menyamakan kata vagina dengan Tante Gina, ibuku.<br />
“Tadi mamaku ngisep-ngisep burung kamu. Emangnya kenapa sih?”, lanjut Andri.<br />
“Tommy juga nggak tahu, Mbak”.<br />
“Enak kali ya?”.<br />
“Kali, tapi Tommy sih keenakan tadi”.</p>
<p>Tanpa rasa risih, Andri memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutnya, lalu diisap-isapnya.<br />
“Ah, nggak enak kok Tom. Bau!”, kata Andri sambil meludah.<br />
“Tapi kok kudengar mamaku menjerit-jerit. Ada apaan?”, tanya Andri kemudian.<br />
“Gara-gara Tommy masukin burung Tommy ke dalam guanya. Nggak tahu tuh, kok tahu-tahu Tante menjerit”.<br />
“Gua yang mana?”, Andri penasaran.<br />
“Yang tadi tuh, Mbak. Yang namanya vagina”.<br />
“Apa nggak sakit tuh, Tom?”.<br />
“Sakit sih sedikit. Tapi nikmat kok. Mbak!”.<br />
“Bener nih?”.<br />
“Bener, Mbak Andri. Tommy berani sumpah deh!”.<br />
“Coba deh”, Andri akhirnya percaya juga.</p>
<p>Tommy memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vagina Andri yang masih sempit. Andri menyeringai.<br />
“Sakit dikit, Tom”.<br />
Tommy menyodok-nyodokkan “burung”nya berulang kali dengan keras ke “gua” Andri. Andri mulai menjerit-jerit kesakitan. Tapi Tommy tidak peduli karena merasa nikmat. Andri tambah menjerit dengan keras. Mendengar lengkingan Andri, Tante Tika berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya itu.<br />
“Dri, Andri. Kenapa kami?”, tanya Tante Tika. Ia terkejut melihat Andri yang meronta-ronta kesakitan disetubuhi oleh Tommy kecil.<br />
“Ya ampun, Tommy! Berhenti! Gila kamu!” teriaknya naik darah. Apalagi setelah ia melihat darah yang mengalir dari selangkangan Andri melalui pahanya yang mulus.</p>
<p>Astaga! Andri telah ternoda oleh anak kecil berusia sepuluh tahun, sepupunya lagi?! Putrinya yang baru berumur empat belas tahun itu sudah tidak perawan lagi?!<br />
“Nanti aja, Tante! Enak!”.<br />
“Anak jahanam!”, teriak Tante Tika marah. Ia menempeleng Tommy, sehingga bocah itu hampir mental. Sementara itu, Andri langsung ambruk tak sadarkan diri.<br />
Sejak kejadian itu hubungan keluarga Tommy dengan Tante Tika menjadi tegang.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/bocah-imut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Pemilu</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2346</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu 7 Juni 1999, yang baru saja lewat bagi sebagian orang kesannya penuh nuansa politis. Tetapi bagi saya, kesan sangat jauh berbeda, bahkan tidak akan pernah terbayangkan akan bermakna demikian dalam bagi saya pribadi. Kesan yang penuh sensualitas dan menggairahkan. Saat itu, 7 Juni, rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu 7 Juni 1999, yang baru saja lewat bagi sebagian orang kesannya penuh nuansa politis. Tetapi bagi saya, kesan sangat jauh berbeda, bahkan tidak akan pernah terbayangkan akan bermakna demikian dalam bagi saya pribadi. Kesan yang penuh sensualitas dan menggairahkan.</p>
<p>Saat itu, 7 Juni, rumah saya sedang sepi. Maklum pemilu, padahal biasanya ramai sekali. Satu rumah dihuni tujuh orang, ayah, ibu, kakak laki-laki saya yang masih kuliah, saya sendiri SMA kelas tiga, baru saja selesai Ebtanas dan lulus. Kemudian adik perempuan saya kelas lima SD, lalu sepupu laki-laki saya kelas dua SMP dan pembantu satu orang. Oh iya, panggil saja saya Yuli, asli Tolaki.</p>
<p>Jadi pada saat pemilu rumah yang berada di kawasan Perumahan Pemda Kampung Kemah Raya, Kendari jadi sepi sekali. Ayah ke Kolaka, mengurus pemilu di sana, kebetulan juga beliau caleg Golkar untuk daerah tersebut. Kakak saya jadi pengawas pemilu untuk UNFREL Kendari, ibu saya jadi panitia pemilu lokal kawasan Kemah Raya. Pembantu dan adik, disuruh bantuin ibu mengurus konsumsi. Praktis yang jaga rumah, saya dengan sepupu saya yang bernama, Ical. Saya belum ikut memilih, belum cukup umur, baru 16 tahun lebih dua bulan. Saya dengan Ical sangat akrab, habisnya dia ikut dengan keluarga saya sejak masih kelas satu SD, dan selalu menjadi teman main saya.</p>
<p>Senin itu, 7 Juni 1999, badan saya pegal sekali, selesai ngepel dan membersihkan rumah. Dan seperti biasa saya kepingin dipijitin. Biasanya sih oleh ibu, dan Ical juga, habis dari kecil saya sudah biasa menyuruh dia. Karena agak pegal, saya panggil saja Ical untuk mijitin, Ical nurut saja. Saya langsung berbaring telungkup di karpet depan TV, dan Ical mulai memijit tubuhku. Asyik juga dipijit oleh Ical, tangannya keras sekali, punggungku jadi fresh lagi.<br />
“Duh, Cal…, mijitnya yang lurus dong, jangan miring kiri miring kanan..”, kataku.<br />
“Abis, posisinya nggak bagus kak”, jawabnya.<br />
“Kamu dudukin aja paha Kak Yuli, seperti biasa…”.<br />
“Tapi…, kak..”.<br />
“Alah.., nggak usah tapi…, biasanya kan juga begitu…, ayo..”, Saya tarik tangan Ical memaksanya untuk duduk di pahaku, seperti kalau dia memijit saya pada waktu-waktu kemarin.</p>
<p>Ical akhirnya mau, duduk dan menjadikan kedua pahaku dekat pantat sebagai bangkunya, dan mulai lagi ia memijit sekujur punggungku. Tapi, pijitan agak lain, makin lama makin saya rasakan tangannya agak gemetaran dan nafasnya agak ngos-ngosan.<br />
“Kamu kenapa Cal, capek atau sakit..?”, tanyaku.<br />
“Tidak, tidak apa-apa kak”, jawabnya. Akan tetapi duduknya mulai tidak karuan, geser kiri dan kanan, sementara pantatnya seperti tidak mau dirapatkan di pahaku, agak terangkat.</p>
<p>Akhirnya, saya menyuruhnya pindah, dan saya bangun, lalu duduk mendekati, biasa bermaksud menggoda.<br />
“Ayo.., kamu kenapa, ini pantatmu, selalu diangkat.., tidak biasanya”, sambil tanganku bermaksud mencubit pantatnya.<br />
“Tidak, tidak apa-apa kak..”, jawabnya sambil menghindari cubitanku, malah tanganku tersenggol celana bagian selangkangannya yang seperti agak tertarik kain celananya dan agak menonjol, melihat itu timbul rasa isengku, karena memang saya dan Ical kalau main seperti anak-anak yang masih TK, asal ngawur saja.</p>
<p>“Loh.., itu apa di celanamu Cal, kok nonjol begitu..” Mendengar itu Ical merah padam mukanya, lalu ia berdiri ingin lari menghindar dari saya, tapi segera kutarik tangannya untuk duduk, dan tanganku yang satu menggerayangi celananya memegangi dan meraba benjolan tersebut.<br />
“Jangan kak Yuli, Ical malu..”, katanya. Dasar saya yang nakal, saya pelototin matanya, Ical langsung diam, dan tanganku leluasa memegang barang tersebut.</p>
<p>Penasaran, saya buka resliting celananya dan menarik keluar barangnya yang mengeras tersebut, dan astaga, ternyata penis Ical sudah menegang. Baru kali ini saya melihat penis milik orang yang bukan anak-anak dan sudah disunat yang tegang dan keras serta panjang seprti itu. Sementara Ical diam saja, kepalanya hanya menunduk, mungkin malu atau bagaimana saya tidak tahu.</p>
<p>Saya acuh saja, perlahan-lahan, kuelus-elus penis Ical, semakin mengeras penisnya hingga urat-uratnya seperti mau keluar. Kudengar Ical mendesah tertahan. Lalu kuurut-urut sambil kupijit kepala penisnya yang merah itu, Ical makin mendesah, “Ah.., ah..”</p>
<p>Kugenggam erat penis Ical dan kukocok-kocok dengan perlahan, semakin lama semakin kencang. Badan Ical ikut menegang, sambil kepalanya terangkat ke atas menatap langit, mulutnya terbuka, dia mulai agak mengerang, “Achh..”.</p>
<p>Semakin kencang penis Ical kukocok, semakin menggeliat badan Ical membuat saya tersenyum geli melihatnya. Sampai erangan Ical makin mengeras, “Ach.., achh..”. Dan badannya makin menggeliat, hingga mungkin tidak tahan…, ia lalu memelukku erat. Mulanya saya kaget akan reaksinya, tapi saya biarkan saja, karena keasyikan mengocok penis Ical. Rupanya Ical sudah semakin menggeliat, hingga tangannya entah sadar atau tidak ikut menggeliat juga, meraba badanku dan payudaraku.</p>
<p>“He Ical…, kenapa..” tegurku, sambil tetap mengocok penis Ical, “Achh…, achh..” Hanya itu yang Ical bilang, sementara tangannya meremas-remas payudaraku, dan remasannya yang kuat membuatku merasakan sesuatu yang lain, hingga saya biarkan saja Ical meremas payudaraku, dan Ical lalu menyingkap baju kaos yang kupakai, hingga kelihatan BH-ku dan meremas payudaraku lagi hingga keluar dari BH-ku.</p>
<p>“Acchh…, accchh” erang Ical, saya mulai merasakan kenikmatan tersendiri pada saat payudaraku tidak terbungkus BH diremas oleh tangan Ical dengan kuat, sedangkan penisnya tetap saja kukocok-kocok. Dan entah naluri apa yang ada pada Ical, hingga dia nekat menyosor payudaraku dan mengisap putingnya seperti anak bayi yang sedang menyusu.<br />
“Aduh…, Ical…, aduhh” Hanya itu yang mampu kuucapkan, payudaraku mulai mengeras, keduanya diisap secara bergantian oleh Ical.</p>
<p>Saya juga mulai menggeliat, kutarik kepala Ical dari payudaraku, lalu kudekatkan ke wajahku, kucium bibirnya dengan nafsu yang muncul secara tiba-tiba, Ical balas mencium, bibir kami berdua saling memagut, lidah bertemu lidah saling mengadu dan menjilati satu sama lain.</p>
<p>Tangan Ical menggerayangi badanku, melepaskan baju dan BH-ku, hingga aku bugil sebatas dada. Kulepaskan juga baju yang dipakai Ical, dan kupelorotkan celananya, hingga Ical bugil tanpa sehelai benangpun, dan kembali kukocok penisnya, sedangkan Ical kembali menyosor payudaraku yang sudah keras membukit.</p>
<p>Perlahan tangan Ical menelusuri rokku lalu menyelusup masuk ke dalam rokku, “Acchh…, Accchh”, Saya dan Ical terus mengerang dan menggelinjang. Tangan Ical menyelusup ke dalam CD-ku, lalu mengusap-ngusap vaginaku.<br />
“Aduuuhh…, Ical..” erangku, sementara jarinya mulai ia masukkan ke dalam vaginaku yang mulai kurasakan basah, dan Ical mempermainkan jarinya di dalam vaginaku.<br />
“Accchh…, aduuuhh…, acccchh..”. Tak tahan lagi, Ical menarik lepas rok dan celana dalamku, hingga akhirnya saya kini telanjang bulat. Kemudian Ical mencium bibirku dan saya tetap mengocok penisnya, sedangkan jarinya bermain dalam vaginaku.</p>
<p>“Accchh..” Hanya erangan tertahan karena tersumbat bibir Ical yang keluar dari mulutku. Kemudian Ical berhenti menciumku, lalu ia mengambil posisi menindih badanku, saya membiarkan saja apa yang akan Ical lakukan, karena kenikmatan itu sudah mulai terasa mengaliri pembuluh darahku. Dan, tiba-tiba saya rasakan sakit yang teramat sangat di selangkanganku.</p>
<p>“aaccccchh, Ical.., apa yang kau lakukan..”, tanyaku. Tapi terlambat, rupanya Ical sudah memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku, dan seperti tidak mendengarkan pertanyaanku, Ical mulai mengoyang batang penisnya naik turun dalam vaginaku yang semakin berlendir dan mulai terasa basah oleh aliran darah perawanku yang mengalir membasahi vaginaku.<br />
“Accchh…, Ical…, aduuhh Ical..”, erangku.<br />
Badanku semakin menggelinjang, kujepit badan Ical dengan kedua kakiku sementara tanganku memeluk erat dan menggoreskan kukuku di punggung Ical. Semakin kencang goyangan penis Ical dan semakin keras pula erangan kami berdua.<br />
“Accch…, aduhh..” Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat nikmat yang terdorong dari dalam…, dan erangan panjang saya dan Ical, “aahh”. Bersamaan semprotan mani Ical dalam vaginaku dan semburan maniku yang menciptakan kenikmatan yang tak pernah kurasakan dan kubayangkan sebelumnya.</p>
<p>Ical menarik keluar penisnya, lalu berbaring di sampingku. Kami berdua saling bertatapan, seperti ada penyesalan tentang apa yang telah terjadi, akan tetapi rupanya nafsu kami berdua lebih kuat lagi. Kuraih kembali dan kudekatkan wajahku ke wajah Ical, kami lalu berciuman lagi dan saling melumat, kemudian kupegang erat penis Ical, sehingga kembali menegang dan kembali lagi kami melakukan hubungan badan tersebut hingga beberapa kali.</p>
<p>Hingga hari ini saya dan Ical, bila ada kesempatan masih mencuri waktu dan tempat untuk melakukan hubungan badan, karena mengejar kenikmatan yang tiada taranya, kadang di kamarku, di kamar Ical, ataupun di dalam kamar mandi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/kenangan-pemilu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Celana Dalam Seksi</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html</guid>
		<description><![CDATA[Sejak kelas 2 SMA, aku selalu tertarik dengan celana dalam yang super seksi dan mini. Pertama kali pula aku membeli celana dalam String Bikini (yang pinggangnya hanya karet saja tetapi pantatnya masih tertutup) kelas 2 SMA. Setiap kali memakai celana dalam itu, selalu ‘anu’ ku menjadi tegang, bisa dipastikan dulu, tiap memakai celana dalam itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak kelas 2 SMA, aku selalu tertarik dengan celana dalam yang super seksi dan mini. Pertama kali pula aku membeli celana dalam String Bikini (yang pinggangnya hanya karet saja tetapi pantatnya masih tertutup) kelas 2 SMA. Setiap kali memakai celana dalam itu, selalu ‘anu’ ku menjadi tegang, bisa dipastikan dulu, tiap memakai celana dalam itu, selalu masturbasi.</p>
<p>Menginjak masa kuliah, fantasiku makin berkembang dengan ingin mengetahui siapa saja yang memakai celana dalam seksi semacam yang kupakai dan bagaimana bentuk anunya. Apakah mereka (orang-orang yang pake celana dalam itu!) juga terangsang dan melakukan masturbasi setiap menggunakan celana dalam itu?</p>
<p>Aku tidak tergila-gila dengan celana dalam kotor bekas orang atau yang ada bekas air maninya. Itu jorok sekali! Tapi aku suka menggunakannya (celana dalam bersih dan seksi) dan dengan senang hati akan aku perlihatkan kepada orang-orang yang mau melihat juga.</p>
<p>Sampai sekarang, koleksiku sudah tak terhitung banyaknya. Sekarang, aku selalu menggunakan celana dalam G-string/thong, yang bagian pantatnya tali doang, dengan bahan yang tipis atau yang nerawang sekalian, jadi kesannya (dan memang!) seksi sekali. Tiap kali aku ganti pakaian seragam kerja diloker, semua rekan kerja melihat dengan takjub dan aku yakin, beberapa dari mereka juga terangsang.</p>
<p>Akhirnya semua celana dalamku termasuk celana renang, bisa dikatakan yang minim sekali. Kalo anuku tegang, pasti sudah keluar dari sarangnya. Aku selalu bertanya-tanya, siapa saja orang yang membeli celana dalam model begini, karena tiap kali ada model baru, dalam waktu sebentar semua sudah habis terjual. Begitu pula celana renang. Tiap kali ada yang baru dan seksi, dalam sekejap habis terjual. Sampai suatu hari pertanyaannya terjawab.</p>
<p>Satu hari aku pergi berenang ke salah satu kolam renang favoriteku. Kolamnya bersih dan cukup sepi pada saat-saat tertentu, sehingga kadang-kadang aku dapat melepas celana renangku dan berenang telanjang bulat, tanpa harus diketahui orang. Aku pergi pagi hari pukul 09.00. Hari itu aku memakai celana renangku yang termini dan tersexy, tali pinggangnya tidak lebih besar dari satu jari tangan, dan menggunakan karet elastis. Aku belum pernah melihat orang lain menggunakan celana renang yang sama.</p>
<p>Pagi itu kolam renang sepi, hanya aku sendiri yang berenang, dan seperti kebiasaan, aku melepas celana renang dan berenang telanjang bulat. Anuku sudah tegang dari sejak membuka celana, tapi rasanya kurang sreg kalau dilakukan di dalam kolam. Baru dua lap aku berenang, ada seorang laki-laki lain yang masuk areal kolam renang. Cepat-cepat aku berhenti dan mengenakan celana renang yang kusangkutkan pada lenganku. Aku berhenti dan memperhatikannya dari jauh. Pada saat dia membuka celana dan bajunya untuk berenang, aku melihat dengan terperanjat, karena dia menggunakan celana renang yang persis dengan celanaku hanya berbeda warna. Kemaluanku langsung tegang dan terangsang. Aku tidak berani berenang lagi dan berhenti di pinggir kolam, tidak berani untuk keluar juga.</p>
<p>Tak lama kemudian dia mulai berenang dan melihat ke arahku. Dia cukup tampan, dengan dada yang bidang dan kemaluannya cukup besar (terlihat jendolannya cukup besar!) Dia mengenakan kaca mata renang dan berenang tidak jauh dari tempat aku berdiri. Tiba-tiba, setelah berada dekat denganku, dia berhenti, dan memandangiku sambil tersenyum.<br />
“Kenapa, Mas?”, tanyaku.<br />
“Enggak, Mas pake celana renang sama dengan celana renangku!”, sahutnya.<br />
“Iya, aku juga kaget waktu ngeliat kamu pake celana renang yang sama”, Kataku lagi.<br />
“Mas lagi bangun, yah, tititnya keluar dari celana renang”, katanya tanpa malu-malu.</p>
<p>Aku sedikit kaget dan malu, langsung berusaha memasukan kembali penisku ke dalam celana (tapi tidak berhasil!).<br />
“Nggak Papa, kok, sekarang aku juga jadi bangun. Kenalin, aku Dito”, katanya lagi membuka percakapan “pegang aja, kalo nggak percaya”, sambil tangannya menuntun tanganku memegang bagian depan celana renangnya.<br />
Astaga! Terasa hangat dan berdenyut dan benar dugaanku, cukup besar untuk ukuran orang Indonesia. Aku sedikit kaget (dan senang!) melihat sikap dan kelakuannya yang terus terang. Aku diamkan aku ketika tangannya memegang kemaluanku.<br />
“Punyamu besar juga, lho, sama dengan punyaku”, katanya dengan nada gembira.</p>
<p>Kami kemudian berenang bersama selama setengah jam, kemudian aku naik dari kolam renang dan menuju ke kamar bilas.<br />
“Eh, tunggu dong, saya juga sudah selesai”, kata Dito. Aku sungguh tidak mengira akan terjadi peristiwa yang menyenangkan ini, dan langsung menunggunya. Kami berdua berjalan menuju kamar bilas. Saat aku hendak berbilas, Dito mengikutiku sambil berkata, “Mandi bareng yuk!”, dengan cepat aku menganggukkan kepala. Kubuka celana renangku, dan melangkah menuju shower. Kemaluanku mulai menegang kembali.</p>
<p>Kemudian Dito, ikut bergabung di shower sebelahku, kemudian dia juga melepas celana renangnya sehingga kami berdua dalam keadaan telanjang bulat dan kemaluan keras menegang saling meberdiri. Dito mendekatkan dirinya dan penis kami saling bersentuhan, kemudian dia berjongkok dan mengulum kemaluanku beserta bijinya, aku mengerang keenakan. Dito tahu bagian mana yang nikmat dan sensitif pada penisku.</p>
<p>Setelah sepuluh menit, aku angkat dia dari jongkoknya dan giliranku sekarang berjongkok di hadapannya dan mengenyot penisnya. Giliran dia yang mengerang kenikmatan. Kurasakan pre-cumnya yang sedikit asin. Tangan kiriku berada di pangkal kemaluannya sementara mulutku mengulum kemaluannya, tangan kananku berada di pantat dia yang bulat dan jariku bermain.<br />
“Ahh…, ahh…, aku sudah dekat, nih!”, kata Dito sambil pantatnya makin cepat maju mundur. Makin aku hisap dengan kuat penisnya yang makin terasa hangat dan berdenyut, sementara tangan kananku mulai mengocok kemaluanku sendiri.<br />
“Aahh…”, Dito mengerang dan cairan hangat menyembur ke dalam kerongkonganku. Lepas sudah air mani Dito, kutelan sari laki-laki tersebut dengan hausnya, sementara tanganku makin cepat mengocok kemaluannya dan, “aahh…!”. Air maniku tumpah di lantai kamar bilas. Lepas dan nikmat sekali.<br />
“Yah, aku juga mau ngerasain punya kamu”, kata Dito sedikit kecewa.<br />
“Aku janji kamu bakal ngerasain punyaku juga”, jawabku.</p>
<p>Kemudian kami berbilas dan membersihkan diri. Untung kolam renang pagi itu dalam keadaan sepi dan tidak satupun orang masuk selam itu. Selesai berbilas, kami mengeringkan diri dan siap-siap memakai pakaian.<br />
“Kok, peler kamu masih keras dan tegang juga sih, masih mau lagi yah!”, Tanya Dito melihat kemaluanku yang belum turun.<br />
“Nanti kalo udah pake celana dalam juga turun sendiri”, sahutku. Kupakai celana dalam G-stringku yang berwarna kulit.<br />
“Hah, celana dalemnya seksi banget”, kata Dito.<br />
“Semua celana dalemku model ginian, abis nikmat sih dipakenya dan kelihatan seksi”, kataku lagi.<br />
Tiba-tiba Dito langsung mengenyot kembali penisku yang masih keras”,Dit, ntar ada orang masuk!”, kataku sedikit kaget melihat spontanitasnya.<br />
“Biarin, gue pokoknya mau ngerasain punya lu”, jawabnya.</p>
<p>Dito mengisap penisku dengan ganas sehingga aku terangsang lagi. Dia jilat seluruh kemaluanku, kadang-kadang dijilat bersama-sama dengan celana dalamku, sehingga semua menjadi basah.</p>
<p>Kemudian dengan cepat dan bernafsu dia menggerakkan kepalanya maju mundur dengan cepat dan isapannya makin kuat. Kupegang kepalanya dan aku bersandar ke dinding. Makin lama makin kuat.<br />
“aah…!”. Akhirnya semprotan maniku tumpah ke dalam mulut Dito dan lebih banyak dari yang pertama sampai membasahi celana dalamku. Semua langsung dijilat bersih oleh Dito.</p>
<p>Badanku terasa ringan sekali, dan Dito tersenyum puas melihatku. Aku pulang tidak memakai celana dalam lagi karena sudah basah, padahal aku hanya mengenakan celana pendek. Sore itu, kejadian yang sama terulang lagi, tetapi kali ini di rumah Dito.</p>
<p>Adakah yang lain yang membeli celana dalam G-string/thong? Seperti apakah bila dipakai? Pasti ada yang beli, tidak hanya aku yang beli celana-celana itu.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/celana-dalam-seksi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anakku, Sarana Pelampiasanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/anakku-sarana-pelampiasanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/anakku-sarana-pelampiasanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:22:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2343</guid>
		<description><![CDATA[Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia kepala 3 ini. Namun sepandai-pandainya aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia kepala 3 ini. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel.</p>
<p>Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas di luar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun kedua anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian ketiganya mengawasiku. Tommy anak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Bagus yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri.</p>
<p>Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kemaluan laki-laki! Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Bagus sudah pergi, dan tinggal Tommy yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup. Aku pun segera melorotkan CD-ku dan langsung menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang kemaluanku. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Tommy, anak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.</p>
<p>Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Tommy tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Tommy. Anak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai mamanya.</p>
<p>Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak sulungku itu.<br />
“Bercintalah dengan Mama, Tommy!” pintaku sambil mengelus-elus selangkangan Tommy yang sudah tegang.<br />
Tommy tersenyum, “Mama tahu, sejak Tommy berumur 17 Tommy sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Tommy bercinta dengan Mama…”<br />
Aku terperangah mendengar omongannya.<br />
“Dan sering kalo Mama tidur, Tommy telanjangin bagian bawah Mama serta menjilatin kemaluan Mama.”<br />
Aku tak percaya mendengar perkataan anak sulungku ini.<br />
“Dan kini dengan senang hati Tommy akan entot Mama sampai Mama puas!”.</p>
<p>Tommy langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan anakku sedemikian rupa, hanya sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Tommy melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang waktu kecil pernah Tommy hisap, kembali dihisap anak sulungku itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampai mengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Tommy. Ciuman Tommy berlanjut ke perut, dan anakku itu pun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Tommy lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks.</p>
<p>Tommy tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang tempat di mana dia dulu pernah keluar. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina mamanya, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Tommy tak peduli, anak sulungku itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi. Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Tommy tersenyum lagi. Anakku itu kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi mamanya dengan penisnya yang telah tegang. Tommy bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, “Tunggu sayang, biar Mama kulum burungmu itu sebentar.” Tommy menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis anakku itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara anakku membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.</p>
<p>“Sekarang kau boleh entot kemaluan Mama, Tom..” kataku setelah puas mengulum penisnya. Anakku itu mengangguk. Penisnya segera dibimbing anakku menuju lubang kemaluan tempat Tommy lahir. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Tommy untuk masuk ke dalam dengan mulus. “Ahh.. Tomm!” aku mendesah saat penis Tommy amblas dalam kemaluanku. Tommy lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Tommy seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Tommy, mulai dari gaya anjing sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi anak sulungku itu belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa.</p>
<p>Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Tommy mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Tommy memeluk dengan erat, saat itu pula air mani anak sulungku itu membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya. Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Tommy dengan cairanku sendiri. Tommy masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Bagus pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari anakku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/anakku-sarana-pelampiasanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perawanku, Oh Perawanku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:21:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Daun Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya. Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa saja sesukaku.</p>
<p>Namun, ketika krismon tiba, musibah itupun tidak bisa dipungkiri oleh keluarga kami. Kami jatuh bangkrut. Itupun kami memiliki hutang pajak yang tertunggak. Sudah seminggu lamanya, tukang pajak menyatroni rumah kami dan menghutang segala berkas berkas perusahaan ayahku. Ketika aku dipanggil masuk, petugas pajak dan ayahku sedang duduk di ruang kerja. Petugas pajak itu sudah cukup tua. Kira-kira seumur ayahku, tapi matanya dengan nanar memandangi tubuhku yang termasuk bongsor. Dia tersenyum memandangku, wajahku memang termasuk lumayan, maklum dengan tampang orientalku yang klasik, banyak yang mengincarku. Termasuk petugas pajak bernama Pak Amir yang duduk di hadapanku. Ayahku secara panjang lebar menceritakan kesulitannya yang dihadapinya dan bagaimana Pak Amir menawarkan bantuannya untuk mengurangi hutang pajak yang tertunggak kepadanya. Tapi untuk itu ada harga yang sangat mahal. Masalahnya, ayahku sedang tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan bila hutang pajak itu tidak diselesaikan, ayahku akan dimasukkan ke penjara. Pak Amir berkata, bisa dibayar asal aku mau memberikan keperawananku kepadanya. Ayahku hanya tertunduk saja. Aku sangat kaget karena mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.</p>
<p>Setelah dijelaskan secara panjang lebar, akupun menuruti perintah ayah. Secara gontai, dia meninggalkan kami berdua keluar dari kamar kerja. Saat itu, aku mengenakan t-shirt dan rok mini. Pak Amir secara perlahan mulai mengelus tanganku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Dia mulai berani dan mengelus rambutku, tiba-tiba aku mencium bau rokok, ternyata Pak Amir mulai menciumi bibirku. Aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang besar telah menimpa tubuhku yang kecil. Ciumanpun turun ke dadaku yang membusung. Tangannya secara perlahan meraba betis dan naik ke pahaku.</p>
<p>Secara perlahan, rokku di kibaskan dan aku merasa kemaluanku dipermainkan oleh jarinya. Aku hanya bisa berteriak kecil ketika jarinya menusuk alat kemaluanku dan tak lama kemudian alat kemaluankupun menjadi basah. Tiba-tiba Pak Amir berdiri dan membuka celananya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia memaksa memasukkan alat kemaluannya ke mulutku. Aku mencoba berontak, tapi apa daya? Bau sekali penisnya tapi aku teringat akan nasib ayahku yang saat ini sedang berada di tanganku, mengingat hal itu, aku mencoba merubah sikapku dari pasif menjadi aktif. Aku tidak ragu lagi melahap penis Pak Amir yang besar itu dengan mulutku. Kukulum dan kuhisap seperti orang ahli. Dia memegang kepalaku seakan tidak mau penisnya keluar dari mulutku.</p>
<p>Setelah puas, dia memaksaku membuka celana dalamku. Akupun hanya bisa telentang ketika lidahnya memainkan clitorisku. Aku hanya bisa merem-melek keasyikan, baru kali ini rasanya aku merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat. Tak lama kemudian, tak hanya lidah saja yang berbicara.</p>
<p>Rupanya Pak Amir tidak sabar lagi untuk mencoba vaginaku yang masih perawan. Aku menjerit kecil ketika aku merasakan penisnya yang besar memasuki vaginaku untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan ketika dia dengan ganasnya melahap keperawananku. Setelah bosan dengan posisi itu, dia memaksaku dengan posisi menungging dan dia menghantamku dari belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata antara menikmati dan kesakitan. Diapun berganti posisi dan duduk di bangku dan aku disuruhnya untuk duduk di atasnya, dengan posisi duduk, aku memiliki kendali atas dirinya dan entah kenapa aku telah lepas kendali, sehingga aku menggoyangkan penisnya dengan cepat sekali, dia tidak tahan lagi dan akupun dipaksa untuk menjilati air maninya, rasanya aneh. Tapi karena aku disuruh telan, akupun tanpa pikir panjang menelannya.</p>
<p>Selesai tugasku untuk membantu ayahku dan selesai pula pengalaman seks pertamaku dengan seorang petugas pajak yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku. Apa mau dikata. Akupun tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian tersebut. Rasanya aku jadi ketagihan juga sih.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawanku-oh-perawanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>gairahku waktu di luar negeri</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Lisa dan sudah setahun lebih aku tinggal di New York Amerika Serikat, setelah aku tinggalkan kelas 1 SMA-ku di Bandung. Hidup di sini bersama abang memang cukup nikmat, paling tidak di sekitar apartemen kami lokasinya aman dan bersahabat, dan tidak perlu khawatir jika kebetulan aku jalan sendirian di malam hari. Sekolahku adalah SMA publik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Lisa dan sudah setahun lebih aku tinggal di New York Amerika Serikat, setelah aku tinggalkan kelas 1 SMA-ku di Bandung. Hidup di sini bersama abang memang cukup nikmat, paling tidak di sekitar apartemen kami lokasinya aman dan bersahabat, dan tidak perlu khawatir jika kebetulan aku jalan sendirian di malam hari. Sekolahku adalah SMA publik, dan murid-muridnya keren-keren, datang dari berbagai ras. Hari-hariku biasanya diisi dengan sekolah, pergi ke tempat-tempat nongkrong anak SMA, biasanya toko Fast Food, kerja sambilan sebagai pelayan di restoran Oriental dekat rumahku (yang kadang-kadang juga tempat nongkrong anak-anak seusiaku), kerja sukarela sebagai pengawas perpustakaan, serta kegiatan ekstrakulikulerku sebagai anggota klub sepakbola wanita dan kelompok drama. Ada beberapa anak dari Indonesia juga di SMA-ku, hanya aku jarang bertemu dengan mereka di sekolah.</p>
<p>Baru-baru ini kelompok drama sekolahku mengadakan kunjungan wisata ke Ibukota di Washington DC. Seorang gadis baru bernama Felicia baru saja mengikuti kegiatan ini. Aku sebenarnya sudah beberapa kali melihat Felicia di sekitar sekolah dan sudah lama merasa cukup iri dengan kakinya yang panjang serta matanya yang tajam dan seolah selalu penuh gairah. Felicia adalah seorang Latina, sebab kedua orangtuanya berasal dari Puerto Rico. Saat pertama kali kulihat Felicia di sekolah, aku jadi teringat dengan acara-acara TV minggu siang yang sering disaksikan oleh pembantu dan supir di tempat kostku dulu di Bandung seperti Maria Mercedes dan sebangsanya. Nah, saat perjalanan wisata ke Washington di atas bis dan kebetulan duduk sebangku, kami berdua segera menjalin persahabatan baru. Bercakap-cakap dengan Felicia benar-benar menarik sebab dia benar-benar supel dan pintar berbicara. Di tengah diskusi mengenai simpatinya terhadap kondisi Indonesia, kusempatkan diriku untuk mengamati rupa teman baruku.</p>
<p>Sepertiku, Felicia berbadan semampai. Rambut lurus dan alisnya berwarna coklat muda, rambutnya sedikit lebih panjang dan kulit Felicia jauh lebih pucat dari kulitku yang kuning. Bibirnya yang berbentuk mungil berwarna merah muda dengan hanya polesan sedikit lipstik saja dan bergerak-gerak secara menawan saat Felicia berbicara dengan logat latinnya yang nikmat didengar. Seperti murid-murid keturunan Spanyol lainnya di sekolahku, gaya berpakaian Felicia benar-benar santai, seperti celana pendek, dan kaos oblong tangan panjang, namun potongan depannya pendek yang berakhir di atas bagian pusar, sehingga dadanya yang membusung membuatnya tampil benar-benar feminin dan eksotik. Kaus kaki Miki Tikus warna putih menutupi sebagian betis Felicia, sepatunya model santai seperti Converse, dan Felicia mengenakan seuntai kalung perak sebagai aksesoris. Sementara telinganya ditindik tiga dengan giwang-giwang kecil diatur artistik. Namun yang bikin aku benar-benar seperti terhipnotis adalah tatapan mata biru jernih Felicia yang menyorot tajam, mengundang, dan benar-benar hidup. Jika ada yang mengamati, mungkin kami berdua akan tampak cukup menarik sebab aku sendiri menjaga penampilanku cukup konservatif walaupun di Indonesia mungkin lumrah saja melihat gadis remaja delapan belas tahun mengenakan turtle neck, rompi dan rok selutut dan rambut kuncir kuda. Tak lama setelah kami mulai berbicara, hilanglah sudah minatku terhadap kunjungan wisata ini.</p>
<p>Sementara waktu berlalu, kami mulai saling menyentuh tangan atau kaki satu dengan lainnya saat ingin menekankan apa yang kami bicarakan. Sentuhan-sentuhan yang mulanya tanpa niat apapun ini lama-lama mulai menelantarkan diri, sampai akhirnya, kami mulai berbicara mengenai seks. Kami saling bertukar pengalaman, dan aku benar-benar terpesona oleh perbedaan kebudayaan dan latar belakang kami berdua. Kata Felicia, dalam masyarakat Hispanik (ras keturunan campuran Spanyol dengan penduduk asli Amerika) sudahlah menjadi standar bagi remaja mereka untuk kehilangan keperawanan atau keperjakaan pada umur sekitar 15 tahun. Setahun di Amerika, banyak pandangan mengenai seks dan hubungan romantis yang dulu kupunyai di Indonesia berubah menjadi sedikit lebih santai. Walaupun aku masih belum sampai sejauh bersanggama, pacarku di sini kadang-kadang menelusuri bagian-bagian tubuhku yang tadinya kuputuskan ‘off-limit’ bagi pacar. Biar bagaimanapun, toh aku masih orang Timur. Di kota seperti New York, walaupun kebudayaan Barat lebih toleran terhadap hubungan kelamin pranikah, toh umumnya remaja hanya berhubungan dengan satu pasangan saja sekitar paling tidak enam bulan, mungkin karena kewaspadaan terhadap penyakit. Mendengar penjelasanku mengenai norma masyarakat di Indonesia, Felicia mengangguk-angguk, dan menyatakan bahwa pandangan seperti itu ada baiknya juga. Dia pun kemudian mulai bercerita mengenai pengalaman-pengalaman masa lalunya, sentuhan-sentuhan nyasar kami semakin sering. Kami mulai saling menggoda secara fisik, dan sebelum bis kami bergulir memasuki batas kota Washington DC setelah hampir seharian perjalanan, hanya ada satu hal dalam benakku: untuk berhubungan intim dengan Felicia.</p>
<p>Saat memasuki hotel, kami mengatur untuk membagi ruangan yang sama. Senja itu, kami berkeliling dan melihat tempat-tempat bersejarah terkenal. Selesai mandi dan makan malam, bersama sekelompok dari murid-murid, aku dan Felicia pergi menyaksikkan sebuah film berjudul “Scream”. Ketika di layar ditunjukkan sebuah bagian film yang menakutkan, kami berdua saling berpegangan tangan dan Felicia memelukku erat. Selesai bagian tersebut, Felicia meletakkan tanganku ke pahanya yang tak tertutup. Kami berdua kebetulan memakai rok pendek, dan beberapa menit kemudian Felicia mencoba merubah sikap duduk dan merenggangkan kakinya, serta membimbing tanganku di antara kedua kakinya. Lalu ia bergerak dan secara perlahan mengusapkan tangannya ke bagian dalam pahaku. Kulepaskan pekikan kecil ketika Felicia menemukan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Sementara kami berpura-pura menonton film, kumain-mainkan rabaanku di celana dalam bagian depan milik Felicia sampai kubuat dia basah sementara ujung jarinya bergeser naik dan turun di bagian yang sama dari celana dalam milikku, mendorong kain yang tipis itu ke dalamku. Tidak mengambil waktu lama sebelum kami berdua mulai saling mencari satu sama lain. Kami mulai bernafas kencang dan berat, dan tak bisa disangkal lagi, di udara mulailah muncul bau kewanitaan basah yang cukup jelas tercium. Salah seorang gadis satu sekolahku duduk di deretan belakang kami. Ia menggeser diri di antara bahu kami dan berbisik, “Kalian berdua merpati cinta sebaiknya mulai berhenti sebelum semua orang mulai menonton kamu dan bukan film ini!” Gadis itu betul, kami benar-benar mulai terbawa situasi. Secara ogah-ogahan kami pun berhenti. Pada menit yang sama Felicia menarik jarinya keluar dariku, kusadari bahwa aku benar-benar menginginkannya kembali di dalamku. Setelah mengatur nafas, Felicia mendekatiku dan berbisik, “Nanti!”</p>
<p>“Aku tak sabar menunggu”, bisikku balik, sedangkan hidungku menghirup aroma intim Felicia yang membalut jariku. Kujilat bersih jariku dan kugenggam tangan Felicia sampai pertunjukan berakhir. Pada saat itu aku sudah benar-benar menjadi terangsang, sisa film yang kami tonton itu tidak ada yang kuingat barang sedikit pun. Kembali ke hotel, kami praktis berlari ke kamar kami, benar-benar tak sabar untuk melanjutkan perbuatan yang terpaksa kami tinggalkan. Bergegas-gegas aku berganti mengenakan kimono katun tidurku yang berwarna gelap dengan corak tradisional Flores sementara Felicia menanggalkan kaos oblong dan rok pendeknya. Baru kusadari bahwa selama ini Felicia tidak mengenakan bra. Sementara aku bengong menatapi dada Felicia yang betul-betul mulus dan berbentuk sempurna, Felicia memuji keindahan corak kimono katunku dan memintaku untuk membawa oleh-oleh seperti itu jika aku kembali dari Indonesia. Kutunjukkan sebuah cincin yang kubeli dari toko suvenir Indonesia di dekat kedutaan sore hari itu pada Felicia. Direbutnya cincin itu dan dia berkata,<br />
“Hahah… dapat!”<br />
“Hey, kembalikan!”<br />
Kukejar Felicia mengitari ruangan sampai akhirnya kutangkap dia di pojokan. Tiba-tiba dibalikkan badannya dan di mukanya muncul raut nakal sementara tangannya bertolak pinggang.<br />
“Mana cincinnya?” tanyaku.<br />
“Entah. Coba saja periksa sendiri”, kata Felicia sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang kosong sambil tertawa-tawa kecil.</p>
<p>Karena Felicia saat itu bertelanjang kecuali untuk celana dalam model bikininya, hanya ada satu tempat untuk mencari. “Kamu ini benar-benar nakal”, seruku sambil menatap matanya yang bersinar-sinar bandel, benar-benar menikmati permainan kecil kami. Pandanganku menyapu wajahnya yang karena berkeringat dan merona merah terlihat benar-benar spektakuler, dengan ujung hidungnya yang runcing dan lesung pipitnya yang molek. Lalu kuturunkan pandangan melewati lehernya yang jenjang, dan dadanya yang naik turun. Sedikit gerah setelah berlarian dalam kamar hotel yang bertemperatur sejuk itu membuat puting Felicia yang berwarna merah muda segar menegak penuh. Kutatap kembali wajahnya sementara kutautkan jariku ke bagian atas celana dalamnya, menarik tali elastis di situ sampai nampak rambut-rambut lembut lurus kecoklatan berjarang-jarang di bawah pusar Felicia.</p>
<p>“Di bawah situ, mungkin?” tanyaku.<br />
“silakan mancing ikan.”</p>
<p>Felicia melangkah mendekati, cukup dekat untuk membuat dada kami bergesekan. Perlahan kugerakkan tanganku lebih jauh ke bagian bawah dari perut Felicia yang betul-betul rata dengan sedikit lengkungan feminin dan menyelipkannya ke balik celana dalam Felicia. Ujung-ujung jariku menyentuh rambut-rambut lembutnya dan gelitikan lembutku membuat postur berdirinya lemas, menengadah dan mendesah.</p>
<p>“Apakah ini cukup hangat?” tanyaku.<br />
“Betul, betul.”</p>
<p>Dipejamkannya kedua mata dan kepalanya semakin menengadah saat jari-jariku bergeser lebih jauh ke bawah sampai seluruh permukaan kelamin Felicia terlindung oleh telapak tanganku. Ia masih cukup lembab hasil dari perbuatan kami di cinema. Cincinku yang hilang tentu saja tersembunyi di celana dalamnya, namun aku tetap berpura-pura mencari-cari benda tersebut.</p>
<p>“Dimana, sih cincin ini?” Kunikmati reaksinya terhadap sentuhanku, kudorong selangkangannya ke dalam telapak tanganku.<br />
“Sepertinya perlu diselidiki lebih dalam, nih…” godaku. “Lebih dalam lebih baik”, Felicia menyahut sambil mengerang.</p>
<p>Kubiarkan jemariku menerobos lipatan-lipatan lembutnya dan segera kurasakan sumber kebasahannya. “Mungkin bersembunyi di sini”, lanjut godaanku. Kedua dada kami saling menekan dan mulut kami hanya terpisah jarak seinci. Benar-benar kuingin menciumnya, dan kurasakan badanku bergetar, tak pernah dalam hidupku aku sedekat ini dengan seorang gadis lain. Tapi kuputuskan untuk memperlambat permainan kecil ini,</p>
<p>“Itu sih terlalu mudah”, kata Felicia.<br />
“Perlu cari tempat persembunyian yang lebih bagus, nih.”<br />
“Contohnya dimana?” kataku sambil menyengir lebar.<br />
“Kira-kira berapa panjang lidahmu?” tanyanya.<br />
Kuleletkan lidahku. “Kira-kira sejauh itu dalam vagina saya”, katanya dan kami berdua tertawa keras.<br />
“Felicia, kamu ini benar-benar mesum. Kamu bakal menjadikan kita berdua sepasang lesbian lipstik!”</p>
<p>Secara lembut diremasnya bagian dada kimonoku, dan dibisikannya, “Oh, kau pikir itu benar-benar hal yang jelek? Akui saja Lisa, kau sebetulnya benar-benar ingin mencobanya, kan?” Bisa kurasakan kehangatan nafasnya menghembus wajahku saat kami berdua saling bertukar pandang. “Well….” Ujarku malu-malu, bermain ’susah dijerat’.</p>
<p>“Sepertinya sih sudah pernah kupikir hubungan lesbian mungkin satu atau dua kali.”<br />
“Biar bagaimanapun”, kata Felicia,<br />
“Semua orang tahu bahwa adalah wajar bagi cewek-cewek untuk bereksperimen satu sama lain. Di samping itu, hampir semua cewek yang saya kenal melakukannya setiap waktu. Tahu tidak?” ujarnya sambil mempelajari rautku. “Apa?” kataku.<br />
“Kau benar-benar cantik. Unik. Kau punya mata yang hitam benar-benar menarik. Apalagi kau datang dari tradisi yang cukup kekolotan. Bikin kau lebih mengundang. mm… apakah rata-rata cewek Indonesia payudaranya langsing seperti ini?”<br />
“Uh, iya”, kataku, tak sadar kulonggarkan tali pinggang kimonoku, mengakibatkan terbukanya bagian dadaku. Perlahan Felicia memijit kedua puting payudaraku, dan kurasakan memanasnya di bagian antara kedua pahaku.<br />
“Toh lagi pula kita berdua perempuan, jadi nggak mungkin hamil. Sama seperti kegiatan menggesek vagina sendiri…” lanjut Felicia.<br />
Felicia memperkeras pijitannya, dan napasku mengencang, kuhirup udara dengan tersendat-sendat, sementara untuk berdiri tegak aku mulai tak mampu.<br />
“Oh, kalau masturbasi, sih, aku benar-benar suka”, kataku.<br />
“Bagus, sebab dengan cewek lain, masturbasi jadi jauuuuh lebih menarik dibanding sendirian.”<br />
Disambarnya ikat pinggang kimonoku yang sudah memang longgar, menjadikan seluruh tubuhku terekspos. Dengan penuh gairah dirangkulnya pinggangku sementara kakiku menggeser, menyentuh langsung selangkangan Felicia yang lembab.<br />
Tangan Felicia mulai melingkar, menjelajahi bagian belakangku. Diiringi senyum nakalnya, Felicia menarik bagian belakang celana dalamku, membuat bagian selangkangan celana dalamku menjadi tertarik lebih ke dalam. Tekanan yang dirasakan oleh klitorisku yang mulai membengkak hampir membuatku orgasme di tempat, sementara kurasakan kedua badan kami seolah meleleh, bercampur satu sama lain. Tak lama kemudian Felicia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, dan kulumat dengan erat lidah kekasihku yang baru ini.</p>
<p>“Masih ingin main sembunyi cincin?” tanya Felicia menggoda.<br />
“Fuck the ring!” (Persetan dengan cincin itu!) semburku sementara tanganku kembali menyelinap ke dalam celana dalamnya.<br />
“I’d rather you fuck me instead”, sahut Felicia, suaranya menyerak seksi, nafasnya panas di telingaku.<br />
“Lalu tunggu apa lagi?” kataku sembari meraih tangannya.</p>
<p>Kami pindah ke sebelah ranjang dan menanggalkan apa yang tersisa di badan kami (kecuali celana dalamku). Felicia benar-benar terangsang, cairan-cairan kelembaban mulai menetes dan bergulir di pahanya. Seluruh tubuhku mulai bergetar penuh antisipasi, terlebih saat kubayangkan betapa lezatnya jika kuletakkan kepalaku di antara kedua pahanya. Felicia naik ke atas ranjang dan menyandarkan diri ke dinding. Lalu dengan kedua jarinya dipisahkannya kedua bibir vaginanya, dan dengan penuh nafsu kusaksikan jarinya yang lain menerobos masuk. Setelah mengaduk-ngaduk beberapa saat jari lentiknya benar-benar basah, dan Felicia mengeluarkan jarinya, mengacungkannya di depan mukaku, membuat isyarat ‘mendekatlah’. “Ayo, kita bersenang-senang malam ini”, undang Felicia seraya mengangkat kaki kirinya ke dekat wajahku dan memain-mainkan jemari kakinya yang mungil. Ketika kutanggalkan celana dalamku, kusadari bahwa bagian selangkangan celana dalamku ternyata sudah kuyup. Tadinya hendak kulempar begitu saja celana dalamku itu, namun Felicia berseru, “Tunggu Lisa, kesinikan kau punya celana dalam itu!” Kulemparkan celana dalamku, dan segera setelah menyambutnya Felicia mendekatkan celana dalam itu ke hidung mancungnya sembari menghirup dalam-dalam aroma sekresi kewanitaanku. “Ooooh, bau kamu betul-betul sedap!”</p>
<p>“Memangnya sudah kebiasaanmu, yah, menciumi celana dalam milik cewek lain?” tanyaku seraya tersenyum lebar.<br />
“Oh, cuma mereka-mereka yang bakal saya entot”, katanya sambil mengedipkan sebelah mata.<br />
Felicia mengusap-usapkan bagian selangkangan celana dalamku yang basah kuyup ke hidung dan mulutnya sementara matanya mengawasiku, yang mulai mengecupi jari-jari kakinya. Kususupkan lidahku di antara setiap jari, kukulum, dan Felicia mulai tertawa-tawa geli campur nafsu. Lalu mulailah kutelusuri kakinya yang panjang dengan bibirku, dan berhenti ketika aku sampai di bagian dalam pahanya. Kujilat, kukecup, dan kugigit lembut kulitnya yang putih mulus. Ya ampun, Felicia betul-betul lembut! Kuciumkan kecupan-kecupan kecil mengitari kelaminnya, dan dengan susah payah kutekan keinginanku untuk langsung menyelami kelamin Felicia dengan mulutku. Dalam pikiranku, Felicia adalah perempuan pertama dalam hidupku yang kujilat kemaluannya, maka ada baiknya kupastikan bahwa kami berdua benar-benar terangsang dulu sebelum kukubur mukaku di selangkangannya. Aku bergerak mendekati mulutnya. “Aku benar-benar butuh kamu”, kataku. Felicia melingkarkan tangannya dan kami pun French kissed.</p>
<p>Lalu Felicia perlahan mengangkatku, memposisikan kedua susuku di depan wajahnya. Dikulumnya salah satu puting susuku di antara kedua bibirnya dan mulutnya yang hangat menyedoti putingku, mengirimkan gelombang-gelombang kenikmatan ke seluruh tubuhku. “Saya punya ide”, katanya sambil terus menjilati. “Bagaimana kalau kita bolos saja dan tidak usah ikut tur besok? Kita bisa mengunci diri di kamar ini dan berasyik-asyikan seharian penuh.” Untuk membujukku, Felicia menyelipkan tangannya di antara pahaku dan mulai mengusap-usap celahku. Kusongsongkan pinggulku menyambut dua jari Felicia ke dalamku. Ia melanjutkan menghisap payudaraku sekaligus jarinya menjalari vulvaku, sedangkan aku hanya mendesah-desah mendorong-dorongkan kemaluanku menyongsong tangannya. Kupejamkan mata dan kurasakan cairan kental kewanitaanku menyemprot keluar saat ujung-ujung jari Felicia menjepit klitorisku. Orgasme yang kurasakan betul-betul intens, sumpah mati saat itu aku menyaksikan bintang-bintang.</p>
<p>“Kalau kita tinggal di ranjang sepanjang hari”, ujarku setelah pada akhirnya berhasil mengatur napas kembali,<br />
“Kapan kita makan?”<br />
“Kalau kamu lapar, kamu bisa lahap vagina saya saja.” jawab Felicia,<br />
“Ah, kamu ini memang benar-benar nakal!” seruku dan kami berdua pun tertawa-tawa.</p>
<p>Kemudian aku pun kembali menciumi tubuhnya, menelusur kembali ke bagian bawah. Harum keringatnya membalut badannya, dan aku benar-benar menikmati rasa keasin-asinan leher dan celah dadanya. Puting payudaranya yang merah segar berbeda dengan milikku yang berwarna coklat, dan saat kusedot kedua pentilnya, warna mereka berubah menjadi gelap dan mengeras. Puting dada Felicia terlihat persis seperti karet penghapus merah di ujung sebuah pensil, dan tampak kecil dibanding ukuran dadanya yang paling tidak 36C. Pentilku sendiri kira-kira sebesar uang 25 logam, dan menurutku pas untuk ukuran 32B-ku. Kurasakan kedua ujung dadaku mulai menegak karena bersentuhan dengan perut lembut temanku ini. Felicia merangkapkan kakinya mengitari pinggangku, dan menyodor-nyodorkan selangkangannya, klitorisnya berusaha mendapatkan sebanyak mungkin gesekan.</p>
<p>“Ya ampun. Lisa, kamu betul-betul membuat saya senewen”, kata Felicia terengah-engah. Felicia mencoba menurunkan tangannya untuk mengelus-elus kelentitnya sendiri, tapi segera kucegah.<br />
“Sabar”, kataku.<br />
“Yang satu itu akan kutangani sebentar lagi.”<br />
“Saya benar-benar perlu kau ewe sekarang”, mohonnya.<br />
“Jangan terlalu terburu-buru”, balasku seraya menyembulkan lidahku ke dalam pusar Felicia, dan meninggalkan kecupan-kecupan basah menuruni perutnya. Felicia mengangkat pantatnya mencoba membimbing mulutku ke arah gerbang perempuannya. “Eat me, please!” jeritnya tak sabar. Kurebahkan diri di antara kedua paha Felicia, kugunakan tanganku untuk membuka lebar labianya. Kugunakan hidungku untuk membelah lipatan kelaminnya dan menghirup dalam-dalam. Keharuman kelamin Felicia menyengat inderaku. Aromanya jauh lebih terasa dibandingkan dengan bau cairanku sendiri. Bibir dalam dari kemaluan Felicia yang berwarna merah muda menyelinap keluar, dan sekresi kewanitaannya menjadikan bibir tersebut benar-benar kontras dengan bibir luar kemaluannya yang berwarna merah gelap. Lalu perlahan kutarik kulit pelindung kelentitnya, menjadikan klitorisnya yang bengkak mencuat keluar, dan kucolek dengan menggunakan jari telunjuk.<br />
“Kau ini benar-benar centil tukang goda. Saya benci, deh”, rintih Felicia.<br />
“Pembohong”, sahutku. Kelentitnya betul-betul keras dan tegang, dan berdetak kencang saat kusentuh. Kutiup tonjolan ini, dan pinggul Felicia terangkat, menyambut mulutku. Ia benar-benar basah, dan kuusapkan seluruh wajahku di sekujur kelaminnya. Pipi, hidung dan mulutku berlumuran cairan hangatnya. “Lisa, please”, minta Felicia, jemari tangannya menelusuri rambut kepalaku. “Vagina saya butuh sekali.” Akhirnya kuputuskan untuk memenuhi. Menarik napas panjang, kupejamkan kedua mataku. Lidahku menelusur sepanjang garis celah kelamin Felicia. Bibir-bibir lembut Felicia membuka dan kukecup tempat paling rahasia di dunia, surga kecil di belahan paha seorang gadis. Kucicipi sari vagina Felicia, dan rasanya ternyata lebih manis lagi daripada aromanya. Kurenggangkan pahanya lebar-lebar dan kucelupkan lidahku ke dalam lubang kecil merah muda yang hangat dan lembab milik temanku.</p>
<p>Dinding-dinding manis kemaluannya bergerak-gerak membuka dan menutup, menjerat lidahku erat-erat. Aku menyedot dan menjilat bagaikan hidup matiku bergantung kepadanya, memberikan Felicia orgasme terhebat yang pernah dia alami. Mengunyah kelamin Felicia adalah mungkin hal paling erotis yang pernah kualami. Aromanya memenuhiku dengan gairah saat kujilat, kusedot, dan kutelan air keluarannya. Aku benar-benar tersapu oleh kenikmatan terlarang dari berhubungan intim dengan seorang gadis dan saat itu kuputuskan bahwa seks dengan lelaki jatuh ke nomor tiga dalam urutan orgasmeku, setelah memakan vagina dan masturbasi.</p>
<p>Felicia sudah hampir sampai di puncak ketika kuperintahkan, “Berbaliklah, aku ingin jilat pantatmu.” Felicia segera menurut dan tak lama kemudan aku menyaksikan kelaminnya yang indah dari belakang, seluruh bagian kemaluannya merebak, dan sari-sarinya menetes berjatuhan. Seperti seekor anjing, kuendus-endus Felicia dari belakang. Kukecup gundukan-gundukan padat milik temanku, lalu kulebarkan keduanya, dan kujilat pertengahannya dari atas ke bawah. Campuran dari keringatnya yang keasinan, sirup liang surganya yang manis, dan rasa keasaman dari anusnya adalah rangsangan yang tak ada duanya. Kuselipkan kembali lidahku ke dalam kemaluannya, dan kumasukkan ujung hidungku ke celah pantatnya yang terlihat berkerut.</p>
<p>Menjilat habis Felicia memberikanku dorongan yang kuat, namun juga terasa sungguh lembut dan manis, sungguh feminin. Susah kubayangkan sesuatu yang lebih indah dari dua wanita saling bercinta. Saat itu kutemukan rahasia cinta-wanita dan aku pun ketagihan, rasanya ingin merangkak ke dalam celah milik kawanku ini dan tinggal di situ selamanya. Sementara kulumat dengan ganasnya, kumasukkan jari tengahku ke dalam vaginaku sendiri. Lalu dengan mulut penuh menampung air liurku dan cairan sekresinya kubasahi anus Felicia. Perlahan jari tengahku yang basah terbalut pelumasku sendiri kudorong melalui kerutan lubang pantatnya yang mungil. Felicia terasa benar-benar hangat dan lembut di dalam dan aku bisa merasakan otot-ototnya berkontraksi untuk menahan jariku di situ. Kudengar partnerku mengerang-erang dalam bahasa Spanyol yang walaupun tak kumengerti namun ekspresi universal seorang gadis di ambang orgasme bisa kupahami.</p>
<p>Felicia menutupi mukanya dengan sebuah bantal dan tak bisa berhenti merintihkan jeritan-jeritan kenikmatan. “aah, Dios Mio!” serunya ketika jari-jariku yang lain bergulir di klitorisnya. Dielus, dijepit, dan diperah seperti itu membuat kelentit Felicia menjadi betul-betul sensitif. Mengetahui bahwa kami berdua benar-benar dekat dengan puncak, Felicia dengan cepat melempar bantal yang menutupi mukanya, dan mengerang, “Seb… sebentar.” Kuhentikan gerakanku dan didorongnya tubuhku, menjadikanku telentang di ranjang dengan kedua kakiku terkangkang lebar. Dengan gerakan cepat tangan kiri Felicia meraih pergelangan kaki kiriku dan mengangkat, meletakkan kakiku di pundaknya sementara dengan tangan kanannya mendorong lutut kananku, melebarkan labiaku.</p>
<p>Memposisikan bagian bawah dari tubuh langsingnya di antara kedua pahaku, Felicia berkata, “Itilku dan itilmu.” Dengan dua jari kutarik ke atas kulit depan klitorisku sementara Felicia melakukan hal yang sama dengan klitorisnya sendiri, lalu Felicia pun bergeser sehingga kedua kemaluan kami bertemu. Perasaanku saat itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Melalui kerimbunan hitam rambut kelaminku kulihat coklat lembut rambut kelamin Felicia sementara dadanya yang putih mulus dan memerah karena gairah terlihat kontras bergesekan dengan betisku yang kuning langsat. Kedua vagina kami, dengan labia yang basah saling menghempas, saling menjalin, dan saling melelehi menjadi satu. Felicia bergerak memutar-mutar selangkangannya dan kedua kelentit kami yang mencuatpun saling bergesekan. “aah, ahh, yess.. yess”, kupejamkan mata dan perlahan kuremas-remas dadaku dengan tanganku yang bebas. “Ooooh, ngh… aakh”, kurasakan cengkeraman tangan Felicia meninggalkan pergelangan kakiku saat ia menengadah dan tubuhnya mulai terkejang-kejang. Kurasakan bagian bawah tubuhku bergerak-gerak seperti kehilangan kontrol, maju mundur naik turun bagaikan piston. “Ooooh… yeeee… eesssh…!” seru kami bersamaan saat kedua kelentit kami saling bergesekan dengan kencangnya. Tubuhku menggelinjang hebat, Felicia mengejang dan terasa waktu pun menghilang saat secara bersamaan vagina kami menyemburkan cairan kental orgasme.</p>
<p>Sekali, dua kali, dan tiga kali gelombang orgasme menghempas Felicia, dan bahkan saat terbaring lunglai di sisiku pun tubuh seksinya masih bergemetar. Kulingkarkan lenganku di bahunya, dan kurangkul kekasih baruku erat-erat. Kukecup pipinya lembut. Felicia membuka matanya, menyambar bibirku dan melumat mulutku. “Idih, kau berasa seperti vagina”, katanya. “Ayo kita melarikan diri saja, dan bercinta selamanya”, kusuarakan angan-angan di benakku. “Kedengarannya nikmat”, balas Felicia. Kami kembali berciuman dan kurasakan tangan Felicia kembali meraba-raba rimbunan hitamku yang sekarang benar-benar basah kuyup tersiram sekresi kami berdua.</p>
<p>Kubiarkan diriku pasif terbaring di pelukan Felicia cukup lama sementara dia bermain dengan bagian bawahku. Belaian-belaiannya lembut seolah ia menghapal seluruh tonjolan dan lipatan-lipatan vaginaku. Lalu Felicia menelentangkan diri. “Ayo kita ngentot lagi”, katanya sembari menggoyang-goyangkan tubuh mengatur posisi. “Ayo duduk di muka saya”, perintahnya. Aku pun berlutut, menunggangi kepalanya, dan mulai menurunkan kemaluanku ke wajah cantik Felicia. Felicia memiliki lidah yang betul-betul panjang dan aku pun mulah mendesah dan mengerang ketika ia melesakkan lidahnya ke dalamku senti demi senti. Urat-urat dalam vaginaku otomatis mencengkram erat lidah Felicia sementara pinggulku bergerak melingkar dengan perlahan, benar-benar larut dalam ulasan lidah Felicia. Mulutku terasa kering dan aku pun merasa betul-betul perlu melahap vaginanya lagi.</p>
<p>Kuputar posisiku, kurendahkan kepalaku dan kami bercinta dalam posisi enam sembilan. Kembali kulimpahkan segala perhatianku ke kelamin partnerku, menyibakkan labianya yang hangat, dan ketika kukecap pelumas Felicia yang mulai mengucur kembali, kurasakan jarinya yang giliran menjelajahi pantatku. Nafasku kembali terengah-engah sementara lidah Felicia membelai-belai jauh ke dalam rahimku dan jarinya menjelajahi bagian belakangku.</p>
<p>“Uuuuuuuuh ….. uuungh … unghh” seruku tertahan-tahan sebab mulut dan hidungku terselimut ke perempuanan Felicia sementara dia pun mengeluarkan suara-suara yang serupa. “Ah! Aah! aah! Lagi…” otot-otot vaginaku menggeletar saat Felicia menggigit lembut klitorisku.</p>
<p>“Auh!”<br />
“Yaah!” kurasakan geliginya mengitari kacangku.<br />
“Oooooh… yeessh.. sssh…” kulingkari kelentitnya dengan bibirku dan kusedot keras-keras.<br />
“Yes… yes… yeee… eee.. sh!”<br />
“Yeeeessshh…. mmh… mffffh…” ujung lidah kami berdua mengulas-ulas kedua kelentit dengan gerakan sangat cepat, kurasakan seluruh urat kedua vagina kami mengencang dan mengendur di luar kontrol dan kami pun kembali tenggelam, orgasme membanjir keluar.</p>
<p>Setelah kembali mengatur nafas, kulepaskan diriku dan kuhempaskan diriku di samping Felicia supaya kami bisa saling bertatapan wajah. Dengan lengan dan kaki kami saling merangkum, kami bersentuhan berciuman lembut, betul-betul kehabisan tenaga dan kecapaian. “Mudah-mudahan besok saya bangun sebelum kau bangun”, katanya setengah bermimpi. “Memangnya ada apa?” seraya menyibakkan rambutnya ke samping, mengecupi pipi, hidung, dan kelopak matanya yang terpejam. “Sebab, hal pertama yang saya ingin kamu lihat besok pagi adalah wajah saya tersenyum di antara kedua pahamu”, jelasnya. Oh, rasanya sekarang ini saya sudah jatuh cinta”, kataku lembut. “Sini, saya jaga biar tetap hangat”, katanya sambil merangkum kemaluanku ke dalam telapak tangannya yang memang hangat. Kukecup kembali bibirnya, dan sementara kami berdua berpelukan erat, kunikmati kehangatan lembab semak-semaknya yang bersandar ke pahaku. Setelah selama beberapa lama hanya desiran mesin pendingin udara yang terdengar, melalui dinding terdengar suara-suara dua orang gadis dari kamar sebelah. Tak mungkin tidak, mereka sedang bercinta.</p>
<p>“Kan, sudah saya bilang. Semua cewek berbuat hal yang sama”, kata Felicia sambil tersenyum lebar. “Mungkin besok kita perlu mengunjungi tetangga sebelah dan mengundang mereka untuk mampir”, sahutku setengah tertidur.<br />
“Tapi itu artinya saya harus membagi kau dengan mereka”, kata Felicia.<br />
“Betul”, gumamku setengah bermimpi,<br />
“Tapi ingatlah bahwa itu juga artinya kamu bakal punya tiga buah vagina yang lembek dan basah untuk dilahap ditambah tiga mulut hangat untuk melayanimu.”<br />
“mm”, katanya sembari membasahi bibir.<br />
“Betul juga. Mari kita beramah-tamah dengan mereka besok.”<br />
Kami kembali berciuman lembut, dan tak lama kudengar desahan-desahan indah dari kedua gadis sebelah kamar hotel kami. Akhirnya, gadis pertama menjeritkan puncak kenikmatannya, diikuti segera dengan jeritan orgasme temannya. Aku tersenyum sendiri, dan sebelum kami berdua jatuh tertidur, kubalas merangkum kewanitaan Felicia dengan telapak tanganku, menyongsong alam impian.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairahku-waktu-di-luar-negeri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pijat Payudara Tante ku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/pijat-payudara-tante-ku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/pijat-payudara-tante-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2337</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.</p>
<p>“Van, Mau tolongin Tante”, Katanya.<br />
“Apa yang bisa saya bantu Tante”.<br />
“Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa”.<br />
“Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian”.<br />
“Tante Minta tolong dipijitin”, katanya.<br />
“Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.<br />
“Tante minta kamu memijit ini tante”, katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.<br />
“Van, kok diem mau nggak?”, tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.<br />
“Mau nggak?”, katanya sekali lagi.<br />
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.</p>
<p>Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.<br />
“Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.<br />
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.</p>
<p>Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, “Ahh…, ahh”. Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, “aahh, Van tolong remas lebih keras”. Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.<br />
“Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante”, katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.<br />
“Van, hisap yang kuat sayang…, aah”, desah Tante Rina.<br />
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, “Lebih kuat lagi hisapanya”.</p>
<p>Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.</p>
<p>Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.<br />
“Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, “Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar…”</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/pijat-payudara-tante-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah perawan Tua</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>
		<category><![CDATA[Setengah Baya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2335</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Bagus Hermanto. Kini aku berumur 25 thn. Aku mengenal seks sejak umur 18 thn. Diajari oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswi S2 yang kos di rumahku, di Yogya. Tentu saja secara bertahap, dari pegang-pegang sampai…, tahu sendirilah. Pokoknya butuh tempo sampai 2 bulan baru bisa merasakan hubungan seks tang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Bagus Hermanto. Kini aku berumur 25 thn. Aku mengenal seks sejak umur 18 thn. Diajari oleh Mbak Wiwik Widayanti, mahasiswi S2 yang kos di rumahku, di Yogya. Tentu saja secara bertahap, dari pegang-pegang sampai…, tahu sendirilah. Pokoknya butuh tempo sampai 2 bulan baru bisa merasakan hubungan seks tang sebenarnya, bersetubuh dengan Mbak Wiwik.</p>
<p>Setelah itu aku mencoba segala macam wanita, dari pelacur sampai wanita baik-baik. Rasanya sih, aku sudah mempunyai banyak pengalaman. Sudah mengerti semua. Cuma aku tidak pernah merasa kenyang, itu saja problemku.</p>
<p>Semua keyakinan diri itu akhirnya berubah ketika aku memperoleh kenikmatan hubungan badan dengan Mbak Indriani, seorang akuntan yang masih lajang dari suatu kota di Jateng yang pernah menjadi atasanku di tempat kerjaku di Jakarta.</p>
<p>Mbak In, memang tidak tergolong cantik seperti layaknya bintang sinetron. Umurnya 42 tahun. Kulitnya hitam manis, tingginya sekitar 160 cm, mempunyai bentuk badan yang langsing dan mempunyai payudara yang kecil namun indah menantang. Dulu rekan-rekan di kantorku, termasuk para wanitanya, secara sembunyi-sembunyi menyebut dia sebagai “si kulkas”. Soalnya dingin, pasif dan tidak hot. Pokoknya dia tidak masuk dalam daftar seleraku.</p>
<p>Tapi suatu hari di akhir tahun 1999, aku berjumpa lagi dengannya. Gara-garanya VW kodokku mogok di dekat rumahnya, sebuah paviliun di Kebayoran Baru itu. Saat itu hujan deras lama sekali. Aku menelepon taxi Blue Bird tapi tidak datang.<br />
“Ya udah tunggu dulu aja, sambil ngobrol soalnya udah lama kita nggak ketemu”, katanya.</p>
<p>Mulanya kita ngobrol biasa. Taxi yang saya pesan belum juga datang. Padahal sudah jam 9 malam. Mbak In menawariku tidur di rumahnya saja, di sofa ruang tamu. Akupun setuju atas tawarannya, daripada repot, pikirku.</p>
<p>Lalu kami ngobrol ngalor-ngidul. Setelah makan malam, kami masih bercerita tentang banyak hal. Sampai akhirnya aku lancang nanya, “Kok Mbak tetep melajang sih?”.<br />
Diapun cerita bahwa dirinya memang malas untuk menikah karena masih suka sendiri dan bebas. Buktinya dia bisa hidup tanpa pembantu. Semua dikerjakannya sendiri. Kecuali pakaian tertentu yang dilaundry.<br />
“Wah serba swalayan ya”, kataku.<br />
“Termasuk soal tertentu yang khusus juga”, katanya sambil ketawa.<br />
Aku kaget juga. Yang dia maksudkan pasti seks. Soalnya setahuku dia tidak pernah berbicara tentang seks, makanya dia dijuluki si kulkas.</p>
<p>Jam 11 malam aku mulai mengantuk. Mbak In meminjamiku celana dalam dan kaos oblong (keduanya masih baru, berukuran XL, karena itu sebetulnya oleh-oleh dari Bali untuk temannya), dan memberikan sikat gigi baru serta handuk, lalu dia masuk ke kamarnya sendiri.<br />
“Selamat beristirahat. Kalau butuh pengantar tidur nyalakan terus saja TV-nya, tapi jangan keras-keras. Kalo kamu mau baca-baca ya silakan aja, Gus”, katanya.<br />
“Makasih Mbak, good night”, kataku.</p>
<p>Setelah mandi, aku sendirian di ruang tamu itu. Sudah menjadi kebiasaanku kalau mau tidur harus diiringi oleh musik kaset/CD, atau radio, kadang juga TV. Lalu me-ngeset timer-nya sekitar satu jam sampai akhirnya aku tertidur. Tapi malam itu aku susah sekali untuk tidur. Mau membaca tapi mataku lelah sekali. Akhirnya akupun menyalakan TV, tapi acaranya jelek-jelek.</p>
<p>Akhirnya iseng-iseng aku dekati rak audio-video. Aku periksa ternyata CD playernya berisi tiga keping. Karena remang-remang aku tidak tahu itu CD audio atau VCD. Aku kembali ke sofa. Remote control compo dan TV aku bawa. Setelah aku klik remote-nya barulah ketahuan kalau isinya VCD. Lantas aku putar, lalu muncul opening scene.<br />
Aduh!, Ternyata isinya BF, Judulnya aku lupa, tapi isinya berupa kumpulan adegan klimaks, jadi bukan cerita utuh. Asyik juga…, isinya cuplikan dari banyak film. Pembukaan pertama oral seks sampai air maninya keluar. Aku belum tegang, masih tetap tenang. Adegan berikutnya mirip, begitu seterusnya, hingga adegan penis dimasukkan sampai dicabut waktu air maninya mau kaluar. Aku juga belum ereksi, hal ini di sebabkan karena aku sudah lelah dan mengantuk. Lagipula menonton VCD porno sudah sering kulakukan. Jadinya agak kebal juga.</p>
<p>Nah, potongan terakhir VCD itu dahsyat juga, sehingga membuat penisku menggeliat. Adegan 69. Yang banyak disorot bukan felatio (cewek mengisap cowok), tetapi cunnilingus (cowok mengisap vagina cewek). Aku sampai ereksi menyaksikan adegan tersebut, sehingga adegan itu ada yang aku ulangi sampai beberapa kali. Aku ingin menikmati sampai puas sebelum si cowok di layar TV itu orgasme, sementara aku sendiri berharap bisa orgasme bersamaan dengan gambar di layar tersebut, karena aku mengelus-elus penisku sendiri. Aku perhatikan cara si cowok melayani si cewek. Hebat juga sampai ceweknya mennjerit-jerit.</p>
<p>Ketika adegan berganti, si cewek mengocok penis cowoknya sembari mengisap, mendadak ada tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah karena Mbak In sudah berada di belakangku. Yang bisa kulakukan saat itu cuma mematikan TV-nya, bukan VCD playernya. Lalu aku diam dan menunduk. Tapi Mbak In memegang pundakku dan berkata, “Kamu suka juga ya rupanya. Nggak apa-apa sih kan udah dewasa”.<br />
Aku senyum, dan tidak berani melihat mukanya.<br />
“Gus”, katanya, “Kamu udah sering gitu juga kan? Aku tahu kalo beberapa cewek di kantor kita dulu ada yang pernah kamu kencani…”.<br />
Aku menatapnya. Mbak In ternyata cuma memakai lingerie satin putih tipis, berupa rok dalam pendek tanpa lengan dan celana dari bahan dan warna serupa.<br />
“Kenapa tuh kolormu, kok ada yang berdiri?”.<br />
Ah…, aku makin salah tingkah. Aku tersipu, karena penisku masih tegak.<br />
“mm…, aku…, aku…, aku…, Mbak”, cuma itu yang bisa kuucapkan, sembari aku bangkit dari posisiku yang tadi tiduran di atas sofa.</p>
<p>Kemudian Mbak In duduk di sebelahku. “Aku tadi sempet tertidur sebentar. Tapi gara-gara petir aku terbangun, dan nggak bisa tidur lagi”, katanya.<br />
“Lantas aku dengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Aku buka pintu pelan. Kamu nggak tahu ya?”.<br />
“Ya Mbak”, kataku.</p>
<p>Kali ini aku sudah mulai tenang. Pantas saja aku tidak tahu kalau dia keluar dari kamar, pikirku. Soalnya kamarnya gelap, jadi waktu pintu dibuka tidak ada cahaya yang menerobos keluar.<br />
“Aku liat diam-diam, ternyata kamu lagi asyik ngeliat itu ya. Aku liat tadi di adegan berikutnya kamu mengulang-ulang adegan, dan tanganmu meraba-raba celanamu…”.<br />
“Ya Mbak”, cuma itu yang aku ucapkan.<br />
“Yuk, putar lagi”, ajaknya.<br />
“Nggak ah, malu”, balasku.<br />
“Nggak apa-apa, Gus” katanya, lalu mengambil remote dari tanganku. TV menyala lagi. Lantas dia mengambil remote compo, dan memutar CD kedua.<br />
“Tuh liat”, katanya.<br />
Judulnya “Modern Kamasutra”. Isinya tidak ganas. Serba lembut…, tidak ada close up penis masuk vagina, tidak ada close up ejakulasi mengenai payudara.</p>
<p>Selama 15 menit kami menikmati CD itu dengan diam, sampai kemudian Mbak In berbisik, “Ajarin aku dong Gus. Aku kan nggak pernah”, katanya sambil memelukku.<br />
Aku cuma bergumam, “mm…”.<br />
“Keluarin semua ilmumu dan pengalamanmu…, Gus…”.<br />
“Kok gitu sih Mbak?”.<br />
“Iya dong…, Kamu ajarin aku dong…”.<br />
“Emang Mbak nggak berpengalaman?”.<br />
“Sttttt…, kamu kayak nggak tahu aja. Aku ini masih perawan, makanya sering disindir sebagai perawan tua. Aku juga tahu julukan si kulkas, Gus”, kali ini dia semakin merapat.<br />
“Ajarin aku supaya nggak jadi perawan tua lagi. Ajarin aku biar aku jadi wanita yang lengkap, pernah merasakan nikmatnya pria tanpa harus bersuami dan tanpa harus punya anak, Gus…, Biar lajang tapi matang, gitu Gus”.</p>
<p>Aku terdiam tidak yahu harus berbuat apa, aku melihat ke layar TV. Ah…, adegannya indah sekaligus gila. Mulanya 69, dan pakai close up tapi gambarnya tetap soft, seperti memakai filter. Lantas si pria memasukkan penisnya dari belakang. Lalu 69 lagi. Lalu si cewek berada di atas. Sebentar saja dia sudah meloncat, duduk di muka si cowok, minta dioral, lalu menindih lagi, duduk lagi, menindih lagi, duduk lagi, menindih lagi, entah berapa kali, sampai akhirnya orgasme. Ketika si cowok berdiri, si cewek mengisap dan mengocoknya. Aku tegang sekali, terangsang oleh adegan di layar.</p>
<p>“Ajarin aku sayang. Tunjukin kebisaanmu yang telah membuat cewek-cewek di kantor kita ketagihan…”. Tangannya memegang kedua pipiku, “Please…”.<br />
Entah kenapa aku seperti terhipnotis. Aku peluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya. “Ya Mbak. Tapi aku lagi capek, setelah main squash tadi, jadi mungkin nggak memuaskan Mbak”.<br />
“Aku nggak minta macam-macam. Cuma diajari. Semacam apresiasi, gitulah…”.<br />
“Ya Mbak. Tapi VCD dan TV-nya dimatiin ya”, pintaku.<br />
Mbak In mencubit pipiku, lalu mencium kedua pipiku. “Boleh…”.<br />
“Mbak In pingin yang gimana sih?”.<br />
“Terserah. Pokoknya kamu harus membimbingku, ngajarin aku…, Aku sendiri nggak tahu apakah malam ini akan melepas keperawananku, tapi yang jelas aku pingin dapet sebuah pengalaman yang penting bagi seorang wanita dewasa, yang berumur 40 lebih…”.</p>
<p>Aku terharu, merasa kasihan. Wanita pendiam dan dingin bagai kulkas ini ternyata menginginkan pengalaman erotis. Wanita yang tidak pernah bicara jorok dan cerita humor porno ini (tidak seperti cewek lain di kantornya) ternyata menginginkan sesuatu.<br />
“Ayo Gus. Ajarin aku, bimbing aku…, Kasih tau aku harus gimana saja. Kamu kan lelaki sejati. Kamu udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu…”.<br />
“Ya, Mbak”, kataku seraya mencium keningnya. Mbak In memejamkan mata. Kurasakan hangat tubuhnya.<br />
“Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan pengalaman pertama yang indah, Gus. Lengkapi diriku sebagai seorang perempuan yang dewasa…”.<br />
Aku mengangguk lalu memeluknya, dan mengelus rambutnya yang sekarang dipotong pendek itu. Aku merasa kelelakianku ditantang dengan halus. Inilah kelebihan wanita. Masih perawanpun tahu bagaimana caranya menggerakkan hasrat pria.</p>
<p>TV sudah mati. Aku berdiri, menghampiri rak audio. Di dekatnya kutemukan CD Romantic Night, musik instrumental lembut. Itu yang aku putar. Lalu aku kembali ke sofa menghampiri Mbak In.<br />
“Mbak”, bisikku.<br />
“mm…, beri aku pengalaman, Gus. Matangkan aku. Jangan mempermalukan aku. Aku telanjur ngomong ini. Aku belum pernah minta beginian pada laki-laki. Aku memilih kamu soalnya aku percaya sama kamu. Kamu dulu karyawan yang nggak reseh, bukan trouble maker, dan gentleman. Aku tahu kamu telah meniduri beberapa cewek di kantor kita, tapi kamu nggak pernah mengumbar affairmu. Kenapa aku bisa tahu, yah tahu sendiri…, mayoritas kantor kita kan cewek, dalam 15 wanita cuma ada 1 pria”.</p>
<p>Aku merasa percaya diri. Aku peluk Mbak In erat.<br />
“Apa yang harus aku lakukan, Gus? mm ya, mestinya apa yang harus kamu lakukan? mm, maksudku apa yang akan kamu lakukan…, mm kok pake nanya. Mestinya tinggal dijalanin ya…, mm…, mm Gus…”, kali ini dia seperti kebingungan mau berkata apa. Kukecup keningnya.<br />
“Mbak pingin merasakan sesuatu yang indah? Mbak sendiri punya fantasi apa sih?”.<br />
“Banyak. Tapi aku malu ngomonginnya. Terserah kamu dah”, katanya sedikit bermanja. Aneh juga, aku merasa senang dimanja oleh perempuan yang lebih tua. Yah inilah kelebihan wanita, yang bisa membuat lelaki merasa berharga dan dibutuhkan.<br />
“Aku ini menarik nggak sih Gus?”.<br />
Aku mengangguk. Lalu kubisiki, “Lebih menarik dan indah kalo sekarang Mbak pake lipstik dan parfum dikit…”.<br />
Dia segera berdiri, mencubit pipiku, lalu ke kamar. Tidak lama kemudian dia memanggil, “Sini Gus…”.<br />
Aku masuk ke kamar. Dia sedang duduk di meja rias. Aku memeluknya dari belakang. Bau wangi menyergap pelan ke hidungku. Bibirnya sudah terolesi lipstik. “Cakep Mbak”. kataku.<br />
“Bener?”, jawabnya manja.</p>
<p>Mbak In berdiri. Aku kemudian duduk di belakangnya. Di muka cermin berlampu itu aku dapati Mbak In dengan pesona kewanitaan yang bertambah. Seorang wanita berumur 42 thn yang matang. Ajaib juga, aku bisa tertarik malam ini. Tanganku memeluk pinggangnya dari belakang.<br />
“Gini ini ya yang dilakukan para istri?”.<br />
“Aku nggak tahu. Aku belum beristri, dan nggak pernah main dengan istri orang”.</p>
<p>Kemudian aku berdiri, tetap di belakangnya, dan tangan tetap memeluk pinggangnya. Aku cium lembut pipinya dari belakang. Lalu bibirnya, pelan dan lembut, dengan gesekan mengambang.<br />
“Aku belum pernah dicium cowok Gus”, bisiknya.<br />
“Ouhh…”, lenguhnya. Aku melihat ke cermin. Dia juga. Wajahnya tersipu.<br />
“Merem saja Mbak”, kataku. Dia menurut. Tanganku tetap di pinggang. Kuamati dari cermin, matanya terpejam. Lalu kucium lembut lehernya.<br />
“Ihh…”, cuma itu suaranya.<br />
Lantas kucium telinganya. Ah ya…, inilah kelebihan wanita, meskipun dia masih perawan nalurinya tahu bagaimana memancing syahwat lawan jenis. Bagian belakang telinganya itu sudah wangi. Aku merasa nikmat. Lalu kucium lehernya, telinga lagi, leher lagi, pipi, bibir, telinga, leher, dan akhirnya tengkuk.<br />
Tangan kiriku tetap memeluk pinggang dari belakang. Tangan kananku naik ke pusar. Dari cermin kulihat puting Mbak In mulai mengeras, menembus lingerie satin yang di kenakannya.<br />
“Nah gitu dong ngajarinnya, Gus”, bisiknya.</p>
<p>Dari cermin berlampu itu kulihat pancaran kewanitannya terus bertambah. Aku tidak menyadari si kulkas ini ternyata memikat. Pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Mbak In mulai bergetar. Dia tetap terpejam. Dengan pelan seolah tak sengaja aku raba puting kirinya. “Uhh”, dengusnya. Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atas lingerienya itu cuma bergantung pada tali. Dia menggeliat.<br />
“Geli tapi nikmat. Kamu pinter Gus”, bisiknya, tetap terpejam.</p>
<p>Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Kutatap sosok wanita ini dari cermin berlampu (hanya itu yang menyala di kamar, karena lampu lain mati). Kudapati sesuatu yang selama ini, selama mengenalnya, tidak pernah kuperhatikan. Aku kan sudah bilang, Mbak In bukan tipe yang masuk daftar seleraku.</p>
<p>Kini kudapati sesuatu. Mbak In ternyata menarik, punya pesona kewanitaan yang kuat. Kulitnya tidak putih tapi bersih. Tubuhnya langsing, tapi tidak bisa disebut kerempeng. Lekuk tubuhnya masih terlihat dan terasa. Mukanya bersih, tanpa bekas jarawat. Garis matanya memanjang seperti wayang. Alisnya tebal merata. Bibirnya mungil. Bau nafasnya nikmat.</p>
<p>Oh…, apakah yang berubah pada diriku? Kenapa tiba-tiba aku bisa menikmati dan menghargai pesona kewanitaan Mbak In? Karena terangsang, toh dari tadi aku ereksi? Bukan juga. Aku sudah sering bermain dengan wanita. Semuanya kuawali dengan keterpesonaan, terlepas wanita itu cantik sekali atau sedang-sedang saja. Yang pasti sejak aku kenal Mbak Wiwik, yang merenggut keperjakaanku saat aku remaja, seleraku hanya seputar itu, wanita berkulit putih, dengan buah dada besar. Tapi Mbak In? Ah, aku tidak tahu. Aku seperti merasakan pengalaman baru.<br />
Tangan Mbak In masih memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Aku kecup bibirnya, lembut lalu pipinya, telinganya, tengkuknya.<br />
“Apa lagi sekarang, Gus?”, bisiknya.<br />
Kulepaskan pegangan tangannya lalu kutuntun untuk melingkarkan tangan kanannya ke belakang, ke leherku, karena aku kan berdiri di belakangnya. Kucium lehernya…, Kurasakan debar jantungnya, dan bunyi nafasnya yang mengeras…, sepertinya dia bernafas dengan mulut. Lantas aku beralih ke bahunya yang terbuka. Kuangkat tangan kirinya untuk memegangi tengkuknya sendiri.</p>
<p>Saat kutatap cermin, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Mbak In ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow!, seperti tak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow! Ajaib! Aku belum pernah melihat ketiak selebat itu. Lagi pula aku selama ini memang tidak tertarik dengan ketiak yang berbulu, terkesan jorok dan tidak feminin. Tapi kali ini? Wuahh…, kurasakan debar di dadaku, kurasakan aliran darahku meningkat. Berubahkah aku?</p>
<p>Ya! Ketiak lebat ternyata memikat. Suatu hal yang selama ini membuatku risih ternyata merangsang. Dengan pelan aku raba kedua ketiak itu.<br />
“Nggak pernah dicukur ya Mbak?”, Mbak In menggeleng dengan tersenyum.<br />
“Biarin. Entah kenapa aku nggak merasa terganggu. Kamu tahu, dulu di asrama, waktu masih kuliah, aku dijuluki Ratu Ketiak. Karena sejak tahun kedua kuliah aku nggak mencukurnya. Buatku ini bukti kebebasanku, bukti ketidakpedulianku pada apa yang menurut orang lain pantas..”.</p>
<p>Lalu kucium ketiak berbulu itu. Wow! Fantastik! Bau asli tubuh bersih menyergap hidungku, karena wanita yang mengerti tentang parfum memang tidak pernah memberi parfum di ketiaknya, kecuali deodorant. Bau ketiak wanita (asal tidak kelewat keras), itu yang aku sukai dari cewek-cewek yang kukencani selama ini. Kali ini bau alami itu bertambah dengan bulu lebat,sepanjang hampir 5-6 cm. Pantas dulu disebut Ratu Ketiak.</p>
<p>Dari ketiak kanan aku pindah ke ketiak kiri. Sama aroma dan sensasi bulunya dengan yang kanan. Aku terangsang sekali. Ukuran terangsang bukan cuma soal ereksi seberapa keras dan panjang, tapi juga gelora di dalam diri. Sejak tadi aku ereksi, tapi yang sekarang makin ditambah peningkatan nafsu. (Nah para cewek, pahamilah itu…)</p>
<p>Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Aku pegang lembut payudaranya yang kecil itu. Kenyal sekali. Ini sensasi baru buatku, karena aku tidak pernah tertarik dengan payudara kecil. Aku tidak bisa ereksi oleh payudara mungil. Bila berkencan dengan perempuan aku selalu memilih yang mempunyai payudara besar, ukuran 34 keatas (beberapa kali aku dapat yang ukuran 38C). Payudara Mbak In sepertinya di bawah 34. Tapi kok merangsang ya? Nafsuku semakin berkobar. Ibarat bendera, mulai berkibar-kibar. Hanya gara-gara bulu ketiak dan payudara kecil (suatu hal yang belum pernah terjadi).</p>
<p>Akhirnya baju atas lingerie itu kulepas. Dan wow! Kudapati payudara kecil yang kencang, dengan puting mengeras. Puting itu berwarna gelap, tapi begitu merangsang bagiku. Aku selama ini mengencani wanita berkulit putih, termasuk bule, sehingga puting mereka berwarna terang, kalau bule malah kemerahan.<br />
Aku remes pelan kedua payudaranya. Mbak In cuma ah-uh-ah-uh. Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya, sambil mempermainkan puting dan payudaranya.</p>
<p>Lalu aku duduk di kursi dekat meja rias. Aku ciumi puting dan payudaranya, dan kemudian aku kecup puting itu sehingga makin mengeras. Kudengar pinggul Mbak In berkeletek, berbunyi tanda kontraksi otot saat wanita mulai disulut birahi.<br />
“Mbak, aku terangsang. Aku suka ketek dan bulu Mbak, tetek dan puting Mbak..”.<br />
Mbak In tersenyum. “Ajarin lagi aku sesuatu yang baru”, katanya.</p>
<p>Kupandangi tubuh kencang yang sekarang tinggal bercelana dalam satin tipis. Baru aku sadar, di bawah pusarnya tampak segitiga menggelap. Itu pasti bulu vagina. Aneh, aku jadi penasaran, ingin segera melihatnya. Padahal selama ini aku tidak suka melihat bulu vagina yang lebat. Pernah waktu di panti pajit nafsuku jadi mengendor karena si cewek mempunyai bulu vagina yang lebat. Si cewek panti pijat sempat tersinggung, karena nafsuku jadi merosot gara-gara bulu vaginanya yang lebat. Akhirnya aku cuma meminta si pemijat untuk mengocok penisku, sembari aku membayangkan salah satu cewekku yang bulu vaginanya super tipis, hingga aku ejakulasi di payudara pemijat itu.</p>
<p>Aku selama ini memang risih dengan bulu lebat. Dalam pandanganku jorok, tidak sehat, cuma menimbulkan bau dan penyakit. Tapi kali ini begitu bernafsu ingin tahu, Mbak In rupanya tahu.<br />
“Kamu pingin liat lainnya yang lebat ya? Boleh..”.<br />
Aku menggeleng. Dia mengerutkan kening. Aku tersenyum, “Entar Mbak..”.<br />
Yang kulakukan sekarang adalah menciumi pusarnya lalu turun ke bawah, tanpa membuka celana lingerienya, sampai kurasakan bulu tebal tergesek satin dan hidungku.</p>
<p>Setelah itu kusisipkan jariku ke celananya. Kurasakan ketebalan bulu vaginanya yang lebat. Jariku seperti buta sejenak, tidak tahu kemana harus meraba clitoris dan labia majoranya.<br />
Oh, jadi inilah pesona bulu vagina yang tebal, bisa menyembunyikan vulva. Cewek-cewek yang pernah kukencani berbulu vagina tipis, malah ada yang cuma beberapa lembar, sehingga begitu mengangkang sedikit saja, vulvanya langsung terlihat jelas. Dan itulah yang aku sukai. Itu yang membuatku ereksi. Bau khas vaginanya juga mulai menyergap hidungku. Aku kian terangsang.</p>
<p>Akhirnya jemariku mulai mengenal medan. Tahu mana yang clitoris, mana yang labia majora, mana yang labia minora. Lebih dari itu, jemariku basah sekali, seolah baru saja terendam di mangkok. Lingerie itupun basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin kentara. Pinggul Mbak In terus berkeletekan, kontraksi karena terangsang.<br />
“Kamu terlalu, Gus. Terlalu…, Ayo buka celanaku”, katanya.<br />
Dipeganginya kepalaku, dijambaknya rambutku yang gondrong, lalu digesek-gesekkan ke lingerie yang basah kuyup dengan aroma yang kian kentara itu.<br />
“Aku terangsang Gus..”.</p>
<p>Tiba-tiba dia mundur, menjauhkan kepalaku. Tak terasa aku sudah berlutut sejak tadi rupanya. Dengan cepat dia melepas sisa lingerie-nya, dan mencampakkannya ke lantai berkarpet. Wow! Luar biasa, bulu lebat membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu aku naikkan kaki kanannya ke kursi rias. Wah! Luar biasa. Kelebatan bulu vaginanya menutupi vulva. Aku sibak bulu vaginanya, lalu tampaklah vulva yang berwarna gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aneh! Aku kok bisa terangsang. Padahal kalau melihat gambar porno perek melayu yang berkulit hitam, meskipun payudaranya besar, toh vulvanya gelap. Dan itu menjijikkanku. Tapi kali ini aku terkesima. Aku sibak dan belai bulu vaginanya yang sedikit basah. Begitu pula vulvanya. Vulva seorang perawan matang yang mengkilap.</p>
<p>Aku terus memandanginya. Kutunda sekuat tenaga untuk tidak segera mengecup dan menjilatinya. Karena aku ingin menikmati pengalaman baruku secara bertahap dengan pelan. Dengan jempol kuraba clitorisnya yang menyembul keras dan gelap itu.<br />
“Auwwwwww…”, Mbak In bersuara.<br />
Astaga! Jadi inilah clitoris si Mbak. Coklat tua, ada merah tuanya. Besar juga clit-nya. Aku putar pakai jempol.<br />
“Ihh…, gila kamu Gus!”.<br />
Lalu jari telunjuk dan jari tengahku menjepit clitnya dan memutar-mutarkannya.<br />
“Gila…, ghuillaa…, waohh”, desahnya.<br />
Nafasku mulai memburu. Mbak In juga. Aku ambil break sejenak. Mundur, duduk, kaki selonjor di lantai, kedua tanganku di lantai menyangga badan. Saat dia akan menurunkan satu kakinya, aku bilang, “Jangan dulu Mbak…”</p>
<p>Kuamati tubuh di depanku itu. Barulah kusadari pancaran kewanitaannya. Tubuh Mbak In memang kencang. Dalam umur 42 masih bagus badannya, karena masih perawan, belum pernah melahirkan. Lebih dari itu dia memang rajin senam dan fitness, begitupun renang. Sempat terbayang bagaimana ketiaknya terlihat kalau dia senam dan renang. Tubuh langsing padat, payudara kecil kencang, bulu vagina lebat merambat.<br />
“Mbak aku pingin liat ketiak Mbak lagi..”, pintaku.<br />
Dia mengangkat kedua lengannya. Bayangkan. Satu kaki di kursi, kedua lengan terangkat, dada busung tegak. Oh indahnya. Oh wanita dewasa. Oh wanita matang. Oh wanita lajang. Oh wanita perindu kehangatan lelaki. Oh wanita matang lajang kesepian yang hanya berfantasi setiap hari sambil mendidihkan birahi untuk dirinya sendiri.<br />
“Apa lagi sekarang Gus?”.<br />
“Mbak aku mau liat vulva Mbak..”.<br />
“Boleh. Nih liat..”.<br />
Wow! Tangan kanannya turun, lantas jemarinya merentang labia majora. Merah tua menggelap, tapi bagian dalamnya merah menyala. Begitu basah dan berkilau. Lendir yang encer terlihat jelas.</p>
<p>Sesaat aku menikmati pemandangan yang belum pernah kualami itu. Tangan kanan menyibak vulva, lengan kiri terangkat memamerkan ketiak lebat.<br />
“Mbak jilat sendiri Mbak..”.<br />
Ah, dia mau melakukannya. Jemari itu dijilatinya, lalu digesekkan lagi ke vulva, jilat lagi, beberapa kali. Aku tidak tahan, lalu berdiri. Penisku kian mengeras, sehingga celana dalamku seperti menyimpan senjata. Ada setitik basahan di situ. Itu tetesan pertama maniku. Aku menghela nafas. Lalu melepas kaos.<br />
“Tunjukin dong penismu” kata Mbak In, lalu duduk di kursi rias itu. Aku mendekat.<br />
“Badanmu bagus, Gus. Atletis”.<br />
Aku bersyukur, mempunyai tinggi 175 cm dengan berat 75, dan otot yang masih kencang.</p>
<p>Lalu dia meraba celanaku, lalu tonjolan penisku. Kemudian memelorotkan celanaku. Tuinggg! Begitu celana dalamku merosot, maka batang penisku turun, tertarik ke bawah sesaat, untuk kemudian tegak mendongak. Dia memandangi penisku.<br />
“Pegang Mbak”, kataku.<br />
Mbak In nggak langsung menggenggam. Tapi merentang jempol dan kelingkingnya seperti mengukur panjang.<br />
“Kayak pisang”, katanya.<br />
Lantas jempol dan telunjuknya melingkari pucuk penisku. Jarinya lentik, kukunya panjang terawat. Sexy juga ternyata. Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.<br />
“Hangat ya..”, bisiknya mesra.</p>
<p>Kami sama-sama mengambil nafas. Aku menjauh sedikit. Baru sekarang terasa dinginnya AC kamar. Tapi aku tidak mau terburu-buru. Aku ingin mengulur tempo dan menikmatinya lebih lama, soalnya kan lagi ngajarin Mbak In.<br />
“Ke sofa lagi yuk Mbak”, ajakku. Dia tersenyum. Lalu aku gandeng. Kami duduk berdua. Berhadapan. Aku cium bibirnya, dan kemudian matanya.<br />
“Haus Mbak”, bisikku.<br />
“Iya Gus…, tenggorokanku juga kering”.</p>
<p>Mbak In berjalan menuju kulkas, mengambil orange juice kemasan botol. Kami minum bergantian dari botol yang sama. Lalu bersandar ke sofa, sama-sama diam. Tidak terasa sudah satu setengah jam lebih berlalu sejak acara pembukaan di cermin rias tadi. Nafasku kembali normal. Tapi penisku kembali mengendur, memang begitulah alam mengaturnya.<br />
“Kok jadi kecil lagi?”.<br />
Aku tersenyum, “Memang gitu Mbak. Entar gede lagi. Mbak juga mengecil lagi klitnya pasti. Cairan vagina juga berhenti ngalir kan?”. Dia mencium pipiku.<br />
“Sini Mbak”, kataku.<br />
“Gimana lagi?”, dia keheranan.</p>
<p>Dia kuminta untuk berdiri, kemudian aku dudukkan di pangkuanku. Tangan kananku menyangga punggungnya, tangan kiriku menyangga kakinya. Seperti membopong sambil duduk. Kami berciuman. Lipstiknya mulai menipis.<br />
“Apa sih yang kamu sukai dari tubuhku Gus?”. Aku menjawab dengan menciumi lehernya.<br />
“Geli, nikmat, ahh..”.<br />
Kemudian dia kubalikkan, menghadap ke depan, tetap dalam pangkuanku di sofa. Aku pegang payudaranya. Aku mainkan puting susunya.<br />
“Ternyata Mbak In itu hangat ya?”.<br />
“Bukan kulkas, gitu?”.<br />
“Iya. Mbak juga penuh pesona kewanitaan”.<br />
“Bener?”.<br />
“Mbak ternyata punya nafsu..”.<br />
“Iya dong”, ia berbisik.<br />
“Mbak suka masturbasi juga?”.<br />
“Iya dong. Seminggu sekali, bisa dua kali, pernah tiga kali. Aku tahu masturbasi sejak umur 20, dulu sih 3 minggu sekali. Akhirnya mulai umur 30 gairahku malah bertambah. Kadang aku bayangin temen-temen cewek itu, udah kenal penis umur 20, sampai sekarang udah bersetubuh berapa kali coba? Sementara aku cuma bisa masturbasi”.<br />
“Mbak mau dimasturbasi nggak?”. Dia mengangguk.</p>
<p>Lalu kakinya kukangkangkan, dengan posisi tetap jongkok di pangkuanku. Aku ajak dia bekerja sama, jemari dan telapak tanganku untuk memainkan vulvanya, tapi yang menggerakkan tanganku adalah tangannya. Luar biasa. Aku jadi tahu bagaimana si Mbak memburu nikmat. Mulanya memainkan clit. Lantas labia majora. Mulanya gerakannya pelan. Akhirnya kencang, maju-mundur, berputar-putar, sampai tanganku pegal.</p>
<p>Lima belas menit berlalu, si Mbak sudah mendesis-desis, sampai akhirnya tubuhnya mengejang sejenak. Kuambil telapakku, aku ciumi dengan hidung dan mulut. Basah penuh aroma.<br />
Mbak pingin apa sekarang?”.<br />
“Ouhh…, pake nanya. Terserah..”.<br />
Dia kuberdirikan. Aku berlutut di depannya. Aku cium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu pusarnya. Dia cuma ah-uh-ah-uh saja. Aku ulangi terus, kira-kira lima menit lamanya.</p>
<p>Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditarik olehnya, lalu mukaku ditempelkan ke bulu vaginanya. Aku cuma menggesek-gesek hidung di rumput lebat itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa, kaki yang lain tetap berdiri menyangga tubuhnya di lantai. Dengan pelan aku gesekkan hidungku ke clit-nya, lalu labia majoranya. Aku merasakan vulva-nya yang kian basah itu. Aku bisa merasakan bahwa bertambah basahnya vulva Mbak In bukan karena saliva-ku, akan tetapi terlebih karena dari lubang vagina itu memang membanjir cairan encer. Begitu banyak cairan yang merembes, sehingga aku bisa menghirup sambil menyedotnya. Slurping, kata orang bule…, Segar juga. Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin.</p>
<p>Mbak In tidak kuat dengan perlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Aku julurkan lidahku di depan vulvanya yang basah itu, cuma di depannya, belum menempel. Masih jauh, malah. Kira-kira sejengkal dari sasaran. Aku diam terus sambil menjulurkan lidah. Mbak In jadi gemas dibuatnya.<br />
“Cepet dong. Kamu jahat, Gus. Aku udah nggak tahan..”.<br />
Ya, tunggu apa lagi? Dengan kedua jempolku aku rentang labia-nya. Merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Clit-nya mengeras, seperti biji kacang garing. Ah nggak, clitoris manis ini seperti kacang mete, begitu pula ukurannya.</p>
<p>Dengan pelan kutempelkan ujung lidah ke clitorisnya yang mulai keras itu. Cuma menempel, tidak kugesekkan, tidak kujilatin.<br />
“Auhh…, geli…, nikmat…, terus dong”, katanya.<br />
Sekarang lidahku mulai bermain. Clit itu aku jilati. Tubuhnya bergetar. Lidahku terus menjelajah ke labia majora, ke seluruh vulva, sampai banjir permukaan vaginanya, karena campuran saliva dan cairan vagina. Dia terengah-engah.<br />
“Ouhh…”, Mbak In cuma bersuara begitu. Pertama-tama Mbak In aku minta mengocok penisku sampai tegak sempurna. Lima menit kemudian penisku tegang kembali. Air maniku sudah mendidih rasanya. Aku rebahan di ranjang. Mbak Indriani di atas, meniduriku.<br />
“Ayo Mbak tindih aku, pelan-pelan aja, digesekin tuh memek Mbak, kayak onani”.<br />
Dia menurut saja. Naik turun, maju mundur, akhirnya kini vagina Mbak In telah telah basah. Penisku basah. Sudah deh, tidak ada foreplay lagi. Yang penting kini vaginanya sudah basah. Kemudian aku biarkan sendiri nalurinya sebagai wanita dewasa yang matang menuntun birahinya yang menyala-nyala semerah dinding dalam liang vaginanya.</p>
<p>Mula-mula penisku cuma masuk dua senti. Seret dan licin. Asyik juga. Mbak In merem melek. Cabut lagi, masuk lagi. Vaginanya semakin basah. Lubang vaginanya makin longgar. Kudorong lagi hingga bertambah 1 senti. Mbak In merem melek. Kuulang-ulang terus, aku lupa berapa kali, sampai akhirnya “slepppppp…”, burungku menembus pelan vagina si perawan tua yang selalu membuatku onani setiap hari itu.<br />
“Nggak sakit Mbak?”, tanyaku.<br />
“Nggak”, bisiknya.<br />
Iya dong, mainnya pelan, vagina sudah longgar dan banjir, mana bisa sakit. Soal memuaskan wanita, aku mempunyai banyak pengalaman. Meski tidak keluar darah, tanpa rasa sakit, aku yakin inilah kali pertama vagina terhebat di dunia ini kemasukan penis.<br />
Dengan jari kuelus permukaan vaginanya. Dia menggelinjang. Dua jempolku kembali menempel di kedua sisi bibir vaginanya, sehingga bisa merentang mulut vagina.<br />
“Namanya apa sih Mbak?”, aku menggoda.<br />
“Bego kalo kamu nggak tahu!”.<br />
Aku terus menggoda, “Namanya apa sih? Sebutin dong, Mbak..”.<br />
“Payah kamu! Udah sering ngerasain, sering nyoba,masih nggak tau juga”.<br />
Aku diam saja, nggaktidak melakukan tindakan pada pemandangan di depan mukaku itu.<br />
“Apa dong Mbak namanya?”.<br />
“Tauk ah!”.<br />
“Apa dong?”.<br />
“Dikira-kira sendiri. tau?”.<br />
“Apa dong?”.<br />
“Ahh…, bawel amat sih!”.<br />
“Apa dong…, lleelelelhett…, sebutin dong llelelelelhet”, aku menggodanya sembari memainkan lidah di labia dan kclit.<br />
“Auhh…, gila. Nakal”.<br />
“Apa dong, clat, clat, clatttt…”, lidahku semakin nakal, lalu aku hentikan.<br />
“Kamu sendiri nyebutnya apa Gus?”.<br />
Aku jawab, “Vulva, ada klitorisnya, ada labia majora dan minoranya..”.<br />
“Uh kayak guru biologi aja, Gus. Pake nama latin segala..”.<br />
“Habis apa dong..”.<br />
“Malu ah…, udah tahu kan? Tabu buat disebutin, tapi aku sering ngebayangin juga sih..”.<br />
“Kok ngebayangin?”.<br />
“Iya, kalo lagi masturbasi aku sering mendesis-desis nyebutin kata-kata tabu, sambil memacu diri menuju orgasme bersama pria seksi…, Rasanya pingin ngelepasin semua hambatan gitu. Kamu ini mulai mancing ya?”.<br />
“Maksud Mbak?”, aku tanya sembari menjilati bagian basah itu.<br />
“Iyah, aku kan sering ngebayangin hal-hal yang terlarang termasuk ucapan-ucapan terlarang. Jadinya kalo lagi on, waktu masturbasi, ya nyebutin satu demi satu bagian terlarang…, Ahh kamu nakal, lidahmu pintar, udah sering yahh. Aduh…, geli!”.<br />
“Hmm…, ayo dong Mbak..”.<br />
“Iyahh sekalian basah, sekalian dibuka deh rahasia ini. Kalo lagi masturbasi aku sering nyebutin ini…, Aahh geli, nikmat terusin…, Aku sering nyebutin ini…, Ah kamu nakal!”.<br />
Iya, gimana bisa ngomong lengkap, kalau mulutku semakin aktif dan binal menggarap pusat kewanitaannya?<br />
“Aku sering berbisik, kadang juga berteriak, sih…, Itil, memek, jembut, burung, mani, itil, memek, burung, jembut, Gus!”.<br />
“Lagi Mbak..”, Aku senang mendengar kata-kata tabu itu.<br />
“Memek, iyaa…, me..mheekkkk…, iiiittt..theeeiiill…, jemm bouttttt…, kuonnnnn…tuuoll…, Gila nikmat banget teknik oralmu!”.<br />
“Ini Mbak burungku!” Aku berdiri, aku mengacungkan penisku ke mukanya.<br />
“Woooouwwww…, tambah gede. Udah ngerasain berapa memek nih?”.<br />
“Pegang Mbak..” Dia memegangnya. Lalu mengelus. Akhirnya mengocok pelan.<br />
“Isep dong…”.<br />
“Ah nggak. Entar ajah…, Aku masih takut…”.</p>
<p>Aku tidak mau main paksa. Aku sadar sedang mengajari cewek mengenal pengalaman pertama. Biar umurnya sudah matang, tapi pengalaman masih nol. Lalu Mbak In kuminta jongkok di mukaku, sementara aku rebahan di karpet, kepalaku diganjal bantal.<br />
“Sekarang Mbak yang aktif ya…, anggap aja lagi onani..”.<br />
Wow! Tanpa penjelasan lebih lanjut dia langsung memainkan kemaluannya di mukaku, terutama di hidung dan mulutku. Namanya saja naluri? Biar tidak pengalaman, masih perawan, tapi kalau usia sudah matang, juga dia sering nonton film porno, sehingga tidak rikuk lagi menghadapi hal tersebut. Mbak In jadi pintar dalam waktu sekejap. Kadang dia jongkok mengambang, sehingga kemaluannya cuma mengambang di mukaku, tapi kadang juga menekan seperti menduduki wajahku. Begitu banyak cairan membajir dari liangnya.</p>
<p>Sekitar 10 menit hal itu berlangsung. Maju mundur, geser kanan kiri, berputar, begitu terus. Sampai akhirnya.., “Ahh gila…, mhemm..mhekkkkkkuuuuuuu…, itttttt..tillku…, Auhh…, Memek! Itil! Ayo jangan berhenti…, aku nggak kuat Gus!”.<br />
Ah ini dia awal orgasme hebat. Tubuhnya mulai mengejang. Lalu kedua lutut Mbak In tergetar. Tidak ada suara dari mulutnya. Kemudian tubuhnya membungkuk. Dan akhirnya setengah telungkup di atas tubuhku. Kurasakan cairan vagina terus membanjiri wajahku, memasuki hidungku, tertelan oleh mulutku. Tubuh Mbak sudah basah oleh peluh.<br />
“Terima kasih, Gus..”, bisiknya.</p>
<p>Dia menggelindingkan tubuh di sampingku. Nafasnya tersengal-sengal. Aku bangun berdiri. Dia masih rebahan. Kupandangi tubuhnya yang mengkilat, dengan kaki mengangkang dan lengan terentang hingga ketiaknya yang lebat itu tampak. Ah indahnya kejalangan seorang Mbak In!<br />
Dia memandangi penisku yang teracung tegak. Aku pegang batangku. “Jangan sekarang”, katanya. Aku mengalah. Padahal nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun.</p>
<p>Lantas Mbak In kubimbing untuk berdiri, duduk di sofa, dan aku ambilkan minuman untuknya.<br />
“Thanx…”, katanya.<br />
“Mbak capek?”, tanyaku. Dia mengangguk.<br />
“Sini aku pijitin”, kataku.<br />
Dia menurut ketika aku telungkupkann tubuhnya di sofa. Aku mulai memijat kakinya, lalu pinggangnya, dan punggungnya.<br />
“hh…, nikmat…, kamu pinter, Gus”.<br />
Saat itu penisku mulai mengendor. Nafsuku mulai berkurang.</p>
<p>Sekitar seperempat jam itu kupijati dia. Kini giliran mulut dan hidungku menciumi punggungnya, pinggangnya, pantatnya, dan entah apa lagi, pokoknya oral seks kupraktekkan lagi. Lendir mengalir membanjir. Penisku menegang lagi. Beberapa tetes mani beningpun keluar karena tidak tahan oleh birahiku yang kian menggila.<br />
“Aku basah Mbak”, kataku.<br />
Mbak In menoleh melihat penis tegakku yang pucuknya basah. Dia terbelalak. Lagi-lagi posisi tadi berulang. Bau keringat dan cairan vagina bercampur. Aku tidak tahu sudah berapa cc menghirup lendir encer yang keluar dari lubang vagina si perawan tua ini. Beberapa kali dia mengejang. Mungkin empat kali. Dan puncaknya adalah, “Mememekkku Gusssss…, Itiillku…, nggak tahan. Itillkuu mauuu lepassss…, Auh!”.<br />
Dia orgasme hebat. Vaginanya seperti menyempit tiba-tiba.</p>
<p>Kami sama-sama lelah. Lalu beristirahat.<br />
“Mandi air hangat yuk”, kataku.<br />
Kami ke kamar mandi, menyegarkan diri dengan shower. Tanpa percumbuan, tanpa birahi, tanpa nafsu. Saling menyabuni dan mengeramasi. Penisku sudah mengecil.<br />
“Lucu ih”, kata Mbak In sembari meremas penisku yang terkulai. Lalu kami tidur. Berpelukan dalam kamar sejuk ber-AC. Dengan segera aku terlelap karena kecapean.</p>
<p>Kami tertidur, sudah jam 3 pagi lebih. Capek dan ngantuk sekali. Ototku seperti terurai. Kami berpelukan di ranjang Mbak In, ranjang perawan tua yang selalu kesepian, menjadi saksi tiap kali si lajang onani karena diamuk birahi, menjadi saksi tiap kali beberapa helai bulu vaginanya rontok saat digusel oleh tangannya sendiri.</p>
<p>Di kamar ber-AC itu kami terlelap. Aku benamkan wajahku di ketiaknya yang lebat. Entah jam berapa aku tidak tahu karena Mbak In membangunkanku.<br />
“Ini apaan? Kamu ngompol yah?”, tanyanya. Ternyata sprei telah basah oleh maniku, sebagian menyentuh pantat Mbak In.<br />
“Ini maniku Mbak. Habis tertahan terus sih di dalam akhirnya cari jalan keluar sendiri. Aku sih nggak tahu, soalnya lagi tidur tadi”, kataku tersipu.<br />
“Ih hangat dan lengket ya”, katanya.<br />
“Bayangin aja kalo ini mengalir ke memek Mbak”, kataku.<br />
“Nakal kamu”, dia mencubitku.<br />
Dengan tissu kubersihkan ceceran maninya. Setelah itu aku tertidur lagi karena masih mengantuk. Mbak In sepertinya juga tertidur.</p>
<p>Pagi hari, ketika sudah agak terang, aku terbangun. Ternyata Mbak In sudah mandi, lagi make up di depan cermin.<br />
“Aku harus masuk kerja”, katanya. “Padahal capek nih” lanjutnya.<br />
Kupandangi dari ranjang. Tubuh yang kencang itu kuamati dari belakang. Inilah pesona si perawan tua. Dia cuma memakai celana dalam dan BH-nya hitam tipis mungil berenda. Oh, seksi sekali! Tak terasa penisku berdiri lagi.</p>
<p>Aku bangkit dengan senjata teracung. Aku hampiri Mbak In. Kupeluk dari belakang. Aku ciumi lehernya, ketiaknya sambil tanganku mengelus payudaranya yang kecil.<br />
“Ah, jangan Gus, aku lagi make up nih…, nanti rusak make up-ku”.<br />
Aku membisikinya, sambil menjilati telinga kirinya, “Janji deh Mbak make up nggak rusak, tapi dapet kenikmatan yang banyak diperoleh para cewek di kantor Mbak pada pagi hari..”.<br />
Oh, aku kian merapat ke tubuhnya. Tapi tidak bisa mencium pipi dan bibirnya, takut kalau make up-nya rusak. Yang penting bisa menikmati bulu ketiaknya yang luar biasa itu dengan hidung dan mulutku. Penisku semakin tegak berdiri. Tanganku mengelus puting susu si perawan tua yang makin mengeras ini.<br />
“Kamu terlalu, Gus”, bisiknya.<br />
“Terlalu nikmat ya?”, tanyaku.</p>
<p>Aku terus memeluk dari belakang. Tanganku menggusel payudara mungilnya yang keras, payudara 42 tahun yang tidak pernah merasakan kenakalan lelaki muda. Hidungku merasakan sensasi gila yang luar biasa, bulu ketiak yang hitam lebat dan panjang.<br />
“Ketek gini kok dianggurin bertahun-tahun sih Mbak”, tanyaku.<br />
“Dianggurin gimana?”, tanyanya.<br />
“Ya dianggurin dalam arti nggak pernah diciumin laki, nggak pernah digosokin burung”.<br />
“Heh, burung main di ketek? Bisa? Coba dong..”.</p>
<p>Make up-nya Mbak In sudah selesai. Sekarang dia duduk di kursi rias, lantas kedua lengannya diangkat sehingga bulu ketiaknya tampak jelas. Penisku yang tegang, aku gosokkan ke ketiaknya. Wuahh…, hangat, lembbut, seperti menyentuh bulu vagina. Mbak In melihatku dengan pandangan mesra. Penisku semakin besar dan mengeras. Ingin sekali rasanya minta penisku dicium, dijilat lalu dihisap olehnya. Tapi nanti dulu, si perawan tua ini harus dilatih. Kalau serba mendadak bisa trauma nanti dan jadi alergi dengan penis.</p>
<p>Akhirnya aku tidak tahan juga. Rasanya maniku sudah mendidih. Belum pernah aku onani memakai bulu ketiak, dulu aku tidakak suka dengan cewek yang ketiaknya berbulu. Karena tidak sabar aku gesekkan penisku ke ketiaknya sambil kukocok.<br />
“Mbak aku udah nggak kuat, bayangin dari semalem cuma nahan burung supaya nggak masuk memekmu, jadi gimana dong..”. Mbak In tersenyum.<br />
“Mbak, bantu dong Mbak”, pintaku. Tangannya meraih penisku lalu mengocoknya pelan.<br />
“Cepat Mbak. Dia menurut. Terus Mbak..”.<br />
“Aduh pegel nih…, gantian tangan kiri ya..”, Aku tidak bisa berkata apa-apa cuma mengangguk. Air maniku yang mendidih tadi tidak jadi keluar. Yang pasti rangsangan yang kuterima semakin kuat.</p>
<p>Mbak In mulai berkeringat. Uh, tambah cantik melihat si perawan tua yang berberbulu ketiak lebat ini berpeluh. Ketiaknya juga basah, payudaranya juga.<br />
“Tanganku capek..”, katanya. Ya sudah aku kocok sendiri penisku.<br />
“Kamu pingin apa Gus?”, tanyanya.<br />
Aku bilang, “Pokoknya pingin nikmat, tuntas, sampe orgasme dan maniku terkuras abis”.<br />
“Tapi aku belon siap buat bersetubuh. Memekku belon siap dirobek selaputnya. Belon siap disembur cairan lelaki..”, katanya manja.<br />
“Yah gimana Mbak, aku nggak bisa mikir nih”. Mbak In jongkok. Mengamati dari dekat caraku mengocok penis. Mulutnya ternganga.</p>
<p>“Oh gitu ya…, gila..”, katanya. Aku sudah tidak tahan.<br />
“Awas Mbak mau muncrat nih!”, Mbak In terbelalak.<br />
Aduh bagaimana kalau mani ini nanti kena mukanya, kena bibirnya. Dia kan masih perawan. Vaginanya saja belum pernah disembur mani, kok muka dan mulutnya, kasihan…<br />
“Terus Gus!”, katanya.Tangannya menyingkirkan tanganku.<br />
“Biar aku aja”, katanya. Aku nurut saja.<br />
Tangan lembut berjemari lentik itu mengocok penisku pelan-pelan. Aku sudah tidak tahan.<br />
“Cepetan Mbak!”, kataku. Dia semakin cepat mengocok penisku.<br />
“Mbak angkat dong lengan kiri. Aku mau lihat ketiakmu yang lebat itu..”.<br />
Jadilah dia jongkok sambil mengangkat lengan memamerkan ketiak hebat yang berbulu luar biasa. Aku semakin bernafsu. Akhirnya aku cuma bisa berkata, “Awassssss…”. Dan “Crat…, crat…, crat”, air maniku muncrat keras, banyak, dan kental. Mbak In sempat menarik muka menjauh, tapi payudaranya yang mungil dan kencang itu terkena semprotan air maniku.<br />
“Uh, yang namanya mani ternyata hangat ya..”.<br />
Dioles-oleskannya air maniku ke seluruh payudaranya.<br />
“Kok lengket ya…, Kayaknya superglue, hihihik…, Gimana kalo misalnya masuk ke memekku…, Ih aku harus ganti beha nih..”.</p>
<p>Mbak In masih terheran-heran oleh air maniku, benda yang baru dilihatnya ketika usianya sudah 42 thn. Dalam ruang ber-AC mani yang teroles rata di payudaranya cepat mengering.<br />
“Wahh…, ini rupanya krim pengencang tetek. Di kulit kenceng rasanya, Gus..”.<br />
“Buat facial juga bisa Mbak. Makanya di VCD selalu ada facial cumshot…”.<br />
“Ih, nakal deh kamu”, katanya sambil mencubit pipiku.<br />
Aku capek sekali. Terima kasih Mbak In sayang, perawan tuaku. Pagi itu kami berangkat bersama dan sepakat untuk ketemu lagi buat belajar seks. Kami sering bertemu. Jalan-jalan, makan, nonton, seperti orang pacaran. Lalu ya biasalah main seks tanpa persetubuhan. Hal itu berlangsung 5 bulan. Kami bertemu seminggu 2 kali. Oral seks itu rutin. Hanya aku yang melakukan oral seks pada dia, dianya sendiri tidak pernah melakukan oral pada penisku. Ini prestasi buatku. Kencan sudah hot, tapi tidak ada persetubuhan. Vagina Mbak In bisa dijilat dan dihisap sampai kering, tapi keperawanannya masih tetap terjaga. Air maniku sudah bocor berkali-kali, tapi tidak setetespun yang menyelinap ke cervix si lajang hangat bernafsu kuat itu. Maka hanya cunnilingus (tanpa diimbangi felatio) yang selalu berlangsung.</p>
<p>Tak apa. Aku sendiri suka bisa mengerem nafsu, sekaligus belajar memperoleh kepuasan tanpa menancapkan penis ke lubang vagina yang tiada henti mendambakan kenikmatan, lubang vagina yang sebetulnya memendam iri pada vagina wanita lain yang sering dijejali penis dan ditumpahi mani hangat. Tapi, yah…, vaginanya saja belum kena penis, masak mulutnya sudah dimasukkin penis, Kasihan kan? Pemanasan kami tentu dengan nonton BF di VCD. Aku kan punya banyak koleksi film BF. Juga dari majalah.</p>
<p>Ternyata Mbak In si perawan tua ini punya beberapa majalah hot. Katanya sih seperti surat kaleng mendapatkannya. Diposkan ke rumah tanpa nama pengirim. Dia menduga dari cewek-cewek di kantornya yang baru saja pulang dari luar negeri. Majalah itu menjadi bahan onaninya Mbak In. Atau juga onani kami berdua. Muncratnya air maniku ya paling-paling di payudara mungilnya, atau di perutnya, pernah di pusarnya dan ceceran air maniku itu merambat ke bulu superlebatnya.</p>
<p>Hari itu Mbak In genap 42 tahun. Cuma kami rayakan berdua saja di sebuah restoran di hotel berbintang lima. Dia seksi sekali malam itu. Memakai sack dress ketat tanpa lengan, tanpa BH. Karena dia punya kebiasaan menyibak rambut, sehingga bila lengannya terangkat, maka ketiak hebat itu tampak. Aku lihat pelayan restoran dan pengunjung lain pada ngeliatin. Mbak In sendiri sepertinya bangga dengan ketiaknya sekarang.</p>
<p>Pulang dari restoran kami bercumbu, seperti biasanya. Pakai oral, pakai kocok-kocokan, hingga air maniku mau habis. Mbak In sudah terbiasa dengan muncratan mani. Dibiarkannya air maniku membasahi payudaranya bahkan lehernya. Kadang di perutnya, tepat di pusar. Mbak In makin pintar. Cara mengocoknya semakin hebat. Paduan irama lambat kadang cepat bisa menguras maniku. Kadang penisku digesek-gesekkannya ke ketiak lebatnya, ke payudara mungilnya. Air maniku pernah menetes di ketiaknya. Habis nikmat sih, seperti menggesek bulu vagina.<br />
“Hari ini aku genap 42 tahun, Gus. Jadikan aku wanita selengkap-lenglapnya” pintanya, setelah kami istirahat karena kecapekan.</p>
<p>Hari sudah menjelang pagi. Tapi penisku masih bisa berdiri tegak. Inilah saatnya untuk membobol si perawan tua ratu jembut yang jago onani itu, yang vaginanya merindukan sodokan dan elusan batangan daging bertulang lunak, dengan moncong water canon yang siap menembakkan cairan kental yang kencang di kulit wanita. Aku tentu saja mengiyakan.<br />
“Terserah caramu, asal nikmat”, katanya.<br />
Di atas tubuhku Mbak In bergeser pelan, memutar pinggul, goyang kanan kiri. Serba pelan. Kali ini dia tidak banyak bicara. Cuma merem melek sambil ah.., uh.., ah.<br />
Akhirnya aku tidak tahan. Vagina perawan tua itu tiba-tiba seperti menyempit dan menyedot penisku.<br />
“Mbak, Aku mau keluar., Mbak!”, Mbak In cuma menciumku dengan mesara. Keringatnya menetes di wajahku. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya seluruh cairan kelelakianku tersedeot. Seluruh tubuhku seperti diperas. Inilah orgasme hebat yang jarang kualami. Ternyata aku tidak muncrat, cuma mengalir pelan tapi banyak maninya. Saat itu juga Mbak In orgasme. Tubuhnya mengejang, menggelepar di atas tubuhku, dengan keringat membasahi tubuh. Bau ketiaknya kian merangsang.</p>
<p>Dia terpejam menikmati orgasmenya yang pertama kali lewat persetubuhan.<br />
“Oh indahnya. Terima kasih Gus”, katanya.<br />
Tidak ada jeritan liar yang menyebutkan segala genital dalam bahasa sehari-hari. Tidak ada teriakan tertahan. Semuanya begitu lembut, hangat, dan indah. Aku merasa seperti perjaka yang kelepasan kemurniannya. Kalo Mbak In sih jelas, perawan tua yang terlepas keutuhannya, dengan lembut, tanpa robekan selaput yang menyakitkan, tanpa darah karena koyakan.</p>
<p>Sampai terang matahari kami masih berpelukan. Kami berdua bolos kerja. Mandi berdua pakai air hangat, alangkah segarnya. Lalu tidur. Siangnya setelah makan kami bersetubuh lagi. Aku yang di atas. Air maniku masih bisa membanjir, menggenangi vaginanya. Lalu istirahat. Sore bersetubuh lagi.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya persetubuhan menjadi rutin. Entah sudah berapa cc air maniku mengalir ke vagina perempuan berusia 42 tahun ini, tapi masih seperti vagina gadis remaja karena tidak pernah dipakai itu. Semua adegan BF kami tiru, kami coba. Mbak In makin pintar. Juga makin buas. Indriani si jembut lebat, dengan vagina coklat dan clitoris sebesar mete ini memang wanita yang tepat untuk menguras syahwat. Indriani, kenapa sih birahimu kau simpan sekian lama, tersembunyi dalam vagina gelap dan bulu lebatmu? Demi karierkah kau menahan nafsu betinamu? Kau buang hari-harimu tanpa merasakan cipratan mani dan sodokan penis pada cervix-mu.</p>
<p>Aku semakin terikat padanya. Aku makin menyayanginya. Inikah cinta? Sayang seribu satu sayang, Mbak Indriani si lajang kesepian bersyahwat dahsyat itu tidak pernah membicarakan soal asmara. Tak adakah cinta di kamus hatinya? Tak adakah cinta di ujung vaginanya, agar kelak bisa berbuah janin?</p>
<p>Banyak sudah variasi yang kami lakukan. Hanya satu yang belum. Mbak In membiarkan mani muncrat di wajahnya, begitu pula kepada mulutnya, padahal aku ingin sekali, karena setiap kali masturbasi itulah termasuk yang kubayangkan.</p>
<p>Hari ini ulang tahunku ke 25. Kami bercinta. Waktu ditanya apa permintaan istimewaku, maka aku jawab, “facial cumshot kayak di VCD porno”.<br />
Surprised! Mbak In mau. Tapi dengan syarat aku harus bisa membuatnya orgasme terlebih dahulu. Ya maka kami bersetubuh dengan posisi dia di atas.<br />
Berkali-kali dia mengingatkan, “Awas, jangan muncrat dulu Gus..!”.<br />
Kalu aku sudah mau keluar, Mbak mencabut vaginanya, lalu meloncat dan menggesek-gesekkan vaginanya ke mukaku. Mulutku melumat habis vagina dan clitoris-nya sampai aku minum cairan vaginanya banyak sekali. Begitulah sampai akhirnya dia klimaks, sambil bicara keras.<br />
“Akan aku habisin manimu…, manniimuuu…, mhannn..nhiiii..muuu…, spermaamu…, pake mulutku untuk pertama kalinya Gus!”.<br />
Semoga tetangga tidak ada yang mendengar. Mbak In kalau sudah di puncak birahi memang tidak bisa mengontrol diri. Pingin teriak yang tabu-tabu. Kadang setengah menjerit, “burungll” atau, “Memekku! Memekku! Memekku…”.<br />
Tapi aku justru malah senang. Malah tambah terangsang. Aku paling suka kalau melihat dia menjadi jalang, jadi budak birahi. Nah begitu selesai klimaksnya dengan banjir cairan vagina, Mbak In langsung melumat penisku.</p>
<p>Inilah kelebihan wanita. Biar belum pernah melakukan oral seks di penisku, toh terampil juga. Dia hisap, dia kocok, dia jilat, sedot, lumat, kocok, sampai akhirnya aku tidak tahan. Menjelang puncakku, Mbak In melepaskan mulutnya. Si lajang penuh birahi itupun turun dari ranjang, lalu bersimpuh di lantai. Aku disuruhnya bangun dan berdiri. Maniku sudah tidak tahan. Lalu dia mengocok lagi penisku sambil jongkok, sementara aku berdiri.<br />
“Mbak pake satu tangan aja. Tangan Mbak yang satunya diangkat, biar aku muncrat sambil menikmati jembut ketek yang fantastis itu..”, pintaku. Oh, dia menurutiku. Maka tangan kiri mengocok pelan penisku, tangan kanan terangkat, merentang lengan, sampai ketiaknya terlihat jelas. Penisku semakin menegang. Jilatannya makin gila. Kocokannya makin habat.<br />
“Mbaak..”, aku menjerit tertahan. Semuanya berlangsung cepat. Maniku muncrat, “Crat…, crat…, crat”, Masuk ke mulutnya, tapi tidak tertampung semuanya. Jadilah membasahi pipi dan hidungnya. Bibirnya belepotan mani. Sebagian menetes ke payudaranya yang mungil tapi keras kenyal itu.<br />
“Enak juga mani ternyata”, katanya setelah kami terengah-engah duduk di lantai. Kami istirahat.</p>
<p>Pagi esoknya ketika aku masih tertidur, aku terbangun. Karena ternyata penisku sudah dihisap si lajang 42 tahun yang sekarang haus mani itu.<br />
“Iya Mbak ini jamu, biar awet muda. Buat facial bisa bikin wajah kiencang”, kataku.<br />
“Katanya sih gitu. Temen-temen itu juga pada minum mani dan dipakai buat cuci muka”, katanya sambil terus mengocok penisku.</p>
<p>Akhirnya maniku mengalir dan menjadi jamu yang langsung dihisep semuanya. Mbak Indriani memang hebat. Kali ini tidak ada air maniku yang tercecer. Semuanya masuk ke mulut dan ditelannya. Eh, tidak semua sih. Jarinya sempat masuk ke mulut, lalu mengoleskan mani encer itu ke puting susunya. Sebagai hadiah, aku oral vaginanya. Aku sibak bibir besar di mulut vaginanya dengan jari, lalu mulut aku runcingkan, dan sruppp…, masuk ke pintu liang vaginanya. Lidahku menjilat, mulutku menyedot. Semua bagian terkena, dinding luar vagina, labia mayora, labia minora, clitorinya yang sebesar kacang mete itu. Dan terakhir…, aku masukkan pula jariku, berputar-putar di dalam, menggapai G-Spot Mbak In, sementara bibir dan lidahku menggarap daerah pembangkit birahinya. Tentu saja Mbak Indriani jadi blingsatan.<br />
Ketika dia menjerit, “Itilkuuuu lepas…”, saat itulah vaginanya membanjir dan membasahi tenggorokanku, asem asin rasanya. Dan bulu vaginanya itu basah kuyup, oleh campuran lendir vagina dan ludahku. Hari ini memang nikmat sekali.</p>
<p>Setelah itu, hari-hari selanjutnya, seks kami makin gila. Kalau main 69 seringkali sampai air maniku muncrat di mulut mungilnya itu. Tapi Mbak In masih haus variasi. Pingin seperti di BF yang bermacam-macam gaya.</p>
<p>Sudah enam bulan hubungan kami terjalin, dengan penuh birahi dan mani. Mbak In seperti orang yang baru mengenal seks. Memang ya, baru kenal. Makanya keranjingan bersetubuh. Maunya penis dan mani. Beginikah kalau wanita dewasa melajang terlalu lama, obsesinya cuma penis dan mani lelaki, dan yang namanya onani tidak memuaskan dirinya sendiri.</p>
<p>Suatu kali Mbak punya permintaan gila, ingin main bertiga dengan cewek lain. Aku yang harus mencari ceweknya. Tapi itu soal kecil. Aku dulu, sebelum sama Mbak In, suka jajan, jadi punya langganan cewek nakal. Langgananku yang aku sukai adalah Susi. Tubuhnya sintal, kulitnya putih, payudaranya 38, bulu vaginanya tipis, vaginanya merah. Dia jago oral seks. Aku mengontak ke handphone Susi dan dia setuju. Kami janjian di motel Pondok Nirwana di Cawang. Ngakunya sih dia juga kangen.</p>
<p>Di motel aku dan Mbak In check in ke kamar VIP, menutup rolling door, lalu nonton video yang disiarin di TV yang tergantung di atas. Isinya orang bersetubuh, kebetulan main keroyokan, satu pria menghadapi empat perempuan. Puncaknya air maninya menjadi rebutan empat mulut mungil. Wah aku juga mau tuh! Sambil nonton kami petting. Aku cuma memakai celana dalam. Mbak In memakai lingerie satin putih yang tembus pandang, sehingga bulu vaginanya lari kemana-mana.</p>
<p>Ketika Susi datang, Mbak In seang pipis. Tidah tahu, kenapa lama sekali di toilet ya. Padahal begitu Susi datang kami langsung berciuman karena kangen. Ketika berpelukan aku tambah ereksi. Susi memakai rok mini dan koas you can see ketat. Langsung kulepas CD-ku.<br />
“Ya ampun Gus, udah napsu banget ya…, Apa nih, minta diisep dulu apa langsung tancep ke memek?”.<br />
Aku tidak menjawab, Susi langsung jongkok mengisap penisku. Sambil dikocoknya pelan. Sudah biasa tuh kami kencan di sini. Ketika sedang nikmat-enaknya dioral, eh Mbak In keluar. Susi tentu saja kaget dan malu. Dia salah tingkah. Mbak In segera mengatasi keadaan.<br />
“Nggak usah malu, Sus. Ini memang mauku. Aku pingin belajar dari kalian”.</p>
<p>Lalu aku menjelaskan kalau kami butuh selingan. Aku mengaku kami ini pengantin baru. Susi agak heran, kok aku memanggil “istriku” itu Mbak. Tapi namanya saja bisnis, Susi minta tambah. Kalau sendirian melayani aku Rp 300.000, maka kali ini minta Rp 500.000.<br />
Mbak In karena nafsunya sudah di ubun-ubun, mengiyakan saja. Uang dia kan banyak.<br />
“Aku udah sediain cash cukup kok hari ini..”, Hebat juga si jembut lebat ini, bisa mengantisipasi.<br />
“Mbak pinginnya gimana?”, tanya Susi.<br />
Ternyata Mbak In maunya melihat dia striptis, setelah itu pingin melihat dia bersetubuh denganku. Susi mau. Aku dan Mbak melihat striptisnya dari ranjang sambil saling merangsang. Makin hebat striptisnya Susi, Mbak In makin basah. Padahal Susi belum telanjang.</p>
<p>Ketika Susi telanjang, Mbak In kian terbakar. Dia meniru Susi mempermainkan payudara dan puting susunya. Dia juga meniru waktu Susi memasukkan dua jari ke vagina lalu menjilatinya. Aku tentu saja makin ereksi.<br />
“Oh gini rupanya cara merangsang lelaki”, kata Mbak In. Ketika Susi nungging, lalu memasukkan jarinya ke vaginanya dari belakang, Mbak In menirukannya. Waktu Susi menyodorkan telapak tangannya untuk minta ludahku, yang mana tangan basah itu akhirnya dia oleskan ke vagina dan anusnya, Mbak In juga ikut. Jadi kering tuh tenggorokanku. Susi sambil nungging memasukkan jari ke anusnya, Mbak In mengikutinya. Hanya satu yang Mbak In tidak bisa, menjilati putingnya sendiri.</p>
<p>Akhirnya aku punya ide. Susi aku minta berdiri, mengangkat lengan, lalu menjilati ketiaknya. Mbak In yang duduk bersandar di atas kasur ikut mencobanya. Wow, seksi sekali. Ketiak lebat itu basah oleh jilatannya sendiri.</p>
<p>Akhirnya Mbak In tidak tahan waktu melihat Susi mengangkangkan satu kaki di atas ranjang, sambil meremas vaginanya yang merah yang berbulu tipis itu. Susi, gadis sipit dari Pontianak itu memang sensual dan erotis. Mbak In terengah.<br />
“Udah giliranku dulu baru kamu Sus. Ayo Gus, mana burungmu…”.</p>
<p>Aku menarik Mbak In ke sofa. Aku duduk seperti memangkunya, lalu Mbak In jongkok di atas pangkuanku sambil mengangkang, dengan begitu penisku bisa menembus vagina Mbak In yang lebih gelap dari Susi. “Blkessss…”, nikmat sekali masuknya karena sudah licin vagina Mbak In si lajang gila seks. Susi hanya melihat saja. Akhirnya dia punya inisiatif. Dia ciumi vagina Mbak In dan penisku, sementara pantat Mbak In naik turun.<br />
Jadi begini posisinya. Mbak In mengangkang di pangkuanku, menghadap ke depan, dengan vagina tertembus penis, sementara Susi nungging di depan sofa dengan muka menempel di kemaluan kami. Jilatan Susi kian menggila. Ketika penisku keluar, karena meleset gara-gara vagina Mbak In sudah banjir, segera ditangkapnya dan dikocok. Sementara mulutnya masih menggarap clitoris dan vagina Mbak In.</p>
<p>Mbak terengah-engah. Kadang menjerit. Susi memang pintar. Jam terbangnya sebagai wanita nakal tahu bahwa penisku mau muncrat. Maka peniskupun digenggamnya erat, agar kecekik, sehingga maniku tertahan. Sementara itu mulut dan tangan kanan Susi sibuk menggerayangi tubuh Mbak In. Si Mbak rupanya sudah tidak peduli kalau penisku sudah tidak di dalam vaginanya lagi. Oralnya si Susi telah melambungkannya ke alam birahi ternikmat di dunia.</p>
<p>Akhirnya Mbak In mencapai klimaks. Aku dengar suara mulut Susi mengisap-isap cairan vagina Mbak. “Slrppppp..”. Beberapa kali Mbak In klimaks, sampai akhirnya menjerit, “Memek, memek, memekkuuu…, nggak tahan…, Lu memang lonte hebat Susi…, Ajarin aku buat menikmatin seks…, Auhh…, itilku mau lepas, aku kebelet pipis, memekku mau pecah…, Mana burung, mana mani..”.<br />
Semakin seru ucapan Mbak In di ambang puncak dari segala puncak birahinya.</p>
<p>Akhirnya semuanya usai. Mbak In terkulai, dengan vagina memerah basah, begitu pula bulu lebatnya yang basah kuyup, karena campuran cairan vagina dan ludah si amoy Susi. Mbak Indriani turun dari pangkuanku, lalu merebahkan diri di kasur. Aku sudah tidak tahan. Maka segera aku kocok penisku.<br />
Susi tiba-tiba bilang, “Jangan Gus. Itu buatku. Lu pikir gue nggak kangen juga. Biar lonte gue juga butuh nikmat lho..”</p>
<p>Susi rebah di ranjang, di sebelah Mbak In, lalu mengangkang, dan penisku ditariknya. Lalu, “Bles…”. Baru dua menit aku sudah muncrat habis-habisan. Tapi aku tahu siapa Susi karena aku langganannya. Justru ketika aku muncrat itulah dia mulai beranjak orgasme. Ketika penisku melemas, dia seperti berpacu dengan waktu, agar bisa mencapai puncak, sementara vaginanya kian licin karena sperma, dan penisku bisa tergelincir keluar.</p>
<p>Akhirnya dia puncak juga. Dan memberi servis extra, melumat penisku yang melemas dengan mulutnya, sampai penisku betul-betul mengerut kecil dan kering maninya. Setelah itu kami istirahat, memesan makanan yang diantar oleh pelayan. Kami telanjang. Pelayan motel tidak bakal melihat, karena nganternya cuma dari lubang.<br />
“Gua mau mandi ah”, kata Susi. Dia memang cuma makan sedikit, sehingga dengan nikmat bisa mutusin buat mandi. Begitu shower di kamar mandi terdengar, Mbak In meraihku.<br />
“Masih bisa berdiri nggak, Gus?”.<br />
“Aduh, aku capek Mbak, udah lemas..”.<br />
“Ya udah, kita 69 aja ya…, Aku lagi birahi tinggi nih…, Biasa, mau mens Gus”.</p>
<p>Lalu kami ber-69. Mula-mula aku keringkan vagina basah dengan bulu yang awut-awutan dengan celana dalam Mbak In. Itu yang sering aku lakukan, mengepel vagina dengan underwearnya Mbak In.</p>
<p>Setelah vaginanya kering, aku jelajahi dengan mulutku. Rupanya cairan vagina Mbak In juga sudah habis. Jadi aku harus mengeluarkan saliva-ku agar vaginanya basah. Karena aku berposisi 69 di atas, maka kusibak lubang itu selebar-lebarnya, lalu aku ludahi. Setelah basah, aku mengulum clitoris Mbak In yang sebesar mete itu.</p>
<p>Setelah kami berukar posisi. Dia di atas. Setelah itu jariku masuk ke vaginanya. Satu jari dulu, jari tengah, keluar masuk, berputar-putar, menjelajahi lubang si lajang jalang. Lalu dua jari, jari tengah dan telunjuk. Selama dalam lubang, sebisa mungkin aku membentuk tanda V, sambil mengeksplorasi liang Mbak Indriani. Dia mulai terangsang. Mulai merintih. Mulai basah. Akhirnya tiga jariku masuk ke vaginanya, dan berputar-putar.<br />
“Gilaa…, kenapa nggak dari dulu kamu lakukan Gus? Terusss..”.<br />
Karena di atas, Mbak lebih leluasa. Pinggulnya terus bergerak. Aku sempat kehabisan napas, soalnya hidung dan mulutku digusel vagina dan bulu vaginanya tiada henti, sehingga oksigen terhambat masuk ke mulut dan hidungku. Mbak In sendiri makin kuat mengulum dan mengocok penisku. Akhirnya aku ereksi sedikit, dan akhirnya bisa berdiri tegak.<br />
“Terus Mbak, dikocok, diemut, dijilat…, Terus…, sampe keluar maniku..”.<br />
“Sayang banget kalo kamu muncrat sekarang. Masukin dulu ke lubangku, baru kamu boleh muncrat..”.<br />
“Tapi Mbak di atas ya..”.<br />
Mbak In tidak menjawsab, tapi langsung ganti posisi. Dia menindihku dan dalam sekejap vaginanya tertembus oleh penisku. Dia terus bergerak. Keringatnya membanjir. Lipstiknya habis. Rambutnya acak-acakan. Tapi entah mengapa dia jadi kelihatan cantik sekaligus jalang.<br />
“Gus kamu tahan nafsumu, jangan ikutan aktif, biar nggak nggak cepat muncrat..”. Lalu dia memacu diri.</p>
<p>Saat itulah Susi keluar dari kamar mandi, cuma dililit handuk.<br />
“Ayo Susi sayang, bantu aku..”.<br />
Susi ketawa, “Udah tuntasin aja secepatnya Mbak..”.<br />
“Ayo Sus..”, kata Mbak In.<br />
“Tapi tambah Rp 75.000 ya?”.<br />
“Terlalu lu Sus…, Komersil banget sih?”.<br />
“Gue kan nyari nafkah Mbak…” Sambil menjawab, Susi sudah duduk di samping kami. Tangannya meraba biji pelirku.<br />
“Gini deh, mulut gue udah capek nih. Gimana kalo pake jari, tapi gratis?”.</p>
<p>Mbak In yang terengah-engah itu tidak menjawab. Yang terasa sekarang adalah penisku seperti punya teman di lubang. Jari tengah Susi ikut menembus vagina Mbak In. Mbak In blingsatan. Mulai ngomong jorok.<br />
“Bagus, Sus, bagus…, Gila, itil gue lu jepit pake jari ya?, Uhh”, Mbak In kian berkeringat. Aku tidak melihat apa yang sedang trjadi, karena posisiku tidak memungkinkan untuk tahu. Bayangkan, Mbak In di atas, dan terus menciumiku. Aku tahu, birahinya mulai menanjak kencang. Yang pasti kurasakan jemari Susi bermain-main di kemaluan kami.<br />
“Gila! Gila! Gila Gus! Dua jari njepit itilku, lalu jempolnya masuk dubur…, Terlalu Gus! Nikmat Gus! Gila Gus. Jempolnya udah digantiin jari lain…, gilaa, Uhh aku sampai puncak!”.</p>
<p>Mbak In bergerak liar, akibatnya penisku terlepas. Tapi dia tidak mempedulikan penisku lagi, soalnya jemari Susi terus memburu, menggarap clitoris dan anus. Akhirnya Mbak In terkulai setelah menjerit, “Akuuuuuuu!”. Aku sendiri segera mengocok penisku. Tidak sampai semenit penisku sudah mendidih dan siap muncrat. Dengan segera aku bangkit, memiringkan badan, dan mengarahkan penisku ke wajah Mbak In yang tergolek kelelahan dengan nafas terengah-engah. “Cratttt.., tes.., tes..”, Air maniku menyiram wajah Mbak In yang siang ini tampak cantik sekali. Kena pipinya, hidungnya, bibirnya, bahkan matanya. Itulah salah satu petualangan seks-ku dengan Mbak Indriani….</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/gairah-perawan-tua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imajinasi Istriku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/imajinasi-istriku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/imajinasi-istriku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:08:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta sex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2333</guid>
		<description><![CDATA[Aku dan istriku, Risnawati yang biasa kupanggil dengan Ris, sudah menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Ris pada saat ini berumur 29 tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang cukup besar (34B) berbentuk bagus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku dan istriku, Risnawati yang biasa kupanggil dengan Ris, sudah menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Ris pada saat ini berumur 29 tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang cukup besar (34B) berbentuk bagus sekal, tinggi 155 cm, berat 50 kg, dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi dengan bentuk badannya dan kedua bongkahan pantatnya sekali. Secara umum, dia cukup seksi.</p>
<p>Telah lama kami mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks three some. Biasanya, sebelum melakukan Making Love, kami mengawalinya dengan saling menceritakan fantasinya masing-masing. Fantasi yang paling merangsang bagi kami berdua, adalah membayangkan Ris melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiranku. Sekedar informasi, Ris memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi, sementara di sisi lain, aku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali. Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisku bisa ereksi lagi, umumnya aku merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika dia minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter aku melakukannya dengan tangan, atau membantunya bermasturbasi dengan dildo. Walaupun demikian selama ini dia bisa merasa puas dengan cara tsb.</p>
<p>Setelah sekian lama mempunyai fantasi tsb, suatu hari aku tanya apakah ia mau merealisasikan fantasi tsb. Pada awalnya ia cuma tersenyum dan mengira aku cuma bercanda. Namun setelah aku desak, ia balik bertanya apakah aku serius. Aku jawab, ya aku serius. Terus dia tanya lagi apakah nanti aku masih akan tetap sayang sama dia, aku jawab ya, aku akan tetap menyayanginya sepenuh hati, sama seperti sekarang. Lalu aku tambahkan, bahwa motivasi utama aku adalah untuk membuatnya bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya. Melihat wajahnya ketika mencapai orgasme, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagiku.</p>
<p>Akhirnya dia jawab dia mau melakukannya kalau moodnya mengijinkan. Kemudian aku dan Ris mendiskusikan kira-kira dengan siapa kami melakukannya, akhirnya pilihan datang kepada seorang teman dekatku, namanya Vence biasa kupanggil dengan Ven, yang telah lama kami kenal, namun jarang bertemu karena tinggal di kota lain. Sejak itu sering fantasi kami melibatkan kehadiran Ven. Usia Ven 33 tahun, sama denganku, meski demikian tubuhnya lebih tinggi kurang lebih 175 cm dan besar serta tegap, maklum dia adalah keturunan campuran Eropa-Indonesia.</p>
<p>Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, aku menghubungi Ven dari kantorku. Setelah berbasa-basi sebentar, lalu aku mulai menceritakan tentang fantasi-fantasi kami. Sebagai sahabat lama, kami terbiasa berbicara terbuka, termasuk masalah seks. Ven tampak antusias mendengar ceritaku dan dia menyatakan kesanggupannya. Mengingat kesibukan bisnisnya, dia merencanakan untuk datang ke kotaku sekitar 2-3 minggu lagi. Tidak lupa aku tegaskan, bahwa semua rencana ini sepenuhnya bergantung kepada kesediaan istriku. Artinya jika pada saat-saat terakhir Ris berubah pikiran, maka sama sekali tidak boleh ada satu pihakpun yang memaksakan kehendaknya. Aku katakan juga, dia tidak boleh berlaku kasar terhadap Ris, sebab kepuasan Ris adalah segala-galanya. Ven setuju dan dapat memakluminya.</p>
<p>Akhirnya waktu yang yang ditunggu tiba, baik Ris maupun aku cukup gugup menghadapi apa yang telah kita rencanakan. Namun aku meyakinkan Ris bahwa dia boleh berubah pikiran kapanpun. Sekitar pukul 6 sore Ven datang, pada saat itu aku masih berada di kantor, Ris mengabarkan kedatangannya melalui telepon. Pukul 7 aku tiba di rumah, tampak Ven telah mandi dan ganti baju dan sedang menonton TV. Sementara itu Ris sedang berada di kamar mandi. Setelah ngobrol sebentar, kemudian aku masuk ke kamar untuk menyimpan tas dan mengganti pakaian. Pada saat bersamaan Ris baru keluar dari kamar mandi (kamar mandi terletak di dalam ruang tidur kami) dengan hanya memakai handuk. Dia tampak sangat cantik malam itu. Sementara aku mengganti pakaian, Ris mengenakan daster pendek berwarna merah. Ris tampak cantik dengan daster tersebut, panjang daster tsb hanya sampai ke pertengahan paha, tampak kontras dengan pahanya yang berwarna putih mulus. Sementara Ris masih menyisir rambut dan memakai parfum, aku keluar menemui Ven.</p>
<p>Setelah beberapa saat kami mengobrol, bercerita tentang keadaan masing-masing. Ris kemudian keluar kamar. Ven hampir tak berkedip menatap Ris yang benar-benar tampil seksi malam itu. Singkat cerita, setelah selesai makan malam kami sama-sama duduk di karpet, menonton acara TV yang saat itu sedang berlangsung. Posisinya Ven, kemudian Ris di tengah menyender di dadaku. Terus terang suasana saat itu agak canggung dan kami benar-benar tidak tahu cara untuk memulai semua rencana yang telah disusun.</p>
<p>Akhirnya aku mengambil inisiatif dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dada Ris dan menyentuh payudaranya dari luar daster. Mendapat tindakan demikian Ris mulai terangsang dan nafasnya mulai tidak teratur. Segera setelah itu, aku lumat bibirnya dan tangan aku mulai menyusup ke balik dasternya. Ternyata saat itu Ris sudah tidak memakai BH. Ris benar-benar terangsang kini. Pada saat itu tangan Ven mulai mengelus-elus paha Ris yang telah terbuka, karena daster mininya telah terangkat ke atas. Kaki Ris yang tadinya tertekuk ditarik, sehingga sekarang Ris berada dalam posisi duduk sambil bersandar padaku dengan kedua pahanya yang agak terbuka dan kaki melonjor ke depan. Tangan Ven mulai bergerilya pada bagian paha atas Ris.</p>
<p>Kemudian Ven menarik tangan Ris dan meletakkannya di atas pangkuan Ven. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, Ris mengusap-usap kemaluan Ven yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana Ven terlihat menggembung besar. Aku mengira-ngira betapa besar kemaluan Ven ini. Sementara bibirku mulai menyusur leher dan belakang telinganya (bagian yang paling sensitif baginya). Setelah itu aku berbisik di telinga Ris, inilah saat untuk merealisasikan fantasi kita. Lalu aku melepaskan pelukanku untuk memberi kesempatan pada Ven untuk beraksi.</p>
<p>Sekarang Ven mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Ditariknya Ris ke pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap payudara Ris yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggung Ris sambil mulutnya melumat bibir Ris dengan gemas. Tangan Ven yang berada di payudara Ris disisipkan pada belahan daster Ris yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung putingnya yang telah mengeras. Kemudian Ven menarik tangan Ris ke arah resluiting celana Ven yang telah terbuka dan menyusupkan tangannya memegang kemaluan Ven yang telah tegang itu. Kelihatan Ris agak tersentak ketika terpegang senjata Ven yang tampaknya besar itu.</p>
<p>Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian Ris membuka celana Ven sehingga kemaluannya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang dengan jelas terlihat. Aku sangat terkejut melihat kemaluan Ven yang sangat besar dan panjang itu. Kemaluan yang sebesar itu hanya ada di film-film BF barat saja. Batang penisnya berdiameter 7 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya berbentuk topi baja yang sangat besar, panjangnya mungkin lebih dari 20 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut pirang yang lebat.</p>
<p>Setelah keluar dari celananya kelihatan seram, jauh lebih panjang dan besar dari punyaku. Sesaat Ris menoleh ke arahku, dari sinar matanya yang agak panik, tampak dia agak ketakutan dan tidak menduga akan menghadapi penis yang sebesar itu. Aku mulanya juga agak ragu-ragu, tapi untuk menghentikan ini, kelihatannya sudah kepalang, karena tidak enak hati pada Ven yang telah bersedia memenuhi keinginan kami itu.</p>
<p>Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum memberi semangat pada Ris. Mendapatkan persetujuanku dan dorongan semangat itu, Ris kemudian dengan kedua tangannya memegang penis Ven dan mulutnya mendekat ke kemaluan Ven. Ris mulai menjilati kepala penis Ven yang besar itu. Kemudian setelah cukup basah oleh air ludahnya, perlahan Ris mulai memasukkan penis Ven ke dalam mulutnya. Terlihat sangat susah bagi Ris untuk bisa memasukkan penis yang besar itu ke dalam mulutnya. Terlihat mulutnya harus dibuka lebar-lebar untuk bisa menampung penis Ven yang dahsyat itu. Ven tampak sangat menikmati isapan Ris itu.</p>
<p>Kira-kira sepuluh menit Ris mengulum kemaluan Ven, kemudian Ven menarik kepala Ris dan mendekatkan ke mukanya dan kemudian melumat bibir Ris. Ris balas melumat bibir Ven dengan ganasnya, sementara tangan Ven merambah ke payudara Ris dan mulai membuka daster Ris. Setelah daster terlepas, sambil tetap berciuman, tangan Ven mulai menyusup ke balik celana dalam Ris yang berwarna cream sambil memainkan clitoris Ris. Tangan Ris sendiri tidak tinggal diam, ia terus mengelus kemaluan Ven yang semakin menegang.</p>
<p>Kemudian Ven menggendong Ris dan membawanya ke kamar tidur tamu. Terlihat Ris sangat kecil dalam gendongannya, dibandingkan badan Ven yang besar itu. Secara perlahan kemudian Ven meletakkan Ris di ranjang dan membuka celana dalam Ris. Hingga kini Ris telah telanjang bulat. Tampak kulitnya yang putih dan vaginanya yang tanpa rambut (Ris biasa mencukur bulu vaginanya secara teratur) merekah dan tampak basah. Kemudian Ven perlahan-lahan mengarahkan bibirnya ke leher Ris, kemudian turun ke dadanya dan mulai melumat puting payudara Ris bergantian.</p>
<p>Sementara itu aku terus memperhatikan dari pintu kamar dengan menahan birahi yang sangat memuncak. Setelah puas bermain-main di payudara Ris, Ven kemudian mulai menciumi pusar Ris sampai akhirnya mulai menjilati lubang vagina Ris yang semakin basah. Setelah berlangsung kira-kira 30 menit, tampak Ris mulai mendekati orgasme, mengetahui demikian, Ven kemudian mulai mengarahkan penisnya ke vagina Ris yang makin merekah. Sebelum memasukkan penisnya, tidak lupa Ven menggosok-gosok kepala penisnya pada bibir vagina Ris. Badan Ris menggelinjang kegelian merasakan gosokan penis Ven pada vaginanya.</p>
<p>Perlahan-lahan Ven mulai memasukkan penisnya ke vagina Ris. Ris berusaha membantu dengan membuka bibir vaginanya lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk penis sebesar itu masuk ke dalam lubang vagina Ris yang kecil. Tangan Ven yang satu memegang pinggul Ris sambil menariknya ke atas, sehingga pantat Ris agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang penisnya yang ditekan masuk ke dalam vagina Ris.</p>
<p>Sementara Ven sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam memek Ris, badan Ris terlihat menggelinjang-gelinjang dan dari mulutnya terdengar suara, “aahh…, aahh…, ssshh…, ssshh”, seperti orang sedang kepedasan. Pada waktu Ven mulai menekan penisnya, terdengar jeritan tertahan dari mulut Ris, “Aduuhh…, sakiiitt…, Veenn…, pelan-pelan…, doong”. Ven agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberikan kesempatan pada Ris mengambil nafas, kemudian Ven melanjutkan kembali usahanya untuk menaklukkan vagina Ris. Aku agak kasihan juga melihat keadaan itu, disamping itu melihat badan Ris yang menggeliat-geliat dan tangannya yang mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, membuatku terangsang dengan hebat. Ven dengan pasti tetap mendorong kemaluannya masuk secara perlahan-lahan ke dalam vagina Ris.</p>
<p>Akhirnya sesaat kemudian, hampir seluruh kemaluan Ven masuk ke dalam vagina Ris. Ven kemudian menggerakkan penisnya keluar masuk dengan irama yang teratur, sementara Ris mengimbangi dengan mengerakkan pantatnya. Tidak lama kemudian, Ris mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang dan mulutnya mengeluarkan jeritan tertahan, “Aku sampaai Veeenn…, peluk aku kuat-kuat”. Bersamaan dengan itu, kakinya melingkar di pinggang Ven dan mengunci dengan erat. Sementara Ven hampir tidak bisa bergerak dan hanya menekankan kemaluannya ke dalam vagina Ris sekuat mungkin. Tak lama, Ris mulai tampak rileks dan melonggarkan kakinya yang melingkar di pinggang Ven.</p>
<p>Sementara Ven kemudian meneruskan gerakan keluar-masuk penisnya secara perlahan-lahan dan Ris hanya diam kelelahan dengan nafas yang tidak teratur. Tidak lama, tampaknya birahi Ris mulai bangkit lagi dan menggerakkan pantatnya lagi. Maklum wanita kan bisa mengalami multiple orgasme.</p>
<p>Tidak lama kemudian, Ven mencabut penisnya dari vagina Ris dan meminta Ris untuk menungging. Kemudian Ven memasukkan kemaluannya ke vagina Ris dari belakang. Aku yang sejak tadi hanya menyaksikan mulai tidak tahan, kemudian aku mendekat, membuka celana, dan mengarahkan kemaluanku yang sudah sangat tegang ke mulut Ris. Dengan sangat bernafsu, Ris mengulum penisku sementara Ven tampak menggerakan pinggulnya semakin cepat. Tidak lama kemudian tampaknya Ven hampir mencapai klimaksnya dan mengerakkan pantatnya dengan sangat cepat. Ris mengimbangi gerakan Ven dan melepaskan penisku dari mulutnya, sambil mengeluarkan erangan Ris berkata, “Ayo Ven gerakkan yang cepat…, ah…, uh”. Setelah itu Ven ejakulasi dan menekankan pantatnya rapat-rapat sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Ris. Dan pada saat hampir bersamaan Ris pun kembali mencapai orgasme. Tak lama Ven mencabut penisnya dan tidur telentang di samping Ris.</p>
<p>Aku kemudian duduk di kursi sofa yang ada di ruang tidur itu dan menarik Ris. Perlahan Ris jongkok di atasku dan mulai menurunkan vaginanya yang tampak membengkak ke arah kemaluanku (mungkin akibat barang Ven yang sangat besar itu). Dengan mudah penisku masuk ke dalam vagina Ris, maklum setelah cukup lama barang Ven yang besar itu keluar masuk, membuat vagina Ris agak melar. Walau demikian, aku tidak bisa menahan ejakulasi terlalu lama, mungkin akibat pengaruh situasi, tidak lama penisku memuntahkan cairan sperma di dalam vagina Ris, sampai meluber keluar.</p>
<p>Tampak Ven terbaring dengan lesu di ranjang dan aku di sofa. Tampaknya energi kami benar-benar terkuras. Sementara Ris kemudian pergi ke kamar mandi, untuk pipis dan membersihkan sisa-sisa spermaku di vaginanya. Kira-kira setengah jam kami beristirahat, Ris berinisiatif mengulum kemaluan Ven yang masih mengkerut. Sementara aku hanya memperhatikan. Tidak lama, kemaluan Ven mulai membesar lagi setelah beberapa saat dikulum. Ris kemudian mengangkangkan kakinya di atas Ven yang telentang tidur dan menghadapkan wajahnya ke arah penis Ven. Ven kemudian menjilati vagina Ris sampai ke lubang anusnya, dan Ris sendiri sibuk mengulum dan menghisap penis Ven. Melihat pemandangan ini, kemaluanku pun mulai menegang kembali.</p>
<p>Tak lama Ris bangun dan duduk di atas Ven, kemudian Ris memasukkan penis Ven ke vaginanya dengan posisi Ris di atas. Ris menaik-turunkan pantatnya dengan bibir vagina mencengkeram penis Ven dengan erat. Ketika Ris menaikkan pantatnya, bibir vaginanya turut tetarik keluar mencengkeram kemaluan Ven. Sungguh pemandangan yang sangat mengairahkan. Makin lama gerakan Ris makin cepat dan tak lama Ris tampak mencapai orgasmenya dan menekankan pantatnya kuat-kuat sehingga penis Ven masuk seluruhnya. Setelah itu Ris menarik pantatnya dan jongkok di tepi ranjang sambil mengulum kemaluan Ven. Sementara vaginanya mengarah ke arahku. Melihat pemandangan demikian, aku memasukkan penisku ke vagina Ris dari belakang, sementara mulutnya sibuk mengulum kemaluan Ven keluar masuk.</p>
<p>Kira-kira sepuluh menit kemudian, Ris kembali mencapai orgasmenya dan aku rasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat. Tak lama aku pun kembali mencapai ejakulasi. Setelah itu Ris mengelap sisa air maniku yang tertinggal di mulut vaginanya dengan handuk kecil, Ris kemudian berbaring di ranjang dan Ven kembali memasukkan penisnya ke vagina Ris.</p>
<p>Setelah hampir satu jam, dan Ris telah mencapai dua kali orgasme lagi, barulah Ven pun mencapai orgasmenya, namun kali ini Ven mengeluarkan penisnya dari vagina Ris, sehingga spermanya muncrat ke payudara dan perut Ris. Sambil tersenyum Ris membalurkan sperma tsb ke seluruh dada dan perutnya, untuk menikmati kehangatannya. Setelah itu Ris kemudian mengelapnya dengan handuk kecil. Sementara Ven tampak kelelahan namun sangat menikmati. Ven kemudian mencium bibir Ris, istriku dan memeluknya. Ris berkata bahwa ia sangat menikmati malam itu dan tersenyum manis kepadaku. Kemudian mereka berdua tertidur di ranjang dengan tubuh telanjang, sementara aku tertidur kelelahan di atas sofa.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/imajinasi-istriku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cici Fiona, Guru Lesku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:02:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini terjadi pada waktu aku duduk dipertengahan kelas 3 SMA dulu. Waktu itu nilai-nilai pelajaranku terutama matematika, fisika dan kimia bisa dibilang hancur lebur. Aku kadang-kadang menyesal juga dulu mamilih kelas IPA, kenapa waktu itu tidak memilih IPS saja supaya tidak ketemu 3 pelajaran keramat itu, tapi ya nasi sudah jadi bubur, ya mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini terjadi pada waktu aku duduk dipertengahan kelas 3 SMA dulu. Waktu itu nilai-nilai pelajaranku terutama matematika, fisika dan kimia bisa dibilang hancur lebur. Aku kadang-kadang menyesal juga dulu mamilih kelas IPA, kenapa waktu itu tidak memilih IPS saja supaya tidak ketemu 3 pelajaran keramat itu, tapi ya nasi sudah jadi bubur, ya mau apa lagi. Demi memperbaiki nilai-nilaiku, aku terpaksa mengiluti les bersama 2 temanku, Hans dan Vernand. Yang memberi les seorang mahasiswi tingkat akhir, umurnya kira-kira 22 tahun waktu itu. Aku mengenalnya melalui perantaraan ciciku. Namanya Fiona, penampilannya perfect sekali, kulit putih, body langsing dengan buah dada yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, pas lah untuk ukuran orang Asia, rambutnya panjang sedada, biasanya dikucir, wajahnya juga cantik, tidak lebar tidak juga panjang, sekilas mirip artis Moon Lee dari Hongkong, dia juga memakai kacamata minus, yang membuatnya terlihat seperti orang pintar, tapi itu tidak mengurangi kecantikannya.</p>
<p>Hari itu aku pergi les ke rumahnya bersama dengan Hans, waktu itu Vernand tidak bisa datang karena sakit. Sesampainya di sana, kami memencet bel berulang kali tapi tidak ada yang membukakan pintu, sialnya lagi waktu itu hujan sudah mulai turun deras sedangkan kami tidak membawa jas hujan, terpaksa kami mampir dulu ke restoran kecil tepat di seberang rumahnya, minum kopi dulu sambil menunggu hujan reda.</p>
<p>Kira-kira 15 menit kemudian aku melihat Ci Fiona turun dari taksi dan langsung berlari ke rumahnya karena tidak membawa payung. Aku langsung memberitahu Hans, setelah kami membayar, lalu kami membawa motor masing-masing ke depan pagar rumah Ci Fiona, sebelum dia masuk rumahnya kami sudah sampai di depan pagar sehingga kami tidak bertambah basah karena dia sudah melihat kehadiran kami.</p>
<p>Di dalam rumah kami membuka jaket kami yang basah. Ci Fiona memberikan handuk pada kami untuk mengeringkan diri dan memberikan kami minum teh panas. Dia sendiri sempat kebasahan sehingga pakaiannya mengerut dan makin memperlihatkan lekuk tubuhnya.</p>
<p>“Aduh sori banget yah, hari ini Cici ada kuliah tambahan lupa beritahu kalian jadi bikin kalian basah gini”, katanya.<br />
“Tidak apa-apa kok Ci kita maklum, tapi kok kenapa di rumah sekarang sepi amat nih, yang lain pada ke mana nih?”, tanya Hans.<br />
“Papa dan Mama lagi ke Surabaya ngikutin undangan pernikahan saudara nih, terus pembantu cici udah pulang, kan udah deket lebaran”.<br />
“Wah jadi repot dong Ci di rumah sendirian”, kataku padanya.<br />
“Yah begitulah, tapi besok ortu pulang kok”, katanya.<br />
“Eh, sebelum les Cici mau mandi dulu sebentar ya, basah nih nanti flunya kambuh lagi, kalian tunggu saja dulu di sini oke..”.<br />
Mendengar itu pikiranku mulai ngeres membayangkan di saat dingin begini bisa mandi bersama cewek secantik Ci Fiona. Ooh enaknya, dingin-dingin empuk deh rasanya.</p>
<p>Dari kamar mandi mulai terdengar suara percikan air, ingin rasanya aku mengintipnya tapi sayang lubang kuncinya sempit sekali. Kami mulai melihat-lihat isi ruang tamunya, melihat foto-fotonya waktu kecil, foto pernikahan kakaknya, dan foto-foto keluarga yang terpajang di sana.</p>
<p>Tiba-tiba dari kamar mandi terdengar jeritan disusul Ci Fiona keluar dari kamar mandi hanya dengan ditutupi handuk yang dilipat dan secara refleks memeluk Hans yang saat itu dekat kamar mandi. “Ada kecoa besar sekali di sana!”, katanya. Aku masuk ke kamar mandi dan melihat ada seekor kecoa yang cukup besar yang bisa membuat wanita terkejut, segera kutepuk binatang itu dengan sandal dan kubuang bangkainya ke tong sampah. Waktu aku keluar kamar mandi kulihat Ci Fiona masih dipelukan Hans dengan hanya selembar handuk saja, dalam hati aku merasa sirik. “Huh kenapa gua dari tadi bukan berdiri di situ, sialan”, gerutuku dalam hati. Ci Fiona terlihat seksi sekali saat itu, rambutnya yang basah tergerai dan pahanya yang putih panjang itu kulihat dengan jelas sekali membuat penisku bangkit saat itu, ingin rasanya menarik handuk itu.</p>
<p>Hans berkata, “Ci kecoanya sudah mati Ci, tenang.., tenang..!”.<br />
Beberapa saat kemudian Ci Fiona mulai tenang dan berkata, “Terima kasih ya untung ada kalian, Cici takut banget sama kecoa”.<br />
Dia mulai melepaskan pelukan tidak sengajanya itu, tapi mendadak Hans menangkap pergelangan tangan kirinya dan tidak melepasnya.<br />
“Eh, kenapa kamu ini Hans, sudah cici mau berpakaian dulu nih”.<br />
“Sudah Ci tidak usah repot-repot berpakaian deh, saya lebih suka ngeliat Cici seperti ini”, jawab Hans.<br />
“Udah ah, kamu jangan main-main keterlaluan gitu ya”, kata Ci Fiona sambil menghentakkan tangannya, tapi Hans bukannya melepas malah semakin erat menggenggamnya sambil tangan satunya menarik lipatan handuk yang dipakai Ci Fiona sehingga handuk itu jatuh, dan terlihatlah pemandangan terindah yang pernah kulihat tubuh putih indah dengan buah dada yang putingnya merah muda dan kemaluannya yang tertutup bulu-bulu hitam yang lebat, persis seperti model-model nude Jepang yang kulihat di internet.</p>
<p>“Kurang ajar kamu ya!”, bentaknya sambil menampar Hans.<br />
Ditampar begitu Hans bukannya kapok, malahan memegang tangan satunya itu dan melipat kedua tangan Ci Fiona ke belakang, lalu mencium bibirnya, membuat pipi Ci Fiona memerah malu.</p>
<p>Melihat adegan panas itu aku yang sudah terbuai nafsu langsung mendekati mereka. Aku memeluk Ci Fiona yang sedang berciuman dari belakang. Tubuh Ci Fiona terasa harum, karena baru selesai mandi. Tanganku agak gemetar ketika memegang buah dadanya yang indah. Kumain-mainkan putingnya sampai terasa mengeras, aku juga menciumi kupingnya dan turun menjilati lehernya, kemudian tangan kiriku mulai turun meraba kemaluanya dan memainkan klitorisnya, hangat rasanya tanganku di tempat itu. Hans melepas ciumannya setelah merasa susah bernafas.</p>
<p>“Sudah.., sudah berhenti.., kalo tidak Cici teriak nih!”, kata Ci Fiona.<br />
Tapi bukannya berhenti, Hans kembali melumat bibir Ci Fiona dan mulai meraba dadanya, aku gantian memegangi tangan Ci Fiona. Menurutku Ci Fiona sebenarnya suka diperlakukan begitu hanya saja dia sok jual mahal atau mungkin juga malu. Buktinya kalau dia tidak suka dia pasti sudah berteriak sejak tadi, dan lagi pula dia bisa dengan mudah menendang sekangkangan Hans untuk melepaskan diri, tapi nyatanya dia hanya meronta-ronta sedikit dan lebih lagi dia juga mulai mengeluarkan lidahnya untuk beradu ketika Hans menciuminya.</p>
<p>Tidak lama kemudian rontaannya mulai melemas dan kelihatannya dia mulai menikmati semua ini.<br />
Hans kembali berkata, “Ci di sini tidak nyaman kan, gimana kalo kita ke kamar Cici aja?”.<br />
“Sudah.., cukup.., kalian memang keterlaluan, Cici ini kan guru kalian!”.<br />
Tanpa menjawab Hans mencari dan menemukan kamar Ci Fiona, aku menutup mulut Ci Fiona dengan tanganku sambil memegangi kedua tangannya yang terlipat ke belakang dan aku menggiringnya masuk ke kamarnya. Setelah Hans mengunci pintu aku mendorong Ci Fiona ke ranjang. Ci Fiona meraih selimut dan menutupi tubuhnya lalu berkata, “Kurang ajar kalian ya.., pergi kalian dari rumah ini..!”. Tapi kami mana mungkin menurutinya, aku mendekatinya sementara Hans membuka pakaiannya, kurebahkan dia di ranjang. Kulumat bibir mungilnya, lalu kujilat buah dadanya, sambil tanganku memainkan vaginanya yang sudah basah karena kumainkan waktu di ruang tamu tadi.</p>
<p>“Stop.., pergi.., jangan gitu Siung.., ah.., jangan.., ahh!”, kudengar Hans berkata padaku.<br />
“Eh Siung mau main kok masih pake baju, lepas dulu dong sana!”.<br />
Hans yang sudah bugil duduk di samping kami, lalu kulepas sebentar Ci Fiona untuk membuka bajuku, Hans langsung menyambar Ci Fiona dan menjilati vaginanya, sesudah bugil aku mendekati lagi Ci Fiona yang lagi terbaring. Aku berlutut di depan wajahnya dan berkata, “Ci tolong dong jilatin, boleh tidak?”. Ci Fiona menatapku sejenak sambil mendesah karena jilatan Hans, lalu diraihnya penisku dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Kulumannya enak sekali, penisku terasa hangat dan basah. Sambil dikulum, kuremas-remas buah dadanya yang montok itu.</p>
<p>Setelah puas menjilati vagina Ci Fiona, Hans mengarahkan penisnya yang cukup besar itu ke liang vagina Ci Fiona, dengan perlahan Hans memasukkannya sementara Ci Fiona terus mengulum dan menjilati penisku. Ternyata Ci Fiona sudah tidak perawan lagi, karena ketika Hans memasukkan penisnya tidak ada darah sedikitpun.</p>
<p>Kira-kira 10 menit lebih penisku dikulum olehnya, aku merasakan sudah mau keluar dan aku sebenarnya sudah mau melepasnya namun tak tertahankan lagi akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, dia pun melepas kulumannya. Kulihat mulutnya penuh dengan mani dan sisanya muncrat membasahi wajahnya, “Sori Ci, Cici terlalu semangat sih tadi, Cici nggak marah kan?”, kataku. “kurang ajar ya kamu ke guru sendiri berani berbuat gini..”. Aku mengambil tisu untuk membersihkan wajah Ci Fiona, ketika aku hendak mengelap penisku, Ci Fiona mencegah, “Siung, jangan.., sini biar Cici bersihin aja.., uhh!”, katanya teputus-putus karena sedang digenjot Hans. Dia meraih penisku dan menjilati sisa-sisa maniku sebelum dia menelannya tadi, semua maniku berada di dalam mulutnya.</p>
<p>“Gimana Ci? rasanya enak gitu?”, kataku.<br />
Dia hanya mengangguk sambil terus menjilat sampai bersih.<br />
Setelah bersih aku bertanya padanya, “Ci gua haus nih, ambil minum di mana nih?”.<br />
“Ambil saja di kulkas di tingkat 2 sana.., ahhh.., ahh..”, katanya lagi dengan nada terputus-putus.</p>
<p>Aku keluar dan membuka kulkas, setelah minum kulihat di frezeer juga ada sekotak es krim, terpikir olehku untuk makan es itu di atas tubuh Ci Fiona pasti lebih nikmat. Maka kubawa es itu ke kamar. Sebelum sampai kamar pun suara desahan Ci Fiona masih terdengar, untung kamarnya agak di dalam dan ada suara hujan deras di luar, jadi suaranya tidak terdengar sampai ke tetangga.</p>
<p>Ketika aku sampai kulihat tubuh Ci Fiona menggelinjang hebat, sampai terlihat tulang-tulang rusuknya, kelihatannya dia sudah mencapai klimaks, dia merangkul erat Hans sambil medesah panjang. Hans mencabut penisnya dan memuntahkan isinya ke mulut Ci Fiona. Ci Fiona menelan semuanya sambil menjilati penis Hans. Aku dekati mereka dan berkata, “Capek ya Ci, nih minum dulu deh!”, kusodorkan segelas air padanya.</p>
<p>“Ci sambil istirahat bagi dong es krimnya boleh tidak?”, tanyaku sambil menunjukkan es itu.<br />
“Kamu ini bener-bener tidak sopan ya, tidak bilang-bilang main ambil aja.., ya udah makan sana”, katanya.<br />
“Tapi tidak ada gelasnya nih Ci.., gimana kalo kita makanya di atas badan cici aja ya?”, tanapa menunggu jawaban darinya, aku sudah mulai mengoles es krim itu ke tubuhnya mulai dari leher, dada, kemaluan, dan paha indahnya. “Eh tunggu dulu, kalian ini apa-apaan nih, dingin ah jangan!”. Sebelum dia berbuat lebih kami langsung menjilati tubuhnya, Hans menjilati leher dan dadanya, aku bagian vagina dan pahanya. Hans berkata, “Wah Ci enak banget esnya, apalagi yang bagian dada, es kayak gini pasti cuma ada 1 di dunia”. Ci Fiona cuma bisa mendesah karena geli bercampur nikmat. Kujilati kemaluannya, agak aneh memang rasa es krim bercampur cairan cinta, tapi enak juga kok.</p>
<p>Setelah es di tubuhnya habis, aku berbaring dan memintanya duduk di atas penisku sambil menggenjotnya. Ci Fiona mulai memasukkan penisku ke vaginanya, kelihatannya agak sempit walaupun tidak perawan lagi. Dia mulai bergoyang-goyang di atas tubuhku dan Hans memasukkan penisnya ke mulut Ci Fiona. Ku remas buah dadanya yang hot itu, sampai akhirnya kutembakkan maniku di vaginanya. Kami akhirnya bermain sampai puas, hari sudah gelap waktu itu.</p>
<p>Kami sempat tertidur kira-kira 1 jam, ketika bangun kulihat Ci Fiona sudah memakai piyama bersandar di pinggir ranjang sambil merokok, baru kali ini kulihat dia merokok, katanya sih dia memang jarang sekali, hanya kalau lagi strees saja biasanya. Kulihat dimeja belajarnya ada fotonya sedang dirangkul seorang pria yang cukup ganteng, pas untuknya. Kutanya siapa orang itu, ternyata dialah pacar Ci Fiona yang sekarang sedang mengambil gelar master di Amerika, dia sudah 1,5 tahun tidak pulang hanya ada kabarnya lewat e-mail dan telepon. Karena itulah Ci Fiona sudah lama tidak menikmati lagi hubungan seks. Sekaranglah Ci Fiona mendapat penyaluran kebutuhan itu, meskipun sebelumnya dia malu-malu.</p>
<p>Dia berkata, “Sudah bangun? gimana.., sudah puas? Kalian ini benar-benar deh, belum pernah ada murid les saya yang seberani kalian, tapi please yah, jaga rahasia ini, biar ini cuma kita yang tau aja, ok!”<br />
“Beres Ci”, kata Hans, “Asal cici seneng kita juga seneng kan, tapi Vernand boleh tau tidak, dia kan temen kita juga Ci”, kata Hans.<br />
“Hmmm.., iya deh tapi dia orang terakhir yang tau rahasia ini loh”.<br />
“OK Ci beres!”, jawab kami bersamaan.<br />
“O iya, Cici udah masak makan malam, lu duaan makan aja di sini”.<br />
Kami pun makan bersama, masakannya enak, hoki banget pacarnya kalau sudah nikah nanti. Sesudah makan kami pulang diantar Ci Fiona sampai pintu pagar. Baru kutahu ternyata dibalik wajah alim dan terpelajar Ci Fiona tersembunyi banyak hal di luar dugaan.</p>
<p>Sejak itu sampai pacar Ci Fiona pulang bila ada kesempatan kami sering melakukan hal itu lagi, kadang berempat (ditambah Vernand), kadang 1 lawan 1 saja, kadang triple, macam-macam lah. Untuk mencari tempat sepi biasa bila di rumah salah satu dari kami sedang kosong, kami meneleponnya untuk datang ke sana saja. Sekarang aku sudah kuliah semester 4, Ci Fiona pun sudah menikah dengan pacarnya, kami bertiga diundang ke pestanya, di sana dia tersenyum manis pada kami bertiga mungkin tanda terima kasih karena kamilah yang memenuhi kebutuhan biologisnya waktu pacarnya tidak ada dulu. Selamat ya Ci, semoga bahagia selalu, kamilah yang tidak bahagia karena tidak bisa bermain dengannya lagi.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/cici-fiona-guru-lesku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panti Pijat Plus</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 08:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html</guid>
		<description><![CDATA[Karena benar-benar capai, saya ingin pijat, maka saya pergi ke PPT dekat kantor rekanan saya bagian selatan Jakarta, maklum di rumah tidak ada yang bisa pijat. Tempatnya cukup lumayan depan rumah makan Texas, jadi habis pijat (segar plus capai hilang) bisa langsung makan, khan enak tuh, sebelumnya aku belum pernah ke tempat ini jadi niatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena benar-benar capai, saya ingin pijat, maka saya pergi ke PPT dekat kantor rekanan saya bagian selatan Jakarta, maklum di rumah tidak ada yang bisa pijat. Tempatnya cukup lumayan depan rumah makan Texas, jadi habis pijat (segar plus capai hilang) bisa langsung makan, khan enak tuh, sebelumnya aku belum pernah ke tempat ini jadi niatku adalah benar-benar pijat, dengan nama Spesial Masturbasi (SM) kuberi istilah begitu karena (setelah beberapa kali) kebanyakan mereka akan menawarkan jasa seperti itu, tak lebih, sebenarnya inisial tersebut memang benar. Yang jadi persoalan adalah cara (teknik) mereka memang benar-benar profesional.</p>
<p>Banyaknya nama-nama WP (wanita pemijat bukan word perfect) tertulis di kepingan plastik, bagian sisi kiri adalah yang tersedia seperti Doxx, Soxxxx, Ixx, Axxx, Wxxx, Mxxx, Sxxx, Sxxxxx, Nxxx, Ixxx, Sxxxx, dan teman-temannya, yang sudah dipesan (cobalah ingat daftar ini – sebab ini biasanya yang terbaik), sedangkan paling kanan sedang tugas, tetapi jangan salah terkadang resepsionis mengatur WP yang terlalu banyak tugas namanya diletakkan di tengah/dianggap dipesan biar WP lainnya merata tugasnya.</p>
<p>Biaya yang tertera di bandrol resepsionis VIP 1,5 jam $75, dengan kamar tertutup tirai ganda dengan dinding tembok (bukan kain/triplek). AC split sendiri, sebuah kursi dan nakash serta tempat sampah (cek apakah ada kondom, bila ada artinya tempat ini menyediakan order khusus). Cermin kecil, jam dinding, gantungan pakaian, tentunya tempat tidur (kalau sudah selesai pijat coba periksa di bawah sprei pasti ada perlaknya. Kalau ngompol biar nggak menetes ke kasur pegasnya (coba angkat perlaknya pasti di daerah pas kemaluan agak lembab kadang diberi pemutih untuk menghilangkan noda bekas ompol, kalau perlu angkat kasur pegasnya kadang-kadang menemukan bekas pakai kondom plus isinya). Sedangkan kamar biasa 1,5 jam $65 (1 jam $50) kamar ditutup kain, AC cassette dipakai bersama, tanpa kursi, lainnya sama dengan di atas. Melihat situasi di atas, sepertinya tidak ada pijat khusus seperti Monggomas, Kartika, dan lain-lain di daerah Kota.</p>
<p>Saya pesan Mbak Sxxxx ke Mbak Axxxx (resepsionisnya), kemudian saya dipersilakan ke kamar VIP 304, berarti saya naik ke lantai 3, dengan kondisi kamar seperti di atas.</p>
<p>Setelah masuk, tidak lama kemudian masuk Mbak Sxxxx (38D, tangan dan betis sedang, agak pendek 150 cm, sekitar 30 tahun, wajah sunda), saya melepaskan semua pakaian kecuali CD.</p>
<p>“Selamat siang Pak”, sapa Mbak Sxxxx.<br />
“Siang”, jawabku.<br />
“Mau minum apa Pak?”, tanyanya.<br />
“Teh plus krem panas tanpa gula!” kemudian dia pergi ke pesawat telepon di luar ruangan, dan kembali ke kamar lagi. Saat aku akan naik ke tempat tidur…<br />
“Pakai krem nggak Pak?” tanya Mbak Sxxxx.<br />
“Pakai!” jawabku singkat.<br />
“Kalau gitu sekalian dilepas aja CD-nya nanti kena krem”, kata Mbak Sxxxx.<br />
Karena sudah telanjur tidur telungkup dengan kaki rapat, “Tolong dong lepasin!”, seruku. Kan malu belum kenal udah mau lihat rudal mengkeret aja, jadi sambil tidur, CD-ku diplorotin sama dia, tentunya dengan melebarkan sedikit kakiku.<br />
“Mbak AC-nya boleh nggak dimatiin aja, soalnya saya nggak kuat dingin?” Ini trikku karena dia pasti kepanasan, bayangin saja dia jalan sana-sini, mijat, pakai baju komplit, paling tidak blazer akan di lepas, dan tinggal kaos tanpa lengan (bahkan Mbak Soxxx, kaos tanpa lengannya di angkat hingga bawah bra 42FF-nya). Jangan lupa letakkan rudal pada posisi yang aman, bila sewaktu-waktu berubah ukuran, tidak sakit.</p>
<p>Mulailah pijat tanpa krem ke seluruh tubuhku, dimulai dari telapak kaki, betis, paha, pantat, pinggang, punggung. Karena letak kedua kakiku agak rapat, saat dia memijat bagian telapak kaki, otomatis kakiku tertarik dengan sendirinya masing-masing terbawa ke tepi tempat tidur sehingga posisi kakiku terbuka lebar (akhirnya aku tahu maksud posisi ini untuk dapat memijat bagian dalam pahaku, menyenggol biji sedikit).</p>
<p>Saat memijat punggung dia naik ke tempat tidur dengan menduduki pantatku, dan paha bagian dalamnya menyentuh pinggangku, terasa dingin dan halus. Hasil sensor pantatku mengatakan bahwa dia menggunakan celana ketat hingga pangkal paha. Saat tangannya mendorong dari pinggang ke pundak, otomatis posisinya agak menunduk, terasa ada dua hal yang membuat sensor probe-ku over range. Pertama, itu payudara 38D menyentuh punggung, walau masih dibungkus bra dan kaos ada rasa kenyal gimana gitu. Kedua, Saat diduduki pasti daerah lobang pantat dia kan yang nempel di pantatku, nah saat dia menunduk otomatis daging vagina yang tembem seperti tutup bagasi VW Kodok-ku menyentuh pantatku dan ada rasa seperti kedutan, mungkin karena dia tekan pundakku sehingga tumpuannya ada di tutup bagasi itu.</p>
<p>Hingga akhirnya memijat bagian lipatan paha dalam yang kadang-kadang ujung jarinya menyentuh rambut di sekitar biji (kalau aku bilang sih bukan pijat tapi sentuhan atau lebih halus lagi. Padahal belum pakai krem, kalau dia sebelum melakukan ini dia bilang Punten, maka lain kali kalau ke sini lagi, aku langsung order banyakin Puntennya saja, sayang dia nggak bilang). Untuk ukuran pria normal, digituin sih ya pasti kemaluanku bangun, ibarat dongkrak mobil, otomatis pantat keangkat, karena volume kemaluan terisi penuh, untung sudah pada posisi, coba kalau lagi ketekuk, pasti tuh pantat lebih tinggi lagi ngangkatnya.</p>
<p>Lama nggak ngobrol, hanya mendengarkan musik sayup-sayup, dan nampaknya dia sudah menguasai keadaan-aman terkendali (lihat pantatku kadang naik dan merasakan pangkal kemaluanku keras saat pijat dekat biji tadi), keluarlah pertanyaan standar PPT.<br />
“Ke sini sama teman Pak?” tanya Mbak Sxxxx.<br />
“Nggak” jawabku.<br />
“Sudah pernah ke sini?”<br />
“Sudah…” agak berbohong, biar aku tahu servicenya nanti seperti apa, soalnya sesama WP mereka juga bersaing baik wajah, teknik, dan lain-lain.<br />
“Dengan siapa Pak?”<br />
“Wah aku lupa namanya, nggak ngingetin sih!” jawabku. Kalau kamu jawab nama WP-nya nanti dia akan tanya diservice apa aja, bayar berapa dan lain-lain.<br />
“Berarti sering dong Pak”,<br />
“Nggak juga, asalnya dari mana Mbak?” tanyaku.<br />
“Bandung”, pembicaraan terhenti.</p>
<p>Dia mulai memijat dengan krem yang cukup banyak (ini pijat apa lulur krem) semuanya dari arah bawah ke atas (mungkin maksudnya ke arah jantung, agar peredaran darah lancar, nah bisa bayangkan peredaran darah lancar, kemaluan jadi keras, apa nggak tinggal muncrat saja) tapi teknik pijatnya cukup baik (menurutku) pada daerah tanpa titik rangsang dia akan tekan, tapi bila di daerah titik rangsang berubah tekanannya (bukan pijat tapi sentuhan) bayangkan aku dibikin tegang-nggak-tegang-nggak dan seterusnya, disinilah seninya seks, kalau cuma masukin – muncrat – tidur ngorok nggak ada seni, hanya kewajiban memenuhi kebutuhan.</p>
<p>Urutan pijat dengan krem dilakukan sama seperti tanpa krem, hanya saat dia mulai ke daerah pantat, dia ada di sisi kiriku dekat pinggang, dengan usapan dari paha luar ditarik ke atas masuk antara biji dan paha dalam mengitari lubang anus (yang terkadang sengaja disentuh) dengan kedua tangan secara bergantian, otomatis pantatku naik lagi, pindah ke betis, terus kembali ke pantat lagi (dalam hatiku harus sabar nih, bayangin coba kamu dirangsang terus dicuekin, dirangsang turus di cuekin dan seterusnya), pantas memang lobang pantat itu enak kok kalau dielus-elus, nggak pria atau wanita sama saja, apalagi di masukin. Kemudian dia pindah ke sisi kanan, kembali aku di rangsang terus di cuekin (memijat di tempat lain tanpa menghiraukan rudal yang sudah tanggung), di rangsang terus di cuekin dan seterusnya).</p>
<p>Setelah tahu bahwa kemaluanku keras (dengan menyentuh pangkal kemaluanku dia tahu kalau aku sudah ereksi) berarti aman terkendali, sebab kalau nggak bangun berarti dia harus bersusah payah untuk membangunkan agar dapat tip khusus. Dia pindah memijatnya ke pundak terus ke pinggang terus tangan (benar-benar dibuat kesal nih kemaluanku). Untuk pinggang dia tidak menduduki pantatku lagi, karena banyak krem, takut bajunya kotor (sebelumnya aku protes kok nggak seperti tadi mijatnya?).</p>
<p>Setelah itu dia kembali lagi ke pantat dan melakukan pijatan seperti tadi lagi, terpaksa aku protes keras.<br />
“Teteh! (kakak; bahasa Sunda) tolong dong jangan dibikin pusing nih!” kataku.<br />
“Memangnya kenapa, Pak?” tanyanya.<br />
“Itu mijatnya bikin pusing nih”,<br />
“Ya udah Bapak diam saja, ikutin saja yah!”<br />
“Ya sudah”,<br />
“Tetapi nanti tip-nya spesial ya Pak!” tuh kan benar.<br />
Disinilah triknya saat kita lagi butuh banget, dia memberikan penawarannya, memang hampir semua WP berusaha mati-matian secara singkat dan seksama membuat kita tegang dan bikin pusing, yang akhirnya kalau sudah nggak kuat akan mengeluarkan work-order.<br />
“Berapa spesialnya?” kataku lagi.<br />
“Biasanya $100″,<br />
“Ya sudah”, tanpa merinci lagi work-order seperti apa yang akan dia lakukan (soalnya aku belum tahu) lebih gila lagi aku belum tahu apakah di dompet ada $175 ($75 kamar $100 tip) dan seingatku cash only. Disinilah kelakuan para pria, di otak kepalanya yang lebih besar bisa dikalahkan dengan isi kepala bawahnya yang cenderung lebih kecil tapi bisa bikin kepala bagian atas tips buat para wanita.</p>
<p>Mulailah dia meraba dengan menambah krem tadi dengan baby oil (mungkin, soalnya rasanya lebih cair) di bagian pantat, terus meraba dengan ketajaman kukunya dia menyisir (bahasa kasarnya digaruk, tapi lembuuuut banget) rambut sekitar biji ke arah anus. Wah, volume darah di kemaluanku semakin penuh dan pantat ke angkat sebatas kemaluan, biar nggak ketindihan badanku. Tahu kalau ada celah kiri antara kemaluanku dengan pangkal paha tangannya masuk dan mengelus secara perlahan bagian paha, yah naik lagi pantatku, diulangi lagi celah kanan, yah naik lagi pantatku, pijat lagi sekitar lubang anus, yah naik lagi pantatku, hingga posisi badanku tertumpu pada lutut kaki dan siku tangan dan muka menancap di bantal. Sensasinya, jangan anggap enteng. Kucoba mengeluarkan kepalaku dari bantal dan melirik ke belakang, wah ternyata dia duduk dengan posisi mengangkang spt huruf M, kan benar pakai celana pendek ketat sebatas paha, tapi kelihatan mblendug-nya persis seperti tutup bagasi VW-ku. Aku mencoba meraih tutup bagasi itu, tapi kuurungkan, karena ini pertama kali aku ketemu dia.</p>
<p>Akhirnya dapat juga yang dia cari, memijat kemaluanku secara perlahan sekali lagi perlahan, seperti menimang rudal nuklir takut meledak, dengan sangat pelan tangannya ditarik sehingga hanya bagian ujung jari-jari ke arah anus seolah-olah takut kemaluanku jatuh, tangan berputar sesuai dengan bongkahan pantat, jari tangan kiri ke arah kiri dan jari tangan kanan ke arah kanan, saat ini kalau kemaluanku tidak sehat pasti jatuh (ereksi 60%-80%), tetapi yang terjadi antara kemaluan dengan badan seperti garis yang tidak bersinggungan kata geometri, keras sekali, (setelah tegang, aku bilang sama Teteh bahwa apakah tamu Teteh pijat seperti itu apa tegang semua, atau bila orang impoten apakah bisa ereksi, soalnya di atas kepalaku sudah banyak bintang kecil-kecil alias pusing).</p>
<p>Akhirnya aku berkata, “Teteh, aku sudah nggak tahan keluarin aja!”<br />
Tangan kanannya menggenggam kemaluanku dengan lembut (tanpa tekanan dan banyak baby oil-nya) memutar kepala kemaluan dengan jari-jarinya, genggam batang, maju mundur, sementara tangan kiri menusuk anus, kadang meraba rambut di sekitar anus, begitu berulang-ulang, hingga sperma akan keluar. Kira-kira dalam perjalanan di tengah batang kemaluan, eh dipijat sekuatnya kemaluanku, otomatis aku bergetar (over vibration), tak berapa lama dilepas, ya muncrat cairan dari kemaluanku dengan tekanan yang kuat dan nyaris mengenai daguku. Setelah tekanan cairanku turun, otomatis badanku ambruk seperti hidrolik saja atau mesin yang shut-down.</p>
<p>Si Teteh membersihkan tangannya yang belepotan baby oil plus krem plus cairanku dengan kain sprei, dan melanjutkan memijat. Aduh enak lho rasanya, setelah ejakulasi dipijatin, rasanya seperti habis lari dikejar anjing terus selamat lompat pagar.</p>
<p>“Pak sekarang bagian depannya” tanya Teteh. Aku membalikkan badanku, terlihat kemaluanku mengkerut kembali seperti semula, dan Teteh mulai memijat, seperti urutan saat aku telungkup.<br />
“Pak perutnya di urut nggak?” tanya Teteh. Aku menggangguk saja, sepertinya capai banget, dia tersenyum saja melihat aku kelenger.<br />
“Kenapa ketawa?” tanyaku.<br />
“Nggak, itu keluarnya banyak banget dan itunya keras banget”,<br />
“Kamu bisa saja nyanjung, entar, kutambah nih tip-nya”, candaku.<br />
“Pak ini mau dikeluarin lagi?” tanpa sadar saat urut, rupanya perutku ditarik dari bawah ke atas (mungkin karena gravitasi, perutku buncit jadi turun sehingga perlu ditarik ke atas) tapi saat ditarik, ujung jari menyentuh kemaluanku. Ya, tegang lagi. Aku tidak menjawab, hanya mengangguk sambil memberikan senyum (yang paling manis dari yang kupunya).</p>
<p>Cuma karena posisi telentang jadi mengurutnya (bukan sortir) digenggam dari bawah ke arah atas sambil diputar dengan telapak tangan menyentuh ujung kemaluan, karena tadi sudah keluar. Jadi sekarang agak lama, tapi dengan keahliannya, tangan kanan mengurut kemaluan, tangan kiri meraba biji hingga menyisir rambut sekitar anus, dan akhirnya keluar juga cairanku.<br />
“Pak permisi keluar dulu, cuci tangan”, aku mengangguk saja.</p>
<p>Gila 1 jam 20 menit, aku segera pakai kimono dan menuju kamar mandi, dan pakai baju, karena masih ada waktu aku sempatkan mengobrol.<br />
“Teteh liburnya hari apa?” tanyaku.<br />
“Hari Jumat, kenapa tanya libur segala, mau ke sini lagi?”<br />
“Nggak kalau ada temanku mau ke sini kan jadi tahu.”<br />
“Bapak orangnya baik deh”,<br />
“Oh iya uang tip-nya belum yah, pantes kamu nyanjung terus”, candaku sambil memberikan $100-ku sambil kulihat masih ada selembar lagi berarti selamatlah aku nanti diresepsionis, artinya kan nggak dikejar pengaman PPT.<br />
“Benar Pak, biasanya tamu suka meraba-raba, pegang sana sini, akunya yah belum tahu aja. Semua pria itu bajingan. Kata bokap tetangga temanku nasehatin anak perawannya, kucing itu kalau diberi ikan kadang pura-pura ngambil dikit, tapi kalau nggak ada orang (ada kesempatan) yang diambil ayam seekor, dasar perempuan kaya bola, jauh dikejar, dekat ditendang.”<br />
“Ya sudah, nih uang tip-nya, makasih ya Teteh”, sambil kucium tangannya.</p>
<p>Sekilas kulihat bulu tangannya merinding.<br />
“Kenapa merinding?”<br />
“Nggak, Bapak memperlakukan WP koq kayak gitu sih”,<br />
“Kamu manusia kan, saya juga gitu, dan saya benar-benar puas”,<br />
“Pak ke sini lagi yah!”<br />
“Nggak janji yah!”<br />
Tahu nggak, aku melakukan itu semua, ya memberikan preview yang baik agar kalau ke sini lagi dapat yang lebih, pakai ilmu kucing dong.<br />
“Ya udah, terima kasih Teh”, dibukanya kain penutup pintu, langsung aku pergi ke resepsionis.<br />
“Makasih Mbak Ajxxx”, sapaku.<br />
“Sama-sama Pak”, jawabnya.<br />
Tiba-tiba.., “Lho, elu Bud”, tanya suara dari belakangku.<br />
“Eh, iya Fexxxx, kok kamu di sini?”<br />
“Iya gue lagi nunggu Sxxxx yang lagi kerja, abis pijat sama siapa lu”,<br />
“Eh.. sama Sxxxx”<br />
“Wah lu pasti pijat anus yah?” ucapnya (agak keras, sehingga pengunjung di ruang tunggu pun terdengar).<br />
“Nggak, apaan tuh?” pura-pura bodoh, gila nih anak bikin aku malu aja.<br />
“Ya udah sana, lu kelihatan lemes bin lapar”, katanya.<br />
“Nah kamu nunggu siapa?”<br />
“Lu berakin gue tahu”.<br />
Oh ternyata dia nungguin Sxxxx yang kerja denganku, aku ngeloyor sambil senyum, mudah-mudahan jari tangan si Teteh nggak dicuci biar dia pijat dengan kerak di sekitar anusku. Langsung saja aku ngeloyor menuju Texas, makan hati/lever 5 buah plus teh manis panas, untuk mengembalikan tenagaku yang hilang diserap Teteh Sxxxx.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/panti-pijat-plus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perawan abg tetanggaku</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/perawan-abg-tetanggaku.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/perawan-abg-tetanggaku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/?p=2327</guid>
		<description><![CDATA[Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.<br />
“Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku.</p>
<p>Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.</p>
<p>Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.<br />
“Selamat sore Om. Tante ada?”<br />
“Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?”<br />
“Wah gimana ya..”<br />
“Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah.</p>
<p>ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.<br />
“Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.<br />
“Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..”<br />
“Majalah apa sich?”, tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.<br />
“Apa saja. Pokoknya yang terbaru”.<br />
“Oke silakan masuk dan pilih sendiri”.</p>
<p>Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.<br />
“Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa.<br />
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.</p>
<p>“Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku.<br />
“Nggg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana”<br />
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.</p>
<p>Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.<br />
“Sudah ketemu Ren?” tanyaku.<br />
“Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh.<br />
“Mau lihat CD bagus nggak?”<br />
“CD apa Om?”<br />
“Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”</p>
<p>Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.<br />
“Film apa sih Om?”<br />
“Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.<br />
“Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.<br />
“Bagus kan?”<br />
“Ini kan film porno Om?!”<br />
“Iya. Kamu suka kan?”<br />
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.</p>
<p>Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.<br />
“Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya.<br />
“Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.<br />
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.<br />
“Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..”<br />
“Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.<br />
“Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman..”</p>
<p>Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.</p>
<p>“Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.</p>
<p>Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.</p>
<p>“Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.<br />
“Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya.<br />
“Iii.. iya Om. Tapi..”<br />
“Kamu pengin lebih enak lagi?”</p>
<p>Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.</p>
<p>“Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas.<br />
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.<br />
“Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan.<br />
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. “Ouuu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.</p>
<p>Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.<br />
“Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.</p>
<p>“Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”<br />
“Ouuu enak sekali Om…”<br />
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.</p>
<p>Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.<br />
“Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.<br />
“Tapi takut Om..”<br />
“Nggak usah takut. Takut apa sih?”<br />
“Hamil”<br />
Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong”<br />
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.</p>
<p>“Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”.<br />
“Kalau ketahuan Tante gimana?”<br />
“Ya jangan sampai ketahuan dong”<br />
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.</p>
<p>TAMAT</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bokepzone.com/perawan-abg-tetanggaku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Kerusuhan 12 Mei 1998</title>
		<link>http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html</link>
		<comments>http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 07:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bokep Zone</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bokepzone.com/catatan-kerusuhan-12-mei-1998.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 11 Mei 1998 pukul 5 sore, saya mendarat di Jakarta setelah 4 jam lamanya saya berada di pesawat untuk perjalanan antara Australia dan Jakarta. Saya dijemput oleh orang tua karena saya sudah lama tidak mengenal Jakarta. Setelah sampai di rumah, saya menelepon teman-teman saya terutama teman SMA saya. Tetapi di antara 10 orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 11 Mei 1998 pukul 5 sore, saya mendarat di Jakarta setelah 4 jam lamanya saya berada di pesawat untuk perjalanan antara Australia dan Jakarta. Saya dijemput oleh orang tua karena saya sudah lama tidak mengenal Jakarta. Setelah sampai di rumah, saya menelepon teman-teman saya terutama teman SMA saya. Tetapi di antara 10 orang yang saya telepon, hanya seorang yang kebetulan sedang ada di tempat sewaktu saya menelepon mereka. Namanya adalah Venny *********.</p>
<p>Sewaktu saya meneleponnya, dia sempat kaget karena saya masih ingat dengannya. Venny adalah anak tunggal. Ia menceritakan bahwa dirinya sekarang berada di rumah sendirian dan dia sangat takut dengan keadaan di Indonesia yang semakin memanas. Saya hanya memintanya untuk berdoa. Saya bercerita banyak kepadanya mengenai suasana di Australia, pelajaran saya di Australia dan juga mengenai kekasih saya yang masih berada di Australia. Dia juga menceritakan semua masalah yang dihadapi di perkuliahannya termasuk menceritakan saat kekasihnya mencampakkan dia setelah cowoknya mengenal seorang gadis dari IRC.</p>
<p>Kami bercakap cakap selama sejam lamanya hingga kami mesti mengakhiri percakapan kami karena orang tua saya melarang saya telepon terlalu lama dan sebelum menutup telepon, saya memberitahu bahwa saya akan ke rumahnya besok karena saya sangat bosan dengan liburan selama sebulan tanpa kegiatan apapun. Akhirnya saya membuat janji bertemu dengannya besok siangnya.</p>
<p>12 Mei 1998, seperti biasanya, saya mandi, makan pagi dan makan siang dan ketika saya sudah selesai makan, telepon berdering. Karena pembantu saya ada di dalam kamarnya, maka sayalah yang mengangkat telepon dan ternyata Venny yang menelepon saya. Akhirnya saya memberitahukan bahwa saya akan kerumahnya sekarang juga karena saya sudah berbenah diri. Venny nampaknya sangat senang mendengar rencana kedatangan saya karena dia sebenarnya juga sendirian di rumah karena orang tuanya kebetulan sedang ada urusan di luar negeri sementara pembantunya semuanya sedang mudik. Selama dalam perjalanan ke rumah Venny, saya sempat melihat iring-iringan demonstrasi di sekitar salah sebuah Universitas di Jakarta. Saya meminta sopir taksi untuk sedikit mempercepat taksinya karena saya merasa bakal ada yang tidak beres jika saya berlama-lama di arena demonstrasi ini.</p>
<p>Akhirnya saya tiba di rumah Venny. Rumah Venny cukup besar karena dia termasuk orang strata atas. Setelah saya masuk ke ruang tengah rumah Venny, kami mengobrol mengenai segala hal dan Venny menyuguhkan saya air jeruk. Sambil m